Syiar Islam Menantu Raja Blambangan

SYEKH Maulana Ishaq adalah ayah dari Raden Paku atau Sunan Giri, dari pernikahannya dengan Nyai Sekardadu, putri Raja Blambangan. Ia menikah dengan Sekardadu, setelah berhasil menyembuhkan putri kesayangan raja, dari penyakit ganas yang diderita sekian lama.

Dua tahun berselang, saat Dewi Sekardadu hamil muda (mengandung Sunan Giri), sang raja mulai gelisah. “Ketidaksepahaman akan agama yang disiarkan menantunya, membuat dia ingkar janji yang pernah disepakatinya dulu. Syekh Maulana Ishaq pun diusir dari kerajaan,” kata H Askur, juru kunci makam.

Setelah diusir dari Kerajaan Blambangan, Syekh Maulana Ishaq menyiarkan agama Islam sampai di Pesisir Lamongan. Sebelumnya, dia berpesan kepada istrinya, suatu saat Dewi Sekardadu ingin menemuinya, agar berjalan menyusuri daerah pesisir pantai utara Pulau Jawa. Sebab Syekh Maulana Ishaq akan melanjutkan siarnya di sekitar sana. “Setelah menempuh perjalanan jauh, Dewi Sekardadu akhirnya bertemu dengan suaminya di desa ini,” tutur H Askur.

Namun, suami istri tadi berpisah lagi, karena Syekh Maulana Ishaq melanjutkan siar agama ke daerah lain. Ia berpesan kepada dua muridnya, kalau dia meninggal dunia, agar dimakamkan di tempat yang sama saat bertemu lagi dengan Dewi Sekardadu, yakni di desa yang saat ini bernama Desa Kemantren.

Syekh Maulana Ishaq disebut de­ngan banyak nama oleh masyarakat sekitar, di antaranya Resi Mualana Is­haq, Prabu Anom, dan Raja Pendito. Untuk menghormati jasa ayah Sunan Giri, masyarakat Kemantren membangun Maqbaroh Syekh Maula­na Ishaq. Maqbaroh ini dipugar tahun 2012. Tidak ada peninggalan-peninggalan kuno pada makam ini, kecuali makam itu sendiri. (eru)

 

Sumber :    Di nukil dari Majalah Derap Desa, Edisi 133, November 2018 hal. 8

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *