Candi Tegawangi

Candi Tegawangi terletak di desa Tegawangi, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Letak Candi Tegawangi sangat strategis  dan mudah dijangkau. Ke candi Tegawangi dari kota Kediri-Pare jaraknya ± 20 km. Dari Pare, lokasi ke arah barat laut jarak ± 9 km. Halaman candi disebut daerah candi atau komplek percandian. Area ini terdapat 2 (dua) buah candi, yang satu besar dan satu lagi kecil (seakan candi perwara/pengikut). Dua candi tersebut cukup menarik walaupun tidak utuh. Sebab reruntuhan batu candi rnasih ada, tersusun rapi di sekitar candi, seolah-olah merupakan pagar candi.

Mengenai candi Tegawangi, menurut Kitab Prapanca yakni: “Cri nathe vatsarikan Tegawangi magawe tusten parajana”.
Dr. N.J. Krom, Cri nathe Vatsarikan mengartikan sebagai Raja Matahun, ipar raja Hayam Wuruk jadi pendiri candi Raja Matahun (pendapat sebagian peneliti). Candi tersebut didirikan sebelum tahun 1280 C (1358 AD), diperkuat adanya salah satu bentuk pilar candi terdapat pahatan 2 (dua) orang tokoh pria dan wanita, diperkirakan gambaran raja Matahun dan isterinya.

Matahun menganut faham Ciwa, terbukti ada beberapa arca Ciwa di halaman candi, serta yoni. Yoni Tegawangi mungkin satu-satunya yoni yang paling bagus di Jawa. Lambang kewanitaannya dipahat sangat jelas dan rapi. Naga yang menahan (jawa-nyonggo) pancuran, berbentuk lambang kewanitaan dipahatkan penuh dengan ukir-ukiran yang halus serta kelihatan agung dan menarik. Pahatan naga tersebut dibuat sangat rapi dan penampilannya sedemikian rupa hingga tidak tampak menakutkan. Tubuh yoni juga dipahat bagus.

Candi Tegawangi tinggal bagian kaki,  bentuk denah bujur sangkar sisi-sisinya berukuran 11 m. Bagian yang ada dihias relief bagus sekali, sayang bagian utara terlihat belum dikerjakan. Di sebelah tenggara candi Tegawangi terdapat sebuah candi lagi dengan ukuran lebih kecil. Candi kecil ini juga tidak utuh lagi, namun terdapat pahatan relief walau tidak sekaya yang besar. Disamping pagar keliling, di sekeliling candi masih terdapat batu-batu. Batu andesit dengan jumlah sedikit, belum memadai dipergunakan untuk membuat tubuh serta atap candi. Dengan batuan candi yang jumlahnya sangat terbatas, kiranya sulit untuk dipastikan apakah candi tersebut memang belum selesai dikerjakan ataukah bagian-bagian yang lain belum diketemukan.

Pahatan relief pada candi Tegawangi, secara keseluruhan menggambarkan ceritera Sudamala. Cara membaca relief jenis rasawya. Candi menghadap ke barat dan permulaan relief terletak pada bagian selatan. Mengapa dapat ditentukan permulaan ceritera pada bagian selatan? Sebab pada bagian utara candi kelihatan masih polos. Cara membaca sepeti ini jarang sekali terjadi.

Catatan: Sujarwo (Pustakawan)
Rujukan:
– Panduan Obyek Wisata Di Kabupaten Kediri. Dinas Kebudayaan dan  Pariwisata, Pemda Kab. Kediri, 2010.
– Candi Tegowangi. Kanwil Dep. P & K Prop. Jatim, 1983.

Candi Belahan atau Petirtaan Sumber Tetek

Candi Belahan atau Candi sumber Tetek terletak di wilayah Dusun Belahan, Desa Wonosonyo, Kecamatan Gempol, Pasuruan, Jawa Timur, tepatnya sekitar 40 km dari kota Pasuruan. Candi ini sebenarnya kalau dilihat dari arsitektur bangunannya merupakan petirtaan yang sangat unik dan mempesona, karena terdapat dua patung wanita Dewi Sri serta Dewi Laksmi. Dari salah satu patung yang berdiri disitu, yaitu patung Dewi Laksmi mengalir air melalui tetek (kedua puting susu),  yang ditampung pada sebuah kolam berukuran kurang lebih 6 x 4 meter di depan/bawah patung tersebut. Maka dari itu masyarakat setempat menyebut, candi Belahan ini dengan sebutan candi Sumber Tetek.

Kedua patung ini merupakan lambang kesuburan dan kemakmuran, posisi kedua patung tersebut berdiri berdampingan membelakangi dinding yang terbuat dari batu bata dihiasi dengan relief yang menggambarkan Wisnu menunggang Garuda setinggi sekitar tiga meter. Air yang keluar dari patung tersebut mengalir sepanjang tahun, bahkan di musim kemarau sekalipun. Candi ini merupakan salah satu dari sekitar 80 bangunan candi kecil yang ditemukan di seputaran Gunung Penanggungan. Terletak pada ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan air laut. Bahkan candi ini merupakan salah satu candi yang belum pernah dipugar.

Air yang bersumber dari tetek patung Dewi Laksmi ini sangat jernih, hingga sampai sekarang digunakan sebagai keperluan sehari-hari. Oleh masyarakat setempat. Kebutuhan air bersih ini tak hanya dinikmati penduduk Belahan Jawa, namun juga warga desa tetangga yang letaknya jauh di kaki gunung dan dikenal sebagai warga Belahan Nangka meliputi Dukuh Genengan, Jeruk Purut, Gedang, Pojok, Karang Nangka, Dieng, Kandangan serta penduduk Kunjoro yang berbatasan dengan Mojokerto

Konon menurut warga setempat, air tersebut dipercaya memiliki khasiat tertentu seperti bisa menjadikan awet muda dan kesembuhan terhadap segala penyakit-penyakit. Sosok penunggu kawasan ini dipercaya menjaga kelestarian situs petirtaan Sumber Tetek. Konon pada masa penjajahan Belanda (banyak koleksi patung yang berada di Belanda), ada upaya untuk mengangkut salah satu ornamen candi. Tetapi tidak ada satu orang pun yang mampu mengangkatnya sehingga upaya pengangkutan tersebut gagal dan keaslian situs Sumber Tetek tersebut tetap terjaga sampai sekarang.

Meski belum tersentuh pemugaran, Candi Belahan atau Petirtaan Sumber Tetek sangatlah pantas untuk ditawarkan sebagai Daerah Kunjungan Wisata. Karena ditunjang dengan eksotika candi yang sangat unik dan mempesona, dengan dua patung wanita Dewi Sri serta Dewi Laksmi yang mengalir air melalui kedua teteknya (puting susu). Kejernihan serta kesegaran air Sumber Tetek yang ditampung di kolam tersebut serta keindahan alamnya tetap memiliki daya pikat yang kuat. Selain itu semua, menuju lokasi wisata candi ini jalan perbukitan yang menanjak dan bekelok, disuguhi pemandangan berupa hutan pohon akasia dan areal ladang penduduk. Jika cuaca cerah, kepenatan kita selama perjalanan akan terobati dengan hadirnya pemandangan indah dari puncak gunung Penanggungan. Suasana yang sejuk, tenang dan asri khas pedesaan akan semakin sejuk ketika sapaan ramah penduduk setempat yang sudah tidak merasa asing dengan wisatawan karena desa mereka sering menjadi rute pendakian menuju puncak Gunung Penanggungan.

Catatan: Sujarwo (Pustakawan)
Rujukan:
– Menjelajah Obyek Wisata Kabupaten Pasuruan. Bagian Humas, Pemereintah Daerah Kabupaten Pasuruan.
– Pesona Wisata Kabupaten Pasuruan. Dinas Pariwisata Kabupaten Pasuruan (Brosur)

Sesaji Sri Aji Jayabaya

Upacara tradisional 1 Sura di loka muksa Sri Aji Jayabaya bertempat di desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Jarak dari kota Kediri ke arah utara ± 14 kilometer, naik bus atau taksi umum ke jurusan Kediri-Pare-Surabaya turun di Gurah Sukorejo (± 10 km) dari Gurah ke desa Menang ± 4 km. Setiap tanggal 1 Sura (tahun tarikh Jawa), ribuan orang datang dalam rangka mengikuti upacara tradisi ritual “CAOS DAHAR” dan “TABUR BUNGA” di Loka Muksa Sri Aji Jayabaya dan dirangkai dengan upacara “SIRAM JAMAS” (mandi keramas) dan atau minum air Tirta Kamandanu dengan keyakinan bisa awet muda. Konon sendang Tirta Kamandanu ini tempat taman sari permaisuri putri Kediri.  Di sini dilengkapi bangunan pendapa, tempat sesaji berupa padupan dan bunga.  Semula merupakan pundhen yang dikunjungi setiap malam Jum’at legi dan Selasa Kliwon.

Upacara ritual 1 Sura, yang dilaksanakan setiap tahun sejak tahun 1975  ini dipimpin oleh Yayasan Hondodento Yogyakarta, dimulai ± pukul 10.00 WIB. Peserta upacara berangkat dari pendapa kelurahan Menang (± 1 km dari lokasi petilasan) dengan berjalan kaki tanpa alas kaki. Dan semua peserta berpakaian tradisi Jawa-Yogyakarta. Urut-urutan peserta dimulai dengan barisan remaja putri ayu pembawa tabur bunga, disusul pembawa pusaka dan tempat kemenyan yang dikawal pembawa payung susun tiga, kemudian pemimpin upacara yaitu Bapak Kyai Plered disertai juru kunci, Kepala Desa dan Ketua Yayasan Hondodento, selanjutnya pembawa bunga dengan dipayungi payung emas, yang paling belakang para undangan dengan diiringi gending pakurmatan (khusus) yaitu gending Monggang atau Kodokngorek disajikan oleh kelompok pengrawit.

Upacara tersebut mempunyai daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Setelah sampai di halaman (pelataran) petilasan, semua peserta duduk bersila menghadap satu arah dimulai dengan Kyai Plered mengungkapkan rasa syukur, hormat serta sembah sujud memasyhurkan nama Prabu Jayabaya, dilanjutkan dengan mengheningkan cipta menghormat arwah pahlawan bangsa dan leluhur yang telah gugur, kemudian dengan pembacaan doa diteruskan penaburan bunga ke petilasan. Acara ini diawali kelompok remaja putri dengan duduk berjongkok mengawali persembahan, dilanjutkan penaburan bunga di tempat petilasan, tempat penyimpanan busana/pakaian dan mahkota Prabu Jayabaya. Selanjutnya pengunjung diberi kesempatan untuk ikut menabur bunga yang disediakan di “jamban” khusus berupa guci besar berisi air siraman. Jalannya upacara khusus sebetulnya tidak memakan waktu lama, namun oleh panitia biasanya disediakan waktu antara pukul 10.00 sampai 17.00 WIB yang berkaitan dengan melihat obyek lainnya seperti yang ada di Tirta Kamandanu yang berjarak sekitar 500 meter dari petilasan ke arah barat laut.

Catatan: Sujarwo (Pustakawan)
Rujukan:
– Panduan Obyek-obyek wisata Wisata di Kabupaten Kediri. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kabupaten Kediri. 2010.
– Profil Kebudayaan Informasi Nilai-nilai Budaya dan Legenda Kabupaten Kediri. Disbudpar Kabupaten Kediri, Kabupaten Kediri, 2010.
– Profil Kebudayaan Kabupaten Kediri.  Kantor Parsenibud Kabupaten Kediri, Kabupaten Kediri, 2010.

Kebun Raya Purwodadi: Pasuruan, Jawa Timur

CABANG BALAI KEBUN RAYA PURWODADI, di Desa Purwodadi, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. posisinya berada di jalan raya antara Surabaya-Malang pada kilometer 70. Dari Malang menempuh jarak 24 kilometer arah utara. Tahun 1954 diawali membangun petak-petak koleksi, menyesuaikan iklim dan ketinggiannya dengan nama: BALAI ASRI kemudian menjadi HORTUS PURWODADI sekarang CABANG BALAI KEBUN RAYA PURWODADI. Kebun ini memberikan pelayanan jasa ilmiah di bidang arsitektur pertamanan dengan ragam tanaman hias (florikultura). Juga mengintrodusir daya guna flora berhabitat dataran rendah kering. Bertujuan menyelamatan dari kepunahan, pembudidayaan demi kepentingan ilmu pengetahuan, konservasi, juga pengembang-biakkan, perbaikan serta pemulihan, atau perbaharuan pertumbuhan tanaman.

Di kebun ini Terdapat 546 jenis anggrek, diantaranya 231 jenis anggrek alam Jawa Timur. Koleksi di Kebun Raya ini 3.101 jenis, meliputi 150 suku, 894 marga dan 12.638 spesimen. Disamping koleksi anggrek, ada 44 jenis temu-temuan (Zingiberaceae), 10 jenis gadung-gadungan (Dioscoreaceae), 108 kultivar pisang (Musa acuminata x balbisiana) termasuk 5 jenis pisang-pisangan (Musaceae) dan 305 tanaman obat. Kebun ini juga menyimpan koleksi herbarium basah 321 spesimen, kering 4268 spesimen dan museum biji sebanyak 251 spesimen (data: Maret 1987).

Arsitektur taman menurut garis topografi dipadu pepohonan besar kecil, begitu harmonis menyatu dengan pertamanan yang dirancang khusus. Rerumputan, rumpun-rumpun yang teduh, jalan setapak yang melingkar-lingkar lagi dekoratif telah memiliki daya tarik tersendiri. Secara keseluruhan mulai habitat tanaman, bangun rancang dekorasi, sampai ke perawatannya. Memiliki daya pikat tersendiri, sehingga menarik wisatawan baik tua maupun muda yang berlibur, berekreasi serta mencari ketenangan serta kedamaian.

Bervakansi, kegiatan mencari perobahan dari hal-hal yang bersifat rutin. Tujuan utamanya ialah rekreasi, yang berarti istirahat sambil mencari hiburan. Kebun Raya Purwodadi yang mempesona, indah dipandang, menyenangkan, nyaman dan tidak membosankan, tentunya memenuhi harapan setiap pendatang, memperoleh ketenangan dan membawa kenangan keindahan sepulangnya setelah bervakansi dan berekreasi.

Hari kunjung umum setiap hari termasuk hari besar mulai pukul 07.00 sampai pukul 16.00. Rombongan pelajar/mahasiswa berkarya wisata,  pengamatan atau penelitian botani/biologi, dilayani hari Sabtu, diperlukan permohonan. Keringanan biaya masuk, bagi atau menghubungi Kepala Kebun Raya atau Kepala Sub Seksi Bina Sarana Usaha, sebelumnya. Layanan informasi setiap hari kerja.

Catatan: Sujarwo (Pustakawan)
Rujukan: – Menjelajah Obyek Wisata Kabupaten Pasuruan. Bagian Humas, Pemereintah Daerah Kabupaten Pasuruan.
– Pesona Wisata Kabupaten Pasuruan. Dinas Pariwisata Kabupaten Pasuruan (Brosur)
– Kebun Raya Purwodadi. Dinas Pariwisata Daerah Propinsi Daerah Tk. I Jawa Timur, 1990.

Candi Jawi: Prigen, Pasuruan, Jawa timur

Jawa Timur termasuk salah satu di antara 10 Daerah Tujuan Wisata (DTW) di Indonesia. Peninggalan purbakala merupakan objek wisata yang sangat potensial di daerah Jawa Timur hingga patut ditawarkan sebagai Daerah Tujuan Wisata. Candi Jawi berada di Desa Wates, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Jarak dari Surabaya lebih kurang 46 km,  jarak dari Pandaan lebih kurang 700 m dari Taman Candra Wilwatikta 200 m.  Kemegahan dan keagunangan candi Jawi lebih nampak setelah pemugaran, hingga merupakan salah satu objek wisata yang patut dibanggakan di Jawa Timur. Candi ini berada pada ketinggian 285 m di atas permukaan laut. Sehingga hawa terasa sejuk nyaman. Bila memandang ke selatan nampak lereng bukit Arjuna, Welirang, kota wisata Tretes yang berhawa sejuk. Pemandangan ke barat gunung Penanggungan yang banyak pula menyimpan peninggalan purbakala.

