Kadet Soewoko, Kabupaten Lamongan

Gugurnya Kadet Soewoko sebagai patriot bangsa mempunyai arti khusus bagi rakyat Lamongan. Semangat kepahlawanan, patriotisme tanpa kenal menyerah walau dalam keadaan terjepit merupakan identitas dan selalu memberikan inspirasi semangat perjuangan bagi masyarakat Lamongan dalam menghadapi tantangan hidup yang berat.

Waktu itu Kabupaten Lamongan merupakan bagian dari wilayah pertempuran Brigade Ronggolawe yang disebut Daerah Operasi Timur (DOT) dibawah pimpinan Kapten Soekarsono. Nama-nama pejabat pemerintahan militer dan pemerintahan sipil antara lain adalah:

  1. Kapten Soekarsono, Komandan Komando Distrik Militer (KDM sekarang KODIM) sebagai Kepala Pemerintahan Militer,
  2. Lettu Soewignyo, Kepala Staf KDM (panggilan akrab: mas Tjuik),
  3. Supardan, Patih (mengganti jabatan Abdul Hamid) sebagai Sekretaris
  4. Lettu Tituler Projosayono, Kepala Bagian Perekonomian,
  5. Lettu Tituler Imam Suhadak, Kepala Bagian Kemasyarakatan,
  6. Lettu Suyono, Kepala Bagian Pertahanan,
  7. S. Hadibroto, Urusan Penyiaran dan Dokumentasi.

Sebagai Komandan Daerah Operasi Timur (DOT) kapten Soekarsono telah mengambil kebijaksanaan yang berdasarkan atas situasi dan kondisi daerah Kabupaten Lamongan pada waktu itu.

  1.  Bidang Politik-Pemerintahan.
    1. Memanggil para Camat yang berada diluar wilayahnya untuk tidak meninggalkan rakyat dan mengadakan gerakan kucing-kucingan bila terjadi gerakan Belanda di daerahnya.
    2. Segera mengisi/mengangkat Camat-camat baru yang lowong.
    3. Bidang Militer
      1. Mengangkat Komandan Onder Distrik Militer (ODM = Koramil),
      2. Menyusun Pemerintahan Militer Kecamatan,
      3. Menyusun Kader-kader di tiap desa dan menggiatkan pasukan gerilya desa (pager desa),
    4. Mengumpulkan kelompok bersenjata yang terpisah dari induknya dan disusun menjadi kesatuan dibawah satu komando.

Dengan peme-rintahan militer yang sudah ter-bentuk sampai tingkat Keca­matan, maka sejak pertengahan Maret 1949 pertahanan Komando Distrik Militer (KDM=KODIM) Lamongan beralih dari pasif defensif menjadi aktif yang perwujudannya adalah mengadakan serangan umum ke kota Lamongan, ini terjadi pada hari Senin Kliwon tanggal 28 Maret 1949 malam.

Serangan umum bagi Komandan Pemerintahan Militer bagaikan angin meniup untuk mengobarkan semangat rakyat kembali. Tanggal 29 Maret bagi sejarah perjuangan fisik di Lamongan dapat dicatat sebagai tanggal serentak dijalankannya gerakan non kooperasi oleh para Lurah diseluruh Kabupaten.

Sejak serangan umum yang dipimpin Soekarsono dan melibatkan diantaranya pasukan Tamtomo, dimana seorang angggotanya bernama Soemargo gugur dalam serangan dan pasukan Candrabirawa yang anggota-anggotanya terdiri dari anggota ODM bersama pemuda dan rakyat desa, membawa pengaruh positip. Grafik perjuangan mulai naik mulailah peristiwa dan disusul dengan peristiwa lain dan kesemuanya menguji kekuatan pasukan gerilya.

Sehabis serangan ke kota Lamongan, pasukan Tamtomo ber­pencar ke daerah basis masing-masing. Regu pimpinan Kadet Soewoko, salah satu dari empat regu pasukan tersebut menyingkir ke daerah Laren di utara Bengawan Solo. Setelah lima hari beristirahat pada hari Minggu tanggal 3 April 1949 menjelang tengah hari  Seowoko menerima laporan dari penduduk desa, bahwa di jalan dekat desa Parengan sejumlah serdadu Belanda sedang berusaha menarik kendaraannya yang terperosok ke dalam selokan.

Saat itu Soewoko dengan regunya sedang berada di sebuah Langgar dipinggir desa Laren. Setelah berunding dengan rekan-rekannya diperoleh kesepakatan untuk menyerang regu Belanda. Berangkatlah regu Soewoko berkekuatan 7 orang dengan persenjataan terdiri dari 2 pucuk leeenfield laras panjang dan 1 pucuk laras pendek, 2 pucuk senapan jepang dan 2 pucuk stengun. Dengan menaiki perahu regu diseberangkan ke selatan Bengawan Solo dan sampailah di desa Parengan.

Dari kejauhan Serdadu-serdadu Belanda sudah nampak, mereka berada di alam terbuka tanpa pepohonan kanan-kiri. Baju seragam dilepas dan pada leher melilit sebuah kain merah. Mereka berusaha menarik power wagon tetapi belum berhasil. Bantuan penduduk tidak didapat, sebab telah pergi menghindarkan diri. Hanya beberapa pemuda desa berhasil ditangkap dan dipaksa untuk dibawanya. Jumlah tenaga masih belum mampu menaikkan kendaraan dari selokan.

Dengan hati-hati regu Soewoko terus maju. Pesan Soewoko, “kita tidak menembak sampai mereka menggerakkan power-wagonnya pada saat dan detik itulah kita tembak salvo, kemudian mundur”. Regu masih terus maju dan merangkak, pada jarak sekitar 100 m dari musuh baru berhenti. Anggota-anggota berlindung pada onggokan/gundukan tanah yang ditanami ubi-ubian.

Cukup lama menunggu, setelah matahari mulai condong ke barat, dari jauh terdengar deru mobil. Ternyata sebuah power-wagon lain berisi serdadu sedang menuju ke tempat kendaraan yang terperosok. Seutas tali dipasang dan mesin dihidupkan, kendaraan penolong ber­gerak mundur sambil menarik power-wagon yang masuk selokan. Setelah kedua kendaraan sudah siap dan serdadu-serdadu Belanda diatas dan siap berangkat, detik yang dinantikan itu tiba dan terdengar aba-aba: “Tembaaakkk”. Beberapa serdadu nampak jelas terjungkal dari atas bak belakang ke tanah, kedua power-wagon tidak jadi bergerak maju.

Musuh seketika tidak menunjukkan reaksi, mereka seperti terpaku diam dan tidak melakukan gerakan apapun. Tidak lama kemudian dengan gencar melakukan tembakan balasan dan benar-benar merupakan tembakan penghancuran dengan tidak memberi kesempatan kepada regu memberi perlawanan.

Soewoko dan anggotanya tidak berkutik dan sudah kewalahan menghadapi perlawanan lawan. Usaha untuk menggeser pindah posisi sudah tidak mungkin lagi. Pasukan Belanda telah maju dengan ber­pencar, mereka telah berada disamping dan di belakang pertahanan. Arah datangnya tembakan lawan beralih setelah senapan mesin yang ditempatkan di power-wagon berhenti menembak. Hanya alam yang menolong sehingga pasukan Soewoko tidak mengalami kehancuran. Waktu itu sudah mulai gelap, jarak antara 10-20 m saja tidak kelihatan. Dalam situasi krisis Soewoko mengambil keputusan untuk mene­robos kepungan lawan sebagai satu-satunya jalan. Perintahnya “Serbu dan lari ke Gemantuk”.

Dengan sangkur terhunus pada ujung senjata mereka berusaha menembus kepungan dalam cuaca gelap dan masuk ke desa Gemantuk. Sebaliknya bagi Soewoko merupakan saat yang naas. Tatkala akan maju dengan menembakkan stengun ia keduluan terkena tembakan pada kedua bahunya sampai tembus dan terjatuh di tanah Ia belum gugur tetapi sudah tidak dapat melakukan perlawanan. Beberapa Serdadu mendekat dan bertanya dengan nada membentak, “Siapa nama?” Jawab Soewoko, “Soewignyo”, ia menyebut nama Kepala Staf KDM Belanda. “Mari ikut ke pos Sukodadi”. Soewoko, “Tidak, tidak. Saya tidak mau menyerah, bunuhlah saya”.

Berlumuran darah pada sekujur badan karena luka-luka dan sudah tidak berdaya ia ditusuk sangkur dan pipi sebelah hidung ditembak. Dialog cerita ini diceritakan oleh Suyono yang menelungkupkan badan, pura-pura mati dan ia berada tidak jauh dari Komandan regunya (Kol. Pol. Purn. Suyono). Dalam pertempuran tersebut gugur 4 orang yaitu Soewoko, Sukaeri, Widodo dan Lasiban serta Senjata dirampas musuh 4 pucuk.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:
Lamongan Memayu Raharjaning Praja, Lamongan: Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Lamongan, 1994.

 

Penyerbuan Belanda ke Kota Lamongan

Bersamaan waktunya dengan pendaratan di Glondong, pada tanggal 18 Desember 1948 malam, tentara Belanda bergerak melintasi garis statusquo dan masuk ke Pancur, desa perbatasan Lamongan dan Surabaya yang jaraknya 8 km dari Lamongan. Pada tanggal 19 Desember 1948 Belanda secara terbuka melakukan agresi II dengan tujuan meniadakan Republik Indonesia dan mempersiapkan berdirinya Republik Indonesia Serikat sebagai penggantinya dengan terlebih dahulu mendirikan negara-negara boneka.

Tindakan melintasi garis demarkasi tersebut, ternyata bukanlah serbuan yang sebenarnya, sebab pada pagi harinya mereka sudah meninggal­kan Pancur dan kembali ke timur. Serbuan yang sebenarnya justru terjadi pada tanggal 20 Desember 1948 pukul 15.00, yakni serbuan atas kota Babat oleh Pasukan Marbrig (Mariniers Brigade atau Koninklijk Nederlandse Marine Korps) yang datang dari Tuban. Kota Babat termasuk jembatan Cincim jatuh ke tangan Belanda tanpa ada perlawanan sama sekali. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan “dosa komandan Batalyon Halik”.

Mendengar berita penyerbuan tersebut, Komando Batalyon Sunaryadi segera menempatkan kompi Dullasim di desa Belo, Plosowahyu dan desa Made untuk menghadapi Belanda dari Babat. Brigade Marinir Belanda ternyata tidak langsung menyerang kota Lamongan dari kota Babat, melainkan bergerak ke arah selatan dengan tujuan utama kota Kertosono dan ibu kota Lamongan dengan taktik penyerangan tidak langsung.

Apabila di daerah utara mereka tidak menghadapi perlawanan yang berarti, sebaliknya di daerah selatan, yakni di daerah antara Gunung Pegat sampai ke Ngimbang mereka menghadapi perlawanan sengit tentara Republik. Di jalur ini tentara Belanda harus berhadapan dengan Kompi Dihar dari Batalyon Basuki Rachmat, Batalyon Jarot Subiyantoro dan Kompi Jansen Rambe.

Tanggal 2 Januari 1949 Kedungpring mendapat giliran serangan. Selanjutnya lawan bergerak ke Modo, Bluluk, Ngimbang, Sambeng dan Mantup. Desa Mantup dan desa Nogo Jatisari (Kecamatan Sambeng) markas Batalyonjarot dan dapur umum untuk melayani pasukan dibombardir oleh Belanda, sehingga pasukan tentara mundur ke arah barat. Dalam pertempuran di desa Dradah, gugur dua orang anggota pasukan. Setelah daerah-daerah tersebut sepenuhnya dikuasai, tentara Belanda dipecah menjadi dua, yakni sebagian lewat Kembangbahu kemudian bertemu dengan pasukan induk dari Mantup untuk menyerang Tikung lebih dahulu.

Pasukan terkonsolidasi dengan mantap dan rapi, segera dilaksanakan instruksi atasan untuk melakukan taktik ” Win gate actiori, yakni menyusup ke pertahanan Belanda di Gresik melalui daerah-daerah yang kosong dengan menghindari kontak senjata dengan tentara Belanda yang berjumlah besar, tetapi melakukan penyerangan ke pos-pos Belanda yang kecil dan melakukan penghadangan terhadap patroli Belanda. Seksi Mudakir dari kompi Dullasim diberangkatkan ke pedalaman dan berhasil melakukan gerilya di desa Putat Kecamatan Kebomas.

Kompi Sunaryo mengeluarkan satu seksi yang dipimpin oleh Letda Untung untuk mengadakan penghadangan di desa Modo. Tembak-menembak tidak bisa dielakkan antara tentara Belanda dan pasukan Untung. Karena tentara Belanda memiliki kekuatan yang lebih besar, akhirnya seksi mundur dengan membawa kurban dua orang, di antaranya Komandan Regu Sersan Subhan. Sementara Kompi Dullasim ketika mengadakan penghadangan di jalan Sugio menuju Kedungpring tidak berhasil menjumpai pasukan Belanda. Karena tidak menjumpai musuh, mereka kembali ke pos di desa Kentong Kecamatan Sugio, Lamongan.

Menjelang subuh pagi harinya, mereka disergap oleh pasukan Belanda dari berbagai arah, mereka lari tanpa sempat memberi perlawanan. Belanda memuntahkan peluru ke segala arah secara membabi buta, dan membakar rumah-rumah penduduk.

Penyergapan itu menimbulkan korban sebanyak 6 orang meninggal, termasuk Komandan Kompi Dullasimv Sedang korban yang luka-luka juga cukup banyak, di antaranya Komandan’Batalyon Mayor Sunaryadi. Dengan penyamaran yang rapi beliau berhasil diselundupkan ke Rumah Sakit Umum Lamongan dengan nama samaran Karjan. Beliau diselamatkan dari maut dan intaian Belanda oleh dokter Paeijs dan para juru rawat yang tetap Republikein (setia kepada Republik Indonesia).

Selama masa perang Kemerdekaan di wilayah Lamongan, peranan Batalyon Sunaryadi sangat besar. Demikian pula dengan Batalyon Mayangkara di bawah pimpinan Mayor Jarot Subiyantoro. Nama Pak Jarot bagi penduduk Lamongan bagian selatan dan barat pada masa itu cukup legendaris. Untuk mengenang Batalyon Mayangkara dan komandannya, di Surabaya, tepatnya di depan Rumah Sakit Islam Wonokromo telah didirikan monumen yang cukup megah, berupa patung aim. Let. Kol. Jarot Subiyantoro menunggang kuda mayangkara. Selain itu nama Mayangkara juga diabadikan untuk nama sebuah taman di depan kebun binatang Surabaya, dan nama sebuah jembatan layang di Wonokromo. Demikianlah gambaran perjuangan yang dapat disaksikan oleh sejarah pada permulaan agresi Belanda II di wilayah Lamongan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Lamongan Memayu Raharjaning Praja, Lamongan: Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Lamongan, 1994.

 

Pertempuran di Kedungpring, Kabupaten Lamongan

Kesatuan Mobile Brigade (MOBRIG) di bawah kepemimpinen AIPDA (Ajun Inspektur Polisi Dua) Soeharso mendirikan Pos Pertahanan di Sugio kemudian mendirikan Pos Perwakilan di Blawirejo Kecamatan Kedungpring dengan kekuatan personel 23 orang Polisi dipimpin oleh Komandan Sugeng Suprobo.

Pada tanggal 15 Pebruari 1949 Sugeng Suprobo bersama 21 orang anak buahnya berangkat ke Kedungpring memenuhi permintaan Komandan Batalyon Halik, tetapi baik komandan maupun anggota pasukan Halik tidak ada di tempat.

Tanggal 16 esok harinya pasukan Belanda PDMB dan Gajah Merah dari Babat menyerbu Kedungpring. Pasukan Sugeng Suprobo bertahan mati-matian. Sugeng Suprobo gugur dan Agen Polisi Kademin menderita luka parah.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Lamongan Memayu Raharjaning Praja, Lamongan: Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II
Lamongan,  1994

Ita Purnamasari, Surabaya

15 Juli 1967, Ita Purnamasari lahir di Surabaya, Jawa Timur, dari pasangan Hj Diah dengan H Soekarmeni

Tahun 80-an, di Saat berlangsung final Festival Musik Rock Se Indonesia di Stadion Tambaksari Surabaya yang digagas Log Zhelebour. Ita bersama band-nya Rasio tak berhasil menjadi pemenang,  namun penampilannya sempat mencuri perhatian. Dengan berbusana rocker, Ita yang berkulit putih serta berparas cantik menyanyikan “Don’t Stop Me Now” nya Queen. Tak sekedar menyanyi. Sambil memainkan keyboards.

Tahun 1986 Ita Purnamasari tampil pada acara Aneka Ria Safari TVRI bersama Arthur Kaunang, rocker Jawa Timur dengan supremasi band  AKA/SAS.

Tahun 1988, di lagu “Penari Ular” karya Arthur Kaunang, vokalnya yang bernuansa syahdu alias merdu  dipaksakan menjadi penyanyi  rock.  Namun performa ini justeru melicinkan langkahnya ke jenjang karir yang dilaluinya.

Tahun 1988, Ita  masuk industri music, berbagai media menyebutnya dengan “lady rockers”,  di lagu “Penari Ular” karya Arthur Kaunang, vocal Ita yang  syahdu dipaksakan menjadi penyanyi rock. Namun justeru hal tersebut yang menjadikannya populer.

Tahun 1989, lewat lagunya “Selamat Tinggal Mimpi “ kariernya Ita sebagai penyanyi bertambah mencuat.

Tahun 90-an awal, Ita mulai terlihat seolah berganti image dengan berdandan ala Debbie Gibson. BASF Award memberi penghargaan “Penyanyi Rock Wanita Terbaiik”. Saat itu Ita berhasil membuat hit lagi lewat “Cintaku Padamu” karya Younky Soewarno dan Maryati yang seolah membawa nuansa lagu Pop Mandarin.

Tahun 1993, Kariernya sebagai penyanyi makin melambung lewat tembang Cintaku Padamu.

23 Oktober 1995, Setelah resmi menikah dengan punggawa Krakatau Band Dwiki Dharmawan, Ita lebih giat menjalin kerjasama musik dengan sang suami. Ini manfaat lain yang bisa dipetik Ita, apalagi Dwiki adalah pemusik yang terampil menjadi komposer sekaligus arranger.

Maret 1997, Ita dengan sang suami berbulan madu kedua di Australia. Sebelumnya mereka sengaja menunda momongan karena masih ingin menikmati masa-masa berdua. Setelah 1,6 tahun Ita dan Dwiki sepakat untuk punya momongan.

4 Desember 1997, buah hatinya, Muhammad Fernanda Dharmawan lahir melalui operasi caesar. Sehat, tak kurang satu apa.

Di era ini Yockie Surjoprajogo dari God Bless dan Kantata Takwa ikut andil pula menyentuk sosok Ita. Tetap dalam pola rock. Dengan didukung Donny Fattah (bass), Eet Sjahranie (gitar) dan Budy Haryono (drums), musik yang ditata Yockie seolah mewakili aura God Bless yang tengah menjalin kerjasama dengan Ita Purnamasari. Simaklah lagu “Selamat Tinggal Mimpi” yang kental nuansa rock-nya. Dalam interlude, lengkingan suara Ita seolah berpagut dengan petikan gitar elektrik Eet Syahranie.

Dalam album kompilasi itu Ita menyanyikan dua karya Yockie dan Sawung Jabo yaitu “Selamat Tinggal Mimpi” dan “Cakrawala Cinta’. Atmosfer rock masih menancap kuat dalam jatidiri Ita Purnamasari.

Pun ketika Ita berduet dengan Yankson Al vokalis grup rock Jet Liar dalam lagu “Rindu Sampai Mati” yang seolah membuka pintu untuk duet Inka Christy bersama Amy Suhaimi dari grup Search Malaysia.

Tahun 1996, ”Semakin Sayang Semakin Cinta” Ita dan Dwiki berhasil merampungkan rekaman di Amerika Serikat

Tahun 2002 ”Cintamu” dan “Semakin Sayang Semakin Cinta” merupakan karya Ita Purnamasari yang saat itu tergabung dalam trio Tiga Dara bersama Paramitha Rusady dan Silvana Herman.

Album kompilasi ini bisa dianggap representasi perjalanan karir Ita Purnamasari di khazanah musik kita. Dua lagu termutakhir pun ada di album ini yaitu lagu “Cuma Kamu” sebuah pola duet pop yang menyatukan vokal Ita Purnamasari dengan Zaki, mantan vokalis Kapten yang memiliki karakter unik. Serta lagu “Seandainya”, juga dengan pop touch yang kuat. Dwiki pun mengimbuh kedua lagu baru Ita ini dengan sentuhan orkestra dari China dan Australia.

Album Solo yang telah dihasilkan : Fatimah;   Ratu Disco (Single); Penari Ular; Selamat Tinggal Mimpi; Cakrawala Cinta; Biarkanlah; Sanggupkah Aku; Cintaku Padamu; Kembalilah Padaku; Cinta Itu Ada; KepadaMu Ya Allah; Semakin Sayang Semakin Cinta; Bidadari Yang Terluka (Soundtrack); Tiada Yang Seperti Kamu (Single); Cintaku Yang Terakhir ; Kejamnya Cinta; Cintamu; Sayangi Aku Aisyah (Single Dalam Album Kompilasi 12 Lagu Islami Terbaik Volume 2) serta Kembali Yang Terbaik.

Hasil album Kolaborasi : Nona Manis (Bersama Tiga Dara); Malam Minggu (Bersama Tiga Dara); Hanya Cinta (Bersama Tiga Dara); Bunga Kehidupan (Bersama Kelompok Solidaritas); Bersama Dalam Cinta (Bersama Forum); Memang Aku (Dengan Logika)-Single (Bersama Tiga Dara).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:

Peristiwa (Gerakan) Bedewang, Kabupaten Banyuwangi

Dalam kenyataan Daerah Tingkat II Kabupaten Banyuwangi merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Republik Indonesia dan tidak dapat dipisah-pisahkan antara satu dengan yang lainnya.

Demikian pula masyarakat Banyuwangi merupakan bagian dari bangsa Indonesia yang juga tidak dapat dipisah-pisahkan antara yang satu dengan yang lain. Dalam hal ini terbukti mengenal penjajahan dan berjuang melawan kolonialis Barat, rakyat Blambangan juga sudah mengenal kolonialisme bahkan sudah berperang melawan VOC atau Kompeni Belanda untuk mempertahankan kedaulatan Bumi Blambangan.

Sebagai bukti jauh sebelum Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan, rakyat Blambangan juga mengadakan perlawanan terhadap para penjajah seperti yang dilakukan di daerah-daerah lain di seluruh Tanah Air. Khususnya,perlawanan rakyat Blambangan di daerah Banyuwangi Selatan.

Perlawanan Rakyat Blambangan terhadap para penjajah (kaum kolonialisme) dikenal dengan sebutan “Peristiwa (Gerakan) Bedewang”. Mengapa disebut peristiwa (Gerakan) Bedewang? Untuk menjawab pertanyaan itu cukup mudah, karena perlawanan rakyat Blambangan itu berkobar Desa Bedewang (sekarang: wilayah kecamatan Songgon, Banyuwangi Selatan). Peristiwa Bedewang yang juga disebut gerakan Bedewang sangat penting artinya untuk dipahami oleh generasi penerus. Hal ini disebabkan pada waktu masa jayanya Partai Komunis Indonesia (PKI) pernah memberikan kesan atau memprogandakan bahwa seakan- akan Peristiwa Bedewang itu sebagai produk PKI dengan organisasi mantelnya, seperti: Barisan Tani Indonesia (BTI), Pemuda Rakyat (PR), Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) dan lain-lain. Ulah PKI yang semacam itu sebenarnya sebagai propaganda untuk menarik simpati masyarakat, terutama yang bertempat tinggal di pedesaan untuk mendukung program PKI.

Adapun Peristiwa Bedewang itu melibatkan semua lapisan masyarakat di daerah Banyuwangi Selatan untuk menentang dan melawan penguasa penjajah. Peristiwa (Gerakan) Bedewang itu terjadi disebabkan adanya pungutan pajak yang dirasa sangat memberatkan masyarakat

Dan pada tahun 1926, rakyat Blambangan dengan dipelopori seorang ulama pejuang yakni Kyai Cemoro mengadakan perlawanan terhadap penguasa penjajah. Kyai Cemoro itu mempunyai nama asli Kyai Haji Abdullah Fakih, sedang Cemara adalah nama sebuah desa di Kecamatan Singojuruh yang merupakan asal-usul Kyai tersebut. Kyai Haji Abdullah Fakih adalah seorang ulama pejuang yang anti penjajah. Setelah menyaksikan penderitaan rakyat Bedewang dan sekitarnya menderita karena pungutan pajak yang amat tinggi dan sangat memberatkan itu, Kyai Cemara terpanggil jiwanya dan bangkit mempelopori rakyat Bedewang untuk menentang tindakan kejam penguasa penjajah yang tidak berperikemanusiaan itu, yang mengakibatkan penderitaan, kemiskinan serta hidup diliputi rasa cemas dan ketakutan.

Kyai Cemara bersama beberapa santrinya membantu rakyat yang selalu berkumpul-kumpul dalam keadaan gelisah dan kecemasan. Situasi semacam itu oleh penguasa penjajah dianggap mengganggu ketertiban umum dan sangat membahayakan kedudukan pemerintah Belanda, oleh karena itu penguasa penjajah segera mendatangkan pasukan keamanan dari kota Banyuwangi guna mencegah segala kemungkinan yang akan terjadi. Kemarahan rakyat meledak setelah mengetahui kedatangan pasukan keamanan di kampung halaman mereka.

Pertempuran tidak dapat dihindarkan antara rakyat Bedewang yang dipimpin langsung oleh Kyai Cemara bersama sejumlah santrinya dalam melawan pasukan keamanan yang berlangsung cukup sengit. Peristiwa yang banyak memakan korban jiwa itulah yang dikenal dengan “Peristiwa (Gerakan ) Bedewang.

Pada saat pertempuran itu, ternyata pasukan keamanan porak-poranda dan kewalahan dalam menghadapi perlawanan rakyat Bedewang, sehingga penguasa penjajah segera meminta bantuan pasukan Maresose sebagai pasukan andalan yang bermarkas, di lawang (Malang) untuk menumpas perlawanan rakyat Bedewang. Dalam perlawanan itu, rakyat Bedewang hanya bersenjatakan senjata tradisional seperti: tombak, pedang, kampak, clurit dan semacamnya untuk bertempur dengan pasukan andalan yang sudah bersenjatakan dengan senjata yang serba lengkap dan modern. Dengan bersenjatakan senjata tradisional pasukan rakyat Bedewang terdesak terus menerus yang akhirnya perlawanan rakyat itu dapat dikuasai dan dipadamkan oleh pasukan andalan. Sedangkan Kyai Cemara bersama beberapa tokoh masyarakat setempat ditangkap yang kemudian dijebloskan ke dalam penjara oleh penguasa penjajah. Dengan demikian berakhirnya perlawanan rakyat Bedewang itu.

Diawal revolosi 1945 walaupun usianya sudah lanjut, Kyai cemara setelah bebas dari penjara masih turut berjuang untuk memenuhi panggilan Ibu Pertiwi dengan semangat juang yang masih berkobar-kobar. (GB/HUMAS)

Tri Asih Rahayu, S. PD; Gema Blambangan,  No. 064 / 1996 hlm. 44-45

Ki Buyut Jaksa Tukang Rumput Bupati Mas Alit, Kabupaten Banyuwangi

Ki Buyut Jaksa adalah gelar yang disandang Ki Martojoyo, seorang tukang rumput Bupati Mas Alit (Bupati I Banyuwangi) yang merupakan salah satu cicit dari Tawang Alun. Mas Alit diangkat jadi Bupati atas dasar usulan Patih Juru Kunci (patih dari Adipati Jeksanegara 1771-1773) pada Residen Schophoff yang kemudian diteruskan lewat P. Luzak, Gezaghebber Ujung Timur, dilanjutkan lewat Van der Burg Gubernur di Semarang dan dilanjutkan ke Gubernur Jenderal Van der Parra di Batavia. maka turunlah resolusi penguasa VOC tanggal 7 Desember 1773 yang berisi: Pengangkatan Mas Alit sebagai Bupati Blambangan; memberikan kebebasan kepada Mas Alit untuk memilih dan memindahkan ibu kota pemerintahannya dari tempatnya yang semula di Benculuk ke tempat lain dan; memerintahkan kepada seluruh eselon bawahannya dari jajaran pejabat VOC di ujung timur terutama yang ada di Blambangan untuk mengubah kebijaksanaanya (dari kekerasan ke pendekatan dengan mem­perhatikan kepentingan dan keadaan sosial ekonomi penduduk setempat) dalam menangani pemerintahan di Blambangan. Berdasarkan resolusi itu, Mas Alit dilantik 1 Februari 1774 dan memindahkan pusat pemerintahannya dari Benculuk ke Banyuwangi. Dan Mas Alit mulai menempati kediamannya di Banyuwangi pada tahun 1775 (Lekkerkerker, 1923: 1061).

Dari literatur yang ada dapat dipastikan sejarawan hanya meperhatikan tokoh-tokoh utama pelaku sejarah. Barang kali memperhitungkan segi praktis dan ekonomisnya, namun tidak ada jeleknya jika dalam tulisan ini saya menyoroti Ki Martojoyo sebagai tukang pencari rumput sekaligus tukang ramut kudanya Bupati Mas Alit. Karena sosok Ki Martojoyo asal Lumajang ini punya andil besar dalam meluruskan masalah keagamaan di Banyuwangi dan punya andil besar pula dalam pembuatan jalan dari Banyuwangi-Surabaya, utamanya tragedi penembusan bukit batu yang sekarang kita kenal sebagai obyek wisata Watu Dodol (15 km arah utara dari pusat pemerintahan). Alkisah, Ki Martojoyo sedang merumput di tegal (lapangan di selatan pendopo Kabupaten, di timurnya masjid dan sekarang sudah jadi Taman Sritanjung). Hujan lebat sekali disertai petir yang menyambar-nyambar. Melihat keadaan yang demikian, Bupati Mas Alit tahu dan memerintahkan pembantunya yang lain (Jongos) menyusul Ki Martojoyo. Jongos (namanya luput dari catatan sejarah) tergesa- gesa menghampiri Ki Martojoyo. Berdasarkan, perintah Bupati Mas Alit, Ki Martojoyo disuruh pulang. Seusai menyampaikan pesan itu, Jongos segera lari ke pendopo. Ki Martojoyo malah jalan berlenggang seperti tidak sedang diguyur hujan. Ia langsung menuju kandang kuda dan menurunkan gulungan rumput. Lagi-lagi Bupati Mas Alit memerintahkan Jongos membawa pakaian kering untuk Ki Martojoyo. Begitu sampai di kandang kuda, Jongos sangat kaget campur heran karena dilihatnya Ki Martojoyo tidak menggigil kedinginan karena seluruh badan dan pakaiannya tetap kering, belum sampai menegur Ki Martojoyo, Jongos kembali menghadap Bupati Mas Alit untuk melaporkan apa yang baru saja dilihat. Untuk membuktikan laporan Jongos, Bupati Mas Alit mendatangi Ki Martojoyo di kandang kuda. Ternyata benar laporan Jongos tadi. Setelah terjadi dialog beberapa kali, akhirnya Bupati Mas Alit tahu kalau Ki Martojoyo memiliki ilmu yang tinggi dan tidak pada tempatnya jika hanya sebagai tukang rumput dan ramut kuda. Maka atas dasar musyawarah Bupati Mas Alit dengan para penasehat, punggawa dan para Singo, Ki Martojoyo diangkat menjadi Jaksa Agama dan masyarakat menjuluki Ki Buyut Jaksa.

Sayang sekali jabatan ini tidak lama diduduki Ki Buyut Jaksa. Usianya memaksa dirinya untuk bergeser. Bupati Mas Alit meminta Ki Buyut Jaksa tetap tinggal di lingkungan pendopo karena nasehat-nasehatnya masih dibutuhkan. Namun Ki Buyut Jaksa berniat mengasingkan diri ke Gunung Silangu, 3 km arah barat dari pendopo kabupaten. Bupati Mas Alit tak bisa mencegah.  Maka berangkat-lah Ki Buyut Jaksa ke Gunung Silangu. Di Gunung Silangu Ki Buyut Jaksa ngampung di gubuk Kik Lemani yang punya anak bernama Nuriman. Dimana, Ki Buyut Jaksa sangat sayang pada Nuriman dan akhirnya dijadikan anak angkat. Di Gunung Silangu ini Ki Buyut Jaksa mengamalkan ilmunya, konon ia sering-sering menghilang. Begitu datang dapat dipastikan membawa batu sebesar kepala sapi. Batu-batu itu ditumpuk di tepi kali dari timur ke barat sepanjang 25 meter/tinggi 3 meter (dulu) sekarang tinggal 1 m, lebar 2 m di tengah-tengah tumpukan batu itu tumbuh pohon beringin. Di barat beringin itu dibuat ruangan sholat. (dindingnya tumpukan batu tadi dan atapnya dari helai-helai daun ilalang). Ruang pesholatan ini sekarang dibangun musholla At-Taqwa. Hanya saja batu tempat Ki Buyut Jaksa sujud tetap dipasang di ruangan musholla, persis 1 m dari pintu masuk. Di bawah batu itu ada haikal, keris Nogo Sosro dan akik. Untuk mengambilnya tentu harus melalui jalur ilmu tinggi. Untuk kepentingan VOC, Residen Schophoff mendapat perintah dari atasannya agar di Banyuwangi ada jalan darat menuju Surabaya. Maka Residen Schophoff meminta pada Bupati Mas Alit agar mengerahkan rakyatnya untuk kerja bakti. Dan berlangsunglah berbulan-bulan dengan korban berjatuhan karena imbalan jaminannya tidak seimbang dengan kerja baktinya. Korban makin banyak tatkala jalan sudah sampai di bukit batu dekat pantai jauh di utara pusat pemerintahan. Bupati Mas Alit sangat sedih. Ia tak mau rakyatnya jadi korban sia-sia. Maka kerja bakti dihentikan

Pihak VOC bersikeras mewujudkan jalan darat tanpa harus melibatkan anggotanya untuk ikut kerja bakti. Karenanya pihaknya sangat terpukul atas pemogokan para pekerja bakti yang keseluruhannya rakyat Banyuwangi. Bupati Mas Alit yang jelas membela keberadaan rakyatnya, karena masing-masing pihak berdiri pada kepentingannya sendiri, akhirnya kedua pihak sepakat mengadakan sayembara, isinya, barang siapa mampu mendodol bukit batu selebar 30 m, diberi hadiah tanah mulai dari selatan bukit batu ke selatan hingga Sukowidi (sekarang). Namun sampai batas waktu yang ditentukan, tidak ada satupun orang yang sanggup mengikuti sayembara. Akhirnya Bupati Mas Alit teringat Ki Buyut Jaksa yang sedang mengasingkan diri di Gunung Silangu. Maka ia mengirim beberapa utusan untuk menyampaikan permasalahan ini pada Ki Buyut Jaksa. Di luar harapan, ternyata Ki Buyut tidak bersedia membantu karena dirinya tahu, kesemuanya merupakan rekayasa VOC yang menjalankan kekerasannya lewat cara lain. Berkali-kali Bupati Mas Alit kirim utusan. Akhirnya Ki Buyut Jaksa bersedia membantu asal orang-orang VOC juga ikut kerja bakti, yang mimpin ditunjuk Nuriman yang kala itu baru berusia 11 tahun. Pihak VOC dan Bupati Mas Alit menyetujui gagasan Ki Buyut Jaksa, Nuriman yang merasa keberatan. Karena usianya yang masih anak-anak dirasa tidak mungkin mampu memimpin orang-orang tua apa lagi campur orang-orang VOC untuk kerja bakti. Ki Buyut Jaksa menasehati kalau dirinya membantu Nuriman dari belakang. Akhirnya Nuriman bersedia.

Sebelum melakukan kerja bakti, konon Ki Buyut Jaksa memanggil para demit yang menghuni bukit batu. Kedatangan dedemit ini diceritakan seperti arak-arakan agustusan. Rajanya dipikul empat prajuritnya. Kepala rajanya seperti barong (sebarang) dan badannya memanjang lumpang (tempat menumbuk padi). Terjadi dialog antara raja demit dengan Ki Buyut Jaksa menghasilkan kesepakatan, para demit di bukit batu bersedia membantu mendodol bukit batu antara dua anjir (patek). Sepulang rombongan demit, Nuriman diwejang oleh Ki Buyut Jaksa sekaligus diberi kayu semacam tongkat komando untuk memimpin kerja bakti. (Tongkat kayu ini sampai sekarang masih ada). Karena butuh uang, cicit Nuriman yang bernama Mistari pinjam uang Rp 100 ribu dan tongkat kayu ini dijadikan bork).

Sebelum memimpin kerja bakti, Nuriman diajak meninjau lokasi oleh Ki Buyut Jaksa, ternyata di bukit batu ada dua anjir yang jaraknya lebih kurang 60 m. Ki Buyut Jaksa memerintahkan kepada Nuriman agar para pekerja bakti nanti mendodol bukit batu sesuai dengan ukuran yang diminta VOC saja, yakni 30 m. Setelah melihat lokasi, ayah (lajang) dan anak angkat ini kembali ke Gunung Silangu.

Keesokan harinya, Nuriman dengan tongkat komando di tangan kanannya berangkat ke lokasi kerja bakti dengan rakyat Banyuwangi dan beberapa anggota opas VOC. Kerja bakti berlangsung siang malam. Konon para dedemit membantu. Kalau malam dedemit ini berubah menjadi harimau. Tapi para pekerja bakti makhluk manusia tidak tahu karena batasan alamnya. Ki Buyut Jaksa hanya njangkungi dari Gunung Silangu.

Kerja Bakti selesai, para pekerja bakti selamat. Tidak ada korban meskipun ada seonggok batu yang tidak kena didodol di sebelah timur jalan (sekarang di tengah jalan). Menurut cerita, seonggok batu yang tidak kena didodol itu tempat duduknya raja demit. Atas keberhasilan ini, Nuriman dan Ki Buyut Jaksa diberi hadiah sesuai janji Bupati Mas Alit. Namun Nuriman dan Ki Buyut Jaksa menolak. Mereka lebih suka hidup di Gunung Silangu, di samping itu lahan di selatan watu Dodol hingga Sukowidi masih berupa hutan lebat.

Kini Gunung Silangu jadi Kelurahan Boyolangu Kec. Glagah. Tiap tahun masyarakat Boyolangu berbondong-bondong naik andong menuju Watu Dodol sambil membawa makan untuk disantap bersama-sama. Rombongan andong (dokar) ini bisa kita jumpai setiap 10 hari dari 1 Syawal.

Kapan Ki Buyut Jaksa wafat? menurut kepercayaan Ki Buyut Jaksa tidak wafat tapi musno. Sebelum musno, Ki Buyut Jaksa berpesan pada Nuriman: Jika suatu saat saya tidak ada di gubuk ini, buatlah tanda di patek ini.” Sayang sekali ketika Ki Buyut Jaksa menghilang dan tidak kunjung kembali, tidak dicatat hari tanggal bulan dan tahunnya. Akhirnya Nuriman membuat semacam kuburan. Dan oleh masyarakat Weringinan Boyolangu, Nuriman dijadikan petinggi dan mendapat gelar Singosari. Singosari punya anak Kik Iyam dijuluki Singopati. Singopati ini punya keturunan Jono, Jono punya anak Karunia alias H. Kodir, punya anak Senari Sukaryo, punya anak Mistari (64). Mistari inilah yang menceritakan pada penulis. Ia mengatakan, buku-buku peninggalan Ki Buyut Jaksa sebenarnya banyak. Pada waktu penjajahan Jepang buku-buku itu dipendam oleh murid-muridnya di tengah sawah. Sedang cincin Merah Delimanya sampai sekarang masih ada. Konon cincin ini akan diberikan pada saudara-saudaranya (cicit saudaranya) yang ada di Lumajang. Untuk mengambilnya mesti tirakat dan nyepi di petilasan Ki Buyut Jaksa di utara Masjid Kel. Boyolangu. Sumber lain yang penulis hubungi adalah Mak Suriyah (Sayuti) berusia 127 tahun juga penduduk Kel. Boyolangu. Ia sempat bertemu dengan petingginya yakni Singosari. Menurut ceritanya, Singosari pernah mengatakan, Boyolangu yang dulu masih berbentuk Gunung Silangu ini hampir mengeluarkan lahar. Tapi Ki Buyut Jaksa berdoa agar Gunung Silangu dimatikan saja. Doanya dikabulkan, hanya saja diganti dengan musibah api. Maka sebagian dari wilayah Gunung Silangu hangus terbakar, mak Suriyah menuturkan, atas cerita tadi, kini di Boyolangu tiap tahunnya hampir bisa dipastikan ada kebakaran. Entah rumah, kendaraan manusia seperti yang menimpa guru SMPN I Giri, Ibu Hamdana. Penyebabnya sepele. Anaknya sedang bermain kompor-komporan yang dibelikan di THR Blambangan. Karena diisi minyak tanah sungguhan, kompor-kompor tadi nggebus, apinya masuk ke tempat minyak tanahnya. Buru-buru Bu Hamdana mengambil kompor-komporan yang dilahap api itu. Maksudnya mau dimasukkan ke bak air. Tak disangka, api menjilat kain roknya hingga terbakar dan dengan cepat merambat ke seluruh pakain yang dikenakan. Bu Hamdana panik masuk bak air (jeding). Masyarakat sekitar menolong langsung melarikan ke RSUD Blambangan. Satu hari dirawat, Bu Hamdana meninggal di sal rumah sakit. Sebagai sikap kontroversi, Drs. Sugiono (48) justru suka bermain sepak bola api dan voli dengan bola api. Apakah ini sikap menentang sugesti dari generasi kini pada generasi tua? Sugesti lainnya yang dituturkan Mistari adalah persetruan antara masyarakat Boyolangu dengan Cungking hingga sekarang. Apakah ini buah politik Belanda yang suka memecah belah dengan jalan mengadu masyarakat suatu tempat dengan daerah lain sehingga turun-temurun hingga sekarang? Barang kali publik lebih setuju dengan pendapat penulis. Namun lain kepercayaan yang digandoli masyarakat Boyolangu. Mereka percaya, dulu Ki Buyut Wongso Karyo yang petilasannya berada di Cungking ngeluruk Ki Buyut Jaksa di Gunung Silangu dengan membawa kiling, dipasang di dekat peristirahatan Ki Buyut Jaksa. Dengan ilmunya, Ki Buyut Wongso Karyo yang dikenal sebagai Ki Buyut Cungking, mengundang angin dari arah utara, karena tingginya kecepatan angin, pohon-pohon kelapa yang dilaluinya roboh. Namun begitu dekat dengan kiling, anginnya menghindar sehingga kiling tidak berputar. Atas kekalahan ini Ki Buyut Wongso Karyo merasa malu dan jengkel. Tanpa bicara ia menurunkan kilingnya dan siap meninggalkan Ki Buyut Jaksa. Sebelum melangkah meninggalkan Boyolangu (Gunung Silangu), Ki Buyut Wongso Karyo berkata: Aku akui kekalahan ini. Tapi jika kelak ada masyarakat Gunung Silangu ini masuk Cungking pasti tinggal namanya. Ki Buyut Jaksa menjawab sebaliknya. Kisah ini bisa dibuktikan. Pernah pemuda Cungkin berani menikahi gadis Boyolangu. Perkawinan belum berusia sebulan pengantin lakinya meninggal tanpa jalaran sakit lebih dulu. Benarkah demikian? Apakah masa kehidupan Ki Buyut Jaksa satu jaman dengan Ki buyut Wongso Karyo? Setelah penulis buka-buka makalah sejarah Blambangan 1993, Ki Buyut Wongso Karyo itu tidak sejaman dengan Ki Buyut Jaksa. Mungkinkah terjadi? Jadi penulis yakin persetruan antara masyarakat Cungkin dengan Boyolangu hanyalah hasil rekayasa politik Belanda, bukan karena kutukan Ki Buyut Wongso Karyo yang hidup di jaman Prabu Tanpo Uno Tanpo Uni tahun 1389 M atau kutukan Ki Buyut Jaksa yang hidup pada jaman Bupati Mas Alit tahun 1773-1782 M.

Ki Buyut Wongso Karyo adalah tokoh penting di jamannya. Ilmu kanuragannya tinggi, pandai mengatur strategi perang dalam menghadapi VOC di jaman kepemimpinan putra-putranya Prabu Tanpo Uno Tanpo Uni yang dibayangi kekuasaan Kerajaan Mataram. Ki Buyut Wongso Karyo adalah tokoh yang sangat disegani di kalangan rakyat Blambangan dan ditakuti lawan. Begitu juga tokoh Ki Buyut Jaksa yang rendah hari, memulai karir jasanya dari tukang rumput dan tukang ramut kuda Bupati Mas Alit (1773-1782). Karena ketinggian ilmu keagamaap dan kanuragannya ia diangkat menjadi jaksa agama, kemampuannya memasuki alam metafisik mampu menggerakkan dedemit di bukit batu untuk ikut kerja bakti mendodol bukit batu dijadikan jalan darat. Dan kini bukit batu yang jadi masalah itu malah jadi obyek wisata Watu Dodol. Kedua tokoh ini sama-sama potensial. Sama-sama milik Banyuwangi. Jadi tak ada alasan saling mempertentangkan satu sama lain. Sekarang sudah alam globalisasi. Apa yang sedang terjadi di belahan bumi selatan dapat diketahui oleh penghuni belahan bumi utara.

Penjajahan fisik bangsa lain atas negeri kita memang sudah lama berlalu. Namun politik adu dombanya hingga sekarang masih kita rasakan getarannya. Kitalah yang bertanggung jawab membersihkan sisa-sisa feodalisme yang kaku kemudian kita ganti dengan lembaran persatuan dan kesatuan untuk ikut berperan dalam PJP II. Karena bangsa kita pada dasarnya memiliki watak dan kepribadian luhur. Memiliki kewibawaan yang tinggi di tengah bangsa-bangsa lain di dunia ini.

Sebagai bangsa yang tahu adat, tentu sangatlah arif menghargai upaya-upaya yang telah dilakukan oleh pendahulu kita. Sekecil apapun upaya itu. Dengan apa? Minimal kita memberikan perhatian pada kehidupan mereka yang ikut merawat peninggalan pelaku sejarah seperti Mistari yang masih punya tanggungan Rp 100 ribu dan benda peninggalan sejarah dijadikan bork. Tanggung jawab siapa ini? □

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Abdullah Fauzi, Gema Blambangan. No. 063/1996 44-48

Kadir, Kabupaten Lumajang

3 September 1951, di Lumajang, Jawa Timur lahir Kadir dari pasangan ibu Jawa dan ayahnya Arab, tapi sempat hidup di antara orang-orang Madura di Bondowoso.

