Upacara Undhuh-Undhuh di Mojowarno, Jombang

Oleh
Frans. Priyohadi Marianno
dan Rahardjo

Penyelenggaraan suatu upacara tradisional cukup penting artinya bagi pembinaan sosial budaya masyarakat pendukungnya. Hal ini antara lain karena salah satu fungsi upacara tradisional adalah untuk memperkokoh norma-norma dan nilai-nilai budaya yang telah berlaku secara turun temurun.

Norma-norma dan nilai-nilai budaya itu ditampilkan secara simbolis di dalam bentuk upacara, dilakukan secara khidmat oleh para warga masyarakat pendukungnya dan dirasakan sebagai bagian yang integral serta akrab komunikatif dalam kehidupan kulturalnya. Hal ini membangkitkan rasa aman bagi setiap warganya di tengah lingkungan hidup bermasyarakat. Mereka merasa tidak kehilangan arah dan pegangan di dalam menentukan sikap dan tingkah laku sehari-hari. Rasa solidaritas antar sesama warga masyarakat dapat menjadi lebih tebal. Salah satu upacara tradisional yang diadakan oleh warga masyarakat Desa Mojowangi, Kec. Mojowarno, Kab. Jombang adalah Upacara Undhuh-undhuh.

Adapun gambaran lebih jelas mengenai upacara tersebut, berikut ini akan diuraikan: nama upacara; maksud dan tujuan upacara; waktu dan tempat penyelenggaraan upacara; penyelenggaran upacara; dan persiapan serta jalannya upacara.

1. Nama Upacara
Upacara tradisional yang diselenggarakan setahun sekali oleh warga masyarakat Desa Mojowangi, khususnya pemeluk agama Kristen, adalah upacara UNDHUH-UNDHUH. Upacara ini dikenal juga sebagai upacara “Persembahan”.

Undhuh-undhuh berarti memetik atau panen, yakni memetik hasil bumi khususnya padi. Para warga percaya bahwa segala apa yang diterima, baik yang menggembirakan maupun yang menyusahkan berasal dari Tuhan, termasuk hasil bumi atau panenan. Para petani sehabis panen merasakan adanya berkat yang lebih dari Tuhan, maka mereka dengan senang hati mempersembahkan sebagian hasil panenannya kembali kepada Tuhan untuk keagungan nama-Nya.

Dengan kata lain, upacara Undhuh-undhuh merupakan cara untuk menyampaikan tanda terima kasih kepada Tuhan yang telah memberi rahmat kepada umat-Nya, sehingga panen dapat berhasil dengan baik.

2. Maksud dan Tujuan Upacara
Maksud dan tujuan diadakan upacara Undhuh-Undhuh adalah sebagai suatu perwujudan dari persembahan umat Kristiani setempat kepada Tuhan, yang karena selama bekerja mengelola lahan pertaniannya (sawahnya) mendapatkan lindungan-Nya, sehingga dapat memperoleh hasil panen yang baik. Oleh karena itu, sebagai tanda ucapan terima kasih, mereka mempersembahkan kembali sebagian hasil olahan tanahnya kepada Tuhan.

Pada mulanya, bentuk persembahan yang berupa hasil bumi, khususnya padi, dibawa oleh petani langsung masuk ke gereja. Sejak beberapa dekade yang lalu (sebelum tahun 1956 sudah ada), bentuk persembahan mulai dimodifikasi. Bentuk persembahan diwujudkan dalam bentuk bangunan sesuai dengan tema yang ditentukan Gereja. Karena tema yang ditentukan Gereja selalu berubah-ubah, maka bentuk bangunan persembahan pun berubah-ubah, disesuaikan dengan tema yang ada.

Salah satu dari tema upacara Undhuh-Undhuh yang pernah dipilih oleh Gereja Jawi Wetan adalah: ALLAH SUMBER BERKAT.

Bentuk persembahan hasil bumi diadakan modifikasi dengan maksud antara lain agar persembahan tersebut tampak lebih indah. Bahkan sejak beberapa tahun terakhir bangunan persembahan yang mirip pawai kendaraan hias mulai dilombakan. artinya, masing-masing bangunan persembahan dinilai menurut kriteria tertentu. Hal ini seperti pelaksanaan pawai mobil hias yang diadakan di Surabaya. Malang atau kota lain, sehinga kalau diangkat rnenjadi obyek wisata akan menjadi cukup menarik.

Hasil penilaian akan menentukan juara. Juara pertama mendapat piala bergilir. Apabila tiga tahun berturut-turut menjadi juara pertama, maka ia akan memperoleh piala tetap.

Sistem penilaian tersebut hanyalah sebagai daya tarik atau penambah semangat warga untuk berpartisipasi dalam perayaan Undhuh-Undhuh. Ada sebagian warga setempat yang berpendapat, bahwa persembahan tidak layak untuk dinilai. Menanggapi pendapat tersebut, Panitia rnengambil langkah dengan merahasiakan cara penilaian dan kriteria penilaiannya. Pada dasarnya, warga memang cukup bergairah dalam penyelenggaraan upacara Undhuh-Undhuh dengan membuat bangunan persembahan sebaik mungkin, dan mereka tetap menginginkan untuk diadakan penilaian.

3. Waktu dan Tempat Penyelenggaraan upacara
Upacara tradisional Undhuh-Undhuh, pada mulanya diadakan setiap habis panen setahun sekaIi, sehingga tanggal dan bulannya tidak menentu. Agar pelaksanaan upacara Persembahan dapat lebih semarak dan dapat dimasukkan dalam kalender wisata, Majelis Gereja telah menentukan pelaksanaan kegiatan upacara tersebut, yakni diadakan setiap hari Minggu pada minggu pertama bulan Mei.

Acara pokok dimulai pukul 07.30 WIB dan diharapkan berakhir pukul 14.00 WIB. Pada hari sebelumnya (Sabtu), kira-kira pukul 19.00 wib. Diadakan doa kebaktian bersama (bitaton tendo) dengan maksud agar pelaksanaan upacara Undhuh-Undhuh nantinya dapat berjalan dengan lancar.

Tempat pelaksanaan upacara yang utama adalah di dalam gereja. Acara pelengkap diadakan di halaman sebelah kanan gereja dan di pendopo kapanditan (tempat tinggal pendeta).

Dipilihnya tempat di Gereja Kristen Jawi Wetan Mojowarno sebagai tempat untuk penyelenggaraan upacara Unduh-Unduh, antara lain karena di tempat inilah untuk pertama kali Gereja Kristen Jawi Wetan melaksanakan kegiatan upacara Unduh-Unduh dan yang hingga sampai saat ini masih tetap bertahan untuk melaksanakannya.

4. Penyelenggara Teknis Upacara
Pada pelaksanaan upacara Undhuh-Undhuh, penyelenggara teknis adalah warga gereja Kristen Jawi Wetan Mojowarno. Untuk itu, dibentuk suatu kepanitiaan yang anggotanya terdiri dari warga majelis gereja.

Di samping itu, untuk penyelenggaraan upacara tersebut diperlukan bantuan tenaga dari pihak lain, yaitu pihak pemerintahan dan pihak keamanan setempat, seperti pihak Kecamatan, Kelurahan, Koramil, dan Polsek.

Susunan kepanitian terdiri dari : Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, Bendahara, dan berbagai seksi, antara lain: Seksi Lomba. Kepanitiaan tersebut dibentuk kira-kira sebulan sebelum pelaksanaan upacara Undhuh-Undhuh dilaksanakan. Pembubaran panitia dilaksanakan sesaat setelah upacara berlangsung.

5. Persiapan dan jalannya Upacara
Dalam upacara Undhuh-Undhuh, persiapan yang dilakukan adalah penyediaan perlengkapan upacara dan kegiatan persiapan untuk menyongsong jalannya upacara. Perlengkapan upacara antara lain berupa persembahan hasil bumi yang dibentuk bangunan, seperti: bentuk bangunan gereja.

Bahan pokok untuk membuat bangunan yang dipersembahkan adalah hasil bumi yang berupa padi, jagung, atau padi ketan yang dironce. Macam-macam persembahan lainnya yang juga sebagai hiasan bangunan antara lain berupa : kelapa, ketela, kacang tanah, berbagai jenis sayuran, dan berbagai macam buah-buahan, seperti: pepaya, salak, pisang, jeruk, nenas, dan lain-lainnya.

Selain hasil bumi, barang-barang persembahan warga jemaah ada yang berupa binatang, seperti: ayam dan burung serta ada pula yang berupa hasil karya kerajinan tangan, seperti kristik atau sulaman.

Pada kegiatan upacara Undhuh-Undhuh tahun ini, ada delapan macam bangunan persembahan dari delapan blok jemaah, yang dikelompokkan menjadi dua, yaitu : Kelompok A yang termasuk kelompok besar, terdiri dari: Blok Mojowarno, Blok Mojowangi, Blok Mojoroto, Blok Mojodukuh, dan Rumah Sakit Kristen. Sedang kelompok B yang termasuk kelompok kecil berjumlah tiga buah, yakni: Blok Mojojajar, Blok Sukoharjo dan Blok Mojotengah. Pembagian kelompok tersebut berdasarkan besar kecilnya jumlah warga jemaah atau kemampuan blok yang bersangkutan.

Persembahan hasil bumi yang disebut bangunan tersebut pada masing-masing blok berbeda bentuknya dan setiap tahun selalu berubah sesuai dengan tema yang ditetapkan oleh Gereja Kristen Jawi Wetan.

Bangunan persembahan hasil bumi dibawa ke Gereja oleh seluruh warga jemaah masing-masing blok sebelum pukul 07.30 WIB. Keterlambatan membawa Bangunan persembahan akan mempengaruhi hasil penilaian tim juri, mengingat bahwa pada pukul 07.30 WIB upacara kebaktian di Gereja harus dimulai. Keterlambatan kedatangan rombongan persembahan yang biasanya disertai iringan musik dan bunyi-bunyian dapat menganggu jalannya upacara kebaktian.

Pada pukul 07.30 WIB semua bangunan persembahan telah siap diatur di halaman depan gereja. Tim juri menjalankan tugasnya menilai masing-masing bangunan secara diam-diam. Bersamaan dengan itu, upacara kebaktian dilaksanakan di gereja yang berlangsung selama kira-kira satu jam. Dalam acara kebaktian di gereja, sebagian anak-anak dan remaja membawa persembahan yang antara lain berupa buah-buahan yang diletakkan pada keranjang yang dihias untuk diserahkan kepada Tuhan melalui Pendeta yang sekaligus juga bertugas memimpin doa sampai selesai.

Setelah selesai kebaktian di Gereja, bangunan persembahan hasil bumi yang telah diserahkan ke gereja kemudian dibawa ke balai kepanditan. Arak-arakan bangunan persembahan dari halaman gereja ke ruang kepanditan diiringi bunyi-bunyian, seperti: kotekan lesung yang dimainkan oleh ibu-ibu yang telah cukup lanjut usiannya; gending-gending yang dialunkan oleh siswa-siswa SMP setempat; serta kesenian reog.

Pada pukul 10.00 WIB, semua bangunan persembahan sudah berada di ruangan sekitar kepanditan. Barang-barang persembahan tersebut dipersiapkan untuk dilelang.

Pembukaan lelang dilakukan oleh pendeta, dengan menawarkan sejumlah barang persembahan yang diletakkan di atas meja dengan harga sangat murah. Panitia lelang kemudian menawarkan kepada para pengunjung, barangkali ada yang bersedia membelinya dengan harga lebih tinggi. Selanjutnya Panitia memberi kesempatan kepada pengunjung lain yang berminat membelinya dengan harga lebih tinggi lagi. Demikian seterusnya sampai tidak ada seorang pengunjung pun yang berminat membeli barang tersebut dengan harga yang lebih tinggi lagi. Panitia kemudian menghitung sampai tiga kali dan setelah hitungan ketiga, bende ditabuh. Hal ini berarti, bahwa pengunjung yang menawar terakhir itulah yang berhak memperoleh sejumlah barang di atas meja yang dilelang dengan harga yang telah ia sebutkan.

Berhubung jumlah barang persembahan yang dilelang cukup banyak, maka untuk menghabiskannya membutuhkan waktu lelang yang cukup lama. Menurut jadwal, acara lelang diperkirakan selesai pukul 12.00 WIB, tetapi kenyataannya, baru pukul 13.00 WIB acara lelang baru bisa diakhiri. Suasana lelang memang cukup ramai. Dari seluruh hasil lelangan ditambah padi persembahan yang dijual, panjtia dapat memperoleh uang sebanyak kurang lebih Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah) yang akan dipergunakan sebagai Kas Gereja Kristen Jawi Wetan.

Kiranya perlu ditambahkan di sini, bahwa para pengunjung upacara Undhuh-Undhuh tersebut di atas, tidak hanya berasal dari warga masyarakat sekitar Gereja Mojowarno, tetapi juga ada yang berasal dari daerah lain, terutama para perantau di kota-kota besar (Jakarta, Surabaya dan lain-lain) yang pernah tinggal atau berasal dari Mojowarno. Para pengunjung tersebut juga diperkenankan mengikuti lelang

Penutup
Dengan masih diselenggarakannya upacara Undhuh-Undhuh di Mojowarno Kabupaten Jombang, akan membantu program pemerintah dalam rangka melestarikan budaya bangsa, sekaligus bermanfaat pula untuk pengembangan daerah tujuan wisata yang diharapkan dapat menambah devisa.

naskah asli:
UNDHUH2

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Kesejahteraan dan Nilai Tradisional, edisi 1, Agustus 1994. Departemen Pendidikan dan kebudayaan, Kantor Wilayah Propinsi Jawa Timur, Bidang Sejarah dan Nilai Tradisional

Pokok-pokok pikiran yang mendasari penetapan Tanggal 18 Desember 1771 sebagai Hari Jadi Banyuwangi

Pencarian hari lahir seseorang dengan hari lahir atau hari jadi sebuah kota atau daerah tentulah berbeda. Hari lahir seseorang selalu bersifat fatum (nasib, takdir). Kapanpun seseorang dilahirkan, mungkin pada hari yang paling buruk. kita tidak dapat mengubahnya. Secara factual itulah hari lahirnya. Namun pencarian hari lahir atau hari jadi sebuah kota atau daerah, selalu didasarkan kepada maksud tertentu, biasanya dalam upaya membangkitkan rasa bangga rakyat akan sejarah daerahnya, yang karena itu kemudian akan dapat mendorong mereka untuk mencintai daerahnya, dan pada tahap berikutnya akan dapat mendorong mereka untuk ikut serta secara ikhlas dan bangga dalam pembangunan daerahnya di segala bidang. Dengan perkataan lain, pencarian dan penetapan hari lahir atau hari jadi sebuah kota atau daerah lidak harus didasarkan kepada pertimbangan-pertimbangan yang bersifat fatum.
Karena itulah, dalam hubungannya dengan hal di atas, penetapan hari jadi kota atau daerah dimanapun, seperti hari jadi Jakarta. Surabaya, Kediri, Mojokerto, Tuban, Gresik, Ngawi, Sumenep, Lumajang dan lain-lain, selalu diambil dari suatu peristiwa yang paling bersejarah dari kota atau daerah yang bersangkutan, yang dapat menimbulkan rasa bangga, “pride”, masyarakatnya. Dengan perkataan lain, penetapan hari jadi sebuah kota atau daerah selalu bersifat ideal.

SEBAGAI CONTOH:

1. Hari jadi Jakarta, tanggal 22 Juni 1527, diambilkan dari peristiwa ketika Falatehan (Fatahillah. Fadhullah Khan) dapat merebut pelabuhan Sunda Kepala dari Penguasa Penjajaran dan mengusir kedatangan orang-orang Portugis yang akan mendirikan kantor dagang dan perbentengannya di pelabuhan tersebut. Peristiwa dikukuhkan dengan mengubah nama pelabuhan Sunda Kelapa menjadi Jayakarta, yang kemudian menjadi Jakarta. Sebelum tanggal 22 Juni 1527 pelabuhan Sunda Kelapa sendiri sebenarnya sudah ada, sudah lahir.

2. Hari jadi kota Surabaya, tanggal 31 Mei 1293, diambilkan dari peristiwa dihancurkannya pasukan tartar (Kubilai Khan) oleh Raden Wijaya di Hujung Galuh, sebuah bandar kecil yang kemudian berkembang menjadi kota Surabaya. Sebelum tahun 1293 bandar kecil Hujung Galuh tersebut sebenarnya sudah ada, sudah lahir justru dalam sejarah toponim Surabaya pada waktu itu masih belum dikenal.

3. Hari jadi Mojokerto, tanggal 31 Mei 1293 (sama dengan hari jadi Surabaya), diambilkan dari peristiwa ketika Raden Wijaya mengkonsinyasikan pasukannya di sebuah desa kecil bernama Japan, pada saat raden Wijaya melakukan persiapan menyerang pasukan tartar di Hujung Galuh. Toponim Mojokerto pada waktu itu masih belum dikenal, karena nama kota ini baru muncul ketika desa Japan berkembang menjadi kota dan ditetapkan sebagai ibukota Kabupaten Mojokerto (oleh Belanda) pada tahun 1838.

4. Hari jadi Tuban, tanggal 12 November 1293, diambilkan dari peristiwa pelantikan Rangga Lawe sebagai Adipati Tuban oleh Raden Wijaya. Padahal kota Tuban sudah ada (sudah lahir) sebelum tahun 1293.

CATATAN
Dari beberapa contoh di atas, bahkan dari hampir semua hari jadi dari kota atau daerah yang telah disebut terdahulu tidak sebuah kota atau daerah pun yang lahir jadinya bersifat Belanda sentris. Sejalan dengan hal di atas, sejak tahun 1977 DHC Angkatan ’45 Banyuwangi telah menyarankan agar penetapan hari jadi Banyuwangi didasarkan setidak-tidaknya kepada tiga hal:

1. Unsur kesejarahan artinya didasarkan kepada fakta sejarah, bukan dongeng, legenda atau rekaan.

2. Unsur kesejahteraan artinya didasarkan kepada fakta sejarah, bukan dongeng. Legenda atau rekaan.

3. Unsur filosofi, yaitu unsur-unsur kepribadian Indonesia yang kemudian digali dan terkandung dalam Pancasila.

Ketiga unsur tersebut hendaknya merupakan unsur-unsur yang saling mengikat dan tidak terpisahkan. Karena apabila suatu peristiwa sejarah mengandung hanya satu atau dua unsur saja dari ketiga unsur tersebut di atas. maka peristiwa dimaksud tidak akan dapat secara utuh memberikan rasa bangga daerah.

Di samping ketiga unsur di atas dapat juga ditambahkan unsur data waktu yang paling tua dari suatu peristiwa sejarah. Namun tentulah unsur ketentuan peristiwa sejarah ini tidak akan menomorduakan apalagi mengabaikan ketiga unsur pokok di atas. Sebab unsur ketuaan saja dari suatu peristiwa sejarah umumnya tidak akan memberikan efek apapun unluk menimbulkan apresiasi masyarakat kepada sejarah daerahnya.

Berdasarkan unsur-unsur yang melandasi pemikiran untuk penetapan hari jadi tersebut di atas, maka pendapan hari jadi Banyuwangi yang didasarkan kepada puncak Perang Puputan Bayu tanggal 18 Desember 1771 sesungguhnya sangat ideal.

CATATAN:
Menurut data sejarah yang ada, sepanjang sejarah Blamhangan kiranya tanggal 18 Desember 1771 merupakan peristiwa sejarah yang paling tua yang patut diangkat sebagai hari jadi Banyuwangi. Sebelum peristiwa puncak Perang Puputan Bayu tcrsebut sebenarnya ada peristiwa lain yang mendahuluinya, yang juga heroik-patriotik, yaitu peristiwa penyerangan para pejuang Blambangan di bawah pimpinan Pangeran Puger (Putra Wong Agung Wilis) ke benteng VOC di Banyualit pada tahun 1768 . Namun sayang peristiwa tersebut tercatat secara lengkap pertanggalannya, dan selain itu terkesan bahwa dalam penyerangan tersebut kita kalah total, sedang fihak musuh hampir tidak menderita kerugian apapun. Pada peristiwa ini Pangeran Puger gugur, sedang Wong Agung Wilis, setelah Lateng dihancurkan, terluka, tertangkap dan kemudian dibuang ke pulau Banda (Lekkerkerker), 1923: 1052-1053).

Mengenai hubungan antara toponim Banyuwangi dengan Perang Pupuatan Bayu secara ringkas dapat diterangkan sebagai berikut. Berdasarkan berbagai data sejarah, kita mengetahui bahwa sejak jaman Pangeran Tawang Alun (1655-1691). Pangeran Danuningrat (1736-1763), bahkan juga sampai ketika Blambangan berada di bawah “perlindungan” Bali (1736-1767), VOC belum pernah tertarik untuk memasuki dan “mengelola” Blambangan (Ibid. 1923: 1045). Ketika pada tahun 1743 Jawa bagian Timur (termasuk Blambangan) diserahkan oleh Paku Buwono II kepada VOC, VOC merasa Blambangan memang sudah menjadi miliknya, namun untuk sementara masih dibiarkan sebagai “barang simpanan”, yang baru akan dikelola sewaktu-waktu kapan saja kalau sudah diperlukan. Bahkan ketika Danuningrat meminta bantuan VOC untuk melepaskan diri dari Bali, VOC masih belum bergeming untuk menoleh ke Blambangan (Ibid. 1923: 1046). Namun, barulah setelah Inggris menjalin hubungan dagang dengan Blambangan (Lewat laporan mata-mata VOC Bapa Mida, Ibid, 1923: 1048/Setrayuda (Citrayuda) dalam Brandes, 1894: 356) dan mendirikan kantor dagangnya (komplek Inggrisan sekarang) pada tahun 1766 di bandar kecil Banyuwangi (yang pada waktu itu juga disebut Tirtaganda, Tirtaarum atau Toyaarum), maka VOC langsung terperangah dan “berjingkrat-jingkrat” untuk segera merebut Banyuwangi dan “mengamankan” seluruh Blambangan” secara umum dalam peperangan yang terjadi pada tahun 1767-1772 (lima tahun I) itu, VOC memang berusaha merebut seluruh Blambangan. Namun secara khusus sebenarnya VOC karena terdorong untuk segera merebut Banyuwangi, yang pada waktu itu sudah mulai berkembang menjadi pusat perdagangan di Blambangan, yang telah “dikuasai” Inggris.

Dengan semikian jelas, bahwa lahirnya sebuah tempat yang kemudian menjadi terkenal dengan nama Banyuwangi, telah menjadi kasus-beli terjadinya peperangan dahsyat, Perang Puputan Bayu. Kalau sekiranya Inggris tidak bercokol di Banyuwangi pada tahun 1766, mungkin VOC tidak akan buru-buru melakukan ekspansinya ke Blambangan pada tahun 1767, dan karena itu mungkin Perang Puputan Bayu tidak akan terjadi (puncaknya) pada tanggal 18 Desember 1771. Dengan demikian pasti terdapat hubungan yang erat dan tidak dapat dipisahkan antara Perang Puputan Bayu dengan lahirnya sebuah tempat yang bernama Banyuwangi. Dengan perkataan lain, Perang Puputan Bayu merupakan bagian dari proses lahirnya Banyuwangi. Karena itu, penetapan tanggal 18 Desember 1771 sebagai Hari jadi Banyuwangi sesungguhnya sangat rasional.

CATATAN KAKI

1. Wong AGung Wilis yang juga dikenal dengan nama Mas Sirna atau Pangeran Sirna, adalah buyut dari Pangeran Tawang Alun, dengan ibu dari Bali. Dia masih adik seayah dari Pangeran Danuningrat, raja Blambangan terakhir, yang dibunuh di Seseh, Bali, atas perintah raja Mengui. Wong Agung Wilis pernah menjadi patih dari Pangeran Danuningrat, sebelum akhirnya diberhentikan dan diganti oleh Sutajiwa (anak Danungrat) karena fitnah. Wong Agung Wilis sangal karismatik, sangat dicintai dan menjadi pujaan rakyat Blambangan. Dia dikenal sangat pemberani dan sangat mencintai leluhurnya, Blambangan. Sejak tahun 1763 dia tinggal di Bali dan kembali ke Blambangan pada tahun 1767 (setelah Banyualit diduduki oleh VOC) dalam rangka mempersiapkan perlawanan rakyat Blambangan terhadap VOC. Dia tertangkap di Blimbingsari (Kecamatan Rogojampi sekarang) karena luka-lukanya ketika mendukung penyerangan ke benteng VOC di Banyualit yang dipimpin oleh Pangeran Puger (Putra Wong Agung Willis). Oleh pengadilan VOC dia divonis dibuang ke Afrika Selatan, namun kemudian diubah dibuang ke Pulau Banda (Maluku). Wong Agung Wilis secara luar biasa dapat meloloskan diri lewat Pulau Seram ke Bali dan kemudian meninggal pada sekitar sebelum akhir tahun 1780 di Bali (Lekkerkerker, 1923: 1052-1053).

2. Sayu (Mas Ayu) Wiwit adalah putra dari Kuta Kedaton, wilayah Blambangan Tengah (sekitar Jember sekarang), Pigeaud, 1932: 256 dan 300). Dalam beberapa tulisan dikatakan bahwa dia putra Wong Agung Wilis. Kekeliruan ini mungkin akibat dari kesalahan dalam melakukan Transliterasi/transkripsi dari naskah babad Blambangan lama ke dalam bentuk kutipannya/terjemahannya yang baru (Ibid. 1932: 221 dan 257). Sayu Wiwit dikenal mempunyai kekuatan paranormal dan dapat kesurupan, kemasukan roh Mas Ayu Prabu (Mas Ayu Praba) dari Satrian (Kecamatan Rogojampi sekarang), putra bangsa Wong Agung Wilis (Ibid.1932: 297 dan 300). Dialah yang memimpin perlawanan terhadap Kompeni di wilayah Blambangan Tengah (Puger, Jember-Sentong, Bondowoso) dan sekitarnya (Op. cit. 1923: 1058). Selelah terdesak oleh pasukan VOC di Blambangan Tengah, dia bersama dengan kedua orang tuanya menyingkir ke Bayu, bergabung dengan Pangeran Jagapati (Op. cit. 1932: 256). Setelah Pangeran Jagapati gugur, bersama dengan Patih Jagalara dialah yang melanjutkan memimpin pasukan Bayu, khususnya pasukan wanita (Op.cit. 1932; 1926:401).

3. Pada lahun 1797 terjadi lagi pemberontakan (yang oleh orang-orang Belanda dikatakan dilakukan oleh orang-orang Lateng) (Blambangan) yang “biadab” yang dipimpin oleh Mas Sekar. Yang bermaksud membunuh semua orang Belanda yang ada di Blambangan. Pemberontakan Mas Sekar ini, yang mendapat dukungan Bali, dianggap yang paling berbahaya dari semua pemberontakan post Perang Puputan Bayu. Untuk menghadapi pemberontakan ini Belanda terpaksa mendatangkan bantuan beberapa kompi tentaranya dari Surabaya dan Semarang. Sayang pemberontakan ini gagal. Mas Sekar tertangkap dan dihukum berat (mati) sedang para pengikutnya banyak disiksa dan dibuang ke Semarang (Ibid 1923: 1062; 1926: 402).

4. Pada tahun 1800 terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh sisa-sisa laskar Lateng (Blambangan) yang dipimpin oleh seorang tokoh pejuang yang dikenal dengan julukan “Berngos Perada” (mungkin karena mempunyai ku1it yang kemerahan), yang oleh orang-orang Belanda dikatakan sebagai “Wilis-Sewu” ketiga, Laskar ini berpusat di Rajekwesi/hutan Betiri, dan dikenal sangat sukar ditundukkan (Ibid. 1926:401). Menurut catatan VOC/Belanda, perlawanan rakyat Blambangan khususnya di daerah-daerah pedesaan/pegunungan masih sering terjadi sampai dengan tahun 1810 (lbid. 1923: 401).

5. Dalam upayanya merebut Banyuwangi yang telah “dikuasai” oleh Inggris, VOC tidak langsung menyerang Inggris di Banyuwangi (tampaknya VOC menghindarkan peperangan terbuka antara Belanda dan Inggris), tetapi VOC berusaha untuk merebut Blambangan lewat Banyualit dulu (dekat Blimbingsari Kecamatan Rogojampi sekarang), dan akan memanfaatkan penguasa pribumi untuk mengusir Inggris dari Banyuwangi. Karena itulah segera setelah VOC dapat merebut Banyualit (tahun 1767) dan kemudian Ulu Pangpang. VOC mengangkat Mas Weka (Mas Una) dan Mas Anom (yang masih keturunan Tawang Alun) sebagai bupati-bupati (bupati “kembar”) di Blambangan. Namun karena kemudian Mas Weka dan Mas Anom ini dicurigai memihak kepada Wong Agung Wilis, kecuali bupati tersebut kemudian ditangkap dan dibuang ke Pulau Edam dan kemudian ke Pulau Banda (Ibid 1923: 1053).

Selain itu VOC mengangkat Bupati Sutanegara dengan patihnya Surateruna dan Bupati Wangsengsari dengan patihnya Jaksanegara. Namun kedua bupati tersebut dengan Patih Surateruna (ketiganya turunan Tawang Alun) kemudian membelot memihak kepada Rempeg (Pangeran Jagapati) dan menjalin hubungan dengan Bali untuk melawan Belanda. Karena itu kedua bupati tersebut dan Patih Surateruna ditangkap (tahun 1771) dan dengan seluruh keluarganya dibuang ke Ceylon (Srilangka) (Ibid. 1923: 1053).

Kemudian VOC mengangkat patih Jeksanegara sebagai Bupati (tunggal) dengan Patih Jurukunci (Pigeaud, 1923: 304). Pasca masa pemerintahan Bupati Jekasanegara inilah pecah peperangan yang legendaris di Bayu, yang kemudian dikenal dengan sebutan Perang Puputan Bayu. Inggris baru terusir dari Banyuwangi setelah usainya peperangan tersebut.

Penunjukan Banyuwangi sebagai ibukota Kabupaten Banyuwangi setelah usainya peperangan tersebut oleh Mas Alit (Bupati Blambangan yang diangkat oleh VOC, dengan resolusi tanggal 7 Desember 1773) yang dilakukan oleh Mas Alit atas “advies” Schophoff, Residen Blambangan pada waktu itu (Op. cit. 1923: 1061), tentulah tidak lepas dari kepentingan VOC untuk menguasai dan mengamankan Banyuwangi serta melakukan pengawasan secara ketat atas (dan kelak sebagai batu loncatan ke Bali) (Op. cit. 1923: 1061).

DAFTAR BACAAN

Anderson, Benedicl R.
– Sembah-Sumpah, Politik Bahasa dan Kebudayaan Jawa, dalam Prisma, II November 1982.

Arifin, Winarsih
Babad Wilis. Jakarta – Bandung. Lembaga Penelitian
Perancia untuk Timur Jauh, 1980.

Atmodjo. MM. Sukarto K.
Hari Jadi Kediri (Sekitar Masalah Sejarah Kediri Kuna). Kediri:  Lembaga Javanologi – Univ. Kediri,1985.

      – Menelusuri Sejarah Hari Jadi Lumajang Berdasarkan Data  Prasasti dan NaskahKuna. Makalah untuk seminar Sejarah Hari jadi Lumajang, 1990.

Brandes. Dr. J.
– Verslag Over Een Babad Blambangan. TBG-XXXVU/1894: 325 – 365

Darusprapta
Babad Blambangan. Yogyakarta Univ. Gadjah Mada. 1984 (Disertasi).
Babad Blambangan, Kajian Historiografi Tradisional. Makalah untuk Seminar Sejarah Blambangan, 1993.

DHC Angkalan ’45 Banyuwangi
– Pokok-pokok Pikiran Tentang Penetapan Hari Jadi Banyuwangi. Banyuwangi 1988.
Kajian Tanggapan Pendapat tentang Hari jadi Banyuwangi. Banyuwangi, 1994. Ency lopedie van Nederlandasch Indie. Jilid I : A-G’s Gravenhage-Leiden. Marlinus Nijhoff-E.T. Bril. 1919.

Epp. Dr. F.
Banyoewangi. TNI-L ii : 242–261

Graff H..T. de dan Th. G. Th. Pigeaud
Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa. Jakarta: Grafitipers, 1989.

Kartodirdjo. et.al. Sartono.
Sejarah Nasional Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1991.

Ketua Dewan Kesenian Blambangan
Hari Jadi Banyuwangi, Sebuah Problematik. Makalah untuk Seminar Sejarah Blambangan, 1993.
– Alternatif Hari Jadi Banyuwangi, Surat Dewan Kesenian Blambangan, Banyuwangi, kepada Bapak Bupati Kdh. Tk. II Banyuwnagi Tanggal 28 April 1994.

Lekkerkerker, C
Blambangan. Inclische Gids/1923 : 1030-1067
Banjoewangi 1880 -1810. Indische Gids 1926 : 101-104

Marrson, G.E.
Eastren Java – History and Literature of Blambangan. Passau Ulyer stone, Cumbria : Sixth European Colloqquium on Indonesia and Malay Studies. 1978.

Mirsha, I Gusti Ngurah Rai
– Sejarah Blambangan dan Bali. Manakah untuk Seminar Sejarah Blambangan, 1993.

Notodiningrat, K.R.T.
Babadipoen Negari Blambangan Ngantos Doemoegi Negeri Banjoewangi, KGBDCXII 1919.

Pigeaud. Th. G.Th.
Stukken Bctreffende het onderzoek in Blambangan. TBG-LXIX 1 1926 : 208-220
Verslag Over het Blambangan –onderzoek in 1928. TBG-LXX 1 1930 : 98 – 101
Aanteekeningen Betreffende den Javaanchen Oosthoek. TGB-LXXIII 1932:215-313

Shadily, et AI. Hassan
Ensiklopedi Indonesia, Jakarta: P.T. Ichliar Baru – Van Hoeve, 1987

Soekanto, Dr.
Dari Jakarta ke Jayakarta, Jakarta PT. Soeroengan, 1975.

Tim Hari Jadi Banyuwangi (Tim I).
Hari Jadi Banyuwangi. Makalah usulan unluk penetapan hari jadi Banyuwangi, 1997.

Tim Jurusan Sejarah FS Univ. Jember
Pangeran Agung Wilis dari Blambangan, Suatu Kajian Awal, Manakah untuk Seminar Sejarah Blambangan, 1993 .

Timoer, Soenarto
Mencari Hari Jadi Mojokerto dan Permasalahannya, Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Mojokerto, 1992.
– Mitos Cura-bhaya. Jakarta : Balai Pustaka, 1983.

Tim Permusiuman Blambangan
Hari Jadi Kota Kabupaten Banyuwangi, Makalah usulan untuk penetapan hari jadi Kota Kabupalen Banyuwangi, 1987.

Warsley, P.J.
Babad Buleleng. A Balinese Dynastic Genealogy. The Hage: KITL V-BI No.8. 1972.

Yunani, R.M.
Penetapan hari Jadi Majapahit, Kebenaran atau Kecerobohan Ilmiah? Dalam Surabaya Post. Tanggal 13 Juli 1993.

Materi di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit-Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Majalah Gema Blambangan, edisi khusus (076-077), 1997.

Puji-Pujian Banyuwangen

Selayang Pandang: Puji-Pujian Banyuwangen

Tamba ati iku lima warenane
Maca Qur’an angen-angen ring maknane
Kaping pindo shalat wengi lakonana
Kaping telu dhikir ati ………………………………

Sesungguhnya puji-pujian adalah suatu tradisi yang tidak ditradisikan oleh Nabi Muhammad SAW maupun khulafa’rossyidien. Mengingat memang tidak ada contoh maupun perintah Rasulullah itu, maka wajarlah kalau ada sebagian insan, puji-pujian tersebut sebagai muspro saja. bahkan ada yang menyatakan, puji-pujian tersebut sebagai bid’ah dlolaalah. Artinya, sesuatu yang diada-adakan, yang tidak dilakukan oleh rasuluIlah, dan itu salah.

Namun ada kesan dan pendapat lain yang berpendirian, puji-pujian itu mempunyai tujuan yang baik, caranya pun baik, serta di dalamnya terkandung nilai-nilai keimanan, dakwah, dan syiar Islam. Maka dianggaplah puji-pujian itu sebagai bid’ah hasanah. Maksudnya, sesuatu yang tidak dilakukan Rasulullah, namun mempunyai nilai atau arti yang baik dan bermanfaaf (aslahah), bahkan mendekati sebagai sangat dianjurkan.

HA Mughni Said, sarjana pendidikan agama Islam menyatakan, masalah puji-pujian itu sebagai suatu kenyataan yang hidup mentradisi di kalangan masyarakat. Baik yang dialunkan dalam bahasa campuran, bahasa Arab, bahasa Using yang disesuaikan dengan lingkungan, dan dengan irama lagu yang bervariasi.

Tentang puji-pujian berbahasa Using yang lebih dikenal dengan sebutan Puji-pujian Banyuwangen, Ketua FKP DPRD setempat ini secara pribadi berpendapat, di samping mempunyai nilai pendidikan dan dakwah, juga mempunyai sentuhan seni yang masih islami.

Bahkan dalam perkembangan akhir-akhir ini, menurut laki-laki kelahiran Lamongan 1949 lalu itu syair puji-pujian Banyuwangen dipakai untuk menyemarakkan tampilnya kesenian Kundaran (Kuntulan Dadaran) yang mempunyai corak khas Banyuwangi, seperti Tamba Ati. Sebagaimana tradisi-tradisi islami yang lain, puji-pujian di samping bisa diterima sebagai kontribusi yang bernilai pendidikan dan dakwah, juga terasa sentuhan-sentuhan nilai seninya, ada beberapa hal sebagai masalah yang perlu dikaji lebih profesional lagi.

Masalah tersebut antara lain masih sering puji-pujian itu dikumandangkan dengan alunan yang kurang menarik, dan waktunya kadang-kadang menjemukan, bahkan terkesan hanya dilakukan asal-asalan saja.

Termasuk adanya situasi yang kurang mendukung akibat kemajuan dan tuntutan masyarakat yang semakin terasa memerlukan waktu yang cepat, dan ingin serba praktis, sehingga terkesan bahwa waktu yang dipakai puji-pujian kurang bernilai ekonomis.

Di samping itu, semakin berkurangnya minat masyarakat terhadap puji-pujian. Apa alasannya? Dalam hal ini, Mughni yang pernah menjabat Kasubsi Penyuluhan pada Seksi Penerangan Agama Islam Kandepag Banyuwangi, mengakui belum melakukan pengamatan secara khusus.

Budayawan Banyuwangi, Hasan Ali mengatakan, memang tidak ada aturan yang mengharuskan semua kegiatan agama atau upacara keagamaan dilakukan dengan lagu. Namun ada beberapa kegiatan agama atau upacara keagamaan yang akan terasa janggal untuk tidak dilagukan, setidak-tidaknya lagu kalimat, lagu baca, atau lagu ujaran.

Dapat dibayangkan, semisal puji-pujian Banyuwangean yang cukup dikenal, yakni Tamba Ati, direkam dalam bentuk ngomong kemudian diputar kembali setiap usai maghrib: Dulur-dulur, tamba ati niku nggih, enten lima, kang sepisan .. . dan seterusnya.

Barangkali untuk sekali dua kali orang masih akan mendengarkannya, namun untuk selanjutnya orang akan menjadi bosan, dan tak akan mendengarkannya lagi. Lain halnya jika pujipujian itu dilagukan dengan baik oleh orang-orang yang suaranya baik, apalagi dengan cengkok dan improvisasi yang variabel, yang tidak monoton. Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) itu menegaskan, karena itulah sejak dulu sampai sekarang, dan barangkali sampai kapan saja, pujipujian Banyuwangen tetap dilagukan, walau diketahui lagu pun jika dinyatakan terus menerus juga akan membosankan. Diyakini pula, secara sadar atau tidak, para pelagu puji-pujian Banyuwangen cukup tanggap. Untuk menghindarkan kebosanan itu mereka biasanya selain selalu mengganti-ganti nyanyian puji-pujiannya, kadang-kadang untuk bentuk syair yang sarna.

Dicontohkan puji-pujian Tamba Ati. Sekali tempo mereka menyanyikan dengan nada petatonik anhemitonis atau slendro menggantikan yang diatonik mayur.

Menurut ayah kandung penyanyi Emilia Contessa ini, ada yang agak luar biasa pada para pelagu puji-pujian Banyuwangen, yakni tanpa melalui belajar tentallg teori musik secara alami mereka dapat melagukannya untuk syair puji-pujian. Dan umumnya, mereka menyanyikannya degan pas.

Puji-pujian Banyuwangen disebarkan dan diturunkan ke generasi berikutnya dari mulut ke mulut. Karena cara itulah mengakibatkan sering berubahnya lafal kata secara tidak didasari. Hal ini juga terjadi pada lagu-lagu klasik daerah Banyuwangi.

DKB bersama Yayasan Kebudayaan Banyuwangi (YKB) beberapa waktu lalu melakukan penelusuran ragam puji-pujian Banyuwangen ke berbagai desa. Hasilnya, tak mendapatkan lagi puji-pujian dengan nada pelog.

Jika tak segera diangkat kembali, hal yang sungguh memprihatinkan ini akan bermuara terancamnya kepunahan puji-pujian dengan nada pelog tersebut, dan yang tinggal hanya catatan sejarahnya saja.

Di sisi lain, tahun-tahun belakangan ini para pelagu puji-pujian banyak mengambil begitu saja lagu-lagu minor kasidahan, melayu, dangdut, dan barangkali,juga lagu-lagi India, lalu mengisinya dengan syair-syair karangannya sendiri.

Hal ini sangat disayangkan oleh kakek rapper nasional Denada karena masalah pengambilan tersebut apapun kepentingannya akan dapat menimbulkan kesan, citra. dan dampak yang kurang menyenangkan. Kebiasaan ini melahirkan kesan, para pelagu puji-pujian Banyuwangen tidak kreatif dalam penciptaan lagu.

Pengambilan dengan cara asal ambil, tidak menjamin mutu puji-pujian itu sendiri secara keseluruhan, karena biasa terjadi syair yang ditempelkan tidak sejiwa dengan lagu asalnya. Misalnya, dari lagu romantis, atau lagu porno yang terselubung ke lagu pujian kepada Tuhan . Jelas, selain itu hal tersebut merupakan pelanggaran terhadap hak cipta, dan dapat menyinggung perasaan pengarang lagu asalnya.

Lalu bagaimana jalan ke luarnya? DKB dan YKB akan melakukan pertemuan dengan para takmir masjid dan mushola, serta para guru ngaji di langgar membahas perkembangan budaya pujipujian Banyuwangen. Dan menyelenggarakan festival atau lomba puji-pujian Banyuwangen.Kapan? Hasan Ali berujar: ini baru gagasan. (Pamo Martadi dan Yuliadi)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Prasetya no.5, Mei 2009.

Sejengkal Pantai Banyuwangi Dipertahankan dengan Darah dan Nyawa oleh Pasukan ALRI 0032

Kisah Nyata:

Oleh : Peltu Purn.  Badrus Sjahlana

Dalam rangka memperingati hari ARMADA RI dan hari DHARMA SAMUDRA sekarang ini, patutlah kita bangsa lndoensia umumnya dan warga TNI AL, khususnya berbangga hati melihat kelrampilan dan kemampuan Armada RI yang semakin mantap untuk menjaga dan menegakkan kedaulatan negara kita di laut. Peralatan TNI AL semakin canggih, lengkap dan mutakhir. Baik yang di bawah air, di atas air, di darat maupun di udara. Lebih-lebih lagi kesemuanya itu diawali oleh personil yang terlatih, yang memiliki semangat juang dan profesionalisme. Dengan demikian kita semakin yakin bahwa TNI AL yang kecil tetapi efektif akan dapat menangkal setiap ancaman dan gangguan dari manapun dalangnya, baik dari dalam maupun dari luarnegeri. Bendera JALESVEVA JAYAMAHE sekarang sudah berdiri tegak dan selalu berkibar di seluruh Persada Nusantara tercinta ini dengan anggunnya.

Namun perlu kita sadari bahwa kemampuan dan kesiapan tempur yang tinggi bagi TNI AL ini tidaklah dapat terwujud dengan secara tiba-tiba seperti Aladin dengan lampu wasiatnya, melainkan melalui perjuangan, panjang yang sangat berat penuh dengan halang rintang serta penuh dengan pengorbanan baik harta maupun jiwa.

Sebagai salah satu contoh, marilah kita simak kilasan sejarah perjuangan heroik yang patrioti Pasukan ALRI 0032 yang telah rela kulit dan dagingnya robek, darahnya lumpah bahkan nyawanya melayang demi mempertahankan sejengkal pantai pelabuhan Banyuwangi.

Mungkin banyak diantara pembaca yang belum mengenal Pasukan ALRI 0032. Pasukan ALRI 0032 ini sebagian anggotanya berasal dari pelajar di Kaigun Kokusyo Morokrembangan Surabaya (Penerbangan Angkatan Laut pada zaman pendudukan Jcpang di Indonesia) yang setelah lulus pendidikan ditempatkan di penerbangan Angkatan laut di Lawang (Malang). Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, di mana saat itu terjadi perebutan dan peralihan kekuasaan dari Jepang ke RI, maka para anggota Penerbangan Angkatan Laut baik yang dari Lawang maupun yang dari Morokrcmbangan Surabaya menggabungkan diri ke dalam Badan perjuangan Pemuda Penerbangan Angkatan Laut di bawah pimpinan Letnan Suwarlan.

Pada bulan April 1946 mereka ini diperitahkan oleh Markas Besar Angkalan Laut  di Lawang untuk berangkat ke Jogja guna mengikuti LPTKP (Latihan Polisi Tentara Kementrian Pertahanan) di Markas kementrian Pertahanan RI di Gondokusuman no. 2 Jogjakarta. Selesai mengikuti pendidikan LPTKP selama ±4 bulan, mereka dikembalikan ke Jawa Timur dengan nama pasukan 0032 TLRI (Tentara Laut Republik Indonesia) di bawah pimpinan Letnan Suharto yang markasnya berada di Batu (Malang). Selama di Batu mereka ditugasi menjaga gudang perlengkapan yang tempatnya di atas pasar lama dekal sanatorium, menjaga tempat tawanan Indo Belanda yang masih gadis di Songgoriti dan juga juga tempat tawanan politik kaki tangan Tan malaka di Batu.

Pada bulan September 1946 sebagian dari Pasukan ALRI 0032 ini, yaitu yang dari Seksi 3 dibawah pimpinan Letnan Misman diberangkatkan ke Pangkalan X Banyuwangi dengan tugas utama untuk mempertahankan Pelabuhan Banyuwangi dari ancaman pendaratan agresor Belanda. Selama di Banyuwangi oleh Komandan Pangkalan-X Letkol Abdul Halik. Seksi-3 Pasukan ALRI 0032 ini ditampung di asrama SR Maudi Putri sebelah utara lapangan banyuwangi (sekarang SDN Kepatihan), yang kemudian ditempatkan di asrama Angkalan Laut di dalam komplek pelabuhan Banyuwangi. Tiada berapa lama kemudian Komandan Pangkalan-X Banyuwangi discrah terimakan dari Lelkol Abdul Halik kepada Letkol Tamboto.

Pada bulan April 1947 seksi 3 Pasukan ALRI 0032 ini diganti dengan Seksi-I Pasukan ALRI 0032 di bawah pimpinan Letnan Suleman, yaitu susunan seksinya adalah sebagai berikut:
Komandan Seksi-I      : Letnan Suleman
Komandan Regu-I      : Serma Aspangkat
Komandan Rcgu-2      : Serma Pudjiardjo
Komandan Regu-3      : Serma Wasito
Komandan Regu-4      : Serma Tppin Sugeng
Bintara Staf                  : Serma Y. Basri
Wakil Komandan Regu-I   : Sersan Ahmad Adji
Wakil Komandan Regu-2   : Sersan Supermak
Wakil Komandan Regu-3   : Sersan Sirus
Wakil Komandan Regu-4   : Sersan Sutipto
dan 44 orang anggota Pasukan ALRI 0032.

Seksi-I Pasukan ALRI 0032 inipun sama halnya dengan seksi-3 dengan tugas pokok mempertahankan Pelabuhan Banyuwnagi bersama anggota dari Pangkalan-X Banyuwangi.

Tanda-tanda Pasukan Belanda akan mengadakan pendaratan di pantai Banyuwangi sudah dapat diduga sebelumhya, karena pada bulan Juli 1947 terutama malam hari sering terlihat adanya perahu layar yang mendekati pantai Banyuwangi, baik di dekat Watudodol, Ketapang, Sekowidi, maupun Banyuwangi. Setelah dilepaskan tembakan segera menurunkan layar dan berganti menghidupkan mesin terus lari menghilang. Hal ini memungkinkan karena waktu itu pulau Bali sudah diduduki Belanda.

Menyadari bahwa Belanda akan mengadakan pendaratan di Banyuwangi, maka pasukan kita telah mengantisipasinya dengan membentuk kantong-kantong pertahanan dan perlawanan di tepi pantai Banyuwangi seperti di Watudodol, Meneng, Ketapang, Sukowidi, Banyuwangi dan sebagainya.

Ketika pasukan Belanda mengadakan aksi polisionil pertama tanggal21 Juli 1947 menjelang matahari terbit , pasukan ALRI 0032 dikejutkan oleh suara tembakan dan pelabuhan Banyuwangi  dihujani peluru meriam dari kapal perang Belanda, demikian juga pantai lain seperti Watudodol, Meneng dan Kelapang dijadikan sasaran tembakan oleh kapal-kapal perang Belanda.

Setelah mengetahui bahwa peralatan musuh jauh lebih Icngkap dan modern, serta tidak mungkin dibendung dengan persenjataan yang kita miliki, maka pos-pos pertahanan yang berada di sebelah utara pelabuhan Banyuwangi seperti Gunung Romuk, Watudodol, Meneng, Kelapang dan Sukowidi mengundurkan diri masuk kepedalaman untuk meneruskan perlawanan dengan perang gerilya. Demikian juga Pasukan ALRI 0032 maupun yang dari Pangkalan-X yang bertugas mempertahankan pelabuhan Banyuwangi mendapat perintah dari MB ALRI di Lawang untuk segera mengundurkan diri. Namun perintah untuk menarik diri dari pelabuhan Banyuwangi ini dijawab dengan lantang dan berani oleh Letnan Suleman selaku Komandan seksi : “Tidak, pantai ini akan saya pertahankan sampai tetes darah yang terakhir. Lebih baik mati berkalang tanah dari pada harus dijajah”. Dan kenyataannya memang benar, tekad dan semangat juang yang heroik patriotik ini telah dibuktikan oleh segenap anggota ALRI yang ada di pclabuhan Banyuwangi, khususnya olch Pasukan ALRI 0032. Masih tanggal 21 Juli 1947 sekira pukul 15.00 ketika pasukan kita siapsiap menanti pendaratan pasukan Belanda di depan pelabuhan Banyuwangi, secara tiba-tiba dan mengejutkan di berondong senapan emsin mitraliur dan mortir dari belakang dari arah kota Banyuwangi Semula tembakan-tembakan dari belakang ini diduga salah pengertian. Menurut perkiraan pasukan ALRI 0032, jangan- jangan TRI yang ada di asrama Inggrisan (dalam kota Banyuwangi) mengira Belanda telah mendarat di Pelabuhan, sehingga kita pasukan ALRI 0032 ditembaki dari belakang dikira pasukan belanda. karena itu Komandan Regu-2 Serma Pudjiardjo langsung naik ke atas tempat perlindungan memegang bendera kecil merah-putih dikedua tangannya sambil berteriak: “Jangan tembak bung, lambaikan bendera merah putih. Namun apa yang terjadi selanjutnya. Tembakan bukan berhenti malam semakin gencar: Melihat kenyataan ini Letnan menelpon ke pasukan ALRI yang ada di Sukowidi ± 3 km sebelah utara pelabuhan Banyuwangi, ternyata yang menerima telpon justru pasukan Belanda. Seterusnya Letnan Suleman menghubungi TRI yang ada di asrama Inggrisan, asrama inipun sudah dikosongkan. Mereka telah mengundurkan diri kepedalaman tanpa memberi tahu pasukan ALRI 0032 yang berada di pelabuhan Banyuwangi.

Setelah para penembak dari arah belakang menyeberangi jembatan pelabuhan, tampak jelas bahwa mereka bukan TRI, tapi pasukan KNIL Belanda yang mengenakan pakaian macan loreng. Menghadapi keadaan yang sangat gawat dan mencekam ini, karena dari arah depan pelabuhan ditembaki oleh kapal perang Bel anda, dari belakang diberondong senapan mesin metraliur dan mortir, sedang dari udara dihujani bom oleh pesawat Belanda, tiada pilihan lain bagi pasukan ALRI 0032 harus bercibaku untuk melawannya dengan semangat banteng Ketaton. Komandan Seksi Letnan Suleman berteriak memerintahkan Serma Ahmad Adji menembakkan Pom-pom dan kepada Sersan Sirus untuk menembakkan metraliur serta anggota yang lain segera membalas melepaskan tembakan ke arah pasukan KNIL Belanda untuk membendung gerak maju pasukan musuh. Sejak saat itu pertempuran mencapai klimaksnya, karena jarak antara kedua pasukan sudah sangat dekat tidak lebih dari 150 meter. Di kedua belah pihak saling berjatuhan tertembus peluru. Pertempuran mengadu nyawa ini berlangsung sekitar satu jam; sampai akhirnya tidak sebutir pelurupun dimiliki oleh anggota pasukan ALRI 0032. Setelah kehabisan peluru ini, Letnan Suleman memerintahkan anggotanya menyeberangi sungai sebelah selatan pelabuhan. Perlu pembaca ketahui bahwa pelabuhan Banyuwangi ini merupakan delta atau semacam pulau kecil didepan muara sungai yang dikelilingi laut. Namun karena sore hari itu laut sedang pasang, pasukan ALRI 0032 mengalami kesulitan karena muara sungai menjadi dalam. Akibatnya pasukan Belanda dengan mudah nya memberondngkan senjatanya ke arah pasukan ALRI 0032. Tidak sedikit pasukan kita yang hati dan jantungnya tertembus peluru. Muara sungai seketika menjadi merah akibat darah. Sedang lainnya yang lolos dari maut, yaitu 21 orang dari pasukan ALRI 0032 dan seorang dari Polisi Tentara Laut Pangkalan-X tertangkap hidup-hidup. Tanpa mengenal peri kemanusiaan pasukan KNIL Belanda yang kebanyakan pribumi itu mulai melakukan penghinaan dan penganiayaan. Rupanya lupa bahwa mereka itu dilahirkan di bumi kandungan Ibu Pertiwi. Kekejamannya maupun kesadisannya jauh melebihi tuannya. Bayangkan pasukan ALRI 0032 yang tertangkap masih berlumuran darah dipakskan harus melepas pakaiannya sehingga telanjang bulat. Lalu dibariskan dalam keadaan telanjang dipimpin oleh Letnan Suleman. Selanjutnya digiring menuju pos penjagaan sebelah utara asrama pasukan ALRI 0032 di dalam komplek pelabuhan. Di tempat inilah setelah didesak dengan pertanyaanpertanyaan diiringi dengan pukulan dan tendangan membuat semakin parah luka-Iuka yang ada pada anggota pasukan ALRI 0032. Walaupun demikian mereka tetap bungkam seribu bahasa tanpa sepatah katapun menjawab pertanyaan yang diajukan. Hal ini menambah semakin sadis dan buas para anggota KNIL yang mengintrograsi pasukan kita. Bahkan Letnan Suleman dan Serma Y. Basri disuruh makan uang ORI dan surat kabar Merdeka. Setalah mereka merasa puas menghina dan menyiksa para patriot bangsa kita, maka sekira pukul 18.30 semua pasukan yang tertangkap ini walaupun terluka parah dan sulit untuk bias berjalan, tetap dipaksakan digiring ketepi laut di sebelah selatan asrama. Di tempat ini terdapat lubang perlindungan tempat senjata pom-pom yang baru tadi pagi digali oleh anggota pasukan ALRI 0032. Dan di tempat ini pula anggota Pasukan ALRI 0032 akan dihabisi dengan cara akan ditembak. Namun sebelum hukuman dijatuhkan, Letnan Suleman sempat protes minta supaya:

1. Diperlakukan sebagai tawanan perang sesuai dengan hukum Internasional.
2. Diberi kesempatan untuk menaikkan Sang Saka Merah Putih.
3. Menyanyikan lagi kebangsaan Indonesia Raya.
4. Memekikkan “Merdeka” tiga kali.

Ke empat permintaan ini tidak digubris, tapi malah diperintahkan tangan ditaruh di belakang badan kemudian diikat dengan tampar bekas tali kelambu asrama.

Cara mengikatnyapun tidak satu persatu tapi digandeng-gandeng satu dengan l ainnya memanjang dan disuruh duduk melingkar membentuk tapal kuda. mendapat perlakuan biadab ini sekali lagi Letnan Suleman protes, namun prates Letnan Suleman ini tidak dijawab dengan kata, melainkan dijawab dengan serentotan Tembakan Ston-gun yang dilepas dari arah belakang oleh pasukan Belanda melalui KNIL cecunguknya. Dengan demikian bertambahkah putra-putra terbaik Ibu Pertiwi berguguran keharibaannya. Dipangkuan Ibu Pertiwi inilah para kusuma bangsa pasukan ALRI 0032 menyerahkan darah dan nyawanya mengawal dan mempertahankan pesisir pantai Banyuwangi demi tegak kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang di cintainya. Memang benar mati hidupnya seseorang itu Tuhan Yang Maha Esa lah yang menentukan. Terbukti dari 22 orang yang dijatuhi hukuman tembak ini tidak semuanya gugur. Walaupun para kusuma negara ini sudah berlumuran darah penuh luka di badan belum semuanya menemui ajalnya. Masih ada 6 orang yang lolos dari pembantaian penghianat negara ini. Beliau-beliau inilah sebagai saksi dan pelaku sejarah yang perlu diacungi jempol karena dengan gagah berani merelakan tubuhnya ditembusi peluru demi tegak dan berkibarnya bendera Jalesveva Jayamahe di Persada Nusantara tercinta ini.

Kadar perjuangan yang tiada ternilai harganya ini oleh masyarakat setempat telah dibadikannya dengan jalan membangun makam di lempat gugurya para pejuang bahari itu berbentuk kapal laut dengan tugu kecil sebagai monumentnya.

Pada tahun 1950 Presiden pertama RI Bung Kamo telah menyempatkan diri’ untuk berziarah ke makam Pasukan ALRI 0032 ini dan beliau berkenan pula membubuhkan prasasti dengan tulisan tangan beliau sendiri berbunyi : “Hormatku Padamu Pahlawan” serta beliau tanda tangani dibawahnya. Rupanya Bung Karno ini ingin menunjukkan kepada kita bahwa sebagai pemimpin perlu mewujudkan satunya kata dengan perbuatan . Sebab apa yang pernah beliau kata “Bangsa yang besar adalah bangsa yang memghormati para pahLawannya” telah beliau buktikan dengan mendatangi dan memberi tulisan tangan sebagai prasasti, sebagai hormat beliau kepada para pahlawannya.

Kini pasukan ALRI 0032 sudah tiada. Yang tampak hanya bangunan tua hasil swadaya murni masyarakat. Namun semangat juang dan jiwa patriotismenya masih tetap abadi sebagai warisan nilai-nilai luhur Angkatan 45.

Sebagai penutup ingin penulis teruskan himbauan pengurus BKP Al Banyuwangi agar diantara pembaca dan yang berkenan memugar TMP Pasukan ALRI 0032 ini, sebagai :

1. Penghormatan, penghargaan dan rasa terima kasih kepada para pahlawan pendahulu kita.

2. Pewarisan nilai-nilai luhur angkatan 45 kepada generasi penerus bahwa di makam ini pernah terukir sejarah perjuangan bangsa dimana para prajurit TNI AL dengan gagah berani menan tang maut demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

3. Pendorong/penanaman jiwa dan semangat cinta tanah air kepada generasi penerus dalam menerima pelimpahan tugas- tugas dan tanggungjawab penerusan nilai-nilai TNI AL dalam perjuangan nasional untuk mencapai tujuan nasional berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Semoga
Materi di atas dinukil dari Majalah Gema Blambangan, edisi khusus (076-077), 1997. Koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur

Ceritera Menakjinggo-Damarwulan Ternyata Bertentangan dengan Fakta Sejarah Blambangan

Napak tilas: 
Meluruskan Jalannya Sejarah Blambangan

Oleh : Sri Adi Oetomo
(Budayawan & Pemerhati Sejarah Blambangan)

1. Berkat kepopuleran ceritera Menakjinggo Damarwulan di kalangan masyarakat di tanah air, terutama  masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur, juga ternyata mempopulerkan daerah Blambangan. Dalam hal ini disebabkan bahwa dalam lukisan ceriteranya Prabu Menakjinggo dianggap sebagai raja Blambangan Kendati demikian kepopuleran daerah Blambangan ternyata tidak menguntungkan bagi daerah tersebut, bahkan masyarakat lebih cenderung untuk memberikan penilaian negara terhadap daerah yang terlelak di kawasan ujung paling Timur pulau Jawa ini. Hal itu dapat dimengerti, karena dalam lukisan cerita Menakjinggo Damarwulan hampir dari segala sumber selalu memburuk-burukkan pihak Blambangan. Prabu Menakjinggo yang dianggap sebagai raja Blambangan bersama keluarga Istana dan para nara praja dalam ceritera fantastis itu dilukiskan sebagai tokoh-tokoh negarawan yang berwatak dan berperilaku jahat, seperti : Deksura, kejam, serakah, angkara murka, mabuk kekuasaan, curang, pengkhianat dan lain-lain, sehingga menimbulkan respon dan kesan masyarakat, terutama dari luar daerah ini kurang simpatik terhadap rakyat dan daerah Blambangan, bahkan juga menimbulkan anggapan dan tafsiran bahwa sebutan Blambangan itu hanya merupakan symbol tempat kejahatan.

Menurut ceritera, Prabu Menakjinggo yang dianggap sebagai raja Blambangan yang telah berani meminang Sri Ratu Kencanawungu atau (Prabu Kenya) dianggap kekuasaan serta telah melakukan kejahatan yang berlebih-lebihan, karena maharani Majapahit itu seharusnya dihormati dan dimuliakannya sebagai Ratunya. Sedang kedua permaisurinya, yakni Dewi Waita dan Dewi Puyengan juga dilukiskan sebagai wanita pengkhianat yang tidak memiliki kesetiaan terhadap suami dan negara. Itulah sebabnya kerajaan yang diperintah oleh Prabu Menakjinggo dianggap sebagai lambang kejahatan yang disebut “Kerajaan Blambangan” Lukisan ceritera semacam itu memungkinkan sekali berdampak negatif, karena dapat mengurangi dan bahkan akan dapat menghapus watak jiwa kesatria serta sifat-sifat terpuji, seperti: rela berkorban, semangat patriotisme yang tinggi,  jiwa heroisme, pantang menyerah kepada musuh dan lain-lain yang telah dimiliki oleh leluhur Blambangan antara lain: Aria Nambi, Prabu Wirabhumi. Sinuhun Tawang Alun, Wong Agung Wilis, Pangeran Jagapati,  Mas Ayu Wiwit dan masih ada lagi lainnya yang telah berjuang dengan segala pengorbanan demi membela  rakyat dan mempertahankan bumi Blambangan. Terutama dalam peperangan melawan Kompeni Belanda di masa silam.

Sementara itu ceritera Menakjinggo – Damarwulan yang bersumber dari luar daerah Blambangan, maksudnya baik bersumber dari Serat Damarwulan dan Serat Kandha maupun dari Kesenian Langendriyan, lukisan ceriteranya selalu memburuk-burukkan pihak Blambangan, terutama tindakan Prabu Menakjinggo dan perilaku kedua permaisurinya, yakni Dewi Waita dan Dewi Puyengan beserta para narapraja dari kerajaan ini. Dalam hal ini jelas bertentangan dengan fakta sejarah, khususnya berbagai peristiwa sejarah yang pernah mewarnai jalannya sejarah Blambangan. Secara Jujur harus diakui bahwa dibalik ceritera Menak Jinggo-Damarwulan, di bumi Blambangan sebenarnya banyak menyimpan ceritera yang mempunyai nilai cukup tinggi dan kisah kepahlawanan leluhur yang cukup mengagumkan, terutama dalam peperangan melawan Kompeni Belanda di masa silam. Leluhur Blambangan itu telah berjuang dengan segala pengorbanan, bahkan sampai titik darah penghabisan demi membela rakyat dan membentengi bumi Blambangan. Sebagaimana diungkapkan dalam buku Babad Tawang Alun bahwa Sinuhun Tawang Alun dari kerajaan Macan Putih yang memerintah dari lahun 1667-1691, ternyata terkenal tidak sudi bekerjasama dan berkompromi dengan Kompeni Belanda.

Pangeran Agung Wilis cicit Kanjeng Sinuhun Tawang Alun sebagai Pangeran Blambangan yang mengemudikan pemerintahan dari tahun 1767-1769 juga ternyata telah mempelopori rakyat dan berjuang secara terang-terangan dengan mengangkat senjata dan maju kemedan perang untuk mengusir Kompeni Belanda yang manjarah rayah bumi Blambangan. Selanjutnya Pangeran Jagapati Adipati Bayu dari tahun 1771-1772, meneruskan perjuangan Wong Agung Willis dan telah berjuang sampai tilik darah penghabisan dalam megusir para serdadu VOC dari persada Blamhangan. Lebih dari itu sejak abad XVI, di Bumi Blambangan lelah bermunculan sejumlah “Pendekar Wanita” yang berperan penting dalam mewarnai perjalanan sejarah Blambangan. Sekilar tahun 1659, Mas Ayu Tunjungsari diangkat sebagai Patih Kedawung oleh kakaknya Prabu Wilamenggala yang memerintah dari tahun 1659-1666. Setelah berkobarnya “Perang Saudara” yang dimenangkan oleh Pangeran Tawang Alun dalam Perang Bayu I, kedua adik perempuannya yang lain, yakni Mas Ayu Meloka dan Mas Ayu Gringsing Retna, masing-masing dinobatkan sebagai Raja dan Patih Kedawung yang memerintah dari tahun 1666-1667.

Di samping hal tersebul, dalam Perang Bayu II di bawah pimpinan Pangeran Jagapali untuk melawan Kompeni Belanda, Sang Pangeran ternyata mengangkat Syau Wiwit (Putri Wong Agung Wilis) sebagai Senapati Wanita Bayu yang siasat dan gerakannya dalam memimpin pasukan selalu diperhitungkan oleh banyak Komandan Pasukan VOC. Dalam hal ini cukup jelas bahwa anggapan tentang banyak wanita Blambangan di masa lampau sebagai pengkhianat dan tidak memiliki kesetiaan terhadap suami dan Negara tidak sesuai atau amat bertentangan dengan fakta sejarahnya. Sebagaimana tersebut di atas bahwa karena perilaku jahat yang berlebih-lebihan yang dilakukan oleh Prabu Menakjinggo beserta kedua permaisuri dan para naraprajanya, sehingga menimbulkan tafsiran bahwa kerajaan yang diperintah oleh Prabu Menakjinggo hanya sebagai perlambang tempat kejahatan yang disebut kerajaan Blambangan, ternyata mengandung makna dan mencakup berbagai hal yang jahat jahat saja. Padahal tafsiran semacam itu juga sangat bertentangan dengan keadaan Blambangan yang sebenarnya, bahkan seharusnya “Blambangan” itu sebagai perlambang kebaikan.

Sebenarnya harus diakui secara jujur bahwa hal tersebut, mengingat sejak dahulu kala sebagaimana telah disinggung di atas bahwa bumi Blambangan ternyata banyak menyimpan ceritera sejauh yang mempunyai nilai cukup tinggi, bahkan juga banyak kisah kepahlawanan leluhur yang cukup mengagumkan, terutama dalam peperangan melawan Kompeni Belanda di masa silam, sehingga memunculkan banyak pendekar bangsa dari daerah ini. Demikian pula bumi Blambangan juga sebagai penghasil pangan yang potensial sekali, sehingga Mpu Prapanca dalam buku karyanya “Kekawin Negarakretagama” pupuh 28 bait I, menyebut daerah ini dengan “Balumbung” yang lumbung tempat menyimpan padi. Sampai saat ini pun Daerah Tingkal II Kabupaten Banyuwangi masih tetap sebagai salah satu lumbung (gudang) pangan nasional di tanah air. Daerah ini juga ternyata sebagai penghasil ikan laut terbesar nomor dua di seluruh tanah air. Demiki an pula bumi Blambangan merupakan gudang seni dan budaya. Kesenian tradisional, seperti: Angklung Caruk, Kuntulan, Damarulan, Jinggoan, ternyata paling digemari, terutama oleh masyarakat setempat. Kesenian Seblang dan Gandrung Banyuwangi bukan saja terkenal di tanah air, namun telah (dipentaskan) di mancanegara, dan masih banyak lagi kelebihan serta kebaikan daerah Blambangan jika dibanding dengan beberapa daerah di tanah air. Dengan demikian jelaslah kiranya bahwa sebutan Blambangan lebih tepat sebagai simbol yang melambangkan kebaikan, karena sesuai dengan keadaan dan seluk-beluk Blambangan yang sebenarnya.

2. Sampai saat ini masyarakat di tanah air, khususnya masyarakat Banyuwangi ternyata banyak yang masih awam dan berpola pikir tradisional yang lebih cenderung menonjolkan nilai-nilai mithologi dari pada nilai sejarah ini.

Itulah sebabnya berkat kepopuleran Legenda Menakjinggo atau ceritera Menakjinggo Damarwulan, rakyat Blambangan ternyata tidak sedikit yang beranggapan bahwa sebagian lukisan ceriteranya, terutama keberadaan dan peran Menakjinggo diyakini sebagai peristiwa sejarah yang benar-benar pernah terjadi di bumi Blambangan di masa silam. Lebih dari itu sebagaimana telah Menakjinggo ditokohkan sebagai raja Blambangan, bahkan dianggapnya sebagai leluhur dan pahlawan Blambangan. Anggapan dan kepercayaan semacam itu ternyata telah berakar kuat di hati masyarakat, khususnya di hati masyarakat di kawasan ujung paling Timur pulau Jawa ini.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut secara tepat atau paling tidak sudah mendekati kebenaran faktanya, perlu dibuktikan dengan mempelajari secara seksama berbagai buku sejarah, terutama sejarah Blambangan dan khususnya berbagai buku Babad Blambangan. Padahal dalam berbagai buku sejarah, khususnya sejarah Blambangan ternyata tidak pernah diketemukan nama atau sebutan Menakjinggo yang dimaksud. Memang, sebagaimana yang pernah diketengahkan bahwa sebutan Menakjinggo, terutama asal-usulnya dapat ditelusuri dan diketemukan dalam dua buah “Dongeng Rakyat” (Folklore), akan tetapi diantara satu sumber itu dengan yang sumber terdapat perbedaan yang cukup mendasar mengenai riwayat hidup dan peran Menakjinggo dalam uraian ceriteranya. Dongeng rakyat yang disebut “Bambang Menak”, mengisahkan asal usul Menakjinggo, yakni merupakan (keturunan) dari Adipati Macuet atau (Adipati Jinggo) dari Gua Siluman hasil perkawinannya dengan Putri Tunjungsari dari pedepokan Wendit. Putra Sang Adipati ini ketika masih bocah diberi nama “Bambang Menak” yang ternyata diasuh oleh Ki Hajar Pamengger di pedepokan Gunung Pipit. Setelah menduduki jabatan Adipati Gua Siluman, Bambang Menak bergelar Adipati Menakjinggo. Gelarnya itu ternyata merupakan perpaduan dari dua nama yang diambil dari namanya sendiri, yakni Bambang Menak dan nama ayah kandungnya yang pada waktu itu menjadi musuh dan dapat dibunuhnya, yakni Adipati Jinggo atau Adipati Macuet dari Gua Siluman.

Dari satu sumber lain, yakni ceritera Kebomarcuet dengan Dongeng Jaka Umbaran mengisahkan antara lain bahwa Menak Subali Patih Majapahit yang mengadakan pemberontakan terhadap Prabu Bhrawijaya ternyata dapat ditundukkan dan dibunuh oleh Kebomarcuet utusan Majapahit yang berasal dari Alas Purwa. Ki Patih Menak Subali yang tewas di medan laga dengan meninggalkan seorang isteri yang bernama Jinggowati sedang mengandung tua. Setelah melahirkan, putra mendiang Ki Patih itu diberi nama Jaka Umbaran yang selanjutnya diasuh oleh Ki Ajar Pamengger. Setelah dewasa, Jaka Umbaran menuntut balas atas kematian mendiang ayahnya dan berhasil membunuh Kebomarcuet, yang selanjutnya juga meneruskan perlawanan terhadap Majapahit dengan maksud untuk menuntut balas atas kematian ayahnya pula kepada Prabu Bhrawijaya. Sebelum mengadakan perlawanan terhadap Majapahit, untuk menyeimbangkan kedudukannya, Jaka Umbaran mengangkat dirinya sebagai raja Blambangan dengan gelar Prabu Menakjinggo yang juga dikenal dengan sebutan Prabu Urubisma. Sedang gelarnya Prabu Menakjinggo itu juga ternyata merupakan perpaduan dari dua nama yang diambil dari nama mendiang ayahnya, yaitu Patih Menak Subali dan nama ibunya Jinggowati

Sebagaimana yang pernah diketengahkan bahwa asal-usul Menakjinggo yang bersumber dari buku “Babad Mas Sepuh” suntingan Winarsih Partaningrat Arifin dari Babad Blambangan, Edisi : Ecole Prancaise de ‘Extreme-Orient, YBB. 024.95 Jogyakarta, Desember 1995, dalam “Ringkasan Babad Mas Sepuh”, halaman 127 ternyata mengungkapkan antara lain bahwa Pangeran Danureja yang telah menjadi raja Blambangan, setelah lama bertapa mempunyai anak yang diberi nama “Pangeran Menakjinggo” yang juga disebut “Pangeran Mas Sepuh.” Pada halaman tersebut ternyata terdapat “Footnote” yang pada No. I menerangkan antara lain “Jadi nama resmi anak Pangeran Danureja memang Pangeran Menakjinggo” (dalam Babad Wilis disebut Pangeran Jinggo). Sedang sebutan Pangeran Mas Sepuh sebenarnya hanya dipakai orang-orang Bali saja. Di samping itu ternyata masih terdapat buku Babad Natadiningrat (KBG. 607) juga suntingan Winarsih Partaningrat Arifin yang serupa dengan tersebut di atas, pada halaman 247 dan seterusnya dalam mengungkap tentang asal-usul Menakjinggo ternyata mirip sekali dengan uraian mengenai asal-usul Menakjinggo yang bersumber dari Serat Kandha yang Serat Kandhaning Ringgit Purwa. Serat Kandha yang sebutan lengkapnya “Serat Kandhaning Ringgit Purwa” Asmaradana pupuh CCCLXXXV, 38 pada gatra (bait) 25 sampai dengan 33 (sembilan bait) yang mengungkapkan tentang asal usul Menakjinggo pada intinya jika disimpulkan antara lain bahwa Adipati Pamengger dari Blambangan merasa masygul hatinya setelah diundang dan menghadiri upacara wisuda Dewi Kencanawungu menjadi Maharani Majapahit dengan gelar Prabu Kenya. Sang Adipati merasa sangat kecewa mengapa selama itu tidak dianugerahi anak seorang pun. Padahal Dewi Kencanawungu anak perempuan saja ternyata dapat diwisuda oleh ayahnya Prabu Bhrawijaya sebagai raja Majapahit. Dalam merupakan masalah tersebut, Adipati Pamengger tidak didampingi seorang pun baik dari keluarga Kadipaten Blambangan maupun narapraja yang lain, kecuali seekor anjing berwarna merah yang sangat setia mendampingi Ratu Gustinya. Anjing merah milik Adipati Blambangan itu di samping sangat setia ternyata memiliki pengertian layaknya manusia, terutama terhadap Sang Adipati. Dalam hal ini menyebabkan Adipati Pamengger mohon kepada Yang Maha Agung, seandainya anjingnya yang merah itu dapat berubah menjadi manusia pasti akan diambil sebagai putra angkat dan kelak pasti akan diwisuda sebagai Adipati Blambangan untuk menggantikan kedudukannya.

Dalam kisah tersebut, permohonan Adipati pamengger ternyata terkabul dan anjingnya yang sangat setia itu berubah menjadi manusia yang langsung bersembah kepada Sang Adipati. Sayang sekali, manusia yang berasal dari anjing itu tetap bertampang buruk dan wajahnya tetap bermoncong seperti anjing. Sebenarnya Adipati Pamengger sangat menyesal permohonannya itu, akan tetapi setelah berpikir secara mendalam bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah kehendak dan kekuasaan dari Yang Maha Pencipta, Sang Adipati segera memeluk serta memandikan bocah itu dengan memberikan tuah dari pusakanya “Besi Kuning” kemudian memberi nama kepada putra angkatnya itu dengan sebutan “Pangeran Menakjinggo,” yang juga dijanjikan kelak akan diwisuda sebagai Adipati Blambangan untuk menggantikan kedudukan Sang Adipati. Sedang anak angkatnya Pangeran Menakjinggo akan mentaati segala perintah dan petunjuk ayah angkatnya. Setelah diwisuda menjadi Adipati Blambangan, Sang Adipati ternyata mempersunting kedua wanita rupawan dari Baliga dan Bangkalan, yakni Dewi Waita dan Dewi Puyengan sebagai permaisurinya. Kendati demikian Adipati Menakjinggo masih bermaksud untuk meminang Sri Ratu Kencanawungu Maharani Majapahit untuk dijadikan pendampingnya. Untuk menyeimbangkan kedudukannya, Sang Adipati mengangkat dirinya sebagai raja Blambangan dengan gelar Prabu Menakjinggo yang juga terkenal dengan gelar Prabu Urubismo. Dalam hal ini ayah angkatnya tidak merestuinya, bahkan mencegah maksud Prabu Menakjinggo untuk mempersunting Maharani Majapahit, namun raja Blambangan itu tidak mempedulikan nasihat ayah angkatnya. Itulah sebabnya Ki Pamengger ternyata meninggalkan istana Blambangan untuk bertapa di suatu pegunungan yang akhirnya menjadi pertapa sakti dengan sebutan Ki Ajar Pamengger.

Semua uraian di atas, terutama tentang asal usul Menakjinggo jika disimak secara seksama, telah menunjukkan dengan jelas bahwa keberadaan Menakjinggo saja sudah tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Mana mungkin seorang manusia dari beberapa pasangan suami-isteri, bahkan juga dikisahkan bahwa Menakjinggo itu dicipta dan berasal dari seekor anjing merah. Sedang Pangeran Menakjinggo yang asal-usulnya bersumber dari Babad Blambangan (Babad Mas Sepuh). Yakni sebagai putra Pangeran Danurejo raja Blambangan, riwayat hidup dan perannya dalam perjalanan sejarah Blambangan masih perlu dipertanyakan. Benarkah Pangeran Menakjinggo itu idektik dengan Pangeran Mas sepuh yang dalam Babad Wilis disebut Pangeran Jinggo dan dalam Babad Blambangan dikenal dengan sebutan Pangeran Prabu atau Pangeran Pati II, sedangkan dalam Babad Tawang Alun banyak disebut-sebut sebagai Pangeran Danuningran atau Pangeran Mangkuningrat? Dalam hal ini mengingat bahwa Pangeran Jinggo (Pangeran Mas Sepuh = Pangeran Pati II = Pangeran Danuningrat = Pangeran Mangkuningrat) merupakan raja Blambangan terakhir (putra Prabu Danurejo) yang memerintah pada tahun 1736 -1764 itu pernah menodai perjalanan sejarah Blambangan, karena Sang prabu satu-satunya raja Blambangan yang pernah bekerjasama dengan Kompeni Belanda, sehingga Prabu Danuningrat terpaksa ditangkap dan dijatuhi hukuman mati dan pada tahun 1766 dibunuh di pantai Seseh/Bali.

Para Menakjinggo tersebut di atas kecuali yang dibunuh di pantai Seseh tersebul, memiliki tindakan dan peran yang serupa, walaupun asal usul masing-masing Menakjinggo itu terdapat perbedaan cukup mendasar. Semua Menakjinggo itu ternyata terlibat peperangan dengan Majapahit yang berakhir bahwa masing-masing Menakjinggo dapat dibunuh dan dipenggal kepalanya oleh Raden Damarwulan utusan Majapahit. Berkat keberhasilannya dalam menumpas pemberontakan di Blambangan Raden Damarwulan dijodohkan dengan Sri Ratu Kencanawunggu dan menggantikan ke dudukannya sebagai raja Majapahit dengan gelar Prabu Bhrawijaya VI (Prabu Mertawijaya). Kendati demikian yang sangat menarik perhatian dalam peperangan antara Blambangan dan Majapahit itu, masing-masing Menakjinggo yang melawan Majapahit itu memiliki motif (sebab-musababnya) berbeda-beda pula. Dengan demikian cukup jelas bahwa keberadaan dan peran Menakjinggo dalam perjalanan sejarah nasional tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, tegasnya Menakjinggo hanya sebagai tokoh fiktif dalam perjalanan sejarah Blambangan.

Materi di atas dinukil dari Majalah Gema Blambangan, edisi khusus (076-077), 1997. Koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur 

Sekilas Perang Puputan Bayu, Kabupaten Banyuwangi

Disusun oleh: Hasan Ali
Ketua Dewan Kesenian Blambangan

1. PENGANTAR

(Bahasa Using: puput = habis; Puputan Bayu = Perang habis-habisan di Bayu).
Perang Puputan Bayu adalah peperangan yang terjadi antara pasukan VOC Belanda dengan pejuang-pejuang Blambangan pada tahun 1771-1772 di Bayu (Kecamatan Songgon sekarang). Peperangan ini oleh fihak Belanda sendiri diakui sebagai peperangan yang paling menegangkan, paling kejam dan paling banyak memakan korban dari semua peperangan yang pernah dilakukan oleh VOC Belanda di manapun di Indonesia (Lekkerkerker, 1923 : 1056). Di fihak Blambangan, peperangan ini merupakan peperangan yang sangat heroik-patriotik dan membanggakan, yang patut dicatat, dikenang dan dijadikan suri tauladan bagi anak cucu kita dalam mencintai, membela dan membangun daerahnya, Bumi Blambangan.

Dalam Perang Puputan bayu tersebut pejuang-pejuang Blambangan dipimpin oleh Rempeg, yang kemudian dikenal dengan nama Pangeran Jagapati, seorang buyut Pangeran Tawang Alun, putra Mas Bagus Dalem Wiraguna (Mas Bagus Puri) dengan ibu dari desa Pakis, Banyuwangi (Pigeaud, 1932: 255). Rempeg atau Pangeran Jagapati ini oleh Pengikutnya dipercaya sebagai titisan Wong Agung I yang legendaris (yang juga masih buyut Pangeran Tawang Alun). Karena itu oleh Belanda Rempeg atau Pangeran Jagapati ini disebut dengan sebutan “Pseudo Wilis”, Wilis-semu. Rempeg dengan hampir seluruh pengikutnya, sepcrti Patih Jagalara, Mas Ayu (Sayu) Wiwit, Bekel-bekel Utun, Udhuh, Runteb dan lain-lain, gugur dengan gagah berani dalam Perang Puputan Bayu tersebut.

2. JALANNYA PEPERANGAN
Setelah VOC Belanda dapat menduduki Banyualit pada tahun 1767 dan kemudian Ulu Pangpang dan Lateng (Rogojampi), dan setelah gagalnya serangan Pangeran Puger (putra Wong Agung Wilis) terhadap benteng VOC di Banyualit, dan kemudian dengan tertangkap dan dibuangnya Wong Agung Wilis ke Pulau Banda, maka mulailah praktik sistem penjajahan yang paling mengerikan yang dilakukan oleh VOC Belanda terhadap seluruh rakyat Blambangan pada waktu itu. Untuk memperoleh gambaran yang obyektif tentang penindasan tersebut. Kami kutip tulisan C. Lekkerkerker, seorang penulis/sejarawan Belanda dalam “Blambangan” di Indische Gids· 1923 :

” … Colmond (komandan tertinggi pasukan VOC Belanda di Blambangan pada tahun-tahun 1769-1770. Pen). Komandan baru itu bcrwatak keras. Tindakan-tindakannya itu telah ikut membuat dasar bagi timbulnya peristiwa-peristiwa yang mengerikan, yang mengancam keselamatan negeri ini pada tahun-tahun 1771 dan 1772 Van Wikkerman bercerita — dan sesungguhnya dokumen-dokumen resmi sebenarnya telah membenarkannya — bahwa dia (Colmond) mengirimkan patroli-patroli ke seluruh negeri ini di bawah pimpinan Hounold dan Heilbronner untuk menyita semua beras dan bahan makanan lainnya dan mengangkutnya, dan apabila tidak dapat diangkut, dia menyuruh membakarnya. Pada musim hujan berikutnya dia menyuruh menanami sawah-sawah itu kembali atas perintah yang memaksa. Setelah mana panennya pun disita lagi.

Selain itu dia menyuruh rakyat bekerja paksa untuk membangun dan memperkuat benteng VOC di Ulu Pangpang dan Kuta Lateng. Memerintahkan mereka membuat jalan-jalan. Membersihkan pepohonan yang ada diantara laut dan benteng di Ulu Pangpang, membuat penangkis air di Gunung Ikan (yaitu jazirah yang menutupi Teluk Pangpang) untuk pengawasan atas gerak-gerak orang-orang Bali. Tetapi ia tidak menyediakan makanan bagi mereka, kesengsaraan, kelaparan, serta kekurangan, penyakit, jumlah kematian yang tinggi. Pelarian ke hutan adalah akibat tindakan tindakannya di atas ………………. ” (Lekkerkerker. 1923 :1054-1055).

Kekejaman di atas belum lagi ditambah dengan tindakan-tindakan para penguasa VOC terhadap para wanita pribumi, baik gadis, janda dan bahkan isteri orang seperti dilakukan oleh Adipati Jeksa Negara (Adipati Blambangan yang diangkat oleh VOC pada waktu itu) terhadap isteri Ki Samila (Bid 1923: 1056).

Karena berbagai hal di atas, Rampeg, yang semula bekerja kepada Ki Samila, menyingkir ke Bayu dan menyusun kekuatan untuk menyerang dan mengusir VOC Belanda dari Blambangan. Tindakannya ini timbul dari golongan hati nuraninya sendiri dan sama sekali bukan karena pengaruh Bali (Ibid. 1923 : 1057). Banyak penduduk Pangpang dan dari daerah-daerah lain di seluruh Blambangan yang bergabung dengan Rempeg di Bayu, sehingga Bayu berkembang menjadi satu kekuatan yang dianggap sangat berbahaya bagi kedudukan VOC di Blambangan.

Khawatir akan kekuatan yang disusun di Bayu, VOC mulai menyusun dan menghimpun kekuatan yang luar biasa besar, dengan mendatangkan bala bantuan dari Batavia, Jawa Tengah dan dari para adipati taklukannya di seluruh pesisir utara Jawa Timur dan Madura.

Secara kronologis, seperti yang diceritakan oleh C. Lekkerkerker (yang sebahagiannya dihimpun dari catatan J.K.J. de jonge, De Opkomst van het Nederlandsch Gezeg in Oos-Indie), mulai dari perhimpunan kekuatan sampai meledak menjadi suatu peperangan yang mengerikan, dapat diinformasikan sebagai berikut:

1) Pada bulan Mei 1771 terbongkar oleh VOC bahwa adipati-adipati yang semula di angkatnya, Suta Negara dan Wangsengsari, serta Patih Sura Teruna (kecuali Patih Jeksa Negara) memihak kepada Rempeg dan menjalin hubungan dengan Bali. Pada bulan Juni 1771 itu juga ketiga tokoh pejuang tersebut (yang masih keturunan Pangeran Tawang Alun) dengan seluruh keluarganya dibuang ke Sri Langka. Kemudian patih Jeksa Negara diangkat sebagai adipati tinggal di Blambangan (Ibid 1923: 1055). Dari peristwa tersebut kiranya tampak bahwa bukan hanya rakyat jelata yang paling tertindas yang memihak kepada Rempeg, bahkan juga hampir seluruh pembesar dan para bangsawan keturunan Tawang Alun bersatu dan memihak kepada Rempeg.
2). Pada tanggal 3 Agustus 1771, setelah diperkirakan semua persiapan yang dipusatkan di Lateng sudah cukup, VOC mengirim 70 orang pasukan bersenjata untuk menyerang Bayu, namun pasukan yang sebahagian besar terdiri dari orang-orang pribumi tersebut malah membelot dan memihak kepada Rempek (Ibid 1923: 1057).
3). Pada tanggal 5 Agustus 1771, Bicsheuvel (Residen Blambangan pada tahun 1767-1771 dengan pasukannya bergerak menyerang Bayu. Namun mereka kembali tanpa hasil, karena pertahanan Bayu yang sangat tangguh. Pada waktu yang bersamaan Schophoff (wakil Residen Biesheuvel) masuk ke desa-desa dengan maksud mempengaruhi penduduk untuk tidak memihak kepada Rempeg. Namun ketika mereka berada di desa Gambiran (Kecamatan Gambiran sekarang) bahkan diserang oleh sekitar 200 orang pejuang Blambangan setempat (Ibid. 1923 : 1057).
4). Pada bulan Agustus 1771 itu juga bupati dari pantai utara Jawa mengirimkan bala bantuan tentara di bawah komando Letnan Imhoff dan Letnan Montro ke Blambangan. Namun pada waktu yang bersamaan penduduk Blambangan yang berbondong-bondong bergabung ke Bayu juga tidak dapat dibendung lagi (Ibid. 1923 : 1057).
5). Pada tanggal 22 September 1771 Letnan Imhoff berhasil menerobos benteng pertahanan Bayu, namun lagi-lagi para anggota pasukannya yang pribumi membelot masuk hutan dengan senjatanya masing-masing, sedang pasukannya yang berkebangsaan Eropa, karena kehabisan amunisi dan luka-luka yang dideritanya, termasuk Imhoff, terpaksa mengundurkan diri dengan meniggalkan senjata-senjata berat (meriam) mereka. Untuk menutup kehancuran tersebut dan untuk persiapan penyerangan berikutnya ke Bayu, Biesheuvel meminta bantuan 1000 orang pribumi dan 150 orang tentara Eropa (Ibid. 1923 : 1057). Namun bersamaan dengan itu Pangeran Jagapati juga mendapatkan bantuan 300 orang dari Bali (Jembrana) lengkap dengan senjata dan bahan makanan yang diperlukan, dan berhasil mengepung benteng VOC di Kuta Lateng. VOC mengerahkan seluruh kekuatannya dengan mendatangkan bantuan tentara dari Garnisun-garnisun Batavia, Yogyakarta, Surakarta, Surabaya dan Pasuruan, dengan pasukan “Dragnonelers” dari Semarang sebagai pasukan inti (Ibid. 1923:1058).
6). Pada awal bulan November 1771 Biesheuvel meninggal di Ulu Pangpang dan digantikan oleh wakilnya, Hendrik Schophoff, yang menjabat sebagai Residen Blambangan sampai dengan tahun 1777. Pada bulan ini bantuan tentara VOC tiba di Ulu Pangpang di bawah Komando Kapten Reygesr dan Kapten Heinrich. Kemudian mereka dapat menghalau pengepungan pejuang-pejuang Blambangan atas Kuta Lateng. Sedang Kapten Reygers berhasil pula menghancurkan gudang persediaan makanan di Banjar (Kecamatan Glagah sekarang), menguasai Grajagan di pantai selatan (yang merupakan pelabuhan bantuan dari Bali) dan membakar sekitar 300 koyan (1 koyan = lebih kurang 1,75 ton) persediaan beras. Pada waktu yang bersamaan VOC mengeluarkan surat-surat pengampunan bagi penduduk yang mau meninggalkan Bayu dan kembali ke desanya masing-masing (Ibid.1923 : 1(58).
7). Pada tanggal 13 Desember 1771 Reygers dengan pasukannya bergerak ke Bayu. Pada tanggal 14 Desember 177 I Reygers menyerang benteng Bayu, namun gagal karena benteng Bayu ternyata sangat kuat, bahkan telah berbalik mereka menjadi bulan-bulan serangan pejuang-pejuang Bayu. Minggu dari tanggal 14 sampai dengan tanggal 20 Desember 1771 adalah merupakan minggu malapetaka bagi pasukan-pasukan VOC. Mereka menamakannya dengan istilah “Minggu kehancuran yang dramatis bagi pasukan VOC” (De Dranlatische Vernietiging van het Compagnieslegcr). Pasukan-pasukan VOC yang menyerang dari dua arah, yaitu dari Susukan dan Songgon, telah terjebak dan disergap oleh pejuang-pejuang Bayu dan dihancurkan habis-habisan. Reyhegers terluka parah di kepalanya dan kemudian meninggal di Ulu Pangpang. Kapten Heinrich juga terluka parah, sehingga pimpinan pasukan VOC diambil alih oleh Van Schaar (Ibid. 1923 : 1(58).
8). Tanggal 18 Desember 1771, yang merupakan puncak dari apa yang dikatakan oleh Belanda sendiri sebagai “De Dramatische Vernictiging Van Het Compagniesleger”, adalah tanggal yang sangat bersejarah bagi seluruh rakyat Blambangan, kama pada tanggal itu pejuang-pejuang Blambangan melakukan serangan umum secara “puputan” secara habis-habisan terhadap benteng pertahanan musuh. Para prajurit Blambangan maju ke medan tempur secara serentak dan mendadak dengan berteriak-teriak histeris untuk membangun semangat juang mereka dan meruntuhkan semangat musuh, dengan membawa senjata apa saja yang dapat digunakan sebagai senjata, seperti golok, keris, pedang, tombak dan senjata-senjata api yang diperoleh sebagai rampasan dari tentara VOC atau yang dapat dibelinya dari orang-orang Inggris yang sudah membuka kantor dagangnya di Tirtaganda (Banyuwangi). Rempeg, yang diberitakan selalu di depan dalam setiap pertempuran, gugur karena luka-lukanya dalam perang puput ini, namun pasukan VOC benar-benar dihancur-luluhkan. Sebagaian dari mereka digiring ke parit-parit jebakan yang telah disediakan dan dihujam dari atas. Van Schaar, komandan pasukan VOC, Letnan Koret Tinne dan terhitung banyaknya tentara Eropah (Belanda) lainnya yang terbunuh dalam peperangan tersebut. Dari tentara yang tersisa yang dapat melarikan diri, yang jumlahnya tidak seberapa dan umumnya dalam keadaan luka-luka dan sakit, pada tanggal 20 Desember 1771 dapat mundur ke Lateng dan kemudian diungsikan ke Ulu Pangpang (Ibid 1923 : 1(58). Kepala Van Schaar dipotong, ditancapkan ke ujung tombak, dan diarak keliling desa-desa. Sebagai akibat dari perang puputan tersebut, untuk sementara sambil menunggu bantuan tenaga dan amunisi, VOC bertindak defensif, dengan berusaha menutup jalan keluar dan ke dalam Blambangan, baik di darat maupun di Selat Bali. Kepada Schophoff diperintahkan oleh atasannya, Van den Burgh, agar memperlakukan rakyat Blambangan dengan “Lemah lembut” (Ibid. 1923 : 1(59).

CATATAN:

Menurut cerita Van Wikkerman (yang kemudian menjadi rcsiden di Blambangan pada tahun 1800-1818), mayat Van Schaar dipotong-potong, dimasak dan dimakan oleh para pemberontak yang buas (Ibid. 1923 1(59). Tentulah ini propaganda provokatif khas penjajah. Perlulah diketahui bahwa pasukan-pasukan Bayu pada waktu itu adalah orang-orang yang beragama. Sebagian memeluk agama Hindu dan sebagian lainnya memeluk agama Islam (Ibid. 1923: 1(57) yang secara pasti tidak mungkin akan melakukan kanibalisme.

9). Pada awal tahun 1772 VOC melakukan panggilan umum kepada semua bupati taklukannya di pantai utara Jawa bagian Timur untuk mengirimkan pasukan-pasukannya. Semua tentara Eropa dikonsinyasikan di Blambangan. Setelah pengiriman 2000 orang tentara, pada bulan Agustus 1772 Heinrich tiba di Blambangan dengan 5000 prajurit J.R. Van den Burgh, Gubernur Jawa bagian Timur, datang sendiri ke Blambangan. Sejak pertengahan kedua tahun 1772. Sehubungan dengan gugurnya Pangeran Jagapati dan didatangkan oleh VOC bantuan tentara dan peralatan perang yang luar biasa besar dan lengkap, mulailah terjadi titik balik kekuatan, di mana pejuang-pejuang Bayu kemudian mulai terdesak dan lebih banyak bertahan.
10). Pada tanggal 1 Oktober 1772 Heinrich bergerak dari Via Pangpang ke Bayu. Tanggal 5 0ktober 1772 dia berkemah dan mendirikan perbentengan di Sodong (dekat Songgon sekarang). Vaandrig (Pemb. Letnan) Mierop dan Vaadrig Dijkman dengan 900 orang anak buahnya dengan peralatan berat (meriam) ditempatkan di sayap kanan di atas bukit dengan ketingian yang sama dengan Bayu. Vaandrig-vaandrig Gutten bergen dan Koegel ditempatkan di Sodong dengan 500 orang prajurit, sedang Heinrick sendiri bersiap-siap di sayap kiri. Di Sentong, dengan vaandrig Jeniger dan 1500 orang prajurit, bayu terkepung secara ketat (Ibid. 1923 : 1059).
11). Pada tanggal 11 Oktober 1772 Bayu digempur habis-habisan dengan tembakan-tembakan meriam. Setelah membunyikan alarem palsu dari sayap kanan (dari pos komando Mierop dan Dijkman, agar dikira penyerbuan akan dilakukan dari sayap ini), Heinrich dengan 1500 pasukannya menerobos dan menyerang benteng Bayu dari sayap kiri. Setelah melalui pertempuran sengit, benteng Bayu dapat direbutnya. Namun hanya dengan sedikit korban, karena sebagian dari pejuang-pejuang Bayu telah sempat menyingkir ke hutan. Ternyata benteng Bayu merupakan benteng yang dibangun dengan rapi, lengkap, kuat dan strategis, dan sempat membuat para pemimpin militer VOC menjadi terkagum-kagum. Namun oleh Piter Luzak, penguasa VOC untuk Jawa bagian Timur, sisa dari benteng Bayu tersebut diperintahkan untuk dimusnahkan dan diratakan dengan tanah (Ibid. 1923 : 1059).
12). Pejuang-pejuang Bayu yang tertangkap diperintahkan oleh Henrich untuk dibunuh, kepalanya dipotong dan digantung-gantungkan di pohon-pohon atau ditancap-tancapkan di tonggak-tonggak pagar di sepanjang jalan desa. Dan dari jumlah 2.505 orang sisa pejuang Blambangan. Laki dan perempuan yang ditawan dan dibawa ke Pangpang, atas perintah Schophoff tidak sedikit yang dihukum mati dengan menenggelamkannya (dengan pemberat batu) ke laut, disiksa, direjam, dan sebahagiannya dibuang ke Surabaya atau ke Batavia sebagai budak (Ibid. 1923: 1060). Itulah akhir dari sebuah peperangan habis-habisan yang mengerikan, yang telah merenggut ribuan bahkan puluhan ribu kurban, baik difihak musuh dan terutama difihak rakyat Blambangan. Dan inilah gambaran tragis dari taktik politik devide et impera Belanda terhadap kita, karena yang berperang dan menjadi korban dalam peperangan puputan tersebut, hampir seluruhnya adalah bangsa kita sendiri.

3. Hal-hal yang Khas dalam Perang Puputan Bayu
Beberapa hal yang patut dicatat sebagai luar biasa dalam Perang Puputan Bayu ini antara lain:
1. Sebagaimana yang telah dikemukakan didepan, Perang Puputan Bayu ini, yang memuncak pada tanggal 18 Desember 1771, diakui oleh Belanda sendiri sebagai peperangan yang paling menegangkan, paling kejam, dan paling banyak memakan kurban dari semua peperangan yang pernah dilakukan VOC dimanapun di seluruh Indoensia (Ibid. 1923 : 1056).
2. Begilu kejamnya dan penuh dendam peperangan yang terjadi di Bayu tersebut, sampai-sampai apabila ada pasukan VOC yang tertangkap pejuang Blambangan, seperti yang terjadi antara lain pada Letnan Van Schaar, kepalanya dipotong, ditancapkan di ujung tombak, dan diarak keliling desa. Demikian juga sebaliknya, dari hampir semua pejuang Blambangan yang tertangkap di Bayu, kepalanya dipotong dan digantung-gantungkan di pohon-pohon atau ditancap-tancapkan di tonggak-tonggak pagar di sepanjang jalan desa (Ibid . 19123 : 1059). Kiranya sulit untuk dapat kita temukan kekejaman peperangan local seperti yang terjadi di Bayu ini di daerah-daerah lain di Indonesia.
3. Dari sejumlah 2.505 yang sisa pejuang Blambangan yang ditawan dan dibawa ke Pangpang, tidak sedikit yang dihukum mati dengan menenggelamkannya ke laut, disiksa dan direjam sampai mati (Ibid. 1923 : 1060). Suatu hukuman yang lebih bersifat “balas dendam” dari pada sekedar melakukan “hukuman” kepada musuh.
4. Untuk menghadapi Perang Bayu ini VOC telah mengerahkan tidak kurang dari 10.000 personil. (dengan peralatan lengkap dan senjata berat) yang didatangkan dari seluruh Jawa: dari garnisun-garnisun Batavia. Semarang (Korp Dragonders), Yogyakarta, Surakarta, Surabaya, Madura dan dari daerah-daerah pantai utara Jawa bagian Timur (Ibid. 1923: 1057-1059). Suatu jumlah yang yang luar biasa besar menurut keadaan pada waktu itu.
5. Peperangan di Bayu ini telah memakan kurban tidak kurang 60.000 rakyat Blambangan yang gugur, hilang, atau menyingkir ke hutan (Epp. 1849 : 347). Tampaknya jumlah ini “tidak begitu besar” kalau dilihat dari hitungan jumlah penduduk Kabupaten Banyuwangi pada waktu ini. Namun perlulah diketahui bahwa jumlah penduduk seluruh Blambangan pada waklu itu tidak sampai 65.000 orang..!   J.C . Bosch. seorang pejabat Pemerintahan Belanda pernah menulis dari Bondowoso pada tahun 1848,” … daerah inilah barangkali satu-satunya di seluruh Jawa yang satu ketika pernah berpenduduk padat yang telah dibinasakan sama sekali … ” (Anderson, 1982: 75 – 76).
6. Untuk merebut Blambangan, khususnya untuk peperangan di Bayu ini, VOC telah menghabiskan dana seharga 8 (delapan) ton emas yang merupakan pukulan telak terhadap keuangan VOC pada waktu itu. Pimpinan VOC di Batavia kemudian menghitungnya sebagai “tidak sumbut”, tidak sesuai dengan kemungkinan apa yang dapat diperoleh sebagai imbalan dari Blambangan (Op. cit. 1823 : 1067).
7. Perang Puputan Bayu menang berakhir pada tanggal 11 Oktober 1772, namun perlawanan rakyat dalam bentuk pemberontakan-pemberontakan local masih terjadi di berbagai daerah di Blambangan sampai berpuluh tahun kemudian (1810), yang dipimpin oleh sisa-sisa pasukan Bayu yang membandel dan pantang menyerah, yang oleh orang-orang Belanda dikatakan sebagai orang-orang Bayu yang “liar” (Lekkerkerker, 1926 : 401-402)”

4. PENUTUP
Perang Puputan Bayu seperti halnya Perang Kemerdekaan 17 Agustus 1945 telah memberikan pelajaran kepada kita, betapa mahalnya arti sebuah kemerdekaan bagi suatu bangsa, yang sering harus direbut dan dipertahankan dengan apapun yang ada pada kita, harta benda, keluarga, bahkan darah dan jiwa. Bersyukurlah kita kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berbanggalah kita kepada Indonesia, karena itu, Blambangan telah pernah menunjukkan dalam sejarah bahwa kita bukanlah rakyat yang “gampangan” untuk menyerahkan kemerdekaan dan harga diri kita kepada penjajah. Semoga anak cucu kita akan selalu mengenal, mengenang, dan mengambil suri tauladan dari sejarah Leluhurnya.

 Jayalah Bumi Blambangan!  

—————————————————————————————— 

Banyuwangi, 24 April 1995 

Materi di atas dinukil dari Majalah Gema Blambangan, edisi khusus (076-077), 1997. Koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur         

Kota Banyuwangi di Jaman Regentschap

oleh: Hasnan Singodimayan

Kota Banyuwangi di jaman Regentschap, merupakan kota kecil yang batas-batasnya serta keramaiannya terletak pada tiga titik kegiatan, yaitu yang berpusat di bioskop Srikandi yang dekat pada pasar dan terminal oplet. Perliman di Dandangwiring dan Pecinan sebagai pusat perekonomian sinse. Sedang pelabuhan Banyuwangi yang masih bernama “boom”, merupakan tempat pergudangan untuk kegiatan menyimpan pisang yang akan dikirim ke Australia dan penyimpanan kopra.
Batas kota sebelah utara hanya sampai di Keramat, sebelah selatan sampai di pekuburan Belanda yang sekarang menjadi Kantor Kecamatan Kota. Sebelah barat sampai di rumah sakit dan rumah penjara. Di luar bat as batas itu, merupakan wilayah yang dikabarkan penuh dengan hal-hal yang menakutkan, terutama jika menjelang matahari terbenam.
Konon katanya di desa Manggisan sampai Kanalan Sukowidi, masih terdapat begal dan rampok, yang dilakukan para manol pabrik gula yang sudah bangkrut. Antara rumah penjara sampai desa Penataban, terdapat banyak gandruwo yang bertengger di pohon-pohon asam yang berjajaran sangat rapat dan sangat lebat. Sekitar kuburan Belanda sampai desa Talun, banyak bergentayangan kontilanak yang berbusana seperti nyonya Belanda.
Diantara sekian banyak tempat-tempat yang menakutkan, adalah Bengkalingan dan Buyukan. Dua pedukuhan di Kelurahan Kertosari sekarang, sebagai penghuni orang-orang Cina yang pandai bermain kungfu. Sehingga para pendekar pencak di Banyuwangi belum dianggap jagoan,jika belum berguru di Buyukan dan Bengkalingan.
Keramaian malam hanya berpusat di sekiar bioskop Srikandi yang berdekatan dengan Masjid Jami’ dan pasar. Sedang pasarnya hanya terbatas di seputar Kelituran Kepatihan dan bukan di Biskalan. Sebab Biskalan merupakan areal kuburan Belanda di jaman VOC, berhadapan dengan sositet atau kamarbola yang sekarang dipakai untuk Gedung Juang 45.
Ketika itu kota Banyuwangi hanya punya dua lapangan. Lapangan sebelah timur dinamakan Tegal-Loji, karen a berhadapan dengan Loji Inggrisan. Sedang lapangan sebelah barat yang berada di depan pendapa Regentschap dan Masjid, dinamakan Tegal Masjid.
Di tengah kedua lapangan itu, terdapat dua tiga pohon beringin yang cukup besar dan tua serta rindang. Sedang di pinggir lapangan ditanami pohon kenari dan pohon sawo yang cukup banyak dan rapat, sehingga membuat kedua lapangan itu sangat sejuk dan nyaman.
Di sebelah selatan Tegal-Loji berdiri sebuah Hotel mewah milik Belanda dan rumah sebelahnya dinamakan kampung Kulandan, karena dihuni oleh para Ambtenar Belanda. Berhadapan dengan Loji Inggrisan terdapat lapangan tenis, yang dipagar kawat kasa yang ditumbuhi pohon menjalar, sehingga para Ambtenar yang bermain didalamnya tidak dapat dilihat dari luar.
Sesekali dalam setiap bulan di lapangan Tegal-Loji di selenggarakan pertandingan Sepak Bola yang didatangkan dari Surabaya dan kota-kota besar lain di Jawa Timur atau club sepak bola dari Betawi. Lapangan itu dikurung dengan kain blacu seluas lapangan sepakbola setinggi tiga meter.
Harga tiket masuk terbagi tiga, yaitu untuk Pribumi, anak-anak dan orang Asing. Untuk pribumi seharga Satu Sen, untuk Anak-anak seharga setengah sen yang disebut Seketeng dan buat orang asing seharga dua sen setengah atau sebenggol. Yang dimaksud Orang Asing, adalah orang-orang Belanda, Orang Cina, India, Arab dan orang pribumi yang sudah berhaji. Portir yang menjaga pintu masuk dibantu oleh Kontroler Belanda yang dibantu oleh Kapten Cina dan kapten Arab.
Umumnya para pemain dari luar itu bermalam di Hotel. Di Banyuwangi ada tiga hotel, yaitu Banyuwangi Hotel, Srikandi Hotel dan Hotel Slamet yang terletak berhadapan dengan Stasiun Kereta Api. Ketiga Hotel itu sudah punya pelanggan sendiri. Banyuwangi Hotel khusus untuk para Ambtenar Belanda, Hotel Srikandi untuk para pelancong dan para pemain sandiwara yang akan bermain di Banyuwangi. Adapun Hotel Slamet untuk para pedagang yang naik kereta api.
Di sebelah barat pendapa Regentschap, terdapat timbangan motor, yang sekarang digunakan untuk Monumen Garuda Pancasila. Di antara jalan raya di sampingnya terdapat “Tugu Pentol” sebagai tanda batas kekuasaan VOC dengan Regent. Parkir kendaraan oplet bertempat di sebelah selatan Tegal Masjid, diapit dua buah Pompa bensin yang besarnya seperti gardu. Milik Kapten Cina dan Kapten Arab.
Di perempatan menuju ke pasar terdapat satusatunya toko Apotik, milik seorang Belanda yang pintar menggunakan bahasa Banyuwangi Using dan di sebelahnya menuju jalan raya berdiri tokoh Jepang bernama tokoh Nanyo, sering dimusuhi orang Cina karena dianggap sebagai pesaing berat.
Di depan gedung bioskop Srikandi, jika diputar film “Jawa” maka pada siang harinya digelar “Angklung Caruk” untuk meramaikan suasana. Setiap sorenya pasti ada arak-arakan yang membawa gambar film yang akan diputar keliling kota dengan kendaraan dokar. Jika yang diputar film tarzan, maka arak-arakan di atas dokar itu ditampilan “Tarzan-tarzan-an” yang diperankan seseorang yang bertubuh atlet.
Menjelang malam sekira pukul 9 malam sesudah film kedua usai dan toko-toko sudah tutup, jangan harapkan ada orang yang berkeliaran, terutama anak-anak. Mereka umumnya berada di dalam rumah atau di depan rumah, itupun dalam bentuk ke lompok orang, untuk bercerita atau gesah.
Tapi menjelang subuh, suasana akan berbeda. Sebab di subuh itu akan terdengar suara pikulan yang sabut menyabut dalam jumlah yang cukup banyak, dari barat, dari utara dan dari selatan, kesemuanya menuju ke pasar membawa dagangan, sebab ketika itu becak belum ada, yang banyak hanya dokar. Tapi umumnya dokar-dokar itu tidak keluar subuh, adanya menjelang matahari terbit.
Tapi suasana malam itu akan berubah dan berbeda, jika memasuki bulan puasa. Malam tidak lagi sepi seperti biasanya. Toko-toko buka sampai pukul 10 malam, sebab orang yang shalat tarawih di masjid dan yang darusan, baru selesai pukul 11 malam. Sesudah itu para remaja kampong menyaingi petugas patrol yang keliling kampong dengan kentongan bambu. Para remaja itu memukul kentongan bambunya dengan nada yang lengkap, sehingga suaranya jauh lebih berirama dari pada pukulan petugas patrol.
Di setiap persimpangan jalan di kota Banyuwangi, terdapat sebuah gardu dengan sebuah kentongan kayu. yang terkenal adalah kentongan Parliman, berbentuk raksasa dengan mata yang melotot. Siang hari saja banyak orang yang takut, apalagi malam. Diperempatan Kauman berdekatan dengan pendapa, terdapat kentongan yang suaranya sangat nyaring dan di perempatan Lateng, terdapat kentongan tidur yang cukup besar.
Diperempatan Singonegaran te rdapat kentongan kayu yang berkepala sapi dan di Sawahan, suara kentongannya terdengar sampai di desa Giri. Kentongan kentongan itu harus dipukul mengikuti bunyi genta yang ada di dalam pendapa, yang dipukul mengikuti bunyi genta yang ada di dalam pendapa, yang dipikuli oleh opas yang menjaga pendapa. Kemudian genta itu dipindahkan ke Kantor Hoofbiro, yaitu Kantor Polisi.
Di sebelah utara Masjid Jami’ terletak Kantor Penghulu yang terdapat dua buah meriam kecil menghadap ke barat. Sedang Kantor Asisten Wedana berjajaran dengan Sekolah PHIS, yaitu Partikelir Holands Yolander School dan HIS-nya berada di sebelah kamar bola di Tegal-Loji. Di sebelah Timur Tegal-Loji terletak sebuah benteng peninggalan VOC yang kemudian dijadikan klinik.
Ketika itu sekolahart hanya terbatas beberapa buah, selain HIS dan PHIS, terdapat beberapa sekolah Angka Lima yang terletak, di Dandangwiring dan di Lateng. Selebihnya adalah sekolah-sekolah partikelir yang didirikan organisasi pergerakan , antara lain Sekolah Tamansiswa yang berada di Karangbaru, sekolah Sari kat Islam yang berada di Singonegaran. Madrasah Al-Khairiyah, Madrasah Qarunnajah di Tukangkayu dan Madrasah Al-Irsyad di Kampung Arab.
Kota Banyuwangi di jaman Regentcshap akan tampak sangat ramai, siang dan malam, jika di bulan lebaran. Sebab lebaran di Banyuwangi berlaku sepanjang 7 hari 7 malam. Masyarakat berbondong-bondong pergi ke “Boom” dengan mengendarai dokar. Sebelumnya dil akukan “Puter Kayun” mengelilingi kota. Start dimulai dari terminal dokar di depan bioskop Srikandi, ke utara sampai di perempatan Lateng, belok ke kanan sampai Kampung mandar kemudian berbelok ke kiri menuju “boom” atau berbelok menuju stasiun dan ke barat samapai parlimam dan terus kern bali di bioskop Srikandi.
Pada mulanya Puter Kayun di hari lebaran itu dilakukan oleh para Ambtenar Belanda dan istrinya, kemudian diikuti oleh orang-orang kaya dan seterusnya oleh masyarakat sebagai tradisi. Mengamati route yang dilalui hampir sama dengan route pawai kernaval sekarang ini, hanya berbeda pada start, jika Puter kayun dimulai start dari depan masjid dan finish di depan bioskop Srikandi. Maka start pawai dimulai dari bekas kuburan Belanda yang menyeramkan dan berakhir di bekas benteng VOC yang sekarang jadi gedung Wanita, “Paramitha Kencana” apalagi jika di “boom” banyak pisang yang akan diangkut ke kapal besar yang menunggu ke tengah kami, Pisang-pisang itu dan kopra-kopra itu, diangkut dengan kapal-kapal atau yang diseret oleh sebuah kapal boot.

Materi di atas dinukil dari Majalah Gema Blambangan, edisi khusus (076-077), 1997. Koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur

Upacara Siraman Gong Kyai Pradah

Oleh: Drs. Hengky Ismuhendro Setiawan
Dra. Foriyani Subiyatningsih

1. Nama Upacara dan Tahap-tahapnya
Upacara Siraman Kyai Pradah adalah upacara tradisional yang masih dilestarikan oleh masyarakat Kecamatan Sutojayan, Wilayah Pembantu Bupati Lodoyo, Kabupaten Blitar. Upacara ini diadakan dua kali setahun, yaitu setiap tanggal 12 Rabiul Awal dan l Syawal.

Ditinjau dari asal katanya, kata siraman berasal dari kata siram (bahasa Jawa) berarti ‘mengguyur dengan air, dan pada peristiwa tertentu yang bersifat luar biasa dilakukan dengan menggunakan minyak atau zat cair lainnya’. Dalam bahasa Indonesia, kata siram berarti ‘mandi’, siraman ‘berarti upacara memandikan pusaka’. Adapun Kyai Pradah adalah sebutan sebuah gong yang dikeramatkan masyarakat Lodoyo sebagai benda pusaka.

Jadi yang dimaksud dengan siraman Kyai Pradah adalah kegiatan memandikan benda pusaka berupa sebuah gong dengan menggunakan air kembang setaman.

Mengenai riwayat gong tersebut sampai sekarang belum diperoleh sumber data yang pasti, hanya dari cikal bakal daerah Lodoyo dan tutur kelantur di masyarakat diperoleh gambaran sebagai berikut: Ada yang mengatakan bahwa Kyai Pradah dibuat oleh Sunan Rawu, kembaran Kyai Becak, pusaka R.M. Said atau Pangeran Mangkunegoro I.

Ada pula yang mengatakan bahwa Kyai Pradah berasal dari Adipati Terung, kembaran dari tongkat sakti Tikus Jinodo yang diberi nama Kyai Macan, yang diturunkan kepada Kyai Pengging sebagai kembaran Bende Udan Arum. Kyai Macan tersebut kemudian dipinjam oleh Sunan Kudus sebagai tengoro bagi lasykar Demak sewaktu menyerang kerajaan Majapahit.

Menurut Kyai Solikodin, Kepala Desa Babadan yang meninggal pada tahun 1955, Kyai Macan sudah berada di Lodoyo tahun 1926. Dikatakan pula bahwa Kyai Macam memang buatan Sunan Kudus sendiri yang dibuat lebih dahulu daripada gamelan Sahadatin.

Pelacakan oleh Bupati Blitar dan Asisten Kediri pada tahun 1927, mengenai riwayat Kyai Pradah, diperoleh informasi sebagai berikut: Sewaktu tentara Demak akan menggempur kerajaan Majapahit, Sunan Kudus mengikuti dari belakang sambil membawa bende Kyai Macan. Berhubung pasukan tentara Demak lebih kecil bila dibandingkan dengan pasukan tentara Majapahit, maka pasukan tentara Demak kemudian berpencar. Pada saat itu, wilayah sekitar Majapahit masih berupa hutan, sehingga ketika Kyai Macan dipukul, suaranya yang menyerupai harimau menggaum memantul ke segala penjuru. Mendengar suara itu, tentara Majapahit mengira tentara Demak mengerahkan harimau siluman. Banyak di antara mereka ketakutan dan meninggalkan pos penjagaan. Hal itu justru memudahkan tentara Demak masuk ke dalam kota Majapahit dan mendudukinya. Sesudah kerajaan Majapahit roboh, berdirilah kerajaan Demak. Kyai Macan kemudian dijadikan pusaka Demak disatukan dengan gamelan Sahadatin. Sejak itu, Kyai Macan berpindah-pindah menjadi pusaka Pajang dan Kartosuro.

Menurut cerita, Sunan Paku Buwono I mempunyai seorang putra dari garwo ampeyan bernama Pangeran Prabu. Sewaktu garwo padmi belum berputra, Pangeran Prabu dijanjikan akan diangkat menjadi raja sebagai pengganti dirinya. Namun, ternyata garwo padmi melahirkan seorang putra laki-laki. Agar tidak menimbulkan perang saudara, Pangeran Prabu disuruh pergi ke hutan Lodoyo untuk babad mendirikan kerajaan. Saat itu, hutan Lodoyo terkenal wingit, maka Pangeran Prabu diberi gong Kyai Macan sebagai tumbal. Pangeran Prabu bersama-sarna isterinya, Putri Wandansari, kemudian berangkat babad disertai beberapa abdi. Sebenarnya Sunan Paku Buwono I berbuat demikian itu bukan bermaksud agar Pangeran Prabu berhasil mendirikan kerajaan, melainkan agar Pageran Prabu mengalami kehancuran dari godaan jin. Dilain pihak, Pangeran Prabu sendiri sebenarnya juga tidak ingin mendirikan kerajaan karena beliau sesungguhnya seorang ulama besar. Pangeran Prabu dapat menangkap maksud Sunan Paku Buwono I terhadap dirinya. Sehingga untuk menghilangkan jejaknya, beliau berpindah-pindah tempat tinggalnya. Setiap menempati lokasi baru, beliau mengadakan pengajian. Pangeran Prabu kemudian mendirikan pondok. Pondok Pangeran Prabu atau yang kemudian lebih dikenal dengan nama Panembahan Imam Sampurna, semakin lama bertambah banyak muridnya. Keberhasilan itu akhirnya terdengar oleh Adipati Srengat yang bernama Pangeran Martodiningrat, maka segera dilaporkan ke Kartosuro karena dikhawatirkan Pangeran Prabu akan mendirikan kerajaan. Kartosuro pun kemudian mengirim tentaranya dibantu oleh kompeni Belanda. Pangeran Prabu atau Panembahan Imam Sampurno mengetahui hal itu lalu bersembunyi di hutan Kedung Bunder dan berganti nama menjadi Mbah Tjingkrang. Kata Tjingkrang mengandung arti ’maksud beliau belum tercapai’. Mbah Tjingrang akhirnya menetap di Kedung Bunder sampai akhir hayatnya. Makam Mbah Tjingkrang pun akhirnya menjadi punden keramat.

Kembali kepada gong Kyai Macan yang disertakan Pangeran Prabu pada waktu hendak babad, karena tempat tinggalnya berpindah-pindah, Kyai Macan kemudian dititipkan pada Nyi Partosoeto dengan pesan agar setiap tanggal 12 Rabiul Awal dan 1 Syawal disiram dengan air kembang setaman dan diborehi. Dikatakan pula bahwa air bekas siraman Kyai Macan dapat dipakai untuk menyembuhkan orang sakit. Setelah Nyi Partosoeto meninggal dunia, Kyai Macan disimpan oleh Ki Rediboyo, lalu tumurun ke Kyai Rediguno, dan tumurun lagi ke Ki Imam Setjo, yang bertempat tinggal di Dukuh Kepek, Ngeni. Ketika disimpan Ki Imam Setjo, terjadi kejadian yang agak ganjil mengenai jiwa penduduk. Setiap ada anak lahir pasti ada orang yang meninggal dunia. Di tengah suasana. yang demikian itu, ada seseorang bermimpi agar anaknya terhindar dari serangan penyakit, maka ia harus nyekar ke Kyai Macan. Saran dalam impian itupun dilaksanakan dan ternyata berhasil. Tindakan itu kemudian banyak diikuti hingga tersiar sampai ke tempat yang jauh. Semakin lama semakin banyak orang meminta berkah kepada Kyai Macan. Karena kebaikannya itu, Kyai Macan kemudian diberi nama Kyai Pradah.

Setelah Lodoyo bagian dataran rendah ramai, oleh Pemerintah Kartosuro dibentuk pemerintahan rendah dengan pimpinan berpangkat Aris/Ronggo. Aris yang pertama kali ditempatkan di Sukoanyar bernama Djindoyo/Djigangdoyo. Kyai Pradah yang disimpan oleh Ki Imam Setjo kemudian diserahkan ke Sukoanyar dan dijadikan pusaka daerah. Sesudah Lodoyo dikuasai Gubernur Belanda disertai penempatan seorang wedono, maka Kyai Pradah diserahkan kepada Wedono Lodoyo. Wedono Lodoyo yang pertama kali adalah R. Prawirohardjo.

Secara keseluruhan acara dalam upacara siraman ini dapatdiklasifikasi menjadi tiga tahap:
a. Tahap persiapan,meliputi acara pembentukan panitia, menghias tempat upacara, memotong kambing sesaji, dan membuat sesaji.
b. Tahap pelaksanaan,meliputi acara tirakatan, selamatan, ziarah, dan siraman.
c. Tahap penutupan, meliputi acara selamatan, hiburan, sepasaran, dan selapanan.

2. Maksud dan Tujuan Upacara
Upacara siraman Kyai Pradah dimaksudkan sebagai sarana memohon berkah kepada kekuatan gaib atau roh leluhur yang ada di dalam Kyai Pradah. Mereka percaya bahwa air bekas siraman Kyai Pradah dapat membuat awet muda dan dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Di samping itu saat upacara merupakan saat paling baik untuk membeli alat-alat pertanian karena dengan memakai alat yang dibeli saat upacara akan mendatangkan kesuburan dan tanaman akan terbebas dari hama. Demikian pula bagi para pedagang. Mereka banyak yang datang dari luar kota Lodoyo untuk ngalap berkah. Mereka percaya meskipun pada saat upacara, dagangan tidak banyak terjual, tetapi setelah upacara berakhir, dagangan akan mudah terjual. Pada musim kemarau, siraman ini juga sebagai sarana memohon turun hujan.

Untuk masa sekarang upacara lebih dimaksudkan sebagai usaha melestarikan budaya bangsa, dimana upacara siraman Kyai Pradah merupakan naluri masyarakat Lodoyo turun-temurun yang tidak dapat dihapus begitu saja karena sudah mendarah daging.

3. Waktu Penyelenggaraan Upacara
Upacara siraman Kyai Pradah dilaksanakan dua kali setahun, yaitu setiap tanggal 12 Robiul Awal bertepatan dengan hari Maulud Nabi Muhammad dan tanggal 1 Syawal bertepatan dengan hari Raya Idul Fitri. Khusus penyelenggaraan tanggal 12 Robiul Awal upacara diadakan secara besar-besaran, sedangkan upacara yang diadakan pada tanggal 1 Syawal dilaksanakan secara sederhana oleh petugas yang berkepentingan saja.

Upacara siraman berlangsung dua hari. Sehari menjelang acara puncak kurang lebih pukul 14.00 WIB dimulailah acara menghias tempat upacara, dilanjutkan dengan pemotongan kambing sesaji, serta pembuatan sesaji. Sedangkan pembentukan panitia sudah diadakan lima belas hari sebelumnya.

Masih dalam satu rangkaian waktu, pukul 19.00 WIB dilaksanakan tirakatan sampai pukul 04.00 WIB keesokan harinya. Namun, ditengah acara tirakatan yaitu pukul 24.00 WIB acara dihentikan sejenak untuk melaksanakan selamatan.

Pagi harinya pukul 07.30 WIB acara dilanjutkan dengan berziarah ke Dukuh Dadapan. Barulah pada pukul 11.00 WIB puncak acara siraman dilaksanakan. Seusai siraman dilanjutkan dengan selamatan dan hiburan. Hiburan berakhir bersama selesainya pagelaran ringgit purwo yang diselenggarakan pada malam hari tanggal 12 Rabiul Awal.

Sebagai penutup upacara siraman Kyai Pradah setelah lima hari diadakan selamatan sepasaran serta selamatan selapanan pada hari ke-35 dari saat siraman.

4.Tempat Penyelenggaraan Upacara
Pelaksanaan upacara siraman Kyai Pradah dipusatkan di alun-alun Kawedanan Lodoyo kecuali ziarah. Di lokasi tersebut perlengkapan upacara telah dipersiapkan secara permanen, yaitu: panggung siraman setinggi tiga meter dengan luas kurang lebih enam belas meter persegi, dan sanggar penyimpanan, serta pendopo kawedanan.

Sanggar penyimpanan adalah tempat penyimpanan Kyai Pradah beserta kenong dan wayang krucil, tempat dimana para pengunjung menyampaikan hajadnya pada hari-hari biasa. Pada saat upacara, sanggar penyimpanan digunakan untuk tirakatan dan selamatan.

Adapun panggung siraman adalah tempat untuk melaksanakan acara puncak yaitu siraman gong Kyai Pradah; pendopo kawedanan pada saat upacara digunakan sebagai tempat duduk para undangan, acara selamatan, dan tempat hiburan. Ziarah dilakukan di patilasan yang terletak di Dukuh Dadapan, Kecamatan Sutojayan.

5. Penyelenggara Teknis Upacara
Penyelenggaraan upacara siraman pada mulanya dilakukan secara spontan oleh warga masyarakat dengan dikoordinasi para kepala desa di Kecamatan Sutojayan. Namun sekarang penyelenggaraan upacara dikoordinasi oleh Pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Blitar. Tokoh-tokoh yang berperan sebagai penyelenggara teknis upacara adalah sebagai berikut.
a. Pejabat Pemerintah. Pada upaeara yang dilaksanakan pada tanggal 12 Robiul Awal sebagai penanggung jawab formal pelaksana upacara adalah Bupati Blitar, sedangkan pada upaeara 1 Syawal tokoh yang berperan adalah Pembantu Bupati Lodoyo.
b. Juru kunci, yaitu juru kunci petilasan dan juru kunci Kyai Pradah.
c. Para dhalang yang bertempat tinggal di Lodoyo, bertugas membawa kenong dan wayang krucil.
d. Petugas pembawa panji-panji Kawedanan Lodoyo dan payung
e. Pemain kesenian tradisional.
f. Pemasak sesaji.

6. Jalannya Upacara menurut Tahap-tahapnya

Sehari sebelum saat siraman, yaitu tanggal 11 Rabiul Awal pukul 14.00 WIB, sanggar penyimpanan, panggung siraman, serta tempat penyembelihan kambing sesaji dihias dengan janur sehingga suasana terasa lebih meriah dan bernuansakan kemagisreligiusan. Hanya, khusus panggung siraman selain dihias dengan janur juga dipasang untaian daun beringin, andong, puring, serta daun langsuran.

Setelah acara menghias selesai dilanjutkan dengan pemotongan kambing sesaji. Kambing sesaji ini hanya satu ekor. Itupun hanya diambil kepala dan jerohannya saja. Kepala dan jerohan kemudian dibungkus dengan kain mori untuk dijadikan sesaji ziarah.

Selesai pemotongan kambing sesaji dilanjutkan pembuatan sesaji. Pembuatan sesaji dilakukan oleh para ibu yang sudah tidak menstruasi, dengan dikoordinasi juru kunci Kyai Pradah. Sesaji dalam sebuah upacara memegang peranan penting karena kelengkapan sesaji menentukan keberhasilan upacara religius. Sesaji yang kurang lengkap dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Sesaji yang dipersiapkan dalam upacara ini adalah sesaji untuk sanggar penyimpanan, sesaji selamatan, sesaji ziarah, dan sesaji siraman.

Tanggal 11 Rabiul Awal kurang lebih pukul 19.00 WIB, di halaman sanggar penyimpanan diadakan malam tirakatan. Di malam tirakatan inilah para pengunjung menyampaikan hajadnya melalui juru kunci Kyai Pradah. Setelah ujub disampaikan, mereka yang berhajad diambilkan bunga telon yang ditaburkan di atas Kyai Pradah. Bunga tersebut oleh yang berhajad dibawa pulang, disimpan sebagai jimat.

Malam tirakatan diisi dengan berjanjen yaitu pembacaan puji-pujian yang berisi doa terhadap Tuhan diiringi instrumen jedhoran. Malam tirakatan banyak diikuti pengunjung yang sengaja datang bertirakat, mengunjungi pasar malam, atau mereka yang berusaha mencari tempat strategis untuk saat puncak acaranya. Tengah malam pukul 24.00 WIB berjanjen dihentikan sebentar untuk melakukan selamatan. Selamatan dipimpin oleh juru kunci Kyai Pradah. Sesaji selamatan adalah berupa nasi gurih dengan lauk ingkung yang disebut sekul suci ulam sari atau nasi girih iwak lado. Sesaji selamatan ini selain disediakan oleh penyelenggara, banyak pula dibawa oleh pengunjung yang berhajad. Setelah diujubi, sesaji tersebut dimakan bersama-sama. Selesai selamatan, tirakatan dilanjutkan lagi sampai keesokan harinya kurang lebih pukul 04.00 WIB.

Keesokan harinya setelah tirakatan berakhir, sebagian pengunjung ada yang pulang untuk sholat subuh. Banyak juga pengunjung yang tetap tinggal di tempat menanti acara berikutnya, berziarah ke petilasan di dukuh Dadapan.

Pukul 07.30 WIB tanggal 12 Rabiul Awal, pintu sanggar penyimpanan dibuka. Payung, pedupaan, sesaji ziarah dikeluarkan untuk dibawa ke petilasan. Sesaji yang berupa kepala kambing dan jerohan digendong oleh juru kunci dengan dipayungi oleh petugas diiringi barisan pengiring menuju ke petilasan. Mereka adalah rombongan kesenian tradisional kuda lumping Dadak Merak, kesenian Jedhoran, para dhalang, para kepala desa para perabot desa seluruh Kawedanan Lodoyo, dan sebagian besar pengunjung serta emban ceti yang membantu membawa sesaji ziarah lainnya.

Jarak dari alun-alun menuju petilasan kurang lebih satu kilometer. Petilasan ini berupa bangunan-bangunan permanen berbentuk cungkup (menyerupai rumah berukuran kecil dengan luas kurang lebih tiga meter persegi). Sesampainya di petilasan, sesaji diberikan kepada juru kunci petilasan. Sesaji yang berupa kepala dan jerohan tadi kemudian ditanam oleh juru kunci Kyai Pradah serta ditaburi dengan bunga tabur. Sesaji yang ditanam di petilasan itu dimaksudkan sebagai tumbal, berkaitan dengan hilangnya Kyai Pradah pada tahun 1907.

Gong Kyai Pradah dicuri oleh seseorang yang sedang terganggu Jiwanya. Orang tersebut bernama Mukimin. Menurut Mukimin, ia merasa diperintah memindahkan tempat penyimpanan Kyai Pradah karena sanggar penyimpanannya terancam bau yang ditimbulkan oleh asap pembakaran beribu-ribu ekor tikus yang ditangkap penduduk. Setelah Kyai Pradah diambil kemudian dimandikan di sungai Brantas. Bupati Blitar dilapori tentang hilangnya kyai Pradah segera memerintahkan beratus-ratus petugas untuk mencarinya. Tepat pukul 11.00 WIB, Kyai Pradah ditemukan. Mukiminpun ditangkap. Selanjutnya, saat ditemukannya kembali Kyai Pradah ditetapkan sebagai saat siraman, sedangkan dukuh Dadapan sebagai tempat ditemukannya kembali Kyai Pradah dijadikan sebagai petilasannya.

Seusai penanaman, barisan kembali ke alun-alun dengan posisi seperti ketika berangkat menuju petilasan. Tepat pukul 11.00 WIB siraman Kyai Pradah dimulai.

Bapak Pembantu Bupati, Bapak Camat Sutojayan, juru kunci Kyai Pradah dari halaman pendopo Pembantu Bupati berjalan menuju sanggar penyimpanan bersiap-siap membawa Kyai Pradah yang akan disirami. Barisan berjalan .mengelilingi alun-alun Lodoyo dengan urut-urutan sebagai berikut. Paling depan dalam barisan tersebut adalah kesenian jaranan Dadak Merak, menyusul kemudian rombongan instrumen jedhoran, tim pembawa panji-panji Pembantu Bupati Lodoyo, pembawa padupaan, juru kunci Kyai Pradah yang menggendong Kyai Pradah di atas dadanya dengan dipayungi dua orang petugas pembawa payung, para dhalang serta emban ceti, serta paling ujung barisan adalah rombongan kesenian tradisional lainnya,

Setelah barisan sampai di depan pendopo, kemudian Bapak Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kabupaten Blitar yang telah menunggu di depan pendopo menyusup ke dalam iringan barisan menuju panggung siraman.

Sesampainya di panggung siraman, Kyai Pradah digantungkan pada tempat yang telah disiapkan di tengah-tengah panggung. Di bawah gantungan tersebut diletakkan bak air untuk menampung air bekas siraman. Kain pembungkus pun dilepaskan.

Siraman dimulai dengan pembacaan riwayat Kyai Pradah oleh Bapak Bupati yang diwakilkan pada salah satu petugas. Pembacaan dilakukan dengan mikrofon sehingga para pengunjung mendengar dengan jelas.

Selesai pembacaan riwayat dimulailah puncak acara siraman. Siraman pertama kali dilakukan oleh Bapak Bupati, dilanjutkan Bapak Pembantu Bupati, pejabat Muspika, juru kunci dan para dhalang. Kyai Pradah kemudian digosok-gosok dengan kembang setaman agar hilang karatarinya. Kembang setaman kemudian dipercik-percikkan ketujuh tempayan yang telah diisi air.

Setelah Kyai Pradah selesai disirami, maka Bapak Bupati segera mengguyurkan air yang ditempayam ke para pengunjung yang berdesak-desakan di bawah panggung siraman sampai habis. Demikian halnya yang di at as panggung pun saling berebut mendapatkan air bekas siraman.

Selain Kyai Pradah, di dalam upacara siraman dimandikan pula empat buah wayang krucil dan dua buah kenong. Selesai disirami, Kyai Pradah beserta kenong dan wayang krucil dikeringkan dengan lap khusus.

Sampailah saat yang dinanti-nantikan, Kyai Pradah pun ditabuh oleh Bapak Bupati diperdengarkan kepada pengunjung. Setiap kali mepabuh, Bapak Bupati bertanya: “Kados pundi suantenipun ?” dijawab para pengunjung “sae”, yang dalam bahasa Indonesianya : “Bagaimana suaranya?” dijawab “bagus” . Demikian itu dilakukan tuju kali berturut-turut. Menurut kepercayaan, apabila bunyi Kyai Pradah mengaung-ngaung bergema ke segala penjuru, dianggap sebagai pertanda bahwa upacara berjalan sempurna. Masyarakat boleh berharap berkah akan melimpah di dalam kehidupan mereka, sehingga dapat tenang hidupnya. Namun, apabila terdengar bunyinya tersendat-sendat, maka masyarakat menjadi tidak tenteram, karena akan datang saat sial atau keadaan yang tidak menyenangkan kehidupan mereka.

Sesudah Kyai Pradah diperdengarkan suaranya kemudian diberi boreh. Demikian juga wayang krucil dan kenongnya. Kyai Pradah pun dibungkus kembali dengan kain mori putih yang masih baru. Dengan digendong juru kunci dan iringiringan seperti ketika menuju panggung siraman, Kyai Pradah dibawa kembali menuju sanggar penyimpanan. Tepat di depan pendopo, Bapak Bupati keluar dari barisan. Kyai Pradah disemayamkan kembali dengan posisi mendatar. Demikian pula wayang krucil dan kenong dimasukan ke dalam tempatnya semula. Kyai Pradah kemudian ditaburi dengan bunga tabur dan pintu sanggar penyimpan ditutup kembali.

Kyai Pradah disemayamkan, diadakan lagi selamatan sebagai ungkapan syukur karena pacara telah berjalan dengan lancar. Seperti asalnya pada selamatan tirakatan, pada selamatan kali inipun para pengunjung berusaha mendapat sesaji untuk dijadikan jimat atau obat jika ada anggota keluarganya yang sakit.

Upacara Siraman Kyai Pradah diakhiri dengan hiburan berupa tari gambyong, tari tayub, dan ringgit purwo pada malam harinya. Hiburan ini tidak ada batasan waktunya, hanya mengingat penyelenggara sebagian besar bekerja di instansi pemerintah, maka hiburan dibatasi waktunya. Meskipun begitu, para pengunjung tidak berkecil hati. Mereka tetap menunggu dimulainya hiburan ringgit purwo yang berakhir pada keesokan harinya.

Dengan berakhirnya acara hiburan maka berakhir pulalah rangkaian upacara siraman Kyai Pradah, walaupun sebenarnya masih ada acara selanjutnya, yaitu selamatan selapanan dan selamatan sepasaran yang dilakukan secara sederhana dan terbatas pesertanya.

$$$$$$$$$$$$$$$$

sari wartaArtikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Sari Warta: Kesejahteraan dan Nilai Tradisional, edisi 1, Agustus 1994. Departemen Pendidikan dan kebudayaan, Kantor Wilayah Propinsi Jawa Timur, Bidang Sejarah dan Nilai Trasional