PELABUHAN Muncar, Kabupaten Banyuwangi

Muncar Jangan Tercemar

PELABUHAN Muncar di Banyuwangi yang berlokasi di ujung timur Pulau Jawa, merupakan tempat pertemuan arus Laut Jawa dari arah utara dan Samudra Hindia melalui arah selatan. Kondisi ini menguntungkan karena para nelayan di Muncar tidak terpengaruh gelombang besar yang disebabkan angin barat maupun angin timur. Mereka hanya berhenti melaut saat bulan purnama tiba selama 7 hari hingga 10 hari.
Kepala Bidang Kelautan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Banyuwangi, Untung Widiarto mengatakan, Tempat Pelelangan ikan (TPI) Muncar sebelumnya menjadi pemasok ikan terbesar di Indonesia. Namun terus menurun sejak terjadi anomali cuaca. Pada 2012 hasil tangkapan masih mencapai 28.313 ton. Namun pada 2013 tersisa 21.464 ton. “Jumlah terbanyak tetap jenis le¬muru,” ucapnya.
Muncar.Menurunnya jumlah hasil tangkapan ikan nelayan di Muncar juga disebabkan overfishing dan pencemaran limbah perusahaan pengolahan ikan. Kondisi perairan Muncar di Selat Bali dikatakan pulih bila hasil tangkapan nelayan bisa mencapai 36 ribu ton per tahun.
Dikatakannya, di Pelabuhan Perikanan Muncar, ikan lemuru menjadi komoditas utama tangkapan nelayan. Bahkan sentra lemuru yang telah memiliki industri ter¬besar di Indonesia berada di wilayah perairan selat Bali.
Sampai saat ini, di sekitar perairan pantai kabupaten Banyuwangi banyak dijumpai armada penangkapan tradisional dan modern yang beroperasi memanfaatkan ikan lemuru sebagai ikan tangkapan.
Kepala Unit Pengelola Pelabuhan Perikanan Pantai Muncar, Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Timur, Kartono Umar mengatakan, produksi ikan lemu¬ru dapat dilihat dalam data lima tahun terakhir.
Pada tahun 2010 dari produksi ikan di pelabuhan Muncar sebesar 22.042.289 kg dengan nilai produksi Rp 98.394.406.500 produksi ikan lemuru sebesar 80%, tahun 2011 produksi ikan 16.526.715 kg dengan ni¬lai produksi Rp 84.956.896.500 produksi ikan lemuru sebesar 10% tahun 2012 produksi ikan 11.459.005 kg nilai produksi Rp 107.374.808.500 produksi ikan le¬muru 24,7%, 2013 produksi ikan 8.010.771 kg dengan nilai produksi Rp 87.546.170.500 produksi ikan lemuru 50,9% dan pada tahun 2014 hingga periode Juli produk¬si ikan 462.770 dengan nilai produksi Rp 4.278.230.000 produksi ikan lemuru sebesar 90,4%. Ditambahkan- nya, pada tahun 2009 produksi ikan lemuru sebesar 28,446,134 kg, 2010 sebesar 17,717,764 kg, 2011 sebe¬sar 1,651,381 kg, 2012 sebesar 2,839,271 kg dan 2013 sebesar 4,082,081 kg.
muncar 1Selain lemuru, komoditas lain yang cukup potensial di perairan Muncar yakni ikan layang. Pada lima tahun terakhir, produksi ikan layang cukup tinggi. Tahun 2009 sebesar 1,067,070 kg, 2010 sebesar 1,057,942 kg, 2011 sebesar 2,268,370 kg, 2012 sebesar 2,013,177 kg dan 2013 2,656,893 kg. Seperti diketahui, perairan selat Bali merupakan wilayah perairan yang pengelolaannya di atur oleh dua Pemerintahan Provinsi, yaitu Jawa Timur dan Bali. Armada perikanan lemuru yang beroperasi pada tahun 2010 di kabupaten Banyuwangi sebanyak 203 unit yang terdiri dari kapal purse seine berukuran antara 10 – 30 GT.
Dengan potensi perikanan yang cukup tinggi, sampai saat ini jumlah di Muncar sebanyak 13.203 orang. Jumlah tersebut lebih besar dibandingkan tahun 2013 yang hanya 13.143 orang. Angin kencang disertai gelombang tinggi kerap menjadi kendala utama menurunnya produksi tangkapan ikan di Muncar. Ditambah lagi seringnya kelangkaan solar. Setelah waktu libur usai puasa dan le- baran, nelayan kembali berburu. Lemuru, tongkol, salem, dan layang sebagai bahan dasar pembuatan ikan kaleng menjadi hasil laut andalan di perairan Muncar. Pada saat paceklik tangkapan, seperti yang terjadi pada periode Januari-April, nelayan masih bisa memasok ikan-ikan itu ke puluhan cold storage (tempat pendinginan) di Muncar dan sekitarnya.

“Kalau pada saat musim panen Juni- Nopember, kami bisa mevigekspor ikan lemuru hingga tujuh kontainer (isi per kontainer 24 ton) “

Siswanto, pekerja di tempat pendinginan Usaha Dagang Piala Indah, menyebutkan, masih bisa mendapatkan pasokan 8-10 ton ikan lemuru, tongkol, salem, dan layang
per hari selama masa paceklik. Pengusaha tempat pen¬dinginan tak berhenti mengekspor lemuru keias satu ke Jepang dan Thailand. “Kalau pada saat musim panen Juni-Nopember, kami bisa mengekspor ikan lemuru hingga tujuh kontainer (isi per kontainer 24 ton),” ungkap Sis¬wanto.
Hasan (43), mengaku sudah berhenti melaut sejak Desember 2013 hingga Januari 2014. Dalam sepekan pertama awal Pebruari 2014, dia terpaksa melaut di pe¬rairan Selat Bali meski cuaca belum normal. Sebab, Ha¬san membutukan biaya untuk kebutuhan rumah tangga. Namun, dari tujuh hari melaut, Hasan baru mendapat satu kali tangkapan, itu pun hanya 1 kuintal. “Biasanya saya bisa dapat 1 ton,” katanya.
Satu kuintal lemuru berharga Rp 2.600 per kilogram. Padahal biaya solar Rp 200 ribu per hari. Penghasilan bersih yang bisa dibawa pulang Hasan hanya Rp 60 ribu. Jumlah itu tidak bisa menutupi biaya operasional untuk enam hari berikutnya. Nelayan lainnya, Nur Ali, mengatakan baru melaut dua kali dalam sepekan ini. Hasil yang didapatkannya hanya 1 kuintal lemuru seharga Rp 4.500 per kilogram. Uang yang diperolehnya hanya Rp 450 ribu. Jumlah itu tak sebanding dengan biaya beli solar Rp 600 ribu. “Saya tekor Rp 150 ribu,” kata dia.

Terbesar
Meski Muncar dapat disebut sebagai pasar perikanan tertua di Jawa Timur, pola produksinya masih sama de¬ngan pelabuhan perikanan lainnya. Hampir tidak ada modernisasi cara tangkap. Jalur lintas selatan Jawa (JLS) yang sebentar lagi direalisasikan dan diyakini bakal memecahkan problem isolasi wilayah selatan Jawa, termasuk Muncar, mudah-mudahan bisa mendorong modernisasi produksi itu. Ikan yang ada di wilayah Muncar merupakan kualitas ekspor yang diminati beberapa negara. Ini membuat peluang ekspor produk maritim cukup terbuka dan menjadi ladang usaha yang berimbas pada peningkatan kesejahteraan.
Setiap hari ikan yang dibongkar di Muncar minimal 500 ton dan sekitar 90 persen di antaranya dipasok ke industri pengolahan ikan setempat. Data Sekretariat Kabinet RI menunjukkan, Muncar merupakan penghasil ikan terbesar di Jawa Timur dengan produksi ikan tahun 2010 sebesar 27.748 ton. Produksi ikan olahan diekspor ke Eropa, Jepang, Uni Emirat Arab, Amerika Serikat, Australia, Singapura, dan Kanada sebanyak 1.562.249,72 kg per bulan dengan nilai ekonomi sebesar hampir Rp 20 miliar. Juru bicara Asosiasi Pengusaha Cold Storage Muncar, Wahyu Widodo mengatakan, tempat pendinginan di Muncar rata-rata mempekerjakan 70 laki-laki dan perempuan. Ini membuat warga Muncar jarang yang menjadi tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Pengusaha cold storage di Muncar siap untuk bersaing secara produk di luar negeri.
Pada Pebruari lalu, setelah mendapat sinyal positif pemerintah daerah untuk membantu kepenguru- san izin ekspor-impor pengusaha cold sotrage asal Muncar, banyak pengusaha lokal yang mengurus izin ekspor. Ini ditujukan agar peluang pengusaha mema- sarkan ikannya secara langsung ke luar negeri bisa terwujud. Ekspor juga akan mendorong pertumbuhan ekonomi Muncar. Menurut data, di Banyuwangi baru ada sembilan pengusaha yang mengantongi lisensi ekspor dan impor. Sedangkan di Muncar ada puluhan pengusaha cold storage, (jal)
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: majalah POTENSI, Edisi 44 / Agustus 2014, halaman 11-13

Pelabuhan Muncar Kabupaten Banyuwangi

Pelabuhan Muncar di Kabupaten Banyuwangi, merupakan pelabuhan ikan terbesar kedua setelah Bagan Siapi-api di Sumatera.

muncar
MUNCAR yang yang menghadap selat Bali ini zamak saja kalau kemudian menarik banyak pendatang. Sejak ratusan tahun lalu suku Madura, Bugis, Mandar, Melayu, China, Jawa, hingga kongsi dagang Inggris dan pasukan Belanda datang untuk mencari kekayaan dari bumi Blambangan: berdagang dan merebut kekuasaan.
Kedatangan para pelaut Bugis dan Madura ke Muncar pada zaman dulu tercatat dalam buku Ujung Timur Jawa, 1763-1813: Perebutan Hegemoni Blambangan yang ditulis oleh sejarawan Universitas Gadjah Mada, Sri Margana.
Dikisahkan, pernah ada kapal besar milik English East India Company, kompeni dagang Inggris, yang merapat ke Blambangan Agustus 1766. Mereka membawa pelaut Bugis dan Madura di dalam ratusan perahu kecil. Peda- gang Inggris itu menukar opium, senjata api, dan 2 ton bubuk mesiu dengan 10 koyan beras dan kerbau.
Perdagangan yang dibuka oleh Inggris itu membuat orang- orang China, Melayu, dan Mandar tertarik da¬tang. Sebelum Inggris, pasukan dari Mataram, Bali, dan Belanda. Pada masa silam orang merujuk Muncar sebagai pelabuhan di Teluk Pangpang, bagian dari Kerajaan Blambangan. Kini Muncar berkembang sebagai salah satu pelabuhan ikan terbesar di Nusantara.
Awalnya mereka menetap sementara, tetapi akhirnya hidup turun-temurun di pesisir, menikmati melimpahnya kekayaan laut Selat Bali. Selama berabad-abad, Selat Bali memanjakan nelayan Muncar dengan ikan, terutama ikan lemuru.
Dalam kondisi normal, setiap hari ikan yang dibongkar mencapai 500 ton dan sekitar 90 persen di antaranya dipasok ke industri pengolahan ikan di sana. Hasil ikan olahan ini diekspor ke Eropa, Jepang, Uni Emirat Arab, Amerika Serikat, Australia, Singapura, dan Kanada.
Potensi ekonomi ini sebenarnya bisa ditingkatkan bila daya dukung dan kualitas perairan Muncar tetap dapat dipertahankan dari kemungkinan terjadinya overfishing dan pencemaran. Sayangnya, banyak perusahaan perikanan di Muncar dalam melakukan aktivitas produksinya kurang memperhatikan pengelolaan limbahnya.

Kapal Tradisional
Nelayan di Muncar masih setia memakai perahu tradi¬sional, seperti jukung dan slereg. Jukung biasanya dipakai oleh nelayan kecil. Slereg atau perahu ganda bisa berlayar jauh hingga ke Samudra Indonesia. Slereg memang perahu pengejar ikan. Sekali berangkat, slereg bisa memuat 40 awak kapal dengan kapasitas angkut ikan 25 ton. “Era 2000-an, slereg hampir selalu pe- nuh ikan saat merapat di pelabuhan,” kata Nahkoda Kapal Bintang Mutiara, Zaini (45).
Melimpahnya lemuru menarik para investor membangun pabrik pengolahan ikan di Banyuwangi. Jadilah Muncar sebagai pusat industri pengalengan ikan di Nusantara. Industri pengolahan ikan skala kecil pun turut berkembang. Pabrik tepung ikan, minyak ikan, hingga gudang pendingin dan pemindangan memadati kawasan. Data Unit Pengelola Pelabuhan Perikanan Pantai Muncar, Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Timur, produksi ikan lemuru dapat dilihat dalam data lima tahun terakhir.
Pada tahun 2010 dari produksi ikan di pelabuhan Muncar sebesar 22.042.289 kg dengan nilai produksi Rp 98.394.406.500 produksi ikan lemuru sebesar 80%, tahun 2011 produksi ikan 16.526.715 kg dengan nilai produksi Rp 84.956.896.500 produksi ikan lemuru sebesar 10%, tahun 2012 produksi ikan 11.459.005 kg nilai produksi Rp 107.374.808.500 produksi ikan lemuru 24,7%, 2013 produksi ikan 8.010.771 kg dengan nilai produksi Rp 87.546.170.500 produksi ikan lemuru 50,9% dan pada ta¬hun 2014 hingga periode Juli produksi ikan 462.770 de¬ngan nilai produksi Rp 4.278.230.000 produksi ikan lemu¬ru sebesar 90,4%. Pada tahun 2009 produksi ikan lemuru sebesar 28,446,134 kg, 2010 sebesar 17,717,764 kg, 2011 sebesar 1,651,381 kg, 2012 sebesar 2,839,271 kg dan 2013 sebesar 4,082,081 kg.
Muncar tak habis-habisnya memanjakan nelayan. Saat musim ikan reda, muncul ubur-ubur. Biasanya diekspor ke Korea. Harganya tak kalah dengan ikan, Rp 10.000 per kilogram. Mudahnya mendapatkan hasil laut di Pantai Muncar tidak lepas dari kondisi geografis Muncar. Kuatnya arus di Selat Bali membawa serta ikan dan biota laut lainnya ke Teluk Pangpang. Di sinilah nelayan menjaring ikan yang terseret arus dan terjebak ke teluk.

muncar 2

Masa Paceklik
Sayangnya, potensi itu tak selamanya bisa dinikmati. Pada 2009-2011 lalu menurut Zaini, perdagangan Muncar sempat lumpuh total karena paceklik berkepanjangan. Paceklik yang biasanya hanya 1-2 bulan terus mendera hingga dua tahun. Hasil tangkapan ikan merosot drastis dari 80.000 ton menjadi sekitar 20.000 ton.
Tak hanya lemuru yang langka. Tongkol dan layar pun menghilang. Industri perikanan terpukul. Pabrik pengalengan menyusut dari 15 unit menjadi 7 unit. Sebagian
bertahan dengan menggunakan lemuru impor. Untunglah masa paceklik itu mulai terlewati. Namun persoalan kerusakan lingkungan tetap membelit.
Di Muncar terdapat banyak unit usaha. Ini magnet bagi pengusaha yang mau berinvestasi, di antaranya pengeringan atau penggaraman, pindang, terasi, peda, kecap, pengasapan, pendinginan atau cool room, pembekuan atau cold storage dan tepung ikan.

Muncar..

Kerusakan
Tak jauh dari kapal-kapal yang bersandar, Samsul Ari- fin (37) Anak Buah Kapal (ABI) memperbaiki jala di hadapannya. Dengan teliti dia memperhatikan setiap jengkal tali yang akan dikaitkan dan diikat tahap demi tahap.
Samsul hanya satu dari ribuan ABK Muncar yang kerap mengisi kesibukan saat kapal mereka berhenti melaut. “Setiap bulan pasti ada waktu libur karena kondisi alam, waktu senggang ini biasanya kami gunakan untuk memperbaiki kapal dan jala, supaya saat waktunya me- laut tiba, peralatan kami telah siap,” kata Samsul.
Jika kondisi normal, atau saat tangkapan ikan bagus, selama tujuh hari melaut Samsul berserta timnya bisa mendapatkan 6-10 ton ikan sekali melaut. Sejak perte- ngahan 2013 hingga 2014 sekarang, hasil tangkapannya menurun hingga 50%
“Kami pernah mendapatkan ikan hanya 2-3 kuintal saja, padahal pengeluaran untuk melaut cukup banyak,” kata bapak tiga anak ini sambil sesekali menyeka keringat dikeningnya.
Jika tangkapan lagi bagus, kata Samsul jalan utama sepanjang 800 meter menuju laut, hingga jalur masuk ke dermaga hingga pasar, sesak dengan orang-orang yang mengangkut ikan, es balok, keranjang bambu, dan jeriken bahan bakar minyak. “Riuh pedagang, pembeli, dan anak buah kapal bercampur jadi satu saat tangkapan lagi bagus. Tapi belakangan ini pemandangan itu jarang ter- jadi, akibat kondisi alam yang kurang baik dan juga laut mulai kotor,” katanya.
Untuk melaut per hari kapal memerlukan solar Rp 200 ribu. Jika dikali tujuh, maka dalam sekali berangkat rata- rata membutuhkan BBM Rp 1,4 juta. “Kalau lagi ramai masing-masing awak bisa mengantongi Rp 500-800 ribu, kalau sepi hanya RplOO ribu,” ujar Zaini yang sudah 10 tahun menjadi Nahkoda.
Karena itu ia berharap memerintah turut memperhatikan nasib nelayan Muncar, jangan sampai pelabuhan ikan kebanggaan Jawa Timur ini semakin terpuruk, aki¬bat kurang perhatian pemerintah. Memang menurutnya, sejak empat tahun terakhir pembangunan di Muncar terus dilakukan, tetapi itu ha¬nya dermaga dan kawasan perdagangan saja. Sedang- kan solusi untuk mengatasi kebersihan dermaga tetap menjadi persoalan yang mengganggu. “Saya tidak tahu bagaimana mengatasinya. Saya yakin pemerintah punya solusi mengatasi masalah kebersihan perairan dan tepi laut Muncar,” tuturnya. (hjr) ###

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: majalah POTENSI, Edisi 44 / Agustus 2014, halaman 14-15

Kawin Ngeleboni

        Pada tradisi perkawinan masyarakat Osing di Kabupaten Banyuwangi terdapat adat yang di sebut “Kawin Ngeleboni”. Bentuk perkawinan ini terjadi karena pihak keluarga laki – laki tidak menyetujui anaknya menikah dengan gadis pilihannya sendiri.

Karena takut tidak bisa mempersunting gadis pilihannya itu, maka lelaki bersangkutan datang sendiri dan meminta kepada orang tua perempuan idamannya agar dapat diterima sebagai menantu.

Sementara perkawinannya belum disetujui dan diresmikan oleh orang tua masing-masing, laki-laki bersangkutan meminta agar diperkenankan tinggal di rumah keluarga si gadis.

Apabila permintaan lelaki tersebut disetujui oleh orang tua dan kerabat pihak si gadis, maka pelaksanaan pernikahannya sama seperti upacara pernikahan jenis colongan. Upacara perkawinan ngeleboni berlangsung sekitar tiga sampai empat hari setelah colok dari pihak perempuan mengutarakan masalah kepada fihak lelaki.

 Selama perkawinan belum diresmikan, kedua calon suami-isteri tidak diperkenankan hidup bersama. Upacara perkawinan selalu disertai acara makan bersama. Hidangan utama yang disediakan dalam upacara adalah tumpeng serakat dan pecel ayam.

congkok/colok

Perantara yang bertugas sebagai penghubung pihak keluarga calon pengantin laki-laki dengan pihak keluarga calon pengantin perempuan yang hendak dinikahkan. Congkok diberi tugas untuk menghubungi keluarga perempuan yang dilarikan oleh pacarnya (Melayokaken) atau menghubungi keluarga seorang laki-laki yang telah ngleboni (memberi tahu bahwa anak gadisnya telah dibawa lari untuk dinikahi). Seorang colok menjelaskan keberadaan kedua calon pengantin dan sekaligus memusyawarahkan hari pernikahan mereka.

Prof. Dr. Ayu Sutarto, M.A.: Kamus Budaya dan Religi Using, Lembaga Penelitian Universitas Jember, Jember, 2010. Hlm. 115-116

Kawin Angkat- Angkat, Kabupaten Banyuwangi

Jenis perkawinan yang dilaksanakan di daerah Kabupaten Banyuwangi ini,  karena kehendak orang tua dari kedua belah fihak (fihak laki-laki dan fihak perempuan), sebelum pernikahan dilangsungkan terlebih dahulu dilakukan acara lamaran oleh keluarga calon pengantin laki-laki kepada pihak keluarga calon pengantin perempuan.

Pada umumnya, lamaran dilakukan pada waktu sore hari sekitar pukul 17.00. Dalam acara lamaran ini, pihak laki-laki membawa penganggo komplit “pakaian dan perhiasan lengkap” seperti gelang, cincin, baju, kain panjang (sewek), sabun, wiski maupun anggur. Penganggo komplit ini tidak boleh dikenakan sebelum perkawinan disahkan, sebab apabila pernikahan batal, benda-benda tersebut harus dikembalikan kepada pihak laki-laki (dalam kasus-kasus tertentu pihak laki-laki terkadang menolak pengembalian penganggo bukan karena alasan menolak pembatalan perkawinan, melainkan karena persoalan harga diri).

Pihak laki-laki juga membawa peras suwun yakni perlengkapan berupa:

  • gedang sri,
  • kembang andong,
  • kembang macan,
  •   godhong ketirah,

perlengkapan ini mempunyai makna tertentu. Gedang sri mempunyai makna sebagai simbol orang yang masih jejaka. Kembang andong mempunyai makna pihak yang mengadakan perhelatan. Kembang macan mempunyai makna agar pihak yang dilamar tidak marah. Sementara godong ketirah mempunyai makna agar gadis yang dilamar bersedia mengikuti pihak laki-laki.

Sebelum upacara pernikahan berlangsung, biasanya baik di rumah laki-laki maupun di rumah perempuan diadakan “ngersaya“, yaitu kerja gotong royong dari para kerabat dan tetangga untuk mempersiapkan tempat dan

perlengkapan upacara. Kedua calon pengantin dilarang bepergian. Agar calon pengandn perempuan kelihatan segar dan candk pada waktu pesta, maka diadakan upacara “ngasap” (meratakan gigi) dan badannya “dilurus” (luluran). Pada malam harinya, sebelum pesta pernikahan dihelat diadakan acara melek-melekan “tidak tidur” semalam suntuk oleh keluarga dan tetangga.

Menurut kepercayaan orang Using melek-melekan ini merupakan sarana untuk memohon keselamatan dan terhindar dari gangguan dari roh-roh jahat. Setelah melangsungkan akad nikah atau ijab secara Islam di hadapan penghulu, kedua mempelai melakukan upacara makan bersama dengan sajian hidangan berupa kokoh kelor dan keluthuk jagung (brondong).

Kokoh kelor mengusung pesan agar kedua mempelai dapat menjalani kehidupan dan dapat berkembang dengan mudah seperti tanaman kelor. Sementara brondong jagung mempunyai makna agar kedua mempelai dapat dengan gampang mencari sumber penghidupan bagi kelangsungan bahtera rumah tangga dan keluarga yang baru dibangun.

Pelaksanaan upacara perkawinan biasanya berlangsung pada senja hari setelah warga selesai bekerja di sawah. Upacara ini dimulai dengan upacara “surup” yaitu upacara mempertemukan kedua mempelai di kursi pelaminan, di rumah orang tua mempelai perempuan.

Pada umumnya mempelai wanita mengenakan pakaian gaya Sritanjungan dengan gelung melingkar ala Damarwulan. Mempelai kemudian diarak dari tempat rias menuju ke tempat penyelenggaraan pesta. Dalam arak-arakan tersebut mempelai laki-laki biasanya naik kuda sedangkan mempelai perempuan ditandu.

Prof. Dr. Ayu Sutarto, M.A.: Kamus Budaya dan Religi Using, Lembaga Penelitian Universitas Jember, Jember, 2010. Hlm113-114

Adipati Sendang sedayu

 Ki Pitrang Bergelar Adipati Sendang sedayu, Serat Kuno Babad Majapahit dan Para Wali (33)

Pangeran Sendang dan istri pergi untuk menempati daerah kekuasaan pemberian Adipati Blambangan. Warga bersukacita menyambutnya bak pahlawan perang. Upacara penyambutan di alun-alun pun digelar dengan mementaskan berbagai kesenian rakyat.

ADA sebuah tamsil aneh yang terjadi dalam kisah Empu Supa, yakni tidak selamanya orang berbuat salah berbuah petaka. Setidaknya itulah yang ter- sirat dalam Serat Babat Majapahit dan Para Wali dalam cerita Empu Supa saat mencuri Keris Sengkelat dari Adipati Blambangan. Dengan kelicikannya, dirinya bisa nyusup ke dalam kerajaan di ujung timur Pulau Jawa itu tanpa mengundang syakwasangka dari para prajurit Blam­bangan.

Bahkan sang penguasa sang Adipati Blambangan pun bisa dikelabuhinya dengan cara dibuatkan Keris Sengkelat palsu, untuk selanjutnya yang asli diambilnya. Anehnya, sang Adipati tak merasa kalau dirinya dikelabuhi oleh seorang empu sakti itu. Malah sebagai bebungah, Sang Adipati memberi Empu Supa gelar baru bernama Ki Pitrang dan menjabat sebagai Pangeran Sendang, yang artinya penguasa tunggal di tlatah Sendhangsedayu.

Selanjutnya Ki Pitrang dikawinkan dengan putri sang Adipati, bernama Sugiyah. Namun jabatan dan istri itu sebenarnya diraihnya tanpa harus bersusah payah. Itu semua dilaluinya seperti sebuah mimpi dan hanya membalikkan telapak tangan. Inilah yang membuat hati Empu Supa menjadi gundah gulana. Apalagi ia adalah seorang empu sehingga dirinya harus bersikap kesatria. Tetapi apa yang dilakukannya di Blam­bangan terasa sebagai tipudaya sehingga sangat bertentangan dengan hati nuraninya. Nah, dalam suasana pikiran yang gamang, ia terlihat merenung dan berkata dalam hati. “Kalau saya berkata jujur kepada Adipati Blambangan tentang semuanya, pastinya aku akan mendapatkan hukuman,” resah hati Empu Supa.

Semalaman ia terpekur dalam galau. Hanya seorang diri dalam kesunyian alam. Malam pun makin cepat berlari. Bulan sabit di langit menampakkan sinarnya yang temaram, isyaratkan bari segera beranjak pagi. Empu Supa tetap duduk bersila di tikar usang, depan surau tak jauh dari tempat tinggalnya yang baru, Sendangsedhayu.

Tiba-tiba seekor burung hantu melintas di atas kepalanya. Suara kepak sayapnya membuyarkan lamunananya. “Hemm, isyarat apa ini,” gumam Empu Supa sembari mendongak ke atas. Na­mun burung itu sudah hilang di keremangan malam. Mata Empu Supa hanya bisa menangkap goyangan dahan pohon so- nokeling yang tak jauh dari tempatnya bersila. Dirinya meyakini, jika ada bu­rung hantu atau burung gagak terbang di tengah malam, akan terjadi sesuatu di luar jangkauan nalar manusia.

Sadar dirinya berada dalam bahaya, Empu Supa berdiri dari duduknya, berjalan ke arah surau, bersiap menjalankan salat malam. Usai salat, ahli pembuat pusaka ini bertafakur, mencoba kembali mengurai perjalanan hidupnya hingga dirinya sampai berada di Sendhangse­dayu. Setelah resmi mempersunting Sugi­yah, nama samarannya Ki Pitrang oleh Adipati Blambangan diganti dengan Pangeran Sendhang. Setelah itu, kedua mempelai, dari Blambangan menuju ke Sendhangsedayu. Nah, demi mendengar akan segera datang pangeran sarimbit (berserta istri) masyarakat desa di lereng gunung itu tak putus membicarakannya siang malam.

Di sawah, pos ronda, sampai di pasar-pasar. Mereka percaya, sang pan­geran akan memerintah wilayah desa yang subur itu dengan penuh kearifan. Oleh sebab itu, kedatangan Pangeran Sendhang dan istrinya benar-benar di- subyo-subyo (dielu-elukan) oleh pen- duduk.

Di setiap pojok kampung digelar pertunjukan kesenian hingga suasana kawasan Pedukuhan Sedhayu menjadi rejo (ramai). Melihat antusias warga yang begitu tinggi, hati Pangeran Sen­dang tak kuasa menyembunyikan rasa bahagiannya, demikian halnya dengan sang istri, Sugiyah. Ketika pesta telah usai dan masyarakat kembali pada kehidupan aslinya pergi ke sawah, pasar, dan ke surau ketika menjelang beduk magrib, hati Pangeran Sendhang kem­bali gundah.

Sebenarnya hati kecilnya tidak bisa menerima semua kenyataan ini. Namun ia tak kuasa menolak, apalagi mangkir dengan cara tinggal glanggang colong playu (memilih pergi meninggalkan tanggung jawab besar yang dibebankan kepadanya). Sekali lagi Empu Supa tak kuasa menjawabnya. Sebagai empu kondang dirinya merasa tak bisa men­gurai benang kusut yang sedang membelit pikirannya.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Drs. ABDURACHMAN: EDY WINARTO: posmo, EDISI 550, 2 Desember 2009, hlm. 32

 

 

Omprok Gandrung, Kabupaten Banyuwangi

OMPROK GANDRUNG b

OMPROK adalah hiasan kepala penari tradisional didaerah Blambangan Banyuwangi.

Tari Gandrung adalah sejenis tari pertunjukan di daerah Blambangan Banyuwangi sebagai tari hiburan.

Hiasan kepala penari tari Gandrung disebut OMPROK GSNDRUNG.

Terbuat dari kulit kambing, ditatah(diukir seperti membuat wayang kulit), dan diwarnai. Kain digunakan sebagai warna dasar.

Tari ini berasal dari Desa Oleh Sari, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Album Seni Budaya Jawa Timur, Departeman Pendidikan Dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Proyek Media Kebudayaan 1982/1983, hlm.

Omprok Seblang, Kabupaten Banyuwangi

OMPROK SEBLANGOMPROK SEBLANGOMPROK adalah sebutan untuk hiasan kepala bagi penari tradisional di daerah Blambangan Banyuwangi. Hiasan kepala penari. tari Seblang disebut OMPROK SEBLANG. Omprok Seblang dibuat dari bahan utama Daun pisang muda dihias dengan daun asparagus serta ditambah bunga-bunga.

Tari Seblang adalah sejenis tari-tarian  tradisional daerah Blambangan Banyuwangi, yang dipentaskan pada waktu diadakan Upacara Adat Tradisional. Tari Seblang adalah tarian yang pementasannya diperuntukan sebagai tarian ritual, pada saat acara Upacara Adat Tradisional. Seperti hal-nya acara bersih desa atau pesta panen dan sebagainya.

Selain siPenari memakai OMPROK, untuk kelengkapan tari yang lain penari juga memekai kaos kaki, adapun Kelengkapan kaos kaki tersebut melambangkan lumpur yang melekat di kaki.

Tari ini berasal dari Desa Oleh Sari, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Album Seni Budaya Jawa Timur, Departeman Pendidikan Dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Proyek Media Kebudayaan 1982/1983, hlm.