Adat Perkawinan Masyarakat Samin di Ds. Tapelan Kec. Ngraho Kab. Bojonegoro

generasi-keempat-kaum-saminDidalam melaksanakan perkawinan, anak-anak Samin harus mengikuti adat istiadat yang ditetapkan oleh tradisi mereka. Masyarakat Samin menganggap sah menurut adatnya apabila seorang pemuda telah menyukai seorang gadis maka pemuda tersebut beserta orang tuanya maupun para perangkat desa “jawab” artinya melamar pada orang tua gadis. Setelah peristiwa lamaran diterima, perjaka tersebut “Ngawulo” yaitu dengan cara magang atau nyuwito artinya mencari pengalaman atau nyonto di rumah orang tua gadis dan menjadi “Tahanang” artinya perjaka tersebut harus tinggal di rumah gadis dengan maksud agar tidak diganggu gadis lain.

Selama ngawulo pemuda tersebut bekerja membantu orang tua gadis sanbil menunggu hari baik untuk melangsungkan upacara perkawinan : dari latar belakang inilah, maka peneliti tertarik untuk meneliti sejauh mana pelaksanaan perkawinan adat masyarakat Samin dengan mengambil judul “Adat Perkawinan Masyarakat Samin di Desa Tapelan Kecamatan Ngraho Kabupaten Bojonegoro”.

Masyarakat Samin termasuk golongan masyarakat yang menyerderhanakan semua proses kehidupan sosialnya, termasuk dalam hal perkawinannya. Dalam masyarakat Samin masih berlaku sistim perjodohan, dari perjodohan ini kebanyakan dari meraka menerima perjodohan yang diberikan oleh orang tuanya. Didalam melaksanakan perkawinan anak-anak Samin harus mengikuti adat istiadat yang ditetapkan oleh tradisi mereka yaitu dengan cara magang atau nyuwirto artinya mencari pengalaman atau nyonto (mencontoh). Proses magang ini sama artinya dengan orientasi atau pengenalan sifat masing-masing calon mempelai apabila sudah ada kecocokan hati pada kedua calon mempelai maka dilanjutkan dengan melamar orang tua gadis

Masyarakat Samin masih memakai adat perkawinan yang biasa mereka lakukan, mekipun sekarang nampak perubahan dalam melaksanakan perkawinan guna mengikuti anjuran pemerintah. Pada waktu dulu sebelum melakukan perkawinan, seorang pemuda yang menyukai seorang gadis, dia dan orang tuanya beserta perangkat desa harus “jawab” yang artinya melamar pada orang tua gadis. Setelah pihak perempuan setuju dengan lamaran pihak lelaki, perjaka tersebut harus “ngawulo” atau “nyuwito” dengan mencari pengalaman/ nyonto dirumah orang tua gadis. Selama ngawulo tersebut, perjaka membantu orang tua gadis sambil menunggu hari baik untuk melangsungkan upacara perkawinan.

Dulu sistem ngawulo ini masih sering berlaku apalagi jika calonnya masih kecil (dalam arti belum dewasa/ aqil balik), si perjaka harus ngawulo bertahun-tahun sampai calonnya tumbuh menjadi dewasa, tetapi cara ngawulo tersebut tidak dipakailagi walaupun nampak hanya dilakukan dalam waktu yang singkat karena pada umumnya sekarang baru diperbolehkannya kawin jika sudah dewasa/ aqil balik.

Pelaksanaan perkawinan yang terjadi pada masyarakat Samin masih tergolong sederhana, hal itu terlihat pada peristiwa lamaran. Saat melakukan lamaran laki-laki tersebut meminta ijin dan restu dari bapak dan ibu gadis yang dimaksud, setelah mendapat ijin dan gadis itu menyatakan setuju untuk dinikahi maka selanjutnya adalah memberitahukan hal itu pada orang tua untuk berkumpul menyaksikan calon pengantin laki-laki berjanji saling mencintai dan saling setia. Janji yang diucapkan “derek kulo ingkang dateng ngiki supoyo sampeyan seksekno ucap kulo, turun kulo wedok, kulo nglegakake janji jeneng lanang, kulo seksekno kandani, yen janji podo duweni janji, karo nyekseni bojonipun dinikahi, tomponen le?” dan pengantin laki-laki jawab “nggih pak”. Setelah acara tersebut selesai, selanjutnya mendatangkan naib dan moden untuk menyaksikan acara yang kedua kali dalam perkawinan mereka dan mencatat secara hukum. Dalam melangsungkan perkawinan dihadapan naib, wali menyerahkan sepenuhnya kepada naib untuk menikahkan anaknya dengan laki-laki tersebut. Setelah itu naib memberikan penjelasan sekali lagi bahwa yang akan dinikahi sudah saling mencintai dan tidak ada paksaan untuk dinikahi dan kejelasan mengenai nama ataupun orang tuanya. Setelah semua dirasa jelas dan saksi- saksi sudah lengkap maka selanjutnya naib membacakan kewajiban dan tanggung jawab sebagai seorang suami yang dipenuhi dalam rumah tangga nanti. Setelah pengantin laki-laki menjawab bersedia, selanjutnya naib membimbing calon pengantin laki- laki mengucapkan kalimat syahadat dihadapan para saksi dan setelah itu dinyatakan sah menurut naib maupun para seksi maka selanjutnya diadakan penandatanganan bukti surat nikah oleh kedua mempelai. Setelah itu diadakan doa bersama yang dipimpin oleh naib agar pernikahan yang dilangsungkan menjadi langgeng dan bahagia dengan harapan menjadi keluarga yang sakinah.

Setelah proses-proses perkawinan dihadapan naib selesai kemudian diadakan “Brokohan”. Brokohan ini mengandung arti suatu perayaan selamatan atau syukuran yang ditunjukkan kedua mempelai dalam membina rumah tangga langgeng atau rukun. Perayaan ini dilakukan secara sederhana (tergantung kedua binansial rumah tangga). Adapun perlengkapan brokohan itu yang utama adalah tumpeng yang ditempatkan di tampah yang terdiri dari nasi berada di tenggah dan dikelilingi lauk pauk yang berupa urap- urapan, daun mengkudu yang artinya supaya keluarga yang dibina oleh pengantin menjadi sehat lahir dari penyakit. Kemudian telur yang berasal dari ternaknya sendiri yang bertujuan kedua mempelai dikaruniai anak, ikan laut (gerih) yang bertujuan bercukupan sandang pangan. Dan juga dilengkapi lauk-pauk lainnya sebagai bahan perlengkap saja. Selain itu juga ada nasi kabuli yang ditempatkan dipiring yang lauknya terdiri dari serondeng, peyek kedelai, dan ayam goreng. Hal ini bertujuan agar cita-cita dari keluarga yang akan dibina akan dikabulkan. Selain itu juga ada buah yaitu pisang raja yang dimaksudkan pengantin menjadi raja sehari dan minumnya air putih. Dalam brokohan itu mereka hanya mengundang sanak famili dan tetangga sekitar saja. Dalam perkawinan kedua mempelai hanya memakai pakaian seadanya dan tidak dilengkapi dengan pakaian adat atau perlengkapan sebagaimana layaknya seorang pengantin. Dan dalam acara tersebut mereka tidak menerima sumbangan berupa uang, tetapi mereka bisa menerima sumbangan berupa bahan makanan (bahan- bahan dapur).

Apabila ada lingkungan Samin tedapat beberapa orang yang dalam melaksanakan perkawinan tidak sesuai dengan adat yang semestinya, maka mereka akan menjadi bahan pembicaraan dan dikucilkan dari kalangan mereka. Hal itu dilakukan karena mereka melakukan hal yang bertentangan dengan wong Sikejo atau tiyang Sikep ( sebutan orang Samin) yang artinya orang Samin atau masyarakat Samin yang mempunyai sikap atau sikap hidup tersendiri yang dapat dijadikan sebagai cara atau adat istiadat. Jadi pengertian wong sikap yaitu orang atau masyarakat yang mempunyai cara adat atau istiadat tersendiri yang harus dipatuhi. Walaupun dalam masyarakat Samin masih kental dengan adat perkawinannya namun masyarakat Samin dapat dengan mudah untuk menyesuaikan diri dengan peraturan yang ada terutama dalam hak perkawinan dan sangat patuh terhadap peraturan pemerintah. Hal itu terbukti dengan perkawinan KUA yang mana masyarakat Samin sudah mulai memahami arti pentingnya pencatatan maupun peraturan pemerintah tersebut. Walaupun pengetahuan mereka masih sangat minim sekali tentang UU No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan mereka berupaya untuk mengikuti segala peraturan.

Dari uraian di atas jelas dikatakan bahwa pelaksanaan adat perkawinan masyarakat Samin masih dipertahankan hanya saja sekarang pelaksanaanya sudah melakukan anjuran dari pemerintah yaitu dengan melakukan perkawinan mereka di KUA.

 

——————————————————————————————-Sarjono, Panitia Penggali dan Penyusunan Sejarah Bojonegoro.1998.

Batik Jonegoroan

Kabupaten Bojonegoro dengan kondisi geografis dan potensi sumberdaya alamnya memiliki potensi besar bagi pengembangan kerajinan batik, khususnya batik yang memiliki motif khas Bojonegoro. Terlebih lagi dengan masih banyaknya potensi sumber daya manusia terutama kaum wanita. Berangkat dari pemikiran memberdayakan secara optimal kaum wanita untuk menekuni usaha mandiri, sehingga dapat menambah pendapatan keluarga. Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bojonegoro, pada tanggal 29 Desember 2009 menyelenggarakan festival desain motif batik khas Bojonegoro, Festival itu bertujuan untuk mengangkat potensi daerah Bojonegoro yang di goreskan dalam sebuah motif batik. Dalam penentuannya dipilih 9 karya yang ditetapkan sebagai “Motif Batik Khas Bojonegoro” selanjutnya dipopulerkan dengan nama “Batik Jonegoroan”. Diantaranya motif Rencak Thengul, Parang Lembu Sekar Rinambat, Sekar jati, Pari Sumilak, Sata Ganda Wangi, Parang Dahana Mungal, Jagung Miji Emas, Mliwis Mukti dan Gatra Rinonce.

Proses pembuatan batik Jonegoroan sama dengan proses pembuatan batik pada umumnya yaitu:

  1. Ngemplong adalah pengerjaan membatik tahap pertama terdiri dari beberapa tahapan, diawali mencuci kain mori untuk menghilangkan kanji yang biasanya terdapat pada kain yang baru. Pengeloyoran, memasukan kain mori ke minyak jarak atau minyak kacang dalam abu merang, agar kain menjadi lemas, sehingga daya serap terhadap zat warna lebih tinggi. Setelah melalui proses tersebut, kain diberi kanji dan dijemur.
  2. Nyorek atau Memola; proses membuat pola diatas kain mori dengan cara meniru pola motif, disebut dengan ngeblat (menjiplak). Dilakukan secara langsung di atas kain dengan menggunakan pensil atau canting.
  3. Mbathik; proses menorehkan malam batik ke kain mori, dimulai dengan nglowang (menggambar garisgaris diluar pola) dan isen-isen (mengisi pola garis dengan berbagai macam bentuk). Dalam proses isen-isen terdapat istilah nyecek, yaitu membuat isian pada pola dengan cara memberi titik-titik (nitik).
  4. Nembok; proses menutupi bagian-bagian yang tidak boleh terkena warna dasar, dengan menggunakan lapisan malam yang tebal.
  5. Medel; proses pencelupan kain yang sudah dibatik ke cairan warna secara berulang-ulang sehingga mendapatkan warna yang diinginkan.
  6. Ngerok dan Mbirah; proses menghilangkan malam pada kain, dengan cara dikerok/dikelupas secara hati-hati dengan menggunakan lempengan logam, kemudian kain dicuci bersih, lalu dianginanginkan.
  7. Mbironi; proses menutupi warna biru dan isen-isen pola dengan menggunakan malam, selain itu ada proses ngrining mengisi bagian yang belum diwarnai dengan motif tertentu, dilakukan setelah proses pewarnaan dilakukan.
  8. Menyoga; proses mencelupkaan kain ke dalam campuran warna coklat, yang didapat dari soga (kayu yang digunakan untuk mendapatkan warna coklat).
  9. Nglorot; merupakan proses akhir dalam pembuatan batik tulis maupun cap yang menggunakan perintang warna (malam). Dalam tahap ini, pembatik melepaskan seluruh malam (lilin) dengan cara memasukan kain kedalam air yang mendidih. Setelah diangkat, kain di bilas dengan air bersih dan kemudian diangin-anginkan hingga kering.

Perkembangan batik Jonegoroan pada saat ini sudah mulai menunjukan kemajuan, peran Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dalam upaya mengenalkan batik Jonegoroan kepada mayarakat masyarkat amat penting.  Dengan cara mengikut sertakan batik Jonegoroan pada event pameran pada tingkat Provinsi dan nasional diharapkan batik Jonegoroan akan lebih dikenal lebih luas lagi.

  1. Tahun 209-2012 Batik Jonegoroan digagas oleh Mahfudhoh Suyoto pada Desember 2009. Memunculkan batik Jonegoroan mengacu pada kondisi geografis dan potensi sumber daya alam yang dimiliki Bojonegoro. Untuk menumbuhkan kreatifitas dan memberdayakan kaum perempuan di Kabupaten Bojonegoro. Selanjutnya, pada tanggal 29 Desember 2009 Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bojonegoro mengadakan festival desain motif batik khas Bojonegoro dengan tema Kekayaan Alam Bojonegoro, diputuskan ada sembilan motif batik yang terpilih. Diantaranya motif Rencak Thengul, Parang Lembu Sekar Rinambat, Sekar jati, Pari Sumilak, Sata Ganda Wangi, Parang Dahana Mungal, Jagung Miji Emas, Mliwis Mukti dan Gatra Rinonce.
  2. Tahun 2012-2014 Batik Jonegoroan munculnya motif baru tepat di tahun 2012. Diantaranya motif Belimbimbing Lining Lima, Pelempelem Sumilar, Sekar Rosella Jonegoroan, Woh Roning Pisang dan Surya Salak Kartika. Idea ini diangkat dari Potensi yang beraneka ragam milik Kabupaten Bojonegoro, diantaranya kebun belimbing di Kecamatan Kalitidu dan kebun salak di Kecamata Kapas.

Kabupaten Bojonegoro saat ini memiliki empat belas macam motif Batik Jonegoroan. Semua itu tidak lepas dari peran pemerintah yang selalu memberikan inofasi dan semangat kepada masyarakat Bojonegoro. Semua ini tidak lepas dari peran masyarakat dalam hal ini adalah pengrajin batik.

Makna Simbolis Batik Jonegoroan

Tahun 2009 sampai 2012,  Batik Jonegoroan memiliki empat belas macam motif batik. Berikut sembilan motif batik Jonegoroan.

  • rancak-thengul-bojonegoroRancak Tengul, Wayang Thengul merupakan salah satu kesenian tradisional khas yang masih hidup dan berkembang di Kabupaten Bojonegoro, bentuk tiga dimensi terbuat dari kayu dengan asesoris kain sebagai busananya. Dasar cerita manak dan panji gunungan / kalpataru-nya juga berbahan kayu dan bulu burung merak. Rancak Thengul (bahasa jawa) mengandung arti seperangkat Wayang Thengul sebagai warisan tradisional di Kabupaten Bojonegoro akan selalu terjaga eksistensinya, menjadi ikon Bojonegoro, lebih dikenal dan digemari masyarakat luas dan sekaligus sebagai bentuk pelestarian dan pengembangan salah satu warisan pusaka Budaya (cultural heritage).
  • parang-lembu-sekar-rinambatParang Lembu Sekar Rinambat Sapi yang ditambatkan dikandang membentuk barisan miring dengan kombinasi warna hitamputih menggambarkan dimasa mendatang Kabupaten Bojonegoro akan menjadi pusat penngembangan peternakan sapi. Parang lembu (bahasa jawa) deretan sapi yang ditambatkan membentuk barisan miring. Sekar Rinambat (bahasa jawa) bunga yang selalu merambat tanpa batas. Parang Lembu Sekar Rinambat bermakna, Kabupaten Bojonegoro dikenal harum akan peternakan sapinya sehingga dapat memberikan kontribusi yang besar sekaligus dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat.
  • sekar-jati-bojonegoroSekar Jati Tanaman jati mulai dari akar, pohon dan daun dapat dimanfaatkan. Kayunya merupakan bahan meubelair dan kerajinan bubut kayu. Sekar (bahasa jawa) bunga, Jati (pohobn jati) sehingga bermakna tumbuh suburnya pohon jati di Kabupaten Bojonegoro selaras dengan berkembangnya sentra-sentra kerajinan kayu jati (meubel, bubut kayu, gembol) sebagai roda kemajemukan dan kreatifitas masyarakat.
  • pari-sumilak-bojonegoroPari Sumilak Kesuburan tanah (warna coklat) di bumi Angling Dharmo, sangat tepat kalau ditanami padi dan dibudidayakan secara maksimal sehingga dapat meningkatkan taraf hidup petani dan masyarakat Bojonegoro. Pari (bahasa jawa) padi. Sumilak (bahasa jawa) sudah mulai menguning dan siap panen, sehingga mempunyai makna padi yang sudah siap dipanen di semua wilayah Bojonegoro. Diharapkan ke depan Bojonegoro menjadi lumbung padi.
  • sata-ganda-wangiSata Ganda Wangi Sejak dahulu tembakau Bojonegoro sudah dikenal di seluruh nusantara, sehingga menjadi salah satu produksi unggulan selain kayu jati dan produk unggulan lainnya. Jenis tanah yang cocok untuk tanaman ini menghasilkan aroma khas/harum yang berbeda dengan daerah lain. Sata (bahasa jawa) tembakau. Ganda (bahas jawa) aroma. Wangi (bahasa jawa) harum, sehingga bermakna tembakau Bojonegoro memiliki aroma harum. Diharapkan nama Bojonegoro menjadi harum dan terkenal lewat tembakau sebagai salah satu potensinya.
  • parang-dahono-munggal-bojonegoroParang Dahana Manunggal Kayangan Api adalah salah satu objek wisataa andalan di Kabupaten Bojonegoro. Merupakan sumber api abadi terbesar di Asia Tenggara dan pernah menjadi tempat pengambilan api pada PON XV tahun 2000. Parang (bahasa jaawa) miring. Dahana (bahasa jawa) api. Mungal (bahasa jawa) menyala/berkobar, sehingga bermakna bentuk miring dari api yang menyala/berkobar sepanjang waktu. Simbul masyarakat Bojonegoro yang dinamis, semangat dan mampu memberikan cahaya bagi masyarakat disekitarnya.
  • jagung-miji-emas-bojonegoroJagung Miji Emas Jagung merupakan tanaman yang merakyat dan tumbuh subur di Kabupaten Bojonegoro. Hasil yang melimpah menggambarkan bahwa jugung juga dapat meningkatkan pendapatan sekaligus sebagai salah satu pengganti makanan pokok beras. Jagung miji (bahas jawa) berbiji. Emas memiliki makna tanamanjagung di Bojonegoro adalah yang terbaik, sehingga dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat sekaligus mengangkat nama Bojonegoro dengan hasil jagungnya.
  • mliwis-mukti-bojonegoroMliwis Mukti Mliwis putih adalah jelmaan Prabu Angling Dharmo (Raja Malowopati) yang menurut legenda kerajaannya dianggap pernah ada di daerah Bojonegoro. Mliwis (bahasa jawa) burung belibis jelmaan Prabu Angling Dharmo. Mukti (bahasa jawa) mulia, sehingga bermakna meliwis yang mulia/tinggi. Bukan sembarang mliwis karena jelmaan Raja yang dapat memotifasi masyarakat Bojonegoro untuk kerja keras, tekun dan ulet dalam berkarya guna mencapai kemakmuran.
  • gatra-rinonce-bojonegoroGatra Rinonce Visualisasi perpaduan RIG (Alat mengambil minyak) minyak dan gas bumi digambarkan sulur dan bunga, dimana satu dengan yang lainnya saling berhubungan dalam satu kesatuan bentuk. Warna hijau dan kuning melambangkan kemakmuran, kemmiliaan dan keindahan. Ga (gas), Tra (petra) minyak, Rinonce (bahasa jawa) ditata satu persatu, dirangkai menjadi satu kesatuan yang utuh dan indah sehingga bermakna adanya gas dan minyak bumi. Apabila dikelola dikelola dengan baik dan tetap menjaga keseimbangan dan kelestarian alam dan dimanfaatkan untuk keselamatan umat manusia, dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Lima/5 moptif baru yang bertemakan Agro Bojonegoro yang dikenalkan pada tahun 2012 sampai sekarang masih di buat oleh para pengrajin batik Jonegaran  antara lain

  • Belimbing Lining Lima Adalah penggambaran potensi belimbing yang ada di Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro. Dimana buah belimbingtersebut berasa manis dan segar, dengan ukuran besar berwana kuning. Berbentuk bintang lima dan kalau terlihat dari samping bergaris lima, karena halus dan bersihnya kulit belimbing.
  • Pelem-pelem Sumilar Adalah motif mangga. Utamanya mangga jenis gadung yang manis dan segar dan sudah menjadi tanaman masyarakat manggaBojonegoro sejak dahulu dan sudah dikenal masyarakat diluar Bojonegoro, Utamanya kota-kota besar di Indonesia. Sekarang mangga Bojonegoro selalu ditunggu dan dinikmati buahnya oleh masyarakat, karenanya buah mangga Bojonegoro di ibaratkan selalu bersinar.
  • rosellaSekar Rosella Jonegoroan, gambaran tanaman Rosella yang berbuah merah, merupakan salah satu potensi agro wisata Bojonegoro. Jika diolah akan menjadi minuman segar dan menyehatkan dan ada rasa khas yang berbeda dengan daerah lain. Sehingga motif batik rosella dinamakan Sekar Rosella Jonegoroan.
  • pisangWoh Roning Pisang Adalah penggambaran motif pisang susu belirik, salah satu buah andalan budidaya masyarakat Bojonegoro. Disebut Woh Roning Pisang, karena keseimbangan antara daun dan buah menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan, hal tersbut sangat diperlukan dalam social kehidupan.
  • salakSurya Salak Kartika Adalah penggambaran buah salak, hasil budidaya masyarakat Bojonegoro, khususnya di Desa Wedi dan Desa Tanjungrejo Kecamatan Kapas. Salak memiliki rasa khas, rasa manis agak sedikit asam dan sedikit berair juga buahnya besar dan bersih.

Batik Jonegoroan Sebagai Ikon daerah Kabupaten Bojonegoro, yang baru lima tahun terakhir ini menggencarkan budaya membatik, dan mempunyai motif bertemakan sumber daya alam dan budaya Kabupaten Bojonegoro. Mampu menumbuhkan antusianme masyarakat, sehingga membuat pemerintah optimis akan besarnya tekat masyarakat yang akan menggeluti usaha batik.

Berbaga upaya Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dalam melestarikan  Batik Jonegaran meliputi:

  • Membuat Keputusan Nomor : 188/50/KEP/ 412.11/2010 tanggal 25 Februari 2010 tentang 9 (sembilan) Motif Batik Jonegoroan Kabupaten Bojonegoro. Langkah tersebut supaya batik Jonegoroan mendapat perlindungan dan mempunyai hak paten. Supaya batik Jonegoroan tetap lestari dan selalu dekat dengan masyarakat Bojonegoro.
  • Membuat peraturan kepada kepada Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemerintahan Kabupaten Bojonegoro yang mewajibkan berpakaian batik Jonegoroan pada hari kamis dan jumat. Peraturan tersebut terdapat pada Peraturan Bupati Bojonegoro Nomor 44 Tahun 2014 Pasal 33.16.
  • Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melaksanakan Pelatihan serta pendampingan supaya lebih banyak masyarakat yang menggeluti usaha batik teruta kaum perempuan.
  • Pemerintahan Kabupaten Bojonegoro mengadakan pengawasan mutu untuk menjaga kualitas batik Jonegoroan. Karena pangsa pasar terbuka dan menyebabkan persaingan semakin ketat.
  • Sekolahsekolah di Bojonegoro satu minggu satu kali diharuskan memakai seragam batik khas Bojonegoro.
  • Pemerintahan Kabupaten Bojonegoro berencana akan tetap menggelar lomba disain batik Jonegoroan dengan tema potensi daerah, untuk melahirkan motif baru batik Jonegoroan.
  • Mengikut sertakan Batik Jonegaran dalam pameran tingkat daerah maupun nasional, untuk mengenalkan produk batik Jonegoroan kepada masyarakat luas.
  • Di Bojonegoro Batik motif Jonegoroan bisa diperoleh di sentra pengrajin batik, juga bisa diperoleh di Show Room Dekranasda Disperindag Bojonegoro.

Batik modern lebih banyak digemari masyarakat saat ini dari pada  batik klasik. Hal ini dikarenakan batik modern memiliki banyak motif dan memiliki warna yang beragam. Dari kalangan remaja hingga orang tua banyak yang menyukai batik modern yang memiliki motif yang unik.  Bojonegoro dengan potensi alam yang dimiliki dapat memberikian inspirasi bagi masyarakat Bojonegoro untuk menciptakan karya seni dalam bentuk motif batik yang beraneka ragam. Sehingga  Batik Jonegaran diharapkan mampu menjawab dan memenuhi apa yang diinginkan oleh pasar.

——————————————————————————————-

Ryan Bajuri, Pusaka Jawatimuran Team

AVATARA, e-Journal Pendidikan Sejarah, Volume 3, No. 3,  Oktober 2015
Hanif at tanthowy, Septina Alrianingrum
Ragam Motif Batik Bojonegoro Sebagai Upaya Membangun Identitas Daerah  Di Bojonegoro Tahun 2009-2014 Universitas Negeri Surabaya
Sumber gambar
http://www.kanalbojonegoro.com
https://potensi-bojonegoro-matoh.blogspot.co.id

MASJID AL BIRRU PERTIWI BOJONEGORO 

al_birru_pertiwiMasjid itu bernama Al-Birru Pertiwi atau biasa dikenal dengan masjid Kubah Emas, berada di Jl. Raya Dander KM No.10, Dander, Kec. Bojonegoro, Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur. Tepatnya masjid ini terletak di jalan raya Bojonegoro – Nganjuk 13 Km selatan Kota Bojonegoro. Masjid Al Birru Pertiwi dibangun sebagai wujud rasa syukur keluarga besar Santosa kepada Allah SWT serta persembahan bakti cinta kasih kepada kedua orang tua mereka. Desa Dander, adalah tempat kelahiran dan tempat leluhur seluruh putra putri Bapak Santosa Hardjosuwito dan Ibu Pertiwi. Oleh karena itu masjid ini dibangun di wilayah desa Dender, Bojonegoro.

Selain sebagai tempat beribadah, masjid ini diharapkan menjadi pusat kegiatan Islam di Bojonegoro yang menyelenggarakan pendidikan, pelatihan, diskusi, serta pengajian dalam upaya pendidikan dan syiar islam sebagai Rachmatan Lil Alamin serta pengembangan dan sebagai pusat pemberdayaan masyarakat. Harapan tersebut bukanlah hal yang mustahil, sebab kemegahan Masjid Al-Birru Pertiwi merupakan modal utama serta didukung dengan sarana dan prasarana penunjangnya sebagia besar sudah terpenuhi.

al-birru-pertiwi

Masjid mulai dibangun pada tanggal 24 Maret 2012 yang ditandai dengan peletakan batu pertama dan diresmikan pada tanggal 25 Januari 2014 oleh Bapak Suyoto, Bupati Bojonegoro, dan mulai dimanfaatkan Februari 2014. Acara persmian dihadiri oleh seluruh keluarga besar Santosa, sanak keluarga, handaitaulan dan masyarakat Bojonegoro.

Masjid yang berdiri di atas tanah seluas 3 hektare, tanah ini dahulunya adalah sawah tadah hujan peninggalan Ibu Pertiwi Santosa binti Karso Prawiro. Secara fisik, bangunan utama masjid Al-Birru Pertiwi berukuran sekitar 25 m (panjang) x 13 m (lebar), memiliki tiga lantai, lantai dasar dipergunakan sebagai ruang pertemuan, jama’ah pria menempati lantai satu, sedangkan  jama’ah wanita nenempati lantai dua. Sarana-sarana lain yang ada di sekitar masjid, adalah ruangan untuk pendidikan dan pelatihan, selain itu juga terdapat  perpustakaan. Masjid ini diharapkan mampu menampung sekitar 1.000 jamaah. Di halaman masjid ini terdapat taman-taman indah yang hijau.

Desain, perencanaan dan pembangunan Masjid Al-Birru Pertiwi dilakukan oleh PT. Garis Prada di bawah pimpinan Bpk. Uke Setiawan, arsitek yang telah ber pengalaman membangun masjid, Pimpinan Proyek adalah Bapak Edy Hendriyanto yang juga suami dari putri bungsu (menantu) Bapak/Ibu Santosa Hardjosuwito/Pertiwi.

Keberadaan masjid yang berkubah emas ini merupakan salah satu daya tarik, bagi masyrakat yang melintas di jalan raya Dander, baik yang hanya sebatas mampir menyaksikan kemegahan Masjid Al Birru Pertiwi, maupun untuk melaksanakan ibadah shalat. Pengunjung wisatawan domestik (wisdom) yang keliling Wali setelah dari Tuban, juga mampir ke Masjid Al Birru. Pengunjung bisa mencapai lima sampai enam bus/hari, belum terhitung wisdom, yang memakai kendaraan pribadi, lahan parkir khusus bus di lingkungan masjid cukup luas.

Masjid Al Birru, di kelola Yayasan Bakti Pertiwi Surabaya, semua biaya operasional masjid ditanggung Yayasan Bakti Pertiwi, pengelola masjid semuanya ada 23 petugas, di antaranya, tiga  ustadz putra dan dua putri,  empat orang Imam.

Meski tergolong masjid baru, namun Masjid Al-Birru Pertiwi, tidak mau ketinggalan dalam hal kegiatan ibadah.

  • Shalat Tarawih “One Night One Juz” (satu malam satu juz), selama 3 jam jam 19.00 sampai jam 21.00 WIB,
  • Buka bersama,
  • Pengajian “Tombo Ati” (setiap hari Minggu),
  • Memberi makan sahur kepada masyarakat yang melaksanakan i’tikaf,
  • Pelatihan bagi guru dan pelajar di bidang keAgamaan.

 Masjid Al Birru didirikan oleh keluarga besar Santosa, Putra Putri Bapak Santosa Hardjosuwito dan Ibu Pertiwi melalui Yayasan Bhakti Pertiwi. Yayasan ini didirikan oleh empat Putra Putri Santoso:  Suprapto Santosa, Supramu Santosa, Widodo Santosa serta Wijiningsih. Putra Putri Bapak Santosa Hardjosuwito dan Ibu Pertiwi yaitu:

  • Sugeng Santosa,
  • Suprapto Santosa,
  • Supramu Santosa,
  • Widodo Santosa,
  • Winarto Santosa,
  • Wijiningsih Santosa,

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
oleh: Wahyu DP /Tim Pustaka Jawatimuran

dari: ustazd Sholahuddin (Gus Udin); website resmi masjid Birru Pertiwi
Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur

MASJID AL BIRRU PERTIWI BOJONEGORO 

al_birru_pertiwiMasjid itu bernama Al-Birru Pertiwi atau biasa dikenal dengan masjid Kubah Emas, berada di Jl. Raya Dander KM No.10, Dander, Kec. Bojonegoro, Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur. Tepatnya masjid ini terletak di jalan raya Bojonegoro – Nganjuk 13 Km selatan Kota Bojonegoro. Masjid Al Birru Pertiwi dibangun sebagai wujud rasa syukur keluarga besar Santosa kepada Allah SWT serta persembahan bakti cinta kasih kepada kedua orang tua mereka. Desa Dander, adalah tempat kelahiran dan tempat leluhur seluruh putra putri Bapak Santosa Hardjosuwito dan Ibu Pertiwi. Oleh karena itu masjid ini dibangun di wilayah desa Dender, Bojonegoro.

Selain sebagai tempat beribadah, masjid ini diharapkan menjadi pusat kegiatan Islam di Bojonegoro yang menyelenggarakan pendidikan, pelatihan, diskusi, serta pengajian dalam upaya pendidikan dan syiar islam sebagai Rachmatan Lil Alamin serta pengembangan dan sebagai pusat pemberdayaan masyarakat. Harapan tersebut bukanlah hal yang mustahil, sebab kemegahan Masjid Al-Birru Pertiwi merupakan modal utama serta didukung dengan sarana dan prasarana penunjangnya sebagia besar sudah terpenuhi.

al-birru-pertiwi

Masjid mulai dibangun pada tanggal 24 Maret 2012 yang ditandai dengan peletakan batu pertama dan diresmikan pada tanggal 25 Januari 2014 oleh Bapak Suyoto, Bupati Bojonegoro, dan mulai dimanfaatkan Februari 2014. Acara persmian dihadiri oleh seluruh keluarga besar Santosa, sanak keluarga, handaitaulan dan masyarakat Bojonegoro.

Masjid yang berdiri di atas tanah seluas 3 hektare, tanah ini dahulunya adalah sawah tadah hujan peninggalan Ibu Pertiwi Santosa binti Karso Prawiro. Secara fisik, bangunan utama masjid Al-Birru Pertiwi berukuran sekitar 25 m (panjang) x 13 m (lebar), memiliki tiga lantai, lantai dasar dipergunakan sebagai ruang pertemuan, jama’ah pria menempati lantai satu, sedangkan  jama’ah wanita nenempati lantai dua. Sarana-sarana lain yang ada di sekitar masjid, adalah ruangan untuk pendidikan dan pelatihan, selain itu juga terdapat  perpustakaan. Masjid ini diharapkan mampu menampung sekitar 1.000 jamaah. Di halaman masjid ini terdapat taman-taman indah yang hijau.

Desain, perencanaan dan pembangunan Masjid Al-Birru Pertiwi dilakukan oleh PT. Garis Prada di bawah pimpinan Bpk. Uke Setiawan, arsitek yang telah ber pengalaman membangun masjid, Pimpinan Proyek adalah Bapak Edy Hendriyanto yang juga suami dari putri bungsu (menantu) Bapak/Ibu Santosa Hardjosuwito/Pertiwi.

Keberadaan masjid yang berkubah emas ini merupakan salah satu daya tarik, bagi masyrakat yang melintas di jalan raya Dander, baik yang hanya sebatas mampir menyaksikan kemegahan Masjid Al Birru Pertiwi, maupun untuk melaksanakan ibadah shalat. Pengunjung wisatawan domestik (wisdom) yang keliling Wali setelah dari Tuban, juga mampir ke Masjid Al Birru. Pengunjung bisa mencapai lima sampai enam bus/hari, belum terhitung wisdom, yang memakai kendaraan pribadi, lahan parkir khusus bus di lingkungan masjid cukup luas.

Masjid Al Birru, di kelola Yayasan Bakti Pertiwi Surabaya, semua biaya operasional masjid ditanggung Yayasan Bakti Pertiwi, pengelola masjid semuanya ada 23 petugas, di antaranya, tiga  ustadz putra dan dua putri,  empat orang Imam.

Meski tergolong masjid baru, namun Masjid Al-Birru Pertiwi, tidak mau ketinggalan dalam hal kegiatan ibadah.

  • Shalat Tarawih “One Night One Juz” (satu malam satu juz), selama 3 jam jam 19.00 sampai jam 21.00 WIB,
  • Buka bersama,
  • Pengajian “Tombo Ati” (setiap hari Minggu),
  • Memberi makan sahur kepada masyarakat yang melaksanakan i’tikaf,
  • Pelatihan bagi guru dan pelajar di bidang keAgamaan.

 Masjid Al Birru didirikan oleh keluarga besar Santosa, Putra Putri Bapak Santosa Hardjosuwito dan Ibu Pertiwi melalui Yayasan Bhakti Pertiwi. Yayasan ini didirikan oleh empat Putra Putri Santoso:  Suprapto Santosa, Supramu Santosa, Widodo Santosa serta Wijiningsih. Putra Putri Bapak Santosa Hardjosuwito dan Ibu Pertiwi yaitu:

  • Sugeng Santosa,
  • Suprapto Santosa,
  • Supramu Santosa,
  • Widodo Santosa,
  • Winarto Santosa,
  • Wijiningsih Santosa,

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
oleh: Wahyu DP /Tim Pustaka Jawatimuran

dari: ustazd Sholahuddin (Gus Udin); website resmi masjid Birru Pertiwi
Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur

MASJID AGUNG DARUSSAALAM BOJONEGORO

masjid-agung-darussaalam-bojonegoro

Lokasi Masjid Agung  Darussalam Bojonegoro terletak tepat di baratnya alun-alun Bojonegoro, tepatnya berada pada Jl. KH. Hasyim Asy`ari No. 21.  Berdekatan dengan berbagai gedung instansi yang ada di Bojonegoro, mulai dari gedung pemerintahan, pendopo, kampus-kampus, Rumah sakit Islam Muhammadiyah, serta beberapa gedung sekolahan, serta pusat perdagangan yakni pasar Bojonegoro. Dari letak inilah membuat masjid  ini  menjadi pusat perhatian tempat.

Lokasi masjid agung Darussalam ini  berdiri tepat di depan pintu masuk alun – alun hanya dibatasi oleh penyebrangan jalan raya saja. Sedangkan Lokasi alun-alun Bojonegoro dapat dicapai dari arah manapun.  Adapun Kabupaten Bojonegoro dari arah Utara berbatasan dengan Kabupaten Tuban, dari arah Timur berbatasan dengan Kabupaten Lamongan, serta dari arah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Ngawi, Kabupaten Madiun dan Kabupaten Nganjuk, sedangkan dari arah Barat berbatasan dengan Kabupaten Blora (Jawa Tengah).  Melihat letak itu dapat dijangkau dengan kendaraan bermotor, roda empat ataupun jalan kaki.

Masjid Agung Darussalam Bojonegoro mengalami beberapa kali pemugaran dan perluasan. Masjid agung Darussalam Bojonegoro didirikan tahun 1825 bertepatan dengan peristiwa perang Diponegoro yang terjadi di Bojonegoro. Berdasarkan sejarah perkembangan masjid arsitektur Masjid di Jawa Timur dibagi dalam tiga periode yaitu zaman Wali, zaman Penjajahan, dan zaman Kemerdekaan, begitu pula Masjid agung Darussalam Bojonegoro. Menurut catatan sejarah pembangunan masjid yang menjadi simbol religius ini di bangun sekitar tahun 1825 oleh para pedagang yang singgah di Jalur Sungai Bengawan Solo. Akan tetapi  berdirinya masjid ini tidak bisa dipisahkan dengan keterlibatan keterlibatan Laskar Diponegoro, sebab sepanjang tepian Sungai Bengawan Solo ketika itu merupakan jalur satu satunya laskar Diponegoro dalam malaksanakan penyerangan gerilyanya, dan Masjid merupakan titik utama.

Salah satu tokoh laskar Diponegoro yang mempunyai sebutan Patih Pahal. Beliaulah yang telah mewakafkan sebidang tanahnya, selanjutnya pada tahun 1825 itulah oleh masyarakat sekitar bersama sisa– sisa laskar Pangeran Diponegoro serta didukung para pedagang pasar Bojonegoro, mulai dibangun sebuah Masjid dan konon sambil perang melawan penjajah di Sepanjang tepi   Bengawan Solo. Pelaksanaan pembangunan masjid saat itu sangat luar biasa, setiap hari masyarakat sekitar bergantian secara sukarela mencarikan material seperti, berupa kayu,  batu kali dan pasir, saat itu material tersebut memang mudah didapat. Selain itu banyak masyarakat juga bergantian memberikan konsumsi pada para tukang. Pada saat itu bangunan masjid masih sangat sederhana semi permanen, hanya bangunan induk pondasinya batu dan semua bagian bangunannya dari kayu termasuk pilar dan dindingnya.

Pemugaran merupakan pekerjaan yang sangat sulit karena dari bangunan-bangunan lama yang diperbaharui kembali, selain mengganti bagian yang rusak juga mengadakan penambahan dan ada pula yang mengurangi dari objek bangunan yang dipugar. Akan tetapi dalam  pemugaran tersebut juga harus menjaga dan melestarikan nilai spiritual dan budaya bangunan yang dipugar.  Oleh sebab itu pada proses pemugaran pelaksanaannya harus jeli dan mengusahakan tidak merubah keaslian dari obyek yang bersangkutan.

Tahun 1925 saat masjid agung Darussalam Bojonegoro berusia ke 100 tahun, dilakukan penyempurnaan bangunan fisik yang dilakukan oleh Kanjeng Soemantri, Bupati Bojonegoro yang menjabat tahun 1916 sampai dengan tahun 1936. Masjid dipugar dengan melengkapi serambi depan, Kantor kenaiban (Kantor urusan Agama ) dan Madrasatul Ulum sebagai upaya pengkaderan umat islam yang sekarang menjadi MIN I Bojonegoro.

Tahun 1955 Republik Indonesia baru genap usia 10 tahun. Untuk itu Bojonegoro sangat membutuhkan sarana pendidikan sebagai upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, maka dibagunlah sekolah rakyat di halaman samping Masjid Darussalam sekarang menjadi SMP Islam.

Tahun 1963 dilaksanakan renovasi, pada bangunan serambi dan lantai masjid, Kantor Urusan Agama Kecamatan dan pagar depan, dengan menggusur bangunan kopel menjadi KUA dan bangunan KUA semula menjadi balai Muslimin yang letaknya disebelah utara masjid. Saat itu Bupati TK II Bojonegoro dijabat oleh H.R. Tamsi Tedjosasmito masa kepemimpinan tahun 1960-1968.

Tahun 1983 dilaksanakan perluasan, menambahan lokasi serambi ke samping dan depan, dengan bentuk hiasan setengah lingkaran mengelilingi serambi masjid baik sisi kanan, kiri maupun depan.  Selain itu juga merenovasi tempat pengambilan air wudlu, sumur dan jamban. Lokasi menara pada awalnya berada di samping kanan masjid dipindah ke bagian halaman depan masjid, karena samping kanan masjid akan digunakan untuk perluasan ruang shalat. Selain itu pintu gerbang di dampingi dua buah mihrab kecil pada sisi kanan dan kiri pintu. Bentuk atap memiliki dua buah atap, pada bagian atap ruang shalat utama berbentuk atap tumpang sedangkan pada bagian serambi terdapat atap kubah. Kubah berbentuk setengah lingkaran, dana pembangunan masjid ini berasal dari:  Bantuan dari Presiden, dari Menteri Agama,  dana NTCR (Nikah, Talak, Cerai. Dan Rujuk) serta dana APBD tahun 1978-1983 masa kepemimpinan Bupatinya Drs. Soeyono. Selanjutnya peresmian dilakukan oleh Menteri Agama Bapak H. Alam Syah Ratu Perwira Negara.

Tahun 1993 dilaksanakan rehab total pada semua bangunan masjid yang kepanitiaannya langsung ditangani oleh Bapak Drs. H. Imam Supardi Bupati KDH TK.II Bojonegoro yang menjabat dua periode tahun 1988-1993 berlanjut tahun 1993-1998. Renovasi meliputi bangunan induk, pilar – pilar dibungkus dengan kayu jati asli, pintu-pintu masjid, ornamen dan asesorisnya diperbaiki, tempat wudhu, perkantoran sampai tempat parkir semuanya direnovasi. Juga dilakukan pemindahan lokasi Kantor KUA, MIN dan SMP Islam,  MIN dipindah ke Jl. Panglima Sudirman,  SMP I dipindah ke Jalan Panglima Polim sedangkan Kantor KUA dipindah ke sebelah selatan Masjid Mojo Kampung. Balai Muslimin juga mengganti dengan pendopo, ruang perpustakaan dan kantor TPQ, pembuatan tempat wudhu baru, pembuatan serambi dan mengalihkan ruang shalat jamaah wanita ke lantai atas, pembuatan menara dan taman dilingkungan masjid. Sumber dana diperoleh dari bantuan Presiden, APBD, NTCR serta infaq Masyarakat yang dikoordinir oleh YASOIMI, juga bantuan dari Gubernur Jawa Timur yang kala itu dijabat oleh H. Bashofi Sudirman, peresmiannya dilakukan oleh Bapak H. Bashofi Sudirman.

Tahun 2014 Masjid Agung Darussalam Bojonegoro mengalami pemugaran besar-besaran menggunakan dana APBD sebesar 40 Milyar. Masa  kepemimpinan Bupati Drs. H. Suyoto, M.Si  yang menjabat dua periode yaitu tahun 2008 – 2013 dilanjutkan pada tahun 2013 – 2018. Pembangunan pada tahap pertama  yang dilaksanakan mulai bulan April 2014 telah menghabiskan dana sebanyak 25 Milyar. Renovasi pada tahap ini hampir seluruh bangunan masjid, mulai dari bangunan induk, serambi, menara, tempat wudhu, ruang perkantoran dll. Dilaksanakannya renovasi tersebut dikarenakan beberapa masalah yang meliputi:

  • Bangunan induk rendah dan kurang luas menyebabkan sirkulasi udara kurang sempurna sehingga udara didalam masjid panas; interior ruang shalat sudah usang, bentuk mihrab setengah lingkaran dibagi dua tempat, dirubah menjadi persegi panjang ke atas menjadi satu tempat, arah kiblat kurang sesuai.
  • Serambi masjid rendah baik bagian kanan, kiri maupun depan, membuat sirkulasi udara kurang sempurna menyebabkan ruanganan panas, lahan kurang luas serta bentuk bangunan di anggap kurang uptodate di zaman sekarang.
  • MCK ( mandi, cuci, kakus ) terletak sebelah kanan serambi masjid menonjol kedepan, antara tempat pria dan tempat wanita menjadi satu hanya disekat dengan tembok saja.
  • Bangunan pendopo yang terletak disebelah kiri masjid kurang berfungsi (dihilangkannya).
  • Bentuk menara menyesuaikan dengan bentuk arsitektur masjid.
  • Bangunan perkantoran masih kurang, baik jumlah maupun luasnya; Membangun sembilan ruang dengan masing – masing berukuran 4 x 4  M2 sebagai kantor Mui, Dmi, Lpptka-Bkprmi, Ta`Mir, Remas, Perpustakaan, Radio, Dan Ruang Pertemuan.

Pada renovasi tahap pertama ini Masjid Darussalam arsitekturnya kelihatan anggun , elegan dan modern, selanjut asesoris dan ornamennya di lengkapi pada rencana pembangunan tahab ke 2 . Renovasi masjid ini tetap melestarikan bangunan lama dengan mempertahankan tetap mempertahankan bangunan induk dan pilar – pilar kayu yang menjulang tinggi karena mengandung nilai historis dan untuk menjaga kelestarian benda wakaf. Bangunan Masjid  berlantai 2 dilengkapi tempat parkir yang luas.

Ruang shalat terdiri dari dua lantai. Lantai  pertama dibagi menjadi 3 wilayah, yakni wilayah mihrab, wilayah liwan pria, dan liwan wanita. Adapun lantai 2 dipakai pula untuk liwan wanita.

Tempat wudhu ada dua bagian sebelah kiri masjid tempat wudhu wanita sedangkan sebelah kanan tempat wudhu Pria, tempat wudhu berkeramik warna abu-abu sehingga jika kotor cepat kelihatan, dilengkapi kolam pembasuh kaki ketika hendak atau selesai wudhu. Penyediaan air lancar dan bersih dilengkapi terdapat beberapa keran air wudhu, fasilitas kamar mandi masjid dilengkapi beberapa gantungan baju ataupun tas dan sebuah cermin.

Serambi masjid berbentuk persegi panjang dan los terdapat dua tiang penyangga atap. Ruang di antara pintu depan dan pintu utama mempunyai atap berbentuk bulat yakni bentuk dalam dari lekungan kubah utama. Ruang serambi ini juga dihiasi oleh 3 buah lampu Kristal dan 2 tangga bagian pinggir kiri dan kanan untuk jalan menuju lantai 2 yakni liwan wanita, dan dua buah kotak amal kecil berbentuk seperti masjid. Warna cat berupa cream membuat masjid ini tampak kelihatan anggun, elegan dan modern.

Pemugaran Masjid Agung Darussalam diresmikan Bupati Bojonegoro H. Suyoto, pada hari Jum’at , tanggal 3 juni 2016. Menandai diresmikannya Masjid Agung Darussalam, H. Suyoto menabuh bedhuk dan menanda tangani prasasti peresmian pemugaran Masjid yang berada di barat Alun-alun Bojonegoro. Acara dilanjutkan dengan tumpengan, sebagai selamatan peresmian. Hadir pada acara tersebut, Wakil Bupati Bojonegoro Setyo Hartono, Kapolres Bojonegoro AKBP Sri Wahyu Bintoro, Ketua MUI Bojonegoro KH. Jauhari Hasan, tokoh masyarakat dan tokoh agama serta para jama’ah Jum’at Masjid Agung Darussalam Bojonegoro.

Perlu diketahui, Masjid agung Darussalam Bojonegoro saat itu direncanakan bakal dipugar dengan dana 40 miliar. Pada tahap awal masjid dibangun dengan memanfaatkan dana APBD 2014 yang dikerjakan oleh PT. Daman Varia Karya dengan anggaran sebasar Rp 24.580.000,00 (dua puluh empat miliar lima ratus delapan puluh juta). Setelah masjid itu dibangun pada tahap awal di APBD 2014 silam, kemudian muncul aturan dari pemerintah yang melarang fasilitas umum dibangun dengan dana APBD Kabupaten/kota, maka pembangunan Masjid Agung Darussalam hanya dilaksanakan pada APBD induk tahaun 2014 untuk pembangunan tahap ke 2, dilanjutkan oleh pihak masjid sendiri dengan disesuai dengan keuangan yang ada.Untuk pemugaran pada tahun 2014 itu, dengan Luas bangunan Masjid Agung Darussalam yang baru sekitar 2.422 meter persegi dan berdiri di atas lahan seluas 3.562 meter persegi. Masjid itu mampu menampung jamaah mencapai 1.100 orang, saat ini Masjid Agung Darussalam memiliki dua lantai.

Secara umum pengaruh tradisi arsitektural asing yang mempengaruhi tradisi arsitektural Masjid Agung Darussalam Bojonegoro adalah arsitektur atau gaya India – Cina – Timur Tengah-Eropa serta ditambah unsur-unsur budaya setempat. Masjid Agung Darussalam jika dilihat dari desain interior dan eksterior memiliki banyak penafsiran pengaruh budaya asing selain dari arsitektural tradisional. Untuk memperoleh gambaran lebih jelas mengenai keberagaman tradisi arsitektur bangunan masjid Agung Darussalam Bojonegoro. Unsur-Unsur Budaya yang mempengaruhi Pada Arsitektur Masjid Agung Darussalam Bojonegoro.

Pengaruh arsitektur khas corak Jawa pada bangunan Masjid Agung Darussalam yaitu adanya Bentuk atap tumpang yang berada pada atap ruang utama shalat yang juga menjadi salah satu peninggalan ciri khas masjid pada tahun 1984. Awalnya atap tumpang yang dimiliki Masjid Agung Darussalam berdiri tepat di belakang atap kubah. Akan tetapi bentuk atap tumpang tersebut sekarang sudah mulai dihilangkan, diganti dengan atap kubah utama yang berdiri di atas serambi utama. Atap tumpang dihilangkan karena melihat bentuk fisiknya yang terbuat dari kayu yang dikhawatirkan tidak akan bisa bertahan lama.  Cirikhas lainnya arsitektur corak Jawa adalah empat tiang utama ( soko guru) yang terbuat dari Kayu  dan dihiasi dengan bentuk pasak pada sudut-sudut tiang. Masing-masing pasak tersebut menghubungkan antara soko guru satu dengan soko guru lainnya, Pasak berbentuk ujung tombak yang berhiaskan ukiran tumbuh-tumbuhan menjalar dengan bentuk kubah kecil pada ujung tombak tersebut. Di antara ke Empat soko guru tersebut ditengah-tengah atap terdapat pasak yang berbentuk empat penjuru mata angin yang di pusatkan pada bentuk koin yang berhiaskan ukiran-ukiran bentuk bunga melingkar. Bedug ataupun kentongan merupakan salah satu ciri khas yang ada pada masjid Jawa, berfungsi sebagai pertanda waktu akan shalat.

Kebudayaan Arsitektur Timur Tengah juga tercermin pada Masjid Agung Darussalam Bojonegoro. Bentuk menara Masjid Agung Darussalam Bojonegoro memiliki bentuk Spiral memutar ke atas. Meskipun tidak nampak persis namun menara ini termasuk dalam kategori bentuk menara yang hampir mirip di kota Samarra (Irak). Pengaruh budaya arsitektur Timur Tengah lainnya yaitu bentuk lekung pintu yang terdapat pada pintu serambi depan. Bentuk-bentuk lekung setengah lingkaran melancip juga terdapat pada Serambi Masjid Agung Darussalam  Bojonegoro. Jika dilihat memiliki kesamaan bentuk dengan kubah di Timur Tengah yang juga berbentuk setengah lingkaran. Pada sela-sela pintu terdapat hiasan kaligrafi yang berkeliling di atas pintu. Lafadz dari Kaligrafi tersebut adalah dari Surat Al-baqarah.

Kebudayaan arsitektur Eropa juga mempengaruhi arsitektur Masjid Agung Darussalam Bojonegoro. Hal ini terlihat dari bentuk arsitektur masjid yang terdapat sebuah lampu Kristal utama yang terletak di ruang shalat, hiasan lampu Kristal ini mengelilingi sepanjang ruangan shalat utama, serta juga menghiasi ruang serambi.

Kebudayaan arsitektur Cina juga mewarnai arsitektur Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, dilihat pada bentuk ukiran ukiran kayu yang ada pada mimbar, bedug, pintu utama, tiang soko guru juga merupakan salah satu pengapdosian dari kebudayaan arsitektur Cina. Bentuk ukiran kayu tersebut semuanya hampir sama yakni berbentuk tumbuh tumbuhan yang menjalar, bunga serta ukiran berbentuk geometris.

Berikut adalah gambaran tentang elemen hias islam yang diterapkan pada masjid Agung Darussalam Bojonegoro:

  • Dinding pada masjid Agung Darussalam Bojonegoro terbagi tiga, dinding mihrab, dinding liwan yang membatasi area shalat makmum dengan ruang luar masjid, serta dinding pembatas antara liwan area shalat dengan serambi yang terletak di depan. Dinding pada masjid Agung Darussalam ini berbentuk enam persegi panjang yang memiliki hiasan dinding berwarna putih dan jendela kaca, serta pintu yang yang membatasi masing-masing ruang.
  • Mihrab pada Masjid Agung Darussalam berbentuk persegi panjang ke atas menjulang hingga ke atap yang setengah ruang digunakan oleh imam dan letak mimbar sedangkan yang bagian atas digunakan untuk elemen hias mihrab, pada dinding pinggir mihrab yang berhiaskan ukiran bentuk tumbuhan yang berada tepat disebelah barat.
  • Mimbar pada masjid Agung Darussalam Bojonegoro ini berbentuk singasana kecil yang di atasnya terdapat kubah kecil yang menghiasi mimbar. Posisi mimbar ini terletak di dalam mihrab tepatnya disebelah kanan tempat shalat imam. Bahan yang digunakan dalam pembuatan mimbar ini adalah kayu dengan warna asli kayu berpliture. Mimbar ini juga dihiasi oleh ukiran kayu yang bermotif bunga dan tumbuhan dan terdapat pula lambang Allah pada tempat kursi mimbar dan tiga buah anak tangga.
  • Pintu gerbang pada masjid Agung Darussalam Bojonegoro berbentuk persegi panjang yang mengelilingi sepanjang bangunan masjid. Bahan tembok dan besi yang bermotifkan segi lima.
  • Pintu yang ada pada masjid Agung Darussalam ini terdapat tiga pintu utama besar. Pintu utama serambi berbentuk setengah melengkung kubah yang berhiaskan kotak-kotak kecil simetris yang kerap memenuhi bentuk dinding pintu dengan perpaduan warna hijau dan cream. Berbentuk persegi panjang dengan bahan dasar kayu jati yang di pliture dengan elemen hias ukiran simetris. Tiga pintu kembar pada pintu utama masjid agung Darussalam Bojonegoro berhias kotak-kotak kecil. Ukiran ini menghiasi bagian kiri dan kanan pintu utama masjid. Tiga buah pintu utama masjid agung ini menyeleraskan jumlah dari pintu serambi yakni tiga buah pintu serambi depan.
  • Tiang penyangga (Soko Guru) terdapat empat buah tiang penyangga masjid Pada bagian utama masjid yakni pada ruang liwan pria, mulai masjid berdiri hingga mengalami pemugaran berkali-kali tiang ini masih tetap dipertahankan, sebagai simbol dari masjid jawa. Tiang terbuat dari kayu jati yang di pliture dan di hiasi dengan ukiran kayu yang bermotif tumbuhan. Tiang penyangga lainnya terbuat dari bahan tembok terdapat 10 tiang pada liwan pria dan 10 tiang pada liwan wanita. Tiang soko guru terdapat pada ruang shalat utama masjid agung Darussalam Bojonegoro 2 tiang penyangga pada serambi, dan 5 tiang pada serambi sisi kiri, 5 tiang pada serambi sisi kanan. Tiang penyangga ini rata-rata berbahan batu bata dan semen yang kemudian dihaluskan dan dihiasi dengan cat cream serta bagian bawah berwarna putih. Perpaduan kedua warna ini akan terlihat sangat indah dan nyaman untuk di lihat.
  • Langit-langit masjid agung Darussalam ini berbentuk persegi empat yang ditengahnya terdapat kotak-kotak berbentuk persegi panjang. Motif hias yang digunakan berbentuk ukiran-ukiran tumbuhan yang melingkari setiap sudut plafon dengan bahan dasar kayu dan berwarna coklat. Plafonnya sendiri berwarna putih yang terbuat dari asbes.
  • Lantai pada masjid ini penanda shaf menggunakan barisan ukuran lantai marmer yang berbentuk persegi panjang yang sudah ditata sedemikian rupa. Sehingga ukurannya sudah sebesar sajadah untuk shalat. Bahan utama dari lantai adalah marmer yang terlihat seperti mengkilat rapi dan bersih.
  • Lampu yang ada pada Masjid Agung Darussalam Bojonegoro ini terdapat dua jenis, lampu kristal dan lampu biasa, lampu Kristal berwarna putih bentuk mengkrucut ke atas berbahan kaca yang berjumlah 23 buah lampu. Lampu Kristal terletak disetiap sudut ruang masjid, pada bagian ruang utama (tempat shalat) terdapat 12 lampu Kristal, bagian ruang liwan wanita terdapat 8 lampu Kristal dan bagian serambi terdapat 3 buah lampu Kristal. Sedangkan lampu biasa juga menghiasi di sela-sela lampu Kristal berjumlah 16 buah lampu.
  • Ruang shalat liwan wanita memang cukup luas dimana terdapat 8 tiang penyangga, dihiasi oleh dinding tembok yang berlubang-lubang yakni tembok yang bermotif silindris mengelilingi ruangan, agar cahaya dan angin bisa masuk dalam ruangan, untuk memperingan biaya listrik kipas dan lampu. Bagian plafon (langit-langit) liwan ini berbentuk polos yang juga se atap dengan liwan pria.
  • Anak tangga menuju liwan wanita pada lantai bagian dua pada masjid agung Darussalam Bojonegoro berjumlah dua buah terletak pada bagian dalam serambi sisi kiri dan sisi kanan. Anak tangga ini berbentuk persegi panjang dengan tingkat kemiringan 30˚dengan bahan tembok serta kaca dan besi dan berwarna cream.
  • Bedug terdapat dua buah di masjid agung Darussalam berbahan dasar sama dari kayu dan kulit sapi berada pada masing-masing kutub. Bedug yang berukuran sedang biasa digunakan sehari-sehari terletak di serambi sisi kanan, sedangkan bedug yang berukuran besar berhiaskan ukiran-ukiran bermotif tumbuhan dan berujung ukiran bentuk mihrab diletakkan di ruang liwan wanita. Bedug ini berwarna coklat dan berpadu pada warna cream.

Gaya arsitekrur bentuk bangunan Masjid Agung Darussalam Bojonegoro persegi (kotak), membuat masyarakat beranggapan bahwa masjid ini merupakan sebuah gedung pemerintah yang, upaya desain Eksterior yang memperlihatkan bangunan tersebut merupakan bangunan Masjid dicirikan sebaga berikut:

  • Kubah pada Masjid Agung Darussalam ada 3 buah, yang terdiri dari kubah kecil terdapat pada atap ruang wudhu wanita dan pria, Kubah utama terdapat pada atap serambi yang terletak paling depan bagian masjid.
  • Menara menara berbentuk tinggi sudah menggunankan alat pengeras suara (loud speaker) yang diletakkan di atas menara untuk mempermudah terdengarnya suara adzan sebagai tanda masuknya waktu shalat.
  • Pada kompleks Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, terdapat pula ruang atau bangunan-bangunan lainnya sebagai penunjang media berdakwah dan melengkapi fasilitas Masjid:
  • Kantor Ta’mir,
  • Ruang Muadzin,
  • Ruang Poliklinik Darussalam,
  • Kantor Remas Masjid Agung Darussalam,
  • Studio radio Darussalam fm 106.8 MHZ,
  • Tempat perkumpulan,
  • Ruang tamu,
  • Ruang Karyawan dan lain-lain. Semua ruangan tersebut
  • Ruang pendidikan atau ruang pertemuan,
  • Ruang pengajian anak-anak (madrasah),
  • Ruang perpustakaan,
  • Ruang kesenian hadrah,
  • Ruang penginapan,
  • Gudang,

Sebelah Barat dalam area Masjid Agung Darussalam Bojonegoro terdapat kompleks makam warga. Tanah makam ini juga pewakafan Patih Pahal (Pangrehing Projo), selain mewakafkan tanahnya untuk pendirian masjid.  Kompleks makam ini bersifat umum Kelurahan Klangon Kecamatan Bojonegoro juga masyarakat sekitar kompleks masjid.

————————————————————————————134N70 nulis DW

Thalib Prasojo

Thalib PrasojoM. Thalib Prasojo lahir di Bojonegoro, 17 Juni 1931. Pendidikan terakhir Akademi Seni Rupa. Pernikahannya dengan Rr. Sri Sumiyatun membuahkan 4 orang anak, masing masing Nunik Sri Rahayu (guru Sekolah Menengah Seni Rupa Surabaya), Basuki (war- tawan tabloid Jawa Anyar, Ninil Kurniawati (wiraswasta), dan Teguh (sarjana teknik alumni ITS).
Sebagai pelukis sketsa ia telah memamerkan karya karyanya di beberapa kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Bandung, dan kota-kota lainnya. Aktif dalam organisasi kesenian, di antaranya pernah memegang jabatan sebagai Ketua Biro Seni Rupa Dewan Kesenian Surabaya(DKS), kini menjabat Ketua Penelitian dan Pengemban- gan (Litbang) Dewan Kesenian Surabaya.
Kariernya diawali dengan pengabdiannya sebagai guru Sekolah Dasar, menulis mengenai spiritual, dan intens dalam kegiatan seni rupa. la pernah memperoleh penghargaan dari Korem 084 Surabaya dan AkabriLaut dalam pembuatan patung monumen.
Pelukis ini bertempat tinggal di Jalan Gresik No. 254 Surabaya.
Sesuai dengan nama yang disandang, pelukis ini memiliki semboyan hidup sedarhana. Bertolak dari nama itu pulalah ia waktu kecil memiliki obsesi hendak meniti karier menjadi dalang atau menjadi pelukis. Ternyata pilihannya jatuh pada profesi yang kedua, yaitu pelukis.
Atas dasar wangsit yang pernah ia terima waktu duduk di Sekolah Menengah Lanjutan Pertama (SMP) bahwa profesi pelukis, akan membuahkan hasil untuk kemuliaan anak-anaknya. “Kadang-kadang sesuatu yang tak terlihat mata, bisa tam- pak,” tuturnya.
Dalam setiap kesempatan ia selalu membawa kertas gambar ukuran folio dan pulpen ditangannya. Objek-objek yang berupa kegiatan manusia, flora, dan fauna dipindahkan ke dalam kertasnya. Tidak mengherankan bila ia memiliki beribu-ribu koleksi lukisan sketsa.
Sebagai pelukis Sketsa ia bukanlah tukang gambar. Karya-karyanya memiliki nuansa khas yang menyentuh batin penik- matannya. Kekuatannya terletak pada garis-garis yang diberi muatan simbolik. Raut muka seseorang yang dilukis setelah dipindahkan ke dalam kertas, berubah menjadi simpul-simpul kepribadian ma­nusia. Itulah sebabnya, pelukis yang memi­liki tokoh idolah Sunan Kalijaga ini, ingin mengawinkan falsafah-falsafah dengan objek yang dilukis.
“Saya menghadapi hidup ini bagai air mengalir. Tak ada sesuatu yang saya pan- dang istimewa, toh hidup kita ini diatur oleh Yang Mahakuasa,” akunya. (AS-10)

Basofi Soedirman

BasofiMohammad Basofi Soedirman Lahir di Bojonegoro, 2 Januari 1941, beragama Islam. Alumni Akademi Militer Nasional (AMN) tahun 1963. Pernah masuk pasukan Baret Merah, kemudian dilugaskan di Kodam Brawijaya, Jawa Timur. Pengalaman tempurnya antara lain di Maros dan Timor Timur (tiga kali).

Sebelum menjabat Gubarnur Jawa Timur, sejak Agustus 1993, ia pernah dipercaya sebagai Komandan Kodim Jember, Mil Gubarnur DKI Jakarta dan Ketua DPD Golkar DKI Jakarta. Pernah mendapat penghargaan BASF Award, karena album lagu dangdutnya “Tak Semua Laki-Laki” laku keras di pasaran.

Menikah denganMarianilsnomo.Bersama keluargatinggal dirumah dinas Gubernuf Jawa Timur, Jl. Imam Bonjol Surabaya, telepon 574700 dan 570936. Selaku Gubernur Jawa Timur berkantor di Jl. Pahlawan No. 110 Surabaya, telepon 333805, 24012 dan 24013.

Sejak kecil ia sudah bercita-cita ingin menjadi tentara. Ini karena ayahnya, almarhum Letjen Sudirman, sering mengajaknya melihat kegiatan militer. Seperti me­lihat ke pedalaman atau menyaksikan olahraga tentara. “Itu yang membuat saya merasa kehidupan saya itu ya militer,” ungkapnya.

Meski begitu, ia masuk militer karena keinginannya sendiri, bukan karena anjuran ayahnya. “Bapak tidak pernah menyampaikan keinginannya mengenai anak-anaknya supaya jadi apa. Pokoknya jadi orang baik-baik. Nah, waktu saya masuk tentara, orang tua justru tidak tahu. Soalnya saya izin orang tua setelah saya lulus,” ungkapnya sembari tertawa.

Mungkin baru pertama kali ini ada di Indonesia, dalam sebuah keluargaadadua jenderal. Sang Bapak lebih tinggi pangkat- nya, yaitu Letnan Jenderal, sedang ia sendiri baru Mayor Jenderal. Namun sewaktu menjadi pejabat, ia tak pernah membawa- bawa nama bapaknya. Hal itu dilakukan atas anjuran ayahnya sendiri.

la melihat bapaknya sebagai seorang yanghumanis, kemanusiaannyatinggi. “Kalau melihat orang sedang sengsara, pasti Bapak akan tergerak hatinya. Tidak peduli siapa pun dia orangnya. Musuh yang mengeluh sakitpun, pasti akan ditolong,” ungkapnya.

Sedikit-banyak ia juga dipengaruhi oleh sikap bapaknya itu. la boleh dikata masih kena sawabnya orang-tua. Jadi meski tidak pernah membawa-bawa nama orangtua, tetapi ia merasakan pengaruhnya.

Ada banyak pengalaman mengenai sa’wab itu. Misalnya ia pernah menjabat di tempat di mana ayahnya dulu juga berada di sana. Sewaktu bertugas di Maros, Sula­wesi Selatan, ternyata nama bapaknya terkenal sekali di situ. Sewaktu ia bertugas di Jawa Timur, semua orang tahu bahwa ia anaknya Pak Sudirman.

Pengalaman tempurnya yang paling banyak dipuji adalah di Timor Timur. la pernah ditugaskan ke daerah itu tiga kali. Pertama kali waktu ia menjadi komandan batalyon. “Itu tahun 1975 kalau tidak salah ingat ya. Berikutnya waktu saya komandan brigade. Kemudian waktu saya jadi asisten Kodam Brawijaya, kembali lagi ke Timor Timur. Lumayan lama di sana. Yang pertama kali itu setahun. Kedua kali delapan bulan, dan yang ketiga enam bulan,” paparnya.

Sewaktu tugas di Timor Timur, sedang ramai-ramainya pertempuran. Dan syukurlah, ia tak pernah kenatembak. Dari pengalaman ini, ia merasa, jago tempur itu tidak ada. Yang ada barangkali faktor luck. Tetapi faktor luck juga harus pakai perhitungan “Saya’ banyak mengalami peristiwa-peris tiwa di mana orang mengatakan saya hebat, Padahal kalau orang tahu rahasianya, orang itu tidak akan mengatakan dirinya ti­dak hebat,” ungkapnya.

Namun karir militernya tak bisa terus berlanjut, karena ia diangkat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta. Waktu itu usianya 48 tahun dan ia diminta pensiun sebagai tentara. la menganggap tidak ada masalah de­ngan jabatan barunyaitu. “Dan saya juga tidak kaget. Memang terusterang saja, waktu saya ditunjuk oleh Golkar, dalam hati saya bertanya-tanya, ngapain ya, kok saya ditaruh di sini. Disuruh merangkap jadi Wagub dan sekaligus Ketua Golkar DKI. “Wong saya ini dari kecil senangnya jadi tentara,” ungkapnya.

Sejak menjadi Ketua DPD Golkar DKI, ia sering didaulat untuk menyanyi dalam berbagai forum. Biasanya menyanyi lagu dangdut. Makin lama ia makin merasa bisa menjadi penyanyi dangdut. Lantas ia menelurkan album “Tak Semua laki-Laki” yang ternyata laku keras di pasaran, sehingga ia berhak memperoleh BASF Award.

Sesudah menjadi Gubernur Jawa Timur, kedekatannya dengan masyarakat tidak berkurang. la cukup akrab dengan para artis musik dan film. Menurutnya, untuk menjadi pemimpin di Jawa Timur itu, sebenarnya tidak susah. Yang penting ada keterbukaan dan komunikasi. Kalau memberi sesuatu pada masyarakat Jawa Timur harus jelas, dengan argumen yang baik. “Bila hal itu dilakukan, saya yakin mereka pasti mau menerima. Jangan sekali-kali menawarkan sesuatu tanpa argumen. Pasti akan ditolak mentah-mentah,” ungkapnya.

Dalam menjalankan tugas, ia akan mendahulukan perbaikan Sumber Daya Manusia. Termasuk perbaikan mental aparat dan birokrasi. Untuk menyamakan persepsi de­ngan aparatnya, ia menggu nakan berbagai kiat. Misalnya dengan selalu memberi teladan yang baik pada aparatnya. (AS-3)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa &  Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 131-133 (CB-D13/1996-…)

Wayang Thengul, Kabupaten Bojonegoro

Wayang Thengul.Wayang Thengul merupakan ikon kesenian tradisi wayang golek asli Kabupaten Bojonegoro dan sudah memperoleh pengakuan nasional, karena kesenian ini tumbuhkembangnya di kabupaten Bojonegoro. Kata Thengul dalam penuturan masyarakat berasal dari kata “methentheng” dan “methungul” yang artinya karena terbuat dari kayu berbentuk tiga dimensi, maka “dhalang” harus “methentheng” (tenaga ekstra) mengangkat dengan serius agar “methungul” (muncul dan terlihat penonton).

Teng (”methentheng”) dan Ngul (“menthungul ”), sampai pada saat ini di kabupaten Bojonegoro pertunjukan wayang thengul masih didukung oleh pelaku aktif 14 orang dalang yang tersebar di wilayah Kapas, Balen, Padangan, Sumberrejo, Kedungadem, sukosewu, Bubulan, Margomulyo,  dan kecamatan kanor yang berjarak  ± 40 Km dari Kota Bojonegoro para dhalang memiliki wilayah tanggapan (wilayah pentas). Pertunjukan wayang thengul Bojonegoro dipentaskan dalam acara yang berkaitan erat dengan hajat ritual upacara tradisional, ruwat dan nadzar.

Wayang ThengulWayang thengul yang berbentuk 3 dimensi ini, biasanya dimainkan dengan diiringi gamelan pelog/slendro. Wayang thengul ini memang sudah jarang dipertunjukkan lagi, namun keberadaannya tetap dilestarikan di Bojonegoro.  Para dhalang belajar secara otodidak dengan cara nyantrik (membantu sambil mempelajiri setiap pentas pada dalang senior), dan salingmengapresiasi permainan sesama dhalang wayang thengul maupun dari pertunjukan wayang kulit pada umumnya.

Wayang thengul Bojonegoro cenderung menggelar lakon-lakon wayang gedhog, bahkan beberapa lakon terkait dengan Serat Damarwulan yang sering dilakonkan dalam pertunjukan wayang klithik.

Tradisi pertunjukan wayang thengul di Bojonegoro nampaknya lebih dekat dengan ceritera Gedhog, Bangun Majapahit yaitu ceritera yang bersumber pada babad Majapahit, babad Demak. Dilihat dari perupaan dan visualisasi karakter tokoh dalam wayang thengul memiliki kedekatan karakter dengan tipologi yang tertuang dalam wayang gedhog dan wayang menak. Sehingga sangat wajar, wayang thengul lebih dekat dengan lakon wayang menak, lakon-lakon Panji serta ceritera para wali pada masa kerajaan Demak.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Profil Pariwisata Dan Budaya, Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro