BATIK LOROG PACITAN

Sejarah Batik Lorog Pacitan

Kabupaten Pacitan merupakan salah satu daerah penghasil batik tulis yang terkenal akibat karya dari dua orang wanita bersaudara keturunan Belanda yang bernama E. Coenraad dan M. Coenraad. Dua saudara ini datang dari Surakarta dan menetap di Pacitan. Mereka mendirikan perusahaan batik di Pacitan dengan tenaga kerja banyak dan berpengalaman. Produk dari Coenraad bersaudara umumnya banyak menggunakan warna batik tradisional gaya Jogja dan Solo, yaitu biru nilo dan cokelat soga. Motif yang digunakan juga sebagian besar ialah motif Eropa dan sedikit mencampurkan dengan motif Jawa. Motif yang diproduksi pada umumnya adalah motif bunga.

Sejauh ini bukti peninggalan nyata dari batik Coenraad bersaudara di Pacitan belum ditemukan sama sekali, misalnya seperti tepatnya dimana dibangunnya perusahaan batik Coenraad pada saat itu di Pacitan. Selain itu tidak banyak masyarakat yang mengetahui tentang sejarah batik di Pacitan yang dibawa oleh Coenraad bersaudara. Hal senada juga dituturkan oleh Ibu Retno Toni: “Batik Coenraad dulu yang pernah berjaya di Pacitan sampai sekarang belum ditemukan peninggalannya, Mbak. Sangat disayangkan sekali ya. Seharusnya jadi peer pemerintah untuk melestarikan peninggalan budaya.”

Selain itu masih sangat jarang literatur yang membahas secara detail dan lengkap tentang sejarah batik Pacitan yang dipelopori oleh Coenraad bersaudara. Kurangnya perhatian dari masyarakat akan peninggalan budaya yang sangat penting menjadikan salah satu alasan hilangnya pengetahuan tentang batik Coenraad bersaudara. Diharapkan dengan adanya hal ini, pemerintah menyediakan sarana untuk lebih menggali kembali tentang Coenraad bersaudara yang telah mengenalkan batik ke Kabupaten Pacitan.

Perkembangan Batik Lorog Pacitan Tahun 1980-2010

Batik Lorok Pacitan Indonesia di era tahun 1980 sedikit mengalami perubahan, perubahan yang menonjol adalah fungsi batik-batik yang diproduksi pada masa itu. Bergesernya penggunaan batik yang semula untuk kain panjang menjadi bahan baju baik pria maupun wanita. Motif , corak dan warna yang dibuat mengarah pada motif-motif tektil yang ada di pasaran. Detail pada batik belum seberapa diperhatikan , hal ini disebabkan permintaan pasar pada waktu itu menginginkan batik yang berharga murah dan cepat pembuatannya. Pemerintah pada saat itu juga berperan dalam melatih dan mengembangkan batik Lorok, mulai dari pelatihan pewarnaan sampai pada kegiatan pameran.Permintaan batik untuk bahan baju semakin meningkat,utamanya permintaan dari pulau Bali.Namun pemasaran ke Bali surut drastis setelah pulau Bali diguncang bom.

img_3400Kabupaten Pacitan yang terletak di serangkaian Pegunungan Kidul juga mempengaruhi tentang keadaan masyarakat dan kebudayaannya. Batik Lorog Pacitan salah satu produk batik petani yang terus berkembang sejalan dengan arus perkembangan jaman. Sepeti halnya kebudayaan, motif pada batik Lorog berkembang secara bebas dan sangat beragam dengan mendapatkan pengaruh-pengaruh dari berbagai ragam hias yang berasal dari luar daerah Pacitan sebagai proses adanya interaksi antar daerah pembatikan.

batik-lorok-pacitan-indonesia-di-era-1980-anPada awalnya para pengrajin batik Lorog memang membuat batik dengan motif-motif tradisional seperti motif Kawung, Sidoluhur, Parang Kusumo, dsb. Akan tetapi dalam perkembangan batik Lorog, motif-motif tradisional tersebut dibuat dan dipadukan dengan motif asli dari batik Pacitan dan untuk penamaannya tidak ada keterikatan sama sekali karena memang memberikan nuansa yang berbeda. Mengikuti perkembangan jaman akhirnya motif batik Lorog juga megikuti alur tren motif batik ke arah kontemporer tanpa menghilangkan ciri khasnya, yaitu tetap menggunakan proses-proses tradisional dan dengan proses pewarnaan menggunakan pewarna alami dari tumbuh-tumbuhan.

Perkembangan motif batik Lorog dapat diklasifikasikan menjadi beberapa fase periode, yaitu pada era 1980-1990, era 1990-2000 dan era 2000-2010. Perkembangan pada motif ini tentunya tidak bisa dihindari dari pengaruh daerah-daerah lain diluar Pacitan, yang lebih dulu mengalami perubahan pada segi pewarnaan warna-warni seperti Madura, Pekalongan, dan Tuban. Akibat dari adanya pengaruh daerah lain, tidak hanya segi pewarnaan saja yang mengalami perubahan akan tetapi motif dan juga pada saat teknik pembuatan.

  1. Era 1980-1990

batik-lorok-pacitan-indonesia-di-era-1990-an-bEra 1980-an, teknik pembuatan batik yang digunakan pembatik Lorog dari teknik kerikan beralih menggunakan teknik lorodan: proses menghilangkan lilin dengan air mendidih lalu kemudian dijemur.20 Selain proses pembuatan yang cukup rumit sehingga membutuhkan kesabaran yang lebih tinggi dibandingkan teknik lorodan, tidak mudahnya menemukan generasi penerus yang memiliki minat khusus dan ketekunan yang diperlukan untuk melestarikan batik Lorog dengan teknik kerikan, menjadi alasan tergantikannya teknik kerikan dengan teknik lorodan. Disisi lain, aspek pasar yang terbatas akan pengetahuan dan apresiasi konsumen umum terhadap batik dengan teknik kerikan menjadikannya sulit laku, apalagi jika dijual dengan harga yang sangat tinggi.

Perubahan lain batik Lorog pada era 1980-an ialah bergesernya fungsi batik yang semula untuk kain panjang menjadi bahan baju yang digunakan baik pria maupun wanita. Motif dan warna yang dibuat mengarah pada motif-motif tekstil seperti yang ada di pasaran. Lebih disayangkan lagi ialah detail motif batik tidak lagi menjadi tuntutan, mengingat permintaan pasar pada waktu itu menginginkan batik dengan harga murah dan cepat pembuatannya.21 Berikut penuturan Ibu Retno Toni :

batik-lorok-pacitan-indonesia-di-era-1990-an-a“Dulu sebelum 1980-an batik lorog ini dipakai untuk kain panjang seperti kemben, dan motifnya itu motif-motif kain panjang sehingga kalau dibuat baju itu tidak nyambung. Seiring dengan berjalan waktu pada tahun 1980-an ini masyarakat sudah jarang yang memakai kain panjang, lalu dibuatlah pada proses perwarnaan yang tidak lagi hitam putih tapi motifnya itu masih menggunakan motif kain panjang. Kemudian 1990-an mulai ada sedikit-sedikit motif sederhana yang sepertinya diambil dari motif-motif batik Madura. Dan juga permintaan pasar yang marak dengan batik tekstil yang proses pembuatannya cepat dan harganya murah mbak.”

Batik Lorok Pacitan Indonesia di era tahun 1990 an , masih seperti diera tahun 1980an . Motif sederhana, pembuatan relatif cepat, belum seberapa memperhatikan kwalitas batikan.Variasi motif sudah mulai berkembang hal ini disebabkan pengaruh dari batik-batik lain daerah.

Kemudian pada era 1990-an, batik Lorog sedikit mengalami perubahan dengan era sebelumnya, yaitu era 1980-an.  Perubahan desain batik Lorog yang mulai menggunakan warna batik pesisiran, seperti warna merah, hijau, kuning, orange, ungu dan coklat muda mulai marak terjadi di era 1990-an. Meskipun dengan desain batik yang bermotif sederhana dengan proses pembuatan yang cepat, motif dan warna batik yang mulai berkembang akibat pengaruh batik dari daerah lain seperti Madura. Perubahan tersebut diikuti setelah Ibu Puri mendapatkan pelatihan dari pembatik Madura. Selain itu juga menyesuaikan dengan selera pasar pada saat itu dengan maraknya batik berwarna-warni. Pengaruh dari batik-batik dari daerah lain tentunya tidak menghilangkan dari gaya khas Pacitan sendiri, yaitu batik petani.22

  1. Era 1990-2000

batik-lorok-pacitan-indonesia-di-era-2000-an-aBatik Lorok Pacitan Indonesia di era 2000 an , sudah mulai menampakkan eksistensinya, pengrajin muda dan baru mulai bermunculan. Mereka rata-rata para lulusan perguruan tinggi yang bersedia kembali kedaerah dan ikut berpartisipasi dalam mengembangkan batik Lorok. Motif dan variasi batikan sudah mulai muncul dan beragam. Para seniman-seniman dengan senanghati mulai mendesain motif-motif batik yang baru. Salah satu even penting tahun 2002 diselenggarakannya lomba desain batik khas Pacitan dan tahun 2003diselenggarakannya acara batik kolosal sepanjang 400 meter yang berhasil mencatat rekor MURI. Batik Lorok hingga kini terus berkembang, menjadikan daerah Lorok yang semula tidak pernah terdengar oleh daerah luar sekarang sudah mulai diperhitungkan.Batik-batik yang bernuansa alamidengan detail yang halus sudah mulai bermunculan, seniman ( pendesain ), pembatik, berusaha keras untuk menyamakan mutu dan kwalitas batik Lorok dengan batik-batik dari lain daerah. Ditunjang dengan masuknya saran informasi yang mudah sehingga para pembeli tidak repot datang ke Lorok, mereka bisa mengakses lewat internet.

Keberadaan dari batik Lorog kian diminati oleh masyarakat pada era 1990-an meskipun dengan motif yang sederhana dengan proses pembuatan yang relatif cepat. Pembuatan batik Lorog menggunakan beberapa jenis kain sebagai bahan untuk membatik. Kain putih yang digunakan untuk membatik lebih dikenal dengan istilah mori atau cambric.23 Mori berasal dari bombyx mori, yaitu ulat sutera yang menghasilkan kain sutera putih. Istilah cambric artinya fine linen yaitu kain putih. Mori berasal dari kain katun, sutera asli maupun sutera tiruan. Mori dibagi menjadi empat golongan, yaitu:

  1. Mori Primissima,
  2. Mori Prima,
  3. Mori Biru,
  4. Mori Blaco.

batik-lorok-pacitan-indonesia-di-era-2000-an-bPada pembuatan batik Lorog, ada beberapa jenis kain yang digunakan, yaitu: kain sanpolis primis (mori primissima), dan kain sanpolis prima (mori prima).24 Semakin maraknya batik di pasaran kala itu, juga membuat jenis kain yang digunakan oleh pembatik batik Lorog mengalami peningkatan kualitas, hal ini terlihat mulai digunakannya kain sutra sebagai bahan jenis kain untuk membatik. Akan tetapi, ketersediaan bahan baku kain untuk pembuatan batik tulis masih mengandalkan pasokan dari luar kota Pacitan, yaitu Kota Solo dan Jogja. Hanya pewarna alami yang dapat diperoleh dan menjadi stok sangat berlimpah karena terdapat di lingkungan sekitar para pembatik.

batik-lorok-pacitan-indonesia-di-era-2000-an-cMeningkatnya jenis kain dengan bahan sutra pada era 1990-an dan juga proses pewarnaan alami membuat tampilan batik Lorog terkesan lembut. Jenis kain yang digunakan dan proses pewarnaan alami ini tentu saja berpengaruh pada tingkat harga, semakin mahal kain yang digunakan untuk bahan batik maka harganya juga semakin tinggi. Batik bahan sutra dan pewarnaan alami ini sekarang dapat dijumpai hampir di seluruh industri batik Lorog di Kecamatan Ngadirojo. Masuk pada millenium baru, pada era 2000-an batik Lorog Pacitan mulai muncul dengan wajah baru. Hal ini dikarenakan beberapa pengrajin muda bermunculan. Pengrajin muda tersebut rata-rata para lulusan perguruan tinggi yang bersedia kembali ke daerah dan ikut pula berpartisipasi dan mengembangkan batik Lorog.

  1. Era 2000-2010Batik Lorok Pacitan Indonesia di era tahun 2010 sudah mulai menampakkan keindahan. Para pembatik muda ( ibu-ibu muda, remaja lulusan SLTA ) sudah mulai trampil membatik.Ada dua jenis batik yang dibuat di era tahun ini yaitu, batik pewarna alam dan batik klasik modern yang seperti pada gambar diatas. Batik klasik modern dibuat seperti layaknya batik Lorok tempo dulu, yaitu dengan cara pewarnaan menggunakan wedel ( nilo ) lalu dilorot , dibatik lagi, di soga lalu dilorot lagi. sentuhan modernnya berupa coletan warna merah ( rapid )dan pemberian warna kuning ( sol )pada bagian obyek tertentu. Desain batik juga dibuat lebih kontemporer mengikuti perkembangan jaman, namun tidak meninggalkan ciri khas batik lorok yang berupa motif flora dan fauna yang berada di lingkungan daerah Lorok Pacitan.Batik ini diproduksi oleh Batik Tengah Sawah Ngadirojo Pacitan, lokasi di Kec Ngadirojo 32 km kearah timur Pacitan.

    dscn1338

Berlanjut pada era 2000-an, pengaruh motif dan warna batik pesisiran dari Madura ditambah dengan pengaruh dari daerah lain, seperti Pekalongan dan Tuban menjadi dominan. Secara tidak langsung menjadikan batik Lorog mulai menampakkan keeksistensinya dan juga keistimewaannya yang tidak dimiliki oleh batikbatik daerah lain. Hal inilah yang menjadikan kesempatan batik Lorog lebih dikenal di daerah lain di luar Pacitan. Selain itu perubahan secara drastis dari selera konsumen untuk menggunakan batik warna-warni sebagai pakaian sehari-hari menjadikan batik bermotif bebas dan berwarna aneka rupa semakin dicari-cari oleh konsumen.

dscn1343Batik Lorog Pacitan pada era 2000-2010-an memiliki dua jenis batik, yakni batik klasik modern dan batik pewarna alam. Yang lebih menonjol diantara dua jenis batik tersebut adalah batik klasik modern dimana batik tersebut dibuat mirip seperti batik Lorog tempo dulu pada tahun 1980-an. Pewarnaan yang dilakukan pada batik ini menggunakan wedel atau zat pewarna yang kemudian di lorod. Hal ini diulang beberapa kali sehingga memberikan sentuhan modern dengan warna merah dan kuning pada bagian tertentu.

dscn1554Beberapa pembatik muda mulai muncul seperti Ibu Retno Toni dan Bapak Budi Raharjo, dengan kreasi dan inovasi yang mereka ciptakan untuk meramaikan dan tanpa disadari mereka ikut memajukan motif dan variasi yang beragam untuk batik Lorog. Selain itu, industri-industri baru juga mulai banyak yang bermunculan dan dapat dilihat dengan pesat industri batik Lorog mulai menampakkan keeksistensinya. Apreasiasi untuk motif-motif yang mulai bermunculan ini dengan ditunjang semangat para pembatik diwujudkan dengan adanya acara batik kolosal sepanjang 400 meter yang berhasil mencatat rekor MURI.

Kesuksesan batik Lorog pada tahun 2000-an, ternyata terus berkembang hingga dasawarsa 2010an. Pada tahun 2010 batik Lorog berhasil meraih dua prestasi pada ajang Lomba Desain Batik Tulis Khas Jawa Timur yang diselenggarakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur. Batik dengan motif baru yang didesain oleh Bapak Budi Raharjo dan diproduksi oleh Ibu Retno Toni yang bernama motif Sawung Gerong berhasil menjadi juara 2 dan motif Peksi Gisik Lorog merebut juara 9.26 Hal tersebut merupakan suatu kebanggaan yang tersendiri untuk masyarakat Pacitan karena kini batik dari daerah mereka sudah diakui oleh daerah lain bahkan mungkin hingga nasional.

Perkembangan Industri Batik Lorog Pacitan Tahun 1980-2010

Pada dasawarsa 1980-an, industri batik Lorog kian menyusut karena adanya derasnya produksi tektil bermotif batik yang lebih murah masuk ke Kabupaten Pacitan. Berubah fungsi batik yang dulunya sebagai kain panjang untuk para wanita maupun pria kecuali bilamana ada acara hajatan saja juga mempengaruhi surutnya industri batik Lorog pada saat itu. Selain itu kerajinan batik Lorog tidak seluruhnya mengalami alih tradisi secara mulus dari satu generasi ke generasi lain selanjutnya. Hal ini disebabkan beberapa faktor diantara adalah; terputusnya tradisi di lingkungan masyarakat pembatik, kurangnya kecintaan dan kesadaran untuk menjunjung nilai budaya luhur serta tersainginya batik dengan berbagai bentuk motif yang bervariasi dengan latar warna yang cerah.

Pengrajin batik yang masih bertahan bekerja keras untuk memenuhi permintaan pasar dengan melakukan perubahan untuk mencoba menarik minat dari para pembeli, dengan melakukan inovasi pada motif batik karena fungsi batik pada saat itu dibuat untuk baju baik wanita maupun pria, maka corak dan warna batik disesuaikan selera pasar dengan memilih warna-warna yang cenderung lebih cerah. Batik Lorog mulai intensif menggunakan warna batik pesisiran yang terkenal akan kebebasannya berekspresi yaitu: merah, hijau, kuning, orange, ungu dan coklat muda. Kondisi ini terjadi berlanjut pada tahun 1990-an.

Kondisi industri batik Lorog pada dasawarsa 1990-2000-an tidak jauh berbeda pada era sebelumnya. Hal ini dikarenakan permintaan pasar yang saat itu mengalami penurunan drastis akibat adanya batik cap dengan proses pembuatan yang cepat dan lebih diminati oleh para konsumen.

Pengaruh selera konsumen dan kondisi pasar pada saat itu sangat mempengaruhi pasang surutnya industri batik Lorog Pacitan. Perhatian dari pengrajin pada saat itu pula masih minim akibat kurangnya rasa semangat untuk melestarikan batik Lorog. Pada era pula hanya sedikit ditemukannya keterangan-keterangan yang menjelaskan secara detail bagaimana kondisi industri batik Lorog pada saat itu. Beberapa sumber juga menyebutkan bahwa industri batik Lorog yang selama kurang lebih dari 30 tahun dari era 1980-2000, masih mengalami ketertinggalan pasar daripada industriindustri di daerah lain.

Pada hakekatnya pembatik adalah seniman, sebagai seoerang seniman sedikit banyak memiliki sifat egois yang artinya ingin menciptakan sesuatu yang berbeda dengan hasil karya orang lain. Sifat inilah yang mendorong para inovator batik Lorog seperti Ibu Puri, Ibu Retno Toni dan Bapak Budi Raharjo untuk terus mengembangkan daya kreasinya tak sebatas kemampuan yang dimilikinya. Mereka tidak pernah puas dengan apa yang telah dihasilkannya, dan mereka terus berupaya berlomba menciptakan hal-hal yang baru. Perkembangan batik merupakan suatu usaha yang dapat diandalkan dan dikembangkan dengan tenaga kerja yang cukup potenisal. Lalu setelah di tahun 2000-2010, batik kemudian di produksi secara massal, industri batik mulai menampakkan eksistensinya dengan munculnya pengrajin muda dan mulai banyaknya industri-indsutri batik yang baru dibuka untuk meramaikan industri batik Lorog yang ada di Kecamatan Ngadirojo.

Ketersediaan modal merupakan salah satu faktor yang menyebabkan pasang surut industri batik tulis Lorog Pacitan. Pada awal berdirinya pengrajin industri batik hanya menggunakan modal dari tabungannya sendiri, akan tetapi seiring semakin berkembangnya usaha tren batik yang sedang meningkat, pengrajin bisa mendapatkan   pendanaan dari pinjaman bank. Sementara itu ditinjau dari segi administrasi, sistem administrasi pada industri-industri batik Lorog di Kecamatan Ngadirojo, Pacitan masih bersifat tradisional dilakukan secara sederhana dengan hanya melakukan pencatatan hasil pemasukan dan pengeluaran keuangan sendiri. Hal ini disebabkan sebagian besar industri belum memiliki struktur organisasi yang sudah tertata seperti adanya pimpinan, bagian administrasi, bagian produksi, dsb.

Salah satu kendala yang dialami pada industri batik Lorog ini adalah upaya promosi yang kurang dilakukan. Hal ini dikarenakan belum seluruh pengrajin dapat melakukan upaya promosi ke daerah-daerah lain di luar Kabupaten Pacitan. Kebanyakan pengrajin batik masih menggunakan motode getok tular atau dari mulut ke mulut. Sulitnya infrastruktur untuk menjangkau lokasi sentra batik Lorog yang terletak sekitar 40 km sebelah timur dari pusat Kota Pacitan juga mempengaruhi konsumen jika ingin langsung datang ke sentra batik Lorog di Kecamatan Ngadirojo, Pacitan. Selain upaya promosi yang minim dilakukan para pengrajin, kendala pemasaran ini menyebabkan batik Lorog belum mampu menjangkau pasar yang jauh lebih luas. Gedung galeri yang dulunya berfungsi untuk mempromosikan berbagai macam produk-produk unggulan di Kabupaten Pacitan sebagai tempat promosi dan sentra oleh-oleh khas Pacitan termasuk batik Lorog, tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Hal ini sangat disayangkan karena perhatian pemerintah yang kurang untuk melakukan upaya melestarikan produk-produk unggulan khas Kabupaten Pacitan.
——————————————————————————————-

Unduh dari:
AVATARA, e-Journal Pendidikan Sejarah 
Volume 3, No. 2,   Juli  2015

Suber Gambar: http://batiklorok.blogspot.co.id/

Batik Malangan

Sejarah batik ini belum diketahui secara pasti. namun sebenarnya sejak masa Kerajaan Singosari maupun Kerajaan Kanjuruhan, dimasa tersebut daerah Malang telah memiliki ciri khas batik. Batik Malang lebih tepatnya diawali sejak sebelum tahun 1900-an, yang menjadi patokan adalah saat upacara tradisional abad XIX. Di pedalaman Malang para pria dan wanitanya menggunakan batik khas Malangan, Batik tersebut selalu mempunyai motif Sidomukti Malang dengan hiasan kotak putih di tengah yang biasa disebut Modhang Koro. Motif ini dipakai sebagai udheng (ikat kepala laki-laki) dan sewek (kain panjang perempuan) dalam acara resmi untuk semua lapisan masyarakat.

Batik Malang biasa disebut Batik Malangan, batik Malang memang belum seterkenal batik daerah lain yang ada di Jawa Timur, namun keindahaan Batik Malang tidak kalah dengan daerah lain, baik dari corak batiknya sendiri yang khas dan unik, atau dari pewarnaannya. Dimasa kerajaan-kerajaan batik Malang memiliki motif-motif antara lain, Sawat Kembang Pring (motif bambu Jawa sakbarong), Dele Kecer (Kedelai tercecer) warna hijau-merah, batik-malang-motif-teratai-singokembang teratai singo (bunga teratai singa), kembang kopi (biji kopi terbelah) berwarna hitam, kembang Juwet (bunga juwet) warna biru-hijau, kembang tanjung (bunga tanjung, bulat tengah pinggir bergerigi) warna kuning-sawo matang, kembang jeruk (bunga jeruk) warna coklat, kembang manggar (kuncup bunga kelapa) warna putih-kuning, kembang mayang (bunga kelapa mekar), warna merah-kuning dan kembang padma (bunga teratai).

Batik Malangan belum begitu familiar bagi masyarakat, untuk mempertahankan warisan budaya ini. Selain mempertahankan motif batik ciri khas Malangan warisan leluhur,  pemerintah Malang bersama organisasi-organisasi terkait lainnya mengupayakan penggalian motif baru batik Malangan. Penggalian motif batik untuk menjadi ciri khas Malangan tersebut bisa didapat dari candi-candi peninggalan Kerajaan Kanjuruhan dari abad ketujuh. Salah satu motif yang menjadi ciri khas Malangan tersebut adalah motif bunga teratai. Batik Malangan memiliki tiga ciri pokok dan menjadi bagian dari tiga komponen pokok batik,

  • pertama motif dasarannya berupa motif candi badut. Dimana candi Badut merupakan peninggalan kerajaan Kanjuruhan pada 760 M.
  • kedua motifisen-isen, motif ini terdiri dari gambar Tugu Malang sebagai motif utama yang disampingnya terdapat rambut singa berwarna putih yangmerupakan lambang kabupaten Malang.
  • ketiga adalah motif hias batik ini sendiri, Di bagian ini terdapat bagian boket(hiasan pinggiran kain batik) untuk tumpal (isen-isenpada pinggiran kain) yang berisi tiga buah sulur bunga teratai yang berpola seperti rantai.

mlg-001-eBatik malangan juga memiliki motif unik yang khas yaitu motif Malang Kucecwara, motif ini memiliki filosofi yang mendalam yaitu terdapat simbol gambar Tugu Malang, Mahkota, Rumbai Singa, Bunga Teratai, Arca, dan Sulur-sulur serta isen isen belah ketupat.

 

  1. TUGU MALANG simbol kota Malang merupakan prasasti berdirinya kota tersebut. Juga sebagai perlambang keperkasaan dan ketegaran. Diharapkan pemakainya menjadi orang yang kuat dan tegar dalam menjalani kehidupan.
  2. MAHKOTA simbolisisasi Mahkota Raja Gajayana yang pernah membawa Malang mencapai puncak kejayaannya. Diharapkan pemakainya bisa mencapai puncak kejayaan dalam hidupnya.
  3. RUMBAI SINGA:  melambangkan ikon kota malang yang berjuluk SINGO EDAN, yang melambangkan semangat  yang menyala-nyala dan pantang menyerah. Diharapkan pemakainya juga senantiasa memiliki sifat yang demikian.
  4. BUNGA TERATAI salah stu simbol kota malang, yang melambangkan keindahan juga kesuburan. Pada cerita kuno, bunga teratai merupakan bunga tempat Dewa Wishnu, dewa pemelihata alam, bertahta. Diharapkan pemakainya senantiasa subur makmur dan terpelihara jiwa dan raganya.
  5. ARCA perlambang kekayaan khasanah Kota Malang yakni candi Singosari yang pernah menghantarkan Malang menjadi salah satu kekuatan dunia di Nusantara pada masa silam.Diharapkan, pemakainya senantiasa berjaya.
  6. SULUR-SULUR: simbol bahwa kehidupan itu akan terus berlangsung, tumbuh dan berkembang. Ada sulur yang terhenti sebagai simbol bahwa kehidupan tidak kekal, namun, sebelum terhenti ada sambungan berikutnya. Yang menunjukkan bahwa manusia itu akan musnah, namun akan selalu berganti generasi yang baru Diharapkan pemakainya senantiasa bisa introspeksi diri bahwa manusia itu makhluk yang fana.
  7. ISEN-ISEN BELAH KETUPAT simbol dari relief candi Badut yang merupakan salah satu khasanah kekayaan budaya Kabupaten Malang. Belah ketupat memberi makna, pengakuan bahwa manusia tidaklah sempurna, sehingga sangat tidak pantas untuk menyombongkan diri. Diharapkan pemakainya bisa senantiasa introspeksi diri.

Batik malangan motif Malang Kucecwara ini telah ada hak patennya sehingga tidak bisa sembarangan diperbanyak.

Kini motif batik malangan sudah beragam, pengrajin Batik Malang pun sangat kreatif, Di samping motif batik Malangan yang tradisional, dikenal pula motif batik Malangan yang kontemporer atau baik-batik kreasi baru.batik-malang-motif-malang-tugu

Seperti motif batik Malangan Tugu,

 

batik-malang-motif-bunga-terataimotif batik Malangan teratai,

 

 

motif batik Malangan singa, dan motif batik Malangan ulat bulu,

 

motifnya ulat bulu berada di atas daun, dilengkapi telur ulat.

ulat-bulu

Kesemuanya adalah motif batik kreasi baru yang masih ada penciptanya dengan penggunaan Warna Batik Malang yang pada umumnya menggunakan coklat, hitam, merah, putih, kuning, hijau, dan biru. Selain itu juga ada satu gambar burung dan juga kupu-kupu.

Sentra kerajinan Batik Malang berada di Keluraha Samaan, Kecamatan Klojen Kota Malang, Jawa Timur.

Sumber:
Yenny Eta Widyanti 
Perlindungan Hukum Atas Motif Batik Malangan Sebagai Warisan Budaya Bangsa
Fak. Hukum Universitas Brawijaya

BATIK JETIS SIDOARJO

sekar-jagad-sidoarjoSejarah Batik Sidoarjo

Batik Jetis Sidoarjo sudah dikenal sejak tahun 1675, dari tahun tersebut (1675) sampai sekarang keahlian batik yang diwariskan turun-temurun telah mencapai tujuh generasi. Batik Jetis Sidoarjo merupakan salah satu warisan budaya lokal (kearifan lokal) masyarakat Sidoarjo,  Batik Jetis Sidoarjo mempunyai sentra produksi kampung tua pengrajin batik yaitu kampung Jetis, di kampung jetis masih diproduksi batik tulis tradisional.

Sejarah Batik Jetis Sidoarjo, bermula dari seorang pendatang dari kerabat kerajaan yang bertempat tinggal di kampung Jetis, awalnya ia menyamar henjadi pedagang di pasar kaget yang berada di kampung jetis. Pria pendatang yang dikenal masyarakat jetis dengan panggilan Mbah Mulyadi, seorang yang sopan dan hormat pada semua orang dan taat beragama.

Beliau melakukan pendekatan dengan masyarakat kampung Jetis dengan mengajak sholat berjama’ah, mengajarkan Al-Qur’an. Mbah Mulyadi juga mendirikan masjid di daerah tersebut dan memberi nama masjid tersebut Masjid Jamik Al-Abror. Masjid ini didirikan pada tahun 1674, seiring perjalanan waktu penduduk sekitar masjid semua aktif menjalankan ibadah, maka daerah tersebut dinamakan desa  Pekauman, tempat bermukimnya para kaum (sebutan bagi pemeluk Agama Islam).

Selain tokoh masyarakat yang religious Mbah Mulyadi juga mengajarkan cara membatik, pada komunitas jama’ah masjid jamik, maka tidak salah bila Mbah Mulyadi ini merupakan pelopor pembuatan batik Jetis Sidoarjo. Komunitas jama’ah masjid jamik ini berkembang menjadi beberapa perkumpulan seperti perkumpulan pengajian, membuat hubungan persaudaraan antar para pengrajin batik semakin erat. Motif batik gadag merupakan wujud dari persatuan dan persaudaraan antar pengrajin batik Sidoarjo yang digambarkan dalam bentuk rangkaian bunga.

Seiring perjalanan waktu, perdagangan di pasar Jetis semakin ramai, banyak pedagang asal Madura yang menyukai batik tulis buatan warga Jetis, mereka sering memesan batik tulis dengan permintaan motif dan warna khusus khas Madura. Itulah sebabnya, batik tulis asal Jetis ini kemudian juga dikenal orang sebagai batik corak Madura.  Dengan semakin banyaknya yang membuka rumah produksi batik, maka pada tanggal 16 April 2008 Paguyuban Batik Sidoarjo (PBS) resmi berdiri, yang dipelopori kaum muda Kampung Jetis. Keadaan ini mendapat perhatian Bupati Sidoarjo waktu itu Drs. H. Win Hendrarso, M.Si. sebagai potensi daerah industri baru, karena Pasar Jetis dianggap sangat potensial untuk menjadi sebuah daerah industri baru. Akhirnya pada tanggal 3 Mei 2008 Bupati sidoarjo meresmikan Pasar Jetis sebagai daerah industri batik dan diberi nama “Kampoeng Batik Jetis”.

 Perkembangan Motif Batik Jetis Sidoarjo

Motif batik Jetis Sidoarjo mengalami perkembangan dari tahun 1980an motif-motif batik Jetis banyak bermunculan jenis dan warnanya sampai tahun 2010. Awalnya para pengrajin hanya mempunyai beberapa motif dasar saja tapi kini para pengrajin memiliki banyak motif yang beragam. Motif-motif yang ada pada tahun 1980an Dari segi warna, batik khas Sidoarjo tidak begitu mencolok dan cenderung berwarna gelap (cokelat) dan motifnya tidak ada yang memakai binatang.

Tahun 1675 batik Jetis Sidoarjo masih menggunakan warna dasar gelap yaitu coklat soga dan pola penggambarannya masih sederhana. Namun, karena konsumen kebanyakan masyarakat pesisir yang menyukai warna terang dan cerah, maka pengrajin batik Sidoarjo pun mengikuti permintaan tersebut. Maka muncul warna-warna mencolok seperti merah, biru, hitam dan sebagainya. Karena itulah, Sidoarjo juga terkenal dengan batik motif Madura. Motif yang ada pada tahun 1980an adalah Motif Beras Utah, Kembang Tebu, Kembang Bayem, dan Sekardangan.

Motif yang populer pada tahun 1980an adalah motif Beras Utah dan Kembang Tebu, motif ini merupakan visualisasi hasil bumi yang paling banyak di Sidoarjo, motif beras utah disajikan dengan serasi antara objek flora yang telah distilasi dengan isen-isen beras utah, tidak ada yang saling mendominasi. Ciri khas batik Jetis ditunjukkan dengan warna yang berani atau mencolok. Motif beras utah mempunyai banyak warna, lebih dari tiga warna yang digunakan. Biasanya pembatik menggunakan teknik colet (kuas) untuk membuat warna batik yang lebih bervariasi.  Motif beras utah adalah salah satu motif asli Sidoarjo, hal ini menunjukkan bahwa Sidoarjo adalah penghasil beras, dibuktikan dengan situs Candi Pari, dan tempat penggilingan padi dulu erada di jalan Gajah Mada (gedung Ramayana).

Motif-motif batik Jetis Sidoarjo pada tahun 1990an mulai berkembang, pengrajin dalam penciptaan batik motif batik lebih ditujukan kepada keindahan bentuk baku yang diarahkan pada pemenuhan selera pemakai (konsumen) yang berorientasi pada peningkatan produksi batik, sehingga motif batik lebih beragam. Motif-motif yang ada pada tahun 1990an adalah Motif Burung Cipret, Gedog, Tumpal, Kangkung, Mahkota, Sekarjagad, Sandang Pangan, Burung Nuri, Fajar Menyingsing, Merak, Merico Bolong, dan Rawan.  Motif yang paling populer pada tahun 1990an adalah motif Sekar Jagad (bunga dunia) yang mempunyai warna yang indah dan makna filosafis yang dalam. Motif Sekar Jagad mengandung makna kecantikan dan keindahan sehingga orang lain yang melihat akan terpesona. Motif “Sekar Jagad” [pola geometris berbentuk ceplok (hiasan bulat) berulang yang semuanya saling merapat] yang banyak berornamen bunga/tanaman, mencerminkan keragaman isi dunia (flora dan atau fauna) sebagai wujud ciptaan-Nya. Terdapat unsur pesan keragaman, keindahan, kedamaian, Jadi manusia mesti pandai bersyukur. Pola ceplok berulang-merapat yang isennya tak ada unsur bunga/tanaman (“Kar Jagad”), atau hanya berisen geometrik simbolik, mencerminkan keragaman pandangan di dunia. Jadi manusia mesti siap dan pandai menempatkan diri dalam berbagai pandangan/ perbedaan. Pola sekar jagad ini mengandung serangkaian ajaran yang diharapkan dapat membawa keselarasan dan keserasian di seluruh alam semesta.

Tahun 2000 hingga 2010 batik Jetis Sidoarjo memunculkan motif yang sudah sekian tahun menghilang dan kemudian menjadi trend lagi di pasaran. Tahun 2000an modifikasi-modifikasi motif-motif klasik bermunculan untuk dikenalkan lagi, tapi tidak semua perngrajin batik di Jetis memunculkan kembali motif-motif klasik yang dimodifikasi seperti motif sekarjagad yang dimodifikasi dengan latar belakang motif rawan engkok, dsb.   Ke-kreatifitasan pengrajin batik Jetis pada tahun 2000an diuji dengan banyaknya permintaan pasar yang menginginkan munculnya motif-motif baru. Namun pengrajin batik tidak mampu untuk memenuhinya, sehingga pengrajin hanya memodifikasi motif klasik hingga tampak seperti baru. Pangsa pasar batik sidoarjo pada tahun 2000an, banyak para pedagang dari Madura dan daerah sekitar Sidoarjo.  Batik Sidoarjo menjadi lebih dikenal karena pada tahun 2008 kampung Jetis diresmikan menjadi “kampoeng batik Jetis Sidoarjo”.

Pada tahun 2000an ini pengrajin batik jetis dituntut konsumen dengan karya-karya batik yang beraneka motif dan warna. Di tahun 2000an motifmotif yang bertemakan fauna seperti burung dan serangga menjadi popular. Beberapa motif-motif batik di  tahun 2000an hingga 2010 adalah Motif Kupu-kupu, Capung, Bola, Kipas, Bunga Rumput Laut, Manggis, Teratai, Bunga Tusuk Sate, Udang Bandeng, dan Burung Pelatuk.  Kini  motif batik Jetis mulai beragam, tidak hanya tentang flora dan fauna atau motif geometris, sudah mulai bermunculan motif yang benda-benda yang digunakan dalam keseharian sebagai sumber inspirasinya, seperti motif kipas. Motif kipas ini melambangkan keanggunan dan menjadi pilihan pada awal 2000an selain motif flora dan fauna, motif ini banyak disukai oleh konsumen yang berasal dari madura dan daerah-daerah pesisir lainnya.

Motif Batik Asli Batik Jetis Sidoarjo

Kini motif Asli batik jetis seperti motif beras utah, sekardangan, dan kembang tebu yang masih menggunakan warna gelap mulai tergeser. Namun tidak hilang begitu saja, hanya jika ada konsumen yang memesan motif tersebut maka pengrajin baru akan membuatnya. Sebagian pengrajin saja yang masih melestarikan motif-motif asli batik Jetis Sidoarjo.

Awal kemunculan batik Jetis Sidoarjo yang paling dikenal adalah batik motif sekardangan dan warnanya hanya berwarna coklat, biru tua, dan jingga tua. Awalnya tidak ada motif sekardangan menggunakan warna cerah tapi karena permintaan pasar/konsumen sehingga para pengrajin membuat warna yang cerah dan menyolok seperti merah, kuning, biru muda, merah muda, dan jingga.  Dengan memodifikasi beberapa motif dan warna batik maka akan lebih banyak mendatangkan konsumen. Untuk memenuhi permintaan pasar/konsumen para pengrajin batik Jetis Sidoarjo memilih untuk memodifikasi motif klasik dicampur dengan motif yang baru misalkan motif beras utah dihiasi dengan motif kipas.  Masih ada pengrajin batik yang melestarikan dan memperkenalkan motif asli Sidoarjo, dan banyak pihak yang menginginkan motif asli Jetis Sidoarjo dipertahankan, karena motif-motif itulah yang menjadi identitas dan sejarah dari kabupaten Sidoarjo tertuang.

SUMBER:

Sulistyowati Eka Wulandari, Imam As’ary , Yudi Prasetyo
Perkembangan motif batik jetis sidoarjo  dalam tinjauan sejarah
STKIP-PGRI Sidoarjo

Desty Qamariah1
PERKEMBANGAN MOTIF BATIK TULIS JETIS SIDOARJO
FIS UM; 2011