Masjid Kuno Jawa Timur: Masjid Taman Arum Magetan

-1999-
Masjid Taman Arum terletak di Dusun Godhegan, Desa Taman Arum, Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan, berada di tengah-tengah perkampungan dengan penduduk yang cukup padat.

Deskripsi Bangunan
Masjid ini berdiri di atas tanah wakaf seluas 600 m2 dengan bangunan yang tidak terlalu luas. Di sisi timur bangunan masjid terdapat serambi terbuat dari beton berukuran 12,5 x 6,3 m, atap berbenfuk limasan terbuat dari genteng. Di bagian depan serambi terdapat tiga buah anak tangga memanjang sepanjang serambi. Kemudian terdapat empat buah pintu, tiga pintu untuk masuk ke serambi dan satu pintu di sebelah kanan untuk masuk ke ruangan pawestren. Keempat pintu ini masing-masing mempunyai dua buah daun pintu terbuat dari besi setinggi, ±100 m. Bagian atas pintu ini berbentuk melengkung.

Ruang pawestren terletak di sebelah selatan ruangan utama masjid, berbentuk persegi panjang dengan ukuran 7,5 x 4 m. Atap bangunan pawestren ini terpisah dengan atap ruang utama. Di dalam ruangan pawestren ini terdapat sebuah rak tempat menyimpan al-Qur’an.

Di sebelah utara bangunan utama terdapat sebuah kolam berukuran 8,25 x 2,5 m dengan kedalaman sekitar 2,4 m, terbuat dari susunan bata yang berspesi. Kondisi kolam ini sekarang sudah tidak layak untuk difungsikan sebagai tempat berwudhu, oleh karena itu dibuatkan tempat wudhu baru berupa sebuah sumur yang terletak di sebelah tenggara serambi.

Untuk masuk ke ruang utama masjid terdapat tiga buah pintu yang terletak di ruangan dalam serambi. Ruangan utama berbentuk bujur sangkar berukuran 7,75 x 7,75 m, lantainya terbuat dari ubin, separo dinding bagian bawah terbuat dari tembok, dan separo bagian atas dari papan. Konstruksi atap berbentuk tumpang dua terbuat dari genteng. Ketinggian sampai puneak 8,65 m, dan pada kemuncaknya terdapat hiasan berbentuk lidah api.

Di dalam ruang utama ini terdapat empat buah tiang penyangga berbentuk empat persegi terbuat dari kayu, terletak di atas umpak batu dengan tinggi dari lantai 3,35 m. Pada dinding sebelah utara terdapat sebuah pintu masuk dan dua buah jendela tanpa daun pintu dan diberi pengaman dengan jeruji kayu. Jendela yang berjeruji ini juga terdapat pada dinding sebelah barat, yaitu pada kiri-kanan mihrab, kemudian pada dinding sebelah selatan terdapat sebuah pintu untuk menuju pawestren.

Mihrab terletak di sisi barat dengan bentuk men jorok ke luar dengan ukuran 2, 10 x 1,85 m. Di dalam mihrab terdapat sebuah mimbar terbuat dari kayu berukuran 1,20 x 0,80 m dan tinggi 1,50 m. Pada bagian atas mimbar ini terdapat hiasan berbentuk sulur-suluran dan lengkungan geometris.

Latar Sejarah
Bangunan Masjid Taman Arum ini diperkirakan didirikan sekitar tahun 1860 M oleh dua orang tokoh pengIslaman yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai Kyai H. Imam Nawawi dan Kyai Mustarim. Pada saat itu daerah Taman Arum masih berupa hutan yang cukup lebat, kemudian berkat pimpinan kedua Kyai tersebut daerah ini dibuka untuk dijadikan pemukiman. Kedua tokoh ini berasal dari keluarga kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang ikut mengungsi ke daerah timur karena adanya peristiwa geger pacinan. Selain mendirikan pemukiman dan masjid bagi kaum kerabatnya juga dibangun pondok pesantren yang sekarang hanya terlihat sisa-sisanya saja.

Bangunan serambi yang terlihat di sisi timur ini merupakan hasil pembangunan yang dilakukan seeara swadaya oleh masyarakat setempat pada tahun 1991, sedangkan bangunan induk masjid dilakukan pemugarannya pada tahun anggaran 1977/1978 oleh Proyek Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur, dengan jenis kegiatan pembongkaran dan pemasangan kembali berupa lantai, dinding kayu dan tembok, konstruksi atap, usuk, reng, dan genteng.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Masjid Kuno Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1999, Hlm.193-194, Deposit : CB-D13/1999-339.

Masjid Kuno Jawa Timur: Masjid Sendang Duwur, Lamongan

-1999-
Masjid Sendang Duwur terletak di jalan R. Nur Rahmat Sunan Sendang, Desa Sendang Duwur, Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur. Masjid berbatasan dengan rumah penduduk di sebelah timur, di sebelah barat dan utara berbatasan dengan kompleks makam kuno dan di sebelah selatan dengan pemakaman umum.

Deskripsi Bangunan
Masjid berdenah bujur sangkar berukuran 23 x 16 m dengan arah hadap ke timur. Bangunan terbuat dari batu bata dan kayu. Ruang utama masjid berukuran 16 x 16 m, yang dibatasi oleh empat dinding dari tembpk. Pintu utama terletak ditengah-tengah dinding timur, memiliki dua daun pintu. Pada daun pintu terdapat hiasan bingkai cermin yang diukir dan dicat wama merah, emas, biru dan hijau. Bagian atas pintu terdapat hiasan terawangan berbentuk sulur-suluran, bunga teratai dan mahkota yang dicat wama merah, emas, biru dan hijau. Pintu timur memiliki hiasan terawangan berbentuk ukir-ukiran kayu berupa sulur-suluran dan bunga pada bagian atasnya, tetapi ukir-ukiran ini tidak dicat. Pada kusen bagian atasnya terdapat hiasan pelipit. Jendela ruang utama ada sepuluh buah terbuat dari kayu jati yang dicat hijau, masing-masing berukuran 2 x 3 m dan mempunyai dua daun jendela. Ruang utama memiliki 17 buah tiang yaitu sebuah tiang ditengah-tengah, dan empat tiang masing-masing di utara, timur, selatan dan barat. Di dalam ruang utama terdapat mihrab, mimbar dan maksurah. Mihrab terletak di dinding dan diapit dua pasang pilaster yang masing-masing sisinya dihiasi dengan tegel keramik. Pilaster bagian luar bersusun dua, sedangkan bagian dalam bersusun tiga. Antara pilaster bagian luar dengan bagian dalam terdapat hiasan bingkai cermin yang ditengahnya dihias motif geometris. Mimbar memiliki tiga anak tangga. Pada ujung anak tangga terdapat tempat duduk dari semen. Tubuh mimbar didukung empat buah pilaster yang pada bagian sudut-sudutnya ditempeli tegel keramik. Atap mimbar berbentuk rata yang ditempeli tegel keramik. Bagian puncaknya terdapat kubah.

Serambi masjid terdapat pada keempat sisi ruang utama yaitu: serambi timur, utara, barat, dan selatan. Seluruh permukaan lantai serambi dilapis tegel teraso. Pada keempat serambi terdapat 28 tiang berbentuk bulat. Pada puncak tiang terdapat hiasan pelipit rata. Antara tiang dihubungkan lengkung penopang atap serambi. Di dalam serambi yaitu di serambi timur terdapat satu buah bedug yang disanggah oleh rangka kayu. Pada serambi terdapat candrasengkala pada sebuah papan kayu yang berbunyi: gurhaning sarira tirta hayu (1483 S=1561 M).

Di dalam sebelah utara masjid Sendang Duwur terdapat makam-makam dan gapura. Gapura seluruhnya ada lima buah yaitu empat gapura bentar dan sebuah gapura paduraksa yang menarik berbentuk sayap yang sedang mengembang. Selain itu pada bagian atas gapura ini terdapat relief gunungan, kepala kala yang bentuknya disamarkan, tumbuh-tumbuhan serta motif sulur-suluran.

Latar Sejarah
Masjid Sendang Duwur merupakan peninggalan Islam yang banyak mendapat pengaruh kebudayaan Hindu akhir, hal ini tampak pada pola hias gunungan dan kala. Masjid diperkirakan didirikan pada abad 16 berdasarkan candra sengkala yang berbunyi: gurhaning sarira tirta hayu (1483 S = 1561 M). Pendiriannya adalah Sundan Sendang atau Sunan Rahmat. Beliau adalah salah seorang penyebar agama Islam di Jawa Timur.

Tahun 1920 Masjid Sendang Duwur diperbaiki, tahun 1938-1940 perbaikan makam. Tahun 1989-1990 dipugar secara keseluruhan oleh Proyek Pelestarian Pemanfaatan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Masjid Kuno Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1999, Hlm.183-184, Deposit : CB-D13/1999-339.

Masjid Kuno Jawa Timur: Masjid Agung Sumenep

-1999-
Masjid Agung Sumenep terletak di Jalan Trunojoyo Nomor 6, Kelurahan Bangselok, Kecamatan Kota, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur. Masjid berada di tengah kota Sumenep berbatasan dengan Jalan Trunojoyo di sebelah timur, di sebelah barat berbatasan dengan rumah penduduk, di sebelah utara dengan pertokoan, dan di selatan dengan Pasar Polowijo.

Deskripsi Bangunan
Masjid Agung Sumenep berdiri di atas tanah berukuran 89 x 89 m. Berdenah bujur sangkar berukuran 30 x 30 m menghadap ke timur dan tepat ditengah-tengah dinding bagian barat menjorok bangunan mihrab. Masjid ini dibatasi oleh tembok keliling setinggi 3 m di sebelah barat, utara dan selatan, sedangkan di sebelah timur dibatasi gapura dan pagar besi.

Ruang utama
Ruang utama berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 23,5 x 23,5 m, dibentuk oleh empat buah dinding terbuat dari tembok berukuran tebal dinding 0,7 m, tinggi 4,5 m. Tiap sudut dinding luar bangunan terdapat dua pilaster yang dipisahkan oleh hiasan geometris. Pada dinding timur terdapat dua prasasti yang mengapit pintu masuk utama. Prasasti I yang terletak di sebelah utara berhuruf Arab, sedangkan prasasti II terletak di selatan berhuruf Arab dan Jawa. Kedua prasasti dituliskan pada bingkai berbentuk elips dan dicat wama emas.

Ruang utama masjid memiliki sembilan pintu terbuat dari kayu jati dan dicat warna hijau yang menghubungkan ruang utama dengan serambi. Lima pintu terdapat pada dinding timur sedangkan pada dinding utara dan selatan masing-masing terdapat dua pintu. Di depan seluruh pintu masuk terdapat dua anak tangga berukuran 2,2 x 0,4 m dan tinggi masing-masing anak tangga 30 cm yang dilapisi tegel berukuran 0,2 x 0,3 m bermotif garis-garis horizontal putih dan coklat. Letak seluruh pintu masuk tidak sejajar dengan permukaan dinding tetapi menjorok 30 cm ke dalam.

Pintu utama ditengah-tengah dinding timur berukuran 4 x 2,8 m memiliki dua buah daun pintu masing-masing berukuran 2,4 x 1 m dengan tebal 5 cm. Pada daun pintu terdapat hiasan bingkai cermin yang ditengah-tengahnya dihias dengan ukir-ukiran dan dicat wama merah, emas, biru’ dan hijau.’ Bagian” atas pintu terdapat hiasan terawangan berupa ukir-ukiran kayu berbentuk sulur-suluran, bunga teratai dan mahkota yang dicat warna merah, emas, biru dan hijau. Hiasan terawangan ini berfungsi sebagai ventilasi. Pada kusen bagian atas terdapat hiasan pelipit. Pintu utama diapit oleh empat pintu masing-masing dua pintu pada dinding utara dan selatan berukuran 4,2 x 2,2 m masing-masing mempunyai dua daun pintu. Setiap daun pintu berukuran 2,3 x 0,95 m berhiaskan bingkai cermin. Bagian atas pintu terdapat jendela kaca berbingkai kayu sedangkan pada kusen bagian atas terdapat hiasan pelipit rata.

Pintu sebelah timur berukuran 4,2 x 2,8 m terdapat hiasan terawangan berbentuk ukir-ukiran kayu berupa sulur-suluran dan bunga pada bagian atasnya, tetapi ukir-ukiran ini tidak dicat. Pada kusen bagian atasnya terdapat hiasan pelipit. Pintu ini mempunyai sepasang daun pintu berukuran 2,4 x 1 m. Hiasan pada daun pintu sarna seperti pintu utama. Pintu sebelah barat berukuran 4 x 2,2 m mempunyai kisi-kisi kayu 6 buah pada bagian atas daun pintu dan hiasan pelipit pada kusen bagian atas. Pintu ini mempunyai sepasang daun pintu berukuran 2,4 x 1 m, sebelah dalam terdapat hiasan bingkai cermin.

Pada dinding selatan terdapat dua pintu yang berhadapan dengan pintu-pintu pada dinding utara mempunyai ukuran, bentuk dan hiasan yang sama. Jendela ruang utama ada sepuluh jendela, terbuat dari kayu jati yang dicat warna hijau. Pada jendela bagian atas dan bawah terdapat kisi-kisi kayu masing-masing terdiri dari tiga dan lima bilah kayu disusun vertikal. Semua daun jendela sebelah dalam terdapat hiasan bingkai cermin, sedangkan pada kusen bagian atas terdapat hiasan pelipit rata.

Di dalam ruang utama terdapat mihrab, mimbar, maksurah dan tiang-tiang. Lantai terbuat dari tegel berukuran 0,4 x 0,4 m berwarna putih yang dilapisi karpet warna hijau. Ruang utama ditopang oleh 13 tiang, yaitu satu tiang ditengah-tengah ruang, empat tiang di utara, empat tiang di timur, empat tiang di selatan dan empat tiang di barat. Ketigabelas tiang berbentuk silinder dibuat dari semen dan mempunyai hiasan susunan pelipit rata dan setengah lingkaran berbentuk segi delapan di tubuh dan puncaknya. Bagian bawah masing-masing tiang tingginya 30 cm dan keliling 46 cm. Sedangkan keliling tubuhnya 36 cm, tiang utama terletak di bagian tengah, tingginya 8 m, sedangkan tiang lainnya tinggi 6 m.

Mihrab
Mihrab terletak di dinding barat berbentuk persegi panjang berukuran 2,16 x 1,58 m, tingginya 2,75 m, menjorok ke barat diapit dua pasang pilaster setinggi 30 cm pada masing-masing sisinya dan dihias dengan tegel keramik seluruh permukaannya. Pilaster bagian luar bersusun dua sedangkan bagian dalam bersusun tiga. Antara pilaster bagian luar dengan bagian dalam terdapat hiasan bingkai cermin yang ditengahnya dihias dengan motif geometris sama dengan hiasan pada dinding mimbar dan maksurah. Pada bagian atas pilaster terdapat lengkung setengah lingkaran yang berhiaskan pelipit dan motif geometris. Di sebelah utara dan selatan terdapat relung dengan bentuk lengkung sempurna berhiaskan kaligrafi Arab yang dicat berwama emas. Tinggi relung 2,3 m dan lebamya 0,8 m.

Mimbar
Ruang mimbar berukuran 1,9 x 1,1 m, di dalamnya terdapat tiga anak tangga. Pada ujung anak tangga terdapat tempat duduk dari semen berukuran 1,1 x 0,5 m, tingginya 50 cm permukaannya dihias tegel keramik. Tubuh mimbar didukung empat pilaster tiap-tiap sudut pilaster ditempeli tegel keramik. Pada dinding utara dan selatan terdapat dua buah hiasan segi delapan dengan motif geometris yang berfungsi sebagai ventilasi dan bunga teratai. Mimbar beratap rata yang ditempel tegel keramik, bagian atasnya terdapat hiasan pelipit rata dan setengah lingkaran, puncaknya terdapat kubah berbentuk elip yang bagian tengahnya terdapat tiang kecil dari besi, dan bagian atas tiang terdapat hiasan huruf ‘V’ tidur.

Maksurah
Ruang maksurah terletak sebelah selatan mihrab berukuran 1,9 x 1, 1 m terbuat dari semen. Bentuk bangunan, atap, hiasan pada dinding luar, hiasan pada atap sarna dengan mimbar. Sedangkan dinding utara dan selatan bagian dalam terdapat hiasan bentuk segi empat yang di dalamnya berhiaskan lingkaran yang ditengahnya berhias bentuk menyilang dengan bunga dan daun. Dinding barat bagian dalam terdapat hiasan oktagonal yang di tengahnya dihias lingkaran. Tubuh maksurah dihias dengan tegel keramik warna biru.

Atap masjid berbentuk tumpang bersusun tiga terbuat dari seng yang dicat berwama hijau. Pada atap tingkat kedua dan ketiga terdapat dua loteng berdenah bujur sangkar. Atap tingkat pertama berdiri di atas konstruksi kayu yang didukung langsung oleh dinding ruang utama dan terdapat tangga yang menghubungkan dengan atap kedua.

Loteng pada atap kedua ditopang oleh tiang-tiang pada ruang utama yang dialasi empat balok kayu saling berhubungan. Di atas balok kayu terdapat susunan papan yang ditopang rangka kayu merupakan lantai loteng. Juga merupakan penutup bagian dalam atap pertama. Dinding loteng dari papan kayu dan tiap sisinya terdapat tiga jendela masing-masing berukuran 2 x 3,1 m yang memiliki sepasang daun jendela. Atap tingkat kedua ditopang oleh tiang-tiang yang terdapat pada masing-masing sudut loteng, tiang-tiang dihubungkan balok kayu yang melintang. Pada loteng tingkat kedua terdapat tangga kayu yang menghubungkan loteng kedua dan ketiga.

