Sumber Penganten, Jombang

Melongok kealamian Sumber Penganten Jogoroto. Masih perawan. Bernuansa magis. Airnya yang jernih, hawanya yang sejuk dan air yang tidak pernah kering meski musim kemarau menjadikan tempat ini sangat ideal untuk wisata keluarga.

Di Jogoroto juga ada tradisi yang sudah berjalan berpuluh-puluh tahun, yaitu acara Grebeg Maulid Nabi. Acara ini diawali dengan pawai atau arak-arakan yang bernuansa Islam oleh masyarakat desa Sumbermulyo dan sekitarnya dan di]anjutkan dengan prosesi lelang barang-barang hasil dari hibah warga setempat. Kemudian malam harinya dilanjutkan dengan pengajian umum sebagai sarana penyejuk iman.

Sumber Penganten salah satu aset yang dimiliki Kabupaten Jombang. Letaknya sekitar 1 kilometer dari arah kota. Kecamatan Jogoroto, kondisinya terlihat masih alami. Beberapa bangunan saksi sejarah masa lampau, juga masih ada. Menurut legenda, cikal bakal munculnya Sumber Penganten, berawal ketika sepasang penganten tenggelam (menghilang, red) ketika mandi. Itu terjadi jauh sebelum kompeni Belanda masuk ke Indonesia. Karena itu kemudian muncul kepercayaan bahwa sumber tersebut memiliki kekuatan magis.

Lokasi Sumber Penganten jauh dari hingar-bingarnya kendaraan, namun tidak terpencil. Sebaliknya, mudah dijangkau, dengan kendaraan roda empat sekali pun. Di sekitarnya, terhampar lahan luas, yang biasanya, dimanfaatkan pengunjung sebagai tempat parkir dan aman. Di sekelilingnya tumbuh pepohonan nan rindang yang berfungsi menaungi pengunjung dari sengatan sinar mentari. Acapkali pula dimanfaatkan untuk bersantai. Penduduk sekitar sangat ramah dan seakan tak peduli dengan beragam kesibukan yang terjadi. Karena itu, siapa pun betah berlama-lama di sana.

Ada beberapa faktor yang motivasi pengunjung datang ke tempat  tersebut. Selain karena tinggalan sejarah, juga ada kepercayaan bahwa sumber tersebut mengandung ‘kekuatan’ magis. Seperti, aora wajah semakin terpancar, manakala berendam di sana. Tetapi, tak sedikit pula yang hanya ingin menikmati sejuk dan beningnya sumber nan tak pernah kering tersebut.

Kamar Istirahat
Selain sebagai tempat wisata, sumber penganten dipercaya oleh sebagian orang merupakan tampat tetirah yang mempunyai nilai magis. Mereka percaya kalau mandi pada malam hari-hari tertentu akan mendapatkan berkah. Menurut cerita yang berkembang termasuk dari sesepuh Dusun Sumber Penganten, Mbah Sarif, cikal bakal munculnya sumber yang berada di tengah pematang tersebut, terjadi jauh sebelum kompeni Belanda datang dan menjajah bumi pertiwi. Konon, ketika itu sepasang penganten baru tengah memadu kasih dan bersenda gurau di sumber itu. Anehnya, tak berapa lama berselang, pasangan tersebut serta merta lenyap. Tengggelam atau entah kemana.

Beberapa penduduk yang mendengar kejadian aneh tersebut, beranggapan bahwa di sumber tersebut ada penunggunya dan dirasa perlu untuk -setiap saat dan waktu- diselamati. Makanya tak heran sejak saat itu, keberadaan Sumber Penganten, mulai dikeramatkan.

Kepercayaan penduduk bahwa Sumber Penganten sebagai tempat keramat, hingga terdengar ke telinga para bangsawan Belanda. Karenanya, beberapa saat setelah kejadian (penganten lenyap, red), sebagian ‘petinggi’ kompeni melalukan survey. Alhasil, sumber tersebut justru dimanfaatkan Belanda sebagai tempat mandi sekaligus bersantai di kala lelah dalam perjalanan. Bukti bahwa Belanda memang memanfaatkan Sumber Penganten, adanya kamar ganti yang hingga sekarang masih ada meski tidak utuh.

Termasuk pula tembok pembatas tempat mandi antara laki-laki dengan perempuan juga masih tersisa. Meski hanya menyisakan puing-puing. “Sampai sekarang bukti bahwa Belanda pernah memanfaatkan tempat ini, bisa terlihat dari puing kamar ganti dan puing pembatas (sket) lokasi mandi laki-laki dan perempuan,” ujar Mbah Sarif sesepuh Dusun Sumber Penganten.

Kekuatan-Magis
Selain tempat wisata, ternyata Sumber Penganten juga dipercaya mempunyai kekuatan magis. Pasalnya, kalau mandi dan berendam di sana, terutama pada malam-malam yang dianggap baik, dinyakini akan mendapatkan berkah. Tak pelak, banyak pula diantara pengunjung yang sengaja ‘meluangkan waktu’ hanya untuk tujuan metafisis. Bahkan, tak jarang pula ada yang bersemedi di sekitar Sumber Penganten meski tidak transparan.

Pesona Alam Jombang, Kantor Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (2005)

Masjid An-Nur, Pare Kediri

Masjid An-Nur, Pare Kediri, raih penghargaan dari Arab Saudi, berdirinya Masjid ini menyandang berbagai kepentingan sekaligus sebagai tempat ibadah, pusat syiar Islam dan ikon Kota Kediri. Masjid An-Nur yang berdiri di Jalan Panglima Sudirman, Pare, Kediri, menjadi representasi penting masyarakat setempat. Selain sebagai tempat ibadah, masjid yang dibangun pada tahun 1996 ini, juga digadang sebagai pusat syiar Islam di Pare dan Kediri.

Walau pembangunan masjid di tanah seluas sekitar 4 hektar ini sempat terhenti gara-gara krisis moneter tahun 1997, akhirnya toh berhasil diselesaikan dengan menelan biaya sekitar Rp 20 milyar. Biaya pembangunan itu sungguh besar untuk ukuran masjid. Namun menjadi wajar bila ditengok dari bangunan masjid yang namanya diambil dari Kiai Nurwahid, pejuang Islam kenamaan di Pare yang dimakamkan di desa Tulung Rejo, Pare. “Arsitektur masjid ini melambangkan perpaduan tradisi Jawa dengan sentuhan modernitas” tukas Ir. Sugeng Gunadi, arsitek yang merancang bangunan masjid An-Nur.

Seperti masjid kebanyakan di Indonesia, arsitektur Jawanya bisa dilihat pada bentuk atap masjid. Karena masjid ini berada di Jawa Timur, maka dipilih bentuk dasar atap arsitektur tradisional Jawa, yaitu atap tajug untuk bangunan induknya, dan atap joglo untuk bangunan tempat masuk. Agar terkesan ekspresif, atap tajug dirancang berbentuk piramid pada bagian atasnya dengan kemiringan sudut yang dipertajam sedemikian rupa, sehingga diperoleh kesan atap yang menjulang ke langit. Demikian pula pemilihan bahan penutup atap yang mempunyai pertimbangan tersendiri. Bangunan beratap tajug dan joglo itu, konon, telah dikenal sejak masa kerajaan Kahuripan dan Doho.

Dalam arsitektur tradisional Jawa, biasanya atap tajug atau joglo ditunjang empat soko guru. Pada Masjid An-Nur, setiap soko guru itu digandakan jadi empat soko guru. Keempat soko guru ini disatukan oleh balok pengikat yang saling bersilangan di tengah dengan arah miring ke atas dan bersatu di titik puncak persilangan. Pada titik inilah balok pendukung space frame yang digunakan untuk konstruksi atap itu bertumpu. Struktur space-frame dipilih untuk kerangka atap bertujuan untuk memberi kesan ringan yang diekspresikan oleh kerangka space-frame tersebut, yang sengaja tidak ditutup dengan plafond, sehingga kontras dengan kesan kokohnya susunan balok dan soko-soko guru pendukungnya.

Diakui Gunadi, rancangan Masjid An-Nur ini diilhami oleh John Portman, arsitek asal Amerika. Salah satu elemen rumah yang paling menonjol adalah kolom-kolomnya. Kolom yang di-‘ledak’-kan atau di’bengkak’kan (exploded column), yang di dalamnya dikosongkan, dan difungsikan khususnya untuk sirkulasi antar ruang dan tangga yang menghubungkan lantai bawah dan lantai atas rumahnya. Kolom yang di”bengkak”kan inilah yang digunakan perancang untuk kolom-kolom masjid bagian luar, dengan tujuan untuk memberi proporsi yang sesuai dengan jarak kolom yang membentangi tiga traffee bagian luar tersebut.

Selain juga untuk memberi tampilan yang kontras antara kolom lingkar yang kokoh itu dengan bidang dinding kaca lebar yang transparan di lantai satu. Bidang dinding kaca lebar yang transparan, menurutnya, diperlukan untuk membebaskan pandangan mata para jamaah dari dalam masjid ke taman di luarnya. Konsep arsitektur inilah yang mengantar Masjid An-Nur mendapat penghargaan Juara Pertama Sayembara Internasional untuk kategori Perancangan Arsitektural Masjid, termasuk pemanfaatan teknologi modern dalam arsitektur masjid. Penghargaan ini diberikan Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia dalam rangka memperingati 100 tahun berdirinya Kerajaan Saudi, akhir Januari 1999 lalu. mi fi gurcahya

Mossaik, November 2005 

Masjid Tegalsari, Ponorogo

Masjid Tegalsari, Ponorogo, Oase lahirnya tokoh Islam jauh sebelum  RONGGOWARSITO menjadi pujangga besar tanah jawa, pernah nyantri disini. 

Pada paruh pertama abad ke-18, hiduplah seorang kyai besar bernama Kyai Ageng Hasan Bashari atau Besari di Desa Tegalsari, 10 kilometer ke arah selatan Ponorogo. Di tepi dua buah sungai, sungai Keyang dan sungai Malo, yang mengapit desa Tegalsari inilah Kyai Hasan Besari (alias Kyai Agung Tegalsari) mendirikan sebuah pondok yang kemudian dikenal dengan sebutan Pondok Tegalsari (ada yang menyebut pesantren Gebang Tinatar). Kyai Besari adalah cicit dari Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) dan cucu dari Sunan Ampel (Raden Rahmat) dari garis keturunan ibu. Sedangkan dari pihak ayah masih keturunan Prabu Brawijaya dari Majapahit. Dan ia cucu Kyai Ageng Mohammad Besari.

Dalam sejarahnya, Pondok Tegalsari pemah mengalami zaman keemasan berkat kealiman, kharisma, dan kepiawaian para kyai yang mengasuhnya, terutama pada jaman Kyai Hasan Besari. Ribuan santri berduyun-duyun menuntut  ilmu di pondok ini. Karena besarnya jumlah santri, seluruh desa menjadi pondok, bahkan pondokan para santri juga didirikan di desa-desa sekitar, misalnya desa Jabung (Nglawu), Bantengan, dan lain-lain.

Alumni pondok ini banyak yang menjadi orang besar dan berjasa kepada bangsa Indonesia. Di antara mereka ada yang menjadi kyai, ulama, tokoh masyarakat, pejabat pemerintah, negarawan, pengusaha, bahkan pujangga keraton. Misalnya, Paku Buana II atau Sunan Kumbul, penguasa Kerajaan Kartasura; Raden Ngabehi Ronggowarsito alias Bagus Burhan (wafat 1803), seorang Pujangga Jawa yang masyhur; dan tokoh Pergerakan Nasional H.O.S. Cokroaminoto (wafat 17 Desember 1934).

Sebuah riwayat  menyebutkan, keberadaan pondok itu mengelilingi sebuah masjid yang didirikan Kyai Ageng Besari pada tahun 1760. Masjid itu pemah direhab pada tahun 1978 dan 1998, atas keinginan mantan Presiden RI, Soeharto. Menurut Afif Azhari, Ketua Yayasan Kyai Ageng Besari, rehab pertama menyalahi Bistek sehingga hampir mengubah wajah asli bangunan masjid di atas lahan seluas satu hektar itu. Dengan penambahan serambi dan bangunan di sisi kiri-kanan masjid. Namun, rehab terakhir berusaha dikembalikan lagi seperti aslinya.

Secara arsitektural, masjid ini memiliki langgam Jawa kuno. Terdiri dari tiga bangunan yang saling berhimpit, berorientasi barat-rimur, bangunan masjid beratap tajug tumpang riga terletak paling barat. Di dalam interior terdapat empat buah saka guru, 12 sakarawa, dan 24 saka pinggir penyangga atap tajug yang dipasang dengan sistem ceblokan. Struktur atap tajug diekspose, sehingga dapat diketahui bahwa brunjungnya merupakan jenis atap tajug peniung atau payung agung, karena usuknya disusun secara sorot. Selain itu, juga juga terdapat mimbar kayu berukir, yang sebetulnya merupakan replika dari mimbar asli yang telah rusak.  Mihrabnya merupakan sebuah ceruk yang dibingkai kayu ukiran dengan bentuk dan stilirasi dari kalarnakara. Di sebelah rimur masjid terdapat pendopo beratap limasan. Di sebelah timur pendopo terdapat bangunan tambahan beratap kubah metal dengan proporsi sangat pendek. Bangunan tambahan ini termasuk bangunan yang dibuat atas dana bantuan dari Soeharto. Bangunan kuno lainnya yang masih terjaga adalah rumah Kyai Ageng Besari, yang berada di depan masjid. Rumah itu dikenali sebagai rumah adat satu-satunya yang masih ada. Karena itulah, pemerintah setempat menetapkan kawasan ini sebagai obyek wisata religi.

Keunikan masjid ini bisa ditemui pada pilar-pilar kayu jati yang keseluruhannya berjumlah 36 buah, atau tembok setebal 0,5 meter. Sirap, usuk, selukat dan lain-lain, sebelum direhab pada 1978 masih asli. Ketika rehab pada 1998 pun, tidak mampu mengembalikan keaslian bangunan. Lebih parah lagi, pada masjid putri, di sebelah kanan masjid utama, semua bagian telah berubah dan nyaris tak ada bedanya dengan bangunan pada umumnya. Tempat tinggal Ronggowarsito semasa jadi santri juga sudah tak jelas keasliannya.

Di sisi barat masjid terdapat makam keluarga besar Kyai Ageng Besari. Pada saat bulan puasa, terutama sepuluh hari terakhir, kawasan ini kebanjiran pengunjung. Tak cukup hanya di lingkungan masjid, bahkan meluber sampai kawasan desa. Pada 1990-an, pemerintah bersama tokoh-tokoh agama setempat berkeinginan membesarkan pesantren itu dengan nama pesantren Ulumul Quran. Namun, kata Afif Azhari, keinginan itu hingga kini belum berhasil diwujudkan. Yang masih berjalan hingga kini adalah pesantren dengan sistem modern: Madrasah , Tsanawiyah dan Aliyah Ronggowarsito. mi husnul m

Mossaik, November 2005 

Tlogo Pasir, Legenda Sarangan

Konon, cerita bermula dari seorang pujangga Ki Pasir dan isterinya, Nyi Pasir. Ki Armosentono atau juga dipanggil Dimon, sesepuh desa Sarangan, dianggap paling tahu tentang sejarah babat tanah Jawa, terutama yang berkaitan dengan legenda Telaga Pasir Sarangan. Dengan logat yang kental Jawa Tengahan, Ki Atmo berusaha meluruskan sebutan orang yang salah kaprah terhadap telaga di kaki Gunung Lawu itu.

“Selama ini orang menyebut telaga ini Telaga Sarangan. Pada hal yang benar adalah Tlogo Pasir. Saya perlu meluruskan karena saya tidak ingin nilai cerita mengenai telaga ini menjadi terhapus dari ingatan anak cucu nanti,” tandasnya. Menurutnya, keberadaan telaga ini tidak bisa dilepaskan dari legenda Ki dan Nyi Pasir, dua orang yang memulai hidup dan babat alas di daerah yang kini disebut Sarangan.

Melengkapi pemahaman akan cerita itu, Ki Atmo bahkan rela menjelajah berbagai perpustakaan di Jawa Tengah hingga ke Perpustakaan Nasional di Jakarta, untuk mendapatkan kisah lengkapnya. Buku-buku tentang babat tanah Jawa dibacanya hingga habis. Dan kisah singkat tentang legenda Tlogo Pasir dituturkan kepada Mossaik sebagai berikut.

Di jaman Kerajaan Pengging, hidup seorang pujangga kenamaan, Ki Pasir namanya. Ketika pecah perang antara Pengging dan Mataram, keduanya di Jawa Tengah, Ki Pasir dan isterinya, Nyi Pasir, keluar dari Pengging karena tidak ingin terkena ekses peperangan. Kemudian keduanya menuju ke Jowo Wetan (Jawa Timur). Begitu perjalanan sampai di daerah Surakarta, di tepi bengawan solo, bertemu dengan bocah laki-laki berumur sekitar 10 tahun.

Bocah yang tak punya tempat tinggal dan orang tua itu diambil sebagai anak angkat Ki dan Nyi Pasir. Bocah itu kemudian diberi nama Joko Lilung. Mereka bertiga kemudian meneruskan perjalanan dan sampai di hutang Gunung Lawu. Ki Pasir memilih sebuah tempat di lereng gunung sebelah timur, untuk mendirikan pondok sebagai tempat berlindung.

Pondok itu dibuat dari kayu hutan dan beratapkan dedaunan. Dengan pondok yang sangat sederhana ini keduanya sudah merasa aman dari marabahaya. Namun, Joko Lilung sendiri tak pernah ikut berada di rumah. Sejak kecil, Joko Lilung dikenal sebagai anak yang suka berkelana dan bersemedi. Hanya sesekali dia mampir ke rumah, dan kemudian pergi lagi entah ke mana.

Hari-hari Ki Pasir banyak digunakan untuk membuka lahan dan bercocok tanam di sekitar pondoknya di lereng  gunung Lawu. Hingga suatu hari, kejadian aneh menimpanya. Saat hendak berladang, dia menemukan dua buah telur. Tak tahu entah telur binatang apa. Diamat-amatinya telur itu sejenak sambil bertanya di dalam hatinya, telur apa gerangan yang ditemukan itu. Pada hal di sekitarnya tidak tampak binatang unggas seekor pun yang biasa bertelur.

Ki Pasir pun mengambil dan merebusnya sebuah, dan satunya lagi ditimbun dengan tanah. Telur rebus itu kemudian dibelah jadi dua. Sebuah di makan Ki Pasir, dan yang satu lagi disimpan untuk nantinya diberikan kepada Nyi Pasir bila datang mengirim makanan. Anehnya, sehabis memakan telur itu, Ki Pasir merasakan sesuatu yang aneh terjadi. Tubuhnya merasakan kepanasan dan merasa gatal tidak karuan. Ki Pasir pun mencari tempat di sebuah sumber, di bagian barat telaga yang sekarang. Di situ, Ki Pasir berendam untuk menghilangkan rasa panas dan gatal yang dideritanya. Namun, lama ia tak kunjung beranjak dari situ.

Nyi Pasir yang bendak mengirim makanan untuknya, tak menemukannya di ladang. Hingga diketahui kalau suaminya berendam di sumber itu. Nyi Pasir memanggilnya untuk segera makan, tapi Ki Pasir tetap tak bergeming. Malah isterinya disuruh makan dulu dengan lauk separuh telur yang direbusnya tadi. Nyi Pasir pun makan lebih dulu. Namun, kejadian aneh juga menimpanya sebagaimana menimpa suaminya. Tubuhnya merasa panas dan gatal tak keruan. Ia pun ikut berendam di sumber di samping Ki Pasir.

Lama-kelamaan derita kedua suami-isteri itu tak kunjung sembuh, bahkan malah makin menjadi. Sesaat mereka saling pandang, dan betapa kagetnya mereka berdua. Ternyata wajah keduanya tak lagi berujud manusia, tapi seekor naga. Keduanya marah dan mengeliat-geliat, menyibak-nyibakkan tubuhnya ke sana-kemari. Gunung pun hendak digempur, pohon-pohon dirobohkan. Tiba-tiba Ki Pasir mendengar suara yang memerintahkannya untuk segera bertaubat. Sejenak kemudian keduanya menghantarkan doa agar diberi maaf Yang Maha Kuasa. Namun, tak urung, sekitar sumber yang menjadi arena pelampiasan kemarahan berubah menjadi kubangan besar, menjadi telaga.

Cerita pun bergulir, dan disitulah keduanya mukso, meninggal tanpa ada jasad, menghadap Yang Maha Kuasa tanpa meninggalkan bekas. Joko Lilung pun kehilangan jejak kedua orang tua angkatnya. Dicari di rumah, di ladang, di mana-mana tapi tak menemukan keduanya. Hingga suatu ketika, saat dia bersemedi di tepi telaga, dia mendapat wangsit. Setelah mendapat wangsit itu, Joko Lilung menjadi jelas bahwa orang tuanya telah mengalami kejadian aneh dan sekarang sudah tidak bisa menemuinya lagi. Bahkan, Ki Pasir dalam wangsitnya memberi pesan, agar telaga itu diberi nama Telaga Pasir.

Pesan berikutnya memberi tugas kepadanya agar pada setiap malam Jumat Pon, bulan Ruwah menghadiahkan sesaji di Telaga Pasir. Pesan ketiga, Joko Lilung disuruh mencari telur yang ditimbunnya di ladang pada waktu lalu. Ki Pasir ingin tahu, telur binatang apa sebenarnya, sehingga membuat keduanya berubah menjadi naga. Joko Lilling segera mencari telur yang dimaksud Ki Pasir. Namun, betapa kagetnya, telur yang disimpan Ki Pasir itu pecah dan muncul seekor ular.

Ular itu kemudian makin membesar tubuhnya menjadi seekor naga. Oleh Joko Lilung si naga yang bisa berbicara itu dijadikan saudara. Naga itu lalu berpindah tempat di Telaga Ngebel, Ponorogo. Sementara Joko Lilung yang kemudian dijuluki Ki Jalilung, mukso di Telaga Pasir, setelah pesan-pesan Ki Pasir sudah disebarkan kepada orang-orang yang satu-persatu mulai mendiami kawasan Sarangan. mi husnul m

mossaik; november 2005

Gunung Kelud: Legenda

Si Kepala Lembu dan Tangan Setan, Seperti Gunung Bromo dan Tangkuban Perahu, Gunung Kelud juga menyimpan cerita rakyat dan legenda yang mengakar.

Menurut sumber, di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, letusan Gunung Kelud dipahami sebagai amarah dari Raden Lembusuro atau Raden Wimba yang dikubur hidup-hidup di sumur (kawah) Kelud. Dikisahkan, ketika Raja Brawijaya berkuasa di Majapahit, ia memiliki putri yang cantik jelita, Dyah Ayu Pusparini.

Lembusuro yang mendengar kecantikan sang putri, langsung datang meminang. Syarat Brawijaya untuk merentangkan busur Kyai Garodayaksa dan mengangkat gong Kyai Sekar delima bisa dijalani dengan mudah. Kenyataan ini membuat Dyah Ayu merasa sedih dan ketakutan. Ia sedih karena sosok Lembusuro yang berkepala lembu, dan takut karena menyadari kesaktian Lembusuro yang luar biasa.

Akhirnya, keluarga Brawijaya mengatur strategi untuk menggagalkan mimpi Lembusuro. Lewat emban Dyah Ayu yang setia, disampaikanlah syarat terakhir sebagai penyempurna jembatan pernikahan Lembusuro dan putri raja. Syarat itu adalah, Lembusuro harus bisa membuat sebuah sumur di puncak Gunung Kelud. Secara akal, sesakti-saktinya orang, tak akan ada yang mampu melakukannya.

Namun apa daya, Lembusuro yang digdaya tak surut melangkah. Ia berjalan ke puncak Kelud dan mulai menggali sumur. Dari para mata-mata, Brawaijaya tahu, Lembusuro mengerahkan pasukan jin untuk menggali sumur. Sehingga, Sang Raja menyuruh para perwiranya agar mengubur Lembusuro yang kini sedang berada di dasar sumur.

Alam gelap gulita, menyambut Lembusuro yang murka karena dikhianati. Ia terkubur dalam kawah Gunung Kelud. Namun karena kesaktiannya, ia masih bisa lantang mengutuk Brawijaya. Setiap dua windu, Lembusuro akan menghancurkan tanah kerajaan Brawijaya.

Kemarahan inilah yang menjadi letusan Kelud. Brawijaya yang merasa tertantang untuk melindungi rakyatnya, meminta rakyatnya agar mau membuat bendungan atau tanggul sebagai pengaman. Tanggul  inilah yang dikenal orang sebagai Gunung Pegat. Namun apa boleh buat, kekuatan Lembusuro tetap tak tertandingi. Dalam beberapa tahun, ia tetap meluapkan amarahnya. Gunung Kelud meletus.

Sosok Lembusuro, dalam legenda yang lain disebut-sebut sebagai anak bangsawan yang suka bertindak ugal-ugalan dan berandalan. Setiap hari, ia suka membuat onar sehingga orang tuanya malu dan mengutuk dia jadi lelaki berkepala lembu. Dalam mitologi Ramayana, tokoh ini juga disebut sebagai representasi raksasa pengganggu ketertiban. Bersama Maesasura, kakaknya, Raja Gua Kiskendha, ia mendatangi Kahyangan dan meminta para dewa untuk menyerahkan Dewi Tara agar bisa dipersunting Prabu Maesasura.

Di desa-desa terpencil di Kabupaten Kediri, legenda ini kerap di gunakan sebagai bahan ancaman buat anak yang nakal. Jika ada anak yang sulit diatur, orang tuanya akan bilang, “Kalau kamu tetap kurang ajar, kamu bisa jadi Lembusuro, lho”.

Sayang, nasehat ini tak pernah mampir di telinga para pengunjung Danau Kawah Gunung Kelud yang kadang bersikap kurang ajar. Di sepanjang jalan menuju Kawah Kelud, seperti di batu-batu besar, banyak coretan tangan pengunjung yang seolah ingin pamer bahwa ia atau mereka pernah bertandang ke Gunung Kelud.

Ironisnya, diantara beberapa grafiti itu ada coretan dengan identitas klub pecinta alam. Kondisi ini diperparah dengan kebiasaan buang sampah sembarangan yang dilakukan sejumlah pengunjung. Di dekat danau, banyak ditemui bungkus rokok, mi instan, kue kering, atau botol minuman mineral.

Seorang petugas di area parkir Kawah Gunung Kelud mengatakan, ia sudah berusaha untuk mengingatkan pengunjung. Namun apa daya, ketika lalai, sampah sudah menumpuk kembali bersama coretan di batu-batu besar sekitar danau. “Rasanya kok aneh. Ketika sebagian orang habis-habisan menjaga kesucian tempat ini, ada orang malah suka mengotori Gunung Kelud,” ujar pria yang enggan disebut namanya ini. Selain itu, tambahnya, ulah tangan setan juga membuat beberapa rambu di sepanjang jalan dari Perkebunan Margomulyo hingga area parkir danau kawah hilang entah kemana. Padahal rambu-rambu itu digunakan untuk menjaga keselamatan mereka yang berkendara dari Margomulyo ke kawah Kelud. mi hd laksono

Mossaik;  november 2005

Kawah Gunung Kelud, Kabupaten Kediri

Menggapai Kawah Gunung Kelud
Secara administratif, Gunung Kelud terletak di perbatasan Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar dan Kabupaten Malang. Namun kawah ·gunung, terletak di Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri. Jadi, cara paling mudah untuk mencapai kawah Gunung Kelud bisa dimulai dari Kediri, dilanjutkan menuju Wates, lalu ke Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar. Jarak dari Kota Kediri ke desa ini kurang lebih 40 kilometer, bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi atau angkutan umum.

Setelah membeli tiket masuk seharga Rp 1000, kita bisa melanjutkan perjalanan dengan memanfaatkan akses  jalan sepanjang 10 kilometer menuju puncak dan bibir kawah. Ketika kawasan ini masih belum dikembangkan menjadi aset wisata, akses menuju kawah masih berbentuk jalan setapak yang disana-sini diwarnai batu dan tanah. Kinijalanan sudah menggunakan lapisan aspal hotmix sehingga bisa dilewati semua jenis kendaraan. Jika Anda tidak membawa kendaraan pribadi, di Wates atau dekat loket masuk (di Margomulyo), banyak mobil atau motor umum siap digunakan. Jika tawar menawar pas, tinggal tancap gas.

Mendekati kawah, kendaraan yang digunakan pengunjung harus diparkir. Karena perjalanan selanjutnya dirancang untuk jalan kaki. Dari tempat parkir, pengunjung akan diajak masuk dalam terowongan di bawah gunung yang panjangnya kurang lebih 110 meter. Sumber di Kantor Pariwisata, Seni, dan Budaya Kabupaten Kediri mengatakan, terowongan ini diperkirakan sudah dibangun sejak awal abad 20. Setelah melewati lorong, perjalanan dilanjutkan dengan menapaki tangga berkelok yang membelah bukit. Sampai di satu titik, tangga batu berganti menjadi jalan setapak yang cukup terjal. Tingkat kemiringan jalan setapak menuju kawah berkisaran tara 30-45 derajat.

Di beberapa bagian, kita harus ekstra hati -hati. Karena pijakan jalan setapak ini hanya mengandalkan batu dan tanah yang di musim kering gampang goyang. Tegang dan lelah, mungkin akan dirasakan oleh sebagian pengunjung. Tapi saat kawah terhampar di depan mata, semua akan menguap bersama udara pegunungan yang sejuk dan segar. mi hd laksono

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Mossaik, November 2005.

Sarangan, Menghantar Labuh Sesaji

Labuh sesaji marupakan satu dari beberapa event penting tahunan di Telaga Sarangan, selain Ledug Sura 1 Muharam, libur sekolah pertengahan tahun, dan pesta kembang api di malam pergantian tahun. Empat orang tampak memanggul tumpeng berukuran besar. Berdiameter sekitar tiga meter dengan tinggi satu setengah meter. Empat orang lagi memikul tumpeng satunya yang lebih kecil. Setelah dilakukan doa, tumpeng Gono Bau dan hasil bumi itu dibawa ke telaga menggunakan perahu. Sesampainya di tengah telaga, kedua tumpeng ditenggelamkan.

Artinya, upacara labuh sesaji sebagai tanda syukur warga Sarangan atas limpahan rahmat Sang Pencipta telah dilakukan. Sebelumnya, tumpeng tersebut dikirab mulai dari balai Kelurahan Sarangan yang berjarak sekitar 500 meter dari telaga. Sekitar pukul 10.45, tumpeng diberangkatkan diiringi puluhan pasukan. Diantaranya, dua pasang Bagus-Diah, 10 orang dayang, dua pujangga, Ki dan Nyi Lurah, pembawa songsong, putri Dumas, Manggoloyudho, pembawa sesaji, pasukan keraton, kejawen, pasukan berkuda, dan reog.

Kirab itu tak ubahnya kirab yang sering dilakukan masyarakat Solo dan Jogjakarta. Amat kental dengan tradisi Jawa Tengah. Bahkan Bupati Magetan, H. Saleh Muljono, pun berucap, “Kita sebenarnya memiliki banyak potensi wisata budaya, hanya saja, belum optimal penggaliannya. Dan akan kita mulai dengan larung sesaji ini. Bukan hanya Solo dan Jogja saja yang memiliki acara larung, kita juga punya di Sarangan.” Pasukan pengiring yang melibatkan banyak unsur masyarakat, juga didaulat bukan sebagai pengiring semata. Lebih dari itu keterlibatan mereka dianggap sebagai manifestasi dari pelestarian tradisi dan kesenian masyarakat Magetan, yang kaya akan seni budaya.

Mereka adalah pelaku-pelaku kesenian tradisi, seperti penari (jalak Lawu sebagai salah satu andalannya), penyanyi (lagu-lagu dan tembang Jawa), termasuk reog. Masyarakat dan pengunjung tumpah ruah di sepanjang jalan di mana pasukan kirab lewat. Mereka tampak berdesakan, berlari kecil mengikuti jalannya pasukan pengiring. Mereka berebut mengambil gambar dari kamera digital atau kamera handphonenya. Pengunjung yang menginap di hotel pun menyesaki teras hotel untuk menyaksikan prosesi upacara tersebut.

Dan, di tepi telaga juga penuh dengan manusia. Beribu-ribu, bahkan berpuluh ribu pasang mata yang mengitari telaga seakan turut mengantarkan khidmatnya upacara. Mereka bukan saja datang dari Magetan, namun juga dari luar kota, seperti Madiun, Ponorogo, Sragen, Karanganyar, Ngawi dan beberapa wisatawan luar kota lainnya. Tak puas menyaksikan jalannya larung sesaji dari bibir telaga, mereka pun tumpah ke dalam telaga, yang saat itu airnya memang sedang surut. Jarak antara air dengan tepi telaga lebih dari dua puluh meter.

TlRAKATAN
Gelaran upacara labuh sesaji di hari Minggu itu merupakan hajatan yang diselengarakan oleh pemerintah kabupaten Magetan. Prosesi labuh sesaji yang massal dengan dihadiri segenap jajaran pejabat pemkab dan sesepuh desa Sarangan itu diset-up menjadi daya tarik wisatawan. Namun, acara labuh sesaji itu sebetulnya sudah dimulai sejak dua hari sebelumnya. Tepatnya sejak malam Jumat Pon, bulan Ruwah (bulan kedelapan dalam kalender Jawa, red). Malam Jumat itu masyarakat Sarangan berbondong-bondong membawa tumpeng dan beragam sesaji ke pinggir telaga. Semalaman warga Sarangan yang berkumpul di situ melakukan tirakatan. Ucap syukur pun dikumandangkan.

Tempat mereka berkumpul juga merupakan tempat yang sudah ditentukan. Tempat itu berada di bawah pohon besar di sisi pojok sebelah timur, berdekatan dengan punden (makam) Ki dan Nyi Pasir. Di bawah pohon besar itu dipercaya sebagai tempat mukso-nya Ki Jalilung, anak pungut suami-isteri yang kental dengan legenda telaga Pasir Sarangan, yaitu Ki dan Nyi Pasir. Datangnya wangsit yang “memerintahkan” masyarakat Sarangan untuk mengirim sesaji setiap malam Jumat Pon bulan Ruwah itu, diyakini berasal dari Ki Jalilung. Konon, pesan itu diterima Ki Jalilung dari ayah angkatnya, Ki Pasir. Ki Pasir, menurut legenda babat tanah Jawa, adalah seorang pujangga dari keraton Pengging, Jawa Tengah, yang babat alas daerah Sarangan. Ki Pasir lebih dulu mukso dan dipercaya tepat pada malam Jumat Pon bulan Ruwah itu. Punden yang ada itu pun bukanlah makam sebenarnya, tapi hanya petilasan.

Pada malam tirakatan itu, menurut Ki Atmosentono, 83 tahun, selain diikuti warga setempat, juga biasa diikuti para pejabat dari pemkab Magetan. “Mereka biasanya ikut melekan sampai pagi,” tutur Ki Atmo alias Dimon, sesepuh Sarangan itu. Seperti biasa, Ki Atmo menjadi narasumber utama dalam pembicaraan sepanjang malam itu. Ki Atmo bercerita, acara malam tirakatan itu sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu. Ia sendiri sudah tak ingat sejak tahun berapa acara tumpengan seperti itu dimulai. Yang jelas, katanya, bagaimanapun acara tirakatan itu dilakukan tepat pada malam Jumat Pon bulan Ruwah seperti dititahkan Ki Jalilung. “Karena dari sananya begitu, kita tidak berani mengubahnya,” cetusnya.

Kalau kemudian acara ini dijadikan sebagai daya tarik wisata tersendiri oleh pemerintah, itu soal lain. Singkat cerita akhirnya disepakati, acara sakralnya tetap dilakukan pada malam Jumat, kemudian hari Minggunya diadakan prosesi labuh sesaji yang melibatkan banyak unsur masyarakat dan bisa disaksikan oleh pengunjung dan wisatawan. Prosesi labuh sesaji itu sendiri, konon, digelar sejak belum genap sepuluh tahun lalu. Pada perkembangannya, malam tirakatan dan labuh sesaji itu dipahami dalam dua kerangka oleh masyarakat. Pertama, acara itu hendak dibingkai secara Islam, sehingga makna utamanya sebagai tanda syukur kepada Yang Maha Pemberi nikmat atas limpahan rejeki yang telah didapat dari hasil-hasil bumi. Kedua, dalam bingkai mitologi Jawa seperti yang selama ini terjadi. Bahwa acara tirakatan dan labuh sesaji itu tidak bisa dilepaskan dari kepercayaan dan mitos masyarakat terhadap Ki dan Nyi Pasir.

Lambat laun, kedua pemahaman itu pun menyatu. Acara tirakatan dan labuh sesaji itu merupakan ujud terima kasih hamba kepada Tuhan yang telah memberi kelimpahan rejeki, sekaligus kirim doa sebagai penghormatan kepada Ki dan Nyi Pasir yang memang telah berjasa besar membuka lahan yang sekarang menjadi tempat hidup dan mencari penghidupan masyarakat Sarangan.

PAKET WISATA
Upacara labuh sesaji, betapapun menjadi daya tarik wisata yang kuat di Sarangan. Telaga Pasir Sarangan yang luasnya sekitar 30 hektar, berkedalaman 28 meter, dan bersuhu udara antara 18 hingga 25 derajat Celsius, boleh jadi menyodorkan keindahan alam tak terkira. Tapi, obyek wisata alam yang terletak di kaki Gunung Lawu, sekitar 16 kilometer arah barat kota Magetan, Jawa Timur ini tak berubah dari tahun ke tahun. Unsur ini tidak cukup berdiri sendiri, dan harus ditopang dengan unsur lain seperti labuh sesaji yang mampu menawarkan daya tarik lebih bagi penikmat wisata budaya.

Tak keliru bila kemudian tradisi labuh sesaji ini dikembangkan menjadi obyek wisata andalan lainnya di Sarangan. Meski tak ada catatan resmi, diakui Iswahyudi Yulianto, Kepala Humas Pemkab Magetan, acara tahunan labuh sesaji mampu menggenjot jumlah kunjungan ke kawasan wisata Sarangan. “Katakan ini sebagai satu paket wisata andalan di Sarangan,” cetusnya. Makin berkembangnya paket wisata, tak heran bila Sarangan mampu menarik ratusan ribu pengunjung setiap tahunnya. Dari tahun ke tahun jumlah pengunjung mengalami peningkatan. Sebagai gambaran, pengunjung pada tahun 2003 sekitar 350 ribu orang dan meningkat menjadi sekitar 400 ribu orang pada tahun 2004.

Selama rentang periode tersebut, pendapatan obyek pariwisata andalan Magetan tadi meningkat dari sekitar Rp 950 juta menjadi sekitar Rp 1,01 miliar. Bahkan, menurut Yulianto, mendekati akhir tahun ini, kunjungan ke Sarangan meningkat lagi hingga 500 ribuan pengunjung. Yang artinya, pendapatan daerah dari obyek wisata ini juga makin meningkat. Diakui, sekitar 99 persen pendapatan sektor pariwisata Magetan memang dihasilkan dari kawasan wisata Telaga Sarangan. Sebagai obyek wisata, keberadaan Telaga Sarangan didukung oleh adanya hotel-hotel berbintang, pilihan hotel kelas melati, dan pondok wisata.

Fasilitas obyek wisata lainnya pun tersedia, misalnya rumah makan, tempat bermain, pasar wisata, tempat parkir, sarana telepon umum, tempat ibadat, taman, rumah makan, dan pedagang kaki lima yang menawarkan berbagai suvenir kepada pengunjung untuk membeli oleh-oleh. Telaga Sarangan juga memiliki layanan jasa sewa perahu dan becak air. Ada 51 perahu motor dan 13 becak air yang dapat digunakan untuk menjelajahi telaga. Di sekitar telaga pun banyak ditemui tukang kuda menunggu penyewa yang akan mengelilingi telaga di atas punggung kuda.

Telaga Sarangan sekarang memang tampak komplit. Namun, obyek wisata ini masih menyisakan beberapa problem, terutama menyangkut kesan semrawut disaat pengunjung membeludak, seperti di hari raya Lebaran dan perayaan Tahun Baru. Kondisi ini diperparah dengan banyaknya mobil yang parkir di tepi jalan karena sebagian hotel di lokasi wisata tersebut tidak memiliki tempat parkir sendiri. Ke depan, kata Yulianto, kawasan ini akan disetup ulang secara makro. Telaga ini juga sudah dibuatkan masterplan yang akan mengatur penataan ruang bagi hotel, kendaraan, rumah makan, dan pedagang kaki lima agar lebih bagus dibandingkan dengan kondisi saat ini. Pemkab Magetan, lanjutnya, ke depan berupaya menyediakan tempat parkir representatif di sekitar Telaga Sarangan, yang mampu menampung ribuan kendaraan di saat puncak kunjungan.

Sebagai gambaran, awal  Januari 2005 lalu tercatat ada 1. 200 kendaraan roda empat dan 3.500 kendaraan roda dua masuk ke Sarangan. Penataan itu menjadi niscaya, karena Pemkab Magetan sendiri berobsesi menjadikan daerahnya sebagai kota wisata. Artinya, sektor pariwisata yang terutama bertumpu pada Telaga Sarangan akan dijadikan andalan pendapatan asli daerah tersebut. Berdasar data Dinas Perhubungan dan Pariwisata Kabupaten Magetan, realisasi pendapatan retribusi sektor pariwisata daerah itu tahun 2001 hampir menyentuh Rp 600 juta, kemudian meningkat menjadi Rp 910 juta lebih pada tahun 2002.

Kemudian meningkat lagi mencapai Rp 950 juta lebih pada tahun 2003, hingga kemudian menyentuh angka Rp 1 miliar lebih pada tahun berikutnya. Terkait dengan obsesi menjadikan Magetan sebagai kota wisata, saat ini pemkab setempat tengah membuat proyek jalan tembus yang menghubungkan Telaga Sarangan dengan obyek wisata Tawangmangu di Kabupaten Karanganyar. Proyek pelebaran dan pelandaian jalan curam yang menghubungkan dua daerah tersebut diharapkan selesai dalam dua tiga tahun mendatang. Pemkab Magetan juga hendak mengembangkan Waduk Poncol  (sekitar 10 kilometer arah selatan Telaga Sarangan) sebagai obyek wisata alternatif. “Ini proyek jangka panjang. Kalau dua-tiga tahun ke depan proyek ini jadi, obyek wisata ini akan jadi Sarangan kedua,” tukasnya. Bahkan rencananya akan dibuatkan jalan tembus antara Waduk Poncol dan Sarangan. Kondisi ini akan terwujud apabila Magetan mampu dikembangkan menjadi daerah tujuan wisata utama dan bukan semata disinggahi seperti yang berlangsung selama ini. Sebab, kata salah seorang Dewan Pengurus Daerah Asosiasi Biro Perjalanan dan Wisata (DPD Asita) Jatim, Nanik Sutaningtyas, selama ini masih sedikit agen biro perjalanan dan wisata Jatim dari arah Surabaya yang menggarap paket wisata ke Magetan. Selama ini, yang banyak menggarap paket wisata Magetan adalah biro perjalanan wisata dari Yogyakarta. Karena, tak dapat dipungkiri, Sarangan lebih dekat dengan obyek wisata yang berada di Yogyakarta dan Jawa Tengah. mi husnul m

 

mossaik november 2005

Masjid Agung, Surabaya

Masjid Agung Surabaya, Kemegahan yang Sempat Melelahkan

SETELAH MELEWATI PROSES PEMBANGUNAN YANG PANJANG, SEKARANG KITA SEMUA BISA TERSENYUM MEMANDANGNYA

Berangkat  dari  keinginan memiliki masjid yang representatif dan membanggakan warga kota, elemen pucuk pimpinan Surabaya dan Jawa Timur merencanakan pembangunan masjid ini. Tanpa banyak berbelit, peletakan batu pertama dilakukan oleh Wapres (saat itu), Try Sutrisno pada 4 Agustus 1995 sekaligus pemancangan 53 tiang dari sekitar 2000 tiang yang dibutuhkan. Rencananya, pembangunan masjid Agung Surabaya dilakukan dengan sistemfast track yaitu sebuah sistern dimana perencanaan diselesaikan bersamaan dengan pelaksanaan di lapangan.

Sistem ini tak ayal membuat tim perancang menjadi orang yang paling sibuk. “Kadang, gambar yang sudah jadi bisa mentah kembali karena ditolak dalam rapat. Belum lagi kendala dana, bahan baku dan sebagainya,” ujar Ir. H. Moerhanniono salah satu arsitek masjid dari ITS. Konsep dasar arsitektur masjid sebenarnya sederhana, sebuah masjid yang nyaman dan tidak terikat pada aliran tertentu. Walau demikian, masjid ini tidak mengabaikan sama sekali sentuhan dari masjid-masjid lain. “Kita mengambil banyak sekali lintasan-lintasan konsep yang terdapat dalam masjid-masjid besar dunia misalnya masjid di Malaysia, Brunei Darussalam dan beberapa di Timur Tengah,” tambah Ir. Hanni, anggota tim arsitek. Dalam perjalanannya, ternyata pembangunan tidak bisa dilakukan seketika. “Banyak hal yang harus dipertimbangkan. Pertama, masalah dana. Kedua, bagian mana yang harus dibangun lebih dulu agar nantinya bisa bersinergi, tak ada yang terlewatkan. Inilah yang paling sulit karena masjid sebesar ini harusnya dibangun secara berkala dan tersistemasi dengan baik,” terang Ir. Tedjo Surjono, Manajemen Konstruksi Masjid Al-Akbar Surabaya. Luas bangunan dan fasilitas penunjang masjid ini sekitar 22.300 meter persegi. Tanah seluas itu awalnya adalah tanah bengkok, tanah rakyat ataupun tanah peruntukan. Salah satu keistimewaan masjid adalah penataan ruang yang menghadirkan bentuk bangunan besar dengan bobot kubah hampir 200 ton tanpa tiang tengah sebagai penyangga. Kondisi ini memang agak berbeda dengan bentuk bangunan masjid masa lalu baik di Indonesia maupun lainnya.

Problem keuangan menjadi penghambat yang sempat membuat proses pembangunan masjid menjadi lebih lama dan melelahkan. Melihat kesulitan yang dialami, Wakil Presiden RI saat itu berinisiatif menggalang dana dari berbagai pihak termasuk para konglomerat yang berjaya saat itu. Tak heran jika pembangunan masjid baru selesai 5 tahun kemudian, yaitu tahun 2000. Kubah masjid yang terletak di jalan Menanggal V ini nampak berbeda dari kubah masjid pada umumnya karena menggunakan teknologi dan bahan yang jarang digunakan dalam membangun masjid.

Keunikan kubah ditunjang dengan bentuk kubah yang menyerupai setengah telur dengan 1,5 layer setinggi 27 meter. Bentuk ini menumpu pada bentuk piramida terpancung dalam dua layer setinggi 11 meter dengan bentang tumpuan 54 m X 54 m. Sudah tentu tingkat kesulitan pembangunan kubah sangat tinggi. Masalah lanjutan muncul teknologi apa yang akan digunakan sebagai penutup bangunan kubah yang besar tersebut. Akhirnya ditemukan sebuah system yang sempat digunakan beberapa masjid besar di luar negeri antara lain Masjid Raya Selangor di Syah Alam. Sistem ini mempakan sebuah penutup atap yang terdiri dari dua lapisan penutup atap yaitu Atap Kedap Air (AKA) sedangkan lapisan kedua adalah berupa panel dari bahan baja yang bersifat sangat kuat dan tahan lama yang populer dengan nama Enamel Steel Panel (ESP).

Ukiran dan kaligrafi nampak dominan di setiap sudut masjid. Begitu masuk masjid, kita telah disambut 45 pintu ukir berbahan kayu jati. Pada serambi  masjid terdapat bedug yang diukir khusus. Tak hanya itu, ukiran kaligrafi juga terpampang di dinding, mihrab, relung imam bahkan di ornamen atas yang full kaligrafi Quran sepanjang 180 m dengan lebar 1 meter. Di malam hari, keindahan masjid makin terpancar karena penerangan yang dayanya mencapai 240 ribu watt. Megawati Soekarno Puteri, mantan Presiden RI dan suaminya, Taufik Kiemas, juga pernah menyumbang pembangunan dua ruang resepsi yang megah yaitu Ash-Shafa dan Al-Marwa. m indah yuni

mossaik november 2005

Masjid Agung, Sumenep

Masjid Agung, Sumenep, desain perpaduan budaya Masjid dengan gerbang besar dan terbut dari pintu kayu kuno ini, serasa berdiri kokoh menghadap matahari terbit. Masjid Agung Sumenep, dulu Masjid Jami’, terletak di tengah Kota Sumenep. Masjid ini dibangun setelah pembangunan Kraton Sumenep, sebagai inisiatif dari Adipati Sumenep, Pangeran Natakusuma I alias Panembahan Somala (1762-1811 M). Adipati yang memiliki nama asli Aria Asirudin Natakusuma ini, sengaja mendirikan masjid yang lebih besar. Setelah sebelumnya dibangun masjid, yang dikenal dengan nama Masjid Laju, oleh Pangeran Anggadipa (AdipatiSumenep, 1626-1644 M). Akhimya, masjid laju tidak mampu lagi menampung jemaah yang kian banyak.

Setelah pembangunan keraton selesai, Pangeran Natakusuma I memerintahkan arsitek yang membangun keraton, Lauw Piango, ulntulk membangun Masjid Jami’. Berdasar catatan Sejarah Sumenep (2003), Lauw Piango adalah cucu dari Lauw Khun Thing, satu dari enam orang China yang pertama datang dan menetap di Sumenep. Ia diperkirakan pelarian dari Semarang akibat perang yang disebut ‘Huru-hara Tionghwa’ (1740 M).

Terhadap masjid Jami’ yang dibangun pada 1198 H (1779 M) – 1206 H (1787 M) ini, Pangeran Natakusuma berwasiat (ditulis pada 1806 M), sebagai berikut; “Masjid ini adalah Baitullah, berwasiat Pangeran Natakusuma penguasa di negeri keraton Sumenep. Sesungguhnya wasiatku kepada orang yang memerintah (penguasa) dan menegakkan kebaikan. Jika terdapat Masjid ini sesudahku (keadaan) aib, maka perbaiki. Karena sesungguhnya Masjid ini wakaf, tidak boleh diwariskan, tidak boleh dijual, dan tidak boleh dirusak.”

Dari tinjauan arsitektural, banyak hal yang khas. Fisik bangunannya, menganut eklektisme kultur desain. Ia merupakan penggabungan berbagai unsur budaya. Mungkin pula sebagai bentuk akomodasi berbagai etnis masyarakat yang saling memberikan pengaruh. Menariknya, bukan hanya kolaborasi gaya arsitektur lokal. Tetapi juga arsitektur Arab, Persia, Jawa, India, dan Cina. Kubah kecil di puncak bangunan, di sudut kanan-kiri halaman masjid, sangat mungkin mewakili arsitektur Arab Persia. Penerapannya tidak semata-mata, terdapat sejumlah modifikasi yang berkembang seiring dengan kebutuhan masyarakat setempat.

Ornamen yang kemudian dipertegas dengan warna-warna menyala, menggambarkan corak bangunan dari Gujarat-Cina. Semakin kental atmosfirnya ketika berada di bagian dalam bangunan utama. Memperhatikan mihrab masjid yang berusia 799 tahun ini, pada mimbar khotbah, hingga ornamen seperti keramik yang menghiasi dindingnya. Bangunan bersusun dengan puncak bagian atas menjulang tinggi mengingatkan bentuk-bentuk candi yang menjadi warisan masyarakat Jawa. Kubah berbentuk tajug juga merupakan kekayaan alami pada desain masyarakat Jawa.

Struktur bangunan secara keseluruhan menggambarkan tatanan kehidupan masyarakat yang rumit di saat itu. Jalinan hubungan antar etnik yang hidup di Madura dapat disaksikan dari bangunan utuh dari sosok masjid Agung Sumenep ini. Pada bagian depan, dengan pintu gerbang yang seperti gapura besar, disinyalir menampakkan adanya corak kebudayaan Portugis. Konon, masjid Agung Sumenep merupakan salah satu dari sepuluh masjid tertua di Indonesia dengan corak arsitektur yang khas.

Perkembangan Islam di Ampel dan Giri menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat Madura. Pada jamannya, tugas dakwah yang diemban para wali meliputi seluruh daerah, termasuk Jawa dan Madura. Juga tak lepas dari para pedagang yang datang dari Gujarat (India) serta perantau dari jazirah Arab. Mereka yang berhasil mendarat di Madura juga memberi kontribusi, baik budaya maupun tata kehidupan. Model akulturasi budaya yang ada di masa silam, secara jelas masih bisa dinikmati sekarang, yang ada di masjid Jami’ Sumenep. Walaupun pada sekitar tahun 90-an masjid ini mengalami pengembangan, dengan renovasi pada pelataran depan, kanan dan kirinya. Namun demikian tidak mengurangi eksotismenya hingga sekarang. mi az alim

 

mossaik november 2005

Dam Jagir

Penjajahan tak selalu meninggalkan kenangan buruk. Cobalah menengok
Sejumlah bangunan kuno yang ada di Surabaya yang sampai sekarang masih berfungsi.

Seperti salah satunya sebuah bangunan Bendungan Dam Jagir. Sejak sah dioperasikan pada masa pemerintahan Belanda sekitar 1920-an.

Dari Bendungan Dam Jagir ini pula yang

mengontrol  Bran sungai sedemikian rupa, sehingga genangan banjir di kawasan kota Surabaya banyak  terkurangi. Selain itu dari pintu air yang dibangun di atas kali Surabaya ini sudah banyak menyuplai bahan baku air tersaring untuk konsumsi air bersih warga kota.

Seiring dengan menuanya kota, banyak berdiri deretan bedak-bedak kios memanjang di sekitar  tepian dam. Dagangan yang tawarkan aalah barang-barang untuk keperluan memancing digelar disini, mulai pancing hingga jaring. Tak jarang kios-kios tersebut menimbulkan kemacetan lalu lintas, dikarenakan kawasan tersebut  pintu masuk jalan jagir yang mana masih menyerupai leher botol.

Dan kini kepada juru pintu air, dam ini dipasrahkan. Secara bergantian mereka menjaga pintu air untuk terus berfungsi sebagaimana mestinya. Maka sangat beruntunglah kita masih bisa merasakan fungsinya, menikmati kemegahan bangunannya, sebagai pusaka bersejarah yang patut dilestarikan dan dipertahankan keberadaannya.

naskah dan foto : an kusnanto

Mossaik Juni 2006, hlm. 10