Belimbing Kota Blitar

belimbing kota blitar0001KECERIAAN tampak menghiasi wajah H Imam Surani ketika memperlihatkan Anugerah Produk Pertanian Berdaya Saing 2013, di rumahnya Karangsari, Kota Blitar. Penghargaan yarig diterimanya di Jakarta itu berkat kerja kerasnya yang gigih dan ulet sehingga mampu mempertahankan plasma nutfah belimbing karangsari. Keberhasilan belimbing karangsari memenangi kategori Produk Segar Berdaya Saing dalam Anugerah Produk Pertanian Berdaya Saing 2013, menurut Imam, karena ditunjuk pemerinbelimbing kota blitartah Provinsi Jawa Timur mengikuti ajang tersebut. Penunjukan ini terkait dengan penghargaan yang pernah diraih dari Gubernur Jawa Timur dalam lomba Inovasi Teknologi Produk Unggulan.
Bisa jadi makanan khas Blitar kini lebih lengkap, tak lagi didominasi bumbu pecel atau buah rambutan. Tapi, sekarang ada buah belimbing karangsari. Bila ingin menikmati belimbing berkualitas nomor wahid, datanglah ke Kelurahan Karangsari, Kecamatan Sukorejo, Blitar. Di sana sudah menanti pohon-pohon belimbing matang terbungkus plastik bening yang banyak dijumpai di setiap halaman rumah warga. Belimbing-belimbing yang dibungkus plastik itu supaya terhindar serangan lalat buah. Keistimewaan dan keunikan buah belimbing karangsari selain rasanya manis, ukuran buah besar dan berada di lingkungan perkotaan.
belimbing kota blitar0003Usaha pembudidayaan belimbing ini dikerjakan secara kelompok. Imam Surani clipercaya sebagai ketua Kelompok Tani Margo Mulyo sejak tahun 1985. Kelompok ini beranggotakan 14 anggota yang merupakan pengepul belimbing. Belimbirtg karangsari merupakan belimbing varietas unggul dan berhasil mengisi pasar swalayan seluruh Pulau Jawa. Bahkan, belimbing karangsari ini sudah bersertifikat, dengan nama Belimbing Karangsari yang diambil dari nama Desa Karangsari, Kota Blitar. Populasi belimbing karangsari sekarang mencapai lebih dari 30 ribu tanaman. Dari sekian banyak belimbing-belimbing itu, tentu saja ada kelas-kelasnya. Pengiriman belimbing ke pasar-pasar atau supermarket berdasarkan klasnya.
Saat ini belimbing karangsari sudah dikenal luas, hampir setiap orang mengenalnya karena ciri khas yang tidak dimiliki belimbing lain. Di Blitar juga dikembangkan area lahan milik pemerintah daerah seluas lima hektare untuk dijadikan lokasi agrowisata belimbing. Setiap pohon belimbing rata-rata menghasilkan lebih dari 0,5 kuintal buah selama empat kali dalam setahun. H Imam Surani mewajibkan seluruh warga desanya menanam pohon belimbing di pekarangan rumah. Tujuannya agar tanaman pelindung yang ditanam di rumah memberi nilai tambah. “Warga wajib pemanfaatan Halaman, samping, belakang, depart rumah. Bahkan tanaman lain harus diganti dengan tanaman belimbing kata dia.
Belimbing karangsari merupakan salah satu varieteas belimbing unggul nasional dengan belimbing kota blitar0004SK Mentan pada tahun 2004. Beberapa keunggulan belimbing karangsari di antaranya:
■ Penampilan buahnya sangat menarik berwarna kuning oranye bila masak optimal.
■ Ukuran buah besar sekitar 350-600 gram per buah.
■ Rasa buah manis, kandungan air tinggi, daya simpan lebih dari tujuh hari.
■ Mampu berbunga dan berbuah sepanjang tahun dan panen daoat dilakukan 3-4 kali dalam setahun.
■ Produktivias 400-500 kg/phon/tahun (empat kali panen) dengan umur tanaman lebih ciari 10 tahun.
Belimbing hasil panen dari halaman warga yang disortir berdasarkan kelas super (bobot 500 g per buah), kelas B, dan C itu termasuk istimewa. Warna buah kuning-jingga terang mengkilap dengan lingir hijau serta beraroma harum saat matang pohon. Ukuran besar berbobot 350—600 g per buah, manis segar dengan tingkat kemanisan mencapai 9 —100 brix. Sudah begitu ia memiliki daya simpan lama, mencapai sepekan lebih. lebih dari 7 hari. Penelitian Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur, mem- perlihatkan belimbing karangsari yang pernah menjadi juara kontes buah tropis BPTP Jawa Timur pada 2003 itu mengandung asam oksalat, asam sitrat, kaya potasium, vitamin A dan C. Sosok pohon belimbing karangsari juga tidak terlalu tinggi sehingga memudahkan pemanenan.
Wajar bila warga yang sebelumnya menanam beragam varietas, kini hanya menanam belimbing karangsari yang telah menjadi varietas unggul nasional. Nah, belimbing karangsari kini sudah diperbanyak dengan cara okulasi. Penanamannya kini tak melulu di Kelu- rahana Karangsari, Blitar, tapi sudah menyebar hingga Tulungagung, Trenggalek, Kediri, Nganjuk, Malang, Bondowoso, Jember, dan beberapa daerah lain di luar Pulau Jawa.
Saat panen raya dan cenderung kelebihan produksi, Surani dan teman-teman dalam kelompok tani Margo Mulyo mengolah buah belimbing menjadi dodol, sari buah, manisan, sirup dan keripik belimbing. Sekarang tempat kediaman Imam Surani menjadi Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S), tiap bulan tidak sepi dari kunjungan warga, kelompok tani dari berbagai daerah. Pemerintah daerah dan pusat memberikan dukungan mo¬dal, fasilitasi alat dan ruang pertemuan pelatihan. ■ Pribadi/Marta Mukti Widodo

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: majalah SAREKDA Jawa Timuran/edisi; 020/2014/halaman 30-31

Fokker, Anthony Herman Gerard Fokker (Tony), Blitar

fokker 16 April 1890,  Anthony Herman Gerard Fokker (Tony) orang Belanda yang lahir di Blitar, Keresidenan Kediri,  Jawa Timur, Neederlandsch Indië (Indonesia). Ayah Tony, Herman Fokker Sr pemilik perkebunan kopi di Jawa Timur.

Usia empat tahun, Fokker kecil dibawa pulang oleh orang tuanya kembali ke negeri asalnya di Haarlem, Negeri Belanda. Kegemaran Tony kecil adalah membuat percobaan mesin uap dan bermain dengan model keretaapi-keretaapian. Hal ini mengakibatkan ia agak tertinggal di sekolah.

Fokker bersama kawannya Frits Cremer, membuat ban anti bocor namun hak patennya sudah dimiliki oleh seorang berkebangsaan Perancis, baru diketahui waktu mencoba mendaftarkan patennya.

Tahun 1910, diusia 20 tahun Fokker dikirimkan ayahnya ke Jerman untuk memperdalam keahliannya dalam bidang otomotif. Namun  Fokker hanyabetah sehari ia lebih berminat pada rancang-bangun, pembuatan pesawat terbang. lalu pindah ke Mainz dan masuk sekolah mengemudi yang ternyata kemudian mengajarkan konstruksi pesawat terbang dan menerbangkannya.

Fokker menunjukkan bakatnya yang luar biasa dalam hal pembuatan pesawat terbang. Masa itu seluruh Eropa sedang “demam” pesawat terbang, menyusul ditemukannya pesawat terbang untuk yang pertama kali di dunia oleh Orville dan Wilbur Wiright pada tanggal 17 Desember 1903 di Kitty Hawk, North Caroline, Amerika Serikat.

fokker 2

Tahun 1910 akhir, Fokker membuat gempar seluruh Jerman pada waktu ia berhasil menciptakan pesawatnya yang pertama. Pesawat ini diberi nama “De Spin” yang dalam bahasa Jerman berarti Laba-Laba (The Spider). Namu pesawat udara ini mengalami kecelakaan, menabrak pohon dan rusak. Pada percobaan berikutnya, dengan pesawat buatannya yang ke dua dari jenis yang sama Fokker berhasil mendapatkan license penerbangnya.

Tahun 1911, diatas langit Amsterdam. Dalam acara hari ulang tahun Ratu Belanda, Fokker mengadakan Joy Flight atau atau terbang perkenalan dengan meminta pembayaran sekedarnya untuk menumbuhkan minat kedirgantaraan sekaligus merebut hati ayahnya.

Tahun 1912, Fokker mendirikan pabrik pesawat terbangnya yang pertama, yang diberi nama Fokker Aeroplanbau di Johannisthal dekat Berlin, dengan usaha menjual pesawat terbang dan memberi pelajaran terbang.

Usahanya menarik perhatian kalangan militer Kekaisaran Jerman. Ketika pecah Perang Dunia I, Fokker telah menjual hampir 4000 pesawat kepada militer, belum termasuk rancangannya yang telah dibuat oleh pabrik-pabrik pesawat terbang yang lain yang kemudian tercatat sekitar 40 jenis pesawat. Ialah yang mengorganisasi produksinya. Sebagian besar dibuat oleh staf konstruksi. Yang paling mencolok adalah mekanisme terminasi yang memungkinkan pilot menembakkan senapan dengan baling-baling pemutar. Fokker mendapat bantuan dari seseorang yang mengalahkan Morane (buatan Perancis) dengan peralatan primitif dari jenis yang sama (ditemukan oleh Raymond Saulnier). Ketika digabungkan ke Fokker Eindecker yang terkenal, penggunaan mesin kendali tangkai dorong itu menuju pada fase superioritas udara Jerman yang dikenal sebagai Fokker Scourge.

Tahun 1914, pabriknya dinasionalisasi oleh pemerintah Jerman (Perang Dunia I). Tapi Anthony Fokker dipertahankan sebagai pimpinannya. Sejak itu ia berhasil memproduksi lebih dari 40 tipe pesawat terbang untuk kepentingan militer Jerman. Salah satu penemuannya yang spektakuler pada masa itu adalah sistem yang mampu mensinkronisasikan penembakan peluru senapan mesin yang dipasang dipesawat, melalui celah baling-baling pesawat yang sedang berputar.

Karena pesawat dan produk kedirgantaraannya banyak dimanfaatkan oleh Kekaisaran Jerman, maka kemudian ketika Perang Dunia I selesai, dia mendapat tuduhan sebagai penghianat. Padahal sebelum perang, selain Kekaisaran Jerman, tidak ada negara lain menaruh perhatiannya kepada pesawat atau pun usahanya.

Tahun 1918 Perang Dunia I usai dan Traktat Versailles ditanda-tangani. Di dalam traktat ini Jerman dilarang membangun industri pesawat terbang.

21 Juli 1919, Di Tanah Airnya, Belanda, Fokker mendirikan NV Koninklijke Vlietuigen Fabriek Fokker atau Dutch Aircraft Company, yang kemudian dikenal dengan nama Fokker Aircraft Company. Industri pesawat terbang yang didirikannya kemudian dikenal sebagai Fokker. Fokker membuat pesawat F.2 yang kemudian dikenal sebagai Fokker F.2 yang dirancang sebagai pesawat penumpang. Kemudian Fokker F.VII yang kemudian menjadi pesawat yang cukup laris sebagai pesawat penumpang, kemudian maskapai penerbangan Belanda KLM menguasai seluruh jangkauan Eropa, termasuk juga pesawat yang menjadi armada KNILM, maskapai penerbangan Hindia Belanda (kini Indonesia).

Tahun 1922,  Fokker pindah ke Amerika Serikat dan menjadi warga negara Amerika. Disini ia mendirikan cabang pabriknya bernama Atlantic Aircraft Corporation. Akibat persaingan yang ketat di Amerika, kekayaan Fokker berkurang sehingga ia harus pulang lagi ke Negeri Belanda dan menjadikan pabriknya disana sebagai pusat kegiatan pabrik-pabriknya yang lain. Meskipun produksi pesawat untuk penumpang terus berjalan, karir Fokker agak menurun.

Kemudian pesawat yang berhasil dibuat adalah Fokker F.18 yang kemudian memecahkan rekor penerbangan ke Batavia (Jakarta sekarang), lalu Fokker F.20 yang dapat dilipat rodanya. Keseluruhannya hingga 28 tipe pesawat.

Tahun 1927-1933, Fokker benar-benar menguasai pasar untuk tipe pesawat angkut dan bahkan perusahaan-perusahaan penerbangan di Amerika Serikat pada periode tersebut banyak menggunakan pesawat Fokker.

sebagai orang Belanda yang sukses dan dikagumi didalam industri penerbangan, Anthony Fokker kemudian dijuluki The Flying Dutchman. Di kalangan orang Belanda kuno ada sebuah tahyul atau kepercayaan mengenai The Flying Dutchman yaitu sebuah legenda tentang adanya kapal laut “jadi-jadian” atau hantu yang berlayar di lautan Atlantik dan bisa terbang.

Di angkasa raya sudah banyak berseliweran kapal terbang melang-lang buana. Dan diantara kapal-kapal terbang tersebut adalah buatan seorang anak Belanda, Tony Fokker. Nama besar Fokker terkait dengan Indonesia. Pendirinya lahir di bumi Jawa Timur, Indonesia.

Tahun 1970 -1990, pesawat jenis Fokker ini merajai di hampir seluruh bandara-bandara di dalam negeri. Jumlah populasinya di Indonesia adalah yang terbesar ke dua di dunia, setelah Negeri Belanda. Garuda Indonesia pernah memiliki pesawat jenis Fokker series F-27 Friendship, F-28 Fellowship. TNI-AU mempunyai Fokker F-27 Troopship dan Sempati Air pernah membeli series Fokker F-100. Pabrik ini akhirnya bangkrut karena rugi dan ditutup pada tahun 1996.

23 Desember 1939, Anthony Fokker meninggal dunia dalam usia 49 tahun di rumah sakit Murray Hill, New York, Amerika Serikat, karena penyakit radang paru-paru.

Beliau tidak sempat melihat bagaimana kemudian pabriknya dihancurkan pada Perang Dunia II, dan kemudian bangkit kembali melalui peran pewarisnya yang membangunnya perlahan demi perlahan dan menjadi perusahaan industri persawat yang cukup diperhitungkan di dunia kedirgantaraan, hingga akhirnya dinyatakan bangkrut pada tahun 1996.

http://teknologi.kompasiana.com/internet/2010/04/06/mengenang-anthony-herman-gerard-fokker-110547.html

Soehardi, Blitar

HARDI PELUKIS BLITAR - Copy26 Mei 1951, R. Soehardi lahir di Blitar, Jawa Timur, Indonesia. Akhirnya lebih dikenal dengan Hardi

Tahun 1970, hidup di Ubud, Bali melukis bersama W. Hardja, Anton Huang, kemudian kuliah di Akademi Seni Rupa

1970 – 1980an,  karya lukis Hardi banyak mengekspos masalah sosial, dan menjadi pencetus Gerakan Seni Rupa Baru yang fenomenal, menjadi karya-karya yang teduh, meski tetap dengan sapuan yang galak, dan blak-blakan, kadang meledak-ledak. Seorang kolektor dan pengamat karyanya menandai perubahan, memiliki kepribadian terbuka.

Surabaya.
Tahun 1971 – 1974, Hardi kuliah di STSRI ASRI Yogyakarta.

 Tahun 1975 – 1977, kuliah di De Jan Van EYC Academie di Maastricht, Belanda. Dalam bidang senirupa Hardi berguru kepada Daryono, Fadjar Sidik, Widayat, Prof. Hans Seur, Prof. Pieter De Fesche, Nyoman Gunarsa, dan Drs. Sudarmadji.

Tahun 1976,  mengadakan pameran tunggal di Heerlen Belgia, kemudian di Taman Ismail Marzuki, Bentara Budaya, Balai Budaya, Komala Galerry Ubud, Wisma Seni Depdikbud, Hotel Sahid, kemudian pameran bersama dengan berbagai kelompok pelukis, sampai tahun 1992-an Hardi tidak mencatat lagi pameran-pamerannya karena nyaris tiap bulan mengadakan pameran.

5 Desember 1978,  Hardi ditangkap dan di tahanan Laksusda Jaya, karena lukisan foto dirinya, berukuran 60 x 30 cm, dengan pakaian jendral berbintang dan bertajuk Presiden tahun 2001, Soehardi. Pamasangan foto dirinya di tengah pemerintah represif dan militeristik Orde Baru merupakan protes dan perlawanan, sekaligus tantangan kepada penguasa. Namun, berkat campur tangan Wakil Presiden Adam Malik saat itu, Hardi dibebaskan.

18 April 1999 – 18 Mei 1999, Hardi mengadakan pameran tunggal di Graha Budaya Indonesia di Tokyo.

Mei 2008 akhir,  Hardi mengikuti pameran bersama “Manifesto” di Galeri Nasional, menghadirkan karya bertema tersangka terorisme berjudul Waiting for the death penalty.

Karyanya dikoleksi Keluarga Cendana, menteri-menteri kabinet Orde Baru dan Orde Reformasi, tokoh-tokoh nasional, kalangan pengusaha, dan rekan-rekan seniman, selain lembaga-lembaga bergengsi seperti Museum Purna Bhakti Pertiwi, Balai Senirupa DKI, Dinas Kebudayaan DKI, TIM, LBH, Wisma Seni Nasional, Bentara Budaya, PT. Coca Cola Museum Neka Ubud – Bali, Yayasan Pengembangan Bisnis Indonesia, dll.
Terakhir dia aktif dan menjadi Ketua UMUM Ormas Seniman Indonesia Anti Narkoba (SIAN) di bawah naungan bersama Badan Narkotika Nasional (BNN).=S1Wh0T0=

Prof. Dr. Boediono, M.Ec, Blitar

boediono25 Februari 1943, Prof. Dr. Boediono, M.Ec. lahir di Blitar, Jawa Timur, Indonesia.T

Tahun 1969, Boediono menikah dengan Herawati (lahir di Blitar, 15 Februari 1944),dan dikaruniai dan memiliki dua orang anak yaitu Ratriana Ekarini, M.Bus (lahir di Jakarta, 16 Maret 1970) dan Dios Kurniawan, MSc (lahir di Yogyakarta, 17 Desember 1974).

Tahun 1967. Boediono mendapat Gelar Bachelor of Economics (Hons.) diraihnya dari University of Western, Australia.

Tahun 1972, Boediono mendapat gelar Master of Economics diperoleh dari Monash University, Melbourne, Australia.

Tahun 1973 – 2009, Dosen/  Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada.

Tahun 1979, Boediono mendapatkan gelar S3 (Ph.D.). Doctor of Philosophy dari Wharton School, University of Pennsylvania, AS.

Tahun 1981, Karya dan terbitan,Mubyarto, Boediono, Ace Partadiredja. Ekonomi Pancasila. BPFE. Yogyakarta.

Tahun 1986, Karya dan terbitan,  The International Monetary Fund Support Program in Indonesia: Comparing Implementation Under Three Presidents. Bulletin of Indonesia Economic Studies, 38(3): 385-392.

Tahun 1988 – 1993 Deputi Ketua Bidang Fiskal dan Moneter Bappenas.

Tahun 1993 – 1998, Direktur Bank Indonesia (saat ini setara Deputi Gubernur).

Tahun 1996-1997, Direktur III Bank Indonesia Urusan Pengawasan BPR.

Tahun 1997-1998, Direktur I Bank Indonesia Urusan Operasi dan Pengendalian Moneter.

Tahun 1998-1999, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Kabinet Reformasi Pembangunan

Tahun 1999, Boediono mendapat penghargaan Bintang Mahaputra Adipradana

Tahun 1998, Boediono pertama kali diangkat menjadi menteri dalam Kabinet Reformasi Pembangunan sebagai Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional. Setahun kemudian, ketika terjadi peralihan kabinet dan kepemimpinan dari Presiden BJ Habibie ke Abdurrahman Wahid, ia digantikan oleh Kwik Kian Gie.

Tahun 2001,  Karya dan terbitan, Boediono. Indonesia menghadapi ekonomi global. BPFE. Yogyakarta.

September 2001, langkah pertama oediono saat menjabat Menkeu, menyelesaikan Letter of Intent dengan IMF yang telah disepakati sebelumnya. Serta mempersiapkan pertemuan Paris Club, yang merupakan salah satu pertemuan penting karena menyangkut anggaran 2002.

Tahun 2001 – 2004, Boediono kembali diangkat sebagai Menteri Keungan dalam Kabinet Gotong Royong. Oleh BusinessWeek, Boediono dipandang sebagai salah seorang menteri yang paling berprestasi,  bersama Menteri Koordinator Perekonomian Dorodjatun Kuntjoro-Jakti dipanggil ‘The Dream Team’ karena mereka dinilai berhasil menguatkan kestabilan makroekonomi Indonesia yang belum sepenuhnya pulih dari Krisis Keungan 1998. juga berhasil menstabilkan kurs rupiah di angka Rp 9.000 per dolar Amerika Syarikat.

December 2002, Karya dan terbitan, Boediono. Strategi Industrialisasi: Adakah Titik Temu ? Prisma Tahun XV, No.1.

Desember 2003, oediono bersama tim ekonomi Kabinet Gotong-Royong, mengakhiri kerjasama dengan IMF (Dana Moneter Internasional).

Tahun 2004, Karya dan terbitan, Kebijakan Fiskal: Sekarang dan Selanjutnya?. dalam Subiyantoro dan S. Riphat (Eds.). Kebijakan Fiskal: Pemikiran, Konsep dan Implementasi. Peneribit Buku Kompas, 43-55 pp.

Tahun 2005, Karya dan terbitan  Stabilization in A Period of Transition: Indonesia 2001-2004. dalam The Australian Government-The Treasury, Macroeconomic Policy and Structural Change in East Asia: Conference Proceedings, Sydney, ISBN 0-642-74290-1, 43-48 pp.

August 2005, Karya dan terbitan, Professor Mubyarto, 1938-2005. Bulletin of Indonesian Economic Studies 41(2):159-162.

December 2005, Karya dan terbitan Managing The Indonesian Economy: Some Lessons From The Past?. Bulletin of Indonesia Economic Studies, 41(3):309-324.

5 Disember 2005– 17 Mei 2008, Boediono diangkat menjadi Menteri Koordinator bidang Perekonomian. Reshuffle I Kabinet Indonesia Bersatu, direspon sangat positif oleh pasar dengan bukti menguatnya IHSG serta mata uang rupiah. Kurs rupiah menguat dibawah Rp 10.000 per dolar AS. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEJ juga ditutup menguat hingga 23.046 (naik sekitar 2 peratus) dan berada di posisi 1,119.417, berhasil menembus level 1,100. Boediono mampu mengelola makro-ekonomi belum didukung pemulihan sektor riil dan kewangan.

Tahun 2006, mendapat gelar Profesor dari Universitas Gadjah Mada

Tahun 2007, dan “Distinguished International Alumnus Award” dari Universiti Western Australia.

Februari 2007. mengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, di universitas ini pula ia diangkat sebagai Guru Besar

9 April 2008, Dewan Permusyawaratan Rakyat mengesahkan Boediono sebagai Gubernur Bank Indonesia.

15 Mei 2009,  Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) – Boediono calon presiden dan calon wakil presiden 2009-2014 dideklarasikan, di Sasana Budaya Ganesha kota Bandung.

8 Juli 2009, Pada Pemilihan Umum Pasangan SBY-Boediono yang didukung Parti Demokrat dan 23 partai lainnya, termasuk PKB, PPP, PKS, dan PAN, menang atas dua pesaingnya, Megawati—Prabowo dan Kalla—Wiranto.

Jabatan lain: Executive Board for Asia – Wharton Advisory Boards, The Wharton School of the University of Pennsylvania serta Commissioner of Commission on Growth and Development

Makam Proklamator

Makam Proklamator masih Jadi Primadona Wisata

Jika datang dan melihat Makam Bung Kamo, otomatis, dibenak kita teringat dan tentu saja tak mungkin terlupakan akan sosok sang Proklamator Kemerdekaan RI sekaligus Presiden pertama RI. Meskipun beliau telah meninggal dunia pada 21 Juni 1970, akan tetapi namanya masih tetap harurn dan dikenang sepanjang jaman, bahkan makarnnyapun masih tetap menjadi prirnadona wisata yang tidak pemah sepi oleh pengunjung. Makam yang terletak di Desa Sentul, Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sanan Wetan Kota Blitar ini tepatnya berada di Jl. Slamet Riyadi tetapi saat ini sudah berganti nama menjadi Jl. SoekamoHatta, tepatnya sekitar empat kilometer dari Kota Blitar. Makam yang menempati dan dibangun diatas lahan seluas 1,8 Hektar ini, telah mengalami perubahan beberapa kali pemugaran oleh Pemerintah Kota Blitar. Pemugran ini dimaksudkan untuk pencitraan Makam Bung Kamo sebagai ikon Kota Blitar yang mampu menarik pengunjung untuk berziarah.

Di areal komplek ini sejak 20031alu, juga dilengkapi bangunan perpustakaan dan mini, museum; tujuannya agar para pengunjung dapat lebih mengenal dan mengetahui serta mengeksplor apa yang pemah mereka dengar dan apa yang pemah mereka baca. Di sepanjang jalan menuju makam, dirnulai dari jalan yang menghubungkan perpustakaan di sisi selatan komplek makam sarnpai pada gapura Agung yang berdiri megah ditengah pelataran dalam dilengkapi sarana penunjang ini terbuka untuk umum. Jarak dari Gapura Agung menuju ke makam Bung Kamo tidaklah terlalu jauh, paling- paling hanya sekitar 5 hingga 8 meter dari pusara. Artinya, setiap orang yang berziarah ke makam Bung Kamo bisa mendekat ke pusara Presiden pertama yang diapit oleh kedua orang tuanya yakni Ayah dan ibunya. Agar bisa menampung para penjiarah, maka Areal Makam ini dibangun Joglo dengan luas sekitar 40 meter persegi Bangunan obyek wisata religi bernuansa kebangsaan ini menjadi obyek wisata yang selalu menjadi tujuan utama bagi . turis domistik maupun mancanegara.

Bangunan utama disebut dengan Cungkup Makam Bung Kamo yang berbentuk joglo dikombinasi dengan seni bangunan jawa yang diberi nama Astono Mulyo. Diatas Makam diletakkan sebuah batu pualam hitam bertuliskan : “Disini dimakarnkan Bung Kamo, Proklamator Kemerdekaan dan Presiden Pertama Republik Indonesia. Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.” . Sebelum dilakukan pemugaran bangunan makam yang berbentuk joglo dan berukuran cukup besar ini, makam tertutup rapat oleh dinding kaca, sehingga peziarah hanya bisa melihat batu nisan dan berdo’a untuk mendoakan Proklamator dari luar kaca penyekat. Untuk itu, sejak tahun 2001 lalu dilakukan pemugaran dan perubahan tata ruang bangunan yang ada di makam. Yaitu saat negeri ini dipimpin oleh Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati sebagai Wapresnya, Setelah pemugaran usai, maka pusara Bung Kamo yang diapit oleh makam kedua orang tuanya, R Sukemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai telah terbuka untuk umum, bahkan setiap peziarah bisa langsung berdoa didekat pusara dan menyentuh batu nisannya.

Sebagai kawasan wisata ziarah and alan, Makam Bung Kamo rata-rata pengunjung mencapai 1.000 peziarah setiap harinya. Menurut data Pemkot Blitar, wisatawan lokal maupun mancanegara yang berkunjung ke Makam Bung Kamo sepanjang tahun 2010 mencapai 500.000 wisatawan Untuk melengkapi megahnya komplek wisata makam, pemerintah dalam hal ini Pemerintah Pusat, Pemprov dan Pemkot Blitar membangun perpustakaan yang diberi nama” Bung Kamo” dan peresmiannya dilakukan oleh putrinya sendiri Yakni megawati Soekamo Putri yang saat itu menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia tepatnya pada tanggal 3 Juli 2004 lalu. Bangunan yang terdiri dari empat gedung bertingkat dan dipisahkan oleh pelataran serta kolam yang tertata cantik, rapi memanjang ini, menambah kemegahan dan keeksotisan keberadaan perpustakaan dimaksud. Sesuai  dengan fungsinya yaitu perpustakaan sebagai sarana melestarikan sosok serta pemikiran sang proklamator, terutama bagi generasi muda mendatang. Diareal ini tidak ada yang sulit atau yang ribet, sebab setiap pengunjung bisa masuk ke perpustakaan tanpa dipungut biaya, serta bangunannya didesain secara indah serta dilengkapi pendingin (AC) sehingga sllasananya terkesan sangat nyaman.

Tidak hanya itu,pengunjung juga bisa melihat gambar-gambar dan barang- barang bersejarah peninggalan Bung Kamo semasa beliau berjuang. Tak cuma yang realistis, hal- hal yang berbau magis dan mistispun terdapat pula di sini seperti kopor bersejarah, dan lukisan! gambar Bung Kamo yang bisa. bergetar sendiri. Dengan dilengkapi pengeras suara, terkadang operator juga memutar pidato Sang Proklamator yang terkenal sebagai orator. Ada satu hal penting atau peraturan yang harus ditaati dan tidak boleh dilanggar oleh semua pengunjung perputakaan dan Museum Bung Karno yaitu tidak diperbolehkan mengambil gambar/ mendokumentasikan apapun yang ada di dalam ruangan ini. Gedung Perpustakaan Proklamator ini terdiri atas beberapa bagian untuk menyimpan koleksi. Koleksi khusus berada di Gedung A lantai 1 timur, mengoleksi otobiografi Bung Kama, buku-buku karya Bung Kamo, serta buku-buku tentang Blmg Kamo, karnus, ensiklopedi, indeks, peta, dan lain-lain. Gedung A lantai 1 barat digunakan untuk koleksi foto, lukisan, dan peninggalan Bung Kamo. Lantai 2 Wltuk mengoleksi buku-buku yang berkaitan dengan karya umum, filsafat, agama, ilmu sosial, bahasa, ilmu murni, ilmu terapan/teknologi, kesenian/olahraga, kesusasteraan, sejarah, dan geografi.

Di ruangan itu juga terdapat beberapa terbitan secara berkala, seperti surat kabar, majalah, dan buletin. Sedangkan koleksi buku-buku karangan penulis luar negeri tentang Indonesia terbitan berbagai Negara bisa dijumpai di Gedung B. Ruang audio visual di Gedung C, digunakan untuk menikmati koleksi audio dan visual dalam bentuk CD dengan kapasitas 100 orang. Untuk ruang seminar/talkshow, pelatihan singkat, presentasi, dan sebagainya berkapasitas 50 orang berada di Gedung C, Selain itu, komplek ini juga dilengkapi dengan Amphi Theatre.  Panggung terbuka yang berada di samping gedung perustakaan ini yang diproyeksikan sebagai tempat penarnpilan karya budaya dan keseruan anak bangsa. Panggung tersebut makin semarak pada saat Haul Bung Kamo yang jatuh pada bulanJuni. Perpustakaan tersebut secara kelembagaan di bawah Perpustakaan Nasional, sedangkan personel pengelolanya di bawah Dinas Inkomparda Kodya Blitar yang terdiri atas 31 tenaga perpustakaan, 16 keamanan, dan 7 kebersihan•

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Dharma Wanita. Volume III, No. 29, Mei 2011, hlm. 32

Soeprijadi, Pemberontak PETA

Soeprijadi13 April 1923, Priyambodo lahir di Trenggalek. dikenal dengan nama Soeprijadi. Awalnya Soeprijadi perwira instruktur, diangkat Jepang untuk pembentukan tentara-tentara pribumi sebagai kader Peta, bertempat di Peleton I Kompi III Peta di Blitar. Melihat kekejaman tentara Jepang pada bangsanya, hati Soeprijadi muda tadak bisa menerima.

14 Februari 1945, kebenciannya kepada penjajah Jepang yang kejam akhirnya meletus menjadi sebuah pemberontakan di Blitar, Supriyadi dengan kawan-kawannya. Kendati bisa dipadamkan dalam waktu singkat, pemberontakan yang dipimpin perwira berpangkat Shodancho yang baru berusia 22 tahun ini memakan banyak korban dari pihak bala tentara Jepang.

Namun karena kekuatan yang tidak berimbang, anggota Peta yang melakukan perlawanan itu akhirnya dapat ditumpas.

Sejumlah anak buah Soeprijadi yang menyerah malah ada yang dihukum mati dan dipenjara.

Sedangkan keberadaan Soeprijadi sendiri masih diliputi misteri. Tidak ada saksi yang melihat langsung ia dieksekusi ataupun melihat jenasahnya jika terbunuh oleh Jepang waktu pertempuran. Namun tidak hanya sebagian kecil saja, yang meyakini dia masih hidup, mengingat kejamnya perlakuan tentara Jepang terhadap kaum pemberontak.

6 Oktober 1945, Ketika Bung Karno menyusun kabinet, Belau mengambil Keputusan untuk memberikan jabatan Menteri Keamanan Rakyat bagi Soeprijadi.

30 Oktober 1945, Namun karena Soeprijadi tidak kunjung menampakkan diri ketika ditunggu hingga akhirnya pemerintah mengalihkan jabatan itu kepada Soedirman, yang juga mantan anggota Peta.

Cerita tentang keberadaan Soeprijadi hingga kini masih merupakan mitos. Ia dinyatakan hilang setelah memimpin pemberontakan Peta (Pembela Tanah Air) terhadap tentara pendudukan Jepang di Blitar.

Februari 1945. Pemberontakan yang dipimpinnya adalah gejolak terbesar sepanjang pemerintahan pendudukan Jepang di Indonesia. Pengangkatan Soeprijadi adalah tanda penghargaan dan kepercayaan kepada semangat Peta, yang patriotismenya patut diteladani.

*Mendapatkan gelar Pahlawan Berdasar SK Presiden No: 063/TK/1975 tanggal 98 – 1975,  asal Daerah/Pengusul Jawa Timur

(S1Wh0 n  BAnT0)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Baskara T. Wardaya, SJ. Mencari Supriyadi: Kesaksian Pembantu Utama Bung Karno.  Yogyakarta: Galang  Press, 2008.
Sumber Ilustrasi: Kementrian Sosial Republik Indonesia, http://pahlawancenter.com/pahlawancenterbaru/?…

Sumbangsih Mas TRIP

SUMBANGSIH MAS TRIP PADA DESA-DESA YANG PERNAH JADI BASIS GERILYA

1. Tahun 1976 di Mojokerto
a. Sebuah Gedung SMP
b. Sebuah Balai Desa
c. Sebuah rumah untuk Kepaia Desa berikut kantor Desa Parengan Kecamatan Jetis Kabupaten Mojokerto.

2. Tahun 1977 di Madiun

  1. Bantuan sebesar Rp. 3.5 juta kepada SMP II, serta merehabilitasi gedung SMP II tersebut
  2. Membuat prasasti dihalaman gedung SMP II Madiun.

3. Tahun 1978 di Gabru-Wlingi/Blitar

  1. Sebuah Balai Desa
  2. Sebuah Kantor Kepala Desa
  3. Sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak.
  4. Sebuah Balai Pengobatan berikut obat- obatannya didesa Gabru
  5. Sebuah monumen/patung
  6. Menyampaikan bingkisan dan sebuah TV didesa Salam Blitar.

 4. Tahun 1979 di Jember

  1. Sebuah tempat pemandian umum.
  2. Sebuah Mesjid
  3. Pembuatan 3 buah jembatan
  4. Memberikan 800 batang bibit cengkeh
  5. Memberikan 500 batang bibit kelapaMembuat prasasti/patung di desa Panduman kecamatan Jelbuk Kabupaten Jember.

5. Tahun 1980 di Bojonegoro dan Surabaya

  1. Sebuah gedung sekolah SMP lengkap de­ngan 9 ruangan kelas.
  2. Sebuah ruangan laboratorium lengkap de­ngan peralatannya.
  3. Sebuah Mesjid
  4. Sebuah Aula
  5. Sebuah ruangan kerja untuk ketrampilan.
  6. Rumah untuk guru-guru sebanyak 12 buah.
  7. Pengerasan jalan sepanjang 3 Km untuk masyarakat Mojoranu
  8. Peresmian sebuah tugu prasasti/tetenger gugurnya 4 pahlawan TRIP ketika mempertahankan Bukit Gunungsari/Surabaya pada tahun 1945.

6. Tahun 1981 di Nganjuk

  1. Sebuah gedung Sekolah Luar Biasa leng­kap dengan peralatannya.
  2. Memperbaiki gedung kelurahan desa Be-gadung
  3. Peresmian jalan Mas TRIP

7. Tahun 1982 di Kediri

  1. Sebuah Balai Desa di Klanderan/Plosoklaten
  2. Sebuah rumah Kepala Desa
  3. Sebuah kantor PKK
  4. Membuat prasasti/patung Mas TRIP.

8. Tahun 1983 di Malang

  1. Pemugaran Makam Pahlawan TRIP di ja­lan Salak/Malang
  2. Sebuah Balai Desa di Wadung.
  3. Memberikan bahan-bahan keperluan Ko­perasi desa, antara lain Mesin jahit, lampu peieomak, buku tabanas setiap anggauta koperasi
  4. Membuat sumber air bersih untuk minum, mandi
  5. Pengairan sawah ladang di desa Wadung Malang.

9. Tahun 1984 di Jombang/Blitar.

  1. Sebuah taman kanak-kanak di desa Klepc k/Jombang
  2. Sebuah kantor Kepala Desa di desa Gan- dusari Blitar./li>

10. Tahun 1985 di Madiun.

  1. Sebuah prasasti/patung korban pemberon­takan PKI Madiun
  2. Bantuan 2 Juta Rupiah untuk SMPN II Madiun.
  3. Peresmian Jalan Mas TRIP

 11.   Tahun 1986 di Surabaya.

  1. Membuat prasasti di JAIan Darmo 49 (dihalaman gedung Santa Maria) tempat tanda lahirnya TKR pelajar Surabaya.
  2. Peresmian jalan Mas TRIP di Gunungsari

12.   Tahun 1987 di Tulungagung dan Surabaya.

  1. Peresmian Prasasti/patung mas TRIP di Beji Tulungagung
  2. Napak Tilas rute Banteng Blorok antara Rejoagung (Tuiung agung) sampai Gan- dusari (Blitar)
  3. Peresmian Prasasti/patung mas TRIP di Beji Tulungagung
  4. Napak Tilas rute Banteng Blorok antara Rejoagung (Tuiung agung) sampai Gan dusari (Blitar)
  5. Napak tilas rute Bataljon 1000 oleh Re­simen Maha Surya IKIP Surabaya.
  6. Perbaikan jembatan.
  7. Peresmian Jalan Mas TRIP di Tulungagung
  8. Peresmian Prasasti di Jalan Karangpilang Surabaya.
  9. Peresmian sepanjang jalan Karangpilang menjadi jalan Mas TRIP.

13.   Tahun 1988. di Dawuhan Trenggalek dan Malang

  1. Peresmian jembatan Dawuhan.
  2. Peresmian Monumen AM Track di Moseum Brawijaya Malang.
  3. Sebuah Balai Desa di desa Gandusari.
  4. Sebuah Prasasti/patung

 14. Tahun 1989 di Pare Kediri

  1. Peresmian palung Mas TRIP di Pare
  2. Peresmian pembangunan Wisma Pustaka Rakyat di Pare.
  3. Renovasi jalan disekitarnya
  4. Peresmian jalan Mas TRIP.

15. Tahun 1990 di Probolinggo Bondowoso dan Blitar.

  1. Peresmian monumen/’patung Mas TRIP di jalan/desa Kanigaran Probolinggo
  2. Peresmian jalan Kanigaran menjadi Jalan Mas TRIP di Probolinggo.
  3. Peresmian Taman Kanak-Kanak di Bon­dowoso
  4. Peresmian jalan Mas TRIP di Bondowoso.
  5. Bantuan Korban Gunung Kelud berupa alat pembuat Genteng dan bata/batako di Nge- legok Blitar.
  6. Menyerahkan Bantuan 950 bibit pohon mlinjo, 128 batang bibit pohon rambutan, 128 batang bibit pohon Blimbing, serta 1,35 Kg bibit terong, bayem, dan Tomat TRIP pada desa Ngelegok Blitar.

16. Tahun 1991 di Surabaya.
Prasasti Tempat gugurnya Sdr. Dumadioadi di Jl. Kusumabangsa.

17. Tahun 1992 di Blitar.

  1. Gedung Perpustakaan di Blitar.
  2. Gerbang Pariwisata Candi Penatar­an.
  3. Monumen Palagan Ngadirejo.

Mas Trip di Blitar

KEBANGGAAN DAN SIMPATI KAMI PADA PENDUDUK KOTA BLITAR DAN SEKITARNYA

Masuknya Tentara Belanda ke kota Blitar, memang ada perlawanan, sekalipun perlawanan itu hanya dari “Die Kleintjes TRIP” (menurut istilah tentara Belanda)

Perlawanan ini berakhir membawa korban luka-luka, yaitu: Sdr. Moendoro, Sdr. Ichsan dan Sdr. Poetranto. Dan selanjutnya Tentara Belanda bermarkas di kabupaten. Biasanya mereka secepatnya mengadakan operasi pembersihan, tetapi ternyata sampai sore harinya mereka tidak ambil langkah demikian, maka kita akhirnya menetapkan, tetap bersarang di kota sekitar markas mereka. Kira-kira pukul 21.00 malam, kita melancarkan serangan ke markasnya (kabupaten). Sampai di alun-alun, anehnya tidak ada perlawanan dari Belanda. Terbawa oleh emosi anak-anak muda waktu itu, dialun-alun berani menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Sekalipun demikian tetap, tak ada sambutan. Setelah kita berpikir apa sebabnya mereka tidak berani keluar dari sarangnya, maka kita akhirnya pergi melenyapkan diri ke pos. Pagi harinya kita tinggal menunggu, siapa tahu kalau Belanda akan mengadakan pembersihan. Perkiraan ini ternyata benar, dengan menggunakan kekuatan yang besar mereka meng­adakan pembersihan, maka tiada jalan lain kita harus ambil sikap menghindar. Baru setelah mereka kembali dari operasinya sampai dekat kota, bahkan begitu mereka lengah mungkin karena tanpa ada perlawanan, bahkan ada beberapa serdadu yang tertinggal dari teman-temannya, maka timing yang baik ini kita gunakan untuk menyerang mereka hasilnya cukup lumayan. Maklum oleh karena Blitar merupakan kota yang kecil maka lorong-lorong terobosan sekecil apapun kita hafal betul, dan setelah penyerang­an berhasil, kitapun mudah melenyapkan diri.

Ternyata Belanda yang semula menganggap bahwa TRIP itu adalah “de kleine ventjes”, mulailah mengakui bahwa peng­alaman Perang Dunia ke II, tidak bisa diterapkan di Blitar ini.

Desa Salam sebagai basis Komando
Selanjutnya kita menetapkan bahwa desa Salam sebagai basis Komando, dan memperbanyak pos-pos digaris terdepan. Patroli pasukan diintensifkan, agar tiap anggota TRIP mengenal secara cermat daerahnya. Dan patroli ini sampai ke desa nDayu. Yang aneh adalah daerah nDayu yang pernah menjadi basis daerah TNI dan Laskar-laskar karena daerahnya yang strategis, ternyata kosong tak ada seorang tentarapun, maka nDayu kita jadikan basis Garis Pertahanan pertama (eerste linie).

Pagi hari ada informasi, bahwa Belanda akan mengadakan pertandingan sepak bola di lapangan Bendogerit kira-kira jam 13.00.

Maka Soewarno Manuk dan Minabu (Cak Buamin) yang kebetulan sedang patroli, pasukannya dibelokkan menuju Ben­dogerit. Disamping itu ada sebagian pasukan yang lewat sungai sebelah barat gedung sekolah. Semua pasukan siap mengadakan penyerangan. Tinggal menunggu komando. Begitu ada isyarat bahwa penyerangan bisa dimulai, maka segeralah Sdr. Warno Manuk, menembakkan pistolnya, sebagai tanda dimulainya se­rangan. Yang sudah ambil posisi di dekat pertandingan mereka tinggal melancarkan tembakan. Dengan sendirinya Belandapun ngacir tanpa arah. Bahkan wasitnyapun tampak lari terbirit-birit sambil membunyikan sempritannya. Apalagi di tambah tembakan tekidanto Sdr. Prawito dari depan rumahnya Dr. Salamun di Bendogerit. Blaar…Blarr, susul menyusul. Jadi bisa dibayangkan, bagaimana kocar-kacirnya tentara Belanda yang waktu itu sedang berada di lapangan bola. Mereka ada yang jatuh karena tem­bakan, ada yang terjatuh karena tersandung teman-temannya. Pokoknya korban Belnada besar. Sebagaimana sudah kita duga akan datang bantuan tank atau panser untuk melindungi tenta­ranya, maka mulai menderulah suara panser datang membantu. Oleh karena kebetulan, bahwa tekidanto Prawito jatuh meledak di depan panser, maka panserpun mundur dan menghilang. Dengan rasa puas Sdr. Soewarno memerintahkan kita meninggal­kan tempat, secepatnya. Tak lama kemudian Belandapun menyerang posisi TRIP dengan tembakan mortir bertubi-tubi. Terutama sasarannya ditujukan kearah utara. Setelah itu berhenti sepi tanpa ada pertempuran sekecil apapun.

Kedatangan guru kita Pak Darwis
Namun ada yang mengherankan tiga hari kemudian, kita dikejutkan oleh datangnya pelajar-pelajar sekolah menengah dari Blitar ke desa Salam. Maksud kedatangannya untuk menghibur dan memberikan kenang-kenangan, dipimpin oleh bapak guru Engku Darwis. Peristiwa yang mengharukan ini betul-betul langka sekali, karena ada seorang guru membawa murid-murid­nya ke daerah pertempuran yang berbahaya.

Coba bayangkan jauhnya antara desa Salam dengan kota Blitar berapa kilometer, yang masa itu penuh dengan rintangan jalan. Ditengah hiburan berlangsung, bapak Engku Darwis maju ke depan. Banyak diantara kita yang saling bertanya, apa maksud pak Darwis tersebut. Dalam suasana yang hening, maka pak Darwis memberitahukan, sebagai berikut: Bapak sekarang tahu betul, disamping yang kami dengar dan kami lihat dengan mata kepala sendiri bahwa anak-anakku memang berjuang mati-matian untuk menegakkan kemerdekaan ini, untuk itu terus terang kami sangat terharu dan trenyuh. Dengan ini kami umumkan, bahwa bagi anak-anak SMA kelas tertinggi atau kelas terakhir, akan menerima ijasah tanpa syarat. Meledaklah suasana ditempat hiburan itu. Semua yang hadir terharu, sampai-sampai pak Darwis pun tidak lepas ikut meneteskan air matanya. Tak lama kemudian berakhirlah semua acara, Pak Darwis pun pulang kembali ke

Blitar dengan rombongan dan selamat sampai ke rumah masing-masing.

Beberapa Teman mulai berguguran di Ngadirejo
Tepatnya tanggal 14 April 1949 pagi hari kira-kira pukul 04.30, terdengar dari kejauhan, suatu tembakan. Atas inisiatif sendiri Sdr. Minabu bersama Sdr. Hadisuwarno dan Kituk berangkat menyelidiki datangnya tembakan tersebut, ditengah jalan bertemu dengan Soetadi Rono dan Tony Ibrahim, dan diberitahukan bahwa pasukan sedang menuju ke arah selatan. Akhirnya pasukan yang dicarinya bertemu di Bangsari. Tidak lama kemudian tembakan Belanda mendesing di atas kepala. Tetapi banyak teman-teman yang kalem-kalem saja. Baru setelah diingatkan bahwa “Ini tembakan Londo hio rek, engko nek keno bathukmu, kon dadi gawene wong akeh” baru teman-teman tiarap. Maka kontak senjatapun terjadi antara TRIP dengan Belanda. Dan kejadian ini berlangsung lama sekali, karena tidak ada yang saling menyerah atau mundur. Tak lama kemudian terdengarlah suara “Rek aku kenek Rek” ternyata Mulyadi Tjemot gugur. Kemudian tidak jauh dari tempat TRIP bertempur sengit, sedikit di sebelah utara Bangsari, tepatnya di Desa Ngadirejo, pertempuran tidak kalah sengitnya. Kalau di Bangsari kita unggul melawan pasukan Belanda, maka pertempuran di Ngadirejo ini, kita mengakui terdesak, bahkan lari terbirit-birit ke pekarangan orang bahkan sampai ke sawah. Sdr. Nono Sanyoto sebagai pimpinan memerintahkan mundur pasukannya. Lengan cak Minabu tertembak, dan banyak mengeluarkan darah. Ketika ia memperingatkan teman-temannya jangan sampai ada yang mundur melalui sungai, sebab akan menjadi sasaran empuk nantinya, namun sial. Belanda dari belakang telah menyerang dengan stengunnya. Pertempuran di Ngadirejo inilah yang banyak memakan korban teman-teman TRIP. Perlawanan yang gigih inilah menyebabkan Belanda mundur untuk kemudian menghilang. Pertempuran ini berlangsung dari jam 07.00 sampai pukul 13.00 siang. Setelah dicek ternyata 3 orang ditawan Belanda, yaitu Sdr. Hartawan kena punggungnya, Kuncono kena jari-jarinya dan sdr. Mitro luka tertembak pantatnya. Disamping itu luka terkena tembakan namun selamat tidak tertawan diantara-nya: Sdr. Minabu luka pantat dan lengannya, Sunarno tertembus peluru lengan di atas pergelangannya. Sdr. Soejatko tertembak lengan kanannya. Sdr. Soekriadi, sdr. Kariadji, sdr. Dja’far serta sdr. Moelyadi Tjemot yang gugur dalam pertempuran di Bangsari yang tidak jauh dari Ngadirejo, dengan waktu yang bersamaan. Tampaknya korban dari pihak Belanda banyak juga, karena terlihat beberapa temannya ikut menggotong mayatnya. Namun jumlahnya kita tidak tahu persis. Dari pihak TRIP baik yang luka maupun yang gugur semua ditolong, dan dibawa ke nDayu, diiringi jatuhnya hujan rintik-rintik. Belanda rupanya masih penasaran atas kekalahannya yang ke II ini, dimana disamping banyak korbannya juga dia mundur teratur, maka mereka berusaha balas dendam dengan menembakkan mortir dan Hauwitsernya susul menyusul kearah pertahanan kita di desa nDayu. Dengan cepat para korban yang semula kita bawa ke nDayu, terpaksa kita pindah ke Mondangan terus ke Gilir dan Sumenur. Dari nDayu yang kita kira sudah jauh itupun masih dihujani peluru mortir.

Tidak puas dengan tembakan kanonnya, pesawat mereka menggunakan Mustangnya untuk mengejar kita. Namun kami yakin atas pertolongan Tuhan Yang Maha Esa, korban yang luka-luka ini bisa selamat sampailah ke Swaru, yaitu dikaki gunung Kelud.

Tentara Belanda beranggapan, selama TRIP masih ada di Blitar dan sekitarnya, Belanda tak akan aman. Untuk itu usaha mereka yang utama “bagaimana caranya TRIP tidak lagi berada di Blitar”.

Setelah beberapa hari pertempuran agak mereda, ada kabar Sdr. Minabu terserang tetanus. Maka teman-teman TRIP berusaha membawa ke RS. Mardiwaluyo di Kota Blitar. Sekarang tinggal bagaimana caranya masuk ke Blitar, dimana penjagaan Belanda ketat sekali. Namun dengan akal teman-teman dian-taranya dibantu oleh Bapak Darmadji (bupati Blitar ayahnya Sdr. Soeprijadi) Dr. Trisulo, dan Dr. Winoto beserta ibu yang waktu itu membawakan baju ke RS. kesulitan tersebut dapat diatasi. Sering juga Belanda akan menawan Minabu, namun para dokter menghalang-halangi.

Berita cease fire
Beberapa hari kemudian terpetiklah berita bahwa kedua belah pihak mengadakan persetujuan bersama, tidak saling menembak. Dibentuklah patroli bersama untuk keamanan kota Blitar. Dan Belandapun berani berjalan-jalan di kota Blitar yang kemudian timbul kepercayaan mereka pada pasukan TRIP. Menjelang diberlakukannya cease fire secara umum untuk terak­hir kalinya TRIP mengultimatumkan Tentara Belanda yang ada di Blitar. Diantara ultimatum tersebut: Belanda pada jam 14.00 harus meninggalkan Blitar, atau menerima serangan TRIP. Karena tidak ada jawaban, maka TRIP langsung mengadakan serangan umum di dalam kota. Serangan dimulai siang hari, sore hari dan malam hari sampai pagi hari lagi.

Serangan malam harinya digunakan oleh Pasukan TGP, untuk meledakkan markas Belanda dengan pos-posnya. Serangan umum ini berhasil baik, yang memudahkan kita sewaktu cease fire, TRIP memiliki daerah yang lebih luas, dan strategis. Begitu hari H-nya penyerahan kedaulatan, TRIP memiliki daerah yang luas dan strategis. Kami yakin semua ini dapat berjalan baik adalah berkat hasil jerih payah dan bantuan rakyat kota Blitar dan sekitarnya. Untuk itu terimalah salam dan simpati kami pada masyarakat dan Rakyat/penduduk Blitar.

Cuplikan dari Cak Buamin.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Mas Trip Jawa Timur menyambut Hari Pahlawan 1992, di Blitar, tanggal 11-12 Nopember 1992. Jakarta: Sekretariat Darmo 49 (ex. TNI Brigade 17 Detasemen I TRIP Jawa Timur), 1992. Hlm. 12.

TRIP dan Blitar Sulit Dipisahkan

Kalau Surabaya pada awal kemerdekaan merupakan tempat lahirnya pasukan pelajar yang bernama TRIP, maka Blitar merupakan “tempat mengabdian akhir” dari Pasukan TRIP tersebut.

Di Blitar inilah TRIP sebagai kesatuan TNI Brigade 17 Detasemen I, bertindak sebagai Pemerintah Militer setempat. Dan TRIP-lah yang menerima secara resmi penyerahan kekuasaan daerah dari “Plaatselijk Militeir Commandant” yang mewakili kekuasaan militer Kolonial Belanda. Hal ini bisa dimaklumi karena selama perang gerilya, kecuali kota, praktis hampir semua daerah Blitar berada dalam kekuasaan pasukan TRIP, serta beberapa kesatuan TNI lainnya.

Kalau kita mau meneliti secara jujur, antara dua peristiwa itu, yaitu lahirnya dan diwisudanya TRIP, sebetulnya ada persamaan-persamaan yang perlu dicatat. Kalau di Surabaya TRIP lahir di tengah-tengah dan bersama rakyat di kampung-kampung, di daerah Blitar-pun TRIP bergerilya bertahan bersama-sama dan bersandar pada kekuatan rakyat di desa-desa. Sebagai contoh, penduduk daerah Blitar dengan kesederhanaan dan kemampuan yang terbatas, dengan tulus tanpa pamrih mereka menyediakan dirinya untuk berjuang bersama-sama TRIP guna menggusur Belanda, merupakan tonggak-tonggak kekuatan bagi pasukan TRIP ber­tahan menegakkan Republik tercinta ini. Sawah serta desa Gadungan-pun mungkin kalau ditanya masih cerita tentang gugurnya Dan Ton Cemplon dan kawan-kawannya di tempat ini.

Pak Samuji, pemilik warung di tepi jalan desa Salam selain menyediakan rumahnya untuk bernaung sementara pasukan, juga kalau Pak Samuji sedang pergi ke kota kita selalu titipkan berita mengenai kedudukan pos Belanda di sekitar kota. Bahkan pernah ditugaskan mengambil amunisi di kota.

Pak lurah dongkol di desa Kedawung misalnya. Disamping beliau menyediakan rumah dan makanan sehari-hari bagi pasukan TRIP yang bertugas, masih menyuruh putri-putrinya (yang cantik-cantik Red) melakukan tugas sebagai kurir serta masih mengusahakan obat-obatan, pakaian, dllnya.

Bahkan, mengumpulkan berita-berita penting hasil monitoring radio oleh para pelajar putri di kota Blitar. Para pemuda di desa Ponggok membentuk kelompok-kelompok menjaga keamanan di desa untuk membantu pasukan TRIP yang bertugas. Hampir semua keluarga petani tanpa memperhitungkan untung-rugi menyediakan tempat dan membagikan makanan kepada pasukan TRIP yang bertugas gerilya di dekat daerah mereka. Tidak hanya itu, merekapun dengan sukarela menjadi kurir dan penjaga pintu yang bersifat secepatnya melapor seandainya patroli Belanda datang secara mendadak.

Secara singkat, penduduk/rakyat Blitar, bukanlah sekedar embel-embel dari perjuangan bersenjata, dan bukan sekedar pembantu-pembantu pasif, bahkan mereka patut kita anggap sebagai “Strijtmakkers” dari pasukan TRIP. Akhirnya kita mengakui tanpa bantuan mereka di desa-desa, termasuk para pemuda pelajar serta para intelektuil dan para Dokter di kota, pasukan TRIP tak mungkin bisa bertahan. Tanpa partisipasi dari penduduk kota, dan rakyat di desa-desa, tak mungkin menjelang “cease fire” TRIP bisa menduduki kota Blitar.

Pernah kira-kira akhir bulan Juli 1948 dan Kie IV TRIP Ismail Kartasasmita memberikan brifing pada para Dan Ton, staf Kie dan kelompok sneipers, maksudnya menjelaskan tentang hari “H” cease fire, kerana keharusan situasional, harus ada unit pemerintahan militer RI di Blitar. Setelah selesai brifing dan Kie minta siapa diantara yang hadir bersedia mejadi Komandan ODM (Order Distrik Militer), yang nantinya mewakili pemerintah RI secara resmi.

Oleh karena lama menunggu tidak ada jawabab, maka Dan Kie memerintahkan Soewarno (Manuk) selaku Dan ODM, Soerjadi selaku Ass. Wedana, dan Soenardi selaku petugas Palang Merah kompie selaku Menteri Kesehatan. Akhirnya hari “H”, ODM Blitar semua sesuai dengan rencana operasi. Tanpa bisa dihalangi oleh Majoor Infanteri Haak, Bupati NICA Soenarjo, serta Dan IV Gluitenant Hogevorscht, maka pagi harinya sang saka Merah Putih untuk pertama kali berkibar secara resmi di muka Kantor ODM Blitar, dengan papan nama ODM di muka kantor dengan dikawal oleh prajurit-prajurit TRIP yang tampak masih muda belia. Karena ODM di jabat oleh prajurit TRIP yang masih muda dan gagah inilah, maka mulai pagi sampai petang ramai dikunjungi oleh cewek-cewek cantik dan ibu- ibu untuk menyampaikan kegembiraan mereka. Bahkan Bupati NICA Soenarjo pun ikut datang dan menyalami pejabat-pejabat ODM. Sejak itulah hampir semua ODM di kota Blitar dan sekitarnya diserahkan para TRIP. Pemerintahan Militer kawedanan Srengat-pun diserahkan pada TRIP. Bahkan Pim­pinan KDM-pun diserahkan pada Mas Isman.

Ulasan-ulasan di atas sekedar gambaran bahwa kota Blitar dan TRIP sulit untuk dipisahkan. Untuk itu meletusnya gunung Kelud, bisa dimengerti kalau keluarga besar TRIP merasa terpanggil untuk membantu Warga Blitar dalam menanggulangi musibah akibat meletusnya gunung Kelud. Sehingga diperlukan membuat dompet Gunung Kelud melalui Buletin Mas TRIP.

Oleh karena itu tepat kiranya kalau untuk tahun 1992 ini, bulan Nopember 92 yang akan datang, TRIP mengadakan REUNI di Kota BLITAR dan sekaligus akan mempersembahkan sebuah Gedung Perpustakaan Mas TRIP kepada rakyat Blitar, semua ini sebagai balas budi kepada rakyat kota Blitar.

Kota Blitar memang memang daerah yang pernah menanamkan tonggak kekuatan rakyat bersama rakyat ikut menegakkan RI, mulai WLINGI diujung timur, TALUN, GARUM, kota BLITAR sampai SRENGAT di sebelah barat.

Dan keutara NGLEGOK, PENATARAN, GLEDUK, NGORAN, SALAM, KEDAWUNG sampai semua lereng GUNUNG KELUD, sampai CANDI SEWU, SUMENUR, dan KALI KUNING atau GANDUSARI sebelah TALUN/WLINGI, dan membentang ketimur sampai SLUMBUNG sebelah barat KALILEKSO. Untuk itu kami kirimkan :

SALAM HANGAT UNTUK PENDUDUK/RAKYAT BLITAR DARI MAS TRIP.

Redaksi Buletin Mas TRIP

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Mas Trip Jawa Timur menyambut Hari Pahlawan 1992, di Blitar, tanggal 11-12 Nopember 1992. Jakarta: Sekretariat Darmo 49 (ex. TNI Brigade 17 Detasemen I TRIP Jawa Timur), 1992.  hlm. 8-11.

Istana Gebang Masih Diminati

Selain makam Proklamator Bung Kamo, bangunan cagar budaya Istana Gebang juga sebagai rumah proklamator masih menjadi daya tarik wisatawan. Para pengunjung selain datang dari Jatim juga propinsi lain bahkan maneanegara. Setelah berziarah ke makam Bung Kamo biasanya mereka minta diantar ke Istana Gebang karena bangunan ini mempunyai daya mistis sehingga cocok untuk wisata spiritual.

Menurut Haryo Subaskoro sebagai Cucu Buwardoyo, Istana Gebang dibuka setiap hari mulai pukul 07.00 sampai 16.00. Pada hari biasa wisatawan yang datang sekitar 50 hingga 100 orang dan hari Minggu lebih dari 100 orang. Sedangkan pada saat haul Bung Kamo 21 Juni merupakan puneaknya. Seluruh keluarga Bung Kamo datang. “Bangsa besar adalah bangsa yang senantiasa mengingat jasa para pahlawannya. Oleh karena itu, jangan sekali-kali melupakan sejarah,” kata Haryo, membacakan tulisan yang terpampang di dinding sudut petiasan keluarga Soekamo di Istana Gebang JI Sultan Agung 56 Kota Blitar Jawa Timur.

Tulisan itu merupakan pesan Proklamator Ir Soekamo. “Mereka telah rela mengorbankan harta benda, jiwa raga, tetesan air mata, darah dan nyawa demi terwujudnya kemerdekaan Indonesia,” ujamya.

Di bangunan kuno berarsitektur Jawa yang oleh masyarakat Blitar lebih dikenal dengan sebutan Dalem Gebang yang artinya Istana Gebang, berdiri di atas lahan seluas 1.400 meter persegi, berada di Keeamatan Sanan Wetan Kota Blitar. Di Gedung inilah sang Proklamator Republik Indonesia menghabiskan masa kecilnya hingga rarnaja bersama orang-orang yang dicintainya sebelum melanjutkan pendidikannya.

`Di dalam bangunan bercat hijau agak kebiruan Soekamo yang nama aslinya Koesno tinggal bersama kedua- orang tuanya. Ayahnya bemama Raden Soekeni Sastrodiharjo, ibunya IdaAyu Nyoman Rai dan kakak kandungnya Soekarmeni Wardoyo alias Bu Wardoyo.

Rumah berarsitek Jawa keberadaannya masih terawat dengan baik. Dihalaman yang luas dan bersih telah tumbuh pohon berukuran besar dan tinggi sehingga lingkungannya menjadi sangat rindang dan sejuk.

Arum sebagai penjaga Istana Gebang menuturkan, rumah bersejarah ini dibangun keluarga Soekamo sekitar tahun 1900 dan sampai saat ini masih berdiri kokoh. Bangunan ini didalamnya terdapat beberapa ruangan diantaranya dua ruang tamu yang besar dan luas berukuran sekitar 10 X 15 meter, ruang keluarga berukuran 10 X 1 0 meter, ada sembilan kamar tidur yang letaknya saling berhadapan berukuran 4 X 4 meter.

Di ruang tamu terdapat dua set perangkat meja kursi kuno terbuat dari kayu jati dan rotan, lemari, pusaka tombak dan keris serta payung. Di dinding ruang tamu banyak terpampang deretan toto, lukisan, patung keluarga dan kerabat Bung Kama. Salah satunya toto Bung Karno berpakaian lengkap kepresidenan berukuran besar sekitar 2 X 3 meter yang diapit foto ayah dan ibunya

Di ruang keluarga ada dua set meja kursi, kursi goyang, Iemari dan dinding terpampang deretan foto-foto kerabat dan teman-teman Bung Kama mulai masa kecil, remaja, masa perjuangan. Didalam lemari tertata rapi alat-alat perangkat rumah seperti gelas, piring, mangkok, sendok, garbu dan beberapa pakaian Jawa.

Salah satu ruang tidur didalamnya ada lemari, meja, kursi dan seperangkat tempat tidur terbuat dari besi lengkap dengan kasur, bantal, guling, seprei yang tertutup kelambu putih. “Di kamar inilah Presiden Pertama RI belajar dan menyusun strategi membebaskan Indonesia dari cengkeraman penjajah belanda.

Di belakang rumah indukada deretan bangunan memanjang dan terdiri dari beberapa ruangan dengan luas 3 X 3 meter. Ruangan tersebut digunakan sebagai ka”‘ar tidur abdi dalem atau pegawai Istana Gebang, dapur, kamar mandi dan garasi mobil.

Didalam garasi tersimpan sebuah mobil Mercedez Benz buatan Jerman tahun 1950 yang masih lengkap dan terawat dengan baik. Mobil tersebut adalah mobil Kepresidenan yang pernah digunakan Bung Kamo pada tahun 1951-1960. Bangunan ini pada 1998 di pugar oleh Dewan Harian Daerah (DHD)Angkatan 1945 Propinsi Jawa Timur dan langsung diresmikan Ketua DHD Angkatan 1945 Jatim Sudjito.

Sumber Kehidupan Keberadaan petilasan di pinggiran Kota Blitar sangat berarti bagi sebagian masyarakat Sanan Wetan. Karena dengan banyaknya wisatawan dipastikan roda perekonomian berkembang, sehingga dapat memberikan sumber kehidupan masyarakat, seperti penjual makanan dan minuman, pedagang suvenirtukang ojek dan tukang becak.

“Mudah-mudahan pemerintah dan masyarakat Indonesia mampu mempertahankan keberadaan Istana Gebangdan jangan sampai dijual ke swasta. Karena dengan banyaknya wisatawan yang datang ke tempat ini berarti dapur saya tetap mengebul asapnya,” ujar tukang ojek Agus Sopyan Menurut sumber dari Pemda Kota Blitar bahwa pada 2001 telah dikeluarakan Surat Keputusan (SK) Walikota Blitar dengan Nomor 24/ 2001 tentang Penetapan lahan benda cagar budaya. Dengan SK walikota tersebut Istana Gebang dinyatakan sebagai bagian dari bangunan benda cagar budaya Kota Blitar.

Kota Blitar letaknya tidak terlalu jauh dengan Kota Surabaya yakni sekitar 180 km. Oleh karena itu bagi para wisatawan yang ingin berkunjung ke Istana Gebang-atau berziarah ke makam Bung Kamo. Apabila menggunakan transportasi kereta api (KA). Anda bisa naik KA Penataran jurusan Surabaya Kota-Blitar lewat Malang dan KA Rapi Dhoho jurusan Surabaya Blitar lewat Kertosono dengan tarif Rp 20.000/orang. Dari Surabaya bisa naik di Stasiun Surabaya Kota, Gubeng dan Wonokromo, sedangkan perjalan ditempuh sekitar 5 Jam. Dari stasiun Kota Blitar perjalanan ke lokasi Istana gebang jaraknya sekitar 2-3 km. Kemudian naik becak atau ojek dengan ongkos sekitarRp 7.500-Rp 10.000.

Sedangkan perjalanan menggunakan sarana angkutan Bus, naik dari Terminal Purabaya Surabaya turun di Terminal Blitar, apabila dengan bus patas tiket Rp 25.000/orang. Setelah dari terminal Blitar pengujung bisa naik ojek, becak dan naik angkutan kota ke Istana Gebangjaraknya sekitar 3 km. Naik ojek ongkosnya sekitar Rp 15.000-Rp 20.000/orang, becakRp 10.000 dan naik angkutan kota jurusan Wlingi biayanya Rp 3.000/orang .Sunaryo/S

 

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: POTENSI JAWA TIMUR, EDISI 08 TAHUN VIII/2008, hlm. 16