Setamat SMP, Kadir yang yatim sejak umur 11 tahun ini memilih ikut sandiwara keliling  menjadi tukang tarik layar.

Tahun 1970,  Kadir mengawali kariernya sebagai pemain ludruk. Dan akhirnya menjadi pelawak,  yang dalam lawakannnya menggunakan logat Madura. Selanjutnya bergabung dengan grup Srimulat, kemudian, Ia sangat dikenal luas masyarakat melawak bersama Doyok. Bersama Doyok, Ia membintangi beberapa judul film layar lebar nasional. Setelah film nasional meredup, Ia beralih ke dunia sinetron.

Tahun 1987, Saat terjun ke film langsung mendapat berkah karena ditawari jadi orang Madura dalam Cintaku di Rumah Susun,  pada tahun tersebut juga membintangi film “Kecil-Kecil Jadi Pengantin”

Tahun 1989, membintangi Giliran Saya Mana, Kanan Kiri OK, Makelar Kodok  serta  Kanan Kiri OK II

Tahun 1990, “Kanan Kiri OK III “,  “Antri Dong”, “Ikut-Ikutan” dan “Jangan Bilang Siapa-Siapa “. ketika membintangi film, Kanan Kiri OK dari I sampai III (1989-1990). Ia dipasangkan dengan pelawak Doyok, disinilah namanya lebih mencuat.

Tahun 1991,  membintangi Akal-Akalan .

Tahun 1992, membintangi Salah Pencet, Boleh Dong Untung Terus ,  Pintar-Pintaran dan  Plin Plan.

Tahun 1993, membintangi Mumpung Bda Kesempatan dan Tahu Beres”

Tahun 1995, membintangi Kapan Di Luar Kapan Di Dalam

Tahun 1996, karena kesuksesannya di layar lebar, serta lesunya  perfilman  layar lebar sehingga Kanan Kiri OK disinetronkan

Tahun 2008, membintangi Mas Suka, Masukin Aja-Besar Kecil I’ts Okay.

Tahun 80 hingga 90an, Grup lawak di gawangi oleh Doyok dan Kadir dengan dua pelawak kondang asal jawa timur, mereka yang tenar.

Kadir adalah sahabat yang paling setia, sewaktu Doyok ditahan polisi dalam kasus narkoba, Kadirlah selalu mendapinginya

Kadir membuka usaha rumah makan yang dikelola sang istri, sehingga meski sepi job, penghasilan dari usaha rumah makan inilah  yang menunjangnya.=SiWh0T0=

Ludruk Sebagai Media Perjuangan (1945—1949)

Ludruk itu merupakan kesenian Jawa Timur yang dahulu dinamakan kesenian Bandan. Pertunjukkan kesenian ludruk Bandan itu menggambarkan bermacam-macam kesaktian para leluhur dalam hal ilmu kanuragan (kesaktian).

Ceritera ludruk Bandan itu sampai dengan pertunjukkan kesenian Epiek yaitu suatu ceritera mengenai kejadian-kejadian dengan pahlawan-pahlawan yang sakti, perwira pada masa lampau. Dalam ceritera itu termasuk pengalaman, keberanian, kecintaan dan sebagainya.

Dalam perkembangannya ludruk Bandan tak mendapat perhatian masyarakat, kemudian habis riwayatnya dan selanjutnya diganti dengan kesenian ludruk Lerok yang permainannya mirip sulapan.

Setelah ludruk lerok tidak berkembang dan mati, kemudian tumbuh ludruk Besut. Inti dari dalam ceritera itu menggambarkan kakang besut mencari pekerjaan ke Surabaya disusuli istrinya. Perjalanan dilukiskan dari Jombang, melalui Mojokerto terus ke Surabaya selalu menjumpai rintangan dalam perjalanannya.

Adapun siapa pencipta ludruk Bandan, ludruk Lerok dan ludurk Besut belum diketahui. Pemain ludruk Besut terkenal antara lain Cak Ngan. Ia juga pencipta lagu gending ijo-ijo dan gending emek-emek.

Pemain ludruk Blontan sekaligus seorang pelawak adalah Cak Gondo Durasin yang melahirkan pernyataan perasaannya dengan syair: “pegupon omahe dara, melok Nippon tambah sara”. Bila diartikan dalam bahasa Indonesia “pegupon rumah burung merpati, diperintah Nippon tambah sengsara”.

Cak Durasin adalah seorang rakyat jelata putera Surabaya asli yang berjiwa patriot. Jasanya besar sekali karena dari tahun 1931-1942 ia selalu turut menyebarkan semangat persatuan dan turut pula menyebar jiwa nasionalisme.

Cak Durasin terkait erat dengan sejarah berdirinya gedong nasional Indonesia di Bubutan Surabaya, kemudian memegang peranan penting dalam memberi penerangan penting dalam memberi penerangan dan propaganda kepada rakyat di beberapa tempat.

Cak Durasin dapat dikatakan sebagai tangan kanan Dr. Sutomo. Karya Cak Durasin “Karma” diakui oleh Dr. Sutomo besar sekali pengaruhnya. Pemain ludurk Besutan yang banyak berperan antara lain Cak Akkidin alias Markuat dan Cak Dauh alias Haji Dulatip (aim), Cak Kuten, Cak Dul, Satari, Kasiyem dan lain-lainya.

Dalam perkembangannya diadakan perubahan dari ludruk Besutan menjadi sandiwara. Perubahan ini atas nasehat Marsaid kepada Cak Gondo. Perubahan itu diadakan karena

keadaan mendesak yaitu rombongan ludruk Cak Durasin di Sidoharjo mendapat saingan dari rombongan Cak Malang sehingga ludruk Cak Durasin pindah mendapat perhatian penonton.

Perubahan itu bukan hanya ludruk maupun sandiwara tetapi juga ceritera-ceritera yang dimainkan diganti dengan ceritera roman atau drama.

Dengan demikian secara proses perkembangan ludruk telah mengalami pergantian nama dari ludruk banden menjelma menjadi ludurk lerok kemudian berganti ludurk besutan dan terakhir menjadi ludruk sandiwara.

Pertunjukkan ludruk, satu-satunya kesenian rakyat Jawa Timur terutama bagi rakyat Surabaya umumnya. Ludruk telah menjadi tontonan daerah dan menjadi kegemaran penduduk Jawa Timur serta memegang peranan penting dalam gelanggang penerangan kepada rakyat dalam masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Jumlah perkumpulan ludruk di dalam kota besar Surabaya, menurut catatan kantor Jawatan Penerangan Kota Besar Surabaya tahun 1952 berjumlah 481 rombongan, di antaranya ada 4 perkumpulan ludruk yang terkenal ialah Ludruk Marchain dibawah pimpinan Bowo, rombongan ludruk Jawa Timur di bawah pimpinan Satari, rombongan Trisno oleh Bradi dan rombongan Warna Sari di bawah Tang Ceng Bok yang dekadenya didunia film Indonesia.

Diantara 4 rombongan itu, ludruk Marhaen digemari orang karena mengandung penerangan terhadap rakyat, baik yang berupa komentar, agitasi dan kritik-kritik yang berfaedah.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: 
Partisipasi Seniman Dalam Perjuangan Kemerdekaan Di Propinsi Jawa Timur: Studi Kasus Kota Surabaya Tahun 1945—1949: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan RI, Jakarta,1999; hlm. 31-37

Prastowo Roro Kuning, Kabupaten Nganjuk

Prastowo Roro Kuning merupakan suatu cerita peristiwa yang mengisahkan tentang asal mula nama air merambat yang ada di desa Bajulan yang ditransfer dalam sebuah sendratari. Pada tanggal 6 April 2008 lalu, sendratari ini dipentaskan langsung dan untuk pertama kalinya pada peresmian obyek wisata air merambat Roro Kuning Dikisahkan dalam cerita ini, diawali dari kerajaan Daha (Kediri) saat diperintah oleh Sri Aji Jayabaya, yang mempunyai putri Dewi Kilisuci. Kerajaan Daha pada waktu itu sedang berperang dengan negeri seberang (?), yang dalam peperangan tersebut dimenangkan oleh Kerajaan Seberang.

Koreografer mentransfer adegan tersebut secara simbolis dengan diawali dua penari putri ya ng berkostum keprajuritan dengan membawa gunungan, yang menggambarkan kedua kerajaan tersebut sedang berperang. Jenis gerakan yang digunakan dalam adegan ini adalah gerakan keprajuritan yang lincah, dengan dinamika yang cepat dan gerakan patah-patah, mereka menarikan adegan ini beradu kekuatan fisik.

Diceritakan dalam sejarah, dalam peperangan tersebut ternyata dimenangkan oleh lawan kerajaan Daha kemudian raja dari kerajaan seberang ingin memperistri Dewi Kilisuci. Namun Dewi. Kilisuci menolaknya, dan terjadilah adegan kedua yang menceritakan Dewi Kilisuci beserta Dewi Sekartaji dan Panji Asmorobangun tengah melarikan diri bersembunyi di hutan lereng gunung Wilis. Sesampainya di hutan, Dewi Sekartaji jatuh sakit, karena mereka tidak membawa perbekalan yang cukup, kemudian Dewi Kilisuci meningggalkan mereka untuk mencari dedaunan untuk ramuan obat, tetapi sialnya ketika akan kembali ia terperosok dan tidak dapat menemukan kembali dimana adiknya terbaring.

Adegan kedua, koreografer menyingkat cerita dengan gerak tari yang hanya ditarikan oleh Dewi Kilisuci yang mencari dedaunan dengan gerak ulap-ulap yang disambung dengan gerakan ngleyang kemudian dilanjutkan sekarsuwun, engkyek, lumaksana, semedi, dan diakhiri dengan trisik. Perjalanan Dewi Kilisuci ditarikan dengan gerakan lembut dan lemah gemulai dan mengalir dengan suasana sedih. Memasuki adegan ketiga, menceritakan Panji Asmoro Bangun yang sedang mencari Dewi Kilisuci, karena lama tidak kunjung datang.

Gerakan tari yang digunakan dalam tokoh ini merupakan pencerminan gerak mencari seseorang yaitu Dewi Kilisuci. Penari dalam suasana hati yang bingung, karena tidak kunjung menemukan Dewi Kilisuci. Gerakan yang halus namun terkesan
banyak tergambar dalam perwatakan Panji Asmorobangun Koreografer berusaha menampilkan tokoh ini, dengan tampilan khas gerakan  trisik, yang dipadu dengan lembehan lumaksono, yang diselingi ulap-ulap tawing, menthang dan sindhet. Gerakan trecet dan trisik mengakhiri adegan ketiga  ini.

Kisah selanjutnya menceritakan Dewi Kilisuci bersama penduduk setempat yang sedang berada di grojogan (air terjun). Kedatangan Dewi Kilisuci yaitu untuk bersemedi, namun dalam semedinya, karena kelelahan maka tertidurlah Dewi Kilisuci.
Dalam mimpinya ia merasa diganggu makhluk halus (jin). Cobaan silih berganti. Mengingat banyaknya cobaan tersebut, grojogan itu diberi nama Pacoban.

Koreografer berusaha memahami konsep cerita dengan  menampilkan gerakan yang lembut untuk Dewi Kilisuci dengan gerakan manglung, yang sesuai dengan gerakan semedi, disertai ukel karno, yang kemudian dengan gerakan semedi, penari rampak berusaha mengganggu, dengan gerakan mengelilingi Dewi Kilisuci dengan gerakan canon, yaitu saling bergantian.

Koreografer berusaha menampilkan gerakan dengan suasana gaduh, sehingga dengan irama cepat ini, konsep gerak penari Dewi Kilisuci yang mengalun dalam gerakan semedinya akan terganggu. Musik dengan dinamika yang cepat yang mengiringi 6 penari rampak, menuntut koreografer menampilkan gerak kontras dengan tarian Dewi Kilisuci, maksud yang ingin dungkapkan dari konsep kontras ini, adalah ketidak nyamanan Dewi Kilisuci dalam bersemedi. Penampilan Dewi Kilisuci yang lunglai dan gemulai dalam tarian ini sangat tepat disuguhkan berbarengan dengan tampilan penari rampak, membuat paduan semakin menarik dalam sendratari ini.

Karena merasa terganggu, maka Dewi Kilisuci berjalan menuju grojogan selanjutnya, untuk bersemedi kembali. Namun godaan dan gangguan tidak jauh berbeda dengan cobaan di grojogan yang berada di bawahnya. Maka dari itu, grojokan di atasnya diberi nama Pacoban Nunut.

Walaupun terus mendapat godaan, Dewi Kilisuci meneruskan semedinya sampai akhir hayatnya. Sendratari ini diakhiri dengan disebutnya grojokan, yang menurut penduduk setempat menyebutkan grojogan atau air merambat Roro Kuning, yang diambil dari Dewi Kilisuci yang dikenal masyarakat setempat, karena kulitnya yang kuning, dan sampai akhir hayatnya berada di grojogan tersebut, maka disebutlah Roro Kuning.

Koreografer menutup adegan ini dengan semedinya Roro Kuning bersama penduduk setempat dan menunjuk ke arah berdirinya patung Roro Kuning. Dengan diiringi Gendhing lancaran, Dewi Roro Kuning dan 6 penari rampak bersama-sama keluar dalam arena panggung yang berarti selesai sudah sendratari Prastowo Roro Kuning.

Koreografer Nurgati Guna Juwita, S.Pd (Guru SMP Negeri 3 Nganjuk)

Para Pemain:
1.Roro Kuning – Ivon Yossy (siswi SMPN 3 Nganjuk)
2. Penari rampak – Ratna Setyaningtyas,
3. Penari Gunungan – Merry Laguna dan Ida Anggit Ayu, Erna Tri Retno, Novita Agesti, Wayan Dhea, Agnis Yuliana (siswi SMPN 3 Nganjuk)
4. Panji Asmorobangun – Singgih

Durasi waktu – 20 menit

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Nurgati Guna Juwita, S.Pd. (Guru SMP Negeri 3 Nganjuk). DERAP Anjuk Ladang; Edisi 186 Th. 2008

Enny Haryono, Kediri

10 November 1954, Enny Haryono lahir di Kediri,memiliki nama asli Ennie Hartati. penyanyi dan pemain film Indonesia tahun 1970 dan 1980-an.

Tahun 1974, Awal kariernya ikut lomba Bintang Radio dan Televisi

Enny menikah dengan Agus Edward Rantung yang berprofesi sebagai pegawai negri dan menghasilkan dua orang dua anak Renny Desita Rantung dan Ricky Indrawan Rantung.

Tahun 1975 Enny bermain  dalam film Tiga Cewek Badung,  sempat menjadi peran utama sebagai Dodid, bersama  Titiek Puspa dan Deasy Arisandi.

Tahun 1976, Enny bermain di Cintaku di Kampus Biru bersama aktor Roy Marten,  “Tiga Cewek Indian” bermain dengan Rae Sita,  dan film “Ateng The Godfather”.

Tahun 1977,  Enny bermain di film “Gara Gara Janda Kaya”, Sisa Feodal dan Gara-Gara Janda Kaya ,

Tahun 1978,  Enny bermain di film “Menentang Maut”, “Primitip”, Primitif, M-5.

Tahun 1979, Enny bermain di film Tuyul Eee Ketemu Lagi

adalah film Indonesia yang diproduksi pada disutradarai oleh Iksan Lahardi serta.

Tahun 1981, film drama komedi “IQ Jongkok” dibintangi oleh Warkop DKI, Enny Haryono, Marissa Haque, dan Alicia Djohar, dan  Oke Boss – Apa Ini Apa Itu

Tahun 1982, Enny bermain di film Perhitungan Terakhir, Enak Benar Jadi Jutawan

Tahun 1986, Enny bermain dalam film Boleh Rujuk Asal…….

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:Apa Siapa Orang Film Indonesia
1979