Dramatari dan Tayub dari Kabupaten Nganjuk

 

Dramatari dan Tayub dari Nganjuk

Sejarah Dramatari “Kidung Argojali”

              Dramatari “Kidung Argojali” berkisah mengenai Tumenggung Nadirto bersama para pengikutnya yang melakukan perlawanan terhadap Belanda. Hal ini dilakukan akibat perjanjian Giyanti yang memecah belah kekuatan Mataram menjadi dua. Tumenggung Nadirto kemudian mendirikan sebuah padepokan di Argojali sebagai tempat berlatih dan menggembleng diri para santri dan prajurit. Mereka menerima wejangan serta latihan ilmu kanuragan dari para kyai dan sesepuh.

              Terletak di daerah wilayah lereng Gunung Wilis di Dusun Salam Judeg, Desa Blongko Kecamatan Ngetos Kabupaten Nganjuk ini merupakan tempat yang dianggap sacral karena memiliki yoni yang kuat untuk kegiatan meditasi atau tafakur sebagai upaya mendekatkan diri kepada Tuhan YME.

              Tema Argojali Sering Disuguhkan Dalam Bentuk Lagu

              Tema Argojali itu pula yang di suguhkan dalam bentuk lagu daerah yang disajikan, disamping persembahan tari “Momor Sambu” yang berkisah mengenai penyamaran Prajurit Diponegoro yang menyatu dengan rakyat jelata dengan penuh semangat. Makna kata Momor adalah Menyatu, sedangkan Sambu berarti menyamar.

              Tayub adalah Sejenis Tari Pergaulan

              Tayub adalah sejenis tari pergaulan, dimana para pengunjung dapat terlibat aktif menjadi Penayub yang menari bersama Waranggana. Interaksi penari Waranggana inilah yang berkonotasi mesum karena pihak Penayub memberikan saweran (uang) dengan cara memasukkannya ke sela sela beha Waranggana. Sementara itu suasana Langen Tayub juga identik dengan minuman keras dan mabuk-mabukan sehingga sering menimbulkan kerusuhan, tapi itu dulu. Karena itulah pemerintah berkepentingan mengembalikan citra Tayub bukan lagi berkonotasi mesum dan mabuk-mabukkan. Tayub adalah kesenian rakyat yang harus di pertahankan keberadaannya di tengah masyarakat tanpa harus terjerumus ke dalam citra negative. Salah satu caranya adalah membentuk organisasi yang bernama Hiprawarpala (Himpunan Pramugari, Waranggana dan Pengrawit Langen Tayub).

              Setiap tahun diadakan Lomba Tayub antar kecamatan, Gembyangan dan Wisuda Waranggana yang terjadi di Nganjuk dalam 3 (tiga) tahun terakhir. Pendidikan untuk waranggana juga masih terus berlangsung dengan cara nyantrik pada Waranggana Senior, meskipun pendidikan Tayub (semacam kursus) di padepokan Desa Ngrajek memang sudah tidak ada lagi. Ritual Gembyangan dan wisuda siraman di lokasi air terjun sedudo sudah menjadi atraksi. Menurut Winarto (58 tahun), mantan Staf Kebudayaan di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Nganjuk, kebudayaan Tayub di Nganjuk masih tetap terjaga dan masih tetap di gemari oleh masyarakat, khususnya Nganjuk. Setiap Kecamatan (ada 20 kecamatan di Nganjuk) selalu memiliki grup Tayub, regenerasi Waranggana masih berlangsung secara alami. “Setahun terakhir ini ada 6 Waranggana yang nyantrik dan setiap tahun ada 10-15 yang diwisuda, “ujar Winarto yang sudah purna tugas dari PNS 2 (dua) tahun terakhir lalu.

              Yang Membedakan Tayub Nganjuk Dengan Daerah Lainnya

              Yang membedakan Tayub Nganjuk dengan daerah lainnya, kata Winarto terletak pada ukelan kendangnya. Disamping itu juga penyajian gending tidak terpaku pada gending-gending baku. Penayub bebas memesan gending yang di sukai, termasuk lagu-lagu dangdut yang sudah di gubah dalam irama Campursarian. Dengan catatan, permintaan lagu atau gending tersebut baru boleh dilakukan setelah gending sebelumnya sudah selesai dibawakan dan juga masih dibanggakan Tayub Nganjuk, bahwa regenerasi Waranggana berlangsung bagus yaitu melalui tradisi ngunthulan.

              Yang masih menjadi tantangan dalam pembinaan Tayub di Nganjuk, menurut Winarto, adalah masih ada Waranggana yang datang ke acara Gebyak Tayub padahal mereka tidak di undang. Motivasinya, untuk mencari saweran, alasannya karena diajak penayub. Hal ini merusak tatanan. Soal mabuk mabukan, menurut Hiprawarpala sudah bekerjasama dengan pihak Kepolisian untuk mengawasinya, itu juga tergantung pada yang punya hajat. Ada juga yang disebut Tayub Padang Bulan, dimana diterapkan aturan dilarang keras dalam acara Tayuban dibarengi minum minuman keras, giliran njoged harus diatur, kalau hendak ganti gending harus tombok, dan Pramugari harus mengendalikan semua proses yang berlangsung selama tayuban.

Sumber : Majalah Seni Budaya Jawa Timur. Cak Durasim, Edisi Maret 2017 [10;12]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *