Adat Kemanten Malang

Adat Kemanten Malang Keprabon

Seni dan budaya merupakan salah satu daya tarik Kota Malang sebagai Kota Pariwisata. Berbagai macam keunikan adat, tradisi dan kesenian yang merupakan warisan budaya luhur tersebut mampu memberikan nilai ekonomis yang menunjang secara langsung dunia pariwisata dan memberi kontribusi nyata dalam pembentukan sikap bangga terhadap Kota Malang.

Oleh karena itu, melalui acara Pembinaan Salon Dalam Rangka Pelestarian Adat Kemanten Malang Keprabon 2011 Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang mencoba menghimpun event tersebut dalam sebuah brosur panduan yang bisa dijadikan sebagai pengetahuan dan panduan wisata untuk para wisatawan dan masyarakat Kota Malang secara umum.

Kami mengharapkan dengan adanya brosur ini dapat memberikan informasi dan mensosialisasikan Adat Kemanten Malang Keprabon sehingga terjalin suatu hubungan kecintaan terhadap kota yang kita kagumi ini.

Akhirnya kami ucapkan Selamat Datang di Kota Malang, selamat membaca, selamat menikmati keramahan dan kekhasan yang disajikan dan kami berharap bisa membawa Anda untuk selalu datang dan berkunjung kembali ke Kota Malang.
(Dra. Rr. Diana Ima WH., M.Si, Kepala Dinas Kebudayaaan dan Pariwisata Kota Malang)

Pengantin Malang Keprabon
LATAR BELAKANG: Upacara Perkawinan Pengantin Malangan Keprabon berorientasi dari kebudayaan Hindu dan Jawa pada umumnya dan dari Jawa Timur pada khususnya. Hal ini dapat dilihat dari cerita Candi Singosari dengan Raja Kertanegara dan Kendedes yang terkenal sangat menarik bernama Pradna Paramita.

TUJUAN: Tata rias Pengantin Malangan Keprabon dengan segala tata cara upacaranya sangat unik dan mempunyai nilai budaya tinggi. Dengan perkembangan dan teknologi moderen sekarang ini diharapkan generasi penerus tetapi memelihara nilai-nilai budaya yang terkandung dalam kebudayaan kita.

UPACARA ADAT:  Tata cara upacara adat Pengantin Malang Keprabon meliputi:
1.   Mlapati: mencari jodoh untuk putranya;
2.   Ngetutake Balung Pisah/Nontoni: menyaksikan dari dekat calon yang ditentukan sebagai calon jodoh pertamanya;
3.   Melamar;
4.   Peningsetan;
5.   Penentuan hari;
6.   Pasang Terob;
7.   Pingitan;
8.   Siraman;
9.   Meratus Rambut;
10. Ngetepi (Ngerik);
11. Manggulan;
12. Tebusan Kembar Mayang;
13. Upacara Jomblokan atau Rampak dan Ijab/Nikah;
14. Temu Pengantin;
15. Resepsi.

Busana dan Perhiasan Pengantin Wanita

Nama Perhiasan Bagian Atas:
1. Kembang Goyang Padma;
2. Jamaus Makutho Keprabon;
3. Urna (mata hati/batin);
4. Subang Kundala;
5. Kalung hara besar dan kecil.
++++++====================================++++++++

Nama Perhiasan Bagian Belakang:

  1. Penetep Puspa Padma;
  2. Sekar tanjung

++++++====================================++++++++
Busana dan Perhiasan
Nama Perhiasan Pengantin Wanita:
1a. Kalung Sulur (atas);
1b. Kalung Sulur Sanggabuana;
2a. Kelat Bahu Kayura Padma;
2b. Kelat Bahu Kayura Padma pakai Sulur
3. Pending Padma Pitaloka;
4. Gelang Kono;
5. Uncal Tribuana;
6. Cincin;
7. Boro-boro Sulur Sakembaran;
8. Benggel.

++++++====================================++++++++
Pengantin Pria
Nama Perhiasan Pengantin Pria:
1. Kuluk Makhuto 3 tingkat;
2. Sumping Permata;
3. Kalung Kace;
4a. Kalung Sulur;
4b. Kalung Sulur Sanggabuana;
5. Kelat Bahu Keyura Padma;
6. Sabuk timang;
7. Gelang Kono;
8. Uncal Tribuana;
9. Boro-boro Sulur Sakembaran;
10. Binggel.

…………………………………..
Adat Kemanten Malang Keprabon [
Brosur]. Malang: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang, 2012.  

Gempuran, Permainan Rakyat Madura-Jawa Timur

Permainan Gempuran adalah suatu permainan anak-anak yang artinya menggempur atau menghancurkan. Menurut kamus bahasa Jawa, kata gempur adalah “remuk ajur” atau dalam bahasa Indonesia mempunyai makna usaha atau tindakan menghancur-leburkan. Nama ini, jika dikaitkan dengan permainan mempunyai motivasi untuk menghancurkan tumpukan pecahan gerabah yang, merupakan alat perlengkapan dari permainan.

Kaitannya dengan peristiwa lain baik upacara yang bersifat keagamaan atau pun upacara tradisional lainnya tidak ada. Per­mainan ini sifatnya hiburan dimana anak-anak melakukannya se­bagai suatu aktivitas untuk mengisi kekosongan waktu senggang baik siang hari mau pun sore hari misalnya pada waktu istirahat di sekolah atau sepulang dari sekolah dan setelah membantu orang tuanya. Permainan gempuran tidak diiringi dengan musik atau pun nyanyian-nyanyian apa pun. Jika terdengar suara bersiul-siul atau pun berasendelan, gelak tawa, sindiran dan ejekan teriakan, hal itu merupakan variasi dari para pemain untuk mengungkapkan cita rasa kegembiraan sehingga permainan tersebut menjadi lebih se­marak.

Jumlah para pelaku permainan tidak ditentukan, lebih banyak jumlahnya akan lebih serulah permainan ini. Biasanya permainan ini dilakukan oleh dua puluh orang, dan jumlah itu dibagi dua ke­lompok. Masing-masing kelompok sepuluh orang. Peserta permain­an ini adalah anak laki-laki yang berusia antara sembilan sampai dengan empat belas tahun. Permainan ini mudah dimainkan dan tidak memerlukan biaya, karena yang dibutuhkan hanyalah ke­kuatan fisik, kecerdikan, akal, ketrampilan dan mampu memper­kirakan.

Peralatan sebagai alat pelengkap dari permainan gempur sa­ngat sederhana, sesuai dengan kondisi alam yang dan latar bela­kang sosial budaya agraris, yakni beberapa keping pecahan gera­bah, tembikar atau kereweng yang jumlahnya sama dengan jumlah anak yang bermain. Alat ini harus cukup keras, dan kuat, serta ti­dak mudah pecah, serta dapat disusun dalam tumpukan yang ting­gi di atas tanah dalam keadaan labil.

Selain pecahan itu, diperlukan pula sebuah bola. Bola ini digu­nakan sebagai alat pelempar, yang terbuat dari sisa-sisa kain (per­ca) atau daun pisang kering yang digulung-gulung sampai berbentuk semacam bola bergaris tengah sekitar sepuluh sentimeter. Ke­mudian dililit dengan tali temali sehingga bola itu tetap pejal dan utuh bentuknya. Atau dapat juga dibuat dari anyaman janur dengan ukuran garis tengah yang sama. Untuk tempat bermain dipi­lih halaman yang luas atau suatu lapangan, “nilai” sebagai keme­nangan dinyatakan dengan hitungan suatu petak “sawah”.

Setelah semua peralatan yang diperlukan telah siap, dan jum­lah para pelalu telah mencukupi serta tempat untuk bermain telah disepakati pula maka permainan pun dapat dilakukan. Sebe­lum permainan dimulai terlebih dahulu dilakukan suatu konsensus berapa “sawah” yang harus dicapai oleh setiap kelompok dalam permainan ini. Misalnya ditentukan sejumlah “sawah lima“. Maka kelompok yang memperoleh “sawah lima” terlebih dahulu dinya­takan menang. Begitu pula perjanjian yang menyangkut jenis hukuman bagi kelompok yang dapat dikalahkan, misalnya kelom­pok yang kalah harus menggendong kelompok yang menang pada jarak kejauhan tertentu.

Apabila semua pemain telah sepakat, maka dibentuklah ke­lompok pemain. Dalam melakukan pemilihan kawan kelompok, mereka membanding-bandingkan sesama pemain agar dua orang yang berlawanan itu setidak-tidaknya yang sebaya, sama tinggi. sama kuat dan sama besar. Selanjutnya masing-masing pasangan melakukan “suten”. Pihak yang kalah suten bergabung dengan yang kalah, dan pihak yang menang bergabung dengan yang me­nang. Jika penentuan anggota kelompok bermain ini telah diten­tukan, kemudian mereka melakukan “suten” lagi untuk menentu­kan kelompok pemenang. Salah seorang sebagai wakil dari kelom­poknya melakukan suten kembali, untuk menentukan siapa yang menjadi besang dan siapa yang menjadi pelempar bola. Misalnya kelompok A yang menang suten menjadi pelempar dan kelompok B yang kalah menjadi besang.

Pihak yang kalah (kelompok B), mengambil beberapa keping pecahan gerabah atau tembikar, dan menumpuknya dalam susunan labil di tengah lapangan permainan. Setelah itu, kemudian diten­tukan sebuah titik yang beijarak kurang lebih tiga sampai lima langkah dari tumpukan pecahan gerabah tadi. Dari titik inilah, ke­lompok pemenang (kelompok A) satu persatu melemparkan bola ke arah tumpukan gerabah tadi (lihat gambar).

Pihak yang kalah (kelompok B) berjaga di sekitar tumpukan gerabah, secara tersebar, merata, dengan perhitungan bahwa mere­ka siap menangkap bola sewaktu-waktu bola dilempar lawan. Kelompok yang menjaga inilah yang disebut besang. Kemudian pihak yang menang (kelompok A) bersiap-siap di sekitar titik lempar, lalu satu persatu melempar bola ke arah tumpukan gerabah dengan tujuan meruntuhkan dan menghancurkan.

Setiap pelempar hanya berhak melempar sampai tiga kali. Bila si pelempar sampai tiga kali melempar belum juga berhasil menentukan tumpukan pecahan gerabah, maka tugasnya segera digantikan teman berikutnya. Dan jika seluruh anggota kelompok tidak ada satu pun berhasil, maka kelompok itu ganti berfungsi sebagai besang. Kelompok yang tadi berjaga (kelompok B) kini menjadi pelempar bola Sebaliknya apabila salah satu lemparan dari kelompok A me­ngenai sasaran, maka besang (kelompok B) harus secepatnya me­nangkap bola dan berusaha menembakkan bola ke arah tubuh la­wan (kelompok A si pelempar bola), atau melemparkannya pada temannya yang lain dari kelompok B. Maksudnya agar teman ter­sebut (kelompok B) segera melemparkan bola untuk “ditembak­kan” ke arah salah satu tubuh lawan (kelompok A si pelempar bo­la). Pembawa bola itu harus tetap berada di suatu tempat tertentu. Tetapi apabila tidak membawa bola, ia boleh mencari tempat yang strategis untuk siap menerima bola dan menembakkannya ke arah salah satu musuhnya yakni kelompok A. Ada pun pihak pelempar bola (kelompok A) yang sekarang menjadi sasaran tembakan bola lawan (kelompok B), harus ber­usaha menghindar dari kemungkinan ditembak dengan bola. Me­reka akan lari bercerai-berai menjauhi pemenang bola (anggota kelompok B). Ketika bola ditembakkan dan tidak mengenai tubuh salah satu pemain lawannya (kelompok A), ada kalanya bola itu jauh terpelanting dan tidak tertangkap oleh si besang (kelompok B).

Bila terjadi demikian maka si pemenang (kelompok A) harus berusaha menumpuk kembali pecahan gerabah yang porak-poranda tadi. Bila mi berhasil tanpa terkena tembakan bola, maka sece­patnya anak yang bersangkutan meneriakkan kemenangannya de­ngan kata “sawaaaahhh ….” Ini berarti kelompok pemenang (kelompok A) memperoleh satu nilai atau sawah satu. Dan permainan pun dimulai lagi seperti semula. Demikianlah seterusnya sampai salah satu kelompok mencapai “sawah lima” berdasarkan kese­pakatan bersama sebelum permainan dimulai. Jika ada kelompok yang memperoleh “sawah lima” terlebih dahulu, maka kelompok itulah yang dinyatakan menang. Selanjutnya kelompok yang kalah harus dihukum, yaknt menggendong kelompok yang menang pada jarak yang telah ditentu­kan sebelumnya. Demikianlah permainan tersebut biasanya ber­langsung lama, karena untuk mencapai “lima sawah” itu cukup sulit dan benar-benar memerlukan kerja sama kelompok yang sebaik-baiknya.

Analisa
Gempuran merupakan permainan anak-anak yang sangat digemari oleh para penggemarnya, di mana sekelompok anak laki-laki dengan puasnya melempar rekan sepermainan dengan sebuah bola. Dan di tengah halaman rumah terlihat pecahan-pecahan tem­bikar atau kereweng yang berserakan. Dilihat dari peralatan yang mereka pergunakan, seperti halnya dengan pecahan tembikar, ke­reweng atau gerabah dan bola yang terbuat dari sisa-sisa kain per­ca atau pun dedaunan pisang kering yang digulung-gulung sampai berbentuk bola, maka dapat dipastikan bahwa permainan ini merupakan permainan anak-anak petani yang sangat sederhana.

Jika dilihat dari kata yang menjadi permainan gempuran itu sendiri sudah menunjukkan asal-usul permainan ini, karena kata gempur sering dipergunakan untuk menyebut suatu aktivitas menghancurkan atau meruntuhkan atau merobohkan. Menghan­curkan batu, cadas, tebing atau meruntuhkan bukit, tanggul, se­muanya dikatakan dengan kata “digempur”. Dan aktivitas ini ba­nyak terjadi pada usaha pertanian.

Selanjutnya kalau kita memperhatikan alat-alat yang dipergu­nakan juga sangat sederhana. Pecahan gerabah, kereweng atau tembikar, sangatlah mudah diperoleh karena benda-benda itu me­rupakan sisa-sisa peralatan rumah tangga yang dibuat dari kalang­an kehidupan pedesaan. Biasanya penduduk desa di samping seba­gai petani mereka juga membuat kerajinan dengan industri gera­bahnya. Hal ini pada umumnya mereka lakukan untuk mengisi ke­kosongan waktu ketika akan menunggu panen tiba.

Alat yang lainnya, yakni bola; Bola terbuat dari sisa-sisa per­ca atau daun pisang kering yang digulung-gulung berbentuk bola kecil, dan dililit dengan tali apa saja yang dapat diperoleh di sekitarnya, atau anak-anak yang telaten sering menggunakan anyaman janur. Pohon ini pun banyak diperoleh di desa-desa di mana pohon kelapa tumbuh tidak terlalu tinggi. Bola ini juga di­hasilkan dari alam pertanian setempat.

Selain itu ada pula istilah yang menunjukkan latar belakang budaya pertanian, yakni untuk menyebut “nilai” sebagai angka kemenangan yang diperoleh dalam permainan dikatakan dengan kata “sawah”. Jadi untuk menyebut setiap nilai diibaratkan memperoleh “sawah”. Dengan demikian dapatlah dikesimpulkan bahwa permainan ini muncul sebagai kreativitas anak-anak dengan berlatar belakang sosial budaya agraris.

Hal seperti tersebut di atas dapatlah dikatakan bahwa permainan gempuran adalah permainan anak-anak petani, karena pa­da dasarnya bahwa permainan apa pun tidak akan dapat mening­galkan warna kehidupan budaya masyarakat yang dimilikinya. Seperti diketahui masyarakat pedesaan yang mata pencaharian pokoknya adalah agraris di mana dalam kehidupan bermasyarakat­nya masih bergotong royong. Hidup bergotong-royong ini telah tertanam dalam kehidupannya sebagai ciri dari masyarakat ter­sebut. Ada pun kehidupan bergotong-royong ini dapat pula di­katakan dengan keija sama untuk mencapai sesuatu, walau pun demikian kadang-kadang keija sama tidak identik dengan gotong-royong. Tetapi yang dimaksud di sini identik dengan gotong-royong, karena gotong-royong tidak dapat dipisahkan dengan keija sama untuk mencapai sesuatu yang diinginkan, misalnya dalam permainan. Salah satunya adalah permainan gempuran itu tadi.

Permainan gempuran seperti yang telah disebutkan sebelum­nya, yakni suatu permainan yang muncul karena adanya kegiatan untuk menghancurkan atau merobohkan tanggul yang sehubung­an dengan aktivitas dari usaha pertanian, misalnya untuk men­dapatkan air. Air bagi masyarakat petani sangat diperlukan, karena itu mereka berusaha dengan mengalirkan air atau membuat sungai baru sehingga seluruh desa dapat dialiri air. Dalam hal ini pem­bagian air yang merata sehingga semua masyarakat desa yang mem­punyai sawah ladang mendapatkan bagian air secara merata. Ke­hidupan ini dilakukan oleh masyarakat desa dengan bergotong-royong, sehingga kerukunan teijalin dengan baik. Kerukunan untuk bergotong royong merupakan bagian dari kehidupan masya­rakat desa yang harus mereka tanamkan. Untuk itu mereka mengungkapkan kepada anak-anak melalui permainan, di antara­nya permainan gempuran.

Kapan permainan itu sendiri mulai dimainkan, dan oleh siapa mula-mula melakukannya tidak banyak diketahui. Yang jelas, permainan itu sudah ada sejak dahulu. Kemungkinannya timbul karena sebagai kreativitas yang diilhami oleh latar belakang budaya agraris.

Gempuran itu sendiri sebagai suatu permainan hiburan, sifat­nya kompetitif, karena si pemain berusaha untuk memenangkan permainan. Dan di dalam permainan tersebut terkandung dua unsur gabungan, yakni unsur bermain dan berolah raga. Dalam suatu permainan yang tidak sungguh-sungguh, sehingga anak benar-benar menikmatinya sebagai permainan yang sangat meng­hibur. Unsur olah raganya terlihat pada fungsi permainan yang cocok untuk melatih ketangkasan dan ketrampilan anak-anak sehingga gerak badan yang ditimbulkan seolah-olah sedang berolah raga. Sebagai suatu permainan, gempuran dimainkan tanpa takut mengalami konsekuensi kekalahan, yang ada dalam perasaan mereka adalah rasa puas yang bersifat sementara jika menjadi pemenang. Sebaliknya rasa tidak puas yang bersifat sementara bagi yang kalah. Hal ini tampak apabila telah selesai bermain maka anak-anak akan bersatu kembali, seolah-olah kelompok yang kalah dan yang menang tidak ada sama sekali.

Apabila kita kaji latar belakang sosial budaya permainan ini, di mana permainan tersebut berasal dari kalangan para petani yang dalam pelaksanaannya tidak memandang stratifikasi sosial maupun pendidikan.” Jadi siapa saja boleh turut dalam memainkan, sehingga permainan gempuran muncul sebagai suatu permainan yang benar-benar merakyat. Kemudian mendukung semangat mereka ber­kreasi sambil berolah raga, karena itulah pada dasarnya permainan ini tidak akan dapat meninggalkan warna kehidupan masyarakat agraris yang dimilikinya.

Selanjutnya, juga dalam masyarakat agraris kehidupan bergotong-royong selalu tertanam karena ini merupakan ciri yang khas dari latar belakang budaya agraris. Akan tetapi yang dimak­sud gotong-royong dalam bentuk permainan ini, yakni adanya keija sama yang dikaitkan dengan kehidupan masyarakat. Kerja sama di dalam permainan ini terlihat adanya keija sama untuk memainkan permainan, yakni untuk mencapai sesuatu yang di­inginkan, dalam hal ini kemenangan. Ada pun istilah di dalam per­mainan gempuran angka kemenangan yakni “sawah”. Nilai-nilai yang terkandung dalam permainan gempuran ini, antara lain: rasa gotong-royong, demokrasi, persatuan dan kepatuhan.

a. Unsur gotong royong. Kegotong-royongan dalam melaku­kan permainan ini sangat tampak, yang dimaksud dengan ke­gotong-royongan dalam permainan seperti yang telah disebutkan di atas, yakni keija sama untuk mencapai sesuatu. Misalnya, ke­tika salah seorang dari anggota kelompok A (pelempar bola) tidak berhasil melemparkan bola ke arah tumpukan gerabah, maka tugasnya digantikan oleh temannya yakni dari kelompok yang sama. Begitu pula bagi kelompok B (besang), apabila lawannya (kelompok A) berhasil melempar dan mengenai sasaran tumpukan gerabah, maka bola harus segera ditangkap dan lalu melemparkan­nya kepada temannya yang sekelompok agar segera menembak­kan ke arah salah satu tubuh lawan (kelompok A). Jadi maksud­nya, agar kelompoknya (kelompok B) berganti fungsi jadi pe­lempar bola. Dengan demikian di sini tampak sekali keija sama di antara para pemain.

a)      Unsur demokrasi. Yang dimaksud dengan demokrasi di sini adalah dalam pemilihan kawan sekelompok, yakni mereka membanding-bandingkan sesama pemain agar dua orang yang berlawanan itu setidak-tidaknya sebaya, sama tinggi dan sama kuat, sehingga dua kelompok itu mempunyai dua kekuatan yang sama. Caranya, yakni dengan melakukan “suten”. Pihak yang me­nang bergabung dengan kelompok yang menang dan yang kalah bergabung dengan yang kalah.

b)      Unsur persatuan. Rasa persatuan di dalam memainkan permainan ini tampak, yakni ketika kelompok A akan melawan kelompok B. Di sini masing-masing anggota kelompoknya bersatu sehingga menjadi suatu permainan yang benar-benar kompak.

c)      Kepatuhan Ketika salah satu kelompok telah berhasil memenangkan sawahnya dengan jumlah yang telah ditentukan se­belumnya, maka kelompok yang menang itu harus digendong oleh kelompok yang kalah. Hal ini merupakan konsekuensi dari kalah menangnya suatu permainan yang harus dilaksanakan.

Selain unsur-unsur tersebut di atas, dalam permainan ini tampak adanya pengembangan fisik mau pun mental. Dalam peng­embangan fisik yakni ketangkasan dan ketrampilan, sedangkan dalam pengembangan mental yakni kecermatan karena dapat memperkirakan. Contohnya, ketika salah seorang dari anggota kelompok A akan meruntuhkan tumpukan gerabah, di sini tampak bahwa si pelempar dengan cermat dan dapat

Pada saat ini permainan gempuran mengalami kemunduran bahkan hampir punah, padahal permainan tersebut sebagai salah satu bentuk kreatifitas yang sehat. Banyak nilai edukatif yang terkandung dalam permainan ini, akan tetapi permainan ini kurang mendapat perhatian. Hal ini. dikarenakan para pendidik dan orang tua kurang menyadari manfaat permainan ini bagi perkembangan anak-anak. Malahan kadang kala dianggap permainan yang meng­ganggu, karena rusaknya halaman, debu yang beterbangan, ke­gaduhan suasana dan mengganggu lalu lintas orang di tepi jalan atau pun di halaman rumah. Atau dapat pula karena anak-anak lebih menyenangi permainan yang sudah modern, karena masuk­nya teknologi modern memperkirakan bisa meruntuhkan tumpukan gerabah.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Nilai Budaya Dalam Permainan Rakyat Madura- Jawa timur
Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya, 1991. hlm. 82-91.

Cik Kecikan, Permainan Rakyat Madura-Jawa Timur

Cik kecikan merupakan permainan anak-anak Madura yang sangat digemari oleh masyarakat penggemarnya. Dilihat dari nama­nya kata cik-kecikan berasal dari kata dasar kecik. Sebuah istilah nama yang diambil dari beberapa buah biji tertentu misalnya biji sawo, biji srikaya atau biji buah tanjung. Kecik inilah yang dijadi­kan alat dalam permainan. Tetapi ini tidak mutlak. Jenis biji-bijian lain pun dapat digunakan, kerikil pun dapat digunakan karena mudah dicari Permainan cik-kecikan ini biasanya dimainkan oleh anak-anak petani untuk mengisi waktu senggang di siang hari. Di dalam per­mainan ini tidak terdapat unsur-unsur religius-magis baik yang ber­sifat keagamaan mau pun upacara tradisional lainnya, jadi hanya merupakan permainan hiburan yang sama sekali tidak ada sangkut paut dengan kepercayaan. Permainan cik-kecikan tidak pula di­iringi dengan musik atau pun nyanyian-nyanyian apa pun. Apabila terdengar suara anak yang bersenandung, itu merupakan variasi dari para pemain untuk mengungkapkan cita rasa kegembiraan.Para pelaku permainan ini, rata-rata berusia antara sembilan sampai dengan dua belas tahun yang terdiri atas laki-laki dan perempuan, dengan jumlah pelakunya sepuluh sampai dengan dua puluh orang. Biasanya pelaku permainan ini sepuluh orang, yang kemudian mereka membentuk dua kelompok yang seimbang. Masing-masing kelompok jumlah anggotanya lima orang. Kelom­pok yang bermain ini, harus anak-anak yang sejenis, laki-laki saja atau perempuan saja. Hal ini, diakibatkan karena ada konseku­ensi kalah menang dengan imbalan gendongan.

Peralatan yang dipergunakan dalam permainan ini adalah dua buah kecik. Masing-masing kelompoknya dengan sebuah atau sebiji kecik, sebab fungsinya hanya dialihkan dari pemain yang satu kepada pemain yang lain. Selanjutnya sebuah halaman yang cukup luas untuk arena permainan. Dan di halaman tersebut digambarkan pola lantai, yakni garis paralel a dan b untuk memisahkan kedua kelompok yang saling berhadapan sejauh kira-kira lima meter (lihat denah arena permainan).

Apabila pelaku permainan ini telah mencukupi, lalu mereka membentuk dua kelompok yang seimbang. Caranya, masing- masing anak mencari pasangan yang sebaya atau yang fisiknya se­imbang. Lalu berunding dengan “suten”. Yang menang berkumpul dengan yang menang, begitu pula yang kalah berkumpul dengan yang kalah. Dengan demikian terbentuklah dua kelompok yang seimbang kekuatannya. Masing-masing kelompok memilih ketua atau pemimpinnya. Biasanya yang dipilih adalah anak yang trampil dan dianggap paling cerdik.

Selanjutnya, jika pelaku permainan telah terbentuk kelompok­nya. Lalu mencari lapangan tempat bermain yang cocok dengan ukuran yang diinginkan disepakati bersama. Lapangan tempat bermain dicari halaman yang luas.

Di atas tanah ini dibuatlah jarak pemisah antara dua kelom­pok. Setelah dibuat garis pemisah, kedua kelompok menempati kedudukan masing-masing di luar garis paralel, saling berhadapan, dalam posisi yang simetris. Kelompok yang masing-masing jumlah anggotanya lima orang ini mengatur diri dalam komposisi zig-zag, yakni tiga di muka dan dua di belakang. Kemudian pemimpin kelompok suten kembali untuk diundi, siapa vang menang dan siapa yane kalah yang menane biasanya mendapat giliran bermain terlebih dahulu. Misalnya kelompok A yang menang dan kelompok B yang kalah. Setelah diketahui siapa yang^bermain terlebih dahulu maka permainan pun mulai dilaku­kan.

Kelompok yang menang undi (kelompok A), salah seorang anggotanya berdiri di belakang (misalnya A5) segara menghampiri semua rekan sekelompoknya bergiliran seorang demi seorang, dengan ulah seakan-akan memasukkan biji kecik ke dalam tangan mereka yang disembunyikan di balik punggung masing-masing.

Sebenarnya kecik berada di tangan salah seorang dari kelima anggota kelompok A. Ulah A5 hanyalah tipuan untuk mengetahui lawan (kelompok B) agar mendapatkan kesulitan dalam usahanya menebak di tangan siapa kecik berada. Sementara itu kelompok B dengan cermat mengamati segala gerak gerik kelompok A, dan mengadakan rembukan antara teman-teman untuk memperoleh kesepakatan menentukan tebakannya nanti.

Selesai A5 dengan tugasnya, ia pun kembali ke tempat semula. Demikian pula kelompok B selesai bersepakat, kembali mengatur diri dalam posisi semula. Pemimpin kelompok A (misalnya A5) menanyakan kepada Kelompok B dengan berseru :

“Terka siapa yang membawa kecik!”. Lalu dijawab oleh pemimpin kelompok B (B5),

“A2. Maka A2 yang disebut namanya memperlihatkan tangan­nya yang disembunyikan di balik punggung dengan mengangkat­nya ke atas untuk membuktikan apakah kecik itu berada di tangannya atau tidak.

Apabila B5 tebakannya tepat, artinya A2 benar-benar meng­genggam keciknya, maka terjadilah pertukaran giliran bermain. Kelompok B lah yang membuka permainan, caranya seperti yang dilakukan kelompok A.

Sebaliknya, bila tebakan B5 salah ternyata A2 yang disebut namanya setelah memperlihatkan tangannya tidak membawa kecik, maka yang membawa kecik (misalnya A4) harus memper­lihatkan tangan dan kecik yang digenggamnya. Dalam hal ini ke­lompok A dinyatakan menang, dan mendapat peluang untuk melanjutkan ke tahap berikutnya.

A2 yang disebut kelompok B ketika melakukan tebakan yang salah tadi. kini melakukan gerakan loncat jauh mulai dari garis a menuju ke arah kedudukan kelompok B di balik garis b. Ia (A2) diberi kebebasan mengambil ancang-ancang sejauh ia kehen­daki. sementara rekan-rekan sekelompoknya menyisih untuk memberinya lapangan. Setelah loncat jauh ini. maka kelompok A telah memenangkan set pertama yang akan disusul dengan set kedua. Tempat A2 menjejakkan kaki setelah loncatan itu merupa­kan titik tolak loncatan berikutnya setelah memenangkan tahap menebak dalam permainan set kedua. Demikian seterusnya.

Kemenangan akhir dicapai oleh kelompok A, apabila set demi set telah dilampauinya dan set terakhir ditutup dengan lon­catan mencapai atau melampaui garis b (kedudukan kelompok B).

Apabila salah satu kelompok ada yang menang (misalnya kelompok A), maka kelompok A digendong oleh kelompok B sejauh jarak antara garis a dan b sekali jalan atau pulang balik tergantung pada perjanjian yang telah disepakati oleh kedua ke­lompok. Permainan akan berakhir, apabila masing-masing pelaku telah.

Analisa
Cik-kecikan merupakan permainan anak-anak yang sangat digemari oleh masyarakatnya di Madura terutama di desa-desa. Permainan ini menggambarkan suatu permainan anak-anak petani khas Madura yang mempunyai ciri dari alat permainan yang di­pergunakan.

Dilihat dari namanya, kata cik-kecikan itu sendiri menunjuk­kan asal usul permainan ini, karena kata cik-kecikan berasal dari kata dasar kecik. Sebuah istilah nama dari’ biji-bijian beberapa buah tertentu, misalnya biji sawo, biji srikaya atau biji buah tan­jung. Biji inilah yang dikatakan kecik untuk dijadikan alat per­mainan. Dan untuk mendapatkan kecik ini sangat mudah didapat karena telah tersedia di sekitar lingkungannya.

Permainan cik-kecikan ini sangat sederhana, tidak memerlu­kan biaya dan sangat mudah untuk dimainkan. Siapa saja dapat memainkannya dengan tidak membedakan stratifikasi sosial mau­pun pendidikan, karena yang diperlukan dalam permainan ini kecermatan dalam menebak. Yang dalam pelaksanaannya per­mainan cik-kecikan tidak ada kaitannya dengan upacara keagama­an ataupun upacara tradisional lainnya yang bersifat religius magis. Permainan ini merupakan permainan hiburan yang dilaku­kan untuk mengisi kekosongan waktu yang terluang pada siang hari maupun sore hari sepulang dari sekolah atau setelah mem­bantu orang tuanya. Permainan itu muncul sebagai kreatifitas anak-anak dengan dilatarbelakangi budaya agraris, yang mungkin diilhami dari istilah biji-bijian tersebut. Dan permainan itu sendiri tidak diiringi musik gamelan ataupun nyanyi-nyanyian, apabila terdengar yang bersenandung hal itu merupakan variasi dari anak- anak agar permainan tersebut menjadi semarak.

Cik-kecikan kapan mulai dimainkan dan oleh siapa yang mula- mula memainkan tidak ada yang mengetahui, yang jelas permainan itu tumbuh dan berkembang sejak dahulu. Pada mulanya permain­an ini dimainkan oleh anak-anak petani yang mencerminkan kerja sama dalam melakukan permainan untuk mencapai kemenangan. Kehidupan kerja sama yang identik dengan gotong royong merupa- Kan ciri khas masyarakat agraris yang ditanam sejak dahulu. Oleh karena itu dalam menanamkan nilai-nilai kegotong-royongan ini oleh generasi terdahulu ditanamkan kepada generasi penerus melalui permainan.

Apabila kita kaji dari latar belakang sosial budaya dapat di- kemukakan bahwa permainan cik-kecikan ini adalah permainan dari anak-anak petani, karena pada dasarnya permainan ini tidak akan dapat meninggalkan warna kehidupan budaya masyarakat yang dimilikinya. Permainan cik-kecikan sebagai salah satu per­mainan anak-anak mempunyai arti yang sangat penting dalam upaya meningkatkan nilai-nilai budaya terutama menanamkan nilai-nilai kegotong-royongan bagi pelaksana permainan ini yang terdiri dari kelompok anak-anak. mendidik potensinya agar dapat berhasil guna dan berdaya guna.

Cik-kecikan itu sendiri merupakan suatu kegiatan rekreasi yang mengandung unsur bermain dan berolah raga. Dalam bermain anak-anak terlibat menikmatinya sebagai suatu permainan yang sifatnya main-main karena tidak sungguh-sungguh tetapi mem­punyai keasyikkan tersendiri. Unsur olah raga yang terlihat pada fungsi permainan ini. ialah melatih ketangkasan yang terdapat waktu melompat dan kecermatan waktu menebak. Sebagai suatu permainan, cik-kecikan dimainkan tanpa takut mengalami kon­sekuensi kekalahan, yang ada dalam perasaan mereka adalah rasa puas yang bersifat sementara jika menjadi pemenang. Sebaliknya rasa tidak puas dan” penasaran yang juga bersifat sementara bagi yang kalah. Hal ini tampak apabila telah selesai bermain, maka anak-anak akan berkumpul dan bersatu kembali, sehingga ke­lompok yang menjadi pemenang maupun yang kalah terasa tidak ada sama sekali.

Nilai-nilai yang terkandung dalam permainan ini adalah unsur- unsur kegotong-royongan, rasa persatuan, demokrasi dan kepatuh­an. Unsur Gotong Royong Nilai-nilai kegotong-royongan yang terlihat dalam permainan ini adalah adanya kerja sama di antara anggota kelompok dan juga. antara pimpinan kelompok dengan anggota kelompok, misalnya, ketika pimpinan kelompok A menghampiri rekan sekelompoknya untuk memasukkan biji kecik dan ditebak oleh kelompok lawan (kelompok BO, maka anggota- anggota kelompok A ini berusaha menutupinya. Begitu pula ke­lompok B ketika harus menebak, maka teman-teman sekelompok­nya mengadakan rembukan untuk memperoleh kesepakatan me­nentukan tebakannya nanti.

Rasa Persatuan terasa di antara anggota- anggota kelompok, baik kelompok A maupun kelompok B. Mereka bersatu karena berusaha untuk memenangkan permainan tersebut.

Demokrasi Yang dimaksud demokrasi di sini terlihat dalam menentukan pemilihan anggota-anggota kelompok. Caranya masing-masing anak mencari pasangan yang sebaya atau yang fisik­nya seimbang dengan dilakukan suten, sehingga dengan demikian terbentuklah dua kelompok yang seimbang kekuatannya. Dan masing-masing kelompok ini melakukan pemilihan untuk dijadi­kan pemimpin kelompok.

Kepatuhan Maksud kepatuhan yakni konsekuensi kalah me­nang dari permainan yang harus dilakukan oleh kelompok yang kalah, kelompok yang kalah harus menggendong kelompok yang menang.

Selain unsur-unsur tersebut, permainan ini dapat dikembangkan baik pengembangan fisik maupun pengembangan mental. Pengembangan fisik tampak dalam permainan ini, yakni ketangkasan ketika akan meloncat jauh. Misalnya ketika kelompok B salah menebak, maka salah satu anggota kelompok A yang diterka harus meloncat sejauh mungkin menuju kelompok B. Sedangkan dalam pengembangan mental, yakni kecermatan untuk menebak.

Pada saat ini permainan cik-kecikan kurang mendapat per­hatian masyarakat terutama anak-anak. mungkin hal ini dikarena­kan anak-anak lebih menyukai permainan yang baru. Atau mung- dapat pula dikarenakan oleh kesibukan anak-anak untuk belajar ataupun membantu orang tuanya sehingga waktu bermain menjadi sempit. Begitu pula permainan dari generasi sebelumnya kurang memberikan kesempatan kepada anak-anak. Padahal permainan ini sangat baik dalam rangka pembinaan anak, karena permainan Selain unsur-unsur tersebut, permainan ini dapat dikembang­kan baik pengembangan fisik maupun pengembangan mental. Pengembangan fisik tampak dalam permainan ini, yakni ketangkas­an ketika akan meloncat jauh. Misalnya ketika kelompok B salah menebak, maka salah satu anggota kelompok A yang diterka harus meloncat sejauh mungkin menuju kelompok B. Sedangkan dalam pengembangan mental, yakni kecermatan untuk menebak tersebut bersifat edukatif di mana cara memainkannya menun­jukkan bermain sambil belajar. Jadi. dengan melalui permainan ini dapat membentuk perkembangan jiwa untuk menanamkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Nilai Budaya Dalam Permainan Rakyat Madura- Jawa timur. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya, 1991. hlm. 99-106.

Penteng, Permainan Rakyat Madura-Jawa Timur

Penteng merupakan nama salah satu permainan tradisional rakyat Madura, khususnya permainan untuk anak-anak. Permainan ini hanya mempergunakan dua potong kayu lurus sebesar ibu jari orang dewasa. Bahan untuk alat permainan ini mudah diper­oleh, karena terdapat di daerah sekitarnya.

Permainan ini tidak mempunyai hubungan dengan suatu peris­tiwa, baik keagamaan maupun upacara tradisional, karena itu per­mainan penteng ini hanya merupakan permainan hiburan yang dalam pelaksanaannya dimainkan pada waktu senggang untuk mengisi kekosongan.

Dalam pelaksanaannya permainan penteng tidak pula diiringi anak-anak ada yang bermain sambil bersiul-siul atau mendendang­kan lagu, hal itu merupakan hal yang biasa sebagai cetusan spontan dari jiwa anak-anak yang gembira. Bagi anak-anak pedesaan me­mang merupakan suatu kebiasaan untuk bermain penteng sambil menunggu padi di sawah atau sambil mengembalikan ternak me­reka di padang. Permainan ini sangatlah sederhana dan mudah dimainkan. Hampir semua anak-anak dapat memainkannya, karena yang diperlukan hanya keterampilan, kejelian dan sedikit pemikir­an, agar dirinya menang. Selain bersifat hiburan, permainan ini ju­ga bersifat kompetitif karena ada lawan bermain dan ada ketentu­an kalah menang.

Permainan penteng dimainkan oleh anak-anak paling banyak enam orang, kemudian dibagi dalam dua kelompok, masing-masing kelompok tiga orang anak. Selain dimainkan secara berkelompok permainan ini dapat pula dimainkan secara perorangan, yakni sa­tu lawan satu hanya saja bila dimainkan secara perorangan terasa kurang mengasyikkan. Oleh karena itu permainan ia, lebih sering dimainkan secara berkelompok sehingga menjadi lebih semarak.

Pada umumnya penteng dimainkan oleh anak laki-laki, namun tidak tertutup kemungkinan bagi anak perempuan. Asal saja ang­gota kelompok permainan ini harus sama sejenis. Hal ini, disebabkan pada akhir permainan ada acara gindungan (bergendongan), yang kalah harus menggendong yang menang. Para pelaku dari per­mainan tersebut, rata-rata berusia antara enam sampai dengan lima belas tahun dengan tidak membatasi kelompok masyarakat­nya.

Peralatan yang dipergunakan dalam permainan penteng terdiri dari dua bilah kayu sebesar ibu jari dengan ukuran yang berbeda, satu pendek dan satu lagi panjang. Kayu yang pendek, berukuran kira-kira 13 cm, disebut pangkene, sedangkan yang panjang berukuran kira-kira 39 cm disebut panglanjang. Kedua bilah kayu bia­sanya ini terbuat dari kayu gabus, atau dari bambu yang dipotong sedemikian rupa. Selain kedua alat tadi, juga diperlukan sebuah lubang kecil di tanah yang berukuran panjang antara 20—25 cm dengan lebar 5 cm dan dalam lubangnya kira-kira 5 cm. Lubang ini dipergunakan sebagai tempat penyoket (penyukit) pangkene oleh panglanjang.

Apabila peralatan yang diperlukan telah ada, maka dicarilah ter dengan panjang kira-kira sepuluh meter. Setelah disepakati oleh para pemain dan persiapan lainnya telah disiapkan, juga disepakati jumlah nilai yang hendak dicapai (misal nilainya hanya sampai 50 atau 100), maka permainan dapat dimulai.

Para pemain yang berjumlah enam orang ini memilih kawan­nya yang sebaya melakukan “suten” untuk menentukan siapa-siapa yang termasuk teman bermainnya. Yang menang berkelom­pok sama yang menang dan yang kalah berkelompok dengan yang kalah. Jika telah ditentukan masing-masing anggota kelompok, selanjutnya diadakan kembali “suten” untuk menentukan kelom­pok mana yang mendapat giliran pertama bermain (alako kaada). Dua orang anak mewakili kelompoknya masing-masing melakukan “suten” alagi. Bagi kelompok yang menang dalam “suten” menda­patkan giliran pertama untuk alako (bekerja), sedangkan kelom­pok yang kalah bertugas untuk se ajaga (menjaga).

Setelah semuanya disepakati dan kelompok yang alako dan se ajaga telah diketahui, barulah permainan dimulai. Misalnya, kelom­pok 1 yang alako dan kelompok II yang se ajaga Mereka tidak ter­ikat dengan, urutan pemain dalam kelompoknya. Pemain bebas melakukan nyoket (menyukit) lebih dahulu. Kalau terdapat kesa­lahan yang dilakukan oleh seorang pemain di dalam kelompok­nya pada satu tahap permainan yang harus diselesaikan, tidak bo­leh digantikan oleh kawannya untuk menyelesaikan tahapan ber­ikutnya. Temannya harus melakukan dari semula kembali.

Jalan permainan penteng ini, terdiri dari beberapa tahapan yang harus diselesaikan oleh setiap pemain. Tahap pertama, yakni menyoket pangkene dengan panglan­jang. Pemain pertama dari kelompok alako (kelompok I) akan menyoket, pangkene ditaruh melintang di atas lubang kecil lalu dicukit dengan panglanjang ke depan (lihat gambar).

Penyukit yang pandai akan mengarahkan pangkene ke tempat yang tidak dijaga dan diusahakan agar pangkene tidak dapat di­tangkap oleh lawan. Apabila tiga kali berturut-turut dalam tahap ini pangkene tertangkap oleh lawan, berarti kelompok I yang alako gagal dan harus diganti oleh pemain dari kelompok II yang se ajaga. Jika cukitan pertama tidak tertangkap oleh yang se ajaga (kelompok II), maka dari batas berhentinya pangkene tadi oleh panglanjang yang ditaruh melintang di atas lubang. Jika pangkene mengenai panglianjang berarti penyukit pertama gagal dan diganti oleh penyukit kedua dari kelompok I. Juga dinyatakan gagal apabila cukitannya dapat ditangkap oleh kelompok II. Selanjutnya penyukit kedua sekarang melakukan cukitan dan kalau berhasil (artinya tidak tertangkap dan tidak mengenai panglanjang) ia dapat melanjutkan ke tahap berikutnya.

Pada tahap kedua, yaitu memukul pangkene dengan panglan­jang. Kedua alat itu dipegang dengan tangan kanan, pangkene di­lemparkan ke atas lalu dipukul dengan panglanjang (lihat gam­bar). Bila pangkene yang melayang tidak dapat ditangkap oleh lawan, kelompok I memperoleh nilai dengan mengukur jarak ja­tuh pangkene ke lubang, diukur dengan menggunakan panglan­jang. Kalau pangkene dapat ditangkap oleh lawan dan dilemparkan kembali ke lubang, atau ketika jatuh dan ternyata masih bergerak lalu disepak ke arah lubang sehingga jarak pangkene ke lubang tidak lagi sepanjang panglanjang maka gagallah penyukit kedua itu penyukit ketiga dengan dimulai dari cukitan pertama. Sebaliknya bila masih dapat diukur baik di muka atau di belakang lubang, dianggap hidup dan memperoleh nilai. Maka pemain dapat melan­jutkan tahap berikutnya.

Pada tahap ketiga, yakni dengan memukul pangkene yang di­taruh memanjang dalam lubang dengan sebagian menonjol (men­cuat) ke luar. Kemudian yang menonjol ke luar itulah yang dipu­kul sehingga meloncat ke atas lalu dipukul lagi oleh panglanjang ke depan (lihat gambar). Kalau pangkene tidak tertangkap oleh lawan, kelompok I memperoleh nilai lagi dengan mengukur jarak jauh terpelantingnya pangkene ke lubang dengan panglanjang. Untuk mendapatkan nilai yang lebih banyak lagi, bila pangkene pada waktu melesat ke luar dari lubang dapat dipukul dua kali (berarti terkena pukulan tiga kali tanpa menyentuh tanah) maka alat pengukurnya bukan panglanjang tetapi diukur dengan pangkene. Kemudian pemain melanjutkan tahap selanjutnya ialah metar.

Di tahap metar ini, pangkene ditaruh di atas tangan kiri yang ditelungkupkan. lalu dilontarkan ke atas dan dipukul dengan panglanjang. Apabila lawan tidak berhasil menangkapnya maka kelompok I menambah nilainya. Jika pangkene yang dilontarkan ke atas dapat dipukul dua kali, maka alat penghitungnya pun pangkene sehingga penambahan nilai lebih banyak lagi.

Tahap selanjutnya adalah dengan menaruh pangkene di antara jepitan tangan dengan lengan tangan kanan, lalu dilontarkan ke atas dan dipukul. Bila tidak berhasil ditangkap oleh lawan, maka nilai bertambah lagi. Begitu pula jika pukulannya dua kali, maka alat pengukurnya pun bukan panglanjang tetapi pangkene.

Sebagai tahap yang terakhir, ialah menaruh pangkene di atas jari kaki kanan, lalu dilontarkan ke atas dan dipukul dengan panglanjang. Jika tidak tertangkap olah lawan, kelompok I menambah nilai lagi. Apabila nilai akhir sudah tercapai oleh salah satu kelompok, maka kelompok yang menang mulai melakukan metar yang kedua. Metar yang kedua ini mula-mula dilakukan oleh pemain pertama, caranya yakni dengan menaruh pangkene di atas telapak tangan kiri yang tertelungkup, kemudian dilontarkan ke atas kemudian dipukul pangkene dengan panglanjang. Lalu dilanjutkan oleh pemain yang kedua, juga melakukannya hal yang sama seperti permainan yang pertama dari tempat jatuhnya pangkene ke arah lain yang disenangi. Begitu juga pemain yang ketiga menyambungnya dengan metar juga dari tempat jatuhnya “petaran” pemain yang kedua. Apabila ketiganya berhasil memetar jauh-jauh, piaka pihak yang kalah harus menggendong yang menang sejauh jumlah jarak petaran menuju pangkal petaran.

Di sinilah puncak kegembiraan permainan penteng itu. Para pemain yang kalah dapat minta untuk bermain lagi, dapat tukar menukar kawan atau diganti dengan mengadakan “suten” lagi. Hal ini semuanya tergantung kepada anak-anak. Pada umumnya mereka bermain dua kali, dan sesudah itu bubar pulang ke rumahnya masing-masing.

Analisa
Sesuai dengan iklim tropisnya, kehidupan masyarakat Madura bersifat agraris, dengan mata pencaharian pokok pada umumnya adalah bertani. Dalam kegiatan bercocok tanam mereka saling menolong, hal ini merupakan kebiasaan masyarakat di desa pada umumnya.

Dalam kegiatan-kegiatan di ladang atau pun di sawah-sawah, orang tua selalu mengajak anak-anaknya untuk turut mem­bantu sesuai dengan fisik anak tersebut. Dalam perjalanannya me­nuju sawah ladang itulah anak-anak menemukan pohon bambu. Bambu oleh masyarakat sengaja mereka tanam, karena banyak kegunaannya. Bambu ini sengaja mereka tanam sebagai penahan erosi dan tempat berteduh para petani mau pun para penggembala dari sengatan terik matahari. Selain itu bambu juga dapat diguna­kan untuk membuat rumah. Rumah-rumah tradisional masyarakat Madura pada umumnya terbuat dari gedek yang bahannya dari bambu. Bambu tersebut dikerat tipis-tipis dan dianyam sedemikian rupa yang dibaut bilik, selain itu juga dapat dibuat untuk keperlu­an yang lainnya yang berupa kerajinan tangan berupa anyam-anyaman. Tidaklah mengherankan, bambu tersebut banyak sekali menfaatnya bagi masyarakat petani.

Penteng sebagai suatu permainan anak-anak sudah dikenal se­jak dahulu. Siapa yang mula-mula melakukan permainan ini tidak banyak diketahui, yang jelas permainan ini sudah ada sejak dahulu. Pada mulanya permainan ini dimainkan oleh anak-anak petani dengan tidak membatasi stratifikasi sosial. Jadi. siapa saja dapat memainkannya. Biasanya anak-anak petani ketika akan menuju ladang, melalui jalan yang panjang, sepanjang jalan itu diteduhi oleh pohon bambu. Ketika beristirahat, mereka akan berteduh dinaungan bambu, dan pada saat itulah anak-anak sambil duduk duduk ada yang memotong bambu itu untuk kemudian mereka membuatnya jadi alat permainan, yang penyelenggaraannya dilakukan untuk mengisi waktu terluang di siang hari. Permainan penteng ini merupakan suatu permainan yang khas, sesuai dengan kondisi lingkungan di mana keadaan sosial masyarakatnya telah melatarbelakangi budaya dalam bentuk permainan rakyat.

Bentuk permainan ini, sudah dikenal di luar pulau Madura, karena Madura letaknya di ujung Jawa Timur, sehingga tidak mus­tahil kebudayaan yang datang dari luar mau pun dari dalam bercampur dan kebudayaan itu dibawa ke luar Madura atau sebaliknya.

Tidaklah heran apabila permainan yang sama juga terdapat di luar pulau Madura, walaupun namanya berlainan akan tetapi cara dan jalannya permainan sama. Seperti di Jakarta, permainan ini namanya gatrik, di Aceh peh kayee, di Sulawesi Selatan maccule/accangke.

Permainan penteng yang merupakan permainan rakyat tra­disional mempunyai arti yang penting dalam meningkatkan nilai-nilai budaya, terutama bagi pelaksanaan permainan. Permainan ini dapat mendidik anak-anak agar menjadi tahu bahwa segala sesuatu dalam kehidupan ini sangat berguna, seperti bambu yang menjadi bahan alat permainan ini. Bambu tersebut banyak sekali keguna­annya seperti yang telah disebutkan sebelumnya.

Di dalam meningkatkan nilai-nilai budaya, permainan penteng merupakan kegiatan permainan yang sifatnya hiburan tetapi me­ngandung gabungan dua unsur yakni unsur bermain dan berolah raga. Dalam unsur bermain, anak-anak yang terlihat dalam permainan ini dapat menikmatinya sebagai suatu permainan yang sangat mengasyikkan. Sedangkan dalam unsur olah raga, anak yang terlibat dalam permainan ini tentunya dapat membuat gerak permainan di mana setiap gerak permainan ini dapat diartikan sebagai olah raga yang dapat melenturkan otot-ototnya, yakni me­latih ketrampilan dan ketangkasan anak-anak. Selain itu juga dapat mengembangkan daya pikir dalam menghitung nilai-nilai yang diperoleh.

Oleh karena itulah, permainan penteng dapat membantu pem­bentukan jiwa dan sifat anak agar berjiwa sportif, trampil, sigap, dapat menggunakan otaknya untuk mengembangkan daya pikir menyiasati lawannya dan memperluas pergaulan dengan menggu­nakan waktu senggangnya untuk hal-hal yang efektif. Apabila kita kaji latar belakang sosial budaya dari permainan ini, di mana permainan berasal dari permainan anak-anak petani yang dalam pelaksanaannya dapat mendidik anak-anak dalam rang­ka proses sosialisasi, maka nilai-nilai yang terkandung dalam permainan ini antara lain:

  1. Rasa disiplin, karena pemain harus mematuhi peraturan-peraturan permainan yang telah disepakati bersama. Seperti, jika ada pemain yang melakukan kesalahan pada satu tahap permainan untuk menyelesaikan tahapan berikutnya, jadi temannya harus melakukan dari semula kembali.
  2. Nilai-nilai yang diperoleh dari masing-masing anggota ke­lompok disatukan (dijumlahkan) sehingga mencapai/memperoleh nilai yang telah ditentukan. Begitu pula dalam kelompok yang se ajaga, di sini nampak keija sama di antara anggota pemainnya karena setiap anggota pemain selalu siap berjaga agar dapat me­nangkap pangkene yang terlempar ke atas. Ketika pangkene oleh yang aloko dilemparkan, maka salah seorang anggota kelom­pok yang se ajaga akan berusaha untuk menangkapnya sehingga kelompok yang alako menjadi mati atau tidak mendapat nilai, sehingga teijadilah pergantian pemain. Karena itulah, dengan hasil yang sama ini akan menumbuhkan rasa kesatuan dan persatuan.
  3. Sportifitas atau kepatuhan akan perjanjian, yakni mempu­nyai jiwa konsekuen, jika mendapat kekalahan mematuhi perjan­jian yang telah disepakati sebelumnya. Kelompok yang kalah akan menggendong kelompok yang menang.

Pada masa ini, permainan penteng kurang berkembang teruta­ma di kota-kota, tetapi di desa-desa terutama di kalangan anak-anak pada masyarakat yang kurang mampu masih digemari.

Hal ini, kemungkinan menurunnya minat anak-anak terhadap per­mainan penteng karena sudah banyak jenis permainan anak-anak yang modern atau memang anak-anak sekarang waktunya lebih banyak tersita untuk berbagai kegiatan di sekolah mau pun masyarakat, sehingga waktu terluang tidak banyak seperti dahulu. Atau dapat pula karena kehidupan perekonomian orang tua yang semakin berat, menyebabkan anak-anak penduduk Madura khususnya di desa yang tidak mampu, terpaksa ikut membantu orang tuanya membantu mencari dan menambah sumber peng­hasilan. Keadaan ini umumnya masih sering terjadi di daerah pe­desaan dan di daerah pesisir. Tidak masuknya anak-anak ke sekolah, karena adanya kegiatan musim tertentu sehingga tenaga­nya banyak dibutuhkan untuk membantu orang tuanya. Keadaan demikian, tentunya tidak banyak membantu perkembangan suatu permainan anak-anak yang memang membutuhkan waktu seng­gang dalam memainkan suatu permainan dengan teman-temannya. Namun demikian, tidak berarti permainan ini menghilang, sebab masih sering tampak kerumunan anak-anak yang bermain dan cukup banyak penggemarnya, terutama kalangan anak-anak.

Hanya saja dikhawatirkan akan hilang kalau keadaan ekonomi penduduk sedemikian rupa sehingga anak-anak diperlukan orang tuanya untuk membantunya dalam perjuangan hidupnya, dan banyaknya kegiatan yang menyita waktu bagi anak-anak untuk memperoleh kesenggangan untuk bermain sesuka hatinya. Begitu penteng akan lenyap tetapi juga permainan tradisional lainnya juga adanya hiburan lainnya seperti mendengarkan lagu-lagu melalui radio transistor, atau adanya bacaan yang dapat dibaca sambil bersantai-santai, maka tidak saja permainan tradisional seperti yang semacam ini akan lenyap pula.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Nilai Budaya Dalam Permainan Rakyat Madura- Jawa timur. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya, 1991. hlm. 24-34.

 

Putri Sedah Merah

Menelusuri Dongeng Rakyat Blambangan
Sampai saat ini di daerah Banyuwangi masih banyak dongeng rakyat yang hidup dan berkembang ditengah-tengah kehidupan masyarakat. Pada umumnya dongeng rakyat atau cerita rakyat itu hanya berfungsi sebagai pelipur lara. Hal ini disebabkan ceritera atau dongeng rakyat bukan peristiwa sejarah murni, tegasnya ceritera rakyat tidak dapat dijadikan pedoman atau penetapan sesuatu hal yang penting, seperti: Penetapan Hari Jadi suatu kota atau daerah. Dalam kenyataan masyarakat di tanah air masih banyak yang awam dan berpola pikir tradisional yang lebih cenderung menonjolkan nilai-nilai mithologi dari pada nilai yang historisnya, sehingga sering mengkaburkan pemahaman mereka terhadap peristiwa sejarah yang sebenarnya, bahkan dapat mempengaruhi pandangan hidup sehingga dapat merugikan kepentingan masyarakat itu sendiri. Meskipun demikian, ceritera rakyat atau dongeng rakyat perlu dilestarikan dan dipertahankan guna menambah khasanah kebudayaan nasional kita, khususnya yang berlatar belakang pendidikan. Dongeng rakyat Putri Sedah Merah ini berkisar antara Mas Jolang Putri Sedah Merah yang dikaitkan dengan ceritera sejarah Kesultanan Mataram. Dalam hal ini sudah menunjukkan bahwa pengaruh Islam telah masuk di kerajaan Blambangan pada saat itu. Adapun dongeng rakyat “Putri Sedah Merah”, adalah sebagai berikut:

Pada saat itu Sultan Mataram sudah berulang kali mencoba untuk menaklukkan Kerajaan Blambangan, akan tetapi selalu mengalami kegagalan. Setelah Panembahan Senopati berhasil menaklukkan Blambangan, namun Sultan Mataram tidak menjadikan Kerajaan Blambangan sebgai daerah jajahannya. Panembahan Senopati sangat kagum akan kegigihan dan kesaktian Panglima Perang bersama para prajuritnya dalam membentengi Kerajaan Blambangan. Demikian pula Sri Sultan juga memuji kebijaksanaan raja Blambangan dalam membina angkatan perangnya. Itulah sebabnya Sultan Mataram tidak menganggap raja Blambangan sebagai taklukkannya, akan tetapi sebagai Sekutunya.

Pada saat Adipati Kinenten dari Pasuruhan mengadakan pemberontakan terhadap Mataram, secara tidak langsung Blambangan memberi bantuan kepada Pasuruhan. Hal itu menyebabkan Sultan Mataram marah serta memerintahkan Mas Jolang dan Ki Juru Martani mengerahkan pasukannya untuk menghukum dan menyerang Blambangan. Untuk mempertahankan kedaulatan kerajaan Blambangan, Prabu Siung laut memerintahkan Patih Jatasura bersama adiknya, yakni Hario Bendung Adipati Asembagus mengerahkan pasukan Blambangan untuk menanggulangi serangan dari pasukan Mataram itu.

Dalam pertempuran yang cukup sengit, pasukan Mataram ternyata kewalahan menghadapi para prajurit Blambangan, bahkan Mas Jolang bersama Ki Juru Martani melarikan diri dari medan pertempuran. Senopati Blambangan yang berusaha mengejar dan menangkap kedua tokoh dari Mataram itu ternyata sia-sia. Dalam pelarian tersebut, Mas Jolang berhasil menyelinap dan bersembunyi di Tamansari. Di dalam tamansari itu Mas Jolang bertemu dengan Putri Sedah Merah yang akhirnya keduanya saling jatuh cinta, Kendati demikian ulah kesatria Maratam bersama putri Blambangan itu diketahui oleh keluarga istana, yang kemudian mas Jolang ditangkap, namun karena permohonannya Sang putri kepada raja, sehingga Prabu Siung Laut terpaksa merestui pernikahan Mas Jolang dengan putri Sedah Merah.

Dalam pelariannya Ki Juru Martani menuju ke arah Selatan sambil berteriak-teriak dan memanggil-manggil (bhs. Jawa: celuk-celuk), namun tidak ada jawaban, sedang usahanya mencapai Mas Jolang tidak berhasil. Menurut kisahnya, tempat Ki Juru Martani berteriak-teriak memanggil Mas Jolang itu dinamakan Desa Benculuk (sekarang termasuk wilayah Kecamatan Cluring, Banyuwangi). Sementara itu Patih Jatasura dalam mengejar musuh yang didampingi oleh salah seorang putra raja, yakni Mas Kembar. Untuk menjalankan tugasnya, secara tiba-tiba putra raja itu meninggal dunia. Hal itu menyebabkan Prabu Siung Laut sangat sedih, yang akhirnya terkena sakit ingatan (setengah gila).

Setelah Prabu Siung Laut sakit ingatan dan Mas Kembar mangkat, kesempatan itu akan dipergunakan Patih Jatasura untuk mempersunting Putri. Sedah Merah, karena Prabu Siung Laut pernah menjanjikan akan menjodohkan Patih Jatasura dengan putri Sedah Merah. Dalam hal ini Patih Jatasura segera masuk ke tamansari untuk menemui putri idaman hatinya. Betapa kecewa dan marahnya setelah menyaksikan dan mengetahui bahwa Putri Sedah Merah ternyata telah dipersunting oleh Mas Jolang yang tak lain adalah bekas musuh ayahanda raja. Dengan kemarahan yang meluap-luap Patih Jatasura menyerang dan berhasil membunuh Putri Sedah Merah. Sedangkan Mas Jolang berhasil menye­lamatkan diri bersama putranya (hasil perkawinannya dengan Putri Sedah Merah).

Patih Jatasura setelah membunuh Putri Sedah Merah menuju ke Asembagus menemui Hario Bendung dan membuat fitnah bahwa Putri Sedah Merah dibunuh oleh prajurit Mataram. Mendengar kematian Putri Sedah Merah, Adipati Asembagus naik pitam dan segera mengerahkan pasukannya bergerak menuju Blambangan guna menuntut balas atas kematian Putri Sedah Merah kepada prajurit Mataram. Pada waktu itu Hario Bendung bertemu dengan Ki Juru Martani dan Ki Juru Martani menceritakan duduk persoalan yang sebenarnya bahwa yang membunuh Putri Sedah Merah adalah Patih Jatasura yang tak lain kakak Hario Bendung sendiri. Di samping itu Ki Juru Martani juga memberi tahu bahwa Hario Bendung sebenarnya masih putra keponakan Ki Juru Martani sendiri.

Setelah mendengar dan mengerti duduk persoalan yang sebenarnya dari pamannya dan menyadari kenyataan itu Hario Bendung berbalik meluapkan amarahnya kepada kakaknya, yakni Ki Patih Jatasura. Sang Adipati kemudian bertekat untuk menghukum Ki Patih atas kekejamannya terhadap Putri Sedah Merah. Sedangkan pada saat Patih Jatasura ditemui Hario Bendung, Ki Patih Blambangan itu sedang memperkosa dan membunuh istri pamannya (Ki Juru Martani). Menyaksikan kenyataan itu Hario Bendung semakin meluapkan amarahnya dan terpaksa menghabisi nyawa kakaknya, yakni Ki Patih Jatasura).

Kelanjutan cerita tersebut, mengisahkan bahwa antara Mas Jolang, Ki Juru Martani dan Hario Bendung ternyata saling menjaga hubungan yang cukup baik, bahkan putra Mas Jolang dijadikan menantu dan dijodohkan, dengan salah seorang putri Hario Bendung. Dengan demikian terjadilah jembatan untuk membina perdamaian antara Kesultanan, Mataram dan Kerajaan Blambangan, Mulai saat itu antara Kesultanan Mataram yang berpusat di Jawa Tengah dan Kerajaan Blambangan yang berpusat di Jawa Timur terus bahu-membahu dan saling bekerja sama dalam mengatur pemerintahan serta membina rakyatnya.

Sebenarnya dongeng rakyat Blambangan, yakni Putri Sedah Merah dapat digolongkan sebagai “Roman Sejarah”. Hal ini mengingat di samping sebagaimana diketengahkan di muka bahwa dongeng rakyat Putri Sedah Merah itu dihubung-hubungkan dengan peristiwa di bumi Mataram, juga hubungan Putri Sedah Merah dengan Mas Jolang putra Mahkota Kesultanan Mataram ternyata merupakan hubungan asmara (percintaan).

Perihal roman sejarah sebenarnya merupakan gabungan ceritera historis yang sebenarnya (faktual) dan ceritera rekaan (dongeng rakyat). Dalam hal ini seyogyanya dipilah-pilahkan mana yang ceritera historis dan mana yang ceritera non historis, karena ceritera historis (faktual) memungkinkan sekali dijadikan sebagai pedoman untuk menetapkan sesuai hal yang penting, sedangkan yang non historis (dongeng rakyat) sebagaimana tersebut di atas pula hanya berfungsi sebagai hiburan atau pelipur lara.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Tri Asih Rahayu, Spd, Gema Blambangan, Majalah Pemerintah Kabupaten Dati II Banyuwangi, 
GB No. 069/1997. Banyuwangi: Humas Pemerintah Kabupaten Dati II Banyuwangi, 1997. hlm. 43-45.

Musik Banyuwangi

Musik Banyuwangi Antara Jawa dan Bali

Lho, ini kan Bali! Tapi… Jawa-nya juga ada! itulah barangkali gumam orang yang kali pertama mendengarkan musik (baca: musik tradisional) Banyuwangi yang kemudian akan menyimpulkannya: Ya Bali, ya Jawa.

Kenyataannya memang posisi dua etnis itulah pemberi corak kelahiran nuansa musik khas Banyuwangi. Irama dua etnis yang berbeda saling bergayut, kemudian mengakar pa­da satu rumpun: Jawa dan Bali.

Sutedjo Hadi, musisi tradisional Banyu­wangi menuturkan pengalamannya ketika mengikuti tim kesenian Jatim yang mewakili In­donesia pada Festival Kesenian Rakyat Asia ke-4 di Hongkong beberapa tahun lalu. Ketika musik Banyuwangi di tampilkan, semula ba­nyak yang menyangka musik itu adalah musik Bali. Ternyata, mereka yang mengenai betul musik Bali, lalu bertanya-tanya: Musik apakah ini?

Di sinilah soalnya. Musik Banyuwangi se­belum disimpulkan memang perlu meneliti keberadaannya yang dikailkan dengan latar bela­kang sejarahnya.

Dari beberapa keterangan yang dikum­pulkan, disebutkan kelahiran musik Banyuwa­ngi ini jika diukur jarak waktunya, tergolong muda. Dan pertumbuhannya diperkirakan menjelang ahad ke-19 berakhir. Disebutkan pula bahwa berbagai faktor banyak mempengaruhi kelahiran musik Banyuwangi.

Faktor geografis, jelas Banyuwangi yang berada di Jawa tak akan lepas dari urat antropologis Jawa. Di sisi lain, karena dekat dengan Bali, akan mudah tersentuh oleh tata budaya tetangganya itu.

Faktor sejarah, sejak masa lampau Banyu­wangi memiliki ikatan tradisi dengan Bali. Menurut penelitian, tradisi itu juga diikat secara politis. Sejarah mencatat, zaman kerajaan Blambangan, dan Macanputih, Banyuwangi merupakan protektorat Bali, sehingga bagaimana pun Bali memberikan nuansa pada tata budaya Banyuwangi.

Namun, kesatuan etnis dengan Jawa me­nyebabkan Bali lak sepenuhnya merebut tata budaya Banyuwangi. Jawa tak bisa ditinggal­kan. Yang terjadi: Akulturasi Budaya.

Sedang kaitannya dengan politik masa lampau tersebut, tak menyebabkan terjadinya betot-membetot pada kesatuan budaya tadi. Ini terlihat pada jenis nada musiknya. Bali adalah pelok, sedang Banyuwangi slendro.

Musik Banyuwangi mempunyai guru lagu. Ini bisa disimak pada gending-gending Gandrung (baca : Gandrung Banyuwangi), Angklung, Kuntulan, dan Damarulan.

Sedang musik sebagai iringan pada seblang – upacara sakral bersih desa terdengar sekali kebersahajaan dan kesederhanaannya, namun musik yang dilantunkan tetap laras dan indah. Ada kemungkinan, musik inilah sebagai pemula musik Banyuwangi.

Musik pada sajian Gandrung, nadanya sa­ngat khas. Peralatannya ijiusik untuk mengi­ringi tarian Gandrung, pada mulanya hanya berupa kendang, kluncing (triangel), dan gong, serta ditambah gamelan bernama saron. Sejak tahun 1920-an, seorang Belanda pemilik perke­bunan di Tamansari, Kec. Glagah, menamba­hinya dengan dua biola yang sampai saat ini letap dipergunakan.

Patanah, seorang bekas penari Gandrung tahun 1920-an yang bertempat tinggal di Desa Singojuruh, Kec. Singojuruh, pernah menjelas­kan, grup kesenian Gandrung yang diikutinya selalu menggunakan rebab bualan sendiri. Rebab yang terbuat dari kayu dengan dawai dari kawal halus itu memiliki tinggi sekitar 1,25 me­ter.

Dengan masuknya biola, kemudian saron tak digunakan lagi. Perkembangan berikutnya dan sampai kini, peralatan musik Gandrung adalah dua biola, satu kendang, satu kluncing, dan satu gong besar.

Musik Gandrung sangat institiktif. Jika orang mendengarnya, tak terasa akan menggerakkan indranya mengikuti irama musik itu. Kesenian Gandrung cukup dikenal, bahkan su­dah beberapa kuli tampil di mancanegara. Tak heran jika kemudian menjadi identitas Banyuwangi. “Ingat Banyuwangi, ingat Gandrung”  atau “Ingat Gandrung, ingat Banyuwangi”. De­mikian orang luar Banyuwangi berujar, walau sebenarnya Bali dan Lombok juga memiliki kesenian bernama Gandrung.

Musik angklung Banyuwangi terbuat dari bilah-bilah bambu. Dulunya, tak dilengkapi dengan instrumen dari logam seperti sekarang ini. Jenisnya bermacam-macam. Ada Angklung, Paglak, Angklung Caruk, Angklung Tetak, Angklung Dwilaras, dan Angklung Blambangan.

Pada mulanya, angklung didendangkan orang di dangau tengah sawah sembari menunggui padi yang menguning. Tak jarang pula di­iringi dengan seruling yang melahirkan nada- nada sentimentil. Jenis angklung inilah yang disebut Angklung Paglak.

Tahun 1920-an, Kik Druning yang konon berasal dari Bali, bertempat tinggal di kam­pung Bali (sekarang ikut Kel. Penganjuran, Kec. Banyuwangi) adalah orang yang berjasa mengembangkan keberadaan angklung Banyu­wangi dengan menambah beberapa instrumen musik Bali, seperti slentem, saron, peking, ke­tuk, dan gong.

Eksperimental yang dilakukan Kik Dru­ning ketika itu, dapat dengan cepat diterima masyarakat Banyuwangi. Kreasi Kik Druning yang semula disebut Bali-balian inilah yang menjadi cikal bakal angklung Banyuwangi yang sekarang ini.

Pengembangan angklung Banyuwangi se­cara inovatif yang dikembangkan dengan perkembangan musik modern, menurut budaya­wan Hasan Ali, tidak mengalami kesulitan, se­bab, susunan intervalnya pada setiap wilah atau bilah sangat memungkinkan sekali. Delapan bilah susunan angklung Banyu­wangi adalah A, C, D, C, G. A, C, D maka oktavnya A, C, D, C, G, A. Dengan demikian, misalnya bilahnya ditambah sampai 12 bilah atau lebih, akan menguntungkan. Keuntungan­nya, kata ketua Dewan Kesenian Blambangan dan mantan Kabag Kesra Pemkab Banyuwangi itu, adalah pentatoniknya lebih tepat. Keka­yaan variasi lebih menonjol, dan jika satu nada tidak cocok akan mudah mencocokkan dengan nada yang lain.

Ada pendapat, musik Banyuwangi asalnya dari gatuk matuk. Satu alat musik dipertemukan dengan alat musik lainnya, dicocok-co­cokkan, gatuk, lahirlah satu komposisi musik yang sebenarnya aturan musiknya belum ada standarnya.

Ini terlihat dengan masuknya biola pada musik Gandrung, toh matuk juga. Demikian pu­la dengan musik yang belakangan ini berkem­bang, yakni Kendang Kempul. Alat musik tradisional Banyuwangi ditambah dengan alat mu­sik elektrik seperti gitar, organ, bahkan elektone, melahirkan bunyi tren dangdut.

Musik Banyuwangi ilu luwes ketika di­kawinkan dengan irama Hadrah Kuntulan vang kemudian melahirkan dendang Kundaran (Kuntulan Dadaran). Demikian juga pada musik Damarulan yang didominasi Bali, musik Banyuwangi menyusup dan bisa diterima teli­nga siapa saja.

Alhasil, musik Banyuwangi punya berba­gai komposisi yang dengan mulus bisa diterima dan berkembang. Masalahnya sekarang adalah bagaimana ekosistensi yang luwes itu bisa ber­lahan dan lerus mewaris pada generasi demi generasi, seria mampu pula hidup pada ber­bagai zaman? Tenlu ini berpulang kembali ke­pada masyarakat pemiliknya!.**

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Pomo Murtadi, Gema Blambangan, Majalah Pemerintah Kabupaten Dati II Banyuwangi. GB. No. 052/1995. Banyuwangi: Humas Pemerintah Kabupaten Dati II Banyuwangi, 1995. hlm. 41-44.

Musik Patrol Banyuwangi

Tentang Musik Patrol Surabaya Melirik Banyuwangi
Bagaimana di Banyuwangi Sendiri

Bulan Romadhon tahun ini (1417 H) bisa dikatakan Bulan Patrol di Banyuwangi. Bertempat di Shaba Swagata Blambangan Jl. Sritanjung 1, hampir sebulan penuh sejak tanggal 13/1 – 7/2 1997 digelar Lomba Patrol Kreatif. Pada tanggal 1-2-1997 Banyuwangi mengirimkan 5 grup patrol andalan ke Surabaya mengikuti Festifal Musik Patrol Memorandum (FMPM) IV’97. 3 grup diantaranya berhasil merebut 3 buah tropi dari 6 buah tropi yang disediakan, sebagai juara I, II dan Harapan 1. Dan pada hari yang sama mengirim 1 grup patrol ke Sidoarjo untuk mengikuti Lomba Musik Sahur yang diselenggarakan oleh DPD Golongan Karya Tk. I Jatim, berhasil masuk nominasi. Pada tanggal 8 Februari 1997, lebih dari 100 orang pemusik patrol dan kuntulan mengikuti Takbir Akbar di Surabaya yang diselenggarakan oleh Pangdam V/Brawijaya, di Banyuwangi sendiri pada malam itu juga, grup-grup patrol Kecamatan Banyuwangi ikut menyemarakkan Malam Takbiran menyusuri Jl. A. Yani, Jl. Sudirman dan Jl. Sritanjung (Finish di Pendopo Banyuwangi).

Berbicara tentang Musik Patrol, Musik Patrol dari Banyuwangi diacungi jempol, dikagumi para pemusik patrol daerah lainnya di Jatim, baik alat musik yang unik maupun para pemainnya yang terampil. Hal ini juga pernah disinggung oleh Bupati Banyuwangi ketika beliau memberikan pengarahan pada acara Lomba Patrol Kreatif di Pendopo, bahwa Gubernur Jatim, HM. Basofi Sudirman mengucapkan salut kepada pemusik Patrol Banyuwangi, beliau berpesan agar musik patrol Banyuwangi dilestarikan dan dikembangkan. Memang, rupanya musik patrol Banyuwangi mulai di ‘lirik’ oleh Panitia Lomba/Festival Musik Patrol Memorandum, salah satu Lomba musik Patrol bergengsi di Jatim.

Pada Lomba Musik Patrol (LMPM) I ’94 Banyuwangi belum mengikuti, sejak LMPM II ’95, LMPM III ’96 dan FMPM IV ’97 Banyuwangi selalu tampil dan menjadi juaranya. Pada LMPM II ’95 Banyuwangi Putra Kel. Temenggungan sebagai Juara I dan Pemusik Patrol dari Kel. Kertosari yang ‘diambil’ sebuah Perusahaan di Surabaya sebagai Juara II, pada saat itu panitia menentukan setiap grup terdiri dari 5 pemain dan mengharuskan minimal 2 buah musik dari bambu. Pada LMPM III ’96, Banyuwangi mengirimkan 10 grup. Karena persyaratan peralatan dan pemain tetap seperti LMPM II ’95 Grup dari Banyuwangi rata-rata menggunakan angklung dan atau seruling, padahal di Banyuwangi kedua alat musik tersebut tidak termasuk alat musik patrol. Tiga grup dari Banyuwangi berhasil menjadi juara, yaitu Juara I Grup Banyuwangi Putra Kel. Temenggungan, Juara III Pahlawan Bangsa dari Kel. Lateng dan Sayu Gringsing dari Kel. Kampung Melayu sebagai Juara Favorit. Dan sebagaimana telah disebut di atas, bahwa pada FMPM IV ’97 dari 6 buah tropi yang disediakan panitia 3 buah direbut grup dari Banyuwangi, yaitu Kangkung Setingkes dan Gajah Uling masing-masing dari Kel. Kampung Melayu sebagai juara I dan II, Juara Harapan I diraih Sayu Gringsing dari kel. Kampung Melayu. Yang perlu dicatat disini, bahwa Panitia FMPM VI ’97 menentukan pemain dalam satu grup yang berjumlah 7-10 orang dan alat musik dari bambu dan kayu, tidak diperkenankan mengggunakan gitar, seruling, dan angklung, disinilah dasar, bahwa panitia mulai melirik musik patrol Banyuwangi, bukankah persyaratan-persyaratan panitia diatas adalah ‘pas’ sebagaimana keberadaan Musik Patrol Banyuwangi?

Tentunya kita telah mengetahui, ada batasan yang jelas diantara musik tradisional di Banyuwangi, seperti musik patrol (terdiri dari dundung atau tretek, utuk-utuk atau trutuk dan gong bambu), musik angklung (terdiri dari angklung,selentem, saren, peking, kendang dan gong besi), dan musik gandrung (terdiri atas biola, ketuk-keneng, klurtcing, kendang, dan gong besi).

Bila ada Lomba Festival di Banyuwangi, ada yang menggunakan angklung biola atau misalnya, maka peserta yang lain akan mengadakan protes terhadap penyimpangan tersebut. Tempo doeloe, yang namanya patrol di Banyuwangi, alatnya terdiri dari ‘wilah-wilah’ bambu yang diraut sedemikian rupa sehingga menimbulkan bunyi yang dimaui pembuatnya bila dipukul.

Setiap orang memainkan satu wilah saja. Sehingga pemain petrol tempo doeloe banyak, paling sedikit 10 orang, bisa 15, 20 dan seterusnya. Perkembangan selanjutnya, mulai Lomba musik patrol pertama tahun 1972 untuk merampingkan pemain yang banyak tadi, wilah-wilah tadi dikemas, dirangkai .dalam sebuah ‘ancak’ yang besar kecilanya disesuaikan dengan wilah-wilah tersebut. Satu ancak berisi 2,3 paling banyak 4 wilah. Penabuh gong yang asalnya 2,3 orang, dengan model ancak tadi bisa dikuasakan pada seorang penabuh saja. Sehingga dalam tahap perkembangan ini jumlah personil musik patrol bisa dirampingkan/disederhana­kan menjadi hanya7 – 10 orangsaja.

Bagaimana sikap kita sekarang dengan adanya ‘lirikan-lirikan’ dari pemusi-pemusik patrol luar daerah. Tentunya kita harus bertahan pada batasan yang sudah jelas yang disebut terdahulu. Mari kita laksa­nakan anjuran beliau-beliau untuk melestarikan dan mengembangkan musik patrol Banyuwangi ini.

Upaya pelestarian musik patrol Banyuwangi dirasa cukup gigih. Hal ini dilakukan dengan penyelenggaraan lomba patrol setiap tahunnya. Pernah pada suatu Lomba Patrol amat sedikit pesertanya, penyebabnya karena yang menjadi juara hanya ‘itu-itu’ saja, bahkan ada tercetus kata: Juara Langganan.

Untuk mengatasi hal ini, diselenggarakan Festifal PatroldisampingLombaPatrol. Dalam Lomba Patrol ditentukan 10 grup nominasi dan berhak mengikuti Festifal Patrol tahun berikutnya. Sehingga setiap tahunnya akan bergantian juaranya. Dengan sistem lomba dan Festifal inipun masih ada kendalanya, yaitu Grup-Grup Patrol Lomba diluar Kecamatan Banyuwangi sulit masuk baik sebagai nominasi maupun sebagai juara. Kemudian tahun 1996 diselenggarakan Lomba Patrol di tiap-tiap Wilker Pembantu bupati, dan pada tahun 1997 digelar Lomba Patrol Kreatif yang pesetanya dari kecamatan Banyuwangi dan Grup Patrol Unggulan masing-masing Pembantu Bupati di Bany­uwangi.

Pada Lomba ini banyak ditentukan juaranya, seperti Juara Kreativ, Aktraktiv, Harmonis, Juara I, II, III,Harapan I, II, II. Grup patrol Unggulan Pembantu Bupati se Kabupaten Banyuwangi mendapatkan penghargaan tersendiri, demikian juga Grup Patrol -Aktiv dan para vokalis mendapatkan penghargaan dan hadiah. Rupanya penentuan kejuaraan seperti diatas dapat mereda suar sumbang yang biasanya muncul setelah pengumuman kejuaraan. Untuk pengembangan musik patrol Banyuwangi sangatlah memprihatinkan. Pada tahun 1996,pada Lomba Patrol se Wilker Pembantu Bupati Banyuwangi, panitia menentukan persyaratan pemain dalam satu Grup hanya 5 pemain saja. Rupanya p? aitia berkiblat pada penyelenggaraan Lomb; V,?sik Patrol Memorandum III ’96, yan seharusnya Memorandum berkiblat pada kita. Sehingga untuk mencapai keharmonisan, banyak grup yang menggunakan angklung dan ‘seruling padahal kedua alat tersebut tidak termasuk musik patrol. Dan pada Lomba Patrol Kreatif 1997, ada ketentuan tahun sebelumnya, 2,3 maksimal 4 wilah.

Disini panitia perlu ada ketegasan, agar ditahun-tahun yang akan datang tidak berkembang seorang pemain boleh membawa 6,7 dan seterusnya. Panitia FMPM IV ’97 sudah berani tegas, menentukan angklung dan seruling tidak diperbolehkan, kenapa kita tidak? Kiranya pengembangan Musik Patrol tidak perlu merubah batasan yang jelas, yang terpenting pengembangan mengarah kepada kreasi musik, tehnik pukulan, mungkin bentuk ancak dan hiasan­nya. Yang perlu menjadikan catatannya, bahwa musik patrol Banyuwangi menjadi barometer dari daerah lain di Jatim, untuk itu jangan ‘goyah’.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Sidomuljo S. Sos,  Kaur Pemerintahan Kel. Temenggungan. Gema Blambangan, Majalah Pemerintah Kabupaten Dati II Banyuwangi, 
GB. No. 070/1997. Banyuwangi: Humas Pemerintah Kabupaten Dati II Banyuwangi, 1997. hlm.35-37.

Batik Mangrove

Masyarakat kampung Wonorejo Kecamatan Rungkut Surabaya, patut diacungi dua jempol, sebab kampung ini warganya sangat kreatif dalam memanfaatkan apapun yang ada disekitar  wilayahnya yang berada di pesisir Surabaya sebagai dasar kreasinya, antara lain tumbuhan mangrove dan kepiting rajungan.

Berbagai  Kreasi warga mangrove yang menghiasi tepian pantai timur Surabaya tersebut, ada beberapa warga yang memanfaatkan tumbuhan mangrove untuk membuat olahan dari buah mangrove menjadi beragam kue, seperti jenang, roti, tart dan bubur, juga ada sebahagian warga yang mengolah buah  mangrove untuk menjadikannya sirup.

Sebagian warga berinspirasi memanfaatkan, biota di sekitarnya menjadi bahan makanan seperti kepiting rajungan yang diolah menjadi kerupuk. Banyak bahan-bahan yang selama ini nampak tak berguna, namun tidak bagi warga Wonorejo bahan bahan yang semula tidak brguna, berhasil dikreasi menjadi beragam olahan yang bernilai ekonomis.

Tak hanya itu, hutan mangrove juga berhasil dimanfaatkan oleh warga setempat sebagai dasar motif batik yang menarik. Ibu-ibu warga Wonorejo yang berkreasi membuat batik dalam beragam bentuk dan modifikasinya. Di Wonorejo sendiri setidaknya ada 12 pembatik.  Ibu-ibu warga Wonorejo membatik hanya berdasar kemauan. Namun justru mereka tak henti melakukan eksperimen untuk berkreasi, sehingga pengembangannya  Nampak nyata. Kini batik mangrove sudah menghiasi berbagai bentuk perlengkapan, seperti taplak meja, sarung bantal, hingg aneka pakaian. Karena motif dasarnya mangrove dengan segala biotanya, batik tersebut disebut batik mangrove.

Dan kampung Wonorejo terutama di RW 07 itupun dinobatkan sebagai kampung batik mangrove. Berkali-kali kunjungan wisatawan maupun pemerintahan selalu diarahkan ke kampung  ini. Selain ingin mengetahui proses membatik mangrove, wisatawan juga tertarik untuk membeli dan mencoba memasarkannya ke luar kota.

Kerap kali rumah para pembatik  menjadi tempat jujugan wisatawan. Pada rumah salah satu penggeraknya ada yang memang didisplay batik mangrove dalam berbagai bentuknya. Menurut, salah satu pembatik mangrove, mereka membatik di sela-sela kesibukan sehari-hari sebagai ibu rumah tangga atau pekerja, tidak ada waktu khusus. Bahkan tidak ada pertemuan rutin untuk kumpul bersama. Namun diam-diam mereka telah menghasilkan beragam produk batik mangrove yang siap untuk dipasarkan.

Batik hasil kreasi ibu-ibu warga Wonorejo itu pun diberi label “Batik Seru” (Batik Mangrove Rungkut Surabaya). Batik mangrove sudah dikonsumsi para pejabat baik dilingkungan Dinas Provinsi Jawatimur maupun Dinas pemerintahan Kota dan Kabupaten di Jawatimur. Sehingga  batik mangrove terkenal ke berbagai wilayah di Jawatimur dan sekitarnya. Bahkan oleh Dinas Koperasi, batik mangrove sudah pernah di perkenalkan ke Singapura untuk menjajaki pasar di negara merlion itu.

Di tingkat lokal, batik mangrove juga bisa ditemui di semua pusat perbelanjaan di Surabaya. Ke depan, tambahnya, pihak-pihak terkait juga mulai melakukan penjajakan ke berbagai mal/plaza yang lain kota-kota besar di luar Surabaya di Indonesia. Wku DW

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur Wku DW

Riwayat Singkat Lahirnya Kabupaten Jember

Berdasarkan Staatsblad Nomor: 322 tanggal 9 Agustus 1928 yang mulai berlaku tanggal 1 Januari 1929 sebagai dasar hukum, maka Pemerintah Hindia Belinda telah mengeluarkan ketentuan tentang penataan kembali pemerintahan desentralisasi di Wilayah Propinsi Jawa Timur, antara lain dengan menunjuk REGENSCHAP DJEMBER sebagai masyarakat kesatuan hukum yang berdiri sendiri. Secara resmi ketentuan tersebut diterbitkan oleh Sekretaris Umum Pemerintah Hindia Belanda (De Aglemeene Secretaris) G.R. Erdbrink, pada tanggal 21 Agustus 1928.

Mempelajari konsideran Staatsblad Nomor 322 tersebut, diperoleh data yang menunjukkan bahwa Kabupaten Jember menjadi kesatuan masyarakat yang berdiri sendiri dilandasi 2 macam pertimbangan, yaitu:

1. Pertimbangan Yuridis Konstitusional.

Yaitu dengan menunjuk pada Indeche Staatsegeling (IS), suatu Undang Undang Pokok vang berlaku bagi negara jajahan Wilayah Hindia Belanda khususnva pasal 112 ayat pertama.

2. Pertimbangan Politis Sosiologi.

Yaitu dengan mendengarkan persidangan antara Pemerintah Hindia Belanda dalam menentukan kebijaksanaannya, memanfaatkan tokoh-tokoh masyarakat setempat. Hal ini bisa dibuktikan bahwa dari 33 anggota persidangan yang diketuai oleh Bupati pada waktu itu (Noto Hadinegoro), 24 diantaranya adalah orang-orang pribumi.

Yang unik dan menarik lagi adalah, Pemerintah Regenschap Jember diberi beban pelunasan hutang-hutang berikut bunganya sepanjang menyangkut tanggungan Regenschap Jember. Dari artikel ini dapat dipahami bahwa dalam pengertian masyarakat hukum yang berdiri sendiri, tersirat adanya hak untuk mengatur rumah tangganya sendiri.

Sebutan regenschap atau Kabupaten sebagai wilayah administratif serta sebutan regent atau Bupati sebagai Kepala Wilayah Kabupaten, diatur dalam artikel 7. Demikian juga pemisahan secara tegas antara Jember dan Bondowoso sebagai bagian dari wilayah yang lebih besar, yaitu Besuki dijelaskan pada artikel 7 ini.

Pada ayat 2 dan 4 artikel 7 ini disebutkan bahwa ayat 2 artikel 121 Ordonansi Propinsi Jawa Timur adalah landasan kekuatan bagi pembuatan Staatsblad tentang pembentukan Kabupaten-kabupaten di Jawa Timur.

Semua ketentuan yang dijabarkan dalam staatsblad ini dinyatakan berlaku mulai tanggal 1 Januari 1929, ini disebutkan pada artikel terakhir dari staatsblad ini. Hal inilah yang memberikan keyakinan kuat kepada kita bahwa secara hukum Kabupaten Jember dilahirkan pada tanggal 1 Januari 1929 dengan sebutan “REGENSCHAP DJEMBER”

Sebagaimana lazimnya sebuah peraturan perundang-undangan, supaya semua orang mengetahui maka ketentuan penataan kembali pemerintahan desentralisasi Wilayah Kabupaten Jember yang pada waktu itu disebut regenschap, dimuat juga dalam Lembaran Negara Pemerintah Hindia Belanda.

Selanjutnya perlu diketahui pula bahwa, Staatsblad Nomor: 322 tahun 1928 di atas ditetapkan di Cipanas oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda dengan suatu Surat Keputusan Nomor: IX tertanggal 9 Agustus 1928.

Pada perkembangannya dijumpai perubahan-perubahan sebagai berikut:

1. Pemerintah Regenschap Jember yang semula terbagi menjadi 7 Wilayah Distrik pada tanggal 1 Januari 1929 sejak berlakunya Staatsblad Nomor 46 tahun 1941 tanggal 1 Maret 1941 maka Wilayah Distrik dipecah-pecah menjadi 25 Onderdistrik, yaitu:

  • Distrik Jember, meliputi onderdistrik Jember, Wirolegi dan Arjasa;
  • Distrik Kalisat, meliputi onderdistrik Kalisat, Ledokombo, Sumberjambe dan Sukowono;
  • Distrik Rambipuji, meliputi onderdistrik Rambipuji, Panti, Mangli danjenggawah;
  • Distrik Mayang, meliputi onderdistrik Mayang, Silo, Mumbulsari dan Tempurejo;
  • Distrik Tanggul meliputi onderdistrik Tanggul, Sumberbaru dan Bangsalsari;
  • Distrik Puger, meliputi onderdistrik Puger, Kencong, Gumukmas dan Umbulsari;
  • Distrik Wuluhan, meliputi onderdistrik Wuluhan, Ambulu dan Balung.

2. Perkembangan perekonomian begitu pesat, meng­akibatkan timbulnya pusat-pusat perdagangan baru terutama perdagangan hasil-hasil pertanian, seperti padi, palawija dan lain-lain, sehingga bergeser pulalah pusat-pusat pemerintahan di tingkat distrik, seperti distrik Wuluhan ke Balung, sedangkan distrik Pueer bergeser ke Kencong.

3. Berdasarkan Undang Undang Nomor: 12 Tahun 1950 tentang Pemerintah Daerah Kabupaten di Jawa Timur, menetapkan pembentukan Daerah-daerah Kabupaten dalam lingkungan Propinsi Jawa Timur (dengan Perda) antara lain Daerah Kabupaten Jember ditetapkan menjadi Kabupaten Jember.

4. Dengan dasar Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1976 tanggal 19 April 1976, maka dibentuklah Wilayah Kota Jember dengan penataan wilavah- wilayah baru sebagai berikut:

  • Kecamatan Jember dihapus;
  • Dibentuk 3 kecamatan baru, masing-masing

Sumber-sari, Patrang dan Kaliwates, sedang Kecamatan Wirolegi menjadi Kecamatan Pakusari dan Kecamatan Mangli menjadi Kecamatan Sukorambi.

Bersamaan dengan pembentukan Kota Administratif Jember, Wilayah Kawedanan Jember bergeser pula dari Jember ke Arjasa yang wilayah kerjanya meliputi Arjasa, Pakusari dan Sukowono yang sebelumnya masuk Distrik Kalisat.

Dengan adanya perubahan-perubahan tersebut, pada perkembangan berikutnya maka secara administratif, Kabupaten Jember saat ini terbagi menjadi 7 Wilayah Pembantu Bupati, 1 Wilayah Kota Adminis-tratif dan 31 Kecamatan, yaitu:

–    Kota Administratif Jember, meliputi Kec. Kali­wates, Patrang dan Sumbersari;

–    Pembantu Bupati di Arjasa, meliputi Kec. Arjasa, Jelbuk, Pakusari dan Sukowono;

–    Pembantu Bupati di Kalisat, meliputi Kec. Ledok- ombo, Sumberjambe dan Kalisat;

–    Pembantu Bupati di Mayang, meliputi Kec. Mayang, Silo, Mumbulsari dan Tempurejo;

–    Pembantu Bupati di Rambipuji, meliputi Kec. Rambipuji, Panti, Sukorambi, Ajung dan Jenggawah;

–    Pembantu Bupati di Balung, meliputi Kec. Ambulu, Wuluhan dan Balung;

–    Pembantu Bupati di Kencong, meliputi Kec. Kencong, Jombang, Umbulsari, Gumukmas dan Puger;

–    Pembantu Bupati di Tanggul, meliputi Kec. Semboro, Tanggul, Bangsalsari dan Sumberbaru.

Namun dengan diberlakukannya Otonomi Daerah sejak tanggal 1 Januari 2001 sebagai tuntutan Undang Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, maka Pemerintah Kabupaten Jember juga telah melakukan penataan kelembagaan dan struktur organisasi, termasuk dihapusnya lembaga Pembantu Bupati yang kini menjadi Kantor Koordinasi Camat.

Sehingga dalam menjalankan roda pemerintahan di era Otonomi Daerah ini Pemerintah Kabupaten Jember dibantu 4 Kantor Koordinasi Camat, masing-masing:

  • Kantor Koordinasi Camat Jember Barat di Tanggul
  • Kantor Koordinasi Camat Jember Selatan di Balung
  • Kantor Koordinasi Camat Jember Tengah di Rambipuji.
  • Kantor Koordinasi Camat Jember Timur di Kalisat.

Sementara lembaga yang baru dibentuk berkaitan dengan Otonomi Daerah, meliputi 6 Badan, 21 Dinas dan 9 Kantor, sedang Sekretariat Daerah membawahi 10 Bagian.

Dengan mengacu pada kajian tersebut diatas, maka tepat pada Hari Jadi ke-72, Kabupaten Jember memasuki babak baru dalam sistem pemerintahan yaitu dari sistem sentralisasi ke sistem desentralisasi atau Otonomi Daerah, yang memiliki kewenangan penuh untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai keinginan dan aspirasi rakyatnya sesuai peraturan perundangan yang berlaku. mBah wH0

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari sumber koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur mBah wH0

Dharmawangsa

Kelanjutan kisah terdahulu, ternyata banyak raja-raja taklukan yang tidak bersedia mengakui kedaulatan Galuh Watu sebagai penerus syah kerajaan Mataram, yang telah musnah karena lahar Merapi. Oleh sebab itu raja Galuh Watu Shri Makutthawangsawardhana berkehendak akan menyatukan kembali para raja yang ingin terlepas dari kekuasaan Mataram Galuh Watu.

Sehubungan dengan itu, maka lamaran Shri Warmadewa raja Singhadwala dari Bali, yang ingin menikahkan putranya yang bernama Udhayana dengan putri Shri Maku tbawangsawardhana yang bernama Mahendradatta, diterima dengan senang hati.

Segeralah dilaksanakan upacara pernikahan atas kedua putra-putri raja tersebut. Watu selesai, temanten berdua diboyong ke keraton Singhadwala untuk dinobatkan sebagai raja di Bali. Shri baginda Makuthawangsawardhana sangat gembira mendengar bahwa putrinya telah dinobatkan sehagai raja di Singhadwala. Terasa agak longgar bebannya, sebab dapat dipastikan bahwa para raja di daerah timur tidak akan berusaha lepas dari kekuasaan Galuh Watu Mataram.

Mahendradbata – Udhayana, yang bernama Shri Erlangga. Pada waktu yang telah direncanakan, dilangsungkanlah pernikahan agung antara Shri Ishana Dharmapadni dengan Erlangga.Ternyata berlangsungnya pernikahan agung tersebut diterima dengan sakit hati oleh Shri Haji Wura Wari raja taklukan dari negeri Wura Wari Bang. Shri Haji W ura Wari merasa terhalangi maksudnya untuk mempersunting sekar kedaton. Hal itu berarti pula bahwa cita- citanya untuk menduduki singgasana Galuh Watudikelak kemudian hari juga gagal.

Oleh sebab itu. saat berlangsungnya pernikahan adalah saat yang tepat untuk membalas sakit hatinya. Lebih-lebih banyak para andalan yang ditugaskan ke negeri seberang lautan, maka tanpa pemberitahuan terlebih dahulu Shri Haji Wura Wuri dengan pasukannya menggempur kerajaan Mataram Galuh Watu. Shri Darmawangsa yang sama sekali tidak menduga datangnya musuh dari Wura Wuri, tidak siap menghadapi serangan yang demikian tiba-tiba. Pada akhirnya, karena jumlah pasukan penyerang jauh lebih banyak dibanding jumlah para pengawal istana, Shri Dharmawangsa pun gugur di medan laga.

Keraton Mataram Galuh Watu dibakar, sejauh mata memandang yang nampak adalah lautan api yang mengganas mengerikan memusnahkan segala tatanan kehidupan yang diatas bumi Galuh Watu. Hanya putra menantu raja Shri Erlangga dengan istrinya berhasil lolos dari kasatrian, masuk hutan belantara diiringi oleh seorang senopati kepercayaan yang bernama Mpu Narotama.

Demikianlah kisahnya apabila dirumuskan dalam untaian lagu dan tetembangan, Dhandanggula, Durma, Pangkur, Asmaradana.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: RM. Budi Udjianto, HN. Banjaran Kadiri, Kediri: Pemerintah Kota Kediri, 2008