Memburu Manisnya DUKU REJOSO, Kab. Pasuruan

Kendati ukurannya kecil namun duku merupakan buah yang memiliki banyak manfaat dan penggemar. Perpaduan rasanya yang manis dan sedikit asam membuat buah itu banyak yang suka. Pangsa pasar yang cukup baik, membuat Kecamatan Rejoso, Kab. Pasuruan membudidayakannya.

TANAMAN duku umumnya bisa tumbuh di daerah yang curah hujannya tinggi dan merata sepanjang tahun. Tanaman duku tumbuh secara optimal di daerah dengan iklim basah sampai agak basah yang bercurah hujan antara 1500-2500 mm/tahun.

Itu akan lebih optimal jika ditambah dengan intensitas cahaya matahari yang tinggi. Tanaman du­ku dapat tumbuh subur jika terletak di suatu daerah dengan suhu rata-rata 19 derajat C. Kelembaban udara tinggi juga dapat mempercepat pertumbuhan tanaman duku, sebaliknya kelembaban udara rendah dapat menghambat pertumbuhannya.

Rejoso merupakan salah satu daerah.yang me­miliki karakteristik cocok untuk tumbuh kembang buah duku. Peluang agrobis itu tidak disia-siakan masyarakat. Dinamakan Duku Rejoso, karena hampir seluruh warga di lima desa yang tersebar di Ke­camatan Rejoso, yakni Desa Pandanrejo, Kawisrejo, Rejoso Kidul, Sadeng, dan Toyaning, memiliki pohon duku, baik di samping rumah, belakang maupun depan.

Tanaman yang berasal dari Asia Tenggara sebelah barat itu tumbuh subur di sekitar pemukiman warga Rejoso, selama ratusan tahun lalu. Tidak ada warga yang mengetahui pasti usia pohon, lantaran kebanyakan pohon duku itu sudah memiliki ketinggian hingga 50 meter lebih.

Hardi (52), salah satu petani duku asal Desa Pandanrejo, mengaku tak tahu persis usia 7 pohon duku miliknya. Karena sejak dirinya lahir, pohon du­ku yang berlokasi tak jauh dari rumahnya itu sudah tumbuh dewasa dan menjulang tinggi.

“Bisa saja usianya ratusan tahun. Lihat saja tinggi pohon ini sudah mencapai hampir 50 meter, belum lagi batang dan akar pohon yang juga sangat besar, menandakan kalau pohon ini sudah ditanam lama,” tutur Hardi.

Intinya, pohon duku yang tertanam dengan jumlah yang tak dapat dihitung itu, adalah pohon warisan nene.k moyang warga Rejoso. Buktinya saat pengunjung melihat hampir semua lahan, pekarangan, atau kebun warga, selalu diselipkan atau ditanami pohon duku.

Tak hanya asal usulnya yang menarik, rasa duku Rejoso juga memiliki keunikan. Jika pada umum­nya buah duku akan terasa pahit saat biji duku tergigit, namun para penikmat duku tak akan pernah merasakan kepahitan itu, kalau sudah menikmati buah duku tersebut.

Duku Rejoso juga memiliki citarasa ma­nis, tahan lama, berbiji kecil, serta memi­liki ketebalan daging yang luar biasa. Ka­rena hal itulah duku Rejoso memikat hati masyarakat Nusantara. Seluruh pedagang duku seantero Jawa Timur bahkan sering berebut mendapatkan duku, karena duku tersebut banyak diminati. Banyaknya langsung membeli di kebun atau masak pohon, dengan harga yang makin mengalami peningkatan, yakni Rp 20 ribu – 25 ribu per-kilogram. Para pembeli banyak yang rela datang langsung ke kebun warga, karena takut kehabisan.

Duku Rejoso juga dikenal memiliki banyak manfaat kesehatan, karena di dalamnya mengandung kalori 7 kkal, protein 1.0 gram, lemak 0,2 gram, karbohidrat 13 gram, mineral 0,7 gram, kalsium 18 mg, fosfor 9 mg dan zat besi 0,9 mg. Untuk kandungan kalori, mineral dan zat besi duku ternyata setingkat lebih tinggi jika dibandingkan de­ngan buah apel atau jeruk manis.

Duku Rejoso juga mengandung vitamin C dan E, dan memiliki sumber yang baik dari sifat antioksidan. Berkat adanya kandungan lanzones pada duku, sehingga dapat mencegah diare hanya dengan memakan buahnya. Selain itu, duku Rejoso juga memiliki kegunaan beragam, di antaranya sebagai antioksidan, menjaga kesehatan gusi

mencegah penuaan dini, mempercepat pemulihan, melancarkan sistem pencernaan, membantu menurunkan berat badan, menguatkan gigi, mengendalikan kadar kolesterol, serta menjaga kesehatan kulit. (rni, dbs)

Sumber :    Di nukil dari Majalah Derap Desa, Edisi 133, November 2018 [40-41]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *