Peristiwa 10 November 1945, dalam Lukisan Karya: Sochieb

AREK “BENTENG KOTA” SURABAYA
DALAM KARYA M. SOCHIEB

Penulis: Nanang Purwono
Di antara para pelukis, khususnya asal Surabaya, M. Sochieb adalah sosok pelukis yang sangat identik dengan peristiwa kepahlawanan 10 Nopember. Selain sebagai pelaku sejarah dalam peristiwa pertempuran Surabaya, corak lukisannya sangat naturalis sehingga dirinya mampu memvisualkan kisah-kisah pertempuran Surabaya. Melalui karya-karyanya, kita diajak mengenal serangkaian peristiwa heroik ketika pemuda-pemuda Surabaya (arek-arek Suroboyo) rela mengorbankan jiwa dan ‘raganya’ untuk melindungi kedaulatan bangsa dan kemerdekaan yang telah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. M. Sochieb lahir di Surabaya pada 1931 dan ketika pecah perang di Surabaya tahun 1945, dirinya masih tergolong remaja. Usianya baru 14 tahun. Darah muda yang mengalir seiring dengan gejolak denyut nadi bangsanya membuat Sochieb bersatu dalam barisan rakyat. Bersama rakyat Surabaya, ia pun menyingsingkan lengan baju untuk negara. Dari berbagai kesaksian itulah, ia mencoba memvisualkan kisah pertempuran Surabaya melalui karya seninya. Sesungguhnya arek Suroboyo ini mulai belajar melukis di usia 31 tahun. Mungkin dalam hati Sochieb, tak ada kata terlambat untuk belajar termasuk belajar melukis. Ketika itu ia belajar melukis dari pelukis Surabaya INDRA HADI KUSUMA. Dengan berbekal semangat belajar yang besar dan tujuan yang mulia, ia pun tumbuh menjadi seorang pelukis yang handal. Melalui aliran lukisannya yang naturalis, Sochieb memvisualkan berbagai peristiwa pertempuran yang terjadi di kota Surabaya dengan indahnya. Tahun 1965 ia mulai pameran di Jakarta bersama para pelukis Jawa Timur dan sejak tahun 1970 ia pun secara rutin menyelenggarakan pameran lukisan setiap tanggal 10 Nopember di Surabaya dan Jakarta. Tujuannya menyelenggarakan pameran lukisan setiap 10 Nopember di Surabaya dan Jakarta. Tujuannya untuk memperingati hari Pahlawan dan berbagi informasi kepada generasi penerus bangsa.

Beberapa reproduksi karya Sochieb sebagai gambaran betapa arek-arek Suroboyo itu telah rela berkorban sebagai benteng kota demi kedaulatan bangsa dan kemerdekaan yang telah diraihnya. Berikut kisah arek “benteng kota” Suroboyo dalam lukisan karya M. Sochieb yanag dikutip dari sumber “Peristiwa 10 November 1945 Dalam Lukisan”.

INSIDEN BENDERA
Banteng-banteng Surabaya dengan dada sebagai tameng rela berkorban demi tegaknya kedaulatan bangsa. Mereka pun berani memanjat menara hotel demi berkibarnya Merah-Putih. (Karya: Sochieb, melacak jejak tembok kota SOERABAIA. hlm. 116)

SEMANGAT MENGABDI
Tetes air mata dan doa tulus bunda adalah bekal semangat dan tekad baja. Kami bangkit mengayun langkah pasti, membuka dada menyerahkan jiwa dan raga bagi ibu pertiwi. (Karya: Sochieb, melacak jejak tembok kota SOERABAIA. hlm. 120)

GAGAH BERANI
Berperang tanpa strategi adalah kesia-siaan. Mati tanpa arti. Kami sadar akan kekuatan sendiri. Menyergap musuh, merebut benteng.
(Karya: Sochieb, melacak jejak tembok kota SOERABAIA. hlm. 121)

JALAN MENUJU DAMAI
Perang telah menelan nilai-nilai kemanusiaan, kehancuran, kesengsaraan dan kematian. Meski semua tiada sia-sia namun, demi hak tanah merdeka, masih ada syarat tanpa pengurbanan, yakni :”Jalan Damai”
(Karya: Sochieb, melacak jejak tembok kota SOERABAIA. hlm. 122)

GENCATAN SENJATA
Perdamaian adalah impian setiap insan di dunia. Perang hanya ciptakan bencana, membuat istri kehilangan suaminya, menjadikan anak kehilangan bapaknya. Gencatan senjata merupakan jalan menuju kerukunan hidup antar umat manusia.
(Karya: Sochieb, melacak jejak tembok kota SOERABAIA. hlm. 123)

MELUCUTI MUSUH
Putra-putra bangsa gagah berani tidak gentar walau kalah persenjataan. Semangat baja dan bamboo runcing di tangan menyongsong musuh. Serdadu Sekutu menjadi jeri dan ngeri. (Karya: Sochieb, melacak jejak tembok kota SOERABAIA hlm. 124)

BERKOBAR
Asap hitam meruah, menghanguskan kota. Pekik arek-arek Surabaya membahana kobarkan semangat. Mati satu tumbuh seribu. Demi satu tujuan. Mengusir penjajah.
(Karya: Sochieb, melacak jejak tembok kota SOERABAIA hlm. 125)

PUTRA BANGSA
Berdiri tegap, menatap maut. Pejuang sejati tak mengenal takut. Hadapi dan langkahi mayat kami sebelum kau kuasai negeri ini.
(Karya: Sochieb, melacak jejak tembok kota SOERABAIA hlm. 126)

(Karya: Sochieb, melacak jejak tembok kota SOERABAIA hlm. 126)

INSTRUKSI
Di awal kemerdekaan, kekacauan ada di mana-mana.Merongrong pemerintahan, rakyat resah, BKR, TKR dan pejuang  bahu membahu menjaga ketentraman.

DOA & PENGORBANAN
Sebening harap dari jiwa yang tulus gema doa dan cita-cita. Bagai sejuk bunga menyiram raga tegak berdiri di atas tanah pertiwi. Bila esok atau nanti. Darah menyiram bumi tercinta. Gugur sebagai syuhada. Demi segenggam harap “Tanah Merdeka”. (Karya : Sochieb, melacak jejak tembok kota SOERABAIA hlm. 127)

 
TANDA PERINGATAN
Sepatu lars dan senjata adalah bukti sejarah, keikutsertaan kami berkorban untuk membela tanah air. Kemerdekaan itu harus ditebus dengan jiwa, raga dan air mata

PEKIK MERDEKA ATAU MATI
Padamu, Ibu Pertiwi; kami berjuang kobarkan semangat persatuan dengan tinju terkepal dan dada tegap menyongsong pertempuran. Dengan satu tujuan, kibarkan Sang Saka Indonesia Merdeka.
(Karya : Sochieb, melacak jejak tembok kota SOERABAIA hlm. 128)

GEMA PERJUANGAN
Perjoangan panjang putra bangsa mempertahankan setiap jengkal tanah pusaka megah sang saka bertumpu diatas jerit dan kesengsaraan. Semua tiada sia-sia, damai sejahtera bergema di seluruh dunia. Bukti kejayaan negeri tercinta. Indonesia.
(Karya : Sochieb, melacak jejak tembok kota SOERABAIA hlm. 129)

PANTANG  MENYERAH
Demi kebenaran, demi menuntut hak tanah pusaka. “Allahu Akbar” Senantiasa Tuhan memimpin putra-putra bangsa yang menyerahkan jiwa raga di medan joang. Demi tegaknya negara Republik Indonesia. (Karya : Sochieb, melacak jejak tembok kota SOERABAIA hlm. 130)

HANYA SATU JUTUAN
Sebuah perjalanan panjang beriring darah dan air mata. Tak ada akar rotan pun jadi, tiada Meriam Golok pun jadi, tak ada Golok bamboo pun jadi. Hanya satu tujuan kami …… MERDEKA. (Karya : Sochieb, melacak jejak tembok kota SOERABAIA hlm. 131)

MENGINTAI DAN MENYERANG
Dalam sepi ada gerak. Dalam diri ada semangat Perjuangan takkan terbuang sia-sia. Rawe-rawe Rantas, Malang-malang Putung. Itulah falsafah arak-arek Suroboyo yang gagah berani.
(Karya : Sochieb, melacak jejak tembok kota SOERABAIA hlm. 132)

SATU TEKAD, MERDEKA !
Di bawah hujan peluru, di tengah bising dan selimut asap mesiu dalam tekad yang satu, merdeka. Sekalipun harus kehilangan jiwa dan raga tak ada kata takut, mundur ataupun jera demi membela negeri tercinta.
(Karya : Sochieb, melacak jejak tembok kota SOERABAIA hlm. 133)

SATU KEMENANGAN
Negri ini adalah miUk kami; putra-putri Ibu Pertiwi, tak gentar mati. Semua kami pertaruhkan demi nusa dan bangsa. Meski korban-korban telah berjatuhan, namun bara di hati tak pernah padam. Perjuangan kami demi satu kemerdekaan. Demi satu kemenangan
(Karya : Sochieb, melacak jejak tembok kota SOERABAIA hlm. 134)

BARA SEMANGAT
Ketidakseimbangan senjata bukan hambatan bagi pejoang sejati. Tekad, berani, penuh semangat, senantiasa, kilatan peluru ledakan bam, adalah bara semangat yang tak pernah padam.
(Karya : Sochieb, melacak jejak tembok kota SOERABAIA hlm. 135)

BAKTI MULIA
Nilai sebuah perjuangan terlalu mahal. Setiap detik putra bangsa setya mempersembahkan bakti mulia di medan laga. Mempertaruhkan jiwa dan raga. Biarlah hari ini negeri ber[umur darah. Demi esok bertabur cah’ya katulistiwa
(Karya : Sochieb, melacak jejak tembok kota SOERABAIA hlm. 136)

PERDAMAIAN
Pesawat pembom meraung raung, rente tan tembakan merobek luka.
Wajah wajah bersimbah darah, perang menghancurkan segala-galanya. Ah, be tapa mahalnya perdamainan.
(Karya : Sochieb, melacak jejak tembok kota SOERABAIA hlm. 137)

BUNG MINTA APINYA
Fisik tak lagi diperhatikan; begitu pula luka. Pertempuran membuat kami berpisah dari orang-orang tercinta. Melepas lelah sambil berbincang dan merokok. Namun, bukan berarti hilang waspada untuk menghadapi segala kekacauan.

 MENGATUR SIASAT
Mundur bukan berarti takut melainkan mengatur siasat untuk menang. Pemimpin yang cerdik mengetahui kekuatan sendiri. Kapan saat menyerang atau mundur mangatur siasat. (Karya : Sochieb, melacak jejak tembok kota SOERABAIA hlm. 138)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: melacak jejak tembok kota SOERABAIA,  Badan Arsip & Perpustakaan Kota Surabaya – 2010, hlm. 119-138

 

Keramik Dinoyo, Kota Malang

KERAMIK DINOYO DIEKSPOR KE LUAR NEGERI

Jika anda mengunjungi kota Malang, pasti anda ingin menyaksikan proses pembuatan keramik di daerah Dinoyo yang sangat terkenal itu. Letaknya tidaklah terlalu jauh dari pusat kota, hanya berjarak ±4km, dari pusat kota, jika anda kebetulan berkantong pas-pasan bisa menggunakan angkutan umum bemo dengan biaya Rp 300,00.

Setelah sampai di daerah Dinoyo, kebetulan anda masuk disebuah ruang pamer keramik yang tertata apik, indah dan menarik dengan beraneka jenis, ukuran, model dan warnanya. Ini berarti anda sudah sampai di tempat pembuatan keramik Tanah Agung.

Disinilah Fransiscus Ngadiman Suwarno siperaih UPAKARTI (pcnghargaan tertinggi yang diberikan Pemerintah dalam bidang kerajinan) menggeluti keramik-keramik hasil karyanya.

Pria kelahiran kota Gudeg Yogyakarta 57 tahun silam yang menyunting gadis asli Malang Munikah El Tride dan saat ini memperoleh buah kasih sayangnya sebanyak 7 orang, 6 wanita 1 pria, 4 orang sudah menikah, sedangkan 3 orang masih kuliah, mengaku bahwa tanah liat, cat pewarna, panasnya open dan bahkan aroma dari pembakaran keramik adalah sebagian dari kegiatan sehari-harinya.

Bahkan bisa dikatakan hampir seluruh sisa hidupnya diabdikan pada keramik yang digeluli bersama keluarga. Mulai dari desain, warna, model dan ukuran tidak pernah lepas dari pengamatannya sebelum sampai kepada pegawainya dengan alasan untuk menjaga mutu hasil keramik produksinya.

Kecintaannya pada keramik berawal pada sekitar tahun ’57an, ketika Ngadiman muda bekerja di Proyek Industri kecil milik Dinas Perindustrian. Di rumah pun Ngadiman meluangkan sedikit waktunya membuat keramik kelas rendah, itu istilah yang dibuatnya, yaitu sejenis grabah tempayan, hiasan bentuk kendi, patung-patung kecil, celengan, dan lain-lain yang dibakar dengan sederhana memakai bahan bakar kayu. Setelah bekerja beberapa tahun, berkat ketekunannya Ngadiman muda dikirim ke Bandung ±2 tahun untuk belajar lebih baik mengenai proses pembuatan keramik. Sepulang dari menimba ilmu di Bandung rupanya Ngadiman ingin mengembangkan sendiri apa yang diperolehnya, akhirnya ia mengundurkan diri dari Proyek Perindustrian.

Sekitar tahun 1962 dengan semangat membara ia memproduksi sendiri keramik dibantu oleh keluarga dan 7 orang pekerja mulai membuat barang-barang keramik setengah jadi (pembakarannya dengan suhu 800°C-900°C). Keramik setengah jadi ini sebelum dipasarkan, disetorkan ke perusahaan lain untuk dibakar kembali hingga suhu 1200°C – 1300°C baru bisa menjadi keramik porselen. Usaha keramiknya ini diberi nama keramik Tanah Agung.

Tahun 1968 ia mulai meningkatkan usahanya dengan cara membuat mesin penggiling bahan-bahan dasar, membuat tungku (open) yang pembakarannya menggunakan solar atau minyak bakar. Dengan peningkatan tersebut mampu membuat barang-barang keramik porselen (pembakaran ±1300°C) seperti cangkir, moci, asbak, hiasan-hiasan kecil serta barangbarang seni yang lain, alat-alat listrik, isolator) dan batu tahan api. Sehingga ia mampu memasarkan sendiri hasil produksinya.

Pada tahun 1979 dia mendapatkan bimbingan/penyuluhan managemen dan desain. Juga sesekali mendapat kesempatan untuk mengirimkan pegawainya ke Balai Besar Industri keramik Bandung guna mendapat Diklat Tenaga Tehnis keramik halus. Guna memajukan usahanya ia mendapatkan dukungan dana berupa pinjaman Bank.

Ditengah pembicaraan dengan penulis sembari tersenyum ramah penuh kekeluargaan Ngadiman mengajak melihat-lihat proses pembuatan keramik di halaman belakang ruang pamer

Proses Pembuatan Kcramik
Bahan dasar keramik adalah pasir kwarsa, kaolin,tanah liat, ball Clay dan Veldspaad, diayak, dicampur, digiling diberi air, dicetak (cetakan dibuat sendiri dari bahan gips). Setelah dikeluarkan dari cetakan,dilukis, baik bentuk datar maupun cekung dan timbul serta diwamai. Untuk keramik setinggi ±70 cm melukis/mewamai membutuhkan waktu ±5 hari lalu dimasukkan ke opnn pembakaran dengan suhu 800-950°C selama ±21 jam. Setelah pemanas dimatikan sampai suhu didalam open dingin baru keramik dikeluarkan lalu dimarnai untuk disempurnakan kembali. Kemudian dimasukkan kedalam open pembakaran dengan suhu 1200-1300°C. Setelah suhu dimatikan dan dingin keramik dikeluarkan dan siap dipasarkan.

Sampai saat ini keramik Tanah Agung berhasil memproduksi keramik hias/barang-barang seni (cenderamata seperti tempat duduk, tempat paying, guci, pot, Vass, keramik kontemporer dan patung-patung) dengan harga jual antara Rp 300,00 sampai Rp180.000,00. Sedangkan pemasarannya sampai ke kota-kota besar P. Jawa, Lampung, P. Bali dengan omzet ±Rp 25 juta/bulan serta ±2300 macam. Dan pada tahun 1992 pernah export ke Italy (Min. 25 juta/pengiriman), Australia dan Jepang (±17 juta Rupiah/pengiriman).

Untuk mengembangkan Usahanya, Ngadiman mendirikan anak perusahaan. Sampai saat ini ia mempunyai 7 anak perusahaan binaannya, yaitu 2 dibidang keramik, 5 usaha sejenis/pelengkap, misalnya meja kecil untuk rak keramik, isolator listrik, batu tahan api, dll.

Keberhasilan Ngadiman dalam memproduksi dan mengembangkan keramik di Tanah Agung ditandai dengan diterimanya penghargaan UPAKARTI bidang pengabdian dari Pemerintah yang diserahkan langsung oleh Presiden Suharto di Istana Negara Jakarta pada tanggal 28 Dcsember 1993 yang lalu. Ketika penulis bertanya perasaan apa! yang ada dibenaknya saya saat berjabat tangan dengan Presiden, dengan tersenyum ramah dan nampak berbinar wajahnya, menceritakan kegembiraan yang tak terucapkan dengan kata, ketika menginjakkan kakinya ke Istana Negara dan berjabat tangan dengan orang nomor satu di Indonesia. “Saya bangga sekali dari keramik bersalaman dengan Presiden,” tuturnya.

Yang istimewa keramik produk Tanah Agung ini adalah motif masih dibuat tradisionil, artinya memahat/melukis satu persatu setiap keramik, jadi jika ada pembeli yang tertarik dengan lukisan/pahatan keramik yang ada diruang pamer tetapi telah terjual, maka tidak akan dapat membuat yang persis sama.

Ngadiman mcmang bukan saja sosok yang ulet, tetapi juga sosok yang manusiawi. Dibelakang ruang pamer keramik Tanah Agung ada sekitar 50 orang karyawan yang menggantungkan nasib pada keramik, dengan mendapat gaji antara Rp 3.500,00 sampai Rp 5.500,00 plus makan/minum, 2 kali minum teh + kopi, hari sabtu minum susu dengan jam kerja Pk. 7.30 -15.00 dengan istirahat satu jam.

“Itu rahasia, kecil cuma ratusan jutalah,” katanya sambil terscnyum ketika menjawab pertanyaan penulis, mengenai berapa omzct/modal yang berputar sampai saat ini. Selamat berkarya, semoga kelak keramik Dinoyo Malang Sejajar dengan keramik Cina. (UCI-ES).

 ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: MIMBAR JATIM, EDISI 159 APRIL 1994, hlm. 11

Surabaya Lahir dari Sebuah Kuti

Siapa akan menyangka kalau Surabaya, kota metropolis dengan hingar-bingar kehidupan 24 jam tiada henti, ternyata lahir dari sebuah ‘kuti’ relijius Buddhis?

Adalah Prof. Heru Soekadri, penemu hari jadi kota Surabaya, yang menggulirkan pernyataan di atas dengan harapan agar ada penelitian lebih lanjut untuk dapat menyingkap asal usul komunitas pertama di Surabaya, termasuk sisi religinya, yang dalam hal ini adalah Buddhisme.

“Sebab berdasarkan sumber sejarah (tertulis) tertua yang ditemukan di kawasan delta Sungai Brantas, menyebutkan adanya prasasti dari tembaga (tamrah) ‘Waharu Kuti’ berangka tahun 840 Masehi,” jelas Heru saat ditemui Sinar Dharma di kediamannya di kawasan Rungkut Surabaya. Menurut Heru, Waharu Kuti merupakan daerah perdikan (Sima) pertama di Hujunggaluh yang statusnya ditetapkan langsung oleh Maharaja Rakryan Watukura Haji Balitung, raja Mataram Kuno periode tahun 838-910 Masehi yang berpusat di Jawa Tengah.

Kuti yang dimaksud merupakan pertapaan atau bangunan suci Buddhis, yang dibangun atas perintah raja Balitung. Kedudukan Waharu Kuti mengandung arti strategis dalam sistem pemerintahan kerajaan Mataram Kuno saat itu yang mana struktur administrasi kerajaan terdiri atas: pemerintahan pusat (Kraton), pemerintahan daerah (Watek/Watak) dan pemerintahan terkecil disebut Wanua atau Paruduan (Pedukuan = desa).

Lembaga penghubung antara Watek dan Wanua disebut ‘Sima’. Sima merupakan anugrah raja berupa tanah perdikan (bebas pajak) yang diberikan kepada kepala desa atau penduduk desa yang berjasa kepada kerajaan. Pemberian ‘Sima’ biasanya berimplikasi pada pemberian tugas untuk pemeliharaan bangunan suci atau pemeliharaan tempat-tempat penting dari segi ekonomis dan pertahanan bagi kerajaan. Penetapan status ‘Sima’ biasanya dilakukan langsung oleh raja atau pejabat tinggi kerajaan dan disaksikan para pejabat setempat dalam upacara kenegaraan, serta kerap ditandai dengan penempatan prasasti yang dibubuhi stempel kerajaan.

“Tentang status Sima Waharu Kuti, bisa dilihat juga pada isi prasasti Sangsang (907 Masehi) yang menyebut: I’kanang Wanua Waharu Kuti I Hujunggaluh Watak Lamwa,” lanjut Sang Profesor. Artinya, kuti di Wanua Hujunggaluh tersebut di bawah kekuasaan Watek Lanwa.

Jadi, Curabhaya (Surabaya) sebagai pengganti nama Hujunggaluh memang lahir dari sebuah Sima Waharu Kuti. Lantas, siapa yang membangun perkampungan kuno itu? Bangsa Indonesia atau bangsa asing?

Untuk ini Prof. Heru menyebutkan bukti prasasti yang lain, yakni prasasti Kencana berangka tahun 860 Masehi yang berisikan tentang pemberian tanah perdikan di daerah Bunggur Asana (Bunggurasih?). Prasasti itu juga menyebutkan adanya bangunan candi Buddhis di Bunggur Asana, pun dikenal adanya Juru China (ketua masyarakat China) dan Juru Keling (ketua masyarakat India). Dari bukti ini bisa disimpulkan bahwa komunitas awal di Surabaya dibangun dari kolaborasi multikultural berbagai bangsa yang hidup di delta Sungai Brantas.

Meski bukti bekas lokasi perkampungan Buddhis di kota Surabaya sudah tertelan zaman, namun secara toponimik (kajian sejarah berdasarkan warisan nama-nama kampung kuno), kita masih dapat menjumpai nama daerah seperti Kutisari, Waru (Waharu?) dan Bunggurasih (Bunggur Asana?).

Di segitiga Waru-Kutisari-Bunggurasih inilah kemungkinan lokasi perkampungan Buddhis kuno, yang merupakan cikal bakal kota Surabaya. (Zr)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Sinar Dharma, Voc. 5, No.4, Kathina 2007, hlm. 65

Ceprotan, Upacara Tradisional Pacitan

“CEPROTAN” MENJADI IDOLA WISATA TRADISIONAL PACITAN
Kita mendengar sebutan Pacitan, mungkin benak pikiran kita hanya terpancang pada dampak negatifnya bahwa Kota Pacitan merupakan kota yang tandus dan terpencil dibanding dengan Daerah Tingkat II yang lain di Propinsi Jawa Timur ini.

Namun dibalik semua itu Kabupaten Daerah Tingkat II Pacitan, telah menyimpan banyak potensi yang cukup handal seperti halnya industry kerajinan batu akik, hasil perkebunan buah jeruk yang sudah dikenal dengan jeruk Pacitannya. Lebih dari itu potensi-potensi pariwisata yang dimiliki oleh kabupaten ini cukup banyak jumlahnya  dan sangat menarik obyek wisatanya.

Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya wisatawan mancanegara yang mondar-mandir di Kota Pacitan manpun ditempat-tempat obyek wisata, bahkan tak j arang pula wisatawan manca Negara tersebut yang menyempatkan untuk bermalam sekaligus menikmati suasana malam di Kabupaten Pacitan yang terpencil.

Kabupaten Paeitan, memang merupakan salah satu pintu masuk wisatawan yang cukup potensial, khususnya para wisatawan dari Wonogiri Solo Jawa Tengah. Satu hal yang menjadi kendala bagi wisatawan setelah menikmati berbagai obyek-obyek wisata di Kabupaten Pacitan, mereka umumnya enggan untuk melanjutkan perjalanan ke kabupaten-kabupaten lain yang terdekat dengan Pacitan, karena jaraknya yang terlalu jauh dan tanpa didukung obyek wisata. Untuk itulah maka wisatawan mancanegara lebih senang setelah menikmati keindahan Pacitan, kembali lewat Wonogiri menuju Solo untuk melanjutkan perjalanan ke obyek wisata lain sesuai dengan selera.

UPACARA TRADISIONAL CEPROTAN
Wisata budaya berupa upacara tradisional Ceprotan, nampaknya sudah menjadi idola bagi masyarakat Pacitan, bahkan banyak pula wisatawan dari luar Kabupaten yang datang untuk menyaksikan jalannya upacara tradisional Ceprotan tersebut.

Upacara tradisional Ceprotan ini biasanya diselenggarakan pada hari Senin Kliwon, jika tidak ada hari Senin Kliwon pada bulan itu diadakan pada hari Minggu Kliwon bulan Longkang bertempat di desa Sekar Kecamatan Donorejo Kabupaten Pacitan. Untuk penyelenggaraan upacara tradisional Ceprotan pada tahun ini jatuh pada tanggal 1 Mei 1994 ditempat yang sama dan dimulai pada pukul 16.00 WIB.

Lokasi upacara Ceprotan ini terletak didaerah perbatasan dengan Wonogiri, atau sekitar 40 km arah barat daya dari Kota Pacitan, dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum dengan memakan waktu hampir satu setengah jam.

Upacara tradisional Ceprotan, dimaksudkan untuk mengenang sejarah kehidupan Kyai Godeg dan Dewi Sekartaji dari kerajaan Kediri yang menurut masyarakat desa Sekar merupakan orang yang pertama yang bertempat tinggal I cikal bakal didesa Sekar Kecamatan Donorejo Kabupaten Pacitan.

Mulai saat itulah Kyai Godeg membuat desa Sekar setiap hari Senin Kliwon bulan Dulkangidah /Longkang diadakan bersih desa yang sekaligus sebagai ulang tahun I hari jadi desa Sekar dengan diadakan Upacara Adat Ceprotan dengan kelapa muda untuk mengingat asal usul desa Sekar.

Tidak jauh dari lokasi upacara tersebut, tepatnya didesa Tabuhan wisatawan dapat pula menikmati wisata alam berupa gua dengan sebutan Gua Tabuhan, di gua ini kita dapat menanggap gamelan/tabuhan dari batu-batuan didalam gua dengan harus mengeluarkan uangsebesar Rp 15.000, belum termasuk sewa lampu untuk menikmati keindahan didalam gua yaitu sebesar Rp 1.000,-. Di tempat ini pula ada kios-kios souvenir khas Pacitan khususnya batu akik.

Selain itu pula, bagi wisatawan sebelum menuju desa Sekar untuk menyaksikan upacara tradisional Ceprotan khususnya yang berangkat dari Kota Pacitan pada pagi hari. Sayang rasanya jika tidak mampir terlebih dahulu, ke obyek wisata pantai yang sangat dekat dengan kota sekitar 3 Km, yaitu wisata alam pantai Teleng Ria yang cukup indah serta masih alami, yang dihiasi dengan pepohonan kelapa yang masih kecil dan hiruk pikuknya nelayan mendaratkan ikannya, dari kota kita dapat naik dokar/saldo maupun kendaraan lain. Di lokasi ini pula lengkap dengan fasilitas kolam renang, tempat bemain untuk anak, serta penginapan yang memadai.

Berdekatan dengan pantai Teleng Ria terdapat  pantai lain yang sudah dikenal pula yaitu wisata pantai Tamperan, di pantai ini wisatawan dapat berbelanja ikan segar di Tempat Pelelangan ikan (TPI), serta kios makanan khas Tiwul yangkini sangat sulit kita jumpai. (Agus Dm).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  MIMBAR JATIM, EDISI: 159, APRIL 1994, hlm. 20

Bangkalan, Pintu Gerbang Wisata Madura

Mengawali tahun 1994, nampaknya Kabupaten Dati II Bangkalan menjadi tumpuan bagi wisatawan mancancgara bahkan boleh kita sebut bahwa Bangkalan merupakan pintu gcrbangnya pariwisata pulau garam ini. Pulau Madura yang terdiri empat Kabupaten yakni Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep ini mempunyai potensi pariwisata yang berbeda-beda, namun juga memiliki khas budaya yang sama yaitu kerapan sapi.

Di Kabupaten Bangkalan, wisata tradisional kerapan sapi digelar setiap tahun dan dimulai pada bulan Agustus hingga September. Dan untuk tiga kabupaten lainnya pada bulan ini juga menyelenggarakan wisata tradisional yang sama secara serentak, untuk final kerapan sapi akan dipusatkan di Kabupaten Sumenep pada bulan Oktober alau sebagai penutup wisata tradisional kerapan sapi.

Kabupaten Bangkalan letaknya tidak jauh dari kota Pahlawan Surabaya, berjarak hanya sekitar 25 km mudah ditempuh melalui penyeberang ferry dengan biaya  penyeberangan Rp 350,- per orang. Untuk menuju pusat kota Bangkalan dilanjutkan dengan angkutan penumpang umum bus atau kendaraan kecil.

Sesampai dipelabuhan Kamal Bangkalan, wisatawan dapat berbelanja berbagai macam souvenir khas Madura, mulai pecut, udeng, batik serta hasil kerajinan lainnya.

Bagi wisatawan nusantara maupun mancanegara yang sifatnya rombongan, yang ingin mcngunjungi Bangkalan sekaligus menyaksikan wisata tradisional kcrapan sapi tidak pada musimnya, dapat pesan terlebih dahulu kepada Pemda Bangkalan maupun Biro Perjalanan Umum (BPU), untuk menyewa kerapan sapi dan digelar pada saat kedatangan wisatawan rombongan tersebut.

Pada bulanPebruari 1994 ini, tampak cukup banyak wisatawan mancanegara yang dating ke Bangkalan untuk menyaksikan wisata tradisional kerapan sapi. Bahkan sekitar 200 wisatawan manca negara dengan kapal pesiar yang mcrapat di pelabuhan Gapura Surya Surabaya, telah melakukan city tour ke Bangkalan untuk menyaksikan kerapan sapi tersebut, rombongan wisatawan manca Negara ini sebagaian besar berasal dari Jerman dan dipandu langsung oleh Orient Express Surabaya.

Bahkan pada bulan yang sama, yaitu sekitar 85 orang peserta kejuaraan gulat Asian Oceania II di Surabaya dari scbelas Negara juga menyempatkan diri untuk menyaksikan obyek wisata tradisional kerapan sapi yang digelar oleh Pemda Bangkalan. (Agus Dm) ***

 ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:MIMBAR JATIM, EDISI: 157 JANUARI – PEBRUARI 1994, hlm. 18

 

Akik Pacitan

Ada yang Bergambar Wajah Bung Karno

Secara spisifik, Akik Pacitan mempunyai ciri khas dibandingkan dengan Akik-akik dari daerah lain seperti Akik Garut dari Jawa Barat. Akik Pacitan mempunyai warna bermacam-macam mulai putih, kuning, coklat dan lain-lain.

Batu mulia atau Akik sejak dahulu diburu oleh penghobi. Karena kalau dipoles secara baik dan dijadikan perhiasan seperti cincin atau liontin maka akan menjadi perhatian bagi mereka yang melihatnya. Apalagi kalau akik-akik yang dipoles itu mempunyai warna cemerlang dan ada gambarnya maka penghobi bakal “tergila-gila” untuk memilikinya.

Untuk diketahui saja, harga sebuah Akik yang dikategorikan baik bisa mencapai ratusan ribu atau bahkan jutaan rupiah. Namun ada juga Akik yang kualitas sedang harganya hanya mencapai puluhan ribu rupiah. Dan penggemar Akik berkualitas biasa itu, biasanya dilirik oleh golongan penghobi pemula.

Akik sendiri dapat diketemukan di berbagai daerah di Indonesia. Salah satu daerah penghasil Akik adalah Kota Pacitan. Ya, di daerah tersebut banyak diketemukan batu-batu mulia yang umurnya bisa mencapai puluhan bahkan ratusan tahun.

Secara spisifik, Akik Pacitan mempunyai ciri khas dibandingkan dengan Akik-akik dari daerah lain seperti Akik Garut dari Jawa Barat. Akik Pacitan mempunyai warna bermacam-macam mulai putih, kuning, coklat dan lain-lain.

Kemudian yang menarik penghobi, Akik Paeitan ini tidak buram karena tembus pandang. Orang-orang kemudian mengatakan kalau Akik Paeitan tersebut mempunyai eiri kristal. Dan yang lebih menarik lagi , dalamnya kadang bisa ditemukan berbagai gam bar makhluk hidup, tanaman, pemandangan alam dan lain-lain.

Bagi mereka yang ingin melihat atau memiliki Akik Pacitan yang berwama cerah dan ada gambarnya bisa datang ke tempat penjualan batu mulia dan permata di Pasar Kayoon dan Pasar Turi (bekas rel KA depan kantor BTPN) Surabaya. Di sana ada Akik yang mempunyai gambar macan, orang sedang menunaikan Sholat, ikan, burung, huruf, angka, keris dan lain sebagainya.

Bahkan ada seorang penjual yang mempunyai akik bergambar Bung Kamo, Paus Paulus dan tokoh spiritual Khomaini dari Iran. Untuk gambar-gambar yang sifatnya istimewa tersebut pedagang yang ada di sana memasang tarip cukup mahal.

Untuk memberikan kesan anggun, tempat Akik (emban) dipesan khusus pada seorang tukang dengan mengkombinasikan perak dan emas. Selain itu di sisi emban diukir dengan gambar yang disesuaikan dengan Akik misalnya gambar Macan dan lain-lain.

Selain itu gambar-gambar Akik juga mempunyai makna bagi mereka yang mempercayainya. Seperti Akik dengan gambar “Jungjung Derajat” biasanya dipakai oleh pemimpin karena cocok untuk memberikan perintah kepada bawahan di dalam menunaikan tugas-tugasnya.

Begitu pula dengan gambar “puser” yakni arus kuat dari atas ke bawah berputar-putar hingga mengecil. Hal itu menunjukkan Akik tersebut bisa membuat yang memakainya punya motivasi kerja yang kuat dan maksimal.

Sebagai alat penghias, Akik memang mempunyai daya tarik tersendiri. Seseorang yang memakai Akik dengan kual itas bagus maka akan menjadikan pemakainya tampak lebih berwibawa. Tidak mengherankan kalau penggemar Akik setiap hari bertambah banyak.

Jadi, tidaklah mengherankan kalau Pemerintah Kabupaten Pacitan sangat berharap Akik produksi daerahnya menjadi primadona bagi pemasukan daerah. Oleh karena itu berbagai promosi dilakukan agar penggemar akik datang ke Pacitan untuk berbelanja barang tersebut. (p)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Infodis, Edisi III, 2005, hlm. 25

Mengenal Warok dan Reog Ponorogo

Warok Tidak Harus Berwajah Seram dan Angker

 
Berbicara masalah warok, pikiran pasti langsung menbayangkan sosok lelaki yang bertubuh besar, kekar dan angker. Termasuk atribut yang terus dipakai setiap harinya yang serba hitam-hitam lengkap dengan kolor putihnya. Tak ketinggalan, lingkungan sekitar yang terkesan magis dan tak teratur dalam kehidupannya. Memang tak salah apabila begitu cepat menyimpulkan demikian. Itu sesuatu yang lumrah, bahkan sudah, bukan menjadi pembicaraan ranasia lagi bila sebutan warok yang terdapat di kota Ponorogo, banyak dinilai minor dalam kesehari-hariannya itu. Kepribadian warok yang oleh masyarakat dinilai sebagai warok sejati adalah lelaki dengan ilmu kedigdayannya.

Siapa sebenarnya yang pantas disebut warok atau hanya warokan saja. Nah, untuk warok dapat ditarik difinisi orang atau lelaki yang tidak suka senonjolkan kesaktiannya, terutama dengan ilmu yang dimiliki. Sedangkan warokan, hanyalah orang yang sering tampil sebagai pengiring saat ada pentas seni reog. Jumlahnya cukup banyak, bahkan sampai ribuan. Hingga saat ini warok yang masih dipercaya sebagai suhunya Ponorogo adalah Mbah Mardi Kutu (66), mantan Kepala Desa (Kades) Losari Jetis dan Kasni alias Mbah Wo Kucing (63), mantan Kasun Kauman-Sumoroto. Kedua warok sejati tersebut sudah malang melintang dalam ngangsu kawruh di beberapa pergutuan. Dan sudah beberapa guru yang terserap ilmunya.

Seperti yang dialami Mbah Wo Kucing, ternyata lelaki yang sudah kelewat uzur ini masih segar bugar. Begitu pula gaya dan penampilannya juga tak memperlihatkan orang tua lainnya yang sudah pikun atau kena penyakit tua lainnya. Menurut keterangan, Mbah Wo Kucing ini sudah menyerap ilmu kanuragan dari puluhan guru. Konon melalui semedi atau bertapa di beberapa tempat yang cukup dianggap keramat, hanya untuk mencari ilmu untuk membekali ilmu pasrah terhadap Gusti Pencipta Bumi ini. Kegunaan dari ilmu yang didapat sudah cukup banyak dan beraneka fungsi. Pada umumnya, ilmu itu hanya untuk memberikan pertolongan terhadap sesama yang sedang dilanda kesusuhan dan bahaya. Namun bila ada perlawanan, juga digunakan untuk membela diri. Dan sabuk kolor putih yang kadang melingkar di pinggulnya sebagai senjata untuk menghancurkan lawannya.

“Sudah lebih 40 guru yang saya datangi untuk mendapatkan ilmu khususnya dengan ilmu kanuragan,” kenang Mbah Wo Kucing yang berjenggot panjang putih. Lelaki bertubuh tiriggi kurus itu, kini menjadi pioneer setiap ada pentas budaya reog. Mengapa kok bisa dikatakan dan disebut warok? Ternyata ada sejarah dan artinya. Menurut KH Mudjab Tohir, tokoh masyarakat sekaligus Ketua Insan Taqwa I1ahi (INTI) Ponorogo, seyogyannya dapat membedakan antara warok dan warokan. Kendati saat berkumpul keduanya sulit untuk membedakan. Warok berasal dari bahasa Arab, yakni dari kata Wira yang artinya jauhilah perbuatan yang tidak terpuji. “Pokoknya siapa saja yang bisa memenuhi unsur tersebut, yaitu yang disebut dengan warok,” kata Mudjab Tohir saat ditemui Memorandum di teras masjid DPD Golkar, belum lama ini.

Menurut Mudjab Tohir, dulunya orang yang menyebut dirinya warok sebenamya belum tentu itu warok sesungguhnya. Terutama di tahun 1965, kadang kala hanya dengan secuil i1mu yang telah didapat, ingin njajal keampuhannya. Dengan penampilannya seperti jagoan berjalan di tepi jalan dan membuka dadanya, seperti orang menantang. Tak heran bila setiap ada orang yang lewat langsung disapa. Sehingga terjadi selisih paham dan buntutnya berkelahi. Para warok muda yang belum berisi penuh ilmu kekebalannya langsung “pasang aksi”. Sehingga saat itu suasana jadi agak panas. Kendati berlangsung cukup lama hingga para warok tua harus turun tangan juga “Dengan wadah INTI, kami harapkan para warok bisa bersatu,” harap Mudjib. Lebih lanjut ia menambahkan sekarang ini INTI yang dibentuk tahun 1977, telah menghimpun sekitar 200 kelompok kesenian reog, dengan 77 warok yang dimaksudkan untuk menghindari perpecahan antar warok khususnya. (budi s/bersambung)

Mengenal Warok dan Reog Ponorogo, Yang Sejati Masih Tetap Hidup
 Hingga sekarang, perkembangan zaman terus melaju. Seiring dengan itu, keberadaan warok juga mulai memudar. Khususnya berkenaan dengan jatidiri warok yang sebenarnya. Jika dulu warok selalu dicari dan dinanti kehadirannya, kini mulai ditinggalkan. Yang jelas dewasa ini banyak yang pilih menggandrungi kesenian reognya untuk menyalurkan darah seninya dengan mendirikan grup reog untuk pentas. Disamping menjadi pemimpin warga untuk kelangsungan hidup dalam suatu jabatan. Mengapa hal tersebut bisa terjadi. Banyak sebab dan latar belakang yang mempengaruhinya. Selain lingkungan, juga generasi warok yang terus menyusut. Entah mengapa, sampai sekarang ilmu kanuragan terutama mengenai ilmu tidak ada yang meneruskan. Kalau toh ada, hanya minim sekali. Itupun hanya satu dua warok tanpa memperlihatkan·kepada khalayak.

Bukan itu saja, semakin lama kesenian reog juga agak “terkikis” untuk mengalami renovasi sebagai pembaharuan khas seni. Sehingga mau tidak mau keberadaan warok juga agak tenggelam. Namun warok sejati masih tetap hidup, tak akan lekang ditelen perubahan dan pembenahan kesenian reog yang menjadi simbul keberadaannya. Warok yang terkenal dan sudah punya nama, memang sangat mudah untuk mengumpulkan massa. Termasuk untuk dijadikan dalam menduduki jabatan tertentu. Sehingga tak heran dari sekian warok kebanyakan sekarang menjadi abdi negara. “Saya menjabat sebagai kepala kelurahan disini, ya disamping sebagai tokoh reog juga atas kehendak warga disini,” tutur H Achmad Tobroni, tokoh masyarakat dan sekarang menjabat kepala Kelurahan Cokro Menggalan saat ditemui Memorandum di beberapa kesempatan pentas reog di ponorogo.

Tobroni yang sukses mengantarkan kesenian khas Ponorogo Keliling dunia termasuk di negara “Jawa” Suriname, menjelaskan, jika soal warok saat ini memang perlu mendapat perhatian. Hal ini mengandung maksud sebagai langkah agar keberadaannya bisa duduk dan tidak dikonotasikan yang bersifat negatif. Misalnya seorang warok biasanya mempunyai gemblak (lelaki yang dirias sedemikian ayu yang menjadi pasangan hidupnya, red). “Kalau sekarang ada wadah INTI (Insan Taqwa Ilahi, red) memang saya sangat setuju sekali,” jelas bapak tujuh anak yang kini masuk daftar calon legeslatif (Caleg) DPRD dari FKP”. Jadi kalau ngomong soal reog, ya harus ada kaitannya dengan kesenian ngerjakan yang baik dan meninggalkan kejelekan. Sehingga apabila saat pentas reog seorang pemain dan merasa dirinya sebagai warok, kok masih minum-minuman keras dan berbuat asusila, sudah termasuk orang yang mursal.

“Memang aneh jika minum-minuman keras sekarang ini dianggap barang yang trandy dan pelengkap dalam pentas reog,” jelas RTM Sindu diningrat, pengamat dan peneliti budaya Ponorogo. Cucu Raden Batoro Katong pendiri kota Ponorogo ini menimpali lagi agar kebiasaan mabuk-mabukan segera dapat dihentikan jika tak ingin kelestatian budaya nenek moyang kita namanya tercoreng. Sumber Memo randum dari para sesepuh, soal minum-nimuman keras dipandang tidak berbahaya. Ada cerita yang mengatakan orang termasuk warok itu sendiri, tidak akan mabuk bila meneguk minuman keras. Soalnya ada yang mempunyai jimat berupa Katak Gadung atau Aji Bandung Bondowoso (Bolo sewu).

 ltulah sebabnya beberapa  pengirin reog masih mempunyai aji jaya kawijayan seperti itu. Namun jimat Bolo Sewu tersebut kini tidak akan digunakan dan ditonjolkan,j ika tidak terpaksa atau disepelekan orang lain. Sedangkan Aji Kalak Gadung konon hanya berfungsi/untuk menawarkan dan mengebalkan diri dari keracunan. Bagi seorang warok sendiri, agar mempunyai badan dan kekuatan gaib memang banyak caranya. Hanya saja. Untuk mencapai dimensi gaib itu orang Jawa mempunyai cara melalui kebathinan Jawanya. Dan itu bukan klenik, dengan alasan ilmu kejawen memang kadang sulit dijelaskan dengan nalar.

Mengenal Warok dan Reog Ponorogo, Ada yang Memilih Profesi
Kesenian reog yang lahir sejak 501 tahun lalu, dalam perkembangannya,  terus men gal ami perubahan tanpa menghilangkan ciri yang dikandungnya. Termasuk daya magis yang dimiliki para warok seakan-akan semakin luntur, terbawa arus modernisasi. Benarkan demikian? Memang tidak bisa dihindari dan disalahkan, jika ada para dedengkot reog termasuk warok, naik dan bergulat di pentas politik dan pemerintahan. Mereka kemungkinan juga mempunyai pandangan masa depan tanpa meninggalkan darah seninya yang sudah melekat itu. Namun demikian masih ada yang tetap di jalur semula untuk memperdalam ilrnu keguruan yang akan disebarluaskan ke beberapa anak cucunya.”Menurut kami sangat wajar dan tak ada masalah jika para warok memilih untuk menjabat dalam perintahan.

Asalkan kepribadian dan darah dagingnya masih tetap sebagai warok,” jelas salah seorang tokoh warok. Namun, tambah tokoh tadi, jika sudah menduduki jabatan dan lupa dengan statusnya, itu sudah keterlaluan dan sangat disayangkan. “Malah harus sebaliknya, lewat pemerintahan dan politiknya dapat dijadikan greget  untuk memajukan kesenian yang telah kesohor ini,” papamya. Seperti yang dialami Mbah Mardi Kutu, warok dari Jetis sekaligus cucu dari Ki Ageng Kutu atau Demang Suryongalan jni, contohnya tetap eksis dan kukuh. Bahkan dirinya rela untuk melepas jabatan sebagai Kades untuk “mendapatkan” diri sebagai warok dengan peguron saja. Boleh dibilang, Mbah Mardi Kutu seorang warok sejati yang menginginkan kehidupannya betul-betul sebagai warok. Bukan sebagai warokan. Sementara Mbah Wo Kucing sendiri juga lebih banyak ngopeni ilmu yang sudah didapatkan dalam pengembaraannya semasa masih muda.

Dengan memilih ilmu kapribaden, yakni mengenai ketuhanan untuk hubungan sesama manusia dirinya juga telah bergabung dengan ilmu kejawen, Purwo Ayu Mardi Utomo. Sehingga harapnya apa yang selamadidapatkan tidak akan sia-sia dan hilang begitu saja Sehingga anak cucunya kelak bisa meneruskan sebagai warisan leluhur. “Saya sendiri juga punya harapan seni reog terutama waroknya bisa terus berkembang,” jelas Mbah Wo Kucing ketika ditemui disela-sela acara pun cak Grebeg Suro belum lama ini.

Semen tara pihak Pemda sendiri juga terus berpacu untuk mengangkat kesenian reyog. Tak ketinggalan kehi dupan para warok yang boleh dikatakan agak tersisih, kurang perhatian. Lebih banyak tercurah dengan reog yang akan ditawarkan sebagai produk kesenian lokal  ke tingkat internasional.

“Kalau dulu reog kita angkat untuk memperkenalkan ke event Internasional, sekarang ini rnempunyai tujuan bagaimana kesenian yang ada tidak berkonotasi negatif dimata pemirsa,” jelas Bupati Drs Markum Singodimedjo saat dijumpai Memorandum di pringgitan agung. Menurut Bupati yang mulai kesengsem seni tayub ini, reog sudah waktunya untuk ajang promosi. Khusus penari jatilan yang kini mulai diperankan oleh Perempuan, menurutnya hanya berpedoman pada pakem yang ada. Sehingga nanti  tidak ada- salah tafsir yang macarn-macam dengan status penari jatilan yang dulu dilakukan laki-Iaki. “Kalau diperankan perempuan kan lebih luwes”. Untuk memperkaya dan melestarikan kesenian reog, saat ini di setiap desa kelurahan diwajibkan mempunyai grup reog. Berikut penari yang terdiri dari dadak merak plus barongan-nya, perangkat baju Klono Sewandono, jatilan,  pujangganong dan para warok pengiring serta penabuhny. (budi s).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: 
Memorandum……

Masmundari, Pelukis Damar Kurung

Memuliakan Warisan Tradisi Zaman Sunan Prapen
Masmundari, Lukisan Damar Kurung

“Apa pun istilah ‘pinter’ untuk menggolongkannya, karya-karya. Masmundari yang bersahaja ini adalah ungkapan seorang seniman yang otentik. Ia menjadi potret utuh seorang perempuan yang telah mengarungi hidupnya di dalam berbagai zaman, sampai ke usia yang sulit dipercaya untuk tetap produktif”. EflX Mulyari

 Masmundari. Tubuh renta yang telah digerogoti usia yang genap seabad, namun tak menghentikannya dalam berkarya. Ia masih melangsungkan aktivitas yang diyakininya sejak muda, sebagai penerus kreasi leluhurnya: menggambar damar kurung. Pada sosoknya, merentang usia tradisi seni berumur ratusan tahun yang nyaris punah. Lukisan damar kurung (lampion) khas Gresik yang berasal dari abad ke-16 ini, tetap diyakini dan dihidupi.

Masmundari melukis keempat sisi damar kurung dengan pelbagai kisah yang direkamnya. Memasang damar kurung selama masa puasa menjadi tradisi masyarakat di kawasan Tlogo Pojok Gresik. Kerudung lampu itu dilukis dengan indah dan dipasang orang yang punya hajatan untuk menghiasi rumah, jalan, sebagai petunjuk jalan bagi para tamu. Sebagian besar lukisannya berkisah tentang manusia dan kegiatannya: wayang, hikayat Anglingdarma, kesibukan di pesisir, ombak laut, dan pohon-pohon menjadi tema yang sering diangkat. Dari banyak tema itu orang paling ingat pada lukisan tentang perempuan terbang Imajinasi Masmundari sering terbang jauh dan tinggi yang sulit dijangkau orang seusianya.

Kekuatan akan detail sebuah peristiwa membuat lukisan Masmundari lebih hidup. Ketika melukiskan suasana hari raya Idul Fitri, misalnya, ia menggambakan runtutan peristiwa lebaran itu secara lengkap: mulai dari jamaah yang sedang sembahyang, lengkap dengan khatib berkhotbah hingga acara salam-salaman dan dilanjutkan dengan berangkat berpiknik atau ‘unjung-unjung’, silaturahim. Semua yang dipotretnya digambar secara lengkap, lengkap dengan sepeda motor dan becak. Juga menyertakan hidangan yang ditata di atas meja dan mikrofon yang dipakai sang khatib.

Melukis bagi tokoh kebanggaaan masyarakat Gresik ini, adalah kegiatan menyenangkan yang tak boleh diusik. Saat melukis, Masmundari menetapkan harga mati: tidak mau diganggu. “Mbah Masmundari, biasanya marah kalau sedang asyik masak diganggu” kata Nur Samadji, salah seorang cucunya.

Di lingkungan keluarga, kerabat dan seniman Jatim, Masmundari biasa dipanggil Mbah. Meski sudah berusia senja, Mbah Masmundari nyaris tidak bisa diam, selalu mencari kesibukan mulai dari mencuci baju hingga memasak, di samping tentu saja melukis damar kurung. Kegiatan melukis dilakukan saat ia merasa nyaman atau ada pesanan.

Yang unik dari sosok Mbah Masmundari, kekuatan fisiknya luar biasa walaupun pendengaran agak terganggu.nBila ngobrol di ruang tamu, Mbah bersuara lantang bahkan sampai terdengar ke luar rumah. Bila ingin bertanya kepada Mbah Masmundari, harus agak berteriak di dekat telinga sebelah kanan Mbah Masmundari agar bisa terdengar. Katanya dia bertekad tidak akan berhenti melukis damar kurung.

Hanya secangkir kopi yang sanggup membuatnya berpaling dari lukisannya, Mbah Masmundari yang kuat minum kopi tiga cangkir sehari dan makan sirih ini justru tidak menetapkan harga mati untuk lukisannya dia tak peduli dengan harga lukisannya. Yang jelas, Masmundari tetap melukis ketika tubuhnya sehat. Dengan membubuhkan ‘cap jempol’ sepuhnya sebagai ganti tanda tangan, lukisan terbang ke pelbagai negara. Tentu, karena diminati para turis yang kemudian dibawa pulang ke negerinya.

Warisan Giri Prapen
Damar kurung tak hanya dikenal di pesisir Gresik. Damar kurung bisa dijumpai di wilayah Semarang yang memang dikenal sebagai tempat persinggahan kapal-kapal dari negeri China zaman dulu. Damar kurung yang biasa disebut ting-tingan Ramadhan ini biasa dijajakan dalam dhugdheran (pasar malam yang hanya ada sepanjang bulan Puasa) masih terselip penjual damar kurung. Biasanya berwarna merah atau putih dengan lukisan sederhana, dari luar bayangan kerbau, naga, petani, gerobak, penari, burung, becak, bahkan pesawat, tampak bergerak.

Damar kurung mengadaptasi lampion yang dipakai warga Tionghoa sebagai wujud kesempurnaan dan keberuntungan. Dulu jika ada warga yang kesripaan (ada yang kesusahan karena di antara anggota keluarga ada yang meninggal dunia) maka lampion putih dipasang berpasangan di depan rumah yang melambangkan duka cita. Biasanya lampion persegi atau oval berwarna putih ini dibubuhi kaligrafi berisi penggalan syair China kuno. Sebaliknya, lampion bulat berwarna merah menjadi symbol keberuntungan dan kesempurnaan.

Membuat damar kurung tidak mudah, terutama menyetel agar posisi sumbu yang mengeluarkan asap bisa tetap stabil. Asap yang keluar dan tertiup angin inilah yang memutar kipas kertas  dan membuat kertas-kertas minyak itu berputar. Sebagaimana lampion, damar kurung dalam upacara Ngaben di Bali pun memiliki makna. Damar kurung dipasang di depan rumah duka, yang diyakni sebagai penunjuk arah bagi perjalanan roh. Hubungan sejarah masa lalu antara Cina dan Bali memang mengingatkan bahwa damar kurung ‘berkarib’ atau varian dari lampion. Bukan hanya damar kurung, ditengarai barong yang dikenal di Bali juga beralian erat dengan tari singa barong Cina. Penyebaran singa barong Cina ini kemungkinan besar masuk ke Bali pada masa pemerintahan Dinasti Tang di Cina sekitar abad ke-7 hingga abad ke-10.

Di Gresik, lampion yang di terjemahkan menjadi damar kurung sudah lekat denan tradisi sejak abad ke-16. saat itu, adalah masa aktif Sunan Prapen, sunan ketiga sesudah Sunan Giri, seorang penyebar agama Islam di Jawa Timur. Sampai tahun 1970-an, sebagai kerajinan, damar kurung juga dikerjakan masyarakat Jawa Tengah maupun Jawa Barat. Kebanyakan dammar kurung ini dibuat tanpa gambar, hanya beberapa bagian damar kurung saja yang memiliki gambar.

Di Jepara ada tradisi menyalakan damar kurung yang dinamakan Baratan. Tradisi ini dilaksanakan setiap pertengahan bulan Sya’ban (Jawa: bulan Ruwah). Hal ini berkait dengan legenda Sultan Hadlirin, suami Ratu Kalinyamat (Retno Kencono), putri Sultan Trenggono yang juga Adipati Jepara (1549-1579). Suatu ketika tibalah sang penguasa di Desa Purwogondo (kini pusat Kecamatan Kalinyamatan). Tiba-tiba kuda yang ditungganginya lari menghilang. Kemudian bersama-sama warga, ia mencari kuda dengan bantuan lampu impes (lampion). Tradisi ini tetap dilakukan dengan membawa lampion berkelap-kelip. Ketika listrik sudah masuk desa, tradisi ini pelahan memudar.

Ke Palataran Jagat Seni Lukis
Masmundari sejak tahun 1986 tercatat sebagai satu-satunya pembuat dan pelestari kerajinan damar kurung yang masih hidup dan terus berkarya, setelah kedua orang tuanya meninggal dunia dan adik-adiknya, Masriatun dan Maseh, tidak melanjutkan tradisi keluarga.

Gambar pada lukisan damar kurung, memperlihatkan potret budaya masyarakat Gresik sejak ratusan tahun lampau yang bertahan sampai sekarang. Kondisi fisiknya masih cukup sehat. Bukan hanya untuk berkarya, tetapi juga melakukan pekerjaan-pekerjaan di rumah seperti mencuci. Masmundari bukan hanya sekedar melanjutkan tradisi yang dirintis oleh kedua orangtuanya Sadiman dan Martidjah, tetapi juga melakukan pembaharuan dalam proses kreativitas dan penampilan karya seni. Mengenai kemampuannya untuk melukis di atas kertas kanvas dammar kurung, Masmundari dengan bahasa Jawa mengungkapkan “Kulo marisi ndamel Damar Kurung niki saking Bapak kulo, Ki Dalang Sinom. Sanjangen Bapak, Nak, sesok nek bapak ana umure, kon ngawe ngene”. (” Saya mewarisi ketrampilan membuat damar kurung ini dari bapak saya, Ki Dalang Sinom. Bapak berpesan, besok apabila Bapak sudah meninggal, kamu harus tetap membuat Damar Kurung. Sebab keturunan kami sejak dulu membuat kerajinan tersebut)” ujamya. Ki Dalang Sinom adalah sebutan lain dari nama orangtuanya yang memang seorang dalang wayang. Masmundari mengaku tidak merasa lelah terus berproses dan beraktivitas sebagai pelukis. “Sampai sekarang saya masih melukis dan akan terns melukis sampai mati,” kata si Mbah dalam bahasa khas Gresik, suatu ketika. Meski kulitnya sudah mulai keriput, namun otot di sepanjang tangan Masmundari terlihat masih keras. “Setiap subuh, Mbah sudah bangun. Kemudian memasak air, menanak nasi, lalu mencuci pakaian. Siang hari, Mbah jarang sekali tidur, tetapi masak,” tutur Nur Samadji.

Menurut Masmundari, paman dan bibinya juga melukis damar kurung semasa hidup mereka. Bakat melukis Masmundari tampaknya juga dimiliki anak satu-satunya, Rukayah (51), ibu dari lima anak. Dari lima cucu Masmundari yang tampaknya tertarik menjadi pelukis damar kurung hanya dua orang, yaitu Nur Samadji dan Achmad Adrian. “Saudara ibu, Masriatun, Masehi, dan Indri sewaktu masih hidup juga melukis damar kurung, tetapi sekarang tinggal Mbah Masmundari,” kata Rukayah,janda dari almarhum Mas ‘ud.

Ketika menerima Penghargaan Seni tahun 2002 dari Pemerintah Provinsi Jatim ini, Masmundari menyambutnya dengan syukur. Dalam catatan saya, penghargaan yang diberikan pada Masmundari sangat wajar karena dia selama ini nyaris tidak pernah meninggalkan dunia seni rupa, khususnya lukisan damar kurung.

Penghargaan itu menjadi pembuktian atas kerja dan kreativitas dia sebagai pelukis perempuan yang mampu bertahan hingga usia lanjut. Penghargaan yang diterima Masmundari itu, di antaranya dalam bentuk uang sebesar Rp 10 juta, yang dia manfaatkan untuk memperbaiki rumah dan memenuhi kebutuhan lain. “Rumah ini kalau hujan sering bocor. Sebagian lagi dipakai membeli bahan melukis dan bayar utang,” kata Masmundari. Tidak ada penjelasan kenapa dia atau keluarganya memiliki utang, tetapi sampai sekarang keluarga Masmundari memang tinggal di sebuah gang di perkampungan penduduk yang padat, di Jalan Gubemur Suryo Gang 7 B Nomor 41B, Gresik.

Masmundari diantar anaknya Rukayah, bersama dua cucunya selama mengikuti pameran di Bentara Budaya Jakarta (BBJ), dengan menyertakan 50 buah lukisan, selama seminggu, mulai 17-24 Maret 2005. Pameran bertajuk Seabad Masmundari, dibuka oleh aktris sinetron Rachel Maryam, dengan membacakan puisi Pablo Neruda, penyair Chile, yang meraih Hadiah Nobel. Lukisan-Iukisan Masmundari telah dipamerkan di pelbagai kesempatan, baik di Surabaya maupun di Jakarta. Pameran di Jakarta ini untuk keempat kalinya, setelah sebelumnya di BBJ pada tahun 1987, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta pada tahun 1990 serta pada Pameran Kerajinan Indonesia Dalam Interior (KIDI) IV di Balai Sidang Senayan Jakarta 1991, yang pemah mendapat perhatian khusus dari mantan Presiden RI Soeharto.

Semula kerajinan “damar kurung” dikerjakan dengan memanfaatkan kertas minyak dengan pewama dari sumbo. Kertas minyak ini melingkar dalam bingkai yang terbuat dari potongan bambu. Tetapi sejak diperkenalkan oleh pelukis modern dari Gresik, Imang A.W. (yang mula-mula memperkenalkan karya-karyanya di luar Gresik), Masmundari kemudian mempergunakan kertas kanvas dan cat minyak. Lukisannya dibingkai dengan kayu bujur sangkar. Dalam seni kerajinan damar kurung di masa lalu, gambar-gambar dilukis pada lembaran kertas terbagi dalam tiga bagian, yaitu atas, tengah dan bawah atau hanya dua bagian atas dan bawah untuk menceritakan sesuai dengan pakem. Tetapi Masmundari berani melakukan perubahan dengan tidak memakai pembagian bidang.

Kerajinan “damar kurung” dibuat untuk menghibur dan memberikan kesenangan kepada anak-anak yang tengah menanti datangnya sembahyang Tarawih pada bulan Ramadhan. Itulah sebabnya tema lukisan pada kertas Damar Kurung di masa lalu umumnya berkisah soal kegiatan orang melaksanakan sembahyang Tarawih, Tadarus, suasana Idul Fitri, halal bil halal, macapat, pasar malam, pesta khitanan, dan sebagainya. “Masmundari adalah pemuja kegembiraan hidup. Lukisan-lukisannya selalu menampakkan keriangan dan kebahagiaan,” tulis Danarto, sastrawan yang dikenal juga sebagai pelukis “Rasanya tidak ada lukisannya yang jelek. Mundari tidak melukis kesedihan, malapetaka, bahkan air mata pun tidak”. (Media Indonesia, 19 Maret 2005).

Dan memang, dari wama-wama primer yang dihadirkan begitu saja saling menyatu di kanvas atau pun di kertas. Warna merah berdampingan dengan hijau yang biasanya terbakar dan mata tak sanggup menatapnya, menjadi jinak. Warna kuning, biru, merah jambu, maupun violet, menjadikan banguna suasana ceria, meriah, cemerlang dan memikat. Selain melakukan pernbahan dalam penampilan mulai dari bahan dasar, Masmundari satu-satunya pelukis yang menekuni lukisan damar kurung ini mulai memasukkan tema-tema kekinian tanpa meninggalkan tema-tema lama yang bersifat religi. Masmundari mengangkat tema tentang kehidupan nelayan, pesta perkawinan, kehidupan etnis Madura, serta permainan tradisional anak-anak seperti menangkap ikan, menjaring burung.

Bahkan ia cukup adaptif dengan tematema pesanan pemerintah, misalnya program Keluarga Berencana. Belakangan Masmundari mengetengahkan tema-tema teknologi, seperti mesin traktor, pesawat terbang, siaran radiodan televisi lengkap dengan antena parabola. Aneka gambar yang terlukis pada lembaran kertas damar kurung mempunyai fungsi yang hampir setara dengan relief-relief dan patung-patung pada candi Budha dan Hindu yang terdapat di Pulau Jawa. Anak-anak di Gresik sebelumnya juga sempat digalakkan oleh pemerintah kabupaten setempat untuk melukis dengan gaya damar kurung hingga akhirnya cirri lukisan Masmundari identik dengan ciri khas Kota Gresik. Lampion damar kurung karya Masmundari lalu ada yang terbuat dari serat kaca dengan tulang kayu, termasuk juga gaya lukisan damar kurung yang sudah dikemas seperti lukisan umumnya. (RNG)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Teropong, Edisi 20, Maret – April 2005, hlm. 39

Keramik Bermutu dari Kaibon, Kabupaten Madiun

Kaibon adalah sebuah daerah di Kabupaten Madiun, namun dari sana bisa dihasilkan berbagai macam aneka kerajinan keramik bermutu tinggi seperti teko, guci, gelas, cangkir, mug dan lepek dan sudah dikenal di masyarakat.

Menurut Frans Hertanto, Manager Produksi PT. Kaibon Indah mengatakan kepada redaksi Media Indag, keramik produk keramik dari Kaibon sampai sekaran ini melalui perjalanan panjang sejak didirikan tahun 1975 telah mengalami pasang surut yang menjadi cambuk untuk meningkatkan kualitasnya agar tetap eksis dan terbukti saat ini mampu bersaing dengan kompetitor dalam negeri maupun keramik produk China. Dengan tenaga kerja sekitar 80 orang berasal dari sekitar Madiun setiap bulan mampu memenuhi pesanan aneka produk keramik dari berbagai kota di Indonesia dan ekspor meski masih harus melalui pihak ketiga di Semarang.

Dalam mengelola usahanya Kaibon Indah menerapkan pendekatan kekeluargaan terhadap tenaga kerjanya sehingga prinsip keseimbangan kebutuhan antara perusahaan dan tenaga kerja benar-benar terjaga. Peran Dinas Perindag Kabupaten Madiun sebagai instansi pembina didaerah juga sangat dirasakan oleh perusahaan keramik Kaibon Indah Salah satu contohnya disaat perusahaan ini kesulitan mendapatkan bahan baku keramik, Drs. Basito, M.Si Kepala Dinas Perindag Kabupaten Madiun yang mempunyai kedekatan dengan stakeholder industri dan perdagangan di Jawa Timur memberikan bantuan dengan fasilitasi kerjasama suplai bahan baku dengan Balai Pelayanan Teknis Industri Keramik Dinas Perindag Prop.Jatim di Malang sehingga kesulitan bahan baku keramik dapat teratasi.

Disamping sebagai produk industri, keramik merupakan produk seni sehingga menurut Frans begitu biasa dipanggil, agar tetap diminati dan menghindari kejenuhan pasar pembuatan keramik harus dilakukan inovasi desain dalam pembuatanya serta menyesuaikan trend pasar. Khususnya peningkatan penguasaan desain produk, Frans berharap kepada pemerintah untuk melakukan pendidikan dan pelatihan desain produk kepada usaha kecil menengah. Pelatihan yang dimaksud ini telah beberapa kali dilaksanakan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Propinsi Jawa Timur di Surabaya bekerjasama dengan perguruan tinggi, namun karena masih kurangnya akses informasi atau sosialisasi sehingga sampai saat ini Kaibon Indah belum pernah mengikutinya . Inovasi desain produk sangat diperlukan oleh UKM dalam mempertahankan kelangsungan produknya terlebih lagi kedepan harus menghadapi kompetitor produk sejenis dari luar negeri terutama China sebagai akibat berlakunya pasar bebas. – PT. KAIBON INDAH Kaibon Madiun

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Indag, No 6, Juni 2007, hlm 25

Keripik Nangka, Kabupaten Madiun

Kabupaten Madiun Keripik Nangka
Sebuah Inovasi Produk Makanan

Kalau makan nangka jangan sampai kena getahnya, sebuah ungkapan peribahasa yang menggambarkan kelezatan rasa buah nangka meski berbalut dengan getah.

Namun bagi seorang bernama Lambang Wijayanto buah nangka mampu memberi inspi rasi untuk memperoleh nilai tambah dengan mengolahnya menjadi Keripik Nangka yang mempuyai cita rasa buah nangka tetapi, berbentuk keripik. Sebuah inovasi yang layak mendapat apresiasi.

Berkat kejelian memanfaatkan peluang ketika melihat musim buah nangka banyak yang terbuang di sekitar tempat tinggalnya sekitar bulan Oktober sampai dengan Pebruari. Pak Lambang begitu biasa dipanggil, seorang sarjana Ilmu Fisika Unibraw Malang serta dikaruniai tiga orang anak ini kini sukses mengelola usaha pengolahan keripik nangka dibantu 16 orang dari wilayah sekitarnya. Kini produknya dengan mudah dapat didapat di toko makanan dan supermarket.

“Dari 5 kilogram buah nangka kupas setelah digoreng pada suhu 80% hanya menghasilkan sekitar 1 kilogram kripik nangka” Lambang melanjutkan.

Berawal dari hanya mengolah nangka sekarang Lambang telah mengolah keripik dari berbagai buah seperti salak, apel, pisang, nanas, mangga, dan melon serta kedelai. Dengan kapasitas produksi 20 ton per bulan, Keripik dari Manis Sentra Keripik Madiun, Lambang memenuhi permintaan dari Surabaya, Solo, Jakarta dan daerah lain serta untuk diekspor melalui pihak ketiga.

Untuk menyiasati penen buah yang rata-rata setahun sekali Lambang melakukan stok produksi keripik dalam jumlah besar bila musim panen karena produk keripiknya bisa tahan selama 1  tahun meski tidak memakai bahan pengawet.

Peran Pemerintah dalam hal ini Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Madiun dalam membina dan memfasilitasi pemasaran produknya sangat dirasakan Lambang Wijayanto. Terima kasih juga disampaikan kepada Oinas Perindag Prop. Jatim karena telah memberi bantuan mesin penggorengan.

Saat ini Lambang Wijayanto memerlukan sertifikasi standar kandungan nutrisi produknya sebagaimana persyaratan pembeli dari luar negeri terutama dari Amerika Serikat dan Denmark. Untuk ini diperlukan fasilitasi dari aparat pembina di daerah.

Lambang Wijayanto, Manis Sentra Kripik, Pusat Produksi Aneka Kripik Buah, Kandangan RT.30 RW. X Kedondong, Kebonsari Madiun.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Indag,  NO. 6,  Juni 2007, hlm. 24