Orang Tengger Gemar Memakan Bawang

Alasan Orang Tengger Gemar Memakan Bawang

Menurut penduduk Tengger, “bawang” adalah pemberian khusus dari Brahma. Berikut ini adalah kisah menurut legenda tersebut:

Ketika kaum Brahma pertama menetap di daerah Tengger, wilayah itu masih menjadi hutan belantara yang buas. Namun, anehnya mereka menemukan sebuah hunian manusia di lereng Gunung Semeru. Kiai Dadap Putih, seorang Brahma yang telah berusia lanjut dan menjadi pimpinan mereka menganjurkan kelompoknya untuk menyelidiki asal mula dari kasta mana manusia yang kelihatan di Gunung Semeru. Dia yakin bahwa mereka itu juga sama-sama berasal dari kasta Brahma.

Kiai Dadap Putih sendiri kurang mengerti tentang bagaimana orang-orang itu bisa berkebun di lereng Gunung Semeru, sedangkan di Tengger saja tanaman padi tidak bisa tumbuh. Itulah sebabnya dia sendiri beserta rombongannya menderita kelaparan. Oleh karena !tu, besar kemungkinannya adalah bahwa manusia yang mereka lihat di lereng Gunung Semeru itu berada di atas tanah yang lebih subur dibandingkan dengan tanah tempat mereka berada.

Maka pada suatu malam di malam bulan purnama, Kiai Dadap Putih bersama dengan beberapa pengikutnya berjalan ke tempat di lereng Gunung Semeru, tempat hunian tersebut. Sesampainya ditempat yang diperkirakan telah dihuni oleh banyak orang, mereka kaget. Ternyata, hunian itu hanya didiami oleh ^pasang manusia, “laki-laki” dan “perempuan”.

Laki-laki itu ternyata seorang tapa dan si perempuan seorang endang atau pertapa perempuan. Mereka berada di sana hanya untuk bersembahayang sepanjang hari, dan hidup dari tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, dan akar-akar yang ditemukan di sekitarnya. Ketika Kiai Dadap Putih dan pengikutnya mendengar cerita dari para pertapa itu, mereka lalu memohon agar para pertapa berkenan mendoakan keselamatan mereka dan rombongannya yang masih berada di Gunung Tengger. Permintaannya adalah didoakan agar daerah yang akan mereka huni di sana menjadi subur. Setelah tapa dan endang menjanji­kan untuk mendoakan mereka, rombongan Kiai Dadap Putih kembali ke Gunung Tengger. Mereka percaya bahwa Dewa Brahma akan mendengar dan mengabulkan doa orang-orang suci ini.

Ternyata, keinginan mereka terkabul lebih awal dari dugaan. Pertapa endang pada suatu malam bermimpi didatangi seorang peri atau bidadari ipitri) dan memberikan dua biji benih. Biji benih yang satu berwarna merah dan yang lain berwarna putih. Menurut sabda peri, benih yang merah sudah dapat ditanam pada esok harinya dan buah yang dihasilkan oleh benih ini diminta diberi nama bawang abang. Bibit putih yang satunya lagi harus ditanam pada saat datang­nya bulan baru dan buah yang akan dihasilkan diberi nama bawang putih.

Hasil dari benih-benih yang akan dihasilkan oleh tumbuh- tumbuhan ini harus diberikan kepada rombongan pendatang dari Gunung Tengger yang lalu, yang sekarang telah menjadi penghuni di Gunung Tengger. Sang peri berkata: “Katakan kepada mereka bahwa benih-benih ini akan mendatangkan kebahagiaan bagi mereka dan keturunannya. Selain itu, ketangan (kentang) dan tanaman menjalar lain akan dapat tumbuh di samping bibit-bibit ini. Bibit inilah yang akan menyuburkan tanah yang kurang subur ini. Janganlah menanam padi baik di dataran maupun di lereng Gunung Tengger karena bila dilakukan maka seluruh daerah akan menjadi tidak subur hal ini inl lagi-“

Tanpa berkata lebih lanjut, sang peri tiba-tiba menghilang. fCetika endang bangun dari tidur esok harinya, di genggaman tangan kanannya tiba-tiba sudah ada dua biji benih. Hingga akhirnya dirinya ercaya bahwa apa yang dikatakan oleh peri itu adalah kenyataan. Dan memang terbukti, ketika pertama kali ditanam bibit benih yang merah dan kemudian bibit benih yang putih, setelah itu tumbuhlah tanaman bawang yang subur. Masing-masing tumbuh berwarna sebagai bawang merah dan bawang putih. Tidak lama kemudian, tanaman-tanaman bawang ini menghasilkan benih-benih lagi. Akhir­nya, endang memberikan biji-biji benih bawang itu kepada tapa dan berpesan agar diberikan kepada penduduk yang ada di Gunung Tengger.

Tapa memberikan bibit-bibit itu kepada Kiai Dadap Putih sambil menceritakan bahwa bibit-bibit ini adalah hadiah dari kelangitan karena dibawa sendiri oleh seorang peri dari kayangan.

Mendengar cerita ini, para Brahma di Tengger segera menanam bibit-bibit bawang ini dan ternyata tanah untuk bibit-bibit bawang ini menjadi sedemikian subur. Selain itu, tanah-tanah di sekitarnya juga bisa ditanami bibit-bibit kentang dan tanaman menjalar lainnya. Dengan melakukan ini maka kehidupan orang-orang Tengger menjadi

Capt. R.P. Suyono, Mistisisme Tengger, LKIS, Yogyakarta 2009,  hlm. 47-49

Leran Mengukir Sejarah Besar, Kabupaten Gresik

Leran Dilupakan Setelah Mengukir Sejarah Besar

LERAN001Leran, Desa bersejarah yang tenggelam ditelan sejarahnya sendiri. Sejarah kebesaran dan kejayaan Islam di bumi nusantara lahir dari tanah mardikan ini, tetapi setelah itu, Leran tersisih berdiam diri menjadi benda bersejarah yang benar-benar telah ‘mati’ tertinggal oleh daerah-daerah bersejarah yang turut dilahirkannya.

Bekas peninggalannya pun sejak puluhan tahun terlihat kurang terawat. Diatas pelataran daratan  Leran masih tampak Makam Siti Fatimah Binti Maimun dan sebuah bangunan masjid kuno yang diperkirakan peninggalan Sunan Malik  Ibrahim. Oggokan layar sebuah kapal kuno juga masih menancap di tengah per­tambakan. Keramik-keramik berbentuk piring, gelas, teko dan barang-barang peninggalan lainnya masih banyak terpendam di dalam perut Bumi Leran. Hal ini menandakan, pada zaman itu Leran sudah menjadi pelabuhan internasional. “Kita sudah sering me­ngadakan penelitian dan penggalian di Leran dan banyak bukti sejarah yang menegaskan bahwa Leran adalah desa pertama yang menjadi pusat per­tumbuhan dan perkembangan Islam di nusantara,” kata ahli sejarah Dra. Wanda Mentini.

Makam Fatimah Binti Maimun dari sisi bentuk, bahan bangunannya dan tulisan-tulisan yang tertera di atas batu nisannya semakin kuat me­negaskan bahwa sejarah peradaban baru diawali dari Desa Leran, Kec. Manyar, Gresik. Menurut Mustakim pakar sejarah Gresik juga menuturkan, dilihat dari cungkup makam Siti Fa-timah binti Maimun memiliki nilai arsitektur yang sangat tinggi. Bagian kaki dan badan bangunan dihiasi dengan pelipit-pelipit persegi dan atap berbentuk limas, dindingnya tebal, dengan ruangan yang sempit. Batu bata putih digunakan sebagai bahan tembok mengelilingi cungkup. Dari sinilah dapat disimpulkan bahwa Siti Fatimah binti Maimun pada za­man itu memiliki kedudukan yang penting.

Nisan makamnya dihiasi dengan pahatan kaligrafi bergaya kufi me­rupakan tulisan arab tertua di Asia Tenggara. Tulisan itu berisi kalimat basmalah dan ayat al-Qur’an Surat Ar Rahman ayat ke-26, Surat Ali Imran ayat ke-185, diakhiri dengan bacaan shadaqallahu wa shadaqa rasulu al Karim. Selain itu di atas nisan juga ditulis nama dan tahun meninggalnya, yaitu pada 1082. Nampaknya nisan ini ada persa­maannya dengan nisan yang ditemu­kan di Phanrang (Thailand). Seorang pemerhati sejarah purbakala bernama Moquette menyatakan bahwa batu nisan tersebut berasal dari produk yang sama yaitu Cambay, India.

LERAN002Belum jelas, apa saja pengaruh kedatangan Fatimah ini, tetapi de­ngan mengidentifikasi bekas pe­ninggalannya, jelas kehadirannya telah memberi pengaruh mendalam bagi perubahan peradaban masya­rakat. “Kalau di Laut Selatan muncul tokoh Nyi Roro Kidul, maka sebagai penyeimbangnya adalah Nyi Leran sebagai tokoh wanita muslimah yang dikenal dengan Siti Fatimah Binti Maimun dari Laut Utara,”kata (alm) Gus Dur. Jejak Leran semakin tegas sebagai awal titik munculnya masyarakat baru setelah Malik Ibrahim juga men­daratkan kakinya di Desa Sembalo yang sekarang disebut dengan Desa Leran pada tahun 1370.

Di desa yang pernah menjadi pusat perdagangan ini, Maulana Malik Ibrahim selain berdagang juga berdakwah mengajak masyarakat masuk Islam. Dan dia pun sesaat tiba di Leran langsung mendirikan masjid sebagai pusat kegiatan untuk menanamkan nilai-nilai ajaran Islam kepada masyarakat yang mayoritas masih memegang teguh kepercayaan animesme dan dinamisme. Dakwah Malik Ibrahim berkembang pesat apalagi setelah pusat dakwahnya dipindah ke Desa Gapura, Kec. Gresik. Pernikahannya dengan putri kera-jaan telah melahirkan ulama besar; Sunan Ampel dan Sunan Raden Santri.

Dari kedua putra Malik Ibrahim itulah, Sunan Giri berguru mendalami ilmu agama, sehingga berkat kecerdasannya, anak angkat Ki Ageng Pinatih ini ti­dak hanya menguasai ilmu agama tetapi juga memiliki il­mu-ilmu so­sial politik, dan dikenal ahli strategi, sehingga di kalangan para wali, Sunan Giri dijadikan tokoh sentral untuk dimintai pendapat dalam segala bidang. Bahkan berkat keilmuannya, wa­wasan dan kemampuannya dalam membangun sebuah negara, dia pun menobatkan diri sebagai Raja Giri Ke-daton. Kekuasaannya meluas sampai menembus ke wilayah Indonesia Tfl-mu r dan beberapa Negfara tetangga. Hal itu yang membuat Sunan Giri menjadi raja besar yang agung.

LERAN003Menurut mantan Rektor IAIN Su­nan Ampel Prof.DR.Nursyam, Gresik merupakan daerah yang khas yang tidak ditemukan di daerah lain. Sunan Malik Ibrahim dan Sunan Giri menjadi kekuatan utama untuk mengemban daerah ini sebagai pusat penyebaran dakwah. Uniknya lagi, lanjut dia, Gresik ini seakan dilindungi oleh waliyullah, yaitu dari arah timur bersremayam Sunan Ampel dan dari arah barat dibentengi Sunan Drajat di Lamongan dan Sunan Bonang, Tuban.

Dengan peta Gresik seperti ini, bu­kan berarti Gresik mendapatkannya by given, tetapi dari sosiokultural, Gresik telah meletakkan pilar-pilar yang kuat dalam membangun sebuah peradaban baru yang berbasis pada nilai-nilai ajaran agama yang universal penyebar kedamaian. “Banyak faktor yang menegaskan bahwa Gresik benar-benar disebut sebagai kota santri,”ujarnya.

Dari sinilah awal mula terjadinya peradaban baru di nusantara dan sia-papun tidak akan membantah jika Gresik memiliki peran penting dalam membentuk masyarakat yang ber­budaya luhur, berkarakter dan to-leran.”Lihat saja, berbagai tradisi yang berkembang di nusantara ini selalu diwarnai nilai-nilai Islam. Dan nilai-nilai itu sebenarnya berkembang dimulai dari daerah ini,”katanya. (tim sd)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: SUARA DESA, Edisi 05 15 Juni -15 Juli 2012, hlm. 56 – 57

Tedhak Siten, Kabupaten Blitar

Upacara Tedhak Siten

Apabila usia bayi telah mencapai tujuh bulan (jawa 6 lapan), maka dirayakan dengan upacara yang disebut Tedhak Siten, yang oleh sementara orang disebut pitonan/mitoni. Upacara Tedhak Siten biasanya ada ketentuan hari untuk melaksanakannya, yaitu disesuaikan dengan hari lahir (neton atau weton : bahasa jawa) si anak. Adapun sarana yang harus disediakan dalam upacara Tedhak Siten, ialah :

a             Jambangan (bak mandi) yang diisi dengan air bunga setaman.

b             Sangkar ayam (kurungan : bahasa jawa).

c              Benda-benda yang diletakkan dalam kurungan, diantaranya: padi, kapas, alat-alat tulis dan bokor yang berisi beras kuning.

d             Tikar yang masih baru (ukuran 8 meter x 3,5 meter) sebagai alas kurungan.

e             Tangga terbuat dari tebu.

f              Juadah (nasi ketan yang telah dilumatkan), juadah ini terdiri dari tujuh warna : merah, putih, hitam, biru, kuning, ungu, dan merah jambu.

g      Sajian untuk kenduri yang terdiri dari nasi tumpeng, panggang ayam dan lauk pauknya kulupan. Serta dilengkapi pula seperti : jajan pasar, bubur putih dan bubur sengkala.

 

Adapun jalannya upacara, yaitu setelah segala sarana upacara ter­sedia maka pemimpin upacara (dhukun bayi) membimbing anak yang diselamati untuk menginjak satu kali setiap jenis juadah dari ketujuh jenis tersebut. Kemudian anak dibimbing untuk menaiki tangga kecil yang terbuat dari pohon tebu yang mempunyai tujuh buah tangga satu kali. Selanjutnya anak di dimasukkan kedalam kurungan yang dialasi tikar dan didalamnya telah disediakan padi, kapas, alat-alat tulis, serta bokor yang berisi beras kuning dan uang logam.

Di dalam kurungan si anak disuruh memegang (memilih) salah satu barang-barang yang disediakan di dalam kurungan. Pada saat itu hadirin yang mengikuti jalanya upacara diminta untuk menyaksikan benda apa yang dipegang oleh anak tersebut, karena menurut kepercayaan benda yang dipegang anak melambangkan mata penca­hariannya (nasib) si anak dikelak kemudian hari. Kemudian uang dan beras kuning yang ditaruh pada bokor, ditaburkan dan diperebutkan oleh anak- anak kecil yang mengikuti upacara. Setelah itu anak dikeluarkan dari sangkar, kemudian dimandikan didalam bak yang diisi air bunga setaman.

Setelah selesai dimandikan sianak diberi pakaian dan perhiasan baru. Kegiatan selan­jutnya adalah kenduri yang dipimpin oleh tukang kajat (modin). Dengan adanya kenduri tersebut, maka berakhirlah upacara Tedhak Siten, dan sejak saat itu anak sudah diperbolehkan bermain-main di tanah.

Menurut artinya Tedhak Siten berasal dari kata tedhak dan Siti. Tedhak artinya turun sedang siti berarti tanah. Dengan demikian maksud dari upacara Tedhak Siten adalah upacara turun ke tanah. Upacara Tedhak Siten diadakan karena merupakan suatu kepercayaan sementara orang, bahwa tanah mempunyai kekuatan gaib yang dijaga oleh Bethara Kala. Adapun fungsi mereka menjalankan upacara Tedhak Siten, yaitu memperkenalkan anak pada Bethara Kala si penjaga tanah agar tidak marah. Sebab apabila Bethara Kala marah, akan menimbulkan suatu bencana bagi si anak.

50-52

Upacara Tingkeban, Kabupaten Blitar

Masyarakat Kecamatan Nglegok apabila ibu hamil atau mengandung, dan kandungannya telah berumur tujuh bulan maka diadakan upacara tingkeban, tetapi ada pula yang menyebutnya piton-piton (pitonan). Upacara Tingkeban hanya dilaksanakan oleh wanita yang baru hamil pertama kali, sehingga kehamilan yang kedua, ketiga dan seterusnya tidak diadakan upacara tersebut. Upacara Tingkeban terdiri dari beberapa tahapan kegiatan, dimulai dengan kenduri, siraman, membelah cengkir (kelapa muda), menjatuhkan teropong, berganti pakaian, menjual rujak dan diakhiri dengan jenang procot.

Adapun pelaksanaan upacara Tingkeban adalah sebagai berikut : setelah kandungan berumur tujuh bulan, maka ditentukan waktu yang baik untuk melaksanakan upacara Tingkeban. Mengenai waktu untuk melaksanakannya ada beberapa ketentuan sebagai pedoman. Ada yang mengambil pedoman hari kelahiran (neton atau weton) orang yang mengandung. Ada pula yang melaksanakan pada tanggal (hari) sebelum bulan purnama, misalnya : 1,2,5,7,9,11,13,dan 15. Pelaksanaan upacara ini ada yang melaksanakannya pada siang hari, tetapi ada pula yang me­lakukannya pada malam hari.

Upacara Tingkeban merupakan upacara terpenting diantara upacara- upacara lainnya pada waktu seseorang sedang hamil. Oleh karenanya, sajian yang disediakan banyak ragamnya. Perlengkapan upacara tersebut meliputi:

1.  Nasi tumpeng sebanyak tujuh buah dengan lauk pauknya gudhangan, yang dilengkapi dengan telur tujuh buah dan panggang ayam jantan seekor.

  1. Nasi wuduk (nasi yang memasaknya diberi santan sehingga gurih rasanya), maka dari itu nasi wuduk juga disebut nasih gurih. Nasi wuduk ini biasanya dilengkapi ingkung ayam (ingkung adalah ayam yang cara memasaknya tidak dipotong-potong, dan ayam tersebut direbus diberi bumbu opor).
  2. Nasi golong, yaitu nasi putih yang dibentuk bulat-bulat sebesar bola tenis yang bergaris tengah kurang lebih 6 (enam) sentimeter, berjumlah tujuh buah.
  3. Nasi punar sebanyak tujuh takir. Takir untuk tempat nasi tersebut dinamakan takir plonthang, yaitu takir yang tepinya diplisir dengan janur kuning dan dikancing pakai jarum bundel (dom bundel : bahasa jawa).
  4. Nasi (sego) rogoh, yaitu nasi putih biasa dan telur rebus dimasukkan kedalam kendil.
  5. Ketupat luar sebanyak 7 (tujuh) buah.
  6. Jenang procot, jenang sumsum (bubur dari tepung beras) yang diberi pisang untuk yang telah dikuliti.
  7. Jenang abang (bubur dari beras yang diberi gula merah) dan jenang putih (bubur beras putih); jenang sengkala, yaitu bubur merah yang diatasnya diberi bubur putih.
  8. Sampora, yaitu makanan yang terbuat dari tepung beras diberi santan kemudian dicetak seperti tempurung tertelungkup lalu dikukus.
  9. Apem  kocor, yaitu apem yang rasanya tawar, cara makannya dengan juruh (gula merah yang dicairkan).
  10. Ketan manca warna, yaitu nasi ketan (beras pulut) yang dibentuk bulatan bulatan sebanyak 5 (lima) buah, berwarna hitam, putih, merah, kuning, dan biru.
  11. Polo pendhemyang terdiri dari bermacam-macam ubi-ubian, antara lain: ubi jalar, ubi kayu, ketela rambat, talas, kentang hitam, gembili, dan lain sebagainya.
  12. Jajan pasar yang terdiri dari beberapa macam makanan kecil yang biasa dijual di pasar, antara lain : thiwul, canthel, kacang tanah, krupuk, dhondhong, pisang raja, dan lain sebagainya.
  13. Uler-uleran, yaitu makanan dari tepung beras yang diberi macam-macam warna.
  14. Pipis kenthel, yaitu makanan yang bahanya dari tepung beras dicampur dengan santan dan gula merah, adonan ini dibungkus daun pisang kemudian dikukus.
  15. Dhawet   adalah semacam minuman yang bahanya dari santan, juruh (gula merah yang dicairkan) diberi isi cendhol.
  16. Rujak legi bahannya terdiri dari bermacam-macam buah-buahan, ke­mudian dipasah dan diberi bumbu rujak..
  17. Pisang ayu, yaitu pisang raja dua sisir (yang biasanya dilengkapi dengan sebungkus sirih dan bunga).
  18. Bunga setaman, yaitu tujuh macam bunga yang diletakkan dalam suatu tempat, biasanya bokor yang telah diisi air.

Diusahakan kalau dapat bunga setaman tersebut beijumlah 7 (tujuh) macam, namun kalau tidak dapat paling sedikit harus ada 3 (tiga) macam.

Upacara tingkeban dilaksanakan, apabila saat yang telah ditentukan tiba, dan segala sesajian telah tersedia. Upacara Tingkeban biasanya didahului dengan kenduri, yang dipimpin oleh orang yang sudah banyak pengalaman dalam hal upacara adat, atau disebut pula dengan modin. Setelah orang- orang yang diundang datang, maka tuan rumah segera mengutarakan maksud dari hajatnya tersebut kepada pemimpin upacara (modin). Kemudian pemimpin upacara segera mengutarakan maksud hajat tersebut kepada para undangan, dan diteruskan membacakan doa yaitu doa selamat. Selanjutnya makanan (sajian) yang tersedia dibagi-bagikan kepada orang yang ikut kenduri. Setelah semua peserta mendapatkan makanan biasanya terus pulang. Sewaktu pulang mereka dilarang untuk berpamitan dengan empunya keija.

Menjelang berakhirnya kenduri, upacara siraman dimulai yang diikuti oleh para tamu wanita. Upacara siraman pelaksanaannya dipimpin oleh seorang dukun bayi kyang akan menolong besuk sewaktu melahirkan. Tempat untuk menjalankan upacara siraman di kamar mandi atau di halaman. Dikamar mandi telah disediakan bak besar (jambangan) yang telah diisi air dan didalamnya dimasukkan mayang (bunga jambe), daun andong, bunga kenanga, bunga kantil daun beringin, dan uang logam, serta bunga setaman mereka sebarkan dilingkungan tempat memandikan. Sedang alat untuk menyiramkan air pada waktu memandikan adalah siwur yang terbuat dari tempurung kelapa yang masih ada dagingnya dan diberi tangki.

Setelah perlengkapan untuk upacara siraman telah lengkap, maka dhukun membawa orang yang hamil dan suaminya ketempat pemandian. Selanjutnya dhukun menyebar kembang setaman disekitar tempat untuk

memandikan. Dhukun segera membaca doa, kemudian menyiramkan air ke kepala wanita yang hamil dan suaminya sebanyak tiga kali, yang dilanjutkan sanak keluarganya yang menghadiri upacara tersebut secara bergantian, urut dari yang tua sebanyak tujuh orang. Setiap orang menyiramkan air sebanyak tiga siwur. Pada waktu dimandikan, wanita yang hamil dan suaminya memakai pakaian basahan (kain yang dipakai pada waktu mandi) dan duduk diatas kursi atau dhingklik. Sehabis dimandikan suaminya membelah cengkir gading yang bergambar Aijuna dan Sembodro atau Kamajaya dan Dewi Ratih. Pada waktu cengkir dibelah sang dhukun mengucapkan kata-kata yang disesuaikan dengan gambar pada cengkir gadhing tersebut. Bila pada cengkir gadhing tersebut terlukis gambar Aijuna dan Sembodro, maka ucapan dhukun adalah demikian : “Yen lanang kaya Arjuna yen wadon kaya Sembadra”, yang maksudnya bila bayi lahir laki- laki diharapkan agar parasnya elok dan berbudi luhur seperti Aijuna. Tetapi bila lahir perempuan diharapkan berparas cantik dan berbudu luhur serta setia seperti Sembadra. Apabila cengkir gadhing bergambar Kamajaya dan Dewi Ratih, maka dhukun berkata : “Yen lanang kaya Kamajaya wadon kaya Dewi Ratih “, yang maksudnya agar bila perempuan seperti Dewi Ratih kalau laki-laki seperti Kamajaya.

Sesudah dimandikan kedua orang tersebut disuruh ganti pakaian yang kering dan bersih. Kain yang dipakai oleh wanita sedang hamil tersebut dikendorkan, kemudian antara perut dan payudara diikat dengan benang (lawe : bahasa jawa 3 (tiga) warna , yaitu warna merah, putih, dan hitam. Cara mengikat benang tersebut dikendorkan pula, sehingga ada antara (longgar) kain yang dipakai dengan perut. Melalui antara yang longgar ini dhukun atau mertuanya dapat meluncurkan teropong (alat untuk mengikat benang yang akan ditenun). Teropong yang diluncurkan atau dijatuhkan tadi ditangkap oleh ibunya sendiri atau dhukunnya sambil berkata : lanang arep, wadon arep janji slamet, yang maksudnya kelak bila bayi lahir laki-laki maupun perempuan mau, asal selamat. Upacara meluncurkan teropong ini dilakukan dimuka senthong tengah.

Dengan selesainya upacara meluncurkan teropong dan membelah cengkir gadhing, dilanjutkan dengan ganti pakaian tujuh kali. Pakaian ini berupa kain panjang dan kemben (penutup buah dada) yang beijumlah 7 (tujuh) macam, kain tersebut dipakai secara bergantian satu demi satu. Pada waktu memakai kain yang pertama, para tamu yang datang berkata : “durung patut”, yang artinya kain yang dipakai tadi belum pantas. Kemudian ganti pakaian yang lain juga diolok-olok lagi, demikian seterusnya samapi tujuh kali. Setelah memakai kain yang ketujuh, ibu-ibu yang mengikuti upacara mengucapkan kata : ” Wispantes, wis pantes “, yang artinya sudah pantas. Kain yang dianggap pantas, yaitu kain truntum atau toh watu diingin dengan kemben dringin. Setelah upacara tingkeban, ibu yang mengandung tidak boleh memakai perhiasan, misalnya : cincin, kalung, subang. Upacara selanjutnya adalah menjual rujak. Wanita yang mengandung dan suaminya disuruh menjual rujak, yang membeli adalah ibu-ibu yang mengikuti upacara ini. Wanita yang sedang mengandung (yang diselamati) menjajakan rujak sedang suamainaaya menerima uangnya. Menurut kepercayaan, kalau rujak yang dijual rasanya hambar, maka bayi akan lahir laki-laki. Tetapi apabila rujak rasanya sedap, bayi yang dikandung lahir perempuan. Dengan selesainya upacara menjual rujak, maka berakhir pulalah prosesi upacara Tingkeban.

Masa kehamilan untuk pertama kali bagi suatu keluarga baru merupakan peristiwa penting. Kehamilan merupakan harapan bagi kelang­sungan keturunan. Seorang ibu muda hamil merupakan lambang kesuburan, dan kepadanya diperlukan sikap yang menyenangkan.

Peristiwa kehamilan menimbulkan harapan sekaligus kecemasan, maka anak yang dikandungnya haruslah dijaga dengan baik-baik. Sang ibu yang mengandung dijauahkan dari suasana duka, sebaliknya diberikan suasana yang menggembirakan dan kesukaan. Adapun mereka melakukan hal yang demikian (upacara Tingkeban), karena upacara tersebut mempunyai fungsi mendoakan agar yang dikandung dapat lahir dengan selamat dan lancar, juga mencita-citakan agar anaknya berperilaku nantinya sesuai yang diharapkan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: WUJUD, ARTI, DAN FUNGSI PUNCAK-PUNCAK KEBUDAYAAN LAMA DAN ASLI BAGI MASYARAKAT PENDUKUNGNYA; Sumbangan Kebudayaan Daerah Terhadap Kebudayaan Nasional; DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN RI, 1996/1997, hlm. 46-50

Upacara Ruwahan

Masyarakat dusun Sanan tidak saja mengenal dan melaksanakan upacara Lampet Bendungan, tetapi juga yang lainnya yaitu upacara Ruwahan. Menurut sejarahnya, kegiatan ruwahan ceritanya dilaksanakan semenjak nenek moyang mereka, yang tujuannya untuk menghormati cikal bakal dusun Sanan yaitu mbah Kentosuro-wijoyo. Mbah Kentosuro wijoyo merupakan seorang pengembara (ngumboro : bahasa jawa) dari Mataram yang menuju ke arah Timur, dan suatu saat masuk hutan di daerah Blitar (sekarang), ditempat ini dia membersihkan hutan tersebut. Sewaktu membersihkan hutan mbah Kentosurowijoyo menemukan sumber mata air, dan sejak saat itulah dia membuat gubuk atau rumah kecil untuk tempat tinggalnya (menyanggrah : bahasa jawa).

Upacara Ruwahan dilaksanakan oleh masyarakat dusun Sanan setiap Ruwah (bulan jawa) pada tanggal 15. Pada acara upacara Ruwahan ini, harus diisi hiburan berupa kesenian Jaranan Mentaraman. Mengingat kesenian Jaranan Mentaraman merupakan kesenian yang disenangi oleh mbah Kentosurowijoyo. Kesenian JarananMentaraman adalah kesenian yang berasal dari daerah Mataram, berupa seni tari dan memakai jar an­jar an an terbuat dari kepang dengan ukuran besar, dan para penarinya memakai seragam, yaitu : mengenakan blngkon, baju lengan panjang, selempang, stagen, epek timang, keris, dan celana panjang.

Pelaksanaan upacara Ruwahan di Dusun Sanan, berpusat di sumber mata air Sanan, yamg dianggap masyarakat setempat sebagai punden. Sumber mata air Sanan, sangat penting artinya bagi masyarakat dusun Sanan, karena selain dimanfaatkan untuk mengairi sawah, juga untuk mencuci dan mandi. Namun yang terpenting, dengan adanya sumber mata air di dusun sanan, maka sawah yang berada di Dusun Sanan dan sekitarnya tidak pernah mengalami kesulitan atau kekurangan air untuk pengairannya.

Peserta dari upacara Ruwahan ini, adalah penduduk dusun Sanan yang diprakarsai oleh Bapak Kepala Dusun. Untuk kelangsungan pelaksanaan upacara Ruwahan harus sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan seperti terurai diatas. Tetapi untuk memberi penghormatan terhadap Mbah Kentosurowijoyo, harus disediakan sesaji, yaitu berupa cok bakal, buceng, dan panggang ayam.

Adapun jalannya upacara, setelah tiba saatnya hari pelaksanaan upacara Ruwahan, semenjak pagi hari penduduk dusun Sanan berdatangan menuju ke punden (sumber mata air), sambil membawa ambeng berisikan buceng lengkap dengan lauknya, cok bakal, dan panggang ayam. Apabila ambeng dari bapak kepala dusun telah datang dan pemimpin upacara telah datang, maka upacara Ruwahan segera dimulai. Setelah semua warga dusun berkumpul, maka bapak kepala dusun memerintahkan untuk segera membersihkan dan memperbaiki sumber mata air telah selesai, maka dilanjutkan dengan persembahan yang dipimpin oleh pemimpin upacara, yaitu mengujubkan sesaji yang ditujukan pada pedanyangan yang berada di punden (sumber mata air). Dengan selesainya pengujuban sesaji dilakukan oleh pemimpin upacara, maka dilanjutkan kenduri bersama dan hiburan kesenian, maka dipergelarkan Jaranan Mataraman.

Masyarakat dusun Sanan mengadakan upacara Ruwahan di tempat Punden (suber mata air), karena upacara tersebut mempunyai fungsi untuk keselamatan bagi penduduk desa Sanan pada umumnya, dan para petani pada khususnya jangan samapi kekurangan air. Selain itu tempat punden (sumebr mata air) tersebut mempunyai fungsi penting bagi masyarakat dusun Sanan dan di luar dusun Sanan yang mempercayainya, sebab apabila akan mempunyai hajad biasanya mereka mengadakan sesaji di punden khususnya pada hari jum’at. maksud melakukan hal demikian, adalah agar dalam pelaksanaan hajad nanti dapat lancar tanpa ada gangguan apapun.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: WUJUD, ARTI, DAN FUNGSI PUNCAK-PUNCAK KEBUDAYAAN LAMA DAN ASLI BAGI MASYARAKAT PENDUKUNGNYA; Sumbangan Kebudayaan Daerah Terhadap Kebudayaan Nasional; DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN RI, 1996/1997, hlm. 38-39

Reog Bulkiyo, Kabupaten Blitar

Kesenian Reog Bulkiyo

Masyarakat Kecamatan Nglegok yang mayoritas beragama Islam, sehingga bentuk kesenian hanyalah kesenian-kesenian yang bernafaskan budaya Islam, walaupun juga tidak menutup kemungkinan kesenian-kesenian lainnya, seperti ludruk, ketoprak, wayang dan lain sebagainya dapat hidup dan diterima oleh masyarakat setempat. Adapun kesenian yang bernafaskan budaya Islam, yang ada di Kecamatan Nglegok adalah : Reog Bulkiyo, Jedor, dan Mondreng. Dari jenis kesenian-kesenian tersebut yang hingga saat ini masih bertahan dan dapat dinikmati oleh masyarakat, hanya tinggal Reog Bulkiyo dan Mondreng.

Reog Bulkiyo merupakan salah satu bentuk kesenian trandisional berupa tari-tarian yang bernafaskan budaya Islam. Hal ini terlihat dari temanya yaitu peperangan antara kaum Islam dengan kaum kafir, dan para pemainnya semua laki-laki yang berjumlah 13 orang. Reog Bulkiyo menurut sejarahnya berasal dari mataram, dan sampai di daerah Nglegok tanpa ada per­kembangan atau perubahannya.

Pemain kesenian Reog Bulkiyo dari sejumlah 13 orang tersebut, terbagi menjadi 6 (enam) bagian dan masing-masing bagian tugas sendiri-sendiri, yaitu:

a 5 (lima) orang pembawa terbang )rebana) terdiri dari:

  • 1 buah terbang thrinthing;
  • 1 buah terbang gedug tiga;
  • 1 buah terbang glenyohan;
  • 2 buah terbang gae;

1 orang pembawa 1 pasang kecer/kepyek, yang berfungsi sebagai pengatur irama dari keseluruhan alat musik Reog Bulkiyo.

1 orang peniup Sronen (terompet).

3 orang penabuh kenong dan kempul, terdiri dari :

  •  kempul (jur) dengan nada slendro
  •  kenong dengan 6 slendro
  •  bende dengan nada 1 minir slendro.

1 orang pembawa bendera warna putih. Bendera adalah ungkapan yang memnggambarkan bahwa peperangan antara kebaikan dengan ke­burukan. Bendera tersebut diberi lukisan Dasamuka dan Hanoman. Lukisan Hanoman merupakan gambaran tokoh yang beijiwa kesatria dan berwatak jujur, sedangkan Dasamuka menggambarkan watak angkara murka.

2 orang pembawa pedang yang menggambarkan dua kelompok yang berperang, yaitu kebaikan dan keburukan.

Adapun kesenian Reog Bulkiyo, memiliki beberapa peralatan, terdiri dari:

1)            5 (lima) buah terbang (1 buah terbang thrinthing, 1 buah terbang gedug tiga, 1 buah terbang gleyohan, dan 2 buah terbang gae).

2)            1 (satu) pasang kecer/kepyek.

3)            1 (satu) buah sronen/trompet.

4)            3 (tiga) buah kempul.

Dalam peragaannya, para pemain Reog Bulkiyo tidaklah mengguna­kan rias wajah, sebab tontonan ini merupakan tontonan orang santri, namun dari seluruh pemainnya memakai busana yang berbeda sesuai dengan tugasnya. Busana peraga kesenian Reog Bulkiyo dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu :

1)            Satu orang pembawa bendera, dengan busana : blangkon, baju putih lengan panjang, beskap waran hitam bertatahkan mote, stagen hijau, epek timang, keris, celana panjang warna hitam, j arit bedog, dan sepatu hitam.

2)            Dua orang pembawa pedang, dengan busana : blangkon, baju putih lengan panjang, beskap hitam, stagen hijau, epek timang, keris, celana sepanjang lutut berwarna merah, dan sepatu hitam.

3)            Enam orang pembawa terbang dan kecer, dengan busana : blangakoan/ udeng giling bawang sebungkul, baju putih lengan panjang, kace hitam, srempang hitam dan merah, stagen hijau, epek timang, keris, boro samir hitam, celana panjang hitam, kain polos warna merah, dan sepatu putih. Busana penabuh kenong, sronen, dan kempul tidak ditentukan.

Bentuk penyajiannya, kesenian Reog Bulkiyo merupakan permainan tari-tarian bersama yang diiringi oleh musik. Adapun peragaannya, para pemain selain memainkan alat musik juga melakukan gerakan-gerakan tari secara bersama-sama. Lagi pula dalam pertunjukkannya tidak disertai dengan vokal, sedang susunan penyajiannya, sebagai berikut:

1)     Paling depan adalah seorang pembawa bendera, dibelakanganya dua orang pembawa pedagang dan diikuti enam praajurit yang berbaris dibelakangnya. Sedang penabuh kempul, kenong, bende, serta peniup sronen duduk ditempat lain.

2)    Kecer dibunyikan diikuti yang lain, dan berjalan menuju ke pentas.

3)   Gerakan-gerakan yanag dilakukan berkisar pada langkah kaki, gerakan tangan, dan kepala. Gerakan yang dilakukan kedua tokoh pembawa pedang diikuti prajurit yang ada dibelakangnya.

4)   Para prajurit mundur dan kedua tokoh pembawa pedang siap berperang.

5)   Teijadilah perang padang dan akhirnya yang kalah lehernya digorok pedang oleh yang menang.

6)   Akhirnya pertunjukkan, iringan musik dengan tempo makin lambat, kemudian pembawa bendera serta kedua pemain pembawa pedang mundur.

Kesenian Reog Bulkiyo merupakan tradisional masyarakat Kecamatan Nglegok, ternyata mempunyai fungsi selain sebagai hiburan juga dimainkan untuk menebus nadar.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: WUJUD, ARTI, DAN FUNGSI PUNCAK-PUNCAK KEBUDAYAAN LAMA DAN ASLI BAGI MASYARAKAT PENDUKUNGNYA; Sumbangan Kebudayaan Daerah Terhadap Kebudayaan Nasional; DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN RI, 1996/1997, hlm. 52-55

Berbagai Jenis Lurik Tuban

Di daerah Tuban terdapat beberapa jenis lurik Berbeda dengan lurik dari daerah lain, lurik daerah Tuban punya berbagai corak, yaitu lurik anaman wareg), lurik klontongan), batik lurik, lurik pakan tambah­an, disebut dengan istilah lurik kembangan dan lurik talenan.

 Lurik anaman wareg

Anaman wareg, bahasa Jawa yang berarti anyaman polos. Lurik anyaman polos, baik bercorak lajuran (garis-garis) maupun ber­corak cacahan (kotak-kotak), di daerah ini dianggap kurang bergengsi, kecuali bebe­rapa corak yang mengandung makna sak­ral misalnya corak tuwuh/tuluh watu. Pada umumnya jenis lurik ini dipakai untuk bakal klambi, (bahan pakaian – baha­sa Jawa) yaitu untuk sruwal (celana), baju, selendang, lurik klontongan (bahan untuk batik lurik) dan untuk keperluan lainnya seperti kain kasur, kain bantal dan lain-lainnya.

Kapas yang warna aslinya krem kecok-latan, disebut dengan istilah kapas lowo (kelelawar) karena warnanya yang menye­rupai warna kelelawar, dahulu ditenun de­ngan anaman wareg untuk berbagai keperlu­an antara lain untuk kain kasur, bantal dan lain-lain. Namun kini dengan berbagai mo­difikasi, baik tata warna maupun corak se­perti corak sleret blungko, dipakai untuk busana yang cukup mendapat pasaran.

Lurik klontongan

Klontongan yang bermakna kekosongan ji­wa dan badan. Lurik klontongan adalah lurik anyaman polos latar putih dengan berbagai corak lajuran (garis-garis) atau cacahan (kotak-kotak) yang kebanyak­an berwarna hitam, meskipun adakalanya yang berwarna merah. Dipakai sebagai ber­bagai bahan dasar untuk pembuatan batik lurik. Lurik klontongan diang­gap masih kosong atau hampa, belum mempunyai makna dan identitas, karena belum mempunyai corak, nama dan makna. Corak lurik klontongan tertentu diperuntukan bagi bahan dasar corak lurik batik tertentu pula.

Batik lurik

Batik lurik adalah lurik klontongan yang di-batik. Diperoleh dengan menutupi bagian-bagian tertentu yang berwarna putih dari sehelai lurik klontongan dengan malam, me­nurut berbagai bentuk corak geometris ter­tentu, yang terdiri dari titik-titik halus atau garis-garis lurus. Sesu­dah dicelup dengan warna merah mengku­du atau biru indigo dan kemudian malam­nya dilorod (dibuang dengan jalan mere­bus dan/atau dikerok), maka akan didapat batik lurik dengan berbagai corak seperti co­rak: krompol, cuken, kijing miring, surna, kesatrian, tutul bang dan galaran kembang.

Lurik pakan tambahan/lurik kembangan Berlainan dengan di daerah Solo/Yogya, di mana lurik pakan tambahan dapat di kata­kan tidak lazim, di daerah Tuban kain de­ngan tehnik pakan tambahan masih di ker­jakan, disebut dengan istilah lurik kembang­an pakan. Di samping ini di­buat pula lurik dengan tehmk floating warp yang dinamakan lurik kembangan lungsi an­tara lain dengan corak ular guling. Di daerah Tuban lurik pakan tambahan masih dibuat karena masih diperlukan, dipakai untuk upacara setempat. Kemungkuiu. teknik pakan tambahan adalah pengaruh dari luar, seperti dari Bali, Sulawesi Sela­tan, Kalimantan Selatan dan daerah Su­matra. Daerah-daerah tersebut di atas ini memang terkenal dengan seni budaya tek­nik pakan tambahan (songket) yang cukup tinggi. Pada masa lampau hubungan da­gang antar daerah ini dengan Tuban cu­kup tinggi, di mana interaksi kebudayaan terjadi.

  • Lurik kemitir  dibuat dengan teh-nik yang khas, dengan cara dan kiat ter­tentu sewaktu menghani benang.
  • Sehelai lurik kembangan dapat dipakai baik oleh orang berumur maupun orang muda, sisi kain yang berpenampilan ge­lap dipakai oleh orang berumur dan sisi sebaliknya yang terang dipakai oleh orang muda.
  • Antara lain lurik corak kembang polo dan kembang pepe merupakan lurik dengan istilah kain simpenan yaitu disimpan sebagai kain pusaka.
  • Beberapa corak lurik kembangan yang masih dibuat antara lain: krompol, cuken, kembang pepe, kembang polo, laler menclok, bulu rambat potong inten, corak kembang jati, kemintir/gemintir, bolongbuntu, ular guling, kembang manggar, intipyan, batu rantai.

Lurik talenan

Lurik talenan dari perkataan ditali/ diikat, adalah lurik corak lajuran dan kotak-kotak di mana di antara benang-benang lungsi dan/ atau benang pakannya terdapat be­nang-benang ikat yang sangat sederhana. Benang-benang ikat ini bercorak garis-garis pendek yang terputus-putus, dengan war­na putih dan biru indigo. Kain lurik yang

mempunyai benang ikat ini disebut dengan istilah talenan. Antara lain terdapat lurik dengan corak sleret talenan, di mana hanya pada benang lungsinya saja terdapat benang ikat, yang umumnya di­peruntukkan bagi kaum pria. Lurik yang berpenampilan garis-garis terputus-putus baik ke arah vertikal (lungsi), maupun ke arah horisontal (pakan) yang disebabkan oleh benang ikat pada pakan maupun lungsinya, disebut dengan istilah lurik talenan/kentol dipakai oleh pria dan wanita. Kaum pria ada yang mena­makan lurik talenan dengan sebutan lurik kentol. 

Lurik usik

Kain lurik usik adalah lurik yang benang pakannya terdiri dari benang tamparan istilah Tuban untuk benang plintir, yang menjadikan lurik ini sangat kuat dan tebal. Karena itu umumnya kain usik dipa­kai untuk bekerja di ladang oleh kaum pria.

Antara lain terdapat kain usik dengan nama Semar mendem. Semar adalah seorang dewa yang arif bijaksana, cerdas, berbudi luhur, berjiwa pengasuh dan pelindung serta mendambakan agar manusia berada dalam keadaan suasana sejahtera, damai dan terhindar dari segala macam musibah.

Mendem yang arti harfiah- nya mabuk, namun di sini kiasannya ada­lah sedemikian hanyutnya, gandrungnya Semar akan keselamatan, kesejahteraan dan kedamaian manusia.

Salah satu pe­nganan di Jawa Tengah ada yang dinama­kan Semar mendem yang menurut mereka bercita rasa sangat lezat menghanyutkan. Di daerah Tuban benang tamparan tidak dipergunakan untuk memperkuat pinggir­an kain, untuk itu mereka memasukkan dua helai benang di satu lobang sisir di ba­gian pinggiran kain.

 Di daerah Solo/Yogya untuk memper­kuat pinggiran kain dipakai benang plin­tir. Di daerah ini terlihat antara lain pema­kaian benang plintir yang disisipkan di antara benang pakan, dengan effek yang menarik seperti pada lurik palen.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Lurik Garis-garis Bertuah,Nian S. Djoemena, Jakarta,  Djambatan, 2000, hlm. 99-105

Corak Kain Batik Tuban

Nama Dan Makna Corak Kain Batik Tuban

Di samping membuat kain lurik di daerah Tuban ini mereka membuat pula kain batik yang khas dalam penampilannya. Pemberi-an nama kain Tuban pun, baik kain lurik maupun kain batiknya diambil dari alam sekitar kehidupan yang sehari- harinya ak-rab dengan mereka dan yang mereka ang-gap bermanfaat serta mempunyai perilaku/sifat yang baik. Di samping itu ada pula nama-nama yang merupakan kiasan atau bermakna simbolis.

Masyarakat Tuban yang tergolong su­ku Jawa, pada corak dan pemberian nama kainnya terlihat pula berbagai corak dan nama dari kebudayaan dan falsafah Hin­du Jawa, seperti antara lain: corak lar pada kain batik Tuban yang merupakan lam­bang kekuasaan, kain lurik corak tuwuh/ tuluh watu lambang, kekuatan, keperka­saan {tuwuh, tuluh dapat berarti kuat; watu = batu), kain lurik corak kijing miring memperingatkan pada manusia akan akhir hayatnya.

Di samping itu corak kebudayaan Cina (burung hong, bunga pioni, dan lain-lain) sangat menonjol pada kain batik Tuban, dengan penataan gaya Lok Chan serta corak Coromandel pada umumnya di­pakai sebagai pinggiran kain atau hiasan pembatas. Begitu pula terlihat co­rak geometris patola pada umumnya dianggap sakral.

Corak flora dan fauna biasanya dipakai untuk pakaian sehari-hari, sedangkan co­rak geometris patola pada umumnya untuk upacara adat dan sakral.

Pada warna dan tata warna tradisional batik Tuban terlihat perubah­an baik dalam jenis warna, nuansa warna maupun tata warnanya, yang pada umum­nya didapat dengan pemakaian warna sin- tetis. Bahkan akhir-akhir ini terlihat warna sogan sebagai adaptasi warna batik Solo/Yogya.

Kain batik Tuban menurut perpaduan war­nanya disebut dengan berbagai istilah, yaitu: bangrod, pipitan, putihan dan irengan. Tiap jenis kain tersebut diperuntukan, di­pakai oleh kalangan tertentu dengan mak­na tertentu.

Kain bangrod

Kain bangrod  adalah kain berlatar putih dengan corak warna merah, dari per­kataan diabang, yaitu dicelup dengan war­na merah dan kemudian malamnya dilorod, menjadi istilah bangrod. Diperuntukan bagi wanita remaja dan yang belum menikah.

Kain pipitan

Kain pipitan adalah kain berlatar putih dengan corak bertata warna merah dan biru. Pipitan berarti berdampingan, ka­rena itu kain dengan perpaduan warna ini diperuntukan bagi orang yang telah ada pendampingnya, yaitu yang telah meni­kah.

Kain putihan

Kain putihan adalah kain berla­tar putih dengan corak berwarna biru tua. Yang bercorak geometris patola dianggap kain sakral, melindungi segala sesuatunya serta dijadikan lambang tolak bala. Putihan dari kata mutih, yaitu ritus mensucikan dan memurnikan diri dari segala dosa dan noda dengan jalan berpuasa di mana orang hanya diperbolehkan minum air putih makan nasi putih sekadarnya.

Kain irengan          

Kain irengan adalah kain berlatar hitam atau biru tua dengan corak berwarna   t putih. Kain irengan yang berarti kain hitam, dipakai oleh orang lanjut usia. Demikian pula kain irengan yang bercorak geometris/patola dianggap sakral, dipakai untuk pergi melayat dan sebagai penutup jenazah demi keselamatan arwah yang meninggal, kare­na kematian dianggap sesuatu yang sakral.

Sebagaimana telah diutarakan terlebih dahulu, kain Tuban mempunyai daya ta­riknya tersendiri, terutama kekasaran ba­han dengan benang pintal tangannya, war­na-warna redup yang khas meskipun yang telah dicelup dengan zat warna sitetis, ser­ta pengerjaan yang masih tradisional de­ngan pesonanya tersendiri. Nampaknya hal-hal inilah yang menarik orang-orang asing, yang menjadikan kain Tuban barang cinderamata yang menarik dan digemari­nya. Dewasa ini terlihat kain batik maupun lurik Tuban dibuat untuk rompi, topi, tas dan lain-lain, serta terlihat batik Tuban dalam bentuk taplak dan serbet dan lain-lain.

Dua orang wanita Belanda yang saya kenal dan sudah lama bermukim di Indo­nesia, menurut hemat saya banyak sum­bangannya dalam memperkenalkan kain Tuban: Rens Herringga dengan penelitian dan penulisannya yang mendalam dan Wineke de Groot dengan usahanya memo­difikasi corak, warna dan penggunaan, ter­utama lurik Tuban  serta memper­kenalkan berbagai kerajinan rakyat Tuban.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Lurik Garis-garis Bertuah,Nian S. Djoemena, Jakarta,  Djambatan, 2000, hlm. 115-119

 

Tata pemakaian kain Tuban

Di daerah ini sebetulnya terdapat pula tata aturan tentang pemakaian kain lurik mau­pun batik, sejalan dengan tingkat sosial ma-syarakatnya, yang dahulu dilaksana­kan dengan ketat. Antara lain aturan pemakaian ini adalah sebagai berikut: 

  • Batik lurik dipakai oleh rakyat biasa.
  • Lurik kentol dan lurik kembangan (pakan tambahan) diperuntukan bagi kaum ter­pandang dan menengah, mungkin dika­renakan kedua kain lurik ini lebih rumit dan lama proses pengerjaannya.
  • Corak kain lurik horisontal sejalan dengan arah benang pakan dipakai kaum wani­ta, serta yang vertikal sejalan dengan arah benang lungsi untuk kaum pria, sedangkan corak cacahan (kotak-kotak) untuk pria dan wanita. Berbagai aturan ini sekarang tidak dipegang teguh lagi.
  • Kain batik bermutu tinggi, yang halus me­ngerjakannya, diperuntukan bagi kaum terpandang dan menengah. Mereka yang tergolong kaum terpandang ada­lah penduduk keturunan penetap per­tama, yang pada umumnya adalah pe­milik tanah.

Warna dan tata warna tradisional kain lurik maupun kain batik Tuban terbatas pada warna biru tua/hitam (indigofera), merah mengkudu (morinda citrifolia), putih dan krem (warna asli kapas).

Pada warna dan tata warna kain lurik Tuban belum banyak terlihat perubahan, meskipun sudah ada juga yang dicelup dengan menggunakan warna sintetis, na­mun masih berkisar pada warna biru tua, hitam, merah dan putih.

Sedangkan pada kain batik Tuban per­ubahan warna sudah banyak terlihat, baik dalam jenis warna, nuansa warna maupun tata warnanya, yang pada umumnya dida­pat dengan pemakaian warna sintetis.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Lurik Garis-garis Bertuah,Nian S. Djoemena, Jakarta,  Djambatan, 2000, hlm. 114

 

Teknik menenun pakaian tambahan Lurik Tuban

Teknik menenun pakaian tambahan Lurik Tuban

Di daerah Tuban orang masih menenun lu­rik pakan tambahan dengan alat tenun gen­dong, serta pada umumnya mereka masih mempergunakan benang pintal tangan.

Pada hakekatnya tenunan pakan tam­bahan adalah tenunan polos yang sekaligus merupakan tenunan dasar, yang dihias dengan diberi/ditambah benang pakan tambahan.

Caranya adalah dengan jalan mema­sukan/menyisipkan benang pakan terse­but, dan seterusnya) di antara benang pakan dari tenunan dasar, dan seterus­nya, menurut corak yang diinginkan.

Be­nang pakan tambahan secara bergiliran di­sisipkan sekali di atas beberapa benang lungsi dan sekali di ba­wahnya, dan seterusnya, sesuai corak yang diinginkan. Dengan de­mikian terlihat benang pakan tambahan sekali berada di atas permukaan tenunan dasar, sekali di bawahnya.

Bentuk kain tradisionbal Tuban

Baik kain lurik maupun kain batik Tuban, umumnya berbentuk;’ari£ (kain panjang) dengan ukuran ± (1 x 2,5 m), dan berben- tuk kain sarung ± (1 x 2 m).

Sayut, istilah setempat untuk selendang kebanyakan di batik, dengan ukuran yang sangat panjang ± (3 x 0,5 m), yang dipakai sebagai pem­bawa barang. Ikat kepala biasanya terbuat dari batik.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Lurik Garis-garis Bertuah,Nian S. Djoemena, Jakarta,  Djambatan, 2000, hlm. 112-113