Pemandian Ubalan

Pemandian Ubalan terletak di Desa Pacet, Kecamatan Pacet, berjarak sekitar 1 kilometer dari pusat kota Pacet.

Obyek utamanya Pemandian Ubalan berupa kolam renang yang sumber air utamanya berasal  dari pegunungan (alami), obyek wisata ini dilengkapi pula dengan taman bermain, wisata sepeda air, dan panggung hiburan.

Obyek wisata pemandian ubalan dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang  antara lain: musholla, restoran, penginapan, gazebo dan areal parkir yang cukup luas.

Di sekitar obyek tersedia berbagai penunjang kepariwisataan, seperti halnya warung lesehan, kolam pancing serta kios-kios yang menyediakan sayur dan buah tidak ketinggalan berbagai makanan khas sebagai oleh-oleh.

Puncak kunjungan wisatawan terjadi pada saat libur, Pemandian Ubalan merupakan obyek wisata di kawasan Pacet yang paling banyak dikunjungi wisatawan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pusaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Informasi Priwisata Kabupaten Mojokerto: DINAS PEMUDA, OLAHRAGA, KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA KABUPATEN MOJOKERTO, Juni 2011, Mojokerto, 2011

Situs Lantai Segi Enam

Situs berupa sisa-sisa sebuah bangunan rumah ini memiliki keunikan tersendiri lantaran ditemukannya hamparan lantai kuno berupa paving blok berbentuk segi enam dari bahan tanah liat bakar yang dibuat halus, berukuran 34 x 29 x 6.5 cm.

Pada situs ini kita bisa melihat sisa lantai, sisa dinding dan beberapa perabot dari bahan tembikar seperti gentong dan pot tanah liat. Diduga dulu situs yang terletak 500 m selatan Pendopo Agung ini merupakan bagian dari komplek bangunan kerajaan, atau mungkin pula bangunan milik bangsawan kerajaan Majapahit.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pusaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Informasi Priwisata Kabupaten Mojokerto: DINAS PEMUDA, OLAHRAGA, KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA KABUPATEN MOJOKERTO, Juni 2011, Mojokerto, 2011

Kolam Segaran, Kabupaten Mojokerto

Bangunan monumental berupa kolam besar dari batu bata, berbentuk persegi panjang dengan ukuran 800 meter x 500 meter persegi. Kedalaman Kolam Segaran sekitar 3 meter dengan ketebalan dinding kolam 1,6 meter.

Konon nama Segaran berasal dari bahasa Jawa ‘segara’ yang berarti ‘laut’, dimungkinkan masyarakat setempat mengibaratkan kolam besar tersebut sebagai miniatur laut. Diduga fungsi kolam ini adalah sebagai reservoir air bagi pemukiman penduduk kerajaan Majapahit yang padat, atau sebagai tempat latihan renang bagi prajurit kerajaan.

Dugaan lain adalah sebagai tempat hiburan menjamu tamu-tamu kerajaan, di mana mereka dijamu di tepi kolam dengan perlengkapan makan dari emas dan perak, lalu seusai acara perjamuan peralatan nan mahal ini dilemparkan ke tengah-tengah kolam untuk menunjukkan betapa makmurnya kerajaan Majapahit.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pusaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Informasi Priwisata Kabupaten Mojokerto: DINAS PEMUDA, OLAHRAGA, KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA KABUPATEN MOJOKERTO, Juni 2011, Mojokerto, 2011

Candi Bajang Ratu

Candi Bajang Ratu berlokasi di Desa Temon, Kecamatan Trowulan,  Kabupaten Mojokerto. Jarak dari kota Surabaya lebih kurang 72 km. Untuk menuju ke lokasi tersebut dapat dicapai dengan mudah, baik kendaraan pribadi mobil ataupun roda 2. Jika naik transportasi umum baik bus atau yang lain dari simpang empat Trowulan, selanjutnya dapat mencapai ke sana hanya ojek dengan harga yang terjangkau.

Gapura Bajang Ratu berbentuk Paduraksa (gapura beratap), mempunyai sayap di kanan dan kirinya. Terbuat dari bata kecuali lantai dasarnya terbuat dari batu. Berukuran tinggi: 16.1 m, panjang 11 m dan lebar 6.7 m. Relief yang menghiasi gapura dari atas ke bawah antara lain berupa mata satu, kepala garuda, matahari diapit naga, kepala kala diapit singa, binatang bertelinga panjang. Adapun relief yang bermakna cerita adalah relief Ramayana dan relief Sri Tanjung yang dipahatkan pada bagian sayap.

Gapura Bajang Ratu dihubungkan dengan Prabu Jayanegara, Raja kedua Majapahit, yang meninggal dalam keadaan belum beristri (bujang). Sehingga fungsi yang sebenarnya bukan sebagai pintu masuk menuju keraton Mojopahit melainkan menuju ke suatu bangunan suci, tempat  perabuan Prabu Jayanegara.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pusaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Informasi Priwisata Kabupaten Mojokerto: DINAS PEMUDA, OLAHRAGA, KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA KABUPATEN MOJOKERTO, Juni 2011, Mojokerto, 2011

Gunung Kelud, Mysterious Road

Menjajal Mysterious Road
DI GUNUNG KELUD MAGNET ATAU ILUSI MATA?

Gunung Kelud sudah menjadi ikon pariwisata Kabupaten Kediri. Gunung api yang masih aktif ini dibuka kembali oleh Bupati Kediri, Ir. H. Sutrisno, setelah ditutup pasca terjadinya letusan di akhir 2007. Pasca letusan tersebut, Gunung Kelud memiliki fenomena baru, yaitu munculnya kubah lava di puncak kepundannya, yang semakin mengundang daya tarik wisatawan untuk berkunjung.

Puncak aktivitas Gunung Kelud pada akhir 2007 itu adalah munculnya kubah di tengah danau kawah. Kubah ini kali pertama terpantau pada sore hari, 5 November 2007. Kepulan asap putih dan, hitam yang awal terdeteksi pada tanggal 4 Nopember 2007 masih setinggi 200 meter, terus membubung dan mengarah ke utara akibat tertiup angin, Kepulan asap putih keluar dari kubah lava yang membubung ke udara hingga setinggi 1.000 meter. Sekarang kubah lava sudah menyerupai anak Gunung Kelud dengan sesekali hembusan asap putih masih mengepul dalam skala kecil.

Berkunjung ke Gunung Kelud memang mengesankan. Jalannya, mulai dari pintu gerbang di Desa Sugihwaras hingga ke areal parkir menuju kubah lava sejauh 7 km, mulus dan beberapa di antara ruas jalan cukup lebar. Coba bandingkan dengan jalan menuju Kawah Ijen. Bulan November 2008, ketika Teropong berkunjung ke Ijen jalan menuju kawah Ijen dari arah Banyuwangi benar-benar parah. Sudah sempit, banyak yang berlobang. Begitu pula melalui Kabupaten Bondowoso, tambah payah. Jalanan sebelum Kecamatan Sempol hancur.

Sudah tentu, selain munculnya kubah lava, yang memikat wisatawan berkunjung ke Gunung Kelud karena adanya jalan misteri (mysterious road). Jalan misteri ini menjadi salah satu bagian promosi Gunung Kelud, dan keunikannya diekspos di mana-mana. Jalan misteri ini akan mengingatkan orang pada fenomena alam serupa di berbagai negara (baca box berjudul fenomena di negara lain). Wisatawan ingin membuktikan jalan misteri tersebut.

Jalan misteri panjangnya sekitar 100 meter saja, yang sejarak sekitar 3 km ke puncak Gunung Kelud. Mencari jalan ini tidak sulit, sebab ditandai dengan baliho bertuliskan: Ingin Mencoba Mysterious Road? Perhatian, Mesin Tetap Nyala/Hidup, Persneling Nol Netral. Jalan cukup lebar dengan kondisi aspal mulus dan datar. Di kanan kiri berupa jurang dengan batas tembok. Menjelang sore hari, ketika Tim bulletin Teropong tiba di lokasi, jalanan agak sepi, hanya satu dua pengendara yang lewat.

Jadi jalan misteri merupakan sejalur jalan sepanjang kurang lebih 100 meter. Kawasan ini berada pada lereng Gunung Kelud. Menurut pengalaman banyak orang yang telah datang membuktikan gravity hill di kawasan tersebut. Bila mengendarai kendaraan, dengan mesin mati atau nyala dan persneling netral, maka kendaraan akan jalan sendiri. Bila kita menuju ke arah puncak Gunung Kelud dan jika berhenti di jalan misteri, maka mobil akan mundur dengan sendirinya.

Begitu pula bila dari puncak Gunung Kelud, maka mobil akan bergerak ke depan. Jika kita menanyakan ihwal jalan misteri tersebut ke petugas di Gunung Kelud, maka dia akan menjawab bahwa peristiwa jalan misteri tersebut terjadi tiba-tiba tanpa diketahui waktunya. Konon, peristiwa ini disebabkan medan magnet. Namun beberapa sumber dari masyarakat setempat menyebutkan kejadian tersebut ulah dari jin penunggu Gunung Kelud.

Mobil Avanza tahun 2009 yang kami tumpangi dari Surabaya langsung mencoba jalan misteri itu. Posisi mobil menghadap ke arah pintu keluar atau Kediri. Pertama mesin dinyalakan dan persneling dalam posisi netral. Ketika rem dilepas, mobil langsung meluncur lempeng ke depan dalam kecepatan hampir 10 km/jam. Lalu dicoba lagi, kini mesin dimatikan, ketika rem dilepas juga meluncur dengan kecepatan yang sama.

Triweda, peneliti Balitbang Provinsi Jawa Timur yang juga anggota redaksi Teropong, lebih seksama mengamati (hanya pengamatan saja tanpa dibantu alat) permukaan jalan. Disimpulkan bahwa permukaan jalan rata meski yang ke arah pintu keluar sedikit menurun. Permukaan jalan yang datar seperti ini, dengan kecepatan mobil yang hampir 10 km/jam, memang tidak sebanding. “Harusnya mobil tidak melaju sekencang itu,” kata Triweda yang asli Kediri ini.

Ya, dengan permukaan yang hampir datar, harusnya mobil melaju perlahan-lahan atau merambat. Tapi ini, ketika rem dilepas, atau baru start, mobil sudah melaju .kencang, serupa menurun di kemiringan 5 derajat. Mobil baru berhenti di ujung jalan misteri yang terlihat menanjak.

Fenomena jalan misteri Gunung Kelud pemah menjadi perhatian Prof. Yohanes Surya PhD, ketika diwawancarai Detikcom (29 Maret 2007). Profesor yang identik dengan Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) ini menjelaskannya dengan ilmu fisika. “Itu hanya ilusi mata saja,” katanya. Profesor Yohanes menjelaskan, jalur misteri itu jalan yang sebenarnya miring, tapi kemiringannya kecil sekali (sekitar 1 derajat hingga 5 derajat) sehingga tidak terlihat. “Bila kita berdiri di suatu jalan yang kemiringannya lebih besar, baru jalan itu akan kelihatan naik atau menanjak,” ujarnya.

Misteri ini pernah ditulis Profesor Yohanes di rubrik Fenomena majalah Intisari edisi Maret. Dia menjawab pertanyaan Ratna Juanita Setiawati yang menanyakan mysterious road di Jeju Island, Korea. Setiap benda yang diletakkan di atas jalan tersebut bisa bergerak maju, padahal jalan itu menanjak. Mulai dari botol minuman kosong sampai bus pariwisata sarat penumpang, semuanya bisa menanjak meski mesinnya tidak dinyalakan. Logikanya, tiap barang yang diletakkan di permukaan jalan yang menanjak akan meluncur turun, bukannya menanjak seperti di jalan itu.

Profesor Yohanes menjawab seperti penjelasan di atas. Ditambahkannya pula, padajalan yang yang cukup licin dengan kemiringan 5 derajat, mobil bisa dipercepat dengan 0,8 meter/detik. Artinya, tiap detik kecepatannya bertambah 2,9 km/jam. Ini cukup besar. Bayangkan, dalam 10 detik kecepatannya bisa mencapai 29 km/jam. “Jadi tidak heran kalau botol minuman dan bus pariwisata akan meluncur di jalur misterius itu walaupun mesin tidak dinyalakan,” ujar Profesor Yohanes.

Profesor Yohanes menampik dugaan adanya medan magnet di kawasan Gunung Kelud. “Kalau ada magnet, besi-besi akan tertarik semua. Dampaknya juga lebih luas, alat elektronik bisa rusak semua,” ujarnya. (res)

Fenomena di Negara Lain, Selain jalan misteri di Gunung Kelud, fenomena alam serupa juga terjadi di beberapa negara. Berikut nukilannya.
1. Jabal Manget
Keajaiban Jabal Magnet, Arab Saudi, terasa dari adanya tarikan “medan magnet” (daya tarik bumi) saat meninggalkan dari kawasan bukit tersebut, karena mobil akan melaju kencang dengan sendirinya dalam kecepatan 120 kilometer/jam, walaupun mesin mobil dimatikan. Keajaiban “Tanah Suci” itu hanya berlangsung sejauh 2-3 kilometer dari arah meninggalkan “Jabal Magnet”. Namun, saat datang ke lokasi itu justru sebaliknya yakni mengalami dorongan berat untuk tiba di lokasi itu.

2. Tanjakan aneh di Liaoning
Tanjakan aneh yang paling awal ditemukan, terletak di timur laut pegunungan Hanpo desa keluarga Zhou, di distrik Xin Chengzi, kota Shenyang, Provinsi Liaoning, China. Pada Mei 1990, sebuah mobil kapsul melewati daerah ini, kemudian si supir mengaso sejenak, ketika si supir kembali, dia melihat mobil yang telah dimatikan mesinnya itu meluncur sendiri dari bawah ke atas tanjakan. Tanjakan 1.85 derajad, lebar sekitar 15 meter dan panjang kurang lebih 90 meter ini, tanjakan rata di kedua sisinya dipenuhi dengan rerumputan, dan tidak ada gejala aneh apapun. Namun justru dari atas tanjakan ini, mobil harus menginjak gas dalam-dalam ketika turun, sebaliknya dapat mencapai ujung tanjakan saat nanjak meskipun mesin tidak dinyalakan, jika bersepeda, saat turun tanjakan sangat menguras tenaga, sebaliknya harus menginjak rem saat nanjak. Begitu juga anda tidak perlu menguras tenaga saat berjalan naik tanjakan, sebaliknya sangat menguras tenaga ketika turun.

3. Tanjakan aneh di Shan Dong
Di tenggara kota Jinan Wai huan street, juga terdapat seruas tanjakan aneh, sehingga menarik perhatian orang-orang untuk menyelidikinya. Saat itu, ada yang mengemudikan mobil di mana ketika melewati sebuah tanjakan turun sekitar 1.5 km di selatan lembaga ekonomi Waihuan street, mobil tersebut tiba-tiba mati, dan di luar dugaan mobil itu perlahan-lahan berjalan sendiri naik ke atas tanjakan. Orang-orang yang mengetahui hal tersebut bergegas datang, dan menyaksikan sendiri fenomena yang sama. Beberapa mobil meluncur ke bawah tanjakan, dan jarak antara mobil ke mobil sekitar 1.2 meter dalam kondisi mati. Akibatnya semua mobil itu berjalan secara berlawanan, dan perlahan-lahan naik ke atas tanjakan.

4 . Tanjakan aneh di Xi An
Pada tahun 1997 silam, orang-orang melihat sebuah tanjakan aneh. Panjang tanjakan aneh tersebut kurang lebih 120 meter, adalah sebuah tanjakan naik yang melingkari gunung di ruas jalan raya, mobil, motor atau sepeda yang ke sini, perlahan-lahan bisa merayap naik sendiri ke atas tanpa perlu menginjak pedal gas dalam-dalam.

5. Lereng aneh di Amerika Serika
Di negara bagian Utah, AS, ada sebuah lereng gunung unik yang oleh orang-orang disebut gunung gravitasi, ada segaris lurus yang berjarak kurang lebih 500 meter, jalur landaian dengan derajad kemiringan yang besar, juga merupakan lereng aneh yang sangat terkenal di dunia. Jika mengendarai mobil dan berhenti ke sini, dan rem dikendurkan, maka Anda akan melihat mobil tampak seperti ditarik oleh suatu kekuatan tak tampak, dan perlahan-lahan merayap ke atas lereng gunung.

6. Tanjakan aneh di Uruguai
Di sebuah kawasan di Amerika Selatan, dapat dikatakan sebagai fokus tanjakan yang menegangkan. Selama mobil yang melewati kawasan ini, maka peristiwa-peristiwa aneh kerap terjadi. Yang paling menakjubkan adalah jika mobil mogok, suatu kekuatan gaib yang tidak tahu dari mana datangnya, dapat mendorong mobil puluhan meter jauhnya.

7. Tanjakan aneh di Korea
Di sekitar peternakan sebuah pulau di Korea, terdapat sebuah tanjakan aneh, di mana mobil yang sampai di situ, dengan kondisi mesin mobil dimatikan dan porseneling dinetralkan, akan mendapati mobil itu meluncur ke atas tanjakan.(net)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel dinukil Tim dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: TEROPONG, Edisi 50, Maret – April 2010, hlm. 50.

Wisata Religi, Madura

Potensi Wisata Religi di Madura

Predikat daerah santri sepertinya memang layak dinisbatkan kepada Madura. Kepatuhan masyarakatnya akan sosok pemuka agama atau kyai ternyata tidak hanya dilakukan saat kyai tersebut masih hidup di tengah-tengah mereka.
Hingga kyai tersebut meninggal sejak puluhan hingga ratusan tahun pun, si santri tetap menaruh rasa hormat kepada sang kyai yang telah dianggap berjasa membimbing jalan hidupnya. Paling tidak, si santri akan selalu memanjatkan seraya mengharap berkah dari do’a yang dibaca di samping makam sang Kyai.

Budaya masyarakat Madura yang menempatkan kyai sebagai figur panutan yang tetap dihormati meski telah lama meninggal itulah yang menyebabkan banyak terdapat makam kyai di Pulau Garam. Makam kyai juga seringkali dianggap sebagai tempat keramat yang dipercaya sebagai tempat paling tepat untuk berdoa kepada Tuhan dengan tujuan tertentu, di samping juga mendoakan arwah kyai yang bersangkutan.

Masyarakat  Madura umumnya menyebut makam tokoh agama tersebut dengan sebutan bujuk yang dalam bahasa Madura berarti orang yang sangat tua dan dituakan dalam silsilah keluarga.  Namun dalam kontek sosial, Bujuk merupakan orang yang dituakan dan yang patut dituruti segala nasehat dan arahannya.

Nama bujuk biasanya diambil dari nama tempat kyai tersebut berasal atau tinggal, nama bujuk juga ada yang diambil dari kebiasaan kyai saat hidup, atau dari hal-hal mistis yang berkaitan dengannya semasa hidup, Seperti Bujuk Banyu Sangka, masyarakat memberikan nama tersebut karena lokasi makamnya ada di Desa Banyu Sangka, Kecamatan Tanjung Bumi, Bangkalan. Sementara nama asli penghuni bujuk tersebut adalah Sayyid Husein.

Nama yang diberikan masyarakat dari apa yang berkaitan dengan kehidupannya seperti, Bujuk Latthong di Desa Batu Ampar Kecamatan Proppo, Pamekasan. Menurut keterangan dalam buku Kisah Aulia Batu Ampar yang disusun Alm. KH Achmad Fauzi Damanhuri (salah satu cucu Bujuk Latthong), nama tersebut diambil dari cerita masyarakat bahwa kyai yang mempunyai nama asli Syekh Abu Syamsuddin tersebut dulu pernah menyembunyikan senjata musuh yang akan membunuhnya di dalam kotoran sapi yang dalam bahasa Madura disebut latthong. Namun ada juga bujuk yang diberi nama sesuai atau mirip nama aslinya, seperti Bujuk Sara di Desa Martajasah, Kecamatan Kota, Bangkalan, nama asli ulama tersebut adalah Siti Maisaroh.

Terdapat ratusan bujuk atau makam yang tersebar di empat kabupaten di Madura dari Bangkalan, Sampang, Parnekasan, dan Sumenep. Namun dari jumlah itu, ada beberapa saja yang seringkali dikunjungi peziarah lokal maupun dari luar Madura. Banyaknya peziarah yang dating ke suatu lokasi bujuk, bergantung pengaruh dan kharismatik kyai tersebut semasa hidupnya.

Berdasarkan catatan penulis, ada sejumlah makam yang seringkali dijadikan salah satu tujuan wisata religi di Madura, di antaranya makam Syaikhona Kolil dan Siti Maisaroh di Desa Martajasah, Kecamatan Kota, Bangkalan, komplek pemakaman kerajaan Bangkalan, Air mata Ibu di Desa Buduran, Kecamatan Arosbaya Bangkalan, komplek makam Batu Ampar, Desa Batu Ampar, Kecamatan Proppo, Pamekasan, komplek pernakaman kerajaan Sumenep, Asta Tinggi di Desa Kebun Agung, Kecamatan Kota, Sumenep dan pemakaman Sayyid Yusuf di Desa Talango. kecamatan Talango Sumenep.

Usia makam tersebut dari puluhan hingga ratusan tahun. Berdasarkan silsilahnya. Sebagian besar makam tersebut adalah keturunan bangsa Arab yang sengaja datang ke Madura untuk menyebarkan Islam. Sebagaian mereka juga masih mempunyai hubungan darah dengan Wali Songo. Sebagian lagi merupakan sisilah keluarga kerajaan Jawa dan Madura yang juga dianggap berperan dalam menyebarkan luaskan Islam di Madura.

Bujuk Latthong misalnya ternyata masih cicit atau generasi ketiga Bujuk Banyu Sangka di Kecamatan Tanjung Bumi, Bangkalan, sementara Bujuk Banyu Sangka juga masih mempunyai hubungan darah dengan ulama yang dimakamkan di kawasan Luar Batang Jakarta Utara.

Sementara Bujuk Bindere Saud di kompleks pemakaman Asta Tinggih di Sumenep masih mempunyai garis keturunan dengan Raden Fattah. Raja Kerajaan Demak. Sementara Syaikhona Kholil Bangkalan juga masih mempunyai garis keturunan dengan Sunan Kudus dan Sunan Ampel.

Budayawan asal Madura, Zawawi Imron sedikit meragukan sebagaian adanya bujuk tersebut memang benar makam seorang kyai, pasalnya tidak didukung literatur sejarah yang kuat, kecuali yang ada di kornplek pemakaman kerajaan seperti di Astatinggi dan makarn Jokotole di Surnenep, serta Air Mata Ibu di Bangkalan. Bisa saja makam tersebut bukanlah milik seorang pemuka agama, namun hanya sesorang yang dihormati dan dianggap sebagai sesepuh daerah.

“Mungkin juga makam tersebut adalah milik sesepuh suatu keluarga yang seringkali dikunjungi oleh kalangan keluarganya sendiri, namun masyarakat menganggapnya makam milik orang berpengaruh atau berjasa di daerahnya, kabar itu menyebar dari mulut ke mulut sehingga sampai sekarang banyak dikunjungi oleh orang,” kata pen yair yang mempunyai julukan Si Celurit Emas ini.

Namun menurutnya, perilaku masyarakat untuk berziarah ke makam tidak ada salahnya, selain untuk mengingat akan kematian, mendoakan orang di dalam kubur dalam keyakinan sebagian orang Islam itu diperbolehkan, justru dianjurkan.

Sebagian besar kondisi lokasi wisata religi di Madura sangat sederhana, bahkan terkesan sama sekali tidak tersentuh penanganan dari pemerintah setempat. Hal itu dapat terlihat dari banyaknya kelompok pengemis yang seringkali membuat peziarah merasa terganggu jalan akses menuju lokasi, hingga penataan pedagang kaki lima yang tidak teratur. Biaya pemeliharaan lokasi hanya berasal dari dana yang dikumpulkan secara sukarela dari peziarah yang datang.

Namun, keadaan seperti itu tidak terjadi pada lokasi komplek pemakaman kerajaan seperti Asta Tinggi di Sumenep, dan Air Mata Ibu di Bangkalan yang sudah masuk dalam cagar budaya. Namun apapun alasannya, pemerintah wajib memperhatikan kelestarian lokasi pemakaman sebagai salah satu potensi wisata religius, karena secara tidak langsung dengan semakin banyaknya peziarah yang datang akan merangsang pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar.

Beberapa bulan menjelang bulan Ramadhan, makam-makam tersebut biasanya ramai dikunjungi peziarah lokal maupun dari luar Madura seperti  Jawa dan Kalimantan. Mereka mendatangi lokasi makam dengan berombongan menggunakan bus pariwisata atau dengan menggunakan mobil pribadi.

Menurut juru kunci makam Syaikhona Kholil di Desa Martajasah, Kecamatan Kota, Bangkalan, Muhammad Zainal, pada sekitar 2-1 bulan menjelang bulan puasa, makam Syaikhona Kholil dikunjungi ribuan peziarah dari luar Madura. “Menjelang Ramadhan, sekitar 80-90 bus rombongan setiap harinya berziarah ke sini,” ucapnya.

Menurutnya, budaya sebagian orang Islam memilih waktu ziarah sebelum bulan puasa, agar saat bulan puasa nanti hati sudah bersih dan siap menjalankan puasa. Hal tersebut diamini salah seorang peziarah asal Surabaya, Said Abdullah.

Menurut Said, selain sebagai persiapan bulan puasa, berziarah ke makam ulama juga sebagai upaya mencari berkah karena diyakini, berdoa di samping makam orang-orang yang mempunyai keilmuan dan kedekatan kepada Tuhan, doanya akan mudah dikabulkan. “Berziarah ke makam ulama adalah agenda rutin tahunan jamaah kami menjelang bulan puasa, di samping sekedar refreshing ke tempat-tempat yang dianggap keramat di Madura,” kata pria yang mengaku sudah beberapa kali bersama rombongan Jamaah Sholawat Nariyahnya berziarah ke makam-makam wali di Madura ini.

Wisata religi dengan tujuan wali Madura kian ramai dikunjungi peziarah setiap tahunnya. Hal tersebut terbukti dengan semakin banyaknya agen wisata ziarah yang menawarkan paket wisata ziarah ke wali Madura.

Ketua Association of the Indonesian Tours & Travel Agencies (Asita) Jatim, Haryono Gondosoewito membenarkan hal tersebut, menurutnya, tujuan wisata religi ke pulau Madura diprediksi meningkat hingga di atas 20%, apalagi setelah diresmikannya Jembatan Suramadu. Namun menurutnya, pemerintah daerah setempat harus mengimbangi dengan dukungan penyediaan jalan akses ke lokasi wisata religi yang masih minim.

Pengembangan wisata religi tidak cukup dengan penyediaan jalan akses ke lokasi wisata religi, serta dukungan kelengkapan sarana lainnya, upaya pengembangan tersebut hendaknya harus didukung semua pihak dalam hal ini pemerintah daerah dan masyarakat setempat.

Sebagian besar lokasi pemakaman di Madura kental sekali dengan cerita mistis dan unik baik itu berkaitan dengan kehidupan ulama bersangkutan, atau dengan tempat atau orang yang ada di sekitar lokasi pemakaman.

Di makam Bujuk Nepa di Desa Betiyoh, Kecamatan Banyuates, Sampang, misalnya, menurut cerita masyarakat sekitar, ulama yang dimakamkan di situ adalah Kyai Abdul Majid atau biasa dikenal dengan Sunan Segara. Konon, pemilik makam tidak mau makamnya yang terletak di tengah hutan yang dipenuhi ratusan kera di pesisir pantai Desa Nepa tersebut diberi batu nisan. “Pernah beberapa kali dipasang akhirnya batu tersebut hilang, atau Si juru kunci bermimpi agar dia mencabut batu nisan yang dipasang,” kata salah satu warga Desa Nepa, Maryam. Akhirnya masyarakat hanya memberinya tanda seadanya dengan kain atau bendera tepat di bawah pohon yang diyakini sebagai tempat Kyai Abdul Majid dimakamkan.

Sejumlah benda di sekitar pemakaman juga seringkali dikultuskan sebagai barang yang menyimpan kekuatan tertentu, seperti air dari sumur di komplek pemakaman Air Mata Ibu di Bangkalan. Konon, tempat tersebut dinamakan Air Mata Ibu karena permaisuri raja Arosbaya yakni Syarifah Ambami yang juga masih cucu dari sunan Giri mendoakan keturunannya agar menjadi penguasa Madura di lokasi tersebut dengan menangis. Karena banyaknya tangisan air mata seorang ibu tersebut, hingga menjadi sumber air. Sumber air tersebut kini banyak diyakini masyarakat sebagai air mujarab yang dapat menyembuhkan segala penyakit.

Air yang diyakini mujarab juga ditemukan di sekitar komplek pemakaman Asta Tinggi Sumenep. Di sana sumber air yang diyakini mujarab bahkan dapat diambil dari bongkahan batu yang terus menerus mengeluarkan air, bukan dari dalam tanah seperti sumber mata air pada umumnya. (faizal)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: TEROPONG, EdiSi 47, September – Oktober 2009, hlm. 45.

 

Wana Wisata Air Panas

Disebut juga Pemandian Banyu Panas

Terletak di Desa Padusan, Kecamatan Pacet.
Sekitar 3 kilometer dari pusat kota Pacet arah selatan.
Obyek ini berada di lereng Gunung Welirang pada ketinggian
lebih kurang 800 meter di atas permukaan air laut.
Panorama alamnya sangat indah, sejuk, dan nyaman.
Sangat ideal untuk wisata keluarga,gathering, kegiatan outbond, pendidikan lingkungan, lintas alam,perkemahan, dan renang.

Fasilitas yang tersedia antara lain: kolam air panas, kolam renang air dingin bertaraf internasional, hutan wisata, bumi perkemahan, jalur lintas alam, air terjun Coban Canggu, makam Sunan Krapyak, puluhan warung yang menyediakan makanan khas daerah setempat, dan pondok wisata yang disewakan untuk umum, dan lain-lain.

Di sekitar obyek ini Juga banyak terdapat hotel, villa, warung/rumah makan/restoran dengan berbagai tipe dan kelas yang siap melayani wisatawan sesuai selera.
Lokasinya tidak jauh dari Trowulan yang memiliki obyek wisata

 

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pusaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Informasi Priwisata Kabupaten Mojokerto: DINAS PEMUDA, OLAHRAGA, KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA KABUPATEN MOJOKERTO, Juni 2011, Mojokerto, 2011

Tahura, Taman Hutan Raya Kabupaten Mojokerto

Tahura, Taman Hutan Raya

Wana wisata Tahura (Tanaman Hutan Raya) R. Soerjo terletak di pertemuan lereng Gunung Welirang dan Anjasmoro. Secara administrasi termasuk wilayah Desa Sendi, Kecamatan Pacet.

Lokasinya sekitar 3 kilometer dari pusat kota pacet melalui jalur Pacet – Cangar. Di sekitar kawasan Tahura terdapat obyek wisata air terjun dan gua Lowo yang menambah pesona keindahannya. Tempat ini biasa digunakan sebagai transit dan mendinginkan mesin kendaraan bermotor bagi pengunjung yang hendak bepergian ke jurusan Mojokerto Malang via Cangar, Batu.

Di sekitar lokasi banyak terdapat warung-warung lesehan sebagai pelengkap melepas lelah yang letaknya tepat diatas aliran sungai dari air terjun. Juga terdapat sarana musholla, toilet dan lahan parkir yang cukup luas.

 

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pusaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Informasi Priwisata Kabupaten Mojokerto: DINAS PEMUDA, OLAHRAGA, KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA KABUPATEN MOJOKERTO, Juni 2011, Mojokerto, 2011

Museum Trowulan, Kabupaten Mojokerto

Museum Trowulan Terletak di wilayah Dusun Trowulan, Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan. Dapat dicapai menggunakan semua model transportasi melalui jalan raya Trowulan atau jalan Kecamatan tepat di seberang kolam Segaran.

Museum Purbakala Trowulan didirikan oleh Kanjeng Adipati Ario Kromojoyo Adinegoro bersama Ir. Henry Madaine Pont pada tahun 1942 dengan tujuan untuk menampung artefak hasil penelitian arkeologi di sekitar Trowulan.

Saat ini, museum yang juga dikenal sebagai Balai Penyelamatan Arca memiliki koleksi berbagai temuan di wilayah Jawa Timur. Untuk memudahkan pengunjung, benda-benda koleksi ini telah dilengkapi dengan keterangan singkat dalam dua bahasa, Indonesia dan bahasa Inggris.

Ruang museum terbagi dua bagian:

  1. Ruang Pamer, digunakan untuk memamerkan artefak berukuran relatif kecil, misal: mata uang, senjata, perisai, alat music dan peralatan rumah tangga.
  2. Pendopo, digunakan sebagai tempat pamer artefak berukuran relatif berat dan masif seperti area, relief, kala, yoni, dan lain-lain. Untuk memudahkan pengunjung disediakan fasilitas musholla, kafetaria dan toko souvenir.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Informasi Priwisata Kabupaten Mojokerto: DINAS PEMUDA, OLAHRAGA, KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA KABUPATEN MOJOKERTO, Juni 2011, Mojokerto, 2011

Siti Inggil, Kabupaten Mojokerto

Siti Inggil atau yang artinya Tanah Tinggi atau mungkin dikanatasikan dengan Tanah yang diagungkan terletak di dekat lakasi Candi Brahu.

Konon  Siti Inggil dulunya berupa punden yang pernah menjadi tempat pertapaan Raden Wijaya.

Di lokasi ini terdapat situs berupa 2 buah makam. yaitu makam Sapu Angin dan Sapu Jagat, yang dikeramatkan oleh penduduk dan banyak dikunjungi peziarah terutama saat malam Jumat.

Berkunjung ke situs-situs Majapahit kembali membuktikan bahwa peradaban Majapahit bukanlah sebuah legenda. tetapi memang benar ada.

 

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pusaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Informasi Priwisata Kabupaten Mojokerto: DINAS PEMUDA, OLAHRAGA, KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA KABUPATEN MOJOKERTO, Juni 2011, Mojokerto, 2011