Pulau Bawean 1

Pulau Bawean sebagai sebuah pulau yang berada di Laut Jawa, yaitu di antara Pulau Jawa dan Pulau Kalimantan, Pulau Bawean memiliki posisi geografis yang cukup strategis. Untuk mencapai bagian timur kepulauan Nusantara, Pulau Bawean ikut memegang peranan sebagai salah satu lokasi transit bagi alat perhubungan laut di masa lalu. Mengingat kedudukannya sebagai salah satu mata rantai dari jalur perdagangan dan politik, tidak heran apabila Pulau Bawean sejak dulu merupakan tempat yang selalu diperebutkan oleh kelompok-kelompok kekuatan tertentu.

Berdasarkan beberapa sumber, diketahui bahwa suatu kelompok kekuatan di Pulau Jawa ikut memperebutkan Pulau Bawean. Di bawah pimpinan Ratu Kalinyamat yang meninggal sekitartahun 1579, Jepara sebagai salah satu pusat perdagangan dan politik di pesisir utara Pulau Jawa memiliki pengaruh yang cukup besar di wilayah perairan Laut Jawa. Untuk mempertahankan hal itu, pada tahun 1593, Pangeran Jepara — kemenakan sekaligus anak angkat Ratu Kalinyamat– yang menjadi penguasa Jepara, memerintahkan pasukannya untuk menduduki Pulau Bawean (Graaf & Pigeaud,1985).

Selanjutnya pada tahun 1619 ketika kota Tuban ditundukkan oleh Sultan Agung dari Mataram, Pulau Bawean dijadikan tempat pelarian oleh Pangeran Dalem, penguasa Tuban (Graaf & Pigeaud,1985). Tidak diperoleh keterangan tentang kelompok kekuatan mana yang waktu itu memegang kekuasaan atas Pulau Bawean. Hanya pada tahun 1622, seperti yang disebut oleh sumber Belanda, diketahui bahwa Pulau Bawean merupakan wilayah yang dikuasai Surabaya (Graaf, 1986).

Sumber lain juga menyebutkan adanya utusan Sunan Giri yang sempat menetap di Pulau Bawean dalam pelayarannya menyebarkan agama Islam ke Pulau Kalimantan dan pulau-pulau kecil di bagicin timur Nusantara. Kisah tentang kejadian ini masih hidup dalam bentuk cerita turun-temurun pada masyarakat Pulau Bawean sekarang. Begitu pula halnya dengan kisah kedatangan tokoh-tokoh lain dari berbagai tempat dan maksud ke Pulau Bawean.

Dapat disebutkan di sini adanya orang asing yang menulis tentang Pulau Bawean, walaupun tidak secara khusus meneliti data arkeologi, yakni JE Jasper (1906) dan C Lekkerkerker (1935). Selain itu, peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional pernah pula berkunjung ke pulau tersebut pada tahun 1970-an. Di luar hasil kerja mereka, informasi yang berhubungan dengan sumberdaya arkeologi Pulau Bawean masih sangat terbatas.

B.  PERMASALAHAN
Dari berbagai sumber sejarah yang ada, diketahui bahwa di masa lalu Pulau Bawean mempunyai peran yang cukup penting dalam percaturan politik maupun ekonomi. Meskipun demikian, belum banyak yang diungkapkan mengenai bukti-bukti fisik yang menunjang keterangan yang diperoleh dari sumber-sumber sejarah tersebut di atas. Permasalahan yang akan diungkapkan melalui penelitian ini adalah sejauh mana bukti fisik atau data arkeologis dapat menunjang keterangan yang disebutkan dalam sumber- sumber sejarah. Selanjutnya akan diupayakan untuk mengungkapkan pula beberapa aspek kehidupan di Pulau Bawean di masa lalu melalui tinggalan arkeologis maupun etno-arkeologisnya, misalnya saja aspek sosial-budaya dan sosial-ekonomi

C.  TUJUAN DAN SASARAN PENELITIAN
Penelitian arkeologi Islam di Pulau Bawean tentu tidak lepas dari masalah yang berkaitan dengan proses Islamisasi di Nusantara. Hingga saat ini, Pulau Bawean sebagai salah satu lokasi transit, yang menempatkannya sebagai pusat berkumpulnya manusia dengan berbagai ragam budaya dan kepentingannya di masa pertumbuhan dan perkembangan Islam di Indonesia, belum banyak diteliti.

Mengingat hal tersebut di atas, penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang karakter sisa budaya di Pulau Bawean. Dengan mengetahui karakter sisa budaya tersebut, diharapkan dapat diungkapkan pula berbagai aspek kehidupan masyarakat Bawean di masa lalu. Dengan demikian kegiatan ini dimaksudkan sebagai upaya mencari, mengumpulkan, dan melengkapi informasi mengenai sumberdaya arkeologi wilayah tersebut, khususnya yang bercorak Islam. Hasil yang diperoleh diharapkan dapat menunjang usaha pengungkapan berbagai aspek kehidupan budaya masyarakatnya pada masa pertumbuhan dan perkembangan Islam. Keseluruhannya dapat pula dikaitkan dengan upaya pengamanan dan pelestarian sisa hasil budaya masyarakat Indonesia masa lampau, serta kemungkinan pengembangan dan pemanfaatannya.

Berkenaan dengan hal itu, sasaran penelitian kali ini adalah seluruh tinggalan di wilayah Pulau Bawean Semuanya diarahkan untuk menjaring pengenalan berbagai sumber daya arkeologinya, baik dari segi seni bangun atau seni hias, pola penyebaran situs dan tinggalan lepasnya, maupun latar belakang sejarah dan etnografis.

D. METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian bertipe eksploratif dengan penalaran induktif. Gambaran karakter sisa kebudayaan diharapkan terjaring melalui generalisasi atas hasil analisis terhadap setiap bentuk data yang didapat di lapangan. Sebagai suatu kegiatan eksploratif maka penelitian dilakukan dalam bentuk survei. Pelaksanaan survei meliputi langkah-langkah sebagai berikut.

1.    Plotting situs yang dijumpai di wilayah penelitian.
2.    Observasi dan pencatatan objek-objek arkeologi berikut kaitannya dengan lingkungan di mana objek tersebut berada.
3.    Perekaman data dalam bentuk gambar dan foto.
4.    Wawancara terbatas untuk keperluan arkeologi sehubungan dengan keberadaan situs.

Hasil survei tadi, dalam batas tertentu merupakan data yang akan dianalisis. Pelaksanaan analisis itu sendiri merupakan proses pengolahan atas data arsitektural, seni hias, dan sebagainya. Tahapannya meliputi analisis awal yang dilakukan secara umum terhadap objek arkeologi selama kegiatan survei berlangsung dan analisis lain yang berkonteks, misalnya analisis lokasional.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Berita Penelitian arkeologi N0. 4, Hasil Budaya Masyarakat Pulau Di Pulau Bawean, Jawa Timur. Yogyakarta 1998, hlm. 1-3

 

Ojung di Situbondo

Melongok tradisi musiman kesenian ojung di Situbondo, Kabupaten Situbondo memiliki kesenian unik yang dilirik Wisatawan Amerika. Tradisi kesenian ojung sudah menjadi tradisi tahunan bagi warga Desa Bugeman, Kecamatan Kendit, Kabapaten Situbondo, kemarin. sedikitnya ratusan pasang mata warga desa dan desa tetangga ikut menyaksikan permainan tradisi ojung di lapangan desa setempat.

Tradisi ojung yang diyakini sudah ada sejak Abad ke 13 itu, masih menjadi tontonan menarik bagi masyarakat Kota Situbon­do,  Tak hanya warga setem­pat, namun pengunjung juga datang dari sejumlah daerah terdekat, seperti Bondowoso dan kabupaten Probolinggo. Bahkan permainan tradisi ojung ini juga mendapat perhatian wisatawan manca Negara. Salah satunya Colling Thomas Hening, wisatawan asal Amerika Serikat (USA).

Colling mengaku sudah lama mendengar tradisi ojung ini. Colling mengaku tertarik untuk melihatnya, karena selama dirinya melancong ke berbagai Negara, tak pernah melihat permainan unik seperti tradisi tradisi ojung. “Ini sangat memukau dan menarik,” ujar Colling bersama penerjemahnya, ditengah-tengah lokasi atraksi ojung, kemarin. Permainan ojung merupakan tradisi yang sudah berlangsung secara turun temurun. Permainan ojung hanya boleh dilakukan kaum pria. Dengan dilengkapi senjata rotan, para pemain ojung harus beradu ketangkasan untuk menghindar maupun memukul  lawannya di atas panggung.

Tak hanya orang tua, permainan ojung ini juga mulai diminati anak- anak muda, uniknya, meski tradisi ini mirip perkelahian, namun pemain ojung akan tetap saling bersalaman, meski tubuhnya terluka sabetan rotan. Tak heran jika tradisi ojung ini menjadi salah satu asset kebudayaan warga Situbondo. “Bahkan permainan ojung ini pernah ditampilkan dalam acara pekan kebudayaan nasional di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta beberapa waktu lalu,” ujar Kepala Desa Bugeman, Udit Sudiasto.

Menurut Udit, tradisi ojung sebenarnya bagian dari selamatan 1 Desa Bugeman. Menurut Udit, siapapun menjadi Kepala Desa Bugeman, harus tetap melaksanakan tradisi ini, karena warga setempat meyakini tradisi ini akan menjauhkan dari malapetaka.

Udit menambahkan, selain harus menggelar ojung setiap tahunnya, tempat pelaksanaan ojung juga tak boleh berpindah. “Tradisi ojung harus tetap dilaksanakan di Dusun Belengguan.”… Awi.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Sawawi:  Bhirawa, Kamis Wage, 30 Januari 2014

To’-oto’

To’-oto’ Sebagai Tindakan Sosial-ekonomi, tujuan dilakukannya kegiatan arisan dalam strata sosial apapun di Indonesia ini memiliki dua tujuan mendasar, yakni mengakrabkan sesama anggotanya dan adanya motif ekonomi. Hanya saja motif mana dari kedua motif tersebut yang lebih dominan pada tiap-tiap kelompok arisan akan berbeda. Demikian pula dengan to’oto’ sebagai kelompok arisan orang Madura di Surabaya. Sesuai dengan keberadaan mereka sebaqai kaum pendatang dengan tingkat sosial-ekonomi yanq rata-rata termasuk golongan menengah ke bawah, motivasi didirikannya suatu kelompok to’-oto’ pasti pada mulanya didasari oleh unsur kekerabatan/kesukuan pada saat ini lebih didominasi motif-motif ekonomi.
Pada awal perkembangannya to’-oto’ (yang secara harafiah artinya: kacang, yakni makanan ringan yanq selalu disuguhkan setiap kali diadakan pertemuan kelompok orang-orang Madura) adalah perkumpulan kedaerahan orang-orang dari Sampang dan Banqkalan yang berada di perantauan yang bertujuan untuk menguatkan ikatan kekerabatan dan ikatan persaudaraan antar sesama daerah asal. Perkumpulan kedaerahan ini adalah fenomena yang umum didapati pada kaum perantauan dari dan di daerah manapun untuk saling bertukar pengalaman dan berbagai alasan primordial lainnya seperti untuk mempererat kekerabatan dan keakraban sesama perantau dari daerah asal yang sama. Demikianpun dengan to’-oto’ pada saat mulai berdirinya, seperti yanq dikemukakan oleh salah seorang informan (yang kebetulan adalah seoranq ketua kelompok to’- oto’) bahwa ketika pertama kali mendirikan to’-oto’ niatnya adalah mengumpulkan saudara dan sanak famili yang masih satu daerah yang tersebar di wi1ayah Surabaya agar ikatan kekerabatan mereka tidak hilang serta untuk membatasi budaya lain masuk.
Di dalam pertemuan-pertemuan tersebut selain dilakukannya saling tukar pikiran mengenai berbagai hal, saling berbagi perasaan sebagai sesama kaum pendatang di kota serta saling bersilaturahmi, kemudian muncul usulan dari yang hadir untuk saling membantu antar sesama yang hadir dalam masalah ekonomi. Usulan disetujui oleh yang hadir dalam pertemuan tersebut untuk selanjutnva dikoordinasikan oleh penyelenggara pertemuan. Semula sumbangan dari masing-masing yang hadir bersifat sukarela sesuai dengan kemampuan masing-masing untuk kemudian disimpan oleh koordinator perkumpulan atau orang yang ditunjuk sebagai pemegang uang untuk mencatatnya dalam sebuah buku untuk kemudian diberikan dan atau dipinjamkan kepada angaota kelompok yang paling membutuhkan. Sesudah berjalan cukup lama akhirnya muncul ide agar kegiatan saling membantu ini dilembagakan dalam suatu kegiatan semacam arisan; yakni dengan menentukan batas minimum uang yang disumbangkan sedangkan akumulasi uang sumbangan yang terkumpul diberikan kepada setiap anggota kelompok secara bergiliran berdasarkan prioritas kebutuhan, yakni apabila ada warga yang membutuhkan uang atau untuk kepentingan yang mendesak maka ia dapat giliran memperoleh uang terlebih dahulu.

Waktu pertemuannya pun kemudian disepakati secara periodik dalam jangka waktu tertentu. Demikianlah dari suatu kegiatan sosial yang bersifat informal kemudian berkembang sebagai kegiatan ‘formal’ dalam arti memiliki aturan-aturan tertentu yang disepakati bersama.Dalam perkembangan selanjutnya ketika manfaat ekonomis dari arisan to’-oto’ ini semakin dirasakan para anggota dan semakin populer di kalangan para pendatang, mulailah bermunculan kelompok-kelompok to’-oto’ baru yanq sengaja didirikan oleh orang-perorang maupun oleh kelompok kekerabatan tertentu. Dalam konteks ini sifat keangqotaannyapun mengalami perubahan, dari yang semula orang-orang yang masih sekerabat dekat atau sekelompok setane’an menjadi tidak dibatasi oleh hal-hal tersebut Masing-masing orang bisa menentukan sendiri ke kelompok mana ia akan bergabung. Pertimbangan-pertimbangan yang mempengaruhi kecenderungan seseorang, memasuki kelompok to’-oto’ tertentu biasanya adalah figur ketua kelompok to’-oto’ tersebut serta ‘kredibilitas’ kelancaran kelompok tersebut. Seorang informal mengatakan:
“… kalau mau ikut to’-oto’ lihat ketuanya dulu. Kalau ketuanya berwibawa, jujur dan bisa mengatur anggotanya maka to’-oto’nya akan maju. Kalau ketuanya sembarangan saja to’oto’nya cepat bubar…”.
Jadi dalam menentukan kelompok mana yang akan dimasuki seorang calon anggota diandaikan telah memiliki rasionalitas tertentu, baik oleh rasionalitas nilai maupun rasionalitas formal-instrumental.

Sebagai suatu bentuk Wolompok arisan, berbeda dengan arisan pada umumnva, to’-oto’ mempunyai ciri-ciri khas sebagai berikut.:
(1) Kalau pada umumnya arisan-arisan di pulau jawa lebih banyak dikerjakan oleh wanita yang memegang keuangan keluarga, namun pada kelompok to’oto’ beranggotakan para pria yang notabene adalah kepala keluarga.
(2) Kalau pada arisan umumnya diperlukan waktu hanya beberapa jam dari Jam pelaksanaannya, maka pada to’-oto’ dibutuhkan waktu hingga dua hari.
(3) Dalam hal hidangan makanan dan hiburan, biasanya pada arisan dihidangkan sewaiarnva, tetapi pada kegiatan to’-oto’ dihidangkan dalam berbagai macam makanan dan diundangnya grup-grup kesenian tertentu seperti sandur. Hal ini tergantung dari jenis to’-oto’ yang dilaksanakan. Dalam hal ini dibedakan ada 3 (tiga) jenis to’- oto’ yakni: to’-oto’ lit-dulit yang paling sederhana karena tanpa hiburan dan dengan hidangan yang secukupnya sehingaa membutuhkan biaya yang lebih sedikit. Selanjutnva to’-oto’ piringan yang menggunakan hiburan seperti tape recorder, orkes maupun karaoke dan dengan bermacam suguhan yang diletakkan di atas piring dengan demikian membutuhkan biaya yang relatif lebih banyak. Sedangkan biaya yang lebih banyak lagi akan dikeluarkan apabila jenis to’-oto’ yang diselenggarakan adalah to’-oto’ sandur karena mengundang grup kesenian khas Madura sandur (seni tayub atau tandhak yang khas Madura. Selain itu dalam to’-oto’ jenis ini juga menghidangkan makanan yang lebih beragam dan dengan prosesi kegiatan yanq lebih rumit dan formal yang ditandai dengan dikenakannya pakaian adat Madura oleh ketua, para pengurusnya dan pengurus kelompok lain yang diundang.
(4) Dalam arisan umumnya jumlah iuran anqqota sudah ditentukan nilai nominalnva dan dibayarkan secara rutin sebesar nilai nominal tersebut, sedangkan dalam to’-oto’ meskipun besarnya uang nominal iuran sudah ditentukan tetapi kenyataan yanq ada lebih mirip buwuhan, yakni seorang anggota memberikan uanq di atas nominal uanq vanq diberikan oleh penyolenggara to’-oto’ (tuan rumah) dibanding ketika yang bersangkutan datang ke rumahnya saat dirinya menjadi ‘tuan-rumah’ to’-oto’ pada peri ode yang telah lalu. Kelebihan uang dari jumlah simpanan pokok disebut tumpangan yang bisa dipahami sebagai semacam pinjaman lunak antar anggota yang wajib di kembalikan pada waktunya nanti.
(5) Anggota kelompok tertentu bisa berpartisipasi pada kegiatan to’-oto’ yanq diadakan anggota kelompok yang lain, atas selain ketua kelompok dimana ia tergabung secara resmi. Hal ini sering disebut dengan istilah tumpangan antar kelompok. Sehingga ketika ia sendiri menyelenggarakan to’-oto’, orang yang memperoleh tumpangan tadi pada saatnya nanti akan bertandang ke rumahnya untuk membalas tumpangannya tadi, sehingga dengan demikian ia berharap akan momperoleh ‘hasil’ yang lebih banyak lagi yang tidak semata-mata dari kelompoknya.

Besarnya uang yang diterima oleh seorang penvelenggara to’-oto’ berbeda-beda tergantung dari besarnya uang angsuran dan jumlah anggota kelompok serta sering-tidaknya ia mengikuti to’-oto’ kelompok lain. Besarnya iuran pada masing-masing kelompok berbeda berdasarkan kemampuan ekonomi rata-rata anggota kelompok tersebut yang sebelumnya disepakati bersama oleh ketua dan anggotanya. Dalam satu periode putaran (yakni sesuai dengan jumlah anggota) jumlah iuran tetap sedangkan besarnya tumpangan bebas dengan nilai minimal sebesar pokok angsuran. Dalam putaran periode berikutnya besarnya iuran pokok bisa ditingkatkan jumlahnya setelah melalui musyawarah anggota. Jumlah anggota kelompok juga bervariasi tergantung sudah lama atau belum kelompok tersebut berdiri serta sejauh mana kredibilitas ketua dan kelompok tersebut di kalangan orang-orang Madura di Surabaya. Jumlah anqgota masing-masing kelompok to’-oto’ berkisar antara 20 orang sampai 70 orang. Kelompok yanq anggotanya sedikit (kurang dari 20 orang) biasanva adalali kelompok yanq relatif belum lama berdirinva sedangkan kelompok yang beranggotakan lebih dari 50 anggota biasanya adalah kelompok yang sudah lama bertahan, beberapa di antaranya ada yang sudah berusia 30 tahun.

Semakin banyak jumlah anggota dalam suatu kelompok serta anggota kelompok lain yang ikut ‘nimbrung’ dalam kelompok tersebut semakin banyak jumlah uang yanq diperoleh anggota yang mengadakan atau mendapat giliran melaksanakan kegiatan to’-oto’. Berdasarkan informasi seorang pedagang mebel antik Madura diketahui bahwa besarnya perolehan uang bervariasi mulai dari yang jumlahnya hanya ratusan ribu rupiah sampai puluhan juta rupiah, informasi terakhir dari informan tersebut. disebutkan bahwa kerabatnya pernah memperoleh uang sekitar 60 juta rupiah dalam satu kali pelaksanaan to’-oto’. Uang yang diperoleh tersebut, setelah dikurangi biaya administrasi untuk sekretaris dan bendahara (ketua tidak menerima upah) serta untuk biaya operasional seperti menyewa kursi, sound sistem dan lainnya, akan digunakan untuk berbagai keperluan yang dianggap penting seperti menambah modal usaha dalam berdagang, membangun atau memperbaiki rumah serta berbagai keperluan lain yang dianggap mendesak. Dalam beberapa kasus (meskipun jarang) perolehan uang tersebut juga digunakan sebagai ongkos naik haji. Hal yang terakhir ini bisa dipahami sebab memang bagi orang-orang Madura naik haji adalah obsesi umum orang Madura. Bergelar haji berarti memiliki gengsi sosial yang tinggi, yang sekaligus mencerminkan keberhasilan seseorang secara ekonomi, mengingat untuk bisa naik haji dibutuhkan uang yang tidak sedikit.
Berdasarkan informasi dari para anggota dan pengurus to’-oto’, jumlah kelompok yang terdapat di Surabaya saat ini diperkirakan sekitar 77 kelompok to’-oto’ yang tersebar di berbagai wilayah, dengan konsentrasi terutama di wilayah Surabaya Utara yang merupakan kantong-kantong pemukiman kaum pendatang dari Madura. Meskipun demikian karena terdapat anggota kelompok-kelompok tersebut berdomisili serara tersebar di barbagai wilayah Surabaya, maka pelaksanaan kegiatan to’-oto’ juga tersebar di berbagai wilayah tersebut sesuai dengan alamat. anggota yang mendapat giliran.
Berdasarkan observasi diketahui bahwa pada saat ini kegiatan to’-oto’ ini sudah menyebar ke berbagai kota di Jawa Timur seperti Malang dan Madiun, juga didapati di Jogjakarta, di Jakarta bahkan di kota Banjarmasin atau kota-kota lain yang terdapat cukup banyak migran yang borasal dari Sampang dan Bangkalan. Bahkan di Sampang dan Bangkalan pun kegiatan to’-oto’ ini dicoba diintrodusir oleh sebagian warganya, tetapi berdasarkan kesaksian beberapa informan, kegiatan di tempat asal kaum migran ini justru tidak jalan atau tidak lancar sebagaimana halnya kegiatan to’oto’ di daerah rantau.

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Drs. Edy Herry Pryhantor: Kegiatan To’-Oto’ Di Kalangan Etnik Madura Surabaya; Studi Tentang Mekanisme Survival Etnik Pendatang di Kota Berkebudayaan Majemuk, Surabaya: Lembaga Penelitian Universitas Airlangga. hlm. 17 – 25

DR. Soetrisno R., M.Si.

25 Mei 1938, DR. Soetrisno R., M.SI. Lahir di Blora Jawa Tengah.

Soetrisno menyelesaikan SR/SD, SMR SMA di Bojonegoro, menempuh pendidikan tinggi di FKIP Universitas Airlangga, Strata-2 (S2) di
Universitas Brawijaya dan Strata-3 (S3) Universitas Gadjah Mada.
Pernah bertugas sebagai Kepala Bidang Kesenian Kanwil P dan K Jawa
Timur merangkap Kepala Taman Budaya Jawa Timur,
Tahun 1987 – 1993, menjadi anggota DPR/MPR RI.
Tahun 1993 – 2003 menjabat sebagai Bupati Nganjuk.
Tahun 2006, Ketua Javanologi Jawa Timur.
Pernah mengikuti seminar, baik nasional maupun internasional.
Tahun 2002, Seminar Internasional Memperingati 100 tahun Karl Popper di Wina Austria.
Seminar International Union of Local Authorities di Kuala Lumpur.
Buku-buku yang pernah ditulis, antara lain, sebagai berikut:
1. Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan;
2. Reformasi dan Dampaknya Bagi Pembangunan;
3. Peningkatan Sumber Daya Manusia di Era Otonomi Daerah;
4. Pesan Buat Administrator Publik;
5. Kesaksian, Kajian Tentang Administrasi Publik;
6. Studi Ilmu Administrasi Negara Dalam Realita Empirik;
7. Pengentasan Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat;
8. Topeng Dhalang Madura;
9. Nilai Filosofis Kidung Pakeliran;
10. Wayang sebagai Ungkapan Filsafat Jawa;
11. Ensiklopedia Budaya Jawa Timur;
12. Dimensi Moral dl Syair Tembang pada Pergelaran Wayang Purwa.

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Soetrisno R., Ensiklopedia Seni Budaya Jawa timur; Pendekatan Kajian Budaya,Surabaya Intelektual Club(SIC), Surabaya, 2008, hlm. blk

Aduan Sapi

Aduan Sapi merupakan salah satu obyek wisata berupa pertunjukan tradisional di Bondowoso Jawa Timur, merupakan satu-satunya di Indonesia. Setidak-tidaknya di pulau Jawa. Aduan Sapi ini patut ditonton oleh segala usia. Terlebih lagi, atraksi tradisional ini selain sebagai hiburan bagi masyarakat Bondowoso dan Jawa Timur, juga mempunyai daya tarik kepariwisataan. Sekaligus melestarikan budaya tradisi masyarakat.
Aduan sapi merupakan kebanggaan bagi masyarakat untuk dapat di pertontonkan kepada wisatawan Nusantara ataupun yang dari Mancanegara. Bagi masyarakat kabupaten Bondowoso, acara ini tidak dapat dilewatkan begitu saja. Aduan sapi dapat saja diadakan dalam waktu tiga bulan sekali atau kurang. Sekurang-kurangnya setiap tahun mesti ada paling sedikit dua kali acara Aduan Sapi.

Tempat Atraksi Aduan Sapi

Arah utara kota Bondowoso pada jalan raya Bondowoso—Situbondo, pada kilometer 6, kita akan tiba di Kecamatan Tapen. Tempat itulah merupakan arena Aduan Sapi, kira-kira berjarak satu kilometer sebelah timur jalan raya. Arena itu sendiri hanya berjarak kira-kira 500 meter dari Dam (Bendung) Sampeyan Baru.
Arena mengadu sapi itu memang cukup luas. Kira-kira memakan areal 2 hektar bahkan lebih. Cukup luas untuk tempat parkir kendaraan, untuk orang-orang sekitar berjualan dan gelanggangnya sendiri. Gelanggang aduan yang selebar kira-kira hampir satu hektar dikelilingi oleh pagar dari bambu. Benar-benar berbentuk pagar, karena dianyam jarang-jarang dan sebagian dengan bambu-bambu utuh. Tinggi pagar tersebut sampai dua meter lebih, dan cukup kokoh.
Tentunya untuk menjaga kalau-kalau sapi-sapi yang diadu itu menjadi kalap, juga untuk menjaga agar penonton pendukung masing-masing jagonya tidak memasuki gelanggang aduan. Sekeliling gelanggang yang luas dan di belakang pagar ter¬sebut, dibuat bangku-bangku dari batang-batang bambu yang kokoh. Bersusun hingga lima tingkat seperti bangku – bangku dalam stadion olah raga diatur mengelilingi seluruh gelanggang, diberi atap dari daun tebu. Teduh dari sinar matahari. Karena susunan bangku-bangku yang bertingkat, pintu masuk pun dari bagian bawah bangku-bangku tadi. Pada bagian gerbang utama terdapat podium khusus dengan beralaskan anyaman bambu (gedek ; Jawa) dan untuk memasukinya harus memanjat tangga bambu yang dibuat seperti tangga naik rumah. Tempat tersebut untuk para undangan dan panitia. Di sampingnya masih ada podium lagi yanq ukurannya lebih kecil. Kalau pada podium bagi undangan diberi kursi-kursi, maka pada podium ini orang duduk di lantai gedek. Ini tempat anggota panitia, juri dan pengamat.
Di gelanggang aduan sendiri, terdiri dari tanah bekas sawah yang dikeringkan dan keras. Memang, aduan sapi pada umumnya dilakukan pada musim-musim kemarau di musim yang menurut perhitungan sudah tidak ada hujan lagi. Ada juga melesetnya, seperti aduan sapi pada bulan Mei yang jatuh pada tanggal-tanggal 13, 14, 27 dan 28. Nyatanya, hujan masih turun dengan lebat. Salah satu obyek wisata berupa pertunjukan yalah Aduan Sapi di Bondowoso. Justru pertunjukan ini merupakan satu-satunya atraksi demikian di Indonesia. Setidak-tidaknya di pulau Jawa.Secara tradisional, Aduan Sapi hanya dilangsungkan di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.
Sapi-sapi jantan yang dilagakan itu saling menanduk lawannya tanduk pun ikut berperan, namun tak setetes pun darah keluar. Sehingga Aduan Sapi patut ditonton oleh segala usia. Terlebih lagi, atraksi tradisional ini selain sebagai hiburan bagi masyarakat Bondowoso, juga mempunyai daya tarik kepariwisataan. Sekaligus melestarikan tradisi budaya masyarakat.

UPACARA DAN TATA CARA
Aduan Sapi tidak begitu saja dibuka. Ada upacaranya yang menarik yalah karena diawali dengan TARIAN ADUAN SAPI. Karena masyarakat Bondowoso boleh dikata kira-kira 70 persen bernenek moyang dari Madura, dengan sendirinya tarian tersebut dipengaruhi oleh gerak tari Madura. Setidak-tidaknya pengaruh dari tarian masyarakat di Sumenep. Selesai tari-tarian, panitia aduan menyatakan, bahwa segera diadakan aduan gelombang pertama. Suaranya yang bertalu-talu memekakkan telinga berkumandang ke seluruh lapangan. Panitia mulai minta beberapa ekor sapi yang akan diadu dibawa masuk ke gelanggang oleh para pemiliknya atau pengasuh sapi itu.
Beberapa ekor sapi yang masing-masing diapit oleh dua orang memasuki gelanggang yang mulai panas oleh terik matahari. Beberapa orang wasit dengan selendang diikat pada leher atau pinggangnya siap untuk melaksanakan tugasnya. Para wasit itu yang akan memimpin aduan. Tata cara aduan itu dilakukan secara terbuka di depan penonton yang memenuhi bangku-bangku bambu sekeliling gelanggang.
Kepada pemilik atau pengasuh sapi ditanyakan, apakah Umpamanya sapi pak Dollah berani ditandingkan dengan sapi pak Kusen ?. Kadang-kadang disebut “nama” sapi aduan yang diberikan oleh pemiliknya, seperti Bledek, Seno, Samson dan lain-lain. Pemilik atau pengasuh sapi aduan saling melihat calon lawannya. Apabila dianggap oleh salah satu fihaknya, bahwa sapi miliknya bukan ukurannya dengan lawan tandingnya, maka ia berhak tidak mempertandingkan. Dicarilah lewat wasit, calon yang berani melawan sapi yang ditawarkan itu.
Dalam menawarkan lawan aduan itu kadang-kadang memerlukan waktu cukup lama. Wasit pun ikut memegang peranan memberikan nasehat kepada yang akan mempertandingkan sapinya, kalau ukuran atau “peringkat” sapinya tidak seimbang. Jadi, tidak ada bedanya dengan peringkat – peringkat dalam pertandingan tinju. Apabila telah dicapai kesepakatan, dilaporkan pada panitia perlombaan dan segera diumumkan kepada seluruh penonton melalui pengeras suara. Dengan gaya membakar semangat yang saling mempertandingkan sapi aduannya, pembawa acara tersebut melalui pengeras suara kadang – kadang selain menyebut nama sapi (kalau oleh pemiliknya diberi nama), nama pemiliknya dan asal desanya.
Sementara satu pasangan sudah ditemukan untuk diadu, pemilik pasangan-pasangan lainnya berunding. Sedangkan pemilik atau pengasuh yang belum menemukan sapinya untuk diadu karena ukurannya tidak cocok, keluar gelang¬gang untuk memasuki tempat sapi-sapi dikumpulkan pada bagian belakang gelanggang. Menunggu giliran ukuran sapi lawannya yang cocok.

ADU KEPALA DAN TARIAN
Wasit mempunyai peran ganda. Selain memberi aba-aba agar aduan kedua ekor sapi dimulai, sekaligus mengawasi, memberi semangat pada dua pihak, dan juga ikut menari-nari dengan selendangnya. Sapi-sapi aduan tidak dilepas talinya. Meskipun tali itu hanya pendek saja untuk tidak mengganggu gerakan sang sapi. Masing-masing diapit oleh pemilik atau pengasuh- nya, seorang atau lebih.
Ketika dua ekor sapi jantan itu dihadapkan, segera saja saling maju dengan menundukkan kepala untuk mempergunakan tanduknya sebagai senjata. Karena masing-masing berusaha menanduk lawannya, maka yang beradu adalah kepala sapi-sapi itu untuk mendorong lawannya sekuat tenaga dengan kepalanya, diselingi teriakan, sorakan penonton, serta suara-suara memberi semangat untuk sapi-sapi yang bertanding itu melalui penge¬ras oleh pembawa acara.
Sering salah seekor, karena dorongan, terjatuh dan segera diserbu lawannya dengan menanduk bagian tubuhnya. Tetapi sapi yang terjatuh segera bangun menyerang lagi, dan kembali kepala lawan kepala. Kalau salah seekor merasa tidak kuat, maka sambil mundur didoroAduan Sapi merupakan salah satu obyek wisata berupa pertunjukan tradisional di Bondowoso Jawa Timur, merupakan satu-satunya di Indonesia. Setidak-tidaknya di pulau Jawa. Aduan Sapi ini patut ditonton oleh segala usia. Terlebih lagi, atraksi tradisional ini selain sebagai hiburan bagi masyarakat Bondowoso dan Jawa Timur, juga mempunyai daya tarik kepariwisataan. Sekaligus melestarikan budaya tradisi masyarakat.
Aduan sapi merupakan kebanggaan bagi masyarakat untuk dapat di pertontonkan kepada wisatawan Nusantara ataupun yang dari Mancanegara. Bagi masyarakat kabupaten Bondowoso, acara ini tidak dapat dilewatkan begitu saja. Aduan sapi dapat saja diadakan dalam waktu tiga bulan sekali atau kurang. Sekurang-kurangnya setiap tahun mesti ada paling sedikit dua kali acara Aduan Sapi.

Tempat Atraksi Aduan Sapi

Arah utara kota Bondowoso pada jalan raya Bondowoso—Situbondo, pada kilometer 6, kita akan tiba di Kecamatan Tapen. Tempat itulah merupakan arena Aduan Sapi, kira-kira berjarak satu kilometer sebelah timur jalan raya. Arena itu sendiri hanya berjarak kira-kira 500 meter dari Dam (Bendung) Sampeyan Baru.
Arena mengadu sapi itu memang cukup luas. Kira-kira memakan areal 2 hektar bahkan lebih. Cukup luas untuk tempat parkir kendaraan, untuk orang-orang sekitar berjualan dan gelanggangnya sendiri. Gelanggang aduan yang selebar kira-kira hampir satu hektar dikelilingi oleh pagar dari bambu. Benar-benar berbentuk pagar, karena dianyam jarang-jarang dan sebagian dengan bambu-bambu utuh. Tinggi pagar tersebut sampai dua meter lebih, dan cukup kokoh.
Tentunya untuk menjaga kalau-kalau sapi-sapi yang diadu itu menjadi kalap, juga untuk menjaga agar penonton pendukung masing-masing jagonya tidak memasuki gelanggang aduan. Sekeliling gelanggang yang luas dan di belakang pagar ter¬sebut, dibuat bangku-bangku dari batang-batang bambu yang kokoh. Bersusun hingga lima tingkat seperti bangku – bangku dalam stadion olah raga diatur mengelilingi seluruh gelanggang, diberi atap dari daun tebu. Teduh dari sinar matahari. Karena susunan bangku-bangku yang bertingkat, pintu masuk pun dari bagian bawah bangku-bangku tadi. Pada bagian gerbang utama terdapat podium khusus dengan beralaskan anyaman bambu (gedek ; Jawa) dan untuk memasukinya harus memanjat tangga bambu yang dibuat seperti tangga naik rumah. Tempat tersebut untuk para undangan dan panitia. Di sampingnya masih ada podium lagi yanq ukurannya lebih kecil. Kalau pada podium bagi undangan diberi kursi-kursi, maka pada podium ini orang duduk di lantai gedek. Ini tempat anggota panitia, juri dan pengamat.
Di gelanggang aduan sendiri, terdiri dari tanah bekas sawah yang dikeringkan dan keras. Memang, aduan sapi pada umumnya dilakukan pada musim-musim kemarau di musim yang menurut perhitungan sudah tidak ada hujan lagi. Ada juga melesetnya, seperti aduan sapi pada bulan Mei yang jatuh pada tanggal-tanggal 13, 14, 27 dan 28. Nyatanya, hujan masih turun dengan lebat. Salah satu obyek wisata berupa pertunjukan yalah Aduan Sapi di Bondowoso. Justru pertunjukan ini merupakan satu-satunya atraksi demikian di Indonesia. Setidak-tidaknya di pulau Jawa.Secara tradisional, Aduan Sapi hanya dilangsungkan di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.
Sapi-sapi jantan yang dilagakan itu saling menanduk lawannya tanduk pun ikut berperan, namun tak setetes pun darah keluar. Sehingga Aduan Sapi patut ditonton oleh segala usia. Terlebih lagi, atraksi tradisional ini selain sebagai hiburan bagi masyarakat Bondowoso, juga mempunyai daya tarik kepariwisataan. Sekaligus melestarikan tradisi budaya masyarakat.

UPACARA DAN TATA CARA
Aduan Sapi tidak begitu saja dibuka. Ada upacaranya yang menarik yalah karena diawali dengan TARIAN ADUAN SAPI. Karena masyarakat Bondowoso boleh dikata kira-kira 70 persen bernenek moyang dari Madura, dengan sendirinya tarian tersebut dipengaruhi oleh gerak tari Madura. Setidak-tidaknya pengaruh dari tarian masyarakat di Sumenep. Selesai tari-tarian, panitia aduan menyatakan, bahwa segera diadakan aduan gelombang pertama. Suaranya yang bertalu-talu memekakkan telinga berkumandang ke seluruh lapangan. Panitia mulai minta beberapa ekor sapi yang akan diadu dibawa masuk ke gelanggang oleh para pemiliknya atau pengasuh sapi itu.
Beberapa ekor sapi yang masing-masing diapit oleh dua orang memasuki gelanggang yang mulai panas oleh terik matahari. Beberapa orang wasit dengan selendang diikat pada leher atau pinggangnya siap untuk melaksanakan tugasnya. Para wasit itu yang akan memimpin aduan. Tata cara aduan itu dilakukan secara terbuka di depan penonton yang memenuhi bangku-bangku bambu sekeliling gelanggang.
Kepada pemilik atau pengasuh sapi ditanyakan, apakah Umpamanya sapi pak Dollah berani ditandingkan dengan sapi pak Kusen ?. Kadang-kadang disebut “nama” sapi aduan yang diberikan oleh pemiliknya, seperti Bledek, Seno, Samson dan lain-lain. Pemilik atau pengasuh sapi aduan saling melihat calon lawannya. Apabila dianggap oleh salah satu fihaknya, bahwa sapi miliknya bukan ukurannya dengan lawan tandingnya, maka ia berhak tidak mempertandingkan. Dicarilah lewat wasit, calon yang berani melawan sapi yang ditawarkan itu.
Dalam menawarkan lawan aduan itu kadang-kadang memerlukan waktu cukup lama. Wasit pun ikut memegang peranan memberikan nasehat kepada yang akan mempertandingkan sapinya, kalau ukuran atau “peringkat” sapinya tidak seimbang. Jadi, tidak ada bedanya dengan peringkat – peringkat dalam pertandingan tinju. Apabila telah dicapai kesepakatan, dilaporkan pada panitia perlombaan dan segera diumumkan kepada seluruh penonton melalui pengeras suara. Dengan gaya membakar semangat yang saling mempertandingkan sapi aduannya, pembawa acara tersebut melalui pengeras suara kadang – kadang selain menyebut nama sapi (kalau oleh pemiliknya diberi nama), nama pemiliknya dan asal desanya.
Sementara satu pasangan sudah ditemukan untuk diadu, pemilik pasangan-pasangan lainnya berunding. Sedangkan pemilik atau pengasuh yang belum menemukan sapinya untuk diadu karena ukurannya tidak cocok, keluar gelang¬gang untuk memasuki tempat sapi-sapi dikumpulkan pada bagian belakang gelanggang. Menunggu giliran ukuran sapi lawannya yang cocok.

ADU KEPALA DAN TARIAN
Wasit mempunyai peran ganda. Selain memberi aba-aba agar aduan kedua ekor sapi dimulai, sekaligus mengawasi, memberi semangat pada dua pihak, dan juga ikut menari-nari dengan selendangnya. Sapi-sapi aduan tidak dilepas talinya. Meskipun tali itu hanya pendek saja untuk tidak mengganggu gerakan sang sapi. Masing-masing diapit oleh pemilik atau pengasuh- nya, seorang atau lebih.
Ketika dua ekor sapi jantan itu dihadapkan, segera saja saling maju dengan menundukkan kepala untuk mempergunakan tanduknya sebagai senjata. Karena masing-masing berusaha menanduk lawannya, maka yang beradu adalah kepala sapi-sapi itu untuk mendorong lawannya sekuat tenaga dengan kepalanya, diselingi teriakan, sorakan penonton, serta suara-suara memberi semangat untuk sapi-sapi yang bertanding itu melalui penge¬ras oleh pembawa acara.
Sering salah seekor, karena dorongan, terjatuh dan segera diserbu lawannya dengan menanduk bagian tubuhnya. Tetapi sapi yang terjatuh segera bangun menyerang lagi, dan kembali kepala lawan kepala. Kalau salah seekor merasa tidak kuat, maka sambil mundur didorong lawannya, kemudian melarikan diri. Di sini biasanya sang lawan yang menang itu masih memburunya keliling setengah lapangan, sambil diburu oleh pemiliknya untuk dihentikan.
Peraturannya, baik yang akan mengadu sapi maupun penonton “dilarang keras membawa senjata tajam dan jenis senjata lainnya”. Untuk itu dalam setiap diadakannya aduan sapi, dijaga oleh kesatuan Kepolisian. Malahan pada gerbang masuk tempat penjualan karcis untuk menonton aduan sapi, terdapat pos Polisi yang dijaga satu regu. Di tempat itu dipasang papan pengumuman tentang peraturan-peraturan menghadiri acara aduan sapi.
Yang menang menerima hadiah uang dan piala. Banyak penonton yang saling bertaruh. Begitulah ADUAN SAPI di desa Tapen, Bondowoso, berlangsung dari pagi hingga petang hari. Penonton bukan saja dari daerah-daerah di wilayah Kabupaten Bondowoso, tetapi juga dari kabupaten-kabupaten lainnya. Malahan beberapa orang wisatawan mancanegara ikut menyaksikannya.
Dalam aduan sapi itu tidak ada darah yang bercucuran dari binatang yang diadu tersebut. Sapi-sapi aduan tersebut cukup jujur. Bila merasa tidak kuat, lari! Tidak emosional. Tradisi masyarakat Bondowoso ini berlangsung terus – menerus yang kurang memungkinkan bila dipindahkan ke lain daerah. masalahnya, bukan hanya aduannya, namun ada rasa keterikatan tradisi dan minat antara acara aduannya dengan lingkungannya.

AduanSapi, DINAS PARIWISATA DAERAH PROPINSI DAERAH TINGKAT I JAWA TIMUR, SURABAYA , 1990
ng lawannya, kemudian melarikan diri. Di sini biasanya sang lawan yang menang itu masih memburunya keliling setengah lapangan, sambil diburu oleh pemiliknya untuk dihentikan.
Peraturannya, baik yang akan mengadu sapi maupun penonton “dilarang keras membawa senjata tajam dan jenis senjata lainnya”. Untuk itu dalam setiap diadakannya aduan sapi, dijaga oleh kesatuan Kepolisian. Malahan pada gerbang masuk tempat penjualan karcis untuk menonton aduan sapi, terdapat pos Polisi yang dijaga satu regu. Di tempat itu dipasang papan pengumuman tentang peraturan-peraturan menghadiri acara aduan sapi.
Yang menang menerima hadiah uang dan piala. Banyak penonton yang saling bertaruh. Begitulah ADUAN SAPI di desa Tapen, Bondowoso, berlangsung dari pagi hingga petang hari. Penonton bukan saja dari daerah-daerah di wilayah Kabupaten Bondowoso, tetapi juga dari kabupaten-kabupaten lainnya. Malahan beberapa orang wisatawan mancanegara ikut menyaksikannya.
Dalam aduan sapi itu tidak ada darah yang bercucuran dari binatang yang diadu tersebut. Sapi-sapi aduan tersebut cukup jujur. Bila merasa tidak kuat, lari! Tidak emosional. Tradisi masyarakat Bondowoso ini berlangsung terus – menerus yang kurang memungkinkan bila dipindahkan ke lain daerah. masalahnya, bukan hanya aduannya, namun ada rasa keterikatan tradisi dan minat antara acara aduannya dengan lingkungannya.

AduanSapi, DINAS PARIWISATA DAERAH PROPINSI DAERAH TINGKAT I JAWA TIMUR, SURABAYA , 1990