Bangunan Peninggalan Jepang di Kabupaten Lumajang

Di Kabupaten Lumajang  terdapat terowongan yang sengaja dibangun untuk tempat pengintaian, persembunyian dan benteng pertahanan hingga menembus Pantai Selatan. Terowongan itu memiliki dinding dari beton yang cukup kuat, dengan tinggi dan lebar sekitar 5 meter dan panjang mencapai hampir 200 meter, sekaligus cerobong udara untuk sirkulasi.

Sepanjang 50 meter, dibangun jalan lori untuk mengangkut peralatan, tanah dan batu dari hasil penggalian. Sayangnya, pengerjaan proyek ini tidak dilanjutkan setelah terjadi longsor yang menewaskan ratusan romosha dan mengubur dua lori yang dipergunakan sebagai angkutan. Tanpa melakukan upaya penyelamatan, tentara Jepang meninggalkan begitu saja ratusan romusha di dalam terowongan.

Tidak jauh dari lokasi terowongan, Jepang juga membangun depo minyak dengan dua tangki solar yang ditanam di dalam tanah. Solar yang disimpan di depo ini biasanya diisi setiap seminggu sekali, dan diambil untuk keperluan kendaraan Jepang serta penerangan, karena pada waktu itu minyak tanah masih jarang ditemui.

Setiap harinya, rata-rata 20 romusha mati mengenaskan. Padahal pembangunan proyek pertahanan Gondoruso berjalan hampir 2 tahun lamanya. Proyek ini adalah proyek pembunuhan masal yang lebih tepat jika disebut dengan “Gondorusuh” akibat banyaknya korban yang meninggal dunia mengenaskan.

Sayangnya, saat ini terowongan maut tersebut telah tertutup oleh longsoran tanah setinggi 10 meter, sehingga tidak terlihat lagi sisanya. Sedangkan bendungan yang rencananya akan dipergunakan sebagai proyek PLTA, juga telah rusak terkena terjangan lahar Gunung Semeru ketika meletus tahun 1982.

Namun sejumlah bangunan lainnya masih terlihat puing- puingnya, dan tidak banyak dimanfaatkan oleh warga sekitar. Sisa bangunan yang masih ada seperti bekas tangki solar (depo minyak), rumah uang Jepang yang dipergunakan sebagai tempat penyimpanan uang tentara Jepang, dan barak tentara Jepang serta kediaman Komandan tentara Jepang di Pasirian, Kolonel Arakawa.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Kirana, Edisi 2011, Lumajang, 2011,0728 * wisata sejarah

Proyek PLTA di Pegunungan Gajah Mungkur, Kabupaten Lumajang

Sebenarnya di wilayah pegunungan Gajah Mungkur yang terletak diwilayah barat Pasirian ini akan dijadikan proyek raksasa Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) untuk kapasitas wilayah Jawa Timur. Dikenal dengan sebutan Jawa Dengki Jigiozok Semozok Gondoruso Pasirian. Lebih tepatnya, proyek ini dibangun di Desa Gondoruso Kecamatan Pasirian.

Memanfaatkan aliran sungai deras dan lebar, dibangun bendungan berkapasitas besar. Selain itu, di sekitar lokasi proyek PLTA Gondoruso ini, juga dibangun beberapa gedung penting lainnya, seperti barak, bunker, depo solar dan benteng pertahanan yang kuat. Bendungan Gajah Mungkur sebenarnya sudah hampir selesai pembangunannya pada tahun 1944, meskipun hanya dikerjakan dengan peralatan seadanya oleh romusha.

Namun karena jumlah korban romusha semakin meningkat dan persediaan pekerja dari berbagai daerah juga semakin sedikit, akhirnya proyek bendungan ini dihentikan dan dialihkan untuk pengerjaan bangunan yang lain. Di sekitar bendungan dibangun gudang-gudang besar dan barak-barak sederhana untuk romusha.

Ada juga bangunan untuk dapur umum serta balai pengobatan darurat untuk kepentingan pekerja. Jika ada pekerja yang terluka akibat reruntuhan batu atau terkena longsoran, hanya ditutupi atau dibebat dengan pelepah daun pisang saja. Sedangkan untuk menyembuhkan luka dari dalam, mereka hanya diobati dengan ramuan jamu tradisional, dari bahan yang mereka temukan di sekitar lokasi proyek. Sementara jatah makanan yang seharusnya dikosumsi 100 orang, terpaksa harus dibagi hingga 500 orang, dengan kualitas yang sangat memprihatinkan. Beruntung jika ada ikan asin sebagai lauk, namun yang seringkali diterima romusha adalah nasi jagung dan gaplek.

Kira-kira 2,5 km dari Gondoruso atau tepatnya di kaki lereng Gunung Gajah Mungkur, dibangun barak besar dan sejumlah bangunan militer lain, sebagaijmsat kegiatan militer Jepang. Bangunan permanen dengan kapasitas cukup luas dipergunakan untuk instalasi perkantoran, beberapa bangunan barak khusus untuk tentara PETA dan tentara Jepang, dengan penjagaan cukup ketat dari para kompetai.

Untuk memenuhi kebutuhan makanan dan minum, dibangun beberapa gudang sebagai tempat penyimpanan makanan dan senjata. Sedangkan untuk kebutuhan air bersih, romusha kembali dipekerjakan untuk membuat sumur besar sebanyak 3 buah, dengan diameter kurang lebih 3 meter dan kedalaman kurang lebih 50 meter. Tidak sedikit romuhsa tewas mengenaskan dalam pembuatan sumur ini, karena peralatan tidak memadahi dan lemahnya kondisi fisik

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Kirana, Edisi 2011, Lumajang, 2011,0727 * wisata sejarah

 

Jejak Kota di Bebatuan di Kabupaten Jember

Ada jejak-jejak usia kota Jember di bebatuan. Pemerintah Kabupaten menetapkan usia kota ini berdasarkan staatsblad nomor 322 tentang Bestuurshervorming, Decen-tralisastie, Regentschappen Oost Java, milik pemerintah kolonial Belanda. Pengesahnya adalah Gubernur Jenderal De Graeff. Di situ disebutkan, status Jember ditingkatkan dari afdeeling menjadi regentschap, per 1 Januari 1929. Regentschap setara dengan kabupaten. Inilah yang kemudian dijadikan acuan tanggal lahir Jember.

Namun dari bebatuan tua, kita tahu Jember berusia lebih tua daripada usia yang ditetapkan Belanda. Di Jember, situs-situs kuno dan sebagian di antaranya purbakala terletak di tujuh kecamatan, yakni Tanggul, Gumukmas, Wuluhan, Sukowono, Arjasa, Jelbuk, dan Mayang. Sebagian situs sudah diselamatkan dan disimpan di kantor Dinas Pendidikan Jember. Namun masih banyak yang tersebar di sawah, lahan milik warga, dan bahkan halaman kantor desa.

Di Kecamatan Arjasa. Sedikitnya, ada 15 buah batu kenong yang ditanam dalam tanah. Batu kenong ini adalah peninggalan sejarah dari zaman batu akhir, yang ditandai batu-batu besar. Batu ini berfungsi sebagai persembahan terhadap arwah leluhur.Dari situs prasasti Congapan yang berada di Desa Karangbayat, Kecamatan Sumberbaru, kita tahu kata:’tlah sanak pangilanku’yang artinya tahun 1088. Di Kitab Negara Kertagama, Jember adalah perlintasan turne (perjalanan) Hayam Wuruk ke daerah selatan. Kelurahan Mangli dulu juga kerajaan kecil dibawah Blambangan. Perang Sadeng yang termasyhur itu juga diperkirakan terjadi di daerah yang saat ini menjadi wilayah Kecamatan Balung. Di Balung hingga Kecamatan Semboro, ada temuan benteng tua. Jika ini menjadi acuan, maka usia Jember saat ini menca pai 923 tahun. Bandingkan dengan Surabaya yang berusia sekitar tujuh abad. Namun, tidak seperti Surabaya yang dipastikan tanggal berdirinya pada 31 Mei, masih sulit mengidentifikasi tanggal pasti lahirnya Jember. (*)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Purbakala 52

Pura Mandara Giri Semeru Agung

Konon, Pura Mandiri Giri Semeru Agung dikenal sebagai tempat sakral dan dituakan kerajaan – kerajaan Hindu Bali. Meskipun baru dibangun tahun 1986, keberadaanya menjadi perhatian umat Hindu dari berbagai tempat, khususnya penganut Hindu Bali. Makanya, tidak heran kalau tempat ini setiap tahunnya menyedot perhatian puluhan ribu orang yang datang untuk melakukan upacara – upacara keagamaan dan sekaligus melakukan kunjungan wisata ritual. Bangunan pura yang berada dilereng Gunung Semeru terlihat sangat artistik yang dilengkapi dengan kisi – kisi bangunan lainnya, seperti bale patok, bale gong, gedong simpen, bale kulkul, pendopo dan masih banyak yang lainya.

Ketika dibangun, Pura Mandara Giri bermula hanya berada diatas tanah pekarangan seluas 20 x 60 meter. Setelah 3 tahun kemudian, areal tanah berkembang menjadi dua hektar. Sehingga, bangunan pura yang semula nampak sederhana, kini, sudah berkembang megah. Menjaga senyawa bangunan, dan fungsinya, pura ini tak pernah sepi dari aktifitas keagamaan. Bermula dari upacara Pamlaspas Alit dan Mapulang Dasar Sarwa Sekar yang digelar pada Minggu manis, Wuku Menail, 8 Maret 1992, Pura ini mulai menjadi saksi digelarnya beberapa upacara suci.

Keadaan inilah yang menjadikan PuraMandagiri Semeru Agung, kini terus dipadati kegiatan keagamaan. Bahkan, pada hari – hari istimewa, pura ini bisa I mendatangkan pengunjung hingga 10 ribu lebih. Selain bertujuan untuk persembayangan, yang lainnya datang hanya untuk melihat prosesinya saja. Sangking melubernya pegunjung, mereka harus kesulitan mendapatkan penginapan. Rumah – rumah penduduk sekitar Pura, telah menyediakan jasa penginapan, selain hotel – hotel yang < ada di Lumajang, selalu penuh dengan tamu – tamunya. Teristimewa, puncak kunjungan wisata ini terjadi saat peringatan hari ulang tahun Pura yang 1 hampir satu bulan penuh, dipadati dengan berbagai kegiatan keagamaan.

Terkait dengan hari jadi Pura, tenti tidak terlepas dari sejarah pendiriannya.1 Masyarakat Hindu di Kecamatan Senduroj Lumajang, sejak tahun 1970 sudah ada gagasan untuk mendirikan Pura. Dengan modal semangat dan dukungan bersama, umat bersama para tokoh mempersiapkan semuanya. Terutama pada saat upacara Memendak Tirtha dan Mjejauman ke Gunung Semeru, digelar pada setiap tahun dalam bulan Juli yang selalu menampilkan tari-tarian daerah Bali. Yang pasti, Pura Mandagiri Semeru Agung, kini juga ditetapkan sebagai obyek Wisata Ritual (Keagamaan) yang dilakukan oleh Umat Hindu, terutama masyarakat Bali yang datang melakukan Berada di Kecamatan Senduro, letaknya sekitar 25 Km ke arah barat dari Kota Lumajang.

Untuk sampai ke lokasi Pura, dijangkau dengan mudah, karena akses jalannya sudah cukup baik. Bahkan, mampu mengakomodir rombongan puluhan Bus dari Bali yang datang untuk melakukan peribadatan. Hindu akhirnya berhasil mewujudkan gagasannya untuk mendirikan Pura ini, meskipun diawal hanya bangunan yang sederhana. Beberapa tokoh Hindu di Bali menyambut baik gagasan ini. Karena, umat Hindu Bali pernah mengadakan nuur tirta (pengambilan air suci) di Patirtaan Watu Kelosot, kaki Gunung Semeru, lalu dibawa ke Bali.

Prosesi ini menjadi bagian dari upacara agung karya „Ekadasa Rudra di Pura Agung Besakih, Bali, Maret 1963. Prosesi yang sama juga diulang pada tahun 1979. Eksistensi mata air suci Watu Kelosot pun makin kukuh. Sehingga, saat kebutuhan pura di Lumajang mulai berkembang i menjadi wacana, dukungan pun mulai i berdatangan. tu            Perjalanan yang panjang atas pendirian pura ini kemudian menjadi r0 alasan, mengapa hari jadi pura Mandara Giri Agung Semeru perlu dirayakan secara khusus. Mereka 1 yang terlibat dalam perayaan ini, juga rela menyiapkan waktu khusus untuk

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Kirana, Edisi 2011, Lumajang, 2011,07pesona lumajang16 *17 

 

 

Larung Sesaji Papuma, Tradisi Masyarakat Jember

Ini acara ritual tahunan. Namanya larung sesaji, dan Minggu siang itu (12/12/2011) digelar di Pantai Pasir Putih Malikan (Papuma). Ada keriuhan, ditingkahi wangi asap dupa, kemenyan. Sepotong kepala kambing dil- etakkan di atas miniatur kapal dan diarak bersama-sama menuju samudera. Para pengaraknya memakai pakaian adat Jawa, dengan iringan reog Singo Budoyo. Mereka memasuki pekarangan vihara, dan berhenti di salah satu ceruk tempat sesaji.

Ini Vihara Dewi Sri Wulan. Warnya didominasi merah, dengan menara bundar berkisi-kisi emas menjulang tinggi. Dalam ceruk, seekor singa dan bangau berdiri. Vihara ini konon dulu hanya sebuah gubuk kecil. Seorang dermawan yang tak  ingin dikenal membantu mempermegah vihara itu.

Lebih dari 30 orang bekerjasa- ma membangun vihara tersebut selama setahun. Vihara itu disebut-sebut sebagai Vihara Dewi Kwan Im terbesar dan satu- satunya yang menghadap laut selatan. Tak ada vihara lain yang memiliki keuni­kan ini. Satu-satunya di Asia Tenggara. Banyak orang yang datang dan beribadah di sini dan memberikan pemasukan yang besar. Bahkan ada pula turis manca neg­ara seperti Jerman, Iran, Israel dan Cina yang datang ke sini.

Di ceruk vihara itu, doa dilantunkan untuk sesaji, sebelum dibawa ke pantai. Di tengah pantai Papuma, sejumlah sesepuh dan pemimpin vihara men­dorong ‘kapal’ sesaji itu ke tengah laut. Sesaji itu adalah perwujudan rasa syukur masyarakat nelayan di selatan Jember, atas melimpahnya panen ikan tahun ini. Mereka berharap, panen ikan terjadi sepanjang tahun. Selamanya.

Larung sesaji juga lukisan harmoni masyarakat Jember selatan. Seniman, jag- awana, polisi, tokoh adat, tokoh agama, dan penjaga vihara, tumplek blek. Tahun lalu, barongsai menjadi seni tradisi yang dimainkan. Tahun ini, reog menjadi pi­lihan. Malam sebelumnya, wayang kulit sudah digelar, mendahului acara larung di siang itu.

Bagi sebagian kalangan, larung sesaji adalah perpaduan atau sinkretisme se­jumlah elemen agama: Islam, kejawen, Konghucu. Acara ini sudah lima kali digelar selama lima tahun terakhir.

Da­lam perkembangannya semakin banyak masyarakat dan wisatawan yang tertarik pada upacara ini. Tentu saja, ini aset wisata budaya yang unik dan menarik. Tak hanya mempromosikan keindahan, tapi juga makna kedamaian sebuah perbedaan dalam masyarakat yang be­ragam. (*)

Batik Lumajangan

Batik Lumajang memiliki corak yang tersendiri. Selain dari bahan bakunya yang amat sangat sempurna, karya seni batik Lumajangan dikerjakan secara kreatif dan teliti, serta diakui memiliki kekhasan tradisional Lumajangan.

Kini, pusat pengrajin batik di Kabupaten Lumajang tersebar pada beberapa kecamatan, mulai dari kecamatan Tempeh, kecamatan Kunir dan kecamatan Yosowilangun. Jumlah pemesanan ” batik Lumajangan “, dalam beberapa tahun terakhir cukup besar.

Selain memenuhi kebutuhan lokal, kini sudah memenuhi pasar nasional dan internasional. Batik Lumajangan, akan terus eksis seiring tinggginya kebutuhan pasar dan menjadi kebanggaan Lumajang melalui karya kreatif seni batik.

Batik Khas Lumajangan diantaranya “BATIK MAREM” beralamat  Jl. Mayjen Sukertiyo 213 Yosowilangun-Lumajang, batik  “SEKAR AGUNG” beralamat di  Jl. Krajan 1 RT. 03 RW. 1

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Kirana, Edisi 2011, Lumajang, 2011,07

Balapan Sapi di Kabupaten Jember

Sapi dan Bocah-Bocah Pembrani,

D i tengah deru debu, di sebuah lapangan di Desa Jatiroto Kecamatan Sumber baru, Kabupaten Jember. bocah-bocah itu berpacu menempuh jarak seratus meter. Kecepatannya bisa mencapai 60 kilometer per jam. Sama dengan kecepatan rata-rata sepeda motor di jalanan kota Mereka tidak menderu di atas kendaraan bermotor, melainkan mengendalikan sapi yang berlari kencang.

Inilah tradisi karapan sapi, selama ini orang lebih banyak mengenalnya sebagai tradisi di Pulau Madura. Karapan sapi atau adu balap sapi lebih dikenal sebagai bagian dari tradisi di Pulau Madura.

Namun, Bulan Berkunjung Jem ber menghadirkan tradisi itu di Jember. Karapan sapi boleh diartikan pacuan sapi, dan menjadi kebiasaan turun-menurun. Jember dikenal sebagai daerah Pendalungan, yang merupakan pertemuan dua etnis besar di Jawa Timur: Jawa dan Madura.

Dalam hal ini, karapan sapi menjadi relevan untuk dihadirkan. Warga Madura di Jember sudah terbiasa dengan karapan sapi. Menurut EF Joachim, peneliti Belanda, karapan sapi sudah menjadi permainan tradisional yang populer di Madura sejak sejak 1893.

Namun, saat itu sang juara adalah joki yang mampu menguasia pasangan sapinya. Sementara saat ini adalah adu lomba cepat menuju garis finish Yang menarik perhatian, tentu saja, adalah para joki anak-anak yang berusia 12-15 tahun. Tak ada yang menyangka mereka bisa ngebut, mengendalikan sapi, tanpa pengaman apapun. Tanpa helm.

Tanpa sepatu. Sebuah tantangan penuh risiko. Tantangan penuh nyali. Sebeluai berlaga, mereka bermain-main layaknya anak-anak pada Mereka meriung di tenda yang didirikan keluarga mereka di lokasi lapangan.

Ada yang makan dengan lahap di tengah terik mentari umumnya. Tidak ada persiapan khusus menjelang pertandingan. Tak ada yang tahu bagaimana keberanian itu bisa tumbuh. Orangtua mereka sebenarnya punya kecemasan.

Namun ini sebuah tradisi yang membuat mereka surut berpantang dan membiarkan anak- anak mereka memacu kecepatan di tengah sebuah lapangan, tanpa pengaman secuilpun. (*)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Majalah  Pariwisata Jember, hlm.36

Gempuran, Permainan Masyarakat Madura

Deskripsi Permainan

Gempuran adalah suatu permainan anak-anak yang artinya
menggempur atau menghancurkan. Menurut kamus bahasa Jawa,
kata gempur adalah “remuk ajur” atau dalam bahasa Indonesia

mempunyai makna usaha atau tindakan menghancur leburkan. Nama ini. jika dikaitkan dengan permainan mempunyai motivasi untuk menghancurkan tumpukan pecahan gerabah yang merupa­kan alat perlengkapan dari permainan.

Kaitannya dengan peristiwa lain baik upacara yang bersifat keagamaan atau pun upacara tradisional lainnya tidak ada. Per­mainan ini sifatnya hiburan dimana anak-anak melakukannya se­bagai suatu aktivitas untuk mengisi kekosongan waktu senggang baik siang hari mau pun sore hari misalnya pada waktu istirahat di sekolah atau sepulang dari sekolah dan setelah membantu orang tuanya. Permainan gempuran tidak diiringi dengan musik atau pun nyanyian-nyanyian apa pun. Jika terdengar suara bersiul-siul atau pun berasendelan, ge’lak tawa, sindiran dan ejekan teriakan, hal itu merupakan variasi dari para pemain untuk mengungkapkan cita rasa kegembiraan sehingga permainan tersebut menjadi lebih se­marak.

Jumlah para pelaku permainan tidak ditentukan, lebih banyak jumlahnya akan lebih serulah permainan ini. Biasanya permainan ini dilakukan oleh dua puluh orang, dan jumlah itu dibagi dua ke­lompok. Masing-masing kelompok sepuluh orang. Peserta permain­an ini adalah anak laki-laki yang berusia antara sembilan sampai dengan empat belas tahun. Permainan ini mudah dimainkan dan tidak memerlukan biaya, karena yang dibutuhkan hanyalah ke­kuatan fisik, kecerdikan, akal, ketrampilan dan mampu memper­kirakan.

Peralatan sebagai alat pelengkap dari permainan gempur sa­ngat sederhana, sesuai dengan kondisi alam yang dan latar bela­kang sosial budaya agraris, yakni beberapa keping pecahan gera­bah, tembikar atau kereweng yang jumlahnya sama dengan jumlah anak yang bermain. Alat ini harus cukup keras, dan kuat, serta ti­dak mudah pecah, serta dapat disusun dalam tumpukan yang ting­gi di atas tanah dalam keadaan labil.

Selain pecahan itu, diperlukan pula sebuah bola. Bola ini digu­nakan sebagai alat pelempar, yang terbuat dari sisa-sisa kain (per­ca) atau daun pisang kering yang digulung-gulung sampai berben- tuk semacam bola bergaris tengah sekitar sepuluh sentimeter. Ke­mudian dililit dengan tali temali sehingga bola itu tetap pejal dan utuh bentuknya. Atau dapat juga dibuat dari anyaman janur delih halaman yang luas atau suatu lapangan, “nilai” sebagai keme­nangan dinyatakan dengan hitungan suatu petak “sawah”.

Setelah semua peralatan yang diperlukan telah siap, dan jum­lah para pelalu telah mencukupi serta tempat untuk bermain telah disepakati pula maka permainan pun dapat dilakukan. Sebe­lum permainan dimulai terlebih dahulu dilakukan suatu konsensus berapa “sawah” yang harus dicapai oleh setiap kelompok dalam permainan ini. Misalnya ditentukan sejumlah “sawah lima”. Maka kelompok yang memperoleh “sawah lima” terlebih dahulu dinya­takan menang. Begitu pula peijanjian yang menyangkut jenis hu­kuman bagi kelompok yang dapat dikalahkan, misalnya kelom­pok yang kalah harus menggendong kelompok yang menang pada jarak kejauhan tertentu.

Apabila semua pemain telah sepakat, maka dibentuklah ke­lompok pemain. Dalam melakukan pemilihan kawan kelompok, mereka membanding-bandingkan sesama pemain agar dua orang yang berlawanan itu setidak-tidaknya yang sebaya, sama tinggi, sama kuat dan sama besar. Selanjutnya masing-masing pasangan melakukan “suten”. Pihak yang kalah suten bergabung dengan yang kalah, dan pihak yang menang bergabung dengan yang me­nang. Jika penentuan anggota kelompok bermain ini telah diten­tukan, kemudian mereka melakukan “suten” lagi untuk menentu­kan kelompok pemenang. Salah seorang sebagai wakil dari kelom­poknya melakukan suten kembali, untuk menentukan siapa yang menjadi besang dan siapa yang menjadi pelempar bola. Misalnya kelompok A yang menang sulten menjadi pelempar dan kelompok B yang kalah menjadi besang.

Pihak yang kalah (kelompok B), mengambil beberapa keping pecahan gerabah atau tembikar, dan menumpuknya dalam susunan labil di tengah lapangan permainan. Setelah itu, kemudian diten­tukan sebuah titik yang berjarak kurang lebih tiga sampai lima langkah dari tumpukan pecahan gerabah tadi. Dari titik inilah, ke­lompok pemenang (kelompok A) satu persatu melemparkan bola ke arah tumpukan gerabah tadi (lihat gambar).

Pihak yang kalah (kelompok B) berjaga di sekitar tumpukan gerabah, secara tersebar, merata, dengan perhitungan bahwa mere­ka siap menangkap bola sewaktu-waktu bola dilempar lawan. Ke­lompok yang menjaga inilah yang disebut besang. Kemudian pihak

yang menang .(kelompok A) bersiap-siap di sekitar titik lempar, lalu satu persatu melempar bola ke arah tumpukan gerabah dengan tujuan meruntuhkan dan menghancurkan. Setiap pelempar hanya berhak melempar sampai tiga kali. Bila si pelempar sampai tiga kali melempar belum juga berhasil menentukan tumpukan pecahan gerabah, maka tugasnya segera digantikan teman berikutnya. Dan jika seluruh anggota kelompok tidak ada satu pun berhasil, maka kelompok itu ganti berfungsi sebagai besang. Kelompok yang tadi berjaga (kelompok B) kini menjadi pelempar bola.

Sebaliknya apabila salah satu lemparan dari kelompok A me­ngenai sasaran, maka besang (kelompok B) harus secepatnya me­nangkap bola dan berusaha menembakkan bola ke arah tubuh la­wan (kelompok A si pelempar bola), atau melemparkannya pada temannya yang lain dari kelompok B. Maksudnya agar teman ter­sebut (kelompok B) segera melemparkan bola untuk “ditembak­kan” ke arah salah satu tubuh lawan (kelompok A si pelempar bo­la). Pembawa bola itu harus tetap berada di suatu tempat tertentu. Tetapi apabila tidak membawa bola, ia boleh mencari tempat yang strategis untuk siap menerima bola dan menembakkannya ke arah salah satu musuhnya yakni kelompok A.

Ada pun pihak pelempar bola (kelompok A) yang sekarang menjadi sasaran tembakan bola lawan (kelompok B), harus ber­usaha menghindar dari kemungkinan ditembak dengan bola.. Me­reka akan lari bercerai-berai menjauhi pemenang bola (anggota kelompok B). Ketika bola ditembakkan dan tidak mengenai tubuh salah, satu pemain lawannya (kelompok A), ada kalanya bola itu jauh terpelanting dan tidak tertangkap oleh si besang (kelompok B). Bila teijadi demikian maka si pemenang (kelompok A)harus berusaha menumpuk kembali pecahan gerabah yang porak poran- da tadi. Bila ini berhasil tanpa terkena tembakan bola, maka sece­patnya anak yang bersangkutan meneriakkan kemenangannya de­ngan kata “sawaaaahhh ….” Ini berarti kelompok pemenang (ke­lompok A) memperoleh satu nilai atau sawah satu. Dan permainan pun dimulai lagi seperti semula. Demikianlah seterusnya sampai salah satu kelompok mencapai “sawah lima” berdasarkan kese­pakatan bersama sebelum permainan dimulai. Jika ada kelompok yang memperoleh “sawah lima” terlebih dahulu, maka kelompok itulah yang dinyatakan menang.

Selanjutnya kelompok yang kalah harus dihukum, yakni meng­gendong kelompok yang menang pada jarak yang telah ditentu­kan sebelumnya. Demikianlah permainan tersebut biasanya ber­langsung lama, karena untuk mencapai “lima sawah” itu cukup sulit dan benar-benar memerlukan keija sama kelompok yang sebaik-baiknya.

Analisa

Gempuran merupakan permainan anak-anak yang sangat di­gemari oleh para penggemarnya, di mana sekelompok anak laki-laki dengan puasnya melempar rekan sepermainan dengan sebuah bola. Dan di tengah halaman rumah terlihat pecahan-pecahan tem­bikar atau kereweng yang berserakan. Dilihat dari peralatan yang mereka pergunakan, seperti halnya dengan pecahan tembikar, ke­reweng atau gerabah dan bola yang terbuat dari sisa-sisa kain per­ca atau pun dedaunan pisang kering yang digulung-gulung sampai berbentuk bola, maka dapat dipastikan bahwa permainan ini merupakan permainan anak-anak petani yang sangat sederhana.

Jika dilihat dari kata yang menjadi permainan gempuran itu sendiri sudah menunjukkan asal-usul permainan ini, karena kata gempur sering dipergunakan untuk menyebut suatu aktivitas menghancurkan atau meruntuhkan atau merobohkan. Menghan­curkan batu, cadas, tebing atau meruntuhkan bukit, tanggul, se­muanya dikatakan dengan kata “digempur”. Dan aktivitas ini ba­nyak teijadi pada usaha pertanian.

Selanjutnya kalau kita memperhatikan alat-alat yang dipergu­nakan juga sangat sederhana. Pecahan gerabah, kereweng atau tembikar, sangatlah mudah diperoleh karena benda-benda itu me­rupakan sisa-sisa peralatan rumah tangga yang dibuat dari kalang­an kehidupan pedesaan. Biasanya penduduk desa di samping seba­gai petani mereka juga membuat kerajinan dengan industri gera­bahnya. Hal ini pada umumnya mereka lakukan untuk mengisi ke­kosongan waktu ketika akan menunggu panen tiba.

Alat yang lainnya, yakni bola; Bola terbuat dari sisa-sisa per­ca atau daun pisang kering yang digulung-gulung berbentuk bola kecil, dan dililit dengan tali apa saja yang dapat diperoleh di sekitarnya, atau anak-anak yang telaten sering menggunakan anyaman janur. Pohon ini pun banyak diperoleh di desa-desa di mana pohon kelapa tumbuh tidak terlalu tinggi. Bola ini juga di­hasilkan dari alam pertanian setempat.

Selain itu ada pula istilah yang menunjukkan latar belakang budaya pertanian, yakni untuk menyebut “nilai” sebagai angka kemenangan yang diperoleh dalam permainan dikatakan dengan kata “sawah”. Jadi untuk menyebut setiap nilai diibaratkan mem­peroleh “sawah”. Dengan demikian dapatlah dikesimpulkan bahwa permainan ini muncul sebagai kreativitas anak-anak dengan berlatar belakang sosial budaya agraris.

Hal seperti tersebut di atas dapatlah dikatakan bahwa per­mainan gempuran adalah permainan anak-anak petani, karena pa­da dasarnya bahwa permainan apa pun tidak akan dapat mening­galkan warna kehidupan budaya masyarakat yang dimilikinya.

Seperti diketahui masyarakat pedesaan yang mata pencaharian pokoknya adalah agraris di mana dalam kehidupan bermasyarakat­nya masih bergotong royong. Hidup bergotong-royong ini telah tertanam dalam kehidupannya sebagai ciri dari masyarakat ter­sebut. Ada pun kehidupan bergotong-royong ini dapat pula di­katakan dengan keija sama untuk mencapai sesuatu, walau pun demikian kadang-kadang keija sama tidak identik dengan gotong- royong. Tetapi yang dimaksud di sini identik dengan gotong- royong, karena gotong-royong tidak dapat dipisahkan dengan keija sama untuk mencapai sesuatu yang diinginkan, misalnya dalam permainan. Salah satunya adalah permainan gempuran itu tadi.

Permainan gempuran seperti yang telah disebutkan sebelum­nya, yakni suatu permainan yang muncul karena adanya kegiatan untuk menghancurkan atau merobohkan tanggul yang sehubung­an dengan aktivitas dari usaha pertanian, misalnya untuk men­dapatkan air. Air bagi masyarakat petani sangat diperlukan, karena itu mereka berusaha dengan mengalirkan air atau membuat sungai baru sehingga seluruh desa dapat dialiri air. Dalam hal ini, pem­bagian air yang merata sehingga semua masyarakat desa yang mem­punyai sawah ladang mendapatkan bagian air secara merata. Ke­hidupan ini dilakukan oleh masyarakat desa dengan bergotong- royong. sehingga kerukunan terjalin dengan baik. Kerukunan untuk bergotong royong merupakan bagian dari kehidupan masya­rakat desa yang harus mereka tanamkan. Untuk itu mereka mengungkapkan kepada anak-anak melalui permainan, di antara­nya permainan gempuran.

Kapan permainan itu sendiri mulai dimainkan, dan oleh siapa mula-mula melakukannya tidak banyak diketahui. Yang jelas, permainan itu sudah ada sejak dahulu. Kemungkinannya timbul karena sebagai kreativitas yang diilhami oleh latar belakang budaya agraris.

Gempuran itu sendiri sebagai suatu permainan hiburan, sifat­nya kompetitif, karena si pemain berusaha untuk memenangkan permainan. Dan di dalam permainan’ tersebut terkandung dua unsur gabungan, yakni unsur bermain dan berolah raga.

Dalam suatu permainan yang tidak sungguh-sungguh, sehingga anak benar-benar menikmatinya sebagai permainan yang sangat meng­hibur; Unsur olah raganya terlihat pada fungsi permainan yang cocok untuk melatih ketangkasan dan ketrampilan anak-anak sehingga gerak badan yang ditimbulkan seolah-olah sedang berolah raga. Sebagai suatu permainan, gempuran dimainkan tanpa takut mengalami konsekuensi kekalahan, yang ada dalam perasaan mereka adalah rasa puas yang bersifat sementara jika menjadi pemenang. Sebaliknya rasa tidak puas yang bersifat sementara bagi yang kalah. Hal ini tampak apabila telah selesai bermain maka anak-anak akan bersatu kembali, seolah-olah kelompok yang kalah dan yang menang tidak ada sama sekali.

Apabila kita kaji latar belakang sosial budaya permainan ini, di mana permainan tersebut berasal dari kalangan para petani yang dalam pelaksanaannya tidak memandang stratifikasi sosial maupun pendidikan.” Jadi siapa saja boleh turut dalam memainkan, sehingga permainan gempuran muncul sebagai suatu p&rmainan yang benar- benar merakyat. Kemudian mendukung semangat mereka ber­kreasi sambil berolah raga, karena itulah pada dasarnya permainan ini tidak akan dapat meninggalkan warna kehidupan masyarakat agraris yang dimilikinya.

Selanjutnya, juga dalam masyarakat agraris kehidupan ber­gotong-royong selalu tertanam karena ini merupakan ciri yang khas dari latar belakang budaya agraris. Akan tetapi yang dimak­sud gotong-royong dalam bentuk permainan ini, yakni adanya kerja sama yang dikaitkan dengan kehidupan masyarakat. Kerja sama di dalam permainan ini terlihat adanya kerja sama untuk memainkan permainan, yakni untuk mencapai sesuatu yang di­inginkan, dalam hal ini kemenangan. Ada pun istilah di dalam per­mainan gempuran angka kemenangan yakni “sawah”.

Nilai-nilai yang terkandung dalam permainan gempuran ini, antara lain: rasa gotong-royong, demokrasi, persatuan dan ke­patuhan.

a. Unsur gotong royong. Kegotong-royongan dalam melaku­kan permainan ini sangat tampak, yang dimaksud dengan ke­gotong-royongan dalam permainan seperti yang telah disebutkan di atas, yakni keija sama untuk mencapai sesuatu. Misalnya, ke­tika salah seorang dari anggota kelompok A (pelempar bola) tidak

tugasnya digantikan oleh temannya yakni dari kelompok yang sama. Begitu pula bagi kelompok B (besang), apabila lawannya (kelompok A) berhasil melempar dan mengenai sasaran tumpukan gerabah, maka bola harus segera ditangkap dan lalu melemparkan­nya kepada temannya yang sekelompok agar segera menembak­kan ke arah salah satu tubuh lawan (kelompok A). Jadi maksud­nya, agar kelompoknya (kelompok B) berganti fungsi jadi pe­lempar bola. Dengan demikian di sini tampak sekali keija sama di antara para pemain.

  1. b.                     Unsur demokrasi. Yang dimaksud dengan demokrasi di sini adalah dalam pemilihan kawan sekelompok, yakni mereka membanding-bandingkan sesama pemain agar dua orang yang berlawanan itu setidak-tidaknya sebaya, sama tinggi dan sama kuat, sehingga dua kelompok itu mempunyai dua kekuatan yang sama. Caranya, yakni dengan melakukan “suten”. Pihak yang me­nang bergabung dengan kelompok yang menang dan yang kalah bergabung dengan yang kalah.
  2. c.                      Unsur persatuan. Rasa persatuan di dalam memainkan permainan ini tampak, yakni ketika kelompok A akan melawan kelompok B. Di sini masing-masing anggota kelompoknya bersatu sehingga menjadi suatu permainan yang benar-benar kompak.
  3. d.                     Kepatuhan Ketika salah satu kelompok telah berhasil memenangkan sawahnya dengan jumlah yang telah ditentukan se­belumnya, maka kelompok yang menang itu harus digendong oleh kelompok yang kalah. Hal ini merupakan konsekuensi dari kalah menangnya suatu permainan yang harus dilaksanakan.

Selain unsur-unsur tersebut di atas, dalam permainan ini tampak adanya pengembangan fisik mau pun mental. Dalam peng­embangan fisik yakni ketangkasan dan ketrampilan, sedangkan dalam pengembangan mental yakni kecermatan karena dapat memperkirakan. Contohnya, ketika salah seorang dari anggota kelompok A akan meruntuhkan tumpukan gerabah, di sini tampak bahwa si pelempar dengan cermat dan dapat memperkirakan bisa meruntuhkan tumpukan gerabah.

Pada saat ini permainan gempuran mengalami kemunduran bahkan hampir punah, padahal permainan tersebut sebagai salah satu bentuk kreatifitas yang sehat. Banyak nilai edukatif yang mendapat perhatian. Hal ini. dikarenakan para pendidik dan orang tua kurang menyadari manfaat permainan ini bagi perkembangan anak-anak. Malahan kadang kala dianggap permainan yang meng­ganggu, karena rusaknya halaman, debu yang beterbangan, ke­gaduhan suasana dan mengganggu lalu lintas orang di tepi jalan atau pun di halaman rumah. Atau dapat pula karena anak-anak lebih menyenangi permainan yang sudah modern, karena masuk­nya teknologi modern.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Nilai Budaya Dalam Permainan Rakyat Madura- Jawa Timur, Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai Nilai Budaya, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departeman Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1991.

Cu-Cuan, Permainan Masyarakat Madura

Deskripsi Permainan

“Cuuuuuuu……………….”, itulah suara yang diserukan oleh anak-anak yang ditugasi untuk mengejar lawannya bermain. Oleh karena itu, permainan ini disebut cu-cuan Cu-cuan berarti bermain cu. dan kata cu di sini tidak mengandung pengertian apa-apa selain tiruan suara cu yang panjang tersebut.

Permainan cu atau cu-cuan ini sangat digemari oleh anak-anak petani di daerah Bangkalan, Madura. Pada umumnya yang me­lakukan permainan ini adalah anak-anak petani. Dalam kaitannya dengan peristiwa lain, baik upacara keagamaan atau upacara tra­disional lainnya tidak ada sama sekali. Permainan ini sifatnya hiburan untuk mengisi kekosongan waktu yang terluang di siang hari, setelah pulang dari sekolah atau setelah melakukan pekeijaan yang harus dilakukan di rumahnya.

Dalam pelaksanaannya, permainan cu-cuan tidak diiringi nyanyian atau pun musik gamelan, yang terdengar hanya suara “cuuuuu     “ke luar dari mulut anak yang sedang mencari atau mengasyikkan karena selain sederhana, permainan ini sangat mudah dimainkan. Hal ini, karena yang diperlukan menguji ke­mampuan fisik seperti kegesitan, keuletan dan mengatur pernapas­an serta mengasah kecerdasan dan kecerdikan. Selain sifatnya hiburan, permainan ini juga bersifat kompetitif karena ada lawan bermain dan ada ketentuan kalah menang.

Permainan cu-cuan dimainkan oleh anak-anak yang beijumlah anak-anak sebanyak sepuluh orang. Jumlah itu lalu dibagi dua kelompok dengan kekuatan yang seimbang, dan para pemain ini rata-rata berusia sekitar antara sembilan sampai dengan dua belas tahun. Permainan tersebut selain dimainkan secara berkelompok dapat pula dimainkan secara perorangan, yakni satu lawan satu hanya saja bila dimainkan terasa kurang mengasyikkan. Oleh karena itu lebih sering dimainkan secara berkelompok sehingga permainan tersebut menjadi lebih meriah dan semarak.

Pada umumnya cu-cuan dimainkan oleh anak laki-laki, namun tidak menutup kemungkinan bagi anak perempuan untuk memain­kannya. Hanya saja biasanya anak perempuan sebagai penonton, sebab dalam permainan memerlukan kegesitan serta ketahanan napas sehingga permainan tersebut seolah-olah hanya dilakukan oleh anak laki-laki.

Peralatan yang dipergunakan dalam cu-cuan ini tidak ada, kecuali sebuah tonggak atau pohon atau pun bengko untuk tem­pat hinggap yang disebut “penclokan”, tetapi jika ini tidak ada dapat pula dibuatkan sebuah lingkaran kecil di atas tanah.

Apabila para pelaku permainan telah mencukupi, maka dicari­lah lapangan permainan yang ada pohonnya, atau tonggak sebagai bengko (rumah) tempat hinggap “penclokan”. Kemudian dilaku­kan konsensus dalam pemilihan anggota kelompok. Pada mulanya anak-anak mengambil pasangannya yang dianggap sebaya, sama besar dan sama tinggi serta diperkirakan pula seimbang kekuatan fisiknya. Masing-masing pasangan tersebut melakukan “suten”. Pihak yang kalah “suten” berkumpul dalam satu kelompok, demikian pula yang menang suten berkumpul dalam satu kelom­pok. Dengan demikian terjadilah masing-masing kelompok pemain yang sepadan kekuatannya, kemudian wakil atau pemimpin dari masing-masing kelompok melakukan suten kembali untuk menen­tukan kelompok yang dadi, yang berperan sebagai pengejar, dan kelompok yang bertahan. Kelompok yang dadi ini menguasai sebuah penclokan (tempat hinggap) yang merupakan pangkalan mereka yang netral, sedangkan kelompok yang bertahan mengu­sai seluruh halaman. Misalnya, kelompok A .yang dadi dan kelom­pok A yang dadi dan kelompok B yang bertahan.

Setelah diketahui bahwa kelompok A yang dadi dan kelompok B yang bertahan, maka permainan pun dimulai. Kelompok A yang gerombol di penclokan. Kelompok B yang bertahan berpencaran di halaman dan bersembunyi. yang dapat dilakukan secara bergantian dengan sesama teman kelompoknya. Di sini pimpinan kelompoklah yang berkewajiban mengatur dan menyusun urutan gilir sebelumnya. Untuk turun ke lapangan ini tidak boleh dilakukan lebih dari dua orang, tetapi harus ada yang tinggal menjaga penclokan. Hal ini penting sebab apabila teman kelompoknya (kelompok A) yang turun ke lapang­an kehabisan suara, ia akan kembali ke penclokan dalam kejaran lawan (kelompok B). Oleh karena itu, untuk menghindari ter­tangkapnya teman sekelompok (kelompok A) maka si penjaga penclokan segera ganti mengejar lawannya yang mengejar teman sekelompoknya (kelompok A) sambil bersuara “cuu-uuku               ………………………………”.

A j yang diperintah untuk turun ke lapangan ini lalu melaku­kan pencaharian. Ia (Aj) sambil bersuara “cuuuuu . . . .” mencari tempat persembunyian lawannya, (kelompok B). Bila berhasil diketemukan, maka lawan (kelompok B) yang bersembunyi di­kejarnya sampai dapat, tetapi jika hampir kehabisan napas harus segera kembali ke tempat pangkalan untuk mengambil napas dan kemudian turun ke lapangan kembali untuk mencari dan mengejar sambil bersuara “cuuuuuuu                …………………………….”. Hal ini dilakukan karena pada waktu mencari dan mengejar, “cuuuuuu……………………” tidak boleh terputus.

Apabila A^ berhasil mengejar dan menggapai salah seorang lawannya (kelompok B) dengan sempurna, artinya sebelum suara “cuuuuu……………………   ” terputus karena kehabisan napas maka kelompok B dinyatakan kalah. Tetapi bila A| belum berhasil menggapai lawan, namun sudah merasa akan kehabisan napas, Aj harus segera kembali ke penclokan sebelum “cuuuu . . . … ” terputus di tengah jalan. Dan setelah berhasil ia hinggap di penclokan. maka seorang kawan sekelompoknya (misal A->) menggantikannya dan segera turun untuk mengejar lawan sambil menyuarakan  “cuuuuuu……………             ” secara terus menerus pula. Sasarannya tidak perlu orang yang sama, tetapi dapat berganti-ganti mana yang paling baik untuk memberi peluang.

Begitu pula jika Aj belum berhasil menggapai lawan, namun sudah terlanjur kehabisan napas sehingga'”cuuuu . . . .” terputus. Maka situasi pengejaran berubah, Aj yang semula mengejar kini berbalik dikejar oleh bekas buruannya bersama-sama dengan teman-teman sekelompoknya (kelompok B). Dalam pengejaran berhasil menghindar dan selamat kembali ke penclokan (pangkal­an), berarti bebaslah ia dari kejaran. Sebaliknya, kawanan kelom­pok B yang mengejar harus waspada, sebab begitu Aj hinggap di penclokan, salah seorang pengganti Ai, yakni A-> sudah siap me­nyergap mereka sambil menyuarakan “cuuuuu……………”

Sebaliknya, jika A j belum berhasil menggapai lawan, tetapi “cuuuu . . . .!” sudah terputus karena kehabisan napas, sedangkan dalam usahanya untuk menghindarkan diri dari kejaran lawan (kelompok B) untuk kembali dengan selamat ke pangkalan pun tidak berhasil. Ia (Aj) tertangkap. Dengan demikjan, maka ke­lompok A dinyatakan mati, dan teijadilah pergantian peran. Kelompok B kini menguasai penclokan dan berperan sebagai pe­nyerang. Sedangkan’kelompok A menjadi pihak yang bertahan memencar meliput seluruh halaman. Akan tetapi sebelum teijadi pergantian peran tersebut, maka kelompok yang kalah (kelompok A) harus menggendong kelompok B.

Demikianlah permainan cu-cuan itu berlangsung sampai anak- anak merasa lelah, biasanya permainan tersebut berlangsung lama karena di sini dilakukan cara selamat-menyelamatkan teman se­kelompoknya.

Analisa.

Bangkalan terletak di Pulau Madura, di mana penduduknya sebagian besar bermata pencaharian pokok bertani. Bertani mereka lakukan di sawah dan di ladang. Di peladangan biasanya banyak bermacam-macarp jenis serangga yang menyerang tanaman, baik itu tanaman palawija maupun padi. Suara-suara serangga ini oleh anak-anak ditirunya, misalnya suara tawon atau lebah. Suara ini oleh anak-anak diimajinasikan ke dalam bentuk permainan, yakni permainan cu-cuan.

Jika dilihat dari kata cu-cuan itu sendiri menunjukkan asal-usul permainan ini. Karena suara yang dilakukan oleh permainan dalam permainan cu-cuan ketika sedang mengejar lawannya mengeluar­kan suara yang berbunyi “cuuuuu            “.

Bunyi “cuuuuu        ” ini ada kemiripan dengan suara tawon atau lebah ketika sedang terbang atau jika ada yang mengganggunya. Begitu pula jika dilihat dari perlengkapan permainan ini hanya memerlukan sebuah tong juga mirip dengan lebah. Serangga ini biasanya akan bersarang di pohon atau pun di atap rumah penduduk. Lebah yang bersarang ini tidak hanya satu atau dua ekor yang hinggap tetapi akan ber­gerombol jika bersarang. Karena itulah, kemungkinan permainan cu-cuan diilhami dari serangga tersebut.

Permainan cu-cuan seperti yang telah disebutkan sebelumnya, yakni suatu permainan yang muncul karena diilhami oleh kehidup­an serangga yakni lebah, di mana lebah bergerombol untuk meng­umpulkan madu. Begitu pula kehidupan masyarakat pedesaan yang agraris, mata pencaharian pokoknya adala!it)ertani. Di mana kehidupan masyarakatnya masih bergotong-royong, sikap ini telah tertanam dan merupakan bagian dari kehidupannya sebagai ciri dari masyarakat agraris. Kegotong-royongan ini mereka ungkapkan ke dalam bentuk permainan itu tadi.

Permainan itu sendiri kapan mulai dimainkan dan siapa-siapa yang mula-mula melakukannya tidak banyak diketahui, yang jelas permainan itu sudah ada sejak dahulu. Kemungkinannya timbul karena sebagai kreativitas yang diilhami oleh latar belakang budaya agraris. Seperti diketahui, masyarakat penduduk di daerah Bang­kalan ini terdiri atas dua suku. yakni suku Madura sebagai pen­duduk asli daerah itu dan suku Jawa sebagai penduduk pendatang yang kemudian menetap di sini. Walaupun demikian kedua suku tersebut berbaur dengan masing-masing mempunyai kebudayaan, serta masing-masing tetap mencerminkan aspirasi ketradisionalan yang dimiliki oleh” masyarakat pedesaan yang agraris. Kebudayaan kedua suku ini mempunyai banyak persamaan, karena seperti diketahui letaknya Madura di ujung Jawa Timur. Karena itulah pengaruh kuat kebudayaan Jawa ini tidak dapat dipisahkan, salah satu di antaranya ke dalam bentuk permainan yakni per­mainan cu-cuan. Karena permainan tersebut juga terdapat di Jawa, walaupun namanya berlainan tetapi cara memainkannya dan jalannya permainan mempunyai banyak persamaan.

Cu-cuan itu sendiri sebagai suatu permainan hiburan bersifat kompetitif, karena si pemain berusaha untuk memenangkan per­mainan. Sebagai suatu permainan hiburan, permainan tersebut di dalamnya mengandung dua unsur gabungan, yakni unsur bermain dan berolah raga. Dalam bermain, si anak yang bermain benar-benar menikmatinya sebagai suatu permainan yang tidak sungguh-sungguh.

Sedangkan unsur olah raga yang terlihat pada fungsi permainan ini cocok untuk melatih kecekatan, kecermatan, dan kewaspadaan serta pengaturan napas. Dan sebagai suatu permainan, cu-cuan dimainkan tanpa takut mengalami konsekuensi kekalahan. Yang ada dalam perasaan mereka adalah rasa puas yang bersifat semen­tara jika menjadi pemenang. Sebaliknya, rasa tidak puas dan pe­nasaran yang sifat sementara juga. Hal ini tampak apabila permain­an tersebut sudah selesai dimainkan, si anak yang menang dan yang kalah akan bersama-sama kembali sehingga kekalahan bagi kelompok yang kalah dan yang menang terasa tidak ada sama sekali.

