Museum NU

-Mei 2010-
MUSEUM  NU
Jl. Gayungsari Timur No. 35 Surabaya
Phone: +62 31 828-8904

 Bangunan berbentuk bundar seluas 1000 m2, di atas tanah seluas 3000 m2 itu menjadi penting manfaatnya bagi masyarakat khususnya warga nahdliyin. Dalam museum ini, kita dapat melihat langsung benda-benda bersejarah yang pernah dipakai para kyai dan para pejuang nahdliyin pada masa perjuangan pergerakan nasional dan dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Selain itu, disimpan pula dokumen-dokumen sejarah pendirian jam’iyah NU, kitab-kitab kuno yang ditulis para kyai salaf dalam abad pertengahan, juga kyai-kyai NU, dan alat-alat kesenian yang dibuat dan digunakan warga NU dalam acara-acara religius.

Rencananya, di museum berlantai tiga yang terletak di kawasan Gayungsari Timur ini juga akan dipamerkan produk-produk perdagangan yang dihasilkan warga nahdliyin yang sengaja untuk dijual kepada pengunjung yang berminat.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : SURABAYA City guide,  Suara Surabaya Media, Edisi Mei 2010, hlm. 13.

Museum dan Pusat Kajian Etnografi

-Mei 2010-
MUSEUM DAN PUSAT KAJIAN ETNOGRAFI
Jl. Airlangga 4-6Surabaya
Phone: +62 31503-4015/501-7429
Fax: 031501-2445
 


Boleh jadi Universitas Airlangga (Unair) menjadi satu-satunya  Perguruan Tinggi Indonesia yang memiliki koleksi etnografi di dalam kampus. Museum dan Kajian Etnografi Unair yang diresmikan pada 2005 silam, merupakan rentetan perjalanan panjang dalam mengekspresikan ide para tokoh ke dalam bentuk material.

Seperti diketahui Unair pernah memiliki tokoh seperti Prof. Snell dan Dr. Adi Sukadana yang sejak awal benarbenar memahami arti museum untuk sebuah lembaga pendidikan. Museum ini menyimpan beragam koleksi yang berkaitan erat dengan pusaka kebudayaan dan antropologi. Masyarakat umum pun bisa mengunjungi museum ini, baik untuk hanya sekadar menikmati ataupun untuk studio.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: SURABAYA City guide,  Suara Surabaya Media, Edisi Mei 2010, hlm.13.

Museum WR Soepratman

-Mei 2010-
MUSEUM WR. SOEPRATMAN
Jl. Mangga 21, Tambaksari Surabaya
(depan Gelora 10 Nopember)
Phone : +62 31 501-3518


 Wage Rudolf Soepratman lahir di Jatinegara pada 9 Maret 1903. WR Soepratman pernah tinggal di rumah di Jalan Mangga 21 yang  kini dijadikan museum ini, sejak 1936 hingga dia wafat tahun 1938. Setelah ditinggal keluarga W.R. Supratman pada masa revolusi 1945, rumah tersebut ditempati oleh keluarga Cina sampai 1974. Setelah itu, rumah tersebut dibiarkan kosong selama 27 tahun. Museum WR Soepratman diresmikan pada 28 Oktober 2003 olah Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata I Gede Ardika. Renovasi pernah dilakukan dengan izin Sekretaris Kementerian Negara Kebudayaan dan Pariwisata Sapta Nirwanda. Benda bersejarah yang dipamerkan di museum ini seperti biola, foto keluarga WR. Soepratman, dan berbagai pigura berisi fotokopi lagu-lagu karya WR. Soepratman. Untuk menarik minat masyarakat, di halaman museum juga dibangun patung tokoh nasional ini. Museum ini merupakan cagar budaya yang dilindungi Undang-Undang No. 592 dan Peraturan Pemerintah Nomer 10 Tahun 1993.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : SURABAYA City guide,  Suara Surabaya Media, Edisi Mei 2010, hlm.12.

Museum Tugu Pahlawan

-Mei 2010-
MUSEUM TUGU PAHLAWAN
Jl. Pahlawan, Surabaya 60175
Phone: +62 313571100, Fax: +62313571100

Museum Sepuluh Nopember didirikan sebagai kebanggaan atas kemenangan arek-arek Suroboyo pada pertempuran heroik tanggal 10 Nopember 1945. Museum yang berlokasi di dalam lapangan Tugu Pahlawan ini diresmikan pada tahun 2000. Museum yang terletak di sisi dalam Tugu Pahlawan ini menyimpan rekaman asli pidato Bung Tomo yang berapiapi membangkitkan gelora dan hasrat serta semangat masyarakat akan kemerdekaan. Pidato itu dapat didengarkan dari sebuah radio kuno. Adapula beberapa diorama statis menggambarkan aksi kepahlawanan arek-arek Suroboyo, yang hanya dengan menggunakan senjata bambu runcing mampu memenangkan pertempuran melawan musuh.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : SURABAYA City guide,  Suara Surabaya Media, Edisi Mei 2010, hlm. 12.

Museum Loka Jala Srana

-Mei 2010-
MUSEUM LOKA JALA SRANA
Jl. Bumi Mora Morakrembangan Surabaya
Phone: +62 31 3293321-26, 3298840, 3291092
Fax. : +62 31 3298076

 

Museum Loka Jala Srana berlokasi di Morokrembangan kompleks Angkatan Laut Indonesia (Surabaya Utara), sebelah Selatan pelabuhan. Ini adalah museum peralatan perang Angkatan Laut Indonesia, sebuah koleksi planetarium dan astronavigadium.

Semula, museum ini bernama AKABRI LAUT (19 September 1969), lalu museum TNI-AL (10 Juli 1973) dan berubah lagi menjadi Museum TNI-AL Loka Jala Srana (6 Oktober 1979).

Museum ini banyak menyimpan objek bersejarah yang dimiliki serta digunakan oleh TNI-AL selama revolusi fisik hingga sekarang. Antara lain meriam kapal perang, pesawat, helikopter, artileri medan, monumen KRI Dewa Ruci dan pertahanan udara serta benda bersejarah lain seperti meriam kapal “HRMS DE ZEVEN PROVINSIEN”. Adapula bangunan planetarium untuk melihat tata surya (astronomi), Bima Sakti.

Kompleks AL Indonesia ini juga menjadi pusat Akademi TNI-AL (AAL/Indonesia Maritime Marine Military Academy) yang mendidik calon-perwira TNI-AL tingkat Academy dan Commando, TNI-AL Education (KODIKAL) yang mendidik kandidat Tamtama, Bintara, calon perwira dari Bintara (CAPA) dan alumni perguruan tinggi serta pendidikan lanjutan heroik. Kompleks ini lebih dikenal sebagai “Bumi Moro”Surabaya.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : SURABAYA City guide,  Suara Surabaya Media, Edisi Mei 2010, hlm. 11 .

Museum Kesehatan

-Mei 2010-
MUSEUM KESEHATAN
Jl. Indrapura No. 17 Surabaya
Phone: +62 313528748, Fax. +62 31 3528749


Segala hal berkaitan dunia kesehatan yang dipamerkan di museum yang diresmikan pada 2004 ini tidak melulu menyangkut teknologi kesehatan modern. Sebagian besar justru berkaitan dengan budaya kesehatan yang berkembang di tanah air. Alat-alat dan tradisi pengobatan yang dilakukan orang jaman dulu di penjuru nusantara, hampir semua ada di sini. Benda-benda itu sekaligus mengingatkan generasi penerus tentang budaya kesehatan yang pernah hadir di Indonesia, walaupun mereka tidak pernah mengalami.

Ratusan benda koleksi itu dipajang di sasana sesuai kategorinya. Di sasana Adhyatrha memajang koleksi almarhum dr. Adhyatma MPH sewaktu menjabat Menteri Kesehatan RI (1988-1993). Di ruang sasana Kencana dipamerkan berbagai benda bersejarah berupa tanda jasa, lencana dari logam mulia ,surat tanda penghargaan dan sebagainya yang terkait perjuangan upaya kesehatan. Di ruang ini pula dipaparkan sejarah dan profil perintis museum kesehatan.

Sasana Kespro memamerkan berbagai peralatan terkait kesehatan reproduksi. Salah satunya ada wadah berbagai bentuk dan bahan untuk menyimpan ari-ari. Ada pula kursi antik dari Madura untuk wanita sehabis melahirkan atau nifas. Di sasana Genetika dipamerkan berbagai sarasilah dan silsilah garis keturunan yang erat kaitannya dengan ilmu genetika dari suatu trah atau dinasti. Di sini terdapat sarasilah dari keluarga berbagai kerajaan di Indonesia.

Bagian yang unik antara lain terdapat di sasana Kesehatan Budaya. Di ruang ini tergambar jelas betapa upaya kesehatan berdasar kepercayaan atau supranatural dan dunia gaib merupakan realitas budaya yang telah ada dan berkembang sejak jaman dulu. Pengobatan berbau mistik dan gaib menemukan penjelasan ilmiahnya disini. Berbagai hasil penelitian ilmiah yang sudah dibukukan digantung pada sisi-sisi etalase pamer.

Selain sasana Medik dan non Medik yang memajang peralatan kesehatan modern dari waktu ke waktu, terdapat sasana Fauna. Di sasana ini dipertontonkan betapa banyak binatang yang memiliki kandungan untuk pengobatan. Ada binatang pembawa penyakit, tapi lebih banyak lagi binatang yang berfungsi untuk obat dan pengobatan.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : SURABAYA City guide,  Suara Surabaya Media, Edisi Mei 2010, hlm. 11.

Museum Seni Rupa

-Mei 2010-
MUSEUM SENI RUPA
Jl. Karang Wismo 1/10 Surabaya
Phone: +62 31 503-2931

Pelukis senior kelahiran Jogjakarta, Rudy Isbandi (73 tahun), akhirnya bisa mewujudkan impiannya membangun sebuah Museum Seni Rupa di Surabaya. Sebuah impian yang sejak 40 tahun lalu ia dambakan. Museum Seni Rupa itu dibangun di rumahnya di kawasan Karang Wismo Surabaya. Jauh sebelumnya, Rudi telah memiliki sebuah museum kecil di belakang rumahnya. Museum kecilnya ini adalah awal dan boleh dikata menjadi museum seni rupa pertama di Surabaya. Pada pembukaan Museum Seni Rupa ini, dipamerkan lebih dari 150 lukisan yang pernah ia lahirkan dengan berbagai aliran. Lukisan yang memiliki makna yang dalam serta visualisasi yang luar biasa. Salah satu lukisannya “Pengadilan Soeharto” pernah ditawar dengan harga Rp 1.5 miliar. Namun, ia tak pernah melepasnya.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : SURABAYA City guide,  Suara Surabaya Media, Edisi Mei 2010, hlm. 10.

Museum House of Sampoerna

-Mei 2010-
MUSEUM HOUSE OF SAMPOERNA
Jl.Taman Sampoerna 6, Surabaya 60163
Phone: +62 31 3539000 / Fax: +62 31 3539009


 Terletak di Surabaya Lama, kompleks bangunan megah bergaya kolonial Belanda ini dibangun pada tahun 1862 dan saat ini merupakan situs bersejarah yang dilestarikan. Awalnya didirikan sebagai panti asuhan putra yang dikelola oleh pemerintah Belanda. Kompleks ini lalu dibeli Liem Seeng Tee, pendiri Sampoerna, pada 1932. Museum ini menawarkan sebuah pengalaman unik, mulai dari cerita tentang keluarga pendiri Sampoerna sampai melihat dari dekat proses produksi rokok linting tangan. Kita pun bisa ikut mencoba melinting rokok kretek dengan menggunakan alat tradisional itu. Anda pun dapat bergabung dengan 3.000 wanita di pabrik ini yang masing-masing orang dapat melinting lebih dari 325 batang rokok per jam.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : SURABAYA City guide,  Suara Surabaya Media, Edisi Mei 2010,  hlm.10.

Turangga Yaksa: Menghentak Nggalek

-Oktober 2003-
Setiap daerah di Nusantara memiliki budaya khas daerah setempat. Aktivitas mengangkat seni budaya daerah pun terus digiatkan, hingga kini. Tiap propinsi dapat dipastikan memiliki lebih dari sepuluh budaya khas daerah setempat. Sekadar ilustrasi, di Jawa Timur misalnya, seni dan budaya Reog (Ponorogo), tari Topeng Malangan (Malang), tari Sentherewe (Tulungagung), tari Remo (Surabaya), dan tari Mowang Sangka, (Sumenep) sudah cukup dikenal. Itu baru sebagian kecil. Tentu, masih banyak lagi yang tersimpan.

Demikian juga di Kabupaten Trenggalek. Sebuah kabupaten yang memiliki Pantai Pelang yang sangat indah itu, juga memiliki budaya yang apik, dan tentu saja unik. Sekadar mengingatkan pembaca, Pantai Pelang tidak hanya memiliki lautan pasir yang putih, tapi juga air terjun dan gua dalam satu lokasi. Sangat eksotik.

Ternyata Kota Gaplek (nama makanan yang terbuat dari ubi kayu/singkong yang dikeringkan), tidak hanya memiliki potensi alam. Namun juga kesenian tradisonal yang cukup unik. Seni tari TuranggaYaksa, begitu masyarakat Nggalek (Trenggalek) menyebutnya. Tari ini  lazimnya dipertontonkan untuk menyambut tamu. Nama Turangga Yaksa memiliki arti jaran buto (baca: kuda raksasa). Konkretnya, turangga berarti kuda, dan yaksa berarti raksasa.

Tidak ada catatan sejarah yang pasti ihwal kapan seni tari itu diproklamasikan sebagai tarian khas Trenggalek. Namun, sampai saat ini, seni tari tersebut semakin mendarah daging di kalangan masyarakat setempat. Bagaimana tidak, Siswa SD kelas satu saja telah mahir melakukan gerakan tari Turangga Yaksa.

 Si Jahat Kalah
Dung, tak, dung, tak, dung bleer …
Sepasang kaki mungil menghentak-hentak bumi. Jantung setiap penonton yang ada di lokasi Gua Lowo pun berdetak seirama dentuman kendang pengiring penari. Siang itu, akhir bulan lalu, 20 penari mungil mengayun-ayunkan cemeti ke tanah. Sesaat debu mengepul ke udara, seiring semangat gerakan sang penari yang mengapit kuda kepang berkepala raksasa. Itulah Turangga Yaksa.

 Gerakan mereka meliuk-liuk, menunduk, dan kemudian bersujud seakan menghormat pada sang penguasa. Dalam diam bersujud, tiba-tiba muncul dua tokoh penari berbaju merah, menari di tengah penari kuda kepang. Mereka para kesatria kerajaan. Kegagahan penari kesatria seolah menyampaikan pesan penting sang raja.

Konon, mereka diutus sang raja untuk menumpas kejahatan yang sedang merajalela. Tokoh jahat di gambarkan dengan caplok’an (serupa barong). Tinggi, besar, dan menakutkan. Akhirnya mereka bertarung di medan pertempuran. Para penari Turangga Yaksa menjadi prajurit kerajaan yang ikut menumpas tokoh kejahatan (caplok ‘an) tersebut. Pertempuran pun terjadi sengit. Gemerecak tetabuhan mengiringi pertempuran para kesatria kerajaan.

Itulah yang khas dari seni tari Turangga Yaksa. Skenario seni tari itu seperti drama kolosal. Tidak terpisah-pisah. Tidak pula hanya seni tari. Mungkin hal itulah yang membedakan Turangga Yaksa dengan tari Jaran Buto (Banyuwangi) dan tari Jaran Kepang, atau tari Kuda Lumping dari daerah lain.

Dalam drama tari di Nggalek tersebut, para tokoh kejahatan kalah. Terkapar dimedan perang. Pertempuran pun usai. Para kesatria kerajaan bersukaria. Mereka menari berputar-putar sambil terus menghentakkan kaki ke bumi. Seolah mengatakan, kebenaran di muka bumi telah mengalahkan kejahatan dan menang!!

“Kami bangga memiliki seni tari ini,” begitu sekelumit kata sang pengasuh tari dengan senyum bangga saat menyaksikan sukses anak asuhnya. Tari Turangga Yaksa juga merupakan ikon pariwisata andalan Trenggalek. Tampak jelas bagaimana Disnas Pariwita dan pemerintah kabupaten setempat mengemasnya dengan rapi. Semoga begitu juga di daerah lain. Aida Ceha.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Jatim News, Tabloid Wisata Plus, EDISI 20, 10-24  Oktober 2003, Tahun I.

Mbah Bungkul Surabaya: Pembuat Pusaka Majapahit

-Juli 2005-
Surabaya, adalah kota metropolitan kedua setelah Jakarta. Kota yang berjuluk Kota Pahlawan ini menyimpan banyak situs berharga dalam sejarah Islam pula Jawa. Hanya saja dalam perkembangannya situs-situs tersebut kalah dengan hingar-bingar metropolis Surabaya. Sebut saja Masjid Ampel, makam Sunan Ampel, Kembang Kuning, Kampung Sidoresmo Dalem yang dikenal wilayah santri di Surabaya. Belum lagi majlis-majlis ta’lim seperti yang diasuh oleh Gus Asrori di Kenjeran Surabaya.

Pada edisi ini CN menampilkan satu dari sekian banyak khazanah Islam Surabaya, yaitu makam Mbah Bungkul Surabaya. Makam Mbah Bungkul atau dalam sejarah disebut Ki Ageng Supa Bungkul terletak di tengah Taman Bungkul Surabaya. Kira-kira seratus meter sebelah utara masjid al-Falah Surabaya.

Asal Mbah Bungkul adalah dari kerajaan Malaka. Kedatangannya di daerah Jawa adalah untuk berdakwah agama Islam. Di pulau Jawa beliau menetap di kerajaan Majapahit. Saat itu Majapahit di bawah kekuasaan Raja Brawijaya. Karena keahlian yang dimiliki, oleh raja Majapahit beliau dijadikan pembuat pusaka kerajaan atau Tukang Pande Kerajaan. Sudah tak terhitung berapa banyak pusaka kerajaan Majapahit yang beliau buat. Dalam perkembangannya posisi beliau di kerajaan Majapahit setara dengan seorang menteri bagian persenjataan kerajaan.

Nama asli beliau tidak diketahui dengan pasti. Adapun sebutan mbah Bungkul karena setiap harinya beliau selalu mengenakan Bungkul. Sejenis kelampen (bakiya atau bengkiyak; Jawa-red) tanpa karet tapi menggunakan sebuah kayu kecil bulat seperti jamur terletak di depan untuk tautan jari kaki.

Sejarah keberadaan makam beliau di Surabaya juga masih menyimpan banyak misteri. Apakah daerah sekitar makam itu dulu merupakan sebuah kampung? menurut penuturan bapak Siswanta, 48, bahwa daerah Bungkul ini dulu bukanlah sebuah kampung. Keberadaan Mbah Bungkul di daerah ini adalah dalam rangka menyepi atau uzlah untuk proses penyempurnaan jiwa. Atau dalam istilah pesantren dikenal Tirakatan.

 Dalam perjalanannya ke Bungkul ini beliau ditemani oleh empat orang teman setianya. Diantaranya bernama Jeng Rono dan Tumenggung Rono. Hingga akhir hidupnya beliau menetap di daerah bungkul ini. Demikian pula dengan empat orang teman beliau, keempatnya dimakamkan berdampingan dengan makam beliau. Kompleks makam Mbah Bungkul ini memang agak aneh. Tidak ada nama pada batu nisan atau keterangan lain yang menunjukkan siapa-saja yang dimakamkan di pemakaman tersebut. Bahkan tidak diketahui dengan pasti yang mana makam Mbah Bungkul yang sebenarnya. Menurut Siswanto yang tinggal beserta keluarganya di pemakaman tersebut mengungkapkan, “sejak dulu memang demikian, tidak ada nama atau petunjuk lain. Khawatir jika diketahui dengan pasti yang mana makam mbah Bungkul akan disalahgunakan oleh masyarakat”.

Di kompleks makam yang rindang ini dihuni oleh delapan keluarga yang diyakini merupakan keturunan Mbah Bungkul. Terdapat pula sebuah sumur tua peninggalan Mbah Bungkul. Sumur ini tidak pernah kering meski musim kemarau. Padahal sebagian besar sumur di Surabaya kering pada saat kemarau. Tidak sedikit pula peziarah yang minta air sumur tersebut untuk obat. Dengan izin Allah banyak yang sembuh.

Haul Mbah Bungkul dilaksanakan tiap akhir sya’ban. Makam beliau tidak pernah sepi dari peziarah. Pada hari-hari tertentu banyak peziarah dari Kalimantan, terutama Banjarmasin. Hal ini tidak lain masih adanya hubungan antara Kerajaan Majapahit dengan pangeran Suryansyah (Banjarmasin).

Dalam lingkup sejarah Wali Sanga beliau dikenal sebagai mertua Sunan Giri (Raden Paku), Gresik. Konon suatu hari beliau membuat sayembara barang siapa yang menemukan buah delima miliknya yang jatuh di sungai maka akan jika ia laki-laki akan dijadikan menantu, dinikahkan dengan putri beliau Dewi Wardah, jika perempuan akan diangkat menjadi anaknya. Ternyata buah itu ditemukan oleh Raden Paku yang tengah mengambil air wudlu’ di Sungai. Konon sungai dimaksud adalah sungai Kali Mas Surabaya. Oleh karenanya ketika Mbah Bungkul mengetahui bahwa delima itu telah ditemukan, ia segera menemui Sunan Giri dan mengutarakan hadiah yang akan diberikan bagi yang menemukan delima tersebut. Padahal pada hari yang sama, beliau akan melaksanakan pemikahan dengan Dewi Murthasiah, putri Sunan Ampel. Akhirnya pada hari yang ditentukan beliau menikah dua kali dalam sehari. M. Nawawi

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Cahaya NABAWIY, Majalah Dakwah bulanan, No. 31, Th. III Jumadil Ula 1426 H/ Juli 2005 M