Makam Sunan Bejagung, Kabupaten Tuban

Makam Sunan Bejagung terletak di Desa Bejagung Kecamatan Semanding Kabupaten Tuban. Menurut keterangan juru kunci, nama Bejagung berasal dari maja agung. Diceritakan pada waktu tentara Majapahit datang ke Tuban hendak menaklukkan kelompok orang-orang Islam, mereka bertemu dengan seorang tua di tengah tegalan.

Karena dahaga tentara Majapahit minta air kepada orang tua tersebut dan diberi air dengan wadah buah maja.Tetapi ketika diminum ternyata tidak habis-habisnya dan mencukupi seluruh pasukan Majapahit. Karena itulah desa tersebut dinamakan Maja Agung (buah maja besar) dan lambat laun berubah menjadi Bejagung.

Ternyata orang tua tersebut di atas adalah Sunan Bejagung sendiri. Di sebelah selatan gapura Paduraksa, pintu masuk makam Sunan utama terdapat sebuah sumur yang sangat dalam dan menurut cerita sumur itu dibuat oleh Sunan Bejagung dengan menggunakan tongkatnya.

Menurut kajian Soekarto K. Atmodjo (1982:18-19) Sebilah papan kayu bagian pintu gerbang masuk makam Sunan Bejagung dipahat dengan sebaris tulisan yang sudah aus.Tulisan itu menggunakan huruf Jawa Baru dan berbunyi “kang hamurwa lawang pu krayatingi” atau “kang hamurwa lawang pun arya tingi”.

Perkataan kang amurwa lawang berarti “yang memulai (membuat) pintu”. Pu Krayatingi atau Arya Tinggi menunjuk nama orang. Siapa yang dimaksud nama tersebut, kurang jelas. Mengingat tulisan singkat itu menyebut nama orang, rupa-rupanya kalimat itu bukan sebuah kronogram (candra sengkala).

Dilihat dari segi paleografi tulisan itu berasal dari sekitar tahun 1800 Masehi.Selain tulisan tersebut, di atas rumah joglo yang terletak di dekat makam juga terpahat angka tahun dan kronogram berbunyi “sarira nembah panditaratu”.Kalimat “sarira nembah pandita ratu” (badan menyembah pendeta raja) juga melambangkan angka tahun Jawa 1728 (1801 M).Perkataan sarira (badan, tubuh) bernilai 8, nembah (menyembah) 2, pandita (pendeta) 7, dan ratu (raja) l.Karena itu diperkirakan bahwa bangunan joglo tersebut dibangun atau diperbaiki pada tahun 1901 M.

TUBAN BUMI WALI; The spirit of harmoni, Pemerintah Daerah Kabupaten Tuban, 2013, hlm. 191 – 194

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *