Tentang Pusaka Jawatimuran

Bermula dari perencanaan Pembangunan Digitalisasi Koleksi Lokal dan Muatan Lokal Pusaka Jawatimuran merupakan program pengumpulan, pengolahan, penyimpanan dan pendayagunaan koleksi khas Jawatimuran. Dengan adanya program ini pelestarian informasi mengenai Jawa Timur yang berupa koleksi lokal (local collection) dan muatan lokal (local content) merupakan harta warisan karya budaya anak bangsa yang selanjutnya dapat disebut Pusaka Jawatimuran akan selalu terjaga dan selanjutnya merupakan koleksi yang sangat berharga yang akan tersaji dengan baik yang dapat diakses oleh semua kalangan dengan cepat dan akurat. Disamping itu hasil akhir dari program ini kedepan akan menjadikan Perpustakaan Propinsi Jawa Timur sebagai Pusat Informasi Pusaka Jawatimuran.

Pelaksanaan penghimpunan dan pengelolaan koleksi lokal (local collection) dan muatan lokal (local content) pada dasarnya sudah tertuang dalam Undang-Undang Nomor 4 tahun 1990 tentang Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam, dan tertuang pada Peraturan Pemerintah Nomor 70 tahun 1991 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1990. Regulasi tersebut merupakan salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk dapat melestarikan hasil karya budaya bangsa yang merupakan perwujudan cipta, rasa dan karya manusia Indonesia dalam hal ini khususnya Jawa Timur.

Mengingat pentingnya peranan karya cetak dan karya rekam yang dapat menunjang pembangunan pada umumnya, khususnya bidang pendidikan, penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta penyebaran informasi yang semakin lama semakin banyak. Sementara penghimpunan, pengelolaan dan penyimpanannya masih belum begitu memadai maka Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur sebagai instansi pelaksana yang berwenang melaksanakan Undang-Undang Nomor 4 tahun 1990 sebagai penghimpun dan pengelola karya cetak dan karya rekam tersebut wajib meningkatkan kiprah dan perannya dalam meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat. Semakin hari semakin banyaknya koleksi yang sudah terhimpun, sedangkan kondisi saat ini sudah tidak sebanding dengan ruang koleksi yang ada.

Penyelamatan dan pelestarian koleksi Pusaka Jawatimuran sudah sangat segera harus dilakukan, karena permasalahan ruang, perawatan dan sistem pelayanan. Teknologi yang mendukung kegiatan ini adalah dengan cara pengalihmediaan (digitalisasi) ke dalam bentuk digital, karena akan memudahkan penyimpanan yang tidak banyak memakan tempat/ruang, kemudahan perawatan dan kemudahan dalam pendayagunaannya untuk memberikan akses kepada pencari informasi/pemustaka

Menurut KBBI: Kamus Besar Bahasa Indonesia
pu·sa·ka n (1) harta benda peninggalan orang yang telah meninggal; warisan; (2) barang yang diturunkan dari nenek moyang.

==> pusaka/warisan budaya (cultural heritage) Jawa Timur, merupakan Kekayaan alam dan budaya Jawa Timur.

Menurut Unesco adalah:
“Warisan (legacy) masa lalu yang hadir dalam kehidupan kita saat ini dan layak kita teruskan ke generasi mendatang. Heritage merupakan sesuatu yang layak atau harus dijaga keberadaannya dari generasi ke generasi karena nilai yang dikandungnya.”

==> maka kekayaan alam (natural heritage) maupun kekayaan budaya (cultural heritage) di seluruhIndonesia yang diwariskan masyarakat pada masa lalu harus dijaga kelestariannya untuk diwariskan kepada generasi mendatang.

Dari definisi dari Wikipedia, cultural heritage adalah:
“warisan masa lalu baik yang bersifat artifak fisik dan atribut kelompok atau masyarakat tertentu yang diwariskan dari generasi masa lalu, dipertahankan pada masa kini dan diserahkan untuk kepentingan generasi mendatang.
Walaupun terdapat kemungkinan bahwa sesuatu yang dianggap sebagai cultural heritage oleh satu generasi ditolak oleh generasi selanjutnya dan baru dihidupkan kembali oleh generasi berikutnya lagi.”

Bahan perpustakaan yang dialihformatkan mencakup, antara lain:
• Manuskrip, buku harian, surat
• Buku (monograf, berseri)
• Serial
• Bahan visual, seperti foto, ilustrasi, peta dan karya seni
• Rekaman suara
• Rekaman audio-visual

Alih format ke format digital (digitalisasi) bahan perpustakaan dapat dilakukan terhadap bahan perpustakaan koleksi perpustakaan sendiri atau bahan perpustakaan koleksi lembaga lain atau milik perorangan, yang merupakan bagian dari warisan budaya lokal.

Banyak objek atau fenomena budaya yang terdapat di kalangan masyarakat tempat sebuah perpustakaan berada yang belum terekam dalam bentuk publikasi, baik dalam bentuk tercetak ataupun terekam. Misalnya adat dan kebiasaan masyarakat setempat, bangunan tua atau bersejarah, mode transportasi yang khas, dsb. Objek-objek semacam itu dapat dibuatkan ’rekamannya’ melalui berbagai bentuk media: tulisan, pemotretan, rekaman suara, maupun rekaman audio visual.

Variasi kondisi geografis dan kondisi fisik lainnya menyebabkan penduduk Indonesia memiliki variasi budaya yang sangat sangat kaya, misalnya variasi bahasa dan dialek, makanan pokok dan masakan, pakaian dan cara berpakaian, mata pencarian, arsitektur bangunan, tradisi, seni, kepercayaan, dsb.

 Sukses untuk
Jawa Timur

Monumen Tugu Pahlawan di Surabaya

Oleh: Drs. Suwondo Arief

monumen tugu pahlawan

Pendahuluan

Propinsi Jawa Timur ternyata banyak memiliki bangunan Monumen Bersejarah. Salah satu diantara bangunan-bangunan Monumen Bersejarah itu, yang termasuk cukup penting ialah Monumen Tugu Pahlawan di Surabaya.

Berdasarkan informasi yang berhasil dikumpulkan, Monumen Tugu Pahlawan di Surabaya, memang telah mendapat perhatian yang cukup luas, baik dari kalangan warga masyarakat, para pimpinan Daerah Jawa Timur, maupun para pimpinan negara di tingkat Pusat. Bahkan Presiden Republik Indonesia Pertama, Ir. Soekarno, pada awal pembangunan monumen tersebut telah berkenan meletakkan batu pertamanya, kemudian meresmikannya setelah seluruh pembangunan monumen selesai. Maka dari itu, Monumen Tugu Pahlawan di Surabaya merupakan sesuatu yang menarik dan juga pantas disajikan pada edisi pertama buletin Sari Warta Kesejarahan dan Nilai Tradisional.

Pada tulisan ini penulis hanya mendeskripsikan secara singkat tentang lokasi monumen, bentuk bangunan dan maknanya, serta latar belakang sejarah atau uraian singkat peristiwa sejarah yang berkaitan dengan bangunan Monumen Tugu Pahlawan di Surabaya.

Lokasi Monumen

Monumen Tugu Pahlawan didirikan di atas tanah lapang yang cukup luas, tepat di muka Kantor Gubernur Jawa Timur. Lokasi Monumen Tugu Pahlawan itu, sebelah Timur dibatasi oleh Jalan Pahlawan; sebelah Selatan dibatasi oleh Jalan Anderpati; sebelah Barat dibatasi oleh Jalan Bubutan; dan sebelah utara dibatasi oleh Jalan Kereta Api/Veaduct.

Dahulu, di lokasi Monumen Tugu Pahlawan, terdapat bangunan .gedung megah, yang . pada jaman penjajahan Belanda digunakan sebagai Kantor Pengadilan Belanda/Raad Van jusstitic. Selanjutnya, pada jaman penjajahan Jepang, gedung tersebut digunakan sebagai Markas Kempetai atau Polisi Militer Jepang. Kemudian, pada waktu revolusi fisik atau pertempuran 10 November 1945, gedung tersebut hancur kena tembakan meriam dari tentara Sekutu.

Bentuk Bangunan dan Maknanya

Monumen Tugu Pahlawan berbentuk tugu langsing menjulang tinggi. Garis tengah tugu di bagian bawah berukuran 3,8 m, sedangkan garis tengah di bagian atas berukuran 2 m.

Bangunan tugu ini pada badannya dibuat 10 lengkungan (Cnalures) dan terdapat 11 bagian (Geledingen). Sedangkan tinggi bangunan tugu dibuat 45 yard (41,13 m). Hal ini dimaksudkan untuk mengingatkan kita pada tanggal 10 bulan 11 (November) tahun 1945.

Secara keseluruhan bangunan Monumen Tugu Pahlawan ini mengandung arti yang erat hubungannya dengan suatu peristiwa sejarah pada waktu revolusi fisik, yaitu berkobarnya pertempuran di Surabaya tanggal 10 November 1945. Dalam pertempuran rakyat Surabaya pantang mundur karena telah bertekad merdeka atau mati.

Peristiwa Sejarah yang Berkaitan dengan Monumen

Pembangunan Monumen Tugu Pahlawan di Surabaya itu, pada hakikatnya mempunyai beberapa tujuan. Salah satu diantara tujuan itu ialah untuk mengabadikan suatu peristiwa besar yaitu perlawanan rakyat di Surabaya pada awal Revolusi Fisik tahun 1945.

Perlawanan rakyat di Surabaya pada awal Revolusi Fisik memang sangat karakteristik. Prosesnya dimulai dengan suatu bentrokan fisik yang terjadi sejak “peristiwa bendera” di Hotel Yamato antara rakyat Surabaya melawan orang-orang Belanda yang ingin menanamkan kembali kekuasaan kolonialnya di Surabaya. Kemudian perlawanan rakyat itu makin lama makin berkobar dan mencapai k1imaknya pada pertempuran melawan tentara pendudukan Inggris tanggal 10 November yang melahirkan Hari Pahlawan.

Pertempuran tanggal 10 November 1945 itu, ternyata telah mendapat dukungan rakyat yang amat besar. Hampir segenap lapisan masyarakat menunjukkan’ partisipasi yang nyata dalam perjuangan menegakkan Kemerdekaan Indonesia terhadap ancaman kekuatan asing. Menurut laporan dari Brigade ke-49 Divisi India XXIII tentara Pendudukan Inggris, menyebutkan bahwa rakyat Surabaya tanpa memperhitungkan kawan-kawannya yang gugur, mereka maju terus untuk mengadakan perlawanan dengan semboyan merdeka atau mati. Maka dari itu, ada yang menyebut bahwa pertempuran tanggal 10 November 1945 merupakan turning point perjuangan bangsa Indonesia dalam menegakkan Kemerdekaan Negara Republik Indonesia.

Pada dasarnya, perlawanan rakyat di Surabaya pada awa1 Revolusi Fisik tahun 1945 itu, merupakan akibat dari kondisi masak yang disebabkan oleh sistem pemerintahan kolonial.

Sistem pemerintahan kolonial di Indonesia baik pada masa penjajahan Belanda maupun pada masa penjajahan Jepang, telah menimbulkan suatu situasi yang sangat kritis dalam berbagai bidang kehidupan, baik sosial ekonomi maupun politik. Hal ini tentu saja menimbulkan perasaan tidak puas hagi bangsa Indonesia, termasuk bangsa Indonesia yang berada di daerah Surabaya. Oleh karena itu, Kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945 disambut dengan gembira dan penuh semangat kebangsaan oleh warga kota Surabaya.

Sete1ah warga kota Surabaya mendengar berita Kemerdekaan Indonesia, mereka segera bertindak untuk mengambil alih kekuasaan dari Jepang dan sekaligus menyusun pemerintahan daerah Repub1ik Indonesia di Surabaya. Usaha ini ternyata tidak berjalan mulus, karena pemerintah Jepang di Surabaya menganggap bahwa kekuasaan dan perlengkapan senjata harus diserahkan kepada Sekutu/Belanda. Oleh karena itu, para pemimpin dan rakyat Surabaya segera mengadakan perlawanan, baik kepada orang-orang Be1anda maupun kepada tentara Jepang.

Perlawanan pertama terjadi di Hotel Yamato yang kemudian dikenal dengan “peristiwa bendera”. Pada tangga1 19 September 1945 orang-orang Be1anda mengibarkan bendera lambang penjajahan Merah-Putih-Biru di atas Hotel Yamato. Pengibaran bendera lambang penjajahan ini benar-benar telah menimbulkan kemarahan rakyat Surabaya. Oleh karena masalah ini tidak dapat diselesaikan dengan jalan damai, maka konflik fisik antara rakyat Surabaya melawan orang-orang Belanda tidak dapat dihindarkan lagi.

Selanjutnya, dalam rangka untuk mengambil alih kekuasaan, perlawanan rakyat Surabaya ditujukan kepada tentara Jepang. Dalam hal ini, banyak peristiwa pertempuran yang cukup menonjol antara rakyat Surabaya melawan tentara Jepang. Salah satunya adalah; peristiwa perebutan senjata di Markas Kempetai (Polisi Militer Jepang) Jalan Alun-alun, yang sekarang di tempat itu didirikan Monumen Tugu Pahlawan.

Dalam kasus perlawanan terhadap orang-orang Belanda dan tentara Jepang itu, dapat dikatakan berhasil dengan baik. Dengan demikian, pada pertengahan pertama bulan Oktober 1945 semua kekuasaan dan perlengkapan senjata Jepang di Surabaya telah dapat dikuasai oleh bangsa Indonesia.

Akan tetapi, pada tanggal 25 Oktober 1945, tentara Inggris/Sekutu Brigade ke-49 Divisi India XXIII dibawah pimpinan Brigjen Mallaby datang ke Surabaya. Mereka berusaha menguasaikotadan merampas kembali senjata-senjata Jepang yang telah menjadi milik Pemerintah Republik Indonesia di Surabaya. Maka dari itu, meletuslah pertempuran antara rakyatSurabayamelawan tentara Inggris/Sekutu, yang sampai sekarang dikenal dengan istilah “Pertempuran Surabaya”. Pertempuran Surabaya ini mulai meleius tanggal 28 Oktober 1945 dan mencapai klimaksnya tanggal10 November 1945.

Dalam pertempuran akhir bulan Oktober 1945, dapat dikatakan bahwa rakyatSurabayaberhasil menggagalkan usaha tentara Inggris untuk menguasaikotaSurabaya. Bahkan dalam pertempuran itu, Komandan tentara Inggris/Sekutu, Brigjen Mallaby meninggal dunia.

Untuk menebus kekalahannya itu, maka pihak Inggris/Sekutu menambah kekuatan militernya satu divisi dengan persenjataan modern di bawah pimpinan Mayor Jenderal E.C. Mansergh. Mereka memberikan ultimatum kepada para pemimpin dan rakyatSurabayayang intinya sangat  menghina bangsaIndonesiayaitu agar kita menyerah tanpa syarat sambil berjongkok.

Bagi daerah Surabaya, baik pihak pemerintah maupun rakyatnya, menganggap bahwa ultimatum tentara Inggris itu merupakan tindakan yang melanggar kedaulatan Negara R.I., karena itu harus dijawab dengan kekuatan senjata pula. Maka pada tanggal 9 November 1945 pukul 18.46 di Markas TKR Jalan Pregolan 2-4, para pimpinan kesatuan-kesatuan bersenjata menyatakan ikrar sebagai berikut : “Kedaulatan Negara dan Bangsa Indonesia yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agoestoes 1945 akan kami pertahankan dengan soenggoeh-soenggoeh penoeh tanggoeng djawab bersama, bersatoe, ihlas berkorban dengan tekad merdeka atau mati ! ! !”. Oleh karena itu, pertempuran antara rakyatSurabayamelawan tentara Inggris pada tanggal 10 November 1945 tidak dapat dihindarkan.

Dalam pertempuran tanggal 10 November 1945 ini, setelah berlangsung 21 hari, akhirnyakotaSurabayajatuh ke tangan tentara Sekutu/Inggris. Meskipun demikian, ternyata tentara Sekutu/Inggris tidak dapat mematahkan perlawanan rakyat Surabaya, karena setelah kota Surabaya jatuh, rakyat Surabaya memindahkan pertahanannya ke daerah Mojokerto, dan mereka segera melancarkan perlawanan kembali dengan sistem perang.gerilya.

Kebulatan tekad rakyatSurabayaini, ternyata mendapat penghargaan dari seluruh bangsaIndonesia, yaitu tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan. Kemudian untuk mengingat kembali peristiwa tersebut di muka Kantor Gubernur di tempat Markas Kempetai pada masa penjajahan Jepang dahulu, didirikan Monumen Tugu Pahlawan.

Daftar Kepustakaan

Abdulgani, Roeslan. 1964. Api Revolusi di Surabaya.Surabaya: Kesatrya,.
Djawatan Penerangan RI Propinsi Jawa Timur 1953. Republik Indonesia Propinsi Djawa Timur.Surabaya: Djawatan Penerangan,.
Hakin, George Mac Turnan. 1969. Nationalism and. Revolution in Indonesia, Itacha: Cornell Universi,ty Press,.
Radjat, A. 1977. Pelajar dan Peranan Kemerdekaan, Malang : Widoro,.
Raliby, Osman. 1952. Sejarah Hari Pahl awan, Djakarta, Tinta Mas,.
Sutomo. 1951. 10 Nopember, Djakarta: UP.Balapan,.
Team Kodak X Jatim. 1982. Peranan Polri dalam Perjuangan Kemerdekaan di Jawa Timur 1945-1949. Surabaya: Team Kodak X Jatim.

Artikel terkait: Kisah Berdirinya Tugu Pahlawan oleh http://supartobrata.com/?p=105

sari wartaArtikel di atas dinukil oleh Tim Pusaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Sari Warta: Kesejahteraan dan Nilai Tradisional, edisi 1, Agustus 1994. Departemen Pendidikan dan kebudayaan, Kantor Wilayah Propinsi Jawa Timur, Bidang Sejarah dan Nilai Trasional

Tim Pusaka Jawatimuran

KETUA:

Dra. Kusmiyati, MM. (Kepala Bidang Deposit Pengembangan dan Pengolahan)

 

KETUA PROGRAM:

Drs. Imam Mudi, MM.

Drs. Imam Mudi, MM.

Drs. Imam Mudi, MM. (Kepala Sub Bidang Deposit dan Preservasi)

:

.

.

.

KETUA PELAKSANA:

Drs. Sukarjito

Drs. Sukarjito

Drs. Sukarjito (Kepala Sub Bidang Pengembangan dan Pengolahan)
.

.

.

.

PENGOLAH DATA:
Sujarwo,M.Si.;
Fungsional Pustakawan
.

.

.

Tri Diana Mukti, S.Sos
Fungsional Pustakawan

.

.

Tris Martiningsih, SE.
Fungsional Pustakawan

.

.

PENGHIMPUN DATA:

Yayuk Maisaroh
Fungsional Pustakawan

Subianto

.

.

.

Sugeng Priyanto

.

.

.

Drs. Taufik Fauzi, MM;
Fungsional Pustakawan

 

Sri Purwati,S.Sos,M.Si;
Fungsional Pustakawan

.

.

Nur Laila H.,S.Pd.
.

.

.

.

ADMINISTRASI UMUM:
Fungsional Pustakawan

 

Maskur