Ul-Daul

Musik perkusi berlatar etnik, Ul Daul terasa semakin gaul saja. Musik tradisional yang bermula dari Kabupaten Pamekasan nyaris tak pernah sunyi dan selalu saja ditabuh mengitari ruas-ruas jalan. Bahkan, keunikan musik ini menggugah mahasiswa manca negara. Sejumlah peserta didik dari Austria, Afrika Selatan, Suriname, Jepang, Hongkong, Timor Leste, Itali, Solomon Island, Nauru Pasifik, Samoa serta Tonga melakukan studi banding. Eksotika musik Ul Daul antara lain terletak pada alat-alat yang dimainkan karena memanfaatkan benda-benda yang berada di sekitar kehidupan warga. Bas misalnya, dihasilkan dari bunyi silinder plastik besar. Selain itu, komposisi musik ini dipadu dengan kelenengan yang kerap dipakai saat pementasan saronen. Keunikan lainnya, musik ini melibatkan seniman musik secara kolosal hingga mencapai 30 orang dan dipentaskan dengan dua model: on the stage and mobile on the road.

Di luar itu, komposisi musik umumnya rancak, gegap gempita dan penuh semangat. Selain itu, nyanyian yang didengungkan  melampaui tiga bahasa (Madura, Jawa, Indonesia, Arab bahkan Inggris). Fenomena Ul daul sebenarnya merupakan pengembangan musik Tongtong, yang sejak awal menjadi musik yang berciri khas Madura yang dimainkan dengan pukulan monoton namun melahirkan irama dinamis sebagaimana musik-musik perkusi umumnya.

Musik asli kreasi masyarakat madura ini, saat ramadan tiba gaungnya semakin terdengar. Hampir setiap malam setelah salat tawarih dan tadarus malam, berbagai kelompok long march, menyanyikan lagu-lagu Islami bahkan hingga larut malam untuk membangunkan orang untuk bersahur. Di era selanjutnya, Ul Daul kerap show of force dan langganan baik di Grahadi Pemprov Jatim maupun di Istana Negara Jakarta.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Suluh MHSA, bonum commune: Majalah Berita dan Kebudayaan Madura,  Sumenep, Edisi 6/Th.1/Nopember 2001.

Batik Srianna: Bermodal Kain Mori Tembus Luar Negeri

Batik, kain batik atau baju batik, ternyata memiliki nilai tinggi. Simak saja pengakuan Srianna, pemilik Batik Satrio Manah, Desa Bangoan, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung.

BERMODAL sepotong kain mori dalam mengawali usaha batiknya, kini batik Srianna tembus hingga ke luar negeri. Tentu saja keberhasilan itu tak mulus begitu saja, namun harus dilalui dengan jerih payah, kemauan dan kerja keras. Srianna merintis usaha batiknya sejak ia masih kuliah dan kini kerap kebanjiran order. Bahkan tidak jarang, ia merasa kuwalahan lantaran banyaknya pesanan. Karenanya, terkadang, ia pun harus menolak, demi menjaga kualitas produk agar tak rusak.

Selain pasar-pasar lokal Jatim, Kaltim, Jakarta dan Riau, pemasaran produk Batik Satrio Manah juga tembus ke Malaysia, Singapura, Hongkong dan Jepang. Namun di luar negeri, pemesannya tidak intensif sebagaimana pasar lokal. “Mungkin orang luar itu lebih menganggap batik sebagai suvenir cantik yang sangat berharga. Karena itu, kainnya disimpan, jarang dipakai. Kalau di sini kan memang untuk dipakai”,ujar wanita yang pernah mengikuti pemeran dagang ke Singapura ini.

Srianna mengakui, geliat ekonomi saat ini juga membuat usaha batiknya turut berkembang. Dalam sebulan terakhir, omsetnya bahkan bisa mencapai Rp400 juta.  Angka itu, menurutnya, cukup fantastis mengingat modal yang ia gunakan saat merintis usahanya dulu hanyalah sepotong kain mori saja. “Dulu harga kain mori itu hanya Rp4,5 ribu, setelah diolah dijual laku Rp12,5 ribu. Itulah awal rintisan usaha saya. Jadi modalnya satu potong kain mori dan kemauan”, tutur wanita cantik ini berkisah.

Bagaimana dengan fasilitas pemerintah? Srianna mengaku suka dengan perhatian pemerintah saat ini. Saat membutuhkan modal, ia tak lagi kebingungan lantaran adanya program bantuan pinjaman modal UMKM dari Pemprov Jatim dengan jumlah hingga Rp200 juta. Selain pengajuannya tidak berbelit, bunganya juga tidak mencekik. “Beberapa waktu lalu, saya sudah pinjam modal Rp200 juta. Sekarang pengembaliannya tinggal Rp83 juta”, kata dia.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Galeria, media Dekranasda Jawa Timur, Edisi 03, Nopember-Desember 2011, hlm. 15.


Sapè Sono’: Asal-usul Kesenian

Menurut penuturan beberapa sumber, Kesenian Sapè Sono’ terlahir dari kebiasaan atau budaya tani masyarakat Madura. Masyarakat Madura yang mayoritas adalah para petani, yang tentu saja menggantungkan hidupnya dari hasil lahan pertanian. Kebiasaan masyarakatnya menggunakan jasa sapi pada saat mengolah tanah pertanian dengan cara membajak. Sapi-sapi yang digunakan dalam proses pengolahan tanah pertanian ini umumnya adalah sapi-sapi betina yang disandingkan satu sama lain (berpasangan) untuk menarik nangghale (alat membajak ladang). Berawal dari kebiasaan ini sapi-sapi betina itu tampak nilai gunanya. Kekompakan pada saat menarik nanghale itulah yang kemudian menjadi dasar kesamaan atau kekompakan dalam langkah-langkah sapi betina pada Kesenian Sapè Sono’.

Kebiasaan yang lainnya, yang menjadi penanda terbentuknya Kesenian Sapè Sono’ adalah kebiasaan para petani memandikan atau membersihkan tubuh sapi yang dilakukan setelah selesai membajak. Sapi-sapi dimandikan di kali dekat ladang, digosok sampai tampak bersih kemudian diikatkan pada sepasang kayu atau pohon di sebelah kiri dan kanan sapi. Sapi-sapi tersebut seperti dipajang, dan sipemilik sapi mengamatinya. Kebiasaan-kebiasaan yang mengarah pada terbentuknya Kesenian Sapè Sono’ juga disempurnakan dengan dilangsungkannya kebiasaan memajang sapi-sapi para petani sekitar. Bentuk kegiatan ini, menurut penuturan H. Zainuddin dan H. Hatib (tokoh Kesenian Sapè Sono’ Waru dan Pasean Pamekasan), mereka biasa menyebutnya dengan Sapè Taccek.

Sapè Taccek disini pada intinya sekadar memajang sapi pada sebatang penyangga atau potongan pohon bambu, tanpa perlengkapan atau aksesoris. Kebiasaan ini sebenarnya dilatar-belakangi oleh prosesi pemajangan sapi yang dalam posisi berdiri tegap, keindahan tubuh dan warna kulit yang mengkilap (Ensiklopedi Pamekasan; 2010). Sapè Taccek inilah yang juga menjadi cikal-bakal terbentuknya Kesenian Sapè Sono’. Dari aktivitas atau kebiasaan para petani yang spontanitas itulah kemudian kesenian ini menemukan bentuknya. Maka seiring berjalannya waktu, kesenian ini dikenal dengan Kesenian Sapè Sono’.

Daya tarik pada Kesenian Sapè Sono’ ini adalah terdapat pada “kecantikan” sapi-sapi. Artinya sapi-sapi yang dilombakan merupakan sapi-sapi betina pilihan; tampak sehat, berbadan bagus, dengan warna kulit mengkilat. Dan lebih menarik lagi, sapi-sapi betina ini didandani layaknya seorang peragawati. Hampir di sekujur tubuh sapi dilengkapi dengan aksesoris dengan warna yang mencolok (merah, kuning, hijau, keemasan). Sebelum acara inti dimulai, para pemilik sa pi mengiringi langkah gemulai sapi sambil menari. Suasananya tampak semakin semarak karena langkah gemulai Sape’ Sono’ ini diiringi dengan musik tradisional Madura bernama Saronen. Keberadaan atau kepemilikan akan sapi, telah memunculkan beragam perilaku atau aktivitas dan kreativitas yang lainnya. Sapi pada akhirnya sedemikian “dihargai”. Sapi dicintai  dipelihara, dirawat, bahkan “didandani” demi memunculkan sebuah nilai yang lebih lagi. Sapi kemudian tak cukup membantu dalam proses pengulahan ladang atau sekadar ditaruh di dalam kandang.

Kesenian Sapè Sono’ juga dapat dimaknai sebagai media sosial-budaya masyarakat atau para penikmatnya. Mereka yang datang/menikmati Kesenian Sapè Sono’ adalah para pencinta atau para penggemar. Mereka adalah para pencinta keindahan. Kedinamisan dalam kesenian Sapè Sono’ dapat ditangkap dari keharmonisan gerak dan langkah sapi, berpadu dengan alunan musik Saronen yang Maduraistik itu. Adanya aktualisasi penghargaan terhadap sapi inilah, justru menambah “nilai jual” sapi. Sapi-sapi yang digelar dalam prosesi Kesenian Sapè Sono’ adalah sapi-sapi yang benarbenar memiliki banyak kelebihan. Artinya kualitas sa pi sudah benar-benar tertangkap dari aspek visualisasi postur atau bentuk tubuh sapi. Sapi yang berkualitas dalam Kesenian Sapè Sono’ bukan sekadar bobot tubunya yang ideal (tidak kurus atau tidak terlalu gemuk, kulit mengkilat, memiliki mata dan tanduk yang bagus, dsb), akan tetapi kualitas pasangan Sapè Sono’ itu diketahui juga dari keserasiannya dalam melangkah. Jika dalam melangkah terjadi semacam ketidakserasian (tidak kompak) maka sapi-sapi tersebut belum bisa dikatakan berkualitas.

Kemudian aktualisasi Kesenian Sapè Sono’ ini tidak berhenti pada aspek visual atau keindahan tubuh sapi. Eksistensi kesenian ini membawa dampak positif yang lainnya, diantaranya: berfungsi sebagai media silaturrahim para pemilik atau pencinta sapi, sebagai ajang jual-beli sapi, memacu produktivitas peternakan sapi, serta mampu meningkatkan prestise dan status sosial pemiliknya. Sapi bagi orang Madura, telah menjadi bagian terpenting dalam dinamika kultur-sosialnya. Maka Kesenian Sapè Sono’ merupakan sebuah bentuk representasi dan prestise tersendiri bagi orang Madura.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Suluh MHSA, bonum commune: Majalah Berita dan Kebudayaan Madura,  Sumenep, Edisi 7/Th.1/Desember 2001, hlm.14-15.

Aksesoris Jilbab hingga Gelang Kristal

Lebaran 2011 yang lalu tampaknya menjadi berkah bagi para perajin manik-manik di Desa Gambang, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang. Ya, mereka mendapat limpahan rezeki dari para pemudik. Mereka tidak menyangka hasil kerajinan tangan diserbu para pemudik yang secara kebetulan melintas desa itu.

 “BIASANYA kami mengirimkan hasil kerajinan ini ke Bali dan Kalimantan Selatan, tapi selama Lebaran langsung dibeli pemudik,” kata Eka (29), perajin manik-manik, sat ditemui di Desa Gambang. Untuk aksesori kristal pelengkap jilbab dijual seharga Rp7.500-27.500 per set, sedangkan gelang kristal dengan pengikat dari magnet hanya Rp30.000 per set. Yang paling murah gantungan kunci seharga Rp2.500 per buah.

Desa Gambang berada di antara ruas Jombang-Kediri melalui Gudo. Pada saat musim mudik Lebaran, jalan di desa itu menjadi jalan alternatif. Kendaraan pribadi dari arah Surabaya menuju Kediri dan Madiun dialihkan melalui Tunggorono, Gambang, Sumberrejo, dan Purwoasri. Demikian pula dari arah Kediri.

Hal itu untuk mengurangi kepadatan arus lalu lintas di pertigaan Mengkreng yang menghubungkan Jombang dengan Kediri dan Nganjuk selama musim mudik Lebaran. “Ini rezeki dari pemudik di tengah lesunya pasar manik-manik,” ujar Eka yang juga pemilik kios Bintang Manik-Manik di Desa Gambang itu.

la mengaku dalam sehari omzetnya bisa mencapai Rp1 juta hingga Rp1,5 juta dari penjualan secara eceran selama Lebaran. Angka itu sulit didapat pada hari-hari biasa, kecuali kalau ada permintaan secara grosir dari Bali dan Kalimantan Selatan. Sementara itu, Suparni, perajin yang lain, merelakan masa Lebaran-nya ini dengan membuka kiosnya. “Bagi kami ini kesempatan emas. Kapan lagi bisa seperti ini,” katanya saat ditemui di kiosnya, Akbar Manik-Manik itu.

Desa Gambang merupakan sentra kerajinan manik-manik, baik terbuat dari kaca maupun kristal. Terdapat belasan kios yang menjual berbagai jenis aksesori kaum hawa hasil kreativitas warga desa itu. “Kelihatannya menarik. Tak ada salahnya kalau kami mampir sejenak untuk menghilangkan kepenatan di jalan. Syukur-syukur kalau kami bisa membawa pulang manik-manik ini,” ucap Diana yang baru turun dari mobilnya berpelat nomor polisi AD (Surakarta) itu.

Dengan ditemani suami, ibu satu anak itu memborong berbagai jenis manik-manik karena harganya dianggap lebih murah dibandingkan di tempat lain. Harga jual eceran manik-manik di Desa Gambang memang nisbi murah karena pembeli langsung mendapatkannya dari perajin.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Galeria, media Dekranasda Jawa Timur, Edisi 03, Nopember-Desember 2011, hlm. 15.

Sape Sono’

Selain kerapan sapi, madura juga punya budaya yang tak kalah menarik. Budaya itu biasa disebut dengan sape sono’.  Bedanya, jika kerapan sapi diadu kekuatan dan keperkasaannya dalam berlari, maka sape sono’ diadu kecantikan dan keanggunannya. Sapi tidak dipacu dan ditunggangi. Ia Malah diiring dengan musik dan tari-tarian saronen-sebuah musik khas yang memang biasa digunakan untuk mengiring sape sono. Sapi-Sapi ini dirawat agar bulunya bagus, badannya sintal dan bisa berjalan serempak bersama pasangannya seperti pasukan yang sedang baris berbaris.

Orang-orang di luar Madura biasa menyebut kontes ini tak ubahnya Fashion show. Hanya saja, aktornya adalah sepasang sapi. Dan  semua sapi yang ikut berlaga dalam kontes ini harus berjenis kelamin perempuan. Dikatakan Sapi Sono’ karena dalam kontes ini, sapi dilepas digaris finis, diiring berjalan di lintasan, dan kemudian harus finis dengan masuk (nyono’) di bawah sebuah gapura. Di garis finis ini, sapi-sapi dituntut bias mengangkat kakinya secara bersamaan dan meletakkannya di sebuah kayu melintang. Kayu tersebut sebelumnya dibuat lebih tinggi dari lintasan. Yang paling anggun dan serempak berjalan, serta paling cepat meletakkan kakinya di papan melintang di bawah gapura, dialah sang pemenang. Pemiliknya berhak menerima hadiah dan secara ekonomis sapinya akan otomatis makin tinggi nilainya. (obeth)

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Suluh MHSA, bonum commune: Majalah Berita dan Kebudayaan Madura,  Sumenep, Edisi 6/Th.1/Nopember 2001.

Klenteng Kwan Sing Bio

Klenteng Kwan Sing Bio (Tempat ibadah Tri Dharma) ini berlokasi di Kelurahan karangsari Tuban lebih kurang 1 KM dari pusat kota, Klenteng Kwan Sing Bio memiliki keunikan tersendiri karena bersimbol kepiting raksasa pada pintu gerbangnya dan langsung menghadap ke laut. Tempat ibadat ini, dipercaya umatnya memiliki aura kebaikan yang sangat kuat sehingga do’a-do’a yang disampaikan disana akan mudah dikabulkan.

Klenteng Kwan Sing Bio, konon adalah satu-satunya tempat Ibadah Tri Dharma yang menghadap ke laut (Pantura) dan merupakan Klenteng terbesar di ASIA Tenggara. Umat yang datang berasal dari seluruh ASEAN dengan berbagai tujuan, ada yang beribadah, mencari obat maupun mencari keberuntungan dalam usaha. Event kepariwisataan yang dapat menarik jutaan kunjungan wisatawan yaitu peringatan HUT Kwan Sing Te Kun,

HUT Kwan Sing Tee Koen dilaksanakan di Klenteng Kwan Sing Bio Tuban. Pada hari peringatan ini ribuan umat Tri Dharma dari seluruhindonesiahadir untuk melaksanakan ibadah guna mendapatkan berkah dari dewa sesembahannya. Selain itu dalam event tersebut disajikan gelar kesenian berbagai atraksi hiburan kesenian seperti tari Barong Say, Liang-Liong, bahkan wayang Kulit dan pembagian Ang pao yang merupakan tradisi warga keturunan etnis cina

 

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Obtek Wisata Tuban, DINAS PARIWISATA, SENI DAN BUDAYA KABUPATEN TUBAN, 2005

Makam Ibrahim Asmoro Qondi, Tuban

Lokasi Makam Ibrahim Asmoro Qondi Desa Gesikharjo, Kecamatan Palang lebih kurang 5 km dari pusat kota. Makam ini termasuk salah satu makam para wali di luar wali songo, karena beliau adalah ayah dari Sunan Ampel yang merupakan sesepuh para wali songo.

Menurut sejarah, beliau berasal dari negeri Assyamar Khand dan mengembara untuk mensiarkan agama Islam sampai akhirnya bermukim di tanah Jawa. Karena merasa kesulitan melafalkan kata Assyamar Khand, maka orang Jawa menyebutnya Asmoro Kondi. Kegiatan ritual yang mendatangkan puluhan ribu pengunjung adalah ritual Haul yang diisi dengan pengajian ajaran agama Islam.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Obtek Wisata Tuban, DINAS PARIWISATA, SENI DAN BUDAYA KABUPATEN TUBAN, 2005

Makam Sunan Bejagung

Lokasi Makam Sunan Bejagung di Desa Bejagung, Kecamatan Semanding lebih kurang 2 KM dari pusatkota. Makam ini juga termasuk makam wali karena beliau yang memiliki nama asli Asyari adalah saudara dari Ibrahim Asmoro Qondi. Makam ini sangat dikeramatkan karena semasa hidupnya beliau dikenal memiliki kesaktian yang luar biasa.

Diantaranya yang berkembang dimasyarakat adalah cerita tentang sebuah kendi kosong yang ditutup dengan daun jati. Tak berapa lama kemudian, kendi itu sudah berisi air dan ikan. Oleh karena itu sampai sekarang sumber air dilokasi makam dipercayai sangat bertuah.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Obtek Wisata Tuban, DINAS PARIWISATA, SENI DAN BUDAYA KABUPATEN TUBAN, 2005

Makam Sunan Bonang

Lokasi Makam Sunan Bonang, di Kelurahan Kutorejo Tuban (belakang Masjid Agung Tuban), Makam Sunan Bonang merupakan salah satu tujuan wisata religi di Tuban. Makam Sunan Bonang adalah makam salah seorang “Wali Songo” penyebar Agama Islam di jawa, yang banyak dikunjungi oleh peziarah dari dalam dan luar negeri. Air yang berada dikomplek makam ini, diyakini berhasiat  sesuai dengan kebutuhan masing-masing peziarah, dengan cara meminum ataupun membawanya pulang ke rumah,

Haul Sunan Bonang
Kegiatan ritual yang mampu mendatangkan jutaan pengunjung setiap tahunnya adalah ritual Haul Sunan Bonang. Haul Sunan Bonang Adalah kegiatan ritual memperingati wafatnya waliyullah Sunan Bonang, Dalam Haul ini diselenggarakan berbagai macam kegiatan seperti sunatan massal dan gelar kesenian Islami seperti hadrah dan  lain-lain yang pesertanya dari daerah-daerah lainnya dari Jawa Timur dan sebagian dari Jawa Tengah. Puncak acara dari kegiatan ini adalah pada Hari Kamis Pon Bulan Suro dimana digelar pengajian umum dan dihadiri ribuan umat Islam dari penjuru Indonesia.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Obtek Wisata Tuban, DINAS PARIWISATA, SENI DAN BUDAYA KABUPATEN TUBAN, 2005

Sandal Batik Magetan

Sandal Batik Magetan Diminati Manca Negara

JANGAN pernah menganggap sepele usaha rumahan atau home industry. Justru dari aktivitas itulah mampu dihasilkan kreasi-kreasi bernilai ekonomi tinggi. Simak saja industri rumah tangga berupa kerajinan sandal batik di Desa Baleasri, Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan. Bahkan usaha tersebut telah berhasil menembus pasar luar negeri atau ekspor. Usaha membuat sandal batik ini diproduksi oleh keluarga Hendrik Yulianto. Dengan memanfaatkan limbah kain batik, ia mampu memproduksi kerajinan sandal batik bernilai jual tinggi.

Model dan motif unik yang ditawarkan, telah membuat sandal batik ini pun mampu menguasai berbagai pasar di sejumlah daerah di Indonesia, termasuk luar negeri. “Pangsa pasar sandal batik ini masih cukup menjanjikan. Selain daerah lokal Magetan, sandal batik ini telah mampu menembus berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Jogjakarta, Jakarta, Bali, hingga Kalimantan,” ujar perajin sandal batik, Hendrik Yulianto.

Sandal batik ini juga banyak dipesan sejumlah hotel dari berbagai daerah dan menembus pasar luar negeri di antaranya Belanda, Malaysia, Singapura, dan Thailand. Menurut dia, ide kreatif membuat sandal batik ini, berawal dari banyaknya limbah kain batik, hingga akhirnya dapat dikelola menjadi sandal dan bentuk-bentuk lain yang unik. Usaha yang dikelola pasangan suami istri Hendrik Yulianto dan Ana Setyawati ini, telah digeluti sejak lima tahun terakhir. Awalnya sempat kesulitan modal dan pasar, namun kini telah cukup berkembang. Bersama delapan pekerjanya, dalam sebulan industri rumahan ini memproduksi sekitar 2.600 pasang sandal berbahan spon karet terbalut kain batik dengan berbagai model dan motif.

Satu pasang sandal dijual dengan harga variatif antara Rp 10 ribu hingga Rp20 ribu, bergantung model sandal yang dibuat. Omzet yang diraih juga lumayan banyak, yakni minimal mencapai Rp20 juta setiap bulannya. Sedangkan bahan baku limbah kain batik, didatangkan dari daerah penghasil kain batik, diantaranya Solo, Jogjakarta, dan Pekalongan dengan harga yang relatif sangat murah. Selain membuat sandal batik, industri rumah tangga ini juga mampu membuat kerajinan produk limbah kain batik lainnya, diantaranya tas, dompet hingga berbagai suvenir. Kini, seiring dengan pengakuan dunia akan batik oleh UNESCO, sandal batik semakin diminati. Diharapkan, nantinya kerajinan ini mampu menjadi ikon Kabupaten Magetan sama halnya dengan Telaga Sarangan, Jeruk Pamelo, dan kerajinan kulit.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Galeria, media Dekranasda Jawa Timur, Edisi 03, Nopember-Desember 2011, hlm. 15.