Apabila kita kaji latar belakang sosial budaya permainan ini. berasal dari anak-anak petani yang suka meniru suara serangga. Dalam pelaksanaannya mereka tidak memandang stratifikasi sosial maupun pendidikan, sehingga permainan tersebut sebagai permainan yang benar-benar merakyat. Permainan ini juga men­dukung semangat mereka untuk berkreasi .sambil berolahraga. Pada dasarnya permainan cu-cuan tidak dapat meninggalkan warna kehidupan budaya masyarakat yang dimilikinya, misalnya ke­hidupan bergotong-royong. Untuk itu, mereka ungkapkan ke dalam bentuk permainan cu-cuan. Di sini tampak sekali, jalannya permainan diilhami dari serangga

Nilai-nilai yang terkandung dalam permainan cu-cuan ini. antara lain yakni gotong-royong, rasa persatuan, kepatuhan akan peijanjian dan demokrasi.lebah yang suka bergerombol dan bergotong-royong ketika mencari madu.

Unsur gotong royong. Gotong royong yang dimaksud di sini yakni suatu cara untuk mencapai sesuatu yang diinginkan, yang harus dilakukan secara bersama-sama. Karena keija sama identik dengan gotong royong yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Misalnya dapat dilihat pada jalannya permainan ketika pemimpin kelompok A menyuruh salah seorang anggotanya (Aj) untuk turun ke lapangan melakukan pengejaran terhadap lawan (kelompok B) dapat dilakukan secara bergantian dengan sesama rekan kelompoknya. Di sini pimpinan kelompoklah yang berkewajiban mengatur dan menyusun urutan gilir. Dengan de­mikian pula antara pemimpin kelompok dengan anggota-anggota- nya. Begitu pula kelompok yang “bertahan” kelompok B, me­lakukan keria sama vakni ketikA’ melakukan balik pengejaran yang semula mengejar dikejar oleh bekas buruannya bersama- sama dengan

Rasa persatuan. Rasa persatuan tampak ketika kelompok yang “dadi” yang mempunyai penclokan (tempat hinggap) seluruh ang­gotanya ditugaskan untuk turun, maka pasti ia akan kembali ke tempat asalnya.teman sekelompoknya (kelompok B).

Kepatuhan akan perjanjian. Yang dimaksud di sini adalah kon­sekuensi kalah menang dari permainan. Dalam konsekuensi kalah menang ini ada suatu peijanjian yakni yang kalah harus meng­gendong yang menang. Di sini tampak ketika kelompok A kalah, maka dilakukan pergantian peran. Akan tetapi sebelum pergantian dilakukan, kelompok A sebagai kelompok yang kalah menggen­dong kelompok B yang menang.

Demokrasi. Yang dimaksud dengan demokrasi yakni adanya keterbukaan dalam melakukan pemilihan anggota kelompok. Dalam melakukan pemilihan ini. masing-masing pasangan memilih pasangannya yang sama kuat, sama sekali dan sama tinggi dengan cara melakukan suten. sehingga masing-masing kelompok mem­punyai kekuatan yang seimbang

Selain unsur-unsur di atas. pengembangan, mental maupuft fisik juga terlihat dalam permainan. Dalam pengembangan mental tampak sekali kewaspadaan dan kecermatan dari para pemain. Sedangkan dalam pengembangan fisiknya terdapat kegesitan dan kecerdikan serta ketangkasan dalam permainan ini. Jadi dapatlah disimpulkan bahwa motivasi dari permainan ini adalah untuk menguji kemampuan fisik dan pernapasan di samping mengasah kecerdasan dan kecerdikan seperti yang telah disebutkan se­belumnya. Karena untuk berlari-lari, berkejaran, jelas diperlukan tubuh yang sehat, sementara mengeluarkan kata “cuuuuuuu. . . .” sambil berlari merupakan latihan ketahanan napas. Anak. yang turun ke lapangan mengejar lawannya harus memperhitungkan dua faktor berlawanan sekaligus. Si pengejar ingin berhasil menangkap (menggapai) lawan dengan resiko mengejarnya sejauh mungkin, tetapi dalam pada itu berusaha jangan sampai jauh-jauh meninggal­kan pangkalan agar tidak mendapatkan kesulitan untuk mencapai­nya kembali sewaktu kehabisan napas. Demikianlah kombinasi kemampuan fisik pernapasan dan kecerdasan si anak dituntut un­tuk membuktikan keunggulannya dalam memperebutkan prestasi.

Setiap anak secara naluriah bergelitik rasa kebanggaannya ber­prestasi, dan permainan cucuan membuka peluang menyalurkan rasa. kebanggaan si anak itu. Itulah sebabnya cu-cuan mengasyik­kan dan sekaligus memberikan kegembiraan.

Pada saat ini permainan ini masih dimainkan, walaupun sudah agak jarang. Karena tergeser oleh permainan yang lebih menarik, dalam kemajuan teknologi. Anak-anak lebih menyukai permainan yang baru daripada permainan tradisional. Begitu pula generasi sebelumnya kurang memberi perhatian. Oleh karena itu kemungkinan besar permainan ini akan hilang begitu saja dan hanya tinggal namanya. Padahal permainan cu-cuan ini sangat baik bagi perkembangan anak untuk belajar berkreasi sambil) berolah raga. karena di dalamnya terkandung nilai-nilai yang sangat baik untuk pembentukan jiwa anak.

Nilai Budaya Dalam Permainan Rakyat Madura- Jawa Timur, Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai Nilai Budaya, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departeman Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1991.

Upacara Mantenan Tebu, Upacara Tradisi Kabupaten Lumajang

Lumajang adalah salah satu Kabupaten yang terletak di pesisir selatan bagian timur Provinsi Jawa Timur dengan jumlah penduduk sebanyak 1.075.355 jiwa serta memiliki luas areal 1.790,90 Km2, terbagi atas 21 Kecamatan yang terdiri dari 198 Desa dan 7 Kelurahan.

Batas-batas wilayah Kabupaten Lumajang meliputi : sebelah barat Kabupaten Malang, sebelah timur Kabupaten Jember, sebelah utara Kabupaten Probolinggo dan sebelah selatan Samudra Hindia.

Kabupaten Lumajang terdiri dari daratan yang subur karena diapit oleh tiga gunung berapi, yaitu Gunung Semeru, Gunung Bromo dan Gunung Lamogan, sehingga sangat berpotensi sebagai daerah agraris , tidak terkecuali tanaman tebu (gula). Adalah tanaman yang menyebar di Jawa Timur ini, juga terdapat di Kabupaten Lumjang.

Kabupaten Lumajang mempunyai potensi yang sangat luar biasa terhadap kekuatan kultur budayanya yang menyatu  dalam kehidupan masyarakatnya, perpaduan etnis Jawa, Madura dan Tengger menjadikan Kabupaten Lumajang kaya akan budaya serta kesenian daerahnya.

Upaca yang berkaitan dengan tubu ini Penyelenggaraannya terdapat di Kecamatan Jatiroto, disebut upacara  Mantenan Tebu. upacara ini Fungsi dari Upacara ini bertujuan sebagai ucapan syukur dan permohonan keselamatan Waktu pelaksanaan Pada saat buka giling tebu. Siwhoto

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Goresan Tim Pustaka  Jawatimuran – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Sumber; Data & Foto Kantor Pariwisata Kabupaten Lumajang, Surabaya, 2012