MAYJEN TNI (PURN) Prof. Dr. Moestopo

Moestopo
R. Moestopo lahir di Ngadiluwih, Kediri, Jawa Timur pada tanggal 13 Juni 1913. Pendidikan tertinggi yang ditempuh pada masa Belanda ialah STOVIT (Sekolah Dokter Gigi) yang diselesaikannya pada tahun 1937. Sesudah itu ia membuka prakatik sambil bekerja di STOVIT, bahkan pernah diangkat sebagai Wakil Direktur STOVIT.
Pada masa pendudukan Jepang, Moestopo mengikuti pelatihan tentara Pembela Tanah Air (Peta) angkatan kedua di Bogor, Jawa Barat. Selesai pelatihan, ia diangkat sebagai shudanco (komandan kompi) di Sidoarjo. Akan tetapi, kemampuan Moestopo melebihi kemampuan seorang shudanco. Oleh karena itu kemudian ia diangkat sebagai daidanco (komandan batalion) di Gresik.
Pada tanggal 18 Agustus 1945, sehari sesudah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, Jepang membubarkan kesatuan Peta, termasuk kesatuan Moestopo, dan senjata mereka dilucuti. Moestopo kemudian membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) Jawa Timur yang langsung dipimpinnya. Ia juga mengangkat dirinya sebagai Menteri Pertahanan At Interim Republik Indonesia. Tindakan itu dilakukannya agar dapat berunding dengan Komandan Tentara Sekutu dan Pimpinan Militer Jepang, yang oleh Jaksa Agung dikukuhkan dengan surat tertanggal 13 Oktober 1945, agar drg. Moestopo bertindak secara Menteri Pertahanan dan pelaksana tugas-tugas Menteri Pertahanan. Tindakan drg. Moestopo tersebut sangat menguntungkan bagi tetap tegaknya kedaulatan Republik Indonesia, karena sebagai Menteri Pertahanan ia menerima penyerahan kekuasaan Militer dan senjata dari Jepang.
Moestopo mempunyai andil yang besar dalam merebut senjata dari pasukan Jepang. Pada tanggal 1 Oktober 1945 para pemuda mengepung markas besar Jepang untuk merebut senjata. Moestopo meminta mereka menunda serangan sebab Jepang pasti akan membalas yang akan menyebabkan banyaknya jatuh korban. Ia segera menemui Mayor Jenderal Iwabe dan meminta senjata secara baik-baik. Iwabe menolak sebab ia pasti akan dipersalahkan oleh Sekutu. Hanya kepada Sekutulah Jepang harus menyerahkan senjata. Moestopo menegaskan bahwa ialah yang kelak akan mempertanggungjawabkan kepada Sekutu. Akhirnya Iwabe bersedia menandatangani surat penyerahan tersebut.
Moestopo menentang pendaratan pasukan Inggris yang mewakili Sekutu di Surabaya, walaupun Presiden Soekarno sudah menyampaikan pesan agar pendaratan itu tidak dihalang-halangi. Sambil berdiri dalam mobil dengan kap terbuka, ia berkeliling kota menyerukan rakyat agar melawan Inggris. Sebelum pasukan Inggris mendarat, Moestopo mengadakan perundingan dengan komandan Inggris, Brigjen Mallaby. Perundingan juga diadakan antara pihak Inggris dan pemerintah Jawa Timur. Inggris diizinkan menempati daerah pelabuhan. Akan tetapi, pada tanggal 27 Oktober, sehari sesudah kesepakatan itu dicapai, Inggris memasuki kota tanpa izin dan menduduki beberapa gedung. Akibatnya, pada tanggal 28 dan 29 Oktober berkobar pertempuran. Pasukan Inggris terdesak dan hampir hancur. Mereka meminta bantuan Presiden Soekarno untuk menghentikan pertempuran.
Sementara itu, Moestopo dan beberapa orang pasukannya berangkat ke Mojokerto untuk menyiapkan basis gerilya. Mereka ditangkap oleh pasukan Mayor Sabaruddin, bekas anak Moestopo dalam Peta. Moestopo dibebaskan, bahkan ia diantarkan ke Surabaya, tetapi yang lainnya dibunuh Sabaruddin. Moestopo langsung pergi ke tempat Presiden Soekarno sedang berunding dengan pihak Inggris. Ia dipensiunkan oleh Presiden dan diangkat sebagai Penasihat Agung Republik Indonesia.
Moestopo kemudian diserahi tugas sebagai Panglima Markas Besar Pertempuran Jawa Timur berkedudukan di Madiun. Pada waktu Angkatan Perang melaksanakan reorganisasi dan rasionalisasi, tahun 1948, Moestopo yang ketika itu berpangkat kolonel, diangkat sebagai Komandan Kesatuan Reserve Umum (KRU). Ia membawahi tiga KRU, salah satu di antaranya ialah KRU yang terdiri atas pasukan hijrah Siliwangi. Pada waktu PKI melancarkan pemberontakan di Madiun, Moestopo mengerahkan pasukan Siliwangi ini untuk menumpasnya.
Pada waktu agresi militer kedua Belanda, Moestopo bergabung dengan Panglima Tentara dan Teritorium Djawa (PTTD) Kolonel Nasution. Dalam pemerintahan militer yang dibentuk oleh Nasution, Moestopo diserahi tugas untuk urusan kesehatan.
Sesudah Perang Kemerdekaan berakhir, Moestopo diangkat menjadi Kepala Kesehatan Gigi Angkatan Darat. Pada tahun 1958 ia dikaryakan dalam jabatan Pembantu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan pada tahun 1961 dengan pangkat mayor jenderal, dikaryakan lagi sebagai Pembantu Menteri Pendidikan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP). Pada tahun 1962 Moestopo mendirikan Yayasan Universitas Prof. Dr. Moestopo yang menaungi Universitas Prof. Dr. Moetopo (Beragama) di Jakarta yang di kenal sebagai Kampus Merah Putih. Selain memimpin dan membina universitas tersebut, ia juga ikut mendirikan universitas/fakultas sebagai berikut :
a. Universitas Gajah Mada dan Fakultas Kedokteran Giginya.

b. Universitas Padjajaran (Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Publisistik dan Fakultas FIPPIA)

c. Universitas Indonesia (Fakultas Kedokteran Gigi)

d. Universitas Trisakti (Fakultas Kedokteran Gigi dan Fakultas lain-lain)

e. Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) Jakarta dengan 4 Fakultas yaitu, Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Ekonomi dan Fakultas Ilmu Komunikasi.

f. Universitas Sumatera Utara (Fakultas Kedokteran Gigi)

g. Turut membina Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga (Stovit)

h. Pendiri Pendidikan Berkelanjutan Ilmu Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), dengan 5 jurusan: Ortho, Opdent, Oral Surgery, Paedodontic, Prosthodontic.

i. Turut mendirikan dan memimpin Sekolah Lanjutan Oral Surgery Universitas Padjajaran Bandung.

j. Mendirikan Akademi Perawatan Gigi, Akademi Pertanian, Sekolah Teknik Gigi Menengah, Kursus Chair Side Assistence/Technik Gigi/Dental Hygienis, Yayasan Pendidikan Prof. Dr. Moestopo Bandung.

Mayor Jenderal Pur. Prof. Dr. Moestopo meninggal dunia pada tanggal 29 September 1986 di Bandung. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung. Ia menerima berbagai penghargaan; yang tertinggi ialah Bintang Mahaputra Utama RI dan Atas jasa-jasanya Pemerintah RI menganugerahi Gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor : 068/TK/Tahun 2007 tanggal 6 November 2007.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, Sumber:
http://pahlawancenter.com/pahlawancenterbaru/?p=2049

Ngekak Sangger

Ngekak Sangger ,,Ngekak Sangger merupakan sebuah tradisi  Upacara adat pengantin desa Legung, kecamatan Batang-batang, Kabupaten Sumenep, Madura. Tradisi ini masih beralku dan dilaksanakan, sampai sekarang.

Dalam upacara pernikahan, sebelum calon mempelai pria dipersilakan memasuki tempat upacara, terlebih dulu pihak calon mempelai wanita meminta bayaran berupa kesanggupan pihak calon mempelai pria untuk melakukan Tayub/Tandhang.

Kemudian calon mempelai pria dipersilakan masuk dengan cara berjalan jongkok menuju tempat upacara akad nikah. Upacara akad nikah dilakukan sesuai ajaran agama Islam yang dipimpin oleh seorang penghulu. Setelah pelaksanaan upacara akad nikah.

Acara selanjutnya sebuah prosesi adat yang disebut ngekak Sangger, yaitu mempelai pria diwajibkan merangkai bilah-bilah bambu untuk alas tempat tidur,  mempelai pria terlebih dulu harus diuji keterampilannya, yang kelak merupakan bekal dalam mengarungi hidup berumah tangga serta dalam melindungi keluarganya.

Arti Penganten Ngekak Sangger, dengan pengertian bahwa pernikahan bukanlah sekedar pertautan kedua mempelai, namun dimaknai sebagi masuknya penganten pria dalam ikatan keluarga besar sang isteri, seperti halnya sangger.

Sangger adalah sebuah rangkain yang terdiri dari bilah-bilah bambu yang rapi tersusun dalam satu ikatan. Dalam simbol tersebut sangger mempunyai maknauntuk mendidik penganten pria untuk selalu arif dan tertip, memegang sopan santun sejajar dengan kerabat si Istri. Dilambangakan seperti dalam rangkaian Sangger.

 

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Soetrisno R., Ensiklopedia Seni Budaya Jawa timur; Pendekatan Kajian Budaya,Surabaya Intelektual Club(SIC), Surabaya, 2008, hlm. 330

 

Kawin Ngeleboni

        Pada tradisi perkawinan masyarakat Osing di Kabupaten Banyuwangi terdapat adat yang di sebut “Kawin Ngeleboni”. Bentuk perkawinan ini terjadi karena pihak keluarga laki – laki tidak menyetujui anaknya menikah dengan gadis pilihannya sendiri.

Karena takut tidak bisa mempersunting gadis pilihannya itu, maka lelaki bersangkutan datang sendiri dan meminta kepada orang tua perempuan idamannya agar dapat diterima sebagai menantu.

Sementara perkawinannya belum disetujui dan diresmikan oleh orang tua masing-masing, laki-laki bersangkutan meminta agar diperkenankan tinggal di rumah keluarga si gadis.

Apabila permintaan lelaki tersebut disetujui oleh orang tua dan kerabat pihak si gadis, maka pelaksanaan pernikahannya sama seperti upacara pernikahan jenis colongan. Upacara perkawinan ngeleboni berlangsung sekitar tiga sampai empat hari setelah colok dari pihak perempuan mengutarakan masalah kepada fihak lelaki.

 Selama perkawinan belum diresmikan, kedua calon suami-isteri tidak diperkenankan hidup bersama. Upacara perkawinan selalu disertai acara makan bersama. Hidangan utama yang disediakan dalam upacara adalah tumpeng serakat dan pecel ayam.

congkok/colok

Perantara yang bertugas sebagai penghubung pihak keluarga calon pengantin laki-laki dengan pihak keluarga calon pengantin perempuan yang hendak dinikahkan. Congkok diberi tugas untuk menghubungi keluarga perempuan yang dilarikan oleh pacarnya (Melayokaken) atau menghubungi keluarga seorang laki-laki yang telah ngleboni (memberi tahu bahwa anak gadisnya telah dibawa lari untuk dinikahi). Seorang colok menjelaskan keberadaan kedua calon pengantin dan sekaligus memusyawarahkan hari pernikahan mereka.

Prof. Dr. Ayu Sutarto, M.A.: Kamus Budaya dan Religi Using, Lembaga Penelitian Universitas Jember, Jember, 2010. Hlm. 115-116

Kawin Colongan

Kawin Colongan, merupakan salah satu tradisi perkawinan masyarakat Using/Banyuwangi

Masyarakat Using/Banyuwangi memiliki beragam tradisi perkawinan salah satunya adalah “Kawin Colongan. Perkawinan jenis ini berdasarkan rasa saling mencintai, namun orang tua sang gadis tidak menyetujui. Karena tak direstui Sang jejaka dan Sang gadis sepakat bahwa pada hari tertentu Sang jejaka akan membawa lari Sang gadis.

Ketika melaksanakan colongan “mencuri gadis”, Sang jejaka biasanya ditemani oleh salah seorang kerabatnya yang mengawasi dari jauh. Dalam waktu ddak lebih dari 24 jam Sang jejaka harus mengirim seorang colok yaitu orang yang memberitahu keluarga Sang gadis bahwa anak gadisnya telah dicuri untuk dinikahi. Orang yang dijadikan colok tentu saja sosok yang mempunyai kelebihan dan kepandaian serta dihormati.

Utusan (colok) akan memberitahu orang tua Sang gadis bahwa anak gadisnya telah dicuri dan tinggal di rumah orang tua Sang jejaka melalui ungkapan “sapi wadon rika wis ana umabe sapi lanang, arane si X”. Yang dimaksudkan sapi wadon adalah Sang gadis dan sapi lanang adalah Sang jejaka.

Ketika mendapat pemberitahuan demikian, pihak orang tua Sang gadis yang semula kurang setuju biasanya tidak akan menolak karena beranggapan anak gadisnya tidak suci lagi. Kedua belah pihak kemudian mengadakan pembicaraan untuk merundingkan pernikahan mereka.

Colongan dalam masyarakat Using/Banyuwangi bukan dianggap sebagai perbuatan salah. Bahkan colongan dianggap sebagai bukti keberanian dan sekaligus simbol kejantanan, serta peredam konflik antara dua keluarga.

congkok/colok

Perantara yang bertugas sebagai penghubung pihak keluarga calon pengantin laki-laki dengan pihak keluarga calon pengantin perempuan yang hendak dinikahkan. Congkok diberi tugas untuk menghubungi keluarga perempuan yang dilarikan oleh pacarnya (melayokaken), atau menghubungi keluarga seorang laki-laki yang telah ngeleboni (memberi tahu bahwa anak gadisnya telah dibawa lari untuk dinikahi). Seorang colok menjelaskan keberadaan kedua calon pengantin dan sekaligus memusyawarahkan hari pernikahan mereka.

 

Prof. Dr. Ayu Sutarto, M.A.: Kamus Budaya dan Religi Using, Lembaga Penelitian Universitas Jember, Jember, 2010. Hlm. 114-115

Kawin Angkat- Angkat, Kabupaten Banyuwangi

Jenis perkawinan yang dilaksanakan di daerah Kabupaten Banyuwangi ini,  karena kehendak orang tua dari kedua belah fihak (fihak laki-laki dan fihak perempuan), sebelum pernikahan dilangsungkan terlebih dahulu dilakukan acara lamaran oleh keluarga calon pengantin laki-laki kepada pihak keluarga calon pengantin perempuan.

Pada umumnya, lamaran dilakukan pada waktu sore hari sekitar pukul 17.00. Dalam acara lamaran ini, pihak laki-laki membawa penganggo komplit “pakaian dan perhiasan lengkap” seperti gelang, cincin, baju, kain panjang (sewek), sabun, wiski maupun anggur. Penganggo komplit ini tidak boleh dikenakan sebelum perkawinan disahkan, sebab apabila pernikahan batal, benda-benda tersebut harus dikembalikan kepada pihak laki-laki (dalam kasus-kasus tertentu pihak laki-laki terkadang menolak pengembalian penganggo bukan karena alasan menolak pembatalan perkawinan, melainkan karena persoalan harga diri).

Pihak laki-laki juga membawa peras suwun yakni perlengkapan berupa:

  • gedang sri,
  • kembang andong,
  • kembang macan,
  •   godhong ketirah,

perlengkapan ini mempunyai makna tertentu. Gedang sri mempunyai makna sebagai simbol orang yang masih jejaka. Kembang andong mempunyai makna pihak yang mengadakan perhelatan. Kembang macan mempunyai makna agar pihak yang dilamar tidak marah. Sementara godong ketirah mempunyai makna agar gadis yang dilamar bersedia mengikuti pihak laki-laki.

Sebelum upacara pernikahan berlangsung, biasanya baik di rumah laki-laki maupun di rumah perempuan diadakan “ngersaya“, yaitu kerja gotong royong dari para kerabat dan tetangga untuk mempersiapkan tempat dan

perlengkapan upacara. Kedua calon pengantin dilarang bepergian. Agar calon pengandn perempuan kelihatan segar dan candk pada waktu pesta, maka diadakan upacara “ngasap” (meratakan gigi) dan badannya “dilurus” (luluran). Pada malam harinya, sebelum pesta pernikahan dihelat diadakan acara melek-melekan “tidak tidur” semalam suntuk oleh keluarga dan tetangga.

Menurut kepercayaan orang Using melek-melekan ini merupakan sarana untuk memohon keselamatan dan terhindar dari gangguan dari roh-roh jahat. Setelah melangsungkan akad nikah atau ijab secara Islam di hadapan penghulu, kedua mempelai melakukan upacara makan bersama dengan sajian hidangan berupa kokoh kelor dan keluthuk jagung (brondong).

Kokoh kelor mengusung pesan agar kedua mempelai dapat menjalani kehidupan dan dapat berkembang dengan mudah seperti tanaman kelor. Sementara brondong jagung mempunyai makna agar kedua mempelai dapat dengan gampang mencari sumber penghidupan bagi kelangsungan bahtera rumah tangga dan keluarga yang baru dibangun.

Pelaksanaan upacara perkawinan biasanya berlangsung pada senja hari setelah warga selesai bekerja di sawah. Upacara ini dimulai dengan upacara “surup” yaitu upacara mempertemukan kedua mempelai di kursi pelaminan, di rumah orang tua mempelai perempuan.

Pada umumnya mempelai wanita mengenakan pakaian gaya Sritanjungan dengan gelung melingkar ala Damarwulan. Mempelai kemudian diarak dari tempat rias menuju ke tempat penyelenggaraan pesta. Dalam arak-arakan tersebut mempelai laki-laki biasanya naik kuda sedangkan mempelai perempuan ditandu.

Prof. Dr. Ayu Sutarto, M.A.: Kamus Budaya dan Religi Using, Lembaga Penelitian Universitas Jember, Jember, 2010. Hlm113-114

Arak-arakan Kamantan Madura

Di dalam suatu tatanan upacara adat kamantan atau perkawinan/ pernikahan adat Madura terdapat dua macam arak- arakan. Pertama arak-arakan, sewaktu mengiring kemantan Laki-laki menuju ke tempat kemanten Wanita. Kedua arak-arakan saat kedua mempelai sudah dipertemukan.

Arak-arakan Pertama,

Arak – arakan dalam prosesi penghantar pengantin laki-laki menuju ke kediaman pengantin wanita. Masing-masing pelakunya membunyikan rebana. Bermacam-macam syair religius dan berbagai pantun dilagukan. Kerapkali Haddrah dilengkapi dengan sebuah instrumen jidor atau beduk. Apabila demikian, maka ansambel ini disebut Haddrah Jidor atau Haddrah Jidur. Akhir-akhir ini.

Pengantin laki-laki dengan seorang atau dua orang pengiringnya yang berpakaian dan berhias serupa dengannya berjalan atau menunggang kuda di belakang kelompok pemusik dan penari Gambu atau diapit oleh para penari Gambu tersebut. Kuda yang ditunggangi masing-masing dihias dan dituntun oleh seorang sais. Sebuah guling diletakkan di atas pangkuan. Jika para pengiringnya tidak berpakaian seperti mempelai pria, maka mereka hanya berjalan mengiringkannya saja.

Pengantin laki-laki dan pengiringnya memakai celana panji-panji, berkain rapek, setagen, ikat pinggang, kelatbahu, gelang, kalung kace, dan atribut penutup kepala yang terbuat dari rangkaian bunga melati, mawar, kantil, dan kenanga berwarna putih, merah, kuning, dan hijau. Untaian bunga kenanga dan daun pandan yang berwarna hijau menjuntai dari kedua telinga sampai dada.

Baik pengantin laki-laki maupun pengiringnya tidak mengenakan baju dan alas kaki. Pengantin laki-laki dan juga pengiringnya berbedak putih yang dipakai sangat tebal dan seluruh badan yang tidak tertutup pakaian berbalur bedak berwarna sangat kuning. Mereka berjalan kaki atau dapat juga masing-masing menunggang kuda berhias dan berpayung kebesaran.

Sebuah bangunan terbuat dari bambu beratap kain menyerupai tenda yang diusung oleh enam sampai delapan orang kadang-kadang dipakai untuk melengkapi atau menggantikan payung kebesaran. Beberapa orang sanak keluarga dan kerabat biasanya wanita beriring-iringan membawa bhan gibhan, yaitu sesuatu berupa barang atau makanan untuk disampaikan kepada pengantin wanita dan keluarganya.

Mereka berada di bagian akhir arak-arakan. Suara rebana yang ditabuh, syair-syair yang dilagukan, bersama dengan beduk yang bertalu-talu, dan sorak sorai menjadi tengara kedatangan rombongan pengantin laki-laki.

 

Arak-arakan Kedua

           Prosesi upacara mengarak kedua mempelai, pada prosesi ini pengantin wanita duduk bersila di dalam sebuah tandu berhias yang diusung oleh empat orang laki- laki. Pengantin laki-laki berjalan atau menunggang kuda di belakang tandu. Ia mengenakan pakaian kebesaran yang disebut pangantan leggha, yaitu berkain rape’, mengenakan penutup dada tanpa kebaya, kelatbahu, gelang, subang, kalung kace, kepala dipenuhi bunga-bunga seperti halnya pengantin laki-laki, wajah berbedak putih, serta berbalur bedak kuning di seluruh tubuhnya. Di depan tempat ia duduk diletakkan sebuah bantal.

Pengantin wanita biasanya ditemani oleh beberapa orang gadis kecil sebagai pengiringnya sepanjang arak-arakan. Para pengiring ini berdandan serupa dengan mempelai wanita. Kadang-kadang mereka juga tampak mengenakan pakaian sehari-hari saja. Mereka juga diusung oleh empat orang laki-laki di atas tandu berhias dan dalam prosesi berada di belakang mempelai wanita. Mereka dapat mempergunakan tandu yang berbeda-beda atau dapat pula berada dalam tandu yang sama dengan mempelai.

Pengantin wanita memakai gaun panjang berwarna putih dengan kerudung dan bunga- bunga imitasi di kepala. ( Kini di sebagaian wilayah dijumpai pasangan pengantin yang berpakaian model Barat atau sesuai dengan kreasi perias mereka).Tangannya juga memegang rangkaian bunga imitasi. Anting-antmg, kalung, cincin, bros, serta gelang gemerlapan merupakan aksesoris yang dipakai. Ia juga mengenakan sarung tangan berwarna putih dan kacamata hitam. Pengantin laki-laki mengenakan jubah panjang dan kerudung kepala, sarung tangan juga berwarna putih, serta memakai ikat pinggang. Kepalanya berhias mahkota bunga imitasi. Ia memegang sebilah keris dengan untaian bunga melati atau bunga imitasi dan juga mengenakan jam tangan, cincin, serta kacamata hitam. Sepasang pengantin ini masing-masing memakai kaos kaki berwarna putih dan alas kaki berupa sepatu atau sandal. Meskipun mereka memakai sandal, tetapi kaos kaki tetap dikenakan. Keduanya memakai corrective make-up.

Tata busana dan rias pengantin medern sudah banyak dipergunakan baik di kota-kota maupun di pedesaan, namun busana tradisional tetap dipergunakan berdampingan dengan tata busana dan rias modern. Keluarga yang cukup berada akan memilih kedua busana teresebut (tata busana dan rias modern dan Tradisional). Namun biasanya tata busana dan rias tradisional dikenakan pada saat prosesi berjalan sampai awal kedua mempelai disandingkan di pelaminan, selanjutnya  mereka berganti pakaian yang lain seperti yang telah direncanakan.

Dalam arak-arakan yang dilakukan, kedua mempelai berjalan kaki dengan diiringi seni pertunjukan semacam Haddrah yang dilengkapi dengan tambur dan simbal. Turut serta di dalam arak-arakan beberapa orang peraga yang mempergunakan topeng dan pakaian badut topeng dan pakaian menyerupai binatang-binatang tertentu, seperti beberapa ekor kuda, burung, kera, dan  singa. Semua yang memperagakannya laki-laki  dewasa.

Beberapa anak-anak dan remaja laki-laki kadang-kadang ikut pula di dalam prosesi ini atau mereka di tempatkan dipintu gerbang kediaman mempelai wanita menunggu  kedatangan rombongan yang mengadakan prosesi. Anak- anak dan remaja laki-laki ini mengelu-elukan kedatan mereka dengan melambai-lambaikan bendera-bendera kain bertangkai bambu yang dipegang oleh masing-masing  anak. Di setiap ujung atas bambu yang dipergunakan sebagai tangkai bendera diberi guntingan hiasan yang  terbuat dari warna-warni kertas. Selain bendera, mereka  juga membawa hiasan atau bunga-bunga imitasi.

Anak-anak dan remaja laki-laki ini kebanyakan adala sanak keluarga, kerabat, atau anak-anak tetangga sekkitar.  Mereka mengenakan pakaian berupa kemeja berlengan  panjang berwarna putih, celana panjang berwarna sama dengan kemejanya, dan memakai peci hitam. Selemb kain berwarna menyolok bersulam benang emas dipakai di leher masing-masing. Pakaian ini biasanya dipinjam dari pondok pesantren atau dari tempat-tempat yang menyewakan perlengkapan pengantin.

Arak-arakan; Seni Pertunjukan dalam Upacara Tradisional di Madura,Tarawang Pers, Yogyakarta, 2000. Hlm.47-59

 

Kamanten Madura, Tata Rias

Adat Madura dalam melaksanakan pernikahan juga di dudukkan di pelaminan. Tentu saja dalam masyarakat pedesaan misalnya tentu berbedadengan masyarakat kota bahkan juga dengan “masyarakat pinggiran Pada masa lain di pedesaan – pedesaan Madura merias mempelai putraputri mereka dengan tata rias yang warnanya sangat menyolok.

Pemilihan warna tidak terlepas dari yang menyolok itu seperti warna merah, biru bahkan bedaknyapun dicampnr dengan warna-warna kuning yang kemilau dan kedua mempelai memakai kacamata hitam. Pada dasarnya penganten Masyarakat Orang Madura di selnuruh Madura memiliki kesamaan .

Manten laki-laki ataupun perempuan memakai celana hitam lengkap dengan ornamen , bordil atau manik-manik. Bagi golongan bangsawan menggunakan blangkon , jas , dasi , kain panjang , hiasan bunga di kepala pola rumbai atau dikeluarkan dan berselop.

Saat mempelai disandingkan, di hadapannya di sajikan tandak dengan gending- gending kesukaan masyarakat sebab saat itu tamu-tamu yang diundang berdatangan. Biasanya para tamu tersebut menari dengan tandak dalam acara tayup. Setelah tengah malam tayub diakhiri tetapi tetabuhan terus menggema.

Bahkan saat itu sudab tiba waktunya pentas drama dimulai,biasanya lakon yang disajikan berjudul Lerap atau Pak Sakera, yaitu lakon-lakon yang penuh perkelahian. Saat permainan pentas berlangsung dan diiringi sorak-sorai penonton, kedua mempelai sudah berada di kamarnya .

Tata rias kemanten Madura di empat daerah kabupaten, masing-masing menurut kesukaan masyarakatnya. Seperti di daerah Sumenep pakaian “legha” yaitu pakaian jenis keluarga kraton , sangat disukai.

A.Sulaiman Sadik: Mengenal Selintas Tentang Budaya Madura (2005), hlm. 12 – 13

Prosesi Pra Perkawinan, Madura

Dalam mencarikan jodoh anak laki-lakinya biasanya melalui proses yang panjang sebelum anaknya tersebut ditunangkan. Jauh sebelumnya pihak orang tua anak laki-laki mencari informasi tentang kehidupan dara yang akan disunting termasuk kehidupan keluarganya .

Hal ini dikuatirkan jangan-jangan keluarga Si Dara memiliki kehidupan yang sangat tercela. Setelah diketahui bersih dari hal-hal yang tercela pihak laki-laki mengirim utusan ke rumah Si Dara untuk mempertanyakan apakah dara yang dimaksud sudah dipertunangkan atau belum. Proses ini dinamakan “nyalabar”.

Apabila ternyata Si Dara masih belum bertunangan maka proses selanjutnya utusan pibak laki-laki tersebut langsung menyatakan niatnya untuk menyunting Si Dara. Pihak Si Dara tidak memberi keputusan diterima atau tidak melainkan masih berjanji akan mengabarinya kemudian.

Hal ini karena masih mau berembuk dengan seluruh anggota keluarga. Nah pada masa itulah dari pihak Si Dara melakukan penelitian pula , apakah calon menantunya dan keluarganya itu orang baik atau mempunyai aib dalam kehidupannya. Apabila dalam penelitiannya ternyata pihak laki-laki adalah keluarga baik-baik maka kemudian keluarga Si Dara mengutus orang ke pihak laki-laki mengabarkan kalau pinangannya diterima.

Proses selanjutnya pihak laki-laki kembali mengirim utusan ke pihak Si Dara, untuk berterima kasih atas penerimaannya. Proses ini dinamakan nale’e paghar” (Bahasa Indonesia : mengikat pagar dengan tali)dan saat proses ini utusan juga menyampaikan pesan pihak laki-laki bahwa lamaran akan segera dilakukan. Penyampaian berita tentang lamaran ini dinamakan “mancet oca( Bahasa Indonesia : mengukuhkan perjanjian).

Tak lama setelah ” mancet oca’ ” tersebut dilanjutkan dengan proses melamar. Apabila saat untuk melamar tiba, pihak laki-laki segera memberi tahu seluruhfamilinya dan pada saat yang sudah ditentukan para famili pihak laki-laki berdatangan untuk ikut pergi melamar.

Masing-masing membawa kue dari berbagai jenis sebagai sumbangan sedangkan orang tua calon mempelai laki- laki banyak menyiapkan kue perawanyang dalam adat Madura dinamakan ” Jhajhan Praban “( Kue Perawan) dan seperangkat pakaian lengkap dengan ininyak wangi, saputangan, sandal, bedak dan lainnya sesuai dengan kebutuhan perempuan untuk berhias.Selain itu disiapkan pula sirih pinang dan sesisir pisang. Khusus jhajhan praban dibuat dari tepung gandum atau terigu, dengan ukuran besar kurang lebih bergaris tengah 40 CM. Karena itu kue perawan tersebut cuma sebuah dan “jhajhan prabantersebut dinamakan “dolban”.

 Sedangkan jenis pisang yang dibawa saat lamaran tersebut juga mengandung makna . Bila yang dibawa gheddhang susu (pisang susu) maka pertunangan tersebut akan dilakukan sebentar dan Si Dara akan segera dinikahi.Tetapi kalau pisang lain , artinya selain pisang susu maka hari pernikahan masih cukup panjang ,artinya tidak kesusu.

Proses selanjutnya penentuan hari pernikahan. Pihak laki-laki pada saat menyampaikan tanggal dan hari pernikahan mengutus orang lain dan utusan tersebut terdiri dari para sepuh serta membawa sekedar sumbangan biaya dari pihak laki-laki ke keluarga si dara. Sumbangan semacam itu dinamakan saserra’an ( penyerahan biaya ) Pada hari berlangsungnya akad nikah ,pihak Si Dara mengundang semua famili , teman dan tetangganya untuk meramaikannya.

Mempelai laki-laki diantar para sepuhnya dan seteiah akad nikah selesai manten laki-laki segera dibawa ke kamar manten perempuan untuk dipertemttkan. Ketika mereka bertemu Si Suami segera “ngosap bun-embunnanna se bine” ( mengusap ubun-ubun istrinya ) sambil mengucap : ” Ba’na tang bind, sengko’ lukena ba’na ” ( kamu istriku ,aku suamimu ) ,kemudian si suami menyerahkan mas kawin biasanya berupa seperangkat alat sholat ( sajadah dan mokenna ) .

A.Sulaiman Sadik: Mengenal Selintas Tentang Budaya Madura (2005), hlm. 11 – 12

 

Adat Perkawinan Madura

Sistem kekerabatan dalam masyarakat Orang Madura sudah tertata baik dan penggunaan istilah dalam keluarga misalnya sudah jelas , antara orangtua, anak serta lainnya yang menyangkut keturunan , seperti nenek, kakek ,paman, bibi , keponakan , ipar, dan lainnya.

Pemisahan tersebut sudah demikian jelasnya sebingga dalam perkawinan misalnya tidak terjadi hal-hal di luar budaya kemanusiaan . Dalam kaitan ini etnik Madura telah mengatur dan membudayakan beberapa hal yang sebenarnya juga dimiliki etnik-etnik lain yang sudah beradap. Dt antara aturan-aturan tersebut dapat klta lihat pada Adat Perkawinan.

Bagi etnik Madura perkawinan merupakan perbuatan yang dimulyakan . Bagi Orang Madura menikahkan anak perempuannya merupakan sesuatu yang memberi “gengsi. Menurut paham “Madura Lama“ makin cepat anak perempuannya menikah makin cepat pula gengsi itu diperolehnya.

Karena itu pada masa lalu banyak dari anak perempuan Madura yang dinikahkan di bawah umur. Tentu saja keadaan seperti itu sangat merepotkan Kantor Pencatat nikah sebab di situ ada aturan tertentu yang membolehkan seseorang melakukan pernikahan , sebut saja bahwa pernikahan bisa dilakukan dalam usia tertentu baik bagi Si Laki-laki maupun Si Perempuan, pasti sekali anak di bawah umur tidak diperkenankan menikah.

Hal ini sudab dipertegas dalam Undang-Undang Perkawinan kita bahwa usia boleb menikah bagi laki-laki paling sedikit berusia 20 tahun dan 16 tahun bagi Si Perempuan.  Perkawinan di Madura pada umumnya melalui proses pertunangan , namun dalam hal perkawinan ini ada hal yang sangat dihindari yaitu pernikahan yang dinamakan :

1.    Robbhu bhata ( Bbs Indonesia : batu bata roboh ) merupakan pernikahan dari dua orang laki-laki bersaudara menikahi dua perempuan yang bersaudara pula.

2.    Salep tarjha ( Bahasa Indonesia : saling menendang, menyilang ). Pernikahan “Salep tarjha ” ini merupakan pernikahan dari dua orang laki-laki dan perempuan bersaudara menikah dengan dua orang laki-laki juga bersaudara.

3.    Mapak Balli (bertemu wali ). Pernikahan ini dinamakan demikian karena ayah dari kedua mempelai bersaudara. ltulah tiga bentuk pernikahan yang sedapat mungkin dihindari oleh Orang Madura.

 

 

A.Sulaiman Sadik: Mengenal Selintas Tentang Budaya Madura (2005), hlm. 10 – 11

Bubak Temanten

Upacara Bubak Temanten adalah suatu bentuk upacara yang dilaksanakan oleh seseorang pada saat mantu putra sulung, di daerah Kabupaten Blitar, masih banyakorang melaksanakan upacara Bubak Temanten.

Upacara daerah Bubak Temanten sudah sejak zaman dulu dilaksanakan dan sampai sekarang masih berjalan, konon budaya ini telah ada sejak tahun 1875, meskibudaya ini tampaknya ada gejala tersisih dan terdesak oleh budaya modern yang lebih menarik dan lebih singkat serta mudah dilaksanakannya, namun demikian masih banyak yang melakukan.

Diangkatnya upacara Bubak Temanten dalam fes­tival Upacara Adat Daerah dikandung maksud agar bisa diterima oleh generasi muda dan direstui oleh pejabat yang berwenang yang akhirnya upacara adat daerah Bubak Temanten ini bisa berkembang dan lestari.

Peralatan atau sesaji terdiri atas kemarang, berisi pisang raja setangkep, gula kelapa setangkep, kelapa satu butir, ayam yang masih kecil, cok bakal„ kinarigan, tikar yang masih baru dan dilapisi kain/mori putih, kendhil/klenthing sebanyak tiga buah, kendhil pertama berisi: beras ketan, beras merah, dan dua butir telur; kendhil kedua berisi: buah-buahan dan kue; kendhil ketiga berisi: kelapa muda berisi santan, dan kembar mayang.

Kendhil/klenthing adalah lambang dari cupu manik astagina. Cupu manik astagina merupakan tempat untuk menyimpan titipan wiji banyu suci purwitasari dari seorang laki-laki kepada istrinya, hal ini yang nanti akan dipergunakan untuk dialog antara ayah dan ibu calon temanten.

Ketan dan beras merah melambangkan rezeki dan berkah, dengan telah dilaksanakannya bubakan diharapkan rezeki dan berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa bisa lancar, baik rezeki untuk orang tua calon temanten maupun rezeki calon temanten, sedangkan kelapa muda yang diisi santan sebagai gambaran air susu.

Jadi pada acara bubak temanten ada seorang putra menyerahkan kelapa muda kepada ibu, dengan maksud sebagai persembahan seorang putra yang sudah dewasa kepada ibunya, mengingat bahwa pada masa anak-anak disusui oleh ibunya. Telur melambangkan bahwa manusia berasal dari benda yang berwarna merah dan putih

Soetrisno R., Ensiklopedia Seni Budaya Jawa timur; Pendekatan Kajian Budaya,Surabaya Intelektual Club(SIC), Surabaya, 2008, hlm. 73-74