Batik Jonegoroan, Kabupaten Bojonegoro 2

Bupati Bojonegoro, H Suyoto, meresmikan Toko Bojonegoro yang menyediakan Batik Jonegoroan dan kaos Jonegoroan (2/8/2013).

batik jonegoroan.TOKO di komplek pertokoan Jl Gajah Mada itu menampung hasil produksi batik masyarakat dari enam desa di tiga kecamatan binaan Lembaga Swadaya Masyarakat Asosiasi untuk Demokrasi dan Kesejahteraan Sosial (Ademos) Mobil Cepu Limited (MCL), operator Migas Blok Cepu. Enam desa yang sebelumnya mendapatkan program industri kreatif batik Jonegoroan dan sablon kaos Jonegoroan itu adalah Desa Ngunut dan Dander, Kec Dander; Desa Sukoharjo dan Leran, Kec Kalitidu, dan Desa Ngasem dan Sendangharjo, Kec Ngasem.

Bupati Bojonegoro, Suyoto, mendukung kreasi anak muda Bojonegoro yang turut memberi identitas bagi Bojonegoro dalam bentuk kreasi dan karya seperti yang dilakukan Ademos. “Apa yang dilakukan ini dapat ikut mempromosikan produk lokal Bojonegoro dan sekaligus membantu masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraannya,” kata Suyoto.

Dia berharap, dengan hadirnyaToko Bojonegoro ini dapat lebih memudahkan masyarakat dari dalam maupun luar Bojonegoro dalam memperoleh produk lokal Bojonegoro, khususnya Batik Jonegoroan dan Kaos Bojonegoro Untuk itu, Kang Yoto berpesan, agar para perajin maupun pengelola Toko Bojonegoro lebih kreatif lagi dalam menyajikan desain produknya.”Sehingga toko ini bisa diminati semua kalangan dan menjadi jujugan,”tutur Suyoto.

Ketua Ademos, Aziz Ghosali, menerangkan, selain untuk menampung hasil kerajinan para perajin, Toko Bojonegoro ini merupakan salah satu upaya untuk memudahkan masyarakat dalam memperoleh Batik Jonegoroan dan Kaos Bojonegoro. KarenaToko Bojonegoro ini menyajikan varian produk beragam mulai kalangan tua hingga remaja. “Untuk produknya sengaja didesain berbeda sesuai selera remaja masa kini,”sambung Aziz.

Untuk lebih memperluas pemasaran produk Batik Jonegoroan dan Kaos Bojonegoro ini Ademos juga memasarkannya secara online dengan alamat www. tokobojonegoro.com. Sementara itu Menko Kesra, HR Agung Laksono, usai membuka pasar murah, langsung meninjau stan milik Dekranasda dan tertarik serta membeli batik khas Jone­goroan dengan warna kuning motif daunjati. *

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Galeria, Edisi 14; September – Oktober 2013

Batik Selingkuh, Kabupaten Bojonegoro

Kabupaten Bojonegoro Kembangkan Batik Selingkuh

batik selingkuh jonegoroanKREATIVITAS dan karya batik tak pernah ada habisnya. Daerah-daerah yang menjadi kantong usaha kerajinan batik, seperti tak pernah berhenti berkreasi. Sebut saja Kabupaten Bojonegoro yang dikenal memiliki batik khas Jonegoroan.

Perajin-perajin batik di sana terus berkarya dan berkreasi, salah satunya adalah mengembangkan usaha batik selingkuh. Usaha itu dilakukan warga Bojonegoro untuk mendukung Bojonegoro Matoh. Warga itu adalah Acmat Aris dari Desa Prayungan, Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro.

Saat paparan karya batiknya pada dialog publik, 5 Juli 2013 lalu, Aris menjelaskan, bahwa usaha yang dikembangkan tersebut merupakan kreasinya sendiri bersama kawan-kawannya.”Alhamdulillah, apa yang kami lakukan ini mendapat apresiasi dari Bapak Bu­pati Bojonegoro, Kang Yoto,”katanya.

Malah, ujar Aris, Bupati Bojonegoro itu ingin ba­tik selingkuh dengan motif sekarjagad dibawa ke pendapa untuk diketahui masyarakat luas melalui dialog publiktersebut.

“Nanti kalau motif sekarjagad sudah jadi akan saya bawa ke sini (pendapa Malowopati),”ujarnya sambil menunjukkan contoh batik selingkuh buatannya kepada peserta dialog.

Aris menambahkan, batik selingkuh tersebut meru- pakan paduan batik Jonegoroan dengan kreasi yang dibuat Aris dan kawan-kawan. Dikatakan, kreativitas remaja dalam membantu mengenalkan Bojonegoro ke luardaerah, perlu mendapatkan perhatian.

Ia mengatakan, dengan batik Jonegoroan bermotif selingkuh diharapkan juga bisa menambah koleksi pencinta batik Jonegoroan. “Batik yang saya produksi ini saya beri nama Batik Risma. Nama ini perpaduan nama saya dan istri saya,” imbuhnya sambil promosi.

Siapa saja bisa mendapatkan Batik Selingkuh yang diberi nama Risma dengan harga Rp 175 ribu perlembar. “Batik Risma memiliki ciri khas tersendiri yakni terdapat uratan di setiap motif,” tutur Aris.*

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Galeria- media Dekrnasda Jawa Timur, Edisi 14, September –Oktober 2013, hlm.

Batik Jonegoroan, Kabupaten Bojonegoro

Bupati Bojonegoro, H Suyoto, meresmikan Toko Bojonegoro yang menyediakan Batik Jonegoroan dan kaos Jonegoroan (2/8/2013).

BATIK JONEGARAN - Copy (2)TOKO di komplek pertokoan Jl Gajah Mada itu menampung hasil produksi batik masyarakat dari enam desa di tiga kecamatan binaan Lembaga Swadaya Masyarakat Asosiasi untuk Demokrasi dan Kesejahteraan Sosial (Ademos) Mobil Cepu Limited (MCL), operator Migas Blok Cepu. Enam desa yang sebelumnya mendapatkan program industri kreatif batik Jonegoroan dan sablon kaos Jonegoroan itu adalah Desa Ngunut dan Dander, Kec Dander; Desa Sukoharjo dan Leran, Kec Kalitidu, dan Desa Ngasem dan Sendangharjo, Kec Ngasem.

Bupati Bojonegoro, Suyoto, mendukung kreasi anak muda Bojonegoro yang turut memberi identitas bagi Bojonegoro dalam bentuk kreasi dan karya seperti yang dilakukan Ademos. “Apa yang dilakukan ini dapat ikut mempromosikan produk lokal Bojonegoro dan sekaligus membantu masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraannya,” kata Suyoto.

Dia berharap, dengan hadirnyaToko Bojonegoro ini dapat lebih memudahkan masyarakat dari dalam maupun luar Bojonegoro dalam memperoleh produk lokal Bojonegoro, khususnya Batik Jonegoroan dan Kaos Bojonegoro Untuk itu, Kang Yoto berpesan, agar para perajin maupun pengelola Toko Bojonegoro lebih kreatif lagi dalam menyajikan desain produknya.”Sehingga toko ini bisa diminati semua kalangan dan menjadi jujugan,”tutur Suyoto.

BATIK JONEGARAN - CopyKetua Ademos, Aziz Ghosali, menerangkan, selain untuk menampung hasil kerajinan para perajin, Toko Bojonegoro ini merupakan salah satu upaya untuk memudahkan masyarakat dalam memperoleh Batik Jonegoroan dan Kaos Bojonegoro. KarenaToko Bojonegoro ini menyajikan varian produk beragam mulai kalangan tua hingga remaja. “Untuk produknya sengaja didesain berbeda sesuai selera remaja masa kini,”sambung Aziz.

Untuk lebih memperluas pemasaran produk Batik Jonegoroan dan Kaos Bojonegoro ini Ademos juga memasarkannya secara online dengan alamat www. tokobojonegoro.com. Sementara itu Menko Kesra, HR Agung Laksono, usai membuka pasar murah, langsung meninjau stan milik Dekranasda dan tertarik serta membeli batik khas Jone­goroan dengan warna kuning motif daun jati. *

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:Galeria, Edisi 14; September – Oktober 2013

Roekmini Koesoemo Astoeti, Kabupaten Bojonegoro

4 September 1938, Roekmini Koesoemo Astoeti lahir di desa Tobo, Bojonegoro, Jawa Timur, Indonesia, anak keenam dari delapan bersaudara dari pasangan R. Soedarso dan Raden Ayu Soemina. ayahnya, Kepala Kehutanan Saradan, Madiun, meninggal dunia saat Roekmini baru berusia 7 tahun dan masih duduk di Sekolah Dasar. Sepeninggal ayahnya itu, Roekmini bersama kakaknya, Palupi, ikut pamannya. Masa kecilnya dilaluinya dengan berat. Roekmini Koesoemo Astoeti adalah wanita kedua yang mencapai pangkat jenderal polisi di Indonesia.

Tahun 1952,  pada kondisi yang serba sulit,  ia bersama kakaknya menulis surat kepada Presiden Soekarno, meminta agar dikirimi sepeda. Enam bulan kemudian ia bersama kakaknya diminta datang ke Karesidenan Madiun karena Bung Karno akan memberikan mereka uang sebesar Rp.500 untuk membeli sepeda. Pemberian uang itu ditolaknya, karena yang mereka butuhkan bukan uang melainkan sepeda. Akirnya, residen pun membelikan sepeda dari uang tersebut.

Tahun 1964, Roekmini melanjutkan studinya di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Setelah tamat, atas saran sahabat dekatnya, Pater Blood, ia memilih kariernya di kepolisian. Berbagai tugas pernah dilaluinya: menjadi Staf Asisten Intel Khusus di Polwil 096 Yogyakarta.

Tahun 1972, Setelah pangkatnya naik menjadi mayor, ia ditugaskan ke Polda Jawa Tengah, dan berturut-turut menjabat sebagai Kepala Seksi Pengawas Keamanan Negara (PKN), Kepala Seksi Pembinaan Ketertiban Masyarakat, Kepala Seksi Psikologi, Kepala Biro Organisasi Sosial Politik Kowilhan II/Jawa Madura. Namun salah satu tugasnya yang paling berat ialah ketika sebagai Staf Asisten Intel ia harus menangani kasus pemerkosaan Sum Kuning yang melibatkan anak-anak penggede di wilayahnya

Tahun 1978, Roekmini adalah Lulusan terbaik kedua kursus kekaryaan ABRI.

Tahun 1982, Roekmini ditunjuk sebagai anggota DPR untuk mewakili Polri, sebagai satu-satunya perempuan di antara 90 anggota Fraksi ABRI saat itu. Ia sempat ditugasi di Komisi IX dan Komisi IV, dan belakangan di Komisi II yang berhadapan dengan banyak kasus yang menyangkut kehidupan rakyat kecil langsung.

Roekmini adalah tokoh yang unik di Gedung MPR/DPR karena sebagai anggota Fraksi ABRI keberpihakannya kepada rakyat kecil sangat jelas. Tampaknya pengenalannya secara langsung akan kehidupan rakyat kecil menyebabkan Roekmini tampil sebagai anggota DPR yang sangat vokal.

Tahun 1992, Selesai menjalankan tugasnya di DPR, Roekmini dipindahkan ke Markas Besar ABRI sebagai staf yang membantu Kasospol ABRI.

Tahun 1993,  Roekmini kemudian mendapat kepercayaan untuk duduk di Komisi Nasional Hak-hak Asasi Manusia. Tampaknya ini adalah tempat yang sangat tepat baginya karena pada masa-masa terakhir Orde Baru Komnas HAM menjadi tumpuan pencari keadilan.

Tahun 1996, Roekmini Koesoemo Astoeti menghasilkan Karya tulis “Mata Hati Roekmini: Nurani untuk Hak Asasi” penyunting, A.S. Laksana, Agung Bawantara, penerbit Prakarsa: Jakarta, “Buku ini dipersembahkan untuk mengenang alm. Ibunda Roekmini Koesoemo Astoeti Soedjono”

Mata hati Roekmini : nurani untuk hak asasi

Ketika kanker di tenggorokan dan pita suaranya menggerogoti tubuhnya, Roekmini Koesoemo Astoeti harus dirawat intensif di RSPAD Jakarta.

2 September 1996,  pada umur 57 tahun. Roekmini Koesoemo Astoeti berpulang kepada Penciptanya. di Jakarta, Jenazahnya dibawa ke Desa Baerejo, Kebonsari, Madiun, untuk dimakamkan di Mangunarsan, makam keluarganya.

Roekmini Koesoemo Astoeti meninggalkan suami, Ir. Mas Soejono, seorang dosen di Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, dan seorang anak perempuan dan tiga laki-laki. Ke-empat anaknya punya prestasi memuaskan dalam pendidikan. Sih Wening Wijayanti adalah mahasiswi Fakultas Psikologi UGM, Ardi Wijaya kuliah di Fakultas Sastra UGM, Giri Wijaya Sidi belajar di FISIP UGM dan Bagus Aji Mandiri di SMA III Yogyakarta.

Tahun 1999, terbit buku dengan Judul Roekmini -dalam kenangan: untuk memperingati 1000 hari wafatnya Brigjen. Pol. (Purn.) Dra. Roekmini Koesoemo Astoeti Penulis; Roekmini Koesoemo Astoeti Soedjono;

Titie Said, Kabupaten Bojonegoro

Titie Said.211 Juli 1935, Sitti Raya Kusuwardani  lahir di Desa Kauman, Bojonegoro, Jawa Timur, Indonesia, dari pasangan ayah Mohammad Said dan ibu Suwanti Hastuti, namun kuduanya  bercerai semenjak Titie Said masih kecil.

Sejak dibangku sekolah dasar Gemar menulis. dia dijuluki pelamun kecil.

Bakat menulisnya sudah muncul saat duduk di bangku SMP dengan menulis cerpen. Ketika remaja ia telah menulis puisi dengan nama Titie Raya.

Dia menyelesaikan SMA di Malang, Jawa Timur

Tahun 1959,  Titie Lulus sarjana muda Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia

Tahun 1962, Titie menghasilkan karya tulis Perjuangan dan Hati Perempuan kumpulan cerita pendeknya.

Tahun 1965,  Titie setelah menikah dengan H. Sadikun Sugihwaras seorang anggota polisi, sehingga harus  ikut suami pindah ke Bali. Di sana dia aktif di masyarakat dan pernah menjadi anggota DPRD provinsi Bali.

Menikah, dikaruniai dua putri dan tiga putra yang semuanya telah berumah tangga. Dari lima anaknya, masing-masing yang tertua berprofesi sebagai pebisnis (lulusan ITB), kedua lulusan ITB, sekarang di Bappenas, ketiga di perminyakan, sekarang di Kuwait, keempat di Amerika, bekerja di perminyakan, dan anak bungsunya bekerja di Bank Mandiri.dandari anaak-anaknya memberikannya 10 cucu.

Tahun 1973, Titie ke Jakarta dan tinggal bersama lima anaknya, ditahun inilah awal kegiatannya dalam perfilman sejak novel pertamanya difilmkan.

Tahun 1977, Jangan  Ambil Nyawaku. adalah Novelnya  best seller pada zamannya. Novel yang bercerita tentang seorang yang terserang penyakit kanker, Novelnya itu dikerjakannya setelah melakukan wawancara dengan puluhan dokter.

Tahun 1979 dengan Lembah Duka diangkat ke layar lebar. Bersama tiga penulis wanita lainnya, Titie Said menghimpun cerita pendeknya dalam buku Empat Wajah Wanita (1979).

Tahun 1980, Titie sebagai Wartawati/kolumnis dan kritikus film, awalnya Managing Editor pada Majalah Kartini. lalu menjadi Pimpinan Redaksi Majalah Family.

Tahun 1980, Titie menghasilkan karya tulis Bukan Sandiwara. Karya novelnya tersebut diangkat ke layar lebar

Tahun 1981, Titie menghasilkan karya tulis Jangan Ambil Nyawaku, Karya tersebut diangkat ke layar lebar.

