Upacara Tingkeban di Kabupaten Bondowoso

Upacara tingkeban adalah selamatan memperingati kehamilan pertama seorang istri ketika kandungannya genap berumur tujuh bulan. Di Kabupaten Bondowoso sama dengan daerah lain di tanah Jawa upacara itu disebut tingkeban dan di Madura disebut melet kandung. Maksud keduanya sama. Istilah “tingkeb” artinya “menutup”, sama artinya dengan kata melet (Madura). Maksudnya adalah peringatan untuk “menutup kandungan”. Ini merupakan isyarat bagi suami agar sebaiknya tidak lagi melakukan hubungan badan dengan istrinya karena berbahaya bagi kandungan­nya.

Menurut adat istiadat di pelosok desa di Jawa, tingkeban dilakukan dengan “mandi bunga” bagi kedua mempelai. Suami-istri itu dimandikan oleh kedua orang tua dari kedua belah pihak, serta oleh para ibu sesepuh dari kedua keluarga itu. Upacara kemudian dilanjutkan dengan membelah nyiur gading sebanyak dua buah. Nyiur gading itu dilukisi gambar wayang. Yang satu dilukis gambar satria (Arjuna atau Raden Kamajaya, yaitu Dewa Linuwih yang bagus parasya), nyiru lainnya dilukisi putri cantik (Srikandi, istri Arjuna atau Dewi Ratih, seorang bidadari kayangan yang menjadi istri Raden Kamajaya).

Upacara itu diakhiri dengan penjualan rujak manis kepada ibu para tamu. Uang hasil penjualan rujak itu dimaksudkan sebagai sumbangan dari para undangan atau tamu kepada tuan rumah atau shahibul hajat. Di tanah Jawa ada kepercayaan bahwa jika sang suami membelah nyiur gading itu tidak tepat separuh, maka itu pertanda bahwa kelak bayi yang dilahirkan adalah laki-laki. Namun jika tepat separuh, maka anaknya yang bakal lahir adalah perempuan.

Lukisan wayang pada kulit nyiur melambangkan ide atau cita- cita suci dari kedua orang tua si bayi. Katakanlah sebagai “doa yang tak terucapkan” tetapi diungkapkan dengan lukisan. Kira-kira saja maksudnya, apabila anaknya lelaki semoga meniru Raden Kamajaya yang bagus parasnya atau seperti Arjuna yang tampan dan ksatria. Jika perempuan, semoga parasnya ayu serta patriotik seperti Srikandi, atau secantik seperti Dewi Ratih. Itulah bentuk bahasa yang berupa lambang benda-budaya.

Namun upacara tingkeban itu sebenarnya warisan dari keper­cayaan Hindu, yang tetap dilaksanakan meskipun pendukungnya telah memeluk agama Islam. Upacara ini dijadikan adat istiadat yang baku karena orang melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak mereka pahami maksudnya. Itulah sistem budaya yang telah melembaga. Jika sistem ini diubah atau dihapuskan, dikhawatirkan akan me- munculkan keresahan dalam masyarakat.

Akhirnya perubahan itu terjadi juga karena pendukung budaya lama telah memperoleh pegangan hidup baru yaitu konsep agama Islam. Di daerah-daerah yang dahulunya bukan basis agama Hindu, misalnya di daerah Madura atau bekas Karesidenan Basuki, tempat tak diketemukannya patung-patung Hindu-Buddha, budaya tingkeban mengalami penggeseran dari corak Hindu ke corak Islam. Dalam hal ini terjadilah modifikasi budaya.

Ide pokoknya tetap dijalankan yaitu doa untuk anak yang dikandungnya. Dimohonkan kepada Allah SWT semoga anak yang lahir itu menjadi anak yang saleh atau salehah. Gambar wayang sebagai idola diganti dengan tokoh orang suci atau nama Nabi di dalam Alquran; abunya dibuang namun apinya dinyalakan. Upacara “mandi bunga” dan “penjualan rujak manis” di Bondowonso ditiadakan, kemudian diganti dengan pembacaan Alquran (surat Yusuf, Ibrahim, Luqman, atau Surat Maryam, dan sebagainya). Terjadilah transformasi nilai budaya baru berdasar syariat Islam. Upacara diakhiri dengan doa yang dibacakan oleh kiai, modin, atau tokoh agama, atau oleh sesepuh yang mengerti.

Di tanah Jawa kira-kira lima puluh tahun yang lalu, upacara tingkeban itu dilakukan meriah. Di dalam upacara selamatan itu dihidangkan “nasi uduk kabuli” sebanyak tujuh penai dan lauknya tujuh panggang ayam. Maksudnya agar terkabul doanya. Perkataan “uduk” dari perkataan Arab “ud’uu” (berdoalah), seperti pesan Al­quran (QS 40: 60).

Mintalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan permintaanmu.

Sesungguhnya orang-orangyangsombongterhadapmenyembah Aku, nanti

mereka akan masuk ke dalam neraka serta hina

Sedang kata “kabuli” dari bahasa Arab “qabul” (Terimalah doaku).

Angka tujuh pada penai dan panggang ayam melambangkan bilangan absolut, tak terbatas. Jadi benda-benda tersebut sebenarnya merupakan doa yang tak terucapkan dengan kata-kata. Jika diucap- kan kira-kira sebagai berikut: Ya Tuhanku, aku memohon pertolongan kepada Engkau mengenai bayi dalam kandungan istriku.

Berilah

keselamatan dan jadikan anak yang saleh / salehah yang berbakti kepada Engkau, ya Tuhan, kabulkanlah doaku.

Pada malam itu diadakan jagong semalam suntuk (tidak tidur) Orang-orang sibuk membacakan kisah nabi-nabi dalam Buku Budaya Kitab Ambiya’ (nabi-nabi), suatu karya sastra Islam dalam bahasa Jawa bentuk tembang, tetapi dituliskan dengan huruf Arab- pegon. Kegiatan membaca buku-buku karya sastra Islam dalam ben­tuk tembang yang dilakukan itu disebut macapat (Jawa) atau dalam bahasa Madura disebut “mamaca”.[::]

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Dr. H. Mashoed MSi. Sejarah dan Budaya Bondowoso. Surabaya, Papyrus, 2004. hlm. 112-114

Pemerintahan Bondowoso 1854 – 2007

PADA tahun 1854 Ki Ronggo I Kertonegoro wafat dan dimakam- kan di Asta Tinggi Sekarputih Bondowoso. Beliau menjabat antara 1819-1830. Penggantinya putra Ki Ronggo sendiri, bernama Djoko Sridin. Waktu menjabat (1830-1858) bergelar M. Ng. Kertokesumo dengan predikat Ronggo ke II. Berkedudukan di kabupaten lama Blindungan.

Pada tahun 1850 setelah 20 tahun Ronggo II memegang kendali pemerintahan, pemerintah Hindia Belanda mengangkat seorang Bupati untuk wilayah Bondowoso dan Panarukan dalam struktur pemerintah Hindia Belanda. Pejabatnya seorang Patih Probolinggo bernama Raden Abdoerachman, dengan gelar Raden Tumenggung Wirodipuro. Maka terjadilah dualisme dalam pemerintahan antara tahun 1850-1858.

R. Abdoerachman adalah garis keturunan keempat dari Ki Patih Alus Wirodipuro Besuki. Beliau adalah putra Sugoto alias Marto- dipuro, sedang Sugoto adalah putra R. Sahidurin alias R. Wirodipuro II. Sahidurin putra R Bagus Kasim alias R Wirodipuro I, yang lebih dikenal masyarakat dengan sebutan Kiai Patih Alus.

Dalam menjalankan pemerintahannya, R. Tumenggung Wiro- dipuro menetap di Prajekan, menyadari bahwa pimpinan pemerin- tahan masih dijabat oleh Ki Ronggo II Mas Ngabehi Kertokesumo. Maka untuk mengatasi dualisme tersebut, pemerintah Hindia Belanda kemudian mengangkat Mas Ngabehi Kertokesumo menjadi Tumenggung Bondowoso, yang kemudian di pensiunkan.

Setelah dibangunkan kediaman di Nangkaan, maka Tumeng­gung Wirodipuro pindah. Mula-mula di kota Kulon, kemudian ke Nangkaan (gedung yang pernah di tempati asrama sosial Sukomulyo, di bawah Departemen Sosial). Dengan demikian Tumenggung Wiro­dipuro yang diangkat 1850 adalah Bupati pertama yang diangkat secara resmi oleh Gubermen Hindia Belanda sebagai Bupati (Re­gent) Kabupaten Bondowoso. Adapun putra M. Ng. Kertokesumo Ronggo II yang bernama Joko Suwondogeni, waktu itu masih kecil dan diasuh Tumenggung Wirodipuro. Setelah dewasa ia lalu di- nikahkan dengan salah satu putrinya yang bernama Jaleha.

Pada tahun 1879 Tumenggung Wirodipuro wafat. Jabatan Bupati Bondowoso digantikan kepada putranya menantu beliau, yaitu Joko Suwondogeni, dengan gelar R. Wondokusumo. Beliau memerintah antara tahun 1879-1891. Wilayah kekuasaannya meliputi Kabupaten Bondowoso,Jember, dan Panarukan (Situbondo sekarang). Dengan demikian jabatan bupati (regent) di Bondowoso kembali dipegang oleh keturunan langsung dari Kiai Ronggo I lagi. Kedudukan beliau kembali ke tempat lama di Jalan K Ronggo (Kabupaten Lama).

Pada tahun 1891 Bupati R Wondokusumo wafat, lalu digantikan putranya yang bernama Ismail dengan gelar R. Kertosubroto sebagai bupati Bondowoso. Pada tahun 1901 dibangunlah pendopo kabupa­ten Bondowoso sebagaimana yang ada sekarang ini. Pendopo ini ditempati beliau dari tahun 1902-1908 saat wafatnya.

Berikut nama-nama Bupati yang pernah memerintah di Kabupaten Bondowoso, yang secara formal mendapat pengesahan dari pejabat atasannya yang berwenang, sesuai peraturan yang berlaku saat itu, kecuali bupati adat Ki Ronggo Kertonegoro dan putranya Ki Kertokusumo atau Ronggo II :

  • RT Adipati Abdoerahman Wirodipuro (1850 – 1879)
  • RTA. Wondokusumo (1879 – 1891)
  • KRTAA. Kertosubroto (1891 – 1908)
  • RT. Senthot Sastroprawiro 1908 – 1925)
  • RTA. Tirtohadi Sewojo (1925 – 1928)
  • RT. Prodjodiningrat (Notodiningrat) (1928-1934)
  • RT. Herman Hidajat (1934 – 1938)
  • RT. Sjaifudin Admosoedirdjo (1938-1945)
  • RT. Soetandoko (1945 – 1946)
  • RT. Saleh Soerjoningpridjo (1946 – 1949)
  • RT. Badroes Sapari (1949 – 1950)
  • RT Koesno Koesoemowidjojo(1950 – 1951)
  • RT. Soedarmo Soemodiprodjo(1951 – 1956)
  • R. Soedjarwo (1957)
  • R. Soetowo (1957 – 1958)
  • Djoemadi Moespan (1958 – 1959)
  • R. Soetowo (1960 – 1964)
  • R. Soemarto Partomihardjo (1964 – 1965)
  • R. Arifin Djauharman(1965 – 1973)
  • R. Soerono (1973 – 1978)
  • Mochamad Suardhi (1978 – 1983)
  • Mochamad Riva’i (1983 – 1988)
  • H. Agus Sarosa (1988 – 1993)
  • H. Agus Sarosa (1993 – 1998)
  • Dr. H. Mashoed MSi (1998 – 2003)
  • Dr. H. Mashoed MSi (2003 – 2008)

hlm.  74

Pemberontakan Ario Gledak Ditumpas, Kabupaten Bondowoso

Negeri Puger kedatangan pemberontak. Patih Puger Reksonegoro belum sempat menghubungi Ki Kertonegoro di Bondowoso, tiba- tiba Puger telah dikacaukan dengan datangnya gerombolan pem­berontak sebanyak 400 orang yang dipimpin oleh Ario Gledak, dengan panglima perangnya Abdurrasid. Peristiwa ini terjadi antara 1816-1818.

Penduduk desa banyak yang menyerah. Alun-alun Puger di- duduki dan penduduk diperintahkan bersorak-sorai sebagai tanda kemenangan. Pendopo pun telah dikepung. Waktu itu Patih Puger ada di dalam puri, dan dia kebingungan. Hendak melawan namun jumlah musuhnya terlalu besar. Namun untuk menyerah pun dia merasa malu sekali. Mau lari, takut terbunuh. “Lebih baik berpura- pura saja,” pikirnya.

Tahu-tahu pemberontak masuk dengan pedang terhunus dan mengancamnya. Dia pun terpaksa menyerah. Lalu Patih dilepaskan. Kemudian Patih menyuruh juru tulisnya menulis surat kepada Ki Patih Bondowoso. Isinya memberi tahu bahwa Puger telah dikuasai musuh besar. Semua mantri Puger telah menyerah. Ia belum melakukan pertempuran namun telanjur ditodong oleh pemberon- tak. Ario Gledak dan Abdurrasid beserta pasukannya esok paginya diketahui akan berangkat menuju Bondowoso.

Begitu Ki Patih Kertonegoro membaca surat Patih Puger, beliau marah. Pasukan disiapkan untuk menghadang musuhnya. Pasukan telah siap di Desa Sumberpandan. Karena hari telah malam, maka atas saran mantrinya terpaksa malam itu ber-mesanggrah di situ. Esok paginya perjalanan dapat dilanjutkan.

Pada malam itu juga datanglah utusan Ki Patih Ario Gledak menyampaikan surat kepada Patih Kertonegoro. I si surat itu mem- beri tahu bahwa Ario Gledak esok pagi akan pergi menuju Besuki untuk “menata agama warga Besuki” (mendamaikan pertentangan agama). Untuk itu ia perlu singgah sebentar di Bondowoso. Diminta- nya Patih Kertonegoro untuk menyediakan jamuan bagi mantri dan pasukannya.

Sebagai orang yang telah menguasai surat-menyurat serta diperkaya dalam pengalaman membabat hutan yang memerlukan otot baja, maka kedua surat itu segera dapat ditangkap isinya: perlu berhati-hati serta waspada. Pertama, dipersiapkan medan untuk bertempur menghadapi lawan. Diadakanlah pertemuan untuk mem bicarakan di mana sebaiknya perang itu dilakukan. Dalam hal ini diperlukan siasat perang. Rapat memutuskan bahwa perang sebaik­nya dilakukan di Sentong. Kedua, perlu dibuat surat untuk Ki Patih Besuki yang isinya memberitahu bahwa Puger telah jatuh ke tangan musuh. Ki Patih dan para mantrinya telah menyerah, takluk kepada pemberontak. Besok pagi pemberontak akan tiba di Bondowoso.

Ketika menerima surat itu dan membacanya, Patih Besuki merasa heran. Bagaimana mungkin Patih Puger menyerah begitu cepat padahal belum melakukan perlawanan? Apakah ia sekadar mencari selamat? Tapi hal itu akhirnya disadarinya. Ia menyerahkan- nya pada kehendak Tuhan.

Sementara itu surat kepada Ario Gledak juga disusun dengan menggunakan kalimat-kalimat yang halus tetapi penuh makna yang dalam. Jika surat itu tidak dipahami benar-benar, surat itu akan memberi kesan bahwa Patih Kertonegoro telah menyerah. Isi surat itu menyebutkan bahwa Patih Kertonegoro senang sekali atas kehen- dak Ario Gledak singgah di Bondowoso. Telah disiapkan jamuan makan serta tempat peristirahatan secukupnya sebagai layaknya orang menyambut tamu. Hanya tinggal memotong lembu dan kambingnya. Kedatangan Ario Gledak sangat dinantikan. Hanya permintaan Ki Patih, jika benar Ario hendak berdamai, maka sebaik- nya persenjataan diletakkan, sebagai tanda hati yang suci, bebas dari rasa curiga dan syak-wasangka.

Ario Gledak merasa lega hatinya setelah membaca surat Patih Kertonegoro. Perang tanpa perlawanan. Tanda bahwa Patih Bondowoso menyerah. Buktinya ia bersedia menjamin menyediakan jamuan makan.

Ada beberapa versi cerita mengenai siasat Ki Patih Kertonegoro dalam menghadapi Ario Gledak. Naskah-naskah yang ditulis mutak- hir menyebutkan adanya siasat peperangan di jembatan Gronggong, sebelah utara Sentong. Sedangkan naskah lama, misalnya yang ditulis M Soeroto dalam Babad Bondowoso (1919) sama sekali tidak menye­butkan hal itu.

Setelah Ario Gledak dan pasukannya datang, peperangan pun tak terhindarkan. Perang tanding adu ketangkasan memainkan pedang dan parang berlangsung dengan sengit. Pasukan Ario Gledak akhirnya terdesak mundur. Mereka terus dike jar. Yang melawan di- bunuh, yang menyerah diborgol. Panglima perang Abdurrasid dapat dipenggal lehernya. Pasukan Bondowoso terus mengejar sisa-sisa pemberontak yang melarikan diri.

Akhirnya Ario Gledak pun tertangkap, kemudian dieksekusi. Kepalanya dan kepala Abdurrasid diarak oleh orang-orang ke lapangan Desa Mandar. Di sanalah kedua kepala pemberontak yang terpenggal itu diletakkan di dang pancang untuk dipertontonkan kepada khalayak ramai.

Patih Kertonegoro terus mengejar lawan. Tiba-tiba ia bertemu dengan Patih Puger yang bersikap “pura-pura” menyerah itu. Ki Patih Kertonegoro kemudian menghunuskan pedang Tunggul Wulung buatan Bawean kepada Patih Puger. Mendengar rintihan Patih Puger meminta belas kasihan, serta mengutarakan alasan se- benarnya ia menyerahkan diri kepada Ario Gledak, maka Ki Kertonegoro pun memaafkannya.

Dalam pengejarannya, Ki Kertonegoro sampai di Puger dan berhadapan dengan pasukan pemberontak yang menyerah. Mereka kemudian dibawa ke Bondowoso, lalu dibawa menghadap ke Residen Besuki. Tawanan itu akhirnya dibuang ke Banjarmasin.

Versi lain menyebutkan bahwa siasat Ki Patih Kertonegoro menghadapi Ario Gledak adalah dengan cara melepaskan atau mengendurkan pancang-pancang tiang jembatan Sungai Gronggong. Versi ini termuat dalam naskah sejarah:

  • Tulisan tangan Moen’am Wondosubroto, 1938, Babad Besuki, bersambung dengan Babad Bondowoso.
  • H. Abd. Razaq Q dan SS Sidik, 1974, The Origin of Bullfight Connected with the History of Bondowoso.
  • Sabarudin, Bagian Politik/Keamanan Daerah Kabupaten Bondowoso, 1967, Sejarah Kota Bondowoso.

Agak berlainan lagi hasil kerja Tim Tujuh Pembuatan Sejarah Bondowoso yang menyusun naskah Ringkasan Sejarah Berdirinja Kabupaten Bondowoso pada 1992. Seperti halnya tulisan Soeroto (1919), tim ini sama sekali tidak mengemukakan siasat “jembatan Sungai Gronggong”. Ketiga penulis sejarah di atas mendramatisasi- kan peristiwa tipu muslihat jembatan Sungai Gronggong dengan sangat indah. Disebutkan bahwa Ario Gledak, Abdurrasid, dan Pasukannya, dengan gembira menyambut penghargaan Patih

Kertonegoro. Jembatan itu dihiasi janur dan bunga-bungaan layaknya menyambut kedatangan tamu padahal tiang-tiang pancang jembatan itu sudah dilonggarkan supaya bisa runtuh kalau dilewati pasukan pemberontak.

Dibuatkan pula barak tempat perisdrahatan di sebelah utara sungai dan dihiasi janur kuning serta bunga-bungaan, juga tempat menjamu para tamu agung yang dilengkapi gamelan untuk meng- hibur. Untuk menjaga keamanan, di sebelah utara disiapkan pasukan pengawal dan penjaga keamanan dengan pakaian seragam dan per- senjataan lengkap. Tetapi di sebelah selatan sungai disiapkan pasukan penyamar yang terlatih di tempat-tempat strategis untuk memukul habis pasukan Ario Gledak.

Begitu Ario Gledak dan pasukannya datang, mereka disambut dengan bunyi gamelan yang bertalu-talu. Ario Gledak mengira bahwa ia disambut sungguh-sungguh. Tidak disadari bahwa gamelan di- bunyikan sebagai tanda mulai penyerangan.

Peperangan pun dimulai. Pasukan penyamar memukul dari selatan sungai, sedangkan pasukan dari utara terus mendekat ke tebing sungai di sebelah utaranya. Pasukan Ario masuk perangkap melewati jembatan, dan jembatan pun runtuh. Pasukan kuda dan lain-lainnya terjatuh ke sungai. Kesempatan baik bagi pasukan Padh Kertonegoro untuk membinasakannya. Ario Gledak dan Abdurrasid tertangkap lalu dipenggal lehernya. Sisa pasukannya lari terbirit- birit, mundur, menghilang untuk lapor kepada Patih Puger.

Pasukan Patih Kertonegoro terus mengejarnya. “Dua kepala pemberontak” Ario dan Abdurrasid dibawa ke Mandar, lalu digan- tung di tiang pemancang di tengah lapangan untuk dipertontonkan kepada rakyat. Penduduk sangat takut pada keberanian pasukan Patih Kertonegoro.

Ketiga penulis sejarah tersebut menyebutkan bahwa kepala Ario Gledak dan Abdurrasid itu kemudian ditanam di tengah alun-alun Bondowoso dengan upacara resmi. Naskah Abd. Razaq Q dan SS

Sidik yang menyebut upacara pemakaman kepala pemberontak di alun-alun Bondowoso dengan dihadiri segenap rakyatdari berbagai kalangan itu, adalah dongeng belaka.

Yang menarik, waktu pemakaman itu akan dimulai, Ki Ronggo masih sempat membacakan pidato berapi-rapi yang isinya meng- ancam siapa saja yang sombong dan hendak mengganggu serta meng- gulingkan pemerintah, akan bernasib seperti Ario Gledak dan Abdurrasid.

Demikianlah kisah pemberontakan Ario Gledak itu diakhiri dengan kemenangan di pihak Patih Kertonegoro. Atas jasa-jasanya, beliau dihadiahi uang sebesarf4.000. Puger pun dilepaskan menjadi Kademangan di bawah kekuasaan Ronggo Kertonegoro Bondowoso.

Sabarudin dalam naskahnya menafsirkan hadiah/ 4.000 itu sebagai akhir hubungannya dengan pemerintah Belanda. Kompeni merasa dilangkahi karena Ki Ronggo mengambil kebijakan sendiri tanpa seizin belanda. Itulah sebabnya pada 1830 beliau diberhenti- kan dari jabatannya sebagai Ronggo I dan digantikan oleh putra keduanya yaitu Raden Kertokusumo [::]

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Dr. H. Mashoed MSi. Sejarah dan Budaya Bondowoso. Surabaya, Papyrus, 2004. hlm. 68- 73

Dr. H. Mashoed MSi, Kabupaten Jombang, Kabupaten Bondowoso

Dr. H. Mashoed MSi.16 Agustus 1942, Dr. H. Mashoed MSi, lahir di Jombang, Jawa Timur, Indonesia.

Tahun 1956, Mashoed kecil menempuh  pendidikan di Sekolah Rakyat.

Tahun 1959, Mashoed muda melanjutkan pendidikan di Sekolah Guru B.

Tahun 1962, Mashoed muda melanjutkan pendidikan di Sekolah Guru A.

Tahun 1973, Mashoed menyelesaikan pendidikan dari Fakultas Ketatanegaraan dan Ketataniagaan (FKK) Jurusan Administrasi Niaga Universitas 17 Agustus, Surabaya.

Tahun 1996, Mashoed menempuh lanjutan Pendidikan di Program Pasca Sarjana Universitas 17 Agustus, Surabaya (Magister).

Tahun 2004, Mashoed menempuh jenjang Doktor. Menulis disertasi dengan tema Kebijakan Pemberdayaan Masyarakat Miskin di Desa Terisolasi.

Tahun 1962-1970, Mengawali karier sebagai guru dan dosen di Jombang.

Tahun 1984, Mengikuti pendidikan kedinasan dan tingkat Sekolah Pimpinan Administrasi Tingkat Madya (Sepadya) di Yogyakarta.

Tahun 1989, Dr. H. Mashoed MSi Sekolah Staf dan Pimpinan Administrasi (Sespa) di Jakarta.

Tahunn 1970-1983, mengawali kariernya di pemerintahan dimulai sebagai Kepala Bagian Keuangan Kabupaten Jombang.

Tahun 1983-1987, menjabat sebagai Kepala Bidang Penjenjangan Diklat Pemda Jawa Timur,

Tahun 1987-1992, menjabat sebagai Kepala TU Diklat Pemda Jawa Timur.

Tahun 1992-1994, menjabat sebagai Kepala Biro Kepegawaian Pemda Jawa Timur.

Tahun 1994-1997, dan Kepala Diklat Pemda Jawa Timur.  Sebagai Kadiklat dan Widyaiswara aktif mengajar di sekolah penjenjangan atau kedinasan antara lain, Kursus Bendaharawan, Pemerintahan, Sepada (Sekolah Pimpinan Tingkat Dasar), Sepala (Sekolah Pimpinan Tingkat Lanjutan), dan Sepadya (Sekolah Pimpinan Madya). Selain aktif memberikan ceramah di berbagai tempat, ia juga menghasilkan karya tulis yang berkaitan dengan motivasi, supervisi, kepemimpinan, dan dinas-staf.

Tahun 1998-2003, menjabat sebagai Bupati Bondowoso.

Tahun 2003, terpilih kembali sebagai Bupati Bondowoso periode 2003-2008. Memperoleh penghargaan ‘ dari pemerintah bidang Koperasi, Kesehatan, Pertanian, Ketahanan Pangan, Pramuka, dan Satya Lencana Karya Satya untuk 10,20, dan 30 tahun. Sebagai Bupati Bondowoso, banyak mencurahkan pikiran dan membuat kebijakan yang berkaitan dengan kegiatan pemberdayaan masyarakat miskin dan marjinal di daerah terisolasi. Tidak hanya dalam bentuk program-program pembangunan, tetapi juga lewat pendidikan luar sekolah.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Dr. H. Mashoed MSi. Sejarah dan Budaya Bondowoso. Surabaya, Papyrus, 2004. hlm. Sampul Belakang

Dari Pamekasan ke Besuki

Tahun 1743, terjadi peristiwa penting di Pamekasan, Madura. Saat itu terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh Kiai Lesap, putra selir dari Panembahan Tjakraningrat V. Pemberontakan itu bermotifkan tuntutan hak suksesi Kiai Lesap kepada pemerintahan Pangeran Tjakraningrat di Pamekasan. Pemberontakan itu menimbulkan peperangan yang dahsyat antara kedua belah pihak yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban. Perang itu bahkan melibatkan Bupati Pamekasan Tumenggung Adikoro IV. Tumenggung Adikoro IV adalah putra menantu Panembahan Tjakraningrat V. Ia ikut terlibat mempertahankan Kerajaan Pamekasan. Namun akhirnya Tumenggung Adikoro IV gugur di Desa Bulangan. Karena meninggal di desa itu maka ia mendapat sebutan Kiai Penembahan Bulangan.

Tahun 1750, pemberontakan itu dapat dipadamkan dengan tewasnya Kiai Lesap. Pemerintahan pun kemudian dapat dipulihkan. Selanjutnya diangkatlah putra Tumenggung Adikoro IV yang bernama Tumenggung Adipati Tjakraningrat. Namun kekuasaan pemerintah- annya tidak berlangsung lama, karena terjadi lagi perebutan ke­kuasaan. Selang beberapa waktu kemudian pemerintahan diserahkan kepada Tjakraningrat I, putra Adikoro III yang kemudian bergelar Tumenggung Sepuh. Saat itu pula diangkadah seorang patih ber- nama Raden Bilat yang sedang bermusuhan dengan keluarga Adikoro IV.

Untuk mencegah terjadinya percekcokan yang mendalam dan demi keselamatan cucu kesayangannya, Raden Bagus Assrah, Nyi Seda Bulangan kemudian mengasingkan cucunya ke wilayah Besuki, yaitu di sekitar Paiton, di Desa Binor. Pada waktu itu terjadilah gelombang eksodus besar-besaran dari pengikut Adikoro IV ke luar Pulau Madura. Selanjutnya Nyi Seda Bulangan tinggal menetap di Binor, dekat Paiton-Besuki. Orang-orang kemudian lebih mengenal Nyi Seda Bulangan sebagai Nyi Binor.

Pada sekitar masa itu pemerintahan di Besuki dipimpin oleh Bupati Tumenggungjoyolelono di Banger (Probolinggo). Maka sebagian wilayah Sentong (yaitu Besuki) dimasukkan ke dalam wilayah Probolinggo. Hal itu terjadi setelah Wirobroto berhasil mengajak rakyat di Tanjung, Pamekasan, untuk eksodus ke daerah Besuki.

Desa pertama yang telah dibabat dinamai Demung Maduran, sesuai dengan kondisinya yang banyak dihuni pendatang dari Madura. Lama kelamaan banyak pendatang yang mengikuti jejak Wirobroto untuk bercocok tanam. Motif utama kepindahan mereka adalah karena di Madura sedang terjadi paceklik akibat lama tidak turun hujan. Petani tidak bisa bercocok tanam. Peristiwa itu seiring dengan eksodusnya keluarga Adikoro IV pada tahun 1743 karena alasan politis. •

Karena jasanya itu maka Wirobroto oleh Tumenggung Joyo lelono diangkat menjadi Demang Besuki yang berkedudukan & Demung Maduran. Putra Wirobroto yang bernama Kasim sejak kecil sudah memiliki tanda-tanda bahwa kelak ia akan menjadi pemimpinyang arif dan bijaksana. Ia pun bisa memperlihakan tanda-tanda sebagai seorang anak yang cerdas lagi bijak. Kasim lama berguru kepada Tumenggung Joyolelono, bahkan kemudian diambil menantu.

Karena usia Wirobroto telah lanjut, jabatan Demang Besuki digantikan kepada Ki Bagus Kasim pada 1760. Kemudian karena budi pekertinya yang halus dan luhur, orang mengenal dia dengan sebutan Demang Alus. Setelah menjabat Patih, ia pun disebut Patih Alus.

Setelah Kiai Tumenggung Joyolelono dipecat, Kademangan Besuki didngkatkan statusnya menjadi Kabupaten Besuki. Maksud VOC meningkatkan status Besuki menjadi kabupaten adalah untuk menghidupkan dan meningkatkan fungsi pelabuhan Besuki yang dinilai sangat strategis untuk menguasai jalur lalu-lintas perdagangan di laut, di samping itu sebagai pintu masuk VOC ke daerah pe- dalaman sampai di Puger.

Keberadaan Nyi Binor dan cucunya Bagus Assrah akhirnya tercium juga oleh Kiai Patih Alus Besuki. Semula Nyi Binor sempat khawatdr mengenai cucunya itu, tapi ternyata tidak. Kiai Patih Alus yang dikenal sebagai seorang yang linuwih, bijaksana, dan ambek paramarta itu, begitu melihat raut muka Bagus Assrah mengatakan kepada Nyi Binor bahwa kelak anak itu akan menjadi orang besar yang ternama sehingga perlu diberi bekal ilmu pengetahuan yang akan dibutuhkan olehnya kelak.

Mendengar perkataan Kiai Patih Alus, legalah hati Nyi Binor. Akhirnya demi masa depan cucunya yang sangat dicintainya itu, Bagus Assrah diserahkan untuk mengabdi kepada Kyi Patuh Alus. Di sana Bagus Assrah diterima dengan baik dan diperlakukan sebagai keluarga Kiai Patih Alus sendiri.

Bagus Assrah langsung mendapat gemblengan dari Patih Alus dalam bermacam-macam ilmu pengetahuan dan agama, serta olah keterampilan. Kelak semua ilmu itu sangat bermanfaat bagi bekal hldup Bagus Assrah.

Sementara itu setelah Besuki dinaikkan statusnya menjadi kabupaten, maka VOC menggadaikannya kepada bangsa Cina untuk menutupi utang-utangnya. Maklumlah selama VOC berkuasa, korupsi merajalela dalam pemerintahannya.

VOC pun lantas menunjuk bupati pertamanya yaitu seorang keturunan Cina bernama Tjing Sin. Ia diangkat sebagai Bupati Ronggo di Besuki dengan gelar Ronggo Supranolo pada 1768. Untuk me- ngembangkan daerah Besuki, Bupati Ronggo Supranolo mengangkat putra menantunya bernama Ang Tjian Pik menjadi Kapten sehingga dikenal dengan nama Kapten Bwee.

Bupati Ronggo Supranolo adalah keturunan Cina yang beragama Islam, termasuk keluarga dinasti Kesepuhan (Surabaya) yang terkenal sebagai alim ulama yang disegani. Karisma itu dipergunakan oleh Bupati Ronggo Supranolo untuk menyebarkan agama Islam di Besuki, sebab di sana masih banyak penduduk yang kehidupannya masih bersifat animistis. Hal itu mengundang simpati masyarakat sehingga beliau dikenal dengan sebutan Kiai Ronggo Supranolo. Berkat kepemimpinan Kiai Ronggo Supranolo, Besuki berhasil menjadi kota pelabuhan yang cukup ramai sehingga Pelabuhan Panarukan menjadi sepi karena kalah saingan.

Tahun 1773, Kapten Bwee menggantikan mertuanya menjadi Bupati-Ronggo Besuki dengan gelar Kiai Ronggo Suprawito. Ke- dudukan itu tak lama dijabatnya karena ia wafat pada 1776. Sebagai penggantinya ditunjuk Babah Panjunan namun jabatan itu tak lama dipangkunya karena beliau dipromosikan menjabat Bupati-Tumenggung di Bangil. Sebagai penggantinya, VOC menunjuk saudara sepupunya yang bernama Babah Midun menjadi Bupati Besuki dengan gelar Kiai Suroadikusumo.

Untuk mendapatkan simpati masyarakat, Kiai Suroadikusumo mengangkat mantan Demang Besuki yaitu Kiai Demang Alus atau yang juga dikenal sebagai Demang Wirodipuro untuk menjadi Patih Besuki. Sejak saat itulah ia mendapat sebutan Patih Alus Besuki di masyarakat Besuki.

Pada suatu ketika Bupad Ronggo-Besuki Kiai Suroadikusumo membutuhkan seorang calon pegawai atau kader yang kelak akan dididik menjadi ahli pemerintahan. Sudah barang tentu si calon hendaklah seorang yang cerdas, tampan, dan mampu menguasai berbagai masalah kenegaraan dan ilmu pengetahuan, serta hal-hal yang berkenaan dengan ilmu administrasi.

Kiai Patih Alus yang sangat mengetahui kualitas dan pribadi Bagus Assrah, lalu mengusulkannya sebagai calon. Ternyata Bagus Assrah diterima, selanjutnya ia menjadi pegawai di Kabupaten Besuki.

Karena Kiai Suroadikusumo dengan istrinya Nyi Rambitan tidak dikaruniai putra, maka Bagus Assrah diambil sebagai anak angkat- nya. Nyi Rambitan menerimanya dengan senang hati, lalu mendidik dan memperlakukannya sebagai anak sendiri. Kasih sayang Kiai Ronggo Besuki bersama istrinya kepada Bagus Assrah makin men- dalam.

Ada beberapa hal yang menjadikan kedua orang tua angkatnya itu semakin tertarik kepada Bagus Assrah. Selain karena baktinya secara tulus ikhlas kepada kedua orang tua, juga karena perangai dan sikap ramah yang membuat setiap orang simpatik kepadanya. Di samping itu Kiai Ronggo telah merasakan firasat yang menun- jukkan kebesaran pada anak itu yaitu berupa sinar cahaya gaib yang memancar dari tubuhnya di kala ia tidur pada malam hari.

Setelah Bagus Assrah lulus dalam mengikuti pelajaran ketata- negaraan, ia kemudian diberi tugas untuk menarik upeti (pajak) serta ikut menangani dan memecahkan berbagai persoalan umum dalam bidang pemerintahan. Semuanya dapat dia dikerjakan dengan baik. Dengan keberhasilannya itu maka Bagus Assrah diangkat menjadi Mantri Anom dengan nama Abiseka (gelar) Mas Astrotruno.

Karena dorongan yang kuat untuk memperoleh anak sendiri, maka atas pertimbangan keluarga (Nyi Rambitan) dan terutama Kiai Patih Alus, pada 1768 Kiai Ronggo Besuki Suroadikusumo melamar putri Panembahan Somala, Bupati Sumenep, untuk dijadikan istrinya.

Perkawinannya dengan putri Panembahan Somala bukan hanya bertujuan memperoleh keturunan, tetapi juga untuk menaikkan kewibawaan dalam pemerintahan, sesuai dengan petunjuk Ki Patih Penarukan Ki Surodiwiryo, karena istri keduanya itu masih cucu seorang alim ulama besar yang tersohor di Sumenep yaitu Bindara Sa’od, ayah Penambahan Somala. Selain itu ia juga masih keturunan Pangeran Katandur, seorang alim ulama besar pada waktu itu.

Ternyata dalam perkawinannya yang kedua ini pun Kiai Ronggo- adikusumo tidak mendapatkan keturunan sebagaimana yang di- idamkan selama ini. Oleh karena itu Nyi Suroadikusumo lalu me- ngambil anak angkat dari keponakannya sendiri yang bernama Raden Ario Bambang Sutikno. Kedua anak angkat Kiai Suroadikusumo tersebut kelak menjadi tokoh sejarah. Bagus Assrah menjadi tokoh sejarah Bondowoso dan Raden Ario Bambang Sutikno yang kemu­dian bergelar Kanjeng Pangeran Prawirodiningrat menjadi tokoh sejarah di Besuki-Panarukan.

Pada 1795 Patih Puger Raden Tumenggung Prawirodiningrat wafat. Kemudian VOC mengangkat Kiai Ronggo Suroadikusumo menjadi Bupati Tumenggung di Puger dengan gelar Kiai Suryo- adikusumo. Namun karena Kiai Patih Alus menolak untuk dipindah- kan ke Puger mengikuti Tumenggung, maka untuk sementara waktu pusat pemerintahannya berada di Besuki. Pada waktu itu Kiai Patih Alus sudah amat tua.

Pada 1801 Kiai Patih Alus wafat. Jenazahnya dikebumikan di Desa Demung Besuki (Kampung Arab) sehingga pusat pemerintahan Tumenggung Puger pun dipindahkan ke tempat yang semestinya yaitu di Puger. Pengangkatannya ke Puger memakai gelar Maulana Kiai Suroadiwikromo.

Menurut rumusan Tim Tujuh Pembuatan Sejarah Bondowoso yang naskahnya disusun pada 28 April 1976 No. HK. 031/474/ 1976, erat kaitannya dengan tahun Candrasengkala 1728 Komariyah Sura Dwi Wiku Grama  atau 1801 M. (Sura / 8 ; Dwi / 2; Wiku / 7; Grama / 1 = 1728 Hijriyah).

Tahun 1806, beliau dipindahkan lagi ke Besuki dengan jabatan Adipati. Sebagai penggantinya kemudian diangkatlah Babah Panderman, putra Tumenggung Leder, dengan gelar Kiai Tumenggung Suryoadiningrat. Pada 1813 Kiai Suroadiwikromo wafat dan dimakamkan di Bangil [::]

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Dr. H. Mashoed MSi. Sejarah dan Budaya Bondowoso. Surabaya, Papyrus, 2004. hlm. 55- 61

Bondowoso Menjelang Akhir Abad ke-18

PERISTIWA sejarah adalah peristiwa perubahan sosial yang terjadi pada suatu masa tertentu. Keberadaannya tidak berdiri sendiri, tetapi selalu merupakan rangkaian peristiwa sebelumnya dan dipengaruhi oleh situasi serta kondisi sosial sekelilingnya. Situasi politik di sekitar wilayah Bondowoso tidak menentu waktu itu, ada empat kekuasaan yang berpengaruh, yaitu:

Di Sebelah Timur

Di sebelah timur Bondowoso terdapat kerajaan Blambangan, kerajaan Hindu yang bebas dari pengaruh Sunan Mataram maupun VOC. Selama kurang lebih dua puluh satu tahun (1670-1691) Ke­rajaan Tawang Alun di bawah pimpinan Sunan Blambangan masih merdeka penuh. Tetapi setelah Sunan wafat, Blambangan jatuh ke tangan Belanda. Ketika kerajaannya digempur Belanda, Mas Alit, adik Raja Belambangan, melarikan diri. Belanda kemudian meng- angkatnya menjadi bupati di Banyuwangi dengan gelar Tumenggung

Wiraguna. Bali pun ditaklukkan Belanda pada 1764. Data tersebut menunjukkan bahwa daerah Banyuwangi dan sekitarnya dipengaruhi kerajaan Hindu namun dibayang-bayangi kekuasaan Belanda.

Di Sebelah Barat

Di sebelah barat wilayah Bondowoso ada Tumenggung Joyo- lelono yang berkuasa di Banger (Probolinggo), yang juga dibayang- bayangi oleh kekuasaan kompeni Belanda yang bermarkas di Bangil. Kekuasaan kerajaan Mataram telah jatuh ke tangan Belanda. Paku Buwono I dipaksa menyerahkan beberapa wilayah kekuasaannya kepada Belanda, yaitu Demak, Rembang, Jepara, dan seluruh daerah di sebelah timur Pasuruan kepada VOC pada 1743.

Di Sebelah Utara

Di sebelah utara ada Demang Tisman, penguasa wilayah Pana- rukan yang dibayang-bayangi kekuasaan Blambangan. Kompeni Belanda mencurigainya. Ketika Kompeni Belanda hendak menak- lukkan Panarukan dengan bantuan pasukan Tumenggung Arya Nata Kusuma dari Sumenep, maka Demang Tisman disarankan oleh Patih Wiradipura Besuki supaya tidak melakukan perlawanan. Tetapi toh akhirnya Demang Tisman diberhentikan dari jabatannya dan diganti kan oleh seorang anggota keluarga dari Sumenep. Peristdwa ini terjadj pada 1768.

Situasi wilayah Bondowoso:

Di Bondowoso ada penguasa Sentong yang termasuk wilayah kekuasaan Blambangan. Wilayah Bondowoso pada waktu itu meliputi pesisir utara Pulau Jawa, mulai dari Banger (Probolinggo) sampai Panarukan-Banyuwangi. Penguasa Sentong merasa risih karena wilayah kekuasaannya di pesisir utara dikuasai oleh Joyo- lelono Probolinggo. Berkali-kali terjadi sengketa perbatasan antara kedua penguasa.

Di Sebelah Selatan

Daerah Puger yang semula dikenal dengan nama Blambangan Wetan pada akhir 1768 dapat dikuasai oleh VOC, setelah cucu dari Untung Suropati yang bernama Wironggoro, Malaya Kusuma, dan Kertonggoro, gugur di sekitar Lumajang dalam perjuangannya mati matian menentang kekuasaan Belanda. Kemenangan VOC tersebut mengakibatkan bercokolnya kekuasaan kompeni Belanda di Puger.

Perlu diketahui bahwa kemenangan VOC tersebut bukan semata- mata karena kekuatan pasukan VOC yang besar dan lengkap, serta dengan persenjataan modern, tetapi karena politik divide et impera, mengadu domba bangsa kita sendiri, sehingga di antara penguasa bangsa kita turut membantu memenangkan kekuasaan kompeni Belanda, antara lain Bupati-Adipati Pasuruan (Kanjeng Lemper) dan Panembahan Tjakraningrat V dari Bangkalan. Sebagai tanda terima kasihnya, maka VOC mengangkat putra Kanjeng Lemper (Bupati-Adipati Pasuruan) sebagai Patih Puger dengan gelar Raden Tumenggung Prawirodiningrat pada 1768.

Data sejarah di atas membuktikan bahwa pada pertengahan abad ke-18 wilayah Bondowoso berada dalam keadaan terkepung oleh kompeni Belanda. Walaupun demikian kompeni Belanda tidak sampai menjadi penguasa di wilayah-wilayah yang dipandang masih rawan; hanya mengangkat penguasa-penguasa bangsa kita sebagai kepanjangan tangan kekuasaannya. Penguasa-penguasa yang sekiranya membahayakan kekuasaan Belanda, langsung diberhentikan dan diganti penguasa lain yang sudah jelas memihak Belanda. Misalnya Bupati Tumenggung Kiai Joyolelono yang memerintah Probolinggo (1746-1768) digantikan oleh Tumenggung Joyonegoro dari keluarga Kasepuhan dari Surabaya. Beliau masih ada hubungan keluarga dengan Panembahan Tjakraningrat V di Bangkalan.

Adapun penyebab dipecatnya Bupati Tumenggung Joyolelono sebagai Bupati Probolinggo antara lain disebabkan beliau hanya kurang antusias membantu ketika VOC menyerbu Puger dan Lumajang.

Ia hanya mengirimkan putra menantunya yaitu Kiai Demang Alus yang pada waktu itu menjadi demang di Besuki. Dari kenyataan itu dapat ditarik kesimpulan bahwa wilayah Bondowoso waktu itu adalah wilayah yang “mengambang” atau “daerah tak bertuan”. Tidak ikut menjadi wilayah Blambangan, tidak pula menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Belanda. Belum jelas nama penguasa Bondo­woso (Sentong) waktu itu. Maka boleh dikatakan daerah Bondowoso disebut daerah terra incognita (daerah yang belum dikenal). [::]

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Dr. H. Mashoed MSi. Sejarah dan Budaya Bondowoso. Surabaya, Papyrus, 2004. hlm. 52

Singo Ulung, Tradisi Kabupaten Bondowoso

Singo ulung0001Setiap daerah mempunyai kebanggaan tentang leluhurnya, sebab leluhur biasanya dapat memberi manfaat terhadap pembentukan identitas dan kepuasan batin. Bagi generasi penerus, warisan leluhur ini akan diabadikan dan dilestarikan dalam berbagai bentuk ungkapan, di antaranya dalam wujud tari-tarian. Di desa Blimbing, Kecamatan Klabang, terdapat tari-tarian yang berdasarkan legenda, yaitu Tradisi Singo Ulung. Singo Ulung adalah sebuah gelar terhadap seseorang yang bernama asli Juk Seng.

Singo Ulung adalah seorang bangsawan dari Blambangan Banyuwangi yang suka mengembara. Suatu saat dalam pengembara- annya ke arah barat, secara tidak sengaja memasuki hutan yang dipenuhi tumbuhan belimbing. Kedatangan Singo Ulung ke hutan belantara menarik perhatian seorang tokoh yang hidup di wilayah hutan tersebut, yakni Jasiman. Sudah merupakan kebiasaan dalam masyarakat tradisional, seseorang yang dipandang tokoh mesti diuji dengan berbagai tantangan dan adu kesaktian.

Hal ini dimaksudkan apakah tokoh tersebut mampu menjaga dirinya dengan baik. Kalau sang tokoh sendiri tidak mampu menjaga dan membela dirinya sendiri, tentu juga tidak akan mampu menjaga dan membela rakyatnya. Apalagi dalam masyarakat tradisional, seseorang pemimpin akan berwibawa dan memiliki kharisma apabila memiliki berbagai kelebihan lahir dan batin.

Singo ulung0002Melihat kedatangan Singo Ulung, Jasiman terpanggil untuk menjajal kesaktian Singo Ulung. Dengan bersenjata tongkat andalan- nya, Jasiman siap bertarung dengan Singo Ulung yang bersenjata keris. Tanpa basa-basi, keduanya terlibat dalam pertarungan. Kedua pendekar itu berusaha keras saling menjatuhkan lawan secepat mungkin. Tetapi karena keduanya sama-sama sakti, setelah per­tarungan berjam-jam, belum tampak ada yang kalah. Tampaknya pertarungan berjalan seimbang. Keduanya lalu berhenti. Setelah itu, saling menatap dan tersenyum. Mereka lalu sepakat untuk bersahabat. Singo Ulung pun diterima berdiam di wilayah hutan.

Beberapa saat kemudian keduanya beristirahat di bawah sebuah pohon. Singo Ulung bertanya kepada Jasiman, “Pohon apa ini?” Jasiman menjawab, “Ini adalah pohon Belimbing.” Sejak saat itu daerah hutan belantara diberi nama Belimbing. Kini bekas pohon yang bernilai sejarah ini dibangun sebuah sanggar yang setiap tahun disakralkan dengan acara istigasah.

Singo Ulung dan Jasiman lalu bersepakat membangun desa sebaik mungkin. Ulung sendiri diangkat sebagai Demang yang ber- kuasa tunggal di Desa Blimbing. Pengalaman dan kesaktian keduanya digunakan untuk berbagi kebaikan demi kemaslahatan Desa Blimbing. Air yang semula sulit, berkat sebilah tongkat berhasil memancarkan air, yang lalu dapat dibuat bendungan besar di daerah itu. Dengan adanya bendungan itu, dalam waktu relatif singkat Desa Blimbing menjadi subur makmur. Jasiman yang memfokuskan kerjanya sebagai ulu-ulu banyu, sudah menampakkan hasilnya. Ia berusaha mengatur air sawah secara maksimal sesuai dengan ilmu pengairan yang ia miliki.

Kesuburan dan kemakmuran membuat masyarakat Blimbing sangat percaya kepada kedua tokoh tersebut. Jasiman sebagai orang kepercayaan Singo Ulung, melaporkan suasana dan hasil yang ditanganinya secara teratur kepada Singo Ulung di tempat per- istirahatannya di sanggar. Jasiman selain ahli dalam pertanian, juga sebagai guru yang mengajari murid ilmu kanuragan.

Tidak heran semua murid Jasiman selain ahli dalam ilmu pertanian, juga ahli dalam ilmu kanuragan. Ketika mereka berada di tengah sawah, banyak murid Jasiman mengisi waktu luangnya dengan melatih ke- terampilan kanuragan dengan kegiatan yang disebut “ojung”. Keterampilan ojung adalah ilmu keterampilan yang mengasah ke- saktian berupa saling mencambuk dengan sebuah rotan yang telah diisi dengan magis.

Bagi masyarakat Blimbing, memelihara warisan leluhur mengenang Singo Ulung direfleksikan dengan bentuk tarian Tradisi Singo Ulung. Tradisi ini dilakukan bersama upacara adat setiap tanggal 15 Sya’ban, yaitu kala purnama di langit, menjelang bulan Ramadan. Masyarakat Blimbing sendiri sangat antusias dalam menyambut tra­disi tahunan itu. Mereka menganggap sebagai bentuk penghormatan kepada nenek moyangnya yang dibanggakan itu.

Tak heran jika masyarakat dengan suka cita dan rela mengorbankan apa saja yang diminta, mulai dari berbagai jenis bumbu masakan sampai kepada uang. Masakan yang biasa disediakan adalah ayam bakar, tape bakar, tape ketan putih, daging, dan sebagian dari tubuh hewan berupa teli- nga, bibir, dan lidah. Selain itu juga segelas kopi, nasi kuning dan kemenyan. Semuanya itu diletakkan dalam wadah yang disebut dengan “ancak”.

Dalam refleksi tarian Singo Ulung, biasanya dilakukan dua orang, satu di depan untuk menggerakkan kepala Singo Ulung dan satu lagi di belakang sebagai kaki. Dengan iringan gamelan khas Blimbing, penampilan Singo Ulung sangat apresiatif dan atraktif.

Pementasannya dapat diklasifikasikan menjadi dua macam, yaitu pementasan Singo Ulung dalam upacara bersih desa dan pementasan Singo Ulung sebagai tontonan untuk umum. Pementasan Singo Ulung untuk bersih desa dilakukan dengan persyaratan pementasan harus dilakukan di tempat berlangsungnya upacara. Selain itu juga, waktunya harus tepat pada tanggal 15 Syaban. Demikian juga sesa- jennya harus lengkap, berupa nasi tumpeng, nasi rasul, biddenggulu, lembur/degan, dudul, tetel jenang panca warna, dan ikan 9 macam. Untuk pementasan tontonan umum tidak perlu persyaratan khusus, seperti tempat, waktu dan macam makanan yang disajikan [::]

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Drs. H. Mashoed, MSi. Sejarah dan Budaya Bondowoso,Papyrus, Surabaya, 2004, hlm.  180-183

Sejarah Lahirnya Sesanti Lambang Daerah, Kabupaten Bondowoso

bondowosoPada 1975 dirasakan bahwa lambang daerah Kabupaten Bondowoso belum lengkap dan sempurna, perlu ditambah dengan sesanti. Untuk itulah perlu diadakan usaha bersama penciptaan se­santi lambang dengan kata-kata singkat tetapi mengandung penger- tian filosofis yang mencerminkan historis kultural kehidupan masyarakat daerah Kabupaten Bondowoso. Setelah melalui perbin- cangan dalam sidangDPRD Kabupaten Bodowoso, pada 1 Mei 1975 dan 2 Mei 1975, dengan memadukan pertimbangan seorang pakar bahasa tentang susunan kata-kata sesanti, membahasnya dengan mencermati susunan kata-kata: Swastika Bhuwana Krti. Maka perlu mengadakan perubahan naskah, menimbang bahwa:

1.            Perubahan istilah Swastika menjadi Swasthi. Alasan yang dikemukakan ialah istilah Swastika dengan lambangnya berupa jentera yang berputar ke kanan, mengingatkan lambang negara Jerman (masa Adolf Hider) yang fasistis. Hal itu menimbulkan kesan kurang baik dari kalangan para intelektual terhadap salah satu bagian wilayah negara Republik Indonesia.

2.            Perkataan Bhuwanakrti hendaknya diubah men j adi Bhuwana Krta. Dengan pengaruh tata bunyi bahasa Madura, perkataan Krti akan berubah ucapannya oleh masyarakat luas menjadi Krte yang ber- arti pertunjukan tari/wayang topeng (wayang Madura, khusus- nya di Prajekan).

3.            Lebih-lebih uraian mengenai arti dan makna Swastika sebagai lambang sebagaimana tercantum pada dokumen sejarah lahirnya Sesanti Daerah Kabupaten Bondowoso,  pada nomor 1 dan 2, hendaknya dihapuskan, mengingat tidak sesuai dengan pandangan sosio kultural masyarakat Bondowoso yang penduduknya sebagian besar beragama Islam. Sedangkan pada konsep awalnya, makna Swasthika sebagai gambaran lambang agama Hindu.

Akhirnya, terbitlah di dalam Lembaran Daerah Kabupaten Bondowoso, Nomor 34 Tahun 1975 tentang Perubahan untuk Pertama Kalinya Peraturan Daerah Kabupaten Bondowoso Nomor 1 Tahun 1970, yang antara lain:

Pasal 1: Menetapkan Sesanti Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Bondowoso yang berbunyi Swasthi Bhuwana Krta, yang mempunyai arti dan makna serta memberikan ajaran falsafah:

Barang siapa di dunia melakukan amal perbuatan yang baik dan menjauhkan diri dari perbuatan dosa, akan mendapat kesempurnaan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Pasal 2: (1) Mengubah pasal 2 Peraturan Daerah Kabupaten Bondowoso Nomor 1 tahun 1970 sehingga berbunyi sebagai berikut: Lambang daerah terbagi atas empat bagian, yaitu:

a)    Perisai.

b)   Bentuk pohon beringin yang terwujud dari kumpulan beberapa bentuk lukisan.

c)    Asap kepala kereta api (lokomotif).

d)   Pita kuning bertuliskan “Swasthi Bhuwana Krta”

(2) Menambah satu ayat pada pasal 3 Peraturan Daerah Kabu­paten Bondowoso, Nomor 1 tahun 19701 sebagai berikut: Pita berwarna kuning dengan garis tepi berwarna hitam terlukis di bagian bawah perisai, melengkung sejajar dengan garis ujung perisai di mana masing-masing ujung pita tersebut melekuk dan ujungnya yang runcing menyentuh tepi sebelah lukisan daun tembakau dengan tulisan “Swasthi Bhuwana Krta” terdiri dari huruf balok berwarna hitam.

Arti dari hubungan kata-kata sesanti Swasthi Bhuwana Krta:

a)        Swasthi: 1. Selamat bahagia batin, 2.  Merdeka, 3. Menyatu diri dengan Tuhan untuk mendapatkan kebahagiaan lahir batin atau keselamatan dunia akhirat.

b)     Bhuwana-Krta:

Kemakmuran dunia atau kesempurnaan dunia. Sedang selengkapnya menurut makna dan ajaran falsafah mempunyai arti: “Barang siapa di dunia melakukan amal perbuatan yang baik dan menjauhkan diri dari perbuatan desa akan mendapat kesempurnaan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Drs. H. Mashoed, MSi. Sejarah dan Budaya Bondowoso,Papyrus, Surabaya, 2004, hlm. 190-192

Lambang Daerah Kabupaten Bondowoso

Lambang Daerah Kabupaten BondowosoLambang daerah dimaksudkan sebagai cermin untuk memberikan gambaran keadaan daerah. Lambang daerah ini ditujukan untuk menggambarkan kebudayaan, sejarah perjuangan rakyat, keadaan ekonomi, dan letak geografisnya. Untuk itu lambang daerah menunjukkan sifat-sifat kekuasaan daerah serta kepribadiannya. 

I. Bentuk dan Warna Lambang

1.            Perisai warna dawar/latar perisai kuning, tepian garis hitam.

2.            Lukisan dalam bentuk pohon beringin yang terwujud dari bagian-bagian kumpulan beberapa bentuk gambaran.

3.            Asap cerobong kereta api/lokomotif putih, bergaris siluet, bentuk kepala sapi bertanduk beradu/berlaga.

4.            Perisai sebagai daun lambang, pada bagian atas dan bagian kiri, dan kanan atas terpotong lengkung, bagian samping kanan-kiri agak ke atas melekuk ke dalam dan bagian bawah berbentuk acelade.

5.            Bentuk pohon beringin di bagian tengah perisai. Pemekaran bentuk pohon beringin terwujud dari kumpulan bentuk:

a.    Kepala kerbau putih bertanduk dungkul (dungkol.\ Madura) di dalam lingkaran berwarna dasar hitam, yang dilingkari oleh dua buah lingkaran yang masing-masing berwarna merah dan hitam.

b.    Lingkaran-lingkaran itu tampak merupakan bagian lukisan pada lokomotif berwarna hitam, terlihat dari depan (muka). Cerobong kereta api terlukis di bawah kepulan asap.

c.    Di bawah lukisan kereta api (lokomotif) terdapat lukisan, tampak cemeti bersilang dengan parang petani (calok ngandung, Madura). Silang cemeti dengan parang (calok ngandung, dilingkari tasbih berwarna putih).

d.    Di bawah lukisan cemeti, parang dan tasbih terlukis seikat padi, di atasnya terlihat dua buah tongkol jagung terkuak kulitnya, menancap pada seikat padi.

e.    Lukisan-lukisan tersebut di atas (a, b, c, dan d) tampak dengan warna dasar biru, yang diapit oleh dua lembar daun tembakau berwarna hijau, dengan tulang daun berwarna kuning. Pangkal daun tembakau terletak pada samping kanan dan kiri lukisan padi melingkar ke atas, ujungnya menyentuh ujung bawah lukisan gunung. Urat daun tembakau membagi lembar daun menjadi lima bagian dan pada sisi dalam menjadi empat bagian.

f.     Lukisan gunung berwarna biru berlandaskan dua garis lekuk-lekuk berwarna putih, yang menghubungkan ujung-ujung daun tembakau dan puncaknya berhimpit dengan ujung cerobong lokomotif. Dua garis lekukan/ lengkungan tersebut melukiskan alur air.

g.    Di bawah lukisan padi, terpampang tulisan Bondowoso berwarna hitam pada sebuah bidang persegi panjang, berwarna putih dengan tulisan dan garis tepi berwarna hitarn.

6.            Titik silang pada siluet gambar sapi berlaga (vide siluet asap) pusat lingkaran gambar lokomotif, titik silang cemati – parang dan ujung bawah perisai, terletak pada garis tegak (vertikal), tepat di tengah perisai.

II. Arti dan Makna Lambang

Arti dan makna dari gambaran lambang merupakan simbol- simbol pandangan filosofis suatu daerah terhadap bentuk peng- ungkapan keadaan alam dan harapan yang mewujudkan cita-cita suatu daerah. Daerah Bondowoso memiliki karakteristik wilayah, citra perjuangan rakyat, serta pengembangan kesejahteraannya. Maka pengejawantahan perlambangan itu disimbulkan sebagai berikut:

1.            Perisai melambangkan kesatuan dari pertahanan rakyat daerah. Warna kuning emas melambangkan keluhuran budi.

2.            Pohon beringin melambangkan suatu pemerintahan yang selalu berusaha memberikan pengayoman kepada rakyat.

3.            Asap mengepul dalam bentuk garis-garis hitam, yang mewujud­kan dua ekor sapi bertanduk beradu muka, menunjukkan kebudayaan khusus serta kegemaran tontonan rakyat Bondowoso akan aduan sapi.

4.            Kepala kerbau-putih bertanduk dungkul (Madura: dungkel, Jawa: keplok) menunjukkan tempat pembuatan kota Bondowoso. Warna putih melambangkan kesucian warna, merah melam­bangkan keberanian.

5.            Lokomotif/kepala kereta api melambangkan keberanian rakyat Bondowoso melawan penjajah yang terkenal dalam peristiwa bersejarah gerbong maut pada 23 November 1947. Warna hitam yang tidak mudah luntur melambangkan kekuatan dan ketetapan hati.

6.            Cemeti, parang, dan tasbih diambil dari segi sejarah peranan Ki Ronggo Bondowoso sebagai perintis dan pembuka kota Bondowoso. Tasbih sebagai simbol dan pegangan Ki Ronggo Bondowoso dengan kewibawaannya dilandasi ketekunannya beribadah, serta ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Cemeti lambang kewibawaan pemerintah daerah. Parang (calek ngandung, Madura) menunjukkan bahwa daerah Bondowoso ada- lah daerah pertanian.

7.            Jagung, seikat padi beserta daun tembakau, menunjukan hasil utama daerah Bondowoso.

8.            Tulang daun tembakau membagi lembaran daun tembakau, sebelah luar menjadi lima bagian, melambangkan dasar negara Pancasila. Sedang tulang daun tembakau membagi daun sebelah dalam menjadi empat bagian, sebelah luarnya menjadi lima bagian, melambangkan Undang-Undang Dasar 1945. Warna hijau melambangkan kemakmuran daerah.

9.            Gunung dan air melambangkan letak geografis daerah yang dikelilingi gunung-gunung dengan pengairan yang cukup. Warna biru melambangkan harapan atas kesuburan daerah.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Drs. H. Mashoed, MSi.Sejarah dan Budaya Bondowoso, Papyrus, Surabaya, 2004, hlm. 187-190

Thongthong, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur

L o k a s i.

THONGTHONGMasih di dalam kota Bandawasa, berada di sepanjang tepi jalan raya menuju kota Jember, sehingga jalan raya itu menjadi batas timur desa tersebut, desa Badean Kecamatan Kabupaten Kota Bandawasa Bandawasa, eks-karesiden- an Besuki, Jawa Timur membentang. Di sebelah utara dibatasi oleh Kota Kulon, kemudian di sebelah barat adalah desa Poncogati, dan Nangkaan membatasi desa itu pada sebelah selatan. Untuk me­nuju ke kantor desa kita dapat menyusuri jalan Ciptomangun Kusumo Di desa inilah permainan Thong-thong kita ketemukan.

Tetapi sesungguhnya bahwa permainan ini juga tersebar di desa- desa di wilayah Kabupaten Bondowoso, terutama desa-desa dengan ] duduk mayoritas masyarakat Peristiwa Permainan. Serombongan laki-laki yang tidak selalu pasti jumlahnya, ka­dang-kadang delapan, sembilan, sepuluh atau kurang dari itu, pada malam-malam hari bertugas meronda, berjaga-jaga semalaman menja­ga keamahan desa. Untuk menahan diri dari rasa kantuk, mereka me­nyusuri jalan-jalan desa dengan membawa peralatan yang disebut thong-thong. Alat musik dari bahan batang kayu yang ringan teta­pi keras itu,digores memanjang dan djciptakan ruangan di dalamnya, sehingga bil,a dipukul akan terdengar bunyi musik yang enak. Thong- thong dibuat bermacam ukuran sehingga hasilnya adalah nada-nada yang laras antara satu dan lainnya. ‘Kegembiraan yang terjadi karena pukulan-pukulan musik itu menyebabkan para peronda itu betah menjalankan tugas-tugasnya. Semenjak dari pos atau kantor desa, – tempat mereka berkumpul, mereka memainkan sepanjang perjala­nan. Diselingi dengan nyanyian-nyanyian rakyat yang mereka kenal atau kadang-kadang nyanyian yang sedang populer pada masanya mereka mengingatkan penduduk agar tidak terlalu lelap tidurnya yang nikmat, melainkan agak waspada juga terhadap kemungkinan terjadinya gangguan keadaan, misalnya pencurian ternak, perampo­kan, pencurian padi di sawah dan sebagainya. Lagi pula dengan se­lalu terdengarnya suatu thong-thong, maka bagi penjahat pun dira­sakan akan terlalu besar resiko yang ditanggungnya apabila mereka melakukan aksi kejahatannya.

Latar Belakang Sosial Budayanya.

Sebenarnya kebiasaan meronda itu terdapat hampir di seluruh Indonesia, tetapi khusus permainan thongthong yang menyertai ke­giatan itu, hanya terdapat pada masyarakat Madura. Perbedaan yang paling tampak dan memberikan ciri khas, adalah alat- alat permainan musiknya yang khusus itu. Demikian pula dengan nyanyian-nyanyian yang dipergunakan pada umumnya adalah nya­nyian rakyat Madura. Seperti juga masyarakat Jawa lainnya, kego- tongroyongan dalam memikul beban kehidupan sehari-hari terwu­jud dalam bentuk-bentuk kegiatan bersama.

Demikianlah dalam menjaga keamanan kampung dilakukan pula prinsip itu. Setiap keluarga wajib mengirimkan salah seorang anggota keluarganya yang laki-laki dan masih kuat phisiknya, untuk pada waktu-waktu tertentu membentuk kelompok-kelompok ronda. Waktu-waktu itu diatur secara bergiliran oleh pamong desa yang berkewajiban untuk itu. Dengan demikian setiap malam selalu ada saja perondaan itu. Dan permainan thongthong pun dilakukan orang setiap malam.

Para Peserta/Pelaksana.

Peserta permainan ini adalah laki-laki dewasa yang bertugas .ronda. Mereka berumur sekitar 20-45 tahun. Dan sebagai mana pen-duduk desa, pekerjaan mereka pun bermacam-macam. Ada petani, buruh, pegawai negeri, guru dan sebagainya. Pendeknya semua laki-laki dewasa penduduk kampung. Mereka mengenakan pakaian mereka sehari-hari. Terutama sarung, selalu tidak pernah lepas dari tubuh mereka, karena kain sarung sangat praktis dalam melindungi tubuh dari udara dingin waktu malam. Di lain waktu dapat digunakan sekedar menutup bagian bawah tubuh. Atau selimut bila mereka men-dapat giliran tidur sejenak di pos penjagaan.

Peralatan /Perlengkapan Permainan

Batang-batang kayu dipotong dengan ukuran yang berbeda-beda dari yang besar sampai yang kecil. Yang terbesar berukuran panjang sekitar 50 — 60 cm dan garis tengah 20 — 30 cm. Dengan membuat goresan memanjang serta membuat ruangan di bagian dalam batang kayu tersebut maka terjadilah alat musik yang disebut thongthong itu. Ukuran ruangan dan goresan pun bermacam-macam sesuai dengan ukuran kayu dan hasil bunyi yang dikehendaki. Variasi bunyi pun menjadi bermacam-macam, tetapi dengan demikian terjadilah harmonisasi bunyi yang enak didengar. Alat-alat itu sendiri sering disebut Dhungdhungan, ataupun thongthong. Yang terbesar disebut ‘Pengorbi’; ukuran yang lebih kecil disebut ‘Pangothik’ atau ‘Penerus’; di bawahnya lagi disebut ‘Pembantu Pangotftik’; selanjutnya adalah ‘Pengemplang’ yang berfungsi sebagai komando
Permainan.

Selain alat-alat tersebut kelengkapan  orkestral dari alat permainan ini adalah Seruling dan Terbang (Rebana). Seruling terbuat dari buluh bambu dengan beberapa lobang pembentuk nada, dan sebuah lobang peniup. Rebana terbuat dari kayu yang dibentuk melingkar serta kulit lembu yang dibentangkan pada sisinya. Akan tetapi pada per­kembangan kini selain alat-alat musik lain seperti harmonika, gen­dang, atau segala benda yang menghasilkan bunyi. Penambahan alat- alat musik ini tidak ada tujuan lain kecuali memang sekedar bermain- main mengisi waktu perjalanan meronda. Jalan Permainan.

Dari gardu jaga, rombongan mulai berangkat untuk meronda – keliling desa, ‘Pangemplang’ dimainkan dengan suatu ritma tertentu, yang segera disambut oleh.’Pangothik’ kemudian ‘Pembantu Pango- thik’ disusul ‘Pangorbi’. Alat-alat lainpun segera meresponsenya da­lam irama tertentu. Seruling mengisi dengan melodi lagu-lagu rakyat ataupun lagu-lagu yang tengah populer masa kini. Lagu-lagu yang dimainkan antara lain : Kamantanan, Kemolangan, Perkenalan,Tan­duk Majeng, Fajar Laggu, Ande-ande Lumut dan sebagainya. Semen­tara lagu tetap berjalan, kadang-kadang dihentikan sejenak untuk melihat-lihat sekeliling apakah desa benar-benar aman dan tidak ada tanda-tanda ancaman bahaya.

Kemudian permainan pun dilanjutkan lagi. Di beberapa rumah penduduk ada kalanya salah seorang peronda mendekatkan alat mu­siknya kedinding sambil menyeru pada si empunya rumah, apakah tidak terlalu lelap tidurnya, atau menanyakan apakah cukup aman di rumahnya. Si “empunya rumah akan menjawab apa adanya dengan se- patah dua patah kata. Demikian sampai berjam-jam permainan itu di­lakukan sepanjang perjalanan meronda itu. Bila dipandang perlu bah­wa perondaan sudah cukup mereka purf kembali ke pos atau gardu jaga untuk bergilir istirahat dan perondaan dengan cara yang sama pun digantikan oleh kelompok yang lain. Sampai akhirnya matahari menjelang terbit permainan itu pun berangsur berhenti.

Peranannya Masa Kini dan Perkembangannya.

Karena penjagaan keamanan oleh masyarakat dengan cara me­ronda pada waktu ini justru dihidupkan dan sangat dianjurkan oleh pemerintah, maka sendirinya permainan thong-thong inipun masih selalu dilakukan orang. Malahan dengan dikenalnya alat-alat musik yang lain, maka adakalanya orang pun memasukannya juga sebagai kelengkapan. Misalnya harmonika, gendang, keluncing. Lagu-lagu baru yang populer pun dinyanyikan pula dengan ala-alat musik itu, terutama lagu-lagu melayu dan musik dhangdut.

Kecuali untuk kepentingan meronda, alat-alat permainan Thong-thong juga dipergunakan dan dimainkan orang pada peristi­wa lain yaitu pada permainan TOTTA’ AN DARA. maka desa menerima semacam ‘sindiran ‘atas kekalahannya. Desa yang menang akan memainkan thongthong dan berduyun-du­yun menuju desa yang kalah. Tentu saja desa yang kalah tak boleh marah dengan sindiran itu. Tetapi untuk menutup malunya biasanya pemilik-pemilik merpati itu bersembunyi saja di dalam rumah masing-masing sampai rombongan thongthong itu kembali ke desa asalnya.

Alat musik thongthong yang tadinya sekedar alat per­mainan dalam mengisi kekosongan waktu meronda itu, selanjutnya ada juga yang dikembangkan menjadi alat musik pengiring lagu-lagu untuk pertunjukkan sebagai suatu penyajian seni musik. Pada per­kembangan ditampilkan biduan-biduan. Pertunjukkan semacam ini banyak diseleng­garakan untuk pesta-pesta hari besar nasional.

Nyanyiannya pun lagu-lagu yang populer, baik lagu melayu, langgam Jawa, ataupun dhang­dut. Namun sejauh itu latar belakang subkultur Madura masih te­tap mewarnai penyajiannya.

Tanggapan Masyarakat.

Kegiatan meronda itu sendiri merupakan aspek kerukunan sosial, kegotong-royongan, kewajiban bersama menghadapi masalah bersama, sehingga permainan thong-thong masih tetap diterima dan dilestarikan. Demikian juga dengan fungsinya di dalam Totta’an Dara, suatu permainan lain yang dianggap murah. Bagi para rema­ja dan beberapa orang tua, permainan thongthong pun masih banyak dipergunakan dan disukai. Sementara itu pengembangannya sebagai alat musik pengiring per­tunjukkan lagu-lagu populer daerah, dianggap sebagai peralatan yang tidak terlalu mahal dan cukup memenuhi kebutuhan masyarakat akan jenis-jenis hiburan murah namun tetap segar. Karena kaitan-kaitannya dengan kepentingan-kepentingan itu­lah maka permainan musik thongthong dapat dianggap masih tetap digemari oleh masyarakat setempat.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:PERMAINAN
RAKYAT DAERAH
JAWA-TIMUR; DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL PROYEK INVENTARISASI DAN DOKUMENTASI KEBUDAYAAN DAERAH 1983 – 1984, hlm. 143-148