Asal Usul Nama Bondowoso

Sebuah nama pada hakikatnya terdiri dari dua aspek yaitu bentuk dan isi. Bentuk adalah ungkapan isi yang berupa bahasa lisan maupun tulisan. Sedangkan isi adalah maksud yang hendak dikemukakan. Bentuk dan isi hendaklah ada keserasian. Bagaimana wujudnya, begitulah maknanva. Oleh karena itu membahas sebuah nama tidak dapat dilepaskan dari dnjauan linguistik dan normatif.

Tinjauan secara linguistik membawa kita pada analisis secara etimologis, yaitu mencari makna sebuah kata berdasarkan asalusulnya dari kamus atau dari bahasa asalnya (asing). Di dalam ilmu bahasa, sebuah kata mengalami perkembangan; perubahan bunyi, bahkan perubahan arti, sehingga arti kata lama kadang-kadang jauh berbeda dengan arti yang muncul pada masa kini. Walaupun demikian perubahan bunyi dan arti itu masih dapat dipertanggungjawabkan cara linguistik (ilmu bahasa).

Tinjauan secara normatif adalah tinjauan yang bertitik tolak dari keinginan masyarakat pemakai bahasa yang hendak memberikan pesan-pesan nilai (norma) pada sebuah nama. Tujuannya bersifat edukatif-filosofis.

  1. Tinjauan secara Linguistik

Ada dua hal yang perlu diketahui, pertama, Kabupaten Bondowoso menempati suatu dataran tinggi yang dikelilingi gunung dan bukit, serta ditumbuhi hutan belukar, yang menurut penelitian Dinas Purbakala, menyimpan aset peninggalan zaman megalitikum. Konon daerah itu selama ribuan tahun tidak terjamah oleh sejarah. Kedua, baru pada permulaan abad ke-19 daerah itu dibuka dengan hadirnya seorang pionir, pemuka, serta pembabat hutan yang mengemban misi bupati untuk mengembangkan wilayah Besuki ke selatan. Ia mendapatkan sebuah dataran tinggi yang strategis untuk mendirikan kota guna mengendalikan pemerintahan di kelak kemudian hari. Orangitu adalah Raden Bagus Assrah (Mas Astrotruno), yang kemudian dikenal masyarakat dengan sebutan Kiai Rangga Bondowoso.

Bertolak dari dua kenyataan tersebut, nama Bondowoso tidak dapat dipisahkan dari masalah hutan dan pembabatnya. Nama Bondowoso agaknya erat kaitannya dengan makna kata “Wanawasa” yang berarti “hutan belukar”. Di dalam Babad Bondowoso Pupuh X Pangkur, bait 12, terdapat kata wanawasa, bahkan pada bait 2 Pupuh X dipakai dua perkataan “Bandawasa” dan “wanawasa” secara berdampingan, sebagai berikut:

Bait 12:

“Lajeng marang ibunira/nuwun pamit
matur yen dinuteng aji/ambedhah wana-wasa gung/…”
(La/u (beliau) kepada ibunya, berpamitan
hendak diutus raja membuka hutan besar / …)

Bait 2:

… kuneng ing Bandawasa/ lagya wanawasa …
 (… Adapun di Bondowoso waktu itu masih berupa hutan belukar …)

 a. Analisis Secara Etimologis

 Di dalam kamus Jawa Bausastra Jawa karangan WJS Poerwadarminta, arti kata wanawasa adalah (a) berdiam di dalam hutan, dan (b) hutan besar (belukar). Disebutkan bahwa kata wanawasa itu berasal dari bahasa Sanskerta.

Dalam bahasa Jawa baru perkataan wana adalah bentuk bahasa “krama” dari kata “alas” (hutan). Sedangkan perkataan was atau wis adalah akar kata bahasa Sanskerta, yang berarti “masuk”. Jadi wana wasa berarti “masuk hutan”, bedah hutan, atau berkediaman di dalam hutan. Dalam perkembangan pemakaian selanjutnya, maknanya berubah menjadi objek yang dibabat, yaitu “hutan belukar” (arti kedua).

Pemakaian akar kata was atau wis yang berarti “masuk” itu, masih dapat kita temukan dengan bentuk akhiran -ma yang berarti “yang di” dalam bahasa kita. Misalnya:

Akar kata “wis” (masuk) + -ma berarti wisma (yang dimasuki, atau rumah).
Akar kata “kr” (kerja) + – ma berarti karma (yang dihasilkan, atau buah pekerjaan, wohe panggawe).
Akar kata “jan” (lahir) + – ma berarti janma (diucapkan jalma, berarti manusia, yaitu yang dilahirkan).

Perubahan dari perbuatan menjadi tujuan itu terdapat pula pada kata “korban” (Arab). Semula qaraba berarti “mendekat” atau “mendekatkan diri kepada Tuhan secara ikhlas”. Kemudian berubah makna menjadi “sapi atau kambing yang dikorbankan”. Perkataan “menyembelih korban” berarti “menyembelih sapi atau kambing untuk berkorban.”

b. Gejala Perubahan Bunyi

 Gejala perubahan bunyi adalah perubahan atau penambahan bunyi pada awal, tengah, atau pada akhir kata.

1) Perubahan bunyi pada awal kata:

Contoh perubahan bunyi w menjadi b pada awal kata. Dalam ilmu perbandingan bahasa banyak kita jumpai kata-kata bahasa daerah yang diawali bunyi b dan sedikit yang berawal bunyi w, bahkan bahasa Madura tidak memiliki kata yang diawali bunyi w. Otto Dempwelff menetapkan bahwa kata-kata yang diawali bunyi w adalah kata-kata purba. Kata-kata bahasa Jawa atau asing yang diawali bunyi w berubah menjadi b dalam bahasa Madura dan Indonesia (Melayu). Contoh:

Wulan (Jawa) menjadi bulan (Madura, Indonesia)
Woh (Jawa) menjadi bua (Madura), serta menjadi buah (Indonesia)
Watu (jawa) menjadi bato (Madura), serta menjadi batu (Indonesia)
Wulu (Jawa) menjadi bulu (Madura, Indonesia)

Atas dasar itulah maka nama-nama daerah di Bondowoso di-Madura-kan, misalnya:

Waringin menjadi Baringen
Wanasari menjadi Banasare
Wanasuka menjadi Banasoka

Demikianlah perkataan ivana ivasa itu berubah menjadi ivana basa.

2)  Penambahan bunyi di tengah

Untuk melancarkan pengucapan, acapkali terjadi tambahan bunyi sengau atau bunyi lain yang sedaerah artikulasi (dasar ucapan dalam rongga mulut sama). Contoh:

Makin menjadi mangkin
Masa (Indonesia) menjadi mangsa (Jawa)

Dalam ilmu bahasa gejala ini disebut epentesis. Contoh lain dengan bunyi d, sebagai berikut:

Akan aku menjadi akandaku
Akan ia menjadi akandia
Dengan aku menjadi dengandaku

Pada zaman Majapahit ada empu bernama Canakya. Akhirnya setiap orang terpelajar diberi gelar nama itu. Dari Canakya berubah menjadi cendekia. Di sebelah selatan Pal Sanga’ ada daerah pertanian yang pada zaman Belanda dinamai Binnen land (tanah pedalaman). Sekarang dikenal dengan nama Bendhellan.

Demikianlah dalam perkembangan kemudian, perkataan wana wasa berubah menjadi bana basa dan akhirnya diucapkan banda basa. Tetapi karena pengaruh tekanan kata, maka pengucapan empat suku itu tidak diucapkan lengkap, melainkan terdengar hanya tiga suku. Suku kata awal tak terucapkan. Tekanan jatuh pada suku ketiga dari akhir. Contoh:

Tegal batu diucapkan Galbato
Sumber suka diucapkan Bersoka
Empa’polo (40) diucapkan pa’polo
Pettong atos (700) diucapkan tong atos

Kata Bandabasa kemudian diucapkan Dabasa. Kata ini kemudian menjadi nama sebuah desa di selatan alun-alun Bandawasa. Atas dasar perubahan tekanan itulah, maka kata ulang dalam bahasa Madura tak diucapkan penuh, misalnya:

jalan-jalan menjadi lan-jalan
orang-orang menjadi reng-oreng
kanak-kanak menjadi na- kana’

 

  1. Ejaan Menuliskan Kata dengan Huruf Latin dan Caraka

Kata-kata semacam tangga, nangka, bandha jika dituliskan dengan huruf caraka menggunakan taling-tarung. Tetapi jika kata itu dibubuhi e atau ne, maka bunyi o taling-tarung itu berubah menjadi a. Karena itu penulisannya dengan huruf Latin tetap menggunakan huruf a. Contoh:

nangka menjadi nangkane
bangsa menjadi bangsane
kanca menjadi kancane
tangga menjadi tanggane

Agaknya ejaan tersebut tidak berlaku lagi bagi penulisan nama-nama kota, seperti Bondowoso, Purwokerto, Bojonegoro, Mojokerto, dan sebagainya, karena nama-nama kota, lembaga, orang, terikat oleh hukum. #wdp

——————————————————————————————-
Sumber:
Mashoed. H., 2004. Sejarah dan budaya Bondowoso. Surabaya : Papyrus

 

Motif Batik Daun Singkong, Batik Kabupaten Bondowoso

motif-daun-singkong-batik-bondowoso-2Batik ditetapkan oleh UNESCO menjadi warisan budaya dunia pada tanggal 2 Oktober tahun 2009, sejak itulah masyarakat mulai bersemangat mengembangkan usaha pembatikan. Daerah yang dulunya tidak memiliki sejarah batik kini mulai mengembangkan batik khas daerahnya dengan menuangkan potensi alam maupun icon daerahnya sebagai motif batiknya. Motif yang tercipta berupa motif yang mengacu pada beberapa jenis batik modern.

Kabupaten Bondowoso adalah salah satu kabupaten yang berada di wilayah Provinsi Jawa Timur, Kabupaten Bondowoso sudah lama memiliki batik khas sendiri sejak tahun 1984. Moif batik khas Kabupaten Bondowoso ini mengangkat tema tumbuhan singkong. Singkong merupakan komoditi unggulan di Kabupaten Bondowoso, oleh karenanya dengan mengangkat tema tanaman singkong pada motif batiknya diharapkan lebih mengenalkan Kabupaten Bondowoso, khususnya pada hasil kerajinannya berupa batik khas Kabupaten Bondowoso. Seiring dengan perkembangan zaman batik khas Kabupaten Bondowoso tersebut dikenal masyarakat dengan motif batik daun singkongnya, melihat hal tersebut Pemerintah Kabupaten Bondowoso pada tahun 2009 mengukukuhkan motif batik daun singkong sebagai motif batik khas kabupaten Bondowoso, sampai sekarang.

Pengukuhan motif batik daun singkong sebagai motif batik khas kabupaten Bondowoso membuat potensi batik khas Bondowoso semakin meningkat. Hal ini lebih memacu para pengrajin batik yang ada di Kabupaten Bondowoso untuk mengembangkan motif batiknya, sehingga motif batik yang dihasilkan oleh pengrajin batik di Kabupaten Bondowoso, tidak terbatas pada motif batik daun singkong saja. Semua ini dibuktikan dengan munculnya beberapa motif batik hasil perkembangan para pengrajin Kabupaten Bondowoso antara lain motif batik kupu-kupu, capung, ilalang, cabe, stroberi, kacang makadamia, singo ulung, tembakau dan kopi. Minat masyarakat akan batik juga makin bertambah.

Beberapa pengrajin mulai mendirikan usaha pembatikan, hal tersebut terbukti dengan bertambahnya jumlah industri batik di Kabupaten Bondowoso, yang awalnya hanya terdapat sbatik-bondowoso-7atu pengrajin saja, namun kini telah bertambah menjadi lima pengrajin batik. Namun tidak semua pengrajin tersebut terdaftar sebagai mitra UMKM, menurut data yang ada di DISKOPERINDAG kabupaten Bondowoso dari lima hanya tiga pengrajin yang baru terdaftar dalam UMKM DISKOPERINDAG sampai pada tahun 2014. Para pengrajin yang tercatat sebagai mitra tersebut adalah sanggar Batik Tulis Sumbersari, Batik Lumbung, dan sanggar batik tulis Kembatik-bondowoso-8bang Kusuma.

 Batik Lumbung berdiri sejak tahun 2012, merupakan salah satu pengrajin batik yang memproduksi motif batik khas Kabupaten Bondowoso. Banyaknya peminat batik tulis produksi oleh para pengrajin ini berawal dari keikutsertaan mereka dalam UMKM Kabupaten Bondowoso. Sehinggga pemasaran dibantu oleh DISKOPERINDAG. Juga dikarekan harga yang ditawarkan kepada konsumen bervariasi, sehingga konsumen dari semua kalangan bisa menikmati batik khas Kabupaten Bondowoso ini. Minat yang semakin meningkat dari konsumen juga harus diimbangi dengan kegiatan pengrajin yang harus berusaha untuk meningkatkan mutu dan keragaman motif batik dalam memproduksi batik-bondowoso-9batiknya.

Motif khas Kabupaten Bondowoso produksi “Batik Lumbung”, tergolong sederhana dan kurang bervariasi atau monoton. Hal ini dikarenakan khususnya motif batik daun singkong agak sulit untuk dilakukan penggubahan, jika dilakukan penggubahan maka akan merubah bentuk dasar ditakutkan tidak 05btergambar seperti daun singkong. Menurut penuturan ibu Sofiah selaku pengerajin Batik Lumbung, bahwa motif batik daun singkong agak sulit untuk dilakukan penggubahan, jika terlalu digayakan maka tidak tergambar seperti daun singkong yang sesungguhnya. Sehingga dalam pengembangan motif batik daun singkong yang merupakan motif batik khas bondowoso ini, para pengrajin di batik-bondowoso-10“batik lumbung” berupaya mengupayakan pengembangan motif batik daun singkong, agar  gambaran motif batik daun singkong tidak terkesan monoton.

Observasi terhadap hasil pengembangan tiga motif batik khas Bondowoso yang bertujuan untuk mengetahui hasil pengembangan motif batik yang terbaik diperoleh dari penelitian hasil motif-daun-tembakaujadi pengembangan motif batik Bondowoso ditinjau dari unsur dan prinsip desain serta pengembangan motifnya.

  1. Pengembangan Motif Bondowoso di Pengrajin “Batik Lumbung”.
  2. Batik Daun Singkong

Pengembangan pertama yaitu batik daun singkong mengalami perubahan desain namun masih jelas terlihat secara keseluruhan mengarah keatas dari bagian pinggiran motif batik. Susunan ornamen daun singkong setelah dikembangkan dibuat lebih renggang dan sedikit berjauhan. Dalam pengembangannya bentuk ujung setiap helaian pada ornamen daun singkong menjadi lebih runcing dan sedikit meliuk. Penambahan batang pada bagian pangkal daun berupa ornamen ukel juga menambah variasi pada motif daun singkong. Bentuk ilalang setelah dikembangkan menjadi ornamen ilalang dengan bentuk yang yang lebih besar dan lebih meliuk-liuk. Terdapat pula ornamen ilalang yang menyerupai ornamen ukel pada bagian ujung daunnya. Ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan ornamen ilalang sebelumnya memungkinkan motif batik secara keseluruhan memiliki pusat perhatian atau center of interest. Ornamen tambahan atau disebut juga ornamen pengisi bidang pada motif  batik sesudah mengalami pengembangan berupa daun dengan stilasi membentuk ornamen ukel dan motif daun dengan bentuk yang lebih sederhana dan dibuat meliuk.

Ornamen tambahan setelah dikembangkan dibuat lebih sederhana dan penempatan ornamen tampak menyatu dengan ornamen utama yaitu daun singkong. Isen-isen pada motif ornamen daun singkong setelah dikembangkan dibuat dengan mengkombinasi tiga jenis isen-isen dalam satu ornamen daun singkong diantaranyasawut, ceceg danceceg pitu.

Ornamen daun singkong setelah dikembangkan dibuat tiga warna sehingga memberi kesan adanya center of interest dalam setiap ornamen daun singkong. Dan pada ornamen ilalang, walaupun hanya diterapkan satu warna dalam satu ornamen, namun jika dilihat secara menyeluruh pada rumpunan ornamen ilalang terdapat perbedaan warna antara ornamen ilalang satu dengan yang lain. Jika dilihat warna ornamen ilalang setelah dikembangkan terdapat ketidakseimbangan penempatan warna, sehingga rumpun ilalang terlihat kurang harmonis.

Hasil penilaian observer mengenai hasil jadi pengembangan batik daun singkong memperoleh nilai rata-rata 2,89 dengan kategori penilaian cukup baik. hal ini dikarenakan terdapat tiga  aspek unsur dan prinsip desain yang dinilai cukup baik. 1) batik daun singkong dianggap belum memiliki ukuran dan bentuk yang seimbang sehingga dinilai cukup harmonis dan proporsional, 2) batik daun singkong dianggap belum menimbulkan irama atau kesan gerak dalam desainnya, dan 3) dianggap sudah memiliki perpaduan warna yang kontras namun belum dilakukan penempatan warna yang baik sebagai suatu penekanan. Sedangkan jika ditinjau dalam keseluruhan aspek unsur dan prinsip desain hal diatas belum sesuai dengan teori dari Suhersono (2004: 107), untuk membuat desain-desain yang lebih baik maka harus memperhatikan prinsip-prinsip desain dalam menggabungkan unsur-unsur desain.

 Batik Kupu-Kupu

Pengembangan motif batik yang kedua adalah batik kupu-kupu. Pada batik ini susunan antar ornamen masih terlihat sama antara batik sebelum dikembangkan dan sesudah dikembangkan. Terlihat pada bagian penyusunan ornamen daun singkong dan kupu-kupu berjajar keatas dalam setiap jenisnya. Namun terdapat sedikit perbedaan pada gambaran garis yang membatasi tempat ornamen daun singkong dan kupu, garis yang sebelumnya lurus dibuat meliuk-liuk dan semakin keatas semakin mengerucut atau mengecil.

Daun singkong sebagai ornamen utama 1 digambarkan daun singkong yang berbentuk meruncing pada setiap ujung helaiannya, lebih panjang dan terpisah disetiap helainya. Tambahan batang dibuat di pangkal daun sehingga membuat ornamen daun singkong semakin berbeda dengan motif daun singkong sebelum dikembangkan. Penyusunan daun singkong yang di buat seakan berjatuhan membuat motif memiliki irama dalam penglihatan siapapun yang melihatnya. Ornamen kupu-kupu sebagai ornamen utama kedua dalam pengembangannya terlihat pada bentuk sayap kupu-kupu yang beragam antara kupukupu satu dengan yang lain. ornamen kupukupu setelah dikembangkan dibuat lebih beragam bentuk. Ornamen kupu-kupu setelah dikembangkan membentuk kupukupu yang sedang beterbangan kesegala arah dengan sayap yang terlihat penuh ataupun yang terlihat dari samping seekor kupu-kupu.

Ornamen pecah batu merupakan ornamen tambahan, setelah dikembangankan ornamen  pecah batu tidak berbeda jauh dengan ornamen pecah batu sebelum dikembangkan dari segi bentuknya. Perbedaan yang terlihat pada ukuran dan penyusunan dari ornamen itu sendiri. Ukuran motif dibuat bervariasi,  dari batubatu yang besar hingga batu yang kecil dan dari penyusunan terlihat ornamen ini disusun didalam bidang garis lengkung tersendiri Penyusunan juga terlihat dari ukuran yang terbesar hingga yang terkecil menjulang kebagian atas kain, sehingga kesan mata bergerak mengikuti arah motif pecah batu lebih kuat. Isen-isen pada ornamen daun singkong setelah dikembangkan dibuat dengan mengkombinasi tiga jenis isen-isen dalam satu ornamen daun singkong diantaranya ron pakis, ceceg dan uceng. Susunan isen-isen pada ornamen ini dibuat agar dapat menunjukkan sebuat pusat perhatian dalam satu ornamen. Isen-isen pada ornamen kupu-kupu dibuat dengan kombinasi dua jenis isen-isen yaitu sawut dan ceceg. Penyusunan isen juga dilakukan sedemikian rupa sehingga ornamen ini terlihat beragam antara ornamen kupu-kupu satu dengan yang lainnya.

Perbandingan luas warna tosca terlihat sama dengan warna krem tua, hal ini dikarenakan warna tersebut diletakkan pada bidang yang berbentuk sama yaitu bidang yang terbagi-bagi oleh garis yang meliukliuk, sehingga batik kupu-kupu kurang menunjukkan pusat perhatiannya. Pada setiap motif, baik daun singkong dan kupukupu diberikan warna satu jenis saja, hal ini dikarenakan warna dasar kain yang sudah dibuat lebih dari dua warna. Walaupun penerapan warna pada daun singkong dan kupu diberikan satu warna dalam satu ornamen, namun dalam penyusunannya dibuat selang-seling antara motif satu dengan yang lain, sehingga jika dilihat dalam keseluruhan motif maka memberikan kesan kurangnya prinsip kesatuan pada batik ini.

Hasil penilaian observer mengenai hasil jadi pengembangan motif batik kupukupu memperoleh nilai rata-rata 2,81 dengan kategori penilaian cukup baik, hal ini dikarenakan terdapat empat aspek unsur dan prinsip desain yang dinilai cukup baik. 1) batik kupu-kupu  dianggap belum memiliki ukuran dan bentuk yang seimbang sehingga dinilai cukup harmonis dan proporsional, 2) batik kupu-kupu dianggap belum menimbulkan irama atau kesan gerak dalam desainnya, 3) batik kupu-kupu dianggap memiliki gabungan motif dan warna yang belum membentuk suatu kesatuan atau unity , dan 4) batik kupu-kupu dianggap sudah memiliki perpaduan warna yang kontras namun belum dilakukan penempatan warna yang baik sebagai suatu penekanan agar timbul sebuah pusat perhatian. Sedangkan jika ditinjau dalam keseluruhan aspek unsur dan prinsip desain hal diatas belum sesuai dengan teori dari Suhersono (2004:107), untuk membuat desain-desain yang lebih baik maka harus memperhatikan prinsipprinsip desain dalam menggabungkan unsurunsur desain.

 Batik Cabe

Pada pengembangan batik yang terakhir yaitu batik cabe mengalami perubahan desain namun masih jelas terlihat secara keseluruhan memiliki susunan motif yang searah. Susunan ornamen daun singkong, cabe dan sulur dibuat lebih rapat, sehingga batik terlihat lebih penuh dengan ornamen.

Ornamen utama 1 berupa daun singkong dalam pengembangannya terlihat pada bentuk yang dibuat memiliki jarak antara ruas satu dengan yang lainnya sehingga pada pangkal ruas jari daun membentuk lengkungan. Ornamen sulur merupakan ornamen utama 2, pada hasil pengembangan ornamen sulur mengalami stilasi bentuk. Bentuk ornamen ini setelah dikembangkan menjadi ornamen sulur dengan bentuk yang bercabang dan bergelombang.

Ornamen cabe dan ornamen daun merupakan ornamen tambahan pada batik cabe. Ornamen cabe dibuat sangat berbeda dengan sebelumnya, berbentuk cabai dengan bentuk yang sebenarnya dan disusun berbentuk lingkaran sehingga nampak seperti baling-baling. Isen-isen pada batik cabe secara keseluruhan memiliki enam jenis isen-isen, yakni: krakalan, ceceg telu, kembang suruh, ceceg pitu, ron pakis dan sawut. Isen pada ornamen utama berupa daun singkong dibuat dua jenis isen-isen dalam satu ornamen berupa ron pakis dan ceceg pitu. Isen ornamen utama yang kedua tidak terdapat pengembangan, hanya dilakukan penggantian jenis isennya saja berupa ceceg telu. Isen pada ornamen tambahan yaitu cabe dan daun di beri isen hanya satu jenis saja pada masing-masing ornamen, hal ini dikarenakan ukuran yang kecil pada masing-masing ornamen.

Penerapan warna yang tepat akan membuat semakin indah sebuah desain. Penerapan warna pada batik cabe terlihat kurang harmonis, hal ini dikarenakan penerapan warna pada ornamen sulur dirasa kurang tepat. Peletakan warna pada ornamen daun singkong, ornamen cabe dan ornamen daun kurang memiliki prinsip kesatuan.

Hasil penilaian observer mengenai hasil jadi pengembangan motif batik cabe ditinjau dari unsur dan prinsip desain, batik cabe memperoleh mean sebesar 3,2  dengan kategori penilaian baik dan merupakan nilai tertinggi dibandingkan dengan batik daun singkong dan batik kupu-kupu, hal ini dikarenakan terdapat empat aspek unsur dan prinsip desain yang dinilai baik. 1) batik kupu-kupu dianggap telah memiliki ukuran dan bentuk yang seimbang sehingga dinilai nampak harmonis dan proporsional,  hal ini sesuai dengan teori Kamil (1986:62) bahwa ukuran erat hubungannya dengan bentuk sehingga dalam pembuatan sebuah desain yang baik harus memperhatikan keseimbangan ukuran dan bentuk yang baik agar desain yang tercipta dapat harmonis dan proporsional. 2) batik cabe dianggap sudah memiliki perpaduan garis yang bergerak dengan teratur. 3) batik cabe memiliki perpaduan warna yang seimbang penempatannya, dan 4) batik cabe dianggap memiliki gabungan ornamen dan warna yang sudah membentuk suatu kesatuan atau unity Jika ditinjau dalam keseluruhan aspek unsur dan prinsip desain hal diatas belum sesuai dengan teori dari Suhersono (2004:107), yaitu untuk membuat desaindesain yang lebih baik maka harus memperhatikan prinsip-prinsip desain dalam menggabungkan unsur-unsur desain.

  1. Pengembangan Motif Bondowoso di Pengrajin “Batik Lumbung” yang Terbaik.

Pada aspek pusat perhatian ketiga batik dinilai cukup baik, dan skor tertinggi pada batik kupu-kupu dengan skor 2,8, hal ini dikarenakan motif  kupu-kupu dianggap memiliki warna yang kontras dan penempatan warna yang lebih banyak pada krem tua, sehingga memiliki penekanan pada penempatan warnanya hal ini didukung oleh teori dari Kamil, (1986:60), untuk menarik perhatian satu bagian diantaranya harus diberi tekanan untuk membentuk sebuah pusat perhatian atau klimaks dari desain tersebut, dan Soekarno dan Lanawati Basuki (2004:31) menambahkan bahwa sebuah pusat perhatian dapat terbentuk dengan cara pemilihan warna yang kontras.

Jika ditinjau dari unsur dan prinsip desain ketiga batik masih belum dianggap memiliki kriteria desain yang baik karena belum mendapat penilaian yang baik dalam keseluruhan aspek. Hal tersebut didukung oleh pernyataan dari bapak Dody Doerjanto (Dosen Seni Rupa Unesa) mengemukakan bahwa hasil jadi yang baik dapat secara maksimal menerapkan unsur dan prinsip desain, karena unsur dan prinsip desain merupakan teori dasar dalam membuat sebuah seni rupa. Namun motif cabe dapat dikatakan hasil pengembangan motif batik yang terbaik dibandingkan motif batif singkong dan kupu-kupu.

——————————————————————————————-e-Journal. Volume 05 Nomor 01 Tahun 2016, Edisi Yudisium Periode Pebruari 2016, Hal 10-18
Gian Bifadlika, Irma Russanti
Pengembangan Motif Batik Bondowoso Di Pengrajin “Batik Lumbung”
Fakultas Teknik, (UNESA) Universitas Negeri Surabaya

MASJID AGUNG AT TAQWA BONDOWOSO

Masa pemerintahan Kiai Suroadikusumo Besuki mengalami banyak kemajuan, Besuki menjadi ramai dan padat penduduknya, sehingga perlu dilakukan pengembangan wilayah baru ke arah tenggara. dengan membuka hutan dijadikan daerah hunian.  Daerah baru dibuka tersebut berupa hutan belukar yang masyarakat menyebutnya Wana – Sawa, kemudian berkembang menjadi Bondowoso.

Mas Astrotuno putra angkat Kiai Suroadikusumo, dianggap sebagai orang yang sanggup memikul tugas tersebut yang sebelumnya dinikahkan dengan putri dari Bupati Probolinggo yaitu Roro Sadiyah. Pengembangan wilayah tersebut selain bertujuan politis, juga sebagaiupaya menyebarkan agama Islam mengingat di sekitar wilayah yang dituju kehidupan penduduknya masih menganut ajaran animisme. Tugas tersebut dilaksanakan pada tahun 1789.

Dalam melaksanakan tugasnya, Mas Astrotuno dibantu oleh empat orang asistennya yaitu Puspo Driyo, Jotirto, Wirotruno, dan Jiwo Truno.  Dalam perluasan wilayahnya, dibangunlah kediaman penguasa di sebelah selatan sungai Blindungan, sebelah barat sungai Kijing, dan di sebelah utara Sungai Growongan (Nangkaan). Tempat ini kemudian dikenal sebagai “kabupaten lama” Blindungan yang terletak kurang lebih 400 meter di sebelah utara alun-alun.

 

Selanjutnya merancang pembangunan kota, alun-alunnya seluas empat bahu. Rumah kediaman penguasa menghadap selatan yang terletak di utara alun-alun. Sedangkan di sebelah barat dibangun masjid yang menghadap ke timur.  Masjid inilah yang menjadi cikal bakal Masjid Agung At Taqwa Bondowoso awalnya dikenal dengan Masjid Jami’ Bondowoso.

Sejarah Masjid Agung At-Taqwa Bondowoso berawal pada tahun 1809 ketika Raden Bagus Assra diangkat sebagai patih berdiri sendiri (zelfstanding) dengan nama Abhiseka Mas Ngabehi Kertonegoro. Beliau dipandang sebagai penemu (founder) sekaligus penguasa pemerintahan pertama (first ruler) di Bondowoso yang membangun sebuah missigit (masjid).  Masjid Agung At Taqwa adalah masjid yang pertama ada di Bondowoso.

Masjid Agung At Taqwa dibangun dengan gaya arsitektur Hindu – Jawa. Pada awal pembangunan, masjid ini hanya sebuah surau dengan bangunan yang sederhana (non permanen). Dinding bangunan masjid masa itu terbuat dari bambu dan atap dari bahan rumbia. Pada tahun  1819, saat  Raden Bagus Assra  diangkat menjadi Ronggo Bondowoso dengan julukan Kyai Ronggo Bondowoso masjid tersebut di sempurnakan dengan menambah pagar bagian depan dan pintu masuk yang di atasnya dilengkapi dengan sebuah beduk besar yang ditabuh setiap menjelang sholat lima waktu. Untuk menuju ke tempat beduk tersebut harus melewati beberapa anak tangga yang terbuat dari batubata. Tangga inilah yang membuat pintu pagar masjid nampak indah dan kokoh.

Dalam perkembangannya  masjid  ini bernama masjid Jami’ At Taqwa Bondowoso. Pada tahun 1967 Masjid Jami’ At Taqwa mulai direnovasi, pintu pagar yang menjadi ciri khas masjid ini dibongkar dan diganti dengan pagar besi. Proses renovasi saat itu sangat mengagumkan utamanya keterlibatan seluruh masyarakat Bondowoso. Setiap hari dari berbagai penjuru kota dan desa, warga berduyun-duyun menuju Masjid Jami’ At Taqwa untuk mengirim sumbangan secara sukarela berupa bahan-bahan material seperti batu, pasir dan batu bata.  Pada saat itu masyarakat Bondowoso tergerak untuk memiliki sebuah masjid kebanggaan  yang megah dengan arsitektur yang lebih modern. Pada saat renovasi inilah untuk pertama kalinya Masjid Jami’ At Taqwa membangun sebuah menara di sebelah selatan bangunan utama yang digunakan untuk tempat loudspeaker (pengeras suara) sebagai sarana berkumandangnya adzan sholat lima waktu.

Tanggal 12 April 1971, Masjid Agung At Taqwa  dipugar dan diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri Amir Machmud Saat Bupati Bondowoso dijabat oleh R. Arifin Djauharman (1965-1973).

Tahun 1995,  Masjid Jami’ At-Taqwa kembali direnovasi. Saat Bupati Bondowoso dijabat oleh Haji Agus Sarosa,  menjabat tahun 1988 – 1998. Dalam renovasi ini menara masjid semula berada di sisi kanan bangunan utama dipindah ke utara. Dan dalam perkembangannya masjid jami’ berubah nama menjadi Masjid Agung At Taqwa Bondowoso sebagai masjid kebanggaan warga Bondowoso.

Tanggal 24 Januari 2007 masjid direnovasi kembali, yang biaya renovasinya berasal dari APBD dan sumbangan masyarakat dan diresmikan oleh bupati Bondowoso Dr. H. Mashoed Msi.

Lokasi Masjid Agung At Taqwa Bondowoso Jawa Timur di wilayah kecamatan kota Bondowoso tepatnya di jalan Letnan Sutarman No. 08 Bondowoso, Jawa Timur. Batas-batas masjid tersebut adalah sebagai berikut, pada sebelah utara berbatasan dengan kantor Koramil, sebelah selatan SDN Kotakulon I, sebelah barat berbatasan dengan kompleks pemakaman umum dan pemukiman penduduk (Kauman). Sedangkan sebelah timur masjid, yang merupakan bagian depan berbatasan dengan alun-alun kota Bondowoso.

Masjid Agung At Taqwa Bondowoso berdiri di atas tanah seluas kurang lebih 20000 m2. Meskipun katagori tua, Tahapan-tahapan renovasi masjid akhirnya telah menyulap masjid ini menjadi bangunan yang tergolong modern. Ornament ketuannya telah terganti dengan fisik yang dimodel dengan variasi yang lebih apik. Namun hal tersebut tidak menghapuskan kesan keagungan dari masjid ini.

Bentuk Arsitektur Masjid Agung At Taqwa Bondowoso, pada ruang utama Masjid mempunyai fungsi ganda yaitu antara lain:

Ruang utama Masjid Agung At Taqwa terdiri atas dua lantai. Bangunan pada lantai pertama berupa ruang tertutup yang memiliki 6 saka guru dan 12 saka rawa. Ruang ini merupakan pusat kegiatan jamaah di Masjid Agung At Taqwa. Ruang utama yang cukup luas tersebut digunakan sebagai tempat melaksanakan salat berjamaah lima waktu. Selain sebagai ruang untuk melaksanakan ibadah, ruang utama masjid juga digunakan sebagai sarana pendidikan bagi anak didik dalam praktek salat juga ibadah lainnya. Bangunan ini juga digunakan sebagai ruang untuk melaksanakan kegiatan pengajian, kuliah subuh, serta kegiatan lain yang mendukung kemakmuran masjid.

Lantai pada ruang tersebut terbuat dari keramik yang divariasikan dengan pembatas shaf salat. Atap masjid dibuat berupa kubah dengan bentuk limas segi empat yang di atasnya terdapat ukiran kaligrafi guna menampakkan keagungannya. Dengan arsitektur demikian, maka Masjid Agung At Taqwa seakan-akan memiliki gaya abadi, penuh kemegahan dan kebesaran, serta memancarkan cahaya kebesaran Tuhan.

Di dalam ruang utama ini terdapat kelengkapan yang secara lazim terdapat pula di masjid-masjid agung yaitu mihrab sebagai tempat untuk imam dan mimbar sebagai tempat khatib berkhotbah pada salat Jum’at. Dari berita sejarah yang penulis dapat, mihrab tersebut tidak mengalami perubahan letak dalam setiap renovasi.

Sedangkan ruang utama di lantai kedua digunakan apabila ruang utama di lantai pertama tidak mencukupi untuk menampung jamaah, seperti pelaksanaan salat Idul Fitri dan Idul Adha serta kegiatan-kegiatan lain yang mendatangkan ribuan jamaah. Seperti halnya ruang utama di lantai bawah, ruang utama di lantai dua juga bersebelahan dengan kelas MTs (Madrasah Tsanawiyah).

Serambi masjid ini berada di depan ruangan utama yang dibuat dengan konsep bangunan yang modern. Ruangan ini berbentuk emperan yang pada kedua sisinya terdapat dua ruangan yang juga mendukung kegiatan masjid. Diantaranya ruang kontrol atau ruang operator dan ruang bawah tanah (RBT), ruang kontrol digunakan untuk mengontrol kegiatan yang ada juga sebagai ruang untuk beristirahat petugas keamanan dan kebersihan. Sedangkan ruang bawah tanah digunakan sebagai tempat penyimpanan alat-alat kebersihan, barang-barang tidak terpakai, dan lainnya, sehingga pemanfaatan ruang ini seperti gudang.

Kantor Takmir terletak di sebelah kiri ruang utama. Ruangan ini juga sebagai berkumpulnya atau beristirahatnya imam masjid atau para kiai yang akan mengisi pengajian.

Tempat wudhu bagi wanita berupa ruang tertutup yang berada di sebelah kanan masjid. Ruang ini berdampingan dengan ruang kelas MTs. Sedangkan tempat wudhu bagi pria terletak di sebelah kiri bangunan utama agak ke utara. Ruang ini berdampingan dengan kelas TK.

Menara adzan didirikan di halaman masjid di sebelah kiri. Di atasnya diletakkan loudspeaker sebagai pengeras suara untuk mengumandangkan adzan salat lima waktu.

Taman masjid berada di sebelah utara ruang utama. Taman ini dibangun untuk memperindah masjid.

Fungsi Masjid Agung At Taqwa bagi Masyarakat merupakan tempat ibadah umat Islam, terutama digunakan sebagai tempat salat berjamaah, selain itu masjid merupakan tempat untuk melakukan segala aktifitas yang mengandung kepatuhan kepada Allah SWT semata. Di tempat suci inilah umat Islam menemukan ketenangan hidup dan kesucian jiwa, karena disana terdapat majelis-majelis dan forum-forum terhormat. Masjid bagi umat Islam adalah institusi yang paling penting untuk membina masyarakat. Di masjidlah rasa kesatuan dan persatuan ditumbuh-suburkan. Demikianlah peran Masjid Agung At Taqwa dalam bidang keagaman dan sosial masyarakat Bondowoso. Sehingga selain sebagai pusat kegiatan keagamaan, masjid ini juga merupakan pusat pendidikan bagi masyarakat. Kegiatan belajar mengajar yang ada khususnya dalam ilmu agama yang merupakan fardlu ‘ain bagi umat Islam.

Sejak tahun 70-an,  kegiatan pendidikan telah banyak terlaksana heskipun bersifat nonformal seperti pengajian kitab oleh para kiai, takmir, dan lainnya. Pengajian tersebut untuk berbagai macam usia, baik besar, kecil, tua dan muda. Kegiatan pendidikan tersebut dilaksanakan setiap hari mulai pagi hingga petang, penyelenggaraan pendidikan lebih dikembangkan. Saat ini sistem pendidikan yang dipakai dilaksanakan melalui dua jalur yaitu jalur sekolah dan jalur luar sekolah. Lembaga-lembaga pendidikan tersebut berada di bawah naungan Yayasan At Taqwa, seperti, MI, TK, TPQ, Madrasah Tsanawiyah, bahkan Sekolah Tinggi Agama Islam At Taqwa. Adapun pendidikan di luar jalur sekolah diantaranya Madrasah Diniyah Awaliyah (Madinah).

Remaja Masjid At Taqwa merupakan organisasi yang dibentuk dengan tujuan membina generasi muda dalam melahirkan pribadi muslim yang berkualitas juga untuk memakmurkan kegiatan masjid. Di dalam organisasi ini, para anggota Remaja Masjid dibina dan dibentuk karakter kepribadian dan kecerdasannya sehingga kelak mampu menjalani kehidupan yang lebih Islami. Caranya, lewat berbagai macam metode dan kegiatan, di mana minat, bakat, dan kemampuan positif yang dimiliki para remaja tetap dapat diakomodasi dan disalurkan. Program kegiatan yang dilakukan oleh remaja masjid ini bermanfaat bagi para remaja khususnya dan masyarakat luas pada umumnya. Kegiatan-kegiatan tersebut diantaranya pesantren ramadhan, latihan kepemimpinan, pengajian, dan lain sebagainya. Selain itu mereka juga membantu takmir dalam kegiatan-kegiatan yang lain.  Bagi masjid sendiri, keberadaan organisasi remaja masjid juga penting dalam proses pengkaderan yang terstruktur, berjenjang, dan berkesinambungan sejak dini.

Metode Penentuan Arah Kiblat Masjid Agung At Taqwa Bondowoso sebagai masjid “plat merah”  Kabupaten Bondowoso, Seuai ungkapan Ketua Yayasan At Taqwa, bahwa data mengenai metode penentuan arah kiblat Masjid Agung At Taqwa Bondowoso tidak dicatat secara khusus dan data mengenai hal tersebut haruslah dirujuk pada data-data sejarah sekian tahun yang lalu. dalam catatan sejarah yang ada masih belum dapat ditemukan hingga sekarang.

————————————————————————————134N70 nulis DW

MASJID AGUNG AT TAQWA BONDOWOSO

Masa pemerintahan Kiai Suroadikusumo Besuki mengalami banyak kemajuan, Besuki menjadi ramai dan padat penduduknya, sehingga perlu dilakukan pengembangan wilayah baru ke arah tenggara. dengan membuka hutan dijadikan daerah hunian.  Daerah baru dibuka tersebut berupa hutan belukar yang masyarakat menyebutnya Wana – Sawa, kemudian berkembang menjadi Bondowoso.

Mas Astrotuno putra angkat Kiai Suroadikusumo, dianggap sebagai orang yang sanggup memikul tugas tersebut yang sebelumnya dinikahkan dengan putri dari Bupati Probolinggo yaitu Roro Sadiyah. Pengembangan wilayah tersebut selain bertujuan politis, juga sebagaiupaya menyebarkan agama Islam mengingat di sekitar wilayah yang dituju kehidupan penduduknya masih menganut ajaran animisme. Tugas tersebut dilaksanakan pada tahun 1789.

Dalam melaksanakan tugasnya, Mas Astrotuno dibantu oleh empat orang asistennya yaitu Puspo Driyo, Jotirto, Wirotruno, dan Jiwo Truno.  Dalam perluasan wilayahnya, dibangunlah kediaman penguasa di sebelah selatan sungai Blindungan, sebelah barat sungai Kijing, dan di sebelah utara Sungai Growongan (Nangkaan). Tempat ini kemudian dikenal sebagai “kabupaten lama” Blindungan yang terletak kurang lebih 400 meter di sebelah utara alun-alun.

 

Selanjutnya merancang pembangunan kota, alun-alunnya seluas empat bahu. Rumah kediaman penguasa menghadap selatan yang terletak di utara alun-alun. Sedangkan di sebelah barat dibangun masjid yang menghadap ke timur.  Masjid inilah yang menjadi cikal bakal Masjid Agung At Taqwa Bondowoso awalnya dikenal dengan Masjid Jami’ Bondowoso.

Sejarah Masjid Agung At-Taqwa Bondowoso berawal pada tahun 1809 ketika Raden Bagus Assra diangkat sebagai patih berdiri sendiri (zelfstanding) dengan nama Abhiseka Mas Ngabehi Kertonegoro. Beliau dipandang sebagai penemu (founder) sekaligus penguasa pemerintahan pertama (first ruler) di Bondowoso yang membangun sebuah missigit (masjid).  Masjid Agung At Taqwa adalah masjid yang pertama ada di Bondowoso.

Masjid Agung At Taqwa dibangun dengan gaya arsitektur Hindu – Jawa. Pada awal pembangunan, masjid ini hanya sebuah surau dengan bangunan yang sederhana (non permanen). Dinding bangunan masjid masa itu terbuat dari bambu dan atap dari bahan rumbia. Pada tahun  1819, saat  Raden Bagus Assra  diangkat menjadi Ronggo Bondowoso dengan julukan Kyai Ronggo Bondowoso masjid tersebut di sempurnakan dengan menambah pagar bagian depan dan pintu masuk yang di atasnya dilengkapi dengan sebuah beduk besar yang ditabuh setiap menjelang sholat lima waktu. Untuk menuju ke tempat beduk tersebut harus melewati beberapa anak tangga yang terbuat dari batubata. Tangga inilah yang membuat pintu pagar masjid nampak indah dan kokoh.

Dalam perkembangannya  masjid  ini bernama masjid Jami’ At Taqwa Bondowoso. Pada tahun 1967 Masjid Jami’ At Taqwa mulai direnovasi, pintu pagar yang menjadi ciri khas masjid ini dibongkar dan diganti dengan pagar besi. Proses renovasi saat itu sangat mengagumkan utamanya keterlibatan seluruh masyarakat Bondowoso. Setiap hari dari berbagai penjuru kota dan desa, warga berduyun-duyun menuju Masjid Jami’ At Taqwa untuk mengirim sumbangan secara sukarela berupa bahan-bahan material seperti batu, pasir dan batu bata.  Pada saat itu masyarakat Bondowoso tergerak untuk memiliki sebuah masjid kebanggaan  yang megah dengan arsitektur yang lebih modern. Pada saat renovasi inilah untuk pertama kalinya Masjid Jami’ At Taqwa membangun sebuah menara di sebelah selatan bangunan utama yang digunakan untuk tempat loudspeaker (pengeras suara) sebagai sarana berkumandangnya adzan sholat lima waktu.

Tanggal 12 April 1971, Masjid Agung At Taqwa  dipugar dan diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri Amir Machmud Saat Bupati Bondowoso dijabat oleh R. Arifin Djauharman (1965-1973).

Tahun 1995,  Masjid Jami’ At-Taqwa kembali direnovasi. Saat Bupati Bondowoso dijabat oleh Haji Agus Sarosa,  menjabat tahun 1988 – 1998. Dalam renovasi ini menara masjid semula berada di sisi kanan bangunan utama dipindah ke utara. Dan dalam perkembangannya masjid jami’ berubah nama menjadi Masjid Agung At Taqwa Bondowoso sebagai masjid kebanggaan warga Bondowoso.

Tanggal 24 Januari 2007 masjid direnovasi kembali, yang biaya renovasinya berasal dari APBD dan sumbangan masyarakat dan diresmikan oleh bupati Bondowoso Dr. H. Mashoed Msi.

Lokasi Masjid Agung At Taqwa Bondowoso Jawa Timur di wilayah kecamatan kota Bondowoso tepatnya di jalan Letnan Sutarman No. 08 Bondowoso, Jawa Timur. Batas-batas masjid tersebut adalah sebagai berikut, pada sebelah utara berbatasan dengan kantor Koramil, sebelah selatan SDN Kotakulon I, sebelah barat berbatasan dengan kompleks pemakaman umum dan pemukiman penduduk (Kauman). Sedangkan sebelah timur masjid, yang merupakan bagian depan berbatasan dengan alun-alun kota Bondowoso.

Masjid Agung At Taqwa Bondowoso berdiri di atas tanah seluas kurang lebih 20000 m2. Meskipun katagori tua, Tahapan-tahapan renovasi masjid akhirnya telah menyulap masjid ini menjadi bangunan yang tergolong modern. Ornament ketuannya telah terganti dengan fisik yang dimodel dengan variasi yang lebih apik. Namun hal tersebut tidak menghapuskan kesan keagungan dari masjid ini.

Bentuk Arsitektur Masjid Agung At Taqwa Bondowoso, pada ruang utama Masjid mempunyai fungsi ganda yaitu antara lain:

Ruang utama Masjid Agung At Taqwa terdiri atas dua lantai. Bangunan pada lantai pertama berupa ruang tertutup yang memiliki 6 saka guru dan 12 saka rawa. Ruang ini merupakan pusat kegiatan jamaah di Masjid Agung At Taqwa. Ruang utama yang cukup luas tersebut digunakan sebagai tempat melaksanakan salat berjamaah lima waktu. Selain sebagai ruang untuk melaksanakan ibadah, ruang utama masjid juga digunakan sebagai sarana pendidikan bagi anak didik dalam praktek salat juga ibadah lainnya. Bangunan ini juga digunakan sebagai ruang untuk melaksanakan kegiatan pengajian, kuliah subuh, serta kegiatan lain yang mendukung kemakmuran masjid.

Lantai pada ruang tersebut terbuat dari keramik yang divariasikan dengan pembatas shaf salat. Atap masjid dibuat berupa kubah dengan bentuk limas segi empat yang di atasnya terdapat ukiran kaligrafi guna menampakkan keagungannya. Dengan arsitektur demikian, maka Masjid Agung At Taqwa seakan-akan memiliki gaya abadi, penuh kemegahan dan kebesaran, serta memancarkan cahaya kebesaran Tuhan.

Di dalam ruang utama ini terdapat kelengkapan yang secara lazim terdapat pula di masjid-masjid agung yaitu mihrab sebagai tempat untuk imam dan mimbar sebagai tempat khatib berkhotbah pada salat Jum’at. Dari berita sejarah yang penulis dapat, mihrab tersebut tidak mengalami perubahan letak dalam setiap renovasi.

Sedangkan ruang utama di lantai kedua digunakan apabila ruang utama di lantai pertama tidak mencukupi untuk menampung jamaah, seperti pelaksanaan salat Idul Fitri dan Idul Adha serta kegiatan-kegiatan lain yang mendatangkan ribuan jamaah. Seperti halnya ruang utama di lantai bawah, ruang utama di lantai dua juga bersebelahan dengan kelas MTs (Madrasah Tsanawiyah).

Serambi masjid ini berada di depan ruangan utama yang dibuat dengan konsep bangunan yang modern. Ruangan ini berbentuk emperan yang pada kedua sisinya terdapat dua ruangan yang juga mendukung kegiatan masjid. Diantaranya ruang kontrol atau ruang operator dan ruang bawah tanah (RBT), ruang kontrol digunakan untuk mengontrol kegiatan yang ada juga sebagai ruang untuk beristirahat petugas keamanan dan kebersihan. Sedangkan ruang bawah tanah digunakan sebagai tempat penyimpanan alat-alat kebersihan, barang-barang tidak terpakai, dan lainnya, sehingga pemanfaatan ruang ini seperti gudang.

Kantor Takmir terletak di sebelah kiri ruang utama. Ruangan ini juga sebagai berkumpulnya atau beristirahatnya imam masjid atau para kiai yang akan mengisi pengajian.

Tempat wudhu bagi wanita berupa ruang tertutup yang berada di sebelah kanan masjid. Ruang ini berdampingan dengan ruang kelas MTs. Sedangkan tempat wudhu bagi pria terletak di sebelah kiri bangunan utama agak ke utara. Ruang ini berdampingan dengan kelas TK.

Menara adzan didirikan di halaman masjid di sebelah kiri. Di atasnya diletakkan loudspeaker sebagai pengeras suara untuk mengumandangkan adzan salat lima waktu.

Taman masjid berada di sebelah utara ruang utama. Taman ini dibangun untuk memperindah masjid.

Fungsi Masjid Agung At Taqwa bagi Masyarakat merupakan tempat ibadah umat Islam, terutama digunakan sebagai tempat salat berjamaah, selain itu masjid merupakan tempat untuk melakukan segala aktifitas yang mengandung kepatuhan kepada Allah SWT semata. Di tempat suci inilah umat Islam menemukan ketenangan hidup dan kesucian jiwa, karena disana terdapat majelis-majelis dan forum-forum terhormat. Masjid bagi umat Islam adalah institusi yang paling penting untuk membina masyarakat. Di masjidlah rasa kesatuan dan persatuan ditumbuh-suburkan. Demikianlah peran Masjid Agung At Taqwa dalam bidang keagaman dan sosial masyarakat Bondowoso. Sehingga selain sebagai pusat kegiatan keagamaan, masjid ini juga merupakan pusat pendidikan bagi masyarakat. Kegiatan belajar mengajar yang ada khususnya dalam ilmu agama yang merupakan fardlu ‘ain bagi umat Islam.

Sejak tahun 70-an,  kegiatan pendidikan telah banyak terlaksana heskipun bersifat nonformal seperti pengajian kitab oleh para kiai, takmir, dan lainnya. Pengajian tersebut untuk berbagai macam usia, baik besar, kecil, tua dan muda. Kegiatan pendidikan tersebut dilaksanakan setiap hari mulai pagi hingga petang, penyelenggaraan pendidikan lebih dikembangkan. Saat ini sistem pendidikan yang dipakai dilaksanakan melalui dua jalur yaitu jalur sekolah dan jalur luar sekolah. Lembaga-lembaga pendidikan tersebut berada di bawah naungan Yayasan At Taqwa, seperti, MI, TK, TPQ, Madrasah Tsanawiyah, bahkan Sekolah Tinggi Agama Islam At Taqwa. Adapun pendidikan di luar jalur sekolah diantaranya Madrasah Diniyah Awaliyah (Madinah).

Remaja Masjid At Taqwa merupakan organisasi yang dibentuk dengan tujuan membina generasi muda dalam melahirkan pribadi muslim yang berkualitas juga untuk memakmurkan kegiatan masjid. Di dalam organisasi ini, para anggota Remaja Masjid dibina dan dibentuk karakter kepribadian dan kecerdasannya sehingga kelak mampu menjalani kehidupan yang lebih Islami. Caranya, lewat berbagai macam metode dan kegiatan, di mana minat, bakat, dan kemampuan positif yang dimiliki para remaja tetap dapat diakomodasi dan disalurkan. Program kegiatan yang dilakukan oleh remaja masjid ini bermanfaat bagi para remaja khususnya dan masyarakat luas pada umumnya. Kegiatan-kegiatan tersebut diantaranya pesantren ramadhan, latihan kepemimpinan, pengajian, dan lain sebagainya. Selain itu mereka juga membantu takmir dalam kegiatan-kegiatan yang lain.  Bagi masjid sendiri, keberadaan organisasi remaja masjid juga penting dalam proses pengkaderan yang terstruktur, berjenjang, dan berkesinambungan sejak dini.

Metode Penentuan Arah Kiblat Masjid Agung At Taqwa Bondowoso sebagai masjid “plat merah”  Kabupaten Bondowoso, Seuai ungkapan Ketua Yayasan At Taqwa, bahwa data mengenai metode penentuan arah kiblat Masjid Agung At Taqwa Bondowoso tidak dicatat secara khusus dan data mengenai hal tersebut haruslah dirujuk pada data-data sejarah sekian tahun yang lalu. dalam catatan sejarah yang ada masih belum dapat ditemukan hingga sekarang.

————————————————————————————134N70 nulis DW

Kerajinan Kuningan, Kabupaten Bondowoso

Dari Sampah Diubah jadi Berkah
Kerajinan Kuningan Bondowoso0002BONDOWOSO tak hanya menawarkan keindahan kawah Ijen, tapi juga terdapat kerajinan yang sangat terkenal yaitu kerajinan kuningari yang sudah menjadi komoditas ekonomi Bondowoso. Keistimewaan produk kuningari Bondowoso ini adalah kadar mengkilatnya yang lebih awet, tanpa pengolahan tambahan, warna kuningnya dapat bertahan lebih lama. Berbagai macam barang dibuat dari kuningan ini, seperti peralatan rumah tangga, suvenir, hiasan interior rumah, tempat bunga, guci, tempat menyirih, relief lukisan ataupun berbagai macam miniatur binatang.
Kerajinan Kuningan Bondowoso0003Salah satu perajin kuningan itu ada¬lah UD Rizky, terletak di Raya Situbondo 6, Desa Cindogo, Kecamatan Tapen, Kabupaten Bondowoso. Menurut Lina, pemilik UD Rizky, usahanya merupakan warisan dari orangtuanya dan merupakan generasi ketiga. UD Rizky bisa dibilang salah satu perajin yang sanggup bertahan untuk waktu cukup lama, berdiri sejak tahun 1960-an. Awal pembuatannya berkonsentrasi pada perangkat gamelan Jawa, selanjutnya produksinya berkembang hingga sekarang menjadi beragam jenis. Lina bersama suaminya di UD Rizky berkecimpung di usaka kerajinan kuningan tahun 2000. Bahkan, hasil karyanya sempat diekspor ke Italia, lewat Bali. Begitu ada peristiwa Bom Bali, maka usaha ekspor pun ikut terhenti.
Kerajinan Kuningan Bondowoso0001Bahan baku kerajinan kuningan berasal dari sampah berupa rongsokan yang sudah tak terpakai. Dari pengepul rongsokan, Lina beli bahan baku saat ini antara Rp 45 ribu Rp 48 ribu setiap kilogram. “Setiap kami mengecor, membutuhkan sekitar 1,5 – 2 kuintal rongsokan kuningan. Kalau bahan lagi sulit dan mahal, kami mengecor setiap sebulan sekali. Para pekerja di tempat kami yang berjumlah sepuluh orang, begitu usai mengecor pekerjaan selebihnya fokus pada finishing. Begitu finishing selesai, pengecoran dimulai lagi tutur Lina.
Harga hiasan yang dipajang di showroom UD Rizky berkisar mulai dari Rp 150 ribu – Rp 4.000.750. Kecenderungan pembeli memang tergan- tung musim, kadang yang laris model binatang atau hiasan. “Untuk bulan- bulan seperti ini, saat orang banyak mengadakan hajatan perkawinan, maka yang laris manis adalah tempat siraman atau hiasan kursi. Begitu juga pembelinya, tak terbatas dari Bondowoso saja tetapi hampir seluruh kota di Jawa Timur dan Jawa Tengah serta
Jogjakarta pernah membeli di tempat kita,” jelas Lina.
Kini, perajin kuningan di Bondowoso ini banyak yang gulung tikar. Kalau dulu jumlahnya puluhan, kini tinggal lima perajin saja. Itu pun tiga perajin berada di Desa Cindogo, dan dua lagi di desa seberang, yaitu Desa Jurangsapi. Semakin jarangnya perajin kuningan ini, keluhannya semua hampir sama, yaitu mahalnya harga bahan baku. “Kendalanya memang pada bahan baku, dulu harganya hariya Rp 8000/kg, sekarang Rp 48.000/kg/’ tutur Lina.”
Wurita Andaningsih/Fery Wardata

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Majalah SAREKDA Jawa Timur/edisi 021/2014 halaman 32-33

Mas Isman

1 Januari 1924, Mas Isman Lahir di Bondowoso, Jawa Timur, Indonesia.

Pendidikan:

  • HIS Purwokerto;Mas Isman
  • Tahun 1940, MULO Cirebon;
  • SMP-Ketabang Sura­baya;
  • Tahun 1943, SMT Surabaya;
  • Tahun 1946, SMA-Malang;
  • Fakultas Hukum Surabaya;
  • SESKOAD;

Jabatan:

  • Tahun 1945 – 1951, Mas Isman mendirikan Komaridan TRIP Jawa Timur, Komandan Be-17  TNI.
  • Tahun 1951 – 1956, Bertugas di SUAD, dengan pangkat Mayor.
  • Tahun 1956-1958, Diperbantukan pada kantor Perdana Menteri, menjadi Letnan Kolonel.
  • Tahun 1958, Anggota Delegasi Rl ke PBB.
  • Tahun 1959 – 1960, menjabat Duta besar Rl di Rangoon, dengan Pangkat Kolonel.
  • Tahun 1960 – 1964, menjabat Duta besar Rl di Bangkok, dengan pangkat Brig. Jen.
  • Tahun 1964 – 1967, menjabat Duta besar Rl di Kairo.
  • Menjabat Asisten-6 PANG- AD dengan pangkat May. Jen. di Markas Besar Aangkatan Darat.,
  • Tahun 1978, menjadi Anggota DPR/MPR.
  • Tahun 1957, menjadi Ketua Umum KOSGORO.
  • Tahun 1957-1975, sebagai Dewan Penyantun IKIP-PGRI Sarmidi Mangunsarkoro Jawa Timur de­ngan Prokersa KOSGORO.
  • Tahun 1976, sebagai Dewan Penyantun IKIP-PGRI Jawa Timur.
  • Sebagai Dewan Pembina DPR-GOLKAR .

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: A.RADJAB: TRIP dan PERANG KEMERDEKAAN, Surabaya, Kasnendra Suminar, hlm.viii

Upacara Ruwat, Kabupaten Bondowoso

PERKATAAN ruwat (Jawa) atau arokat (Madura) berasal dari bahasa Sansekerta atau Jawa kuno yaitu rwad yang kemudian berubah bentuk menjadi rod atau root (Inggris) yang berarti akar (urat, oyot, atau ora’ dalam bahasa Madura). Dari kata rwad itulah dalam bahasa Jawa baru menjadi ruwat (luwar). Diruwat berarti dibebaskan dari dosa karena termakan sumpah atau janji. Ngluwari ujar berarti melaksanakan janji, nazar, sumpah, atau melaksanakan wasiat si mayat, sehingga yang ngluwari ujar itu terlepas dari rasa berdosa.

Perkataan root yang berarti akar itu kemudian disingkat dengan huruf kapital R dan menjadi lambang panjang separuh dari garis tengah suatu lingkaran. Dengan demikian muncullah rumus luas lingkaran yaitu 2 PI x R2. Adapun PI adalah panjang busur lingkaran dibagi panjang garis tengah (=3,14159), seberapa pun besarnya lingkaran. Angka itu tetap saja menjadi keliling lingkaran yaitu PI x 2 R (R adalah jari-jari lingkaran).

Budaya ruwat atau arokat adalah upacara selamatan bagi anak-anak yang dilahirkan dalam susunan keluarga yaitu:

  1. Anak tunggal
  2. Dua orang anak (laki-laki dan perempuan)
  3. Tiga orang (perempuan diapit lelaki atau lelaki diapit perempuan)
  4. Lima orang (laki-laki semuanya menyerupai Pandawa)

Di tanah Jawa masih banyak lagi yang harus diruwat, antara lain orang yang periuknya roboh saat menanak nasi, orang yang me- nanam waluh (labu) di muka rumah, anak yang selalu sakit-sakitan, anak yang sangat nakal, dan sebagainya.

Upacara ruwat diadakan supaya si anak terlepas dari bahaya. Menurut kepercayaan Jawa, bahaya itu berupa sergapan Batara Kala yang oleh para dewa sudah ditentukan mangsanya. Upacara itu di Jawa dilakukan dengan pertunjukan wayang purwa, sedangkan upacaranya lazim disebut “Hamurwakala”, artinya mengembalikan anak pada asal mulanya, bukan dibunuh melainkan diserahkan kepa­da Zat yang menciptakan kala (waktu). Bukankah menurut keper­cayaan Jawa, waktu dipandang sebagai kekuatan Maha Agung yang menentukan kemalangan, musibah, dan bahagia bagi manusia?

Sedangkan wayang purwa berarti wayang yang sangat awal. Ini adalah gambaran kepercayaan asli masyarakat Jawa zaman dahulu ketika masih memuja Waktu atau Kala.

Lakon cerita wayang pada upacara ruwat sebenarnya adalah lakon Batara Kala. Siapakah Kala itu? Kala adalah putra Batara Surya (Dewa Matahari). Bukankah matahari itu menjadi titik pangkal perhitungan hari atau waktu (kala)? Itulah sebabnya Dewa Kala (Batara Kala) atau Waktu dinamakan “Putra Batara Surya”. Artinya, “waktu” atau “kala” dihasilkan oleh lamanya planet-planet (bumi dan lain- lain) atau satelit (bulan) menjelajahi angkasa mengitari matahari seba­gai induknya. Itulah sebabnya Batara Kala disebut juga Surya Atmaja (Putra Batara Surya).

Masyarakat Jawa pada zaman dahulu telah mengenal perhitungan “hari yang tujuh”, yaitu nama-nama hari: Dite, Soma, Nggara, Buda,

Respati, Sukra, dan Tumpak (Sabtu). Nama-nama itu diambil dari nama-nama planet yang berjumlah tujuh (pada waktu itu). Sekarang telah ditemukan dua planet lagi men)adi sembilan. Menilik hal itu, dahulu masyarakat Jawa menggunakan tahun syamsiah (lamanya bumi mengitari matahari dalam setahun). Kemudian dengan kedatangan Islam, maka diperkenalkanlah tahun qomariah (lamanya bulan mengi­tari bumi dalam setahun). Gabungan antara tahun Saka (lama) dan tahun Qomariah (Islam) itulah yang membentuk perhitungan bulan Jawa sekarang.

Upacara ruwat (arokat) dimaksudkan untuk menyerahkan kembali nasib anak yang diruwat kepada Zat Asal yang menciptakan kehidupan ini, supaya si anak terlepas dari bencana siksa-Nya. Ini sama dengan tobat nasuha dalam ajaran Islam, suatu tobat yang tak akan mengulangi kesalahan lama dan menutupi kesalahan-kesalahan serta dosa dengan kebaikan. Secara simbolis orang tua perlu bertanya kepada diri sendiri, bagaimana anak itu kedka berada dalam kan- dungan sang ibu dan apa yang dilakukan orang tua selama anak berada dalam kandungan. Ruwat pada hakikatnya adalah belajar introspeksi dan retrospeksi

Upacara ruwat di Bondowoso diwujudkan dalam modifikasi budaya Jawa dengan wayang purwa. Bukan dengan mengadakan pertunjukan wayang sebenarnya melainkan dengan fragmen “adegan wayang orang” (wayang topeng) dengan lakon Batara Kala. Ini dilaku­kan karena ontowacana dengan bahasa Jawa, apalagi Jawa Kawi tak mungkin dapat dilakukan.

Dalam pertunjukan wayang topeng itulah dalang berperan menghidupkan cerita. Dalang mampu mengalihkan jalan cerita ke bahasa Madura. Di sana-sini ada selingan humor supaya pertunjuk­an menjadi menarik. Dialog-dialog yang diucapkan dalang, diperan- kan oleh pelaku wayang, hampir-hampir menyerupai pantomim dengan mengikuti suara dalang.

Sebelum pertunjukan dimulai, dalang membacakan mantra atau doa memohon keselamatan. Mantra dibacakan di atas kepulan asap dupa (kemenyan) di tengah malam. Sedangkan anak yang di-rokat dimandikan dengan air bunga. Maksudnya agar segar, bersih, dan beraroma harum. Ini adalah simbol budaya membersihkan anak dari segala ancaman dan sergapan Batara Kala.

Pertunjukan itu dilakukan sampai larut malam seperti halnya wayang purwa. Tidak lupa sahibul hajat menyediakan “sesaji” makanan kenduri nasi serta lauk pauk berupa panggang ayam putih mulus yang dipersembahkan kepada leluhur yang telah wafat. Lalu dibacakanlah doa, nasi kenduri pun mulai dimakan. Setelah usai, dalang beserta para pelaku wayang menerima imbalan uang jasa dan transportasi (bagi dalang dan niyaga-nya). Ada kalanya mereka diberi seperangkat alat dapur.

Di Pesantren Sukorejo, Asembagus, Situbondo, ada sebuah buku doa Pangrukat yang berasal dari Kiai Abdul Latief, saudara dari Kiai Syamsul Arifin (alm.). Doa itu dibacakan pada upacara selamatan pekarangan, tegalan, tanaman, kendaraan, perahu atau motor.

Di samping itu ada doa rokat dengan menyembelih kambing hitam. Gunanya untuk menolak serangan wabah penyakit. Kambing disembelih di tengah desa atau di tengah pekarangan. Yang menyem­belih harus menghadap ke kiblat, setelah kambing disembelih maka dagingnya dibagikan kepada masyarakat. Kikil (kekot) dan tulang- tulangnya tidak dimakan namun ditanam di tempat penyembelihan kambing tersebut (Kitab ]aami’ud da’awaat).

Dari budaya ruwat ini tersimpan filosofi bahwa:

a. Masalah takdir harus diyakini adanya. Manusia tidak perlu lari pada hal-hal yang musyrik, menyembah waktu seperti pada zaman dahulu: matahari dan bulan disembah. Nabi Ibrahim telah menolak keyakinan bahwa Tuhan itu berupa matahari atau bulan (QS 16: 74-83).

  1. Letak susunan anak dalam keluarga memang secara psikologis ada pengaruhnya. Anak tunggal biasanya dimanjakan. Begitu pula anak bungsu atau anak tunggal yang diapit dua-tiga anak yang berlainan jenis kelaminnya. Anak-anak yang lelaki semua akan sulit dibina. Biasanya mereka saling berebut kekuasaan. Begitu juga jika semua anak adalah perempuan. Pada umumnya anak kedua suka meninggalkan rumah karena tekanan anak sulung. Kalau orang tua tidak adil dan pilih kasih dalam memberikan layanan pendidikan, maka bencana perkelahian, pertentangan, atau tekanan batin akan muncul. Hal itu akan menyulitkan orang tua untuk mengantarkan anak menuju masa kedewasaannya.

Dengan menghargai waktu untuk mengisi kehidupan maka kebahagiaan hidup akan tercapai. Islam sangat menghargai waktu. Disiplin salat mengarah pada disiplin pribadi dan berguna bagi pembentukan watak pribadi kelak. Allah berfirman dalam surat Al-Jumu’ah: Apabila telah usai salat Jumu’ah, bertebaranlah kau di muka bumi mencari rejeki karunia lllahi (QS 62: 10).

 

Upacara Khitanan, Kabupaten Bondowoso

Pelaksanaan Upacara Sunat di Bondowoso, seperti juga upacara molangare, upacara khitanan dimeriahkan dengan pembacaan selawat Nabi (diba’ atau barjanji). Anak yang disunat dituntun untuk berjabatan tangan dengan para undangan (kedka hadirin berdiri). Ini dimaksudkan sebagai upacara menyambut kehadiran muslim baru yang mulai mualaf (dipandang sudah mampu dibebani syariat salat). Menilik hal itu nyatalah bahwa budaya khitanan dijadikan upaya “pengislaman” bagi anak yang telah Kebudayaan Islam di Bondowoso dikhitan.

Upacara khitanan itu berbeda-beda pelaksanaannya di beberapa tempat. Di Caruban, Madiun, masih ada upacara “arak sunatan”. Anak yang disunat itu mengendarai kuda, berpakaian “mempelai”, bertopi “pacul gowang (bagian belakang topi itu terbuka), diarak sepanjang jalan, serta dimeriahkan dengan hadrah dan burdah, serta dilagukan syair kasidah barzanji.

Di Bondowoso ada juga yang dimeriahkan dengan acara khataman Alquran pada malam sebelum anak dikhitan. Alquran dibaca bergandan seperti pada kegiatan khatmil Quran. Tetapi ada yang hanya membaca dga belas surat pendek pada jus amma (Surat 102- 114) oleh anak yang baru sembuh dari sunat. Artinya, upacara sunat­an itu dilakukan setelah beberapa hari seorang anak disunat. Hal ini dimaksudkan untuk mendidik anak menjadi muslim dengan kemampuan membaca Alquran dan salat.

Kini budaya sunat bukan lagi menjadi monopoli umat Islam, melainkan telah mendunia, dimiliki oleh siapa saja yang merindukan kesehatan dan kebahagiaan. Yang disunat bukan lagi hanya anak- anak muslim, namun juga kaum non-muslim. Bukan saja saat masih kanak-kanak, bahkan ada yang sudah setengah baya minta disunat (dengan pergi ke dokter). Ini merupakan sumbangan umat Islam kepada umat manusia. Semakin nyata bahwa agama Islam adalah agama Allah (QS 3: 19) yang diserukan kepada umat manusia [::]

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Dr. H. Mashoed MSi. Sejarah dan Budaya Bondowoso. Surabaya, Papyrus, 2004. hlm.

R. Bagus Assrah Pendiri Bondowoso

SEMASA pemerintahan Bupati Ronggo Kiai Suroadikusumo di Besuki, daerah Besuki mengalami kemajuan dengan berfungsinya Pelabuhan Besuki yang mampu menarik minat kaum pedagang luar, utamanya dari Pulau Madura, yang kemudian menetap di Besuki. Tak dapat dipungkiri bahwa suasana Besuki semakin ramai dan semakin padat penduduknya sehingga kemudian perlu dilakukan pengembangan wilayah. Untuk itu perlu dibuka wilayah baru ke arah tenggara dengan membuka hutan, kemudian menjadikannya daerah hunian dan bisa didirikan kota.

Perlu diketahui bahwa daerah baru yang hendak dibuka itu belum bernama, karena daerah itu berupa hutan belukar yang dalam bahasa kuno disebut wana-wasa. Oleh karena itu perlu dicari orang yang mampu melaksanakan tugas tersebut.

Ketika rencana itu dibahas di tingkat kabupaten, Kiai Patih Alus mengusulkan agar Mas Astrotruno, putra angkat Bupati Rongg° Suroadikusumo, menjadi orang yang menerima tugas tersebut- Alasannya, ia telah mampu melaksanakan tugas-tugas kenegaraaf1

yang diberikan padanya sehingga sekarang perlu diberikan tugas- tugas baru yang lebih berat.

Usui itu diterima oleh Kiai Ronggo-Besuki, dan Mas Astrotruno juga sanggup memikul tugas itu. Sebagai seorang ayah angkat, Kiai Ronggo Suroadikusumo perlu terlebih dahulu menikahkan Mas Astrotruno dengan salah seorang putri dari Bupati Probolinggo Joyolelono, yaitu Roro Sadiyah. Sebagai bekal dalam melaksanakan tugasnya, mertua Mas Astrotruno menghadiahinya seekor kerbau putih (bule) yang dongkol (tanduknya melengkung ke bawah). Kerbau putih itu untuk dijadkan teman perjalanan sekaligus penuntun mencari daerah-daerah yang subur. Kerbau itu bernama “Melati”.

Pengembangan wilayah itu selain bertujuan politis, juga untuk tujuan suci (mission sacre), yaitu upaya menyebarkan agama Islam mengingat di sekitar wilayah yang dituju penduduknya masih me- nyembah berhala (animisme). Tugas itu mulai dilaksanakan pada 1789.

Karena hutan yang ditebangnya itu sangat lebat, maka Mas Astrotruno dibantu oleh empat orang asisten yaitu Puspo Driyo, Jotirto, Wirotruno, dan Jiwo Truno. Dengan peralatan dan perbekalan secukupnya, Mas Astrotruno beserta rombongan berangkat melak­sanakan tugasnya menuju ke arah selatan, menerobos wilayah pegu- nungan sekitar Arak-arak (jalan lintas itu sekarang tidak diguna- kan)—di kemudian hari jalan itu sering disebut orang dengan sebut- an “Jalan Nyi Melas”. Rombongan lalu menerobos ke timur dan S’impailah mereka di Dusun Wringin, melewati gerbang yang disebut “Lawang Saketeng”.

Tim pembuatan sejarah Bondowoso mencatat nama-nama desa sepanjang jalan yang dilalui rombongan Mas Astrotruno, yaitu ringin, Kupang, Poler, dan Mandiro, lalu menuju selatan sampailah ereka di sebuah desa yang bernama Kademangan. Mereka mem- nSun sebuah pondok tempat peristirahatan di sebelah barat daya angan (diperkirakan di Desa Nangkaan sekarang).

Babad Bondomso yang ditulis M Soeroto mencatat nama-nama desa lama. Di sebelah utara adalah Glingseran, Tamben, dan Ledok Bidara. Di sebelah barat: terdapat Selokambang, Selolembu. Di sebelah timur adalah Tenggarang, Pekalangan, Wonosari, Jurangjero, Tapen, Prajekan, dan Wonoboyo. Di sebelah selatan terdapat Sentong, Bunder, Biting, Patrang, Baratan, Jember, Rambi, Puger, Sabrang, Menampu, Kencong, dan Keting. Menurut perhitungan, jumlah penduduk di seluruh wilayah adalah lima ratus orang, sedangkan di setiap desa dihuni dua, tiga, empat orang yang terdiri dari anak- anak, orang tua, pemuda, janda, dan duda.

Kemudian dibangunlah kediaman penguasa di sebelah selatan Sungai Blindungan, di sebelah barat Sungai Kijing, dan di sebelah utara Sungai Growongan (Nangkaan). Tempat itu kemudian dikenal sebagai “Kabupaten Lama” Blindungan, terletak kurang leih 400 meter di sebelah utara Alun-alun. Pekerjaan membuka jalan itu berlangsung selama lima tahun (1789-1794). Untuk memantapkan wilayah kekuasaan baru di pedalaman, setelah kondisinya mapan, Mas Astrotruno pada 1808 diangkat menjadi demang dengan gelar Abhiseka Mas Ngabehi Astrotruno, dan sebutannya adalah Demang Blindungan.

Pembangunan kota pun kemudian dirancang. Menurut catatan Babad Bondomso, alun-alunnya seluas empat bahu. Rumah kediaman penguasa menghadap selatan di utara alun-alun. Sedangkan di sebe­lah barat dibangun masjid yang menghadap ke timur. Masjid ini bukan hanya untuk keperluan ibadah melainkan juga dilengkapi ruang untuk melepaskan lelah setelah bekerja keras membabat hutan serta mem- bangun kota.

Menurut catatan Tim Tujuh Pembuatan Sejarah Bondowoso yang diketuai Soeroso, alun-alun itu semula adalah lapangan untuk meme- lihara kerbau putih kesayangan Mas Astrotruno, karena di situ tumbuh rerumputan makanan ternak. Lama kelamaan lapangan itu mendapatkan fungsi baru sebagai alun-alun kota.

Untuk menghibur para pekerja agar tidak jemu dan bisa melepaskan lelah, Mas Astrotruno memanfaatkan kesempatan itu untuk mengadakan berbagai tontonan, antara lain aduan burung puyuh {gemak), sabung ayam, kerapan sapi, dan aduan sapi.

Tontonan adu sapi itu menarik penonton dan sangat digemari oleh para peserta aduan. Kemudian acara ini diselenggarakan secara berkala pada saat-saat tertentu. Aduan sapi itu menjadi tontonan di Jawa Timur sampai 1998.

Berdasarkan catatan H Abd. Razaq Q dalam bukunya AsalMula Aduan Sapi dan Rangkaiannja dengan Babad Bondowoso yang ditulis dalam bahasa Inggris dan dicetak di New York disebutkan bahwa berdasarkan laporan-laporan Mas Astrotruno kepada Kiai Ronggo Besuki, Astrotruno kemudian diangkat sebagai Nayaka merangkap jaksa negeri, sebagai tanda terima kasihnya.

Dari Ikatan Keluarga Besar “Ki Ronggo Bondowoso” pada 1998 didapat keterangan bahwa pada 1809 Raden Bagus Assrah atau Mas Ngabehi Astrotruno diangkat sebagai patih berdiri sendiri (\elfstandig) dengan nama Abhiseka Mas Ngabehi Kertonegoro. Beliau dipandang sebagai penemu (founder) sekaligus penguasa peme- rintahan pertama [first ruler) di Bondowoso. Adapun tempat kediaman Ki Kertonegoro yang semula bernama Blindungan, dengan adanya pembangunan kota diubah namanya menjadi Bondowoso, sebagai ubahan perkataan wana wasa. Maknanya kemudian dikaitkan dengan perkataan bondo, yang berarti modal, bekal dan woso yang berarti hekuasaan. Makna seluruhnya demikian: terjadinya negeri (kota) adalah semata-mata karena modal kemauan keras mengemban tugas (penguasa) yang diberikan kepada Astrotruno untuk membabat hutan dan membangun kota.

Demikianlah makna perkataan “Bondowoso”, yang kemudian menjadi nama daerah (kota) yang dihuni Mas Ngabehi Kertonegoro Bondowoso secara normatif.

Pada waktu itu meskipun Belanda telah bercokol di Puger dengan pejabat kepanjangan tangan kekuasaannya, dan secara ad- ministratif yuridis formal Bondowoso dimasukkan ke dalam wilayah kekuasaannya, namun dalam kenyataannya pengangkatan para per- sonil praja masih menjadi wewenang Ronggo Besuki. Maka tidak seorang pun yang berhak mengklaim lahirnya kota baru Bondowoso selain Mas Ngabehi Kertonegoro. Hal itu dinyatakan dengan pem- berian izin kepada beliau untuk terus bekerja membabat hutan sampai akhir hayat Sri Bupati di Besuki.

Pada 1819 Bupati Adipati Besuki Raden Ario Prawiroadiningrat meningkatkan statusnya dari Kademangan menjadi wilayah lepas dari Besuki, dengan status Keranggan Bondowoso dan mengangkat Mas Ngabehi Astrotruno menjadi penguasa wilayah dan pimpinan agama dengan gelar Mas Ngabehi Kertonegoro, serta dengan predikat Ronggo I. Peristiwa besar pengukuhan Kiai Ronggo Kertonegoro sebagai Bupati Adat dilaksanakan dalam suatu upacara adat yang khidmat secara ritual berupa penyerahan tombak Tunggul Wulung oleh Raden Ario Adipati Prawiroadingrat kepada Mas Ngabehi Kertonegoro atau Ronggo I. Acara ini berlangsung pada hari Selasa Kliwon, 25 Syawal 1234 Hijriah atau 17 Agustus 1819. Peristiwa itu kemudian dijadikan eksistensi formal Bondowoso sebagai wilayah kekuasaan mandiri di bawah otoritas kekuasaan Kiai Ronggo Bondowoso. Kekuasaan Kiai Ronggo Bondowoso meliputi wilayah Bondowoso dan Jember, dan berlangsung antara 1819-1830.

Pada 1830 Kiai Ronggo I mengundurkan diri dan kekuasaannya diserahkan kepada putra keduanya yang bernama Djoko Sridin yang pada waktu itu menjabat Patih di Probolinggo. Jabatan baru itu dipangkunya antara 1830-1858 dengan gelar M Ng Kertokusumo dengan predikat Ronggo II, berkedudukan di Blindungan sekarang, atau Jalan S Yudodihardjo (Jalan Ki Ronggo) yang dikenal masya- rakat sebagai “Kabupaten Lama”.

Setelah mengundurkan diri, Rangga I (Mas Ngabehi Kerto­negoro) giat menekuni bidang dakwah agama Islam, kemudian mengembangkan pengaruhnya dengan bermukim di Kebundalem Tanggulkuripan (Tanggul, J ember). Akhirnya Ronggo I wafat pada 19 Rabi’ulawal 1271 H atau 11 Desember 1854 dalam usia 110 tahun. Jenazahnya dikebumikan di sebuah bukit (Asta Tinggi) di Desa Sekarputih. Masyarakat Bondowoso menyebutnya sebagai “Makam Ki Ronggo”.

Pada saat itu Patih Puger merasa tersinggung karena wilayah kekuasaannya dibabat, ditebangi hutannya, lalu dijadikan sebuah kota baru yang diperintah oleh seorang Ronggo baru. Mengenai masalah tersebut Sabaroedin yang waktu itu (1967) sebagai pejabat di Bagian Politik/Keamanan Daerah Kabupaten Bondowoso, dalam tulisannya yang berjudul Sejarah Kota Bondowoso, memberikan komentar demikian: Patih Puger sangat tidak menyetujm kebijaksanaan Pangeran Prawiroadiningrat dalam cara menjalankan pemerintahan. Patih Puger mulai melakukan pemberontakan. Sebagai ksatria utamanya, diutus seorang kepala penyamun Ario Gledak, seorang yang ganas dan berani. Sasaran pertama adalah melumpuhkan kekuatan Pangeran Prawiroadiningrat di Bondowoso, yaitu menghadapi Ki Ronggo. [::]

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Dr. H. Mashoed MSi. Sejarah dan Budaya Bondowoso. Surabaya, Papyrus, 2004. hlm. 62-66

Upacara Selapan, Kabupaten Bondowoso

ISTILAH “selapan” (Jawa) berasal dari gabungan bentuk “sa+alap+an”, satu alapan, yaitu satu kali daur ulang dari kelahiran tiga puluh lima hari. Pada upacara selapan itu bertemulah nama hari dan “pasaran” ketika bayi dilahirkan. Di Madura upacara ini dikenal dengan istilah molang are (mengulang hari kelahiran). Hanya saja di daerah Madura, termasuk di Bondowoso, tidak dikenal hari pasaran (legi, pahing, pon, wage, kliwon) sebagaimana dalam budaya Jawa.

Sepekan di Madura sama dengan sepekan di Melayu yaitu tujuh hari. Hal ini dapat dibuktikan dengan hari daur ramainya pasar di Bondowoso, seperd Pasar Senin, Pasar Selasa, dan sebagainya, sama dengan di Jakarta (Pasar Minggu, Pasar Senen, dan sebagainya). Akhir-akhir ini perhitungan limaan {manes, paeng, pon, bagi, kalebun) itu mulai terpakai juga dalam menghitung hari di daerah Bondowoso. Jadi “selapan” bayi lamanya sama dengan sekali daur dari hari ke­lahiran, yaitu lima minggu atau tujuh kali lima pasaran yaitu tiga puluh lima hari.

Di Bondowoso ada kepercayaan hari selamatan molang are dga puluh lima hari jika bayi yang dilahirkan adalah perempuan. Maksudnya supaya kelak lekas mendapatkan jodoh. Namun jika anaknya lelaki, maka selamatan molang are itu dijatuhkan pada hari keempat puluh. Ini merupakan isyarat bahwa anak lelaki kelak harus bekerja keras untuk memberi nafkah istrinya. Jadi dibutuhkan masa muda yang lebih panjang untuk belajar dan bekerja.

Dalam budaya Jawa, ada juga upacara selapan bayi namun bukan upacara menyambut kelahiran bayi yang pertama karena upacara kelahiran bayi sebenarnya jatuh pada hari kelima yang lazim disebut “sepasaran bayi”. Biasanya jatuh pada saat si bayi “lepas dari pusarnya” (pupak pusar).

Pada malam sepasaran bayi diadakan acara macapat, yaitu membaca sastra Jawa yang mengandung pelajaran atau filsafat dari para pujangga seperd dari buku Wulang Keh, Wedatama,Serat Piwulang, Serai Kidungan, dan sebagainya. Kemudian setelah zaman Islam, buku-buku bercorak Islam ditulis dengan huruf Arabpegon, dikarang dalam bentuk tembang bahasa Jawa, seperti Lajang Ambiya (Surat Nabi-Nabi).

l^i Bondowoso, upacara molang are atau selapanan dimeriahkan dengan pembacaan selawat nabi (pembacaan diba’ atau barzanji). Ketika hadirin berdiri membacakan selawat nabi, sang bayi di- gendong oleh salah seorang keluarganya (lelaki) untuk diperkenalkan kepada seluruh majelis agar dimintakan restu dengan “mengusapkan air bunga” di kepala bayi, selain itu juga diminta menggunting dua atau tiga helai rambut sang bayi.

Upacara selapanan di Bondowoso ini mengingatkan kita pada upacara akikah (mencukur rambut) bayi. Adapun mengusap air bunga di kepala sang bayi dan membacakan selawat nabi harus di- pandang sebagai upacara menyambut kelahiran sang bayi muslim atau muslimah, yang kelak akan menjadi penganut agama Islam, umat Nabi Muhammad SAW.

Upacara molang are itu kemudian ditutup dengan pembacaan doa. Pesta kenduri pun dimulai, pulangnya tamu diberi berkat, tanda bahwa hajatnya semoga mendapatkan berkah dari Allah SWT. Dalam budaya Jawa, berkat atau lebih dikenal dengan “nasi brokoharT (dari istilah barokahan), dibagikan pada waktu upacara sepasaran (lima harinya) [::]

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Dr. H. Mashoed MSi. Sejarah dan Budaya Bondowoso. Surabaya, Papyrus, 2004. hlm. 112