Tahun 1983, Titie menghasilkan karya tulis Budak Nafsu/Fatima serta Ke Ujung Dunia. Karya novelnya ini dua-duanya juga diangkat ke layar lebar.

Tahun 1984, menjadi anggota Dewan Juri Kritik Film pada FFI.

Tahun 1987, Titie menghasilkan karya tulis Selamat Tinggal Jeanette. Novel ini juga tersebut diangkat ke layar lebar

Tahun 1990, Titie menghasilkan karya tulis Perasaan Perempuan. Novel ini juga tersebut diangkat ke layar lebar

Tahun 1997, anggota Dewan Juri Sinetron Cerita pada FSI.

Tahun 2003-2006 dan 2006-2009, selama dua periode Titie Said juga menjabat sebagai Ketua Lembaga Sensor Film. Dengan posisi sebagai ketua LSF, sering diundang sebagai pembicara di seminar-seminar dalam dan luar negeri, terakhir di Perth, Australia. Wajahnya senantiasa muncul ketika sebuah film yang telah beredar memicu kontroversi dalam masyarakat.

Tahun 2009  hingga meninggal, Titie masih tercatat sebagai anggota Lembaga Sensor Film.

Tahun 2008, Reinkarnasi; Fatima; Ke Ujung Dunia dan Prahara Cinta.

9 Oktober 2011, dirawat di RS Medistra Jakarta, karena menderita stroke.

Senin, 24 Oktober 2011, pukul 18. 45 wib, pada usia 76 tahun, Titie Said meninggal dunia.

Titie Said adalah penulis senior hingga tahun 2008 telah menulis 25 Novel, Cerpen dan Essei. Karya Tulis-karya Tulis Titie Said yanglain Pengakuan Tengah Malam; Biografi Lenny Marlina; Biografi R. Soeprapto Bag I. Reinkarnasi, Ke Ujung Dunia, Perasaan Perempuan, Tembang Pengantin, Lembah Duka, Selamat Tinggal Jeanette, Dr Dewayani, Putri Bulan, .Bidadari. menulis buku Prahara Cinta. Organisasi-organisasi yang pernah digelutinya antara lain; KOWANI, Kosgoro, Himpunan Pengarang Aksara, Wanita Penulis Indonesia dan PKK pusat.=S1Wh0T0=

Upacara Dhaupan, Kabupaten Bojonegoro

Upacara adat Dhaupan Warga Samin adalah upacara pernikahan berdasarkan tradisi warga Samin yang bermukim di Kabupaten Bojonegoro. Sejak zaman Belanda perkawinan orang Samin dilaksanakan oleh orang tua pengantin dan disaksikan oleh kepala desa dan sesepuh desa.

Mereka tidak bersedia mencatatkan diri kepada pemerintah Belanda. Hingga zaman sekarang, meskipun Indonesia sudah merdeka dan Belanda telah pergi, mereka tetap tidak mau mencatatkan diri kepada pemerintah atau dikaitkan dengan sistem administrasi pemerintahan.

Proses upacara perkawinan amat sederhana. Sebelum pernikahan, pihak pengantin laki-laki menyerahkan ubarampen “segala keperluan perkawinan” yang terdiri atas perlengkapan busana pengantin dan bahan makanan yang akan dihidangkan kepada para tamu.

Pada hari yang telah ditetapkan oleh kedua belah pihak, keluarga pengantin perempuan mempersiapkan kedatangan pengantin laki-laki dan pengiringnya. Secara tradisional, sesampai di depan rumah pengantin perempuan, orang tua pengantin laki-laki mengucapkan kalimat sebagai berikut:

“San, angsal kula ngriki badhe ngujudake turun kula lanang. Dene rembag kala wingenane sampun kula wujudake, suwita tata tatane wong sikep rabi. Ana ala becike kendha tutur”.

Setelah kedua belah pihak setuju, keluarga pengantin perempuan beserta sanak saudaranya mempersiapkan diri untuk melaksanakan upacara menerima rombongan pengantin laki-laki yang datang ke tempat pengantin perempuan. Di depan pintu rumah pengantin perempuan, pihak orang tua pengantin laki-laki mengucapkan kalimat pasrah, selanjutnya diterima pihak orang tua pengantin perempuan.

