Anas Urbaningrum, Kabupaten Blitar

8921-8548-anas_family - Copy15 Juli 1969, Anas Urbaningrum lahir di Desa Ngaglik, Srengat, Blitar, Jawa Timur, Indonesia.

Anas menempuh Madrasah Tsanawiyah Negeri Kunir, Blitar; hingga SMP di Blitar.

Tahun 1987, lulus SMA Negeri Srengat, Kabupaten Blitar.

Tahun 1992, ia lulus Jurusan Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Universitas Airlangga, Surabaya.

Tahun 1997, menerbitkan buku Menuju Masyarakat Madani: Pilar dan Agenda Pembaruan, (Jakarta: Yarsif Watampone).

Tahun 1997, Awal Anas berkiprah di dunia politik pada organisasi gerakan mahasiswa. bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) hingga menjadi Ketua Umum Pengurus Besar HMI Periode 1997-1999 pada kongres yang diadakan di Yogyakarta.

Tahun 1998, Anas menjadi anggota tim revisi undang-undang politik atau yang dikemal dengan nama Tim Tujuh. Tim ini dipimpin oleh Ryaas Rasyid dengan anggota lainnya adalah Affan Gaffar (alm.), Andi Mallarangeng, Djohermansyah Djohan, Luthfi Mutty, dan Ramlan Surbakti.

Tim ini mengasilkan rancangan paket undang-undang pemilu yang akhirnya disahkan oleh DPR RI menjadi UU No. 2/1999 tentang Partai Politik, UU No. 3/1999 tentang Pemilhan Umum, dan UU No. 4/1999 tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR dan DPRD.

Tahun 1999, menerbitkan buku Ranjau-Ranjau Reformasi: Potret Konflik Politik Pasca Kejatuhan Soeharto, (Jakarta: Raja Grafindo Persada) dan Jangan Mati Reformasi, (Jakarta: Yayasan Cita Mandiri Indonesia).

Tahun 1999, pada pemilihan umum demokratis pertama, Anas menjadi anggota Tim Seleksi Partai Politik, atau Tim Sebelas, yang bertugas memverifikasi kelayakan partai politik untuk ikut dalam pemilu.

3 Februari 1999, Anas menjadi Anggota Tim Seleksi Parpol Peserta pemilu 1999 (Tim Sebelas), yang dipimpin oleh Nurcholish Madjid (alm.). Anggota lainnya adalah Adi Andojo Sutjipto, Adnan Buyung Nasution, Affan Gaffar (alm.), Andi Mallarangeng, Eep Saefulloh Fatah, Kastorius Sinaga, Miriam Budiardjo (alm.), Mulyana W. Kusumah, dan Rama Pratama. Tugas tim ini adalah memverifikasi pemenuhan syarat administratif partai dalam untuk mengkuti pemilu. Dalam mempersiapkan pemilu demokratis pertama pada tahun 1999, Setelah melalui proses verifikasi, Tim ini mengumumkan 48 partai yang berhak mengikuti pemilu 1999.

8921-8548-anas_family10 Oktober 1999, di Yogyakarta Anas menikah dengan Athiyyah Laila Attabik (Tia). Putri K.H. Attabik Ali, (Pondok Pesantren Krapyak).  Dikaruniai empat anak: Akmal Naseery (lahir 2000), Aqeela Nawal Fathina (lahir 2001), Aqeel Najih Enayat (lahir 2003), dan Aisara Najma Waleefa (lahir 2005).

1999, Bintang Jasa Utama dari Presiden RI,

Tahun 2000, Anas melanjutkan pendidikannya di Program Pascasarjana Universitas Indonesia dan meraih gelar master bidang ilmu politik. Tesis pascasarjananya telah dibukukan dengan judul “Islamo-Demokrasi: Pemikiran Nurcholish Madjid” (Republika, 2004). Kini ia tengah merampungkan studi doktor ilmu politik pada Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

24 April 2001, Anas menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada periode 2000-2007. Anas menjadi anggota KPU bersama dengan Chusnul Mar’iyah, Daan Dimara, Hamid Awaludin, Imam Prasodjo, Mudji Sutrisno, Mulyana W Kusuma, Nazaruddin Syamsuddin, Ramlan Surbakti, Rusadi Kantaprawira, dan Valina Singka Subekti. Para anggota KPU tersebut kemudian memilih Nazaruddin Syamsuddin sebagai ketua. Tugas besar KPU periode ini adalah melaksanakan pemilihan presiden secara langsung.

Tahun 2001-2005, ia menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum yang mengawal pelaksanaan pemilu 2004.

Tahun 2004, menerbitkan buku Melamar Demokrasi: Dinamika Pemilu Indonesia, (Jakarta: Republika);  menerbitkan buku Islamo-demokrasi: Pemikiran Nurcholish Madjid, (Jakarta: Republika) dan Pemilu Orang Biasa: Publik Bertanya Anas Menjawab, (Jakarta: Republika).

8 Juni 2005, Anas mengundurkan diri dari KPU, bergabung dengan Partai Demokrat sebagai Ketua Bidang Politik dan Otonomi Daerah.

Tahun 2005-sekarang, Ketua DPP Partai Demokrat,

Tahun 2006-sekarang, Ketua Yayasan Wakaf Paramadina,

Tahun 2008, menerbitkan buku Menjemput Pemilu 2009, (Jakarta: Yayasan Politika).

Tahun 2009, Pimpinan Kolektif Nasional KAHMI,

Tahun 2009, menerbitkan buku Bukan Sekadar Presiden, (Jakarta: Hikmah).  Takdir Demokrasi: Politik untuk Kesejahteraan Rakyat, (Jakarta: Teraju).

Tahun 2009, Anas terpilih menjadi anggota DPR RI dari daerah pemilihan Jawa Timur VII yang meliputi Kota Blitar, Kabupaten Blitar, Kota Kediri, Kabupaten Kediri dan Kabupaten Tulungagung dengan meraih suara terbanyak, yaitu 178.381 suara, melebihi angka Bilangan Pembagi Pemilih (BPP) sebesar 177.374 suara.

1 Oktober 2009, Anas menjadi Ketua Fraksi Partai Demokrat di DPR RI. Tugas berat yang berhasil dijalankannya dengan baik adalah menjaga kesolidan seluruh anggota Fraksi Partai Demokrat dalam voting Kasus Bank Century.

Anas Terpilih sebagai Ketua Umum DPP Partai Demokrat pada usia 40 tahun,  menjadikannya salah seorang ketua partai termuda di Indonesia. Sebelumnya ia menjalankan tugas sebagai Ketua Bidang Politik dan Otonomi Daerah DPP Partai Demokrat dan Ketua Fraksi Demokrat di Dewan Perwakilan Rakyat.

15 April 2010, Anas mendeklarasikan pencalonan dirinya di Jakarta. Dalam pidatonya, Anas menegaskan bahwa kesiapan dirinya bukanlah untuk bersaing, apalagi bertanding. Pencalonanya bukan untuk memburu jabatan. Kongres adalah sebuah kompetisi yang penuh persahabatan antar saudara. Semua kandidat adalah kader-kader terbaik partai dan sahabat seperjuangan

16 Mei 2010, Pemikiran politik Anas selanjutnya dituangkan dalam pidato kebudayaan “Membangun Budaya Demokrasi” diselenggarakan di Jakarta.

20-23 Mei 2010, sebagai partai pemenang pemilu 2009, kongres ke-2 Partai Demokrat di Bandung menjadi peristiwa penting dalam politik Indonesia.

Dalam rangkaian persiapan kongres, Anas meluncurkan buku “Revolusi Sunyi” di Aula Harian Pikiran Rakyat, Bandung. Buku ini mengungkap kiat-kiat sukses Partai Demokrat dan SBY memenangkan pemilu 2009.

Kompetisi berlangsung ketat dengan tiga kandidat: Anas, Andi Mallarangeng, dan Marzuki Alie  yang mendeklarasikan pencalonannya sehari sebelum kongres dimulai.

Putaran pertama, Anas unggul (236 suara), Marzuki Alie (209 suara) dan Andi Mallarangeng (82 suara). Pada putaran kedua, Anas unggul dengan perolehan 280 suara. Marzuki Alie memperoleh 248 suara, sementara dua suara dinyatakan tidak sah. Pemilihan ini  menjadikan Anas salah seorang ketua umum partai politik termuda di Indonesia.

23 Juli 2010,  sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat periode 2010-2015, Anas mengundurkan diri dari DPR.

17 Oktober 2010, Anas melantik pengurus pleno DPP Partai Demokrat yang berjumlah 2.000 orang pada saat peringatan ulang tahun partai tersebut di Jakarta.

Tahun 2010, Anas Urbaningrum mendapat gelar Man of The Year 2010 Kategori The Guard of Integrity.

Tahun 2012-2015, Anggota Presidium Korps Alumni HMI.=S1Wh0T0=

 

KH As’ad Umar, Kabupaten Jombang

KH As’ad Umar Ulama dan Politisi 64-66

KH AS Ad UMARSeperti kebiasaan orang-orang kita lainnya, saya tidur enam jam sehari,” kata KH As’ad Umar Mengenai resep menjaga kondisi tubuhnya sehingga tetap gesit pada usia di atas 70 tahun. Pertanyaan ia sampaikan akhir dasawarsa 1990-an ketika melihat kesiapan pondoknya menerima kunjungan Presiden B.J. Habibie. Saat itu Kiai As’ad masih menyetir mobil sendiri dan gesit berjalan kaki di antara bangunan-bangunan sekolah di kompleks PP Darul Ulum, Rejoso, Peterongan, Jombang. “Usai shalat subuh saya sudah menjalankan aktivitas rutin, menginspirasi pondok dan menyiapkan pekerjaan,” katanya. Namun kini, kondisi Kiai As’ad sudah agak menurun karena usianya yang telah lanjut Siapapun yang melihat sosok ini, passtilah akan menangkap kesan gesit dan optimis pada pribadi ini. Ia tidak bisa berdiam diri dan selalu memiliki gagasan baru untuk mengimbangkan pondoknya. Karena itu pondok yang memilik sejarah panjang itupun berkembang sangat pesat bahkan telah merambah pada dunia pendidikan umum.

Dalam naungan PP Darul Ulum, telah tumbuh dan berkembang sekolah-sekolah antara lain SMA Unggulan, Madrasah Ibtidayah Negeri (MIN), Madrasah Tsanawiyah Negeri (M I S), Madrasah Program Khusus darul Ulum dan SM darul Ulum I, 11, III dan IV. Sedangkan tingkat menengah atas meliputi SMA Darul Ulum l hingga IX, Madrasah Aliyah Negeri (MAN) dan MAN Program Khusus. Untuk lebih meningkatkan kualitas para santri, Ponpes Darul Ulum juga telah mendirikan lembaga pendidikan tinggi yakni Akademi Keperawatan (AKPER), Akademi Bahasa Asing (ABA), Universitas Darul Ulum dan Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam Darul Ulum. Lembaga terakhir ini bernama Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu).

Dalam kompleks Pondok Pesantren yang luasnya mencapai 52 hektar itu juga berdiri rumah sakit bar lantai dua yang cukup megah dan modern. Menurut As’ad, pendirian RS itu selain untuk praktik siswa Akper dan Akbid juga didasari keprihatinannya tentang pelayanan kesehatan bagi kaum muslim yang selama ini memperhatinkan. “Saya punya obsesi memiliki RS dengan stan dart modern namun tetap Islam,” tambahnya. Melihat begitu banyaknya lembaga pendidikan yang telah didirikan, tentu kita yakin betapa tingginya komitmen KH As’ad Umar di dunia Pendidikan. Telah ribuan saijana yang ia hasilkan lewat lembaga pendidikan yang ia dirikan. Namun sebenarnya Kiai As’ad sendiri kurang beruntung di bidang pendidikan karena ia tidak sempat meraih kesarjanaan. Hal ini layak kita teladani sebab untuk menghasilkan karya, orang tidak perlu harus bergantung pada gelar kesarjanaan.

Memang, Kiai As’ad pernah menimba ilmu di Perguruan Tinggi Islam Negeri (PTAIN) Yogyakarta sekitar tahun 1958. Namun sebelum lulus ia dipanggil Ayahandanya KH Umair Tain untuk mengelola pondok ayahnya. Kekurangan ini ditutup oleh kegemarannya berorientasi sehingga pengalaman ini kelak sangat mendukung kematangan As’ad dalam berpolitik. Pada tahun 1959, ia dipercaya menjadi Ketua Panutan Jombang yakni organisasi pertanian di bawah naungan Nahdlatul Ulama. Setahun berikutnya menjabat Ketua DPR GR (Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong) Jombang. Karir politiknya kian meroket. Pada 1969- As’ad duduk sebagai anggota DPRD Jatim lewat NU. Lalu sejak 1975-1997 ia kembali ke DPRD Jatim sebagai anggota dari Golkar. Pada akhir masa rezim Soeharto, Kiai As’ad sempat menjadi anggota DPR-RJ beberapa saat Meski menjadi politisi, Kiai As’ad masih terus memimpin Ponpes Darul Ulum. Bahkan tak jarang di sela-sela kunjungan kerja sebagai anggota DPRD Jatim, baik di Jatim maupun daerah-daerah lain di luar Jatim, ia selalu kontak dengan alumni Darul Ulum di daerah setempat. “Banyak santri yang berdomisili di daerah sini sehingga saya bisa menemui mereka. Atau kalau ada yang tahu saya berada di daerahnya, mereka mengontrak alumni lain dan menemui saya,” katanya suatu malam saat kunjungan keija di Bnyuwangi tahun 1991.

Pengalaman yang panjang di dunia politik dan pesantren membuat pria yang selalu blak-blakan ini juga dikenal sebagai jago lobi. Berkat kepiawaian lobinya, PP Darul Ulum selalu menjadi jujukan kunjungan pejabat baik menteri bahkan Presiden. Tentu tak terhitung kunjungan pejabat provinsi dan pejabat pusat di bawah menteri. Kini di bawah kendaJi putra-putranya yang telah mengenyam pendidikan tinggi dengan baik, tak seperti dirinya, lembaga pendidikan. Darul Ulum telah berkembang. Darul Ulum telah berkembang menjadi institusi bukan saja pendidikan tetapi juga sosial budaya, politik dan tentu saja ekonomi karena mampu member lapangan keija bagi masyarakat sekitar dan para lulusannya.Dan Kiai As’ad tagak berdiri di sana, mendirikan lembaga- lembaga itu sekaligus menjaga kelangsungan pertumbuhannya.

Keluarga dan Masyarakat

Di balik kiprahnya sebagai salah satu praktisi politik baik di tingkat Jawa Timur maupun nasional, KH As’ad ternyata adalah sosok yang memiliki kehangatan keluarga. Beliau sangat memperhatikan keluarga dan selalu ingin dekat dengan seluruh anggota keluarganya. Kiai As’ad berputra 9 orang, seorang diantaranya sudah meninggal dunia. Dari delapan puranya, 6 laki-laki 2 perempuan kini semuanya tinggal di lingkungan PP Darul Ulum “Bahkan ketika kakak saya, Yiyi, berangkat ke Australia untuk studi dan bermaksud mengajak putranya Kiai As’ad melarang. Beliau ingin tetap dekat dengan cucunya,” kata Zahrul Ashar, putra bungsunya. Dalam kaitan ini ada yang perlu dicatat, Kiai As’ad tidak pernah mengharuskan putra-putrinya untuk* memilih pendamping hidup dari kalangan tertentu-Tak harus dari putra/putri Kiai, misalnya. Bagi kiai As’ad ukuran terpenting adalah manfaatnya bagi pondok.

Ini bisa dimengerti kalau kita melihat dan menelusuri betapa besarnya komitmen beliau terhadap “ilmu”. Bagi Kiai As’ad dengan memiliki ilmu seseorang akan ditinggikam derajatnya oleh Allah. Maka sungguh tepat pemilihan nama Ulum, yang berarti rumah ilmu, bagi payung besar lembaga pendidikan yang dinaunginya. Dan Kiai As’ad memang memegang teguh serta telah mampu mengembangkan Darul Ulum dengan fantastis. Para putra-putrinya kini bahu-membahu membesarkan dan terus mengembangkan seluruh lembaga pendidikan yang dinaungi PP Darul Ulum. Tentu saja masing-masing sambil terus menuntut ilmu  di lembaga- lembaga pendidikan terkemuka baik di dalam maupun di luar negeri. Kiai As’ad pun seperti telah menjadi karakternya, dalam usia 74 tahun ini, masih tak mau berdiam diri. Meski beliau terkena stroke saat menghadiri pengajian di Janti tahun 2004 silam dan hingga kini kemana- mana harus memakai kursi roda, namun masih terus mengikuti dinamika di lingkungan pondoknya. Semua keputusan yang dibuat masih harus memperoleh persetujuan beliau. Jika beliau mengatakan tidak, maka itu yang harus diikuti.

Selain kedekatan dengan anggota keluarga besarnya, Kiai As’ad juga sangat dekat dengan masyarakat sekitar pondok. Teijadi hubungan saling menguatkan dan mengembangkan antara keluarga Kiai As’ad dan pondoknya dengan masyarakat sekitar. Dalam hal ini beliau berpesan kepada para putra-putrinya, meski bisa menguntungkan secara materi namun  pondok dilarang mengurus semua kebutuhan para santri. Bagi Kiai As’ad, hubungan baik antara pondok dan masyarakat sekitar haruslah terus dijaga karena keduanya saling memiliki ketergantungan, saling membutuhkan. Maka tak heran jika di lingkungan Darul Ulum selalu terbina kekompakan dan tak pernah ada konflik apalagi yang sifatnya terbuka. Ini penting untuk dicatat sebab saat ini ada sejumlah pondok yang berhubungan dengan masyarakat sekitar sangat buruk. Ada pesantren yang gotnya ditutup warga karena sang kiai tak mampu memelihara hubungan baik dengan warga sekitar.

Untuk makin mengukuhkan hubungan baik di Darul Ulum, kini juga sedah berdiri koperasi SIGAP (Koperasi Keluarga Pondok) yang dimiliki masyarakat sekitar, khususnya para pedagang. Dengan koperasi ini ketertiban para pedagang juga dibangun. Mereka juga ikut mendukung program pondok. Misalnya, mereka tak menjual rokok, minuman keras dan semacamnya. Mereka juga nurut dengan mentaati jam jualan. Para pedagang harus tutup saat maghrib tiba. “Kami justru sangat terbantu dengan kehadiran mereka, apalagi mereka juga nurut dengan aturan-aturan yang dibuat pondok,” kata Gus Zahrul.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: 
PROFIL TOKOH KABUPATEN JOMBANG, BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN JOMBANG TAHUN 2010

KH M. Wahib Wahab, Kabupaten Jombang

KH M WAHIB WAHABNovember 1918, KH M. Wahib Wahab lahir di Desa Tambak Beras, Jombang. Merupakan putra sulung ulama besar KH Abdul Wahab Hasbullah, salah satu pendiri dan tokoh penting di Nahdlatul Ulama (NU).

Semasa kecil ia memulai pendidikan dengan belajar pada orang tuanya di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras. Jombang. Dan tradisi nyantri keliling kemudian dijalaninya dari satu pondok ke pondok pesantren. Usai berguru pada orang tuanya di Tambak Beras, melanjutkan ke Pesantren Seblak, Jombang, Kemudian ke Mojosari Nganjuk, Kasingan Rembang dan Buntet Cirebon.

Wahib Wahab juga menempuh pendidikan di Merchanthile Institute of Singapore (1936-1938) dan setahun kemudian berangkat ke tanah suci Makkah selama setahun. (Antologi NU). Sekembali ke tanah air Wahib Wahab mulai terjun ke dunia organisasi di lingkungan NU.

Tahun 1942, sebagai Ketua Umum GPII Jombang.

Tahun 1942, menjadi Komandan PETA (pembela tanak air). Ketika masa perjuangan merebut kemerdekaan. Kiai Wahab menjabat Panglima Hizbullah Divisi Sunan Ampel Jawa Timur. Pada masa-masa ini ia sering berkumpul dengan para teman-teman seperjungannya. Terkisah misalnya, suatu malam tiga peijuang sedang berkumpul di Jombang yakni KH Wahib Wahab, KH Yusuf Hasyin? (salah satu putra fladaratus Syaikh K H Hasyim Asy’ari) dan Mohammad Ghufron Na’i m. Meraka berunding mengatur siasat untuk menangkap seorang misionaris bernama Van der Plash, hanya merupakan misionaris yang membonceng penjajah Belanda. Para pejuang yang sekaligus tokoh Islam ini menilai Van der Plas sebagai orang yang sangat berbahaya bak ular yang lidahnya penuh bisa. “Kita pancing saja agar masuk Tebuireng lalu kita sergap di sana,” usul Kiai Wahib yang langsung disetujui kedua rekannya.

Lalu dibuatkan sebuah acara yang juga mengundang Van der Plash di Tebuireng. Namun van der Plash juga orang yang cerdik, ia datang dengan membawa pengawal yang menyamar (berpakaian preman). Selelah merasa cukup menghadiri Kiai Wrahib siap menyergap. Namun rupanya, ia sudah merasa dirinya akan disergap sihingga bisa menyelinap lebih dulu saat pulang dan memang benar, Van der Plash lolos. Ketiga pejuang itu hanya bisa geleng-geleng kepala, heran kenapa musuh yang sudah dalam perangkap bisa meloloskan diri.

Masa perjuangan memang terus berlanjut, Kiai Wahib juga aktif berjuang dalam wadah Hizbullah. Namun ketika Hizbullah harus meneruskan karier militernya. Sedangkan Kiai Wahib Wahab memilih berhenti dan berjuang di jalan lain, jalur politik.

Tahun 1949, menjadi Ketua Departemen Penerangan Ansor di Surabaya.

Tahun 1959, terpilih sebagai Ketua I Pengurus Departemen Siasat PP GP Ansor. Wahib Wahab juga tercatat sebagai Ketua Perianu (Persatuan Tani Nahdlatul Ulama), Dalam karir keorganisasian NU, Wahib Wahab juga tercatat sebagai pembentuk kepengurusan perwakilan / cabang NU dan Ansor di Singapura, Malaysia, Kamboja dan Saigon (Vietnam).

1959-1963, menjadi Menteri Agama RI, sebelum beliau pernah tercatat menjadi anggota DPR dan Menteri- Penghubungan Sipil Militer, Selepas jabatan menteri ia memilih tinggal di Bandung.

Ini adalah tipikal para pejuang yang benar-benar mengabdikan hidupnya untuk kepentingan bangsa dan negara, tidak meperkaya diri dengan memanfaatkan jabatan dan kekuasaan untuk kepentingan pribadi. “Setelah ini saya
akan memerbaiki ekonomi rumah tangga,” itulah jawaban yang disampaikan KH. M. Wahib Wahab kepada Prof. KH Syaifuddin Zuhri. Jawaban itu disampaikan ketika Prof Syaifuddin Zuhri menanyakan alas an mengapa KH. M. Wahib Wahab mengundurkan diri dari jabatan sebagai Menteri Agama (1959-1963) pada masa Pemerintahan Bung Karno.

Memang ada sejumlah contoh yang ditunjukkan oleh orang-orang yang kemudian dikenal memiliki jiwa besar, yang merasa tak cocok dengan atasannya (presiden) dan memilih mengundurkan diri. Ada juga yang dengan sadar dan penuh keikhlasan menyerahkan kekuasaan kepada yang lain karena berpikir akan lebih seperti itu, baik untuk diri sendiri dan terutama untuk kepentingan yang lebih besar, masyarakat dan bangsa. Begitu India merdeka, Mahatma Gandhi dengan tulus ikhlas menyerahkan kursi perdana menteri kepada Jawaharlal Nehru. Sebuah keputusan yang kelak tercatat dalam sejarah India dan dunia sebagai hal ymg sangat tepat untuk menyelamatkan India dan kemudian bertumbuh dengan baik tanpa harus diganggu virus permusuhan akibat perseteruan untuk berebut jabatan.

Sejerah Indonesia merdeka juga mencatat langkah luar biasa yang pernah dilakukan Mohammad Hatta, sang proklamator dan juga dwi tunggal Indonesia bersama Bung Karno. Dalam sejarah tercatat, beberapa kaii Bung Karoo ia menyelamatkan negeri ini dari dari konflik yang lebih terbuka dengan cara ikhlas mundur dari kancah kekuasaan. Mantan Wapres Sri Sultan Hamengkubhuwono IX tak mau lagi dicalonkan menjadi wakil Presiden pada masa awal pemerintahan Presiden Soeharto dan memilih untuk bersama masyarakat serta mengayomi mereka. Orang hanya bisa menduga-duga karena ketidak cocokan dengan presidenlah Sri Sultan HB IX memilih mundur. Itu pun dibantahnya dan hanya mengatakan kesehatannya tidak memungkinkan untuk tugas seberat wakil presiden.

Tetapi KH. M. Wahib Wahab menegaskan, ingin lebih bebas lagi karena sudah bosan menjadi menteri agama dan akan mcmerbaiki ekonomi- Jawaban itu disampingkan kepada calon penggantinya karena memang Presiden Soekarno menunjukkan Prof. Syaifuddin Zuhri yang mengggantikan KH. M. Wahib Wahab merasa tidak enak dengan penggatian itu sehingga ia menyempatkan diri untuk mohon restu sambil menanyakan alasan pengunduran diri.

etika politik yang elok dan elegan masih menaungi para politis yang hidup di jaman perjuangan kemerdekaan dulu. Semua memang perlu ada etika, demikian juga dalam kekuasaan politik. Dan tentang alas an pengunduran diri KH. M. Wahib Wahab untuk memerbaiki perekonomian, bukan saja jawaban yang melegakan penggantinya tetapi juga jawaban yang jujur sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada yang keluarga. Akhirnya KH. M. Wahib Wahab memang teijun di dunia usaha dengan mendirikan pabrik ubin di Kota Bandung.

Itulah akhir drama perjuangan hidup seorang Wahib Wahab di dunia politik yang memberikan banyak kisah teladan kepada kita tentang bagaimana menyalamatkan kepentingan yang lebih besar, memerlukan pejabat yang menggantikannya dan bagaimana bertanggungjawab terhadap diri sendiri dan keluarga. Ia mengabdi diri untuk kepentingan orang banyak, memberi dan bukan sebaliknya mengambil dari orang banyak, dari negara dan bangsanya untuk kepentingan pribadi atau keluarganya.

12 Juli 1986 Beliau wafat di Jakarta. dimakamkan di Tambakberas, Jombang berdekatan dengan makam ayahnya, KH A  Wahab Hasbullah.[]

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: 
PROFIL TOKOH KABUPATEN JOMBANG, BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN JOMBANG TAHUN 2010, hlm. 42-45

Ir KH Salahuddin Wahid, Kabupaten Jombang

Ir KH Salahhuddin WahidIr KH Salahuddin Wahid Tokoh HAM dan NU, politisi

11 September 1942, Salahuddin Wahid lahir di Jombang, Jawa Timur, Indonesia. adalah putra KH Wahid Hasyim.

Tahun 1969-1977, Setelah lulus ITB, Ir KH Salahuddin Wahid bekerja di perusahaan kontraktor, menjadi Dirut.

Tahun 1997, Ir KH Salahuddin Wahid kemudian jadi Dirut sebuah konsultan teknik.

Tahun 1998-1999, menjadi Associate Director sebuah perusahaan konsultan property internasional serta sebagai anggota MPR

 

Kiprahnya di dunia politik sebenarnya belum begitu lama. Hampir 30 tahun arsitek lulusan ITB ini sibuk menggeluti dunia bisnis, menjadi direktur utama sebuah konsultan teknik dan pimpinan organisasi kearsitekan di Jakarta, sebelum terjun ke politik dan menjadi aktivis hak-hak asasi manusia di era Reformasi akhir decade 1990-an.

 

Tetapi nama Ir KH Salahuddin Wahid alias Gus Solah  tentu bukan nama yang asing di telinga warga negeri ini. Sebagai tokoh NU sekaligus duriat (keturunan) pendiri NU KH Hasyim Asy’ari, adik KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini pernah menjadi Wakil Ketua Komnas HAM, anggota MPR-RI, dan juga menjadi Calon Wapres mendampingi Capres Jenderal (Purn) Wiranto sebagai jago Partai Golkar dalam Pemilu Presiden 2004. Meskipun dalam pemilu tersebut pasangan itu gagal, us Solah tetaplah seorang tokoh yang dihormati masyarakat karena integritasnya.

 

Berbagai pengalaman organisasinya antara lain Kepanduan Ansor, anggota pengurus Senat Mahasiswa ITB, anggota Ikatan Arsitek Indonesia dan Ketua DPD Inkindo (Ikatan Konsultan Indonesia) DKI Jakarta. Kini Gus Solah memegang tampuk kepemimpinan Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, menggantikan pamannya KH Yusuf Hasyim yang uzur (dan kemudian wafat pada 14 Januari 2007). Gus Solah kegiatannya sekarang lebih banyak di Tebuireng. “Yaah, momong cucu sama ngopeni santri. Menikmati hidup-lah,” kata Gus Solah. Tetapi bukan berarti Gus Solah sudah tidak bergiat di luar pondok. Ia masih diundang dalam berbagai acara termasuk memberikan ceramah- ceramah, dan juga menulis di media massa.

30 Oktober 2006, Gus Solah merasa perlu mengirimkan opininya ke Jawa Pos menyangkut keputusan Pengurus Wilayah NU Jawa Timur soal penentuan 1 Syawal (Idul Fitri) yang berbeda dengan keputusan Pengurus Besar NU di Jakarta. Saat itu PW NU Jatim memutuskan Idul Fitri jatuh pada Senin karena telah ada yang melihat bulan pada Minggu, 22 Oktober 2006, sedang PB NU menetapkan Selasa, 24 Oktober 2006.

Meskipun Gus Solah mengatakan bahwa dari segi organisasi, sulit dipahami PW NU Jatim tidak mau mematuhi kebijakan PB NU, ia terkesan tidak terlalu menyalahkan dengan mengatakan perbedaan seperti itu mungkin belum diatur oleh AD/ART atau tata keija NU. “Kalau belum diatur, harus segera dibuat aturan untuk mencegah terulangnya kejadian itu,” katanya.

Gus Solah juga menyarankan, untuk mengantisipasi dan bahkan mencegah terjadinya perbedaan hari dan tanggal Idul Fitri berdasarkan rukyah, perlu diadakan pembahasan lebih teliti dan intensif di antara pihak-pihak yang berbeda hasil perhitungannya. “Meminjam pendapat Rektor ITS Muhammad Nuh, para ahli astronomi dan ahli falak perlu melakukan serangkaian diskusi dan pengamatan yang dilakukan setiap awal bulan Hijriyah sampai Ramadan 2007,” tulis Gus Solah pula.

Perhatian Gus Solah terhadap persoalan NU memang sangat besar, la selalu mengikuti secara seksama setiap perkembangan organisasi ini, termasuk ketika partai-partai politik melakukan pendekatan lebih intensi!” pada NU menjelang pemilu, la mengatakan tidak merasa heran massa NU selalu diperebutkan. Termasuk oleh PKMU yang dididrikan oleh Drs H, Choirul Anam dan sejumlah kiai NU, setelah kelompoknya kalah di Mahkamah Agung menghadapi kelompok Drs H.A. Muhaimin Iskandar, dkk menyangkut keabsahan kepemimpinan DPP PKB,

Menurut Salahuddin Wahib, rebutan massa NU adalah sebuah realitas yang tidak bisa dibantah. Mendirikan partai adalah hak setiap orang. Seberapa besar mendapat dukungan itu yang perlu dibuktikan. “Masing-masing mengklaim didukung rakyat. Tetapi rakyat yang mana? Kan harus diuji,” katanya.

Ditanya tentang konflik PKB, Gus Solah menegaskan secara hukum sedah jelas yang diakui MA dan sah secara hukum adalah DPP PKB-nya Gus Dur dan Muhaimin. Soal Cak Anam (Choirul Anam) dan Pak Alwi (Shihab) yang didukung Kiai Faqih menganggap cacat hukum dan menggugat, itu adalah hak mereka. “Itu harus dihargai. Tetapi masalah hukum sebenarnya sudah selesai,” kata Gus Solah.

la juga menyebutkan, setelah berdirinya PKNU ada yang dinilai lucu dalam konflik PKB. “Dulu ada dua PKB, Iha sekarang ada PLB dan PKNU. Cak Anam masih mengklaim sebagai Ketua PKB tetapi juga mengklaim Ketua PKNU. Masak satu orang jadi dua partai. Ini aneh,” katanya pula.

Membela Wiranto

Dalam kiprahnya di dunia politik, KH Salahuddin Wahid banyak menjadi berita ketika ia dicalonkan sebagai Cawapres berpasangan dengan Jenderal (Purn) Wiranto dari Partai Golkar dalam Pemilu Presiden 2004.

Dalam posisinya sebagai Wakil Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Gus Solah saat itu membela Wiranto, yang masih direpoti oleh tuduhan pelanggaran HAM di Timor Timur, la menegaskan, Tim Penyelidik Khusus Kasus Timtim yang dibentuk Komnas HAM hanya memanggil Wiranto sebagai saksi.

Menurutnya, tim tersebut tidak menemukan indikasi pelanggaran HAM yang dilakukan perwira militer Indonesia di Timtim. Ia menegaskan soal ketidak hadiran para petinggi TNI dalam klarifikasi tim khusus Komnas HAM, adalah karena menganggap keberadaan tim itu tidak berdasarkan hukum. “Saya kira itu hanya perbedaan persepsi terhadap Pasal 43 UU No 26/2002 saja Yang jelas, Komnas HAM telah menyelenggarakan tugasnya dengan melaporkan temuan kepada Kejaksaan Agung dan DPR pada Oktober 2003,” jelasnya

Meski begitu, sebagaimana dikutip Indopos 11 Mei 2004, Ketua Tim A d Hoc Penyelidikan Peristiwa Kerusuhan 13-15 Mei 1998 ini mengaku akan mempertimbangkan kembali pencalonannya bila dalam waktu empat bulan tekanan dunia internasional terhadap pengusutan dugaan pelanggaran HAM di Timtim menguat dan proses hukum yang adil memutus Wiranto bersalah. “Namun, saya kira semua itu tidak bisa dilakukan dalam waktu secepat itu,” katanya kalem.

Menurut Gus Solah, dirinya maju mendampingi Wiranto ke arena pilpres adalah tugas dari PKB dan sejumlah kiai khos yang tidak bisa ditolak. Gus Solah menegaskan sendiri persetujuan itu sedah diketahui Gus Dur. “Saya mendegnar sendiri persetujuan dari Gus Dur. Bahkan, saya yang diminta menjadi pelapis kalau pencalonan Gus Dur ditolak KPU,” ungkapnya.

Gus Solah juga menegaskan tidak akan pernah menjadi Wapres seremonial seperti citra Wapres sebelumnya. Diungkapkan, sejak DPP Partai Golkar meminangnya, dia telah mengajukan syarat kepada Wiranto, yaitu diberi tugas khusus dalam penegakan hukum dan IIAM serta pemberantasan korupsi. “Artinya, saya juga akan dilibatkan secara aktif dalam pemilihan Kapolri dan jaksa agung.” Tegasnya.

Selasa 11 Mei 2004, dalam pidato saat deklarasi di Gedung Bidakara, Jakarta, Salahuddin Wahid menegaskan komitmennya untuk memberantas korupsi. Menurutnya, upaya pemberantasan korupsi yang serius harus mulai dilakukan sekarang dan diawali dari pemerintahan tertinggi, yaitu presiden dan wakil presiden (wapres).

Ia mengajak semua elemen bangsa untuk mengikis rasa dendam. “Bangsa ini telah belajar banyak dari masa lalu. Darah telah tumpah, air mata tercurah, kekuasaan yang sesungguhnya adalah amanah menjadi alat pemecah belah. Mari kita hentikan itii semua. Kita perfu mclihar masa iaiu dengan lebih baik. Dendam harus dikikis menjadi maaf dengan mengungkap kebenaran dan member keadilan, ujarnya.

Wiranto sendiri saat itu mengakui manfaat Gus Solah sebagai pasangannya. Mantan Menhankam dan Panglima ABRI itu menyatakan, bergabungnya Gus Solah menjadi salah satu bukti bahwa dirinya selama ini termasuk sosok yang bersih. “Saya sudah sering bertemu Gus Solah. Sebelum memutuskan bergabung, tentu Gus Solah sudah melakukan pendalaman-pendalaman. Karena Gus Solah bersih, tentu tidak mau dengan barang kotor. Apalagi beliau juga Wakil Ketua Komnas HAM. Jadi, saya ini bersih,” kata Wiranto.

hlm.60-63

 

Prof. H. Soedarto, dr., DTM&H., Ph.D, Surabaya

REKTOR UNAIR01020 Mei 1943, Prof. H. Soedarto, dr., DTM&H., Ph.D lahir di Surabaya.

Tahun 1968, Prof. dr. H. Soedarto, DTM&H., Ph.D. mengawali pengabdiannya pada almamater sejak ia lulus dokter di Fak. Kedokteran Unair.

Tahun 1971, Setelah menjadi dosen, ia melanjutkan studi dan lulus Dip. Tropmed & Hyg. Di Mahido University of Bangkok

Tahun 1973, dan meraih Brevet Ahli Mikrobiologi di Fak. Kedokteran Unair.

Tahun 1987, Gelar Ph.D diraihnya di Kobe University Jepang Lalu dikukuhkan menjadi Guru Besar FK Unair dalam Bidang Ilmu

4 Juli 1992, Parasitologi dengan orasi pengukuhannya berjudul “Meningkatkan Kualitas Hidup Manusia Indonesia dengan Memberantas Penyakit Parasit Melalui Perbaikan Lingkungan Hidup”.

Tahun 1974-1984,  riwayat jabatan strukturalnya diawali dengan menjadi Kepala Sub-bagian Parasitologi FK Unair

Tahun 1974-1979, Kepala Bagian Parasitologi FK Unair.

Tahun1978-1984, Wakil Kepala Bagian Mikrobiologi & Parasitologi Fak. Kedokteran Unair.

Tahun 1985-1990, Pj. Kepala Bagian Parasitologi FK Unair.

Tahun 1993-1997, menjadi Pembantu Rektor I Unair.

Tahun 1997-2001, menjadi Rektor untuk.

Ayah tiga orang putera dari pernikahannya dengan Ny. Sri Ami Hastuti ini, juga terkenal aktif di bidang penelitian dan organisasi.

Selain aktif sebagai anggota IDI, juga sangat aktif pada Perkumpulan Pemberantasan Penyakit Parasit Indonesia (P4I).

Aktif pada Perhimpunan Alergi dan Imunologi Indonesia.

Aktif pada Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia.

Serta sebagai pengurus Ikatan Alumni Universi­tas Airlangga (IKALANGGA) yang sekarang diubah menjadi IKA Unair.

303

Prof. Abdoel Gani, SH., Kabupaten Pamekasan

Prof. Abdoel Gani, SH. MASA BHAKTI 1976 -1980

REKTOR UNAIR00622 Januari 1930, Prof. Abdoel Gani, SH., MS lahir di Pamekasan Jawa Timur, Indonesia.

Tahun 1961, lulus Sarjana Hukum Fakultas Hukum Universitas Airlangga.

Tahun 1954-1955, Prof. Abdoel Gani, SH., MS tugas belajar ke Beer Boston, USA, dan ke Eisenhower Fellowship USA

Tahun 1958-1959, Prof. Abdoel Gani, SH., MS dikukuhkan menjadi Guru Besar Ilmu Hukum pada FH Unair.

Tahun 1961,  Prof. Abdoel Gani, SH., MS menjadi Kepala Sekretariat Fak Hukum Unair.

Tahun 1961; Prof. Abdoel Gani, SH., MS Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI),

Tahun 1963, Prof. Abdoel Gani, SH., MS  meraih pendidikan tambahan bidang Master of Scienci in Public Administration di University of Colorado, USA T 965-1968. Prof. Abdoel Gani, SH., MS menjadi  Pembantu Dekan II FH Unair  untuk mendampingi tiga kepemimpinan Dekan (era Dekan Kol. CKH. S. Chasan Doeryat, SH, era Dekan Brigjen Prof. Dr. Eri Soedewo, dan era Kombes Pol. Slamet Kertodipoero, SH).

Tahun 1970, Prof. Abdoel Gani, SH., MS menjadi Anggota Presidium FH Unair tahun.

Tahun 1970-1974. Prof. Abdoel Gani, SH., MS memimpin FH sebagai Dekan.

Tahun 1975-1976,  Prof. Abdoel Gani, SH., MS kariernya menuju Rektorat diawali sebagai Sekretaris Universitas Airlangga.

Tahun 1976-1981, Prof. Abdoel Gani, SH., MS menjabat Rektor Unair di  damping,

Prof. Dr. H. R. Soedarso Djojonegoro, dr., AIF sebagai Sekretaris Universitas

Prof. Marsetio Donosepoetro sebagai dr Pembantu Rektor I

Prof. Dr. Retna Kentjana Tamin Radjamin, SpM sebagai Pembantu Rektor I I

Prof. Dr. H. R. Soedarso Djojonegoro, dr., AIF  sebagai Pembantu Rektor III

Prof. Abdoel Gani, SH., MS adalah “putra Unair” pertama yang menjadi Rektor pada almamaternya.
Tahun 1985 juga merangkap menjadi Ketua Kopertis (Koordinator Perguruan Tinggi Swasta) Wilayah VII di Surabaya. Di bidang organisasi, Prof. Abdoel Gani juga aktif dalam Persatuan Sarjana Hukum Indonesia (PERSAHI)

Tahun 1991 – 1996, bergabung dalam Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).

Tahun 1995. Beliau pernah menjadi anggota MPR RI. Di luar negeri juga tercatat sebagai anggota .

Tahun 1973, aktif dalam ASEAN Lawa Association

Tahun 1980. Prof. Abdoel Gani meninggal pada 28 April 2004, di Surabaya dengan meninggalkan isteri, Ny. Siti Noerani, dan dua orang putera.

=S1WhoT0=

Uut Permatasari, Kabupaten Sidoarjo

Uut Permatasari.7 April 1982, Utami Suryaningsih lahir di Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia, lebih dikenal dengan Uut Permatasari, Putri dari Ny. Supatiningsih. Penyanyi dangdut yang terkenal akan goyang ngecor yaitu bergoyang dengan mengangkat satu kaki sambil berputar seperti hendak menancapkan kaki ke tanah.

Uut sejak kecil telah sering menjuarai berbagai perlombaan dari tingkat kecamatan sampai kabupaten. Tak hanya berlatih olah vokal, Uut juga rajin berlatih balet dan tarian tradisional, seperti Yapong. Tak heran jika tubuhnya sangat lentur saat bergoyang sambil berdendang.

Tahun 2003, Uut hijrah ke Jakarta, untuk mengembangkan kariernyan. Nama Uut melambung dengan lagunya “Putri Panggung” menjadi maskot acara Laris Manis di SCTV. Selain menjadi presenter Laris Manis, Uut juga memandu acara Digoda di Trans TV.

Tak hanya manggung di Indonesia, Uut juga pernah merambah negeri Jiran Malaysia, dan Hong Kong serta Korea.

Tahun 2007, Uut dituduh ‘mencuri’ lagu “Ketahuan” milik grup band asal Bandung, Matta. Untungnya sebelum Ray, si pencipta lagu, melakukan upaya hukum mengenai hak cipta, pihak management Uut dan label company Uut segera menyelesaikan hak-haknya sebagai pencipta lagu. Namun demikian, tak ayal kasus ini meninggalkan sebersit rasa kesal karena Matta dianggap sebagai band dangdut dan mendompleng nama Uut yang terkenal lebih dulu.=S1Wh0T0=

Juni Arcan, Surabaya

Juni Arcan21 Juni 1961, Juni Arcan lahir di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia. pemeran yang populer pada tahun 1970-an

Pendidikan terakhir Pakistan Embassy School Jakarta (sampai kelas IX)

Tahun 1974, Juni pertama kali muncul dalam dunia film  atas ajakan Sutradara Fritz G. Schadt. Kemudian mendapat peran-peran penting lewan film Sebelum Usia 17  sedangkan sebagai film debutnya Bobby.

Tahun 1975, Juni berperan dalam film Remaja 76 ; Keluarga Sinting“;  “Darah Ibuku” dalam film “Arwah Penasaran” Juni menjadi pemain utama yang cukup meledak di pasaran. dengan didampingi para aktris Dewi Puspa, Junaedi, Tan Tjeng Bok, dan Erna Santoso.

Tahun 1976, Juni berperan dalam film “Benyamin Jatuh Cinta”

Tahun 1977, Juni berperan dalam film Layu Sebelum Berkembang serta Pertarungan Kera Sakti“.

Tahun 1978, Juni berperan dalam film Cowok Masa Kini.

Tahun 1981, Juni berperan dalam film Dalam Kabut Dan Badai“.=S1Wh0T0=

Sudomo, Malang

SUDOMO20 September 1926, Laksamana TNI (Purnawirawan) Sudomo lahir di Jalan Embong Arab Gang 4, Malang, Jawa Timur, Indonesia. Dari pasangan Ayah Haji Kastawi alias Haji Martomihar­djo dan Ibu Saleha, kedua orang tuanya adalah Masyumi. Sudomo anak pertama dari lima bersaudara, tiga laki-laki dan dua perempuan.

Tahun 1939, Sudomo Lulus dari HIS Probolinggo

melanjutkan pendidikan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), setingkat sekolah menengah pertama, di Probolinggo. ketika Jepang menggusur penjajah Belanda. Lembaga Pendidikan berbahasa Belanda banyak yang bubar, termasuk MULO Probolinggo. Sehingga pendidikan Sudomo terputus .

Tahun 1943, Sudomo meneruskan pendidikan ke sekolah SMP Negeri di Jalan Celaket, Malang, dan lulus.

17 Agustus 1945, ketika proklamasi kemerdekaan, pemerintah Indonesia mengeluarkan maklumat pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR) Laut, lembaga keamanan nonmiliter. Selang sehari, sekolah di Pasuruan membentuk BKR.

BKR Pasuruan lalu berubah menjadi Angkatan Laut Batalion III Pangkalan IX. Saya mendapat pangkat letnan sebagai perwira logistik.

Desember 1948, Sudomo ditetapkan sebagai orang kedua, di bawah Mayor John Lie, dalam kapal PPB-58 LB. Pelayaran pertama menuju Phuket, Thailand, membawa karet untuk ditukar dengan senjata. Karena kepiawaian John Lie—dikenal sebagai The Smuggler with the Bible—kapal dengan misi menyuplai senjata buat pasukan Indonesia ini selalu aman.

Tahun 1950, Sudomo terjun dalam pertempuran menumpas pemberontakan Republik Maluku Selatan Sebagai Kepala Staf Operasi IV Markas Besar Angkatan Laut.

Tahun 1958, Pendidikan Perwira Special Operation dan kursus Komandan Destroyer Gdyna, Polandia, lulus.

Tahun 1958, bertugas menyiapkan operasi militer menumpas Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia,  semua operasi dijalani tanpa rasa takut. Militer sudah teken mati dalam setiap operasi.

Pendidikan di Lemhannas, Sekolah Para Komando KKO, dan SESKOAL.

Tahun 1961, sewaktu menikah dengan Fransisca Piay, Sudomo pindah ke agama istri yaitu Protestan.

Tahun 1980, bahtera rumah tangganya kandas  Sudomo bercerai, perkawinannya bertahan 19 tahun. Dari pernikahan ini, dikaruniai empat anak. Biakto Trikora Putra, yang lahir pada 15 Agustus 1962, tepat saat ditandatanganinya kesepakatan Indonesia-Belanda soal penyerahan Irian Barat, Dewi Prihatina Dwikora Putri, Martini Yuanita Ampera Putri, dan Meidyawati Banjarina Pelita Putri.

Nama keempat anak Sudomo selalu berkaitan dengan kabinet, tugas, serta jabatannya sebagai tentara. Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang mau berkiprah di bidang militer. Anak laki-laki pertama, Biakto, tidak mau jadi tentara mungkin karena sering melihat ayahnya jarang pulang. Dia memilih menyelesaikan studi di University of Southern California dan meraih gelar BA.

Tahun 1969-1973, Kepala Staf TNI AL.

Tahun 1973-1978, Wakil Panglima Komando Pengendalian Keamanan dan Ketertiban (WaPangkopkamtib).

28 Maret 1978. Sudomo diangkat menjadi Panglima Komando Pengendalian Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib), sekaligus Wakil Panglima ABRI (1978-1983).

Tahun 1983 – 1988, menjabat sebagai Menteri Tenaga Kerja dan juga sebagai Ketua DPA.

Tahun 1988-1993, dipercaya sebagai Menko Polkam.

Tahun 1990,  setelah membujang 10 tahun, menikahi Fransiska Diah Widhowaty.

Tahun 1993-1998, Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA).

Tahun 1994, pernikahan yang kedua bernasib sama, kandas di tengah jalan mengalami perceraian Dari pernikahan dengan Siska Widhowaty, tidak memiliki anak.

Pada 1994, Sudomo pernah mengajukan berhenti dari Dewan Pertimbangan Agung karena kasus Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo). Ketika itu, Beliau dikaitkan dengan kasus pembobolan Bapindo karena memberikan referensi kepada Eddy Tansil.

27 Juni 1994, Sudomo menjadi saksi di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Dalam pengadilan, mengaku memberikan referensi lisan atas permintaan Eddy Tansil pada 19 Juni 1989. Ketika itu menjabat Menteri Koordinator Polkam. Sudomo menjelaskan referensi bukan dipakai supaya Bapindo melakukan penyimpangan meski selalu ada peluang disalahgunakan. Saya pernah memanggil dan menegur Eddy Tansil, tapi tak mempan. Pengadilan akhirnya menghukum Eddy Tansil 20 tahun penjara.

Tahun 1996, Sudomo kembali bertugas di Dewan Pertimbangan Agung sampai benar-benar bisa melepaskan jabatan politik pada usia 72 tahun.

Tahun 1997, Sudomo memutuskan untuk kembali memeluk Islam, berkat kekuatan doa ayah. Mengucap kalimat syahadat di Masjid Al-Huda, Malang, Jawa Timur, disaksikan Gubernur Jawa Timur Basofi Sudirman.

Tahun 1998, naik haji untuk pertama kalinya setalah kembali memeluk Agama Islam.

