Danudirja Setiabudi (Douwes Dekker )

Ernest-Douwes-DekkerErnest François Eugène Douwes Dekker dikenal dengan nama Douwes Dekker atau Danudirja Setiabudi lahir tanggal 8 Oktober 1879 di Pasuruan, Jawa Timur. Beliau adalah tokoh politik dan patriot Indonesia, pembangkit semangat kebangsaan Indonesia, penentang penjajahan yang gigih, wartawan dan sastrawan. Di tubuhnya mengalir darah Belanda, Prancis, Jerman, dan Jawa, tapi semangat kebangsaan Douwes Dekker lebih membara dibanding penduduk bumiputra. Douwes Dekker adalah kemenakan dari Eduard Douwes Dekker alias Multatuli, penulis buku Max Havelaar yang terkenal.
Setelah lulus sekolah HBS di Betawi untuk beberapa waktu bekerja sebagai “sinder” perkebunan kopi dan chemiker pabrik gula. Kemudian dalam usia muda melawat ke Afrika Selatan dan ikut berperang di pihak orang Boer melawan Inggris (1900 – 1901). Douwes Dekker tertawan dan diasingkan di Ceylon (Srilangka).
Tahun 1902 Douwes Dekker kembali di tanah air (Indonesia), bekerja sebagai wartawan harian Belanda De Locomotief dan kemudian duduk dalam redaksi harian Belanda Soerabaiaasch Handelsblad dan Bataviaasch Nieusblad. Pada 1909 Douwes Dekker berangkat ke Eropa. Untuk majalah mingguan Jong Indie yang terbit di Betawi ia menulis rangkaian “Surat-surat seorang biadab dari dunia beradab”.
Pada akhir 1910 kembali dari Eropa, Douwes Dekker menetap di Bandung dan menerbitkan majalah setengah bulanan Het Tijdschrift, disusul dengan harian De Express (Maret 1912). Dalam penerbitan tersebut Douwes Dekker menuangkan keyakinan dan program politiknya untuk melancarkan jalan bagi pembentukan Indische Partij-nya. Untuk keperluan pembentukan partai ini, tiga serangkai (Douwes Dekker, Suwardi Suryaningrat, dan Cipto Mangunkusumo) mengadakan perjalanan propaganda keliling pulau Jawa (September 1912) yang berhasil gemilang dengan berdirinya Indische Partij pada tanggal 25 Desember 1912. Sebelum meninggalkan Bandung, Douwes Dekker sempat berorasi di sebuah gerbong sebelum peluit berbunyi dan kereta meluncur ke Yogyakarta:
“Saudara, kita umumnya dianggap malas, makhluk apatis yang menderita banyak kebiasaan buruk. Tapi saya melihat Anda semua telah bangun sepagi ini menentang tuduhan para dokter Belanda yang begitu parah bahwa kita Indier rendahan.”
Pada tahun 1913 Douwes Dekker bersama Suwardi Suryaningrat dan Cipto Mangunkusumo dikenakan exorbitante rechten (hak istimewa Gubernur Jenderal Hindia Belanda) berupa pengasingan (interneering). Mereka ditangkap akibat munculnya tulisan terkenal Suwardi Suryaningrat di De Expres, “Als Ik Een Nederlander Was” (Andaikata Aku Seorang Belanda). Atas permintaan sendiri ketiganya diperkenankan meninggalkan Indonesia, berangkat ke negeri Belanda. Douwes Dekker mencapai gelar sarjana (dokter) di Universitas Zurich, Swiss (1915).
Ketika kembali ke Indonesia dalam tahun 1918, Douwes Dekker melihat keadaan di tanah air sudah jauh berbeda dengan waktu keberangkatannya. Semangat kebangsaan kaum Indo yang dalam tahun 1912 menggelora di bawah pimpinannya kini sudah redup. Tetapi hal itu tidak mengurangi aktivitas politik nasionalnya. Dia menerbitkan majalah De Beweging dan menghidupkan kembali harian De Express. Selain politik, Douwes Dekker giat dalam bidang pendidikan (Direktur Institut Ksatrian di Bandung).
Dalam bulan Januari 1941, Douwes Dekker ditangkap kembali sehubungan dengan peristiwa penggeledahan rumah M.H. Thamrin dan diasingkan di Suriname. Setelah Indonesia merdeka, Douwes Dekker pulang ke Indonesia (3 Januari 1947) dan berganti nama Danudirja Setiabudi. Beliau menjabat sebagai Menteri Negara dalam Kabinet Syahrir (1947) dan pada tahun 1948 diangkat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung di Yogyakarta. Douwes Dekker alias Danudirja Setiabudi meninggal di Bandung, Jawa Barat, 28 Agustus 1950 pada umur 70 tahun.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, Sumber:
Shadily, Hassan. 1973. Ensiklopedia Umum. Yogyakarta: Yayasan Kanisius

Raden Panji Soeroso

SoerosoRaden Pandji Soeroso adalah mantan Gubernur Jawa Tengah, mantan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia, dan mantan anggota BPUPKI/PPKI. Ia juga bertugas sebagai wakil ketua BPUPKI yang dipimpin oleh K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat. Ia lahir di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, 3 November 1893 – meninggal di Indonesia, 16 Mei 1981 pada umur 87 tahun.

Soeroso adalah salah satu Pahlawan Nasional yang pernah memperjuangkan kesejahteraan pegawai negeri dalam hal ini para pegawai negeri dapat membeli rumah dinas dengan cara mengangsur. Ia juga dikenal sebagai Pendiri Koperasi Pegawai Negeri Republik Indonesia, sehingga ia juga dijuluki Bapak Koperasi Pegawai Negeri Republik Indonesia.

Raden Pandji Soeroso menjabat sebagai gubernur Jawa Tengah di tahun 1945 setelah keputusan PPKI dalam sidang pleno tanggal 19 Agustus 1945 yang menghasilkan keputusan penting yaitu menteri dan pembagian wilayah menjadi delapan provinsi yang salah satunya adalah provinsi Jawa Tengah.

Pernah menjabat sebagai Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia ke-4 pada masa kepemimpinan Presiden Soekarno dengan masa jabatan periode 6 September 1950–3 April 1951, kemudian menjabat sebagai Menteri Sosial Republik Indonesia ke-10 dan masih pada masa kepemimpinan Presiden Soekarno dengan masa jabatan 30 Juli 1953–12 Agustus 1955, di lanjutkan dengan menjabat sebagai Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia ke-12 dengan masa jabatan 12 Agustus 1955–24 Maret 1956 di era kepemimpinan Presiden Soekarno juga.

Raden Pandji Soeroso meninggal pada 16 mei 1981, pemerintah Indonesia telah mengangkat Raden Pandji Soeroso sebagai salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 23 Oktober 1986, melalui Surat Keputusan Presiden No. 81/TK/1986.

Keluarga

Salah seorang putranya adalah Raden Panji Soejono (1926 – sekarang) seorang ahli purbakala atau arkeolog senior di Indonesia. Soejono adalah mahaguru arkeologi khususnya bidang prasejarah di beberapa universitas di Indonesia. Antara lain: UI, UGM dan Universitas Udayana. Sempat menjadi Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (1974 – 1989).
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, Sumber:
http://biografi-tokoh-ternama.blogspot.com/2014/02/rp-soeroso-menteri-pekerjaan -umum.html

Dr. Sutomo

Dr. SoetomoSuatu hari di akhir tahun 1907 dokter pensiunan Wahidin Sudirohusodo singgah di Jakarta, beliau sedang melakukan perjalanan ke berbagai daerah dalam rangka mempropagandakan gagasannya tentang pembentukan sebuah badan yang akan menyediakan bea siswa untuk anak-anak Indonesia yang cerdas tetapi tidak mampu membiayai sekolahnya.

Gagasan Wahidin itu sudah tersebar agak luas, juga di kalangan pelajar STOV1A (School tot Opleiding voor Inlandsche Artsen). Dua orang di antara para pelajar itu mendapat kesempatan bertemu dan berbicara dengan Wahidin.

Mereka sangat tertarik mendengar cita-cita Wahidin, salah seorang di antara pelajar itu mengatakan kepada Wa¬hidin, ”Punika satunggiling pedamelan sae sarta nelakaken budi utama” (itu suatu perbuatan baik dan menunjukkan budi yang utama).Pelajar STOVIA yang mengucapkan kata-kata itu adalah Sutomo yang kemudian terkenal dengan nama dokter Sutomo. la lahir pada tanggal 30 Juli 1888 di desa Ngepeh, Nganjuk, Jawa Timur.

