Perjuangan Airlangga Mempersatukan Negara

Airlangga terpaksa mengambil cara kekerasan melalui peperangan. Karena negara-negara kecil yang berdiri setelah runtuhnya kerajaan Dhar­mawangsa enggan untuk menggabung di bawah pemerintahan Air­langga.

Hal ini memang telah dipersiapkan sejak beberapa tahun sebelumnya. Dengan didampingi isterinya, Sanggrama­wijaya, beserta patih Rakryan Kanuruhan, Airlangga menyusun pemerintahan yang baik dan angkatan perang yang kuat.

Tahun 1028 mulailah ia dengan peperangan penaklukkan terhadap negara-negara yang tak bersedia dipersekutukan itu. Untunglah bagi Airlangga bahwa di antara para pembangkang yang satu dan yang lainnya tak ada hubungan sama sekali. Karena itu Airlangga mendapat kesempatan untuk menghancurkan musuh-musuhnya satu demi satu. Seandainya di antara mereka terjalin suatu persekutuan, maka dengan sendirinya Airlangga akan menghadapi kesulitan.

Tahun 1028 – 1035, selama tujuh tahun peperangan itu berlangsung, rangkaian perjuangan Airlangga dalam mempersatukan negara-negara kecil bekas kekuasaan kerajaan Dhar­mawangsa. Hampir semua dari musuh-musuh Airlangga itu tak dapat dikenal. Hal ini disebabkan karena raja-rajanya hanya memerintah daerah-daerah yang sangat kecil saja.

Airlangga menujukan serangan yang pertama terhadap seorang putera raja yang bernama Bhismaprabhawa. Ia dengan mudahnya dapat ditaklukkan pasukan Airlangga.

Tahun 1030, dua tahun kemudian Airlangga berhadapan dengan salah seorang musuhnya yang kuat yaitu Raja Wengker. Untuk menghadapi kerajaan tersebut, Airlangga telah mempersiapkan tentaranya yang cukup kuat.

Letak Wengker sekitar Ponorogo sekarang. Hasil peperangan cukup memuaskan Airlangga. Raja Wengker, Pangeran Wijaya menderita kekalahan yang parah. Tetapi rupanya setelah itu, ia secara diam-diam dapat menyusun kembali kekuatan. Karena itu ia masih tetap merupakan musuh yang harus diperhitungkan.

Airlangga selanjutnya memutuskan untuk terlebih dahulu menaklukkan musuh-musuh lainnya yang dianggap tak begitu penting.

Pada tahun 1030 itu juga ia menyerang seorang raja yang bernama Adhamapanuda. Peperangan ini dimenangkan pula oleh Airlangga dengan mudahnya. Bahkan Raja Adhamapanuda berhasil ditawan sedangkan keratonnya dibakar.

Tahun 1031, Airlangga beserta tentara menuju ke arah selatan. Kini yang menjadi tujuan serangannya adalah sebuah kera­jaan yang dipimpin oleh seorang ratu. Ratu ini terkenal karena memiliki kekuatan bagaikan seorang raksasa. Juga kerajaan itupun dapat dikalahkan dan ratunya sendiri terbunuh dalam pertempuran yang berlangsung dengan dahsyatnya.

Tahun 1032, setahun setelah ratu perkasa itu ditundukkan, Airlangga menyerbu raja dari Wurawari. Raja inilah yang telah menghancurkan keraton Dharmawangsa pada tahun 1017. Raja ini- pun yang dianggap oleh Airlangga sangat berbahaya, berhasil dika­lahkan. Tidaklah dikatakan tentang bagaimana nasib daripada Raja Wurawari itu pada akhir peperangan. Terbunuhlah dalam pertempu­ran, ditawankah, atau berhasil melarikan diri. Tetapi yang jelas di­katakan, ialah bahwa baik kerajaan maupun rajanya sendiri berhasil dimusnahkan.

Sesudah tahun 1032, maka yang harus dihadapi adalah Wijaya, raja Wengker. Ia secara diam-diam telah berhasil menegakkan diri kembali dan menyusun kekuatan yang cukup tangguh. Pusat kekuasaannya kini berpindah ke suatu tempat yang bernama Tapa. Pada tahun-tahun berikutnya tentara Airlangga berkali-kali menyerang Wengker. Tetapi sedemikian jauh hasilnya tidaklah menentukan atau diketahui.

Tahun 1035, barulah Airlangga mengerahkan segala kekuatan yang ada untuk melangsungkan peperangan yang penghabisan. Dalam pertempuran itu Wijaya mengalami kekalahan yang mutlak. Semula ia masih berhasil melarikan diri ke suatu tempat dengan diiringi oleh beberapa orang pengikutnya. Tetapi berkat ketangkasan pasukan Airlangga akhirnya Wijaya terbunuh pula.

Akhirnya setelah Airlangga berhasil merubuhkan musuhnya yang terkuat, tercapailah kesatuan Jawa Timur seperti zaman pemerin­tahan Dharmawangsa. Selesai pula sudah segala pancaroba itu. Ia telah berhasil menepati janjinya, yaitu merebut kembali kerajaan yang diwariskan kepadanya.

Perjuangan mencapai cita-citanya itu telah memakan waktu selama kurang lebih enambelas tahun. Pada waktu itu wilayah kerajaannya telah meliputi Jawa Timur, Jawa Tengah dan Bali.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Drs. Kosih Sastradinata.  Airlangga Hidup Dan Perjuangannya, Penerbit Pt. Sanggabuwana Bandung, 1976, hlm

Sejarah Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya

Tanjung Perak merupakan salah satu pintu gerbang Indonesia, yang berfungsi sebagai kolektor dan distributor barang dari dan ke Kawasan Timur Indonesia, termasuk propinsi Jawa Timur. Karena letaknya yang strategis dan didukung oleh hinterland yang potensial maka pelabuhan Tanjung Perak juga merupakan Pusat Pelayaran Interinsulair Kawasan Timur Indonesia.

sejarah tanjung perakDahulu kapal-kapal samudera membongkar dan memuat barang-barangnya di selat Madura untuk kemudian dengan tongkang dan perahu- perahu dibawa ke Jembatan Merah (pelabuhan pertama waktu itu). yang berada di jantung kota Surabaya melalui sungai Kalimas.

Karena perkembangan lalu lintas perdagangan dan peningkatan arus barang serta bertambahnya arus transportasi maka fasilitas dermaga di Jembatan Merah itu akhirnya tidak mencukupi. Kemudian pada tahun 1875 Ir.W.de Jongth menyusun rencana pembangunan Pelabuhan Tanjung Perak agar dapat memberikan pelayanan kepada kapal-kapal samudera membongkar dan memuat secara langsung tanpa melalui tongkang- tongkang dan perahu-perahu. Akan tetapi rencana ini kemudian ditolak karena biayanya sangat tinggi.

Selama abad 19 tidak ada pembangunan fasilitas pelabuhan, padahal lalu lintas angkutan barang ke Jembatan Merah terus meningkat. Sementara rencana pembangunan pelabuhan yang disusun Ir.W.de.Jongth dibiarkan terlantar.

Pada sepuluh tahun pertama abad ke-20 Ir.W.B. Van Goor membuat rencana yang lebih realistik yang menekankan suatu keharusan bagi kapal- kapal samudera untuk merapatkan kapalnya pada kade/tambatan. Dua orang ahli didatangkan dari Belanda yaitu Prof. DR. Kraus dan G.J. de Jong untuk memberikan suatu saran mengenai rencana pembangunan Pelabuhan Tanjung Perak.

Setelah tahun 1910, pembangunan pisik Pelabuhan Tanjung Perak dimulai, dan selama dilaksanakan pembangunan ternyata banyak sekali permintaan untuk menggunakan kade/tambatan yang belum seluruhnya selesai itu.

Dengan selesainya pembangunan kade/tambatan, kapal-kapal Samudera dapat melakukan bongkar muat di pelabuhan. Pelabuhan Kalimas selanjutnya berfungsi untuk melayani angkutan tradlslonal dan kapal-kapal layar, sementara pelabuhan yang terletak dl Jembatan Merah secara perlahan mulal ditinggalkan.

Sejak saat itulah, Pelabuhan Tanjung Perak telah memberikan suatu kontribusl yang cukup besar bagi perkembangan ekonomi dan memiliki peranan penting, tidak hanya bagi peningkatan lalu lintas perdagangan di Jawa Timur tetapi juga bagi seluruh Kawasan Timur Indonesia.

Untuk mendukung peranan itu pada tahun 1983 telah diselesaikan pembangunan terminal antar pulau yang kemudian diberi nama terminal Mirah. Untuk keperluan pelayanan penumpang kapal laut antar pulau juga dibangun terminal penumpang yang terletak di kawasan Jamrud bagian utara. Berdampingan dengan terminal penumpang antar pulau dibangun pula terminal ferry untuk pelayanan penumpang Surabaya Madura yang beroperasi 24 jam penuh.

Seiring dengan berjalannya waktu pelabuhan Tanjung Perak telah pula membuktikan peranan strategisnya sebagai pintu gerbang laut nasional (Gateway Port). Untuk itu dipersiapkanlah pembangunan terminal petikemas bertaraf internasional yang pelaksanaan pisiknya dapat diselesaikan pada tahun 1992. Terminal petikemas itu saat ini dikenal dengan nama Terminal Petikemas Surabaya.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Tanjung Perak Port: directory 2011, Surabaya, tahun 2011, hlm. 6-7

Tradisi Maulid Hijau dan Larung, Kabupaten Lumajang

Lumajang0001Tradisi Maulid Hijau dan Larung, selain menghijaukan hutan di sekitar lereng Gunung Lemongan, dalam acara yang digelar setiap tahun itu. Warga setempat juga berharap, agar sanak keluarganya yang merantau ke luar negeri dijauhkan dari balak dan diberi kesela­matan serta kesehatan.

Pagi itu, mendung yang terlihat memayung di Desa Tegalrandu, Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang, seakan mendukung sekerumunan lelaki desa memapah serta menarik seikat bambu keluar dari gerobak kayu.

Seorang lelaki lanjut usia juga tampak sibuk dengan beberapa helai daun kelapa. Wajahnya yang keriput tampak serius seiring dahinya berkenyit memasukan satu persatu daun kelapa itu ke dalam sela-sela jarinya.

Lelaki itu tengah membuat anyaman mirip gedhek. Anyaman itu sendiri akan digunakan sebagai dinding penutup sesaji. Seperti yang diucapkan Mantruki (80), selaku tetua Desa Tegalrandu kepada LIBERTY.

Lumajang0002Selain itu, sebagian warga desa ada yang menyiapkan bahan makanan untuk sesaji, tumpeng maupun rakit untuk melarung ke Ranu Klakah. Ternyata kesibukan warga Tegalrandu pada saat itu merupakan rangkaian dari tradisi Maulid Hijau yang meru­pakan singkatan dari kata Maulid Nabi dan Penghijauan yang selalu diadakan bersamaan atau setelah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

 

Larung sesaji

Kata Matruki, format kegiatan dalam tradisi itu adalah penggabungan antara kegiatan pelestarian lingkungan dan seni budaya yang sebenarnya selama ini telah ada dan eksis secara turun temurun di masyarakat Tegalrandu. “Seperti halnya penghi­jauan di sekitar Ranu Klakah, pagelaran kesenian tradisional, kompetisi perlombaan tradi­sional serta upacara selamatan desa,” katanya kepada LIBERTY.

Sebab, masih kata Matruki, kegiatan sela­matan adat Ranu Klakah ini merupakan kegiatan rutin tahunan yang sudah berlangsung secara turun temurun di desanya. Ke­giatan ini biasanya dilakukan dalam bentuk se­lamatan dan do’a bersama dengan para sesepuh desa sesuai den­gan tradisi agama Islam. Kemudian, dilanjutkan dengan melarungkan se­saji ke tengah Ranu Klakah.

Adapun sesaji yang dilarungkan di Ranu Klakah tersebut berbentuk boneka kecil yang terbuat dari tepung terigu. Kata Matruki, ketika disinggung mengenai bentuk boneta sebagai pelengkap larungan

Konon menurut ceritanya, dulu di dalam Ranu Klakah terdapat seekor ular besar piaraan Dewi Rengganis yang oleh masyarakat sekitar dinamai Ular Selanceng. “Ular ini berbahaya dan kerap mencelakai penduduk setempat,” kata Matruki.

lumajang 3Hingga suatu ketika datanglah Syeikh Maulana Ishak bersama teman karibnya Kyai Atmari dari Prajekan, untuk menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. “Dalam perjalanan terse­but, kedua ulama tersebut singgah di Ranu Klakah dan mengetahui perihal Ular Selanceng. Melihat berbahayanya ular tersebut, Syeikh Maulana Ishak mencoba menanam pohon bunga  Ashoka di pinggir Ranu Klakah dan memberi makan ular tersebut dengan kue yang terbuat dari tepung yang dibentuk menyerupai boneka.

Dan sejak saat itu, ular tersebut tidak pernah lagi mencelakai penduduk di sekitar Ranu Klakah,” terang Matruki. Tradisi inilah yang oleh masyarakat di Ranu Klakah terus dilestarikan dan masih dipercaya oleh masyarakat, jika ular tersebut kerap menampakan diri. Karena itulah dalam sajen yang dilarung ke ranu itu, selain berupa boneka yang menyerupai bayi (ditubuh boneka tersebut juga diolesi darah ayam), juga diisi oleh aneka makanan lain. Seperti tumpeng, bunga setaman, jajanan, telor, rokok kretek dan dua daun sirih yang dibentuk mengerucut. Semua ditaruh dalam rakit buatan berukuran 2×3 meter yang telah dihias dengan kertas samak dan aneka daun-daunan. Matruki juga menjelaskan, garis besar dari upacara itu untuk menolak bala akan terjadinya bencana. Sembari berbicara ringan menjelaskan rincian acara itu, seiring kaki kami melangkah lebih dalam masuk ke mulut desa, ibu- ibu serta remaja putri juga tidak kalah sibuknya dengan kaum pria.

Mereka tengah berbenah mengumpulkan ‘salaran atau jimpitan’ berupa beras, telor dan uang, yang secara sukarela dikumpulkan seluruh warga desa. Hasil ‘jimpitan’ itu sendiri nantinya digunakan untuk kegiatan upacara adat, baik untuk perlengkapan tarian ataupun untuk pembelian benih ikan yang akan dilepaskan di Ranu Klakah.

Menurut A’ak Abdulah Al Kudus (35), tckoh pemuda, selamatan desa yang diadakan kali ini jauh lebih meriah ketimbang tahun sebelumnya. Pria yang aktif di dunia buruh migran dan juga ketua Laskar Hijau ini menambahkan, selain meminta tolak bala kepada Tuhan agar dihindarkan dari tragedi balak, upacara itu juga disembahkan untuk meminta doa kesela- matan bagi para buruh migran yang tengah merantau di luar negeri. Sebab, di sekitar Ranu Klakah ini bermukim kurang lebih 4.564 jiwa atau 1.171 kepala keluarga yang sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian petani dan buruh migran.

Jadi tidak mengherankan jika sebagian masyarakat yang ikut dalam acara tersebut keluarga ataupun mantan buruh migran. Selain itu, jika upacara wajib itu luput diadakan, kekhawatiran akan dua peristiwa itu bakal terjadi. Jadi tidak mengherankan jika persiapan acara itu dilakukan penuh seksama serta ketelitian.

 

KESURUPAN

Sejurus kemudian, masih diselimuti cuaca mendung, sesajen yang sejak pagi tadi dibuat, nyatanya sore itu sudah dipikul empat pemuda den­gan mengenakan baju adat desa dan siap untuk diberi doa-doa oleh ulama setempat.

Langkah Matruki dan A’ak yang semenjak tadi menemani LIBERTY itu pun mulai menjauh dari jalan desa dan mendekati panggung sambil meli- hat sesajen yang sudah dipikul empat pemuda itu. Selanjutnya, sesajen yang sudah disusun sesuai urutan pengiring siap untuk dikirab keliling desa. “Urutan tersebut sesuai. Dari depan para pemuda yang memer- ankan teaterikal 1hancurnya alamku karena pembalakan liar’, dan dibelakangnya para gadis desa yang siap menarikan tarian Glipang dan yang terakhir adalah sesajen itu sendiri,” ucapnya Matruki.

Setelah doa dan dzikir dipanjatkan, tanpa dikomando, sebagian warga desa yang berkerumun disekitar sesajen langsung menjauh ketika tarian Glipang mulai ditarikan. Sebab ada keper- cayaan, jika tarian Glipang ini sudah ditarikan, maka para penari tersebut bakal kesurupan. Praktis warga enggan untuk mendekati mereka.

Kemudian, setelah tarian tersebut usai dilakukan, secara perlahan-lahan iring-iringan sesajen mulai dikirap ke­liling desa. Menariknya, sesosok pria tanpa baju dengan rambut panjang memegang toples berisi benih ikan, berjalan paling depan. Kata Matruki, sosok pria tersebut berfungsi sebagai pemangku spiritual kirab. Pemangku juga diwajibkan mengenakan jala ikan dengan cara dililitkan di tubuhnya yang fungsinya sebagai penyeimbangan larung sesaji. “Selain penyeimbang, agar pemangku kirab tersebut tidak kesurupan,” lanjut Matruki.

Kemudian, kurang lebih 500 meter berjalan, kirab itu pun akhirnya tiba di pintu masuk Ranu Klakah. Selanjut­nya, pemangku kirab berjalan perla­han-lahan menuruni anak tangga dan baru berhenti ketika sudah tiba di bibir ranu.

Lantas, benih ikan itupun dituangkan di atas ranu dengan disusul peletakan sesajen diatas rakit. Bersamaan dengan itu, entah faktor kebetulan atau tidak, hujan yang tadinya sempat turun tiba-tiba berhenti.

Kemudian, Matruki mengambil alih peletakan sesajen dengan menaiki rakit untuk dilabuhkan di tengah ranu. Sepeningal Matruki melabuhkan sesaji ke tengah ranu, tarian Glipang kembali ditarikan disekitar bibir ranu.

Benar dugaan, kurang dari 10 menit tarian itu dijalankan, dua dari penari tersebut kesurupan. Bahkan dua pemuda yang memerankan teaterikal kondisinya tak jauh beda dengan para penari. Dan aksi kesuru­pan itu baru berhenti ketika Matruki dan ulama setempat memberikan doa-doa kepada mereka.

Namun terlepas dari itu semua, warga berharap, hasil tangkapan ikan di sekitar ranu berlimpah dan para keluarganya yang merantau di luar negeri diberi kesehatan serta kesela- matan. « D2ng

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  LIBERTY,
1-10 Juni 2009

Airlangga, Memindahkan Keraton Wotan Mas ke Kahuripan

Airlangga Memindahkan Keraton Wotan Mas ke Kahuripan, demi tercapainya perimbangan wilayah pengaruh,

AIRLANGGA0001Seperti telah dibicarakan, letak keraton yang pertama yaitu di, kira-kira dekat Surabaya sekarang. Tetapi kemudian sejak tahun 1033 dipindahkan. Pemindahan tersebut sudah tentu mempunyai arti yang penting.

Hal itu disebabkan karena adanya suatu kepercayaan bahwa pasang surutnya suatu ke­rajaan tergantung pada keraton. Karena alasan itulah kiranya Air­langga memindahkan keratonnya dari Wotan Mas ke Kahuripan. Sedangkan pemindahan dilaksanakan setelah perjuangan mempersatukan kerajaan hampir selesai.

Dalam pada itu perhubungan antara dengan Sriwijaya telah pulih sama sekali. Kini kedua fihak masing-masing mempunyai kepentingan untuk saling menghormati.

Sriwijaya menginsafi benar-benar bahwa ia harus senantiasa siap siaga. Ia harus waspada terhadap kemungkinan adanya serangan dari sebelah barat. Karena itu baginya lebih utama, apabila diadakan hubungan persahabatan dengan kerajaan Jawa Timur. Dengan demikian ia akan menjadi lebih kuat bila ia harus menghadapi musuh dari negeri lain.

Di lain pihak. Airlangga pun berpendirian serupa. Bukankah ia berhajat hendak mempersatukan kerajaan yang telah terpecah-pecah.

Bila ia ingin mencapai hasil yang memuaskan, ia terlebih dahulu harus mengadakan perdamaian dengan Sriwijaya. Ia tidak mengharapkan akan terulangnya kembali peristiwa tahun 1017. Maka karena itu ajakan Sriwijaya untuk hidup berdampingan dalam suasana persau- daraan disambutnya dengan gembira. Bahkan suasana persahabatan yang terjalin sejak tahun 1020. diabadikan dengan pendirian sebuah bangunan suci. Bangunan suci ini didirikan di Truneng (dekat Mojokerto) atas perintah raja Airlangga yang diberi nama Sriwijayasrama.

Hal lainnya yang lebih memperkuat hubungan baik itu adalah perkawinan antara Airlangga dengan puteri raja Sriwijaya. Telah diketahui bahwa puteri tersebut bernama Sanggramawijaya yang mempunyai peranan penting dalam mendampingi pemerintahan Air­langga. Selain sebagai prameswari iapun menduduki jabatan penting dalam susunan kepegawaian kerajaan Jawa Timur. Karena kedudu- kan dalam jabatan itu, ia dikenal dengan nama Rakryan Mahamantri i Hino atau suatu jabatan yang tertinggi sesudah raja.

Munculnya Sanggramawijaya di tengah-tengah keluarga keraton Airlangga, memberi kesan betapa kekalnya hubungan persahabatan antara Airlangga dengan Sriwijaya.

Berkat kecerdikan Sanggramawijaya dalam membantu mengatur siasat peperangan, Airlangga berhasil mempersatukan kembali peme­rintahan dalam waktu singkat.

Dengan selesainya perjuangan Airlangga menaklukkan musuh- musuhnya, maka timbullah suatu perbandingan kekuatan di Indo­nesia. Baik Sriwijaya maupun Airlangga saling membatasi daerah pengaruhnya.

Sriwijaya membatasi kekuasaannya terutama pada daerah-daerah sekitar Selat Malaka, Sumatera dan Semenanjung. Mungkin termasuk pula daerah sebelah pantai barat Kalimantan dan beberapa kepulauan di sekitarnya.

Karena itu Sriwijaya tetap menempati kedudukan yang kuat dalam perdagangan Sebaliknya, Airlangga membatasi kekuasaannya terutama di Jawa, Bali dan bagian timur dari kepulauan Indonesia. Seperti kita keta- hui kepulauan Indonesia bagian timur menghasilkan rempah-rempah yang disukai luar negeri. Rempah-rempah ini diperdagangkan melalui pelabuhan-pelabuhan di Jawa Timur.

Sejak masa itu terjadilah suatu pembagian Indonesia atas dua buah pusat kekuasaan. Sebelah barat di bawah kekuasaan Sriwijaya sedangkan sebelah timur di bawah kekuasaan Airlangga.

Bagaimanapun juga perlu dicatat bahwa perjuangan Airlangga ini merupakan perintis menuju ke arah persatuan Indonesia. Terutama sesudah tahun 1035, ia memerintah dengan damai atas negara yang diciptakannya. Segala daya upaya untuk memberi isi kepada hasil perjuangannya patut dijadikan sebagai teladan bagi para penguasa sesudah masanya. Tentang adanya pembagian wilayah pengaruh antara Sriwijaya dengan Airlangga. 

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Drs. Kosih Sastradinata.  Airlangga Hidup Dan Perjuangannya, Penerbit Pt. Sanggabuwana Bandung, 1976, hlm

Siapa Airlangga?

Riwayat hidup Airlangga, dapat diketahui dari sebuah prasasti (batu bertulis) yang disebut “Batu Calcutta”. Disebut demikian, karena batu itu dibawa oleh Raffles dari Jawa dan kini disimpan di museum Calcutta.

AIRLANGGA0002Airlangga dilahirkan di Bali pada tahun 1000 Masehi. Ia dikenal sebagai putera dari Pangeran Udayana dan Ratit Mahendradatta yang memegang pemerintahan di pulau itu. Mahendradatta adalah ketu­runan ketiga dari Raja Sindok yang memerintah di Jawa Timur dari tahun 929 sampai tahun 949.

Bagan, silsilah Airlangga sebagai berikut:

1.Sindok

I

2.Isanatunggawijaya x Lokapala

I

3.Makutawangsawardana

I

4.Mahendradatta x Udayana

I

5.Airlangga

Air­langga adalah keturunan Sindok melalui dua orang ratu. Sejak kecil ia mendapat pelbagai pendidikan. Sebagai anak ksatria ia diasuhan kaum Brahmana memperoleh pelajaran agama, dari kaum cerdik pandai dipelajarinya ilmu-ilmu pengetahuan. Menjelang dewasa, ia dikenal sebagai pemuda yang ta’at beragama, tangkas menggunakan senjata dan berbudi luhur, tubuhnya kokoh perkasa, ia disegani kawan- kawan sebaya atau seperguruannya.

Namun ia tetap rendah hati, tidak sombong atau angkuh, terhadap orang tuanya ia sangat hormat dan kepada guru-gurunya ia sangat patuh. Sifat-sifatnya terpuji pemuda Airlangga yang gagah berani, tetapi rendah hati dan berbudi bahasa baik. Hal itu terdengar pula oleh Raja Dharmawangsa, yang bertakhta di Jawa Timur.

Dharmawangsa berkenan mengambil Airlangga sebagai menantunya. Raja Dharmawangsa bahkan mengharapkan Airlangga kelak menjadi penggantinya menduduki takhta di Jawa Timur. Maksud Dharma­wangsa untuk mempertemukan puterinya dengan Airlangga disambut dengan gembira oleh Pangeran Udayana. Lebih-lebih setelah dijelas- kan, bahwa Airlangga akan diangkat sebagai putera mahkota di Jawa Timur. Hal itu berarti akan lanjutnya keturunan Sindok dari wangsa Isana sebagai penguasa kerajaan?Sebagaimana telah dikatakan, dari fihak ibunya, Airlangga adalah keturunan Sindok. Dengan demikian hubungan kekeluargaan antara raja Jawa dan Bali tetap akan terpelihara baik.

Saat pernikahan antara Airlangga dengan puteri Dharma­wangsa berlangsung, tiba-tiba datanglah beberapa pengawal istana dengan terengah-engah menghampiri raja. Mereka memberitahukan tentang adanya serbuan musuh. Dan sekonyong-konyong berloncatanlah sejumlah pasukan musuh melewati perbentengan istana mereka menyerbu lawan yang tiada bersenjata. Perlawanan dapat dikatakan tidak ada, kecuali dari sejumlah kecil pasukan pengawal raja, tetapi inipun semua menemui ajalnya. Mereka memang tak mampu meng- hadapi pasukan musuh yang demikian besarnya. Maka serangan musuh itu berakibat penghancuran keraton dan seluruh pusat kerajaan Jawa Timur. Di tengah-tengah kegaduhan itu Raja Dharmawangsa mati terbunuh bersama-sama dengan sejumlah besar pembesar keraton lainnya. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 1017 dikenal de­ngan nama “pralaya” atau pemusnahan.

Tentara musuh yang telah mendatangkan kehancuran keraton Jawa Timur, adalah tentara yang dipimpin oleh Raja Wurawari. Raja Wurawari adalah sekutu dari Raja Sriwijaya, sedangkan Kerajaan Sriwijaya merupakan musuh bebuyutan Dhar­mawangsa, serangan terhadap pusat kerajaan Dharmawangsa merupakan pembalasan dendam oleh Sri­wijaya.

Dharmawangsa maupun Sriwijaya berusaha merebut kedudukan utama di Nusantara. Peperangan telah berlangsung beberapa tahun lamanya. Beberapa saat tentara Dharmawangsa telah berhasil menduduki wilayah kekuasaan Sriwijaya di sebelah selatan Sumatera. Bahkan kekuasaan lautpun selama beberapa tahun beralih pula ke pemerintahan kerajaan Jawa Timur. Oleh sebab itu perhubungan Sriwijaya dengan negeri luar terputus sama sekali.

Raja Sriwijaya cukup cerdik ia tidak tinggal diam, dalam keadaan yang serba lemah, berbagai siasat direncanakan untuk dapat mengadakan pembalasan. Karena pembalasan langsung tidak memungkinkan, maka ia mengambil jalan lain. Dengan menjalin persekutuan dengan kerajaan Wurawari dari Jawa. Maka pembalasan itu baru menjadi kenyataan.

Serangan pembalasan itu bahkan mendatangkan malapetaka bagi kerajaan Jawa Timur. Keraton habis terbakar, ribuan orang meaemui ajalnya termasuk di antaranya Raja Dharmawangsa. Oleh karena itu kerajaan Jawa Timur runtuhlah seluruhnya. Dengan lenyapnya kekuasaan pusat, raja-raja hulu yang semula tunduk kepada Dharmawangsa sekarang memerdekakan diri. Mereka lebih senang berdiri sendiri dari pada terikat pada suatu kekuasaan lain. Maka muncullah kini sejumlah kerajaan kecil di wilayah bekas kerajaan Dharmawangsa dahulu. Itulah keadaan negara peninggalan Raja Dharmawangsa yang diwaris oleh Airlangga.

Tatkala terjadi penyerbuan, Airlangga bersama beberapa orang lainnya berhasil meloloskan diri. Pada waktu itu ia baru saja berusia 16 tahun. Dalam usia semuda itu belumlah ia berniat untuk melakukan Puputan (pertempuran habis-habisan). Airlangga bertekad untuk menyusun kekuatan dan merebut kembali kekuasaan. Bukankah ia adalah putera mahkota yang harus menggantikan Dharmawangsa?

Sementara itu Airlangga menantikan saat yang baik untuk memulai menjalankan rangkaian peperangan, bercita-cita hendak mempersatukan kembali seluruh kerajaannya?

Dengan ditemani sahabatnya yang paling setia, Narottama namanya, Airlangga melanjutkan perjalanan jauh ke pedalaman. Apakah daya seorang pengungsi meskipun ia seorang putera mahkota? Bebe­rapa tahun lamanya ia harus mengembara di hutan Wonogiri. Di sana ia hidup sebagai seorang pertapa dengan berpakaian, makan, minum sebagai pertapa pula. Dilatihnya pula berpuasa dan cara menahan hawa napsu. Dalam kesengsaraan yang serupa itulah, ia semakin meneguhkan hati dan menguatkan tekadnya “merebut kembali kerajaan Dharmawangsa”.

 

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Drs. Kosih Sastradinata.  Airlangga Hidup Dan Perjuangannya, Bandung, Pt.Sanggabuwana , 1976, hlm

Terbang, alat musik Banyuwangi

TerbangTerbang merupakan sebutan alat musik rebana yang dapat dijumpai dalam bahasa percakapan masyarakat Using Banyuwangi sehari-hari. Terbang artinya melayang, arti dari kata tersebut dapat dilihat melalui irama pukulan timpal terbangan gebyar kerotokan yang dilakukan dengan tenaga ekstra serta diimbangi semangat bermain yang tinggi atau dalam bahasa Usingnya disebut oyak-oyakan dengan irama cepat yang terjadi secara spontanitas, maka hal itu dapat mengelabui rasa lelah pemain hingga terasa seperti melayang tanpa mengurangi nilai ciri khas dalam permainannya.

Banyaknya jenis macam terbang hingga memiliki sebutan yang berbeda, diantaranya terbang ketimpring, marawis, biang, salun, gembrung, dan terbang Banyuwangi atau yang lainya, masing-masing terbangnya mempunyai ciri khas sendiri baik dari segi bentuk, warna bunyi hingga pada tehnik mainya. Dalam permainan terbangan Banyuwangi yang biasa di lakukan oleh senimannya yaitu memiliki tiga dasar bunyi diantaranya ( prang, bring, teng ) atau dapat di tulis menggunakan metode notasi hurup ( p-b-t ) sesuai warna bunyi terbang itu sendiri dengan bahasa senimannya bermaksud untuk mempermudah pembelajaran serta menjaga nilai-nilai tradisi yang berlaku tanpa harus mencontoh bahasa lain yang dapat mengaburkan bahasa pribumi khususnya bahasa Using Banyuwangi dengan prinsip menghargai dan mencintai kebudayaan bangsa Indonesia khususnya kebudayaan masyarakat daerahnya yaitu Banyuwangi. Melalui penggabungan tiga dasar bunyi tersebut dengan disertakan pola garap pukulannya maka terciptalah sebuah gaya-gaya pukulan timpal terbangan yang bervariasi, seperti terbangan jos, terbangan yahum, terbangan tirim, terbangan gebyar, dan terbangan melaku. Lima dari gaya terbangan tersebut dapat dikembangkan sesuai kebutuhannya yaitu bergantung pada kreativitas senimanya, sehingga setiap group terbang yang ada memiliki variasi pukulan terbangan dengan sebutan berbeda atau biasa menggunakan bahasa sendiri seperti terbangan jos siji dan jos loro, terbangan yahum siji, yahum loro, yahum telu, dan yahum papat, terbangan tirim ombakan, tirim pencakan, dan tirim kembangan, terbangan gebyar krotokan, gebyar grudhugan, gebyar kentrogan dan gebyar kluthikan, sedangkan terbangan melaku di antaranya terbangan melaku polos dan melaku pinjalan.

Terbang salah satu alat musik klasik yang dimiliki oleh masyarakat Banyuwangi pada umumnya difungsikan sebagai sarana alat pendukung seni, baik seni bernuansa islam maupun non islam. Seperti jenis kesenian bernuansa islam yaitu kesenian hadrah berjanji, kesenian kuntulan, dan kesenian kundharan, adapun jenis kesenian non islam yaitu kesenian Hadrah Pacul Guwang seperti yang terjadi di Desa Gambiran daerah kawasan Banyuwangi selatan ( Kamsi ) dalam permainannya hanya menggunakan empat satuan alat musik terbang diantaranya dua terbang onteng kethukan, terbang timpal gowonan dan terbang timpal lebonan, adapun lagu-lagu yang dibawakan yaitu ya waila, ya anjani, gurit mangir, lebak-lebak dan seterusnya, lain dari pada itu dalam penyajiannya membawakan lagu-lagu pantunan atau biasa disebut wangsalan dengan bentuk wangsalan humor, berikut ditutup dengan tari seblang gandrung terop yang diperankan oleh seorang laki-laki. Terbang difungsikan pula sebagai iringan tari daerah yaitu bermaksud untuk memperkaya perbendaharaan gendhing, seperti tari Ngarak Penganten, tari Gredhoan, tari Cundhuk Menur dan seterusnya, selain itu terbang di fungsikan sebagai aransemen lagu-lagu klasik versi kuntulan pada umumnya, sehingga terbang Banyuwangi yang difungsikan sebagai sarana alat pendukung seni tersebut di atas dalam komponen satuan alat musiknya berbeda-beda sesuai ciri khas keseniannya.

Terbang Banyuwangi besar kecil ukurannya bergantung pada kebutuhan atau dapat disebut menggunakan istilah gedhe-cilik artinya besar dan kecil khususnya pada besar kecil ukuran kerangkanya atau biasa disebut urung, yaitu ada urung kecil yang berukuran 70cm dan ada urung besar berukuran 80cm dimana pada kerangkanya terdapat dua lempengan bulat yang terbuat dari bahan perunggu atau monel serta dipasang secara bertumpukan dengan jumlah delapan lempengan yang biasa disebut kecrek. Besar kecil dari kerangka atau urungnya tentunya mempunyai pengaruh pada bunyi, seperti terbang yang urungnya kecil gema bunyi yang dikeluarkan pendek(cekak) dan mudah sakit di tangan serta harus keras cara memukulnya untuk menciptakan suara bunyi maksimal atau biasa disebut atos artinya keras, begitu sebaliknya dengan terbang yang urungnya besar, gema bunyi yang dikeluarkan panjang(landhung).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Sunardi. Seni Tabuh Terbangan Banyuwangi, Surabaya, Upt. Pendidikan dan Pengembangan Kesenian Taman Budaya Jawa Timur,  Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, 2010, hlm. 4-6

Sejarah Sekolah Pertukangan, di Jawa Timur

Di negara jajahan seperti Indonesia tenaga terdidik untuk sekolah kejuruan sangat dibutuhkan sekali. Baik mereka itu berasal dari bangsa Belanda sendiri maupun dari bangsa Indonesia. Kenyataan itu memang benar-benar dirasakan sekali oleh pemerintah jajahan. Kecuali itu dengan dibukanya perkebunan-perkebunan di Jawa sangat besar kebutuhan tenaga terdidik. De­mikian pula timbulnya pabrik-pabrik seperti pabrik gula dan lain sebagainya kebutuhan tenaga untuk melayani dan menjaga besar sekali. Untuk itulah maka pemerintah akhirnya juga mendirikan sekolah-sekolah kejuruan.

Pada mulanya sekolah kejuruan di Indonesia didirikan oleh fihak swasta, yaitu sekolah pertukangan yang dibuka pada ta­hun 1856 di Batutulis, Betawi. Sekolah tersebut didirikan oleh agama Kristen dan lebih bercorak sekolah dasar dengan ciri-ciri pertukangan. Sedangkan sekolah pertukangan pertama yang didi­rikan oleh fihak pemerintah dibuka pula pada tahun 1860 di kota Surabaya. Pada saat itu sekolah diperuntukkan bagi anak-anak Eropa, tetapi belum dapat hidup lama. Hal ini agaknya di samping sedikitnya peminat yang datang, orang Belanda sendiri juga belum banyaknya anak-anak Belanda. Sedangkan pada masa itu industri gula belum berkembang luas di Jawa. Namun juga kebutuhan akan tenaga tukang yang terdidik besar dirasakan sewaktu industri gula mulai berkembang dengan pesat di Jawa Timur. Adanya permintaan yang seolah-olah sangat mendesak ini merangsang pemerintah mengadakan pendidikan pertukangan dengan segera. Karena itu pada tahun 1877 dibuka kursus malam yang dikaitkan dengan HBS di Surabaya. Agaknya pembukaan kursus ini untuk segera memenuhi permintaan, dan tidak mungkin untuk mendidik anak-anak dalam jangka waktu yang cukup singkat, sehingga hasilnya dapat segera dimanfaatkan. Lama kursus 2 tahun, dan dalam tahun 1885 diperpanjang menjadi tiga tahun. Tidak lama kemudian kursus pertukangan ini melepaskan diri dari HBS, sehingga menjadi sekolah yang berdiri sendiri. Setelah mengalamai pembenahan organisasi dalam tahun 1894, maka lama belajar diubah menjadi empat tahun. Mengingat lamanya belajar, maka bersama itu pula diadakan spesialisasi, sehingga me- mudahkan masing-masing pelajar menekuni apa yang menjadi bidangnya atau keahliannya. Deferensiasi sekolah pertukangan ini ialah jurusan pengairan, pekeijaan umum, kadaster (pengukuran tanah), dan mesin. Adanya deferensiasi itu sebenarnya untuk diarahkan pada ujian akhir, agar nantinya anak-anak yang telah selesai itu benar-benar mempunyai bidang keahlian khusus.

Sekolah pertukangan ini pada mulanya untuk anak-anak orang Eropa. Tetapi kemudian anak-anak bumiputera juga diperbolehkan masuk. Hal ini mengingat semakin meluasnya perkebunan di Jawa Timur sebagai akibat Politik Pintu Terbuka dari Pemerintah Hindia Belanda. Karena itu bukan hanya industri gula tetapi juga perkebunan lain seperti perkebunan temba- kau, kopi, teh, karet, dan lain-lainnya memerlukan tenaganya.

Selain itu kemajuan di bidang kerajinan rakyat pun menuntut perhatian. Sehingga pada tahun 1904 mulai ada percobaan untuk membuka Sekolah Kerajinan Rumah, yang memberikan pelajaran mengukir dan menganyam. Sekolah itu berada di bawah pimpinan RMT. Oetoyo, Bupati Ngawi. Ketika itu sudah ada beberapa sekolah pertukangan yang didirikan oleh Zending (yang pertama didirikan oleh Zending ialah di Mojowarno pada tahun 1893).

Didesak oleh makin majunya perindustrian bangsa Eropah, yang banyak membutuhkan tukang-tukang berpendidikan, maka pada tahun 1909 pemerintah membuka 3 sekolah pertukangan di Jakarta, Semarang, dan Surabaya. Pengajaran pertukangan terse­but mempunyai dua macam tujuan yaitu membentuk tukang-tukang yang biasa, dan membentuk tukang-tukang yang dapat mengisi jabatan-jabatan rendah seperti: masinis, montir, dan sebagainya.

Untuk golongan ke-1 diadakan pendidikan selama dua tahun. Yang diterima sebagai murid ialah mereka yang telah tamat dari Sekolah Kelas II. Pada sekolah itu ada dua bagian yaitu bagian kayu dan besi. Pendidikan selama 2 tahun itu diikuti oleh kursus sambungan selama setahun untuk vak-vak khusus, seperti montir mobil, tukang listrik, tukang kayu, dan tukang batu. Untuk go­longan ke-2 diadakan sekolah-sekolah pertukangan yang pendidikannya 3 tahun. Sekolah ini diperuntukkan bagi mereka yang telah mengikuti pelajaran rendah barat (Belanda) sampai ta­mat.

Karena semua murid tidak mendapat pendidikan untuk berdiri sendiri, maka tamatan sekolah itu tidak ada yang sanggup untuk mendirikan perusahaan sendiri atau memperbaiki keadaan pertukangan di desa-desa, melainkan mencari pekeijaan pada perusahaan-perusahaan orang Eropa.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Pendidikan Tradisional Pengaruh Agama Islam dalam, Sejarah pendidikan Jawa timur, Departemen pendidikan dan kebudayaan,  direktorat sejarah dan nilai tradisional, proyek inventarisasi dan dokumentasi kebudayaan daerah 1985-1986, Surabaya, 1986.

Sejarah Sekolah guru di Jawa Timur

Pemerintah Hindia Belanda yang pada waktu itu sudah banyak menerima pengaruh aliran liberal, telah mulai memper- hatikan kehidupan rakyat Indonesia. Bidang pengajaran yang di­buka bukan hanya untuk anak-anak orang Belanda, tetapi sudah memperhatikan juga keputera-putera bangsa Indonesia, terma- suk anak-anak orang kebanyakan.

Pemerintah selain memperhatikan bidang pendidikan ke- juran seperti pertukangan, juga memperhatikan Sekolah Pendi­dikan Guru (Kweekschool). Sekolah Guru yang pertama didirikan di Jawa Timur pada tahun 1875 di kota Probolinggo. Tahun- tahun sebelum itu kota-kota lain di luar Jawa Timur telah lama pula didirikan sekolah guru. Antara lain Bukittinggi (1856), Tanahbatu (1864; Tapanuli), Surakarta (Solo), dan Magelang. Sekolah guru di Surakarta merupakan sekolah guru yang pertama dibuka oleh pemerintah pada tahun 1852. Sekolah ini pada ta­hun 1875 kemudian dipindahkan ke Magelang.

Peraturan Pemerintah yang dikeluarkan pada tahun 1871 berdasarkan beslit kerajaan, artikel 1, mengatur sekolah pendidi­kan guru atau Kweekschool dengan pertimbangan bahwa pemben- tukan sekolah dasar bumiputra harus didahului dengan pemben- tukan tenaga pengajarnya. Karena sekolah ini akan mengeluar- kan tenaga pengajar atau guru, maka jelas sudah bahwa di seko­lah ini diberikan pelajaran bahasa Belanda. Bahasa Belanda merupakan mata pelajaran wajib yang sebenarnya sudah diberi­kan sejak tahun 1865. Mata pelajaran itu diberikan karena Kweek­school dianggap sangat penting kedudukannya dalam rang- ka perluasan sekolah-sekolah dasar bumiputera48) sehingga jumlahnya diperbanyak oleh pemerintah. Agaknya sekolah semacam ini belum dapat menarik perhatian. Karena itu perlu adanya rangsangan untuk menggairahkan para pemi- nat. Maka oleh pemerintah gaji guru lulusan Kweekschool dari f 30,- sampai f 50.- dinaikan menjadi f 75.- sampai f 150,- setiap bulan. Namun demikian rangsangan itu masih belum menarik perhatian anak-anak priyayi tinggi. Karena itu banyak pelajar yang berasal dari anak-anak priyayi kecil, pedagang, dan rakyat biasa. Jumlah lulusan sekolah guru ini tidak banyak, sebab di samping mata pelajaran yang banyak dan bertumpuk- tumpuk, bahasa Belanda dianggap sebagai mata pelajaran wajib yang sulit. Karena itu kekurangan tenaga guru tidak dapat mengharapkan dari lulusan sekolah guru itu. Hal demikian menyebabkan pemerintah mengangkat guru melalui ujian.

Sejarah Lembaga pendidikan madrasah, di Jawa Timur

Lembaga pendidikan madrasah yang didirikan dan dipelopori oleh Nizam El Muluk, seorang menteri dari dunia Arab, diperkenalkan dan kemudian berkembang di Jawa Timur. fada sistem pesantren tidak terdapat standar antara satu dengan yang lain. Tetapi pada akhir abad ke-19 dan permulaan abad ke-20 madrasah-madrasah mulai memperkenalkan pembagian menurut tingkat kemampuan dan prestasi murid, kelompok umur, dan digunakan pula metode klasikal. Artinya seorang guru mengajar di hadapan banyak murid dalam satu kelas. Sistem dan metode ini sedikit banyak dipengaruhi oleh sistem baru yang menggu- nakan sekolah

berjenjang. Dalam pendidikan madrasah diutama- kan keselarasan otak (perkembangan akal), hati (perkembangan perasaan dan kemauan), dan tangan (perkembangan kecekatan ketrampilan). Sedangkan pelajaran-pelajaran yang diberikan me- liputi tiga kelompok yaitu kelompok pelajaran agama, kelompok pelajaran pengetahuan alam, dan kelompok pelajaran kerajinan tangan.

Pada pendidikan pesantren, mata pelajaran serta lamanya belajar tidak sama. Pesantren kecil dengan jumlah santri yang menetap amat sedikit lebih tepat disebut pengajian. 48) Keba- nyakan santrinya adalah anggota masyarakat yang terdekat.

2. Bidang Pendidikan

Sampai dengan tahun 1900 himpunan buku-buku berupa suatu perpustakaan di pesantren belum ada. Buku-buku disimpan pada pemilik masing-masing, dan merupakan koleksi pribadi di antara para kiai, badal, ustad, dan santri.

Yang terpenting ialah mengetahui isi dan hubungan antara satu buku dengan buku lainnya. Masalah ini amat rumit. Tetapi di sinilah letak kunci pembuka pengertian untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang kawasan ilmu yang diajarkan dalam lingkungan pesantren. Pada hakekatnya apa yang diajurkan dalam lingkungan pesantren itu adalah untuk mempelajari satu kitab saja, yaitu Al Qur’an.

Pusat ilmu semenjak berkembangnya agama Islam adalah bangunan mesjid di Negara Arab. Lembaga pendidikan madra­sah telah dikenal sejak abad ke-10. Pada abad ke-11 sistem pen­didikan madrasah diperbaharui oleh Menteri Nizam Al Muluk dari Negara Arab. Semula madrasah hanya memberikan hal-hal yang bertalian dengan theologi saja. Tetapi setelah itu ilmu as- tronomi dan obat-obatan juga diberikan di madrasah. 49 ] A1 Qur’an dikaji secara benar sehingga anak-anak mendapatkan pe- ngertian tentang ayat-ayat Al Qur’an secara benar pula. Kemu- dian memahami maknanya yang meliputi tafsir serta bagaimana cara mengamalkannya.

Mengaji di pesantren bermula pada Al Qur’an dan berakhir pada Al Qur’an pula. Setelah itu dibutuhkan kitab-kitab yang disebut ilmu alat. Dari segi lain Al Qur’an merupakan induk atau sumber bagi lahir dan berkembangnya cabang-cabang ilmu lain yang kemudian ditulis dan dihimpun menjadi berbagai kitab.

Dari ayat-ayat A1 Qur’an mengenai hukum melahirkan ilmu Fiqih. Fiqih itu banyak sekali jumlahnya dan mempunyai mad- zhab dengan kecenderungan titik berat yang berbeda-beda. Mad- zhab Imam Syafii disebut Syafiiah, dan banyak didapati di pesan­tren-pesantren Jawa Timur.  Dari ayat-ayat Al Qur’an yang memberikan petunjuk mengenai pendekatan

dari manusia de­ngan Allah, menimbulkan mistik Islam atau tassawuf. Kaum Suffi mengajarkan tarekat. Dari ayat-ayat Al Qur’an yang me- nerangkan kejadian alam benda sebagai tanda kebesaran Allah menimbulkan ilmu alam kodrat. Menurut keterangan dari beberapa kalangan para ulama terdahulu mengeluarkan kitab-kitab ilmu falak, ilmu aljabar, dan ilmu sistem angka 0 (nol) yang dipergunakan sekarang.

Kitab-kitab tariqh yang disusun oleh para ulama di masa yang lalu keluar dari ayat-ayat A1 Qur’an. Kitab tersebut mene- rangkan kehidupan umat terdahulu. terutama sejarah para nabi dan rasul. Kitab ilmu Hadith juga merupakan hasil penelitian yang luas dari para ulama mengenai Sunnah Rasul yang menjadi pegangan ajaran Islam sesudah Al Qur’an.

Bahasa Al Qur’an itu sendiri setelah diperdalam menim­bulkan ilmu bahasa Arab sampai pada perinciannya yaitu bayan, ba’di, syorof, nahwu. dan cara mengucapkannya dipelajari dalam pelajaran tajwid. makhrad dan balagah. Bahasa kitab ini disebut fasa, berbeda dengan bahasa amiyah yang digunakan secara umum dalam kehidupan sehari-hari.

Di dalam pesantren diusahakan pengajaran Al Qur’an secara utuh seperti di jaman para nabi di mana para murid duduk ber- kumpul memahami dan mempelajari ayat-ayat yang telah di- turunkan. Cara mempelajari ialah dengan cara tadarus. yaitu di- baca berulang-ulang sampai hafal.

Kcpada setiap orang yang telah menerima pelajaran Al Qur. an dikenakan tusias untuk mengajar lebih lanjut kepada kaum kerabat dan orang-orang lain dalam lingkungannya. A1 Qur’an tidak boleh dijadikan seperti buku undang-undang yang hanya dibuka lembarannya bila diperlukan untuk diperiksa salah satu ayatnya. Dengan selalu tadarus akan timbullah pengertian baru yang membangkitkan kita kepada usaha mengembangkan ilmu dan mendapatkan banyak petunjuk.  Al Qur’an merupakan qalam Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw secara keseluruhan.

Dalam kitab Tariqhut Tasyiri yang disusun oleh Alqhud- dari disebutkan bahwa jangka waktu nuzul ayat-ayat Al Qur’ an dari awal sampai akhir meliputi waktu 20 tahun 21 bulan dan 22 hari. Jangka waktu ini diperhitungkan sejak dari malam 17 Ramadhan tahun 41 dari milad Nabi sampai dengan tanggal 9 Dzulhijah, dari Haji Akbar tahun 10 Hijriah atau tahun 63 dari Milad Nabi. Di sana didapatkan masa turunnya Al Qur’an yang dapat dibagi menjadi 2 periode dengan masing-masing mempu- nyai tanda-tanda dalam bentuk dankandunganisisecara umum.

Periode pertama, yaitu masa ketika Nabi masih bermukim di Mekah. Ia menerima wahyu pertama pada tanggal 17 Ramadhan tahun 41 dari Milan

sampai dengan awal Rabiulawal tahun 54 dari Milan, meliputi masa 12 tahun 5 bulan 13 hari. Periode ini disebut ayat-ayat Maqqiyah. Semuanya meliputi jumlah 86 surah yang memuat 4780 ayat. Ciri-ciri umum ayat-ayat Maqqiyah itu ialah susunannya pendek-pendek. Isinya mengenai dasar keya- kinan atau aqidah tentang ada dan ke-esaan Allah. Atau Tauhid- dulah tentang hal-ikhwal azab dan nikmat di hari kemudian. Ayat-ayat ini memuat seruan kepada segenap manusia. Oleh karena itu diawali dengan kalimat-kalimat Ya Ayyuhannasu

Periode kedua, yaitu masa sesudah Nabi hijrah, bermukim di Madinah mulai tahun 54 sampai dengan tahun 63 Milad Nabi. Begitu pentingnya peristiwa hijrah sehingga kemudian dijadikan awal tahun dalam perhitungan tahun di kalangan umat Islam. Ayat-ayat yang nuzul dalam periode ini disebut ayat-ayat Mada- niah, yang semuanya meliputi 28 Syurah. dan memuat 1450 ayat. Ciri-ciri umum ayat-ayat ini susunan pada masing-masing Surahnya panjang-panjang. Kandungan isi ayat-ayatnya menge­nai masalah-masalah hukum dan kemasyarakatan. Oleh karena ayat-ayat yang memuat perintah dan larangan itu adalah bagi orang-orang yang telah beriman, maka banyak ayat-ayatnya yang dimulai dengan Ya Ayyuhaladzina …………………………………………..

Para sahabat Nabi membagi surah-surah dalam AlQur’an menjadi 4 bagian menurut panjang pendeknya isi syurat. Pertama, ialah 7 syurat yang terpanjang yang disebut de­ngan syurat-syurat Assab’uth-thiwaal. Kedua ialah syurat yang terdiri dari 100 ayat atau lebih sedikit yang disebut syurat Mi’ in atau Mi’un. Ketiga, syurat yang kurang dari 100 ayat yang disebut Alretsani. Keempat, syurat yang amat pendek yang di­sebut A1 Mufashal.

Penelitian terhadap ayat-ayat Al Qur’an baik mengenai lafal sampai kepada hitungan jumlahnya telah dilakukan dengan kecennatan yang amat subi’il. Abdullah Ibnu Katair adalah salah seorang tokoh peneliti hitungan ahli Mekah di masa lalu. Hitungan ahli Madinah diteliti oleh Abu Ja’far Ibnu Jazid. Hitungan ahli di Qufah dipelopori oleh Abu Abdirachman Asyalami. Hitungan ahli Basrah dilakukan oleh Aksin bin Asjjaj. Sedangkan bentuk ahli Syam penelitiannya dilakukan oleh Abdullah Ibnu Amir A1 Yahs- habi. Mereka itulah yang amat terkenal, di samping masih banyak lagi ulama yang lain. Sebagai peneliti syurat dan ayat-ayat Al Qur’an, sesudah terhimpun dalam Mushafat semuanya sepakat bahwa dalam Mushafat itu terdapat 114 syurat. Apabila ternyata ada segolongan kecil kaum Syi’ah yang menyebut 116 syurat, itu karena dimasukkannya 2 syurat-syurat Qunut A1 Khala dan A1 Hafadh. Menurut pentahkiban Abu Bakhar A1 Bagilani dalam kitab I’l

Jajul Qur’an. 2 buah doa Qunut itu karena ditulis oleh Ubay di kulit Mushab. Maka timbullah perkiraan sebagian orang sebagai dua buah syurat seperti yang lain. Perbedaan ini mudah saja dijelaskan karena syurah-syurah itu jelas ciri-cirinya, dan jumlahnyapun tidak banyak. Akan tetapi dalam penelitian hi- tungan-hitungan. ayat dalam Mushaf kadang-kadang terdapat perbedaan angka yang besar. Hal ini disebabkan lafadh Basmalah pada awal syurah diperhitungkan sebagai ayat dan sebagian ti­dak. Demikian pula untuk lafadh yang disebut Fawaathussuwari, yaitu pembuka syurah yang berbentuk huruf-huruf seperti alf- lam-mim, dan sejenisnya, tidak diperhitungkan sebagai ayat. Per­bedaan hitungan dalam penelitian ini tidak menyalahi kenya- taan bahwa isi Mushaf itu pada tiap syurah dari ayat sampai hu- rufnya sama.

Dari A1 Qur’an ini, bukan hanya isinya saja yang dipegang teguh oleh para ulama tetapi juga cara penulisannya, kata Kyai Yusuf Ismail Yasir. Maksudnya ialah bahwa A1 Qur’an sebagai sumber dan ilmu tidak putus dari cabangnya. 55) Dari A1 Qur’ an ditulislah kitab-kitab yang memuat ilmu tafsir. Tafsir itu pada hakekatnya ialah mensyarahkan lafadh yang sukar dipahami dengan uraian yang menjelaskan maksud. Adakalanya dengan menyebut muradif (sinonim)nya, atau menjelaskan dengan cara dalalah (petunjuk) dan contoh.

Pada setiap kitab tafsir ayat A1 Qur’an aslinya selalu dituliskan. Disiplin ini kemudian diturun untuk penulisan kitab- kitab lain. Bahkan dengan cara yang seragam ayat-ayat pada kitab induk dituliskan pada bagian tepi. Sedangkan tafsir maupun komentarnya disebut sejarah, dan dituliskan pada kolom bagian tengah dari tiap lembaran atau halaman kitab.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Pendidikan Tradisional Pengaruh Agama Islam dalam, Sejarah pendidikan Jawa timur, Departemen pendidikan dan kebudayaan,  direktorat sejarah dan nilai tradisional, proyek inventarisasi dan dokumentasi kebudayaan daerah 1985-1986, Surabaya, 1986.

Sejarah Pendidikan Dasar, di Jawa Timur

Sekolah pertama yang dibuka untuk anak- anak Belanda teriadi pada tanggal 24 Februari 181? di Batavia. Sekolah tersebut mencontoh sekolah dasar yang ada di Negeri Belanda, di lain tempat keturunan atau anak-anak Belanda juga ada, dan mereka juga memerlukan pendidikan. Maka jenis sekolah seperti yang terdapat di Batavia menarik perhatiannva.

Karena itu dari pada mengirimkan anak-anaknya ke Batavia memerlukan biaya yang cukup besar, maka perlu adanya sekolah di tempat-tempat yang ramai. Tempat itu menjadi semacam pemusatan bagi orang-orang Belanda, antara lain di kota-kota pelabuhan dan pusat-pusat perkebunan. Ternyata sekolah seperti di Batavia meluas ke daerah lain.

Di Jawa Timur misalnya, se­kolah semacam itu terdapat di kota Gresik dan Surabaya. Tetapi perluasan sekolah itu di Jawa Timur baru terjadi pada tahun 1820. Sekolah yang dibuka itu sebenarnya Sekolah Rendah Eropa atau lebih dikenal dengan Europeesche Lagere School (ELS).

Didirikannya sekolah tersebut dimaksudkan untuk menampung anak-anak Belanda yang tinggal di kota-kota Surabaya, Gresik dan daerah sekitamya. Sampai akhir tahun 1820 ternyata yang dapat menikmati pendidikan modern baru anak-anak bangsa Belanda, sedangkan bangsa Indonesia belum diperkenalkan. Di­dirikannya sekolah di Surabaya dan Gresik ternyata dapat memenuhi harapan orang-orang tua terutama bangsa Belanda. Namun demikian kehausan akan pendidikan melalui sekolah dirasakan masih sangat kurang.

Hal serupa dapat dilihat dari kelanjutan sekolah itu sendiri. Dan inilah yang nantinya mendorong Pemerin­tah Hindia Belanda untuk mengusahakan tempat-tempat pendidi­kan lagi. Keadaan semacam itu belum terhitung jumlah sekolah yang diselenggarakan oleh fihak swasta, terutama oleh agama Kristen Protestan dan Katholik. Kedua agama itu dalam aktifitasnya di Jawa Timur tidak mengesampingkan bidang pendidi­kan. Sejak pertengahan abad ke-19 kedua agama tersebut sudah aktif memperkenalkan pendidikan barat walaupun jumlah murid hanya sedikit. Jelas sekali sejak pertengahan abad ke-19 anak- anak bangsa Eropa telah dapat menikmati pendidikan. Secara kualitatif menurut ukuran orang Belanda, pendidikan yang ada pada waktu itu sangat menyedihkan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Pendidikan Tradisional Pengaruh Agama Islam dalam, Sejarah pendidikan Jawa timur, Departemen pendidikan dan kebudayaan,  direktorat sejarah dan nilai tradisional, proyek inventarisasi dan dokumentasi kebudayaan daerah 1985-1986, Surabaya, 1986.hlm. 94