Kerajinan Kayu Jati Bojonegoro, Produk Asli Berlabel Daerah Lain

BAHKAN kerajinan kayu jati Bojonegoro sudah banyak yang dipasarkan di Jogjakarta, Jepara, dan Bali tanpa merek. Kemudian di sana dijual lagi, dengan label yang berbeda-beda, sesuai daerah pembelinya. Itu tentu ada untung dan ruginya bagi perajin Bojonegoro.

“Orang Jogja, Bali, dan Jepara nggak punya produk kami. Mereka mengambil tanpa merek, kemudian dipasarkan di sana dengan mereknya sendiri. Nggak masalah, yang penting pemasaran kami lancar,” kata Pak Nuri (49), pengelola UD Nukida Jati di Jl Rajawali RT 21 Bandar, Desa Batokan, Kec. Kasiman, Bojonegoro.

Hal yang sama dikatakan M Said Efendi (32), pemilik UD Gallery Pesona Jati. Dia menyediakan aneka kerajinan kayu jati, khususnya bubut kayu jati, suvenir, hingga furnitur dan mebel. Ada t e m p a t payung, tempat gelas air miner­al, vas bunga, berbagai miniatur. Perajin hampir satu kampung. “Desa kami sentra industri, dan ada show­room-showroom. Pengepulnya setiap UD,” ujarnya. Kendalanya masalah pemasaran,  biasanya menunggu pembeli. Maskunadi Winarno (42), dari UD Kondang Jati, menampung produksi perajin. Soal desain selalu ada inovasi-inovasi. “Cuma kebanyakan menyesuaikan permintaan kastemer,” kata Maskun. UD Kondang Jati yang paling murah Rp 20 ribu, paling mahal satu set meja Rp 2juta.

Mengenai pemasaran difasilitasi Dinas Pariwisata. Kecuali itu, perajin pernah mendapat bantuan mesin bubut untuk satu kelompok. Maskun berharap bisa diajak pameran yang lebih luas, misalnya ke luar pulau, termasuk ke Jakarta, atau pameran internasional. “Tetapi yang lebih penting, nggak usah muluk-muluk, kami ingin desa kami bisa menjadi desa wisata,” ujarnya.

Ditambahkan, produknya tidak ada yang pakai label. Yang jalan itu Jogja, Jakarta, Jepara, dan Bali. “Merfeka pakai barang kami yang kita kirim ke sana. Kami ‘kan butuhnya produk laku, bisa menghasilkan. Pakai merek kalau tidak bisa dijual ya repot,” ujarnya. Suka duka pemilik UD terkait hubungan dengan perajin relatif sama. Kendalanya para perajin lebih suka membuat kera­jinan yang sudah biasa mereka buat. Un­tuk meningkatkan SDM dinas terkait beberapa kali mengadakan pelatihan.

Seperti diketahui, produk kerajinan kayu jati sementara ini cuma home industry. “Setiap rumah membuat produk kerajinan, saya yang menampung,” ujarnya. Mitra kerjanya sekitar 200-an. Produknya kerajinan bubut hingga kerajinan tangan.

Produk UD Nukida Jati mulai tempat membaca Al Quran kecil Rp 35ribu, yang tanggung Rp 45 ribu dan besar Rp Rp 75 ribu Tempat gelas air mineral Rp 75 ribu, bergantung tingkat kesulitan. Bahan ada yang dia siapkan, ada yang minta semacam uang muka untuk beli bahannya, baru dikerjakan. Produksinya seminggu seratus atau 200 jenis kerajinan. “Pa­ling tidak dalam seminggu perajin saya bisa setor kerajinan 200-an,” ujarnya.

 

Produk kerajinan Bojonegoro tak hanya dari bahan jati, karena ada juga yang berbahan dasar bambu. Sudah empat bulan ini, satu keluarga di Desa Sugihwaras, Kec Ngaho, membuat handicraft dari bambu. Mohamad Jasmari (23), yang dipanggil Mamad dari NETC (Ngraho Education and Tourism Cen­ter), menyatakan, awalnya Kantor Kecamatan Ngraho, mengadakan kegiatan pelatihan mem­buat kerajinan bambu. Ternyata ada satu keluarga yang keterusan membuat suvenir bambu, sebagai mata pencahariannya.

Mamad berharap langkah satu KK tadi bisa diikuti warga lainnya. Sedangkan pemasaran kerajinan bambu tembus hingga Sumatera dan Bali. “Tetapi yang membawa ke sana masih orang desa itu sendiri,” ujarnya. (eru)

 Sumber :    Dinukil dari Majalah Derap Desa, Edisi 133, November 2018 hal. 32-33

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *