Asal Usul Desa Kedungsalam, Kabupaten Malang, Jawa Timur

Desa Kedungsalam dahulu merupakan hutan belantara yang sangat angker, dalam bahasa Jawa dapat diibaratkan sato moro sato mati, Jalmo moro jalmo mati, yang maksudnya baik hewan maupun manusia jika masuk ke hutan tersebut akan menemui ajalnya. Mengapa terjadi hal demikian ?

Menurut masyarakat desa Kedungsalam dan sekitarnya, desa tersebut masih dalam kekuasaan mbok Nyai Ratu Mas yang terkenal sebagai Ratu Laut Selatan  sehingga siapa yang masuk wilayah tersebut tanpa ijinnya akan disingkirkan atau dimurkai. Oleh karena itu hanya ada beberapa orang saja yang berani bertempat tinggal di desa itu. Kemudian pada akhir abad ke 18 datanglah seorang pengembara dan beberapa orang pengikutnya dari Jawa Tengah (Mataram). Pengembara tersebut kemudian dikenal dengan nama Mbah Atun

Mbah Atun adalah seorang wanita yang cantik dan sakti mandra guna, oleh karena itu beliau sangat dihormati dan ditakuti. Sedang nama Atun sendiri bukan nama beliau sendiri tetapi nama anaknya yang sulung yaitu Sringatun. Nama Mbah Atun yang sesungguhnya tidak ada yang mengetahui, bahkan mbah Supangat yang merupakan cucu beliau juga tidak mengetahui. Siapa nama suami Mbah Atun juga tidak ada yang mengetahui.

Kedatangan mbah Atun dengan para pengikutnya di hutan tersebut disambut gembira. Mereka segera membuka hutan untuk tempat tinggal. Menurut ceritera hutan tersebut banyak ditumbuhi pohon salam, di samping itu juga terdapat kedhung (lubuk) yang dalam. Tempat tinggal yang baru tersebut makin lama makin banyak penduduknya sehingga menjadi satu perkampungan yang ramai. Desa tersebut kemudian dinamakan Kedungsalam, karena di desa itu banyak terdapat kedhung (lubuk) dan banyak ditumbuhi pohon salam.

Desa Kedungsalam makin lama makin bertambah penduduknya sehingga tumbuh menjadi Kelurahan. Lurah desa pertama di desa itu adalah Abdul Muthalib. Lurah desa Kedungsalam dalam memerintah desanya didampingi oleh mbah Atun sebagai sesepuh dan penasehat, oleh karena itu masyarakat merasa bahagia dan sejahtera.

Namun kebahagiaan tersebut pada suatu saat terganggu karena adanya wabah penyakit yang menimpa rakyat desa Kedungsalam. Pada saat itu dapat diibaratkan orang yang sakit pagi, malam harinya meninggal, orang sakit malam pagi harinya meninggal. Peristiwa tersebut meresahkan penduduk desa Kedungsalam.

Melihat penderitaan masyarakat tersebut, Mbah Atun sebagai sesepuh desa yang dihormati merasa prihatin. Oleh karena itu beliau tidak tinggal diam, maka beliau segera bersemedi memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa/Kuasa agar masyarakat di desanya terteram seperti sedia kala. Di dalam semedinya beliau mendapat wangsit, bahwa wabah penyakit akan segera reda dengan syarat mbah Atun beserta masyarakat desa Kedungsalam harus mengadakan upacara labuhan di pantai Ngliyep tepatnya di Gunung Kombang.

Mbah Atun segera menyampaikan wangsit tersebut kepada bapak Lurah dan masyarakat desa Kedungsalam. kemudian beliau berdua segera mengadakan musyawarah kapan upacara tersebut dilaksanakan.

Berdasar hasil musyawarah tersebut upacara Labuhan dilaksanakan pada tanggal 14 bulan Maulud tahun 1913. Setelah upacara dilaksanakan ternyata wabah penyakit yang mengamuk di desa Kedungsalam reda, sehingga masyarakat menjadi tenteram. Oleh sebab itu, sampai sekarang ini rakyat desa kedungsalam khususnya keluarga keturunan mbah Atun selalu setia melaksanakan upacara Labuhan yang diadakan pada setiap tanggal 14 Maulud.

Adapun maksud dan tujuannya adalah sebagai ungkapan rasa terima kasih atas keselamatan dan rezeki yang telah diterima oleh masyarakat desa kedungsalam dan warga masyarakat lainnya dan juga sebagai sarana permohonan kepada yang Maha Kuasa agar masyarakat desa Kedungsalam mendapat rahmat, keselamatan dan ketentraman.

UPACARA TRADISIONAL LABUHAN DIPANTAI NGLIYEP DESA KEDUNGSALAM, KECAMATAN DONOMULYO, KABUPATEN MALANG, PROPINSI JAWA TIMUR; DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN RI 1996 / 1997, Surabaya, 1997, hlm. 13

Panjak Hore, Kabupaten Tuban, Jawa Timur

Nama Permainan

PANJAK HORE001Panjak=niyaga (berarti pemukul gamelan). Namun pada “panjak hore”, gamelannya dengan mulut. Kalaupun ada instru­men, itu hanyalah terdiri atas sebuah gendang sebagai pengatur irama dan sebuah gong bumbung (=gong tiup) sebagai finalis. Selebihnya gamelan mulut yang menyuarakan kata-kata berirama : lelo-lale-lo-lalo …. dan seterusnya, diseling dengan bentuk parikan, dan di sa­na-sini senggakan “hore – hore – hore”.

Karena itu, permainan tersebut dina­makan “panjak hore”. Peristiwa Permainan. “Panjak hore” biasanya ditampilkan pada saat-saat sehabis mu­sim panen padi, dilakukan oleh kawanan penggembala ternak di dae­rah-daerah tersebut. Sebuah permainan yang membawakan suasana santai, sekaligus merupakan, hiburan ringan bagi masyarakat petani,  setelah berbulan-bulan bekerja berat menggarap sawah sejak mengolah tanah, menabur bibit, menanam sampai menuai padi. Tampilnya  permainan “panjak hore” sehabis panen memang merupakan pemili­han saat yang tepat, sebab bagi masyarakat petani, waktu banyak senggang ialah sesudah panen selesai. Sekaligus merupakan ungkapan rasa syukur, bahwa segala jerih payah yang mereka curahkan telah mencapai hasil panen yang baik. S. Latar Belakang Sosial Budaya.

Ungkapan rasa syukur itu menjadi lebih nyata lagi oleh penye­lenggaraan permainan “panjak hore” yang didahului dengan upacara yang mengarah kepada sifat-sifat ritual. Dalam pada itu disertai pula dengan sesaji segala, berupa tumpeng tanggung beserta lauk-pauk­nya di atas sebuah nyiru, sebuah nyiru lagi berisi peralatan dapur, antara lain : cobek, uleg-uleg (= alat pelumat cabe) dan beberapa lembar daun keluwih dan lain-lain. tidak ketinggalan dupa.

PANJAK HORE002Kelengkapan upacara demikian memang sudah mentradisi di kalangan masyarakat petani di daerah-daerah pedalaman. Kendatipun mereka memeluk agama Islam, namun sisa-sisa kepercayaan mistik Jawa kuno dan adat tata cara tradisional mereka tidak hapus melain­kan masih melekat pada alam kehidupan budaya mereka. Lebih-le­bih mereka jauh dari keramaian kota yang lebih materialistik corak budayanya, disebabkan letak daerah mereka yang jauh terpencil, se­hingga hidup mereka tidak mengenal kemewahan lahir. Mereka orang sederhana dalam pikiran dan dalam segala tingkah laku dan perbuat­an. Mereka terlalu sadar bahwa hidup mereka tergantung kepada . alam lingkungan mereka, karena itu mereka pun merasa hidup ber sama alam. Rasa syukur mereka panjatkan kepada Tuhan yang telah menjadikan mereka dan alam semesta, sesuai dengan ajaran agama, namun mereka juga tidak mengingkari jasa bumi yang langsung mem­beri mereka makan dan minum dan jasa langit yang memberikan hu­jan untuk mengairi sawah mereka. Kepada bumi dan langit mereka persembahkan sesajian sebagai tanda terima kasih. Kepada Tuhan me­reka panjatkan rasa syukur.

Sifat-sifat mistik religius demikian itu pun mewarnai kehidu­pan sosial budaya latar Belakang Sejarah Perkembangan. Mengingat letak daerah Kerek, Singgahan dan Bangilan yang satu sama lain terpencil dan terpisah-pisah oleh pegunungan dan hutan jati yang lebat, terutama perjalanan antara Kerek dan Singgahan yang harus melalui jarak jauh dan menaiki punggung bukit Kendheng lamun masing-masing memelihara sejenis permainan yang memiliki nama, pola dan gejala penampilan yang sama, kiranya dapatlah kita nenarik kesimpulan, bahwa di masa-masa jauh lampau permainan tersebut atau semacam itu, sudah umum dan menyebar luas di seluruh wilayah Kabupaten Tuban dan sekitarnya. Hanya masalahnya adalah apakah nama Panjak Hore sudah dikenal masyarakat sejak dulu, semasa kakek-kakek mereka, berlangsung sampai sekarang, dan pelaksanaannya pun masih tetap diadakan setelah musim panen. Jadi paling sedikit sudah tiga generasi.

Para pelaku dan Peserta Lainnya.

PANJAK HORE003Permainan “panjak hore” melibatkan banyak orang, semuanya  Laki-laki, muda dan tua, dengan tidak menentukan jumlahnya. Semakin banyak pesertanya semakin bersemarak, namun tidak akan me­lebihi batas muat arena yang digunakan. Biasanya arena tersebut berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 7 meteran tiap sisinya. Tidak menggunakan panggung, melainkan di atas tanah di tengah lapangan atau halaman luas direntangkan tali berkeliling terpancang pada tonggak tiap-tiap sudut untuk membentuk sebuah arena. Sebuah lampu, stormking ditempatkan di tengah arena, digantungkan pada atau disangga oleh sebuah tiang.

Sebagaimana disinggung di muka, pelakunya terdiri atas kawan­an penggembala ternak, namun merekapun tergolong masyarakat petani karena tugas mereka di samping menggembala ternak juga membantu menggarap sawah. Empat orang di antara mereka yang de­wasa, dipilih untuk menjadi pelaku Balong, Pethak, Tangsil, dan Ca wik. Cawik adalah peraga perempuan, dalam hal ini dimainkan oleh laki-laki. Balong dan Pethak peranan rupawan, sedang Tangsil peran­an jenaka.

Di samping keempat peranan tersebut, masih diperlukan 20 sampai 30 orang yang berperan sebagai “panjak”, terdiri atas anak remaja ataupun dewasa. Bahkan orang-orang tua pun ikut pula tetapi kehadiran mereka itu rupanya untuk menjaga kekompakan dan ke­tertiban dalam pelaksanaan.

Perlengkapan, Busana dan Peralatan Lain-lain.

Perlengkapan yang diperlukan untuk pelaku-pelaku utamanya, terdiri atas empat perangkat busana wayang wong dalam bentuk dan arti yang sederhana, yaitu: suatu.perangkat busana perempuan Cawik dan tiga perangkat busana laki-laki Balong, Pethak, Tangsil, dan ma­sing-masing perangkat dengan kacamatanya,karena dalam penampi­lan mereka, keempatnya menggunakan kacamata. Hanya sebagai irah-irahan tutup kepala pelaku Tangsil mengenakan pici. Selain itu merekapun memerlukan alat rias yang sederhana.

Perlengkapan upacara berupa sesaji, sudah diuraikan di satu nyiru berisi tumpeng dengan lauk-pauknya, suatu nyiru lagi berisi cobek, uleg-uleg, daun keluwih dan lain-lain. kemudian dupa. Kemudian empat tonggak tempat pemancang tali berikut talinya sekali untuk batas arena. Selanjutnya masih ada lagi sebuah lampu (stormking) dengan cagak penggantung atau penyangganya. Beberapa lembar tikar tempat duduk niyaga atau panjak diletakkan di tengah mengitari cagak lampu. Instrumen gamelan hanya sebuah kendhang dan sebuah gong bambu. Selebihnya gamelan mulut, jadi tanpa peralatan.

Iringan Permainan.

Lelagon (lagu-laguan) Jawa populer sering juga diselipkan an­tara lain lelagon sinten numpak sepur (siapa naik sepur). Lelagon ini mulai populer pada jaman revolusi fisik tahun 1945. Karena pabrik gula banyak yang tidak bekerja, maka sepur lori yang biasanya mengangkut tebu, dimanfaatkan sebagai pengangkutan umum, menggantikan bus dan opelet yang waktu itu mulai hilang. Selain penumpang umum, sering juga rombongan pejuang, laskar maupun tentara resmi, naik sepur lori tersebut, yang mereka istilah­kan sepur dhur (entah dari mana asal istilah itu). Dalam perjalanan naik sepur dhur demikian, mereka pun beramai-ramai menyanyikan “sinten numpak sepur, mbayare setali…………………………………………………….. ” dan seterusnya, beru­lang-ulang. Lelagon populer tahun 1945 itu rupanya sempat pula diaba­dikan oleh masyarakat “panjak hore”.

Jalan Permainan.

  1. Panjak menempati bagian tengah, duduk di atas tikar yang sudah disiapkan. Kemudian keempat orang pelaku, yaitu Balong,Pe­thak, Tangsil dan Cawik tampil bersama germa selaku sesepuh seka­ligus pengatur laku (sutradara). Keempat pemain tersebut masih tertutup mukanya dengan sepotong kain.
  2. Germa membuka permainan dengan semacam kata pendahu­luan yang menerangkan, bahwa seratus empat puluh empat orang bidadari kahyangan turun ke arcapada bumi. Seratus orang berada di luar arena, empat puluh berada di tengah arena bersama Panjak, dan empat orang bidadari sisanya telah lelagon dilanjutkan lagi, selalu dengan diawali dengan suara tunggal bagai pembuka (introduksi), baik oleh pemain atau oleh panjaknya
  3. Dari dialog ini dapat kita tangkap kisah yang ingin disampaikan, yang ringkasnya seperti berikut. Pethak berusaha mencari pekerjaan, dan datang kepada Balong. Tetapi tidak berhasil, kemudian berangkat menuju ke rumah Tangsil-orang petani.
  4. Di sini lamarannya diterima, lalu bekerja pada Tangsil penggarap sawah, menabur benih, menanam padi, sampai masa menuainya . Setelah masa panen selesai, dan hasil panennya bagus, mereka lalu menghibur diri dengan tandhakan, sebuah kesenian sejenis ronggeng.
  5. Ronggengnya adalah Cawik. Setelah ini selesailah acara utama permainan “panjak hore”. Dalam penutupnya, dinyanyikan slagon yang isi syairnya mengisahkan, bahwa para pemain telah melepaskan pakaiannya dan bidadari pun meninggalkan arcapada kembali kekahyangan.
  6. Sampai di sini permainan Panjak Hore sebenarnya sudah habis, tetapi nampaknya sekarang Panjak Hore tidak berdiri sendiri, melainkan bergabung dengan permainan lain yaitu Jaran Kepang, Kalonganlan Lawakan sebagai atraksi penutup. Kalau diurutkan permainanya maka acara pertama adalah Panjak Hore. acara kedua diisi oleh permainan Jaran Kepang (kuda lumping). Acara ketiga Kalongan, yang merupakan tontonan akrobatik, sedang lawakan menempati acara terakhir.
  7. Hal ini mungkin telah sama-sama dikehendaki, agar permainan tidak akan cepat berakhir, tetapi masih berkelanjutan dengan atraksi-atraksi lain, sehingga merupakan hiburan yang lengkap. Dengan bergabungnya beberapa atraksi tersebut, maka permainan berlangsung hampir semalam suntuk, dari sekitar jam 9 malam sampai jam 3 dinihari.
  8. Kata-kata pendahuluan yang dibawakan oleh Germa itu disebut tandhuk. Dalam penyampaian tandhuk, kalimat demi kalimat selalu disambut penonton dengan sorak-sorai. Begitu tandhuk selesai, dibukalah kerudung yang menutupi muka keempat pemain, yang langsung disambut oleh lelagon Panjak.
  9. Maka permainan pun mulai. Keempat pemain itu menari-nari mengitari Panjak , dengan jalan memutar ke kanan seperti arah jarum jam. Pada saat-saat tertentu lelagon berhenti guna memberi kesempatan kepada pemain untuk berdialog, yang sering diselingi humor dan lawak yang memang menjadi kesenangan masyarakat setempat.

10. Peranannya Masa Kini Kiranya sudah jelas peranan permainan Panjak Hore di masa kini, yakni tetap merupakan hiburan ringan bagi masyarakat petani setelah merampungkan pekerjaan berat berbulan-bulan menggarap sawah untuk mencapai hasil panen yang diharapkan.

Tanggapan Masyarakat.

Dan dengan dikaitkannya dengan upacara syukuran, yang membuat permainan sedikit banyak mendapat warna ritual, suatu tradisi yang masih cukup kuat berakar dalam tata kehidupan masyarakat setempat, semua itu merupakan jaminan, bahwa masyarakat masih menyukainya. Dan kenyataannya memang demikian, bahwa sampai
kini pun Panjak Hore masih tetap diselenggarakan, dengan penampilan yang sama, adegan yang sama, diulang, dan diulang, setiap tahun sehabis musim panen, seolah-olah orang tidak mengenal bosan masuk dan bersatu dengan Para pelaku : Balong, Pethak, Tangsil, dan Cawik.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil  Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : PERMAINAN RAKYAT DAERAH JAWA-TIMUR; DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL PROYEK INVENTARISASI DAN DOKUMENTASI KEBUDAYAAN DAERAH 1983 – 1984, hlm. 30- 39

Petik Laut di Muncar, Kabupaten Banyuwangi

Upacara petik laut di Muncar, Pantai Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi.

Petik Laut merupakan salah satu tradisi warga Banyuwangi. Tradisi ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas limpahan rezeki berlimpah yang selama ini menopang kehidupan mereka. Dengan rasa syukur ini diharapkan selama menjalani pekerjaan, mereka dijauhkan dari bahaya serta mendapatkan tangkapan ikan melimpah.

Acara ini dilakukan di Pantai Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi. Pelaksanaan ritual tersebut berlokasi di salah satu tempat pelelangan ikan terbesar di Indonesia setelah Bagan Siapi-api. Acara tersebut diadakan setiap tahun, tepatnya pada tanggal 15 bulan Suro atau Muharram.

Masyarakat Muncar menggelar ritual Petik Laut sejak tahun 1901. Mereka percaya bahwa, jika Petik Laut tidak digelar, musibah akan datang. Upacara Petik Laut bernilai sakral. Acara puncaknya adalah berisi sesaji yang terdiri atas macam kue, buah-buahan, Pancing emas, candu, dua ekor ayam jantan, dan nasi enam warna. Sebelum dilarung, pada malam harinya, dilakukan tirakatan, pengajian atau semaan di surau-surau dan prosesi mengarak perahu sesaji tersebut di perkampungan, yang disebut idher bumi. Dipimpin seorang pawang Petik Laut sesaji kemudian diangkut ke dalam perahu dan dibawa menuju lepas pantai. Sampai di lepas pantai, pawang memberikan aba-aba sebagai tanda bahwa sesaji sudah saatnya untuk dilarung.

Para nelayan terjun merebutkan sesaji yang dianggap bisa memberikan berkah. Selain dihadiri oleh masyarakat sekitar Pantai Pancer, ritual tersebut juga dihadiri oleh aparat dari pemerintahan, mulai tingkat kelurahan sampai Bupati Banyuwangi pun ikut melarung sesaji di lepas pantai.

Pesta tahunan tersebut diadakan secara besar-besaran. Mereka berani mengeluarkan biaya sampai puluhan jutaan rupiah untuk menghias kapal guna mengikuti prosesi pelarungan sesaji di lepas pantai. Berbagai rentetan acara digelar untuk memeriahkan ritual tersebut, seperti pementasan wayang kulit, Jangeran (sejenis ludruk khas Banyuwangi), pasar malam yang diramaikan
dengan pementasan musik dangdut tiga hari berturut-turut sertaacara lain yang memeriahkan pesta Petik Laut.

Tempat pelelangan ikan (TPI), yang sebelumnya menyuguhkan bau amis khas ikan laut, disulap layaknya taman ria yang penuh dengan hiburan. Muda-mudi dan kalangan tua berdatangan dari berbagai desa di sekitar Pancer hadir untuk memeriahkan pesta Kemeriahan Petik Laut di Pancer sebanding dengan hasil ikannya yang melimpah. Bagi masyarakat Laut Pancer laksana ibu yang menyusui mereka, menyediakan kasih sayang dan makanan melimpah. Inilah makna mendalam dari rasa syukur perhelatan Petik Laut.

Pesona Jawa Timur , hlm. 27-29

 

Labuh, Upacara Tradisional Jawa Timur

Penduduk desa Sawoo dan Grogol hampir seluruhnya petani, oleh karena itu menganggap upacara adat yang berhubungan dengan pertanian merupakan suatu peristiwa yang amat sangat penting bagi mereka, dan tidak boleh dilupakan.

Mereka percaya jika melalaikan hal tersebut, Akan banyak musibah yang menimpa, utamanya yang berhubungan dengan pertanian, misalnya, lahan pertanian/sawah diserang hama,  sawah kebanjiran dan lain sebagainya, yang membuat gagal panen.

Jenis upacara yang berkaitan dengan pertanian tersebut yang hingga sekarang masih dilaksanakan dan dipercaya, salah satunya adalah upacara labuh.

Upacara labuh yaitu upacara adat yang dilaksakan, pada saat akan mengerjakan sawahnya. Upacara ini diadakan di pintu air yang  disebut DAM.

Upacara labuh dilaksanakan oleh para pemilik sawah yang memanfaatkan air dari dam tersebut.

Pada saat selamatan labuhan para pengikut upacara membawa sajian nasi asahan. Disamping itu di dam tersebut mereka menyembelih kambing, yang dimasak dan dimakan bersama-sama di tempat itu juga.

Adapun maksud upacara tersebut ialah agar di dalam mengerjakan sawah tidak mendapat halangan.

Setelah upacara labuh sawah mulai dikerjakan, pada saat mengerjakan sawah ini tidak ada selamatan.

Ngurit, Upacara Adat Jawa Timur

Penduduk desa Sawoo dan Grogol sebagian besar menganut agama Islam. Namun demikian penduduk di kedua desa tersebut masih menjalankan upacara-upacara adat yang sebenarnya tidak termasuk dalam ajaran agama Islam. Penduduk di kedua desa tersebut semua percaya ada kekuatan gaib.

Hal ini tampak dalam beberapa upacara yang masih dilakukan hingga sekarang. Utamanya upacara yang berhubungan dengan pertanian,  Upacara-upacara tersebut dilaksakan, selain sebagai permohonan perlindungan, juga dimaksud sebagai ucapan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Apabila sawah telah dikerjakan maka benih segera ditabur (ngurit). Pada saat ini diadakan selamatan de­ngan sajian nasi golong & Jenang abang jenang sengkolo cok bakal, jeroan ayam (isi perut ayam).

Maksud selamatan tersebut agar benih yang ditabur dapat tumbuh subur. Setelah upacara ngurit. upacara selanjutnya ialah pada saat tandur (menanam). Pada saat ini diadakan sajian sederhana yang berwujud cok bakal yang diletakkan di petak sawah, dimana tandur dimulai.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil  Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Sistim Kepemimpinan Dalam Masyarakat Pedesaan Daerah JawaTimur; Proyek Inventarisasi Dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan 1983/1984

Undur–undur, Upacara Adat Jawa Timur

 

Masyarakat desa Sawoo dan Grogol hampir seluruhnya petani, dan sebagian besar menganut agama Islam. Namun mereka menganggap upacara adat yang berhubungan dengan pertanian merupakan suatu peristiwa yang sangat penting.

Mereka percaya jika lalai dalam melaksanakan hal tersebut, Akan tertimpa musibah, dalam mengolah pertaniannya. Sehingga mengakibatkan gagal panen.

Jenis upacara yang berkaitan dengan pertanian tersebut yang hingga sekarang masih dilaksanakan dan dipercaya, salah satunya adalah upacara Upacara Adat Undur – undur.

Setelah padi yang ditanam sudah mencapai umur satu bulan, para petani wajib untuk melaksanakan upa­cara undur-undur. Pada upacara adat undur-undur ini,  sesajian yang perlu disediakan adalah jenang sungsum.

Maksud diadakannya upacara undur-undur ini agar tanaman padi para petani tersebut tumbuh subur dan tidak diserang hama

Ngubeng-ubengi

 

Ngubeng-ubengi adalah salah satu upacara yang berkaitan dengan pertanian, sedangkan pelaksanaan upacara ini, setelah padi mulai jebul (berbuah), diadakan suatu upacara adat yang disebut dengan istilah ngubeng-ubengi.

Pada upacara ini tidak disedi­akan sajian makanan, tetapi orang yang punya sawah mengelilingi sawahnya dengan membaca do©. Seterusiiya setelah padi ambyak (semua mengeluarkan buah) ciadakan Upacara agisen-iseni, Pada upacara ini juga tiuak ada sajian, tetapi orang yang punya sawah cukup mengelilingi sawah sambil membaca do’a.

Apabila padi telah meriguning dan telah tiba masanya untuk dipetik, pemilik sawah mempersiapkan keperluan upacara methik (memetik padi). Upacara methik oleh masyarakat. Sawoo dan Grogal dianggap upacara yang terpenting di antara upacara-upacara yang diadakan pada saat bercocok tanam padi.

Oleh karena itu saji-sajian di dalam upacara ini banyak macamnya, Saji-sajian dimaksud berupa: nasi tumpeng, nasi gurih dan panggang ayam (nasi rasulan), nasi golong, polo pendhem, palo gemaadhul, pola kesimpar, jajan pasar, pisang ayu, dan alat-alat un­tuk berhias antara lain bedak, sisir, cermin, mimyak wangi, Di samping itu juga disediakan badheg (air tapai).

Adapun yang dimaksud polo pendhem/pola kependhem ialah ubi-ubian yang terpedam di dalam tanah, antara lain: ubi kayu, ubi jalar, talas. gembili, ketela, kacang; Polo gemandhul antara lain: pepaya, jambu, mangga dan lain sebagainya: Polo kesim­par antara lain: berwujud mentimun, waluh, krai dan lain sebagainya, Jajan pasar berupa beberapa macam makanan kecil yang bissa dijual di pasar antara lain: kacang, krupuk, thiwul, kucur, dan lain sebagainya.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil  Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Sistim Kepemimpinan Dalam Masyarakat Pedesaan Daerah JawaTimur; Proyek Inventarisasi Dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan 1983/1984

Bersih Desa, Desa Sawoo dan Grogol, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur

Setelah panen selesai masyarakat desa Sawoo dan Grogol, mengadakan selamatan bersih desa. Upacara bersih desa ini oleh masyarakat desa Sawoo dan Grogol dianggap suatu upacara yang sangat penting, sehingga tak boleh ditinggalkan.

Upacara bersih desa tersebut dilaksanakan oleh seluruh warga desa yang dipusatkan di rumah Kepala desa atau Kepala dukuh.  Upacara bersih desa diadakan setiap tahun sekali pada bulan Sela.

Adapun maksud diadakannya upacara bersih desa tersebut, yaitu merupa­kan penghormatan dan rasa terimakasih penduduk kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dhanyang desa dan arwah para leluhurnya. karena panennya berhasil baik. Di samping itu juga memohon agar desanya selalu aman dan sejahtera.

Pada upacara tersebut disediakan saji-sajian yang berupa nasi asahan yang dikendurikan di Pundhen. Selamatan bersih desa dimeriahkan dengan pertunjukan wayang semalam suntus, yang bertempat di pendopo Kepala dese atau di rumah Kepala dusun Di samping itu juga dimeriahkan dengan kesenian reyog dan gajah-gajahan.

Kepercayaan lain yang masih hidup di kalangan penduduk desa Sawoo dan desa Grogol adalah kepercayaan terhadap tempat tempat yang dianggap keramat. Di desa Sawoo tempat yang dianggagap keramat adalah Petilasan Sunan Kumbul, Sedang di desa Grogol adalah Makam Klanan.

Di samping itu penduduk di kedua de­sa tersebut juga menghormati Makam Bayangkaki.Selain beberapa kepercayaan tersebut, masyarakat desa Sawoo dan desa Grogol juga sangat menghormati leluhurnya, yang dimaksud leluhur yaitu orang-orang yang telah merninggal dunia.

Yang menurunkan mereka (Ukun Suryaman, tt). Penghormatan kepada leluhur itu dilaksanakan dengan cara mengadakan saji-sajian pada waktu tertentu, di samping itu juga datang ke makam keluarganya dengan menaburkan bunga dan membakar kemenyan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil  Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Sistim Kepemimpinan Dalam Masyarakat Pedesaan Daerah JawaTimur; Proyek Inventarisasi Dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan 1983/1984

Istilah Kekerabatan Masyarakat Jawa Timur

Istilah dan Sistim kekerabatan Masyarakat Jawa Timur

Sistim kekerabatan di dalam masyarakat Jawa Timur, sama seperti masyarakat Jawa pada umumnya yaitu bilateral, dimana lingkungan pergaulan individu dalam masyarakat meliputi kerabat dari fihak ayah maupun kerabat dari fihak ibu mereka. Jadi dalam sistim kekerabatan ini hubungan anak dengan sanak kandung fihak ayah sederajat dengan hubungan anak terhadap sa­nak kandumg fihak ibu.

Kelompok kekerabatan yang terkecil adalah keluarga batih yang dalam istilah antropologi disebut dengan istilah nuclear family yang agggotanya terdiri ayah(suami) , ibu(istri) dan anak-anaknya yang belum kawin. Ayah berkedudukan sebagai kepala keluarga, tetapi ada kalanya seorang ibupun dapat menjadi kepala keluarga. Hal ini akan terjadi apabila suami meninggal dumia Disamping keluarga batih, di Jawa Timur juga dapat kita jumpai bentuk kelompok kekerabatan yang disebut sanak sedulur.

Bentuk kelompok kekerabatan ini dalam ilmu antropologi disebut kindred. Kindred ini merupakan suatu kesatuan kaum ke­rabat yang anggotanya terdiri dari saudara sekandung, saudara sepupu dari fihak ayah maupun ibu, paman-paman dan bibi-bibi baik dari fihak ayah maupun ibu, kakak ayah maupun kakak ibu, serta saudara-saudara dari fihak suami maupun istri.

Tetapi dalam kenyataannya biasanya mereka yang bertempat tinggal berdekatan saja yang mampak nyata sebagai anggota kindred. Anggota kindred akan berkumpul bila salah seorang anggotanya mengadakan upacara didalam lingkaran hidup individu, misalnya pada saat kelahiran, khitanan, perkawinan, kematian dan lain sebagainya.

Istilah kekerabatan yang dipakai oleh masyarakat Jawa Timur sama dengan istilah kekerabatan yang dipakai. oleh masyarakat Jawa pada umumnya. Masyarakat Jawa Timur mengenal kiasifikasi kekerabatan berdasarkan generasi(keturunan ), seperti orang Jawa pada umumnya. Menurut Ukun Suryaman orang Jawa mengenal 10 generasi keatas dan 10 genera si kebawah (Ukun Suryaman, th.1969).

Generasi keatas:
1.       Wong tuwa-tiyang sepuh(orang tua – bapak/ibu);
2.       Embah(kakek-nenek);
3.       Buyut;
4.       Canggah;
5.       Wareng;
6.       udheg – udheg;
7.       Gantung – siwur;
8.       Gropak – senthe;
9.       Debog bosok;
10.     Galih asem.

Generasi kebawah:

  1. Anak / putra;
  2. Putu / wayah;
  3. Buyut;
  4. Canggah.
  5. Wareng.
  6. idheg – udheg,
  7. Gantung – siwur.
  8. Gropak – senthe,
  9. Debog bosok.
  10. Galih asem,

Disamping istilah-istilah kekerabatan yang berdasarkan – generasi tersebut, masyarakat Jawa Timur juga mengenal istilah kekerabatan untuk menyebut seseorang di dalam kelompok kerabatannya, adalah sebagai berikut :

  • Istilah simbah kakung/mbah lanang diberikan ego untuk menyebut orang tua laki-laki ayah atau ibu.
  • Istilah simbah putri/mbah wedok diberikan ego untuk menyebut orang tua perempuan ayah atau ibu.
  • Istilah Ibu/simbok diberikan ego untuk menyebut orang tua perempuan ego.
  • Istilah bapak/pak diberikan ego untuk menyebut orang tua laki-laki ego.
  • Istilah adi/adik / thole/le diberikan ego untuk memanggil kepada saudara laki-laki muda ego.
  • Istilah genduk/ndhuk/adi diberikan ego untuk memanggil saudara perempuan muda ego.
  • Istilah kakang/kang/mas diberikan ego untuk memanggil saudara laki-laki yang lebih tua. dari pada ego.
  • Istilah mbakyu/yu diberikan ego untuk memanggil saudara perempuan yang lebih tua dari pada ego.
  • Istilah pakdhe/siwa/pak puh untuk menyebut kakak laki- laki ayah atau ibu ego.
  • Istilah mbokdhe/budhe/siwa/bupuh untuk menyebut ka­kak perempuan ayah atau ibu ego.
  • Istilah pak cilik/paklik/paman untuk menyebut adik laki-laki ayah atau ibu ego.
  • Istilah mbok cilik/mbok lik/bibek untuk menyebut adik perempuan ayah atau ibu ego.

Disamping istilah-istilah kekerabatan tersebut diatas, masyarakat Jawa Timur juga mengenal istilah keke­rabatan yang berdasar batas keanggotaan dari kelompok kerabatnya, adalah sebagai berikut:

Istilah keponakan diberikan kepada anak saudara laki-laki atau saudara perempuan ego.
Istilah nak sanak/nak ndulur untuk menyebut saudara sepupu ego.
Istilah misanan diberikan kepada cucu-cucu saudara sekandung ayah atau ibu ego, ((generasi yang sama-sama satu buyut dengan ego).
Kemudian didalam masyarakat Jawa Timur juga dikenal istilah kekerabatan yang berdasar ikatan perkawinan istilah kekerabatan ini adalah sebagai berikut:

–        Istilah bojo/garwo untuk menyebut suami atau isteri ego;
–        Istilah morotuwo untuk menyebut ayah/ibu dari suami/istrl ego;
–        Istilah mantu untuk menyebut suami/istri anak ego;
–        Istilah besan untuk menyebut orang tua menantu ego;
–        Istilah ipe untuk menyebut saudara sekandung suami/istri ego dan suami istri saudara sekandung ego;
–        Istilah pripean untuk menyebut suami/istri ipe ego.

Perkawinan, Dalam rangkaian upacara di sekitar hidup individu, perkawinan merupakan peristiwa yang menandai peralihan dari masa remaja kepada golongan orang tua, Perkawin­an merupakan peristiwa yang terpenting dalam lingkaran hidup individu, Rangkaian peristiwa perkawinan didahuli dengan pe- milihan jodofc, hal ini juga berlaku di kalangan masyarakat desa Sawoo dan Grogol, Pada jaman dahulu pemilihan jodoh di desa Sawoo dan Grogol sama seperti yang berlaku pada masya­rakat desa di Jawa pada umumnya, yaitu tergantung kepada orang tua, Namun demikian pada saat sekarang telah berobah, pemilihan jodoh terserah kepada pemuda/pemudi dan orang tua tinggal menyetujui, Namun demikian pemuda/pemudi itu juga harus mentaati ketentuan-ketentuan adat yang berlaku di daerah tersebut, misalnya adanya larangan perkawinan dengan saudara pancer wali yaitu antara dua orang yang mempunyai hu­bungan sedemikian rupa sehingga pengantin laki-laki berhak menjadi wali penganten wanita, penganten laki-laki adalah generasi yang lebih muda dari pada penganten wanita, (misalnya kemenakan laki-laki dengan bibi )

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil  Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Sistim Kepemimpinan Dalam Masyarakat Pedesaan Daerah JawaTimur; Proyek Inventarisasi Dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan 1983/1984.