Madura Pasca Suramadu

A. Latief Wiyata
Doktor/Antropolog Budaya Madura
Kepala Lembaga Penelitian dan
Pengabdian Masyarakat
Universitas Trunojoyo, Bangkalan

Pada 20 Agustus 2003 lalu Presiden RI Megawati meresmikan pemancangan tiang pertama pembangunan Suramadu, sebagai pertanda dimulainya proyek jembatan yang akan menghubungkan Surabaya dengan Madura.

Tentu momentum ini menambah optimism semupa pihak (khususnya masyarakat Madura) tentang “impian industrialisasi”  yang sudah lebih dari satu dasa warsa dikumandangkan, namun selalu tertunda berbagai kendala. Tulisan ini mencoba meprediksikan bagaimana kondisi sosial budaya dan ekonomi masyarakat Madura, atau dampak yang menyertai setelah jembatan itu membentang di Selat Madura.

Pertama saya mencoba menafsirkan kata “Suramadu” yang dipilih sebagai nama jembatan. Nama ini sudah tentu akronim dari kata Surabaya dan Madura. Akronim ini tidak cukup hanya dipahami sebagai perbedaan nama tempat secara geografis. Namun penting memahaminya lebih mendalam tentang maknamakna lain yang ada di balik kata Suramadu.

Dari prespektif ketatabahasaan, kata “Suramadu” jelas mengandung makna relasional antara subyek dan obyek. Sura (baya) sebagai subyek, sedangkan Madu(ra) sebagai objek.
Relasi yang terbentuk itu tentu mengandung makna ketergantungan antara yang satu dengan lainnya.  Dalam prespektif teori dependensia, relasi tersebut mau tidak mau merujuk pacla suatu posisi ketergantungan struktural. Artinya, Surabaya sebagai “subyek” disadari atau tidak harus ditempatkan sebagai wilayah pusat (center area) sedangkan Madura pada posisi sebagai wilayah pinggiran (peripheral area). Realitas empirik yang selama ini terjadi, Madura baik sebagai suatu unit kesatuan politik, ekonomi, sosial bahkan kebudayaan sangat tergantung pada (paling tidak terpengaruh oleh) Surabaya.

Meskipun telah ada Undang-undang NO.22/1999 tentang Otonomi Daerah, tapi dalam realitas politik yang berlaku Madura tetap berada dalam “kekuasaan” Surabaya sebagai pusat pemerintahan Jawa Timur. Pun secara ekonomi, ketegantungan Madura terhadap Surabaya tidak dapat dipungkiri. Hampir semua kebutuhan hidup keseharian masih dipasok dari Surabaya. Secara sosial-budaya juga sulit membedakan antara “gaya hidup” orang Madura dengan orang Surabaya. Padahal secara kultural masih banyak penanda identitas etnik orang Madura yang dapat menjadi faktor pembeda dengan etnik lain. Namun semua penanda etnik itu kini sudah sedikit yang menggunakan.

Apa yang dipaparkan tadi menjadi jelas bahwa Madura selama ini selalu berada pada posisi subordinasi, sedangkan Surabaya di posisi superordinasi. Berbagai kajian terhadap pengalaman di berbagai negara, hubungan relasional dalam prespektif dependensia selalu menguntungkan pihak pusat (center area). Sebaliknya wilayah pinggiran (peripheral area) selalu menjadi objek sehingga sulit mengalami “kemajuan”.

Dengan diresmikannya pengerjaan Suramadu, harapan akan terwujudnya suatu “era industrialisasi” di Madura kini muncul lagi. Bukan hanya di Madura, tapi di hampir setiap pertemuan baik ilmiah atau tidak, selalu saja ada orang memperbincangkannya. Bahkan ketika saya selama dua minggu lalu berada Manila dan Tokyo untuk suatu lokakarya, di sela-sela pembicaraan di kampus-kampus Tokyo selalu terselip pertanyaan tentang kelanjutan proyek Suramadu.
Secara garis besar saya dapat menangkap ada sementara yang pesimistik, sedangkan yang lain sangat optimis jembatan tersebut dapat terealisasi.

Tali penghubung
Jembatan Suramadu jika kelak terwujud tentu akan menjadi “tali penghubung” antara Madura dan Surabaya (atau sebaliknya). Tentu saja “jarak gerografis” menjadi kian dekat dibandingkan jalur penyeberangan ferry. Sehingga mobilitas penduduk Madura kian intens, pun mobilitas perekonomian.

Namun penting dipertanyakan, apakah kedekatan jarak geografis tadi memang merupakan kebutuhan mayoritas orang Madura? Kalau kita cermati arus migrasi orang  Madura setiap hari di penyeberangan Ujung-Kamal memang hampir tidak pernah berhenti selama 24 jam.

Dengan jembatan Suramadu apakah intensitas migrasi orang Madura akan kian meningkat secara drastis? Jawabannya bisa ya atau tidak. Ya, jika para migran Madura memang membutuhkan jembatan itu sehingga keberadaan jembatan lebih memudahkan mereka ke Jawa.

Namun, apakah semua orang Madura bisa memanfaatkan jembatan itu? Tentu saja tidak. Karena dalam operasinya nanti Jembatan Suramadu hanya boleh digunakan oleh kendaraan roda empat dengan membayar sejumlah uang (tol).

Dalam konteks ini, berarti hanya orang-orang yang mampu secara ekonomi yang dapat memanfaatkan jembatan. Sedangkan kebanyakan orang Madura yang selama ini melakukan migrasi melalui Ujung-Kamal adalah golongan bawah, yang  kemungkinan besar tidak akan memanfaatkan jembatan.

Dalam konteks perekonomian apakah keberadaan Jembatan Suramadu bisa serta merta mampu meningkatkan taraf kehidupan orang Madura? Pertanyaan ini harus dipikirkan sejak awal.

Memang, lalu lintas ekonomi yang ke-luar-masuk Madura akan semakin intens. Namun, apakah intensitas ini tidak justru menguatkan ketergantungan Madura terhadap Surabaya (ketergantungan pheriperal area terhadap center area)?

Sebab, dalam realitasnya perekonomian Madura secara umum bertumpu pada kegiatan-kegiatan yang bersifat tradisional, sehingga kemampuan daya saing dalam pasaran (baik tingkat regional, nasional, apalagi internasional masih rendah. Artinya masih banyak persyaratan untuk dapat berkompetisi dengan produk-produk perekonomian daerah lain.

Salah satu kendala yang perlu diperhatikan adalah sumberdaya manusia (SDM) Madura. SDM ini perlu segera dibenahi dan diberdayakan. Mampukah semua pihak berpacu dalam waktu tentang masalah ini, sedangkan pembangunan jembatan sudah I dapat diperhitungkan kapan mulai selesai dan dioperasikan.

Pembenahan dan pemberdayaan SDM Madura memerlukan semangat, ketulusan, keikhlasan, ketekunan, keuletan, dan kesungguhan dari para pengambil kebijakan (politik) serta semua komponen masyarakat di Madura memerlukan waktu panjang.

Kita bisa bayangkan apa yang bakal terjadi jika proyek jembatan yang ditargetkan dalam tempo 3-5 tahun itu tidak dapat “dikejar” percepatannya oleh pembangunan SDM Madura. Maka itu tidaklah berlebihan jika banyak pihak yang beranggapan keberadaan jembatan hanya akan dimanfaatkan para pemilik modal yang secara ekonomi sudah siap beroperasi di Madura.

Jika demikian kapan orapg Madura dapat menikmati “buah” pembangunan jembatan Suramadu? Jawabannya terpulang kepada para pengambil kebijakan dan pihak-pihak yang peduli terhadap Madura, apakah kebijakan yang sedang dan akan ditempuh betul-betul visioner demi kepentingan orang Madura.

Jika tidak, kegelisahan, kecemasan, atau kerisauan klasik akan terus muncul bahwa orang Madura hanya akan menjadi “penonton”.
Secara sosial-budaya, mobilitas penduduk yang intens akan menyebabkan “jarak sosial” antara orang Madura dengan orang “luar” semakin dekat pula.
Bahkan secara kultural pun akan terjadi intesitas pergesekan yang dapat berdampak positif maupun negatif.

Positif dalam arti nilai-nilai kultural baru dapat memperkokoh nilai-nilai tradisional yang ada. Misalnya etos kerja yang menuntut profesionalisme dan kedisiplinan tinggi dapat dengan mudah diserap oleh orang Madura yang selama ini dikenal sebagai pekerja ulet dan semangat tinggi.

Dampak negatif tentu saja juga ada. Misalnya, apresiasi orang Madura terhadap bahasa Madura sebagai lingua franca akibat intensitas itu akan semakin berkurang. Sekarang saja para keluarga muda Madura sudah cenderung menggunakan bahasa Indonesia meski dari segi ketatabahasaan relatif kurang baik.

Dalam jangka panjang -akibat intensitas itu- sangat memungkinkan bahasa Madura akan ditinggalkan. Jika itu terjadi, sungguh mengindikasikan telah terjadi bencana kultural. Orang Madura tidak dapat lagi mengekspresikan pikiran-pikirannya secara baik dan benar sesuai konteks nilai budaya Madura jika mereka harus menggunakan bahasa lain. Sebab, bahasa merupakan perwujudan (teks) dari semua pikiran-pikiran orang dalam suatu kebudayaan tertentu.

Sebagai akhir dari tulisan ini, tentu saja diharapkan hal-hal negatif yang dikemukan di atas cukup digunakan sebagai bahan refleksi, sekaligus sebagai warning bagi semua pihak agar keberadaan Jembatan Suramadu kelak benar-benar bermanfaat bagi orang Madura, bukan sebaliknya (*)

 ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: BISNIS INDONESIA REGIONAL TIMUR, hlm.15.

 

Sesaji Gunung Kelud, Kediri

-29 Desember 2010-

Prosesi Ritual Sesaji Gunung Kelud, Kediri, Jawa Timur,
Tolak Balak hingga Wujud Syukur.
Ritual sesaji Gunung Kelud belum lama ini digelar. Bertujuan sebagai penolak bala. Tradisi adat ini juga dimaknai sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Persembahan berupa hasil bumi yang diberikan diharapkan mampu meredam amarah Gunung. Kelud sehingga tercipta harmoni alam yang selaras.

PAGI itu, Minggu Legi (19/12) saat sang fajar telah bangkit dan menghangatkan suasana di kawasan Gunung Kelud yang terletak di Desa Sugihwaras, Kec. Ngancar, Kab. Kediri tampak ratusan masyarakat lereng gunung, di antaranya warga Desa Sugihwaras, Babadan, Ngancar, dan Pandantoyo tengah bersiap menggelar upacara adat. Yakni ritual sesaji yang menjadi tradisi tahunan setiap bulan Suro.

Sekitar pukul 09.00 WIB, iring-iringan pembawa sesaji yang dipimpin oleh tiga putri desa sebagai cucuk lampah (penunjuk jalan) tengah bersiap. Tak berselang lama, upacara ritual sesaji dimulai dengan diserahkannya sesaji inti yang diletakkan dalam sebuah bokor warna emas oleh Camat Ngancar kepada pengiring cucuk lampah yang merupakan simbol Dewi Sekartaji yang sangat tersohor sebagai lambang kearifan lokal masyarakat Kediri. Iringan diikuti oleh sesepuh desa, dayang-dayang sesepuh desa berjumlah lima pasang, tumpeng agung sumbangan dari warga lereng Gunung Kelud, dan iringan terakhir yakni masyarakat desa sekitar lereng-gunung, umat Hindu, dan masyarakat umum.

Sesaji pun diterima oleh iringan pembawa sesaji. Selanjutnya diarak menuju anak Gunung Kelud. Sesampainya di anak Kelud, iring-iringan terpisah menjadi dua. Iringan pertama yang terdiri atas pembawa sesaji menuju sisi anak Gunung Kelud dan lainnya menuju kubah lava Gunung Kelud.

Ikrar Doa Keselamatan
Sesampainya di lokasi ritual, iringan sesaji dipimpin sesepuh desa melakukan ritual dan selamatan. Mbah Ronggo yang didaulat para sesepuh desa membacakan ikrar doa sebagai kesepakatan bersama 42 sesepuh masyarakat Gunung Kelud dan Kades selaku pinisepuh desa-desa. Pengikrar doa ini merupakan orang yang paling disepuhkan oleh para sesepuh.

Usai ikrar doa, shalawat serta zikir dipimpin oleh Kiai Jaiz yang juga salah satu sesepuh desa melengkapi ritual. Di akhir doa tersebut, ditariklah janur berisikan beras kuning hingga tersebar isi janur ke segala arah oleh pinisepuh desa (Kades), Bejo Utami dan Mbah Ronggo sebagai simbol berakhirnya ritual. Kemudian tanpa dikomando sesaji berupa hasil bumi diperebutkan pengunjung demi mendapatkan berkah.

Terkait dengan keberkahan sesaji ini, Jaiz, sesepuh desa asal Dukuh Mulyorejo RT 5 RW 2 mengatakan bahwa pengunjung mendapatkan keberkahan kerezekian serta kesehatan. “Yakni mengaku usaha lancar,” ungkap Jaiz.

Sementara itu, iringan yang terdiri atas umat Hindu sekitar Kab. Kediri melakukan sembahyang Giri Kerti yang dipimpin oleh Singgih Pandita dan Mangku Sampun di sisi timur kuba lava Gunung Kelud. Kepada posmo Ni Made Susilowati, SH, umat Hindu dari Candra Kirana; mengatakan Giri Kerti merupakan ritual syukur hasil bumi yang dilakukan di puncak gunung. “Termasuk di Gunung Kelud ini,” ujarnya.

Tidak hanya itu, dalam sembahyang yang diikuti umat Hindu dari Kertabuana Bale Pawedan serta Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kab. Kediri berdoa ditujukan kepada Yadnya yakni Buta Yadnya.

Selamatan Danyang Desa
Sehari sebelum pelaksanaan ritual tersebut, para sesepuh lereng Gunung Kelud menggelar selamatan di dua danyang desa, Mbah Subur di Margomulyo serta Mbah Ringin di Sugihwaras. “Yang tak lain adalah punden Den Bagus Kliwon dan Den Bagus Muncung,” jelas Mbah Ronggo yang memimpin ritual.

Terkait dengan selamatan yang diikuti 10 sesepuh termasuk pinisepuh desa, Mbah Ronggo sebagai sesepuh yang dikeramatkan mendapat wangsit terkait dengan keberadaan Gunung Kelud. “Hingga tahun depan, Gunung Kelud masih aman meski Gunung Bromo dan Gunung Merapi tengah bergejolak yang menyebabkan korban jiwa akibat letusan,” tegas Mbah Ronggo lagi.  HUDA

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Posmo, Edisi 606, 29 Desember 2010, hlm. 28.

Garap Gerak Sabet dan Iringan, Wayang Jombangan

Garap sabet (gerakan wayang) yang disajikan pada pakeliran wayang kulit di Jombang, secara keseluruhan berpijak pada konsep yang memiliki konstruksi gerak pakeliran tradisi Gaya Jawa Tengah (kulonan) dan Gaya Cek-Dong (etanan).

Konsep garap tersebut adalah Tanceban (gerakan wayang sewaktu berhenti atau ditancapkan pada pohon pisang “gedebog” dan gerak wayang ketika dicabut dari tancapan), Cepengan (teknik memegang wayang), perang (gerak wayang berkelahi), dan lain sebagainya. Demikian pula dengan istilah maupun gerak wayangnya masing-masing gaya sangat berbeda, seperti Gaya Kulonan memiliki sabet dugangan (untuk wayang jangkah/gagahan), gendiran (wayang alusan/bambangan), perang gagal, prapatan, jeblosan, perang kembang dan brubuhan.

Sedangkan Gaya Etanan memiliki sabet beksan jejer (dua macam), ajar kayon, perang gagal buta, cekotan, tladhungan (khusus Gatotkaca), perang prajuritan (khusus wayang bambangan), pencakan (khusus tokoh Bima dan sejenisnya), ngrangsang dan jaguran. Berbeda halnya dengan Ki Heru yang menampilkan sajian sabet dengan kombinasi gerak dua gaya tersebut ditambah lagi dengan apresiasi gerak wayang dengan media tiga (3) dimensi serta pemanfaatan efek yang ditimbulkan oleh blencong (lampu), kurang dan lebihnya saksikan pertunjukannya.

Berbicara mengenai pakeliran wayang kulit beserta garap lakon, sabet, antawacana dan iringan, tidak luput dari penggarapan iringan pakeliran, yang pada dasarnya menggunakan instrumen gamelan laras (nada) slendro maupun pelog. Sedangkan universal materi iringan berwujud sulukan, dhodhogan, keprak/kepyak dan gending yang digarap sesuai dengan kebutuhan suasana pada setiap adegan.

seperti yang sudah disebut di atas mengenai perbedaan struktur gending pakeliran dua gaya tersebut. Sajian iringan pakeliran dilakukan oleh dalang, pengrawit. sinden dan wirasuara yang dilakukan secara bergantian. Hal ini dilakukan dalam rangka memenuhi penguasaan teknis pakeliran dan menambah bobot pada setiap adegan yang disajikan. Kemudian dalam pembagian pathet untuk Gaya Jawa Tengah, yaitu pathet nem, pathet sanga, pathet manyura. Sedangkan pembagian pathet pada Gaya Cek-Dong dimulai dari pathet sepuluh, pathet wolu, pathet sanga dan pathet serang.

Perbedaan gaya di Jombang tersebut mengilhami dalang asal Kecamatan Bareng (Ki Heru) untuk menyatukan garap iringan dua gaya menjadi satu penggarapan dalam sajiannya. Contoh; seperti yang dilakukannya dalam menggarap iringan ayak pathet sepuluh digunakan pada adegan pakelirannya, padahal penggunaan pathet sepuluh yang ada di dalam Gaya Cek-Dong pada umumnya, difungsikan dan digunakan sebelum pertunjukan wayang dimulai. Termasuk suluk (nyayian/vokal dalang) berbeda lagu dengan model atau Gaya Jawa Tengah maupun Gaya Jawa Timuran.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Heru Cahyono,  Wayang Jombangan: Penelusuran Awal Wayang Kulit Gaya Jombangan. Jombang, Pemerintah Kabupaten Jombang KANTOR PARBUPORA, 2008. hlm. 17-21.

Garap Dialog/Antawacana, Wayang Jombangan

Dalam pakeliran wayang kulit istilah penggarapan dialog/tutur kata disebut dengan nama pocapan, janturan, gunem/ginem, masih berpegang pada bahasa jawa pada umumnya, hanya saja pengucapan atau dialeknya berbeda satu sama lain.
Apalagi kalau ditinjau dari segi budaya campuran yang ada di Jombang, menunjukan bahwa bahasa yang dipakai adalah bahasa jawa standar, yaitu bahasa jawa etnis Surakarta atau Yogyakarta. Perbedaan penggunaan bahasa pada pertunjukan wayang akan terlihat jelas dan kita jumpai pada dialek yang digunakan para dalang sewaktu pentas, terutama Gaya Surakarta dan Gaya Cek-Dong di Jombang.

Secara harfiah banyak sekali kata-kata maupun rangkaian kalimat dalam bahasa wayang di Jombang yang tidak sesuai dengan arti kata menurut bahasa jawa yang sebenarnya, seperti Gagra Wasesa. Yang artinya tinggal daging dan kulit, padahal kalau menurut bahasa yang sebenarnya adalah Gagra Kusika, Gagra = daging, Kusika= kulit.

Namun demikian perlu dimaklumi bahwa perkembangan bahasa pedalangan sangat dipengaruhi oleh kondisi alami para dalang dan masyarakat Jombang yang telah jauh dari lingkungan kraton, yang mana wayang bukan sebagai kraton melainkan kesenian rakyat yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan taraf kepribadian rakyat setempat, belum lagi asal mula yang didapat dari pendahulunya secara tutur-tinular. Bagaimanapun daya ingat dan daya tangkap seseorang tetap terbatas, dengan adanya ajaran yang tanpa tulis akan terjadi suatu kealpaan dan salah pengertian.

Di antara seniman dalang di Jombang Ki Heru memiliki gaya ungkap bahasa lebih bervariasi dan terlihat adanya kolaborasi/percampuran budaya yang berlaku di Jombang.

Hal ini dapat dikembalikan pada pengakuan masyarakat penggemarnya (terlepas sedikit atau banyak), bahwa gaya Ki Heru adalah gado-gado dan sedikit menyelipkan dialek yang berkembang di daerahnya. Seperti sembarang menjadi sembiring, gak onok menjadi genok, mak bedunduk kadang pula terucap bahasa-bahasa yang digunakan pada kesenian Besutan atau Ludruk. Ki Heru berpendapat bahwa bahasa wayang adalah bahasa seni bentuk ungkapan kata-kata dalam sajian pakeliran harus diperindah, dengan prioritas lebih menekankan kemudahan untuk diterima/dikonsumsi masyarakat pendukungnya, di sisi lain bahasa juga bukan hanya sekedar sarana komunikasi dalam pertunjukan melainkan ungkapan ekspresi serta merupakan tolok ukur intelegensi seorang dalang.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Heru Cahyono,  Wayang Jombangan: Penelusuran Awal Wayang Kulit Gaya Jombangan. Jombang, Pemerintah Kabupaten Jombang KANTOR PARBUPORA, 2008. hlm. 17-21.

 

Garap “PAKELIRAN” Wayang Jombangan

Dalam analisa penulisan buku ini tidak bermaksud untuk membandingkan ataupun mengevaluasi para dalang tersebut diatas, tetapi hanya ingin menelaah lebih jauh, mengapa di dalam satu daerah terdapat corak pedalangan yang berbeda-beda, apa yang melatar belakangi hal tersebut dan bagaimana perkembangan wayang Jombangan selanjutnya. Yang jelas masing-masing wilayah mempunyai mazab-mazab yang berbeda-beda, sampai sekarang dipertahankan karena dianggap sebagai konvensi turun-temurun. Walaupun dalam perkembangannya mereka akan menunjukkan sedikit atau banyak perbedaan yang diperoleh dari guru mereka, belum lagi dalam mengembangkan kreativitasnya masing-masing dalang mempunyai prinsip serta cara yang disesuaikan dengan kemampuan individu dan masyarakat pendukungnya. Sehingga yang terjadi pada dalang satu dengan yang lain mempunyai gaya seni pakeliran yang bersifat pribadi atau kelompok.

Gaya pribadi adalah suatu bentuk gaya pertunjukan yang memunculkan ide pribadi si penyaji, tentu saja dengan kapasitas yang dimiliki, sedangkan gaya kelompok adalah suatu gaya pertunjukan yang memunculkan ide kedaerahan, seperti Gaya Jawa Timuran (Cek-Dong), Gaya Surakarta (Kraton), Gaya Yogyakarta (Mataraman) dan Gaya Pesisiran. Gaya juga merupakan suatu terminologi dalam dunia seni yang memberikan keterangan tentang adanya suatu ragam atau corak tertentu seperti gaya Ki Soewito, Ki Suwadi, Ki Sareh, Ki Guno Rejo (almarhum). Ki Asri Budiman (almarhum), Ki Heru dan lain sebagainya (Heru Cahyono, 2004:15). Tetapi pada dasarnya para dalang masih tetap konsisten pada tradisi yang diwarisinya.

Munculnya gaya atau warna pakeliran yang bersifat pribadi disebabkan oleh kekurangan dan kelebihan dalang memahami konsep atau garap pakeliran. Dalam menggarap bentuk pakeliran, seorang dalang dituntut kreatif dalam memahami konsep garap yang disebut sanggit. Sanggit berasal dari kata Jarwa Dhosok “bisa nganggit” yang artinya dapat mengarang atau menggubah, sedangkan arti sanggit adalah segala cara untuk mengkait dan mengkolaborasikan beberapa sarana menjadi satu tujuan (Sarwanto, 1985/1986:19). Disisi yang lain Udreka berpendapat bahwa pada dasarnya setiap dalang bebas menentukan sanggit sendiri-sendiri, sesuai dengan kemampuan kreativitasnya. Ki Timbul Hadi Prayitno tokoh seniman dari Yogyakarta menyatakan bahwa dalang berhak untuk membuat sanggit sendiri, asalkan tidak merubah isi cerita (Udreka, 1994:1).

Beberapa uraian di atas menguatkan posisi dalang sebagai seniman egosentris pada sebuah karya seni pakeliran baik gaya pribadi maupun gaya kelompok/gaya kedaerahan. Jadi terlepas dari persoalan benar atau salah dalang merupakan seniman pencipta/penggubah penyajian wayang kulit dan tetap konsisten terhadap nilai-nilai pakem/tradisi. Garap lakon.

Runutan cerita pakeliran wayang kulit purwa di Jombang mengambil tiga karya sastra popular yaitu Arjuna Sasrabahu, Ramayana dan Mahabarata, hanya saja yang lebih menonjol pakeliran Cek-Dong. Karena secara tutur-tinular pakem lakon masih menjadi perhatian pokok di antara dalang-dalang maupun masyarakat penggemarnya, di sisi lain kecenderungan pengambilan cerita menggunakan cerita/lakon carangan atau carang kadhapur daripada lakon baku (cerita awal hingga akhir peristiwa, penggubahannya sangat sedikit).

Lakon carangan lebih banyak digemari oleh para dalang sebagai sosok yang menganut idealisme, karena cerita semacam ini merupakan pengembangan cerita yang disesuaikan dengan isi maupun prilaku budaya lokal dan tidak mengekor pada cerita baku. Seperti lakon Dewaruci, Bima Suci, lakon Kilat Buwana, Gendring orang-aring, Cekel Endralaya, Bagong Dadi Ratu dan sejenisnya. Jadi para dalang lebih leluasa dalam mengolah apa saja ke dalam sajian pakelirannya.

Berbeda halnya dengan lakon carang kadhapur, cerita seperti ini ada kaitannya dan sangat erat dengan lakon baku, di mana keberadaan transformasi cerita yang satu dengan cerita yang lain saling mewarnai. Namun tidak menutup kemungkinan penambahan atau gubahan urutan peristiwa menyisipkan nilai budaya yang berlaku pada jamannya, walau gubahan tidak terlalu banyak. Seperti lakon Gatotkaca Lahir, Abimanyu Lahir, Angkawijaya Krama, Pandhawa Lahir, Pandhawa Krama dan sejenisnya.

Di lain pihak, dalang dan masyarakat pendukungnya masih mempunyai kepercayaan bahwa lakon-lakon yang dikatakan lakon baku atau lakon jejer merupakan lakon yang mengacu pada tiga epos besar tersebut di atas yang sudah menjadi karya sastra. Lakon baku juga merupakan lakon pokok yang tidak boleh dirubah, karena dalam hal ini merupakan suatu pembelajaran bagaimana menghargai karya orang lain sebagai seniman pencipta karya seni tradisi secara oral. Yang dimaksud dengan lakon pakem atau lakon jejer adalah lakon yang merupakan bagian dari suatu kesatuan cerita, bisa dihubungkan dengan lakon sebelum dan sesudahnya yang maasih berkelanjutan (Suyanto, 2002:111). Seperti Lakon Bratayuda, Anoman Obong, Ruwat Kala, Sri Sadhana dan sejenisnya.

Pada dasarnya sebagian besar seniman dalang Jombang masih mempertahankan lakon yang sudah dikemas oleh dalang-dalang pendahulunya, sehingga bagi dalang yang nyantrik akan menampilkan garap lakon yang sama. Disatu sisi keuntungannya mampuh melestarikan perbendaharaan lakon secara oral, serta mengenalkan lakon-lakon tersebut kepada generasi berikutnya. Di lain pihak kurang menguntungkan, karena sajian lakon terasa statis dan semakin lama akan kehilangan relevansinya terhadap perkembangan budaya masyarakat pendukungnya.

Dengan semakin majunya pendidikan masyarakat desa dan perkembangan teknologi modern, terutama bagi generasi muda baik dari pendidikan formal maupun non formal mereka akan semakin tahu mengenai situasi perkembangan kehidupan dalam era modern baik dalam segi pendidikan, politik maupun sosial budaya. Dengan demikian pertunjukan yang dikemas pada tempo beberapa abad yang telah silam, dengan sendirinya pasti ada beberapa hal yang mengalami perubahan, walaupun pada hakikatnya nilai-nilai dasar yang ada itu harus dipertahankan dan wujud ungkapan seyogyanya diselaraskan dengan situasi jamannya sehingga masih relevan dalam kehidupan masyarakat yang dihadapi seiring berjalannya waktu.

Sebagai konsekwensi seorang dalang yang menjadi figur sentral dalam pagelaran wayang, di manapun dalang dianggap sebagai seorang yang mempunyai kelebihan. Maka dari itu. selama dalang itu masih mampu menunjukkan kelebihannya terhadap masyarakat pendukungnya, niscaya masyarakat akan selalu memperhatikan dan menghargainya. Sebaliknya, jika dalang sudah tidak mampu menunjukan kelebihannya, mungkin masyarakat akan meninggalkannya. Oleh karena itu dalang diwajibkan mampu menafsirkan (nyanggit) suatu cerita, baik lakon baku maupun lakon carangan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Heru Cahyono,  Wayang Jombangan: Penelusuran Awal Wayang Kulit Gaya Jombangan. Jombang, Pemerintah Kabupaten Jombang KANTOR PARBUPORA, 2008. hlm. 17-21.

Tundung Mediyun

Pada jaman dahulu adalah seorang empu yang termashur Empu Supa namanya. Empu Supa adalah putera Empu Supadriya yakni seo­rang pandai besi di Majapahit yang membuat senjata atau alat-alat perang kerajaan Majapahit. Empu Supa kawin dengan Dewi Rasawulan, adik Sunan Kalijaga, putera puteri Harya Teja Bupati Tuban. Dari hasil perka­winannya dengan Dewi Rasawulan, Empu Supa dikaruniai seorang anak yang diberi nama Empu Supa Muda. Selain memperistri Dewi Rasawulan Empu Supa juga mengawini seorang puteri, yakni Dewi Sugihan atau Dewi Lara Upas. Perkawinannya dengan Dewi Lara Upas dikaruniai seorang putera yang diberi nama Jaka Sura.

Pada suatu hari Empu Supa disuruh oleh Sunan Kalijaga mem­buat pisau untuk menyembelih kambing. Untuk membuat pisau tersebut Sunan Kalijaga memberikan sepotong besi yang lazimnya dipakai untuk membuat keris. Segera Empu Supa bekerja dengan tekun, membuat pisau pesanan Sunan Kalijaga. Tetapi, rupa-rupanya sudah menjadi takdir dewa-dewa, bukan pisau penyembelih kambing yang dihasilkan, tetapi sebuah keris yang amat indah dan menakjubkan. Sebuah keris yang sempurna dengan luk tiga belas. Konon, kata orang hanya raja diraja yang pantas memakai keris tersebut. Keris tadi lalu diberi nama Kyai Sengkelat.

Sunan Kalijaga segera memberikan perintah supaya keris ter­sebut disimpan saja terlebih dahulu. Kemudian Sunan Kalijaga bersabda, “Ya sudahlah, hanya Tuhan saja Yang Maha Mengetahui dan bisa me­mahami peristiwa semacam ini”.

Sesudah peristiwa tersebut, Sunan Kalijaga lalu menyuruh membuat lagi sebuah keris yang cocok dan pantas untuk seorang ulama. Sesudah selesai dan jadi, keris tadi lalu diberi nama Kyai Crubuk dan di­persembahkan kepada Sunan Kalijaga. Terceritalah pada waktu itu kerajaan Majapahit sedang diserang wabah penyakit yang amat mengerikan. Banyak orang yang mati. Konon, kabarnya banyak orang pagi sakit, sore mati, sore sakit dan paginya hanya tinggal nama. Menurut keyakinan rakyat Majapahit dan juga diperkuat oleh para kelu­arga istana, wabah penyakit ini ditimbulkan oleh sebuah pusaka kerajaan yang bernama Kyai Condong Campur. Pada waktu itu pun Putri Cempa, permaisuri raja Majapahit juga sedang gering. Oleh karena itu segenap warga punggawa kerajaan Majapahit disiapkan agar supaya menjaga Kerajaan Majapahit. 

Pada suatu hari yang bertugas jaga di Kerajaan Majapahit ialah Tumenggung Empu Supadriya dan Supagati. Akan tetapi karena kedua­nya sedang menderita sakit, maka tugas jaga tersebut lalu dilimpahkan para puteranya. Empu Supadriya diwakili oleh Empu Supa, Empu Supa­gati diwakili oleh Empu Jigja. Pada waktu itu Empu Supa menyandang keris Kyai Sengkelat, dan Empu Jigja memakai keris Kyai Sabuk Inten. Pada malam itu Kyai Condong Campur keluar dari sarungnya. Wibawa keris sakti memang menakjubkan. Semua punggawa kerajaan seperti kena sirep, semua tidur nyenyak sekali.

Demikian juga para kerabat istana tak satu pun yang mampu mempertahankan kantuknya. Pada waktu menyaksikan Kyai Condong Campur sudah meninggalkan sarungnya, Kyai Sengkelat diikuti oleh Kyai Sabuk Inten dengan cepat melesat dari sarungnya mengejar Kyai Condong Campur. Terjadilah peperangan yang sangat hebat, Kyai Condong Campur dikeroyok oleh Kyai Sengkelat dan Sabuk Inten. Dalam peperangan yang amat hebat itu, Kyai Condong Campur akhirnya terdesak, lalu segera melarikan diri, kembali ke sarungnya. Mulai saat itu wabah penyakit yang melanda Kerajaan Majapahit hilang sama sekali. Orang yang sakit jadi sembuh dengan tiba-tiba. Maka Kerajaan Majapahit kembali menjadi aman dan tenteram seperti sediakala.

Sudah menjadi kebiasaan di Kerajaan Majapahit, setiap bulan Sura diadakan upacara membersihkan pusaka kerajaan. Pada saat-saat yang penting ini Sang Raja Brawijaya berkenan menyaksikan pelaksanaan upacara. Betapa terkejutnya Sang Raja Brawijaya ketika menyaksikan keadaan keris sakti, Kyai Condong Campur. Kelihatan citra sang pusaka sakti ini telah rontok dan hancur.

Sang Raja Brawijaya kemudian memanggil Tumenggung Empu Supa­driya. Sang Empu disuruh memperbaiki pusaka sakti yang citranya telah rontok tersebut. Empu Supadriya segera bekerja dengan keras memperbaiki citra sang keris sakti Kyai Condong Campur, agar pulih seperti dahulu. Keris sakti tersebut, lalu dimasukkan ke dalam api pem­bakaran, dengan maksud akan ditempa kembali. Setelah dibakar, kemu­dian disiapkan pada tempat menempa. Akan tetapi rupa-rupanya sudah menjadi takdir Yang Maha Kuasa, tiba-tiba pusaka sakti tersebut musnah, melesat ke antariksa.

Dan menurut ujar orang, lalu menjadi bintang berekor. Di angkasa sang pusaka sakti tersebut lalu bersuara, yang lazim­nya diujudkan dalam bentuk tembang Jawa Sinom seperti berikut:

Heh Sang Prabu Brawijaya               (Hai Sang Prabu Brawijaya)
Poma den ngati-ngati                        (Harap engkau berhati-hati)
Sira mitenah maring wang               (Engkau telah menfitnah aku)
Manira darma nglakoni                     (Engkau hanya sekedar menjalani)
Iyo pratandha iki                                (Ini adalah sebuah pertanda)
Dadi rusak negaramu                         (Jadi rusak negaramu)
Ya siro tutugna                                    (Ya, baiklah engkau lanjutkan)
Gawea keris kang becik                     (Buatlah keris yang baik)
Hangupayaa keris dhapur sasra      (Usahakanlah membuat keris bercorak seribu).
 

Tersebutlah dalam kisah ini, negeri Blambangan, berdasarkan petunjuk seorang ahli nujum bernama Huyung Tingkir, Adipati Blam­bangan mengetahui bahwa wahyu kerajaan tersebut sedang berada di Tuban berupa sebuah pusaka keris sakti yang bernama Kyai Sengkelat. Maka dari itu Adipati Blambangan menyuruh seorang pencuri ulung yang bernama Cluring untuk mencuri keris pusaka tersebut. Cluring maling yang sakti, akhirnya berhasil mencuri keris Kyai Sengkelat dari kediaman Empu Supa. Keris Kyai Sengkelat segera dipersembah­kan kepada Sang Adipati Blambangan. Karena jasa-jasanya ini Cluring diangkat menjadi Patih Mangkubumi di Blambangan.

Sudah menjadi kebiasaan, pada saat-saat tertentu Sunan Kalijaga menjenguk ke Tuban, meninjau kemenakannya si Supa Muda. Demikianlah kisahnya, Sunan Kalijaga ingin mengetahui keadaan keris sakti Kyai Sengkelat yang dulu disimpan oleh Empu Supa. Betapa ter­kejutnya Empu Supa setelah menyaksikan bahwa Kyai Sengkelat sudah hilang dari tempat penyimpanannya. Sunan Kalijaga lalu memberikan wejangan-wejangan kepada Empu Supa, tentang hilangnya keris sakti Kyai Sengkelat. Sunan Kalijaga memberi perintah kepada Empu Supa, agar supaya berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan kembali keris sakti Kyai Sengkelat. Tidak boleh tidak keris sakti itu harus bisa diketemukan kembali.

Empu Supa pun segera bersiap pergi mencari hilangnya keris Kyai Sengkelat. Ia berjalan terus ke timur. Dalam pengembaraannya itu Empu Supa sampai di pulau Madura. Di pulau ini Empu Supa meng­ganti namanya menjadi Kasa. Ia mengabdi pada seorang pandai besi yang bernama Empu Singkir. Bersama Empu Singkir, Empu Supa membantu membuat tombak dan keris. Dari Madura ia meneruskan perjalanannya sampai di Kahuripan. Di Kahuripan Empu Supa mengabdi pada seorang pandai besi Empu Bassu. Akhirnya Empu Supa sampai di negeri Blambangan dan berganti nama sebagai Pitrang. Di Blambangan Pitrang mengabdi pada Empu Sarap, seorang pandai besi yang terkenal di negeri Blambangan.

Pada waktu itu negeri Blambangan sedang mempersiapkan diri untuk memerangi Majapahit. Oleh karena itu Empu Sarap dan Pitrang mendapat pesanan membuat senjata yang sangat banyak. Kepandaian Pitrang membuat senjata ternyata menyebabkan namanya tersohor, Patih Mangkubumi, Cluring dibuatkan keris Tilam Putih dan tombak Biring. Mendengar berita bahwa Pitrang sangat pandai membuat senjata, sang Adipati Blambangan segera memanggilnya. Sesudah Pitrang meng­hadap, Sang Adipati minta supaya dibuatkan keris yang mirip dengan Kyai Sengkelat.

Karena Pitrang memang seorang pembuat keris yang pandai, pusaka keris buatan Pitrang tadi benar-benar persis sama dengan aslinya sehingga sulitlah bagi orang-orang biasa untuk membedakannya. Kesempatan yang baik ini tidak disia-siakan oleh Pitrang, yang tidak lain adalah Empu Supa yang menyamar. Segera pusaka sakti keris Kyai Sengkelat yang asli disembunyikannya. Lalu Pitrang membuat dua buah keris Sengkelat palsu. Dua buah keris yang palsu inilah yang diserahkannya kepada Adipati Blambangan.

Sang Adipati merasa sangat berkenan atas karya Pitrang. Oleh karena itu Sang Adipati Blambangan memberi anugerah Pitrang seorang putri yang bernama Dewi Sugihan, yang juga lazim disebut Dewi Lara Upas. Sesudah berhasil memperoleh kembali keris Kyai Seng­kelat, Empu Supa pun segera kembali ke Tuban. Pada waktu itu Dyah Sugihan sedang mengandung, lalu melahirkan seorang putera laki-laki yang kemudian diberi nama Jaka Sura.

Pada waktu itu Kerajaan Majapahit sedang mengumpulkan semua empu di seluruh wilayah Kerajaan Majapahit. Tujuan utama ialah agar para empu tersebut menciptakan sebuah keris yang bercorak seribu, seperti yang pernah disarankan oleh Kyai Condong Campur yang seka­rang telah menjadi bintang berekor.

Pada waktu itu semua empu sudah hadir. Hanya Empu Supa saja yang belum kelihatan di persidangan. Kemanakah perginya? Tumenggung Supadriya segera menyembah dan berkata, bahwa Empu Supa sekarang sedang pergi ke Tuban menjenguk keluarganya.

Kemudian Tumenggung Supadriya disuruh menyusul Empu Supa agar supaya segera menghadap sang raja di Majapahit. Sesampainya di Tuban ternyata Empu Supa tidak ada di rumah, sebab sedang mengem­bara. Di rumah tinggallah istrinya Dewi Rasa Wulan dan anaknya si Supa Muda.

Karena takut kalau-kalau raja murka, sebagai bukti bahwa Empu Supa benar-benar tidak ada di rumah, maka putra dan putri Empu Supa lalu diajak serta untuk menghadap sang raja di Kerajaan Majapahit.

Setelah mereka sampai di Kerajaan Majapahit, Tumenggung Supadriya segera memberikan laporan bahwa Empu Supa baru saja mengadakan pengembaraan, dan pulangnya belum dapat dipastikan. Sang Raja segera bertanya, siapakah anak muda yang bernama Empu Supa tersebut. Tumenggung Supadriya menjawab, bahwa anak muda tidak lain ialah si Supa Muda, anak Empu Supa. Sang Raja bertanya ke­pada Supa Muda. “Apakah kau dapat membuat keris yang bercorak seribu?” Supa Muda itu menjawab, “Hamba, hamba, dapat Gusti, dengan berkah dari Yang Maha Agung”.

“Nah, baiklah. Sekarang engkau saya perkenankan mundur dari persidangan ini. Jangan lupa pada janjimu untuk membuat keris bercorak seribu. Segera engkau mengerjakannya”, demikian sang raja berkata.

Dengan kesanggupan tersebut, Supa Muda lalu mengumpulkan bermacam-macam jenis besi dari segala penjuru dunia, dikumpulkannya di pantai Tuban. Setelah segala macam besi terkumpul, besi-besi tersebut lalu ditempanya. Maksudnya akan dijadikan sebuah keris yang bercorak seribu. Namun, meskipun sudah bekerja dengan keras, dengan tekad yang teguh, usahanya tersebut belum menampakkan hasil. Setiap ditem­pa, besi-besi tersebut selalu melebur dan tidak dapat menyatu. Karena putus asa, Supa Enom menangis tersedu-sedu, merendam dirinya di pantai utara laut Tuban.

Kebetulan pada saat itu Sunan Kalijaga menyaksikan apa yang terjadi. Maka didekatinyalah kemenakannya tersebut, lalu ia berkata, “Ada apa anakku, engkau menangis tersedu-sedu di pantai Tuban ini?” Supa Muda lalu berceritera bahwa ia disuruh oleh sang Raja di Majapahit supaya membuat pusaka keris yang bercorak seribu.

Tetapi usahanya sampai sekarang belum berhasil. Mendengar akan apa yang diceriterakan oleh Supa Muda, timbullah belas kasihan Sunan Kalijaga kepada kemenakannya. Supa Muda kemudian diberinya sepotong besi pulosari, agar supaya dibuat sebuah keris seperti apa yang diinginkan oleh sang raja di Majapahit. Dengan sangat gembira Supa Muda pun segera bekerja. Kebetulan pada waktu itu, tanpa diduga-duga sama sekali Empu Supa datang dari pengembaraannya. Empu Supa memberikan dorongan dan doa restu kepada anaknya yang sedang membuat keris bercorak seribu.

Dengan restu orang tuanya dan Sunan Kalijaga, Supa Muda dengan teguh dan mantap meneruskan karyanya, membuat pusaka. Akhirnya pekerjaan yang rumit, gawat dan mulia itu dapat diselesaikan juga. Jadilah sebuah keris yang mirip dengan Kyai Sengkelat, tetapi lebih hebat dan ampuh, karena pusaka tersebut bercorak seribu. Keris yang sudah jadi tersebut memang menakjubkan. Bercahaya, berkilauan, dan penuh kewibawaan.

Karena keris tersebut bercorak seribu maka lalu disebut sebagai keris pusaka Nagasasra. Kemudian keris Sakti Nagasasra diserahkan kepada sang raja di Majapahit. Sang Raja sangat berkenan di hati, melihat ujud keris Nagasasra tersebut. Oleh karena itu Empu Supa Muda menda­pat anugerah seorang puteri yang cantik jelita dari kerajaan Majapahit dan diangkat menjadi bupati di Tuban. Di Sendang Sedayu, Jaka Sura, putra Empu Sura dari istrinya Diyah Sugihan atau Lara Upas, pada suatu hari membuka peti kepunyaan sang ibu. Betapa terkejutnya Jaka Sura, karena yang dalam peti tersebut hanyalah potongan-potongan besi belaka. Diyah Sugihan lalu berceritera kepada sang putera tentang asal-usul Jaka Sura. Sang ibu menjelaskan bahwa sebenarnya Jaka Sura adalah putera seorang Empu yang termashur di Kerajaan Majapahit, yakni Empu Supa. Mendengar cerita sang ibu, Jaka Sura sangat senang hatinya. Jaka Sura pun akhirnya ingin belajar membuat keris seperti bapaknya juga. Kemudian ia pun pergi kepada seorang pandai besi di daerahnya. Tapi apa gerangan kata sang pandai besi?

“Kalau kamu hendak belajar membuat keris yang sakti, janganlah berguru kepadaku. Aku hanya seorang pandai besi biasa saja. Pekerjaan saya tidak membuat keris. Tetapi membuat cangkul, sabit dan sebagainya. Kalau kamu ingin belajar membuat keris yang ampuh, coba datang­lah pada Jaka Sura. Ia adalah putera seorang empu yang termashur di Kerajaan Majapahit, Empu Supa. Tentu Jaka Sura pun tidak kalah hebatnya dari bapaknya.

Mendengar ucapan sang pandai besi yang sangat menyindir hati­nya itu, hati Jaka Sura bagaikan diiris dengan sembilu. Hatinya pedih dan sangat sedih. Benaknya penuh dengan segala macam angan-angan dan pikiran. Timbullah tekadnya, ingin membuktikan apa yang dikata­kan sang pandai besi tersebut. Ia bertekad tidak akan pulang sebelum ia berhasil menjadi seorang empu pembuat keris yang benar-benar hebat dan mengagumkan. Dengan tekad tersebut ia langsung masuk ke dalam hutan untuk meminta kemurahan Yang Maha Kuasa. Karena.lelah dalam perjalanan, ia pun kemudian beristirahat di bawah pohon beringin yang sangat rimbun. Tanpa terasa, karena sangat sedihnya ia pun menangis. Dan angin hutan yang berhembus telah merangsang rasa kantuknya. Ia pun mulai hendak tidur. Dalam kantuknya ini tiba-tiba muncullah se­sosok tubuh di mukanya. Jaka Sura terkejut dan bertanya, “Siapakah tuan?”

“Heh, Jaka Sura, ketahuilah aku inilah yang bernama Empu Anjani. Empunya para siluman. Janganlah engkau terkejut, kalau aku tiba-tiba berada di hadapanmu. Jaka Sura, kalau kamu ingin menjadi Empu yang termashur aku tidak berkeberatan memberikan pengajaran kepadamu”, jawab Empu Anjani.

Kemudian Empu Anjani memberikan wejangan dan pengajaran segala macam ilmu membuat keris. Pendek kata Jaka Sura sudah berhasil menyerap ilmu pemberian Empu Anjani sampai tuntas. Setelah selesai Jaka Sura pun pulanglah menemui sang ibu. Semua kejadian yang baru saja dialaminya diceriterakannya kepada sang ibu. Jaka Sura punya niat ingin menemui bapaknya. Ia pun berangkat ke Kerajaan Majapahit.

Kebetulan pada waktu itu Sang Raja Brawijaya mendapatkan ilham supaya membuat keris. Tetapi keris tersebut harus dibuat oleh seorang Empu yang masih muda. Lagi pula besinya bukan sembarang besi melainkan besi hasil memuja. Perjalanan Jaka Sura pada waktu itu telah sampai di Majapahit. Ia diperkenankan menghadap sang raja. Ketika ia di tanyai sang Raja apakah sanggup membuat pusaka keris dengan besi pujaan, ia pun tidak menolak.

Dengan segala kebulatan cipta dan karsa Jaka Sura pun mulai­lah bersemedi. Hebatnya sang cipta dan karsa, akhirnya terciptalah se­potong besi yang berujud seperti kapas, putih merah warnanya. Jaka Sura pun segera mengerjakan keris tersebut. Besi pujaan tidak ditempa. Besi tersebut dibuat keris oleh Jaka Sura hanya dengan jari-jari tangan saja. Orang-orang yang menyaksikannya sangat kagum. Demikianlah juga Sang Raja Brawijaya. Akhirnya keris pusaka itu selesailah. Keris sakti tersebut diberi nama keris Mangkurat.

Dengan karyanya tersebut, Jaka Sura pun dianugerahi seorang putri kerajaan dan dinobatkan menjadi Pangeran Merdeka di Sendang Sedayu, mengganti Empu Supa yang telah dinaikkan pangkatnya menjadi bupati para empu di Majapahit.

Keadaan telah berubah, Majapahit telah mengalami masa kemun­duran. Timbullah Kerajaan Demak. Demak pecah dengan Pajang. Pecah­nya Demak dengan Pajang semakin gawat. Pada waktu itu Jaka Sura mengabdikan dirinya ke Demak setelah runtuhnya Majapahit. Selanjut­nya Empu Jaka Sura lebih dikenal sebagai Empu Umyang.

Pada waktu itu Empu Umyang diutus sang Raja untuk membuat keris yang lebih sakti daripada keris-keris yang pernah diciptakan. Akan tetapi rupa-rupanya Empu Umyang tidak berhasil menjalankan tugas­nya dengan baik. Sang Raja sangat murka, dan Empu Umyang kemudian diusir dari Demak. Empu Umyang terpaksa meninggalkan Demak dengan hati yang kecewa dan duka. Dalam perjalanannya yang sangat berat itu, akhirnya sampailah ia di kota Miring. Menginjak desa Wanasari di daerah Kota Miring, Empu Umyang melihat sebuah kolam yang sangat jernih airnya. Kolam tersebut sering disebut sebagai kolam kehidupan. Sebab bila ada binatang yang mati kemudian dimasukkan kedalam kolam itu maka hiduplah kembali. Timbullah gagasan Empu Umyang, ingin sekali membuat keris yang sakti di tempat itu. Segera ia menyiapkan segala perlengkapannya. Mulailah ia bekerja. Besi ditempa dibentuk mirip Kyai Sengkelat, berkelok tiga belas, sebagai pendingin dipergunakan air sakti kolam tersebut. Ketika ia sedang memasukkan bakal keris itu ke dalam kolam sakti, di sebuah pohon di sendang ada seekor hantu yang sedang berayun-ayun. Setelah selesai, ternyata pusaka keris yang di­buatnya itu benar-benar ampuh dan hebat. Keris tersebut bersinar-sinar, cahayanya memenuhi antariksa. Jaka Sura alias Empu Umyang sangat-senang hatinya. Keris tersebut lalu diberi nama Tundung Mediyun. Diberi nama demikian sebab keris itu dibuat ketika ia diusir (ditundung) dari Demak. Karena waktu keris itu dibuat, ia melihat seekor hantu (memedi) yang sedang berayun-ayun maka lalu disebut Tundung Mediyun.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Cerita Rakyat Jawatimur, DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN 

Khasanah Wayang Jombangan

Walaupun kehidupan wayang kulit di Indonesia khususnya di Jawa pada dasarnya mempunyai sumber cerita yang sama, namun dalam perkembangannya sebagai seni pertunjukan yang masih eksis di Jombang dan mempunyai ragam gaya yang berbeda-beda, sehingga menjadi salah satu khasanah budaya bangsa. Oleh karena itu dalam melestarikan seni budaya wayang perlu adanya pemilahan baik secara pribadi maupun kelompok; dimana wayang itu hidup dan bagaimana latar belakang budaya masyarakatnya. Dengan berpijak pada dua hal tersebut, niscaya tidak akan terjadi suatu kesalah pahaman serta kesalahkaprahan dalam bersikap dan pembinaannya.

Perbedaan dua gaya tersebut, bahkan mungkin apa yang telah dilakukan oleh Ki Heru dengan eksistensinya semata-mata meniti pada sebuah proses tumbuh dan berkembangnya pakeliran untuk masyarakat luas, baik dari kalangan atas maupun kalangan masyarakat bawah, dikembangkan oleh rakyat berdasarkan standar budaya dan selera rakyat (Soenarto Timoer, 1988). Maka dari itu, bukan suatu hal yang aneh jika perbedaan maupun penggarapan yang sudah ada akan berkembang mewarnai dunia wayang.

Sekarang banyak sekali bermunculan dalang muda dan sarjana baik dari dalam maupun luar negeri menyajikan serta menulis tentang wayang. Semuanya dilakukan karena didorong oleh rasa cinta terhadap seni budaya wayang sehingga di era modern ini banyak yang memberikan sumbangsih pikiran demi kelestarian budaya wayang.

Dilihat dari aspek sosiokulturalnya, masyarakat Jombang merupakan pembauran budaya dari ‘berbagai daerah yang ada di sekitarnya. Akibatnya, pertumbuhan seni pedalangan di Jombang timbul beberapa perbedaan di antara dalang-dalang Jombang itu sendiri. Seperti yang nampak pada dalang Ki Guno Rejo (almarhum), Ki Soewito, Ki Suwadi, Ki Asri Budiman (almarhum) dan Ki Sareh, yang menjadi panutan para dalang yang secara langsung maupun tidak langsung turun-temurun sampai sekarang, termasuk perbedaan pakeliran yang disajikan oleh Ki Heru Cahyono.

Jadi pada dasarnya bentuk pertunjukan wayang di Jombang hampir sama dewasa ini, tetapi dalam penyajian dalam hal-hal tertentu terdapat garap sajian yang berbeda, seperti garap unsur-unsur pakeliran tersebut di atas, hal itu dikerenakan adanya aliran dan kepribadian dalang yang berbeda-beda pula. Perbedaan aliran bukanlah suatu hal yang perlu diperdebatkan, justru oleh karenanya itu merupakan suatu kekayaan yang mendukung keberlanjutan wayang Jombangan dalam perkembangan meniti masa depan.

Dengan kata lain bahwa pertumbuhan wayang Gaya Cek-Dong lebih tertinggal dari Gaya Kulonan. semestinya ada partisipasi dari pejabat tinggi pemerintah, supaya perkembangan pakeliran Gaya Cek-Dong dapat tumbuh serta digemari masyarakat pendukungnya, seperti dalang-dalang Jawa Tengah yang telah dikenal dan dipentaskan di daerah ibukota negara atau dalam skala lebih kecil ditanggap oleh orang-orang penting maupun pejabat tinggi pemerintah daerah. Demikian halnya dengan pakeliran Gaya Jawa Timuran atau Jombangan? Harus ada campur tangan dari pihak pemerintah maupun para cendekiawan pada tingkat perkembangan dan pertumbuhan masa depannya. Oleh karenanya jangan lagi ada penghakiman berdasarkan doktrin-doktrin yang bukan standar mutu potensi mereka.

Tujuan kedepan wayang Jombangan sangat ditentukan oleh selera budaya rakyat setampat, namun untuk mencapai kesepadanan dengan perkembangan jaman perlu adanya pembinaan dan pengakuan dari pemerintah daerah serta pihak-pihak tertentu yang terkait, terutama pada ciri khas budaya Jombang. Dan tentu saja pembinaan dan pembangunan seni pertujukan wayang Jombangan nantinya tidak mengurangi nilai-nilai selera rakyat, disamping Gaya Jawa Tengahan dan Gaya Jawa Timuran (Trowulan) masih ada gaya yang memiliki perbedaan menonjol oleh Ki Heru yang dengan harapan, nantinya dapat disebut dengan Gaya Cek-Dong Jombangan. Saling pengertian, kesepahaman antara pihak pemerintah maupun budayawan dan para seniman dalang (di Jombang) adalah merupakan faktor utama dalam pembinaan untuk memunculkan wayang Jombangan kepermukaan masyarakat luas.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Heru Cahyono,  Wayang Jombangan: Penelusuran Awal Wayang Kulit Gaya Jombangan. Jombang, Pemerintah Kabupaten Jombang KANTOR PARBUPORA, 2008. hlm. 22-23

Corak Pertunjukan Wayang Kulit di Jombang

Bicara tentang pertunjukan wayang kulit tidak akan pernah lepas dari dunia/Seni Pedalangan. Di mana Seni Pedalangan adalah segala sesuatu yang terkait dengan dalang atau seniman peraga boneka wayang beserta cerita dalam pertunjukan. Pada dasarnya sebutan dalang akan selalu melekat dimana, bagaimana, apa saja dan kapanpun itu, karena dalang merupakan sosok atau public figure yang diyakini dapat memberikan petuah dan suritauladan bagi masyarakat tentang baik buruk perjalan hidup manusia bahkan sebagian masyarakat pendukungnya menyebut dalang tidak berbeda dengan seorang Kiai, Pendeta, Rama, Brahmana atau sejenisnya, baik di atas maupun di bawah panggung.

Namun sekarang fungsi seniman dalang menjadi bertambah sebagai sosok yang dapat mempergelarkan pertunjukan memukau serta gelak tawa yang segar, bahkan keahlian ini digunakan untuk mencari nafkah dengan berbagai macam cara. Begitu pesat perkembangan serta pengaruh industrialisasi terhadap seni budaya di Indonesia khususnya seni pedalangan sehingga mempunyai dampak pada segala sesuatu yang terjadi pada masyarakat dan lingkungannya, dimana dari semula pedalangan/pewayangan sebagai media religius sampai bertambah fungsi sebagai media penerangan program pemerintah, komunikasi, bisnis dan hiburan dibidang seni pedalangan.

Pedalangan merupakan salah satu karya besar monumental nenek moyang bangsa Indonesia khususnya orang jawa dengan bentuk pertunjukan wayang kulit yang lebih dikenal dengan sebutan pakeliran wayang kulit purwa dan sangat popular mengambil cerita Mahabarata/Ramayana. Sudah sepatutnya kita berbangga diri karena keberadaan wayang kulit purwa dapat anugerah penghargaan oleh UNESCO pada tahun 2003 dan dinobatkan sebagai salah satu karya besar dan menjadi budaya dunia. Dari masa ke masa pakeliran wayang kulit berkembang pesat sesuai dengan jaman serta peradaban masing-masing kearifan budaya daerah.

Dahulu kala pertunjukan wayang kulit disajikan dengan durasi waktu sembilan jam (semalam suntuk/sedalu natas), teteapi dalam perkembangannya dapat disajikan dalam durasi empat jam atau dua jam. Hal itu terjadi karena menyesuaikan kebutuhan dan tutuntan masyarakat pendukungnya. Bambang Suwarno mengemukakan gagasannya tentang komposisi pakeliran/pertunjukan dengan istilah pakeliran padat.

Rustapa dalam bukunya berjudul “Gendon Humardani Pemikiran dan Kritiknya” menguraikan pandangannya sebagai berikut: pandangan seni “modern” membimbing kita untuk menjalin unsur-unsur pertunjukan wayang kulit menjadi sudah barang tentu harus sesuai dengan kematangan dalam mengolah atau penggarapannya. Gubahan pakeliran baru ini sama sekali tidak bermaksud merusak watak wayang kulit purwa (Rustapa, 1991:140). Di dunia pedalangan pertunjukan wayang kulit dalam sajiannya memiliki keragaman gaya pakeliran besar yang berbeda-beda. Seperti pakeliran Gaya Surakarta, Gaya Yogyakarta dan Gaya Jawa Timuran (Cek-Dong). Sedangkan pertunjukkan wayang kulit yang masih eksis dan berkembang di Jawa Timur khususnya di Kabupaten Jombang adalah Gaya Surakarta (kulonan)dan Gaya Jawa Timuran (etanan).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Heru Cahyono,  Wayang Jombangan: Penelusuran Awal Wayang Kulit Gaya Jombangan. Jombang, Pemerintah Kabupaten Jombang KANTOR PARBUPORA, 2008. hlm. 6-7.

 

Babad Madiyun

Sultan Trenggana mempunyai anak enam orang, yakni Pangeran Mukmin yang dinobatkan menjadi wali oleh Sunan Giri bergelar Sunan Prawata. Putra yang kedua adalah seorang putri yang dipersunting oleh Pangeran Langgar, putra Kyai Gede Sampang di Madura. Putri ketiga per­maisuri Pangeran Hadiri, bupati Kalinyamat. Putri berikutnya diperistri Panembahan Pasarean di Cirebon. Putra keenam, disebut Pangeran Ti­mur, lalu diangkat menjadi Adipati di Madiun dan selanjutnya bergelar Panembahan Mediyun.

Pada waktu itu Madiun masih disebut sebagai Kota Miring. Pa­ngeran Timur yang diangkat sebagai bupati di Kota Miring, apa bila menghadap ke Pajang, diperkenankan duduk bersanding dengan Gusti Sultan Pajang, berbeda dengan bupati yang lain, oleh karena itu cara menghadap Pangeran Timur-Lazim disebut Madi yang ayun.

“Ngayun “ berarti cara menghadap Pangeran Timur lebih maju dari pada bupati yang lain. ” Madya “ berarti kedudukan Pangeran Timur sudah setengah raja. Maka dari itu lama kelamaan Kota Miring disebut sebagai Madiyun. Selanjutnya yang memerintah Madiyun lalu diberi gelar Panem­bahan Senapati Madiyun.

Panembahan Madiyun mempunyai dua putra. Yang sulung bernama A-jeng Retna Dumilah . Seorang wanita yang cantik jelita. Yang muda ber­nama Raden Lontang. Sesudah menginjak dewasa, Raden Ajeng Retna Dumilah semakin nampak kecantikannya, terkenal sampai ke luar Kadi­paten Madiyun.

Jaman telah berubah. Demak mulai suram dan Pajang timbul. Pajang Goncang. Arya Penangsang memberontak, dan berhasil dibunuh oleh Sutawijaya. Pajang semakin suram, dan wahyu kerajaan sudah ber­geser dari Pajang ke Mataram, Sutawijaya yang bergelar Ngabei Loring Pasar, memerintah Mataram. Semua bupati telah takluk kepada Mataram.

Tetapi pada waktu itu, Kabupaten Madiyun tidak takluk kepa­da Mataram, karena masih membela kematian Arya Penangsang. Adipati Jipang masih berkerabat dengan Panembahan Madiyun yang telah bergelar Panembahan Rangga Jumena.

Adipati Pati, Wasis Jayakusuma atau Ki Penjawi, juga telah menjadi bawahan Mataram, yang makin Jama makin tumbuh dengan subur. Atas kehendak Mataram, Adipati Wasis Jayakusuma menyuruh seorang utusan diterima oleh Bupati Rangga Keniten di Maospati. Inti pembica­raan akhirnya tidak ada kesepakatan pembicaraan antara utusan Mata­ram dan Rangga Keniten. Akhirnya terjadilah perang yang sangat ramai antara para utusan dan punggawa di Maospati, sampai-sampai melibat­kan prajurit-prajurit dari Kadipaten Madiun.

Peristiwa inilah yang nanti akan membawa peperangan antara Madiun dengan Mataram. Wasis Jayakusuma Bupati Pati merasa sangat malu karena Madiun tidak mau menghadap ke Mataram. Demikian juga Danang Sutawijaya merasa diremehkan oleh Panembahan Rangga Jume-na di Madiun. Oleh sebab itu Gusti Sultan mengerahkan bala tentaranya untuk memukul Kadipaten Madiun.

Terceriteralah, menyaksikan peperangan antara Madiun dengan Mataram, Sunan Giri berkenan turun ke lapangan, demi menjaga jangan sampai peperangan tersebut berkepanjangan. Sebab jika terjadi demiki­an, siapakah yang akan menjadi korban, tidak lain ialah para rakyat kecil yang tidak berdosa. Kemudian dipertemukanlah Madiun dengan Mata­ram. Sunan Giri lalu membuat teka – teki yang harus dipilih oleh Ma­diun. Teka – teki tersebut berupa sebuah kalimat sebagai berikut, ” Dunia ini dua macam isinya. Yakni wadah ( bentuk ) dan isi. Karena Madiun menurut urutan darah lebih tua. maka diperkenankan memilih terlebih dahulu. Panembahan Madiun ternyata lalu memilih isi, dengan pertim­bangan bahwa isi itu lebih utama dan penting. Karena Madiun sudah me­milih isi. tentu saja Mataram tinggal hanya mendapatkan tempat atau bentuknya.

Sesudah teka-teki selesai, maka peperangan dihentikan. Perda­maian antara Madiun dengan Mataram telah terwujud. Utusan Mataram lalu pulang- kembali ke Mataram, melaporkan hasil perdamaian tersebut.

Pada waktu itu di Kerajaan Mataram, Panembahan Senapati se­dang mengadakan permusyawaratan. Lengkaplah sudah yang menghadap. Demikian juga Ki Juru Martani yang menjadi penasehat di Mataram. Ketika persidangan sedang berlangsung, tiba – tiba datanglah utusan yang mengadakan perdamaian dari Madiun. Utusan segera melaporkan jalan­nya perundingan yang dipimpin oleh Sunan Giri.Mendengar laporan para utusan, Sang Raja sangat murka, “Mengapa harus diadakan perdamaian ? Lebih baik peperangan diteruskan, supaya Madiyun benar – benar menja­di daerah taklukan. “

Menyaksikan murkanya Sang Raja yang sedemikian hebat, Ki Juru Martani berkata, ” Ananda Panembahan junjungan para hamba ke-rajaan, janganlah tergesa – gesa murka. Hendaklah ananda bersikap de­ngan tenang, kepala dingin, dan menalar dengan bening”. Mendengarkan ucapan Sang Bapa penasehat yang sudah penuh kasih. Panembahan bagai­kan mendapatkan air segar dan menyejukkan.

Lalu Ki Juru Martani sege­ra melanjutkan ujarnya, ” Sudah menjadi kodrat Yang Maha Kuasa apa­bila Madiyun memilih isi dan Mataram memilih tempat”. Hal ini tidak berarti bahwa Mataram lalu lebih rendah dari Madiyun. Coba anda gagas baik – baik dengan lebih bening dan tenang. Bukan tidak mungkin bahwa Sunan Giri sudah mengerti akhir dari kisah ini.Madiyun memilih isi, apa­kah artinya, lambang apakah ini? Kalau Madiyun memilih isi berarti bah­wa  Madiyun loba, tamak, sombong, mengagul – agulkan dirinya.

Te­tapi isi saja tanpa wadah adalah tidak bertempat. Isi tersebut lalu tidak ada manfaatnya. Kalau Mataram memilih wadah ini tidak keliru sama sekali. Ini sudah benar. Kalau Mataram memilih isi ini merupakan per­lambang kalau wahyu tetap di Kerajaan Mataram. Oleh sebab itu jangan sampai Mataram bertindak loba, tamak, dan sombong. Harus menunjukkan budi dan sikap yang baik, berbuat baik kepada siapapun, memberi pertolongan kepada siapa pun yang membutuhkannya.”

Mendengarkan saran – saran Sang Bapa penasehat yang sangat bi­jaksana itu, maka tenteramlah hati Sang Panembahan Senapati. Dalam hati beliau mengucap beribu syukur pada Bapa penasehat, apalagi pada Yang Maha Kuasa, yang telah memberikan petunjuk – petunjuk yang terang.

Ki Juru Martani menyarankan agar Mataram berhati – hati, se­bab pada waktu itu Madiyun mempunyai keris yang sakti, yang amat am­puh, yakni keris Tundung Mediyun. Adapun syarat untuk mengatasinya harus menggunakan daya upaya yang amat rumit, dan amat halus supaya tidak terlalu jelas kelihatan.

Oleh karena itu Mataram lalu mengirimkan Nyai Ria Adisara yakni bibi putri Pembayun, dari Ki Ageng Mangir Wanabaya.Nyai Riya Adisara diutus mempersembahkan bunga setaman, sebagai upaya untuk mencuci kaki Panembahan Madiyun. Hal ini hanya merupakan alat saja, supaya dapat menang melawan Madiun yang telah mempunyai senjata pusaka andalan yang ampuh, Tundung Mediyun. Mengalah terlebih dulu dengan tujuan akhir untuk mendapatkan kemenangan .

Panembahan Senapati setelah mendengar kata – kata Ki Juru Martani tadi, dapat memahami. Akhirnya Nyai Riya Adisara yang sudah termashur kecantikannya itu dipanggil sang Raja. Nyai Riya Adisara lalu disuruh ke Madiyun. Semua persiapan segera dipersiapkan . Di samping daya upaya ini, petugas – petugas sandi segera di kerahkan dan disebar­kan. Petugas – petugas sandi pilihan semua telah siap secara tersembunyi, mengepung Kadipaten Madiyun dalam bentuk tapal kuda. Prajurit -prajurit sandi ini masih ditopang oleh para prajurit lain yang siap – siap di luar kota Kadipaten Madiyun, Nyai Riya Adisara dengan dikawal oleh prajurit yang jumlahnya amat sedikit, menghadap Panembahan Madi­yun. Di sebelah barat sungai para prajurit pengiring dan sang putri terma­ngu mangu. Hatinya kurang enak dan khawatir kalau – kalau ada peristi­wa yang tidak menyenangkan hatinya . Oleh sebab itu daerah tempat sang putri dan para prajurit pengiring termangu – mangu sampai sekarang ini disebut desa Manguharja. Karena di desa itulah para prajurit dan sang putri termangu – mangu.

Sebaliknya , para prajurit Madiyun mendengar berita bahwa Mataram mengirim utusan tanda takluk pada Madiyun, tidak begitu per­caya kalau Mataram akan takluk pada Madiyun. Oleh karena itu dalam hati para prajurit timbul keragu – raguan. Mereka menjenguk dari kejauh­an ( bahasa Jawa : ngongak ) apa benar – benar hal itu akan terjadi. Tem­pat tersebut lalu disebut Pangongakan. Dan seterusnya sampai sekarang desa itu menjadi sebuah daerah yang disebut desa Pangongakan.

Setelah yakin bahwa Mataram benar – benar mengirim utusan seorang putri yang cantik jelita sebagai tanda takluk, maka lalu mereka disambut dengan upacara meriah, dan dihadapkan pada Adipati Rangga Jumena, yang lazim juga disebut sebagai Panembahan Madiyun. Ketika rombongan dari Mataram sampai di Madiyun, mulanya Panembahan Ra­ngga Jumena agak curiga dan tidak percaya akan utusan Mataram terse­but. Tetapi setelah menyaksikan sang cantik jelita Riya Adisara yang membawa segala macam persembahan dan bunga setaman, lalu timbul­lah kepercayaan beliau pada utusan Mataram tersebut. Dengan kata – ka­ta manis dan merdu Raden Ayu Riya Adisara berdatang sembah pada Panembahan Madiyun yang menyatakan bahwa dia utusan dari Mata­ram . Bokor kencana yang berisi kembang setaman untuk mencuci kaki sang Panembahan dipersembahkannya, dan ia pribadillah yang mencuci kaki sang Panembahan. Setelah upacara selesai Raden Ayu Riya Adisara lalu mohon pamit kembali ke Mataram , dan membawa sisa – sisa air pa­da bokor kencana, yakni yang berisi kembang setaman bekas untuk men­cuci kaki sang Panembahan. Air tersebut dikatakan Raden Ayu Riya Adi­sara, akan dipakai untuk mencuci rambut Panembahan Senapati di Mata­ram. Dengan tanpa curiga dan perasaan apapun Panembahan Madiyun melepaskan kepergian utusan Mataram tersebut. Sang Raden Ayu Riya Adisara yang hanya dikawal oleh beberapa prajurit saja, pulang ke Mata­ram.

*

Setelah Riya Adisara meninggalkan Kadipaten Madiyun, praju­rit Mataram yang sudah mengepung kota Madiyun, maju dengan serentak dari segala penjuru, memukul Madiun yang pada saat itu sama sekali ti­dak siap untuk berperang. Serangan yang sangat tiba – tiba itu menyebab­kan Madiun menjadi kacau balau. Prajurit – prajurit terpaksa bertempur tanpa adanya persiapan. Meskipun demikian Madiun masih memberikan perlawanan dengan gigih. Mataram maju bagaikan air bah yang tak dapat dibendung lagi. Akhirnya pertahanan Madiun jebol.

Betapa terkejutnya Panembahan Rangga Jumena, mendengar laporan para prajurit bahwa Mataram dengan tiba – tiba menyerang kota. Beliau sangat kecewa dan malu. Batinnya sangat menderita mengapa Ma­diun dapat kebobolan. Panembahan merasa sangat dikhianati oleh Mata­ram dan mengapa ia terpikat oleh Adisara, wanita yang cantik jelita.

Pada waktu itu juga Panembahan memanggil putrinya Raden Ayu Retna Dumilah. Pusaka keris Tundung Mediyun segera diserahkan pada putrinya dengan pesan, supaya membasmi dan menumpas siapa saja yang berani menembus Kadipaten Madiyun.

Setelah menyerahkan keris pusaka dan memberikan wejangan -wejangan terakhir, Panembahan Madiyun keluar dari dalam Kadipaten melewati pintu belakang. Rupanya sudah ditakdirkan oleh Yang Maha Kuasa, pada saat itu juga Panembahan Rangga Jumena jadi gaib, lenyap tanpa bekas sama sekali.

Terceriteralah Dewi Retna Dumilah yang sudah disertai keris pusaka yang sakti Tundung Mediyun dan pesan bapanda yang demikian penting, lalu mengumpulkan para wanita di Madiun. Mereka dilantik jadi prajurit – prajurit wanita yang akan menjadi benteng terakhir pertahanan Kadipaten Madiyun.

Prajurit Mataram yang dipimpin oleh Penembahan Senapati pribadi segera maju menyerbu ke dalam kadipaten. Menyaksikan adanya laskar wanita yang dipimpin Raden Ayu Retna Dumilah tersebut sang Pa­nembahan Senapati merasa sangat terhina. Tetapi Ki Juru Martani lalu mengingatkan apa yang pernah dikatakan di Mataram sudilah sang Pa­nembahan merayu Dyah Ayu Retna Dumilah. Sang Panembahan Senapa­ti menyetujui usul tersebut, lalu mulailah ia merayu Retna Dumilah. Ter­kena rayuan itu Retna Dumilah tubuhnya lemas tak berdaya, keris Tun­dung Mediyun tanpa disadari terlepas dari tangannya. Secepat kilat sang Panembahan merebut keris pusaka tersebut.

Selanjutnya sang Dyah Ayu Retna Dumilah lalu diboyong ke dan menjadi istri Panembahan Senapati. Sejak itu Madiyun menjadi bagian kerajaan Mataram.

Dari ceritera bahasa Jawa, Daerah Madiun.
 
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:
Cerita Rakyat Jawatimur, DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN 

Rangga Pesu

Diceritakanlah pada jaman dahulu ada seorang bernama Rangga Pesu. Ketika mudanya ia bernama Raden Wasita. Ia seorang keturunan Bayat daerah Banten. Pada suatu hari Raden Wasita dipaksa ayahanda­nya menikah dengan seorang putri Kediri yang berasal dari daerah gu­nung Kelut. Ada dua orang, putri berasal dari gunung Kelut ini, yang seorang cantik rupanya sedang seorang yang lain cacat tubuhnya. Oleh karena salah tafsir, mengira bahwa putri Gunung Kelut cacat tubuhnya, maka Raden Wasita menolak. Ia dimarahi tetapi ia tetap pada pendiri­annya, tidak mau menikahinya. Akhirnya ia diusir dan pergilah ia dengan bersedih hati, ke arah timur tanpa tujuan yang jelas untuk bunuh diri. Kemudian tibalah ia pada sebuah tempat di Kedung. Tanah daerah itu subur dan kehidupan penduduknya terlihat tenteram dan damai. Nama lengkap daerah itu adalah Kedung Bakung. Ketika itu yang men­jadi Raja adalah Menak Sopal. Raden Warta menghadap Menak Sopal menanyakan daerah hutan yang paling angker yang pasti mati jika manu­sia mendekatinya.

Menak Sopal memberi petunjuk bahwa hutan yang paling angker adalah di daerah selatan Kedung Bakung, ditandai oleh pohon benda. Sejenis pohon kluwih atau sukun. Ada dua batang pohon benda yang tinggi dan besar tegak berdampingan di hutan yang angker itu. Kemudian berangkatlah Raden Wasita menuju ke tempat yang ditunjukkan oleh Menak Sopal. Ia sudah diingatkan, jika menuju kehutan yang dikehen­daki itu agar tidak melewati arah timur, sebab di sebelah timur terdapat banyak rawa, tetapi melalui arah Barat yang mudah dilalui. Raden Wasita mendengar apa yang dikatakan itu, lewat melalui arah barat. Perja­lanan Raden Wasita harus melalui duri yang kedap di hutan belantara yang amat lebat dan angker, manusia yang mendekat akan mati. Hutan itu adalah tempat makhluk halus, seperti banaspati, jin, setan, gendruwo. Tetapi ketika ia tiba di situ makhluk-makhluk halus itu malahan melari­kan diri ketakutan. Ia menetap di situ karena menginginkan kematian. Tetapi keinginannya itu belum diijinkan oleh Yang Maha Kuasa.

Pada suatu hari Raden Wasita naik ke puncak sebuah gunung, na­ik melalui lerengnya, dengan merangkak-rangkak, akhirnya ia sampai di puncak gunung itu. Gunung itu bernama gunung Tunon, sekarang di­sebut Manikara. Setelah tiba di puncak gunung itu, Raden Wasita amat terkejut, sebab ia tidak mengira sama sekali bahwa ia di puncak gunung itu akan di jumpai seorang puteri yang sedang bertapa. Puteri itu buta dan sedang hamil, sehingga timbullah rasa belas kasihannya. Raden Wasi­ta kemudian mengawasi dan menunggui sampai puteri itu melahirkan. Ketika puteri itu akan melahirkan, dibawanya turun dari puncak gunung itu. Sesudah bayi itu lahir dan sesudah 40 hari putri itu dibawa kembali ke puncak gunung Tunon tersebut. Tempat terjadinya peristiwa itu se­karang masih ada dan oleh penduduk sekitarnya tempat itu tetap di­peringati dan disebut punden atau tempat yang keramat.

Dikisahkanlah pada suatu hari dari puncak gunung itu Raden Wasita melihat daerah di sebelah Barat, yaitu termasuk daerah Panaraga, nam­pak sebuah telaga yang jernih airnya, dan berkilauan. Telaga itu adalah tempat mandi para bidadari. Raden Wasita,.selaku orang muda ingin mengetahui siapa bidadari yang mandi di telaga itu, tetapi ia harus ber­hati-hati dalam mendekatinya. Ia pun mencari akal, dan keputusannya adalah mencari tempat untuk “ngenger” di daerah di sekitar telaga.

Raden Wasita berhasil “ngenger mbok Randa Kuning”. Ia tidak hanya diterima, tetapi diakui sebagai anak oleh janda tua itu. Pekerja­annya setiap harinya selain bertani, juga menggembalakan kambing. Dan pekerjaan kedua ini agaknya adalah kesempatan yang baik bagi Raden Wasita untuk dapat mendekati telaga-telaga itu. Setiap menggem­bala, kambingnya dibentak dan diarahkan mendekati telaga itu. Raden Wasita berhasil menyelinap dan dapat mendekati telaga itu, bahkan berhasil mendekati tempat para bidadari yang sedang mandi di telaga itu, Ia mencuri pakaian para bidadari yang sedang mandi itu, tetapi ketahuan Raden Wasita dikutuk oleh para bidadari itu agar menjadi tugu, dan Raden Wasita pun menjadi tugulah, tidak dapat bergerak lagi. Kemudian para bidadari itu mengambil pakaian mereka, dan kembali ke Kayangan.

Raden Wasita telah menjadi tugu, tegak di tengah-tengah padang. Embok Randa Kuning kebingungan mencari anaknya yang belum pulang pulang juga. Karena itu ia mencarinya dengan memperhatikan kambing­nya yang mengembik-embik. Sesudah ditemukan ia tercenggang karena Raden Wasita telah menjadi tugu. Embok Randa kemudian memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar anaknya dapat kembali hidup seperti semula. Permohonannya ternyata dikabulkan. Raden Wasita kembali seperti semula lalu pulanglah ia bersama embok dan kambing­nya.

Dengan pengalaman- itu rupanya ia tidak, bosan-bosan juga men­cari akal bagaimana supaya ia dapat mencuri pakaian para bidadari yang sedang mandi di telaga itu. Pada suatu hari Raden Wasita pun meng­gembalakan kambingnya di tepi telaga itu. Kali ini ia berhasil mencuri pakaian seorang bidadari, tetapi ketahuan juga dan ia pun melarikan diri. Tiba di dekat rumahnya ia menyelinap bersembunyi. Sang bidadari di­songsong oleh embok Randa lalu ditanyai, “Siapakah engkau ini ?” Mengapa engkau berlari-lari tanpa pakaian ? Apakah engkau tidak malu ?’ Bidadari itu menjawab dan minta dikasihani. “Aduh, Embok, saya se­dang mandi di telaga itu lalu pakaian saya dicuri seseorang. Orang itu saya kejar sampai di sini tetapi tidak saya temukan. Apakah Embok tahu orang itu ?” Demikianlah sang Bidadari mengharapkan belas kasih kepada Embok Randa. Timbullah rasa kasihan Embok Randa, lalu di­pinjaminya baju, kain, dan lain-lain kepada bidadari itu, dan ditawar­kan kepadanya untuk mau tinggal bersamanya.

Akhirnya Bidadari itu mau ikut kepadanya, dan oleh Embok Randa ia diangkat menjadi anak. Kemudian bertemulah ia dengan Raden Wasita yang akhirnya menjadi jodohnya. Pada suatu hari Raden Wasita bersama istrinya, sang Bidadari naik ke gunung Manikara atau gunung Tunon dengan maksud dapat menemui seseorang yang ada di gunung Tunon yang sudah lama tidak bertemu. Setelah berada di situ ia merasa betah di situ lalu menetap di.gunung Tunon. Beberapa lama kemudian Raden Wasita ketamuan seorang pemuda bernama Jigang Jaya, yaitu putra Menak Sopal. Jigang Jaya menceritakan bahwa oleh ayahnya, Menak Sopal ia dipaksa kawin. Ia tidak mau menerima kehendak ayahnya, kemudian ia diusir dari rumahnya.

Jigang Jaya lari ke selatan yaitu menuju ke puncak gunung Tunon. Keha­diran Jigang Jaya diterima oleh Raden Wasita dan dianggap sebagai saudaranya sendiri dan disuruh tinggal bersama-sama di gunung Tunon itu. Jigang Jaya menyanggupinya. Tiada lama kemudian dinikahkan oleh Raden Wasita dengan puteri Kedung Gali.

Sekarang kedung itu masih bernama Kedung Gali terletak di daerah Kampah. Setelah hidup bersama dengan puteri Kedung Gali, Jigang Jaya sekeluarga pindah menetap pada sebuah tempat bernama Kedung Sang­kal. Tempat ini sekarang disebut Ngudalan, menjadi tempat penyebe­rangan. Tempat itu merupakan “sendang” kecil yang airnya jernih dan selalu mengalir dan tidak pernah kering baik di musim kemarau maupun di musim hujan. Kembalilah kini kepada Raden Wasita yang tinggal di gunung Tunon. Kehidupannya di gunung Tunon tidak tenteram. Setelah be-rembug dengan keluarganya diputuskanlah untuk pindah tempat tinggal. Mereka pindah ke sebuah tempat bernama Pesu. Di situ Raden Wasita menemukan kebahagiaan. Para tetangga senang semuanya kepa­danya. Oleh karena itu Raden Wasita mendapat kehormatan. Ia diangkat menjadi pimpinan mereka menjadi “Rangga” di Pesu. Oleh sebab itu ia disebut Rangga Pesu. Kehidupannya bertambah tenteram dan baik.

Pada suatu hari sang Bidadari pergi ke sungai dengan maksud mencuci popok anaknya, karena ia mempunyai anak kecil. Ketika itu ia sedang masak. Sang suami disuruh menunggu rumah. Setelah istrinya pergi, timbullah pikiran pada Raden Wasita “E … La . . ., apa sebabnya ia memasak nasi seolah-olah amat dirahasiakan. Mengapa padi yang ber-lumbung-lumbung tidak berkurang juga”. Maka ketika ia membetulkan nyala api pemasak, dandang yang ia pakai untuk memasak nasi itu di­buka. Terlihatlah dalam kukusan pada dandang itu bukannya nasi me­lainkan padi yang masih bertangkai. “Oh …. begitulah cara istriku me­masak nasi, dengan padi yang” masih utuh, pikirnya”. Selanjutnya tutup dandang dikembalikan seperti semula, diatur baik-baik supaya tidak ke­tahuan. Sesudah pulang dari sungai mencuci-cuci, istrinya menuju ke dandangnya. Kiranya padinya masih utuh belum berubah menjadi nasi. Bertanyalah sang Istri pada sang Suami, “O . . . . Pak, apakah engkau membuka dandang ini ?” Dengan tergagap-gagap sang Suami menjawab, “Ti . . . Ti . . . dak, tetapi ingin tahu,” demikian jawabnya.

Lama-lama sang Suami pun mengaku, bahwa ia telah menengok dandang dengan maksud ingin mengetahui isinya. “Dengan kejadian ini engkau sebagai laki-laki telah berani membuka isi dandang, maka berarti kerahasiaan sudah tidak ada lagi. Oleh sebab itu engkau harus membuat lesung, antan dan sebagainya. Sekarang padi tidak bisa lagi menjadi nasi, tetapi harus menjadi beras dulu dengan cara menumbuk dengan alat-alat itu”.

Rangga Pesu kemudian membuatkan alat-alat yang digunakan untuk menumbuk padi menjadi beras. Sampai sekarang tempat itu masih ada yaitu di dukuh Pesu di daerah desa Karangreja, Kecamatan Kampah dan terdapat peninggalan berujud arca, antan dan lesung.

Pada suatu hari di dukuh tersebut diselenggarakanlah bermacam-macam keramaian, di antaranya adalah dengan bunyi-bunyian yang di­timbulkan oleh antan yang dipukulkan ke lesung yang bunyinya amat riuh. Karena lesung dan antan, timbunan padi di lumbung pun makin menipis dan akhirnya habis. Dan demikianlah terus berjalan dari lum­bung yang satu ke lumbung yang lain. Selanjutnya istri Rangga Pesu membersihkan lumbung itu. Tetapi alangkah terkejutnya ia ketika me­lihat lipatan pakaian yang indah. Sesudah diamati ternyata pakaian itu adalah miliknya dahulu yang hilang. Ia pun bertekad akan mengenakan pakaian itu kembali dengan maksud akan kembali ke langit. Ia merasa di dunia ini harus mandi keringat, bekerja keras, sedangkan di surga ia bersenang-senang dengan puteri lainnya. Padahal ia hidup bersama dengan Rangga Pesu telah mendapatkan tiga orang anak.

Pada suatu malam duduklah Rangga Pesu dengan isterinya. Kesem­patan baik ini digunakan oleh isterinya untuk berpamitan kembali ke Kayangan. Rangga Pesu sesungguhnya tidak mengijinkan, mengingat ketiga orang anaknya masih memerlukan perawatan. Lalu berkatalah sang Istri kepada sang Suami, “Anakku yang terkecil engkau embunkan saja setiap pagi. Pendek kata boleh atau pun tidak aku akan kembali ke langit.”

Sang Bidadari pun kembalilah ke Kayangan dan Rangga Pesu harus memelihara anaknya yang masih kecil-kecil.

Anak yang terkecil sesuai dengan pesan istrinya setiap pagi diembunkan di tengah halaman. Dalam merenungi nasibnya dan memikirkan mengapa istrinya berpamitan pulang ke langit itu, tiba-tiba ia terkejut. Ia ingat pakaian istrinya yang disembunyikan di lumbung. Dengan cepat Rangga Pesu lari ke lumbung dicarinyalah pakaian itu dari lumbung yang satu ke lumbung yang lain, tetapi tidak ditemukan. Akhirnya sadarlah Rangga Pesu bahwa pakaian itu telah dapat ditemukan oleh istrinya, sehingga istrinya kemudian berpamitan untuk kembali ke Kayangan. Berkatalah ia dalam hatinya, “Kalau begini betapa repotnya aku. Aku adalah se­orang laki-laki dan harus memelihara tiga orang anak yang masih kecil-kecil.

Bagaimana sebaiknya aku ini ?”

Pertanyaan itu bergema terus menerus sampai berhari-hari.

Terdengarlah oleh Rangga Pesu berita angin bahwa di daerah selatan yaitu di Gua Ngerit ada seorang putri sedang bertapa. Menurut cerita dari mulut ke mulut ia adalah seorang bidadari yang turun ke bumi “Kira-kira ia adalah ibunya anak-anak ini yang sedang bertapa di situ. Ada kemungkinan dia tidak diterima di Kayangan lalu ia bertapa di situ,” demikian kata hatinya. Akhirnya bulatlah tekadnya akan memperistri sang petapa itu. Rangga Pesu pun berangkat menuju ke Gua Ngerit.

Dari ceritera bahasa Jawa, daerah Trenggalek.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:
Cerita Rakyat Jawatimur, DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN