Masjid Cheng Hoo, Surabaya (1)

-2011-
Pada abad ke 15 pada masa Dinasti Ming (1368-1643) orang-orang Tionghoa dari Yunnan datang untuk menyebarkan agama Islam di pulau Jawa,  keturunan dari orang-orang Tionghoa yang muslim tersebut di Surabya mendirikan tempat ibadahnya, Masjid Muhammad Cheng Hoo merupakan masjid yang memiliki sejarah yang sangat menarik, tampak dari arsitektur bangunannya yang dibuat dengan gaya khas Tiongkok.

Masjid Muhammad Cheng Hoo yang beralamat di Jalan Gading No. 2, Kelurahan Ketabang, Kecamatan Genteng, Surabaya (60272) (BelakangTaman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa) Tel. (031) 5342112, 5342224, dibangun atas gagasan H. M. Y. Bambang Sujanto dengan Pembina Imam Tauhid Islam (PITI). Pembangunannya dimulai tanggal 15 Oktober 2001 bertepatan dengan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Pada tanggal 13 Oktober 2002 proses pembangunan selesai dan masjid sudah dapat digunakan untuk beribadah. Masjid diresmikan oleh Menteri Agama RepublikIndonesia(Bapak Prof. Dr. Said Agil Husain Al-Munawar, MA.) pada tanggal 28 Mei 2003.

Masjid Muhammad Cheng Hoo sengaja dibangun kecil dengan memiliki banyak makna, kecilnya bangunan karena muslim Tionghoa tidak banyak dan halaman yang luas dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan, Masjid Muhammad Cheng Hoo ini mampu menampung sekitar 200 jama’ah berdiri di atas tanah seluas 21 x 11 meter persegi dengan luas bangunan utama 11 x 9 meter persegi atapnya segi delapan, Ketiga ukuran atau angka itu ada maksudnya. Maknanya adalah angka 11 untuk ukuran Ka’bah saat baru dibangun, angka 9 melambangkan Wali Sanga dan angka 8 melambangkan Pat Kwa (keberuntungan/kejayaan dalam bahasa Tionghoa) juga sejarah Nabi Muhammad dengan seijin Allah bersembunyi di sebuah gua yang ditutupi sarang laba-laba segi delapan.

Pengunjung luar negeri maupun dalam negeri yang datang ke Masjid Cheng Hoo, setelah  berfotoria di sekeliling komplek masjid mereka lantas memburu berbagai pernak-pernik asesoris bergambar Masjid Cheng Hoo, Pengurus Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia memang menyediakan berbagai barang kenang-kenangan khas Cheng Hoo selain peci khas Masjid Cheng Hoo yang terkenal unik, juga menyediakan berbagai asesoris seperti piring, mug, notes, jam, kaos, stiker, hiasan mobil, peralatan sholat, jilbab, jepit, gelang, dan masih banyak lagi yang lainnya, Aneka souvenir yang dijual di toko Masjid Cheng Hoo tersebut harganya cukup terjangkau variasi harganya berkisar mulai dari seribu rupiah hingga 50 ribu rupiah untuk piring Cheng Hoo kami beri harga 30 ribu rupiah, mug seharga 20 ribu rupiah, jam 23 ribu rupiah.

Catatan: Sujarwo, Putakawan Jawa Timur, 2011
Bahan bacaan: koleksi Deposit Badan Perpuatakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur.

Sodoran

-2011-
Tarian Sodoran salah satu dari ragam tarian khas masyarakat tengger ini merupakan sebuah tari klasik tradisional dan religius, sodoran bentuk tari mempunyai kandungan nilai luhur, filosofis yang dalam serta simbolis.

Karena bersifat klasik dan religius, maka tarian ini hanya bisa   disaksikan saat hari raya Karo atau disebut juga Pujan Karo adalah suatu perayaan terbesar yang dilakukan setahun sekali, tepat bulan Karo tahun Saka, Tari yang merupakan salah satu rangkaian kegiatan ritual dalam perayaan Karo ini merupakan tarian sakral khas masyarakat Tengger yang melambangkan asal-usul manusia.

Menurut kepercayaan wong Tengger manusia itu berasal dari Sang Hyang Widi Wasa dan mereka akan kembali kepada-Nya, Manusia berasal dari tanah maka mereka akan kembali ke tanah juga, Bila kita menyimak dari uraian di atas maka dapat dikatakan bahwa fungsi dari tari Sodoran sebagai kepentingan ritual adat-istiadat, sehingga gerakan-gerakannya banyak rnengandung gerakan bermakna, gerakan yang mengandung arti.
Seni tari Sodoran khas masyarakat Tengger ini mengandung nilai religius, tarian yang bersifat sakral ini mengandung makna tertentu, Salah satu contoh makna gerakan tari ini adalah ketika para penari mengangkat jari telunjuk, artinya penunjukkan tersebut mengandung makna simbol terjadinya manusia pertama, bahwa manusia itu berasal dari purusa dan pradana. Purusa dan pradana merupakan sebab pertama (cikal bakal) dari alam semesta yang sifatnya kekal abadi. =Who=

Catatan: Sujarwo, Putakawan Jawa Timur, 2011.
Bahan bacaan: koleksi Deposit Badan Perpuatakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur.

Hotel Mojopahit (2)

Berdasarkan sumber sejarah diketahui bahwa hotel yang sekarang bemama Hotel Majapahit didirikan oleh keluarga Sarkies pada tanggal 1 Juni 1910, Sumber sejarah berupa prasasti bertuliskan bahasa Belanda berbunyi: “de eerste steen van dit gebouw werd door  Eugene Lucas Sarkies gelegd op den len juni 1910”. Dari prasasti ini dapat diketahui bahwa pemilik pertama hotel ini adalah Lucas Martin Sarkies. Hotel ini kemudian dikenal dengan nama Hotel LMS, yang merupakan kependekan dari Hotel Lucas Martin Sarkies. Supaya lebih popular dan untuk mengenang pahlawan Belanda, Willem van Oranje, nama hotel ini diganti dengan Hotel Oranje. Sejak masa kependudukan Jepang, Hotel Oranje diambil-alih oleh Jepang dan namanya kembali diganti menjadi Hotel Yamato. Sejak zaman kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada tahun 1969, nama hotel Yamato berganti lagi menjadi Hotel Majapahit sesuai dengan nama PT yang mengelolanya. Hotel Oranje atau Hotel Majapahit terletak di jalan Tunjungan, di kelurahan Genteng, Kecamatan Genteng, Kotamadya Surabaya. Dewasa ini, jalan Tunjungan merupakan salah satu pusat pertokoan yang ramai karena letaknya strategis, di pusat kota Surabaya. Hotel Oranje menghadap ke barat, memangku jalan Tunjungan dan menghadap segi tiga emas Surabaya. Posisi strategis ini tidak berubah sejak hotel itu didirikan sampai kini. Walaupun Hotel Oranje saat ini sudah berumur 86 tahun, namun wujud bangunannya belum banyak berubah. Perubahan-perubahan kecil memang terjadi sesuai dengan kebutuhan pada saat tertentu. Hotel Oranje dibangun dengan denah berbentuk huruf U. Bangunannya berlantai dua dan arsitekturnya amat sesuai dengan alam tropis, banyak jendela dan lorong yang digunakan sebagai serambi. Kombinasi antara jendela-jendela lengkung dan lorong-lorong menambah keindahan dan kesegaran hawa di hotel itu. Kamar-kamarnya sangat luas, apalagi bila dibandingkan dengan kamar-kamar hotel zaman sekarang. Di halaman tengah, di antara dua bangunan hotel yang membujur dari barat ke timur, didirikan sebuah bangunan sebagai tempat pertemuan dan lobi. Bangunan terakhir ini juga menibujur dari barat ke timur, tetapi tidak sepanjang bangunan yang mengelilinginya. Ruangan antara bangunan tengah dan bangunan di kiri-kanannya cukup luas untuk sebuah taman yang menambah kesegaran, keindahan dan keanggunan keseluruhan kompleks hotel. Di sudut barat daya dan barat laut terdapat menara yang indah dan anggun. Arsitektur bangunan tengah dan menaranya sangat bagus. Ruang pertemuan dan lobi pun sangat indah dan serasi sampai ke detilnya. Di depan bangunan-bangunan tengah itu terbentang halaman yang cukup luas, ditanami beberapa palem raja, menambah keanggunan hotel itu. Peta menunjukkan bahwa hotel Oranje merupakan hotel yang indah, megah dan anggun. Sulit dicari tandingannya. Suasananya segar, lepas dan tidak sesak. Bangunan asli ini bertahan sampai tahun 1935. Pada tahun 1936 mulai dilakukan perubahan karena diperlukan ruang tunggu, ruang informasi dan ruang pelayanan. Untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu didirikan sebuah bangunan di halaman tengah, di depan bangunan tengah yang sudah ada dengan jarak kurang lebih 10 m. Bangunan baru ini lebih masuk ke belakang bila dibandingkan dengan kedua bangunan lama di kiri dan kanannya. Bangunan baru dan bangunan lama di kiri-kanannya dipisahkan oleh sebuah lorong yang berfungsi sebagai penghubung. Arsitektur bangunan baru ini disesuaikan dengan arsitektur lama. Bangunan baru itu memiliki sebuah kanopi yang sangat bermanfaat bagi tamu-tamu yang kehujanan. Perubahan lain yang dilakukan adalah pembongkaran kedua buah menara di sudut barat daya dan barat laut bangunan tengah yang lama. Menara-menara ini pada mulanya memperindah kompleks Hotel Oranje, akan tetapi tampaknya bangunan-bangunan itu dibongkar untuk memperluas halaman antara bangunan tengah yang lama dengan bangunan tengah yang baru. Bangunan baru itu membuat halaman luas yang mendukung kelegaan kompleks hotel menjadi tampak sempit. Sekarang jarak bangunan baru dengan trotoar tidak lebih dari 10 m. Untunglah bangunan yang didirikan pada tahun 1936 itu tidak sepenuhnya menutupi kemegahan dan keanggunan hotel bila dilihat dari depan atau bila dilihat dari jalan Tunjungan, Dari depan ke belakang masih terdapat lorong yang luasnya kurang-lebih 6 – 8 m sehingga keanggunan dan keagungan hotel ini masih dapat dinikmati. Kondisi seperti ini hanya bertahan sampai berakhirnya kekuasaan Belanda di Indonesia, khususnya di Surabaya. Pada tahun 1942, kekuasaan atas Indonesia diambil-alih oleh pemerintah Jepang dan mereka mengambil-alih pula Hotel Oranje. Mereka mengubahnya menjadi salah satu markas mereka. Untuk menjaga keamanan dan kerahasiaan karena perubahan fungsi dari hotel menjadi markas militer, diadakan perubahan-perubahan pula. Lorong yang memisahkan bangunan tengah. dan bangunan sebelah kiri dan kanannya ditutup, namun dlbuatkan sebuah pintu sebagai penghubung antara halaman paling depan dengan halaman yang terdapat di belakang tembok penyekat. Kesan serasi semakin meningkat karena sekarang kamar-kamar hotel dan ruang pertemuan tidak terlihat oleh orang yang lewat di jalan Tunjungan. Bangunan penghubung baru ini merupakan bangunan semi-permanen dan bertahan sampai Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Setelah kemerdekaan Indonesia, Hotel Oranje perlahan-lahan kembali ke fungsinya semula. Sejak didirikan pada tanggal 1 Juni 1910 sampai sekarang, kondisi bangunan Hotel Oranje dan namanya selalu menunjukkan perkembangan. Bangunannya dapat dikatakan masih asli karena kalau pun ada perubahan, perubahan itu tidak banyak sehingga bentuk aslinya masih dominan. Nama gedung ini selalu berubah sesuai dengan situasi yang berkembang dan terpengaruh oleh orang yang berkuasa pada saat itu di Surabaya. Ada satu hal menarik dalam pemberian nama hotel ini. Nama-nama yang diberikan selalu berkaitan dengan hal-hal yang bersifat heroik. Belanda memberikan nama pahlawan yang menjadi kebanggaan mereka, Willem van Oranje. Bagi orang Belanda, nama Willem van Oranje telah terpatri di hati sanubari mereka sebagai seorang pahlawan besar. Jepang pun tidak mau kalah. Nama hotel yang berbau Belanda itu diganti setelah Jepang berhasil menanamkan kekuasaan di Indonesia dengan nama Hotel Yamato. Nama ini dimaksudkan untuk mengenang dan mengagungkan salah seorang panglima perang mereka. Nama Majapahit yang diberikan kepada hotel ini setelah Indonesia merdeka mengingatkan kita pada keagungan dan kebesaran suatu kerajaan di Jawa Timur yang pernah menyatukan bumi nusantara di bawah kekuasaannya. Belanda maupun orang lain tidak pernah menduga bahwa hotel ini akan menjadi: saksi sejarah peristiwa yang sangat menentukan kehidupan bangsa Indonesia. Hotel Oranje merupakan bangunan yang menonjol di zamannya. Di samping bangunannya yang berciri khas arsitektur Eropa, letaknya juga sangat strategis. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bila pemerintah Belanda maupun Jepang menaruh perhatian khusus pada bangunan ini. Di zaman Jepang, hotel ini menjadi markas militer Jepang di Surabaya. Fungsinya sebagai markas militer tidak berubah setelah pasukan NICA dan tentara Sekutu berhasil melucuti pasukan Jepang. Kekunoan Hotel Oranje dengan gaya arsitekturnya yang khas membuatnya nampak menonjol di antara bangunan lain di sekitamya. Kekhasan gaya arsitektur hotel ini memiliki dayatarik tersendiri bagi para wisatawan, mancanegara maupun domestik. Keberadaan hotel ini mempunyai arti spesial bagi para wisatawan yang ingin mengenang peristiwa heroik di kota Surabaya, yang terjadi antara tanggal 19 September 1945 dan serangan brutal pasukan Sekutu pada tanggal 10 Nopember 1945. Prakarsa untuk memberi arti khusus kepada hotel ini pernah dirintis oleh Komandan Korem 084 Baskara Jaya pada tahun 1970. Ia mendirikan sebuah patung seorang pejuang bersenjata bambu runcing dengan bendera merah-putih di ujungnya. Patung pejuang yang didirikan di halaman hotel seakan menyatakan kepada generasi penerus bahwa walaupun hanya bersenjatakan bambu runcing, dengan semangat “rame ing gawe, sepi ing pamrih”  dilandasi tekad “rawe-rawe rantas, malang-malang puntung” kaum penjajah berhasil diusir dari bumi nusantara tercinta. Sejarah singkat insiden bendera tertulis di bawah patung itu: Pada tanggal 19 September 1945 … Ketika melihat bendera merah putih biru berkibar kembali di Hotel Oranje (Yamato Hotel), kemarahan rakjat dan pemuda-pemuda di Surabaya tidak tertahan lagi. Dengan serentak Rakjat bergerak, Suasana menjadi panas, djalan Tundjungan menjadi lautan manusia yang bergelora … Terdjadilah .. Insiden bendera fadjar permulaan meletusnya api revolusi karena Rakjat hanya menghendaki supaja Sang Dwiwarna yang berkibar di angkasa Indonesia, sedang si Tiga Warna harus turun . .. Kemudian … Berkibar Sang Dwiwarna hingga detik sekarang dan untuk seterusnya sebagai lambang kemegahan dan kedjajaan nusa dan bangsa Indonesia. Rangkaian tulisan ini memberi gambaran jelas mengenai terjadinya insiden bendera di Hotel Oranje, perasaan masyarakat kota Surabaya, sikap mereka serta apa yang mendorong tindakan mereka. Keberadaan patung pejuang di halaman holel sebetulnya membantu masyarakat memahami arti dan makna perjuangan serta nilai-nilai yang layak diteladani generasi muda, keteguhan sikap untuk membela nusa dan bangsa walaupun harus mengorbankan nyawa. Sayang sekali, setelah Hotel Oranje direnovasi, patung itu hingga kini belum dipasang lagi, mungkin tidak lagi untuk selamanya. Setelah selesai di renovasi, Hotel Oranje akan menjadi hotel berbintang lima dengan nama Hotel Majapahit. Memang hotel itu tidak menjulang tinggi ke angkasa seperti hotel berbintang lima lainnya, namun ia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki holel lain, yaitu perannya saal bangsa Indonesia berjuang mempertahankan kemerdekaan. Letak yang strategis, kokohnya dan keanggunan bangunan dapat ditiru, tetapi peranan sejarahnnya tidak mungkin. Sebagai saksi sejarah, Hotel Majapahit tidak terlepas dari peristiwa sejarah yang sangat menentukan bagi bangsa Indonesia. Oleh karena itulah, Hotel Majapahit perlu dilestarikan sebagai monumen bersejarah. Mempertahankan bentuk fisik Hotel Majapahit sama halnya dengan melestarikan kenangan sejarah berkenaan dengan titel kota Surabaya sebagai Kota Pahlawan dan peristiwa-peristiwa yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  AFT. Eko Susanto. Hotel Majapahit, Perjuangan Arek-arek Surabaya Pada Tahun 1945. Jakarta, Proyek Pengembangan Media Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Depdikbud, 1996/1997

Museum Daerah Tulungagung

-2002-
Penulisan benda berharga ini ditujukan untuk memperkenalkan kepada masyarakat sebagian dari koleksi yang terdapat di Museum Daerah Tulungagung. Catatan ini diharapkan dapat menyebarluaskan informasi tentang keberadaan Museum dan Koleksi Museum Daerah Tulungagung kepada khalayak ramai, terutama pengunjung Museum Daerah. Yang pada akhirnya informasi tersebut akan berkembang sehingga menimbulkan rasa kebanggaan masyarakat terhadap warisan budaya serta menimbulkan minat untuk ikut berperan serta dalam upaya pelestarian nilai-nilai luhur budaya bangsa.
Dari informasi ini diharapkan pula agar masyarakat luas akan mengenal dan akhirnya akan akan memanfaatkan keberadaan Museum sebagai salah satu pusat Ilmu Pengetahuan, pusat penelitian dan sebagai obyek tujuan Wisata Budaya. Museum Daerah Tulungagung merupakan Museum Umum dimana koleksinya terdiri dari kumpulan dan bukti material manusia dan lingkungannya yang berkaitan dengan berbagai cabang seni, disiplin ilmu dan teknologi.

Dari berbagai jenis benda warisan budaya yang menjadi koleksi Museum Tulungagung, masih di dominasi dengan Koleksi Arkeologi yang banyak ditemukan di wilayah Kabupaten Tulungagung, yang semula koleksi Museum tersebut disimpan di ruangan Pendopo Kabupaten Tulungagung.

Gagasan didirikannya Museum Daerah ini dimaksudkan selain sebagai wadah/tempat penyelamatan warisan budaya diharapkan juga dijadikan tempat tujuan studi, rekreasi, baik pelajar mahasiswa maupun masyarakat luas. Museum Daerah Tulungagung dibangun pada akhir tahun 1996, berlokasi di Jalan Raya Boyolangu, Km. 4, Komplek SPP/SPMA Tulungagung.

Bangunan Museum Daerah berukuran 8 x 15 m, dengan luas lahan 4.845 m², letaknya sangat strategis karena berada di wilayah Kec. Boyolangu yang sangat sarat/potensi dengan Benda Cagar Budaya yang tidak bergerak dan merupakan jalur utama menuju ke Obyek Wisata Pantai Popoh, Pantai Sine dan Kerajinan Marmer.

KOLEKSI MUSEUM DAERAH TULUNGAGUNG
1.   Patung DURGA (batu Andesit) 1 buah
2.   Patung AGASTYA (batu Andesit) 2 buah
3.   Patung JALADWARA (batu Andesit) 1 buah
4.   Patung WISNU (batu Andesit) 2 buah
5.   Patung LlNGGA SEMU (batu Andesit) 1 buah
6.   Patung DWARAPALA (batu Andesit) 17 buah
7.   Patung KEPALA IKAN (batu Andesit) 2 buah
8.   Patung NANDI (batu Andesit) 1 buah
9.   Patung KALA (batu Andesit) 2 buah
10. Patung BUDHA (batu Andesit) 2 buah
11. Patung ASMA (batu Andesit) 1 buah
12. Patung SELUBUNG TIANG (batu Andesit) 1 buah
13. Patung YONI (batu Andesit) 3 buah
14. Patung NARASHIMA (batu Andesit) 1 buah
15. PRASASTI (batu Andesit) 9 buah
16. ARCA (batu Andesit) 1 buah
17. Patung SKANDHA (batu Andesit) 1 buah
18. Patung SIWA MAHAKALA (batu Andesit) 1 buah
19. Patung PARWATI (batu Andesit) 1 buah
20. AMBANG PINTU (batu Andesit) 1 buah
21. Patung GANESHA (batu Andesit) 4 buah
22. BATUCANDI (batu Andesit) 44 buah
23. KERIS (Tilam Upih & Tilam Sari) 2 buah
24. Foto Peninggalan Sejarah berupa Candidan Goa di Kab. Tulungagung

BUDDHA AKSOBHYA
Merupakan Koleksi yang terbuat dari bahan Batu Andesit, ukuran Panjang 83 cm, ukuran lebar 72 cm, ukuran tinggi 146 cm, keadaan baik, pahatan halus. Bentuk gambaran Arca duduk Yogasana di atas Padmasanaganda, di belakang kepala sisi kiri ada prabha. Rambut keriting, telinga panjang, tangan kanan hilang, tangan kiri dalam posisi Dhyanamudra. Memakai upawita, lipatan-lipatan dan tepian kain tampak, asana sisi kiri hilang. Pada sisi samping asana samar-samar, ada prasasti dua baris melingkari asana.

AGASTYA
Area berdiri samabanga di atas asana. Di belakang terdapat stela, arca berperut buncit, bertangan empat, tangan belakang memegang Trisula (kanan) dan sesuatu yang tidak jelas (kiri). Tangan depan memegang pundi-pundi (kiri) dan menggenggam (kanan), area berkumis panjang dan berjenggot. Memakai giwang dan kelat bahu sederhana. Bahan Batu Andesit ukuran panjang 27 cm,  ukuran lebar 16 cm dan ukuran tinggi 46 cm.

JALADWARA  
Kondisi baik, ukuran panjang 53 cm, ukuran lebar 19 cm dan ukuran tinggi 38 cm, terbuat dari batu andesit. Bagian depan berbentuk kepala naga (Makara) dengan  mulut menganga. Bagian belakang berupa bidang segi empat memanjang ke belakang dengan cekungan ditengah untuk saluran air. Bagian depan atas dihias dengan motif sulur (ukel, jawa). Diatas  terdapat lubang kecil untuk saluran air.

YONI
Keadaan baik, dengan ukuran panjang sisi 37,5 cm, ukuran tinggi 34 cm, terbuat dari batu andesit, berbentuk sederhana. Bagian tengah lebih kecil dari pada bagian atas dan bawah. Hiasan berupa garis-garis vertikal dan horizontal yang betingkat-tingkat. Terdapat cerat berukuran panjang 20 cm, ukuran lebar 13 cm, ukuran tebal 14 cm. Pada sisi atas terdapat cekungan bujur sangkar berukuran pajang sisi 14 cm, ukuran kedalaman 23 cm dan Yoni ini ukuran panjang selurnya 42, 5 cm dan  Ukuran Tinggi 46 cm.


WlSNU
Arca berdiri diatas padmasana ganda, terbuat dari  batu andesit dengan ukuran panjang 32 5 cm, ukuran lebar 23 5 cm dan ukuran tinggi 84 5 cm. Dibelakang arca terdapat stela, di belakang kepala terdapat prabha. Adabeberapa bagian yang rusak yaitu wajah, mahkota, kedua tangan depan dan atribut kanan belakang. Stela bagian atas rumpil tangan kiri belakang memegang sangka bersayap arca memakai giwang, hara (susun tiga). Kelat bahu, gelang polos (susun tiga), uncal, upawita, gelang kaki. Di kiri dan kanan arca menempel pada stela ada teratai  yang keluar dari kuncup.

DWARAPALA
Arca terbuat  dari batu Andesit dengan ukuran panjang 53 cm, lebar 53 cm, tinggi 103 cm. Rambut keriting panjang sepinggang, kaki kanan jongkok, kaki kiri di lipat kebelakang, bertumpu pada ujung jari. Kedua kaki diatas lutut kiri memegang gada yang menempel ke bahu kiri. Mata melotot mulut tertawa sehingga tampak gigi dan taringnya. Memakai giwang, upanita ular, gelang tangan, gelang kaki, perut buncit, hiasan asana berupa tengkorak samar samar tampak.

PRASASTI
Keadaan agak aus, berbentuk akolade, mempunyai ukuran panjang sisi atas 68 cm, panjang sisi bawah 57 cm, tinggi 127 cm dan lebar 19 cm. Dari sisa alur-alur yang ada, jumlah baris sisi depan 29, belakang 27, sisi kiri 24, sisi kanan aus. Dari bekas-bekas huruf  yang masih ada tipe huruf  Mojopahit berukuran 0,7 cm. Pada sisi depan atas tepat ditengah terdapat lanchana berbentuk lingkaran, didalamnya terdapat dua sayap

KALA 
Arca keadaan baik, pahatan halus, hanya bagian wajah merupakan sambungan atas beberapa bagian, Mata melotot, tinggal bagian kiri, Mulut tertawa, tampak gigi dan taring, Keadaan hidung mancung, pipi tembem, dibelakang bagian bawah ada tonjolan bidang persegi, terbuat dari batu Andesit dengan ukuran panjang 74 cm, ukuran Lebar 84 cm dan ukuran Tinggi 57 cm.

.

BHUDHA
Arca duduk bersila yogasana dengan Kedua tangan terbuka berada diatas lutut, diatasnya terdapat bunga stela berbentuk akolade, rambut bersanggul ke atas, Terbuat dari Bahan Batu Andesit dengan ukuran panjang panjang 28 cm, ukuran Lebar 19 cm sedangkan ukuran Tingginya 42 cm.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Seri mengenal : Koleksi Museum Daerah Kabuten Tulungagung. Tulungagung, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten tulungagung, 2002

Kisah gerbong maut

-2001-
Peristiwa gerbong maut ini diawali ketika pasukan Belanda telah berhasil menduduki Bondowoso. Pada tanggal 22 Pebruari 1947 pasukan-pasukan Belanda menyerang Bondowoso dan berhasil mendudukinya. Pasukan Republik mundur ke gunung-gunung dan melanjutkan perjuangan secara gerilya. Para pemuda pejuang tidak tinggal diam. Hampir setiap malam mereka melakukan serangan-serangan ke markas VDMB (Veiliqheids Dienst Mariniers Brigade). Akibat serangan-serangan yang dilancarkan secara terus menerus itu menyebabkan persediaan peluru semakin menipis. Untuk mencari peluru maka harus turun gunung atau pergi ke kota. Oleh karena itu Pak Singgih seorang pimpinan Barisan Pemberontak Indonesia pergi ke kota dan berhasil menjalin hubungan dengan seorang anggota VDMB dan berhasil mendapatkan tambahan peluru. Meskipun kegiatan itu berlangsung secara rahasia namun Belanda berhasil mencium gelagat penyelewengan tersebut. Singgih berhasil disergap ketika sedang membagi-bagikan peluru di rumahnya. Ia tidak berhasil mengadakan perlawanan karena rumahnya telah dikepung Belanda dengan ketat. Singgih ditangkap jam 09.00 pagi tanggal 20 September 1947. Sejak hari itu Singgih dan kawan-kawan seperjuangannya mengalami siksaan berat di tahanan. Mula-mula mereka disekap dalam WC selama beberapa hari setelah itu barulah dipindahana ke penjara Bondowoso.

Selain Singgih pejuang Boeharnuddin mempunyai pengalaman yang lain bagaimana ia bisa ditangkap Belanda. Pada saat itu Boeharnuddin dengan para pejuang lainnya berusaha meninggalkan Kota Jember untuk melakukan perang gerilya di hutan-hutan. Berbulan-bulan ia melakukan penyerbuan dan menghadang tentara Belanda, maju untuk mengadakan penyergapan Belanda dan mundur setelah berhasil mengadakan penyergapan.

Boerhanuddin bukan saja tugasnya mengadakan penyerangan, tetapi juga mencari senjata dan bahan makanan lainnya untuk para pejuang. Dalam berjuang melawan Belanda di hutan-hutan, bersama-sama Boerhanuddin antara lain R. Badroessapari, Sutjipto Yudo Dihardjo, Majend. Magenda.Tepatnya tangal 23 November 1947 Boerhanuddin bersama pejuang-pejuang republik sedang beristirahat setelah melakukan tugas gerilya. Secara mendadak disergap oleh Belanda. Boeharnuddin bersama-sama sekitar 100 orang pejuang ditangkap Belanda. Para tahanan disiksa diluar peri kemanusiaan. Jam 15.00 para tawanan digiring dengan berbaris menuju stasiun Bondowoso untuk diangkut ke suatu tempat. Ternyata kereta api dari Banyuwangi tiba jam 19.00. Para tawanan dimasukkan di dalam gerbong barang tertutup dengan dibagi dalam tiga kelompok. Kelompok pertama terdiri dari 24 orang, kedua 36 orang dan kelompok ketiga sebanyak 40 orang termasuk Boeharnuddin. Dalam perjalanan yang praktis dengan udara pengap, mulailah tragedi terjadi. Banyak para tawanan yang sudah tidak tahan lagi menahan rasa hausnya, mulailah para tawanan menggendor pintu kereta tertutup untuk minta minum. Namun jawaban yang diberikan Belanda adalah “boleh minum peluru”.

Suasana dalam gerbong sudah tidak bisa dibayangkan, satu demi satu mulai berguguran. Kebanyakan yang masih selamat adalah karena minum air seninya sendiri. Memasuki stasiun Pasuruan para tawanan sudah tak kuasa berdiri, yang masih bergerak adalah mereka yang dapat memeras keringatnya untuk diminum, termasuk Boeharnuddin yang selalu memeras keringatnya untuk diminum. Menjelang stasiun Bangil, Boeharnuddin mencoba bergelimpangan mencari sesuatu. Namun hanya mayat-mayat kawannya yang bergelimpangan dalam gerbong. Antara sadar dan tidak Boeharnuddin meraba sesuatu benda yang bulat, ditimbang dan diraba ternyata rambutan. Sebuah rambutan itu dimasukkan ke dalam mulutnya untuk menahan rasa haus sampai memasuki stasiun Wonokromo. Kereta sampai di stasiun Wonokromo sekitar pukul 13.00, jadi kereta sudah berjalan sekitar 19 jam dari stasiun Bondowoso.

Memasuki stasiun Wonokromo, gerbong para tawanan dibuka ternyata, tak seorangpun yang keluar karena tak kuasa untuk berdiri. Boeharnuddin bersama Karsono dengan sisa kekuatannya merangkak keluar dan mulai berteriak-teriak kepada tentara Belanda mengatakan bahwa semua orang telah tewas. Namun Belanda tidak mempercayainya. Semua tawanan mulai disepak dikeluarkan dari gerbong yang ternyata semua tawanan sudah tidak mampu berdiri lagi. Merasa sebagai tentara, maka Boehamuddin lari mencari air tanpa memperdulian bahaya apa yang akan menimpa dirinya. Dan air didapat dari talang kereta api dan mulailah Boeharnuddin dengan sisa-sisa kekuatannya memberikan air kepada tawanan lainnya yang masih tergeletak. Dengan kekuatan seadanya maka para tawanan disuruh untuk mengumpulkan tawanan yang sudah meninggal. Tawanan yang meninggal berjumlah 46 orang sedangkan yang sekarat berjumlah 56 orang. Mayat dikumpulkan dan ditumpuk di depan stasiun Wonokromo, layak sebuah onggokan barang. Semua mayat setelah itu diangkut dengan truk militer ke rumah sakit Karang Menjangan. Para tawanan yang masih hidup mulai dikumpulkan di penjara Bubutan. Karena Boehamuddin yang semula mengaku sebagai tentara, maka bersama Karsono diserahi tugas sebagai kepala tawanan yang tugasnya memegang kunci dan melayani para tawanan.

Selama setengah bulan para tawanan menjadi penghuni penjara Bubutan. Mereka dijaga keras dan tidak diperbolehkan berkumpul dengan tawanan lainnya. Barang siapa mendekati mereka dalam jarak 10 m akan ditembak mati. Mengenai mayat-mayat korban gerbong maut tidaklah diketahui dengan pasti dimana mereka dikuburkan. Ada yang mengatakan jenazahnya dibuang ke Sungai Wonokromo ada yang mengatakan bahwa mereka dikuburkan di Sidoarjo.

Peristiwa biadab diluar peri kemanusiaan tersebut mula-mula dirahasiakan oleh algojo-algojo Belanda, akan tetapi beberapa hari kemudian Radio Australia menyiarkan tragedi itu sehingga dunia internasional mengetahui kekejaman tentara Belanda terhadap rakyat Indonesia yang secara sah telah merdeka. Hal ini membuat perubahan sedikit perilaku kekejaman mereka dengan jalan merubah cara pengangkutan tawanan dari pengangkutan tertutup menjadi pengangkutan terbuka, meskipun para tawanan tetap saja dikerangkeng dan diborgol.

Di Bubutan ke-54 tawanan disekap selama 5 bulan dan akhimya dipindahkan ke penjara Klakah sampai Belanda bertekuk lutut. Sepulang dari penjara Klakah, Boeharnuddin mulai kehilangan keseimbangan fisiknya. Makannya hanya sekedar pemberian dari saudara-saudara dan teman-temannya yang simpatik atas perjuangannya.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Dra. G.A. Ohorelle, Drs. restu Gunawan, Sejarah lokal : Peranan Rakyat Besuki (Jawa Timur)  Pada Masa Perang Kemerdekaan. Jakarta : Proyek Peningkatan Kesadaran Sejarah Nasional Direktorat Jenderal Kebudayaan departemen Pendidikan Nasional, 2001.

Monumen Gerbong Maut

-2011-
Tanggal 23 Nopember 1947 sejarah mencatat dengan tinta emas tentang perjuangan heroik rakyat Bondowoso melawan penjajah Belanda. 100 orang pejuang ditangkap dan diangkut dengan Gerbong No. GR. 10152 berisi 30 orang. Gerbong No. GR. 446 berisi 32 orang dan No. GR. 5769 berisi 38 orang dari Stasiun Kereta Api Bondowoso pada pukul 03.00 dini hari menuju Penjara Kali Sosok Surabaya, para pejuang/tahanan diangkut dengan gerbong tua  yang rapuh/keropos dalam keadaan tertutup yang mengakibatkan 46 orang dari 100 orang pejuang/tahanan gugur sebagai Kusuma Bangsa.

Kejadian tersebut dikenal dengan peristiwa Gerbong Maut, untuk mengenang pejuang yang gugur sebagai Kusuma Bangsa pemerintah daerah mengabadikan dengan membangun “MONUMEN GERBONG MAUT” yang terletak di jantung kota Bondowoso tepatnya di depan Kantor Pemerintah Kabupaten Bondowoso. Arsitektur bangunan monumen merupakan gundukan berbentuk trapesium berukuran panjang 9,5 m lebar 5,25 m dan tinggi 2,5 m. Pada bagian kanan dan kiri dinding terdapat relief yang menggambarkan pertempuran antara tentara republik melawan Belanda. Di atas gundukan trapesium terdapat patung-patung tentara Indonesia yang berjumlah 13 dan menggambarkan sikap menyerbu musuh. Diantara patung-patung tersebut ada yang membawa senjata panah, senapan, bambu runcing, pedang, dan keris. Pada komposisi letak patung para pejuang tersebut seolah-olah menggambarkan bersatunya rakyat dengan tentara republik. Selain patung-patung terdapat replika gerbong maut berwarna hitam, tanpa jendela sedikit pun. Monumen Gerbong Maut tersebut berukuran panjang 3,5 m, lebar 2,5 m, dan tinggi 3 m, untuk mengenang jasa para pejuang maka setiap tahun diadakan Napak Tilas yang dilaksanakan tiap-tiap tahun pada Hari Pahlawan.

Adapun nama-nama tawanan yang dianggap terlibat dalam gerbong maut adalah:
1.Mohammad Alwi, 2. Soewandono, 3. Soeparto, 4. Rasmin, 5. Rasimin, 6. Sidik, 7. Ismail alias P Wir, 8. Satamin alias Brotojoyo, 9. P. Sami alias Dulhakar, 10. Abdulrachman, 11. P. Tayib alias Adam, 12. Ali, 13. Parto, 14. Soewardi, 15. P. Singgih, 16. Pasik, 17. P. Tima alias Duramaan, 18. Sadang Radikin, 19. Hasan Assagaf, 20. Sahar alias S. Abdoer, 21. Endin 22. Astrodiredjo, 23. P. Arjono, 24. Misradin, 25. Abd. Maksar, 26. Arnimo, 27. Niman, 28. R. Koesmar alias Nyotoprawiro, 29. Soekawi, 30. P. Yahya alias Matra’is, 31. Tallip, 32. P. Mochdar alias Saleh, 33. Koestidjo, 34. Oewi, 35. Asmawi, 36. Pangemanan alias Longkang Hendrik, 37. Soeharto, 38. P. Kamar alias Sahri, 39. Arijadi, 40. Wiroto, 41. Moegiman alias Hadiwarsito, 42. Sajidiman, 43.Sali alias Suryopranowo, 44. Wirjopranoto alias Safiuddin, 45. Sahawi alias P. Noorsid, 46. Awi, 47. P. Rose alias Mistar, 48. Soeparjomo alias Dirjoatmojo, 49. Soetedjo, 50. Asboen alias Samak, 51. Sidin, 52. Roemin, 53. Akmi alias Sariman, 54. P. Hun alias Sarman, 55. P. Aris alias Abdulgafar, 56. P. Soesman alias Soeri, 57. P. Beng ‘alias Soebahar, 58. Sihat alias P. Supar, 59. P. Hari alias Sahwi,  60. P. Soewoto alias Sishadi, 61. Asmono alias Durachman, 62. P. Soewoto alias Sishadi, 63. P. Soerakmo alias Djatim, 64. P. Soewarti alias Djono, 66. P. Pakmina alias Djami, 67. P. Soeadri alias Mojo, 68. P. Satomo alias Dulkali, 69. P. Marjani ali, 65. Koes alias Durachim as Mai, 70. P. Rais alias Sahi, 71. H. Anwar alias Ali, 72. P. Murtami alias Maria, 73. P. Mistam alias sarbudin, 74. P. Achamad alias Ramidin, 75. P. Ti alias Misnadin, 76. Anwani alias Yahya, 77. Salim 78. Gadang Tawar, 79. P. Soenandar alias Soedarmo, 80. Reksowono alias, P. Dahnan, 81. Dai 82. H. Syamsuri, 83. Soedarjo, 84. Koeswari, 85. Dullah, 86. Abduljaman, 87. Tajib, 88. Masdar, 89. P. Soewari alias Asim, 90. P. Soetijo, 91. P. Soedjino, 92. P. Soewari alias Soemarto, 93. P. Roe alias Moenawar, 94. P. Pasmon alias Tahir, 95. Soewardi, 96. Sa’id, 97. Moesappa, 98. Moestapa.

Nama-nama tersebut oleh Belanda sebagai orang yang dianggap salah karena bertindak subversif, sehingga membahayakan kedudukan pemerintahan Belanda. Mereka ini semua kemudian ditahan oleh Belanda dengan dikeluarkannya surat penahanan oleh Dinas Keamanan Militer. =Who=

Bahan bacaan : Koleksi Deposit; Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur.

Taman Budaya: Sejarah Singkat

Gedung yang terletak di Jalan Gentengkali 85 Surabaya yang semula merupakan komplek perkantoran dan perumahan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Surabaya. Oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Dr. Daoed Joesoef pada tanggal 20 Mei 1978 diresmikan sebagai Taman Budaya Provinsi Jawa Timur.

Selanjutnya diserahkan kepada Kepala Perwakilan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawatimur sebagai pengelola, diperkuat dengan Surat Keputusan  Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Provinsi Jawa timur Nomor Sek/41/1171, tertanggal 13 Oktober 1973.
Luas area komplek Taman Budaya 10.400 m², terdiri dari beberapa bangunan antara lain, Gedung Cak Durasim dipergunakan sebagai tempat pementasan kesenian daerah Jawa Timur.

Pendopo Jayengrono dahulu dipergunakan sebagai tempat    segala permasalahan yang ada di Surabaya kini pendopo Jayengrono digunakan untuk tempat latihan menari, Sawunggaling Hall tempat pementasan kesenian daerah Jawa Timur, Ruang Sawungsari (Ruang Gamelan), Wisma Sawungrono (Wisma Seniman) dan Mushola Al-Jamal. Mulai Januari 2009 komplek ini berubah nama menjadi UPT Pendidikan dan Pengembangan Kesenian Taman Budaya Jawa Timur sampai dengan sekarang. = Wh0=

Bahan bacaan : Koleksi Deposit; Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur.

Kentrung Bondowoso

-2011-
Kentrung merupakan hiburan rakyat, Kesenian tradisional masyarakat Bondowoso ini biasanya dipentaskan pada pesta Perkawinan,  pesta Khitanan dan acara syukuran lainnya.

Kentrung yang merupakan salah satu hiburan rakyat ini sekarang hampir terancam kelestariannya, untung masih ada beberapa grup yang masih peduli terhadap kesenian kentrung ini, diantaranya adalah grup dari Desa Poncogati Kecamatan Curahdami Kabupaten Bondowoso, kentrung yang dikenal dengan nama/sebutan KENTRUNG TRIO NOOR ini dimainkan oleh tiga orang dan menggunakan alat sederhana yaitu Terbang (Rebana).

Sebenarnya “KENTRUNG TRIO NOOR” bukanlah nama Grup tapi karena pemain ketiga-tiganya bernama Pak Nor sehingga disebut Trianor. Kesenian Kentrung ini sangat populer/terkenal baik di kalangan masyarakat maupun Instansi Pemerintah di Kabupaten Bondowoso lebih-lebih pada hari-hari Besar Nasional serta pada event–event Pagelaran lainnya.

Kesenian tradisional masyarakat Bondowoso ini, dilihat dari penampilan mereka sangat menakjubkan, walaupun dengan biaya murah tapi meriah. =Who=

Bahan bacaan : Koleksi Deposit; Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur.

Jamasan Pusaka: Upacara Adat Kabupaten Nganjuk

-11 Pebruari 2005-
Jamasan Pusaka merupakan Upacara Adat Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan,  Kabupaten Nganjuk yang bersifat Tradisi, Sakral, Ritual dan adiluhung. Sebagai budaya bangsa, keberadaan Jamasan Pusaka ini selalu diupayakan kelestariannya bahkan ditingkatkan improfisasinya, sosialisasinya serta disesuaikan pelaksanaanya dengan perkembangan situasi serta kondisi pada saat ini.

Pelaksanaan upacara ini ditetapkan 3 macam hari pilihan yakni: Jum’at Legi, Jum’at Wage dan Senin Wage pada bulan Muharam (Syuro), bertempat di gedung Pusaka Desa Ngliman yang didahului oleh arak-arakan (Kirab).

Kirab didahului oleh serombongan petugas yang terdiri dari Subha Manggala (Cucuk Laku) para prajurit pasukan pembawa Pusaka, Putri Domas serta pasukan dengan kesenian MungDhe yang semuanya itu menggambarkan prajurit Kerajaan pada saat itu. Keberangkatan Kirab Pusaka diawali dari Makam Ki Ageng Ngaliman ke utara sampai gerdon terus kembali lagi sampai akhirnya ke Gedung Pusaka Baru Prosesi Jamasan dimulai dengan seremonial sebagai berikut:
1. Pembukaan
2. Laporan Pembawa Pusaka
3. Penyerahan Pusaka
4. Laporan Penerimaan Pusaka
5. Laporan Kepala Dinparbudn Daerah Kab. Nganjuk
6. Sambutan Bupati Nganjuk
7. Do’a
8. Penutup dilanjutkan Prosesi Jamasan Pusaka

Benda Pusaka yang erat kaitannya dengan acara dimaksud adalah:
1. Kendi Pusaka
2. Senjata Pusaka
3. Wayang Pusaka

1. Kendi Pusaka
Bentuk dan besarnya tidak jauh berbeda dengan kendi-kendi yang kita kenal pada umumnya, terbuat dari tanah liat tingginya ± 25 cm. Kendi tersebut dikeluarkan 1 tahun sekali saat upacara dilaksanakan, sedang pada hari-hari biasa kendi tersebut disimpan di Gedung Makam Kyai Ngaliman.

2. Senjata Pusaka
Pusaka yang dipergunakan untuk upacara berjumlah 4 buah masing-masing bernama Kyai Srambat, Kyai Endel dan Kyai Kembar berjumlah 2 buah bentuk dan panjangnya sama.

3. Wayang Kayu
Wayang Kayul, Wayang Klitik atau Wayang Krucil jumlahnya ada 3 yakni: Eyang Bondan, Eyang Joko Truno, Eyang Betik. Selain benda-benda pusaka tersebut di atas masih ada perlengkapan lain untuk upacara dimaksud, misalnya kembang setaman, warangan, minyak wangi (cendana), Blandongan tempat merendam pusaka, Payung Agung berjumlah 5 buah, padupan untuk membakar dupa.

Proses Jamasan Pusaka
Pelaksanaan Prosesi Jamasan Pusaka diawali dengan penerimaan Pusaka dari berbagai daerah, Pusaka diserahkan Sesepuh Desa Ngliman Kecamatan Sawahan.
Sebagai penutup acara diadakan selamatan bersama di Gedung Pusaka yang diikuti oleh segenap warga masyarakat dan para undangan yang hadir serta berkenan.
Sedangkan pada malam harinya diadakan Tasyakuran dan Pagelaran Wayang Kulit samalam suntuk. Suatu kenyataan bahwa rangkaian upacara ini dipandu dengan lingkungan alam yang indah, udara pegunungan yang sejuk dan masyarakat yang ramah lingkungan serta ramah di dalam tata pergaulan bermasyarakat sehingga sungguh meriah untuk ditonton dengan segenap keluarga. Selamat Menikmati.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Brosur Presesi Upacara Tradisional; Jamasan Pusaka di Ds. Ngliman-Sawahan-Nganjuk, Disparbud Daerah Kab. Nganjuk, Nganjuk, 11 Pebruari 2005.

Cak Durasim

-2011-
Cak Durasim adalah seniman Ludruk kelahiran Jombang, dia adalah seniman ludruk sejati di jaman Soerabaja Tempo Doeloe. Dia yang memprakasai perkumpulan Ludruk di Surabaya. Pada tahun 1937 mempopulerkan cerita-cerita legenda Soerabaja dalam bentuk Drama.

Cak Durasim adalah seniman Ludruk sekaligus adalah Pejuang, Pada tahun 1942 ketika tentara Jepang menguasai negeri ini melalui Ludruk sebagai media siar. Dia membangkitkan semangat juang arek-arek Surobojo dan mengkritik pemerintah penjajah,  di dalam pementasan drama Ludruknya. Selain menceritakan legenda Surabaya Cak Durasim juga mementaskan cerita perjuangan-perjuangan lokal masyarakat Jawa Timur. Selain itu gendhing Jula-Juli Surabaya isinya mengkritik pemerintah penjajah.

Pada puncaknya waktu pentas di Keputran Kejambon Surabaya Cak Durasim melantunkan Kidungan yang sangat populer yang berbunyi :“Bekupon omahe doro, melok Nippon tambah soro”  – Bekupon Sangkar burung dara, Ikut NIPPON (Jepang) bertambah sengsara”.
Yang artinya : kehidupan pada jaman Jepang lebih sengsara dibanding dengan kehidupan di jaman penjajah Belanda. Kidungan ini yang menyebabkan Cak Durasim dipenjarakan dan disiksa oleh tentara Jepang. Pada tahun 1944 Cak Durasim menghembuskan nafas terakhir di dalam penjara dan dimakamkan di Makam Islam Tembok. =Wh0=

Catatan: Sujarwo, Putakawan Jawa Timur, 2011
Bahan bacaan: koleksi Deposit Badan Perpuatakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur.