Wisata Religi dan Bahari, Desa Kemantren Kec. Paciran, Kab. Lamongan

Desa Kemantren memiliki potensi yang cukup melimpah. Selain punya potensi sebagai . desa wisata religi, desa yang masuk wiiayah Kecamatan Paciran, Kab Lamongan itu, juga kaya akan sumber daya alam di sektor bahari. Warga setempat yang mayoritas sebagai nelayan pun memanfaatkannya dengan baik. Seperti apakah?

KEMANTREN memiliki beragam tradisi budaya yang sangat kental. Tradisi jajan mangan adalah salah satu yang dilakukan setiap tahun oleh masyarakat nelayan Kemantren. Proses tahapannya antara lain, arakan (arak- arakan), sawuran, dan jagongan.

“Upacara tradisi jajan mangan hanya dilakukan masya­rakat nelayan di kawasan pesisir utara Kemantren,” kata Kasi Pemerintahan Desa Kemantren, H Sumarji.

Bagi masyarakat Kemantren miyang atau melaut bukan sekadar membawa atau mendapatkan hasil tangkapan ikan yang melimpah, tetapi ada sejumlah ritual, mitos maupun aturan yang harus diperhatikan agar tidak menjadi malapetaka bagi masyarakat nelayan. Tradisi jajan mangan yang diadakan setiap setahun sekali, yakni pada saat penurunan jaring.

Tradisi itu merupakan upacara yang dilakukan masyara­kat pada umumnya yaitu slametan. Tujuan yang ingin dicapai dalam upacara jajan mangan adalah yang berhubungan dengan mitos nelayan, seperti kepercayaan adanya makhluk gaib penunggu laut. Kemudian, mendoakan keluarga yang telah meninggal dan roh-roh waliyullah yang diyakini memberikan barokah maupun manfaat bagi masyarakat. Dise lenggarakan pada Bulan Ruwah dan awal Bulan Sura. Selain itu, para nelayan Kemantren juga menyelenggarakan petik laut, yang dikemas dalam nuansa Islami. “Kemarin sudah kami lakukan, di ujung urukan utara. Diisi dengan tahlil, dan kesenian kentrung,” kata Kepala Desa (Kades) Kemantren, Suaji.

Selanjutnya dijadwalkan setahun sekali, penyelenggaraannya bersamaan dengan rangkaian peringatan 17 Agustus. Sedangkan kesuburan tanah Desa Kemantren dimanfaatkan untuk ladang pertanian. Meskipun ada laut, juga banyak orang lebih memilih bekerja di sawah sebagai petani. Alasannya cuaca ekstrem yang tidak menentu, hasil yang didapat tidak bisa diperkirakan, dan tak mau jauh dari keluarga.

Sementara sejak lama desa ini dikenal dengan wisata religi, yakni Makam Syekh Maulana Ishaq di kawasan Jl Maulana Ishaq, yang berdampingan dengan Masjid al-Abror, yang cukup megah. Area sekitar makam memiliki panorama pantai yang indah.

Kades Kemantren, H Suaji SPd (53), menyatakan, kalau selama ini desanya sudah ada wisata religi, pihaknya ingin mengembangkan wisata bahari, atau wisata laut. “Wisata bahari yang sederhana saja. Di Pan­tai Kemantren nanti akan saya buat dermaga-dermaga, dan jalan-jalan,” ujarnya.

Perluasan dermaga, mendapat bantuan langsung dari Kecamatan Paciran dan pendapatan asli desa (PADes). Selain itu pohon-pohon cemara yang su­dah ada, akan diperbanyak agar pantai lebih rindang. Sehingga pengunjung wisata religi, bisa melihat laut dengan enak dan adem. Perahu nelayan yang disewa selama ini hanya untuk mengangkut ABK (anak buah kapal). Kedepan ingin pengunjung bisa naik perahu.

Kabib (43), petugas parkir lokasi wisata religi, mengatakan, hari-hari ramai pengunjung Sabtu dan Minggu. Dari plat nomor kendaraan, kebanyakan datang dari luar kota bahkan banyak juga

OBSESIKAN GOR NASIONAL

Sedangkan Kaur Umum, Ah. Nur Haddy, SE, mengatakan, Desa Kemantren punya program perluasan GOR (gedung olahraga), untuk kegiatan pembinaan generasi muda. GOR yang ada selama ini, terdiri dari lapangan bulutangkis, lapangan voli, lapangan futsal, dan arena permainan pingpong yang terdiri dari tiga meja yang dari luar Jawa. “Sering sopir bus mengantar rombongan, datang larut malam. Setelah tidur di masjid, salat Subuh berjamaah, baru ke makam Syekh Maulana Ishaq,” ujar Kabib

“Nantinya akan ditambah la­pangan voli pantai dan sepak bola pan­tai,” kata Haddy. Kades Suaji maupun para perangkat desa berharap pembangunan Kemant­ren mendapat dukungan dari pemerintah daerah atau pusat. Sehingga keberadaan pembangunan di Kemantren bisa berkelanjutan. “Kalau bisa ya dukungan dana. Kalau nggak membantiu dana, memberikan dukungan moral atau kebijakan, sudah baik,” lanjutnya.

Dikatakan, pengembangan laut yang akan dilakukan dimaksudkan untuk meningkatkan perekonomian masyaralat Kemantren. Seperti di laut ternyata banyak bangunan-bangunan, tetapi itu membuat orang lain juga ada yang tidak senang. “Mereka kemudian lapor polisi. Saya sempat diinterogasi penyidik Polda Jatim, sekitar tahiun 2017 lalu. Nguruk pantai untuk dermaga, kemudian disebut saya ada rival, itu rawan. Saya menjabat Kades sejak 2013 (baru satu periode). Tapi yang penting itu semua kami maksudkan demi mengangkat perekonomian masyarakat desa, dengan mengelola pesisir,” katanya.

Seperti diketahui, dari dokumentasi profil Desa Kemant­ren tahun 2017, jumlah penduduk Kemantren 5.433 orang, dengan jumlah laki-laki 2.771 orang, dan jumlah perempuan 2.662 orang Desa ini terdiri dari 30 RT dan 5 RW. Keagamaan masyarakat Kemantren mayoritas Islam, (eru)

Sumber :    Di nukil dari Majalah Derap Desa, Edisi 133, November 2018 hal. 31

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *