Cak dan Ning Sapaan Akrab Arek Suroboyo 

klu-banto015Cak dan Ning
Masyarakat Kota pahlawan Surabaya, memiliki panggilan akrab untuk laki-laki adalah: Cak dan untuk perempuan Ning. Cak berasal dari kata CACAK. Sehingga, panggilan Cak itu sama dengan abang, mas atau kakak laki-laki dan Ning untuk perempuan muda, bisa sebagai panggilan untuk kakak atau adik. Panggilan atau sapaan Cak, umumnya melekat pada tokoh dan sesepuh Surabaya.

Sapaan untuk anak perempuan atau kaum ibu, memang popular dengan Ning. Di kalangan ibu-ibu yang berada di perkampungan lama Surabaya, misalnya: Maspati, Bubutan, Kawatan, Blauran, Kranggan, Peneleh dan daerah lainnya, sapaan Ning masih sering terdengar. Tetapi di permukiman baru, jarang sapaan Ning ini dipergunakan. Panggilan atau sapaan mbak lebih melekat untuk perempuan muda. Untuk menggali dan memasyarakatkan tradisi, sapaan Cak dan Ning kembali dibangkitkan. Agar sapaan Cak dan Ning itu melekat dan bergengsi, sejak tahun 1981, di Surabaya diselenggarakan pemilihan putera-puteri duta wisata dengan nama “Pemilihan Cak dan Ning Surabaya”.

 Duta Wisata
Jawa timur yang terdiri dari 38 Kabupaten/ Kota  sangat kaya dengan budaya, di setiap daerah di jawa Timur ada bahasa panggil memanggil atau sapa menyapa yang cukup beragam. Di wilayah Jawa Timur istilah sebutan duta wisata itupun bergam. Kemudian, untuk memilih wakil Jawa Timur, istilahnya Pemilihan “Raka dan Raki”. Beberapa panggilan yang dipergunakan dalam kontes pemilihan duta wisata remaja Kabupaten/ Kota se Jawa Timur:

  1. Kabupaten Bangkalan Kacong-Jebbing,
  2. Kabupaten Banyuwangi Jebeng Thulik,
  3. Kota Batu Kangmas-Nimas
  4. Gresik Cak dan YUK,
  5. Lamongan Yak Dan Yuk ,
  6. Bojonegoro Kange dan Yune,
  7. Tuban Cung dan Dhuk,
  8. Sidoarjo Guk dan Yuk,
  9. Kabupaten Mojokerto Gus dan Yuk,
  10. Kota Mojokerto Gus dan Yuk,
  11. Jombang Guk dan Yuk,
  12. Kota Kediri Panji Galuh,
  13. Kabupaten Kediri Inu Kirana,
  14. Kabupaten Trenggalek Kakang Mbakyu,
  15. Kabupaten Tulungagung Kakang Mbakyu,
  16. Kabupaten Nganjuk kangmas Mbakyu,
  17. Kabupaten Madiun Kakang Mbakyu,
  18. Kota Madiun Kakang Mbakyu,
  19. Kabupaten Ponorogo Kakang Senduk,
  20. Kabupaten Pacitan Kethuk Kenang,
  21. Kabupaten Magetan Bagus Dyah,
  22. Kabupaten Ngawi Dimas Diajeng,
  23. Kabupaten Malang Joko Roro
  24. Kota Malang Kakang Mbakyu,
  25. Kabupaten Blitar Kangmas Diajeng,
  26. Kota Blitar Kangmas Diajeng,
  27. Kabupaten Pasuruan Cak Yuk,
  28. Kota Pasuruan Cak Yuk,
  29. Kabupaten Probolinggo Kakang dan Ayu,
  30. Kota Probolinggo Kang Yuk,
  31. Kabupaten Jember Gus dan Ning,
  32. Kabupaten Lumajang Cacak & Yuk,
  33. Kabupaten Bondowoso Kacong Jebbing,
  34. Kabupaten Situbondo Kakang Embug,
  35. Surabaya dengan Cak dan Ning,
  36. Kabupaten Pamekasan Kacong Cebbhing,
  37. Kabupaten Sampang Kacong Cebbing,
  38. Kabupaten Sumenep Kacong Cebbing,
  39. Provinsi Jawa timur Raka Raki

Pemilihan muda-mudi yang dikordinasikan Dinas Pariwisata daerah dengan predikat Cak dan Ning atau sejenisnya, tidak hanya mengandalkan tampan, gagah dan perkasa untuk laki-laki, kecantikan dan kemolekan tubuh untuk perempuan. Untuk menetapkan seorang yang berpredikat Cak dan Ning, misalnya, dia harus mempunyai kemampuan dalam bidang keilmuan, kecakapan, kualitas fisik dan kejiwaan. Artinya, ia harus pandai, cerdik dan trengginas. Dan yang cukup penting, ia menguasai budaya dan permasalahan daerah. Jadi, persyaratan untuk memperoleh predikat Cak dan Ning Surabaya, dia harus mampu menunjukkan kebolehannya dalam segala hal. Di samping gagah dan tampan untuk Cak, serta cantik dan molek untuk Ning, dia harus pintar. Harus tahu budaya asli Surabaya, lancar menggunakan dialek Suroboyoan, tahu sejarah atau seluk-beluk kelahiran kota sampai perkembangannya hingga sekarang.

Cak dan Ning, biasanya dinobatkan setiap peringatan hari jadi Surabaya, sekitar 31 Mei tiap tahun. Seorang Cak maupun Ning, harus mempersiapkan diri menjadi “alat” Pemerintah Kota Surabaya, terutama yang berhubungan dengan bidang keperiwisataan dan budaya. Di samping sebagai penerima tamu, juga harus mampu menjadi PR (public relation) atau Humas (Hubungan Masyarakat) Kota Surabaya, di luar pejabat resmi. Cak dan Ning, harus mampu tampil sebagai wakil anak muda pilihan dan menjadi teladan bagi muda-mudi lainnya. Sebagai PR, Cak dan Ning juga mempunyai kemampuan menggunakan bahasa asing, sebab tamu-tamu yang datang ke Surabaya, juga banyak yang dari mancanegara.

Busana Khas Cak

  • Cak merupakan sosok pemuda pria Surabaya yang ceplas ceplos sehingga lebih suka mengatakan sesuatu secara spontan dan penuh pertimbangan. Sosok Cak Surabaya adalah sosok pelindung dan memiliki loyalitas yang tinggi. Hal ini dapat kita lihat melalui kemanapun Ning pergi, Cak selalu mendampingi. Cak dan Ning mempunyai busana yang khas. Untuk Cak: berpakaian bentuk jas bertutup yang dikenal beskap, berukuran pas badan. Untuk pemilihan Cak, warnanya ditentukan warna muda: putih, krem atau putih tulang. Sedangkan untuk pekaian kebesaran digunakan warna coklat.
  • Beskap Cak lengkapnya memiliki warna putih gading menggunakan lima buah kancing tengah yang melambangkan kesucian, memiliki 5 kancing berwarna emas yang memiliki makna arek Surabaya selalu menjunjung tinggi rukun islam.
  • Sapu tangan merah bentuk segitiga ditempatkan di saku sebelah kiri atas beskap kebesaran. Sapu tangan ini melambangkan cak merupakan sosok yang penuh dengan loyalitas dan setia. Dari kantong awalnya digantung rantai jam dengan bandul akan tetapi karena terlalu berat maka diganti dengan kuku macan. hiasan taring Kuku macan sendiri memiliki makna kekuatan dan ketangkasan yang tak terbatas sehingga Cak menjadi pelindung yang tangguh dan dapat dihandalkan. Kuku Macan biasanya digantungkan pada kancing kedua dari kelima kancing baju beskap.
  • Bagian bawah jas mengenakan kain panjang wanita yang disebut “jarit parikesit” dengan gringsing (sogan)wiron lebar 5 centimeter. Jarik merupakan salah satu lambang dari keluwesan Jawa. Selain itu dalam bertindak arek Surabaya diharuskan untuk bisa bekerja seefektif dan seefisien mungkin tapi tetap tidak meninggalkan aturan dan norma yang ada. Namun kini diganti dengan celana panjang.
  • Kepala ditutup dengan udeng batik dengan hiasan pinggir modang putih, dan pocotmiring warna hitam tiga tingkat. Udeng adalah sejenis ikat kepala yang sudah dibentuk. Udeng ini memiliki makna bahwa udeng ini merupakan ciri khas dari Jawa Timur, bermotif batik dan memiliki pancot. Kini udeng diganti dengan kopiah atau songkok.
  • Alas kaki Cak, adalah sandal terompa. Terompah merupakan salah satu unsur baju kebesaran Cak Surabaya. Terompah adalah simbol kecerdasan, foundation, tempat berpijak, berpikir, termasuk kemudian simbol segala yang duniawi.

Busana Khas Ning Surabaya

  • Ning Surabaya mengenakan sanggul bentuk gelung rambut biasa, pakaiannya menggunakan kebaya dengan selendang atau kerudung yang diberi renda-renda, dibordir dengan  warna muda. Kebaya dan kerudung, warnanya sama. Kain kebaya tidak boleh tembus pandang, sehingga tidak memperlihatkan pakaian dalam. Lalu memakai peniti renteng.
  • Bagian bawahnya, busana Ning menggunakan kain sarung batik pesisir, kemiren harus terlihat dengan tumpal yang diletakkan di bagian depan.
  • Telinga dihiasi anting-anting panjang, kaki memakai binggel dan tanga memakai  gelang emas. Mata diberi celak, jari-jari diberi pacar (warna).
  • Alas kaki berupa selop bertutup depan, runcing dan tinggi minimal 7 sampai 9 centimeter.
  • Apabila terpilih sebagai juara Cak dan Ning, maupun wakil Cak dan wakil Ning, serta predikat lainnya, misalnya: Favorit atau Persahabatan, saat dinobatkan diberi selendang nama sesuai dengan predikat yang diraih.
  • Pakaian yang sudah dibakukan sebagai busana Cak dan Ning itu, sekarang juga dimasyarakatkan. Pada hari-hari tertentu, terutama pada resepsi perhelatan peringatan Hari Jadi Surabaya, pejabat dan undangan dianjurkan menggunakan busana Cak dan Ning tersebut. 84N70nulisDW

Berbagi Jenis Lurik Tuban

Di daerah Tuban terdapat beberapa jenis lurik dengan berbagai coraknya, yaitu lurik anaman wareg (anyaman polos – Gb.98a,b), lurik klontongan (Gb.99a,b,c,d), batik lurik (Gb.101-106), lurik pakan tambah- an, disebut dengan istilah lurik kembangan (Gb.l08-117d) dan lurik talenan (Gb.ll8a,b,).

 Lurik anaman wareg
98a-corak-tuwuh-tuluh-watu-tuban98b-corak-sleret-blungkon99a-lurik-klontongan-corak-tumbar-pecahAnaman wareg, bahasa Jawa yang berarti anyaman polos. Lurik anyaman polos, baik bercorak lajuran (garis-garis) maupun bercorak cacahan (kotak-kotak), di daerah ini dianggap kurang bergengsi, kecuali bebe­rapa corak yang mengandung makna sakral misalnya corak tuwuh/tuluh watu (Gb. 98a). Pada umumnya jenis lurik ini dipakai untuk bakal klambi, (bahan pakaian – baha­sa Jawa) yaitu untuk sruwal (celana), baju, selendang, lurik klontongan (bahan untuk batik lurik) dan untuk keperluan lainnya seperti kain kasur, kain bantal dan lain- lainnya.

Kapas yang warna aslinya krem kecoklatan, disebut dengan istilah kapas lawo (kelelawar) karena warnanya yang menye- rupai warna kelelawar, dahulu ditenun dengan anaman zvareg untuk berbagai keperluan antara lain untuk kain kasur, bantal dan lain-lain. Namun kini dengan berbagai modifikasi, baik tata warna maupun corak seperti corak sleret blungko (Gb.98b), dipakai untuk busana yang cukup mendapat pasaran.

Lurik klontongan
99b-lurik-klontongan-corak-galaran99c-lurik-klontongan-corak-jangan-menirKlontongan yang bermakna kekosonganji- wa dan badan. Lurik klontongan (Gb.99a,b, c,&) adalah lurik anyaman polos la tar putih dengan berbagai corak lajuran (garis-garis) atau cacahan (kotak-kotak) yang kebanyak- an berwarna hitam, 99c-lurik-klontongan-corak-jangan-menirmeskipun adakalanya yang berwarna merah. Dipakai sebagai ber­bagai bahan dasar untuk pembuatan batik lurik (Gb.101-106). Lurik klontongan diang- gap masih kosong atau hampa, belum mempunyai makna dan identitas, karena belum mempunyai corak, nama dan makna. Corak lurik klontongan tertentu diperuntukan bagi bahan dasar corak lurik batik tertentu pula.

Empatjenis lurik klontongan gambar 99a,b, c,d.:

Gambar 99a – untuk batik lurik corak
krompol (Gb.101). Gambar 99b – untuk batik lurik corak
galaran kembang (Gb. 107). Gambar 99c – untuk batik lurik corak cuken (Gb.102), kijing miring (Gb.103).
Gambar 99d – untuk batik lurik corak ksatrian (Gb.105).

Batik lurik
101-batik-lurik-corak-krompol100-sketsa-pembuatan-teknik-lurik102Batik lurik adalah lurik klontongan yang di- batik. Diperoleh dengan menutupi bagian- bagian tertentu yang berwarna putih dari sehelai lurik klontongan dengan malam, me- nurut berbagai bentuk corak geometris ter­tentu, yang terdiri dari titik-titik halus atau garis-garis lurus (lihat sketsa Gb.100). Sesu- dah dicelup dengan warna merah mengku- du atau biru indigo dan kemudian malam- nya dilorod (dibuang dengan jalan mere- bus dan/ atau dikerok), maka akan didapat batik lurik dengan berbagai corak seperti co­rak: krompol (Gb.101), cuken (Gb.102), kijing miring (Gb.103), surna (Gb.104), kesatrian (Gb.105), tutul bang (Gb.106) dan galaran kembang (Gb.107).

Lurik pakan tambahan/lurik kembangan
Berlainan dengan di daerah Solo/Yogya, di mana lurik pakan tambahan dapat di kata- kan tidak lazim, di daerah Tuban kain de­ngan tehnik pakan tambahan masih di ker- jakan, disebut dengan istilah lurik kembang­an pakan (Gb.108-117d). Di samping ini di- buat pula lurik dengan tehnik floating warp yang dinamakan lurik kembangan lungsi an- tara lain dengan corak ular giding (Gb.ll7a). Di daerah Tuban lurik pakan tambahan masih

dibuat karena masih diperlukan, dipakai untuk upacara setempat. Kemungkiriu teknik pakan tambahan adalah pengaruh dari luar, seperti dari Bali, Sulawesi Sela- tan, Kalimantan Selatan dan daerah Su­matra. Daerah-daerah tersebut di atas ini memang terkenal dengan seni budaya tek­nik pakan tambahan (songket) yang cukup tinggi. Pada masa lampau hubungan da- gang antar daerah ini dengan Tuban cu­kup tinggi, di mana interaksi kebudayaan terjadi.

  • Lurikkemitir (Gb.115) dibuat dengan teh- nik yang khas, dengan cara dan kiat ter- tentu sewaktu menghani benang.
  • Sehelai lurik kembangan dapat dipakai baik oleh orang berumur maupun orang muda, sisi kain yang berpenampilan ge- lap dipakai oleh orang berumur dan sisi sebaliknya yang terang dipakai oleh orang muda.
  • Antara lain lurik corak kembang polo dan kembang pepe merupakan lurik dengan istilah kain simpenan yaitu disimpan sebagai kain pusaka.
  • Beberapa corak lurik kembangan yang masih dibuat antara lain: krompol (Gb.108), cuken (Gb.109), kembang pepe (Gb.110), kembang polo (Gb.Ill), laler menclok (Gb.112), bulu rambatpotong inten (Gb.113), corak kembang jati (Gb.114), kemintir/gemintir (Gb.115), bolongbuntu (Gb.116), ularguling ( (Gb. 117a), kembang manggar (Gb. 117b), ‘ intipyan (Gb.ll7c), batu rantai (Gb.ll7d).

Lurik talenan  
103104Lurik talenan dari perkataan ditali/ diikat, adalah lurik corak lajuran dan kotak-kotak ; di mana di antara benang-benang lungsi dan/ atau benang pakannya terdapat be- ; nang-benang ikat yang sangat sederhana. I Benang-benang ikat ini 105106bercorak garis-garis I pendek yang terputus-putus, dengan war- | na putih dan biru indigo. Kain lurik yang mempunyai benang ikat ini disebut dengan istilah talenan. Antara lain terdapat lurik dengan corak sleret talenan (Gb. 118a), di mana hanya 107108pada benang lungsinya saja terdapat benang ikat, yang umumnya di- peruntukkan bagi kaum pria. Lurik yang berpenampilan garis-garis terputus-putus baik ke arah vertikal (lungsi), maupun ke arah horisontal (pakan) yang disebabkan oleh 109benang ikat pada pakan maupun lungsinya, disebut dengan istilah lurik talenan/kentol (Gb.ll8b) dipakai oleh pria dan wanita. Kaum pria ada yang menamakan lurik talenan dengan sebutan lurik kentol.

Lurik usik
110111112-113-114Kain lurik usik adalah lurik yang benang pakannya terdiri dari benang tamparan istilah Tuban untuk benang plintir, (Gb.42), yang menjadikan lurik ini sangat kuat dan lurik-tuban0002lurik-tuban0003tebal. Karena itu umumnya kain usik dipa­kai untuk bekerja di ladang oleh kaum pria. Antara lain terdapat kain usik dengan nama Semarmendem (Gb.U9a). Semar (Gb.ll9b) adalah seorang dewa yang arif bijaksana, cerdas, berbudi luhur, berjiwa pengasuh dan pelindung serta mendambakan agar manusia berada dalam keadaan suasana sejahtera, damai dan terhindar dari segala macam musibah. Mendem yang arti harfiahnya mabuk, namun di sini kiasannya ada­lah sedemikian hanyutnya, gandrungnya Semar akan keselamatan, kesejahteraan dan kedamaian manusia. Salah satu penganan di Jawa Tengah ada yang dinama- kan Semar mendem yang menurut mereka bercita rasa sangat lezat menghanyutkan.

lurik-tuban0004lurik-tuban0005Di daerah Tuban benang tamparan tidak dipergunakan untuk memperkuat pinggiran kain, untuk itu mereka memasukkan dua helai benang di satu lobang sisir di bagian pinggiran kain. Pemakaian benang plintir disisipkan di antara benang pakan, dengan effek yang menarik seperti pada lurikpalen (Gb.59).

 

 

 

 

 

 

—————————————————————————————Lurik; Garis- garis bertuah Nian S. Djoemena,
Jakarrta: Djambatan, 2000
hlm.: 99-111

Lurik Tuban

96Sesungguhnya Tuban pada masa lampau, antara abad ke-XII-XVI pernah i berjaya, diperintah para adipati yang berada di bawah kekuasaan kerajaan Hindu Mojopahit (Abad ke-XIII-XV). Sejarah  Tuban mencatat bahwa sejak permulaan abad ke-XII Tuban sudah merupakan kota pelabuhan yang ramai disinggahi oleh berbagai kapal asing, antara lain oleh kapal – kapal dari Persia, India dan Cina, untuk mengadakan perdagangan tukar menukar.

Permulaan abad ke-XV seorang jendral dari negeri Cina bernama Cheng Ho yang beragama Islam mendarat di Tuban, diutus dengan tujuan untuk menguasai per­dagangan di kota-kota pesisir Jawa, seperti Semarang, Jepara, Rembang, Lasem dan Tuban. Nama panggilan setempat untuk Cheng Ho adalah Dampo Awang yang kuburannya masih dapat dilihat di daerah ini.

Sejak abad ke-XV kerajaan Islam Demak (± tahun 1400-1568) memegang peranan di sepanjang pesisir, karena itu kedatangan seorang jendral Islam nampaknya ditolerir, terbukti dengan banyaknya rumah khas arsitektur Cina di sepanjang pantai utara pulau Jawa.

Para pendatang ini membawa serta bermacam-macam barang kerajinan mereka masing-masing: kain Gujarat (patola) dan kain Coromandel (chintz) dari India, barang-barang keramik dan sutera dari Cina. Barang-barang tersebut dipertukarkan terutama dengan rempah-rempah, seperti:

pala, cengkeh, kayu cendana dari Indone­sia Bagian Timur (Ambon, Banda, Timor, dan lain-lain) serta lada, kapur barus, ka­yu manis dan hasil bumi lainnya antara la­in dari Sumatra dan Kalimantan.

Pada tahun ± 1513 orang Portugis dan kemudian pada ± tahun 1599 orang Belanda datang pula untuk berdagang rempah- rempah dan hasil bumi. Maka semakin ra- mai dan sibuk jualah pelabuhan Tuban, yang sekaligus menjadikan daerah ini makmur dan dikenal.

9495-97a-97bSementara itu kerajaan Hindu Mojopahit mulai abad ke-XV mengalami kemunduran, sedangkan kerajaan Islam Mataram yang didirikan Penembahan Senopati pa­da tahun 1586, mencapai kejayaannya di bawah pimpinan Sultan Agung (tahun 1613-1645). Setelah menaklukan Mojopahit dan menguasai daerah-daerah perdagangan di pesisir utara pulau Jawa, termasuk Tuban, akhirnya diperintah oleh bupati kerajaan Mataram.

Belanda dengan VOC-nya setelah Tu­ban dikuasai oleh bupati kerajaan Islam Mataram, mengalihkan usaha perdagangannya ke Batavia (Jakarta sekarang).

Selanjutnya VOC berhubungan langsung dengan daerah-daerah penghasil rempah-rempah di Indonesia Bagian Ti­mur. Dengan berkurangnya kedatangan baik berbagai kapal asing maupun kapal- kapal daerah yang membawa berbagai rempah- rempah dan hasil bumi untuk dipertukarkan atau diperjual belikan, menja­dikan pelabuhan Tuban sepi dan tak berarti lagi. Dampak dari keadaan ini Tuban tidak lagi mengecap kemakmuran seperti sediakala dan akhirnya dilupakan orang.

Beberapa pendapat mengatakan, di Indo­nesia penanaman kapas/katun serta pekerjaan menenun sudah dikenal sejak awal abad Masehi dan kain lurik sudah dikenal masyarakat Jawa sebelum abad ke-XIV.

Dalam salah satu prasasti disebutkan telah ada benang (tukel) yang dicelup warna biru tarum (indigo) dan merah mengkudu (morinda citri) yang diperdagangkan.

Daratan Tuban yang merupakan daerah kurang subur ternyata cocok untuk ditanami kapas, yang oleh masyarakatnya diolah menjadi kain dengan selera dan gaya setempat, serta mempunyai keunikan tersendiri. Karena kekhasan kain Tuban inilah, daerah Tuban buat sementara orang masih dikenal.

Pembuatan sehelai kain di daerah Tuban sampai saat ini masih dikerjakan secara swa-sembada, dimulai dengan bertanam kapas oleh kaum pria. Pekerjaan selanjutnya, yaitu memetik bunga kapas, memintal, menenun, membuat pewarna, mencelup benang atau kain dan pemasarannya dilakukan oleh para wanita. Warna asli serat kapas di daerah ini di samping yang berwarna putih ada pula yang berwar­na krem kecoklatan, yang setelah di tenun mempuyai keunikan tersendiri.

Membuat pewarna dan mencelup indi­go dianggap pekerjaan sakral, karena itu orang tertentu saja yang boleh mengerjakannya, yaitu orang yang berwibawa dan yang sudah mantap serta sudah berumur. Pada umumnya orang yang terpilih adalah para istri pemuka agama (istilah setempat modin). Pencelupan dikerjakan oleh kaum wanita, bahkan dianggap tabu bagi kaum pria, karena akan mendatangkan berbagai jenis bala bagi mereka. Umumnya tanaman tarum/indigo ditanam mereka di pekarangan rumah masing-masing, kadangkala terlihat pula tanaman kapas.

Jenis-jenis kain yang dibuat adalah kain batik dan kain lurik. Pada umumnya berba­gai jenis kain ini untuk pemakaian setem­pat, meskipun akhir-akhir ini telah mendapat pasaran di luar daerah Tuban. Ada yang dibuat untuk taplak meja, plate mats, tas, bahkan berbagai busana seperti rompi, kemeja, jas dan berbagai jenis cindera mata lainnya.

Sebagaimana telah diungkapkan terdahulu dalam tulisan ini, di masa lampau di berbagai daerah sepanjang pesisir Jawa, mulai dari daerah Pekalongan sampai dae­rah Gresik, di samping membuat lurik anyaman polos, di beberapa daerah dibuat pula lurik dengan pakan tambahan. Saat ini yang masih membuat lurik anyaman po­los maupun lurik pakan tambahan dapat dikatakan hanya di daerah Tuban. Di dae­rah pesisir lainnya bertenun lurik sudah dapat dikatakan punah, dikarenakan pada umumnya daerah-daerah tersebut menga- lihkan kegiatannya ke berbagai bidang lain, yang dewasa lebih menguntungkan.

Di daerah Tuban pekerjaan lurik pakan tambahan sudah mulai langka, karena dalih-dalih yang pada umumnya juga terdapat pada daerah-daerah lainnya, yaitu tidak adanya minat dari generasi penerus untuk yang mereka anggap sudah kuno serta harga jual yang tidak seimbang de­ngan pekerjaannya. Banyak pula dari ge­nerasi muda ini sekarang meneruskan sekolahnya ke sekolah lanjutan dengan harapan masa depan yang lebih baik.

Di samping itu tradisi dan selera pemakainya telah bergeser; konsumsi yang tadinya bersifat setempat, semakin bertambah terbatas disebabkan harga yang buat rakyat setempat dinilai cukup tinggi, maka kain ini sekarang tidak merupakan pakaian sehari-hari lagi, terdesak oleh kain buatan pabrik yang lebih murah dan bervariasi.

Sampai di mana pembuatan lurik Tu­ban dan batik Tuban akan bertahan, mengingat berbagai kendala yang telah disebut di atas hanya sejarahlah yang akan membuktikan. Dalam hal ini terutama pelestarian seni budaya kain Tuban tradisional yang akan turut menentukan.

Bukit-bukit kapur yang banyak terdapat di daerah ini telah berakibat didirikannya oleh pemerintah pabrik semen, yang memang dibutuhkan untuk pembangunan negara. Tentunya sudah dapat diperkirakan proyek ini akan banyak menyerap tenaga muda setempat. Dengan terciptanya kesempatan yang baru ini, yang menurut mereka lebih menarik, sudah dapat diduga bahwa hal akan mempunyai dampak terhadap kerajinan rakyat tradisional pada umumnya, dan khususnya kain lurik dan batik Tuban. Oleh karena itu sebagai warisan budaya bangsa, pelestariannya harus dilaksanakan.

 
—————————————————————————————Lurik; Garis- garis bertuah Nian S. Djoemena,
Jakarrta: Djambatan, 2000
hlm.: 94-99

Lurik Tuban

96Sesungguhnya Tuban pada masa lampau, antara abad ke-XII-XVI pernah i berjaya, diperintah para adipati yang berada di bawah kekuasaan kerajaan Hindu Mojopahit (Abad ke-XIII-XV). Sejarah  Tuban mencatat bahwa sejak permulaan abad ke-XII Tuban sudah merupakan kota pelabuhan yang ramai disinggahi oleh berbagai kapal asing, antara lain oleh kapal – kapal dari Persia, India dan Cina, untuk mengadakan perdagangan tukar menukar.

Permulaan abad ke-XV seorang jendral dari negeri Cina bernama Cheng Ho yang beragama Islam mendarat di Tuban, diutus dengan tujuan untuk menguasai per­dagangan di kota-kota pesisir Jawa, seperti Semarang, Jepara, Rembang, Lasem dan Tuban. Nama panggilan setempat untuk Cheng Ho adalah Dampo Awang yang kuburannya masih dapat dilihat di daerah ini.

Sejak abad ke-XV kerajaan Islam Demak (± tahun 1400-1568) memegang peranan di sepanjang pesisir, karena itu kedatangan seorang jendral Islam nampaknya ditolerir, terbukti dengan banyaknya rumah khas arsitektur Cina di sepanjang pantai utara pulau Jawa.

Para pendatang ini membawa serta bermacam-macam barang kerajinan mereka masing-masing: kain Gujarat (patola) dan kain Coromandel (chintz) dari India, barang-barang keramik dan sutera dari Cina. Barang-barang tersebut dipertukarkan terutama dengan rempah-rempah, seperti:

pala, cengkeh, kayu cendana dari Indone­sia Bagian Timur (Ambon, Banda, Timor, dan lain-lain) serta lada, kapur barus, ka­yu manis dan hasil bumi lainnya antara la­in dari Sumatra dan Kalimantan.

Pada tahun ± 1513 orang Portugis dan kemudian pada ± tahun 1599 orang Belanda datang pula untuk berdagang rempah- rempah dan hasil bumi. Maka semakin ra- mai dan sibuk jualah pelabuhan Tuban, yang sekaligus menjadikan daerah ini makmur dan dikenal.

9495-97a-97bSementara itu kerajaan Hindu Mojopahit mulai abad ke-XV mengalami kemunduran, sedangkan kerajaan Islam Mataram yang didirikan Penembahan Senopati pa­da tahun 1586, mencapai kejayaannya di bawah pimpinan Sultan Agung (tahun 1613-1645). Setelah menaklukan Mojopahit dan menguasai daerah-daerah perdagangan di pesisir utara pulau Jawa, termasuk Tuban, akhirnya diperintah oleh bupati kerajaan Mataram.

Belanda dengan VOC-nya setelah Tu­ban dikuasai oleh bupati kerajaan Islam Mataram, mengalihkan usaha perdagangannya ke Batavia (Jakarta sekarang).

Selanjutnya VOC berhubungan langsung dengan daerah-daerah penghasil rempah-rempah di Indonesia Bagian Ti­mur. Dengan berkurangnya kedatangan baik berbagai kapal asing maupun kapal- kapal daerah yang membawa berbagai rempah- rempah dan hasil bumi untuk dipertukarkan atau diperjual belikan, menja­dikan pelabuhan Tuban sepi dan tak berarti lagi. Dampak dari keadaan ini Tuban tidak lagi mengecap kemakmuran seperti sediakala dan akhirnya dilupakan orang.

Beberapa pendapat mengatakan, di Indo­nesia penanaman kapas/katun serta pekerjaan menenun sudah dikenal sejak awal abad Masehi dan kain lurik sudah dikenal masyarakat Jawa sebelum abad ke-XIV.

Dalam salah satu prasasti disebutkan telah ada benang (tukel) yang dicelup warna biru tarum (indigo) dan merah mengkudu (morinda citri) yang diperdagangkan.

Daratan Tuban yang merupakan daerah kurang subur ternyata cocok untuk ditanami kapas, yang oleh masyarakatnya diolah menjadi kain dengan selera dan gaya setempat, serta mempunyai keunikan tersendiri. Karena kekhasan kain Tuban inilah, daerah Tuban buat sementara orang masih dikenal.

Pembuatan sehelai kain di daerah Tuban sampai saat ini masih dikerjakan secara swa-sembada, dimulai dengan bertanam kapas oleh kaum pria. Pekerjaan selanjutnya, yaitu memetik bunga kapas, memintal, menenun, membuat pewarna, mencelup benang atau kain dan pemasarannya dilakukan oleh para wanita. Warna asli serat kapas di daerah ini di samping yang berwarna putih ada pula yang berwar­na krem kecoklatan, yang setelah di tenun mempuyai keunikan tersendiri.

Membuat pewarna dan mencelup indi­go dianggap pekerjaan sakral, karena itu orang tertentu saja yang boleh mengerjakannya, yaitu orang yang berwibawa dan yang sudah mantap serta sudah berumur. Pada umumnya orang yang terpilih adalah para istri pemuka agama (istilah setempat modin). Pencelupan dikerjakan oleh kaum wanita, bahkan dianggap tabu bagi kaum pria, karena akan mendatangkan berbagai jenis bala bagi mereka. Umumnya tanaman tarum/indigo ditanam mereka di pekarangan rumah masing-masing, kadangkala terlihat pula tanaman kapas.

Jenis-jenis kain yang dibuat adalah kain batik dan kain lurik. Pada umumnya berba­gai jenis kain ini untuk pemakaian setem­pat, meskipun akhir-akhir ini telah mendapat pasaran di luar daerah Tuban. Ada yang dibuat untuk taplak meja, plate mats, tas, bahkan berbagai busana seperti rompi, kemeja, jas dan berbagai jenis cindera mata lainnya.

Sebagaimana telah diungkapkan terdahulu dalam tulisan ini, di masa lampau di berbagai daerah sepanjang pesisir Jawa, mulai dari daerah Pekalongan sampai dae­rah Gresik, di samping membuat lurik anyaman polos, di beberapa daerah dibuat pula lurik dengan pakan tambahan. Saat ini yang masih membuat lurik anyaman po­los maupun lurik pakan tambahan dapat dikatakan hanya di daerah Tuban. Di dae­rah pesisir lainnya bertenun lurik sudah dapat dikatakan punah, dikarenakan pada umumnya daerah-daerah tersebut menga- lihkan kegiatannya ke berbagai bidang lain, yang dewasa lebih menguntungkan.

Di daerah Tuban pekerjaan lurik pakan tambahan sudah mulai langka, karena dalih-dalih yang pada umumnya juga terdapat pada daerah-daerah lainnya, yaitu tidak adanya minat dari generasi penerus untuk yang mereka anggap sudah kuno serta harga jual yang tidak seimbang de­ngan pekerjaannya. Banyak pula dari ge­nerasi muda ini sekarang meneruskan sekolahnya ke sekolah lanjutan dengan harapan masa depan yang lebih baik.

Di samping itu tradisi dan selera pemakainya telah bergeser; konsumsi yang tadinya bersifat setempat, semakin bertambah terbatas disebabkan harga yang buat rakyat setempat dinilai cukup tinggi, maka kain ini sekarang tidak merupakan pakaian sehari-hari lagi, terdesak oleh kain buatan pabrik yang lebih murah dan bervariasi.

Sampai di mana pembuatan lurik Tu­ban dan batik Tuban akan bertahan, mengingat berbagai kendala yang telah disebut di atas hanya sejarahlah yang akan membuktikan. Dalam hal ini terutama pelestarian seni budaya kain Tuban tradisional yang akan turut menentukan.

Bukit-bukit kapur yang banyak terdapat di daerah ini telah berakibat didirikannya oleh pemerintah pabrik semen, yang memang dibutuhkan untuk pembangunan negara. Tentunya sudah dapat diperkirakan proyek ini akan banyak menyerap tenaga muda setempat. Dengan terciptanya kesempatan yang baru ini, yang menurut mereka lebih menarik, sudah dapat diduga bahwa hal akan mempunyai dampak terhadap kerajinan rakyat tradisional pada umumnya, dan khususnya kain lurik dan batik Tuban. Oleh karena itu sebagai warisan budaya bangsa, pelestariannya harus dilaksanakan.

 
—————————————————————————————Lurik; Garis- garis bertuah Nian S. Djoemena,
Jakarrta: Djambatan, 2000
hlm.: 94-99