Dramatari Topeng Jabung , Pembinaan Dan Pengembangan

gajah suraPertunjukan seni topeng telah mengakar pada budaya bangsa Indonesia sejak jaman dahulu. Dalam konteksnya yang berbeda-beda pertunjukan seni topeng telah dikenal sejak lama baik di daerah Aceh, Batak, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa , Timur, Madura, bahkan sampai-sampai ke Irian Jaya. Khususnya bagi daerah Jawa Timur, kesenian topeng telah dikenal sejak abad IX Masehi, dimulai dari kalangan kraton/istana yang kemudian sedikit demi sedikit mulai merembes ke masyarakat kelas bawah, dan akhirnya menjadi kesenian rakyat yang sangat populer.

Di dalam kitab Pararaton tertulis sbb.:

“Telas purwa wetaning Kauri, kaputer sawetaning Kauri sama awediring sira Ken Arok, mau ariwa-riwa ayun angadeg ratu…”

Artinya:

“Sudah dikuasailah daerah sebelah timur Kawi, bahkan seluruh daerah sebelah timur Kawi itu semuanya takut terhadap Ken Arok, mulailah Ken Arok menampakkan keinginannya untuk menjadi raja…”

Dengan kutipan di atas jelas bahwa daerah Singosari tersebut meliputi daerah sekitar timur Kawi itu. Desa Jabung terletak di Kecamatan Tumpang di bawah Kabupaten Malang, di daerah berdirinya Candi Jajagu yang didirikan untuk memperingati Wisnoe Wardhana, Candi Kidal untuk Anusapati dan Candi Singosari untuk Ken Dedes.

Tak dapat disangsikan lagi bahwa dramatari Topeng Jabung yang merupakan sisa-sisa seni pertunjukan tradisional pada abad-abad XI – XIV, abad kejayaan kerajaan Kehuripan, Kediri, Singosari, Daha, dan Majapahit itu, tentulah tidak saja hidup di Desa Ja­bung, tetapi pernah juga menyebar di desa-desa sekitarnya.

Sejalan dengan pasang surutnya kerajaan-kerajaan di Jawa Timur yang mendukung keberadaan dramatari Topeng Jabung, maka keberadaan dramatari Topeng Jabung pun mengalami kemunduran. Dominasi kerajaan yang berada di bawah pengaruh Islam telah menyebabkan memudarnya kejayaan Topeng Jabung.

Kevakuman yang berlangsung cukup lama telah membuat data dan dokumentasi teknis pertunjukan dramatari Topeng Jabung ini menjadi sulit dilacak. Tokoh-tokoh senior yang masih hidup, dan yang masih bisa ditemui untuk menceritakan pengalamannya tentang perkembangan Topeng Jabung tak banyak lagi. Tidak ditemuinya dokumentasi tertulis tentang naskah-naskah lakon yang pernah dimainkan, telah pula menyebabkan kesulitan dalam melacak jenis cerita dan judul lakon yang biasa dimainkan. Hal ini disebabkan setiap lakon hanya diturunkan turun- temurun secara lisan/hafalan kepada generasi yang di bawahnya.

Namun, dariberbagai usaha para pecinta seni, khususnya seni tari dan pertunjukan dan didukung oleh pemerintah, maka telah berhasil dihimpun berbagai data yang secara garis besarnya telah dapat menggambarkan bagaimana berlangsungnya pertunjukan dramatari Topeng Jabung tersebut. Hal ini tidak lepas dari bantuan para tetua desa, serta bekas-bekas penari yang masih hidup dan yang masih bisa dijumpai.

Masalah yang dihadapi sekarang ini adalah bagaimana mengenali dan mengembalikan teknis pementasan dan teknis tari Topeng Jabung sebagaimana bentuk permainan aslinya yang dulu. Kecenderungan pemanggungan drama tari Topeng Jabung yang sekarang telah banyak dipengaruhi gaya pementasan ludruk.

Tak dapat disangkal bahwa minat masyarakat untuk menonton ludruk sekarang ini telah menggeser minat masyarakat menonton pertunjukan Topeng Jabung. Hal ini menyebabkan pertunjukan dramatari Topeng Jabung menjadi semakin jarang dipertunjukkan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Topeng Jabung Teater Tradisional Jawa Timur; Drs. Risman Marah, Drs. Supriyadi, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan , Jakarta, 1993/1994.

Sate Klopo Ondomohen

sate klopoSate klopo adalah salah satu makanan yang banyak dijual di kota Surabaya, meskipun sate klopo bukan makanan asli Surabaya, namun sate klopo cukup dikenal di Surabaya.  Ada kedai yang dikelola oleh orang Madura, dan telah melewati beberapa generasi, sehingga masyarakat  Surabaya mengenalnya dengan “Sate Klopo Ondomohen”, karena letaknya di Jalan Ondomohen (Jalan Walikota Mustajab sekarang).

Sate klopo ini begitu sangat dikenal oleh masyarakat Surabaya. Dari dulu hingga sekarang lokasi dan suasana tempatnya, pengolahan dan pengelolaannya tetap dipertahankan, Cara membakar satenya juga hanya di atas sebuah pembakaran kecil yang sudah usang termakan waktu. Namun demikian, dari dulu hingga sekarang kelezatan rasanya masih sama, kelezatannya benar-benar terjaga. Porsinya pun cukup memuaskan, dengan potongan daging yang besar-besar sehingga membuat hati kita yang menyantapnya pun gembira.

Namun dalam penyajian  Sate klopo  ini tidak ada lontong yang merupakan pasangan dari sate, yang ada malah nasi putih yang sangat pulen sekali dan sangat enak. Nasi putihnya disajikan hangat mengepul ditemani sejumput “serundeng”, parutan kelapa yang telah dibumbui dan disangrai. Rasanya gurih “serundeng” semakin menambah nikmat sewaktu menyantap sate klopo.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Sujarwo, Pustakawan Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur,  Laporan dinas luar dlm rangka hunting  pengayaan informasi Pusaka Jawatimuran –  di Kedai Sate Klopo Ondomohen, Jl. Walikota Mustajab Surabaya ; gmbr. banto. Nopember 2013 

Topeng Jabung (Lakon- lakon yang Sering Dipentaskan)

Cerita Panji merupakan lakon yang sangat sering dimainkan dalam dramatari Topeng Jabung. Lakon- lakon yang bersumber pada cerita Panji tersebut antara lain :

  1. Thothok Kerot – Gajah Abuh

Drama Tari Topeng Jabung0005Lakon ini menceritakan seorang putri raksasa yang jatuh cinta pada Raden Panji. Ketika itu Dewi Sekartaji hilang dari istana. Putri raksasa mengaku bahwa dia adalah Dewi Sekartaji. Dia mengaku sedang sakit, sehinggaseluruh tubuhnyabengkak (abuh.Jw). Karena pengaruh gaib dari putri raksasa, Raden Panji percaya bahwa putri raksasa itu adalah benar-benar isterinya. Pada suatu saat muncullah seorang satria bernama Klana Jayengsari yang kemudian berperang dengan Raden Panji. Pada akhir peperangan Klana Jayengsari berganti rupa menjadi Dewi Sekartaji yang sebenarnya, yaitu isteri Raden Panji. Putri raksasa terbongkar kedok- nya, dan kemudian dia diusir dari istana.

2.   Sekartaji Gogolan

Cerita ini mengisahkan Dewi Sekartaji terkena pukat atau jebakan yang biasa dipakai untuk menangkap harimau. Ia diambil olehpemilik pukat. Sekartaji diberi pakaian seperti laki-laki. Pada akhirnya Sekartaji sempat berperang melawan Raden Panji, sebelum mereka menyatu kembali sebagai suami isteri.

3.   Sayembara Sada Lanang

Dewi Ragil Kuning terkenal cantik. Banyak raja-raja yang ingin melamarnya. Oleh karena pelamar terlalu banyak, maka terpaksa diadakan sayembara. Barang- siapa yang dapat mencabut lidi ajaib atau sada lanang yang ditancapkan di tengah alun-alun, maka dia berhak untuk mempersunting Dewi Ragil Kuning. Tak seorang,

pun berhasil mencabut sada lanang tersebut, sampai muncul Raden Gunungsari. Raden Gunungsari ber­hasil mencabut lidi tersebut, dan kemudian memper- sunting Dewi Ragil Kuning.

4.  Jayalengkara – Bedah Bali

Raden Panji telah lama pergi meninggalkan istana, ia berkelana sampai ke kerajaan Bali. Raden Panji dijadikan putera mahkota oleh raja Bali dan kemudian menggantikan singgasana ayah angkatnya dengan nama Prabu Jayalengkara. Prabu Jayalengkara berniat melamar Dewi Sekartaji di Kediri. Namun lamarannya ditolak sehingga terjadilah perang. Di dalam perang itu Kediri dibantu oleh seorang satria bernama Klana Jayengsari. Prabu Jayalengkara kemudian berperang melawan Klana Jayengsari. Tapi setelah keduanya membuka rahasianya masing-masing, makabersatulah Raden Panji dengan Dewi Sekartaji kembali.

5.   Ratu Nusa Tembini

Suatu ketika kerajaan Daha diserbu oleh tentara wanita yang berasal dari kerajaan Nusa Tembini. Ratu dan patihnya pun wanita. Ilmu mereka tinggi, kerajaan Daha kewalahan menghadapi mereka. Daha nyaris kalah. Akhirnya datanglah Semar dan Bagong (Sabdopalon-Nayagenggong) menghadapi prajurit- prajurit wanita itu. Menghadapi Semar dan Bagong, Ratu dan Patih dari Nusa Tembini itu nampak tak berdaya. Ternyata mereka berdua pernah kawin dengan Semar dan Bagong ketika Semar dan Bagong terdampar di Nusa Tembini dalam perjalanannya mencari Dewi Anggreni bersama Raden Panji.

Itulah lima cerita yang sering dipakai pada setiap pertunjukan dramatari Topeng Ja$ung. Kendati pun masih banyak cerita-cerita yang lain, namun ceritanya tidak sebaik yang telah disebutkan di muka. Cerita berlangsung dari mulut ke mulut, turun-temurun, dan tidak pernah terdokumentasi sebagai suatu naskah tertulis.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Topeng Jabung Teater Tradisional Jawa Timur; Drs. Risman Marah, Drs. Supriyadi, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan , Jakarta, 1993/1994.hlm. 5-7

Tradisi Lamaran di Kabupaten Lamongan

Istilah yang berlaku di daerah Lamongan berumah tangga adalah laki-rabi Bahwa wanita membutuhkan laki-laki, dan pria membutuhkan rabi. Maka dari itu wanita dan pria melaksanakan laki-rabi agar mempunyai keturunan. Menurut istilah Lamongan tidak ada wanita yang rabi, tetapi wanita yang dirabeni atau dirabi, atau dinikahi. Untuk dapat mendapatkan jodoh, karena pada jaman dahulu wanita jarang keluar rumah dan pergaulannya terbatas, pada umumnya ada yang bertindak sebagai perantara atau mak jomlang yang di Lamongan diistilahkan sebagai jalciram (Wawancara dengan Priyo Utomo, 15 Juni 2003).

Dalam kehidupan perkawinan, suami maupun isteri seharusnya dapat memahami arti istilah-istilah yang berkaitan dengan perkawinan. Selanjutnya setelah memahami diharapkan dapat melaksanakan maksud-maksud yang tercantum didalamnya. Istilah-istilah tersebut menurut Damardjati Supadjar (1985: 202-203) adalah:

1, Laki-rabi. Kata laki adalah kata majemuk, yang berasal dari kata lara, yang artinya terhormat, dan kata ki, artinya lelaki. Jadi kata laki, artinya orang lelaki yang terhormat. Mak- sudnya bagi isteri di seluruh dunia ini hanya ada satu orang lelaki saja yang terhormat (yang terbaik dan terpuji), yaitu suaminya Kata rabi, juga merupakan kata majemuk yang berasal dari kata ra yang artinya terhormat, dan bi yang artinya perempuan. Jadi kata rcibi artinya orang perempuan yang terhormat. Maksudnya bagi suami di seluruh dunia ini hanya ada seorang perempuan saja yang terhormat (yang terbaik dan terpuji) yaitu isterinya.

2. Jodho. Kata jodho juga merupakan kata majemuk yang berasal dari kata jo =ji (siji) dan dho = dua. Maksudnya satu jiwanya tetapi dua orangnya, yaitu suami dan isteri yang keduanya menuju satu cita-cita yaitu kebahagiaan keluarga.

Tradisi lamaran di daerah Lamongan, wanita yang melamar pria. Keluarga wanita yang melamar dengan membawa buah tangan bahan makanan dan kue yang bersifat rekat. Tradisi wanita melamar pria di daerah Lamongan karena terpengaruh oleh adanya kejadian pada abad ke 17, yaitu lamaran putri Andansari dan Andanwangi. Keduanya adalah putri Adipati Wirasaba (sekarang Kertosono), yang melamar Raden Panji Laras dan Raden Panji Liris, kedua putra Bupati Lamongan ketiga itu, yaitu Raden Panji Puspokusuma (Wawancara dengan Suharjo, 22 Juni 2003; Mbah Arso, 23 Juli 2003).

Adat lamaran ini sampai sekarang masih tetap dipegang teguh masyarakat di 11 kecamatan Kabupaten Lamongan, yaitu: Kecamatan Mantup, Karanggeneng, Sambeng, Kembang bahu, Bluluk, Sukorame, Modo, Ngimbang, Sugio, Tikung, dan sebagaian Kecamatan Kota. Tetapi daerah-daerah lain di Kabupaten Lamongan (16 kecamatan) sudah mulai luntur. Terbukti bahwa gadis Lamongan yang sudah mengenyam pendidikan tinggi, terutama yang mengenyam pendidikan di kota-kota besar, ada kecenderungan malu atau merasa gengsinya turun bila melakukan tradisi lamaran ini. Selain sudah enggan dijodohkan oleh orangtuanya, juga karena mereka terpengaruh tradisi daerah lain setelah mereka mengetahui bahwa secara umum di daerah lain tradisi lamaran dilakukan oleh pihak pria kepada pihak wanita. Dan mereka umumnya sudah mengenal pacaran dengan teman kuliah yang berasal dari daerah di luar Lamongan (Wawancara dengan Suyari, 21 Juli 2003; dan Mbah Arso, 23 Juli 2003).

Jalan tengah yang bijaksana ditempuh oleh gadis dan jejaka Lamongan yang telah berpendidikan tinggi, yaitu sebelum memutuskan pihak mana yang harus melaksanakan lamaran, antara kedua belah pihak mengadakan kesepakatan terlebih dahulu untuk menentukan keluarga mana yang harus melamar. Setelah terjadi kata sepakat, baru kedua pihak keluarga melaksanakan acara lamaran sesuai hasil kesepakatan. Namun demikian tidak menutup kemungkinan hasil kesepakatan mereka bahwa pihak wanita yang harus melamar sebagai penghormatan kepada tradisi daerah kelahiran mereka (Wawancara dengan Mbah Arso, 15 Juli 2003).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Wahjudhi Dwidjowinoto. Upacara Tradisi Pengantin Bekasri: Upacara Pernikahan Khas Lamongan. Pemerintah, Kabupaten Lamongan Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan, 2006. 

Ikan Patin Aroma Bambu Bakar ala Jawatimuran

Ikan Patin Aroma Bambu Bakar di Pondok Patin Taman Daun,

Ikan patinIKAN patin dikenal sebagai ikan berdaging lembut. Sebenarnya daging patin sudah cukup gurih tanpa bumbu berlebihan. Cukup dibakar dan dicocol sambal sudah sedap. Akan tetapi, bagi lidah Jawa Timur yang doyan masakan gurih, ikan kurang afdol jika tidak dibumbu pekat. Meski lembut, daging patin cukup kuat dimasak lama bersama bumbu sehingga tidak hancur. Di Pondok Patin Taman Daun pengunjung dapat memesan menu andalan, yakni Ikan Patin Pepes Bambu Bakar. Menu itu unik karena ikan patin berbumbu dimasukkan dalam bambu sebelum dibakar. Aroma bakar dan bambu itu yang menggelitik.

Ikan patin segar langsung dicampur bumbu tanpa perlu menunggu meresap. Patin berbumbu pepes itu dibungkus daun pisang beberapa lapis agar cairan patin saat dibakar tetap terperangkap. Cairan itu yang mempertahankan rasa patin tetap gurih alami. Selanjutnya, patin bergulung daun pisang dimasukkan ke dalam bambu. Bambu itu dibakar di atas bara hingga matang. Aroma bakar bambu membuat pengunjung tidak sabar. Akan tetapi, Lilik Zulaicha, istri Agus Sarwanto yang memiliki Pondok Patin Taman Daun enggan mempercepat proses. Ia tidak ingin menggunakan jalur pintas agar cepat pepes segera tersaji misalnya dengan mengukus dulu patin berbumbu pepes sebelum dibakar dalam bambu. Justru karena yang digunakan patin segar dengan bumbu yang juga segar, rasa patin pepes bakar bambu menjadi unik.

Oleh karena semua ikan yang diolah rnasih segar, pengunjung diharapkan bersabar. “Kalau ada yang pesan baru mulai dimasak,” kata Lilik. “Agak lama menunggu, tetapi rasanya memang khas. Ada belimbing wuluh, kemangi, dan pedas,” kata Ika Fajar yang menikamti Ikan Patin Pepes Bambu Bakar bersama keluarganya. Saat disajikan asap masih mengepul melalui bumbu yang membalut ikan patin. Nasi satu bakul pun dengan cepat tandas. Selain Ikan Patin Pepes Bambu Bakar, ada juga Patin Bumbu Pesmol. Bumbunya berlimpah membalut patin utuh. Potongan daun bawang, 1 bawang merah utuh, dan serai membuat bumbu­nya beraroma kuat. Kuah kental itu tidak berminyak.

Biasanya pesmol ikan  dinilai dari amis dan tidaknya ikan yang dimasak. Maklum, ikan untuk pesmol tidak pernah diolah dulu alias langsung dicampurkan dengan bumbu dan diungkep. Itu sebabnya, kesegaran ikan dan bumbu yang digunakan gurih karena pemakaian kemiri menjadi tuntutan. Ikan patin untuk pesmol diambil langsung dari kolam di bagian belakang resto Pondok Ikan Patin Taman Daun. “Ikan langsung dijaring. Pembeli dapat memilih besar ikan yang digunakan,” kata Lilik. Kesegaran ikan terbawa sampai di meja makan. Bumbunya pekat membu­at daging ikan tidak amis sama sekali, Dibumbu apa pun patin memang tetap , membuat lidah menari. (iit)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: wiwit purwanto, Habibur Rohman: SURYA; Kamis, 3 Oktober 2013, hlm. 11

Dramatari Topeng Jabung (Bentuk Pentas)

Topeng Jabung 2Pertunjukan dramatari Topeng Jabung sekarang ini ditampilkan pada suatu pentas berbentuk tapal kuda, sehingga penonton berada di tigasisi. Layar ditempatkan pada sisi keempat, yang diberi satu pintu.

Gamelan adakalanya ditempatkan pada sisi kiri atau seringkali ditempatkan di bawah panggung. Untuk lebih memudahkanmengatur seluruh jalannya pertunjukan, dalang duduk di sudut panggung sebelah kiri atas. Dari tempat ini dalang dengan mudah memerintah pemain yang masih berada di belakang layar serta mengatur para penabuh gamelan.

Sebagaimana pertunjukan wayang kulit, pada per­tunjukan dramatari topeng ini dalang mempunyai peranan yang amat penting. Semua pemain berperan sebagai anak wayang, karena seluruh dialog dilakukan oleh dalang. Penari-penari bergerakatauberaksisesuai dengan ucapan-ucapan sang Dalang.

Penari yang boleh melakukan dialog sendiri hanyalah Patrajaya (abdi Gunungsari), emban (inang), Semar dan pelawak- pelawak sisipan. Pada pertunjukan ini bahasa dan dialognya amat sederhana, yaitu bahasa sehari-hari bergaya Jawa Timuran, khas pedesaan. Selain para tokoh yang telah disebut di atas, maka seluruh dialog dilakukan oleh dalang.

Untuk menampilkan suatu lakon pertunjukan dramatari topeng, terkadang dibutuhkan sekitar 40 peran topeng. Namun untuk menampilkan keempat- puluh topeng tersebut seringkali hanya dibutuhkan sekitar 7 sampai 10 orang penari saja. Karena pemunculan yang menggunakan topeng, maka seorang penari bisa saja muncul berkali-kali dengan bentuk topeng yang berbeda sesuai peran yang dibawa- kannya. Seluruh penari adalah laki-laki, termasuk dalam memerankan tokoh wanitaseperti Ragil Kuning, Sekartadji, dll.

Pertunjukan dramatari Topeng Jabung dilakukan sehari penuh atau semalam suntuk, atau bahkan dilaku­kan siang dan malam, dimulai jam 09.00 s.d. jam 20.00 dan setelah beristirahat sebentar kemudian dilanjutkan lagi jam 21.00 s.d. 06.00 pagi hari.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Topeng Jabung Teater Tradisional Jawa Timur; Drs. Risman Marah, Drs. Supriyadi, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan , Jakarta, 1993/1994. hlm. 3-4

RM Soemo­sewoyo ayah angkat Bung Karno (BK)

Cucu Bung Karno Sambangi Ndalem Pojok, Mama Pernah Cerita tentang Ayah Angkat Kakek

Kepastian bahwa Bung Karno (BK) mempunyai ayah angkat akhirnya diakui pihak keluarga. Mahardika Soekarnoputro, salah satu cucu proklamator itu mengakui, memang kakeknya memiliki ayah angkat. Apalagi cerita soal ayah angkat Bung Karno itu juga pernah disampaikan oleh ibundanya Rachmawati. MAHARDIKA menyempatkan diri mengunjungi rumah masa kecil BK di Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Minggu (25/8/2013).

Kami pernah dengar soal cerita ayah angkat BK dari mama (Rachmawati, red). Sehingga kami yakin rumah ini bagian dari masa kecil BK,” ungkap Mahardika saat mengurijungi rumah itu. Soal ayah angkat BK memang tidak banyak diulas dalam sejarah yang terkait dengan Presiden RI pertama itu. Namun orangtuanya pernah menyampaikan kepada Mahardika.

Apalagi pemberitaan terkait ayah angkat BK dalam beberapa waktu terakhir banyak diulas media massa. Karena penasaran saat berkunjung ke Kediri, Mahardika menyempatkan diri berkunjung ke ndalem Desa Pojok Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri. “Kami akan sampaikan kepada saudara kami yang lain soal keberadaan rumah masa kecil kakek saya BK,” jelasnya.

Mahardika saat berkunjung ke Ndalem petilasan Pojok banyak mendapatkan penjelasan dari RM Soeharyono yang merupakan keturunan dari RM Soemosewoyo. Beberapa penjelasan itu, seperti BK saat usia 2 tahun diasuh oleh RM Soemo­sewoyo, yang disebut sebagai ayah angkatnya. Termasuk perubahan nama dari Koesno menjadi Soekarno karena berdasarkan permintaan dari RM Soemosewoyo.

“Waktu kecil BK dulu sakit-sakitan sehingga namanya diganti dan diambil anak angkat,” jelasnya. Mahardika tampak menyi- mak penjelasan yang disampai- kan RM Soeharyono. “Mengapa BK kalau pakai peci miring? Itu dilakukan untuk menutupi bekas luka di jidatnya,” ujarnya. Luka itu kata RM Soeharyono didapat BK kecil karena pernah terjatuh saat bermain di pohon beringin yang ada di halaman rumah. Saat remaja BK juga belajar melakukan orasi di bawah pohon beringin. BK juga ikut angon kerbau ke sawah bersama anak-anak sebayanya. Sementara Mahardika saat mengunjungi rumah petilasan masa kecil BK juga melihat-lihat kamar tempat kakeknya dulu tidur.

Dua kamar di depan menjadi tempat Soekarno kecil dan remaja tidur dan satu kamar di belakang biasa ditempati saat BK sudah menjadi presiden.

“Mudah-mudahan rumah yang merupakan bagian situs peninggalan BK ini jura rtienda- patkan perhatian dari pemerintah daerah. Yayasan Bung Karno sendiri akan ikut aktif memperjuangkannya,” jelas Mahardika.

Terpisah, Plt Kabag Humas Pemkab Kediri Edhi Purwanto menjelaskan, Pemkab Kediri telah meminta Dinas Pariwisata untuk melakukan kunjungan ke rumah masa kecil BK. Dari hasil pengecekan lapangan itu nanti bakal dibuatkan kajian nilai sejarah bangunan itu. Salah satu kemungkinannya, apakah ru­mah itu bisa jadi cagar budaya. (didik mashudi)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: SURYA, SELASA 27 AGUSTUS 2013

Rujak Cingur

Kuliner khas jawa timur, Dari Buntut hingga cingur dikolaborasi dalam Bumbu Petis

Rujak CingurKEKAYAAN dan inovasi kuliner khas Jawa Timur tidak ada habisnya. Dengan sentuhan kreasi chef berpengalaman, eksplorasi kuliner khas Jawa Timur ini akan selalu selalu berkembang dan enak untuk dinikmati. Beragam kuliner khas Jawa Timur seperti lontong balap, rujak cingur, semanggi, dan kuliner khas lainnya mungkin sudah terlalu lama dikenal. Urusan cingur, penggemar kuliner Jawa Timur tentu sudah tidak asing lagi. Makanan yang sering disebut eksotis itu menjadi bagian tidak terpisahkan dari kuliner Jawa Timur.

Nyaris semua bagian sapi dapat diolah menjadi makanan lezat di tangan orang Jawa Timur. Buntut sapi menjadi andalan banyak resto dengan sup buntut baik yang direndam dalam kaldu maupun tren baru seperti digoreng atau dibakar. Kaki sapi pun mendapat tempat di peringkat atas makanan khas yang digemari. Sudah pernah mencoba lontong kikil, sup kikil, atau kikil bumbu rujak? Hmmm… pilihan yang sulit dilewatkan.

Nah, yang legendaris adalah hidung sapi yang disebut cingur. Dalam sepiring rujak petis, cingur menjadi ukuran kehebatan rujak selain bumbu petisnya. Taburan cingur yang sporadis dalam sepiring rujak petis membuat penikmatnya kecewa. Akan tetapi, taburan petis yang royal membuat dua jempol diangkat tanda setuju.

Rujak cingur menjadi trade mark olahan eksotis. Semakin banyak orang menyajikan rujak cingur, semakin kuat para pelaku kuliner mencari terobosan baru. Cingur yang kesat, tidak amis, dan kenyil-kenyil menjadi ukuran. Selain itu, bumbu yang nen- dang juga wajib disajikan.

Menyadari tren kuliner akan selalu bergerak, Executive Chef Hotel Bisanta, M Rochim, mengutak-atik varian rujak agar berbeda dengan yang sudah ada sekaligus tetap menunjukkan bahwa racikannya adalah makanan khas Jawa Timur.

Rochim melihat kegemaran orang Surabaya pada sup buntut baik yang direbus, digoreng, maupun dibakar. Ia juga melihat rujak sebagai makanan yang paling dicari. Ide pun muncul. Mengapa keduanya tidak digabungkan? Pasti itu akan menjadi varian baru yang menggugah selera. Chef Rochim pun meracik seporsi Rujak Buntut sebagai “tandingan” rujak cingur. Di tangan Rochim, rujak cingur Hotel Bisanta Surabaya pelanggan juara baik di festival rujak ulek pada HUT Surabaya maupun lomba serupa saat HUT Jakarta.

Seperti halnya rujak cingur, Rujak Buntut juga mengandalkan bumbu petis sebagai ciri khas rujak petis khas Surabaya. Menu rujak buntut goreng ini pas disantap siang hari. “Semuanya sama seperti ru­jak cingur, bumbunya, lontong, sayur, dan buah juga ada, hanya cingurnya diganti dengan buntut goreng,” kata Rochim. Menurutnya, sesuai nama menu rujak buntut goreng, maka bahan utama yang harus dipersiap- kan adalah buntut sapi. Ia memiliki cara khusus untuk mengolah buntut.

Agar buntut empuk dan gurih, setelah dicuci bersih, buntut yang sudah dipotong-potong dimasukkan ke dalam air mendidih. “Masukkan buntut saat air mendidih, sebentar saja,” katanya memberi tips. Setelah itu angkat buntut. Ganti air perebus dan tunggu hingga mendidih. Masukkan buntut. Khusus untuk campuran rujak, bumbu yang dicampurkan dalam air perebus  tidak memakai kunyit.

Kini setelah buntut matang direbus, angkat dan tiriskan. Buntut digoreng sebentar dengan mentega. Sekarang buntut siap berkolaborasi dengan lontong, sayuran, buah, dan tentunya bumbu petis. Eh… ada yang ketinggalan jangan lupa krupuk puli sebagai pelengkap dan penetral bila rasa pedas mulai mendera. ()

Petis Madura Bikin Bumbu Ciamik 

OLAHAN bumbu rujak petis di Bisanta ini sudah dikenal ciamik. Tak heran bila rujak Bisanta ini meraih jawara pada festival rujak ulek pada HUT Surabaya dan HUT Jakarta kemarin.

“Petis udang dan petis ikan ini dari Madura,” kata M Rochim, Executive Chef Hotel Bisanta. Petis Madura memiliki rasa kuat. Dua varian petis itu dicampur dalam takaran tertentu. Jika perut tidak tahan terhadap petis, sebaiknya sebelum digunakan petis dimasak lagi. Petis diencerkan dengan dua sendok ma- kan air dan dijerang di atas api kecil sampai kembali mengental. Petis pun siap digunakan.

Selain petis yang khas dan didatangkan dari Madura, cara mengulek bumbu juga menjadikan rujak ulek ini menjadi khas rasanya. Bumbu yang diulek tidak seluruhnyadihaluskan. Justru sensasinya muncul ketika mulut masih bisa mendeteksi butiran kacang yang kadang-kadang muncul.

Meski dikenal dengan rujak petisnya yang jempolan, masih ada banyak menu andalan di Hotel Bisanta. Makanan khas Jawa Timur lainnya yang disediakan adalah rawon, soto, kikil, dan beberapa menu khas Jawa Timur yang memang disajikan selama Oktober.

Jika pada rujak ulek menggunakan petis dari Madura maka untuk menu Rawon Bisanta menggunakan kluwek dari Bali sehingga kuah rawonnya terasa lebih kental. Untuk dagingnya pun menggunakan daging top side.

“Daging top side ini digunakan karena tidak terlalu mengandung banyak lemak sehingga tidak perlu takut kolesterol,” tutur Rochim. (iit)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: wiwit purwanto: SURYA; Kamis, 3 Oktober 2013, hlm. 11, kol. 1-6

Dramatari Topeng Jabung (Ragam, Koreografis dan Formasi Tari)

Ragam Tari Topeng Jabung

Drama Tari Topeng Jabung0020Tiga ragam karakteristik Tari Topeng yang utama adalah :

  1. Tari Putra Gagahan, dengan tokoh-tokoh seperti Kertala Udapati, Patih, dan Klana Sabrang.
  2. Tari Putra Alusan, dengan tokoh-tokoh seperti Panji Kudawanengpati, Gunungsari, dan Lembu Amiluhur.
  3. Tari Putri, untuk tokoh-tokoh Ragil Kuning, Sekartaji, dan Tamiajeng.

Karakteristik di atas dapat diperinci lagi menjadi karakter yang lebih kecil sesuai dengan peran masing- masing adalah :

  1. tari raja, baik alus maupun gagah,
  2. tari patih, baik alus maupun gagah,
  3. tari klana gagah,
  4. tari klana alus (Gunungsari),
  5. tari prajurit, baik alus maupun gagah,
  6. tari putri,
  7. tari panakawan,
  8. tari raksasa,
  9. tari cantrik,
  10. tari kera, dll.

Rincian Koreografis Tari Topeng Jabung

1. Gerak Berpindah Tempat

Labas (tayangan, lumaksana -Jw .);gelapan (samberan, srisig- Jw.), gejet (berjalan ke samping), mundur-mlangkah (sejenis dengan gagak lincak tinting -Yog.), sirig (srisig ke samping).

2. Gerak Solah

Dalam tarian jawa disebut Kiprahan atau Muryani Busana. Gerakannya antara lain adalah : pogokan, lembehan, kenthengan, kepat sampur, ceklekan, ulap-ulap, jumputan, bapangan, kopyokan, swangan, semarangan, dan sogokan. Gerakan ini dipergunakan baik untuk tari alusan maupun gagahan.

3. Gerak Kembangan (Sekaran)

Gerak Kembangan ini kadang-kadang juga dipakai sebagai solah. Jenisnya sangat banyak, antara lain : Menjangan Ranggah, Miyak Glagah, Mudar Malang, Ngungak Bala, Kliling Lembehan, Tolehan Obah Lambung, Ukel Pakis, Kencak, Merak Didis, Merak Ngigel, Bagongan, Gambuh, Mara Seba, Waderpari nungsung baji, Tikus Ngungak Salang, Satria Jala, Dali nglampar Banyu, Pucang kanginan, dll. Ragam ini juga dipakai baik untuk alusan maupun gagahan.

4. Gerak Sendi (penghubung)

Sebenarnya gerak sendi sering juga meminjam dari gerak pindah tempat, atau pun gerak kembengan. Akan tetapi ada j uga gerak yang selalu terpakai dan berulang- ulang untuk menghubungkan antara ragam yang satu dengan ragam yang lain. Gerak itu adalah : mundur, mlangkah, besutan, sirig, dan keter.

Mundur mlangkah dipakai untuk menghubungkan ragam kembangan atau gerak yang akan menuju kembangan. Besutan dan keter dipakai berurutan untuk menghubungkan ragam solah pada tari gagahan, tetapi untuk alusan cukup dipakai besutan saja. Sirig dipergunakan antara kelompok-ragam satu ke kelompok ragam yang lainnya.

Formasi Tari Topeng Jabung

  1. Formasi Tari Raja

Dipakai apabila seorang raja sedang berada di pasewakan padajejeran I atau II. Terdiri dari rangkaian ragam kembangan dengan ragam berpindah tempat yang dihubungan oleh sendi-sendi tertentu, menurut karakter raja yang bersangkutan.

  1. Formasi Tari Patih

Formasi ini dipakai oleh seorang Patih yang menghadap raja pada setiap jejeran I atau II. Terdiri dari serangkaian Ragam Kembangan, ragam berpindah tempat dan sendi-sendi. Satu dan lain menurut karakter patih yang bersangkutan.

  1. Formasi Tari Prajurit Tunggal

Formasi dari ragam-ragam kembangan gerak berpindah tempat dengan sendi-sendi tertentu yang dilakukan oleh masing-masing prajurit ketika hendak menghadap raja pada jejeran I dan II.

  1. Formasi Tari Prajurit Masal

Susunan ini dilakukan oleh lima, enam atau lebih penari-penari prajurit dan menari bersama-sama, melingkar-lingkar dan membentuk formasi tertentu. Formasinya sangat sederhana, misalnya seperti lingkar- an tertutup, tapal kuda, berbaris diagonal, horizontal, lintasan angka delapan, dsb. Dipakai sesudah jejeran I atau II, dan disebut “bodhol-bala”, yang menggam- barkan gegap-gempitanya prajurit di medan perang.

  1. Formasi Tari Klana Gagah

Formasi ini biasanya muncul pada jejeran II, yaitu ketika seorang raja dari tanah sabrang dilukiskan sedang gandrung. Susunannya terdiri dari Ragam Kembangan, Ragam Solah, ragam berpindah tenfpht dan ragam sendi penghubung. Tidak kurang dari lima belas ragam solah dan sepuluh ragam kembangan bila dilakukan dengan lengkap. Membutuhkan waktu yang cukup lama.

  1. Formasi Tari Klana Alus

Susunan tari Klana Alus amatlah panjang dan lengkap. Terdiri dari ragam solah, ragam kembangan, gerak berpindah tempat dan sendi-sendi. Sebelum Gunungsari menari, terlebih dahulu abdinya yang bernama Patrajaya akan mengisi bebanyolan yang panjang. Selain menembang, menari, dan melawak, ia juga dibantu oleh pelawak-pelawak lain yang memeriahkan suasana. Saat ini adalah saat yang pal­ing disukai penonton. Tiada batas lagi antara pemain, pelawak, dan penonton. Bahkan dalangnya sendiri pun ikut melawak. Sesudah merasa puas, barulah Gunungsari menari. Pola-pola yang ditampilkan di dalam tariannya merupakan manifestasi dari tiruan terhadap gerak-gerak binatang seperti burung merak, kijang, ikan dalam air, dll.

Adegan panjang ini terkadang sampai memakan waktu selama dua jam tanpa memberi kesempatan pemain untuk turun dari panggung.

  1. Formasi Tari Perang

Berbeda dengan ragam-ragam yang telah diuraikan di muka, maka formasi tari perang ini mempunyai kekhu- susan tersendiri, terutama gerak untuk berpindah tempat yang disebut srisig. Adegan perang ini terkadang mengguriakan keris atau tidak bersenjata sama sekali. Perang dilakukan satu lawan satu, satu lawan dua, atau dua lawan dua.

Ada lima ragam gerak perangan, yaitu :

  1. Gagalan, yaitu saling menghantam tetapi tidak mengena;
  2. Tampelan, saling menampel dengan telapa k tangan, dengan satu telapak tangan atau dua telapak tangan.
  3. Ukelan, saling memegang dan memutar tangan la wan.
  4. Pusingan, saling mengadu kekuatan bahu dengan cara memutar tubuh dalam gerak arah berlawanan.
  5. Buwangan, salah seorang melemparkan tubuh lawannya sampai keluar pentas.

Itulah beberapa ragam gerak tari perang yang lazim digunakan pada setiap adegan perang dramatari Topeng Jabung.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Topeng Jabung Teater Tradisional Jawa Timur; Drs. Risman Marah, Drs. Supriyadi, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan , Jakarta, 1993/1994, hlm. 9-13

Sejarah Tari Topeng di Jawa Timur

Kesenian topeng sudah lama dikenal oleh nenek moyang bangsa Indo­nesia. Hampir setiap daerah di Indonesia mempunyai kesenian topeng.

OLYMPUS DIGITAL CAMERATopeng sebagai sarana pertunjukan kesenian sudah dimulai sejak jaman Mataram I pada abad IX Masehi, khususnya di lingkungan masyarakat “tradisi besar”, di kalangan keraton. Selanjutnya, dengan berpindahnya keraton dari Jawa Tengah ke Jawa Timur pada waktu pemerintahan raja Mpu Sindhok, kesenian topeng itu terbawa pula ke Jawa Timur. Kesenian ini lama kelamaan mulai dikenal di luar keraton, dan akhirnya menjadi milik rakyat. Tontonan ini dengan cepatnya meluas, menyebar ke berbagai pelosok daerah.

Di Jawa Timur, khususnya di Madura sejak lama juga sudah dikenal istilah topeng dhalang” (topeng dheleng). Diperkirakan pertunjukan ini sudah dikenal di Madura sejak abad XV – XVI.

Pertunjukan topeng memainkan karakter tokoh tertentu, baik yang halus, kasar, gagah, lembut, licik, buas, lucu, dan sebagainya. Pertunjukan ini selalu hidup, karena memainkan peranan dan watak dari tokoh tertentu. Hal ini pula yang menimbulkan dugaan bahwa pemunculan seorang tokoh tentulah harus didukung oleh hadirnya sebuah lakon yang didahului oleh lahirnya karya sastra.

Ada dugaan bahwa Kakawin Ramayana menjadi sumber lakon awal, sebab Kakawin Ramayana digubah pada jaman pemerintahan Raja Balitung, tahun 820- 832 Caka (898-910 Masehi).

Punokawan PotrojoyoSetelah pusat kerajaan berpindah ke Jawa Timur, muncul sumber baru seperti Mahabarata (Adiparwa dan seterusnya) yang digubah pada jaman pemerin­tahan Raja Dharmawangsateguh (913-938 Caka atau 991-1016 Masehi). Kemudian disusul oleh sastra Panji yang diperkirakan lahir pada jaman Kertanegara dari Singasari (1190-1214 Caka atau 1268-1292 Masehi).

Walaupun masih banyak karya-karya sastra lainnya di luar ketiga lakon tersebut, namun sampai sekarang lakon yang ditampilkan dalam permainan topeng dhalang di Jawa Timur, tidak pernah lepas dari ketiga epos, Ramayana, Mahabarata, dan Panji. Dalam perkembangannya, ternyata lakon Panji inilah yang paling dominan ditampilkan dalam pertunjukan topeng. Sementara lakon Ramayana dan Mahabarata lebih banyak ditampilkan dalam bentuk pertunjukan wayang wong yang tidak menggunakan topeng.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Topeng Jabung Teater Tradisional Jawa Timur; Drs. Risman Marah, Drs. Supriyadi, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan , Jakarta, 1993/1994. hlm.1-2

gbr. Koleksi Museum Anjuk Ladang