Gereja Tua Puh Sarang

Refleksi Diri di Gereja Tua Puh Sarang
Natal adalah saat yang tepat bagi umat kristiani untuk merefleksi diri seraya menyambut hari yang disucikan. Untuk acara tersebut tidak ada salahnya anda mencoba unhlk melakukannya di gereja tua yang terletak di daerah Puh Sarang, kota Kediri. Gereja Tua Puh Sarang terletak di Gunung Klotok, Lereng Gunung Wilis, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, 6 km dari Kota Kediri. Gereja ini dibangun tahun 1936 dan sudah mengalami beberapa renovasi. Namun dalam rentetan inovasi tersebut, bentuk asli gereja masih terjaga. Altar Gereja dari batu Massif yang beratnya mencapai tujuh ton dan berhias pahatan rusa, altar luar berbentuk stupa borobudur, menara berbentuk candi Bentar, pendopo, perangkat gamelan, tabernakel batu dengan disain batuterguling, makam dan lain-lain, masih bisa ditemui di Gereja tersebut. Bentuk-bentuk yang mengagumkan ini, tak terlepas dari tangan dingin Ir. H. Maclaine Pont (1884-1971), arsitek berkebangsaan Belanda yang lahir di Meester Comelis (Jatinegara). Ketika mulai mendisain gereja ini, ia tak lupa memasukkan unsur budaya lokal. Maklum, sebagai arsitek, Pont sangat mengagumi situs-situs penting di Jawa, salah satunya Mojopahit di Trowulan.

Sampai renovasi terakhir, gereja ini memiliki luas sekitar 6,5 hektar. Di dalam kompleks Poh sarang, terdapat beberapa hal yang unik yang seiring waktu banyak dilirik wisatawan dari dalam dan luar negeri. Pertama, Gereja yang antik. Gereja ini diwarnai dengan unsur bentangan kawat baja sebagai ganti reng dan usuk untuk atap gereja. Dalam gereja, terdapat relief-relief batu tentang lambang-lambang penulis injil. Selain gereja, di kompleks Ziarah Katolik Puh Sarang ini ada tiga patung Bunda Maria. Patung pertama ada di Gua Maria di samping kiri Gereja Puh sarang. Dulu, Patung ini pernah dicuri dan dibuang, beruntung patung ini akhirnya bisa ditemukan dan kembali dipajang di Gua Maria. Patung Kedua di dekat Gedung serba Guna, sedangkan yang ketiga di Gua Maria Lourdes.

Keheningan yang Menyentuh
Saat kaki melangkah masuk ke gereja Puh Sarang, maka kita akan menapaki anak tangga terbuat dari batu di antara lengkungan gapura, rasanya seperti masuk bangunan candi. Pada bagian tengah terdapat gapura mirip gapura Candi Bentar. Namun yang khas di sini ialah bahwa di atasnya terpasang lonceng, sehingga gapura itu berfungsi sekaligus sebagai menara lonceng. Di puncak gapura terdapat ayam jago, seperti yang biasa terdapat dalam menara gereja. Di sana ada relief yang menggambarkan ketika Adam jatuh ke dalam dosa. Sayang relief tadi tidak kelihatan karena ada di atas. Maka orang menyebut gapura yang berfungsi sebagai menara dengan sebutan St. Henricus.

Di halaman luar, sebelum masuk gereja, terletak di sebelah kanan terdapat rumah untuk menyimpan gamelan. Gamelan itu dulu kala digunakan untuk mengiringi misa dan sendratari yang sering diadakan pada awal berdirinya gereja. Di halaman gereja terdapat patung kristus Raja, yang seolah-olah ingin menyambut para peziarah untuk masuk ke gereja. Di atasnya terdapat tiang batu dimana terdapat Perahu Nabi Nuh. Daya tarik Puh Sarang tidak hanya itu tapi juga Gua Bunda Maria Lourders dengan Patung Bunda Maria yang “tingginya mencapai 3,5 meter yang dibangun, tahun 1999, mirip dengan Gua Maria Lourders di Perancis. Namun juga perhatiannya tertuju pada replica jalan Salib, serta pondok Rosario yang khusus disiapkan khusus peziarah untuk berdoa rosarion tiga pondok ini dibuat berdasar misteri hidup Yesus Kristus yang direnungkan dalam doa, yakni Peristiwa Gembira, Peristiwa Sedih dan Peristiwa Mulya.

Setiap malam Jumat legi banyak peziarah yang datang tirakatan dan Misa Novena kalau hari libur yang datang ke sini bukan hanya umat Kristiani, tapi juga warga masyarakat yang ingin melihat Gua Bunda Maria dengan Patung Bunda Marianya yang indah itu, kata .. (50), petugas kebersihan Puh Sarang.

Salah satu pengunjung keluarga Jimmy (Malang) datang berziarah karena sebelumnya anak mereka berdoa di hadapan patung bunda Maria seraya berujar jika dia kelak menang untuk cabor renang dalam PORPROV 2011. Ternyata, anaknya berhasil menggondol medali emas untuk renang 200 meter dan medali perak untuk 400 meter, maka mereka sekeluarga pun memenuhi janji untuk berdoa dan mengucap syukur atas terkabulnya doa mereka.

Gua Maria Lourdes
Kurang Lebih 100 meter dari Pendopo Emaus, kita bisa melihat Gua Maria Lourdes. Gua ini dibangun pada 11 Oktober 1998, didesain menyerupai Gua Maria Lourdes di Prancis, tingginya 18 meter. Gua yang diresmikan pada tangga12 Mei 1999 dihiasi patung Pieta, yang digambarkan Bunda Maria sedang memangku Yesus ini serupa dengan patung yang terdapat di Basilika St. Petrus, Roma.

Di depan Gua Maria Lourdes terdapat tanah lapang yang mampu menampung ribuan jamaah. Di tempat peziarah ini pulalah diteruskan tradisi ziarah Katolik, berupa Misa Novena Maria setiap hari Minggu di pekan pertama atau kedua tiap bulan, dan misa Tirakatan malam Jumat Legi, yang sangat khas bagi masyarakat Katolik Jawa.

Bumi Perkemahan Bukit Tabor
Berkemah sambil berziarah tampaknya bisa menjadi salah satu alternatif pilihan liburan rohani, selain menghilankan kepenatan, wisata camping religi juga dapat meningkatkan olah rohani dan kepribadian. Di Puh Sarang, wisata perkemahan dapat dilakukan di Bukit Tabor yang merupakan Camping Ground Area. Lokasi ini berada didekat tempat Ziarah Gua Maria Luordes Puh Sarang. bumi perkemahan ini dapat digunakan oleh semua kelompok baik Pramuka, muda-mudi, Pencinta alam, maupun masyarakat umum. Bumi Perkemahan Bukit Tabor diresmikan tanggal 8 Oktober 2000 oleh Bapak Uskup Johanes Hadiwikarta, Pr.

Daya tarik yang lain yang bisa ditemui di tempat ini adalah Jalan Salib Bukit Goigota. Jalan Salib ini diresmikan pada hari Minggu 28 Mei 2000. Pengerjaan jalan salib ini memakan waktu kurang lebih 2 tahun. Tempat ini terdapat diorama patung mulai dari stasi 1 yaitu saat Yesus dijatuhi hukuman mati, sampai pada stasi 15 yaitu saat Yesus bangkit. Pada setiap stasi disediakan tempat untuk berdoa dan pada setiap peristiwa ditempatkanlah patung-patung besar sesuai peristiwa yang terjadi. Jalan Salib ini memutar dan cenderung naik jalannya mengingat daerah Puh Sarang berada di lereng gunung. Bagi orang tua, jalan ini sedikit menyiksa, kalau kita masih muda mungkin tak masalah.

Taman Hidangan Kana
Untuk mendapatkan perlengkapan ziarah maupun sekedar oleh-oleh khas Poh Sarang, wisatawan dapat mengunjungi taman hidangan Kana. Di tempat ini pengunjung dapat menjumpai aneka keperluan ziarah, serta beragam buah tangan yang ditawarkan oleh sekitar 50 kios. Kios-kios tersebut saat ini sudah terorganisir rapi dan berada dalam satu kawasan, sehingga memudahkan pengunjung untuk berbelanja. Kawsan belanja religi ini juga diresmikan oleh Uskup Johanes Hadiwikarta pada 26 Januari 2001.

Wisma Betlehem
Bagi pengunjung yang ingin bermalam, di lokasi wisata Puh Sarang juga tersedia penginapan Wisma Betlehem. Namun wisma ini tidak dipergunakan untuk acara retret, seminar maupun kerohanian lainnya, mengingat hanya terdiri dari kamar-kamar sederhana tempat peristirahatan. Wisma ini memiliki fasilitas sekitar 24 tempat tidur standart dan 30 kamar VIP. Selain itu di tempat peristirahatan ini juga terdapat kafetaria yang menyediakan beragam hidanngan makanan.

Gereja kuno nan antik Santa Maria Puh Sarang yang berada di kaki gunung Wilis, tepatnya, di Desa Puh Sarang, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, kini bukan lagi sekadar tempat beribadah dan berziarah umat Kristiani, namun menjadi tempat wisata dengan Gua Bunda Marianya yang menawarkan keelokan dan keindahannya. Salah satu wujud perhatian dan kepedulian Puh Sarang untuk penduduk setempat adalah meminjamkan kios-kios makanan, minuman dan souvenir kepada mereka secara gratis yang berada di Taman Hidangan Kana, di Kompleks Wisata Religi Puh Sarang• 

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Prasetya, Buletin Bulanan, Sumber Inspirasi Birokrasi, Volume III, No. 36, Desember 2011.

Tancak Kembar, Bondowoso

Tancak Kembar di Bondowoso (seperti) masih menyimpan misteri. Terlebih setelah objek wisata alam beruwujud air terjun kembar itu dinyatakan ditutup sejak September 2002. Kendati demikian, keindahannya masih bisa dinikmati. Cuma, harus ekstra hati-hati. “Kalau ke sana jangan sendirian. Ajaklah teman,” pesan Kepala Dinas Pariwisata (Kadisparta) Kabupaten Probolinggo, Wasita Rahardja, menanggapi niat Jatim News menapaki air terjun tersebut. Ada apa sebenamya? Saat memasuki wilayah kabupaten seluas 156.010 ha, berpenduduk 662,559 jiwa itu, yang terlintas kali pertama di benak adalah makanan khasnya, tape singkong.  Setelah putar-putar, ketahuanlah, “kabupaten tape” ini ternyata memiliki sejumlah aset berupa objek wisata alam yang bernilai jual tinggi. Salah satunya, air terjun Tancak Kembar di Desa Andungsari, Kecamatan Pakem. Air terjun berketinggian 77 meter ini tergolong unik. Pasalnya, terdiri atas dua “unit” air terjun yang berjajar, berjaraknya sekitar 20 meter. Kubangan yang dihasilkan air terjun kembar itu juga tidak menyatu, sehingga menambah kuat julukan kembarannya. Selain itu, aura keindahannya semakin terpancar dengan bertebarnya bebatuan kecil dan besar yang dilapisi lumut tebal. Kejernihan airnya yang dingin juga memperkuat nilai keunikan objek wisata alam ini.

Sayangnya, untuk menikmati keindahan dan keunikan Si Kembar ini, relatif tidak mudah. Apalagi saat musim hujan. Ancaman bencana tanah longsor dan banjir seolah mengintip perjalanan wisatawan. Maka menjadi tidak aneh jika Kadisparta setempat sampai wanti-wanti agar ekstra hati-hati saat menikmati keindahan air terjun kembar itu. Paling ideal untuk berwisata ke sana memang saat musim kemarau, Pesan Kadisparta itu sama sekali tidak bermaksud menakut-nakuti. Dari pusat kota Bondowoso, jaraknya boleh dibilang tak terlalu jauh, Hanya sekitar 23 km, ke arah barat.

Namun, rute yang harus dilalui penuh dengan tantangan, dan siap menguji mental wisatawan. Bila berangkat dari kawasan kota, akan  melewati jalan raya beraspal mulus menuju ke arah Besuki, sekitar 9 km. Selanjutnya melintasi jalan desa (beraspal) sejauh 12,5 km. Di sanalah tantangan dimulai. Badan jalan sempit, berkelok-kelok, dan menanjak tajam karena kemiringannya sekitar 80 derajat. Berarti kondisi sarana transportasi harus prima. Sampai di ujung jalan desa beraspal, perjalanan memasuki jalan setapak, cukup hanya untuk satu sepeda motor saja, sejauh sekitar 2 km. Kawasan bertebing curam yang seharusnya ditumbuhi pepohonan ini sudah beralih fungsi menjadi areal persawahan.

Sangat mungkin terjadinya bencana tanah longsor bila musim hujan. Sesampai di lokasi, rasa capek akan disapu hawa sejuk dari percikan air terjun kembar itu. Keindahannya spontan melahirkan ketakjuban siapa pun yang menikmatinya. Namun, sekali lagi, tetap harus waspada. Jika langit mendung, bergegaslah meninggalkan objek wisata itu, senyampang belum terjebak hujan. Bisa gawat. Kadisparta Wasito Rahardja mengungkapkan, aset wisata tersebut sebenamya sudah pemah dikelola pemkab setempat. Sejumlah fasilitas penunjang berupa jembatan, kamar mandi dan area parkir kendaran di sekitar lokasi juga sudah dibangun. Bahkan, untuk membawa kendaraan roda empat pun dahulu sangat memungkinkan. “Dulu mobil juga bisa masuk,” tandasnya, meyakinkan.

Keadaan berubah setelah pemerintah pusat memutuskan menutup titik-titik rawan bencana alam. Tragisnya, alam pun “memutuskan menutup” objek wisata itu lewat bencana tanah longsor yang menimbun badan jalan. Sekarang lebar badan jalan menyempit drastis. Fasilitas bangunan juga rusak lantaran tidak terawat. Ya sudah, wassalam. Lantas, apa ada rencana Disparta alas objek wisata air terjun itu ke depan, terkait dengan adanya Pusat Penelitian Kopi Arabica seluas 180 ha di kawasan tersebut? Wasito menjawab, “Ya menunggu sampai tempat itu aman.” Ya, menunggu, sampai kapan? Rosi

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Jatim News, Tabloid Wisata Plus, EDISI 35, 21 Juni-09 Juli 2004, Tahun II

Gunung Raung, Bondowoso

Gunung Raung, Pesona Keajaiban Bondowoso

Kilatan halilintar semakin menambah indahnya puncak Gunung Raung. Gunung api aktif strato tipe A ini berada bersebelahan dengan kawasan kaldera Gunung Ijen, berketinggian 3.332 meter di atas permukaan laut. Terletak 8.01′ 30″ Lintang Selatang dan 114.02′ 30″ Bujur Timur, tepatnya di Desa Raung, Kecamatan Sumberwringin, Kabupaten Bondowoso. Raung sangat alami dengan hutan yang lebat. Inilah objek wisata yang menarik wisatawan, khususnya para pendaki dan pecinta lingkungan. Semboyan hutan yang harus tetap dipertahankan, merupakan modal bagi siapa saja saat mendaki ke puncak diyakini, hutan dan gunung adalah kekayaan alam.

