KERAJAAN MAJAPAHIT

Sejarah Kerajaan masa Hindu-Budha di daerah Jawa Timur dapat dibagi menjadi 3 periode. Periode pertama adalah raja-raja dari kerajaan Kediri yang memerintah sejak abad ke 10 M hingga tahun 1222 M. Periode kedua dilanjutkan oleh pemerintahan raja-raja dari masa Singosari yang memerintah dari tahun 1222 M hingga tahun 1293 M. Periode ketiga adalah masa pemerintahan raja-raja Majapahit yang berlangsung dari tahun 1293 M hingga awal abadke 6 M.
Pendiri kerajaan Majapahit adalah Raden Wijaya. Ia merupakan raja pertama Majapahit dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana. Pada awalnya, pusat pemerintahan kerajaan Majapahit berada di daerah Tarik. Karena di wilayah tersebut banyak ditemui pohon maja yang buahnya terasa pahit, maka kerajaan Raden Wijaya kemudian dinamakan Majapahit. Raden Wijaya memerintah dari tahun 1293 M hingga 1309 M.
Tampuk pemerintahan kemudian digantikan oleh Kaligemet yang merupakan putra Raden Wijaya dengan Parameswari. Pada saat itu, usia Kaligemet masih relatif muda. la kemudian bergelar Jayanegara. Pada masa pemerintahannya, banyak terjadi pemberontakan. Pada akhirnya, pada tahun 1328 M Jayanegara terbunuh oleh tabib pribadinya yang bernama Tanca.
Roda kekuasaan kemudian diambil alih oleh Raja Patni, yaitu istri Raden Wijaya yang merupakan salah satu putri Raja Kertanegara dari Singosari. Bersama patihnya yang bernama Gajah Mada, ia berhasil menegakkan kembali wibawa Majapahit dengan menumpas pemberontakan yang banyak terjadi. Raja Patni kemudian mengundurkan diri sebagai raja dan menjadi pendeta Budha. Tampuk pemerintahan kemudian diserahkan kepada anaknya yang bernama Tribhuana Wijaya Tunggadewi. Dalam menjalankan pemerintahannya, ia dibantu oleh patih Gajah Mada. Majapahit kemudian tumbuh menjadi negara yang besar dan termashur, baik di kepulauan nusantara maupun luar negeri.
Pada tahun 1350 M, Tribhuana Tunggadewi kemudian mengundurkan diri. Tampuk kekuasaan kemudian dilanjutkan oleh anaknya yang bernama Hayam Wuruk. Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, Majapahit kemudian mencapai masa keemasan hingga patih Gajah Mada meninggal pada tahun 1365 M. Terlebih ketika Hayam Wuruk meninggal pada tahun 1389 M, negara Majapahit mengalami kegoncangan akibat konflik saudara yang saling berebut kekuasaan.
Pengganti Hayam Wuruk adalah putrinya yang bernama Kusumawardhani yang menikah dengan Wikramawardhana. Sementara itu, Wirabhumi, yaitu putra Hayam Wuruk dari selir menuntut juga tahta kerajaan. Untuk mengatasi konflik tersebut, Majapahit kemudian dibagi menjadi dua bagian, yaitu : wilayah timur dikuasai oleh Wirabhumi dan wilayah barat diperintah oleh Wikramawardhana bersama Kusumawardhani. Namun ketegangan di antara keduanya masih berlanjut hingga kemudian terjadi perang saudara yang disebut dengan “Paragreg” yang berlangsung dari tahun 1403 M hingga 1406 M.
Perang tersebut dimenangkan oleh Wikramawardhana yang kemudian menyatukan kembali wilayah Majapahit, la kemudian memerintah hingga tahun 1429 M.
Wikramawardhana kemudian digantikan oleh putrinya yang bernama Suhita yang memerintah dari tahun 1429 M hingga 1447 M. Suhita adalah anak kedua Wikramawardhana dari selir. Selir tersebut merupakan putri Wirabhumi. Diharapkan dengan diangkatnya Suhita menjadi raja akan meredakan persengketaan. Ketika
Suhita wafat, tampuk kekuasaan kemudian digantikan oleh Kertawijaya yang merupakan putra Wikramawardhana. Pemerintahannya berlangsung singkat hingga tahun 1451 M. Sepeninggalnya Kertawijaya, Bhre Pamotan kemudian menjadi raja dengan gelar Sri Raja Sawardhana dan berkedudukan di Kahuripan. Masa pemerintahannya sangat singkat hingga tahun 1453 M. Kemudian selama tiga tahun Majapahit mengalami “Interregnum” yang mengakibatkan lemahnya pemerintahan baik di pusat maupun di daerah. Pada tahun 1456 M, Bhre Wengker kemudian tampil memegang pemerintahan. Ia adalah putra Raja Kertawijaya. Pada tahun 1466 M, ia meninggal dan kemudian digantikan oleh Bhre Pandan Salas yang bergelar Singhawikramawardhana. Namun pada tahun 1468 lyl, Kertabumi menyatakan dirinya sebagai penguasa Majapahit yang memerintah di Tumapel, sedangkan Singhawikramawardhana kemudian menyingkir ke Daha. Pemerintahan Singhawikramawardhana digantikan oleh putranya yang bernama Rana Wijaya yang memerintah dari tahun 1447 M hingga 1519 M. Pada tahun 1478 M, ia mengadakan serangan terhadap Kertabumi dan berhasil mempersatukan kembali kerajaan Majapahit yang terpecah-pecah karena perang saudara. Rana Wijaya bergelar Grindrawardhana.
Kondisi kerajaan Majapahit yang telah rapuh dari dalam dan disertai munculnya perkembangan baru pengaruh Islam di daerah pesisir utara Jawa, pada akhirnya menyebabkan kekuasaan Majapahit tidak dapat dipertahankan lagi.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: I Made Kusumajaya [dkk]. Mengenal Kepurbakalaan Majapahity Di Daerah Trowulan, [2014…?] hlm. 5-8. (CB-D13/2014-126)

Legenda Beberapa Kampung yang Ada di kota Surabaya

Meskipun legenda tidak dapat dimasukkan dalam tulisan sejarah karena tidak miliki bukti-bukti atau fakta-fakta yang dapat dipertanggungjawabkan (sejarah semu), namun legenda yang menceritakan asal-usul suatu kampung ini banyak beredar di lingkungan masyarakat kampung, bahkan kadang-kadang menjadi kebanggaan dari warga kampung setempat, maka dalam penelitian ini dipandang perlu oleh peneliti untuk dikemukakan meskipun hanya secara garis besar saja.
Inti cerita dan dongeng dongeng yang berkembang tentang pembentukan Surabaya adalah persaingan cinta segitiga antara Pangeran Situbondo putra Adipati Cakraningrat dari Sampang yang cacat dengan Pangeran Jokotruno putra dari Adipati Kediri untuk dapat mempersunting Raden Ayu Probowati. Untuk menghindari raden Situbondo yang cacat, Raden Ayu Probowati mengajukan syarat berupa kesanggupan sang calon untuk membuka hutan (mbabad alas) agar dapat didirikan pemukiman sebanyak dan sebaik mungkin bagi warga Surabaya.
Cerita selanjutnya bermula dari kesanggupan Raden Situbondo untuk membuka hutan, maka ceritapun berawal di daerah kampung yang memakai nama wono (yang arti hutan) dan simo, yaitu singa atau harimau yang ditemukan pada hutan-hutan sebut. Rakyat di daerah Wonokromo dan Wonocolo percaya bahwa kampung- kampung yang mereka diami adalah hasil karya dari Raden Situbondo.
Disebutkan ketika Raden Situbondo membuka hutan, disuatu tempat ia menemukan tumpukan kulit kerang (kupang) yang menggunung, maka setelah selesai ika maka daerah itu dinamakan Kupang Gunung. Di tempat lain ia menemukan daerah yang banyak terdapat kerang yang tersusun rapi sekali menyerupai kerajaan, oleh karena itu daerah ini kemudian diberi nama Kupang Krajan.
Ketika membuka hutan, di salah satu tempat Raden Situbondo berhadapan muka dengan Joko Jumput, dan kemudian keduanya beradu kekuatan. Raden Situbondo kalah, bahkan hampir mati. Untuk nyelamatkan nyawanya Raden Situbondo pergi ke Kedung Gempol dan minum air di kedung itu . Nyawa Raden Situbondo akhirnya dapat diselamatkan, untuk itu daerah tersebut kemudian diberi nama Banyu Urip.
Dalam kaitannya dengan Kampung Banyu Urip ini, pada suatu ketika di daerah Raden Situbondo pernah bertemu dengan singa atau harimau jadi-jadian dari Jin Trung. Setelah singa jadi-jadian itu berhasil diusir maka tempat itu diberi nama Simo Katrungan. Perjalanan dilanjutkan lagi, ternyata tak seberapa jauh, pangeran bertemu lagi dengan singa yang sama. Singa itu ketakutan dan lari terbirit-birit (bahasa Jawa kesusu atau kewagean). Oleh karena itu tempat ini kemudian diberi nama Kampung Simo Kewagean.
Tak jelas akhirnya Raden Kusuma Ning Ayu Probowati menikah dengan siapa, yang agaknya disepakati adalah bahwa pesta perkawinannya dilaksanakan dengan upacara sederhana sambil membuka hutan yang terakhir, yaitu Wonokromo yang berarti hutan perkawinan.
Selain tokoh di atas tokoh lain yang banyak diceritakan dalam babad adalah tokoh Jayeng Rono dan Sawonggaling. Ada salah satu versi cerita tentang dongeng Jayengrono dan Sawonggaling yang dikaitkan dengan Raden Wijaya. Setelah tentara Tar-Tar dapat dikalahkan dan dihalau dari Ujung Gauluh, sebagai penghargaan Raden Wijaya mendirikan sebuah kraton di Surabaya untuk ditempati oleh wakilnya. Yang ditunjuk memimpin Ujung Galuh adalah Adipati Jayengrono. Lama kelamaan hubungan Surabaya Majapahit semakin renggang hingga Surabaya seakan berdiri sendiri. Hal ini berhasil dicapai karena Jayengrono berhasil menguasai ilmu buaya putih.
Alkisah pada suatu saat datanglah utusan dari Kerajaan Mataram yaitu Sawonggaling. Utusan ini adalah seorang sakti yang menguasai ilmu suro dari Kraton Surakarta. Sawonggaling diutus untuk menuntut Surabaya agar bersedia takhluk dibawah kekuasaan Kerajaan Mataram. Tentunya hal ini tak dapat diterima oleh Jayengrono. la menantang dan disepakati untuk mengadu kesaktian masing-masing, pertarungan itu disepakati pula dilakukan pada malam Jumat Legi dan akan berlangsung di kali Mas, di sekitar Paneleh Kepatihan. Ternyata pertarungan yang berlangsung selama enam hari enam malam tak membawa hasil kalah maupun menang. Namun pada ketujuh keduanya meninggal kehabisan tenaga dan diarak untuk dipertontonkan kepada penduduk. Pertarungan tersebut membuat Kali Mas menjadi merah dan sisik kedua makhluk tersebut bertebaran di daerah sekitarnya, daerah itu kini dikenal sebagai daerah Semut (dari semut-semut yang mengerumuni sisik-sisik tadi) dan Jembatan merah. Tempat dimana kedua jasad tersebut digantungkan kini bernama Kramat Gantung.
Ada pula dongeng yang menceritakan tentang pembukaan daerah Keputran oleh salah seorang pengikut Raden Situbondo yang bernama Pangeran Joko Taruno. Dalam menjalankan tugasnya ia selalu didampingi oleh pengikut yang setia Savid Panjang.
Daerah yang menjadi tanggung jawab Pangeran Joko Taruno ini adalah Keputran sebelah Daerah itu semula banyak sekali hutannya, diantaranya adalah hutan pohon jambu, karena itu kampung yang berdiri di sana kemudian diberi nama Keputran Kejambon. Sedang daerah yang banyak mengandung tanah liat yang dipergunakan untuk membuat gerabah terutama kemaron (;njun) diberi nama Keputran Panjunan (Surabaya Post Juni 1983)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Drs. Muryadi [dkk], Penelitian: Perkembangan Kota Dan Dampaknya Terhadap Keberadaan Kampung Kuno Bernilai Historis Di Kota Surabaya.Surabaya: Lembaga penelitian Universitas Airlangga 2001. hlm. 19 -22 (CLp-D13/2001-353)

GLIPANG, Kabupaten Probolinggo

SEJARAH KESENIAN
Kesenian Glipang merupakan kesenian tradisional kerakyatan yang tumbuh dan berkembang di daerah Kabupaten Probolinggo, tepatnya di Desa Pendil. Secara administratif, Desa Pendil termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Banyuanyar.
Ketinggian wilayah Banyuanyar mencapai 89 meter di atas permukaan air laut. Suhu udaranya berkisar 27°C sampai dengan 32° C. Dengan demikian, Banyuanyar termasuk dataran rendah.
Jarak antara pusat pemerintahan Banyuanyar dengan desa yang paling jauh mencapai 8 km. Sedangkan jarak antara Banyuanyar dengan pusat pemerintahan Provinsi Jawa Timur (Surabaya) sekitar 113 km. Wilayah Banyuanyar terdiri dari tanah sawah (+ 1.784 hektar) dan ladang kering (+ 2.476 hektar). Jumlah desa yang ada di wilayah Kecamatan Banyuanyar sebanyak 14 desa, termasuk Desa Pendil.
Desa Pendil terletak di sebelah timur pusat pemerintahan Kabupaten Probolinggo. Luas wilayah Desa Pendil sekitar 169.170 hektar. Ketinggian daerahnya mencapai 14 meter di atas permukaan air laut. Jarak Desa Pendil dengan pusat pemerintahan Kecamatan Banyuanyar sekitar 7 km. Sedangkan jarak Banyuanyar dengan Probolinggo sekitar 13 km.
Batas-batas wilayah Desa Pendil, yaitu sebelah Utara berbatasan dengan Desa Pikatan. Sebelah Timur berbatasan dengan wilayah Desa Alassapi. Sebelah Selatan berbatasan
dengan Desa Klenang Lor. Sedangkan sebelah Barat berbatasan dengan Desa Tarokan. Desa-desa yang berbatasan dengan Desa Pendil tersebut semuanya termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Banyuanyar.
Sifat kegotongroyongan pada masyarakat Desa Pendil masih tampak dalam kehidupan sehari-hari. Hidup rukun dan gotong royong merupakan sifat masyarakat pedesaan yang masih melekat di Desa Pendil. Sebagian besar penduduk Desa Pendil bermatapencahariaan sebagai petani dan pedagang.
Kecamatan Banyuanyar memiliki beberapa jenis kesenian tradisional yang hampir punah keberadaannya. Kesenian Glipang merupakan salah satu kesenian milik masyarakat Desa Pendil. Dan sekarang kesenian Glipang sudah diakui menjadi ciri khas kesenian Kabupaten Probolinggo. Kesenian Glipang ini memiliki corak dan nilai estetis tersendiri sebagai pancaran kebudayaan masyarakat tersendiri.
Kesenian Glipang ini berlatar belakang pada kebudayaan Madura yang beragama Islam. Pada waktu itu, sekitartahun 1912, banyak orang Madura melakukan migrasi lokal ke Pulau Jawa. Tepatnya di sepanjang pantai Pulau Jawa bagian timur. Alasan migrasi yang mereka lakukan itu adalah untuk mencari pekerjaan. Mereka ingin memenuhi kebutuhan hidupnya.
Pak Saritruno termasuk orang yang melakukan migrasi tersebut, la kemudian menetap di Desa Pendil. Di Desa Pendil Pak Saritruno telah mendapat pekerjaan. Pekerjaan Pak Saritruno adalah sebagai mandor tebang tebu di Pabrik Gula Gending. Pada waktu itu Pabrik Gula Gending masih dikuasai Belanda. Jadi, Pak Saritruno bekerja di bawah kekuasaan Belanda. Dalam melaksanakan tugasnya sebagai mandor tebang tebu, Pak Saritruno sering terjadi konflik. Hal ini disebabkan oleh tingkah laku para sinder Belanda. Mereka dianggap bertindak sewenang-wenang terhadap penduduk pribumi.
Diperlakukan seperti itu, Pak Saritruno merasa tidak puas. Rasa kebangsaannya tergugah, la ingin melakukan perlawanan, la mengumpulkan orang-orang pribumi. Tujuannya untuk membentuk suatu perkumpulan. Sedangkan tujuan lainnya adalah untuk menyusun sebuah kekuatan untuk melawan penjajah Belanda. Mereka sangat jengkel terhadap tindakan penjajah Belanda. Tindakannya selalu sewenang- wenang terhadap bangsa pribumi. Kegiatan yang dikembangkan dalam perkumpulan ini adalah latihan ilmu bela diri pencak silat.
Pak Saritruno mengajarkan berbagai jurus silat. Awalnya, kegiatan latihan ini dilakukan secara sembunyi- sembunyi. Karena bila latihan bela diri itu dilakukan secara terang-terangan akan mengundang kecurigaan Belanda.
Untuk menghilangkan kecurigaannya, Pak Saritruno menciptakan musik. Musik yang diciptakannya itu digunakan untuk mengiringi gerak-gerak pencak silat. Sehingga kegiatannya seakan tampak seperti kegiatan seni.
Dari latar belakang inilah, maka terciptalah musik ciptaan Pak Saritruno. Musik yang diciptakan Pak Saritruno itu dinamakan musik Gholiban. Kata gholiban berasal dari bahasa Arab, artinya kebiasaan.
PakSaritruno menamakannya demikian, karena beliau tidak senang dengan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh Belanda. Akhirnya perkumpulan pencak silat itu lebih dikenal sebagai kesenian gholiban. Kata gholiban berubah
menjadi glipang. Hal ini dikarenakan pengaruh dari dialek orang Jawa. Karena penduduk asli Desa Pendil adalah Jawa. Maka, kata gholiban diucapkan gliban. Akhirnya, gliban menjadi glipang.
Dalam memilih alat musik Glipang, Pak Saritruno mengalami kesulitan. Penduduk Desa Pendil tidak mau menggunakan alat musik gamelan. Mereka menganggap alat musik gamelan merupakan alat musik yang kurang cocok dengan lingkungannya.
Akhirnya, Pak Saritruno memilih alat musik lain. Alat- alat musik tersebut adalah jidor, hadrah atau terbang, ketipung, dan terompet.
Bentuk kesenian Glipang, pada awalnya berbentuk jurus-jurus silat utuh. Dalam perkembangan selanjutnya dibuat sebuah tarian. Tarian ini dinamakan tari Kiprah Glipang. Tari Kiprah Glipang menggambarkan seorang pemuda pribumi yang gagah perkasa. Mereka melakukan uji ketangkasan bela diri. Pada tahun 1920-an, kesenian Glipang terkenal dengan tari Kiprah Glipangnya. Kesenian Glipang semakin lama semakin berkembang. Berkat kreativitas Pak Saritruno, terciptalah beberapa tarian, yaitu tari Baris Glipang, tari Papakan, dan tari Teri.
Oleh masyarakat pada waktu itu, kesenian Glipang banyak dimanfaatkan sebagai hiburan. Selain itu, kesenian Glipang dijadikan sebagai media dakwah tentang ajaran- ajaran agama Islam. Lagu-lagu yang dilantunkannya pun berisi tentang rukun Islam, rukun Iman, kebesaran Tuhan, dan tentang ajaran kebajikan lainnya. Ada hal yang menarik dalam pertunjukkan kesenian Glipang ini. Yaitu adanya tari Papakan dan tari Teri. Kedua
tarian ini merupakan tarian pasangan putra dan putri. Tetapi penari putri dimainkan oleh orang laki-laki. Mereka memakai tata rias dan busana putri.
Pada tahun 1935, Pak Saritruno meninggal dunia, karena sakit. Kedudukannya digantikan oleh Kartodirjo, menantunya. Mulai tahun 1950, kesenian Glipang di bawah kepemimpinan Pak Kartodirjo. Dengan mendapat dukungan dari Bu Asiah, istrinya atau putri dari Pak Saritruno, kesenian Glipang terus berkembang pesat. Bentuk tampilannya banyak dipengaruhi oleh kesenian ludruk. Agar seni pertunjukkan ini tetap jaya dan digemari masyarakat, akhirnya Pak Kartodirjo beserta para pengurusnya memberi variasi pertunjukkan. Pada awalnya hanya tari-tarian saja, lalu penyajiannya ditambah lawakan dan drama.
Cerita yang digunakan dalam drama tersebut berkisar tentang Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Islam. Selain itu, ceritanya kadang-kadang juga disesuaikan dengan perkembangan masyarakat saat itu. Misalnya menceritakan tentang pencurian dan perampokan. Judul ceritanya adalah “Banteng Solo”. Lakon ini menceritakan tentang pencurian dan perampokan. Pesan pada akhircerita, masyarakat diharapkan agar berhati-hati dan tenang dalam menghadapi situasi seperti ini. Kesenian Glipang benar-benar sangat digemari masyarakat. Baik masyarakat Pendil maupun di luar Desa Pendil. Bahkan terkenal sampai di luar wilayah kabupaten, seperti Pasuruan, Lumajang, Jember, dan Banyuwangi.
Sekitar tahun 1964, kesenian Glipang pentas di Banyuwangi. Tetapi naas bagi rombongan kesenian Glipang. Sepulang dari pentas itu kendaraan yang ditumpanginya mengalami kecelakaan. Kendaraan yang ditumpanginya jatuh terperosok ke jurang. Akibat dari kecelakaan itu, Pak Kartodirjo meninggal dunia.
Sejak saat itulah perkumpulan kesenian Glipang bubar. Bahkan hampir mengalami kepunahan. Baru setelah pada tahun 1970-an, kesenian Glipang mulai bangkit kembali.
Bu Asiah dan Soeparmo, putranya, berupaya untuk mendirikan kembali. Berkat kerja keras Bu Asiah dan Soeparmo, kesenian Glipang mulai bangkit kembali. Mereka mulai mengadakan pementasan-pementasan. Soeparmo, selaku pimpinan perkumpulan seni Glipang, berusaha untuk menggali seni Glipang yang pernah jaya pada masa itu.
Saat itu kesenian Glipang belum mendapat perhatian dari pemerintah. Berkat kerja keras Soeparmo dan kawan- kawannya, mereka berhasil mengumpulkan orang-orang yang mempunyai jiwa seni. Mereka diajak untuk membentuk suatu wadah organisasi kesenian. Akhirnya berdirilah sebuah sanggar seni yang diberi nama Sanggar Andhika Jaya.
Kesenian Glipang semakin lama semakin berkembang. Tepatnya tanggal 5 Februari 1985, Sanggar Andhika Jaya secara resmi telah terdaftar di Kanwil Depdikbud Provinsi Jawa Timur, dengan nomor induk kesenian: 031/111.0416/104.28/1993.
Kini kesenian Glipang telah diakui sebagai seni asli daerah Probolinggo. Kesenian ini memiliki tarian khas, yaitu tari Kiprah Glipang. Karena tarian ini memiliki sejarah perjuangan.
Mulai tahun 1985, kesenian Glipang lebih leluasa untuk mengembangkan potensinya. Pementasan sering dilakukan di mana-mana, baik atas permintaan masyarakat maupun pemerintah. Maraknya perkembangan musik dangdut, karaoke, televisi, film, dan video, kesenian Glipang hampir tersisih. Masyarakat lebih banyak memilih hiburan musik dangdut, karaoke, film, dan video. .Untuk mengatasi persaingan ini, maka seni pertunjukkannya diselingi musik dangdut dan karaoke. Dengan demikian kesenian Glipang tidak lagi ditinggalkan masyarakat.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: “GLIPANG” Seni Tradisional Probolinggo/ Suyitno; Irvi Jaya, 2011. hlm. 1-7, (CB-D13/2011-694)

Kampung-Kampung di Surabaya pada Masa Kolonial

Letak Surabaya yang stategis sebagai kota dagang dengan daerah pedalamannya kaya akan hasil bumi sudah diketahui sejak dahulu. Arti kota Surabaya bagi perdagangan menjadi bertambah penting dengan meningkatnya ekspoitasi perkebunan pembukaan pabrik-pabrik gula di daerah pedalaman. Jelaslah dengan semakin meningkatnya perdagangan di Surabaya, proyeksi kota ini sebagai kota dagang semakin cerah. Keadaan ini ditunjang dengan diberlakukannya Undang-undang Gula dan Undang- undang Agraria pada tahun 1870. Kedua undang-undang ini memberikan kesempatan kepada pihak swasta (terutama pengusaha dari Belanda) untuk menanamkan modalnya di daerah Hindia Belanda. Undang-undang ini juga memberi kesempatan kepada pengusaha swasta untuk menyewa tanah-tanah di daerah pedalaman yang akan digunakan untuk usaha-usaha perkebunan dengan bebas. Maka di Surabaya timbullah kantor-kantor dagang serta bank-bank untuk mendukung kegiatan perkebunan tersebut. Bank-bank yang membuka cabang di Surabaya diantaranya adalah: Ned Handel Mij , De Javasche Bank, Ned Indische Escompto Mij, Ned Ind. Handelsbank, Rotterdamsche Bank, de Internationale Credit en handels Vereniging Roterdam, dan Firma Fraser Eaton & Co ber.1931 dalam Handinoto. 1996:70-71).
Dengan tumbuhnya cabang-cabang perusahaan serta kantor-kantor dagang di Surabaya tersebut, maka pertumbuhan penduduk juga menjadi pesat sekali, bahkan sulit dikendalikan. Untuk mengatasi hal ini maka Pemerintah Kolonial Hindia Belanda pernah :ngeluarkan suatu undang-undang yang dikenal dengan nama Wijkenstelsel (Undang- undang Wilayah) yang mengatur pengelompokan tempat tinggal bangsa atau etnis tertentu. Dengan diberlakukannya undang-undang ini maka di Surabaya muncul pemukiman-pemukiman sesuai dengan daerah asal penghuninya, seperti: Kampung Cina (Chinese Kamp) Kampung Arab (Arabische Kamp), Kampung Melayu, dan sebaganya. Pemukiman orang-orang asing ini kebanyakan berada di sekitar jalan-jalan utama, sedang penduduk asli Surabaya berada di kampung-kampung yang berlokasi masuk dari jalan- jalan besar.
Meskipun wijkenstelsel ini sudah tidak berlaku lagi setelah tahun 1900-an, tetapi bekas-bekas pembagian wilayah ini masih terlihat jelas pada waktu-waktu kemudian, sebelah barat Jembatan Merah terdapat tempat kediaman orang-orang Eropa, sedang disebelah timur dari Jembatan Merah terdapat daerah pemukiman orang-orang Cina , Melayu, dan Arab.
Pertumbuhan penduduk Surabaya yang pesat pada awal abad ke-20 mulai nenimbulkan masalah di dalam kota. Meskipun ada larangan, banyak orang Eropa yang nengambil tanah luas dan membangun rumah-rumah yang besar, kantor-kantor, dan toko-toko. Mereka berlomba-lomba membeli tanah baik di tengah kota , dipinggiran atau didekat persimpangan jalan. Dengan demikian pola pembangunan yang seperti pita memanjang merupakan ciri yang ada di kota Surabaya sejak masa itu. Jarak pusat kota (daerah Jembatan Merah pada waktu itu) dengan daerah-daerah pinggiran (sekitar daerah Kayon dalam tahun 1905) menjadi amat jauh. Bentuk yang memanjang ini bertalian erat dengan hadirnya kendaraan-kendaraan bermotor yang pada waktu itu mulai banyak perasi. Orang-orang asing ini bertempat tinggal di tepi jalan-jalan utama dengan bangunan tempat tinggal yang megah bergaya barat dan asing lainnya. Sementara itu duduk asli Surabaya tinggal di dalam kampung-kampung yang masuk ke dalam dari jalan-jalan besar Rumah-rumah penduduk asli ini tertutup dengan bangunan-bangunan milik orang asing sehingga tidak kelihatan dan jalan-jalan utama tersebut dan biasanya dihubungkan dengan jalan kecil atau gang yang amat sempit.
Kondisi kampung saat itu juga memprihatinkan. Sampah dibuang kemana-mana, saluran air tidak tersedia, tak ada udara bersih dan sinar matahari yang masuk rumah, Akibatnya meledaklah penyakit menular. Gambaran seperti ini bukan saja berlaku untuk masa peralihan dari abad ke-19 ke abad 20, tetapi gambaran tersebut merupakan gambaran yang khas bagi seluruh periode zaman kolonial. Baru sesudah tahun 1920-an pemerintah Hindia Belanda dengan biaya ala kadarnya mencoba untuk memperbaiki keadaan kampung-kampung di Surabaya (Handinoto. 1996:49).
Saat kota Surabaya berkembang makin intensif, pola segregatif (pemisahan berdasarkan etnik) semakin melebar, mau tidak mau harus menginvasi dan mencaplok kampung-kampung. Prosesnya, bangsa Belanda dan etnis lainnya menguasai lahan-lahan di tepi jalur transportasi seperti jalan raya, sungai, dan jalan kereta api. Di lahan-lahan itu dibangun bangunan bertembok berupa pertokoan dan permukiman. Jalan-jalan diaspal halus dan sangat berbeda dengan jalan masuk kampung yang becek saat musim hujan.
Semua itu menjadikan batas fisik antar kampung menjadi semakin menguat. Batas fisik seperti ini memberi dampak psikologis bagi warganya. Selain itu juga memberi dampak psikologis antar komunitas kampung dengan budaya urban yang modernis di tepian jalan beraspal. Orang kampung sendiri merasa rikuh dan sukar menyesuaikan diri dengan budaya perkotaan modern. Malah Belanda menganggap kampung sebagai “desa yang salah letak”. Pandangan sebelah mata Belanda ini mewariskan istilah-istilah: budaya kampung, arek kampung, kampungan, dan semacamnya.
Selain pola segregatifnya yang meluas dalam situasi perkembangan kota yang pesat ini, secara bertahap memunculkan zone pusat bisnis yang semakin melebar. Pelebaran ini memakan perkampungan yang padat penduduknya, sehingga budaya penggusuran di zaman Belanda sudah ada. Salah satu contohnya adalah di tahun 1929 ketika Belanda berusaha menempatkan gedungnya di Kampung Keputran. Karena warga merasa dirugikan maka mereka ketika itu berusaha menolaknya (Surabaya Post, 30 Mei 1992).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Drs. Muryadi [dkk], Penelitian: Perkembangan Kota Dan Dampaknya Terhadap Keberadaan Kampung Kuno Bernilai Historis Di Kota Surabaya.Surabaya: Lembaga penelitian Universitas Airlangga 2001. hlm. 22-25 (CLp-D13/2001-353)

Asal Usul Desa Manduro, Kabupaten Jombang

Manduro adalah nama sebuah desa yang berada di wilayah Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Asal mula terbentuknya Desa Manduro menurut tradisi oral penduduk setempat adalah dari adanya dua orang pelarian Madura yang kemudian menetap di daerah perbukitan tersebut yang masih berupa hutan. Kemudian kedua pelarian tersebut beranak pinak hingga daerah tersebut berkembang sebagaimana kondisi saat ini. Siapakah kedua pelarian tersebut dan kapan keberadaan pelarian tersebut di Desa Manduro tidak didapatkan informasi yang jelas.
Menurut Warito (Sekretaris Desa Manduro) berdasarkan informasi yang di dapatkan dari ‘Mbah Lurah Sepuh’, berpendapat bahwa kedua pelarian tersebut adalah dari laskar Trunajaya yang kalah perang, dan karena kalah perang malu pulang ke Madura. Akhirnya para pelarian tersebut menetap diperbukitan kapur, karena perbukitan kapur aman untuk tempat pelarian.
Nasrulillahi (Kasi Kebudayaan ) berpendapat bahwa kehadiran orang Madura di Manduro kemungkinan terjadi dalam beberapa gelombang. Gelombang pertama kemungkinannya saat awal mula berdirinya Majapahit. Gelombang selanjutnya saat Pangeran Purbaya membantu Amangkurat II melawan Belanda, dan gelombang-gelombang berikutnya tidak banyak diketahui lagi.2
Imam Ghozali ar (budayawan Kabupaten Jombang) berpendapat ada dua versi yang berkembang di tengah masyarakat Manduro tentang asal usulnya. Kedua versi tersebut meliputi: pertama, laskar Trunajaya sebagai nenek moyangnya, dan kedua, Pangeran Arya Wiraraja nenek moyangnya.3
Merujuk sejarah perkembangan kerajaan- kerajaan Indonesia, bahwa pada sekitar tahun 1700- an tepatnya 1746-1755 adalah masa kontra antara Kerajaan Mataram dalam hal ini adalah Raden Mas Said dan Pangeran Mangkubumi melawan Pemerintahan Belanda yang diakhiri dengan perjanjian Gianti. Pada masa peperangan ini banyak orang Madura yang dikirim untuk membantu Pemerintahan Belanda melawan Kerajaan Mataram.4 Hal ini terjadi setelah Madura dapat dikuasai oleh Belanda pada tahun 1743.
Pengiriman orang Madura pada masa Perang Gianti adalah gelombang pertama kedatangan orang Madura secara resmi ke Jawa masa penjajahan Pemerintahan Belanda di Jawa. Orang Madura yang dikirim ke Jawa pada masa Perang Gianti ini adalah kekuatan militer dari kerajaan- kerajaan yang ada di Madura. Kerajaan-kerajaan Madura memberikan bantuan pada Pemerintah Belanda karena saat kerajaan-kerajaan Madura ingin membebaskan diri dari cengkeraman kekuasaan Kerajaan Mataram mendapat bantuan militer dari Pemerintah Belanda pula.
Keterlibatan pengiriman orang-orang Madura berikutnya saat membantu Belanda melawan Untung Surapati di Jawa Timur tahun 1767 dan pada perang berikutnya tahun 1825-1830 dalam perang Diponegoro yang mencapai wilayah-wilayah antara lain Kertosono6, Madiun, Banyumas, Pekalongan, Tegal, Rembang, Kedu, Pacitan, Purwodadi, Semarang, Yogyakarta, dan Surakarta. Pada masa tersebut sangat mungkin orang-orang Madura setelah perang akhirnya menetap di Jawa. Manduro adalah salah satu tempat yang dituju karena daerah geografi yang sama dengan Madura tempat asalnya.
Jika dirunut lebih ke belakang, tahun 1647- 1677 terjadi pemberontakan Trunajaya seorang bangsawan dari Madura. Melalui daerah Rembang setelah menyisir pantai utara Pulau Jawa dari Madura, Trunajaya bersama pasukannya berhasil menaklukkan Kerajaan Mataram dan memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Mataram di Kediri. Saat Trunajaya dapat ditaklukan tahun 1679, bahwa sangat mungkin orang- orang Madura pengikut Trunajaya melarikan diri daerah-daerah di sekitar Kediri seperti Malang, Kertosono, atau Jombang ketika pusat pemerintahan di Kediri berhasil dikuasai oleh prajurit-prajurit dari Kerajaan Mataram yang dibantu oleh VOC dan Arung Palaka dari Kerajaan Bone, Sulawesi. Maka masuk akal apa yang disampaikan oleh Sekretaris Desa Manduro yang bernama Warito.
Hal menarik lainnya tentang keberadaan orang-orang Madura di Desa Manduro dapat pula dikaitkan dengan sejarah berdirinya Kerajaan Majapahit, bahwa ada disinggung tentang keterlibatan orang-orang Madura yang dipimpin Arya Wiraraja dalam membantu Raden Wijaya membuka tanah baru di Hutan Tarik yang akhirnya menjadi besar, dan berkembang pesat menjadi sebuah kerajaan besar yang disebut Majapahit tahun 1293 Masehi. Dalam sejarahnya Kerajaan Majapahit adalah Kerajaan Hindu terbesar dalam sejarah perkembangan kerajaan-kerajaan di Jawa.
Pertanyaan yang muncul adalah, bilamana Kerajaan Majapahit diperkirakan berdiri di lembah dekat sungai Brantas, maka situs kerajaan diperkirakan berada di wilayah Kabupaten Mojokerto. Kabupaten Mojokerto sendiri berbatasan langsung dengan Kabupaten Jombang.7 Bagaimana mungkin orang-orang Majapahit tinggal di pegunungan-pegunungan seperti keberadaan orang-orang Manduro saat ini?
Alternatif jawaban adalah diperkirakan saat terjadinya penyerangan terhadap Kerajaan Majapahit oleh Demak yang beragama Islam pada tahun 1475, hingga jejak Kerajaan Majapahit menghilang dalam kegelapan sejarah. Rakyat Kerajaan Majapahit menyingkir ke gunung-gunung. Contoh yang dapat dikemukakan adalah masyarakat Tengger yang ada di sekitar Gunung Bromo diduga masih lekat dalam kepercayaan Hindu peninggalan Kerajaan Majapahit. Hal ini bisa pula terjadi dengan orang-orang keturunan Madura yang tentunya telah sangat berkembang jika keberadaannya dimulai sejak awal berdirinya Kerajaan Majapahit, menyingkir ke pegunungan- pegunungan, dan Manduro adalah salah satu tempat yang memungkinkan.
Di Desa Manduro tepatnya di Dusun Gesing bagian Utara masih berupa hutan, terdapat bekas bangunan-bangunan yang hanya tinggal puing- puing batu. Tidak jelas puing-puing tersebut merupakan bangunan apa dan peninggalan masa apa. Peninggalan masa Belanda ataukah bangunan peninggalan masa kerajaan Majapahit mengingat dekat dengan wilayah Mojokerto dan wilayah Jombang. Sampai sekarang belum ada penelitian arkeologi yang dilakukan untuk mengungkap peninggalan-peninggalan tersebut. Tetapi penduduk Manduro menyakininya sebagai peninggalan zaman kerajaan Majapahit dan peninggalan zaman Wali/ Sunan terutama Sunan Geseng.
Gelombang kehadiran orang-orang Madura di Jombang selanjutnya tidak banyak diketahui. Menurut Kuntowijoyo, emigrasi penduduk Madura ke Jawa memang telah menjadi sejarah yang panjang. ” ekologi tegai telah mendorong perpindahan penduduk ke Jawa untuk mencari tanah yang lebih baik dan mencari mata pencaharian….”.
Emigrasi yang tajam terjadi sekitar tahun 1900-1930 dari Madura ke Jawa. Dibukanya perkebunan di Jawa Timur menarik orang Madura untuk menjadi buruh di perkebunan. Akibatnya populasi di Madura mengalami penurunan yang tajam. Sebagaimana dikemukakan Kuntowijoyo mengenai populasi penduduk Madura pada sekitar tahun tersebut ” Penurunan yang tajam terjadi dalam periode antara tahun 1900 hingga 1920, berturut-turut dari 1. 750.511 menjadi 1.738.926. Penduduk kota Sumenep, Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan turun tajam sekali dalam dasawarsa antara tahun 1920 hingga 1930 ….”. Lebih lanjut
Kuntowijoyo menguraikan ” bahwa selain migran-migran temporer, sampai tahun 1930 pemukim-pemukim baru orang Madura banyak yang datang dan menetap di Jawa Timur, dan Jombang adalah salah satu tempat tujuan. Hingga tahun 1930 tercatat orang-orang Madura yang menetap di Jombang mencapai 936 jiwa.
Paparan di atas memberikan asumsi, bahwa sangat mungkin keberadaan orang Madura di Desa Manduro yang saat itu masih berupa hutan, berawal dari jatuhnya Kerajaan Majapahit. Asumsi ini didukung ceritera yang berkembang di kalangan penduduk Manduro tentang situs peninggalan Majapahit dan diperkuat dengan cerita tentang Sunan Geseng yang diyakini pernah bertempat tinggal di Manduro. Sunan Geseng adalah salah satu Wali Jawa yang ikut andil menyebarkan agama Islam pada sekitar abad XV. Bila keberadaan awal penduduk Manduro dikaitkan dengan masa perang Trunajaya sangatlah tidak mungkin, karena perang Trunajaya terjadi pada sekitar abad XVII, maka penduduk Manduro tidak akan mempunyai cerita tentang situs Majapahit dan Sunan Geseng.
Daerah yang pertama kali dijadikan tempat tinggal oleh kedua pelarian saat itu diduga dinamakan Dusun Gesing. Hal ini mungkin saja terjadi mengingat di Dusun Gesing banyak peninggalan-peninggalan sejarah yang belum terungkap, juga peninggalan-peninggalan masa penjajahan Belanda.
Nama Dusun Gesing sendiri diambil dari nama Sunan Geseng. Menurut cerita, pada masa hidupnya Sunan Geseng dalam perjalanan penyebaran agama Islam sampai di suatu daerah yang sekarang bernama Gesing. Dibandingkan dusun lainnya, banyak mitos yang berkembang di Dusun Gesing. Antara lain ada tempat yang dikeramatkan yang dinamakan Sendang Weji (gambar 1 dan 2). Dikeramatkan karena dianggap sebagai tempat ‘Nyilem’-nya Sunan Geseng. Bagi penduduk Gesing, Sunan Geseng datang dan menetap di dusun tersebut dan ‘Nyilem’ (menghilang) ke dalam Sendang Weji. Di Sendang Weji menurut penduduk setempat sering terjadi keanehan-keanehan. Keanehan pertama yang pernah terjadi antara lain saat terjadi Gestapu tahun 1965, Sendang Weji ‘nyumber’ darah. Keanehan kedua yaitu saat Indonesia ramai dengan ‘Petrus’ (penembak misterius), permukaan Sendang Weji tertutup ‘rajut’ selama tujuh hari menjelang maraknya kejadian Petrus. Keanehan ketiga yakni di dalam Sendang Weji nampak gambar ‘Gunungan’ saat terjadi pergantian pemerintahan Presiden Megawati kepada Presiden Susilo Bambang Yudoyono.
Demikian pula Sendang Weji dianggap sebagai ‘Yoni’ bagi Dusun Gesing, sehingga setiap acara selamatan desa di Sendang Weji selalu diletakkan ‘tumpeng’ lengkap dengan sajen beserta hasil-hasil panen penduduk Dusun Gesing. Namun ada juga yang berpendapat bahwa daerah yang pertama kali terbentuk adalah Mato’an. Alasannya adalah nama Mato’an selalu dipakai oleh tiga Dusun yang lain seperti Mato’kan Gesing, Mato’an Guwo, dan Mato’an Ndanden.
Asal muasal dusun-dusun yang lain nampaknya juga memiliki cerita-cerita yang unik. Dusun Guwo umpamanya, disebut Dusun Guwo karena tepat di selatan desa ditemukan dinding batu terjal. Menurut sesepuh kampung, di balik batu itu terdapat mulut gua dalam keadaan terkunci (gambar 3). Berdasarkan keyakinan penduduk Manduro hanya satu orang yang sanggup membuka batu besar sebagai pintu goa tersebut. Orang tersebut adalah Kepala Desa Manduro yang sudah almarhum, yakni Pak Saitun. Penduduk Manduro mempercayai bahwa goa tersebut dulunya dipercaya sebagai tempat pertapaan Bung Karno ketika berjuang memerdekakan bangsa Indonesia.
Cerita tentang asal usul Dusun Mato’an lain lagi. Dusun ini diberi nama Mato’an konon berasal dari ‘patokan’ atau tugu. Penduduk setempat meyakini, bahwa pada saat-saat tertentu ‘patokan’ atau tugu tersebut dapat muncul dan menghilang secara tiba-tiba.
Asal usul pemberian nama Desa Manduro tidak ada yang dapat menjelaskan. Ada kemungkinan nama Desa Manduro dulunya adalah Desa Madura, dan disebut Desa Madura karena komunitas penduduk desa tersebut adalah orang Madura. Perubahan nama Madura menjadi Manduro terdapat dua kemungkinan. Kemungkinan pertama adalah, dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai gejala bahasa ‘epentesis’. Epentesis adalah penambahan fonem dalam satu suku kata. Contoh: Upama menjadi Umpama, dan Sadur menjadi Sandur.
Kemungkinan kedua adalah. Idiolek masyarakat setempat. Idiolek adalah sistem ujaran individu. Sistem ujaran individu bila dilakukan oleh banyak orang dalam suatu komunitas masyarakat tertentu, maka akan menjadi ‘dialek’ masyarakat tersebut. Maka sangat mungkin kata Madura diujarkan atau diucapkan Manduro oleh masyarakat Jombang, atau menjadi Meduro oleh kebanyakan masyarakat Surabaya.
Kemungkinan ketiga, bahwa masyarakat Madura pada umumnya amat memuja tokoh wayang yang bernama Baladewa. Baladewa adalah raja dari Kerajaan Manduro. Bisa sangat mungkin nama Desa Manduro terinspirasi nama Kerajaan tokoh wayang Baladewa ini.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:
Pertunjukan Sandur Manduro/ Trinil Windrowati; ISI Press, Solo, 2010. hlm. 23-34, (CB-D13/2010-439)

Petik Laut Warga Pandean-Situbondo

LAZIMNYA masyarakat pesisir, gelar selamatan petik laut kerap dilakukan warga setempat. Itu juga dialami masyarakat pesisir Pandean, Desa Wonorejo, Kecamatan Banyuputih, Situbondo. Tradisi tersebut sudah dilakukan turun-temurun, yang biasanya digelar nelayan di seluruh wilayah pesisir.

Tepat akhir April 2014 lalu, warga Pandean menggelar acara petik laut sebagai wujud syukur atas hasil tangkapan yang melimpah serta para nelayan diberikan keselamatan dalam berlayar dan menangkap ikan.

Puncak acara petik laut dihadiri Wakil Komandan Pangkalan TNI AL (Wadanlanal) Banyuwangi, Kadis Perhubungan dan Kominfo, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Situbondo, Muspika Kecamatan, serta tokoh masyarakat setempat.

Acara yang ditandai dengan pelepasan pitek (perahu kecil berisi sesajen) ke tengah laut diiringi arak-arakan perahu yang diisi dengan hiburan musik dangdut oleh warga setempat serta beberapa perahu nelayan yang dihias semeriah mungkin. Penari gandrung menjadi tontonan warga pada saat iring-iringan pitek berlangsung, (sit)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Petik Laut Warga Pandean-Situbondo;DERAP DESA Edisi 80, Juni 2014 ; hlm. 32

MOHAMMAD NUH

Mohammad Nuh7 Juni 1959, MOHAMMAD NUH lahir di Surabaya. Ayah satu orang putri (Rachma Rizqina Mardhotiilah, Lahir di Montpelller 20 Desember 1989) dari perkawinannya dengan drg Laily Rachmawati, Sp Perio, Tahun 1983, MOHAMMAD NUH lulus, menyelesaikan Program Strata Satu (S1) pada Teknik Elektro. Tahun 1987 menyelesaikan (S2) Gelar master di Universite Science et Technique du Languedoc Perancis Tahun 1990 menyelesaikan (S3) Gelar doktor di Monptellier juga Perancis. Sebelum menjabat sebagai rektor ITS, beberapa jabatan pemah dipegang, antara lain. Tahun 1992-1997, menjabat Pembantu Direktur III Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) ITS. Tahun 1997-2003, kemudian selama dua periode menjabat Direktur PENS ITS. Maret 2003, MOHAMMAD NUH sebagai Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Selama ini ia tercatat sebagai salah seorang rektor termuda Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia. April 2004, Menjadi Guru Besar (Profesor) di bidang Ilmu Digital Control System dengan spesialisasi Sistem Rekayasa Biomedika. Kegiatan sosial di luar bidang pendidikan yang pernah dipegang antara lain Ketua Ikatan Cendekiawan -Muslim Se-lndonesia (ICMI) Jawa Timur. Sekarang ia tercatat sebagai salah satu ketua Dewan Pakar ICMI Pusat, Pembina Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF) Surabaya, Ketua Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya. Ketua Yayasan Pendidikan Al Islah Surabaya, Ketua MUI Jawa Timur, Pengurus Maarif NU Cab Surabaya dan banyak lagi yang lainnya. Dalam organisasi profesi tercatat sebagai anggota Institute of Electrical and Electronic Engineering, juga sebagai Technical Committee Member pada kegiatan-kegiatan seminar ilmiah baik nasional maupun internasional. MOHAMMAD NUH juga aktif mengisi berbagai ceramah mulai dari ceramah umum yang berkait dengan keilmuan dan keteknologian hingga ke hal-hal yang terkait dengan ke- Islaman. Salah satu bagian pada buku ini antara lain membuktikan betapa kentalnya pemikiran-pemikiran Mohammad NUH dengan ilmu dan teknologi serta ke- Islaman. Pada tahun 2003 ia memperoleh penghargaan JICA Special Awards atas keseriusannya menangani bantuan proyek-proyek dari JICA (Japan International Cooperation Agency) di ITS. Penghargaan itu yang pertama diberikan JICAkepadaorang Indonesia. Tahun 2006, meraih Award of Highest Honor dari Soka University, Jepang, atas kontribusi dan keterlibatannya dalam mempromosikan pendidikan tinggi, kebudayaan, kemanusiaan dan perdamaian. ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾ Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Membangun Bersama ITS: Meletakkan Dasar, Menuai Hikmah./ Mohammad Nuh ITS press 2007. hlm. Sampul blk, (CB-D13/2007-215) (Artikel/gambar)

Kampung-Kampung Kuno pada Masa Kerajaan Surabaya

Dalam memahami keberadaan kampung-kampung kuno yang ada di kota Surabaya pada masa kerajaan (Kerajaan Surabaya) maka tidak dapat lepas terhadap pemahaman konsep tata kota yang biasa berlaku pada kota-kota di Jawa secara umum. Tata kota pada Kerajaan Surabaya juga sangat dipengaruhi oleh pandangan kosmos (cosmic state) yang salah satu cirinya adalah berpedoman pada arah penjuru mata angin (Robert Heine-Gelderen. 1982:12). Pada tata kota di Jawa arah utama mata angin ada empat: utara-selatan-timur-barat. Selain itu pada konsep tata kota di Jawa juga menggunakan dasar pemikiran bahwa kota seperti rumah dan merupakan sesuatu yang “hidup “. Oleh karena itu penyusunannya harus mengambil pola tubuh manusia dengan tata letaknya memperhatikan arah mata angin.
Utara adalah letak kepala, jadi selalu resmi dan kebesaran, sedang selatan letak kaki dan kelamin merupkan sifat yang kekeluargaan dan keturunan. Ke timur adalah arah matahari terbit dan tangan kanan, artinya keqa atau yang berhubungan dengan keduniawian. Ke barat merupakan arah matahari terbenam atau tangan kiri, artinya keija atau-yang berhubungan dengan kejiwaan rohaniah dan sakral. Sedang di tengah adalah tempat jantung yaitu pusat kehidupan (Surabaya Post. 29 Maret 1981).
Letak-letak kampung pada masa Kerajaan Surabaya ternyata juga mengikuti konsep tata ruang kota di Jawa. Pembagian wilayah tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

Daerah tengah tempat Keraton Surabaya berada.
Pusat dari Keraton Surabaya adalah di Kampung Kraton Disebelah utara Kampung Kraton ini terdapat alun-alun lor (alun-alun utara) yang lokasinya berada disekitar Jalan Alun-alun (sekarang Jalan Pahlawan). Di alun-alun sebelah utara ini terdapat Kampung Kawatan (yang berarti semacam pakis halus). Kampung Kebon Rojo (kebun milik raja), Kampung Serayan (yang berarti hijau segar), dan Kampung Wiro (berasal dan kata prawiro yang berarti gagah perkasa atau pahlawan atau kampung tempat tinggal para pahlawan). Di selatar. Kampung Kraton terdapat alun-alun kidul (alun-alun selatan) yang oleh masyarakat dikenal dengan sebutan alun-alun Contong. Di tempat ini juga terdapat Kampung Carikan (tempat tinggal carik keraton yang mempunyai tugas untuk menerima tamu yang berasal dari arah selatan). Tidak jauh dari tempat ini ada Kampung Gemblongan (gemblongan berasal dan kata “gembong” yang berarti tempat pendaratan raja yang berbentuk dua perahu besar yang disatukan).
Dari uraian di atas terlihat bahwa nama-nama kampung disekitar Kampung Kraton merupakan suatu sistem yang lengkap dan dapat memberikan gambaran yang cukup jelas tentang keadaan yang berlaku pada waktu itu.

Daerah barat berhubungan dengan kejiwaan dan kesakralan.
Di daerah yang berada di sebelah barat Kraton Surabaya terletak kampung- kampung sebagai berikut: Kampung Temenggungan (kampung tempat tinggal para tumenggung), Kampung Maspatih (kampung tempat tinggal patih dalam kerajaan).. Sedang patih yang bertugas di luar bertempat tinggal di Kampung Kepatihan. Selain itu ada Kampung Praban ( kampung tempat tinggal para prabu), Kampung Ronggo (kampung tempat tinggal para ronggo atau pembuat keris), Kampung Bubutan (berasal dari kata butotan yang berarti pintu ngerbang, yaitu kampung tempat jalan untuk keluar masuk khusus pejabat-pejabat negara yang penting). Berbatasan dengan kompleks kraton ada (berasal dari bahasa Portugis “baluarte” yang berarti benteng penguat). Untuk memperidah wilayah kota, maka dari arah selatan kraton dibuatkan taman yaitu di injungan (tunjungan berarti bunga teratai putih) (Radar, 4 April 2001. Hlrn.8).

Daerah timur berhubungan dengan keduniawian
Bagian timur terdiri dari kampung-kampung yang berfungsi sebagai profesi kekaryaan. Yang terdekat dengan Kraton Surabaya adalah Kampung Pandean (kampung tempat tinggal para pande besi), Kampung Plampitan (kampung tempat tinggal para pembuat tikar atau lampit), Kampung Peneleh ( peneleh berasal dari kata “tilih” atau waduk air, jadi merupakan tempat tinggal penjual air), Kampung Undaan kampung tempat penjual sangkar burung), Kampung Pengopohan (kampung tempat i besi yang kasar atau cor), Kampung Pengampon (pengampon berasal dari kata “ampo” yang berarti tanah liat merah atau kampung tempat pembuatan tembikar), Kampung Pecindilan (berasal dari kata “cinde” yaitu kain bermotifkan kembang, jadi pakan kampung tempat membatik atau menyablon), Kampung Pegirian ( berasal kata “giri” yang berarti buruh, jadi merupakan kampung tempat tinggal para buruh). Kampung Ngaglik (berasal dari kata “aglik” yang berarti alat pembersih jadi merupakan kampung tempat tinggal para penenun), Kampung Ketabang sal dari kata “ketabagan” yang berarti tempat menganyam gedeg, jadi merupakan kampung tempat tinggal para pembuat gedeg), Kampung Ondomohen (berasal dari gemoh yang berarti pekerjaan tangan ringan, jadi berarti kampung tempat kerajinan tangan), Kampung gubeng
Yang artinya kain penutup kepala, jadi berarti kampung tempat penghasil kain tutup kepala), Kmpung Tarukan (berasal dari kata “taros” atau “tari”, jadi berarti perkampungan seniman ider, tandak, atau ledek).
Daerah di sebelah timur selain terdiri dari kampung-kampung yang berhubungan dengan profesi pekerjaan seperti yang telah dikemukakan di atas, ternyata juga memiliki kampung-kampung yang berhubungan dengan jabatan tertentu, seperti: Kampung Tambak Bayan (kampung tempat tinggal kebayan), Kampung Kepatihan kampung tempat tinggal patih kerajaan), Kampung Kademangan (kampung tempat para demang), dan Kampumg Keradenan (kampung tempat tinggal raden).

Daerah-daerah khusus
Yang termasuk daerah-daerah khusus, misalnya: Kampung Keputran (kampung tempat tinggal dan mengasuh putra-putri raja), Kampung Sidi Keputran (kampung tempat para guru pengasuh dari putra-putri raja). Kampung Kayon (yang bearti kampung ini berkaitan dengan kesakralan antara wilayah Keputran dengan kampung Pandegiling (kampung para pande giling), Kampung Malang (berasal “walengan” yang berarti kayu yang keras dan baik, jadi merupakan kampung yang berupa perkebunan/ hutan kayu), Kampung Tegalsan (kampung yang berupa ladang iur), Kampung pregolan (kampung tempat regol atau bangunan gapura), Surabayan (kampung yang sekarang digunakan untuk menamai kota SURABAYA, kampung kaliasin (kampung yang berawa tempat pembuangan orang yang memusui raja)(Surabya Post, 30 Mei 1981.)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:
penelitian: Perkembangan Kota Dan Dampaknya Terhadap Keberadaan Kampung Kuno Bernilai Historis Di Kota Surabaya/ Drs. Muryadi [dkk]; Lembaga penelitian Universitas Airlangga 2001. hlm.15-19 (CLp-D13/2001-353)