Selain bersejarah, juga merupakan satu-satunya candi di Jawa Timur yang telah berhasil dipugar secara utuh.  Candi Jawi diperkirakan dibangun pada akhir abad XIII (kakawin Nagarakertagama). Seperti candi-candi di Jawa Timur yang dibangun pada jaman yang sama, candi ini berbentuk ramping tinggi, Berukuran tinggi 24,50 m, panjang 14,20 m, dan lebar 9,50 m, berdiri di atas sebuah batur (tanah yang ditinggikan) dan dikelilingi oleh sebuah pagar halaman yang sangat luas. Umumnya candi-candi di Jawa Timur dibangun menghadap ke barat, namun candi Jawi dibangun menghadap ke timur, sedikit menyerong ke arah timur laut. Karena pintu masuk candi hanya satu, dengan sendirinya pintu dan tangga masuk terdapat di sisi timur.

Bangunan Candi Jawi dari batu andesit bagian bawah (kaki candi) dan batu kapur bagian atas (tubuh dan atap candi). Candi ini dikelilingi kolam berukuran panjang 54 m, lebar 3,50 m, dan kedalaman 2 m, seluruhnya terbuat dari batu bata, tebal tembok kolam 0,90 m hingga kini masih berisi air. Secara vertikal struktur bangunan dibagi atas: kaki (subasemen), badan (tubuh) candi memiliki sebuah ruangan (kamar), dan atap (puncak) candi. Kaki candinya menunjukkan sifat bangunan agama Siwa, sedang puncaknya  menunjukkan sifat bangunan agama Budha. Di empat sisi tubuh candi terdapat relung-relung kosong yang dahulunya berisi diduga arca Ardhanari, Durga, Siwa, Guru, Ganesa, Mahakala, dan Nandiswara. Bagian puncak candi Jawi berbentuk segi empat, makin ke atas makin kecil dan puncaknya berbentuk dagoba (stupa), salah satu ciri khas bangunan beragam Budha. Sementara ahli menduga bahwa arca “Joko Dolog” yang sekarang ada di kota Surabaya berasal dari candi Jawi.

Untuk mengetahui lebih lengkap silahkan berkunjung, menikmati wisata pengetahuan sambil menikmati pemandangan alam serta kesejukan udara pegunungan dengan ketinggian 285 m di atas permukaan laut.

Catatan: Sujarwo
Rujukan: 
Hadimuljono, Candi Jawi : Peninggalan Sejarah masa  Akhir Kerajaan Singasari di Jawa Timur. Jakarta: Proyek Media Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaa, Depdikbud, 1982-1983
http://kab-pasuruan.go.id
http://uun-halimah.blogspot.com/2008/11/candi-jawi-pasuruan-jawa-timur.html

Taman Safari Indonesia II: Prigen, Pasuruan Jawa Timur

Berkunjung ke Taman Safari II Prigen, dari arah Surabaya-Malang. Setelah Pandaan akan menemukan gerbang berbentuk 2 Gading Raksasa di kanan jalan. Bila ditempuh dari arah Malang-Surabaya, setelah melewati pertigaan Purwosari akan menemukan gerbang 2 gading raksasa di sebelah kiri. Lokasi terletak 8 km dari gerbang gading tersebut. Pengunjung Taman Safari II Prigen berperan aktif dalam konservasi untuk penyelamatan satwa-satwa langka Indonesia dari kepunanahan. Maka dukungan Taman Safari Indonesia, sebagai salah satu lembaga konservasi paling berhasil di Asia bagi kelestarian satwa-satwa langka tersebut.

Dengan motor bisa tidak? Tentu saja bisa. Setelah Pengunjung selesai memarkir motor, lalu berganti dengan bus Safari untuk mengantar berSafari  Adventure. Fasilitas Bus Safari juga berlaku bagi pemilik kendaraan yang menginginkan serunya berSafari Adventure dengan sarana ini. Fasilitas Bus Safari ini GRATIS. Rasakan serunya berSafari Adventure Terbaik dan Terlengkap di Asia, menerobos kawanan zebra, harimau raksasa benggala, gajah Asia, singa Africa, kuda nil, giraffe, lebih dari 200 spesies langka lainnya.

Sarana yang paling asyik adalah area Baby Zoo Adventure, belajar tentang berbagai macam satwa langka dari 5 benua. Kebun binatang terbuka (open zoo) terbaik di Indonesia dengan 14 exhibit pembelajaran satwa paling lengkap di Indonesia bagi putra-putri Anda.  Melihat dari dekat puluhan satwa exotis dunia seperti kanguru merah raksasa, singa africa, harimau benggala, bekantan, marmoset, simpanse, bahkan menyentuh dan menggendong anak-anak satwa langka tersebut.

 

Saksikan Animal Education Show pertunjukan Gratis 5 edukasi satwa terbaik di Asia mulai dari :
Education Show Gajah terbaik Asia               (11 : 00 WIB)
Education Show Dolpin terbaik Asia              (13 : 00 WIB)
Education Show Orangutan terbaik Asia      (14 : 00 WIB)
Education Show Harimau terbaik Asia          (15 : 00 WIB)
Education Show Burung pemangsa                (13 : 00 WIB)

Khusus untuk show edukasi harimau di Taman Safari berkat kerja sama dengan kebun binatang kelas satu Australia. Show Dolpin dilatih langsung oleh John Valentine dari San Diego, California. Sang pelatih Keiko di Film Free Willy. Show yang luar biasa. Sekarang saatnya menyaksikan Aksi mendebarkan dari dari Jones & Max dalam upayanya menemukan Batu Ajaib di kuil maut Temple Of  Terror. Stuntman show dengan Hollywood Pyrotechnic Special Effects (special effects ledakan api) terbesar di Asia setiap hari pukul 16:30 WIB hari biasa. Tampil juga puluhan satwa terlatih seperti harimau putih raksasa, puluhan burung Gagak, Macaw, Black Vulture, Merak Hijau, Rangkong Badak, dan Julang Emas.

BerSafari Water World bermain air di waterpark seluas 3,5 hektar dengan 4 wahana air. Uji nyali meluncur di atas 4 water slide raksasa berkecepatan 50 km perjam, Adrenalin Pool yang tentu asyik. Juga sensasi mengapung di kolam arus lazy river, menembus Crocodile Cave penuh arwana dan buaya. Bermain air sepuasnya bersama buah hati tercinta di Pirate Pool. Selanjutnya dapat mencoba 24 wahana permainan, roller coaster, puri misteri, bom-bom car, bom-bom boat, rio bravo, sepeda layang dan banyak lagi. Juga wahana permainan yang extreme seperti Paint Ball War Game, Shooting Target, bahkan Flying Fox. Coba sensasi asyik menunggang gajah atau pun onta. Harus siapkan kamera untuk mengabadikan moment petualangan si kecil di punggung gajah atau onta yang ditemani Safari Ranger.

‘Makan yuuuuuk…… udah siang setengah sore’: Pengunjung bisa membawa sendiri makanan dari rumah lebih praktis dan sesuai selera, namun bila tidak bisa makan siang di restaurant Gading dan Captain Kroc’s yang dikenal dengan masakan Indonesia. Atau makan siang ditemani 3 harimau putih di Tiger Café restaurant. Pengunjung juga bisa mendapatkan cindera mata dari Taman Safari Indonesia. Mulai dari T-Shirt bergambar satwa yang menjadi ciri khas Taman Safari, Gatungan kunci, sticker, topi lucu, tas dan payung.  Dan masih banyak souvenir lainnya yang bisa Anda koleksi di Safari Wonder Sauvenirs.

Catatan: Sujarwo (Pustakawan)
Rujukan:
– Brosur-Taman Safari II  prigen

– http://tamansafari2.net 

Candi Surowono

Letak dan lingkungan secara administratif Candi Surowono terletak di Desa Canggu, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri  (bagian timur), Propinsi Jawa Timur. Jarak dari pusat pemerintahan Kabupaten Kediri lebih Kurang 28 km arah timur laut, atau sekitar 50 menit dari Kota Kediri. Menuju Candi Surowono ini dapat dilakukan dengan mudah melewati jalan beraspal yang menghubungkan Jombang–Pare atau Kediri–Pare

Candi Surowono dibangun pada abad ke 15. Candi Surowono memiliki banyak keunikan. Baik dari segi arsitektur maupun relief yang menggambarkan cerita Arjuna Wiwaha, Bubhuksah, Gagang Aking, dan Sri Tanjung (kisah kesetiaan seorang istri) dengan arah pembacaan Pradaksina (menganankan candi) yaitu berturut-turut dari sisi utara. Candi ini dibangun untuk mendharmakan Bhre Wengker yang wafat pada tahun 1388 Masehi, salah satu raja fatsal atau bawahan di masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk, Majapahit. Dalam kitab Negarakertagama disebutkan Candi Surowono berada di Visnubhuvanapura (baca= Wisnubuana-pura), sebuah tempat pemujaan kepada Dewa Wisnu yang terletak di daerah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Candi Surowono merupakan bangunan suci dengan latar belakang keagamaan Hindu.

Candi ini dibangun menggunakan batu andesit berpori dengan pondasi menggunakan bata merah. Orientasi arah hadap candi ke arah barat. Relief yang digambarkan pada candi ini adalah Cerita Arjuna Wiwaha, Bubhuksah-Gagang Aking dan cerita Sri Tanjung Dalam Kitab Negara Kertagama candi ini disebut sebagai Curabhana (baca= Surabhana) yaitu sebuah daerah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Candi Surowono sebagai salah satu obyek wisata Kabupaten Kediri memiliki nilai sejarah yang tinggi. Sayang, bagian yang masih utuh dari candi ini hanya tinggal kaki dan tubuhnya. Bagian atap sudah rusak dan runtuh.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:   Profil Kebudayaan Informasi Nilai-nilai Budaya dan Legenda Kabupaten Kediri. Disbudpar Kabupaten Kediri, Kabupaten Kediri, 2010. 

Air Terjun Irenggolo


Air terjun Irenggolo adalah obyek wisata di Kabupaten Kediri yang terletak di Dusun Besuki, Desa Jugo, Kecamatan Mojo, air terjun ini dikenal memiliki udara yang sejuk dengan pemandangan alam pegunungan yang sangat menawan, tak heran bila di daerah ini banyak didirikan vila-vila peristirahatan. Hijau daun dan warna-warni bunga menghiasi sepanjang jalan di lokasi kawasan wisata ini sampai dengan lokasi air terjun. Gemericik air yang jatuh di trap-trap bebatuan air terjun ini menambah suasana yang alami dan menenangkan jiwa.

Kawasan ini menjadi obyek wisata yang sampai saat ini terus mendapatkan penanganan dan pengembangan untuk menuju kawasan wisata yang representatif. Pada tahun 2004 pengembangannya mulai menyentuh kawasan air terjun Dolo yang akan dijadikan menjadi satu paket tujuan wisata.

Bila para wisatawan berkunjung ke kawsan wisata air terjun Irenggolo tepat pada waktunya, bisa menyaksikan penyelenggaraan  kesenian adat tradisi upacara ritual. Masyarakat Besuki selalu mengadakan kegiatan Nyadran setiap ada hajatan maupun setiap bulan Suro pananggalan jawa. Dengan harapan mendapat perlindungan serta ucapan terima kasih atas limpahan rizki pemberian Tuhan Yang Maha Kuasa. Disamping untuk ngaweruhi penghuni/penguasa Pegunungan Wilis serta untuk mengenang Iro Manggolo sebagai pendahulu/cikal bakal desa tersebut.

Disamping itu juga tetap dilestarikan upacara adat daerah masyarakat yaitu “Sesaji Tirto Husodo”. Upacara Adat Sesaji Tirto Husodo merupakan kegiatan ritual yang dilaksanakan oleh masyarakat di Pegunungan Wilis sisi timur tepatnya berada di Dusun Besuki, Desa Jugo, Kecamatan Mojo dan berlokasi di air terjun Irenggolo. Kegiatan yang dilaksanakan setiap Bulan Sura pada kalender penanggalan Jawa ini dilaksanakan untuk mengenang tokoh cikal bakal desa setempat yaitu Resi Wasis Curigonoto dan untuk memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dibalik keindahan alamnya, air terjun dan kawasan wisata ini juga air terjun Irenggolo memiliki legenda yang sangat menarik untuk diketahui. Yang berkaitan dengan sejarah nama Irenggolo.

Alkisah pada suatu masa, di sebelah barat wilayah Pegunungan Wilis, terdapat sebuah kerajaan yang sangat berambisi menaklukkan Kerajaan Kediri. Raja ini mengirimkan seorang Panglima Perangnya yang sakti mandraguna yang bernama Iro Manggolo.

Sebelum berangkat  ke medan  laga  panglima Iro Manggolo dipesan oleh sang raja agar tidak pulang apabila tidak menuai kemenangan. Kerajaan Kediri  juga memiliki Panglima Perang  yang pilih tanding. Sampai pada akhirnya kedua panglima ini bertemu satu lawan dalam adu kesaktian. Kedua panglima perang ini beradu dengan berbagai ilmu kesaktian dengan berbagai senjata pusaka, pada akhirnya kemenangan di pihak panglima Perang Kediri.

Panglima Iro Manggolo tidak dibunuh dan diberi kesempatan untuk kembali kekerajaanya. Namun Karena merasa tidak dapat menunaikan tugasnya, panglima Iro Manggolo mengasingkan diri (bertapa), di sisi timur lereng Pegunungan Wilis sampai akhir hayatnya. Sisa pasukannya yang setia menjaganya menjadi cikal bakal masyarakat setempat. Untuk menghormati dan mengenang panglima ini masyarakat setempat secara turun menurun menamakan lokasi ini “IRENGGOLO” sesuai nama Panglima Perang yang dikalahkan oleh panglima perang Kerajaan Kediri.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:   Profil Kebudayaan Informasi Nilai-nilai Budaya dan Legenda Kabupaten Kediri. Disbudpar Kabupaten Kediri, Kabupaten Kediri, 2010. 

Budha Empat Muka (Four Faces Budha)

Kenapa kita harus pergi ke Thailand, kalau sekedar untuk melihat Patung Budha Empat Muka (Four Faces Budha), tidak perlu kita harus mengeluarkan uang untuk pergi ke Thailand karena di Surabaya, tepatnya di Pantai Kenjeran Baru yang beralamat di Jl. Sukolilo 100 Surabaya, kita sudah bisa melihat spirit keanggunan secara langsung Patung Budha Empat Muka (Four Faces Budha). Konon patung ini salah satu patung Dewa Empat Muka tertinggi dan terbesar di Dunia.

Patung Budha Empat Muka (Four Faces Budha), yang berada di pantai kenjeran ini berukuran tinggi sembilan meter, keberadaannya di atas lahan seluas 225 meter persegi. Tinggi seluruh bangunan termasuk kubah, mencapai 36 meter. Berhadapan dengan Patung Budha Empat Muka ini, terdapat Sanggar Agung atau Hong Shan Tang, tempat peribadatan umat Tri Dharma, penganut Budha Kong Hu Cu serta Tao. Di Sanggar Agung, bisa kita saksikan patung Dewi Kwan Im tingginya mencapai kurang lebih 20 meter.

Semenjak diresmikannya tempat peribadatan ini, banyak pengujung yang datang untuk beribadah, selain itu ada pula yang berkunjung hanya sekedar ingin tahu sensasi si patung budha raksasa berwajah empat tersebut (Four Faces Budha). Dengan kenyataan ini tempat peribadatan yang dibangun di lokasi Pantai Ria Kenjeran Surabaya ini,  selain sebagai tempat beribadah, sekaligus sebagai lokasi wisata.

Coretan : Siwho

Remo Boletan

Remo Bolelan

Heru Cahyono

Setiap daerah di Jawa Timur mempunyai bentuk kesenian daerah yang dapat menjadi ciri khas suatu daerah. Demikian halnya dengan Kabupaten Jombang, di mana para pemerhati maupun pelaku seni sangat mengenal Jombang dengan kesenian ludruknya. Bahkan bagi masyarakat Jombang juga mafhum kalau cikal-bakal besutan berasal dari Jombang. Hanya saja dibutuhkan sebuah upaya pembuktian secara tertulis bahwa ludruk berawal dari Kota Santri ini. Kenapa hal tersebut harus ditelusuri? Jangan sampai apa yang telah kita miliki diambil oleh orang lain, karena sudah sejak dahulu sampai sekarang para pemain ludruk telah malang melintang menembus batas sebagai seniman tobong atau ludruk gedhong dan menyebar di berbagai wilayah di Jawa Timur.

Dalam sajian sandiwara ludruk selama ini masih dijumpai ciri khas pementasan yang berbeda dengan kesenian lain, yaitu Tari Remo Gaya Putri dan Tari Remo Gaya Pria sebagai pembuka, Bedhayan, Lawak dan Cerita. Rangkaian pementasan tersebut sudah barang tentu menjadikan identitas pertunjukan ludruk, namun berbeda halnya dengan salah satu jenis pementasan ludruk yang ada di Jombang pada sekitar tahun 1970-an, yaitu Tari Remo gaya prianya disebut Gaya Jombangan atau “Tari Remo Boletan”.

Karya tari monumental ini disebut Tari Remo Boletan, karena yang menciptakan tarian tersebut adalah seniman ludruk bernama Sastro Bolet Amenan yang lahir di Tawangsari Tahun 1942. Ia menciptakan Tari Remo Gaya Jombangan yang memiliki karakter gerakan yang santai, tegas dan kuat, karena bertemakan perjuangan sebagai pembangkit dan pengobar semangat untuk melawan penindasan terhadap rakyat.

Di sisi lain tarian ini diciptakan dengan tujuan memberikan suri-tauladan serta dedikasi terhadap khalayak, khususnya bagi generasi muda tentang bagaimana bersikap lembut dan tegas. Ungkapan orang Jawa: ya kendho kenceng, mulur mungkret. Artinya, melihat situasi kondisi yang berlaku namun tetap dalam kepastian kata dan tindakan. Menurut Pak Muji, salah satu seniman yang berguru kepada Pak Bolet Amenan dari panggung ke panggung, bahwa hal yang menjadi ciri boletan sehingga berbeda dengan tari remo gaya Surabayan dan Malangan adalah gerak tariannya tersebut mengadopsi gerak pencak, kuda lumping, dan warok reog Ponorogo.

Teknik yang dimunculkannya menggunakan gerak gecul (lucu) dan sering berjalan layaknya orang tua. serta merakukan dialog dengan pengendang. Selendang warna Hijau (Ijo) dan Merah (Abang), dengan lazim masyarakat menyingkat dengan sebutan nama Jombang, memakai ikat kepala seperti udheng-nya orang Bali.

Perbedaan lain adalah cara ia menyampaikan kidungan beserta parikan-nya, seperti: Nek nang Jombang mampira Sengon, lemah geneng akeh wedhine. Dada gak sambang nek kirima ingon, nek gak seneng apa mesthine. Dan masih banyak lagi parikan yang diciptakan Pak Bolet Amenan. Sewaktu hidupnya ia begitu kreatif dan inovatif, terbukti dari beberapa pementasan ia selalu merubah parikannya. Kenapa parikannya selalu ia upayakan berubah-ubah? Karena sebelum pementasan ia menyempatkan diri mendatangi dusun-dusun maupun desa-desa yang dekat dengan tempat pentas ludruk yang diikutinya dan bertanya kepada warga setempat perihal apa saja persoalan atau kebiasaan yang dilakukan mereka lalu digunakannya sebagai bahan kidungan di kala pentas. Alhasil banyak orang terkejut ketika Pak Bolet menyuarakan apa yang dialami masyarakat waktu itu dalam pertunjukannya. Demikianlah tutur Pak Muji.

Bukan hanya masyarakat Jombang yang mengenal pemain yang serba bisa ini, tetapi juga masyarakat Jawa Timur, khususnya yang tinggal di dese-desa. Bolet telah berkeliling njajah desa milang kori sehingga ia hidup di hati orang banyak sejak tahun 1970-an. Dari sekian hal tersebut kiranya dapat disimpulkan bahwa tari remo ciptaan Pak Bolet berbeda dengan tari remo gaya yang lain, walaupun ada upaya untuk menciptakan tari remo Gaya Mojokertoan yang dilakukan oleh Ali Markasa, si peremo asal Jombang. Namun bagi kalangan seniman dan pemerhati ludruk, bahwa gaya tersebut belum layak disejajarkan dengan gaya terdahulu. Karena remo kreasi Ali Markasa masih banyak diwarnai gaya Jombangan. Begitulah cerita Drs. Eko Edy J. Susanto, M.Si, pemerhati yang pernah menulis tesis tentang manajemen ludruk sekaligus pimpinan ludruk Karya Budaya dari Jetis, Mojokerto.

Menurut Nasrul Ilahi, seorang pengamat seni dan budayawan Jombang, Boletan merupakan karya tari yang ekspresif dan inovatif. Wiraga, wirama dan wirasa yang disuguhkan dalam Ngremo Pak Bolet merupakan pancaran jiwanya. Seperti karya “Potret Diri” sang pelukis maestro Affandi, yang tidak pernah saran hasil lukisannya, dan itu bergantung pada suasana jiwanya. Maka remo Pak Bolet dapat dikatakan lebih dari itu. “Karya ‘Potret Diri’ Affandi merupakan karya individual. Sedangkan remo Pak Bolet merupakan karya kolektif, yang dalam melahirkannya membutuhkan kerjasama dan interaksi dengan unsur maupun pendukung lain,” kata Nasrul.

Pak Bolet memang bisa dibilang cukup menguasai dasar-dasar tari remo. Tari remonya memiliki gerakan lucu dengan tetarian yang tegas. Bisa jadi hal ini merupakan pengaruh dirinya adalah juga pelawak. Dalam keikutsertaannya sebagai pelawak pada suatu kelompok ludruk, ia lebih dikenal dengan nama Bolet. Mulanya, di suatu malam, ketika ia mengikuti Ludruk Arum Dalu manggung, ada penari remo dari ludruk ini yang tidak datang. Sehingga, dengan sangat terpaksa, Pak Bolet diminta untuk menggantikannya. Sementara, Ludruk Arum Dalu, tidak punya cadangan peremo yang handal.

“Dasar pelawak, ketika ngremopun tetap nglawak. Pak Bolet naik pentas dengan gaya ngglembosi (malas-malasan) dan tanpa baju, tentu saja mengundang gelak tawa penonton. Sebab, belum pernah ada peremo lain yang semacam itu,” ujar Asmuni, tokoh Srimulat. Bolet tetap melanjutkan ngremonya antara lupa dan ingat, namun ngremo dengan mantap tanpa mengabaikan dasar-dasar remo yang dimilikinya. Sejak saat itu, Ngremo Gaya Boletan lahir dengan kreasi inovatifnya dan muncullah Ngremo Jombangan yang di kemudian waktu menjadi sangat monumental.

Pak Bolet meninggal di usia 34 tahun, pada 15 Agustus 1976, dan dimakamkan di Tawangsari. Ia merupakan salah satu seniman yang turut mengharumkan nama Jombang bahkan Jawa Timur dengan kreasi remonya tersebut. Sebelum tahun 1965, seniman ini menjadi anggota Ludruk Gaya Baru. Setelah tahun 1968, ia menjadi pelawak dan peremo yang menghadirkan wacana kebebasan dan mewadahi berbagai bentuk kesenian yang ada di Jombang menjadi satu pertunjukan utuh. Prestasi yang dicapai antara lain pada tahun 1971, ia memeroleh juara I Lomba Tari Remo se Jawa Timur, setelah setahun sebelumnya menjadi Juara III tingkat Kabupaten Jombang.

Karya remo Pak Bolet memang patut dihargai. Karena itu, pada tahun 2007, ia mendapatkan penghargaan dari Gubernur Jawa Timur, tandas Drs. H.M. Arifin, MM., mantan Kepala Kantor Parbupora Jombang dan pengamat seni. Jejak Pak Bolet terus dinapak-tilasi para seniman tari maupun ludruk lainnya. Hal tersebut dapat dibuktikan ketika diselenggarakan Lomba Tari Remo se-Jawa Timur pada tahun 2004, terdapat 8 peremo ludruk Jombang yang masuk dalam 10 besar, dan 3 diantaranya meraih Juara I, II, dan III. Mungkin saja Jombang tidak kekurangan peremo yang handal, baik dari kalangan ludruk maupun dari sanggar seni tari. Namun kalau mencari yang sekualitas Pak Bolet masih sangat susah.

Ngremo Pak Bolet begitu ekspresif, dinamis, dan kreatif. Ia memiliki spontanitas tinggi. Kalau potensi peremo tidak tergarap, maka yang terjadi hanyalah bentuk karya seni yang biasa-biasa saja. Jangan sampai setengah-setengah atau dengan kata lain cukup merasa puas dengan apa yang kita raih selama ini, namun perlu kiranya mengetahui dan mempelajari bagaimana serta kenapa karya Pak Bolet menjadi sebuah karya tari yang monumental dan berciri khas nilai-nilai kedaerahan. Moerbangun, salah seorang putra almarhum Pak Bolet, menyampaikan terima kasih atas penghargaan dan perhatian terhadap seniman lokal seperti ayahnya. “Sebagai anaknya, kami sangat senang dan bangga dengan karya beliau yang sampai sekarang masih diperhatikan serta digandrungi oleh banyak pihak. Mudah-mudahan di masa depan lahir seniman-seniman sekaliber Pak Bolet bahkan lebih dari apa yang telah dilakukan oleh Bapak untuk lingkungannya, terlebih bagi Jombang,” ujar Moerbangun suatu hari.

Dalam kehidupan yang penuh suka duka dalam bidangnya, Pak Bolet Amenan dikaruniai tiga orang anak, dua anak lainnya adalah Sri Rakyati dan Marheni. Ia meninggalkan kepada anak cucunya remo boletan sebagai cermin seni budaya Jombang yang kreatif•

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit–Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Jombangana: Jurnal Sastra dan Budaya, Dewan Kesenian Jombang, Komite Sastra, edisi 2 /TH II/2011.