Mendaki ke puncak Gunung Raung agak sulit, tetapi menyenangkan. Waktu yang dibutuhkan sekitar 12 jam. Menelusuri hutan, lembah, jurang, dan ngarai yang membentang di sisi kanan-kiri jalan setapak. Bagi kalangan petualang, bisa dijamin merupakan pengalaman yang tak akan terlupakan. Wisatawan yang mempunyai hobi berat hiking dan climbing menemukan “surganya” di Raung. Kepenatan hilang saat menikmati indahnya bunga anggrek hutan dan suara aneka satwa bersautan. Realitas itu makin menggelitik minat untuk terus maju, mendaki.

Pesona Raung terasa masih menyimpan misteri dan keajaiban. Konon, zaman dahulu kawasan ini sering dipakai oleh kalangan yang mengasingkan diri bertapa. Hutan Gung liwang-lewung (amat lebat). Cocok untuk bermeditasi. Dibandingkan dengan Ijen, Raung lebih memiliki kelengkapan satwa dan flora. Hanya saja Raung belum sepopuler Kawah Ijen. Lazimnya wisatawan yang datang adalah penggemar olah raga mendaki. Wi satawan mancanegara yang datang masih didominasi Perancis dan Belgia. Komentar mereka ihwal Raung nyaris seragam: sangat manarik dan jaga kelestariannya. “Hutan adalah sebagaian dari nafasku”, kata wisatawan asal Perancis, Jeanne Litz, saat menapaki kemolekan Raung.

Sangat menguntungkan apabila cuaca cerah. Puncak gunung diselimuti asap. Bukan berasal dari kebakaran, tapi gerakan alam awan yang mengitari gunung ini. Perhatikan panorama ajaib di sekitar lembahnya yang berwarna kuning keemasan. Sungguh, ada sejuta potensi di sana. Di lerengnya juga terdapat tiga buah air terjun yang berketinggian rata-rata 25 meter. Namanya, Air Terjun Lereng Raung. Jarak air terjun satu dengan lainnya agak berjauhan, sekitar 1,5 km. Saat berjalan menyusuri sungai, pastilah wisatawan sesekali menarik nafas dalam-dalam, karena bau semerbak durian matang di pohonnya.

Waspada Rute, perjalanan menuju Gunung Raung dari Surabaya, diawali menuju Bondowoso (191 km) dengan kendaraan umum. Tak masalah. Bondowoso menuju Pesanggrahan Sumberwringin dapat menggunakan kendaraan roda empat. Badan jalannya beraspal. Pesanggrahan Sumberwringin di Desa Raung yang dikelola Pemkab Bondowoso, merupakan bangunan peninggalan kolonial Belanda. Di sinilah pos pendakian atau akomodasi terakhir bagi wisatawan sebelum mendaki. Kondisi bangunan buatan tahun 1816 itu agak rusak. Atapnya (seng) rapuh, tembok mengelupas, bahkan ada yang retak. Tetapi tempat ini menyenangkan, berhawa sejuk, dan ada sumber air yang jernih. Pengunjung pasti oke-oke saja menginap di sini.

Dari Sumberwringin perjalanan dilanjutkan ke Pondok Motor, jaraknya 7 km. Jalan aspal 2,5 km, berbatu 4,5 km, kendaraan bermotor roda empat masih bisa melaju. Pondok Motor-Pondok Sumur menuju arah barat daya. Hingga ketinggian 1.300 meter dpl melalui lahan tegal sepanjang 0,5 km dengan kemiringan lereng bekisar antara 10-20 derajat. Sampai ketinggian 1.600 meter badan jalan mulai menyempit melalui hutan pohon cemara. Pendakian mulai sulit dengan kemiringan 20-30 derajat. Sebagian bad an jalan tertutup semak belukar. Perjalanan baru mencapai Pondok Demit setelah memasuki hutan pakis dan padang rumput seluas 0,25 km. Dari Pondok Demit berlanjut ke Pondok Mayit, butuh waktu empat 4 jam. Di sini bisa istirahat. Malah sebaiknya bermalam. Baru esok harinya menuju puncak Raung, menapaki kemiringan 20-30 derajat, butuh waktu sekitar satu jam.

Tips Mendaki. Jangan lupa melapor dan mengisi buku tamu di Pesanggrahan. Tunjukan identitas atau surat jalan. Siapkan perbekalan. Jaga kekompakan. Jangan mengganggu satwa apapun. Sebaiknya membawa peralatan komunikasi dan peta. Jangan lupa, padamkan setelah membuat api unggun. Selesai pendakian harus kembali melapor ke pos. Jika terjadi musibah, hubungi Frekuensi 148.000 Mhz atau 320 Mhz. Sungguh, puncak Raung menyimpan pesona. ( GM )

Revitalisasi Ampel

Revitalisasi Ampel, Obsesi Besar Surabaya

Revitalisasi kawasan Ampel sebagai objek wisata religius dicanangkan rampung Juli 2004.  Pas dengan even City Expo Indonesia. Saat itulah Ampel dipamerkan kepada para walikota dan bupati se Indonesia, tatkala mereka mengikuti serangkaian acara di  Surabaya, 31 Juli-8 Agustus. Sebelum itu, 26 Juni – 26 Juli, digelar Ampel Internasional Festival Surabaya.  Dijadwalkan dibuka oleh Presiden RI, dan dihadiri sejumlah kepala negara sahabat plus public figure dunia.  Sungguh, sebuah obsesi besar Surabaya..

Berbagai cara dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk mengembangkan potensi objek pariwisatanya. Satu di antaranya, penataan kawasan Ampel sebagai objek wisata religius. Bisa dipahami, karena Ampel sarat nilai sejarah, meski kesan semrawut masih mencuat. Justru karena itulah program revitalisasi Ampel perlu dikebut. Program dimaksud meliputi pemindahan pedagang kaki lima (PKL) di Jl. Nyamplungan dan Jl. KH Mas Mansyur ke eks Kantor Dinas Peternakan, pembangunan lahan parkir, dan pembangunan gapura.

Program itulah yang dicanangkan rampung Juli 2004. Adalah fakta, Ampel memendam potensi besar yang belum tergali maksimal. Banyak penziarah ke makam Sunan Ampel. “Sayang jika tidak dimanfaatkan dengan maksimal,” ungkap Drs. Juli Subianto MM, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Infokom Pemkot Surabaya. Selain itu, Ampel belum pernah disentuh pembangunan sejak 1945. Tak pelak infrastruktur di kawasan itu perlu dibenahi. Contoh, deretan bangunan (gedung) berarsitektur Eropa klasik dan Arab di sepanjang Jl. KH Mas Masyur. Pengembangan atas kawasan tersebut sudah pasti harus mempunyai nilai ekonomis, “Percuma membangun tapi tidak meningkatkan  pendapatan masyarakat,” ucap Ir Tri Risma Harini MT, Kepala Bagian Bina Pembangunan Pemkot Surabaya, Cara yang dilakukan dalam program pengembangan wisata religi adalah revitalisasi kawasan Ampel, Dia mengaku optimistis program revitalisasi itu terwujud mulus, “Kya-kya kami bangun hanya dalam waktu dua minggu,” ucap konseptor revitalisasi Ampel itu.

Semrawut Parah
Gus Azim, putra KH. Nawawi Muhammad (ta’mir Masjid Ampel), menyatakan mendukung program revitalisasi kawasan religi Ampel “Saya mendukung dalam artian pembenahan. PKL yang memadati kawasan religi Ampel memang perlu diatur. Banyak jamaah masjid yang mengeluh. Keluhan itu disampaikan ke ta’mir masjid,” ungkapnya. Menurut dia berdagang di atas trotoar haram hukumnya, karena merupakan chakkuttoriq (hak untuk berlalu lintas). Namun itu bukan berarti pengurus masjid tidak menyukai kehadiran para PKL. Hanya saja perlu pengaturan barang dagangan. Memang, PKL disepanjang Jl. KH Mas Mansyur dan Jl. Nyamplungan merupakan salah satu aspek yang harus ditata untuk mewujudkan kawasan Ampel sebagai target wisata. Tentu bukan hanya PKL. Para penziarah yang sebagian besar menggunakan bus dan memarkir di sepanjang ruas badan jalan juga menganggu arus lalu lintas. PKL dan bus-bus penziarah seolah-olah berlomba menutupi badan jalan Jl. KH. Mas Mansyur dan Jl. Nyamplungan. Maklum, tidak ada parkir khusus bus. Dampaknya, jelas bikin semrawut. Diperparah lagi truk-truk parkir yang memakan nyaris separuh badan jalan tersebut. Angkutan umum dan aneka kendaraan pribadi yang melintasi jalan tersebut harus waspada. “Setiap malam Jumat, apalagi malam Jumat Legi, jumlah bus yang diparkir mencapai tiga kali lipat. Pengendara sepeda motor pun tak sedikit yang parkir di gang-gang perkampungan. Akibatnya warga tidak dapat memarkir kendaraannya sendiri,” ucap Agus Sodhikin, warga Gang Ampel Rachmad.

Suasana di sepanjang gang sempit menuju ke Masjid Ampel tak jauh beda. Para pejalan kaki yang melewati gang sempit (selebar 1,5 meter) harus melewati deretan PKL. Mereka (PKL) tidak hanya menjual barang yang “bernafaskan” Islam seperti mukena dan baju koko, topi  juga kaset dan aksesoris yang tidak beraroma religius. Umumnya PKL menjajakan barangnya di atas papan yang berada di sepanjang jalan. Deretan pengemis di sepanjang gang tersebut seolah menyempumakan kesemrawutan kawasan Ampel. Pendek kata, parah. Jauh dari tertata. “Pernah suatu ketika ada penduduk meninggal dunia, jenazahnya tidak bisa diusung melewati gang karena disesaki PKL,” ucap Gus Azim. Menurut Kabag Bina Pembangunan, pihak pemkot hanya memberikan dome di atas dagangan PKL. Saat ini, PKL menutup dagangannya dengan terpal. Itu berarti barang dagangan yang kebanyakan bernafaskan Islam tidak akan dipindahkan. “Toko itu permanen. Tidak bisa dipindahkan,” tambahnya. Sedangkan untuk lahan parkir, eks Kantor Dinas Peternakan akan dipermak. Lahan seluas 1,5 hektare itu mampu menampung sekitar 35 unit bus.

Mulai akhir Juni ini direncanakan pavingisasi. di lahan yang ditumbuhi ilalang dan pohon-pohon yang menjuntai tinggi. Pohon-pohon besar yang berada di area itu tak akan ditebang, agar tetap teduh. Hanya ilalang yang dibersihkan. Di belakang eks-Kantor Dinas Peternakan terdapat kandang babi seluas 6.000 m². Di antara eks-gedung kantor itu dengan kandang babi terbentang dinding setinggi enam meter. Dinding pemisah itu akan dihancurkan untuk memperluas areal lahan wc umum dirancang mobile seperti di Kya-kya juga akan disediakan di kawasan objek wisata religius itu. Pembangunan lahan parkir yang dianggarkan Rp800 juta, butuh waktu sekitar dua bulan. Dana tersebut berasal dari APBN, karena lahan tersebut kerlak digarap pemerintah pusat. PKL sepanjang Jl. Nyamplungan dan Jl. KH Mas Masyur akan dipindahkan di eks-laboratorium Dinas Peternakan. Gedung berlantai dua seluas 2.000 m² itu akan ditempati sekitar 340 PKL. Di luar itu, pemerintah pun akan membangun lokasi (gedung) baru untuk PKL. Pengamatan Jatim News sebulan ini, jumlah lokasi PKL akan ditambah dari dua menjadi tiga. Saat ini masih dalam proses pembangunan.

“Perbaikan gedung untuk PKL menghabiskan dana sekitar Rp1,5 miliar. Juli nanti pasti telah siap,” ucap Risma. Dananya dari APBD Pemprop Jatim. Di area eks-kantor dinas itu kini telah dibangun showroom untuk produk kerajinan dan wisata belanja Surabaya. Kelak, PKL yang menempati lahan tersebut dikenakan biaya sewa. Pemkot memberikan fasilitas listrik dan air. Ihwal tersebut sudah disosialisasikan pada PKL, dan mereka menyatakan tidak berkeberatan. Tak hanya di situ proses pembangunan kawasan  wisata Ampel dilakukan. Di antara Jl. Nyamplungan dan Jl. KH . Mas Mansyur telah terbentang gapura sepanjang 17 meter, setinggi lebih 8,5 meter. Gapura yang dibangun sejak Februari lalu itu berbentuk setengah lingkaran, perpaduan unsur arsitektur Jawa kuno dan Arab. Dibagian atas gapura terukir kalimat Kawasan Wisata Religi Sunan Ampel.

Semarak Festifal
Revitalisasi bukan satu-·satunya proyek yang sedang dikembangkan di Ampel. Diagendakan pula 26 Juni -26 Juli ini digelar Ampel Internasional Festival Surabaya. Berbagai format acara telah dirancang. Mulai dari pembukaannya yang dijadwalkan dilakukan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri, kemudian Dzikir Nasional, Ampel Expo, Bedah Buku Sunan Ampel, Orasi Pemimpin Islam Dunia, hingga Ampel International Poetry Festival, dan seabrek acara lainnya. Beberapa tokoh pemimpin Islam tingkat dunia akan hadir. Tak tanggung-tanggung panitia menghadirkan Mahathir Mohammad, Yasser Arafat, dan Sultan Hassanal Bolkiah dari Brunei. “Kami bekerjasama dengan Kedutaan Besar Negara Malaysia, Irak, Mesir. Merekalah yang mempermudah melobi tokoh-tokoh besar Mahathir dipastikan hadir. Sedangkan Yasser Arafat dan Sultan Brunei masih dalam konfirmasi ,” ungkap Drs. Surya Aka, Manager Humas.

Lewat kerjasama dengan Kedubes diharapkan para wisatawan mancanegara semakin mengetahui kebesaran Sunan Ampel. Selain itu, festival yang bersifat budaya, pariwisata, dan agama tersebut diharapkan mampu membawa nama Surabaya ke kancah internasional. Lokasi Ampel yang sempit mengakibatkan hanya sebagian saja acara yang diadakan di kawasan religius itu. “Sebagian besar acara tak dapat dilaksanakan di Ampel, karena terlalu sempit untuk pelaksanaan. Festival Ampel yang besar Mungkin baru tahun depan bisa,” lanjut  Aka Mengembangkan Ampel sebagai objek wisata religius memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Namun, apabila program pengembangan wisata tersebut berhasil, Surabaya akan mempunyai satu tempat wisata yang sangat layak dikunjungi, dan objek itu pasti Ampel! naskah dan foto: Alida

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Jatim News, Tabloid Wisata Plus, EDISI 35, 21 Juni – 09  Juli 2004, Tahun II.

Artikel terkalit:
– Nasi Kebuli & Jus Kurma, Ampel Surabaya
Bong Ampel
Masjid Kuno Jawa Timur: Masjid Sunan Ampel, Surabaya
Sunan Ampel
Pesona Timur Tengah, di Kampung Ampel
Khidmat Ampel Ramadhan
Roti Maryam dan Gule Merah, Wah!

Telaga Ngebel, Ponorogo

Telaga Ngebel, Pesona Kala Senja

Laporan: ABI/DJUP/FER
Di bawah naungan awan-gemawan Telaga Ngebel, Kabupaten Ponorogo, memang asyik dinikmati. Lebih-lebih di kala senja yang temeram, di saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat, terlihat cahaya kemerahannya di horizon telaga yang tepiannya berjajar pepohonan teduh nan asri dan luas. Lokasi telaga ini sekitar 24 km ke arah timur laut dari pusat kota Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Tepatnya berada di Gunung Wilis dengan ketinggian 750 meter di atas permukaan laut, dengan suhu sekitar 22 derajad celcius. Jalan menuju lokasi Telaga Ngebel tidaklah sulit. Selain banyak penunjuk arah yang membimbing pengunjung, akses jalan beraspal sangat memudahkan kendaraan yang melintas. Bisa melalui jalan raya Madiun-Ponorogo ke arah timur, atau bisa juga mulai dari jantung kota Ponorogo. Paling enak mencapai telaga ini tentu saja dengan menggunakan mobil pribadi. Berada di ketinggian 750 di atas permukaan laut, diperlukan kelincahan mengemudikan kendaraan, karena akses jalan menuju ke telaga ini cukup sempit dan terjal. Jika kemampuan mengemudi di pegunungan belum terlalu mahir harap berhati-hati karena banyak tikungan menanjak dan berkelok-kelok.

Telaga seluas 160 hektare ini menawarkan panorama yang sangat indah dan menakjubkan. Walau sarat dengan mitos, setidaknya Telaga Ngebel bisa menjadi pilihan untuk melepas penat dari rutinitas kerja yang melelahkan. Udaranya yang sejuk dan pemandangan yang indah mampu menyegarkan kembali urat dan pikiran yang lelah. Mitos Telaga Ngebel berawal dari cerita rakyat tentang kemarahan Baru Klinthing, seorang pemuda miskin yang sering diejek warga. Sebetulnya, Baru Klinthing adalah jelmaan naga yang dibunuh warga untuk pesta rakyat. Kedatangan Baru Klinthing yang meminta makan saat pesta berlangsung membuat  jijik warga karena penampilannya. Seorang di antara warga, Nyai Latung, iba hati kemudian memberi makan Baru Klinthing. Usai makan pemberian Nyai Latung, Baru Klinthing lantas menantang warga untuk menarik lidi yang ia tancapkan ke tanah. Namun, tak seorang pun yang bisa menarik lidi tersebut. Setelah berpesan kepada Nyai Latung agar menaiki lesung jika keluar air bah, Baru Klinthing lantas menarik lidi sehingga menimbulkan bah besar yang kini menjadi Telaga Ngebel. Legenda Telaga Ngebel, terkait erat dan memiliki peran penting dalam sejarah Kabupaten Ponorogo. Konon, salah seorang pendiri kabupaten ini, yakni Batoro Kantong. Sebelum melakukan syiar Islam di Kabupaten Ponorogo, Batoro menyucikan diri terlebih dahulu di mata air, yang ada di dekat Telaga Ngebel yang kini dikenal sebagai Kucur Batoro.

Selain pemandangan yang memesona, Telaga Ngebel juga kaya sumber alam, utamanya air tawar bersih yang keluar dari sumber-sumber di dasar telaga sedalam kurang lebih 52 meter. Tanah subur di sekitar telaga ini juga menghasilkan aneka pohon buah berkualitas, misalnya durian Ngebel yang menjadi buah primadona kawasan ini. Selain buah berduri itu, tumbuh subur pula pohon manggis, nangka dan tanaman perkebunan seperti cengkeh dan kopi. Menikmati keindahan panorama telaga sembari makan buah-buahan khas Ngebel merupakan tujuan para wisatawan. Di lokasi itu, tak perlu khawatir kelaparan karena banyak penjual makanan dan buah di sekitar telaga. Tempat berteduh dan parkir yang luas cukup membuat suasana nyaman.

Puncak keramaian di Telaga Ngebel biasanya pada malam 1 Sura (1 Muharam). Saat itu, dilakukan larung saji berupa kepala kerbau yang dilarung menuju ke tengah telaga. Empat kaki kerbau yang sudah disembelih ditanam di empat arah mata angin sekitar telaga. Sesajian itu bertujuan memohon keselamatan kepada Yang Maha Kuasa. Pesona telaga Ngebel yang masih alami ini menggoda pengunjungnya betah berlama-Iama. Buktinya, walau senja akan berganti petang pengunjung masih enggan beranjak. Mereka ingin menikmati panorama yang ditawarkan keindahan Telaga Ngebel. Melihat kondisi alamnya, Telaga Ngebel sangat berprospek baik bila dikembangkan dan bisa menjadi asset Pemkab Ponorogo dalam meningkatkan perekonomian, khususnya bagi masyarakat sekitar obyek wisata itu sendiri. Itu sebabnya Telaga Ngebel menunggu sentuhan investor, sehingga diharapkan bisa lebih bergeliat dan mempercantik diri menjadi ikon kedua setelah kesenian reog. Obyek wisata Telaga Ngebel layak dikunjungi lantaran masih bersuasana alami dan indah. Kondisi seperti ini dipastikan mampu menghilangkan kepenatan atau kelelahan usai didera kesibukan sehari-hari. -ryan

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: SAREKDA, Media Informasi Biro Administrasi Perekonomian, Sekretariat daerah Provinsi Jawa timur, EDISI 009/2010

Selokambang, Pemandian Alam di Lumajang

Wisata Terapi Pemandian Selokambang

PEMANDIAN  alam Selokambang terletak di Desa Purwosono, Kecamatan Sumbersoko, Kabupaten Lumajang. Wisata ini merupakan obyek wisata  andalan yang dipercaya masyarakat bahwa mandi di pemandian tersebut dapat menyembuhkan penyakit. “Selain berwisata untuk menikmati pemandangan alam yang indah dan berhawa sejuk, juga ada keyakinan kalau mandi di sana itu bisa menghilangkan berbagai penyakit seperti rematik, gatal-gatal karena sumbemya dari mata air asli. Jadi, disamping sebagai wisata pemandian bisa juga disebut sebagai wisata terapi. Ini bisa dibuktikan ketika setiap pukullima pagi banyak orang yang mandi terapi,” kata Kasi Promosi Pariwisata, Seni dan Budaya Kabupaten Lumajang, Indrijanto SH.

Selokambang sendiri artinya adalah batu terapung. Banyak cerita soal asal muasal pemandian Selokambang. Di antaranya menurut legenda, pada masa kerajaan Majapahit ada seseorang yang menyelamatkan diri dari peperangan dan menyembuyikan sesuatu di balik batu besar di tepi danau. Dengan bantuan petapa sakti, batu tersebut digeser dan masuk ke danau. Anehnya, batu itu tidak tenggelam melainkan terapung sehingga dinamai batu apung (selokambang). Pemandian Selokambang berjarak sekitar 7 km ke arah barat kota  Lumajang bisa ditempuh sekitar 15 menit perjalanan. Air pemandian ini adalah air sumber yang muncul di bawah tiga pohon beringin yang ada di sisi barat. Air sumber ini mengalir sampai ke ujung kota Lumajang, sehingga kebanyakan aliran-aliran sungai kecil mulai dari Selokambang hingga ke kota yang terlihat hanyalah air yang jernih karena memang berasal dari sumber ini.

Lokasinya memang sangat teduh dan berhawa dingin. Setiap pengunjug dipungut karcis masuk Rp3.000. Fasilitas yang tersedia disamping pemandangan alam dan area utama yaitu pemandian, di sisi atas ada lapangan tenis, di samping pintu masuk ada kolam khusus anak-anak. Di sebelah selatan, ada perahu dayung. Dari tempat ini bisa melihat berbagai jenis ikan seperti ikan mujair, nila, tawes, wader, sepat, tombro dan gurami. Di pemandian ini juga tersedia papan seluncur. Tapi sebelum menceburkan diri ke kolam, sebaiknya membasahi badan dengan air dan melakukan pemanasan. Jika langsung menceburkan diri, maka badan akan terasa dingin dan takkan mampu menikmati renang karena akan merasa cepat kedinginan.

Tapi tidak perlu khawatir kalau merasa kedinginan, disebelah kalam ada beberapa warung yang menyediakan makanan hangat. Ada garengan seperti ote-ote dan tahu petis atau kapi dan susu panas yang langsung bisa dinikmati di pinggir kalam. Bagi mereka yang tidak bisa berenang, di sana ada penyewaan ban. Biasanya waktu yang cukup ramai pengunjung adalah ketika Idul Fitri. “Bagi masyarakat Lumajang setiap Idul Fitri selain ke pantai yang hukumnya wajib, pulang dari pantai langsung ke Selokambang. Bisa dikatakan pengunjung hari raya ini membludak sampai H+10. Parkir kendaraan pun sampai meluber,”  tambah Indrijanto.

Kepala Kantor Pariwisata, Seni dan Budaya Kabupaten Lumajang, Drs. Hendro Iswahyudi, mengatakan target PAD untuk pemandian alam Selokambang paling tinggi di antara obyek wisata yang ada di Lumajang. “Khusus pemandian Selokambang tahun lalu dikelola PD Lumajang dengan target PAD cuma Rp380 juta. Tahun ini setelah dike lola Kantor Pariwisata, Seni dan Budaya langsung dibebani target Rp800 juta itu. Sementara target secara keseluruhan semua obyek wisata di Lumajang sebesar Rp1,3 miliar. Insya Allah target tersebut bisa kita penuhi, karena dikelola orang-orang muda,” jelas Hendro Iswahyudi optimistis. Menurutnya, promosi obyek wisata di Lumajang yang paling efektif lewat kendaraan dinas.

Namun ketika seluruh masyarakat mengetahui obyek wisata yang dipromosikan justru membuat bumerang pihaknya, karena tidak semua sarana/prasarana obyek wisata di Lumajang siap. “Akibatnya banyak wisatawan dari luar kota yang datang kecewa. Sebagian besar obyek wisata yang belum dikelola merupakan obyek wisata alam seperti pantai, air terjun, gua, danau (ranu) dan panorama pegunungan,” katanya.

Beberapa obyek wisata yang belum dikelola antara lain Pantai Pampa yang terletak di Kecamatan Tempeh, Air Terjun Manggis di Kecamatan Senduro, Gua Bima di Kecamatan Pasirian, Ranu Glebeg di Kecamatan Randuagung dan Panorama Puncak B-29 Argosari di Kecamatan Senduro. “Keterbatasan anggaran yang dimiliki Kantor Pariwisata menjadi salah satu penyebab belum dikelolanya sejumlah obyek wisata itu. Kami berharap ada sejumlah investor yang bersedia mengelola sejumlah obyek wisata tersebut dengan persetujuan Pemkab Lumajang, karena potensi wisata di Kabupaten Lumajang merupakan salah satu potensi wisata terbaik di Jatim. Saya optimistis bila 20 obyek wisata itu dikelola dengan baik maka pendapatan asli daerah (PAD) dan keuntungan investor pengelola wisata akan meningkat, ucapnya.  djup/abi/ryan

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: SAREKDA, Media Informasi Biro Administrasi Perekonomian, Sekretariat daerah Provinsi Jawa timur, EDISI 008/2010.

Sarangan, Telaga Wisata di Magetan

Telaga Sarangan Makin Menawan
Laporan: ABI & RYAN

Setelah menyusuri jalan menanjak dan berliku-liku akhirnya mobil yang kami tumpangi sampai di obyek wisata Telaga Sarangan, Kecamatan Plaosan, Kabuaten Magetan, Jawa Timur. Perjalanan yang mulus itu disebabkan karena orang di belakang kemudi memang sudah mahir, terutama mengemudikan mobil di medan berat seperti tanjakan yang berkelok-kelok. Ditambah mesin mobil yang kami tumpangi tergolong masih gress.

Kedatangan kami disambut udara dingin sore hari dengan suhu udara 18 hingga 25 derajat. Justru di saat waktu senja itu kami bisa melihat pemandangan Telaga Sarangan yang indah dan makin menawan dengan berbagai penginapan mulai dari losmen sampai hotel berbintang empat yang lokasinya menghadap obyek wisata.  Kami tertarik naik speed boat yang banyak bertambat di sana dan menunggu penumpang.

Salah satu pengemudi speed boat, menawarkan sekali naik dengan rute satu kali putar telaga Rp35.000. Setelah terjadi kesepakatan harga, kami pun menuruti perintah sang pengemudi menaiki speed boat-nya. Dari speed boat, kami bisa menikmati pemandangan indah antara lain seperti gunung, hotel-hotel yang berjajar, deretan pedagang suvenir dan lain-lain.
Dari speed boat itu terlihat air telaga ketika itu sedang surut. Padahal Telaga Sarangan yang luasnya sekitar 30 hektare bila normal kedalamannya lebih dari 28 meter. Telaga Sarangan adalah obyek wisata alam yang terletak di sebelah timur Gunung Lawu. Dari kota Magetan jaraknya sekitar 16 km. “Sudah lama tidak turun hujan sehingga air sedikit berkurang,” kata pengemudi speed boat yang mengemudikan dengan kecepatan tinggi. Selain sebagai tempat rekreasi, jelas pengemudi yang belakangan diketahui bernama Hariyono, di Telaga Sarangan juga ada tradisi Labuh Sesaji, tradisi upacara bersih desa yang diadakan setiap tahun dengan hari yang sudah ditentukan Jumat Pon bulan Ruwah. Biasanya banyak wisatawan yang datang, melihat upacara ritual pelarungan persembahan dari warga ke dalam telaga sebagai ungkapan rasa syukur. “Ada lagi acara Ledug Sura 1 Muharram dan pesta kembang api di malam tahun baru,” tambahnya lagi.

Turun dari speed boat kami langsung menuju penjual ronde. Minuman ini rasanya cocok untuk menghangatkan badan di udara yang dingin dan terbuka sore hari. Sambil menikmati hangatnya minuman ronde, bau sedap dari asap penjual sate kelinci yang berjualan berjajar dengan penjual ronde sangat menggoda selera makan. Usai mencicipi makanan ekstra berupa ronde, kami pun mendatangi penjual sate kelinci dan pesan lengkap dengan lontongnya. Sambil menunggu pesanan seseorang datang menawarkan jasa berkuda. Sayang, kami tidak tertarik menunggang kuda. “Sekali naik cukup bayar Rp25.000 saja,” katanya menawarkan. Tak lengkap rasanya kalau belum mencicipi jagung bakar ala Telaga Sarangan. Ada bermacam rasa yang ditawarkan wanita penjual jagung warga desa yang rumahnya tak jauh dari lokasi wisata terindah di Kabupaten Magetan itu.

Mau rasa manis atau asin tinggal bilang saja. Kebetulan kami pesan jagung bakar rasa asin dan rasanya: wow, cocok dengan lidah kami. Apalagi makan jagung bakar sambil menikmati indahnya telaga yang diterangi kilauan lampu-lampu. Sebelum meninggalkan Telaga Sarangan, kami mampir ke penjual souvenir dan baju-baju. Apalagi Magetan punya potensi industry kecil yang mampu memproduksi kerajinan untuk suvenir, misalnya anyaman bambu, kerajinan kulit, dan produk makanan khas seperti emping belinjo dan lempeng (kerupuk dari nasi). Kebetulan, kata mereka, tak jauh dari lokasi Telaga Sarangan ada sentra industri kecil kerajinan kulit. Warga di sana memproduksi dan menjual berbagai kerajinan kulit mulai dari tas, sandal, sepatu sampai jaket. Untuk oleh-oleh keluarga yang di rumah, kami juga membeli beberapa T-shirt untuk kenang-kenangan yang bertuliskan: Sarangan. -ken

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: SAREKDA, Media Informasi Biro Administrasi Perekonomian, Sekretariat daerah Provinsi Jawa timur, EDISI 005/2009.

Bong Ampel

Bobg Ampel, Ikatan Arab-Tionghoa
Tjoa Kwie Soe meninggal dalam usia 54 tahun, atau tahun ke-20 setelah kedatangannya di Surabaya. Mertua dan istrinya, Tumenggung Onggodjoyo dan Nyai Roro Kindjeng beserta beberapa keturunan Tjoa dimakamkan di kawasan Ampel. Sedangkan Tjoa Kwie Soe sendiri, konon, dimakamkan di daerah Kebangsren sekarang.

Sejak awal abad ke-18, di Surabaya telah terjadi “penyatuan” etnis Arab dengan Cina, Hal tersebut dibuktikan dengan adanya perkawinan antar etnis pada masa itu. Buktinya, simaklah kawasan Ampel, ada sekelompok bong (makam Tionghoa), tepatnya di barat kompleks Masjid Agung Sunan Ampel (MASA), Bong-bong itu sepintas tidak menarik. Setidaknya, dibandingkan dengan keberadaan makam lain yang memang lebih menonjol dan menjadi tujuan utama peziarah ke Ampel.

Namun, keberadaan bong tersebut ternyata tidak bisa lepas dari bagian sejarah perjalanan Surabaya. Memang, tak sedikit perantau Tionghoa yang akhirnya memeluk Agama Islam, The Boen Liang, penulis pada masa itu, menulis pada majalah Matahari terbitan Semarang edisi 1 Agustus 1934 tentang awal mula datangnya sekelompok pemuda perantauan dari Tiongkok ke Surabaya. Kelompok pemuda itu kemudian dikenal dengan nama famili Tjoa, Salah seorang yang menonjol di antara mereka adalah Tjoa Kwie Soe.

Sebagai perantauan, Tjoa Kwie Soe dipercaya memiliki kelebihan, diantaranya dia mahir ilmu bela diri. Pada masa kedatangannya, Surabaya dalam keadaan rusuh, kompeni Belanda versus pribumi (Jawa dan Madura). Belanda bermaksud mengambil alih kekuasaan pribumi atas tanah di Surabaya. Pribumi pun memberontak, dipelopori beberapa tokoh, seperti, Suropati dan Adipati Passaroean (Pasuruan), Kiai Tumenggung Onggodjoyo yang keturunan Arab. Melalui Tumenggung Onggodjoyo inilah Tjoa Kwie Soe dikenal dan kemudian diminta membantu perjuangan Sang Adipati melawan kompeni. Suatu ketika dengan dibantu Tjoa Kwie Soe, peperangan bisa dimenangkan pihak Adipati Onggodjoyo. Atas kemenangan itu, Adipati menikahkan Tjoa Kwie Soe dengan anaknya, Nyai Roro Kindjeng dengan secara Islam.

Inilah catatan tentang kejadian pertama perkawinan antar etnis keturunan Arab dengan Tionghoa yang ada di Surabaya. Tjoa Kwie Soe meninggal dalam usia 54 tahun, atau pada tahun ke-20 setelah kedatangannya di Surabaya. Mertua dan istrinya, Tumenggung Onggodjoyo dan Nyai Roro Kindjeng beserta beberapa keturunan Tjoa dimakamkan di kawasan Ampel. Sedangkan Tjoa Kwie Soe sendiri, konon, dimakamkan di daerah Kebangsren sekarang.

Pengembangan kawasan Pecinan di Surabaya Utara telah lebih dulu digarap oleh pihak pemkot setempat, yaitu dengan membangun kawasan wisata Kya-kya di Jalan Kembang Jepun, Mei 2003. Sementara itu kawasan Arab sendiri kabamya bakal digarap tahun ini. Sebenarnya, kawasan Arab cukup menarik untuk dikembangkan menjadi tempat wisata serupa Kya-kya. Dua jalan utama yang melingkari kawasan Ampel bisa dikatakan memenuhi syarat. Selain lebar jalan sekitar 15 meter, banyaknya gedung cagar budaya. Objek menarik. Selain itu kampung-kampung Arab yang memadati kawasan sekitar Ampel pun berdaya tarik.

Saat ini, ada lebih dari tiga bangunan cagar budaya di kawasan Ampel (Jl. KH Mas Mansyur), antara lain dua rumah tinggal opsir Belanda dan bekas pabrik milik NV Nederlundseh Indisehe Industrie. Rumah Belanda itu saat ini dihuni warga keturunan Arab dan satunya lagi menjadi Rumah Sakit al-Irsyad. Sedangkan bekas pabrik Belanda itu kini menjadi industry PT. Boma Bisma Indra. Beberapa bangunan cagar budaya lainnya tersebar di dalam kawasan kampung Ampel, termasuk MASA, komplek makam Sunan Ampel dan keluarga, makam kerabat Tjoa dan Adipati Kiai Tumenggung Onggodjoyo.

Selain itu juga ada makam al-Habsji di dalam Masjid Kubah, yaitu makam keluarga Pangeran Asseijid Asjarief Hassan, di Jalan Ampel Suci menuju arah MASA Semuanya masih dalam keadaan baik meski telah mengalami beberapa renovasi. Setidaknya, inilah yang bakal bisa menjadi modal bagi upaya pengembangan kawasan Ampel. Sementara itu, ada pertimbangan lain, yaitu kawasan Arab yang berdekatan dengan kawasan Tionghoa yang hanya berjarak sekitar 200 meter ke arah Jembatan Merah.

Sangat memungkinkan jika dua kawasan itu digarap serius sebagai daya tarik wisata Surabaya. Kepala Disparta setempat, Drs-Ee H Muhtadi MM, membenarkan hal itu. Dia katakan, keberadaan cagar budaya di kawasan Ampel menjadi daya tarik sendiri. Penyatuan paket kunjungan Ampel dengan Kya-kya punya potensi yang sangat besar “Tanggung jawab Disparta dalam hal pengembangan kawasan kultural. Seni dan budaya masyarakat, juga keteraturan kampung-kampung Arab di sekitaran lokasi ke masjid dan makam akan kami perhatikan,” ujamya. Memang demikian idealnya. naskah dan toto: Dias

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Jatim News, Tabloid Wisata Plus, Edisi 35, 21 Juni -09 juli 2004, Tahun II.

Desa Bandung, Asal-usul Nama Desa Daerah Tulungagung

Agus Imron Akhyar

Dahulu desa Bandung merupakan sebuah wilayah yang berkecukupan dan memiliki kekayaan alam melimpah ruah. Di tempat tersebut terdapat sebuah sumber air yang lumayan besar dan setiap petani sering memakainya sebagai pengairan sawah (irigasi). Tetapi hal tersebut berubah ketika Adipati di daerah tersebut diganti dengan seorang yang tamak, rakus, dan kikir, sebut saja dengan Adipati Hadijaya. Seluruh sumber air yang ada di daerah tersebut dikuasai olehnya, sehingga penduduk mengalami kesulitan untuk mengairi sawahnya, sehingga petani mengalami kerugian besar.

Nasib penduduk sungguh menyedihkan, kelaparan terjadi di manamana. Hingga akhirnya berita tersebut didengar putri Adipati Hadijaya yang bernama Putri Roro Jonggrang. Roro Jonggrang memiliki sifat seperti ibunya, lemah lembut namun tegas dalam bertindak. Dia meminta pada ayahandanya untuk memberikan pengairan terhadap sawah-sawah penduduk, tapi sang ayah menolak. Sang putri besikeras mempertahankan pendirinya untuk menolong penduduk, agar pengairan dapat diberikan kepada warga, biar para petani dapat bertani dengan baik. Selama tujuh hari sang putri bersimpuh pada ayahandanya, akhirnya pada malam ke tujuh hati sang ayah luluh. Adipati Hadijaya mengabulkan permintaan putrinya tersebut, asalkan sang Putri mau menikah dengan seorang raja dari kerajaan tetangga, Bandung Bondowoso.

Mau tidak mau dan juga berat hati akhirnya Roro Jonggrang menuruti permintaan ayahandanya. Ketika Bandung Bondowoso tiba, Roro Jonggrang mengajak pergi ke sebuah sumber air. Ketika sudah sampai, Roro Jonggrang langsung melemparkan kalung yang sangat disayanginya. Kalung tersebut adalah pemberian ibunya, sehingga Roro Jonggrang langsung meminta pada Bandung agar mau mengambilkan kalung tersebut. Jika mampu mengambilnya, maka Bandung akan menjadi suaminya. Ketika Bandung masuk ke sumber air, dengan cekatan sang putri segera menendang batu untuk menutupi sumber air tersebut, sehingga Bandung tertutup di dalam sumber air tersebut.

Tiba-tiba batu tersebut terlempar, Bandung akhirnya mampu keluar dan meminta penjelasan dari sang putri apa maksud dari ini semua. Dengan menangis sang putri menjelaskan, bahwa dirinya diminta ayahnya agar membunuh Bandung. Supaya Adipati Hadijaya dapat menguasai wilayah kerajaan Bandung. Saat itu Bandung merasa sangat marah sekali, bercampur dengan kesal hawa nafsunya, pada saat itu amarahnya tidak bisa dibendung lagi.

Bandung lekas menghampiri Adipati Hadijaya dan menusuknya dengan senjata handalannya, akhirnya Adipati Hadijaya mati. Akhirnya Bandung menggantikan kekuasaan Adipati Hadijaya dan menikah dengan Roro Jonggrang. Mereka berdua menikah dan juga hidup bahagia serta masyarakat menyukai mereka berdua sebagai pemimpin daerah tersebut. (Informan: Ibu Syamsiah, 68 Tahun)
*Staf Peneliti Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (KS2B) Kabupaten Tulungagung.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:   Bende; Wahana Pendidikan Pengembangan Kesenian. No. 94, Agustus 2011

 

Kalangbret, Asal-usul Nama Desa Daerah Tulungagung

Agus Imron Akhyar*

Di sebuah kerajaan dilahirkan seorang pangeran yang diberi nama Pangeran Kalang. Namun sering dipanggil Adipati Kalang, setelah beberapa bulan lahir lagi anak kedua, seorang putri cantik yang tepatnya diberi nama Putri Kembang Sore. Mereka berdua tambah dewasa tanpa kasih sayang seorang ibu. Ibu mereka meninggal setelah melahirkan Putri Kembang Sore, namun ayah mereka memberikan kasih sayang yang lebih kepada mereka berdua. Sampai suatu ketika Adipati Kalang diam-diam menyukai adiknya sendiri, peristiwa tersebut tanpa diketahui oleh ayahnya.

Putri Kembang Sore memang dianugerahi kecantikan pada wajahnya, namun sebenarnya Putri Kembang Sore adalah seorang gadis yang liar. Hal tersebut dikarenakan kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari ayahnya, karena sibuk dengan masalah kerajaan.  Adipati Kalang akhirnya memberanikan diri untuk berbicara kepada adiknya, bahwa dirinya mencintai adiknya sendiri dan ingin segera mempersuntingnya, akan tetapi Kembang Sore menolak karena tidak mungkin dia harus menikah dengan kakaknya sendiri. Namun tetap saja Adipati Kalang bersikeras membujuk adiknya agar mau menjadi istrinya tanpa peduli Putri Kembang Sore adalah adiknya sendiri.

Setiap hari Putri Kembang Sore berusaha menjauhi kakaknya sendiri karena dia tidak ingin kalau kakaknya terus menerus memaksa dirinya dijadikan istri. Namun Adipati Kalang tetap memaksa Kembang Sore. Adipati Kalang adalah orang yang sakti, sehingga dimana pun Putri Kembang Sore bersembunyi, dia tetap bisa menemukannya. Putri Kembang Sore sangat bingung dan ingin sekali kabur dari kerajaan, karena kelakukan dari kakaknya. Pada suatu saat seorang pangeran dari Kerajaan Majapahit bernama Pangeran Lembu Peteng melihat kecantikan Putri Kembang Sore.

Namun Lembu Peteng tidak bisa mengungkapkan perasaannya, bahkan untuk mendekati Putri Kembang Sore saja tidak bisa karena Adipati Kalang selalu mendampinginya. Namun Pangeran tidak putus asa mendekati Putri Kembang Sore, walaupun setiap saat Adipati Kalang mendekatinya. Adipati Kalang ternyata mengetahui, bahwasanya Pangeran Lembu Peteng juga menaruh perasaan cinta kepada Putri Kembang Sore. Namun Pangeran Lembu Peteng tidak putus asa untuk terus mendekati Putri Kembang Sore. Suatu hari Adipati Kalang mengundang Pangeran Lembu Peteng di sebuah tempat, di situlah Adipati Kalang berniat membunuh Pangeran Lembu Peteng dengan senjata kerisnya.

Pertarungan terjadi sengit, cukup lama, yang ternyata dimenangkan Adipati Kalang dengan merobek-robek tubuhnya. Karena kejadian itulah tempat atau daerah tersebut diberi nama “Kalangbret”. Saat kejadian tersebut, Putri Kembang Sore melarikan diri ke sebuah gunung, dan di situlah Putri Kembang Sore menjadi seorang ratu. Namun tetap saja Adipati Kalang bisa menemukannya, karena kesaktiannya yang dimiliki. Tetapi Putri Kembang Sore tetap menolak bujukan Adipati Kalang. Sehingga kesabaran Adipati Kalang pun habis, akhirnya dibunuhlah Putri Kembang Sore, dan menguburkannya di gunung tersebut. Gunung tersebut saat ini bernama “Gunung Cilik” yang berada di daerah Kalangbret, namun kawasan gunung tersebut sering dikenal dengan sebutan Gunung Mbolo. (Informan: Ibu Wiwit 60 Tahun, Petani)
*Staf Peneliti Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (KS2B) Kabupaten Tulungagung.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:   Bende; Wahana Pendidikan Pengembangan Kesenian. No. 94, Agustus 2011

 (, )