Museum dan Perpustakaan Bank Indonesia

Museum & Perpustakaan BI (2)De Javasche Bank salah satu bank terkemuka pada zaman kolonial Belanda yang didirikan di Batavia, tanggal 24 Januari 1828. Kantor pusatnya di Batavia de Javasche Bank, cabangnya di kota- kota seperti Surabaya, Yogyakarta, Solo, Cirebon, Makasar, Palembang dan Pontianak. Kantor cabang Surabaya dibuka 14Seprtember 1829. Gedungnya di pojok Schoolplein (sekarang Jalan Garuda No.1) dan Werfstraat (sekarang Jalan Penjara).

Pada tanggal 1 Juli 1953 Bank ini berubah menjadi Bank Indonesia dan gedung di Jalan Garuda No.1 masih dipakai sampai tahun 1973, sementara Bank Indonesia Surabaya pindah ke Jalan Pahlawan No.105.

Dari survey arkeologi menunjukkan bangunan itu menerapkan teknologi Belanda, antara lain bagian basement (R. Khazanah) dengan pintu besi besar dan lebar, almari besi kokoh, rak besi besar dan kuat., dinding tebal berlapis beton bertulang, kaca patri sebagai jalan cahaya, kisi-kisi tembok dan atap yang kokoh. Arsitektur ini adalah perpaduan dari bangunan Kolonial, Hindu dan Jawa Centris.

Perpustakaan Bank Indonesia secara resmi dibuka oleh Walikota Surabaya,Tri Rismaharini, dihadiri Wakil Gubernur Jatim, Syaifullah Yusuf, dan Deputi Gubernur Bank Indonesia (Bl), di Gedung Mayangkara, Surabaya, JawaTimur.

Gedung Mayangkara dulunya disebut Woning voor Agent van Javasche Bank merupakan rumah pejabat De Javasche Bank. Pada 1975-2004 gedung itu berfungsi sebagai Museum Mpu Tantular, dan telah ditetapkan oleh pemerintah kota setempat sebagai benda cagar budaya.

Museum & Perpustakaan BIPerpustakaan itu sendiri memiliki koleksi sedikitnya 17.000 buku, 11 ribu judul dimana 65 persen dari buku-buku tersebut adalah buku, jurnal dan referensi tentang ekonomi, moneter dan perbankan. Sisanya, koleksi buku untuk anak-anak, disediakan sarana bebas akses perpustakaan digital (cyber library) yang didukung 20 unit komputer, wi-fi gratis, area membaca yang nyaman dilengkapi sarana perpustakaan anak-anak, ruangan audiovisual dan juga tersedia kafe book.

 

MUSEUM BANK INDONESIA

Jl. Garuda No.1 Surabaya

Telp: +62 (31) 3531829

Fax: +62 (31) 3520025

——————————————————————————————134N70nulusDW

Masjid Babus Salam (Masjid Tiban), Probolinggo

Kegilaan Hilang Setelah Wiridan Di Batu Panjang

masjid-tiban-babus-salam1Masjid tiban Babus Salam di Probolinggo hampir tak pernah sepi dari pengunjung. Batu panjang di sekitar masjid itu, dipercaya dapat menyembuhkan orang gila. Air sumur dari masjid itupun konon menjanjikan kesembuhan dan awet muda.

Masjid kuno tersebut berada di Dusun Babus, Desa Teras, Kecamatan Siwalan, Proboling­go, Jatim. Lokasi masjid  berada di samping jalan raya utama Probolinggo atau di sisi kiri rel kereta api, hanya dapat dilihat dari dalam atau sisi luar sebelah Utara masjid.

Untuk dapat melihat masjid tiban secara utuh, haruslah dari sisi Utara masjid. Pasalnya,dari sisi luar masjid yang terlihat hanyalah bangunan masjid modern. Perluasan masjid terpaksa dilakukan karena penunjung masjid tiban ini kian hari kian bertambah banyak. Walaupun bangunan perluasan masjid modern tampak lebih mendominan, namun keutuhan serta keaslian masjid tiban itu tetap dijaga. Sebenarnya masjid tiban masih utuh, yang kita liat sekarang ini hanyalah perluasan masjid saja. Usia masjid tiban Babus Salam diperkirakan sezaman dengan pendirian Masjid Demak, Jawa Tengah, sekitar tahun 1521. Tetapi ada juga yang menyebutkan, bahwa itu dibangun pada sekitar tahun 1498.

Masjid Tiban Babus Salam.docx0002

Masjid kuno ini sering disebut masyarakat setempat sebagai masjid tiban. Sebutan tiban, terkait dengan keberadaan masjid itu sendiri. Konon, saking cepatnya proses pembuatan masjid tersebut, seolah-olah masjid itu tiba-tiba ada seperti jatuh dari langit.

SATU SAKA GURU SATU MAKNA

Empat saka guru masjid yang asli buatan Syech Maula- na Ishaq ini memiliki keunikan tersendiri. Sejak pertama ber- diri hingga sekarang, tak per- nah mengalami kerusakan ba- rangsedikitpun. Selain itu, pen- dirian empat saka guru itu tan- pa menggunakan paku. Dari satu tiang ke tiang lain hanya dipasakkan begitu saja, sehing- ga mirip sekaii dengan tusukan sate. Tidak sedikit yang per- caya, bahwa empat saka guru itu memiiiki nilai karomah yang tinggi.

Keberadaan saka guru, blandar, dan pengeret dari masjid yang bercat coklat itu memiliki makna sendiri-sendiri. Saka guru sebelah kanan yang dekat dengan jendela besi dipercaya dapat memberikan ketenangan batin serta pencer- ahan diri yang lebih. “Jamaah yang mempunyai persoalan hidup yang amat kompleks, biasanya akan melakukan sho- lat dan wirid dengan bersandar pada saka guru itu,” terang Adi.

Sedangkan saka guru ke- dua berada di sisi sebelah kiri. Saka guru ini banyak dimaknai bisa menyelesaikan rasa putus asa akan hidup. Sedangkan saka guru ketiga dan keempat dipercaya dapat merekatkan suatu hubungan yang utuh, antara umat dengan Tuhannya. “Tetapi saya kira, semua itu ter- gantung dengan hati dan keyakinan masingfnasing,” ujar Adi.

Bagian lain selain saka guru yang masih bertahan keaslian- nya adalah gapura. Gapura tersebut sengaja dipertahankan keasliannya, meski masjid tersebut telah mengalami beberapa kali pemugaran.

■ KHASIAT KESEMBUHAN

Pada sisi selatan masjid tiban ini juga terdapat sebuah bongkahan batu hitam (andesit). Batu berukuran 1 m x 30 cm tersebut berada di tengah kompleks makam kuno. Masyarakat setempat menyebut batu tersebut dengan sebutan batu panjang.

Tidak diketahui, sejak kapan batu itu berada di tengah-tengah makam. Begitu pula mengapa batu tersebut disebut batu panjang. Namun yang pasti, keberadaan batu yang hampir bebarengan dengan tiga buah makam kuno itu diyakini dapat digunakan sarana untuk menyembuhkan depresi, kelinglungan serta kegilaan.

Hampir setiap hah, di batu panjang ini tampak diduduki oleh orangorang yang ingin terang dan tentram hatinya. Kepercayaan setempat menyebutkan, dengan duduk di batu itu selama 24 jam sambil dzikir, stress dan depresi berat bisa disembuhkan.

Selain batu panjang itu, masih ada lagi sumur kuno yang terletak di sisi kanan masjid. Air sumur itu banyak dipercaya orang berkhasiat kesembuhan dan bisa membuat wajah seseorang menjadi selalu tampak muda. Tidak sedikit di antara pengunjung masjid tiban yang berharap kesembuhan atas penyakit kulit yang dideritanya dengan memanfaatkan air sumur tersebut.

Berdasarkan mitos yang ada, jika seseorang meminum ataupun menggunakan air tersebut untuk wudhu, maka wajah yang semula terlihat tua akan tampak muda kembali. Bahkan, penyakit aneh akibat santet dapat pula disembuhkan dengan meminum air tersebut. DUNG

Kamaludin (Spiritualis Probolinggo)

Dapatkan llmu Usai Itikaf di Masjid Tiban’

Selain dikenal sebagai seorang penceramah dari dalam kubur, Ki Kamaluddin juga dikenal sebagai spiritualis yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Dengan air yang diambil dari sumur masjid tiban Babu Salam, ia musnahkan ber­bagai penyakit akibat guna-guna.

Tetapi Kamaluddin pantang takabur. Keberhasilannya menyembuhkan berbagai penyakit yang diderita pasiennya, dikatakannya sebagai kuasa lllahi semata. “Saya, cuma sebagai perantara saja, tetapi semuanya hanya dari Allah semata,” ujar Kamaludin. “Saya mohon kepada Allah, dan kebetulan doa saya didengar dan dikabulkan,” imbuhnya.

Kelebihan ilmu yang dimilikinya, diakuinya bermula dari seringnya itikaf di Masjid Babus Salam seiama tiga tahun. Semula, kedatangannya di masjid itu hanya ingin mendapatkan ketenangan jiwa. Selain itu, juga dalam rangka ikhtiar untuk melepaskan diri dari segela himpitan hutang-hutangnya.

Dalam sebuah kekhusukannya berdzikir di masjid itu, suatu ketika Kamaludin merasa didatangi scsok pria misterius berjubah putih. Pria itu, kemudian memberikan amalan-amalan yang harus dilakukan oleh Kamaludin. “Amalan itu, hingga sekarang terus saya baca setiap kali habis sholat lima waktu,” jelas Kamaludin kepada LIBERTY. “Di luar dugaan, temyata amalan yang pemah saya peroleh dari masjid tiban itu amat berguna bagi orang lain yang ingin pertolongan,” imbuhnya .DUNG

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: LIBERTY, EDISI 2317, 21-30 September 2013, hlm. 50-52

Masjid Babus Salam (Masjid Tiban), Probolinggo

Kegilaan Hilang Setelah Wiridan Di Batu Panjang

masjid-tiban-babus-salam1Masjid tiban Babus Salam di Probolinggo hampir tak pernah sepi dari pengunjung. Batu panjang di sekitar masjid itu, dipercaya dapat menyembuhkan orang gila. Air sumur dari masjid itupun konon menjanjikan kesembuhan dan awet muda.

Masjid kuno tersebut berada di Dusun Babus, Desa Teras, Kecamatan Siwalan, Proboling­go, Jatim. Lokasi masjid  berada di samping jalan raya utama Probolinggo atau di sisi kiri rel kereta api, hanya dapat dilihat dari dalam atau sisi luar sebelah Utara masjid.

Untuk dapat melihat masjid tiban secara utuh, haruslah dari sisi Utara masjid. Pasalnya,dari sisi luar masjid yang terlihat hanyalah bangunan masjid modern. Perluasan masjid terpaksa dilakukan karena penunjung masjid tiban ini kian hari kian bertambah banyak. Walaupun bangunan perluasan masjid modern tampak lebih mendominan, namun keutuhan serta keaslian masjid tiban itu tetap dijaga. Sebenarnya masjid tiban masih utuh, yang kita liat sekarang ini hanyalah perluasan masjid saja. Usia masjid tiban Babus Salam diperkirakan sezaman dengan pendirian Masjid Demak, Jawa Tengah, sekitar tahun 1521. Tetapi ada juga yang menyebutkan, bahwa itu dibangun pada sekitar tahun 1498.

Masjid Tiban Babus Salam.docx0002

Masjid kuno ini sering disebut masyarakat setempat sebagai masjid tiban. Sebutan tiban, terkait dengan keberadaan masjid itu sendiri. Konon, saking cepatnya proses pembuatan masjid tersebut, seolah-olah masjid itu tiba-tiba ada seperti jatuh dari langit.

SATU SAKA GURU SATU MAKNA

Empat saka guru masjid yang asli buatan Syech Maula- na Ishaq ini memiliki keunikan tersendiri. Sejak pertama ber- diri hingga sekarang, tak per- nah mengalami kerusakan ba- rangsedikitpun. Selain itu, pen- dirian empat saka guru itu tan- pa menggunakan paku. Dari satu tiang ke tiang lain hanya dipasakkan begitu saja, sehing- ga mirip sekaii dengan tusukan sate. Tidak sedikit yang per- caya, bahwa empat saka guru itu memiiiki nilai karomah yang tinggi.

Keberadaan saka guru, blandar, dan pengeret dari masjid yang bercat coklat itu memiliki makna sendiri-sendiri. Saka guru sebelah kanan yang dekat dengan jendela besi dipercaya dapat memberikan ketenangan batin serta pencer- ahan diri yang lebih. “Jamaah yang mempunyai persoalan hidup yang amat kompleks, biasanya akan melakukan sho- lat dan wirid dengan bersandar pada saka guru itu,” terang Adi.

Sedangkan saka guru ke- dua berada di sisi sebelah kiri. Saka guru ini banyak dimaknai bisa menyelesaikan rasa putus asa akan hidup. Sedangkan saka guru ketiga dan keempat dipercaya dapat merekatkan suatu hubungan yang utuh, antara umat dengan Tuhannya. “Tetapi saya kira, semua itu ter- gantung dengan hati dan keyakinan masingfnasing,” ujar Adi.

Bagian lain selain saka guru yang masih bertahan keaslian- nya adalah gapura. Gapura tersebut sengaja dipertahankan keasliannya, meski masjid tersebut telah mengalami beberapa kali pemugaran.

■ KHASIAT KESEMBUHAN

Pada sisi selatan masjid tiban ini juga terdapat sebuah bongkahan batu hitam (andesit). Batu berukuran 1 m x 30 cm tersebut berada di tengah kompleks makam kuno. Masyarakat setempat menyebut batu tersebut dengan sebutan batu panjang.

Tidak diketahui, sejak kapan batu itu berada di tengah-tengah makam. Begitu pula mengapa batu tersebut disebut batu panjang. Namun yang pasti, keberadaan batu yang hampir bebarengan dengan tiga buah makam kuno itu diyakini dapat digunakan sarana untuk menyembuhkan depresi, kelinglungan serta kegilaan.

Hampir setiap hah, di batu panjang ini tampak diduduki oleh orangorang yang ingin terang dan tentram hatinya. Kepercayaan setempat menyebutkan, dengan duduk di batu itu selama 24 jam sambil dzikir, stress dan depresi berat bisa disembuhkan.

Selain batu panjang itu, masih ada lagi sumur kuno yang terletak di sisi kanan masjid. Air sumur itu banyak dipercaya orang berkhasiat kesembuhan dan bisa membuat wajah seseorang menjadi selalu tampak muda. Tidak sedikit di antara pengunjung masjid tiban yang berharap kesembuhan atas penyakit kulit yang dideritanya dengan memanfaatkan air sumur tersebut.

Berdasarkan mitos yang ada, jika seseorang meminum ataupun menggunakan air tersebut untuk wudhu, maka wajah yang semula terlihat tua akan tampak muda kembali. Bahkan, penyakit aneh akibat santet dapat pula disembuhkan dengan meminum air tersebut. DUNG

Kamaludin (Spiritualis Probolinggo)

Dapatkan llmu Usai Itikaf di Masjid Tiban’

Selain dikenal sebagai seorang penceramah dari dalam kubur, Ki Kamaluddin juga dikenal sebagai spiritualis yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Dengan air yang diambil dari sumur masjid tiban Babu Salam, ia musnahkan ber­bagai penyakit akibat guna-guna.

Tetapi Kamaluddin pantang takabur. Keberhasilannya menyembuhkan berbagai penyakit yang diderita pasiennya, dikatakannya sebagai kuasa lllahi semata. “Saya, cuma sebagai perantara saja, tetapi semuanya hanya dari Allah semata,” ujar Kamaludin. “Saya mohon kepada Allah, dan kebetulan doa saya didengar dan dikabulkan,” imbuhnya.

Kelebihan ilmu yang dimilikinya, diakuinya bermula dari seringnya itikaf di Masjid Babus Salam seiama tiga tahun. Semula, kedatangannya di masjid itu hanya ingin mendapatkan ketenangan jiwa. Selain itu, juga dalam rangka ikhtiar untuk melepaskan diri dari segela himpitan hutang-hutangnya.

Dalam sebuah kekhusukannya berdzikir di masjid itu, suatu ketika Kamaludin merasa didatangi scsok pria misterius berjubah putih. Pria itu, kemudian memberikan amalan-amalan yang harus dilakukan oleh Kamaludin. “Amalan itu, hingga sekarang terus saya baca setiap kali habis sholat lima waktu,” jelas Kamaludin kepada LIBERTY. “Di luar dugaan, temyata amalan yang pemah saya peroleh dari masjid tiban itu amat berguna bagi orang lain yang ingin pertolongan,” imbuhnya .DUNG

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: LIBERTY, EDISI 2317, 21-30 September 2013, hlm. 50-52

MASJID JAMI’ BAITURRAHMAN NGRONGGI KABUPATEN NGAWI

Masjid Jami’ Ngngronggi-ngawironggi merupakan salah satu masjid tertua di Kabupaten Ngawi yang didirikan oleh Kyai H. Nguzair pada tahun 1875  dengan kondisi yang amat sederhana dengan ukuran 8 x10 m, didinding dari gedek/sesek, atap dari sirap, lantai dari tanah, diatas lahan/tanah milik pribadi Kyai H. Nguzair di Dusun Ngronggi Desa Grudo, Kec. Ngawi, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Indonesia, atau tepatnya di Jalan Harjono RT 01/02 Ngronggi Grudo Ngawi.

Kyai H. Nguzair mendirikan Masjid jami’ Ngronggi ini mempunyai makdsud dan tujuan untuk memberikan pengertian ajaran – ajaran Aga

 

ma Islam kepada masyarakat lingkungan setempat yang kurang bahkan jauh dari pengetahuan Agama Islam. Dengan keberadaan Masjid Jami’ di Ngronggi, syiar Agama Islam berkembang semakin luas, diawali dari lingkungan masjid sampai pada Desa-Desa sekitarnya seperti di Desa Beran, Ngale, Tempuran dan sekitarnya, selain itu karena Ngronggi berada dalam wilayah Kota Ngawi akhirnya oleh Pengulu kota Ngawi sekitar tahun 1900 Masjid Jami’ Ngronggi ditunjuk sebagai tempat kantor Pengulu dan urusan-urusan Agama Islam seperti masalah Perkawinan dan lain-lain.

Kyai H. Nguzair dalam mengelola Masjid tersebut dibantu para putranya Kyai H.  Abdullah, Kyai H.  Abdurrahman, serta Kyai Tohir. Pada tahun 1900 K.H. Nguzair wafat, selanjutnya dikelola oleh Putranya yaitu Kyai H. Abdullah dibantu oleh Kyai H. Abdurrahman. Pada masa pengelolaan Kyai H.  Abdullah, banyak perubahan-perubahan, mulai dari fisik bangunan masjid ada perbaikan yaitu dengan mengganti dinding gedek diganti papan, atap diganti genteng, tiang diganti kayu Jati dengan ukuran tinggi 7 m, lebar ditambah menjadi 12 x 12 m, kuncungan dibuat bentuk bulat kecil lancip dan dilengkapi mimbar ukiran serta ditambah bangunan Pondok Pesantren, sehingga syiar Agama Islam juga semakin meningkat.

Pada masa itu Pemerintahan masih dikuasai oleh Belanda sehingga syiar Agama Islam tidak mudah, hal ini tidak menyurutkan niat dan tekad Kyai H Abdullah, beliau mengembangkan ajaran-ajaran Agama Islam melalui perorangan, kelompok-kelompok kecil, maupun melalui keluarga.

Dikarenakan santri mulai bertambah sehingga th. 1912 Kyai H. Adullah mendirikan pondok pesantren berlokasi di sebelah utara masjid, pengajarnya selain Kyai H. Abdullah dibantu Kyai H.  Abdurrahman dan Kyai H. Tohir.   Setelah Kyai H. Abdullah wafat, pengelolaan masjid dilanjutkan oleh Kyai H. Abdurrahman dan Kyai H. Tohir sampai th. 1930.

Setelah K.H. Abdurrahman dan K.H. Tohir wafat pengelolaan masjid dilanjutkan oleh K.H. Hasbullah, antara th. 1930 sampai dengan tahun 1945. Pada periode ini difokuskan pada perbaikan serta pemeliharaan bangunan masjid yang dibiayai Swadaya murni. Tahun 1945 masa pemerintahan RI, syiar Agama Islam mendapat kebebasan penuh sehingga peningkatannya semakin meluas.

Tahun 1945, pengelolaan masjid diteruskan oleh K.H. Adnan yang dibantu K.H. Zaenuri, pada th. 1959 dilengkapi dengan Madrasah dengan guru ngajinya adalah Sdr Suroso, Kusaeri, Sudarno. Selanjutnya sarana bangunan masjid dilengkapi dengan gedung Madrasah yang didirikan secara swadaya murni oleh K.H. Adnan th. 1945 sd. 1974 serta dilengkapi bangunan untuk wudhu yang ditempatkan di sebelah utara Masjid, sekarang digunakan untuk gedung MI.

Semenjak Masjid Jami’ Ngronggi dilengkapi dengan sarana pondok pesantren dan Madrsah, Dusun Ngronggi menjadi sentral kegiatan syiar Agama Islam. Setelah wafatnya K.H. Adnan kemudian pengelolaan dilanjutkan oleh K.H. Masruh Hasbullah. Pada periode ini pengelolaan Masjid bertambah baik, yayasan serta takmir masjid telah terbentuk, hal ini merupakan upaya untuk memakmurkan masjid jami’ Baiturrahman Ngronggi, dengan maksud tujuan untuk:

  • Meningkatkan syiar Agama Islam
  • Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan
  • Menumbuh kembangkan kreatifitas umat Islam khususnya Generasi Muda Islam
  • Sebagai pusat Informasi, Komunikasi dan Edukasi
  • Sebagai tempat pertemuan/rapat
  • Tempat memperingati Hari-Hari Besar Islam
  • Sebagai tempat Majelis Taklim
  • Tempat Kegiatan Sosial, dsb.

Perbaikan perubahan (renofasi) bangunan yang dialami Masjid Jami’ Ngronggi mulai th. 1974, antara lain:

  1. 1978 Penambahan bangunan untuk serambi depan ukuran 12 x 7 m, lantai Masjid induk semula dari batu kerek dan diplester, diganti dengan tegel abu-abu, semua biaya swadaya sebesar Rp.500.000,-, mendapat bantuan dari Pemerintah Daerah Kab. Ngawi sebesar Rp.50.000,-.
  2. 1994 Masjid Jami’ Ngronggi mengalami rehap dengan biaya sebesar Rp.25.000.000,- bantuan dana didapat dari Putra Daerah setempat yang bekerja di Jakarta yaitu Bapak H. Subandi putra dari Alm. Bpk.H. Ibrahim (Kasun Dusun Ngronggi) serta ditambah swadaya/partisipasi masyarakat yang berupa tenaga maupun material, rehap meliputi:
  • Dinding papan diganti tembok,
  • Genteng diganti genteng pres,
  • Menambah ruang Kantor,
  • Menambah ruang alat-alat Masjid,
  • Menambah ruang untuk serambi wanita,
  • Langit-langit (Pyan) diganti dari Eternit ,
  • Teras depan ditambah dan dibuat model lingkaran,
  • Lantai diganti tegel kembang,
  • Pengecetan seluruh bangunan masjid.

Rehab selesai dandiresmikan oleh Keluarga H. Ibrahim pada tanggal 3 Maret 1995. Untuk memperlancar kegiatan-kegiatan, Masjid Jami’ Baiturrahman telah dilengkapi dengan berbagai sarana dan prasarana antara lain:

  • Papan nama Masjid ukuran 100 x 6 cm
  • Papan tanah wakaf ukuran 75 x 40 cm
  • Papan TPQ ukuran 75 x 40 cm
  • Kantor Ta’mir ukuran 3 x 6 m
  • Papan pengumuman ukuran 1 x 2 m
  • Papan jadwal khotib, imam, muadzin ukuran 75×40 cm
  • Papan jadwal petugas shalat rowatib ukuran 75×40 cm
  • Perlengkapan kantor; Meja, kursi, almari, dan ATK
  • Papan penunjuk waktu shalat
  • Program kerja tahunan

Kegiatan – kegiatan yang diselenggarakan di dalam maupun di luar Masjid antara lain tentang      :

  • pelaksanaan shalat Rowatib,
  • Penyelenggaraan Pendidikan Al-Qur’an dikelola oleh remaja masjid bersama Ta’mir Masjid,
  • Penyelenggaraan pendidikan meliputi MIN dan Taman Kanak – Kanak (R.A.).
  • Kelompok Majelis Ta’lim dengan kegiatan Yasinan keliling, Pengajian keliling, serta Mujahadah keliling, dsb.
  • Pembinaan remaja melalui pengajian, mengadakan santapan rohani, pelatihan da’wah.
  • Kegiatan Perpustakaan, pengelolanya REMAS Baiturrahman Ngronggi.
  • Kegiatan sosial meliputi Bazis, Khitanan masal, santunan Yatim Piatu.

Kyai Karismatik Pengelola Masjid

  1. Tahun 1875 – 1900 : Bpk. KH. NGUZAIR
  2. Tahun 1900 – 1912 : Bpk. KH. ABDULLAH

Bpk. KH. ABDURRAHMAN

Bpk. KH. TOHIR

  1. Tahun 1912 – 1930 : Bpk. KH. TOHIR
  2. Tahun 1930 – 1945 : Bpk. KH. HASBULLAH
  3. Tahun 1945 – 1974 : Bpk. KH. ADNAN

Bpk. KH. ZAENURI

  1. Tahun 1974 sd… : Bpk. KH. MASRUCH HASBULLAH

Bpk. KH. MAHFUD ABDUL SYUKUR

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
oleh: DIAN K. ; Tim Pustaka Jawatimuran
dari: Remaja Masjid Masjid Jami’ Baiturrahman Ngronggi Ngawi
Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur 

MASJID JAMIK AL BAITUL AMIN JEMBER

masjid-jemberMasjid Jamik Al Baitul Amin kota Jember adalah masjid baru yang terletak di sebelah Utara masjid jamik yang la­ma, di seberang jalan raya yang membelah Alun-alun kota Jember,  terletak di sebelah Barat Alun-alun kota.

Pembangunan Masjid dipelopori oleh K.H. Ahmad Siddiq mewakili ulama dan Bapak Mulyadi, Kepala Dinas PUD Kabupaten Jember me­wakili pihak Pemerintah Daerah. Menurut informasi, dari kedua tokoh ini timbul ide perencanaan masjid ini dengan tema tawaf. Tawaf adalah suatu bagian dari ibadah haji di Tanah Suci di mana umat berlari-lari kecil mengelilingi Ka’bah. Ide itu akan dicerminkan dengan adanya bangunan pusat yang dikelilingi oleh sembilan bangunan pelengkapnya. Angka sembilan diambil dari angka keramat mubaligh Islam di tanah Jawa yakni Wali Songo yang sembilan orang itu,Maksud membangun masjid jamik dengan ide bentuk tawaf ini mendapat sambutan simpatik sekaligus ditunjukkan seorang perencana/arsitek berasal dari Ban­dung yakni Ir. Ya Ying K. Kesser.

Pada tahun 1978 bersama-sama dengan peresmian Pasar Besar “Tanjung” maka di- resmikan pula penggunaan Masjid Jamik ini dan dinamai Masjid Jamik “Al Baitul Amien” Jember. Masjid Jamik “Al Baitul Amien” dibangun diatas tanah seluas 1,75 ha, yang terdiri dari persil Kantor Kehutanan dan persil-persil milik masyarakat. Di sebelah Selatan Alun-alun terdapat kompleks Kantor Pemerintah Daerah Kabupaten Dati II Jem­ber, di sebelah Timur Alun-alun terdapat bangunan hotel dan kantor-kantor pemerintah, demikian pula di sebelah Utaranya merupakan daerah perkantoran pemerintah.

Jalan masuk samping ada dua buah masing-masing dapat dicapai dari Jalan Semeru dan dari Jalan Raya Sultan Agung. Halaman depan terasa amat sempit sedangkan halaman belakangnya cukup luas. Tata bangunan dibuat simetris yang terdiri dari satu bangunan berkubah besar dengan tiga kubah yang semakin mengecil di samping depan kiri dan samping kanan. Batas belakang dan samping areal  masjid dipagari de­ngan dinding tembok setinggi lebih kurang dua me­ter, sedangkan pada bagian depan diberi pagar besi dengan bentuk pola cekungan yang berulang, merupakan pola kebalikan dari pola bentuk yang cembung.

Kepengurusan masjid jamik lama dan masjid baru merupakan satu manajemen, karena tujuan awal pembangunan masjid jamik baru merupakan perluasan dan pengembangan dari mas­jid jamik lama. Dengan bertambahnya sarana baru ini maka kegiatannya kepengurusan masjid tetap menjadi satu.

Masjid Jamik Al Baitul Amien digunakan sebagai masjid jamik, artinya digunakan untuk kegiatan sembahyang Jumat dan sembahyang Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Sedangkan Sembahyang rawatib yang dikerjakan sehari-hari dilakukan di dua tempat dengan pembagian waktu tersendiri. Untuk waktu malam hari yakni untuk keperluan salat Maghrib, Isyak dan Subuh digunakanlah masjid baru sedang­kan masjid yang lama ditutup. Sedangkan pada siang hari untuk keperluan sembahyang Dhuhur dan Ashar disediakan di masjid lama, dan masjid baru ditutup. Aturan ini dimaksudkan agar kedua masjid ini masih tetap digunakan sehari-hari dan demi kepraktisan masjid lama dipakai sembahyang di siang hari karena di situ terdapat kegiatan Perpustakaan, Kantor Takmir Masjid dan Ruang Pengadilan Agama.

Dengan demikian maka fungsi masjid sebagai pusat peribadatan diwujudkan pada masjid baru se­dangkan fungsi sebagai pusat kebudayaan diwujud­kan pada kompleks masjid lama.Bentuk Masjid Jamik Al Baitul Amin yang baru ini bulat denahnya dan dilindungi de­ngan bentuk kubah/dome dengan ditumpu oleh balok-balok beton berbentuk busur.  Dilihat dari komposisi massanya terlihat bahwa terdapat suatu komposisi yang seolah-olah terbentuk gambar abstrak yang memperlihatkan bentuk garuda yang baru terbang ke arah kiblat, dengan kepalanya berada pada mihrab masjid dan ekornya pada plaza di depan bangunan masjid.

masjid-lama-jemberKalau ide semula dari panitia bertemakan kegiatan tawaf yang mengelilingi Ka’bah, maka ide tersebut ternyata tidak tercermin di sini. Memang di tengah kita temukan bangunan berkubah yang terbesar tetapi bangunan yang lain tidak mencerminkan keadaan mengelilingi tetapi justru sebagai sayap, sayap kiri dan sayap kanan. Demikian pula angka 9 yang diambil dari Wali Songo itu tidak sempat terlaksana, dicerminkan dalam bangunan sekunder yang mengelilingi bangunan utama itu hanyalah berjumlah 6 saja. Bangunan utama yang terletak di tengah digunakan untuk liwan pria dan mihrab. Ba­ngunan ini memiliki denah bulat dengan diameter 34 m.

Bangunan kedua yang berada di samping depan kiri dan kanan berbentuk bulat berdiameter 20 m dan masing-masing digunakan untuk liwan untuk anak-anak dan liwan untuk wanita. Bangunan sam­ping yang kedua masing-masing berbentuk bulat de­ngan diameter 11 m digunakan untuk perluasan li­wan anak-anak dan perluasan untuk liwan wanita.

Sedangkan bangunan samping ketiga masing- masing berdenah bulat dan berdiameter 8 masing- masing digunakan untuk tempat wudu pria (Utara) dan tempat wudu wanita (Selatan). Tidak didapat keterangan apakah kanak-kanak wanita juga di li­wan kanak-kanak, dan di mana mereka mendapatkan tempat wudu.

Masing-masing bangunan samping ini dihubungkan oleh selasar terbuka. Sedangkan antara bangunan utama dan bangunan samping pertama, kiri dan kanan dindingnya relatif bersinggungan se- hingga di sana langsung dapat dihubungkan dengan pintu kaca, tanpa selasar lagi.

Bangunan utama ditumpu oleh empat busur balok beton yang dibagi menjadi dua kelompok yang bersilang tegak lurus. Keempat balok inilah yang mendukung atap melengkung dari beton bertulang. Bangunan ini terdiri dari dua lantai, yakni lantai bawah yang tingginya sekitar 160 cm dari muka tanah dan lantai atas yang merupakan lantai mezanin.

Lantai kedua ini ditumpu oleh enam belas tiang yang bentuknya bulat dengan komposisi berkeliling dan satu kolom berada di pusat lingkaran.

Sedangkan bangunan samping masing-masing ditumpu oleh dua balok busur beton bertulang yang menyilang tegak lurus satu sama lainnya. Sedang­kan bangunan samping yang pertama kiri dan kanan, maka di samping masing-masing ditumpu oleh dua balok busur masih ditumpu lagi oleh 16 kolom pinggir dari beton bertulang yang berkeliling mem- bentuk lingkaran pembatas ruang.

Pada kompleks masjid baru ini ternyata berbeda dengan pola masjid di Indonesia seumumnya. Di masjid ini tidak ditemukan serambi. Hal ini tidak ditemukan dalam pola masjid tradisional tetapi bisa terlihat pada pola bangunan langgar/surau. Sebagai gantinya terdapat teras depan yang terbuka dan merupakan anak tangga yang jumlahnya delapan ting- kat dan masing-masing lebarnya lebih 120 cm, jadi untuk satu saf sembahyang. Namun sayang, bentuk­nya yang melingkar ini menyebabkan arah makmum ini tidak semuanya ke arah kiblat tetapi justru ke arah tiang sentral bangunan utama. Di depan teras ini terdapat plaza yakni halaman depan yang dirata- kan dan diperkeras dengan pasangan batu bata jenis klinker. Plaza ini menghubungkan bangunan in- duk dengan Jalan Semeru di depan tapak. Di bagian yang berhubungan dengan jalan tersebut terdapat li­ma buah pintu masuk utama yang masing-masing lebarnya 5 m.

Di samping ketujuh bangunan berbentuk dome itu, di samping Selatan gerbang masuk utama terda­pat sebuah menara dengan denah bawah berbentuk bulat dengan diameter 3 m dan tinggi 33 m. Menara ini dibuat dengan struktur beton bertulang berbentuk bulat dan di tengahnya terdapat tangga melingkar ke atas, dan di puncaknya terdapat ruang untuk meletakkan 8 buah pengeras suara dan di atasnya ditutup dengan bentuk kubah dari metal dan terdapat simbol bulan bintang di puncaknya.

Program masjid jamik yang lebih ditekankan se­bagai pusat peribadatan ini terdiri dari ruang-ruang sebagai berikut:

  1. Liwan dewasa pria lantai I …….. 910 m2
  2. Liwan dewasa pria lantai II …… 490 m2
  3. Liwan wanita ………………………. 314 m2
  4. Liwan anak-anak ………………….. 314 m2
  5. Liwan tambahan wanita ………… 95 m2
  6. Liwan tambahan anak-anak …… 95 m2
  7. Tempat wudu pria ………………… 50 m2
  8. Tempat wudu wanita…………….. 50 m2
  9. Mihrab, mimbar, ruang persiapan khatib dan ruang mekanikal 78 m2

Sistem penerangan pada bangunan liwan yang terdapat pada lima bangunan berkubah memanfaatkan sinar matahari secara optimal. Hampir semua dindingnya yang melingkar terbuat dari pintu dan jendela kaca yang lebar-lebar. Sedangkan penerangan di bangunan tempat wudu juga memanfaatkan sinar matahari melalui pembukaan bagian atas dinding. Penerangan malam hari menggunakan lam- pu listrik yang dikontrol dari ruang mekanik di sebelah Selatan mihrab. Lampu ditanam di langit-langit dengan pola bebas. Sedangkan lampu di liwan pria bagian bawah dipasang pada langit-langit dengan pola melingkar, yang sekaligus menyesuaikan ben­tuk melingkar dari pola langit-langitnya yang berorientasi ke titik pusat pada kolom sentral yang menyangga lantai mezanin itu. Sedangkan di tengah-tengah ruang mezanin ini tergantungkan lampu kristal yang anggun, tetapi tidak memiliki skala yang memadai dengan ukuran ruangannya.

Penghawaan juga memanfaatkan aliran udara dengan membuat jendela kaca dengan krepyak ka­ca Nako. Dengan demikian maka dapat terjadi ventilasi silang yang cukup. Dengan demikian maka kecuali ruang mihrab maka semua ruang lainnya tak menggunakan ventilasi buatan.

Perlu ditambahkan bahwa di bangunan utama terdapat ventilasi dan penerangan yang terletak pa­da atap dan terletak di antara dua balok busur yang searah.

Tata suara bentuk dome agak sulit mengingat bahwa bentuk atap yang cekung dapat memantulkan suara apalagi dengan material yang keras dan licin. Oleh karena itu maka langit-langit bangunan berkubah ini diselesaikan dengan penutup dari bahan karpet yang bertekstur kasar sehingga diharap- kan dapat menyerap suara. Pengeras suara dipa­sang di langit-langit secara merata sehingga dengan sekalian lampu-lampunya maka seolah-olah di la­ngit-langit terdapat banyak bintang bertaburan apa­lagi bentuk-bentuknya dipilih yang berpola bulat.

Sistem sanitasi diselesaikan secara baik de­ngan peralatan modern. Air bersih diambil dari tiga buah sumur. Dengan dua buah pompa air sumur disedot dan disalurkan ke bak reservoir yang terdapat pada masing-masing bangunan tempat wudu. Dari reservoir ini air baru disalurkan ke tempat wudu de­ngan kran-kran air yang mewah. Tempat wudunya dibuat melingkar dengan lorong sirkulasi yang cukup longgar. Dindingnya dilapisi porselin dan lantainya dibuat dari tegel wavel warna kuning. Di sini ternyata tidak tersedia tempat mandi dan WC, dan ti­dak terlihat jelas di mana tempat untuk berhajat itu harus dilakukan. Mungkinkan harus ke masjid lama di seberang jalan atau memang fasilitas itu tidak dianggap penting, atau fasilitas itu belum sempat di- bangun, tiada informasi yang didapat.

Kebersihan bangunan suci ini mendapat tempat utama. Pertama letak lantai bangunan yang tingginya lebih dari 150 cm di atas permukaan tanah sekitar, kedua bahan bangunan yang digunakan bermu- tu prima tahan lama dan mewah seperti tegel mar­iner ukuran 60 x 120 cm di ruang liwan, kaca jendela dan pintu yang lebar, langit-langit liwan pria bagian bawah yang terdiri dari garis-garis dari papan kayu jati kelas prima dengan dipolitur halus licin. De­mikian pula kolom beton yang berbentuk bulat diselesaikan dengan lapisan papan jati kualitet prima dan di bagian bawahnya terdapat cincin kuningan melingkar sebagai material transisi dengan lantai da­ri marmer. Dengan demikian maka tingkat kemewahannya ternyata juga memperoleh tempat prima.

Pola Masjid ‘Baitul Amin’ Jember merupakan satu-satunya pola baru yang lama atau pola lama yang baru, khususnya di Jawa Timur dan mungkin satu-satunya di Indonesia. Dengan demiki­an maka ternyata dalam alam kemerdekaan di mana telah muncul tenaga-tenaga ahli muslim bangsa sendiri serta kesempatan membangun yang memadai dan luput dari dunia kemiskinan, kungkungan penjajah atau tekanan dari kaum komunis, maka bermunculanlah kreasi-kreasi baru pada arsitektur masjid di Jawa Timur yang ikut memperkaya khasanah arsitektur masjid di persada Indonesia tercinta.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Dian K, Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:
Perkembangan arsitektur Masjid di Jawa Timur; Ir. Zein M. Wiryoprawiro
Penerbit Impresium: Surabaya: Bina Ilmu,  1987
CB-D13/1986-6[1] DDC: 726.2

MASJID AGUNG BAITUR-RAHMAN, Kabupaten Ngawi

masjid-agung-baiturrahman-ngawi-102Masjid Agung Baiturrahman Kota Ngawi, salah satu ikon religius yang menarik,  terletak di Jl. Imam Bonjol No.8, Margomulyo, Kec. Ngawi, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, lebih tepatnya Masjid Agung Baiturrahman berdiri pada sebelah barat alun –alun  Kota Ngawi.

 Sejarah Masjid Agung Baiturrahman

Masjid Agung Baitu-rahman Kabupaten Ngawi didirikan oleh Bupati Ngawi ke-6, Raden Mas Tumenggung Brotodiningrat , pada hari Selasa Kliwon tanggal 25 Nopember 1879 M atau tanggal 10 Besar Tahun Be atau tanggal 10 Dzulhijjah 1296 H. Pada saat itu masjid belum ada namanya, masyarakat akrab dengan sebutan “Masjid Gedhe”. Data-data tersebut dibuktikan dengan adanya prasasti yang terukir dalam tulisan huruf Arab berbahasa Jawa dan Bahasa Arab pada papan kayu jati yang tebal berukuran panjang 238 cm dan lebar 60 cm, terletak di atas pintu masuk dari ruang serambi ke ruang induk, menghadap ke timur. Tulisan yang berbahasa Jawa berbunyi “Ingkang yasa Masjid Kanjeng Brotodiningrat”. (Yang membuat masjid Kanjeng Brotodiningrat)

Sedang yang berbahasa Arab – berbunyi “Wakaana Qiyaamuhu Masjidu fii yaumi tsalaatsa kaliiwan syahrul-hajji hilal 10 sanatul baak” (Didirikan masjid pada hari Selasa Kliwon bulan Haji tanggal 10 Tahun Be). Walaupun dalam prasasti tersebut tidak tercantum angka tahun pembuatannya selain hanya ditulis “sanatul baak” yang artinya “tahun Be”, tetapi dikarenakan terdapat tulisan “Ingkang yasa masjid Kanjeng Brotodiningrat”, maka setelah dihubungkan dengan masa jabatan Kanjeng Brotodiningrat menjadi Bupati Ngawi dari tanggal 10 Mei 1877 s/d 28 Agustus 1885. (Regeerings Almanak Voor Nederlandsch Indie”, Batavia, tahun 1878, hlm. 203 dan tahun 1886, hlm. 203). Dalam masa jabatan Bupati Raden Mas Tumenggung Brotodiningrat tersebut, bisa diketahui dengan pasti bahwa tahun jawa Be hari Selasa Kliwon tanggal 10 bulan Haji (atau bulan Besar) itu adalah hanya tahun 1808. Yang setelah dicocokkan bertepatan dengan tanggal 10 Dzulhijjah tahun 1296 Hijriah atau tanggal 25 Nopember tahun 1879 Masehi.

Papan prasasti ini juga dimasudkan sebagai hiasan, melihat gaya simetris yang tertuang dalam pahatan berlubang untuk lafadz “Bismillahirrahmanirrahiim” berupa unggas di kanan dan kiri bagian pinggir yang tentu saja menjadikan tulisannya yang satu terbalik, begitu juga halnya dengan tulisan “Muhammad” pada bagian tengah kanan dan kiri. Meskipun pintu asalnya semua yang merupakan bagian yang seolah menyatu dengan prasasti ini ikut dipugar, namun untuk pelestarian sejarah, prasasti tersebut tetap dalam ukuran aslinya dikembalikan pada tempatnya, yakni “direkatkan” pada tembok atau di pintu yang baru.

Selain itu terdapat pula prasasti lain yang terukir pada papan tebal kayu jati di atas lengkung gawang masuk ke Mimbar yang juga berukir dan terbuat dari kayu jati,  bertuliskan huruf Arab dan menghadap ke timur ini berbunyi “Pengetawit pandalemipun mimbar Setu Pon tanggal 17 Jumadil awal 1810” (Pengingatan pembuatan mimbar Sabtu Pon tanggal 17 Jumadil awal 1810). Atau bertepatan dengan tanggal 16 April 1881 Masehi atau tanggal 16 Jumadil awal 1298 Hijriah. Pada mimbar di bagian belakang menghadap ke barat di belakang tempat duduk, juga tertulis ukiran prasasti dengan huruf Arab berbahasa Jawa “Penget pembabaripun mimbar nalika dinten Setu Pahing tanggal 18 wulan Romadhon tahun Jimakhir 1298-kaping 12/13 Agustus 1881” (Pengingatan penyelesaian pembuatan mimbar pada hari Sabtu Pahing tanggal 18 bulan Romadhon tahun Jimakhir 1298 tanggal 12/13 Agustus 1881). Atau secara lengkapnya berdasarkan pencocokan kalender, 13 Agustus 1881 Masehi; 17 Romadhon 1298; 18 Pasa 1810 Jimakir. Masih ada satu prasasti lagi pada logam tembaga, prasasti ini sempat terkaji dan tercatat sewaktu dalam pemugaran dan diturunkan di bawah ketika akan diservis karena mengalami sedikit keretakan. Dan karena retak itulah ada beberapa tulisan yang kurang dan tidak terbaca, dalam arti kurang bisa dipahami maksudnya.

Pada bagian dalam dari Mustaka (puncak atap bagunan pokok/induk), juga terdapat tulisan yang juga merupakan ukiran dengan huruf Arab dan berbahasa Jawa,  mustakanya telah diperbaiki keretakannya sudah dikembalikan ke tempatnya semula. Tulisan itu berbunyi “Pengeta munggahe mustaka dinten Jumah Kliwon wanci jam 4 sonten tanggal 1 Syawal tahun Jimakhir 1298 utawi kaping 26 Agustus 1881. Ingkang yasa mustaka Kanjeng Brotodiningrat. Urunan saking parandawa (?) 1421 kirang (?) saking 155” (Pengingatan dinaikannya mustaka hari Jumat Kliwon saat jam 4 sore tanggal 1 Syawal tahun Jimakhir 1298 atau tanggal 26 Agustus 1881. Yang membuat mustaka Kanjeng Brotodiningrat. Urunan dari parandawa (?) 1421 kurang (?) dari 155). Lengkapnya tanggal/bulan dan tahunnya adalah 26 Agustus 1881 Masehi; 30 Romadhon 1298 H; 1 Syawal 1810 tahun Jawa Jimakir.

Masjid Agung Kabupaten Ngawi, telah mengalami beberapa kali perbaikan dan pemugaran antara lain:

  • Tahun 1924, oleh Bupati Ngawi ke 10, Pangeran Ariyo Sosro Busono (Menjabat Bupati Ngawi 30 September 1905 – 1943), atap sirap bangunan induk diganti seng gelombang.
  • Tahun 1977, oleh Bupati Soewojo (Menjabat Bupati Ngawi 2 Nopember 1967 –  8 April 1970), dibangun serambi depan dan gapura.
  • Tahun 1981, oleh Bupati Panoedjoe (Menjabat Bupati Ngawi 8 April 1978 – 7 Juni 1983), dibangun ruang Jamaah wanita (pawastren) yang sekarang untuk ruang perpustakaan dan tempat wudhu wanita, serta pemasangan karpet hijau direkatkan pada tegel asli di ruang induk dan sebagian di ruang serambi tanpa dilem (tanpa direkatkan).
  • Tahun 1986, oleh Bupati Soelardjo (Menjabat Bupati Ngawi 7 Juni 1983 – 1988), diadakan pemugaran/perbaikan secara besar-besaran yang dimulai pada hari Jumat Legi tanggal 18 Juli 1986 M atau tanggal 11 Dzulqa’dah 1406 H atau tanggal 11 Selo tahun Je dan selesai hari Jumat tanggal 15 April 1988 M, atau tanggal 27 Sya’ban 1408 H atau tanggal 27 Ruwah 1920 Be, yang peresmiannya dilakukan oleh H. Zahid Hussein. Dalam pemugaran tersebut menelan beaya Rp 360.000.000,- (tiga ratus enam puluh juta rupiah) yang berasal dari Swadaya Masyarakat sebesar Rp 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) dan bantuan Presiden Rp 160.000.000,- (seratus enam puluh juta rupiah).
  • Selanjutnya oleh Bupati Soelardjo, dengan Surat Keputusan Nomor 68 Tahun 1988 tanggal 7 April 1988, Masjid Agung Kabupaten Ngawi tersebut diberi nama “BAITUR-RAHMAN” yang berarti Rumah yang Penuh Kasih Sayang. Dan setelah pemugaran tersebut ditaksir masjid dapat menampung 3000 orang.
  • Masjid ini mengalami pembangunan kembali pada 2007 s/d 2009. Setelah dibangun menjadi bentuk yang sekarang ini, masjid ini diresmikan pemakaiannya oleh Gubernur Jawa Timur H. Sukarwo pada 26 Oktober 2010.

Adapaun yang bertindak selaku Kyai (Imamul A’dlom) di Masjid Agung Baiur Rahman adalah sebagai berikut :

  • IMAM DIPURO
  • ABDUL QODIR
  • ABDUL ROSYID
  • TUKHFATUL BARI
  • HANGUDIPURO
  • H. YUSUF
  • H. ASY’ARY
  • H. ISKANDAR
  • H. MUNAWAR
  • H. MARKUM SIROJUL MUNIR
  • H. ABDUL ROCHIM
  • H. R. MOH. DIMYATI

Dalam kaitannya dengan Perjuangan Bangsa dan Umat Islam Masjid Agung Baitur Rahman pernah berfungsi sebagai tempat penampungan dan perlindungan tokoh-tokoh umat Islam dari keganasan PKI pada waktu terjadinya Pemberontakan PKI akhir bulan September – awal bulan Oktober 1948. Demikianlah sejarah singkat Masjid Agung Baiturrahman yang sekarang berdiri megah dan terus berkembang mengikuti derap langkah pembangunan yang semakin melaju. Mudah-mudahan Allah SWT selalu memberikan bimbingan dan pertolongan. Aamiin.

Eksterior Masjid

Menara berdiri di sisi kiri masjid, bagian bawah menara tersebut terdapat ruangan yang digunakan untuk kantor takmir masjid. Terdapat pula dua buah kubah, Arsitektur jawa terlihat jelas pada kedua kubah.

Lantai serambi masjid ini berbahan marmer membuatnya menjadi nyaman, karena serambi merupakan tempat untuk istirahat atau berinteraksi setelah selesai sholat fardlu jamaah. Di sisi selatan serambi terdapat bedug dan kentongan. Sementara di sisi utara terdapat majalah dinding. Pintu utama ada di sisi serambi depan. Terdapat sebuah maket masjid terpajang di sana.

Ruang wudlu masjid ini berada di kedua sisinya. Di sisi selatan untuk jamaah pria dan utara untuk jamaah wanita. Dari kedua sisi tersebut terdapat pintu untuk menuju ke ruang sholat utama.

Pada bagian beranda terdapat dua anak tangga yang menuju ke ruang sholat lantai atas, di sana terdapat pintu, yang tampaknya hanya dibuka pada waktu sholat jumat atau ketika jamaahnya tidak tertampung di ruang sholat utama.

Interior Masjid

Ruang sholat utama masjid, berlantai marmer pada seluruh areanya, menyajikan kenyamanan bagi para jamaah yang  sholat di sini. Garis-garis shoff tampak membelah marmer dengan posisi menyerong untuk menyesuaikan dengan arah kiblat.

Nuansa putih mendominasi dinding dan atap, enam tiang utama masjid berdiri kokoh berwarna coklat kehitaman variasi putih di beberapa bagiannya, empat buah kaligrafi berwarna emas menghiasi masing-masing tiang utama tersebut di setiap sisinya, ditemani enam tiang putih kecil lainnya.

Bagian atas ruang sholat berhias bentuk bintang sembilan, kecuali di bagian kubah dalam. Kombinasi beberapa warna dalam berbagai bentuk menghias di langit-langit kubah bagian dalam, paduannya dengan warna putih, menjadikan hiasan itu terlihat anggun. Dan sebuah lampu besar menggantung di sana.

Mihrab masjid ini berhias oranmen cantik dan tiga buah kaligrafi dalam satu deret. Di sebelah sisinya tampak mimbar yang terbuat dari ukiran kayu jati.

SEJARAH SINGKAT MASJID AGUNG BAITUR-RAHMAN NGAWI

Ngawi, September 1993, Ta’mir Masjid Agung Baitur Rahman Ngawi

MASJID AULIYA’ SETONO GEDONG, Kota Kediri

Jl. Dhoho, Setono Gedong, Kec. Kota Kediri, Kota Kediri, Jawa Timur

masjid-setono-gedong-nPada serangan tentara Islam Demak ketiga tahun 1524  atas Daha (Kadhiri) yang dipimpin langsung Djakfar al-Shodiq (Sunan Kudus), berhasil merebut Ibukota Kerajaan Majapahit di Daha (Kadhiri). Sunan Kudus adalah anak Rahmatullah (Sunan Ngudung) yang telah memimpin serangan pertama dan ke dua, beliau gugur pada serangan ke dua. Sunan Kudus membangun sebuah “Monumen Peringatan” untuk mengenang jasa-jasa ayahnya yang gugur dalam serangan kedua. Monumen tersebut bukan makam dari Rahmatullah (Sunan Ngudung), karena menurut Hikayat Hasanudin dimakamkan di dekat Masjid Demak. Yang kubur di Setono Gedong adalah sesuatu yang melambangkannya, seperti aksesoris yang selalu dikenakan olehnya. Lebih tepatnya monumen itu dijadikan lambang kemenangan tentara Islam Demak atas Kerajaan Majapahit di Daha (Kadhiri). Monumen peringatan tersebut berupa sebuah inskripsi tertulis menggunakan huruf arab yang terpahat pada Makam Syeh Wasil Syamsudin, isinya adalah:

”Ini makam Imam yang sempurna, seorang alim mulia, dan syekh yang saleh, yang menghafal Kitab Allah yang Maha Tinggi, yang paling menyempurnakan Syariat Nabi Allah-semoga Allah memberikan rahmat dan keselamatan kepadanya-Al Syafi’i Mazhabnya, Al-Abarkuhi(?)…….Al-Baharajni(?) nisbahnya. Dialah Mahkota(?) (Pelita?) putusan(para Hakim)(?), dan Matahari…………….Sembilan ratus(?)dua puluh(?)…….hijrah nabi…….” [(?)……., tanda tidak terbaca].

Terjemahan inskripsi makam Syeh Wasil Syamsudin adalah petunjuk tentang masuknya Islam di wilayah Kediri melalui seorang tokoh yang digambarkan seperti matahari. Pembacaan angka tahun pada isi inskripsi kurang jelas, maka untuk menentukannya dengan patokan antara 920-929 Hijriah. Apabila dijadikan masehi menjadi 1514 – 1523 M. Jadi itulah yang dapat digunakan sebagai patokan penentuan tahun diresmikannya inskripsi pada makam Syeh Wasil Syamsudin tersebut.

Pada perkembangan Islam di Kediri, hal-hal berkaitan dengan Agama Hindu maupun Budha semuanya dihancurkan karena dianggap musyrik yang akan membawa dampak pada kekafiran. Pengrusakan candi pada Situs Setono Gedong beserta isinya karena adanya faktor politik dari ekspansi Kerajaan Demak ke Ibukota Majapahit yang berada di Kediri pada dua puluh tahun pertama abad XVI.

Pengrusakan pada situs Setono Gedong terjadi lagi pada tahun 1815 M. [laporan perjalanan Thomas Staford Raffles di Nusantara/dibukukan th. 1817 berjudul ”History of Java.” , pada hlm. 380 menyebut Informasi tentang Setono Gedong yang berisi:

(“Disekitar Ibukota Kediri kaya akan benda-benda kuno dalam berbagai bentuk, tetapi yang ditemukan di sana masih dalam keadan yang baik daripada yang ditemukan di tempat lain, dengan biaya yang besar dan tenaga yang dikerahkan untuk membongkar bangunan dan untuk memotong patung yang ada di sana. Pada semua bagian situs di bangunan utama itu dapat saya temukan fragmen-fragmen yang tertutup pahatan relief, recha-recha yang rusak dan umumnya dipahat di atas batu yang dipotong membujur, dikerjakan saat membangun candi-candi, di samping bagian dasar yang sangat luas dari batu bata kemudian dinding bangunannya. Lebih jauh saya menduga dari keteraturan dan keelaganan bahan-bahan yang digunakan bahwa bahan dan bangunan yang dibangun hampir di seluruh bangunan ini di bongkar oleh penganut Mohamet pada periode perkembangan ajaran tersebut. Candi ini disebut Astana Gedong, tetapi tidak ada penduduk yang memberikan informasi saat pembangunan bangunan ini, seperti hanya asal ajaran Mohamet, saya hanya mempunyai sedikit pandangan mengenai hal itu untuk menghindari ketidaksesuaian gerakan dengan penduduk setempat yang ditunjukkan sebagai pendekata dari ketaatan mereka, dan hal ini merupakan keadaan yang sangat sesuai bagi orang penjajah yang bebas untuk bergerak tanpa adanya gangguan. Semua benda-benda kuno ini tidak diragukan lagi berasal pada periode sebelum munculnya agama Mohamet, atau dari apa yang oleh penduduk setempat disebut sebagai wong kuno, kapir atau buda.”)]

Dari sumber Raffles tersebut, disimpulkan adanya pengerusakan kedua ditahun 1815, dua puluh tahun pertama abad XVI setelah ekspansi Demak. Raffles menyebut bangunan situs Setono Gedong adalah candi, karena terdapat bagian yang luas terbuat dari batu bata, terdapat dinding bangunan, terdapat fragmen-fragmen relief, terdapat  arca-arca yang rusak dan dipahatkan pada potongan batu membujur.

Pada ekspansi Demak pengerusakan pada situs Setono Gedong tidak begitu parah, hanya menimbun ke dalam tanah artefak-artefak masa Hindu-Budha tersebut. Namun pengerusakan pada tahun 1815 jauh lebih parah, karena Raffles menyebutkan adanya pengerahan biaya dan tenaga yang besar untuk menghancurkan situs Astana (Setono) Gedong oleh Penganut Mohamet (sebutan penganut ajaran Nabi Muhammad yaitu Umat Islam).

Selanjutnya pada tahun 1897 M, di halaman situs Setono Gedong telah dijadikan tempat ibadah oleh penduduk setempat yang beragama Islam, dengan hanya beralaskan tanah. Masjid inilah oleh penduduk setempat disebut Masjid Tiban. Namun nama “Tiban” sekarang menunjuk pada sumur tua di sebelah utara situs. Pada tahun 1967 M barulah dibangun masjid di depannya atau di sebelah timurnya dengan nama Masjid Auliya’ Setono Gedong. Pada saat itu juga baru disertifikatkan tanah negara tersebut sebagai bangunan masjid hingga sekarang.

Perkembangan Islam sangat lambat penyebabnya karena masih kuatnya pengaruh dari Kerajaan Hindu-Budha yang antara lain, masa Wangsa Isyana(Mpu Sindok), masa Airlangga, Jenggala dan Kadhiri pada kurun waktu abad XI-awal abad XIII Masehi, serta dilanjutkan masaSinghasari dan Majapahit pada abad XIII-XV Masehi. Pada saat keruntuhan Majapahit inilah mulai muncul kerajaan-kerajaan Islam di Pulau Jawa, yang salah satunya adalah Kerajaan Demak yang merupakan kerajaan Islam Pertama di Pulau Jawa dan didirikan oleh keturunan Majapahit yang bernama Raden Patah.

Ciri-ciri umum bentuk bangunan masjid pada masa peralihan agama Islam masih banyak terpengaruh gaya budaya Hindu-Budha dengan adanya: Arsitektur masjid menunjukkan gaya dari masa Hindu-Budha. Seperti penggunaan atap tumpang pada bangunan Masjid Jawa; Ragam hias pada dinding masjid, seperti relief bersayap yang melambangkan kelepasan, pintu masjid yang berbentuk paduraksa atau bentar dengan ukiran-ukiran bunga teratai yang dalam Agama Hindu maupun Budha sebagai lambang surgawi. Bunga matahari sebagai lambang penerangan dan ketangguhan, dan pola hias tanaman menjalar sebagai ornamen tambahan; Seni hias kaligrafi Islam, yaitu tulisan-tulisan dengan memakai arab yang ditulis pada dinding masjid maupun makam yang menunjukkan gaya seni.

Arsitektur Masjid Setono Gedong,

Gaya Masjid Setono Gedong dilihat dari luar tampak mirip dengan bangunan Klenteng (kuil cina), karena atapnya berbentuk seperti pagoda dan pintu masuknya seperti pintu masuk Kuil Cina.  Pembangunan masjid tidak hanya menggunakan arsitektur  tipe Jawa saja, melainkan berbentuk perpaduan budaya dari bangsa Tionghoa dan masyarakat Setono Gedong. bentuk bangunan utama, yaitu bangunan masjid berarsitektur cina dan bangunan pendopo beratap tumpang tingkat tiga dan dipuncaknya terdapat mustaka yang merupakan ciri khas bangunan jawa, sekarang berada di belakang Masjid Setono Gedong.

Areal Masjid terbagi manjadi tiga bagian semakin ke belakang semakin suci, hal itu merupakan hasil akulturasi dari pembuatan candi yang mengandung makna kaki, lereng, dan puncak gunung, karena umat Hindu Jawa dalam membuat seni bangun berlandaskan pada bentuk Gunung.  Begitu pula dengan Masjid Setono Gedong yang juga memiliki tiga pembagian,  bangunan pertama adalah masjid Induk, kedua adalah pendopo yang dibangun di atas reruntuhan Candi. Bangunan akhir adalah Makam Syeh Wasil Syamsudin. Baik hiasan masjid maupun makam memiliki fungsi ganda, sebagai fungsi teknis juga sebagai fungsi dekoratif. Sebagai fungsi teknis, hiasan pada masjid atau makam berkaitan dengan kegunaan praktis atau sebagai teknis bangunan. Sedangkan fungsi dekoratif, pada dinding masjid atau makam digunakan untuk memperindah bangunan. Selain itu juga untuk menyimpan pesan dan sebagai media untuk memenuhi tujuan religi-magis. Misalnya ukir-ukiran teratai, daun-daunan, dan lain-lain.

Pintu gerbang menuju Masjid Setono Gedong dibuat pada tahun 2002 dengan gaya kombinasi antara seni tradional dan modern. Gaya tradisional tampak pada hiasan yang memakai motif daun-daunan berjumlah tiga serta atasnya ditambah dengan modif bunga matahari pada masing-masing bagian sisi kanan dan kiri gapura. Pada bagian atas gapura terdapat arca Garudeya (Garuda) membawa sebuah kendi, dan di atas bagian belakang kepalanya juga di tambah relief berupa kepala rajawali. Gapura luar ini mengadopsi sebagian dari ukir-ukiran maupun relief kuno yang terdapat pada masjid-makam Syeh Wasil Syamsudin.

Garuda (Garudeya) memiliki arti pengorbanan, kendi disamakan guci amertha yang dimaknai sebagai lambang kesucian. Kesimpulan lambang Garuda(Garudeya) adalah sifat dari Syeh Wasil Syamsudin yang dalam mitosnya beliau penuh pengorbanan dan semangat dalam menyebarkan Agama Islam yang dianggap suci oleh penganutnya. Bentuk bunga matahari pada bagian sisi depan gapura meambangkan penerangan dan ketangguhan. Hal ini didukung dari arti kata ”Syamsudin” pada nama Penyebar Islam pertama di Kediri tersebut, yang berasal dari kata “Syam” dalam bahasa arab berarti matahari.

Pintu gerbang masjid yang disebut gapura, disamakan dengan kata “ghafur” artinya yang memberi ampun sekaligus juga bermakna pertobatan, permohonan ampun. Hal ini dimaknai bahwa Gapura masjid sebagai pintu untuk menuju ketempat pertobatan bagi setiap manusia yang telah menyadari akan dosa-dosanya. Karena Allah SWT dalam salah satu nama-nama sucinya (Asma’ul Husnah) disebutkan sebagai Al-Ghaffar yang berarti Maha Pengampun.

Pintu masuk area masjid memiliki bentuk dan gaya modern, unsur tradisionalnya,  pada bagian atas pintu dibuat cekung di tengah menyerupai bentuk batu nisan makam kaum perempuan. Serambi masjid setono gedong cukup luas, tiang-tiang penyangganya masing-masing dihiasi tulisan lafal “Allah” di bagian ujungnya. Di tembok serambi atau di atas pintu masuk ruang utama masjid terdapat ukiran-ukiran menggunakan huruf arab yang membentang dari selatan hingga utara serambi, tulisan arab berupa aya-ayat suci Al-Qur’an ukiran didinding serambi masjid terebut tidak hanya dibuat sebagai hiasan saja tetapi juga dipercaya dapat mengusir roh jahat yang mengganggu manusia untuk beribadah.

Dua kentongan terdapat dipojok timur laut serambi, satu berposisi vertikal berlandaskan kayu menyilang dan satu kentongan lagi digantung berjajar dengan bedug, pada kentongan terdapat ukiran tanggal dibuatnya yaitu 17 April 1986.

History of Java; th. 1817

MASJID AULIYA’ SETONO GEDONG, Kota Kediri

Jl. Dhoho, Setono Gedong, Kec. Kota Kediri, Kota Kediri, Jawa Timur

masjid-setono-gedong-nPada serangan tentara Islam Demak ketiga tahun 1524  atas Daha (Kadhiri) yang dipimpin langsung Djakfar al-Shodiq (Sunan Kudus), berhasil merebut Ibukota Kerajaan Majapahit di Daha (Kadhiri). Sunan Kudus adalah anak Rahmatullah (Sunan Ngudung) yang telah memimpin serangan pertama dan ke dua, beliau gugur pada serangan ke dua. Sunan Kudus membangun sebuah “Monumen Peringatan” untuk mengenang jasa-jasa ayahnya yang gugur dalam serangan kedua. Monumen tersebut bukan makam dari Rahmatullah (Sunan Ngudung), karena menurut Hikayat Hasanudin dimakamkan di dekat Masjid Demak. Yang kubur di Setono Gedong adalah sesuatu yang melambangkannya, seperti aksesoris yang selalu dikenakan olehnya. Lebih tepatnya monumen itu dijadikan lambang kemenangan tentara Islam Demak atas Kerajaan Majapahit di Daha (Kadhiri). Monumen peringatan tersebut berupa sebuah inskripsi tertulis menggunakan huruf arab yang terpahat pada Makam Syeh Wasil Syamsudin, isinya adalah:

”Ini makam Imam yang sempurna, seorang alim mulia, dan syekh yang saleh, yang menghafal Kitab Allah yang Maha Tinggi, yang paling menyempurnakan Syariat Nabi Allah-semoga Allah memberikan rahmat dan keselamatan kepadanya-Al Syafi’i Mazhabnya, Al-Abarkuhi(?)…….Al-Baharajni(?) nisbahnya. Dialah Mahkota(?) (Pelita?) putusan(para Hakim)(?), dan Matahari…………….Sembilan ratus(?)dua puluh(?)…….hijrah nabi…….” [(?)……., tanda tidak terbaca].

Terjemahan inskripsi makam Syeh Wasil Syamsudin adalah petunjuk tentang masuknya Islam di wilayah Kediri melalui seorang tokoh yang digambarkan seperti matahari. Pembacaan angka tahun pada isi inskripsi kurang jelas, maka untuk menentukannya dengan patokan antara 920-929 Hijriah. Apabila dijadikan masehi menjadi 1514 – 1523 M. Jadi itulah yang dapat digunakan sebagai patokan penentuan tahun diresmikannya inskripsi pada makam Syeh Wasil Syamsudin tersebut.

Pada perkembangan Islam di Kediri, hal-hal berkaitan dengan Agama Hindu maupun Budha semuanya dihancurkan karena dianggap musyrik yang akan membawa dampak pada kekafiran. Pengrusakan candi pada Situs Setono Gedong beserta isinya karena adanya faktor politik dari ekspansi Kerajaan Demak ke Ibukota Majapahit yang berada di Kediri pada dua puluh tahun pertama abad XVI.

Pengrusakan pada situs Setono Gedong terjadi lagi pada tahun 1815 M. [laporan perjalanan Thomas Staford Raffles di Nusantara/dibukukan th. 1817 berjudul ”History of Java.” , pada hlm. 380 menyebut Informasi tentang Setono Gedong yang berisi:

(“Disekitar Ibukota Kediri kaya akan benda-benda kuno dalam berbagai bentuk, tetapi yang ditemukan di sana masih dalam keadan yang baik daripada yang ditemukan di tempat lain, dengan biaya yang besar dan tenaga yang dikerahkan untuk membongkar bangunan dan untuk memotong patung yang ada di sana. Pada semua bagian situs di bangunan utama itu dapat saya temukan fragmen-fragmen yang tertutup pahatan relief, recha-recha yang rusak dan umumnya dipahat di atas batu yang dipotong membujur, dikerjakan saat membangun candi-candi, di samping bagian dasar yang sangat luas dari batu bata kemudian dinding bangunannya. Lebih jauh saya menduga dari keteraturan dan keelaganan bahan-bahan yang digunakan bahwa bahan dan bangunan yang dibangun hampir di seluruh bangunan ini di bongkar oleh penganut Mohamet pada periode perkembangan ajaran tersebut. Candi ini disebut Astana Gedong, tetapi tidak ada penduduk yang memberikan informasi saat pembangunan bangunan ini, seperti hanya asal ajaran Mohamet, saya hanya mempunyai sedikit pandangan mengenai hal itu untuk menghindari ketidaksesuaian gerakan dengan penduduk setempat yang ditunjukkan sebagai pendekata dari ketaatan mereka, dan hal ini merupakan keadaan yang sangat sesuai bagi orang penjajah yang bebas untuk bergerak tanpa adanya gangguan. Semua benda-benda kuno ini tidak diragukan lagi berasal pada periode sebelum munculnya agama Mohamet, atau dari apa yang oleh penduduk setempat disebut sebagai wong kuno, kapir atau buda.”)]

Dari sumber Raffles tersebut, disimpulkan adanya pengerusakan kedua ditahun 1815, dua puluh tahun pertama abad XVI setelah ekspansi Demak. Raffles menyebut bangunan situs Setono Gedong adalah candi, karena terdapat bagian yang luas terbuat dari batu bata, terdapat dinding bangunan, terdapat fragmen-fragmen relief, terdapat  arca-arca yang rusak dan dipahatkan pada potongan batu membujur.

Pada ekspansi Demak pengerusakan pada situs Setono Gedong tidak begitu parah, hanya menimbun ke dalam tanah artefak-artefak masa Hindu-Budha tersebut. Namun pengerusakan pada tahun 1815 jauh lebih parah, karena Raffles menyebutkan adanya pengerahan biaya dan tenaga yang besar untuk menghancurkan situs Astana (Setono) Gedong oleh Penganut Mohamet (sebutan penganut ajaran Nabi Muhammad yaitu Umat Islam).

Selanjutnya pada tahun 1897 M, di halaman situs Setono Gedong telah dijadikan tempat ibadah oleh penduduk setempat yang beragama Islam, dengan hanya beralaskan tanah. Masjid inilah oleh penduduk setempat disebut Masjid Tiban. Namun nama “Tiban” sekarang menunjuk pada sumur tua di sebelah utara situs. Pada tahun 1967 M barulah dibangun masjid di depannya atau di sebelah timurnya dengan nama Masjid Auliya’ Setono Gedong. Pada saat itu juga baru disertifikatkan tanah negara tersebut sebagai bangunan masjid hingga sekarang.

Perkembangan Islam sangat lambat penyebabnya karena masih kuatnya pengaruh dari Kerajaan Hindu-Budha yang antara lain, masa Wangsa Isyana(Mpu Sindok), masa Airlangga, Jenggala dan Kadhiri pada kurun waktu abad XI-awal abad XIII Masehi, serta dilanjutkan masaSinghasari dan Majapahit pada abad XIII-XV Masehi. Pada saat keruntuhan Majapahit inilah mulai muncul kerajaan-kerajaan Islam di Pulau Jawa, yang salah satunya adalah Kerajaan Demak yang merupakan kerajaan Islam Pertama di Pulau Jawa dan didirikan oleh keturunan Majapahit yang bernama Raden Patah.

Ciri-ciri umum bentuk bangunan masjid pada masa peralihan agama Islam masih banyak terpengaruh gaya budaya Hindu-Budha dengan adanya: Arsitektur masjid menunjukkan gaya dari masa Hindu-Budha. Seperti penggunaan atap tumpang pada bangunan Masjid Jawa; Ragam hias pada dinding masjid, seperti relief bersayap yang melambangkan kelepasan, pintu masjid yang berbentuk paduraksa atau bentar dengan ukiran-ukiran bunga teratai yang dalam Agama Hindu maupun Budha sebagai lambang surgawi. Bunga matahari sebagai lambang penerangan dan ketangguhan, dan pola hias tanaman menjalar sebagai ornamen tambahan; Seni hias kaligrafi Islam, yaitu tulisan-tulisan dengan memakai arab yang ditulis pada dinding masjid maupun makam yang menunjukkan gaya seni.

Arsitektur Masjid Setono Gedong,

Gaya Masjid Setono Gedong dilihat dari luar tampak mirip dengan bangunan Klenteng (kuil cina), karena atapnya berbentuk seperti pagoda dan pintu masuknya seperti pintu masuk Kuil Cina.  Pembangunan masjid tidak hanya menggunakan arsitektur  tipe Jawa saja, melainkan berbentuk perpaduan budaya dari bangsa Tionghoa dan masyarakat Setono Gedong. bentuk bangunan utama, yaitu bangunan masjid berarsitektur cina dan bangunan pendopo beratap tumpang tingkat tiga dan dipuncaknya terdapat mustaka yang merupakan ciri khas bangunan jawa, sekarang berada di belakang Masjid Setono Gedong.

Areal Masjid terbagi manjadi tiga bagian semakin ke belakang semakin suci, hal itu merupakan hasil akulturasi dari pembuatan candi yang mengandung makna kaki, lereng, dan puncak gunung, karena umat Hindu Jawa dalam membuat seni bangun berlandaskan pada bentuk Gunung.  Begitu pula dengan Masjid Setono Gedong yang juga memiliki tiga pembagian,  bangunan pertama adalah masjid Induk, kedua adalah pendopo yang dibangun di atas reruntuhan Candi. Bangunan akhir adalah Makam Syeh Wasil Syamsudin. Baik hiasan masjid maupun makam memiliki fungsi ganda, sebagai fungsi teknis juga sebagai fungsi dekoratif. Sebagai fungsi teknis, hiasan pada masjid atau makam berkaitan dengan kegunaan praktis atau sebagai teknis bangunan. Sedangkan fungsi dekoratif, pada dinding masjid atau makam digunakan untuk memperindah bangunan. Selain itu juga untuk menyimpan pesan dan sebagai media untuk memenuhi tujuan religi-magis. Misalnya ukir-ukiran teratai, daun-daunan, dan lain-lain.

Pintu gerbang menuju Masjid Setono Gedong dibuat pada tahun 2002 dengan gaya kombinasi antara seni tradional dan modern. Gaya tradisional tampak pada hiasan yang memakai motif daun-daunan berjumlah tiga serta atasnya ditambah dengan modif bunga matahari pada masing-masing bagian sisi kanan dan kiri gapura. Pada bagian atas gapura terdapat arca Garudeya (Garuda) membawa sebuah kendi, dan di atas bagian belakang kepalanya juga di tambah relief berupa kepala rajawali. Gapura luar ini mengadopsi sebagian dari ukir-ukiran maupun relief kuno yang terdapat pada masjid-makam Syeh Wasil Syamsudin.

Garuda (Garudeya) memiliki arti pengorbanan, kendi disamakan guci amertha yang dimaknai sebagai lambang kesucian. Kesimpulan lambang Garuda(Garudeya) adalah sifat dari Syeh Wasil Syamsudin yang dalam mitosnya beliau penuh pengorbanan dan semangat dalam menyebarkan Agama Islam yang dianggap suci oleh penganutnya. Bentuk bunga matahari pada bagian sisi depan gapura meambangkan penerangan dan ketangguhan. Hal ini didukung dari arti kata ”Syamsudin” pada nama Penyebar Islam pertama di Kediri tersebut, yang berasal dari kata “Syam” dalam bahasa arab berarti matahari.

Pintu gerbang masjid yang disebut gapura, disamakan dengan kata “ghafur” artinya yang memberi ampun sekaligus juga bermakna pertobatan, permohonan ampun. Hal ini dimaknai bahwa Gapura masjid sebagai pintu untuk menuju ketempat pertobatan bagi setiap manusia yang telah menyadari akan dosa-dosanya. Karena Allah SWT dalam salah satu nama-nama sucinya (Asma’ul Husnah) disebutkan sebagai Al-Ghaffar yang berarti Maha Pengampun.

Pintu masuk area masjid memiliki bentuk dan gaya modern, unsur tradisionalnya,  pada bagian atas pintu dibuat cekung di tengah menyerupai bentuk batu nisan makam kaum perempuan. Serambi masjid setono gedong cukup luas, tiang-tiang penyangganya masing-masing dihiasi tulisan lafal “Allah” di bagian ujungnya. Di tembok serambi atau di atas pintu masuk ruang utama masjid terdapat ukiran-ukiran menggunakan huruf arab yang membentang dari selatan hingga utara serambi, tulisan arab berupa aya-ayat suci Al-Qur’an ukiran didinding serambi masjid terebut tidak hanya dibuat sebagai hiasan saja tetapi juga dipercaya dapat mengusir roh jahat yang mengganggu manusia untuk beribadah.

Dua kentongan terdapat dipojok timur laut serambi, satu berposisi vertikal berlandaskan kayu menyilang dan satu kentongan lagi digantung berjajar dengan bedug, pada kentongan terdapat ukiran tanggal dibuatnya yaitu 17 April 1986.

History of Java; th. 1817

MASJID AGUNG K.H ANAS MAHFUDZ LUMAJANG

masjid-agung-k-h-anas-mahfudz-lumajang

Masjid Agung kota Lumajang disebut pula Masjid agung K.H Anas Mahfudz, Terletak di pusat kota tepatnya sebelah barat alun – alun Lumajang.  Berawal dari tahun 1825 M. pasukan tentara diponegoro mendirikan sebuah langgar kecil di sebelah barat alun – alun kota Lumajang, Yakni, ketika pasukan itu berada di Lumajang.

Awal tahun 1968 masa kepemimpinan Bupati Subowo, masjid ini sempat dilebarkan ke utara dengan membongkar kantor NU dan Maarif, 1987 perluasan lahan menjadi 3 kali dari luas lahan semula. Pada tahun 1987 masa kepemimpinan Bupati karsid dilakukan pemugaran total, yang semula bangunan masjid, bergaya arsitektur jawa kuno atap joglo dirubah menjadi bangunan masjid modern beratapkan kubah setengah lingkaran. Masa pemerintahan H.Syamsi Ridwan (1988 – 1993) membangun menara tambahan pada sisi utara masjid. Pada masa pemerintahan Bupati Tamrin Hariadi (1993-1998) dilakukan peresmian nama Masjid Agung Lumajang yang pada masa sebelumnya dikenal sebagai Masjid Jami’. Setelah itu pada tahun 2002 – 2003 dilakukan renovasi besar- besaran oleh Bupati Fauzi. Renovasi dilakukan dengan perubahan tampilan depan masjid dan penambahan dua menara setinggi 30 meter di sebelah selatan masjid.

Juga terjadi perubahan nama dari Masjid Agung Lumajang menjadi Masjid Agung K.H. Anas  Mahfudz.  Penamaan masjid agung ini diambil dari nama ulama yang berpengaruh di Lumajang yaitu K.H Anas Mahfudz. Beliau merupakan perintis didirikannya masjid agung sekaligus perawat masjid setelah didirikannya masjid oleh Laskar Diponegoro. Penerus K.H Anas Mahfudz sampai saat ini masih menjadi pengurus ( takmir ) dari masjid ini.

Ketakmirannya masjid secara beruntun dimulai sejak Kiai Anas Machfudz sampai tahun 1980. Kemudian Kiai Maimun dan Kiai Said. Lalu diganti KH Sahlan sampai 1996. Dilanjutkan Kiai Eksan Anwar sampai 2007. Dan Kiai Amak Fadoli (mertuanya) sampai 2012. Baru kemudian, saat ini Abdul Kahfi menjadi ketua takmir masjid tersebut.

Gaya arsitektur masjid ini bercirikan khas timur tengah, menggunakan kubah lengkung panjang dan begitu pula bentuk kusennya. Kolom yang berderet panjang dengan model besar merupakan bekas renovasi kedua yang tidak di bongkar sehingga menjadikan ciri khas tersendiri dari bangunan masjid ini.

Pada kedua sisi masjid didirikan menara sebagai ikon masjid. Hal yang unik dari arsitektur masjid ini adalah kubah tumpuk yang disebabkan karena kubah lama tidak dibongkar pada saat renovasi kubah, langsung di tumpuk dengan kubah baru seperti yang di lihat saat ini.

Interior masjid ini memiliki sirkulasi yang cukup luas dengan pembagian saf wanita di sebelah kiri belakang dari bagian saf laki-laki. Pembagian tempat wudlu wanita berada di sebelah selatan dan laki-laki berada sebelah utara sehigga sirkulasi wanita dan laki-laki tidak berbenturan.

Pencahayaan di dalam masjid ini cukup baik dengan pencahayaan alami yang didapat dari kubah atas dan juga dari jendela lebar di sisi dinding selatan dan utara. Penghawaan sebenarnya sudah cukup baik meskipun tidak menggunakan penghawaan buatan ( AC ) hal ini dikarenakan terdapat ventilasi di sekeliling dinding masjid. Ventilasi ini berbentuk unik dengan pengulangan bentuk persegi yang cukup statis dan memberikan kesan simetris.

Area Lobby dan Area Tunggu  di desain dengan penggabungan dua unsur, antara budaya Islam dan Lumajang. Penggunaan bentuk ornamen islam pada dinding dipadukan dengan signage yang berasal dari transformasi motif batik Lumajang pada backdrop lobby memberi kesan unik.

Desain ruangan nampak dinamis dengan bentuk lengkung pada furnitur dan pertemuan antara dinding dan plafond memberikan kesan ruang yang tidak monoton. Tampilan warna hijau yang merupakan warna khas islam dipadukan dengan warna emas dan warna natural kayu.

Area Perpustakaan memberikan kebebasan ruang gerak bagi pengunjung. Pemisahan area baca dan area simpan buku agar konsentrasi pengunjung yang membaca tidak terganggu, juga disediakan area baca lesehan. Area internet corner berada di belakang meja lobby memberi kemudahan pengunjung untuk mengakses informasi. Tersedia pula katalog digital serta fasilitas foto copy dan print.

Pada area TPA didesain multifungsi, ruang dibagi empat (4) dengan pembatas ruangan berpartisi semi transparan. Ornamen islami hadir pada dinding, lantai menggunakan parket kayu sehingga mebawa kesan hangat, nyaman di pijak tidak licin, warna dominan putih dengan aksen hijau. sehingga pengguna ruangan memberi efek tenang dan nyaman.

—————————————————————————————-edit 134N70

sumber: Aplikasi Budaya Lumajang Pada Interior Masjid Agung K.H Anas Mahfudz: Citra Maya Rusafi; Jurusan Desain Produk Industri, FTSP ITS. Kampus ITS Sukolilo, Surabaya

MASJID BAITUR ROHMAN, (Masjid Munder) Kabupaten Lumajang

mesjid-baitur-rahman-aMasjid Baitur Rohman merupakan peninggalan bangunan bersejarah yang disakralkan. Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kabupaten Lumajang mengidentifikasi sebagai Bangunan Cagar Budaya. Keberadaan masjid ini di dusun Munder, desa Tukum kecamatan Tekung, dan berdiri tepat di pinggir perkampungan penduduk dan pada sisi lainnya merupakan areal persawahan. Jarak menuju ke masjid ini  dari Kota Lumajang 7 km, Akses jalan beraspal.

 Rujukan informasi tentang sejarah pendirian masjid ini sangat kuranga sekali, namun ada angka yang menunjuk 1919, angka tersebut tertera pada salah satu atap masjid, apakah angka ini merupakan tahun pembangunan masjid tersebut, hal tersebut masih merupakan tanda tanya.  Namun Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kabupaten Lumajang mendeskripsikan bahwa Masjid Baitur Rohman ini awalnya dibangun Tahun 1912.  Mesjid ini adalah mesjid yang pertama di bangun di Desa Tukum.

Masjid ini konon didirikan dengan segala kekhusyukan dan kesucian,  dari para pendahulu-pendahulu baik kyai maupun santri Masjid ini, penggagas bangunan masjid adalah Kyai Usman,  beliau wafat pada tahun 1928.

mesjid-baitur-rahman-bSelanjutnya pada generasi ke-2, pada tahun 1930 mesjid ini di bangun oleh Kyai Syukhaimi lebih bagus dengan dinding tembok dari batu bata dan di tambah dengan 3 bangunan Pondok. Sehingga menjadi Mesjid Pondok Pesantren, dan Pondok Pesantren sendiri di beri nama dengan Pondok Pesantren Torekho Nakhsofandi. Di masa-masa itu merupakan masa kejayaan pondok pesantren Torekho Nakhsofandi, karena pondok pesantren yang dikelola oleh Kyai Syukhaimi tersebut mengasuh sekitar 650 santri, dan beliau wafat pada tahun 1957.

Kemudian selanjutnya pada generasi ke-3 Pondok Pesantren ini pengelolaan dilanjutkan oleh Kyai Ismail adalah beliau putra Kyai Syukhaimi, Namun beliau mengelola Pondok Pesantren hanya selama 6 bulan saja, di karenakan beliau sakit dan wafat.

Sepeninggalan beliau pondok pesantren ini tidak ada lagi yang mengelolanya, pondok pesantren ini sudah tidak ada lagi yang merawatnya. Pada tahun 1960, ada seorang tokoh ulama desa tukum yang bernama Kyai Ashari, beliau merasa sayang dengan keadaan sarana peribadatan yang terbengkelai tersebut, maka dirawat dan dikelolanya areal pondok tersebut, terutama mesjidnya yang merupakan sarana peribadatan warga sekitar.  Dulunya orang akrab dengan sebutan Masjid Munder, baru pada era 80-an, masjid tersebut diganti nama menjadi Masjid “Baiturrahman” (Muhammad Khoirul Anam).

Konon awal di bangunnya Masjid “Baiturrahman” pondasi bangunan hanya berupa umpak (batu yang terdapat pada tiap-tiap tiang), tiangnya materialnya adalah bongkotan  (bagian bawah bambu), dan beratapkan daun kelapa.   Di halaman mesjid sisi sebelah barat terdapat makam dari keluarga pendiri mesjid dari berbagai generasi. Masjid Baitur Rohman memiliki menara berbentuk mangkuk dan trisula, bangunan masjid ini  bergaya arsiktektur lama, tembok dan struktur bangunan Masjid masih sama dengan bentuk aslinya. Bangunan tak begitu luas. Nuansa warna putih, hijau, dan coklat kayu, kental dalam suasana penuh Islami, pada beranda masjid terdapa bedug dan kentongan bambu.

Pilar beton kokoh tak terlalu tinggi menyangga masjid ini, masuk ke masjid ini memang rasanya berbeda dengan masjid kebanyakan, bangunan masjid dengan postur bangunan tua ini dalam sangat unik, banyak frame-frame atau kerangka pintu dengan bentuk kubah sebanyak 31 buah di petak-petak ruangan inti masjid, didalam Masjid terdapat 7 ruangan, dan terdapat 9 jendela. Sedangkan material atap, jendela maupun pintu terbuat dari kayu jati.

——————————————————————————————-134N70nulisDW
Sumber:
DINAS KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA KABUPATEN LUMAJANG
pariwisata_lmj@yahoo.com; website: www.wisatalumajang.com