Rombongan pengantin laki-laki memasuki rumah upacara. Setelah mereka duduk, pembawa acara mengumumkan bahwa para juru lendang menyajikan makanan. Hidangan disajikan dengan cara beranting, dan disebut sodhokan suguhan. Masing-masing tamu menerima satu kreneng berisi makanan dan kue. Kalimat dhaupan diucapkan oleh orang tua pengantin perempuan, diterima pengantin laki-laki dan dilanjutkan dengan “pengucapan janji”.

Sesudah pengucapan janji pengantin, para tamu menikmati makanan di suatu tempat yang telah disiapkan. Ular-ular “nasihat” diberikan oleh sesepuh desa, ditujukan kepada kedua pengantin. Doa untuk pengantin dipimpin oleh sesepuh desa, dan selalu menggunakan bahasa daerah. Acara terakhir adalah memberi ucapan selamat kepada sepasang pengantin dan keluarga pengantin.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Menggelar Mantra, Menolak Bencana, hlm. 38-39

Prof. Mr. A.G. Pringgodigdo, Presiden Universitas (UNAIR: 1954 -1961)

REKTOR UNAIR PERTAMA

24 Agustus 1904. lahir  A.G. Pringgodigdo di Desa Kasiman, Kab. Bojonegoro, Jawa Tumur, Indonesia. Putera Bupati Tuban RMAA Koesoemohadiningrat (alm) dengan Ny. R.A. Windrati Notomidjojo (alm, puteri Patih Rembang) ini. kakak kandung dari duta besar Abdoel Kareem Pringgodigdo.

Tahun 1911-1918,  A.G. Pringgodigdo merajut pendidikannya lulus Europeesche Lagere School di Tuban;

Tahun 1923, A.G. Pringgodigdo lulus Hoogere Burger School (HBS) di Surabaya;

Tahun 1925, A.G. Pringgodigdo lulus Meraih pendidikan tambahan Candidaat Indisch Recht;

Tahun 1926, A.G. Pringgodigdo lulus cumlaude Candidaat Indologie.

Tahun 1927, A.G. Pringgodigdo lulus Sarjana Hukum di Rijks Universiteit di Leiden, Belanda. juga mendapatkan sertifikat cum laude dalam ilmu Indologi.

Prof. Mr. A.G. Pringgodigdo Kemudian, mengawini  Nawang Hindarti Djojo Adhiningrat.

Tahun 1934, A.G. Pringgodigdo sebagai Revrendaris (juru tulis) di Kantor Gubernur Jatim.

1 Oktober 1940 A.G. Pringgodigdo Referendaris t.b. Voorzitter Commissie tot bestudering v.Staatsrechtelijke hervormingen (Commissie visman) di Jakarta.

1 Mei 1942 sampai 28 Februari 1943, A.G. Pringgodigdo menjadi Wedana di Batur (Dataran Tinggi Dieng) -Gunseikan Banjarnegara (SK Bupati Banjarnegara);

1 Maret 1943 sampai 31 Mei 1944,  A.G. Pringgodigdo menjadi Wedana Purworejo-Klampok (Banjarnegara);

1 Juni 1944 sampai Mei 1945,  A.G. Pringgodigdo menjabat Wedana di Purwokerto (SK Gunseikan Banjarnegara);

1 Juni 1945,  A.G. Pringgodigdo menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia sebagai sekretarisnya Radjiman Widyoningrat, pemimpin BPUPKI.

1 Agustus 1945, A.G. Pringgodigdo diangkat menjadi Wakil Kepala Kantor Panitya Persiapan Kemerdekaan Indonesia (Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai Zityoo) di Jakarta (dimana Bung Hatta sebagai Kepala Kantornya). Juga menjadi anggota Panitian Lima, yang bertanggung jawab atas perumusan Pancasila.

17 Agustus 1945 sampai dengan 27 Desember 1949 diangkat menjadi Sekretaris Negara RI yang pertama di Jakarta dan di Jogjakarta, di bawa Presiden Soekarno

1 Juni 1948, A.G. Pringgodigdo diangkat untuk merangkap menjadi Komisaris Negara Urusan Dalam Negeri di Sumatera.

1 Oktober 1948. merangkap anggota Komisaris Pemerintah Pusat di Bukittinggi (Sumatera).

Desember 1948, ketika Agresi Militer Belanda II, Pringgodigdo ditangkap dan diusir ke Bangka dengan pemimpin Indonesia lain; dia juga melaporkan bahwa arsipnya dibakar Belanda.

Tahun1949-1954, A.G. Pringgodigdo diangkat menjadi Guru Besar Ilmu Hukum Administrasi Negara pada Fak. Hukum Universitas Gadjah Mada.

27 Desember 1949 -7 Desember 1950, A.G. Pringgodigdo diangkat oleh Presiden Soekarno menjadi Menkeh RI di Jogya, mewakili Masyumi.

Setelah pensiun dari politik, Prof. Mr. Abdoel Gaffar Pringgodigdo  menjadi pengajar. Dia mulai sebagai dosen besar luar biasa di Universitas Gadjah Mada, mengajar ilmu hukum.

Prof. Mr. A.G. Pringgodigdo,  Presiden Universitas (UNAIR) Masa Bhakti 1954 -1961, dibantu oleh  sekretaris Univiversitas Drs. Soemartono

10 Nopember 1954, Universitas Airlangga resmi berdiri berdasarkan PP No. 5 / 1954 yang diresmikan Presiden Soekarno;

23 Desember 1954, Prof. Mr. Abdul Gafar Pringgodigdo Dilantik oleh Presiden Soekarno, untuk menduduki jabatan sebagai Presiden Universitas Airlangga I di Gubernuran Surabaya, dengan SK Presiden RI-1/11/1954. Masa Jabatan beliau sampai tahun 1961.

Tahun 1954, Prof. Mr. Abdul Gafar Pringgodigdo merangkap Jabatan menjadi Guru Besar dan Ketua Fakultas Hukum Unair;

Tahun 1956-1957, Prof. Mr. Abdul Gafar Pringgodigdo Juga merangkap Jabatan sebagai Acting Presiden.

Tahun1959-1961, merangkap pula sebagai Acting Ketua Fak. Kedokteran Gigi Unair  ikut merintis berdirinya Universitas Hasanuddin Makassar . Selanjutnya bertugas sebagai presiden Universitas Hasanuddin di Ujung Pandang, lalu kembali ke Surabaya dan mengajar di IKIP Surabaya. Di kemudian hari Pringgodigdo mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Hukum bersama Kho Siok Hie dan Oey Pek Hong.

Tahun 1961-196, Prof. Mr. Abdul Gafar Pringgodigdo menjadi pegawai tinggi Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia Jakarta;

Tahun 1967, Prof. Mr. Abdul Gafar Pringgodigdo diangkat menjadi Guru Besar Penelitian Sejarah/Ketatanegaraan RI.

Tahun 1967, Prof. Mr. Abdul Gafar Pringgodigdo menjabat Ketua Balai Penelitian Pendidikan IKIP Negeri Surabaya;

Tahun 1971,  Prof. Mr. Abdul Gafar Pringgodigdo menjadi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat DPR RI. Setelah itu menjadi Guru Besar luar biasa pada beberapa PTS di Surabaya.

Prof. Mr. Abdoel Gaffar Pringgodigdo  menikah dengan Nawang Hindrati Joyo Adiningrat.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Melangkah di Tahun Emas I954—2004; 50 TAHUN UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA: Airlangga University Press Surabaya. Surabaya, 2004, hlm.

Beberapa Jenis Megalitik di Jawa Timur

Peninggalan megalitik di daerah Jawa Timur ditemukan di daerah Bondowoso, Bojonegoro, Tuban dan daerah Magetan. Peninggalan di Bondowoso

(1)          Batu kenong yang ditemukan di dukuh Pudedek, Pakuniran, Maesan, Jawa Timur ini merupakan umpak bangunan megalitik. Batu-batu kenong ini terletak di atas bukit yang disebut Bukit Andung oleh penduduk setempat. Situs ini terletak 6 km di sebelah kanan jalan yang menghubungkan Bondowoso dan lembar (21 km dari Bondowoso). Di situs ini terdapat 15 buah batu kenong yang rata-rata berukuran 85 cm dengan garis tengah antara 50-65 cm. Umpak-umpak ini membentuk lingkaran dengan garis tengah 9 m. Umpak-umpak dalam bentuk melingkar ini menunjukkan bahwa bangunan rumah adat (rumah tinggal) ini juga berpenampang melingkar seperti rumah-rumah adat di pulau Nias.

(2)          Dolmen ini merupakan tempat penguburan dan ditemukan di Pujer. Bondowoso. Dolmen ini berkaki empat. Masing-masing tingginya sekitar 110 cm. Batu bagian atas tidak rata dan berbentuk cembung dengan panjang 130 cm dan lebar 95 cm.

(3)          Dolmep ini dtemukan di Lombok Kulon, Keeamatan Wonosari, Bondowoso. Dolmen ini berfungsi sebagai tempat kubur. Letaknya 8 km di sebelah kanan jalan Bondowoso-Situbondo. Dolmen ini ditemukan bersama dengan 45 buah dolmen lain. Tiang panyangganya tiga buah. Kaki dolmen rata-rata berukuran 75 cm dan lebamya 45 cm. Tinggi batu atasnya 130 cm, lebar 110 cm dan panjangnya 180 cm. Dolmen ini berdiri di sawah sehingga dikhawatirkan akan runtuh dalam waktu dekat. Untung ada akar pohon besar yang menopangnya sehingga tidak runtuh.

(4)          Sarkofagus ini merupakan tempat penguburan dan ditemukan di desa Nangkaan, Keeamatan Bondowoso di suatu gundukan tanah yang sekarang menJadi pemakaman umum. Dolmen sudah mengalami kerusakan yang diperkirakan karena pernah digali dan sarkofagus telah dilubangi. Tutup sarkofagus sekarang tidak lagi di tempatnya. Panjangnya 275 em, tingginya 135 em dan lebarnya 115 cm.

(5)          Sarkofagus di desa Glingseran. Keeamatan Wringin. Bondowoso Sarkofagus ini merupakan tempat penguburan dan terdiri dari wadah dan tutup. Wadah kubur tidak tampak karena sebagian besar tertanam  dalam tanah. Tingginya 150 cm. panjangnya 263 cm dan lebamya 13 cm.

(6)          Sarkofagus dari desa Glingseran, Wringin, Bondowoso ini sudah dalam keadaan terpeeah dua. Wadahnya pun tidak kelihatan lagi. Tingginya 175 cm, panjangnya 294 cm dan lebarnya 174 cm.

 

(7)          Dolmen ini ditemukan di desa Pakauman, Grojogan, Bondowoso. Di sawah penduduk. Beberapa batu kecil menyangga sebagai kaki dolmen. Tingginya 80 cm, lebarnya 150 cm dan panjangnya 270 cm.

(8)          Area menhir ini ditemukan di Pakauman, Grojogan, Bondowoso dan merupakan sarana upaeara at au pemujaan. Tinggi area ini 135 em, lebar bahunya 85 cm, lebar pinggulnya 64 cm. Bagian muka seperti mata, hidung, mulut atau telinga tidak tampak. Lehemya pendek, tangannya lurus ke bawah. Genitalia tidak dipahatkan. Berdasarkan penggambaran pinggulnya yang lebar, van Heerkeren berpendapat bahwa area megalitik ini menggambarkan seorang wanita.

(9)          Batu kenong ini ditemukan di Pakuniran, Maesan, Bondowoso dan diperkirakan merupakan umpak bangunan rumah adat atau rumah tinggal pada masa tradisi megalitik. Tingginya 95 cm, garis tengahnya 65 cm. Di sekitar kelompok batu kenong itu banyak terdapat pecahan gerabah dan sedikit keramik asing yang diperkirakan merupakan sisa-sisa aktifitas pakai-buang.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: ALBUM TRADISI MEGALITIK DI INDONESIA