Waktu lahir beliau diberi nama Subroto. Pergantian namanya menjadi Sutomo mempunyai sejarahnya sendiri.Ayahnya R. Suwaji bekerja sebagai wedana di Maospati, Madiun, kemu¬dian pindah bekerja menjadi ajun jaksa di Madiun. Anaknya tersebut disekolahkan pada Sekolah Rendah Bumiputera, kemudian dipindahkan ke Bangil, Jawa Timur agar dapat masuk Sekolah Rendah Belanda (ELS = Europeesche Lagere School) Anak itu ikut pada pamannya, Harjodipuro. Putera pamannya, Sahit, berhasil masuk ELS, tetapi Subroto tidak diterima. Pamannya tidak putus asa, esok harinya keponakannya yang ditolak masuk ELS itu dibawanya lagi ke sekolah itu. Tidak dengan nama Subroto, tetapi diganti nama men¬jadi Sutomo. Dengan nama itu beliau diterima di ELS. Setelah tamat pada ELS, beliau mengikuti keinginan ayahnya melanjutkan ke STOVIA.Di STOVIA pada mulanya beliau tidak begitu memperhatikan pelajarannya. Kesenangannya ialah menonton dan makan enak bersama teman-temannya. Barulah pada tahun ketiga sikapnya berubah dan beliau pun belajar dengan sungguh-sungguh. Beliau lulus dari STOVIA pada tahun 1911.Tetapi sebelum itu, Sutomo telah melakukan sesuatu yang membuat namanya akan tercatat dalam sejarah bangsanya. Kurang lebih empat bulan sesudah bertemu dengan dokter Wahidin, beliau memimpin pertemuan yang dihadiri oleh para pelajar STOVIA.
Sutomo berpidato dengan tenang tanpa emosi, menjelaskan gagasannya secara singkat, terang dan jelas. Pertemuan yang bersejarah itu dilangsungkan di salah satu ruang STOVIA pada tanggal 20 Mei 1908. Dalam pertemuan itu mereka sepakat membentuk sebuah organisasi yang diberi nama ”Budi Utomo”. Sutomo dipilih sebagai ketuanya. Organisasi itu adalah organisasi modern pertama yang didirikan di Indonesia. Hari lahirnya, 20 Mei, kini diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional, karena ternyata Budi Utomo telah mendorong berdirinya organisasi-organisasi bahkan partai-partai politik di kemudian hari. Gedung STOVIA di mana Budi Utomo lahir sekarang menjadi ”Gedung Kebangkitan Nasional”.
Budi Utomo tidak lahir begitu saja dan Sutomo tidak bekerja seorang diri. Bersama Sutomo terdapat nama-nama lain seperti Suraji, yang ikut bersama Sutomo menemui dr. Wahidin, Moh. Saleh, Sarwono, Gunawan, Gumbrek dan Angka yang kelak semuaya menjadi dokter. Berbulan-bulan lamanya mereka merencanakan pembentukan sebuah organisasi. Mereka pergi dari ruang kelas yang satu ke ruang kelas yang lain di STOVIA untuk memperkenalkan gagasan mendirikan organisasi, dalam kegiatan itu Sutomo lah yang banyak berbicara.
Berdirinya Budi Utomo dapat dianggap sebagai realisasi gagasan Wahi¬din . Tetapi jangkauan organisasi itu melebihi dari apa yang dimaksud oleh Wahidin. Budi Utomo tidak hanya ingin memajukan pelajaran, tetapi juga pertanian, pertukangan kayu, kulit dan lain-lain, disamping memajukan kebudayaan Jawa serta mempererat persahabatan penduduk Jawa dan Madura. Di bidang pendidikan Budi Utomo bertujuan untuk mendirikan sekolah-sekolah, rumah-rumah sewaan untuk anak-anak sekolah/asrama dan mendirikan perpustakaan-perpustakaan.
Untuk merealisasi maksud dan tujuan itu, Sutomo dan kawan-kawannya mengadakan hubungan dengan pelajar-pelajar dari kota-kota lain. Dengan cara demikian berdirilah cabang-cabang Budi Utomo di Bogor, Bandung dan Magelang. Hubungan diadakan pula dengan orang-orang Indonesia yang menduduki jabatan dalam pemerintahan di daerah-daerah untuk menarik simpati mereka, antara lain dengan Bupati Temanggung, Bupati Japara, Banten, dan P.A.A. Kusumojudo yang tinggal di Jakarta.
Organisasi yang semula dipimpin oleh anak-anak muda yang idealis ini akhirnya dipimpin oleh golongan tua, sebagai hasil keputusan Kongres yang pertama pada awal Oktober 1908 di Yogyakarta. Dalam kongres itu sudah nampak perbedaan pendapat antara golongan muda yang radikal dengan golo¬ngan tua yang terlalu berhati-hati, karena itu gerak organisasi menjadi lamban.
Dalam Kongresnya yang kedua pada bulan Oktober 1909 Sutomo masih nampak hadir, tetapi setelah itu namanya hampir-hampir tidak disebut-sebut lagi di dalam Budi Utomo. Agaknya beliau merasa kecewa melihat perkembangan Budi Utomo, karena itu beliau lebih memusatkan perhatian kepada pelajaran. Dalam tahun 1911 Sutomo berhasil menyelesaikan pendidikannya di STOVIA dan sejak saat itu pula beliau berhak memakai gelar dokter, maka mulailah tugasnya sebagai dokter. Mula-mula beliau ditempatkan di Semarang, tetapi kemudian berpindah-pindah ke tempat-tempat lain seperti Tuban, Lubuk Pakam (Sumatera Timur), Malang, Blora dan Baturaja (Sumatera Selatan). Dalam tahun 1919 beliau mendapat kesempatan belajar di Negeri Belanda. ke¬mudian di Jerman Barat dan Austria.
Sewaktu di Negeri Belanda Sutomo menggabungkan diri ke dalam ”Indische Vereeniging”’, perkumpulan pelajar-pelajar Indonesia yang kemudian berganti nama menjadi ”Indonesische Vereniging” dan akhirnya menjadi Perhimpunan Indonesia. Beliaupun pernah menjadi ketua organisasi ini, yakni tahun 1920-1921.
Sekembalinya dari Negeri Belanda, Sutomo bekerja sebagai dosen di NIAS (Nederlandsch Indische Artsen School) di Surabaya. Budi Utomo tidak lagi menarik perhatiannya, walaupun pernah diancam akan dikeluarkan dari STOVIA gara-gara mendirikan organisasi tersebut. Tetapi perhatiannya terhadap perkembangan masyarakat tidak pernah surut. Hanya;cara yang ditempuhnya sekarang berbeda. Beliau bermaksud menghimpun golongan terpelajar dan bersama-sama dengan mereka melakukan usaha-usaha yang berguna bagi ma¬syarakat. Untuk maksud itu pada tanggal 11 Juli 1924 Sutomo mendirikan ”Indonesische Studie Club ” (ISC). Tujuan ISC ialah mempelajari dan memperhatikan kebutuhan rakyat. Organisasi ini ternyata menarik perhatian kaum terpelajar, bukan saja cendekiawan Indonesia, tetapi juga cendekiawan Belan¬da, yakni Koch dan Tilleman yang terkenal berpendirian progresif.
Kegiatan dan kedudukan Sutomo dalam masyarakat membawa beliau ke jenjang politik praktis. la diangkat menjadi anggota Dewan Kota (Gemeen-teraad) Surabaya. Dalam dewan ini beliau memperjuangkan nasib rakyat antara lain mengusulkan perbaikan kesehatan dan nasib mereka, tetapi usul-usulnya selalu dikalahkan oleh suara terbanyak yang tidak berorientasi kepada rakyat, tetapi kepada pemerintah kolonial. Ketika usulnya mengenai perbaikan kampung ditolak, sedangkan usul menambah kebersihan dan perbaikan tempat kediaman orang-orang Belanda diterima, dr. Sutomo langsung meminta berhenti dari keanggotaan Dewan Kota. la berpikir tidak ada gunanya bekerja di dewan yang hanya menjadi alat kolonial itu. Langkah dr. Sutomo diikuti pula teman-temannya, RH.M. Suyono, M. Sunjoto, dan Asmowinangun.
Perhatiannya terhadap ISC tidak pernah ditinggalkannya. Berkat pimpinannya, organisasi ini giat melakukan usaha-usaha yang berguna di bidang ekonomi dan sosial. Bersama teman-teman lain, dr. Sutomo memprakarsai berdirinya Bank Bumiputera yang dalam tahun 1929 menjadi Bank Nasional. Selain itu didirikan pula Yayasan Gedung Nasional (GNI) yang langsung dipimpin oleh dr. Sutomo. Gedung ini didirikan secara gotong royong berupa bantuan dari segala lapisan masyarakat, pegawai negeri, swasta, buruh, pedagang, petani, nelayan, bahkan seniman dan seniwati yang tergabung dalam ludruk Cak Durasin pun ikut menyumbangkan tenaga.
Pada tanggal 11 Oktober 1930 ISC berkembang menjadi partai, yakni ”Persatuan Bangsa Indonesia” (PBI) yang langsung diketuai oleh dr. Sutomo, partai ini berhaluan moderat dan cepat sekali berkembang, terutama di daerah Jawa Timur. Dengan terbentuknya partai ini maka kegiatan di bidang sosial ekonomi semakin menonjol. Hasil-hasilnya dapat dilihat dengan berdiri¬nya Rukun Tani, Rukun Pelayaran, Serikat Buruh, Koperasi, Bank Kredit, Pemeliharaan yatim-piatu. Pemberantasan Pengangguran dan lain-lain. Di bi¬dang pengajaran: merencanakan Sekolah Taman Kanak-kanak, mengusahakan bacaan untuk anak-anak SD, pemberantasan buta huruf dan lain-lain. Di bi¬dang politik dan pers: memberikan kursus-kursus politik, kursus kader dan lam-lain, menerbitkan surat kabar harian (Soeara Oemoem) dan mingguan (Penyebar Semangat). Dapat dikatakan kegiatan PBI meliputi semua kebutuhan manusia Indonesia, lahir dan batin untuk dapat menjadi bangsa yang mampu berdikari dalam mencapai tujuan memuliakan nusa dan bangsa Indo¬nesia. Pedomannya. ”Kebenaran dan Keadilan dengan bekerja atas dasar cinta kepada nusa dan bangsa Indonesia”.
Sebelum berkembang menjadi PBI, terlebih dahulu ISC sudah menggabungkan diri ke dalam PPPKI (Permufakatan Perhimpunan-perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia) yang dibentuk pada langgal 17 Desember 1927. Didalam Kongres PPPKI yang pertama tanggal 30 Agustus – 2 September 1930, dr. Sutomo dipilih menjadi ketua dengan sekretaris Ir. Anwari. Kemudian dalam kongresnya bulan Maret 1932 ketua/sekretaris di Surabaya dipindahkan ke Jakarta dengan ketua M.H. Thamrin dan sekretaris Otto Iskandardinata. Pada bulan Desember 1933 Kongres Indonesia Raya di Sala yang diselenggarakan oleh PPPKI dilarang, karena Partindo pimpinan Ir. Sukarno dan Mr. Sartono yang dinyatakan sebagai partai terlarang adalah anggota PPPKI. Pembatalan itu diberikan oleh penguasa hanya beberapa hari sebelum kongres. Pemimpin-pemimpin partai sudah hadir di Sala, termasuk dr. Sutomo. Kesempatan itu oleh dr. Sutomo dimanfaatkan dengan mengadakan penjajagan kepada ”Budi Utomo” pimpinan K.R.M.H. Wuryaningrat untuk berfusi dengan Persatuan Bangsa Indonesia-Fusi Budi Utomo-Persatuan Bangsa Indonesia terlaksana dalam bulan Desember 1935 dan berganti nama menjadi ”Partai Indonesia Raya” (Parindra). Dokter Sutomo terpilih menjadi ketua dengan wakil ketuanya K.R.M.H. Wuryaningrat.
Kegiatan dr. Sutomo di dalam Parindra meningkat, baik di bidang politik maupun di bidang sosial ekonomi. Haluan partai tetap moderat dan membenarkan anggota-anggotanya duduk di dalam Dewan-dewan. M.H. Thamrin, Sukarjo Wiryopranoto, Otto Iskandardinata, RJP, Suroso adalah anggota Parindra yang duduk di dalam Volksraad (Dewan Rakyat).
Sebagai dokter, Sutomo penuh perikemanusiaan, beliau tidak menetapkan tarif pembayaran penderita, kecuali mempersilahkan siapa saja yang berobat untuk mengisi kotak yang sudah tersedia. Rakyat kecil yang tidak mampu di bebaskan dari pembayaran, bahkan seringkali diberinya uang untuk ongkos pulang. Dalam hal perikemanusiaan beliau tidak membeda-bedakan bangsa apa saja, sedang dalam tugas politiknya beliau gigih berjuang mencapai kemuliaan tanah air dan bangsanya dengan tidak segan-segan menentang penguasa kolonial.
Sutomo mempunyai banyak kawan di segala golongan dan lapisan masyarakat. Kawan dekatnya di golongan agama adalah Kyai Haji Mas Mansur. Karena persahabatan itu Sutomo banyak membantu Muhammadiyah Jawa Timur yang dipimpin oleh K.H. Mas Mansur dengan mendirikan poliklinik dan sebagainya.
Isterinya, seorang wanita Belanda, dicintai sepenuh jiwanya. Karena isteri itu sakit-sakitan, maka didirikanlah rumah untuknya di Claket di lereng pegunungan Penanggungan, daerah Malang. Segala sesuatu dilakukannya untuk menyembuhkan isterinya, namun tidak berhasil. Pada tanggal 17 Februari 1934 Sutomo mendapat musibah; isterinya meninggal dunia. Musibah itu dirasakan berat oleh dr. Sutomo seperti beliau lukiskan dalam bukunya ”Kenang-kenangan”. Empat tahun kemudian, Sutomo jatuh sakit dan baru sekali itu beliau sakit sejak masa dewasanya. Sakitnya makin hari makin parah dan jiwa¬nya tidak tertolong. Pada tanggal 30 Mei 1938 pukul 16.15 dr. Sutomo pu¬lang ke rahmatullah. Jenazahnya dikebumikan di belakang ”Gedung Nasional Indonesia”, Bubutan Surabaya, atas permintaannya sendiri.
Seorang yang berjiwa besar dan banyak sekali jasanya kepada bangsa dan tanah air Indonesia serta prikemanusiaan, dr. Sutomo telah pergi untuk selama-lamanya.
Pemerintah RI menghargai jasa-jasa Sutomo, berdasarkan Surat Keputusan Presiden Rl No.657 Tahun 1961 tanggal 27 Desember 1961 dr. Suto¬mo dianugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, Sumber:
http://pahlawancenter.com/pahlawancenterbaru/?p=1536

Jenderal. TNI. ANM. Basuki Rachmat

Jenderal. TNI. ANM. Basuki Rachmat1. Surat Perintah 11 Maret 1966.
Hari Jum’at 11 Maret 1966, sidang Kabinet Dwikora yang dipimpin oleh Presiden Soekarno dengan mendadak diskor, Presiden memerintahkan Wakil Perdana Menteri III (Waperdam III) Dr. Leimena untuk memimpin sidang. Setelah Waperdam menerima laporan dari Brigjen Amir Machmud Panglima Daerah Militer V/ Jakarta Raya, bahwa Presiden telah meninggalkan istana menuju Bogor, sidang dibuka kembali, Leimena berbicara singkat, sidang kabinet ditutup. Suasana kalut di luar istana ada demonstrasi mahasiswa. Ribuan mahasiswa mengepung istana, konon mereka didukung pasukan yang tanpa mengenakan identitas. Dalam suasana kalut itu Menteri Urusan Veteran dan Demobilisasi Mayjen Basuki Rachmat, memanggil Brigjen M. Jusuf, Menteri Perindustrian Dasar Mayjen Mursid Deputy II Men/ Pangad dan Brigjen Amir Machmud Pangdam V (Jayakarta) untuk membahas peristiwa yang baru terjadi. Presiden tergesa-gesa meninggalkan istana atas laporan ajudan senior dan komandan Pasukan Tjakrabirawa Brigjen Sabar. Beliau menilai strategi tidak kondusif dan keselamatan Presiden terancam oleh demonstrans dan pasukan tanpa identitas. Para perwira tinggi berkesimpulan bahwa situasi politik dan keamanan sangat labil yang menyebabkan Presiden merasa terancam keselamatannya dan dalam ketakutan yang luar biasa.
Peristiwa ini bisa menimbulkan kesan bahwa Angkatan Darat telah meninggalkan Presiden, Basuki Rachmat mengajak ketiga perwira itu untuk menemani Presiden di Bogor, dengan terlebih dulu memohon izin Menteri/ Panglima Angkatan Darat Letjen Soeharto yang tidak hadir dalam sidang kabinet, dalam pembicaraan dengan Jenderal Soeharto, panglima mengizinkan mereka pergi ke Bogor dengan pesan singkat, ”sampaikan salam hormat saya kepada Bapak Presiden dan sampaikan kesanggupan saya mengatasi keadaan, apakah Presiden memberikan kepercayaan kepada saya”.
Setelah mereka diterima oleh Presiden akhirnya Presiden memerintahkan untuk menyusun draf surat perintah kepada Jenderal Soeharto. Basuki Rachmat, M. Jusuf, Amir Machmud dan Sabar bekerja menyusun draf surat perintah Presiden. Sabar bertindak sebagai sekretaris menuliskan draf dan sekaligus mengetiknya, draf ini disampaikan kepada Presiden, yang sebelumnya telah memanggil para Wakil Perdana Menteri untuk hadir di Paviliun Presiden. Presiden memberikan draf tersebut kepada para Waperdam, dipersilahkan menanggapinya, hampir tidak ada tanggapan, Soebandrio mengatakan: ”kalau Presiden setuju, kami tidak bisa berbuat apa-apa”, bahkan Waperdam Leimena menyarankan agar ditanda tangani saja. Akhirnya Presiden Soekarno menandatangani draf surat perintah yang di ketik tanpa prosedur administrasi kepresidenan menjadi surat perintah resmi.
Peristiwa bersejarah ini tidak dapat dipisahkan dengan peran Basuki Rachmat, seorang Jenderal yang sangat dikenal oleh Presiden. Beliau mempercayai sebagai Sekretaris Penguasa Perang Pusat (Peperta) yang dipimpin oleh Presiden. Surat Perintah 11 Maret yang akronim populernya Super Semar, adalah kunci pembuka pintu perubahan tata kehidupan berbangsa dan bernegara dalam pelbagai bidang, melalui Surat Perintah 11 Maret 1966, Partai Komunis Indonesia (PKI) beserta organisasi pendukungnya dalang kudeta 1965 di bubarkan.
Itulah peran utama Basuki Rachmat, sebagai pelaku utama lahirnya Surat Perintah 11 Maret 1966.
2. Masa kanak-kanak dan pendidikan.
Basuki Rachmat lahir dari lingkungan priyayi pamong praja, buah hati keluarga dari R. Soedarsono Somodihardjo, Camat Senori (Tuban) dan Suratin pendampingnya. Beliau lahir pada hari Senin Legi tanggal 14 November 1921, di tempat ayahnya berdinas Senori, sejak usia empat tahun ia telah menjadi piatu. Pada usia tujuh tahun ia masuk ke Sekolah Dasar H.I.S. (Hollands Inlands School) yaitu sekolah dasar khusus untuk para anak ambtenaan (Pegawai Negeri) di Tuban, ibu kota Kabupaten. Takdir telah tersurat, pada usia 14 tahun tatkala ia duduk di kelas empat H.I.S, ayahnya meninggal dunia pada tahun 1935, ia diboyong oleh bibinya Ibu Surowinoto ke Bojonegoro. Setamat H.I.S. ia melanjutkan sekolah ke MULO (Meer Uitgebrig Lager Onderwijs, pendidikan rendah yang lebih diperluas) di Surabaya dan tamat pada tahun 1939, dari Surabaya melanjutkan pendidikannya ke sekolah guru Hollands Inlands Kweekschool (H.I.K.) Muhammadyah Yogyakarta tamat pada tahun 1942. Satu bulan tentara Jepang menduduki Indonesia, pada awal pendudukan Jepang hampir semua sekolah masih ditutup, Basuki Rachmat belum sempat berdiri di depan kelas.
3. Propaganda mobilisasi.
Propaganda mobilisasi semula untuk dilatih menjadi militer demikian hebat. Basuki Rachmat tertarik, ia mendaftarkan diri dan mengikuti pendidikan militer di depo pendidikan prajurit (Renslitdi) di Magelang ia diangkat sebagai Lecho (pembantu prajurit) balalon Jepang, hampir selama dua tahun sebagai Lecho, dia terpilih untuk masuk sekolah perwira Tentara Pembela Tanah Air (PETA) setelah tentunya Osama Suirei No.44, Oktober 1943, pada tahun 1944 beliau masuk pendidikan calon Shodanco (komandan peleton) di Bogor, diangkat sebagai Shodanco dari Daidan (batalyon) Tentara PETA di Pacitan tugas pertamanya sebagai masuk calon prajurit tentara Peta, setelah Daidan terbentuk beliau ditugasi menjadi Shodanco Heiki Gakan (perwira bagian persenjataan dan peralatan), setelah proklamasi Peta dibubarkan, mantan Shodanco Basuki Rachmat berada di Maospati, sebuah kota kawedanan yang berada di jalan silang Surabaya – Surakarta dan Magetan, kota kecil ini penting karena disana ada pangkalan udara militer. Pemuda Basuki melatih pemuda-pemuda Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan diangkat sebagai pimpinannya. BKR Maospati adalah bagian dari BKR keresidenan Madiun dibawah pimpinan Sumantri mantan Shodanco Peta. Setelah terbentuknya Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 5 Oktober 1945, Basuki Rachmat membentuk batalyon TKR di Ngawi, kota kabupaten Maospati dan menjadi komandannya dengan pangkat Mayor, Batalyon Basuki Rachmat adalah satu batalyon dari Dwisir VI Narotama, di bawah pimpinan Kolonel Sungkono yang bermarkas di Surabaya. Sejak terjadinya awal pergolakan sampai pecahnya pertempuran Surabaya pada bulan November 1945, Basuki Rachmat memperkuat barisan pejuang, kompi demi kompi secara bergilir dilibatkan dalam pertempuran dikirim ke Surabaya. Setelah aksi militer Belanda I, tanggal 21 Juli 1947 Basuki Rachmat memindahkan batalyonnya ke daerah Bojonegoro, berkedudukan di Temoyang sebuah desa strategis yang terletak di jalan Surabaya – Bojonegoro dan Jombang – Babad, beberapa kali pihak Belanda berusaha merebut desa ini namun selalu gagal.
Setelah Reorganisasi dan Rasionalisasi TNI tahun 1948, batalyon Basuki Rachmat masuk jajaran Divisi I, Brigade I dibawah pimpinan Letkol Moh. Sudirman pada bulan September 1948, Basuki Rachmat sebagai komandan batalyon diperintahkan ke Magelang bersama-sama sejumlah para komandan batalyon dari Brigade untuk mengikuti briefing orientasi strategi baru TNI dalam mengantisipasi agresi militer Belanda yang kemudian dikenal dengan strategi atuisi, briefing ini dipimpin sendiri oleh Panglima Besar Jenderal Sudirman. Seusai briefing, terdengar PKI melakukan pemberontakan di Madiun, beberapa daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur telah dikuasai oleh pasukan PKI. Bagi Basuki Rachmat dan kawan-kawannya yang berasal dari Jawa Timur, bagaimana mereka kembali ke kesatuan masing-masing. Perjalanan sangat riskan setiba di Ngawi bertemu dengan Sentot Iskandardinata, komandan batalyon sentot. Kota telah dikuasai oleh TNI, perjalanan dilanjutkan sampai di Cepu yang telah di rebut oleh kompi Subandono, sekalipun dalam perjalanannya dari Cepu, mobil nya di tembak pesawat Belanda akhirnya Basuki Rachmat tiba di markas komandannya di Temoyang. Setelah di umumkan oleh Presiden pada tanggal 15 Agustus 1949, Mayor Basuki Rachmat, Mayor Rukmito Hendraningrat, Kapten Sutarto Sigit ditunjuk sebagai anggota Local Joint Committee yang dipimpin Mayor Rukmito mengadakan perundingan dengan pihak Belanda di Bojonegoro. Setelah pengakuan kedaulatan pada bulan Juni 1950 Basuki Rachmat ditetapkan sebagai Kepala Staf dan Pejabat Brigade II/ Narotama Divisi I selanjutnya pada tahun 1953 diangkat sebagai Kepala Staf Tentara dan Teritorium V/ Brawijaya yang juga merangkap panglima dengan pangkat Letnan Kolonel, karena Panglimanya Kolonel Sudirman mantan komandan brigadenya di Bojonegoro diangkat sebagai Panglima Komando Daerah Pengamanan Sulawesi Selatan dan Tenggara (KPMSST) dari jabatan staf, KSAD Mayor Jenderal Bambang Sugeng, menunjuknya sebagai Atase Militer di Australia yang di jalaninya selama tiga tahun (1956-1959). Sekembali dari Australia Basuki Rachmat ditunjuk sebagai Asisten IV/ Logistik KSAD dan merangkap Sekretaris Penguasa Perguruan Tertinggi (Peperti) satu komando darurat militer yang di pimpin langsung oleh Presiden Soekarno, jabatan rangkap rupanya tidak mampu dipikulnya, kesehatan Basuki Rachmat merosot, akhirnya beliau dibebas-tugaskan dari jabatan Asisten IV/ Logistik Men/ Pangad, jabatan sebagai Sekretaris Peperti berakhir pada tahun 1961 setelah Peperti berubah menjadi KOTI Pemibar (Komando Operasi Tertinggi Pembebasan Irian Barat) setelah reorganisasi TNI tahun 1962, tepat pada saat perjuangan pembebasan Irian Barat, Basuki Rachmat diangkat sebagai Panglima Komando Daerah Militer VIII (KODAM VIII/ Brawijaya). Pada saat menjabat Pangdam VIII, banyak masalah sosial-politik yang dihadapinya Ofensif Revolusioner yang dilancarkan oleh PKI, seperti aksi sepihak yaitu penyerobotan tanah milik petani dan sejumlah demonstrasi yang menuntut Kabinet Nasakom dan pelbagai kampanye politik yang bernada anti TNI dan anti Pemerintah Daerah. Pada tanggal 27 September 1965, tatkala Basuki Rachmat sedang meninjau latihan Pos Komando (Posko) di Saradan (Madiun) di Surabaya terjadi demonstrasi besar-besaran yang dilakukan oleh ormas PKI. Kediaman Gubernur, pada waktu yang menjabat Gubernur Kolonel Wiyono, dikepung oleh masa PKI, demonstrasi di pelopori oleh Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani). Para demonstrans yang ternyata tidak hanya wanita, menyerbu masuk rumah Gubernur. Benda-benda yang ada didalam gedung seperti meja, kursi, lukisan dirusaknya, mereka mencari Gubernur Wiyono dengan maksud akan diadili di depan masa mereka. Situasi Surabaya sangat menegangkan, Basuki Rachmat setelah menerima laporan peristiwa tersebut bergegas kembali ke Surabaya. Peristiwa ini dinilai sebagai peristiwa yang serius harus segera dilaporkan kepada Men/ Pangad Letjen. A. Yani. Kadar politiknya sangat tinggi, yang dinilai sebagai test case untuk menaksir kekuatan lawan PKI. Basuki Rachmat dikawal oleh Kapten Sugianto, Ajudan Gubernur Wiyono diterima Men/ Pangad pada tanggal 30 September malam, untuk melaporkan situasi politik yang mutakhiri di Jawa Timur. Men Pangad akan meneruskan laporan tersebut kepada Presiden, beliau memerintahkan supaya besok tanggal 01 Oktober 1965 menggunakan PDUK untuk menghadap Presiden.
Tanggal 01 Oktober 1965, setelah mendengar berita tentang kudeta Gerakan 30 S/ PKI langsung datang ke markas Kostrad dan melakukan kontak dengan staf Kodam memerintahkan agar komando diselamatkan dari situasi yang kritis. Tatkala menyaksikan sendiri satu batalyon dari jajaran Kodam VIII/ Brawijaya terlibat dalam peristiwa itu.
Basuki Rachmat berusaha menghubungi Komandan Batalyon 530 Mayor Bambang Supeno tidak berhasil, kontak berhasil dilakukan dengan Kapten Sukarbi, Wakil Komandan Batalyon II. Akhirnya pada sore hari Kapten Sukarbi membawa pasukannya masuk Makostrad, batalyon 530 minus 1 Kompi yang masuk jajaran tim.
Sementara itu Panglima Kostrad memerintahkan Brigjen Sabirin Muchtar sesepuh Batalyon tersebut menghubungi mereka. Sesudah Pangkostrad Mayor Jend. Soeharto dilantik sebagai Menteri Panglima Angkatan Darat pada tanggal 16 Oktober 1965 dengan pangkat Letnan Jenderal, Basuki Rachmat ditunjuk sebagai Deputy Khusus (Desus) Pangad merangkap jabatan Pangdam VIII/ Brawijaya. Tatkala Presiden Soekarno mereshuffle kabinet, menjadi Kabinet Dwikora yang disempurnakan pada Bulan Februari 1966, Basuki Rachmat diangkat sebagai Menteri Veteran dan Demobilisasi. Pada saat menjabat Menteri inilah Basuki Rachmat berperan dalam lahirnya Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar). Tugas baru telah menanti Basuki Rachmat, Presiden Soeharto menunjuk Basuki Rachmat sebagai Menteri Dalam Negeri dalam Kabinet Pembangunan I (1968-1973). Tugas utama Departemen Dalam Negeri pada saat itu mempersiapkan Penentuan Pendapat Rakyat Irian Barat (Get & Free Choice) yang akan diselenggarakan pada tanggal 14 Juli 1969. Basuki Rachmat tidak menyaksikan hasil perjuangan Bangsa Indonesia yang berat dan lama yaitu utuhnya wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beliau meninggal dunia ketika memimpin rapat staf di Departemen Dalam Negeri. Pangkat Militernya dinaikkan secara Anumerta menjadi Jenderal TNI.
Atas jasa dan perjuangannya terhadap bangsa dan negara, Pemerintah RI menganugerahi Gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No. 1/TK/1969 tanggal 9 Januari 1969.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, Sumber:
http://pahlawancenter.com/pahlawancenterbaru/?p=1847

Djanatin alias Osman bin Mohammad Ali

Djanatin-Alias-Osman-bw-253x300Djanatin alias Osman bin Mohammad Ali lahir : Purbalingga, 18 Maret 1943
beragama Islam, Ayah H. Mohammad Ali Ibu Rukiyah

Pendidikan :
SD Tahun 1958
SMP Tahun 1961
Pendidikan Militer 1962

RIWAYAT HIDUP DAN PERJUANGAN
Djanatin berasal dari keluarga santri yang patuh kepada agama, disamping itu keluarga Djanatin ádalah merupakan pejuang bangsa yang gigih, salah seorang kakaknya telah gugur di dalam tugas mempertahankan kemerdekaan RI pada tahun 1949. Dua orang kakaknya yang lain meneruskan perjuangan kakaknya yang telah gugur tersebut.
Pada tahun 1961 saat Djanatin duduk di kelas 3 SMP, berdengunglah Tri Komando (TRIKORA) yang dikumandangkan oleh Presiden Soekarno. Trikora itu amat menyentuh jira Djanatin, Djanatin bermaksud memenuhi panggilabn tersebut. Tahun 1962 Djanatin mulai mengikuti pendidikan militer yang diadakan oleh Korps Komando Angkatan Laut RI. Djanatin mengikuti pendidikan selama 6 bulan dan diteruskan dengan latihan amphibi selama 4 minggu, selanjutnya Djanatin memasuki pendidikan khusus di Cisarua selama satu bulan. Setamat dari berbagai latihan niscaya Djanatin dan kawan-kawan seangkatannya merupakan prajurit pilihan yang serba mampu. Kemudian Djanatin terlibat dalam pelaksanaan Trikora pembebasan Irian Barat.
Sementara itu Djanatin menamatkan pendidikan militer sukarela tanggal 20 Agustus 1962 dan dipindahkan ke Batalyon III KKO-AL. Dalam melaksanakan tugas “Operasi Sadar” di Irian Barat, Djanatin dapat menunjukkan kemampuannya sebagai seorang prajurit sejati yang dapat menepati sumpahnya termasuk termasuk disiplin serta kesetiaan yang tinggi pada kesatuannya. Dalam kesatuan itulah Djanatin berteman dengan Harun yang sama-sama memberikan pengabdian maksimal kepada negara dan bangsa.
Saat Indonesia mengumandangkan ” Konfrontasi” dengan federasi Malaysia dan lahirlah ”Dwikora”, pelaksanaannya antara lain memanggil sukarelawan dari berbagai bagian ABRI. Menurut Surat Perintah KKO tanggal 27 Agustus 1964 Kopral Osman (Djanatin) dan Prako II Harun dimasukkan dalam Tim Brahmana I dibawah pimpinan Kapten KKO Paulus Subekti yang berpangkalan di Pulau Sambu Riau, disini mereka bertemu dengan Gani bin Arup.
Pada tanggal 8 Maret 1965 mereka bertiga ditugaskan menyusup ke Singapore dengan bekal 12,5 kg bahan peledak. Tugas mereka adalah melaksanakan sabotase yang dapat menimbulkan efek psikologis yang dapat menggoyahkan kepercayaan umum kepada Pemerintah Singapore. Tanggal 9 Maret 1965 mereka berhasil mendarat di Singapore meskipun penjagaan keamanan sangat ketat. Sasaran yang mereka tentukan adalah Hotel Mr. Me Donald House di Orchard Road. Mereka berhasil membuat ledakan dahsyat di Hotel tersebut yang menyebabkan 3 orang meninggal dan sejumlah orang luka berat dan ringan. Sabotase tersebut mencapai efek yang dimaksud, masyarakat Singapore menjadi gelisah dan menimbulkan kegoyahan dan kepercayaannya kepada pemerintahnya.
Pada tanggal 10 Maret 1965 mereka memutuskan untuk kembali ke pangkalan mereka di Pulau Sambu. Osman dan Harun bersama-sama sedangkan Gani memisahkan diri. Osman (Djanatin) dan Harun berhasil naik kapal “Begama” dan menyamar sebagai pelayan dapur. Tetapi pada malam hari tanggal 12 Maret 1965 penyamarannya diketahui oleh pemilik kapal, sehingga mereka mencari kapal lain. Mereka berhasil merampas motor boad yang dikemudikan seorang Cina, tetapi di tengah lautan motor boad tersebut macet, sehingga pada tanggal 13 Maret 1965 mereka ditangkap dan ditahan untuk menunggu perkaranya diajukan ke muka pengadilan.
Pada tanggal 4 Oktober 1965 Djanatin alias Osman bin Haji Mohammad Ali dan Harun bin Said alias Tahir diajukan ke Pengadilan Tinggi Singapore. Pada tanggal 20 Oktober 1965 mereka dijatuhi hukuman mati. Tanggal 6 Juni 1966 mereka naik banding ke Pengadilan Federal, tetapi pada tanggal 5 Oktober 1966 permohonan naik banding tersebut ditolak. Kemudian pada tanggal 17 februari 1967 perkara tersebut diajukan ke “Prici Council” di London, namun pada tanggal 21 Mei 1968 pengajuan tersebut di tolak. Upaya selanjutnya adalah permohonan grasi kepada Presiden Singapore, pada tanggal 1 Juni 1968 tetapi permohonan grasi tersebut di tolak.
Upaya terakhir untuk menyelamatkan Osman dan Harun, yaitu Presiden Suharto mengirim utusan pribadinya Brigjen TNI Cokropranolo (waktu itu Sekmil Presiden) untuk menghubungi pejabat yang berwenang di Singapore, usaha terakhir ini pun tidak berhasil.
Akhirnya pada tanggal 17 Oktober 1968 pukul 06.00 – 07.00 pagi, KBRI Singapore menelpon penjara Changi dan mendapat penjelasan bahwa hukuman mati atas Osman dan Harun telah dilaksanakan.
Dari Jakarta dikirimkan sebuah pesawat terbang khusus untuk menjemput kedua jenazah tersebut untuk dibawa ke tanah air dan selanjutnya dimakamkan di TMPN kalibata.
Pemerintah RI menghargai jasa-jasanya dengan menaikkan pangkat mereka :
a. Djanatin bin Mohammad Ali alias Osman menjadi Sersan Anumerta KKO-AL.
b. Harun bin Said alias Tahir menjadi Kopral Anumerta KKO-AL.
Dengan Surat Keputusan Presiden No. 50/TK/Tahun 1968 tertanggal 17 Oktober 1968, mereka berdua dianugerahi Gelar Pahlawan.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, Sumber: Kementrian Sosial RI

http://pahlawancenter.com/pahlawancenterbaru/?p=1843

M.T. Harjono

M.TM.T. Harjono dilahirkan tanggal 20 Januari 1924 di Surabaya, Jawa Timur. ayahnya bernama Mas Harsono dan ibunya bernama Alimah. Keluarga Mas Harsono dikenal sebagai keluarga yang taat beragama dan cukup terpandang dikalangan masyarakat.
Horjono memperoleh pendidikan pertama di ELS (Europese Lagere School) di Jakarta. Murid-murid yang diterima di sekolah yang setingkat Sekolah Dasar ini terbatas pada anak-anak Belanda dan anak-anak Indonesia yang orang tuanya mempunyai kedudukan penting dalam pemerintahan atau dalam masyarakat Pada masa itu tidak semua anak Indonesia memasuki sekolah yang disukainy a.
Setelah menamatkan ELS, Harjono melanjutkan pelajarannya ke HBS (Hoogere Burger School) setingkat Sekolah Menengah Atas. Pendidikan umum tertinggi yang diperoleh Harjono ialah di Ika Daigaku (Sekolah Tinggi Kedokteran) dalam zaman Jepang. Tetapi sekolah ini tidak sampai diselesaikannya. la hanya belajar di Ika Daigaku selama tiga tahun.
Rupanya minat Harjono beralih kebidang lain, yakni bidang militer. Dalam tahun 1943 Pemerintah Pendudukan Jepang membuka kesempatan bagi pemuda-pemuda Indonesia untuk dilatih menjadi tentara Peta (Pembela Tanah Air). Sebenarnya Jepang bermaksud untuk memakai pemuda-pemuda ini membantu Jepang dalam perang menghadapi Sekutu. Tetapi golongan nasionalis Indonesia berhasil menanamkan rasa kebangsaan di kalangan anggota tentara Peta, sehingga mereka menyiapkan diri untuk menjadi tentara di negara sendiri. Dalam kenyataannya, tentara Peta inilah yang kelak menjadi inti dari Angkatan Bersenjata Indonesia (ABRI) di samping kesatuan-kesatuan militer lainnya yang dibentuk oleh Jepang maupun Belanda. Seperti halnya dengan pemuda lainnya, M.T. Harjono pun memasuki Peta.
Sejak saat itulah kehidupan Harjono mulai terkait dengan kehidupan militer sampai akhir hayatnya. Sesudah kemerdekaan diproklamasikan, Harjono bersama teman-temannya turut mengambil bagian dalam kegiatan merebut senjata dari tangan Jepang. Ketika pemerintah mengumumkan pembentukan BKR (Badan Keamanan Rakyat) Harjono segera memasukinya. BKR inilah yang kemudian berganti nama menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat), lalu TNI (Tentara Nasional Indonesia) dan akhirnya ABRI.
Sejak bersekolah di- HBS, Harjono sudah menguasai bahasa Belanda, Inggris, dan Jerman. Kemahiran berbahasa asing itu menyebabkan ia diberi kepercayaan untuk memangku jabatan sebagai Kepala Kantor Penghubung terhitung mulai 1 September 1945. Tugasnya yang utama ialah mengadakan kontak dengan perwira-perwira Inggris yang datang ke Indonesia atas nama Sekutu untuk melucuti pasukan Jepang dan memulangkan mereka ke tanah airnya. Jabatan sebagai Kepala Kantor Penghubung tidak lama dipangkunya, sebab dalam bulan Desember 1945 ia dipindahkan ke Sekretariat Keamanan.
Strategi diplomasi yang dijalankan pemerintah pada masa-masa awal kemerdekaan, menyebabkan seringnya diadakan perundingan dengan pihak Inggris dan Belanda. Pemerintah berusaha memperoleh pengakuan Internasional terhadap kedaulatan Indonesia melalui jalan diplomasi. Dalam perundingan-perundingan seperti itu diperlukan orang-orang yang mahir berbahasa asing. Karena itulah tenaga Harjono terpakai. Dalam bulan Maret 1946 ia ditunjuk sebagai sekretaris delegasi Indonesia dalam perundingan dengan Inggris dan Belanda di Jakarta.
Selama dalam perundingan itu Harjono memperlihatkan kemampuannya sebagai tenaga administrasi yang baik. Pemerintah kemudian mempercayainya untuk memegang jabatan sebagai Sekretaris Dewan Pertahanan Negara di Yogyakarta. Jabatan itu mulai dipangkunya bulan Juli 1946, tetapi empat bulan kemudian ia diangkat sebagai wakil tetap Kementerian Pertahanan Urusan Gencatan Senjata. Tugas itu bukanlah tugas yang ringan. Walaupun resminya sudah tercapai gencatan senjata antara RI dan Belanda, namun pelanggaran-pelanggaran sering diadakan oleh kedua pihak. Mau tak mau Harjono terlibat dalam mencari penyelesaiannya.
Karir Harjono sebagai perwira staf terus meningkat. Akhir tahun 1947 diangkat sebagai Kepala Kantor Urusan Pekerjaan Istimewa pada Markas Umum Angkatan Darat. Dalam bulan Desember 1948, menjelang terjadinya Agresi Militer II Belanda, ia diserahi jabatan sebagai Kepala Bagian Pendidikan Staf Angkatan Perang merangkap sebagai juru bicara Staf Angkatan Perang.
Agresi Militer II Belanda diakhiri dengan KMB (Konferensi Meja Bundar) dalam konferensi ini Angkatan Perang mengirimkan delegasi yang akan membicarakan kedudukan Angkatan Perang RI sesudah Belanda mengakui kedaulatan RI. Delegasi ini dipimpin oleh Kolonel T.B. Simatupang, sedangkan Mayor M.T. Harjono diangkat sebagai sekertaris.
Pada tanggal 27 Desember 1949 Pemerintah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia. Hubungan antara kedua negara dipulihkan dengan cara membuka perwakilan masing-masing. RI menempatkan atase militer di Negeri Belanda, begitu pula sebaliknya. Bulan Januari 1950 M.T. Harjono diangkat sebagai atase militer pertama RI untuk Negeri Belanda. Tugas ini di pangkunya selama empat tahun dan sementara itu, pada bulan Agustus 1951, pangkatnya dinaikkan menjadi Letnan Kolonel.
Kembali ke tanah air dalam tahun 1954, Letnan Kolonel M.T. Harjono diangkat sebagai perwira diperbantukan pada KSAD (Kepala Staf Angkatan Darat). Setelah selama kurang lebih satu tahun ditempatkan di Inspektorat Infanteri, mulai bulan Juli 1956 kembali M.T. Harjono diperbantukan pada KSAD. Itupun tidak lama, sebab bulan Oktober 1956 ia diperbantukan pada Deputy III KSAD.
Dalam tahun 1957 Harjono memperoleh kesempatan untuk mengikuti pendidikan pada kelas senior SSKAD (Sekolah Staf Dan Komando Angkatan Darat) di Bandung. Selesai dari pendidikan ini, untuk beberapa waktu lamanya ia dikembalikan ke Deputy II KSAD. Namun mulai Desember 1958 ia diserahi tugas sebagai wakil Direktur CIAD (Corps Intendans Angkatan Darat) dan sekaligus merangkap sebagai Pejabat Sementara Direktur CIAD. Jabatan terakhir ini kemudian diserahkanya kepada Kolonel Ashari D. yang telah diangkat sebagai Direktur CIAD.
Kenaikan pangkat menjadi Kolonel diterima Harjono tanggal 11 Januari 1959 dan dua puluh bulan kemudian pangkatnya naik lagi menjadi Brigadir Jenderal. Dengan pangkat Brigadir Jenderal ia diserahi jabatan sebagai Inspektur Jenderal Angkatan Darat. Kenaikan pangkat terakhir sebagai Mayor Jenderal diterimanya dalam bulan Juli 1964, sedangkan jabatan yang di pangkunya ialah Deputy III Men/Pangad (Menteri/Panglima Angkatan Darat). Dalam pangkat dan jabatan itulah ia meninggal dunia akibat penghianatan PKI (Partai Komunis Indonesia).
Dalam tahun 1960-an PKI berhasil menanamkan pengaruhnya di hampir setiap dibidang kehidupan kenegaraan. Mereka melakukan intrik untuk melumpuhkan partai-partai politik yang melawan mereka. Tujuan akhir PKI ialah merebut kekuasaan negara dan mengganti idiologi negara Pancasila dengan idiologi komunisme. Pimpinan Angkatan Darat yang menyadari bahaya yang akan timbul dari ambisi PKI itu berusaha menghalang-halanginya. Karena itulah PKI menilai Angkatan Darat sebagai lawan utama.
Dengan berbagai cara PKI mencoba mendiskreditkan Angkatan Darat. Mereka menyebar isu bahwa dalam Angkatan Darat terdapat sebuah dewan yang menilai kebijaksanaan Presiden Sukarno. Diisukan pula bahwa Angkatan Darat akan merebut kekuasaan negara, bahkan dikatakan Angkatan Darat bekerjasama dengan sebuah negara asing untuk melakukan pemberontakan.
Untuk memperkuat dirinya, PKI mengajukan gagasan untuk membentuk angkatan Kelima yang akan terdiri dari buruh dan tani yang dipersenjatai. Gagasan untuk membentuk Angkatan Kelima ini dengan tegas ditolak oleh pimpinan Angkatan Darat, termasuk Mayor Jenderal M.T. Harjono. Karena itulah Harjono dianggap PKI sebagai lawan yang harus dibunuh.
Pada hari tanggal 1 Oktober PKI memulai gerakannya menculik dan membunuh pejabat-pejabat teras Angkatan Darat. Gerakan itu dikenal dengan nama G-30-S/PKI (Gerakan 30 September/PKI). Pasukan yang ditugasi menculik Mayor Jenderal Harjono terdiri atas 16 orang. Mereka berhasil memasuki rumah dan mendobrak secara paksa pintu kamar tidur Harjono sambil melepaskan tembakan. Harjono berusaha merebut senjata gerombolan, namun gagal. Beberapa peluru melukai tubuhnya dan meninggal saat itu juga. Mayatnya diangkut gerombolan ke Lubang Buaya dan dimasukan kedalam sumur tua bersama mayat perwira-perwira lain yang diculik dan dibunuh PKI. Barulah tanggal 4 Oktober, setelah Daerah Lubang Buaya dibersihkan dari pasukan pemberontak, Mayat Harjono dan lain-lainnya dikeluarkan dari sumur. Bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke-20 ABRI tanggal 5 Oktober 1965, jenazah mereka dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.
Pemerintah menghargai jasa dan pengabdian M.T. Harjono kepada bangsa dan tanah air, terutama dalam mempertahankan kemurnian Pancasila. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 11l/Koti/1965 tanggal 5 Oktober 1965 M.T. Harjono ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi. Pangkatnya dinaikkan secara anumerta menjadi Letnan Jenderal.
Harjono meninggalkan seorang istri dan lima orang anak. Istrinya bernama Mariatin. Mereka menikah pada tanggal 2 Juli 1950. Dua orang anak mereka lahir di Negeri Belanda, yakni Bob Hariyanto dan Haryanti Mirya. Anak-anak lainya ialah Rianto Nurhadi, Adri Prambarto, dan Endah Marina.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, Sumber:
http://pahlawancenter.com/pahlawancenterbaru/?p=1821

Marsda TNI. ANM. Abdul Halim Perdanakusuma

080Sejak zaman Majapahit, bahkan sebelumnya hingga zaman Mataram pulau Madura merupakan unsur penting dalam kerajaan di pulau Jawa. Sekarang pulau madura termasuk wilayah Jawa Timur dan terkenal dengan karapan sapinya. Di kota kabupaten Sampang di pulau Madura Trunajaya dilahirkan sebagai seorang pejuang yang berani melawan kekuasaan Belanda pada abad ke-17. Di kota Sampang ini pulalah dilahirkan pada tanggal 18 Nopem,ber 1922 Abdul Halim Perdanakusuma, Laksamana Muda TNI Angkatan Udara.
Abdul Halim Perdanakusuma adalah putera Patih Sampang sebelum menunaikan ibadah haji, beliau bernama Raden Mohammad Siwa. Sekembalinya dari tanah suci berganti nama menjadi Raden Haji Mohammad Bahauddin Wongsotaruno. Ibu Abdul Halim bernama Raden Ayu Asyah, puteri Raden Ngabehi Notosubroto, Wedana Gresik Jawa Timur.
Abdul Halim adalah anak keempat dari sembilan bersaudara sekandung sedangkan seluruhnya saudaranya lain ibu berjumlah 27 orang. Pada tahun 1928 Abdul Halim Perdanakusuma mulai masuk Sekolah Dasar (Hollandsch Inlandsche School/HIS) di kota Sampang. la termasuk anak yang cerdas dapat menamatkan sekolah dengan lancar.
Sejak kecil ia tidak suka banyak bicara. la termasuk anak pendiam. Kalau bicara selalu bersungguh-sungguh atau serius. Meskipun demikian ia cukup ramah dan suka bergaul. Ia pun mempunyai sifat rendah hati. Hingga dewasa sifat-sifat itu dibawa terus. Tindakannya selalu dilakukan dengan hati-hati dan diperhitungkan dengan masak-masak oleh karenanya apa yang direncanakannya banyak yang berhasil.
Ia pandai bergaul dengan segala golongan tanpa membedakan antara yang ningrat dan yang bukan. Sebagai hobby atau kegemaran ia bermain biola dan melukis. Di sekolahnya ia berhasil membentuk sebuah band yang dipimpinnya.
Sesudah tamat ELS pada tahun 1935, ia melanjutkan sekolahnya ke Sekolah Menengah Pertama (MULO). Sementara ia masih duduk di bangku SMP, ayahnya meninggal dunia selanjutnya ia mengikuti kakaknya yang tertua, yaitu Abdulhadi di Surabaya. Sewaktu di MULO ia mengembangkan bakatnya melukis. Hasil karyanya berupa lukisan yang diserahkan kepada kakaknya untuk dijual di pasar Tunjungan, Surabaya. Dengan hasil karyanya itu Abdul Halim dapat memperingan biaya sekolahnya. Kegiatan lainnya ialah bermain musik seperti telah diuraikan di atas.
Sesudah tamat dari MULO ia melanjutkan ke MOSVIA, yaitu Sekolah Pamong Praja di kota Magelang, untuk meneruskan jejak ayahnya yang semasa hidupnya bekerja di Pamong Praja. Setelah lulus dari MOSVIA Abdul Halim bekerja sebagai calon mantri polisi dikantor Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.
Sementara itu keadaan dunia makin gawat. Pada bulan September 1939 pec’ah Perang Dunia II. Beberapa bulan kemudian, tepatnya bulan Mei 1940, negeri Belanda diduduki pasukan Nazi Jerman. Hubungan antara Hindia Belanda dengan negara Belanda putus, dan pasukan Jepang dapat menyerbu Hindia Belanda setiap waktu. Dengan terbum-buru pemerintah Hindia Belanda menyiapkan kekuatan pertahanan untuk menangkis pertahanan Jepang. Menjelang masa yang gawat itu pemerintah Hindia Belanda memberi sedikit kesempatan kepada para pemuda Indonesia untuk memasuki pendidikan perwira pada angkatan darat, angkatan laut dan angkatan udara.
Abdul Halim yang sedang bekerja di kantor Kabupaten Probolinggo, ditunjuk oleh bupati untuk mengikuti pendidikan perwira Angkatan Laut. Sesudah lulus dari tes ia ditempatkan di bagian pendidikan calon perwira kapal torpedo. Dengan demikian ia masuk Angkatan Laut Hindia Belanda.
Pada bulan Maret 1942 pasukan Jepang mendarat di pulau Jawa. Angkatan Laut Hindia Belanda berusaha melawan Jepang, tetapi sia-sia belaka. Banyak kapal Hindia Belanda yang tenggelam dan terkubur di dasar lautan. Sisanya berlayar menuju Cilacap dalam rangka persiapan mengungsi ke Australia dan India. Dalam iring-iringan kapal Belanda itu termasuk pula kapal torpedo tempat Abdul Halim bertugas.
Di kota pelabuhan Cilacap, kapal torpedo itu diserang oleh pesawat terbang Jepang sehingga tenggelam. Abdul Halim Perdanakusuma terjun ke laut dan beruntunglah ia diselamatkan oleh kapal perang Inggris. Bersama mereka yang selamat Abdul Halim dibawa ke Australia dan kemudian diangkut ke India.
Di India Abdul Halim Perdanakusuma tetap berada dalam lingkungan Angkatan Laut. Kegemaran melukisnya masih tetap ditekuninya. Pada suatu hari yang luang, rupanya ia melukis potret Laksamana Mountbatten. Panglima Armada Inggris di India. Lukisan itu digantungkannya dikamarnya. .
Suatu ketika, Laksamana Mountbatten mengadakan inspeksi. Semua kamar anak buah di asrama itu diperiksa. Dikamar Abdul Halim, Laksamana Mountbatten melihatnya lukisan wajahnya tergantung di dinding. Ia lalu bertanya, siapa yang melukis itu? Abdul Halim menjawab singkat, bahwa dialah yang melukis.
Sejah itu terjadilah hubungan pribadi antara Laksamana Mountbatten dengan Abdul Halim. Apalagi sesudah mengetahui bahwa Abdul Halim itu putera Indonesia, Laksamana Mountbatten lalu menawarkan kepada Abdul Halim apakah suka menambah pendidikan di negara Inggris ? Abdul Halim menyetujui tetapi mohon agar diperkenankah pindah bidang, yaitu Angkatan Udara. Permintaan itu dikabulkan. Sesudah itu Abdul Halim diterbangkan ke Jibraltar dan selanjutnya ke London. Kemudian iamengikuti pendidikan juru terbang di Kanada. Di Kanada ia berlatih di Royal Canadian Air Forte jurusan navigasi. Sejak itu mulailah pengabdiannya di Angkatan Udara.
Sesudah selesai dengan pendidikannya, Abdul Halim ditempatkan di Inggris sebagai perwira navigasi Angkatan Udara Inggris. Sebagai manusia biasa tentu ia sangat rindu tanah air, bangsa dan keluarganya. Selama berkecamuknya peperangan itu, ia sama sekali tidak mendengar kabar tentag nasib keluarganya. Sedangkan keluarganya ditanah air sudah menganggap, bahwa Abdul Halim tentu sudah gugur dan tenggelam di lautan ketika kapal torpedo yang ditumpanginya dibom Jepang di perairan Cilacap pada awal Perang Pasifik itu.
Tentulah Abdul Halim dapat juga mengirim surat melalui Palang merah Internasional memberitahukan keadaannya kepada keluarganya di Surabaya dan Sampang, tetapi Abdul Halim juga menyadari resikonya. kalau Jepang mengetahui dia perwira Inggris, niscaya akan menangkap dan menganiaya seluruh keluarga Abdul Halim. Karena itu Abdul Halim tetap menahan dan menyabarkan diri. Satu-satunya harapan ialah agar perang dapat lekas selesai.
Abdul Halim makin memusatkan pekerjaannya pada bidang Angkatan Udara. Berkali-kali ia mengikuti pemboman ke Jerman. Ia mengalami berbagai pertempuran sengit di udara, berupa duel-duel antara kapal-kapal terbang Inggris dengan kapal-kapal terbang Jerman. Abdul Halim masuk dalam skuadron tempur yang terdiri dari pesawat Lancaster dan Liberator. Waktu itu ia berpangkat kapten Penerbangan dan merupakan salah seorang perwira Angkatan Udara berkulit berwarna yang tidak banyak jumlahnya.
Dalam operasi serangan pemboman ke Jerman, Kapten Abdul Halim tercatat 42 kali mengikutinya. Sasaran utamanya ialah pusat-pusat industri Jerman. Serangan-serangan itu dilakukan pada siang dan malam hari. Pernah terjadi dalam penerbangan kembali ke pangkalannya di Inggris, skuadronnya dicegat oleh pesawat-pesawat Fockewulf yang membawa senjata roket. Terjadilah duel di udara yang seru. Pihak Sekutu kehilangan tiga buah pesawat pembom B-17 karena tembakan roket Jerman.
Setiap kali mendarat di pangkalan dengan selamat. kawan-kawannya selalu membicarakan pengalaman-pengalaman di medan pertempuran, sesudah itu tidak jarang mereka mengambil pena dan menulis pengalamannya kapada keluarganya di rumah. Alangkah sedihnya bagi Abdul Halim karena ia tidak dapat menceritakan pengalamannya atau menulis surat kapada keluarganya. Ia tetap menahan diri demi keselamatan keluarganya. Karena itu hidupnya di tanah Inggris itu bagaikan seorang anak yatim piatu.
Satu hal yang mengherankan setiap kali Abdul Halim ikut dalam serangan udara di atas kota-kota Jerman dan Perancis, maka pastilah seluruh pesawat dalam skuadron itu kembali dengan selamat ke pangkalannya. Karena itu Angkatan Udara Inggris memberi sebutan The Black Mascot atau Si Jimat Hitam kepadanya. Para perwira senior pun menganggapnya sebagai anaknya sendiri. Tentu hal-hal tersebut menggembirakan hatinya.
Sesudah perang di Eropa berakhir, maka selesai pula tugas Abdul Halim. Ia kini tinggal menunggu waktu untuk pulang kembali ke tanah air. Tetapi untuk sementara waktu ia harus bersabar, karena Jepang masih menduduki Indonesia.
Untunglah pasukan Jepang segera menyerah kepada Sekutu sehingga Abdul Halim dapat segera pulang ke tanah air. Kapten Abdul Halim ikut bersama pasukan Inggris yang mendarat di Jakarta pada bulan September – Oktober 1945. Pasukan Inggris itu atas nama Sekutu bertugas melucuti tentara Jepang dan memulangkan ke negerinya. Begitu mendarat di Jakarta ia lebih dulu menelpon gadis, Kussadalina yang bekerja di Rumah Sakit Bersalin Budi Kemulyaan Tanah Abang, Jakarta.
Gadis berasal Madiun itu dikenalnya waktu ia bertugas dalam Angkatan Laut Hindia Belanda di Surabaya. Alangkah terkejutnya Kussadalina menjumpai Abdul Halim dalam keadaan hidup dan segar bugar. Kussadalina dan seluruh keluarga di Surabaya dan juga keluarga Abdul Halim di Sampang sudah bertahun-tahun menduga bahwa Abdul Halim sudah gugur di perairan Cilacap.
Dengan tabah dan penuh haru Kussadalina berkata lirih ”Saya mau menerimamu, asal jangan memakai seragam penerbang Angkatan Udara kerajaan Inggris. Pakaian seragam itu akan menyulitimu dan diriku. Sekarang Indonesia sudah merdeka. Semua yang bercorak kebelandaan tentu dimusuhi” Abdul Halim menjawab, ”Saya tidak mempunyai pakaian lain kecuali piyama untuk tidur. Apakah saya harus ganti dengan piyama”. Kussadalina menjawab, ”Piyama lebih baik dari pada seragam RAF (Royal Air Force, Angkatan Udara Kerajaan Inggris)”.
Keesokan harinya Abdul Halim dengan surat dari Perdana Menteri Syahrir pergi menengok keluarganya ke Kediri. Tetapi di Kediri ia ditahan oleh pasukan Republik Indonesia dan dimasukkan ke dalam penjara karena dicurigai sebagai tentara NICA (Belanda).
Sementara itu Residen Kediri, yaitu Pratalikrama adalah termasuk kakak Abdul Halim sendiri. Residen Kediri sesudah mendengar adiknya ditahan, segera memberi kabar ibu Abdul Halim, yaitu Ibu Wongsotaruno. Sang ibu pun lalu pergi ke Kediri tetapi alangkah kecewa hatinya, karena yang berwajib hanya mengizinkan Ibu Wongsotaruno selama sepuluh menit saja untuk menjenguk putranya yang sudah tiga setengah tahun tidak dijumpainya.
Di penjara itu Abdul Halim berbaur dengan tahanan lainnya. Ia pun menulis perjalanan hidupnya di tembok rumah tahanan Kediri, sehingga menarik perhatian para petugas penjara, siapakah gerangan sebenarnya orang yang ditahan ini.
Sesudah beberapa waktu dan sesudah jelas semuanya. Pemerintah segera membebaskan Abdul Halim. Ia lalu pulang ke Sumenep. Kepala Staf Angkatan Udara RI Suryadi Suryadarma segera memanggil Abdul Halim Perdanakusuma ke Yogyakarta untuk memperkuat Angkatan Udara RI yang baru saja didirikan. Tentara Keamanan Rakyat atau TKR Jawatan Penerbangan yang kemudian menjadi AURI dan TNI Angkatan Udara, mulai giat membangun dengan menggunakan pesawat terbang tua Jepang jenis Cureng dan Ciukyu. Dengan pesawat rongsokan itu pula Abdul Halim melatih pemuda-pemuda untuk menjadi penerbang Angkatan Udara RI. Pada tanggal 23 April 1946 jam 12.30 tiga buah pesawat AURI bermotor satu terbang di udara Jakarta dan mendarat di Kemayoran. Dalam penerbangan percobaan itu ikut serta Abdul Halim Perdanakusuma.
Selanjutnya Abdul Halim juga terbang ke arah timur dan mendarat di lapangan pegaraman di Sumenep, Madura. Ia juga memimpin penerbangan formasi ke Malang.
Waktu itu ia berpangkat Komodor yang selalu mendampingi Kepala Staf AURI Suryadarma dan sering pula berkonsultasi dengan Panglima Besar Jendral Sudirman. Komodor Halim Perdanakusuma juga melatih pasukan penerjun payung yang menggunakan pesawat Dakota.
Dengan gugurnya komodor Agustinus Adisutjipto di Maguwo yang menjabat Wakil Kepala Staf AURI, maka Komodar Halim Perdanakusuma diangkat sebagai penggantinya.
Dengan keberanian yang luar biasa, Komodor Halim Perdanakusuma memimpin operasi pemboman ke kota-kota Ambarawa, Salatiga dan Semarang yang waktu itu diduduki Belanda. Mereka membom kota-kota tersebut dengan pesawat-pesawat Cureng yang sebenarnya bukan pesawat pembom. Sungguh luar biasa. Bom-bom itu diikat pada bagian bawah sayap pesawat untuk kemudian dilepaskan dan jatuh ke tanah.
Baru saja dua bulan Komodor Halim Perdanakusuma menikah dengan Kussadalina, ia sudah diperintahkan berangkat ke Bukittinggi bersama Opsir I lswahyudi untuk membangun AUR1. Pekerjaan itu sungguh berat, karena mereka harus mampu menembus blokade Belanda untuk berhubungan dengan luar negeri gunamembeli perlengkapan, persenjataan dan obat-obatan. Sering pula ia menerbangkan para pejabat negara untuk berbagai tugas. Komodor Halim Perdanakusuma juga memimpin penerjun pasukan payung di daerah Kalimantan pada tanggal 17 Oktober 1947. Pada waktu isterinya mengandung empat bulan Komodor Halim Perdanakusuma ditugaskan untuk menerbangkan pesawat terbang Auro Anson RI-003 dari Muangthai ke Indonesia. Tugasnya itu dilakukan bersama Opsir lswahyudi melakukan penerbangan tersebut dari Muangthai menuju Singapura untuk mengambil obat-obatan. Di sekitar Tanjung Hantu, Malaysia, udara sangat buruk. Ketika pesawat akan melakukan pendaratan darurat, terjadi kecelakaan. Sayap pesawat melanggar pohon dan patah, kemudian meledak. Malapetaka itu tepatnya terjadi di Labuhan Bilik Besar, antara Tanjung Hantu dan Teluk Senangin di Pantai Lumut, Malaysia. Komodor Halim Perdanakusuma dan Opsir lswahyudi gugur dalam malapetaka itu.
Selama bertahun-tahun jenazah Laksamana Muda TNI Angkatan Udara Halim Perdanakusuma dimakamkan di Tanjung Hantu, Malaysia. Kemudian kerangka jenazahnya dipindahkan ke Indonesia, ke makam Pahlawan Kalibata pada tanggal l0 November 1975.
Laksamana Muda Halim Perdanakusuma besar sekali jasanya dalam membina dan mengembangkan Angkatan Udara Republik Indonesia. Segala pikiran, kemampuan, serta pengalamannya, baik berupa teknik penerbangan, taktik perang udara, penguasaan navigasi pesawat terbang dan sebagainya telah dimanfaatkan dan disumbangkan untuk membina Angkatan Udara Republik Indonesia.
Atas jasa-jasanya bagi Negara dan Bangsa itu pemerintah RI dengan SK Presiden No. 063/TK/Th. 1975 tertanggal 9 Agustus 1975 menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Marsekal Muda TNI. Anumerta Abdul Halim Perdanakusuma.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, Sumber:
http://pahlawancenter.com/pahlawancenterbaru/?p=1875

MARSMA TNI ANM R. ISWAYUDI

ISWAYUDIIswahjudi dilahirkan tanggal 15 Juli 1918 di Surabaya, Jawa Timur. la adalah anak kedua dari sembilan orang bersaudara. Ayahnya bernama Wiryomiharjo dan ibunya Issumirah.
Pendidikan umum tertinggi ditempuh Iswahyudi di NIAS (Nederlandachi Indiache Artaen School, sekolah dokter), tetapi tidak sampai tamat. Rupanya pemuda yang menyenangi musik ini lebih tertarik untuk menjadi penerbang daripada menjadi seorang dokter. Demikianlah, dalam tahun 1941 ia mengikuti pendidikan pada Luchvasrt Opleiding School (sekolah penerbang) di Kalijati, Jawa Barat.
Pada saat itu bahaya perang mulai mengancam Indonesia. Sudan sejak bulan September 1939 Eropa dilanda oleh perang yang kemudian dikenal dengan nama Perang Dunia n. Di Asia, Jepang mulai memperlihatkan sikap agresif. Tujuan Jepang ialah menguasai Asia dan Pasifik dan hal itu merupakan ancaman terhadap bangsa -bangsa Eropa yang berkuasa di sebagian wilayah ini, termasuk Belanda yang keuka itu masih menjajah Indonesia Karena adanya ancaman perang itulah Pemerintah In¬dia Belanda memindahkan para siswa sekolah penerbang ke Adelaide, Australia. Iswahjudi pun ikut dipindahkan. Di tempat yang baru ini pendidikan merekadilanjutkan. Pada waktu kemudian sebagian para siswa ini melanjutkan pendidikannya di Amerika Serikat. Ada di antara mereka yang kelak ikut serta sebagai penerbang dalam perang dunia H
Umumnya Siswa – siswa Indonesia tidak senang di pindahkan ke Australia. Sebagian dari mereka berusaha kembali ke Indonesia. Dalam tahun 1943 Iswahjudi dan beberapa orang temannya berhasil melarikan diri dari tempat pendidikan. Dengan menggunkan dua buah perahu karet berlayar menuju Indonesia. Resiko yang dihadapi cukup besar, bahaya di laut dan kemungkinan tertangkap oleh Jepang yang ketika itu sudah menguasai lautan sekitar Australia dan Indonesia. Sebagian anggota rombongan memang tertangkap dan kemudian dibunuh oleh Jepang. Tetapi Iswahjudi berhasil mendarat dengan selamat di pantai Lodoyo, daerah militer di Kediri Selatan.
Kedatangan Iswahjudi diketahui oleh mata – mata Jepang. Bagaimanapun ia tercatat sebagai anggota angkatan udara Belanda. Karena itu ia ditangkap dan dimasukan kedalam kamar tahanan Karangmenjangan di Surabaya. Beberapa waktu kemudian status tahanannya diubah menjadi Tahanan kota. Selain itu ia juga berhasil memperoleh pekerjaan sebagai pegawai Kotapraja Surabaya. Tugasnya adalah mengawasi tempat – tempat rekreasi. Status sebagai tahanan kota ini tidak pernah di cabut sampai saat kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, walaupun pelaksanaannya tidak terlalu ketat. Malahan untuk melakukan pernikahan dengan Suwarti, 27 Maret 1944, Iswahjudi diijinkan pergi ke Probolinggo.
Pada waktu Proklamasi Kemerdekaan, Iswahjudi tetap berada di Surabaya. Bersama dengan pemuda – pemuda lain, ia turut serta dalam pengambilalihan kantor – kantor pemerintah dari tangan Jepang. Ia memimpin sekelompok pemuda menyerbu kantor Jawatan Kereta Api, menurunkan Bendera Jepang di kantor tersebut dan menaikkan bendera Merah Putih. Sebagai pemuda yang pernah mendapat pendidikan terbang, iapun ikut mengamankan pesawat terbang dan peralatannya yang berhasil direbut dari tangan Jepang di Tanjung Perak.
Situasi dalam kota Surabaya semakin hari semakin panas. Bentrokan-bentrokan bersenjata dengan tentara Jepang terjadi hampir setip hari. Karena itu Iswahjudi memindahkan keluarganya ke Madiun, sedangkan ia sendiri tetap tinggal dalam kota.
Suatu kali terjadi salah paham di antara kelompok – kelompok pemuda. Iswahjudi ditangkap dan bersama dengan beberapa orang temannya ia di tahan oleh kelompok pemuda lain. Setelah terbukti bahwa ia tidak bersalah, barulah ia dibebaskan kembali. Iswahjudi kemudian menggabungkan diri ke dalam satuan Polisi Kota Surabaya.
Perebutan – perebutan kekuasan dari tangan Jepang di kota Surabaya berakhir pada awal Oktober 1945. Tetapi sejak minggu terakhir bulan itu para pemuda Surabaya menghadapi musuh baru, yakni pasukan Inggris yang datang ke Indonesia mewakili sekutu. Tugas mereka sebenarnya hanyalah melucuti pasukan Jepang, memulangkan orang – orang Jepang ke tanah airnya dan membebaskan orang – orang Sekutu yang ditawan Jepang. Dalam kenyataanya Inggris berusaha mengembalikan kekuasaan Belanda di Indonesia.
Insiden bersenjata antara pihak Inggris dengan pemuda Surabaya mulai terjadi dua hari setelah mereka mendarat. Dalam satu insiden tanggal 30 Oktober 1945 panglima pasukan Inggris di Surabaya, Brigadir Jenderal Mallaby, mati terbunuh. Pada tanggal l0 November 1945 Inggris dengan kekuatan satu divisi melancarkan serangan besar – besaran dari laut, dan udara terhadap kota Surabaya. Pertempuran berlangsung selama tiga minggu. Barulah pada akhir November 1945 pejuang – pejuang Surabaya meninggalkan kota untuk membangun pertahanan baru di luar kota.
Sementara itu di Yogyakarta sedang berlangsung kesibukan dalam rangka menyusun kekuatan udara. Pada tanggal 5 Oktober 1945 Pemerintah RI membentuk TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Dalam Organisasi TKR terdapat satu bagian yang disebut TKR Jawatan Penerbangan. Bagian inilah yar»g diserahi tanggung jawab untuk menyusun kekuatan udara. Masalah yang di hadapi TKR Jawatan Penerbangan cukup berat. Jumlah penerbang sangat sedikit dan umumnya belum banyak berpengalaman. Pesawat terbang yang ada hanya beberapa buah, merupakan warisan dari tentara Jepang, itupun dalam keadaan rusak.
Dengan segala kemampuan yang ada dan fasilitas yang sangat kurang, pimpinan TKR Jawatan penerbangan berusaha membangun kekuatan udara RI. Salah satu usaha yang dilakukan ialah mendidik calon – calon penerbang. Dalam bulan Desember 1945 TKR Jawatan Penerbang membuka Sekolah Penerbang di Yogyakarta. Sekolah itu dipimpin oleh Adisujipto yang mendapat pendidikan tebang dalam zaman Belanda. Sebagai seorang yang juga pernah mendapat pendidikan penerbang. Iswahjudi berangkat ke Yogyakarta dan menggabungkan diri dengan pimpinan TKR Jawatan penerbangan. Berkat Pimpinan Adisujipto, dalam waktu tiga minggu ia sudah mempu menerbangkan pesawat setelah kurang lebih tiga tahun lamanya tidak pernah menyentuh kapal terbang. Berkat keterampilannya ia kemudian diangkat menjadi instruktur Sekolah Penerbang dengan pangkat Opsir Udara II. Sekaligus ia juga diangkat menjadi pembantu utama Adisutjipto.
Mendidik calon penerbang pada masa itu bukanlah pekerjaan yang ringan. Mereka harus melakukan percobaan terbang, sedangkan pesawat yang ada umumnya dalam keadaan rusak. Karena itu diperlukan terlebih dahulu perbaikan pesawat. Namun berkat ketekunan Adisudjipto dan Iswahjudi di percobaan – percobaan terbang berhasil dilaksanakan yang sekaligus dikaitkan dengan tugas – tugas lain. Pada taggal 23 April 1946 tiga buah pesawat cukiu tingal landas dari lapangan terbang Maguwo, Yogyakarta menuju lapangan terbang Kemayoran, Jakarata. Penerbangan berbentuk formasi ini membawa rombongan delegasi RI yang terdiri dari Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) S. Suryadarma dan Jenderal Mayor Sudibyo yang akan mengadakan perundingan dengan delegasi Sekutu mengenai penyelesaian tawanan perang dan orang – orang interniran. Iswahyudi ikut dalam penerbangan ini bersama-sama Adisutjipto, Imam Suwongso Wirjosaputro, dan Abdul Halim Perdanakusuma.
Bulan berikutnya dilakukan latihan terbang formasi. Satu formasi menuju Serang, Jawa Barat, sedangkan formasi lainya menuju Malang dan Madura. Dalam latihan ini digunakan pesawat Cureng dan Cukiu. Pesawat Cureng berada dibawah pengawasan Iswahjudi dan I.S. Wiryosaputro, sedangkan pesawat Cukiu di bawah pengawasan Adisutjipto. Latihan terbang ini berhasil dengan baik.
Dalam usaha untuk meningkatkan minat kedirgantaran, pada tanggal 10 Juli 1946 diadakan demontrasi terbang di Pangkalan Udara Cibeureum, Tasikmalaya. Dari Yogyakarta didatangkan lima buah pesawat Cureng untuk memeriahkan demontrasi ini. Iswahyudi dan rekan-rekannya berhasil menarik perhatian masyarakat berkat ketangkasan yang diperlihatkannya dalam menerbangkan pesawat.
Pembina-pembina AURI selalu berusaha memperbaiki pesawat-pesawat rongsokan peninggalan Jepang. Salah sebuah pesawat itu diberi rrama ”Diponegoro I”. Untuk mengadakan uji-coba, maka pada tanggal 10 Agustus 1946 Adisutjipto, Iswahjudi dan Husein Sastranegara beserta juru teknik Kaswan dan Rasyidi, menerbangkan nya dari Maguwo ke Maospati, Madiun.
Percobaan – percobaan terbang yang berhasil baik itu menambah keyakinan pembina-pembina AURI bahwa mereka akan berhasil membangun kekuatan udara yang sangat diperlukan oleh sebuah negara yang baru saja merdeka dan sedang menghadapi ancaman musuh. Pembangunan itu termasuk pula pembinaan wilayah dan dalam hal ini AURI melakukan inspeksi ke pangkalan-pangkalan yang tersebar di Jawa dan Sumatra. Tanggal 27 Agustus 1946 enam buah pesawat jenis Nishikoren, Cukiu, dan Cureng tinggal landas dan lapangan Maguwo menuju Sumatra bagian Selatan. Dalam perjalanan kembali ke Yogyakarta, pesawat yang dikemudikan Iswahjudi mengalami kerusakan mesin. Tak ada pilihan lain selain melakukan pendaratan darurat. Berkat keterampilan Iswahjudi pesawat berhasil mendarat di pantai Pameunpeuk, Garut Selatan, Jawa Barat, tanpa mengalami kerusakan berat. Dalam pesawat itu ikut KSAU, Komodor Udara S. Suryadarma.
Iswahjudi termasuk salah seorang perwira andalan AURI. Semua jenis pesawat terbang yang ada ketika itu sudah diterbangkannya dan dikuasainya dengan baik. Pesawat Dakota C-47 VT-CLA milik seorang industrialis India, Patnaik, yang mendarat di Maguwo bulan Pebruari 1947, pernah pula diterbangkannya. Untuk itu, Iswahjudi bersama Adisutjipto berlatih selama dua hari. Pesawat inilah yang pada tanggal Juli 1947 ditembak secara brutal oleh pesawat terbang Belanda di atas udara Yogyakarta sehingga terbakar dan menewaskan beberapa orang pimpinan AURI, antara lain Abdulrachman Saleh.
Sebagai seorang militer, Iswahjudi pun mengalami perpindahan tugas. Pada mulanya ia diserahi tugas sebagai instruktur Sekolah Penerbang di Yogyakarta. Sesudah itu ia diangkat menjadi Komandan Pangkalan Maospati, Madiun, menggantikan Abdurachman Saleh yang diangkat menjadi Komandan Pangkalan Bugis, Malang. Jabatan sebagai Komandan Pangkalan Bugis dipangku Iswahjudi selama satu tahun. Beberapa waktu lamanya ia ditempatkan di Yogyakarta dan setelah itu, diserahi jabatan sebagai komandan Pangkalan Udara Gadut, dekat Bukittinggi, Sumatera Barat. Di samping itu, bersama-sama Abdul Halim Perdanakusuma ia bertugas pula membentuk dan menyusun organisasi AURI di Sumatera. Bahkan ia mendapat tugas khusus untuk menyelenggarakan hubungan udara dengan luar negeri.
Tugas menyelenggarakan hubungan dengan luar negeri merupakan tugas yang cukup berat dan berbahaya. Pada waktu itu Belanda melakukan blokade yang ketat terhadap wilayah RI, baik di darat, di luar, maupun di udara. Di darat Belanda selalu berusaha memojokkan RI ke daerah-daerah yang miskin. Blokade laut dan udara dimaksudkan Belanda untuk melumpuhkan perdagangan RI dengan luar negeri dan juga untuk mencegah masuknya senjata dari luar ke Indonesia. Namun Blokade ini, dengan keberanian yang luar biasa, dalam beberapa hal berhasil ditembus oleh pihak RI. AURI beberapa kali berhasil menerbangkan diplomatik RI ke luar negeri, antara lain Misi Haji Agus Salim, Misi Sutan Sjahrir, dan Misi Wakil Presiden Moh. Hatta dalam kunjungan tidak resmi ke India. Misi Agus Salim berhasil menarik simpati beberapa negara Arab sehingga mereka mengakui RI. Dalam membawa misi Wakil Presiden, Iswahjudi bertindak sebagai kopilot.
Untuk melakukan tugasnya, AURI memerlukan pesawat yang cukup. Masyarakat diajak berpatisipasi dalam hal pembelian pesawat terbang. Sewaktu bertugas sebagai Komandan Pangkalan Udara Gadut, Bukittinggi, Iswahjudi menghimbau masyarakat setempat untuk mengumpulkan uang guna membeli sebuah pesawat terbang. Himbauan itu berhasil baik. Secara bergotong royong masyarakat Bukittinggi mengumpulkan uang dan harta benda mereka, walaupun keadaan ekonomi pada masa itu cukup sulit. dana yang terkumpul ditukar dengan emas seberat 12 kilogram itulah dibeli sebuah pesawat terbang jenis Avro Anson dari seorang pedagang Amerika bernama Keegan. Pesawat itu kemudian. diberi registrasi RI-003. Sesuai dengan perjanjian, Keegan akan mengantarkan pesawat ke Bukittinggi dan kemudian ia akan diantarkan kembali ke Bangkok.
Sesudah pesawat tiba di Bukittinggi, Iswahyudi mengadakan percobaan terbang dan berhasil dengan baik. Sesudah itu bersama dengan Halim Perdanakusuma ia berangkat ke Bangkok untuk mengantarkan Keegan. Selain mengantarkan Keegan, meraka mendapat tugas pula untuk mengadakan kontak dengan pedagang-pedagang Singapura dalam rangka membeli senjata yang akan dibawa ke tanah air lewat Singapura.
Tanggal 14 Desember 1947 pesawat terbang di udara Perak, Malay¬sia. Tiba-tiba cuaca berubah memburuk. Hujan lebat turun disertai badai yang cukup kuat. Iswahyudi berusaha melakukan pendaratan darurat. Karena jarak penglihatan sangat pendek, pesawat membentur pohon kayu ketika berusaha menghindari suatu ketinggian di pantai. Pesawat akhirnya jatuh di laut di Tanjung Hantu, Perak, Malaysia.
Sore hari tanggal 14 Desember 1947 itu Polisi Lumut, Malaysia menerima laporan tentang terjadinya kecelakaan pesawat terbang. Pada waktu itu mereka belum mengetahui bahwa pesawat yang jatuh itu adalah pesawat RI-003. Seorang anggota Polisi berangkat ke tempat kecelakaan. tetapi karena air sedang pasang, ia hanya dapat melihat ekor pesawat. Keesokan harinya beberapa orang nelayan menemukan sesosok mayat terapung di laut beberapa ratus meter dari pantai. Pencarian terus diadakan. Akhirnya di temukan barang-barang lain dan kepingan-kepingan pesawat. Salah satu barang yang ditemukan ialah kartu nama Halim Perdanakusuma. Ditemukan pula sebuah dompet berisi lembar uang ketas Siam, kartu – kartu bertuliskan Iswahyudi dan sarung pisau dengan tulisan di atasnya Keegan.
Dari bukti-bukti yang ditemukan itu diambil kesimpulan bahwa pesawat terbang yang mengalami kecelakaan itu adalah pesawat milik Angkatan Udara Republik Indonesia. Disimpulkan pula bahwa kecelakaan terjadi bukan karena kerusakan mesin, tetapi karena cuaca yang sangat buruk.
Berita mengenai kecelakaan pesawat segera tersebar luas. Tokon-tokoh masyarakat Malaysia yang bersimpati terhadap perjuangan Indonesia menaruh perhatian yang besar terhadap peristiwa tersebut. Dilumut di bentuk panitia pemakaman untuk menguburkan Halim Perdanakusuma. Mayat Iswahyudi tidak pernah di temukan, walaupun pencarian dilakukan secara insentif.
Kecelakaan pesawat RI-003 merupakan pukulan yang berat bagi AURI khususnya dan perjuangan Indonesia umumnya. AURI kehilangan dua orang perwira yang sangat diandalkan dan tenaganya masih sangat diperlukan. Beberapa bulan sebelumnya AURI telah pula kehilangan perwira-perwiranya, antara lain : Abdurachman Saleh dan Adisucipto ketika pesawat Dakota CT-CLA ditembak Belanda di udara Yogyakarta.
Berita duka itu diterima isteri Iswahyudi dan segenap anggota keluarga dengan rasa pedih dan pilu. Wakil Preisiden Hatta yang sedang berada di Bukittinggi secara khusus mengirim surat belasungkawa kepada isteri Iswahyudi. Dalam surat itu Wakil Presiden mengatakan bahwa Iswahyudi di gugur sebagai pahlawan bangsa.
Pemerintah menghargai jasa dan perjuangan Iswahyudi untuk kepentingan bangsa dan negara. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 06/TK/Tahun 1975, tanggal 9 Agustus 1975, Isawahyudi ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Bertepatan dengan Hari Pahlawan tanggal 10 November 1975 makam Halim Perdanakusuma dan Iswahyudi secara simbolis dipindahkan dari Lumut ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.
Pemerintah RI dengan SK Presiden No. 063/TK.1975 tanggal 9 Agustus 1975 menganugerahi gelar Pahlawan Nasional kepada Marsekal Muda TNI Anumerta R. Iswahyudi.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, Sumber:
http://pahlawancenter.com/pahlawancenterbaru/?p=1876

Dr. KRT. RADJIMAN WEDIODININGRAT

Dr. KRT. RADJIMAN WEDIODININGRATDr. KRT. Radjiman Wediodiningrat lahir di Kampung Glondongan, Desa Mlati – Sleman, Yogyakarta tanggal 21 April 1879, anaka dari Ayah Sutodrono (Mbah Talo) Ibu……(keturunan trah Kajoran)

RIWAYAT HIDUP DAN PERJUANGAN
Dokter Radjiman Wediodiningrat lahir pada tanggal 21 April 1879 di Desa Mlati, Yogyakarta. Ayahnya, Sutodrono, adalah seorang kopral pribumi yang berasal dari keturunan Gorontalo-Bugis, sedangkan ibunya wanita jawa. Radjiman memperoleh pendidikan umum di Europese Lagere School (ELS) di Yogyakarta yang diselesaikannya pada tahun 1893. Sesudah itu ia mengikuti pendidikan khusus, yakni kedokteran, baik di dalam maupun di luar negeri. Di dalam negeri, mula-mula ia memasuki Sekolah Dokter Jawa , kemudian School Tot Opleiding voor Inlandsche Arts (STOVIA). Pendidikan di luar negeri diikutinya di Amsterdam, Berlin dan Paris untuk mengambil spesialisasi obstetrie gynaecologie, rontgenologi dan bedan indoscopie urinaire. Spesialisasi terakhir ini diambilnya ketika ia sudah berumur 51 tahun, pada tahun 1930.
1. Setelah tamat dari Sekolah Dokter Jawa, Radjiman bekerja sebagai dokter pemerintah di Rumah Sakit Weltevreden (sekarang Rumah Sakit Angkatan Darat) di Jakarta, kemudian berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Tugas terakhir sebagai dokter pemerintah dijalaninya di Rumah Sakit Jiwa di Lawang. Periode bertugas sebagai dokter pemerintah ini diselingi dengan tugas sebagai Asisten Leraar di STOVIA. Kesempatan itu dimanfaatkan Radjiman untuk melanjutkan studinya, sehingga pada tahun 1904 ia memperoleh ijazah Inlandsche Art.

2. Tugas sebagai dokter pemerintah dijalaninya Radjiman selama tujuh tahun, dari tahun 1899 sampai 1906. Sesudah itu ia bekerja sebagai dokter di Kraton Surakarta Hadiningrat selama tiga puluh tahun (1906-1936). Dari segi profesi, ia berjasa antara lain mendirikan Apotek Panti Rapih dan Rumah Sakit Panti Rogo. Akan tetapi, yang lebih penting dalam periode ini ialah keikutsertaannya dalam organisasi bercirikan nasionalisme, khususnya Budi Utomo. Ia sudah tercatat sebagai anggota sejak organisasi ini didirikan pada tahun 1908. Enam tahun kemudian, 1914, ia sudah menduduki posisi sebagai Ketua Budi Utomo.

3. Sejak memegang jabatan sebagai Ketua Budi Utomo, Radjiman mulai memperlihatkan secara terbuka keterlibatannya dalam gelanggang politik. Ia mengubah haluan Budi Utomo dari hanya gerakan budaya dan sosial dengan keanggotaan yang terbatas hanya suku bangsa yang berbasis budaya Jawa, menjadi gerakan politik. Dalam pertemuan dengan berbagai organisasi di Semarang pada bulan September 1914, Radjiman menyampaikan gagasan tentang perlu diadakan milisi bumi putra. Gagasan itu dikemukakannya sehubungan dengan meletusnya Perang Dunia I dan untuk mengantisipasi kemungkinan serangan negara lain terhadap Hindia Belanda (Indonesia). Gagasan itu diperkuat dalam kongres Budi Utomo di Bandung pada bulan Agustus 1915 dengan mengeluarkan mosi yang dikenal sebagai mosi Indie Weerbar (Ketahanan Hindia). Dengan keluarnya mosi itu, beberapa pihak menuding bahwa Budi Utomo, dan tentu saja Radjiman), sudah menjadi alat pemerintah kolonial. Tudingan itu dibalas Radjiman dengan mengatakan bahwa kepentingan pemerintah, khususnya untuk menghadapi serangan dari luar, sama dengan kepentingan rakyat pribumi. Untuk merealisasikan gagasan milisi itu, perlu didengar pendapat rakyat. Oleh karena itu, perlu dibentuk badan perwakilan. Untuk memperjuangkan milisi itu, sebuah komisi yang disebut Commite Indie Werbaar, dikirim ke Negeri Belanda. Pemerintah Belanda menolak usul milisi, tetapi menyetujui pembentukan sebuah badan perwakilan yang akhirnya direalisasikan dengan dibentuknya Volksraad.

4. Radjiman Wediodiningrat duduk sebagai anggota Volksraad selama tiga tahun, dari tahun 1918 sampai tahun 1921. Dalam Volksraad, ia antara lain mengusulkan agar golongan pengusaha juga diwakili dalam lembaga tersebut. Sesudah meninggalkan Volksraad, Radjiman berkiprah dalam berbagai organisasi, antara lain dalam Committee van da Javasche Ontwikkeling yang kemudian berkembang menjadi Java Instituut dan dalam Indonesiasche Studie Club. Selain itu, ia juga menerbitkan majalah Timbul yang digunakannya sebagai tempat menyampaikan aspirasi politiknya secara halus. Di bidang kepertaian, pada tahun 1935 ia ikut mendirikan Partai Indonesia Raya (Parindra) yang merupakan fusi Budi Utomo dengan Persatuan Bangsa Indonesia (PBI) pimpinan dr. Sutomo. Dalam Parindra, ia berkedudukan sebagai penasihat.

5. Pada masa pendudukan Jepang, Radjiman diangkat sebagai anggota Tyuo Sangsi-In merangkap Ketua Tyuo Sangi Kai Madiun. Namun, yang terpenting pada masa ini ialah jabatannya sebagai Ketua Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Badan ini dibentuk sebagai realisasi janji Perdana Menteri Jepang Koiso, yang diucapkannya bulan September 1944 bahwa Indonesia akan diberi kemerdekaan kelak di kemudian hari. Anggota BPUPKI terdiri atas wakil berbagai golongan dalam masyarakat dengan aspirasi politik yang berbeda. Oleh karena itu, sidang-sidang BPUPKI sering diwarnai dengan perdebatan yang cukup tajam, khususnya antara kelompok nasionalis Islam dan nasionalis netral agama. Sebagai yang tertua di antara anggota BPUPKI, dengan kadar intelektual yang cukup tinggi dan berpaham moderat, Radjiman berhasil mengendalikan perbedaan pendapat tersebut, sehingga keputusan yang diambil menjadi keputusan bersama.

6. Sidang-sidang BPUPKI berlangsung dalam dua masa sidang. Pertama, dari tanggal 28 Mei sampai 1 Juni; kedua, dari tanggal 10 sampai 17 Juli 1945. BPUPKI menyelesaikan tugasnya dengan menghailkan beberapa keputusan, antara lain mengenai dasar negara, luas wilayah negara, pertahanan, dan sistem pemerintahan. Sebagai ganti BPUPKI, dibentuk badan baru, yakni Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang diketuai oleh Ir. Sukarno dengan Drs. Mohammad Hatta sebagai Wakil Ketua. Pembentukan PPKI ini disampaikan oleh Marsekal Terauchi, panglima pasukan Jepang untuk wilayah Asia Tenggara, dalam pertemuan dengan Radjiman, Sukarno, dan Hatta di Dalat, dekat Saigon.

7. Sesudah Indonesia merdeka, Radjiman masih sempat menyumbangkan tenaganya sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Ia meninggal dunia pada tanggal 20 September 1952. Jenazahnya dikebumikan Ngawi. Atas jasa-jasanya terhadap bangsa dan negara, pemerintah menganugerahinya tanda jasa berupa Bintang Mahaputera Tingkat II dan Bintang Republik Indonesia Utama.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, Sumber:
http://pahlawancenter.com/dr-krt-radjiman-wediodiningrat/

Sukarni Kartodiwirjo

SUKARNI KARTODIWIRJO.Sukarni Kartodiwirjo lahir 14 Juli 1916 di Desa Sumberdiren, Kecamatan Garum, Blitar, Jawa Timur.
Riwayat Perjuangan
Pada tahun 1930-an Sukarni bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo) sejak bersekolah di MULO Blitar. Ia dikirim oleh Pengurus Partindo Blitar untuk mengikuti kegiatan pendidikan kader Partindo di Bandung yang pembimbing utamanya Ir. Soekarno.
Setelah mengikuti pendidikan kader Partindo, Sukarni mendirikan organisasi Persatuan Pemuda Kita dan bergabung dengan Indonesia Muda Cabang Blitar.
Karir Sukarni dalam Indonesia Muda meningkat dari Ketua Cabang Blitar menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Indonesia Muda pada tahun 1935. Untuk menghindari penangkapan Politieke Inlichtingen Dienst (PID) Sukarni menyelamatkan diri ke Jawa Timur dan bersembunyi di pondok pesantren di Kediri dan di Banyuwangi.
Dengan menggunakan nama samaran Maidi, pada tahun 1938 Sukarni menyeberang ke Kalimantan. Pada tahun 1941 Sukarni tertangkap PID di Balikpapan kemudian dipindahkan ke penjara Samarinda, Surabaya, dan Batavia. Sesudah divonis hukuman pembuangan ke Boven Digoel, sementara ditahan di Penjara Garut. Amar putusan pembuangan ke Boven Digoel tidak terlaksana karena berakhirnya kekuasaan pemerintah Hindia Belanda pada Maret 1942.
Setelah Pemerintah pendudukan Jepang membebaskan seluruh tahanan politik, Sukarni bekerja di Sendenbu (Departemen Propaganda). Bersama tokoh pemuda Indonesia lainnya antara lain Supeno, Chairul Saleh, Adam Malik membentuk Angkatan Baru Indonesia bermarkas di Jalan Menteng 31, Jakarta. Sukarni sebagai Ketua Asrama Menteng 31.
Sukarni bersama kawan-kawannya di Asrama Menteng 31 mendesak Bung Karno dan Bung Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan dan membawa keduanya ke Rengasdengklok pada tanggal 16 Agustus 1945. Pada sore harinya keduanya dibawa kembali ke Jakarta dan malamnya dilakukan perumusan naskah proklamasi di Jalan Imam Bonjol No.1, Jakarta (rumah Laksamana Tadashi Maeda).
Setelah Proklamasi, Sukarni menghimpun kekuatan pemuda mendukung pemerintah Republik Indonesia. Pada 3 September 1945 memprakarsai pengambialihan Jawatan Kereta Api, bengkel Manggarai dan stasiun-stasiun kereta api lainnya; juga memprakarsai pengambilalihan angkutan umum dalam kota dan stasiun radio. Pada 19 September 1945 Sukarni dan kawan-kawan menyelenggarakan “rapat raksasa” di lapangan Ikada. Rapat ini menunjukkan kebulatan tekad rakyat mendukung Proklamasi 17 Agustus 1945 dan mendesak mengambilalih kekuasaan dari Pemerintah Jepang.
Sukarni terpilih sebagai anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BPKNIP). Ia termasuk kelompok penentang perundingan dengan Belanda.
Pada tahun 1948, setelah pembentukan Partai Murba (Musyawarah Rakyat Banyak) Sukarni terpilih sebagai ketua umumnya yang pertama. Di bawah kepemimpinannya Partai Murba menjadi salah satu kekuatan penentang PKI. Pada Pemilu tahun 1955 dan 1971 Partai Murba ikut sebagai salah satu peserta pemilu.
Selama empat tahun (1960-1964) Sukarni bertugas. sebagai Duta Besar Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Republik Rakyat Tiongkok dan Mongolia. Ia mendapat tugas meminta bantuan RRT untuk mendukung pemerintah Republik Indonesia membebaskan Irian Barat.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, Sumber:

Kementrian Sosiaal RI.
http://pahlawancenter.com/pahlawancenterbaru/?p=4164