Lantai loteng atap ketiga ditopang oleh tiang yang terdapat di loteng tingkat kedua merupakan penutup loteng tingkat kedua. Atap tingkat ke tiga ditopang oleh konstruksi kayu pada atap kedua yang menopang bagian paling atas atap ke tiga. Dinding loteng terbuat dari papan kayu dan tiap sisi dindingnya masing-masing terdapat sebuah jendela berukuran 1,4 x 1 m. Pada bagian puncak atap ketiga terdapat mustaka berbentuk bujursangkar yang menopang bola bersusun tiga yang makin ke atas makin kecil. Hiasan tersebut dari tanah liat yang dicat warna emas.

Serambi
Serambi masjid pada keempat sisi ruang utama, yaitu serambi timur, utara, barat, dan selatan, masing-masing berukuran 48 x 33,6 m. Untuk mencapai serambi dibuat tiga anak tangga yang tingginya masing-masing 20 cm. Seluruh permukaan lantai dilapis tegel teraso 50 x 50 cm. Pada keempat serambi terdapat 28 tiang berbentuk bulat tingginya 2 m. Pada puncak tiang terdapat hiasan pelipit rata dan setengah lingkaran berbentuk segi delapan. Antara tiang dihubungkan lengkung penopang atap serambi. Tubuh tiang serambi barat dihubungkan oleh tembok sehingga merupakan serambi tertutup. Masjid Agung Sumenep memiliki dua buah bedug, satu bedug di serambi utara dan satu lagi di ruangan atas gapura. Beduk yang ada di serambi utara berdiameter 80 cm dan disangga oleh rangka kayu tingginya 1 m terbuat dari batang kayu yang dilubangi tengahnya. Sedangkan bedug yang ada di ruangan atas gapura berdiameter 1,3 m digantung pada rangka kayu tingginya 3 m terbuat dari bahan yang sama dengan bedug di serambi utara.

Bangunan lain
Gapura
Gapura masjid berupa gapura paduraksa terdiri dari dua tingkat yang terbuat dari tembok. Pada bagian tengahnya terdapat pintu masuk dengan ambang pintu berbentuk setengah lingkaran. Pada bagian kaki dan atap gapura terdapat hiasan pilaster persegi, bingkai cermin, swastika, terawangan, pelipit, dan lengkungan. Pada kaki gapura terdapat dua ruangan di sebelah utara dan selatan berukuran 7,7 x 7,45 m. Untuk memasuki ruangan melalui pintu kayu terdiri dari sepasang daun pintu berbentuk lengkungan sempuma. Pada sisi gapura sebelah timur dan utara tetdapat jendela berukuran 1 x 1 m, berjeruji besi delapan buah disusun vertikal.

Pada bagian tengah terdapat pintu berbentuk lengkung dengan sepasang daun pintu terbuat dari kayu masing-masing berukuran 3,75 x 1,7 m. Pada daun pintu sebelah dalam terdapat angka Arab 1211 H, sedangkan di bagian tengah kedua daun pintu terdapat kunei selot besi. Pada bagian utara dan selatan terdapat tangga menuju tingkat dua. Di depan tangga terdapat pintu kayu dan sepasang daun pintu kayu masing-masing berukuran 1,8 x 0,5 m.

Tubuh gapura berdenah persegi panjang berukuran 16 x 6,4 m. Pada sisi utara dan selatan merupakan teras terbuka. Ditengah-tengah gapura bagian atas terdapat ruangan berukuran 6 x 5 m. Pada dinding utara dan selatan ruangan terdapat pintu berbentuk lengkung yang diapit oleh pilaster dan di depan pintu terdapat undakan setinggi 20 cm. Sedangkan dinding timur dan barat terdapat dua lubang angin berbentuk bulat berdiameter 40 cm. Di dalam ruangan terdapat sebuah bedug dan rangka tiang kayu bedug. Pada bagian luar dinding timur terdapat hiasan pintu semu yang diapit dua jendela semu dan di atasnya terdapat hiasan swastika. Di tiap sudut dinding terdapat dua pilaster persegi mengapit hiasan geometris. Pada tubuh dan bagian atas pilaster terdapat hiasan bingkai cermin.

Atap gapura merupakan atap ruangan tingkat dua berbentuk genta, dan lubang angin berbentuk bujur sangkar. Pada keempat sudut atap terdapat hiasan lidah ombak, sedangkan pada bagian puncak terdapat hiasan mustoko terbuat dari bahan yang sama dengan bahan atap yaitu semen.

Congkob
Congkob menurut masyarakat setempat yaitu bangunan seperti cungkup pada makam yang berfungsi sebagai tempat bermalam musafir. Bangunan ini berdenah persegi panjang berukuran 3,5 x 2,5 m. Congkob terdapat pada sisi timur timur laut dan tenggara kompleks masjid. Kedua bangunan terbuat dari tembok semen dan dicat warna putih.

Bangunan congkob di timur laut memiliki pintu pada dinding selatan lengkungan yang menjorok ke luar setebal 30 cm berukuran 2, 1 x 1,5 m, sepasang daun pintu kayu masing-masing berukuran 1,65 x 0,6 m. di sisi baratnya terdapat lubang angin berbentuk persegi panjang, memiliki delapan buah kisi-kisi berjarak 12 cm dan masing-masing berukuran 80 x 10 cm. Pada keempat dinding bagian atas terdapat pelipit. Atap bangunan berbentuk kubah lonjong dan pada dindingnya terdapat delapan buah lubang angin masing-masing berukuran 10 x 10 cm. Pada puncak atap terdapat mustaka berbentuk bulat telur terbuat dari semen.

Bangunan congkob yang terdapat di tenggara mempunyai bentuk, bahan dan ukuran yang sama dengan bangunan di timur laut. Pada dinding utara bangunan terdapat pintu. Selain itu lubang angin pada dinding atap berjumlah empat buah.

Menara
Menara terletak di tengah-tengah bagian belakang bangunan induk atau di sisi barat kompleks masjid terbuat dari tembok semen. Tinggi menara dari kaki sampai atap 15 m berdenah segi enam berukuran tiap sjsinya 2,3 m. Kaki menara berbentuk segi 6 lebar tiap sisinya 3,6 m, tingginya 1,2 m yang dicat wama putih.

Tubuh menara terbagi atas empat tingkat, dimana tiap tingkat dipisahkan oleh pelipit yang melingkari tubuh menara. Hiasan pada pelipit berupa tangkai daun yang disusun melingkari tubuh menara. Pada tingkat pertama terdapat pintu masuk berbentuk persegi panjang berukuran 1,9 x 0,6 m dengan sebuah daun pintu kayu berukuran 1,4 x 0,6 m. Pada bagian atas daun pintu ditutup dengan papan kayu berukuran 50 x 50 em dan memiliki dua buah hiasan bingkai cermin. Letak daun pintu tidak sejajar dinding tubuh menara, tetapi menjorok ke dalam selebar 40 em. Pada dinding di atas pintu terdapat hiasan ukiran dari lepa berbentuk kepala kambing.

Tingkat II dan III mempunyai tiga lubang angin pada tiap sisi dinding berbentuk persegi panjang dengan ukuran 40 x 20 cm. Pada tingkat IV terdapat tiga lubang angin pada tiap sisi yang letaknya agak menjorok 25 cm ke dalam berbentuk bujur sangkar berukuran 30 x 30 cm dan ditengah lubang angin terdapat hiasan geometris. Pada sisi dinding timur terdapat satu jendela  berukuran 1 x 0,9 m memiliki dua daun jendela dari kaca.

Atap menara berbentuk kubah terbuat dari seng yang dicat warna hijau. Pada puncak atap terdapat mustaka yang berbentuk tiga buah bola bersusun semakin ke atas makin kecil yang terbuat dari seng.

Pagar
Pada sisi timur kompleks dibatasi oleh gapura dan pagar besi. Pagar besi dibangun oleh bupati Sumenep menggantikan pagar tembok. Pagar ini terbagi dua yaitu sisi utara dan selatan, masing-masing sisi panjangnya 26,2 m serta mempunyai sebuah pintu masuk.

Pagar sebelah selatan bagian kakinya terbuat dari semen. tingginya 90 cm dan lebar 50 cm. Tubuh pagar berbentuk pilar segi empat yang berjumlah delapan pilar dan jeruji besi berbentuk susunan tombak. Setiap dua pilar mengapit susunan jeruji besi. Antara pilar keempat dan kelima terdapat pintu masuk, pilar ini mengapit sepasang daun pintu berjeruji besi. Pada bagian atas pilar terdapat lengkungan dari besi yang berhias susunan tombak. Pada pilar bagian atas terdapat ragam hias bunga padma mekar dan pelipit. Pada tubuh pilar sebelah luar terdapat hiasan cakra, sedangkan tubuh pilar bagian dalam ada hiasan bingkai cemin yang ditengahnya terdapat bunga. Pada bagian kaki terdapat hiasan cakra yang mengapit bingkai cermin. Pagar sebelah utara mempunyai bentuk, ukuran dan hiasan yang sarna dengan sebelah selatan. Pada pilar pintu masuk pagar ini terdapat prasasti yang bertuliskan “8 Juni 1927 Kanjeng Raden Toemenggung Ario Praboewinoto Bupati Soemenep”. Disamping kanan masjid terdapat bangunan tempat wudhu berukuran 9 x 3 m.

Latar Sejarah
Sejarah berdirinya Masjid Agung Sumenep tidak diketahui. Hanya diketahui, masuknya Islam ke Sumenep pertama-tama disebarkan di daerah pantai selatan kota ini sekitar abad 15. Daerah pesisir pantai merupakan tempat perdagangan yang mempunyai hubungan dengan daerah-daerah seberang. Sumenep merupakan kawasan perdagangan yang paling ramai di Madura, oleh karena itu Islam tumbuh pesat dibandingkan dengan daerah Madura bagian barat dan Pamekasan. Selain dengan perdagangan, saluran islamisasi di Sumenep juga melalui jalur santri, pondok pesantren, dan perkawinan.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Masjid Kuno Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1999, Hlm.185-189, Deposit : CB-D13/1999-339.

Masjid Kuno Jawa Timur: Masjid Donopuro Madiun

-1999-
Secara administrasi Masjid Donopuro terletak di Jalan Asahan Nomor 45, Kelurahan Taman, Kecamatan Taman, Kotamadia Madiun, Jawa Timur. Kotamadia Madiun terletak di dataran rendah antara 111°_112° BT dan 7°_8° LS. Di sebelah barat masjid terdapat makam kuno. Luas makam dan masjid sekitar 28.960 m2, dan bangunan masjid sendiri berukuran 36 x 47 m. Letak masjid di tengah perkampungan penduduk. Masjid dikelilingi bangunan- bangunan baru yaitu di sebelah utara terdapat Kantor Urusan Agama Kecamatan Taman, di sebelah selatan Kantor Kelurahan Taman dan rumah juru pelihara makam kuno Taman, di sebelah timur jalan arteri primer (jalan Asahan) yang menghubungkan Kotamadia Madiun bagian selatan dengan utara.

Makam kuno yang berada di belakang (barat) masjid merupakan kompleks makam Bupati Madiun. Di dalam kompleks makam terdapat II makam bupati. Kompleks makam mempunyai empat buah pintu masuk, yakni dua pintu masuk sebelah timur dan dua buah di sebelah barat. Pintu masuk sebelah barat dibuka hanya pada waktu banyak pengunjungnya saja, sedangkan pintu sebelah timur dibuka setiap hari. Tiap-tiap makam mempunyai halaman sendiri-sendiri yang dipisahkan oleh tembok pembatas, serta masing-masing makam memiliki gapura atau pintu.

Deskripsi Bangunan
Bangunan masjid berukuran 36 x 47 m, berdiri di halaman seluas 28.960 m2. Masjid ini memiliki ruang utama, serambi, pawestren, dan tempat wudhu.

Ruang Utama
Bangunan mang utama mempunyai ukuran 11,60 x 11,60 m. Lantainya dari tegel berwama abu-abu dengan ukuran 20 x 20 cm. Dindingnya dari tembok. Pada ruang ini terdapat empat buah tiang utama yang terbuat dari kayu jati berbentuk bulat. Selain itu, terdapat lima buah pintu, yaitu tiga buah menghubungkan dengan ruang serambi I, satu buah dengan ruang perpustakaan, dan satu buah dengan ruang pawestren. Di dindingnya terdapat jendela-jendela kaca.

Di dalam ruang utama terdapat mihrab dan mimbar. Mihrab berada di dinding barat ruang utama yang mempunyai ukuran 185 x 330 cm. Mihrab dihiasi tiga tiang bulatan dan bagian atas tiang ini berbentuk bunga teratai. Bagian atas mihrab dihiasi dengan lengkungan dua buah. Mimbar terletak di ruangan mihrab, bentuknya sederhana terbuat dari kayu.

Dinding ruang utama terbuat dari tembok. Dinding asli ruang utama terbuat dari bata yang dipasang dengan tanah liat dan tidak dilepa. Sebagian dinding yang masih asli kelihatan pada bagian luar ruang utama. Di sebelah selatan ruang utama terdapat ruang perpustakaan tempat menyimpan buku-buku keagamaan dan al-Quran. Atap ruang utama berbentuk tumpang tiga terbuat dari genteng dan berpuncak bulan bintang ini terbuat dari sirap dan kemuncaknya berbentuk tempayan terbalik.

Serambi I
Bangunan serambi I berada di sebelah barat serambi II dengan ukuran ruang 10,40 x 11,80 m. Bangunan serambi I telah mengalami perbaikan dan penambahan bagian ruang. Penambahan ini menurut informasi dari masyarakat terjadi pada tahun 1940. Penambahan ini untuk memperluas ruang dengan membuat delapan tiang segi delapan. Tinggi pagar tembok pada serambi I adalah 92 cm dan atap bangunannya terbuat dari genteng. Di sebelah selatan bangunan serambi I terdapat ruang terbuka tempat bedug untuk memanggil jemaah shalat apabila waktunya telah tiba. Bedug ini terbuat dari kayu dan kulit kambing yang keadaannya sudah rusak.

Serambi II
Bangunan serambi II terletak di sebalah barat tempat berwudhu dan menurut informasi dari masyarakat bahwa serambi ini dibangun pada tahun 1989 oleh pengurus masjid karena alasan kebutuhan ruang. Ukuran serambi II 14,93 x 10,00 m. Lantainya dari tegel wama abu-abu (20 x 20 cm). Atap serambi II terbuat dari seng. Beda tingggi serambi II dengan serambi I sekitar 55 cm.

Pawestren
Pawestren adalah bangunan yang berfungsi untuk tempat shalat wanita terletak di sebelah utara ruang utama dan berukuran 17,17 x 6 m. Lantai terbuat dari plesteran yang sekarang ditutup karpet berwarna hijau. Pintunya yang berada di sebelah timur terbuat dari kayu.

Tempat, wudhu
Tempat wudhu terletak di sebelah timur bangunan serambi II, terbuat dari bata dan campuran semen dengan beberapa kran untuk mengalirkan air. Sedangkan kamar mandi dan WC terletak di sebelah utara tempat wudhu tersebut. Menurut informasi dari masyarakat, dahulu tempat wudhu berada di sebelah selatan dari tempat wudhu yang ada sekarang. Tempat wudhu itu berbentuk kolam yang airnya mengalir melalui pipa-pipa lama yang sekarang sudah ditutup oleh jalan Asahan dan sebagian lagi tertutup oleh plesteran halaman masjid.

Latar Sejarah
Masjid Donopuro Taman didirikan oleh Bupati Madiun, Pangeran Mangkudipuro pada tahun 1725 M. Selain mendirikan Masjid Donopuro Taman, beliau juga mendirikan makam keluarga yang berada di belakang masjid. Ketika terjadi pemberontakan Sawo, Pangeran Mangkudipuro diberi tugas untuk memadamkan pemberontakan itu, tetapi usaha pangeran gagal, sehingga ia dipindahkan ke Kabupaten Caruban sebagai bupati. Sedangkan penggantinya adalah Pangeran Raden Ronggo Wedono yang merangkap sebagai bupati wedono di Mancanegara Timur. Tahun 1940 dilakukan perluasan ruangan bangunan serambi I dan pembuatan segi delapan dan pada tahun 1989 pembuatan bangunan serambi II.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Masjid Kuno Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1999, Hlm.191-193, Deposit : CB-D13/1999-339.

Masjid Kuno Jawa Timur: Masjid Agung Tuban

-1999-
Secara administratif Masjid Agung Tuban terletak di Kampung Kauman, Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur. Batas-batas masjid sebelah utara perkotaan dan perkantoran, sebelah selatan adalah perkampungan, sebelah timur alun-alun, sedangkan di sebelah barat pemakaman dan perkampungan.

Masjid Agung Tuban merupakan sebuah kompleks yang terlihat pada lahan berukuran 36 x 30 m. Kompleks dikelilingi oleh satu buah pagar dari semen. Pagar tersebut mengelilingi masjid berukuran 300 m x 20 cm x 1,5 m. Kompleks masjid terdiri dari atas ruang utama, serambi, dan bangunan lain.

 Ruang utama
 Ruang utama berdenah bujur sangkar berukuran 36 x 30 x 5 m dan terletak ± 50 cm dari permukaan tanah. Dinding ruang utama terbuat dari tembok (sisi utara, selatan, timur, dan barat), karena dinding yang lama telah rusak.

Di kiri-kanan pintu masuk terdapat enam buah tiang beton berhiaskan bunga-bunga. Sebelum masuk ke masjid terdapat delapan anak tangga dengan pipi tangga dihiasi keramik polos seperti yang terdapat di kiri-kanan pintu dan juga terdapat tiga buah tempat mengambil air wudhu masing-masing diantaranya dua tempat mengambil air wudhu menghadap ke timur dan satu tempat mengambil air wudhu menghadap ke utara perukuran 4,27 x 3 x 5 m serta terdapat batu nisan yang menghadap ke timur bertuliskan mengenai peresmian Masjid Agung Tuban. Pada ruang utama masjid yang berukuran 20 x 20 x 5 m ini berfungsi sebagai tempat shalat. Lantai dilapisi dari keramik dan ditutupi oleh karpet hijau. Di dalam ruang utama terdapat delapan buah tiang.

Dalam ruang utama terdapat pula mihrab dan mimbar. Mihrab terletak yang menempel di sisi barat dengan anak tangga yang berhiaskan huruf Arab, di dalam ruang mihrab terdapat anak tangga yang mengarah ke menara dan terdapat lubang-lubang angin serta tiang-tiang beton yang menempel ke dinding, disebut pilaster yang berwama putih. Mihrab mempunyai atap tersendiri dan berbentuk kubah yang bertuliskan huruf Arab.

Mimbar berbentuk seperti meja yang dibelakangnya terdapat tempat duduk yang bertangga terdiri atas tiga buah anak tangga. Pada mimbar terdapat tulisan ayat al-Qur’an. Mimbar tersebut mempunyal tikuran 2,5 x 2 x 4,5 m dan tinggi tempat duduk 0,50 m.

Serambi
Serambi terletak di sisi timur masjid yang menyatu dan merupakan bangunan dengan dinding. Denahnya empat persegi panjang. Di dalam terdapat ruangan berukuran 20 x 7,5 x 6 m. Tangga menuju ruangan menempel pada dinding timur. Sebelah utara serambi terdapat bangunan tempat mengambil air wudhu berbentuk empat persegi panjang. Tingginya 6 m dan atapnya dari genteng kodok.

Bangunan lain
Bangunan lain yang terdapat di Masjid Agung Tuban adalah rumah beduk yang terletak di sudut barat daya halaman masjid dan terdiri atas empat buah tiang kayu tanpa dinding. Pada kedua sisinya dihubungkan dengan balok mendatar dan pada balok ini diletakkan beberapa papan untuk beduk tersebut. Atap berdenah terbuat dari genteng kodok. Rumah beduk ini panjangnya 5,6 m, garis tengah bagian yang ditutupi kulit 0,95 m. Hiasan beduk berupa hiasan teratai yang terdapat pada sisi lingkaran. Beduk ini hanya dibunyikan pada waktu tertentu saja dan oleh rnasyarakat setempat. Beduk yang terdapat di halaman masjid tersebut berukuran panjang 1,5 m dan garis tengah 95 cm.

Di barat daya masjid terdapat bangunan pendopo. Tempat tersebut merupakan tempat peristirahatan bagi para peziarah yang berukuran 10,5 x 10,5 x 5 m mempunyai tiang penyangga sebanyak 12 buah tiang yang terbuat dari kayu jati. Pendopo tersebut ramai dikunjung oleh para peziarah saja. Bentuk bangunan tersebut empat persegi panjang. Sebelum masuk ke pendopo, terdapat empat anak tangga untuk masuk ke pendopo yang dihiasi keramik polos.

Latar Sejarah
Kota Tuban menurut Tome Pires, pada awal abad 16 sudah mempunyai tembok keliling yang dibuat dari batu-bata yang dibakar dan dipanaskan terik matahari. yang dapat disaksikan kini terutama makam kuno dimana terdapat makam Sunan Bonang yang pada abad 16 mempunyai peranan dalam pengislaman di daerah ini. Masjid kuno ini diperkirakan didirikan pada tabun 1894 dan diresmikan oleh Bupati Tuban Raden Tumenggung Kusumodikun. Pendirian masjid ini hasil dari swadaya masyarakat dengan Pemda Tingkat II. Masjid ini merupakan masjid tertua dan terbesar di daerah tersebut. Masjid Agung Tuban pernah mengalami perbaikan secara total atas biaya swadaya masyarakat dan Pemda Tingkat II Tuban.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Masjid Kuno Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1999, Hlm.189-191, Deposit : CB-D13/1999-339.

Masjid Kuno Jawa Timur: Masjid Sunan Ampel, Surabaya

-1999-
Masjid Sunan Ampel tepatnya berlokasi di Ampeldento yang kini berada di kawasan Surabaya Utara, tepatnya terletak di Jalan Ampel Masjid Nomor 53, Kampung Nyamplungan, Kelurahan Ampel, Kecamatan Simokerto, Kotamadia Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Bangunan masjid berbatasan dengan pemukiman dan makam di sebelah utara, di sebelah selatan dan timur berbatasan dengan pemukiman dan pertokoan, di sebelah barat berbatasan dengan kompleks makam Sunan Ampel. Dahulu daerah ini merupakan daerah pinggiran sungai yang menjadi urat nadi lalu lintas ke pusat Kerajaan Majapahit.

Deskripsi Bangunan Masjid Sunan Ampei memiliki luas 5.624,84 m2 yang semula hanya 2.069 m2. Di bagian barat kompleks masjid terdapat kompleks makam Sunan Ampel dan para pengikutnya. Di bagian selatan terdapat dua bangunan bertingkat dua. Lantai I merupakan mushala khusus wanita dan lantai II untuk kegiatan pengajaran bahasa Inggris. Selain untuk tempat ibadah rutin, masjid ini sering menyelenggarakan kegiatan yang sifatnya menambah wawasan umat melalui eeramah-ceramah keagamaan.

 Ruang utama
Sebelum masuk ke masjid terdapat gapura, pada bagian tengah berbentuk lengkungan sempuma dan atapnya terdapat hiasan pilaster persegi, pelipit dan lengkungan yang berukuran 80 cm x 2 x 3 m. Ruang utama masjid dibentuk oleh empat buah dinding terbuat dari tembok dan berdiri diatas pondasi setinggi 0,6 m. Luas bangunan 50 x 20 m dan tinggi 5 m. Ruang utama masjid memiliki sembilan buah pintu terbuat dari kayu jati yang dicat berwama krem yang menghubungkan ruang utama dengan serambi. Tiga buah pintu terdapat pada sisi timur, sedangkan pada sisi utara terdapat tiga buah dan selatan terdapat tiga buah pintu. Di dalam seluruh pintu masuk terdapat sebuah anak tangga yang tingginya masing-masing 30 cm. Seluruh anak tangga itu seluruhnya dilapisi oleh keramik bermotif polos. Ke seluruh pintu masuk terletak terletak tidak sejajar dengan permukaan dinding luar, tetapi menjorok 30 cm ke dalam.

Selain sembilan buah pintu pada dinding ruang utama masjid, juga terdapat 10 buah jendela terbuat dari kayu jati yang dicat berwama krem. Pada dinding utara dan selatan masing-masing empat buah jendela, pada dinding barat terdapat dua buah jendela. Jendela-jendela tersebut masingmasing berukuran 2 x 3 m, dan mempunyai dua buah daun jendela. Pada jendela bagian bawah terdapat kisi-kisi kayu yang terdiri dari sebilah kayu yang disusun.

Di dalam ruang utama terdapat 28 buah tiang. Seluruh tiang berbentuk empat persegi, tiang berdiri diatas umpak. Seluruh tiang dibuat dari kayu jati mempunyai hiasan susunan pelipit berbentuk segi delapan di tubuh tiang. Lantai utama tertutup keramik berwama polos yang dilapisi dengan karpet berwama hijau pada seluruh permukaan lantai.

Mimbar masjid berdiri di atas pondasi selasar terbuat dari kayu jati. Ruang mimbar berukuran 1,5 m x 90 cm x 2 m. Di dalamnya terdapat empat buah anak tangga dengan tinggi 10 cm. Pada ujung anak tangga tersebut terdapat tempat duduk dari kayu berukuran 1,1 x 0,5 m serta tingginya 50 cm. Permukaannya dihiasi oleh cat kuning emas dan bermotif sulur.

Serambi
Serambi masjid merupakan bangunan tertutup dan terbuka. Masjid Sunan Ampel memiliki serambi pada ketiga sisi ruang utama, yaitu serambi barat, utara dan selatan, masing-masing berukuran 20 x 5 x 5 m. Seluruh permukaan lantai serambi dilapisi oleh keramik. Pada ketiga serambi ini terdapat 21 tiang berbentuk bulat. Pada puncak tiang terdapat hiasan pelipit rata dan setengah lingkaran. Tiang-tiang ini dihubungkan satu sarna lain dengan lengkung penopang atap serambi. Tubuh tiang pada serambi barat dihubungkan oleh tembok sehingga merupakan serambi terbuka. Di dalam serambi juga terdapat bedug yang digantungkan pada gawangan kayu.

Latar Sejarah
Masjid Sunan Ampel ini didirikan sekitar tahun 1450 M oleh Raden Rahmatillah atau Raden Rahmat yang kemudian lebih dikenal dengan nama Sunan Ampel. Untuk memulai usahanya, Raden Rahmat membuka pondok pesantren di Ampeldento, Surabaya Utara. Di tempat ini dididik para pemuda-pemuda Islam sebagai kader untuk kemudian disebarkan ke berbagai tempat di seluruh pulau Jawa. Menurut riwayat, Sunan Ampel adalah putera dari Maulana Malik Ibrahim dari Dewi Candrawulan. Dari perkawinannya dengan Nyai Ageng Manila ia memperoleh empat orang putra yaitu: Putri Nyai Ageng Maloka, Maulana Makdum Ibrahim (Sunan Bonang), Syarifuddin (Sunan Dradjat), dan Puteri (istri Sunan Kalijaga).

Sunan Ampel juga tercatat sebagai perancang kerajaan Demak. Dialah yang mengangkat Raden Patah sebagai Sultan pertama Demak. Disamping itu juga ikut mendirikan Masjid Agung Demak bersama wali-wali yang lain yaitu membuat salah satu dari saka guru yang kemudian dipasang di bagian tenggara. Sunan Ampel wafat pada tahun 1481 M dan dimakamkan di masjid Ampel.

Masjid Sunan Ampel mengalami perluasan dan renovasi empat kali. Perluasan pertama dilakukan oleh Adipati Aryo Cokronegoro C., dengan menambah bangunan di sebelah utara bangunan lama. Pada tahun 1926 dilakukan perluasan kedua oleh Adipati Regent Raden Nitiadiningrat. Sedangkan perluasan ketiga dan keempat dilakukan pada tahun 1954 dan 1974.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Masjid Kuno Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1999, Hlm.179-180, Deposit : CB-D13/1999-339.

Provinsi Batik

-Agustus 2010-
Provinsi Batik
Beberapa program peningkatan telah dilakukan di antaranya mendeklarasikan batik khas Jawa Timur sebagai salah satu upaya pengembangan industri rumahan yang tersebar hampir di seluruh kabupaten/kota Di Jawa Timur. Bersamaan dengan itu dibuka pula pusat pameran industri kecil menengah.

Potensi kerajinan batik di Jawa Timur menyebar di seluruh kabupaten/kota. Hampir seluruh daerah Jawa Timur ditemukan sentra kerajinan batik meski hanya skala kecil. Batik yang diproduksi oleh sentra-sentra industri di Jawa Timur ini memiliki ciri khas masing-masing yang secara kasat mata bisa dibedakan. Umumnya masing-masing pengrajin menampilkan motif alam sekitarnya.

Mojokerto adalah daerah yang erat hubungannya dengan kerajaan Majapahit, maka batik berkembang di sini. Batik juga berkembang di Tulungagung sebagai daerah pengembangan Kerajaan Majapahit saat itu. Tulungagung yang sebagian wilayahnya rawa-rawa (Bonorowo), saat itu dikuasai oleh Adipati Kalang, yang tidak mau tunduk kepada Kerajaan Majapahit.

Daerah pembatikan di Mojokerto sekarang terdapat di Kwali, Mojosari, Betero dan Sidomulyo. Di luar Kabupaten Mojokerto, batik juga ditemukan di Jombang. Mojokerto sebelumnya dikenal dengan batik Kalangbret. yang coraknya hampir soma dengan batik-batik keluaran Yogyakarta: dasarnya putih dan warna coraknya coklat muda dan biru tua.

Tempat pembatikan yang dikenal sejak lebih dari seabad yang lalu di Mojokerto adalah Desa Majan dan Simo. Batik Majan juga mempunyai riwayat sebagai peninggalan zaman peperangan Pangeran Diponegoro 1825. Warna babaran batik Majan dan Simo dikenal unik, merah menyala (yang diperoleh dari kulit mengkudu) dan warna lainnya dari tom.

Darah Ponorogo pada awal abad XX juga dikenal sebagai daerah batik yang dalam pewornaannya menggunakan nila yang tidak luntur. Akibat batik cop kasor diproduksi secora missal yang dikenal dengan batik cap mori biru, pasoran batik cap kasar Ponorogo terkenal seluruh Indonesia.

Mojokerto, Jombang, Tulungagung, dan Ponorogo yang tidak begitu dikenal dalam peta industri batik, sampai sekarang masih ada sisa jejak kerajinan batik. Batik masih berkembang di Sidoarjo, Madura, Tuban, Blitar, Banyuwangi dan daerah-daerah lainnya.

Batik Madura, memiliki ciri khas dengan motif batik pantai dengan warna cenderung gelap, merah gelap, bahkan dipadukan dengan warna hitam yang merupakan warna yang disukai oleh masyarakat Madura.

Batik Sidoorjo menampilkan motif udang dan ikan serta dedaunan: tapi juga menampilkan warna gelap. Sementara batik Surabaya lebih mengarah pada motif bebas imprisonis meski tetap natural dengan warna-warna terang, abu-abu atau coklat cerah.

Demikian juga Kota Malang, juga tidak mau ketinggalan dalam usaha pelestorian batik. Batik yang diproduksi pora pembatik di kota pendidikan itu memiliki ciri khas yang berbeda dengan daerah lain. Motifnya juga tidak jauh-jauh dengan Jombang, Kota Malang, cerabut ‘rambut singa’. Selain itu juga tugu Kota Malang yang menjadi lambang kota tersebut juga tidak ditinggalkan.

Meskipun pembatikan dikenal sejak jaman Majapahit di Jawa Timur, namun perkembangan batik mulai menyebar sejak pesat di daerah Jawa Tengah Surakarta dan Yogyakata. Tidak salah jika perkembangan batik di Mojokerto, dan Tulungagung pada masa kemudian lebih dipengaruhi corak batik Solo dan Yogyakarta.

Batik memiliki basis budaya yang kuat, terutama di masyarakat Jawa. Di Jawa Timur batik tersebar di hampir seluruh daerah kabupatenkotadengan ciri khas yang berbeda-beda sesuai alam dan kemampuan pembatik setempat.

Di Madura, usaha pembatikan terbesar di empat kabupaten. Madura memiliki ciri khas warna gelap dengan ornamen Alam sekitarnya. Tuban dikenal dengan batik gedognya, Sidoarjo dengan Batik Kenongo. Usaha yang sama juga ada di Jombang, Kediri, Banyuwangi, bahkan juga berkembang di kota besar Surabaya, yang masing-masing juga menampilkan ciri khas masing-masing.

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jawa Timur (Jatim) Nina Soekarwo telah mendeklarasikan batik khas Jatim. Batik tersebut bermotif ayam Bekisar dan bunga teratai.

Pemilihan motif ayam bekisar dan bunga teratai sebagai motif khas batik Jatim mengingat ayam bekisar adalah ayam yang asalnya dari daerah Sumenep dan sudah dibudidayakan di banyak daerah Jatim. Sementara bunga teratai adalah lambang kedamaian yang digunakan sejak Jaman Majapahit.

Hingga saat ini, dari 36 daerah di Jatim yang memproduksi batik, 18 daerah sudah memiliki ciri khas. Di antaranya batik Surabaya, Sumenep, Bangkalan, Tuban dan Sidoarjo.

Bukan Sekadar Melestarikan
Batik yang sempat diklaim milik negara lain kini mulai kembali menjadi milik masyarakat Indonesia sepenuhnya, setelah pada 2 Oktober 2009 diakui secara resmi oleh UNESCO yang menetapkan batik sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan non bendawi (masterpieces of the oral and intangible heritage of humanity). Pengakuan Unesco itu ditetapkan oleh pemerintah sebagai hari batik nasional yang kembali membangkitkan semangat nasionalisme dan ekonomi para pengusaha batik di Indonesia.

Perkembangan batik di berbagai wilayah kabupaten/kota di Jawa Timur saat ini cukup signifikan. Ini ditandai dengan bermunculnya industri skala mikro kecil maupun skala rumah tangga yang terus menghasilkan produk dengan motif dan pewarnaan khas yang dipengaruhi oleh karakter daerah masing-masing.

Total industri kerajinan batik di Jawa Timur yang tercatat sebanyak 191 sentra industri keeil dan menengah yang tersebar di kabupaten/kota. Industri batik, dikelompokkan dengan industri bordir, tenun dan produktekstil. Jumlah unit usaha tercatat sebanyak 5.926 dengah tenaga kerja sebanyak 21.000 orang lebih. Total nilai produksi tidak kurang Rp 243 milyar setahun.

Kontribusi industri batik, meski masih skala rumahan, memberikan kontribusi yang cukup signifikan bagi pertumbuhan ekonomi Jawa Timur. Dari 5,01 pertumbuhan ekonomi Jatim 2009, sekitar 53,l % berasal dari Usaha Kecil Menengeah yang mayoritas dari perajin, yang di antaranya adalah pengrajin batik.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan melakukan pembinaan secora khusus kepada perajin untuk meningkatkan kemampuan skill membatik, selain memberikan bimbingan manajemen kepada para pengusaha baik beserta fasilitas untuk mendorong perkembangan usaha, termasuk fasilitas pameran di banyak daerah. Bimbingan teknis membatik diberikan untuk menumbuhkan perojin-perajin boru di kalangan generosi muda selain ibu-ibu rumah tangga yang berminat berwiraswasta atau sekador mengisi waktu senggangnya di sela-sela kesibukan sebagai ibu rumahtangga.

Pameran yang diselenggorakan berkaitan dengan Peringatan Hari Kebangkitan Nasional di Gromedia Expo Mei lalu, diberi tajuk “Membangun Ekonomi Jawa Timur Melalui Pengembangan don Peningkatan Kreativitas Kerajinan Batik Sebagai Wujud Pelestorian Budaya, Khas Daerah.”

Ke depan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus menggali produk khas Jatim. Tidak hanya batik akan tetapi sulamam, kerajinan kayu, dan kerajinan lainnya. Sebab industri kerajinan ini memiliki potensi yang eukup besar untuk bias berkembang.

Ketua Dekranasda Jatim, Ny. Nina Soekarwo meyakini, bahwa industri kerajinan adalah salah satu industri yang mampu bertahan di tengah himpitan krisis. Hal ini disebabkan karena pelaku industri ini lebih dipengaruhioleh hobi dan tradisi. Sehingga biasanya mereka akan lebih kreatif dalam mengembangkan bisnisnya.

Saat ini ada sekitar 191 sentra Industri Kecil Menengah (IKM) di seluruh Jatim. Sementara pengrajin batik, bordir dan tenun mencapai 5.926 pengrajin yang bisa menyerap sekitar 21.000 tenaga kerja dengan omset meneapai Rp243 miliar per tahun.

Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jatim melakukan terobosan untuk menyiasati banyaknya kerajinan yang tersebar di 38 kabupaten/kota se Jatim dengan membuka ruang pamer East Java Craft Centre (EJJC) di Sekretariat Dekranasda, Jalan Kedungdoro, Surabaya.  EJCC ini menjadi jendela usaha kecil dan menengah (UKM) untuk berinteraksi langsung dengan konsumen.

Pembangunan ruang pamer itu dilatar-belakangi sulitnya tamu dari luar Jawa Timur yang ingin membeli oleh-oleh khas Jatim. Di ruang pamer ini dipajang berbagai produk industri kecil dan kerajinan khas Jawa Timur. Lokasi ruang pamer yang berada di jalan protokol itu, diharapkan akan dapat mempromosikan seluruh hasil kerajinan Jatim secara efektif dan efisien.

Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jatim yang sebagian besar disumbang oleh sektor UMKM memacu Dekranasda Jatim untuk memacu pertumbuhan UKM. Upaya lain yang dilakukan adalah mendekatkan para pelaku industri kecil dengan dunia perbankan untuk memperoleh kemudahan Kredit Usaha Rakyat (KUR).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Profile Jawa timur: The Great of East Java, Surabaya: Agustus 2010, Hlm. 133-141.

Sunan Ampel

-1994-1995-
Riwayat Hidup Sunan Ampel
Sunan Ampel adalah seorang Mubaligh yang muncul hampir bersamaan dengan Maulana Malik Ibrahim, jadi boleh dikatakan sebagai Wali yang seangkatan dengan Maulana Malik Ibrahim. Sunan Ampel ini membangun pondok pesantren di Ampel Denta, dekat kota Surabaya dan berdakwah di daerah sekitarnya. Nama mudanya ialah Raden Rakhmat, dan nama lengkapnya ialah Ali Rakhmatuliah. Riwayatnya yang pasti tidak diketahui tetapi konon beliau dilahirkan di negeri Campa pada sekitar tahun 1401 M kemudian mengembara untuk menemui saudara sepupunya bemama Aria Damar yang bermukim di Palembang. Aria Damar kemudian juga masuk Islam dan berganti nama menjadi Aria Abdillah. Mengenai nama Campa, bisa berada di wilayah Kamboja (menurut pengertian Encyclopaedia van Nederlandsch Indie) dan menurut Raffles bisa pula sebagai nama tempat di Aceh yaitu Jeumpa. Konon Sunan Ampel adalah anak dari Ibrahim Asmarakandi yang menjadi raja di Campa dan wafat tahun 1425 tetapi dimakamkan di Tuban, Jawa Timur.

Sunan Ampel kawin dengan wanita Tuban bernama Nyai Ageng Manila, perkawinannya menghasilkan 4 orang putera puteri yaitu :
1). (Puteri) Nyai Ageng Maloka
2). Maulana Makdum Ibrahim (Sunan Bonang)
3). Syarifuddin (Sunan Drajat)
4). (Puteri),  sebagai isteri Sunan Kalijogo

Di Jawa Sunan Ampel  bermukim di daerah Surabaya, beliau hidup sederhana dan berdakwah dengan nafas “Jawa” walaupun dakwahnya menggunakan bahasa Arab. Dakwah pokoknya ialah memberikan penjelasan mengenai makna dan tafsir dari istilah bismillah, alhamdulillah, astaghfirullah dan syahadatain. Murid-muridnya sangat banyak dan nantinya akan meneruskan perjuangan Sunan Ampel di sektor keagamaan. Di antara muridnya yang terkenal ialah Raden Paku yang kemudian digelari sebagai Sunan Giri, Raden Patah yang kemudian menjadi sultan pertama di kerajaan Islam di Glagah Wangi (kemudian bemama Bintoro Demak) dan diberi gelar Sultan Alam Akbar Al Fatah, Raden Makdum Ibrahim (putera Sunan Ampel) yang kemudian digelari orang sebagai Sunan Bonang, Syarifuddin (puteranya sendiri) yang kemudian diberi gelar Sunan Drajat, Maulana Ishak yang pernah diutus ke Blambangan untuk meng-Islamkan masyarakat disana.

Sunan Ampel  menjadi pejuang sejati yang meneruskan cita-cita Maulana Malik Ibrahim. Penobatan Raden Patah menjadi sultan di Demak adalah usaha Sunan Ampel dalam rangka peng-Islaman. Juga pendirian Masjid Agung Demak dibantu oleh Sunan Ampel pada sekitar tahun 1351 Saka atau 1429 M.

Ketika Sunan Ampel wafat, kematiannya sangat menyedihkan bagi umatnya dan ditangisi sepanjang upacara pemakaman. Pemakaman Sunan Ampel itu dihadiri oleh para wali lainnya seperti Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijaga, dan Sunan Muria. Beliau dimakamkan di sebelah kanan masjid Ampel Denta. Tanggal wafatnya kurang jelas. Menurut Serat Kanda, wafatnya dinyatakan dengan candrasangkala: “awak kalih guna iku” yang nilainya 1328 (dibaca dari belakang),  jadi pada tahun 1328 Saka atau 1406 M (lihat Brandes; Pararaton, dalam VBG XLVII, 1896:199). Menurut pendapat Sidi Gazalba, Sunan Ampel wafat pada tahun 1481 M (lihat Gazalba : Masjid, 1982 : 256, Jakarta : Pustaka Antara)

Bangunan Makam
Lokasi makam Sunan Ampel terletak di dalam kompleks Masjid Jami Ampel di Surabaya. Di depan kompleks makam ada pintu gerbang besar bergaya Eropa. Makamnya terpisah dari makam lainnya dan diberi pagar teralis dari besi setinggi 110 cm. Di arah kaki (bagian selatan) ada pintu yang dapat dibuka dan ditutup yang dilengkapi dengan kunci gembok. Jiratnya dibuat bersusun 4 tingkat dan nisannya bagian atas berbentuk seperti daun teratai. Pada sisi jirat bagian selatan dituliskan keterangan tentang diri Sunan Ampel dalam aksara latin.

Makam ini dilindungi oleh tembok keliling tebalnya dan kuat tetapi tanpa atap, jadi selalu kepanasan di siang hari dan kehujanan bila musimnya tiba. Mungkin hal ini merupakan amanat dari Sunan Ampel kepada murid-muridnya untuk membuatkan makam tanpa atap pelindung. Seluruhnya ada tujuh kelompok makam yang semuanya berada di belakang masjid Ampel yang keterangannya demikian:
1). kelompok makam Sunan Ampel, punya pintu gerbang sendiri, terletak di barat-laut masjid,
2). kelompok makam mBah Sonhaji dan para syuhada 1974 (korban kecelakaan pesawat jamaah haji),
3). kelompok makam lama yang tak dikenal,
4). ruang juru kunci,
5). kelompok makam para Bupati dan Angkatan 45,
6). kelompok makam mBah Saleh,
7). kelompok makam mBah Abdurrahman.

Hiasan Makam
Makam Sunan Ampel tergolong sederhana. Bentuk nisannya seperti daun teratai, lainnya biasa saja. Hiasannya terpusat pada gapura dan masjidnya. Hiasan di atas gapura berupa motif bunga dan suluran. Pada dinding gapura sisi dalam ada hiasan medali dan bintang segi delapan. Pada masjid Sunan Ampel, mimbarnya dihiasi motif garuda; plengkung mimbar dihiasi medalion dan daun-daunan serta matahari Majapahit.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Makam-makam Wali Sanga di jawa,  Departemen pendidikan  Dan Kebudayaan, Oleh: Dr. Machi Suhadi/dra. Ny. Halina Hambali,  1994-1995, hlm.44-46, 

Soto Lamongan Rajanya Soto

-2007-
Memasuki Kabupaten Lamongan dari arah timur tepatnya melalui Jalan Raya Surabaya-Jakarta anda akan disambut oleh lengkungan gerbang yang melintang dengan tulisan Lamongan Kota Soto. Tulisan yang bertengger di gerbang ini mewakili suara masyarakat Lamongan yang ingin memberitahukan pada setiap pengunjung bahwa Lamongan mempunyai soto yang sedap dan segar, khas dengan taburan poya. Sebuah awal wisata yang menarik hingga membuat penasaran untuk mencicipinya dan membuktikan label Lamongan itu.

Soto Lamongan berbeda dengan soto yang lain. S0to ini satu-satunya soto yang menggunakan poya, sebuah kelengkapan soto yang menjadi pencirinya. Makanan berkuah yang termasuk kategori soto ayam ini menggunakan daging ayam kampung yang terlebih dulu dimasak dengan bumbu. Kuah soto Lamongan pada mulanya termasuk kuah bening, namun pada perkembangannya ada percampuran dengan kuah Soto Surabaya yang ditambahkan bandeng sebagai bumbu kuah sehingga kuah menjadi keruh. Soto Lamongan memang khas, rasanya segar dan enak sehingga hampir di seluruh kota di Jawa dijual soto Lamongan. Jadi tepatlah jika rajanya soto adalah soto Lamongan.

Asal-usul penggunaan poya tidak diketahui secara pasti, namun poya dibuat dari kerupuk udang, udang, dan bawang yang semua digoreng terlebih dulu kemudian dihaluskan. Cara menghaluskan bahan ini adalah dengan ditumbuk secara manual dan tidak  boleh digiling karena akan menciptakan cita rasa yang berbeda.

Sajian soto Lamongan dari atas tampak taburan poya yang sedikit merah kecoklatan. Mencoba mencicipi poya sendiri terasa sangat gurih dengan aroma udang dan bawang yang khas. Biasanya orang menggunakan poya satu sendok saja untuk setiap mangkuk soto, namun adapula yang menambahkan dalam jumlah yang cukup banyak hingga kuah menjadi kental dan gurih.

Soto Lamongan dilengkapi dengan telur (telur rebus atau uretan-telur). Kuahnya yang berwarna agak kuning dipadukan dengan hijaunya seledri dan daun bawang (bawang pre) membuat kombinasi warna yang menarik. Mie soon tampak berada paling bawah dalam mangkuk dan telah menjadi empuk oleh panasnya kuah. Sepiring nasi putih menyertai soto Lamongan untuk sebuah porsi soto nasi pisah. Sedangkan untuk nasi soto (campur), nasi akan ditata pada posisi dibawah baru bahan yang lainnya di atasnya. Bahan penyedap yang lain seperti jeruk nipis ditambahkan untuk memberikan rasa asam. Saat akan menyantapnya, campur terlebih dulu agar poya, air jeruk, dan sambal menyatu dalam kuah.

Gurih, segar sedikit masam, dan pedas dengan aroma khas soto yang menawan inilah komentar pertama ketika mulai menikmati soto Lamongan. Bumbu kuah inilah kuncinya hingga soto terasa lezat dan lebih lengkap dari soto lainnya karena terbuat dari bumbu yang terdiri dari bumbu ketumbar, jinten, sere, bawang merah, bawang putih, jahe, lengkuas, mrica, garam, dan kemiri, dengan pelengkap bawang goreng. Rasa pedas diperoleh dari jahe dan lada yang berada dalam bumbu serta sambal yang ditambahkan ketika akan menyantapnya. Dengan perasan jeruk nipis yang membuat soto terasa sedikit asam justru membuat lebih menyegarkan, berinteraksi dengan minyak-minyak yang terlihat menyendiri di kuah sehingga menimbulkan rasa perpaduan gurihnya minyak dan segarnya jeruk. Daging ayam terasa empuk dan gurih karena sebelumnya telah direbus dalam bumbu kunyit, jinten, jahe, bawang merah dan daun jeruk. Kelezatan soto Lamongan ini akan membuat anda setuju dengan sebutan “Soto Lamongan Rajanya Soto”.

Santapan segar Soto Lamongan ini mempunyai gizi yang cukup lengkap karena terbuat dari bahan-bahan yang mengandung zat gizi yang bermacam-macam. Karbohidrat dapat anda peroleh dari nasi dan mie soon. Protein, lemak, vitamin dan beberapa mineral ada dalam daging ayam dan bandeng. Sayur-sayuran hijau juga mengandung vitamin dan mineral yang penting. Apalagi untuk soto Lamongan yang lengkap dengan uretan telur dan hati ayam. Jadi kenapa anda masih ragu untuk menjadikan soto Lamongan dalam menu makan anda??

Tempat makan yang menjual soto Lamongan ini umumnya buka ketika waktu makan pagi datang yaitu pkl. 06.00 hingga makan malam selesai pkl. 20.00 – 23.00 karena memang soto ini cocok dalam segala cuaca dan kesempatan. Sedangkan warung tenda di Alun-Alun  yang banyak menjajakan menu ikan dan daging juga terdapat beberapa yang menyajikan menu soto melayani penikmat sambil merasakan irama suasana malam kota Lamongan.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Makanan Khas Nusantara  Kabupaten : Lamongan,  Dinas Perhubungan Dan Pariwisata Kab. Lamongan, Pusat Kajian Makanan Tradisional Univ. Gadjah Mada Yogyakarta,  2007, hlm.16-17, Deposit : CB/D13 : 2007-108.

Wingko Babat Si Bulat Pipih yang Manis Gurih

-2007-
Sepanjang Jalan Raya Lamongan dapat ditemui toko–toko yang menjajakan oleh-oleh makanan khas Lamongan, WINGKO, sebuah kudapan bentuk bulat pipih, dengan aroma harum, memadukan rasa manis gula dan gurihnya kelapa. Harumnya wingko akan semakin terasa saat memasuki bagian barat Lamongan, tempat lahirnya wingko, Kecamatan Babat. Wingko merupakan makanan khas dan asli dari Babat Kabupaten Lamongan. Nama babat diambil dari nama Kecamatan Babat tempat pertama kali wingko dibuat hingga tepatlah jika namanya adalah wingko babat. Meski ada daerah lain yang terkenal dengan produksi wingko babat, namun nama wingko Babat tetap melekat.

Sebuah perusahaan wingko tertua dan terbesar di Kecamatan Babat telah berproduksi sejak puluhan tahun yang lalu, tepatnya berada di jalan Raya Babat. Selain di Kecamatan Babat, di Kota Kabupaten Lamongan juga terdapat cukup banyak usaha pembuatan wingko yang tak kalah enaknya. Anda dapat membeli secara langsung di tempat usaha pembuatan wingko tersebut atau dapat juga membeli di outlet khusus wingko dan toko oleh-oleh yang berada di beberapa tempat di jalan raya Babat dan dalam Kota Lamongan. Di tempat wisata seperti Wisata Bahari Lamongan dan tempat wisata yang lain, baik berupa toko oleh-oleh maupun hanya pedagang kakilima juga banyak yang menawarkan wingko untuk wisatawan. Jika tak sempat pun, maka di terminal atau dalam kereta dan bus yang anda tumpangi banyak yang menjajakan wingko yang dapat anda beli untuk oleh-oleh.

Wingko dapat dibuat dengan alat dan bahan yang sederhana dan mudah diperoleh. Wingko dibuat dari kelapa muda parut, tepung ketan, dan gula pasir yang seluruhnya merupakan bahan pangan lokal. Kuncinya kelapa yang digunakan haruslah masih muda dan adonan harus terbentuk dengan tepat, tak lengket di tangan (kalis). Pada proses pemasakannya, untuk ukuran besar berdiameter 25 cm dengan tebal 5 cm memerlukan waktu 2 hingga 5 jam di atas panggang api kompor minyak. Sedangkan untuk wingko ukuran sedang berdiameter 25 cm dengan tebal 3 cm diperlukan waktu tak kurang dari satu jam. Selain ukuran tersebut, pembeli dapat memesan dengan ukuran lain misalnya ukuran kecil yang berdiameter 15 cm dengan tebal 4 cm, atau bahkan dengan ukuran sampai dengan 7 cm dengan tebal 2 cm  dengan waktu pemasakan berkisar 1 jam. Pembuatan wingko yang cukup lama ini menyebabkan wingko mempunyai daya simpan yang cukup lama pula, yaitu antara 4 sampai dengan 7 hari pada suhu kamar.

Pada mulanya wingko babat ini dibuat dengan rasa alami kelapa dan gula saja, kini wingko babat dapat diperoleh dalam rasa lain seperti nangka, coklat, dan vanilla, memberikan pilihan rasa bagi penikmatnya. Aromanya yang harum khas kelapa dengan rasa manis dan gurih memang memberikan nuansa eksotik yang  berbeda melengkapi makanan khas Jawa Timur yang asin pedas. Wingko sebagai makanan tradisional khas Lamongan juga difungsikan sebagai buah tangan lamaran dan dondang, sebuah istilah hantaran saat nikah berlangsung. Barangkali bulatnya wingko merupakan simbol bagi tekad sang jejaka meminang anak dara pujaannya, nah tekad telah bulat! Bulat juga menjadi simbol tiada ujung dan akhir maka saat nikah diharapkan pasangan hidup bersama sampai akhir zaman. Semoga..

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Makanan Khas Nusantara  Kabupaten : Lamongan,  Dinas Perhubungan Dan Pariwisata Kab. Lamongan, Pusat Kajian Makanan Tradisional Univ. Gadjah Mada Yogyakarta,  2007, hlm.23-24, Deposit : CB/D13 : 2007.