Tahun 1998, pensiun, dengan jabatan terakhir Ketua Dewan Pertimbangan Agung. Ditahun ini pula menikah lagi untuk ketiga kalinya, dengan Aty Kesumawaty.

Tahun 2002,  bercerai dengan Aty Kesumawaty . Pernikahan ini hanya bertahan empat tahun. Dari dua kehidupan pernikahan sebelumnya, tidak ada yang seseru pernikahan ketiga ini. Pada perceraian ketiga, saya kalah di Pengadilan Agama tingkat pertama. Dalam hal pembagian harta gono-gini, hampir saja Sudomo kehilangan rumah di Pondok Indah. Akhirnya rumah kembali ketika proses banding hingga kasasi, penyelesaian perkara memakan waktu selama 3 tahun 2 bulan itu.

Tahun 2002, naik haji untuk kedua kalinya, selanjutnya menjalankan ibadah umrah sampai lima kali. Mungkin hal itulah yang membuat orang-orang menambahkan singkatan HM di depan namanya.

Meskipun pernah memeluk agama lain, Sudomo percaya orang yang mengucapkan kalimat syahadat dan menjalankan ibadah dengan sepenuh hati akan suci lagi seperti bayi.

18 April 2012, Sudomo meninggal dunia, di Jakarta, pada umur 85 tahun,  karena pendarahan di otak.=S1Wh0T0=

Sunan Drajat dan Sunan Sendang, Kabupaten Lamongan

Tradisi lisan menuturkan bahwa Sunan Drajat ingin menemui R.Nur Rahmat. Sunan Drajat pergi berkunjung ke Kampung Patunon tempat tinggal Nur Rahmat yang kemudian menjadi sebuah desa perdikan cukup maju dan makmur dengan nama Desa Sendang Duwur. n -eritakan bahwa Sunan Drajat mula-mula menyatakan ingin minum 2en dan makan buah siwalan. Sunan Drajat meminta izin R.Nur Rahmat untuk mengambilnya. Dengan khidmat R.Nur Setelah Sunan Drajat merasa kunjungannya sudah cukup, lalu minta diri untuk kembali ke Drajat. R.Nur Rahmat mengiringkan perjalanan beliau. Di tengah jalan, Sunan Drajat mengajak istirahat. Tatkala diketahui ada tanaman wilus, atau ubi hutan, beliau menyuruh kepada pembantunya menggali wilus itu dan membakarnya untuk dimakan. Wilus berhasil digali dan ternyata besar, lalu disuruh membelah menjadi dua, separoh untuk dibakar dan separoh dibawa pulang. R. Nur Rahmat memohon izin agar tidak terlalu repot dan lama, wilus tersebut diminta lalu dimasukkan kembali ke lubang asalnya, kemudian dicabut kembali. Ternyata wilus itu separoh matang dan yang separoh masih mentah. Sunan Drajat terkejut sampai nafasnya turun naik (Jawa = menggeh-menggeh). Dari kata menggeh-menggeh itu lalu hutan atau tanah tersebut oleh Sunan Drajat disebut Sumenggeh yang kemudian berubah menjadi Sumenggah.

Rahmat mempersilakan. Sunan Drajat menghampiri sebuah pohon siwalan /ang besar kemudian batangnya di tepuk tiga kali. Legen (air nira) dan seluruh buah siwalan tersebut jatuh tidak ada yang tersisa. R. Nur Rahmat mengatakan bahwa cara seperti itu akan membawa kerugian pada anak cucu, karena mereka tidak memperoleh bagian apa-apa nantinya. R. Nur Rahmat kemudian mengusap pohon yang besar tiga. kali dan dengan izin Allah pohon itu dapat merunduk tepat di hadapan Sunan Drajat. R.Nur Rahmat mempersilakan mengambil mana yang diinginkan legen atau siwalannya, setelah itu pohon itu kembali tegak.

Setelah menyaksikan dan yakin akan ketinggian ilmu R.Nur Rahmat,18 Sunan Drajat memberinya gelar Sunan dan nama tempat tinggalnya diberi nama Sendang dan dihubungkan dengan Drajat, sehingga R. Nur Rahmat secara Ungkap bergelar Sunan Sendang Drajat.Ada anggapan sementara orang, bahwa cerita tentang kesaktian~R.Nur Rahmat tersebut dapat merendahkan martabat Sunan Drajat dan di lain pihak mengunggulkan Sunan Sendang; padahal pengakuan umum menyatakan bahwa yang masuk dalam jajaran walisanga adalah Sunan Drajat. Anggapan itu bukannya tidak beralasan, sebab ada penutur cerita yang menggunakan kalimat yang bernada mengecilkan ‘ilmu’ (Jawa = ngelmu) bahkan martabat Sunan Drajat. Seperti misalnya cerita yang ditulis oleh R.A.Nataningrat, Wedana Paciran (1930) dalam Het Heiligdom van Sendang Doewoer :

“Sampun lami-lami kocapa kangjeng Sunan Drajat saben-saben bakda waktu Jumaah ngendika klayan ketip modin semu ngegungaken kang salira saben-saben waktu pengendikane : Wus ora nana pengocape kaya ingsun, ora ketip modin, Sunan Ratu Giripura lawan Sunan Ngampeldenta Surabaya, iku ora ana madani maring ingsun digjayane utawa kemandenaningsun. Sampune lami-lami ketip modin sami matur klayan kangjeng Sunan Drajat mergi saking kakene manahe, aturipun ketip modin : Gusti, sampun sampeyan makaten, kilen ngriki wonten tiyang maksih lare dedekah bagor siwalan, maksih sami ngamaruna, sami dipun-bogor sedaya. Kangjeng Sunan lajeng duka sajroning galih. . . . Jeng Sunan lajeng nginum legen kalayan dahar ental, kinarpat lipur rengune galih, lawan semu kalangkung sanget dukane kang galih.”

Terjemahan kutipan tersebut lebih kurang :

Sudah berkali-kali, Sunan Drajat yang merasa dirinya besar, setiap habis salat Jum’at, berkata kepada ketib dan modin : “Sudah tidak ada lagi yang dapat menandingi saya dalam hal kedigjayaan atau kehebatan, ya ketib modin, Sunan Giri maupun Sunan Ampeldenta Surabaya.” Sudah sering ketib modin menyampaikan pendapat kepada Sunan Drajat karena kekakuan hatinya itu, Paduka, janganlah tuan berkata begitu, di sebelah barat sini ada orang muda bertempat tinggal untuk mengambil nira (legen) dari pohon siwalan. Masih muda tetapi sudah diambil niranya, semuanya tanpa kecuali. Sunan Drajat merasa marah dalam hati . . . Sunan Drajat mencoba menghibur perasaan yang tidak senang sehingga perasaan marahnya yang amat sangat itu tidak kelihatan).

Cerita tersebut di atas memang bernada merendahkan Sunan Drajat. Dikatakan Sunan Drajat merasa diri paling pandai, paling hebat, paling sakti, siapapun tidak ada yang menandingi sekalipun Sunan Giri atau Sunan Ampel. Sunan Drajat terlalu kaku hatinya dan merasa marah ketika diberi tahu bahwa di sebelah barat Desa Drajat ada seorang anak muda yang bertempat tinggal di suatu dukuh yang banyak pohon siwalan. Ketika beliau gagal mengambil legen dan buah siwalan (ental) lalu diambilkan oleh R.Nur Rahmat dengan cara yang mengagumkan Sunan Drajat dengan terpaksa minum legen dan makan (daging) siwalan tersebut dengan maksud menghibur (meredam) rasa marah.

Sikap perangai dan kata-kata seperti yang dituturkan oleh R.A.Nata tersebut di atas, tentu sulit dipercaya pernah keluar dari hati dan lisan Sunan Drajat,  Kutipan tersebut antara lain. menggambarkan bahwa Sunan Drajat berperangai rendah, jiwa dan nafsunya belum mengendap (Jawa = Menep), suka dan mudah marah, seperti digambarkan, “Kangjeng Sunan lajeng duko sajroning galih • • • ” dan “lawan semu kalangkung sanget dukane kang galih • • • ”

Sunan Drajat tidak akan berani memandang rendah (Jawa = nyampahi) Sunan Giri yang lebih tua apalagi Sunan Ampel ayah dan sekaligus gurunya. Sunan Drajat kiranya bukan orang yang dikenal durhaka kepada orang tuanya dan kakak seperguruannya. Beliau termasuk orang yang diangkat derajatnya terpilih menjadi Wali (jinunjung derajate dadi Wali),  yaitu setelah melalui proses “tapa” dengan menahan diri dari tidur dan makan selama tiga bulan. Dengan demikian, Sunan Drajat jiwa dan nafsunya telah “meneb” yakni telah mengendap dan jernih, jadi bukan “orang sembarangan” (Jawa = wong pidak pedarakan). Boleh jadi gambaran sikap, perangai dan kata-kata tersebut di atas adalah imajinasi atau rekaan dan anggapan Nataningrat belaka.

Anggapan seperti tersebut di atas, memang bisa saja terjadi sebagai akibat sikap terlalu fanatik terhadap tokoh yang dihormati atau tokoh ikutan yang diyakini kebenaran pendapat dan kehebatan ilmunya. Anggapan seperti itu mendorong sikap kultus individu dan menganggap siapapun yang lain serba salah atau rendah. Hal seperti itu juga terjadi di kalangan pengikut Imam Mazhab, seperti sikap dan anggapan al-Karkhi karena terlalu kagum dan fanatik terhadap Imam ikutannya, ia tidak hanya memandang rendah kepada pendapat para Imam Mazhab yang lain, malah sampai keluar batas dengan mengatakan : kullu ayatin aw hadisin yukhdlifu ma ‘alaihi ashabutia fahuwa “ntawwahm aw mansukhun.” (Setiap ayat atau hadits yang tidak sesuai dengan pendapat imam kami, maka harus ditakwilkan atau dimansukh).

Kalau cerita-cerita tentang Sunan Drajat dalam hubungannya dengan Nur Rahmat itu benar terjadi, maka cerita tersebut di atas sebenarnya dapat dipahami secara wajar dan benar. Sunan Drajat dan Sunan Sendang sekalipun berbeda usia, tetapi setidaknya, menurut nuansa cerita itu keduanya hidup dalam satu masa. Keduanya mengambil tempat di pantai utara Lamongan yang waktu itu menjadi wilayah Sidayulawas) dan tidak berjauhan satu dengan yang lain. Ini mengandung makna bahwa wilayah itu strategis dalam kaitannya dengan dakwah Islam. Wilayah Jawa Timur menurut penilaian Suryanegara menjadi pusat kekuasaan politik yaitu Kerajaan Kediri dan Majapahit; itu sebabnya wali penyebar Islam sampai lima orang. Artinya wilayah ini memerlukan tenaga yang banyak dan mumpuni atau berkualitas. Wali penyebar Islam di pantai utara Jawa Timur antara Surabaya – Tuban (berjarak kurang dari 100 Km) adalah Sunan Ampel, Maulana Malik Ibrahim, Sunan Giri, Sunan Drajat dan Sunan Bonang.

Dengan memahami legenda dalam konteks sejarah seperti itu maka Sunan Drajat memandang penting kehadiran R.Nur Rahmat atau Sunan Sendang yang memiliki kesaktian dan semangat juang menegakkan agama Islam di tengah- tengah masyarakat yang masih kental dengan kepercayaan lamanya. Tanda bahwa kepercayaan lama demikian kuat tergambar secara jelas pada situs makam dan masjid Sendang Duwur yang sampai sekarang masih utuh.

Kekuatan dakwah waktu itu tidak hanya mengandalkan kefasihan bacaan Qur’an dan Hadis serta pengetahuan fikih dan tauhid, melainkan sangat mungkin harus dilambari dengan kelebihan dalam hal kesaktian. Faktor keberhasilan dakwah seringkah bukan saja terletak pada toleransi dan akomodasi kepercayaan dan praktek-praktek pra-Islam, melainkan juga pada kemampuan tokoh sufi untuk menampilkan diri sebagai orang suci yang memiliki kesaktian supernatural.25 Bahkan dakwah dapat dilakukan melalui hal-hal yang luar biasa dan aneh-aneh seperti kelebihan Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati, dan Sunan Kalijaga. Sunan Giri dan Sunan Bonang diceritakan dapat berjalan di atas air, Sunan Gunung Jati dapat menyembuhkan orang perempuan yang sakit kusta.

Legenda yang paling terkenal di Jawa Tengah ialah kemampuan Sunan Kalijaga dapat mengubah tanah menjadi emas sehingga Bupati Semarang (Pandanarang) tunduk dan memeluk agama Islam. Juga diceritakan bahwa Sunan Bonang ditantang berdialog tentang agama oleh seorang pendeta Hindu tetapi buku-bukunya tenggelam di laut tatkala perahunya pecah diterpa ombak besar. Sunan Bonang dengan tersenyum ramah kemudian mengangkat ujung tongkatnya dari dalam pasir. Tiba-tiba dari lubang itu memancar air dan buku-buku milik pendeta tersebut terikut keluar dari pancaran air tersebut. Serta merta pendeta tersebut beijongkok seraya menyembah dan menyatakan Luk Islam.2

Seperti diceritakan dalam Babad Tanah Jawi terbitan Meinsma yang dikutip dan dielaborasi oleh Berg, Sunan Giri memiliki kesaktian sebagai anifestasi kekuatan gaib tidak saja ketika masih hidup, bahkan sesudah ^enjnggalpun kesaktian itu tetap ada dan tetap luar biasa. Kesaktian itu dimanifestasikan dengan sembuhnya dua penjaga makam yang pincang karena memperoleh pengaruh (bahasa Jawa = sawab) dan munculnya kumbang- kurnbang dari makam Sunan menyerang dan mengejar tentara Majapahit yang menjarah-rayah Giri.27 Cerita kesaktian seperti tersebut di atas~ memang memerlukan interpretasi dan mitologisasi, tetapi juga tetap ada makna yang tersirat, yaitu bahwa dakwah pada waktu itu memerlukan kekuatan batin dan kelebihan spiritual serta kemampuan ulah kanoragan (olah kesaktian) untuk membela diri.

Memahami hubungan Sunan Drajat dengan R.Nur Rahmat seperti itu, akan terhindar dari pemahaman cerita dengan prasangka tentang kedua tokoh penyebar. Islam di wilayah pantai utara Lamongan tersebut. Bahwa Sunan Drajat benar-benar mengagumi dan berkenan (Jawa = kepranan) terhadap tokoh R.Nur Rahmat. Dalam cerita itu dituturkan bahwa Sunan Drajat menetapkan dan menabalkan R. Nur Rahmat dengan gelar Sunan Sendang Drajat. Bila Sunan Drajat tidak bermaksud menyelidiki dan menguji pasti beliau tersinggung karena merasa dilecehkan dan penabalan Sunan untuk R. Nur Rahmat sehingga bergelar Sunan Sendang Drajat tidak mungkin dilakukan.

Selain itu masih harus dipertanyakan, apakah Sunan Drajat dan R. Nur Rahmat memang benar-benar satu generasi? Sebuah Naskah tua yang berisi daftar para Bupati Sidayu dan Gresik, menceritakan :

“Sasedane Sunan Sendang kagentosan ingkang putra Pangeran Dhuwur (2) Pangeran Dhuwur anggarwa Raden Ayu Cuwa, putrane Pangeran Wanatirta ing Drajat, kang patutan Raden Ayu Burati. “28 (Setelah Sunan Sendang wafat, beliau digantikan oleh puteranya bernama Pangeran Dhuwur yang kawin dengan Raden Ayu Cuwa puteri Pangeran Wanatirta dari Drajat hasil perkawinannya dengan Raden Ayu Burati).

Dari cerita tersebut di atas diperoleh petunjuk bahwa antara Sunan Drajat dengari Sunan Sendang ternyata tidak satu generasi. Raden Ayu Cuwa adalah keturunan Sunan Drajat keempat (generasi canggah), sedang Pangeran Dhuwur adalah putera Sunan Sendang (generasi anak). Dengan demikian Sunan Sendang sebaya (Jawa = pantaran) dengan Pangeran Subrongto yang bergelar Pangeran Wonotirto keturunan Sunan Drajat ketiga (generasi buyut).

Sekalipun antara Sunan Drajat dan Sunan Sendang tidak semasa, tetapi cerita-cerita tersebut di atas tetap mempunyai makna, yaitu bahwa keberadaan Sunan Drajat dan Sunan Sendang sebagai tokoh atau pemimpin masyarakat muslim di pesisir Lamongan tidak bisa diingkari karena ada bukti berupa makam dan diyakini adanya oleh masyarakat dari generasi ke generasi melalui legenda tersebut di atas.

Sejarah Sunan Drajat Dalam Jaringan Masuknya Islam di Nusantara, BADAN PERPUSTAKAAN DAN ARSIP DAERAH HKABUPATEN LAMONGAN TAHUN 2012, hlm. 85-92