Tenun Ikat "Ud. Al-Arif" Desa Wedani Gresik

Gresik dikenal sebagai kota santri karena selain sebagai pusat penghasil songkok juga merupakan penghasil sarung tenun yang menjadi simbol identitas kaum santri. Kabupaten Gresik memiliki cukup banyak pondok pesantren yang kemudian menjadikan bisnis tersendiri bagi masyarakatnya, utamanya bisnis dalam bentuk kerajinan sarung. Di Kabupaten Gresik, sentra penghasil sarung tenun tradisional banyak tersebar di Kecamatan Cerme dan Benjeng. Salah satu usaha sarung tenun yang ada di Kecamatan Cerme adalah UD. Al-Arif milik Tasripin. UD. Al-Arif berdiri tahun 1989, terletak di desa Wedani RT 03/ RW 01 Kecamatan Cerme Kabupaten Gresik. UD. Al-Arif merupakan usaha kerajinan tenun terbesar di desa Wedani dan sampai sekarang masih tetap bertahan dengan mempekerjakan 162 orang. Produk yang dihasilkan berupa sarung dan proses penenunannya masih menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM).

Motif yang diterapkan meliputi 3 motif utama, 10 motif tambahan, tumpal, motif timbul, dan motif pinggiran. Warna sarung yang diproduksi bervariasi yaitu hijau tua, hijau muda, hijau pandan, cokelat, kuning, orange, merah muda, dan ungu. Pembuatan sarung dilakukan dengan teknik tenun ikat pakan, ditunjukkan dengan dilakukannya proses pengolahan benang pakan yang dimotif terlebih dahulu sebelum ditenun sedangkan benang lungsi tidak dimotif.

  1. Al-Arif Gresik binaan PT. Telkom juga pernah menjadi pemenang ke 2 Semen Gresik UKM AWARD 2011 dalam kategori penyerapan tenaga kerja. Perkembangan kerajianan tenun ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) di UD. Al-Arif ini pesat hingga sekarang dan berpengaruh besar terhadap masyarakat desa itu sendiri dan daerah sekitar Wedani. Hal tersebut membantu pemerintah dalam mengurangi pengangguran dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat desa khususnya.

 Awal mula berdirinya UD. Al-Arif 

Awalnya Tasripin pemilik UD. Al-Arif berkeinginan untuk memiliki usaha tenun karena melihat belum banyak orang yang memiliki keahlian dan menggeluti usaha tenun. Berbekal tekad yang kuat tersebut, Tasripin belajar menenun dan memahami ciri khas sarung tenun yang ada di Gresik. Awalnya Tasripin membeli satu sarung tenun untuk melihat motif yang ada pada sarung khas Gresik. Setelah itu meminjam alat tenun dan satu benang boom dari temannya karena belum memiliki modal untuk membeli sendiri. Terdorong keinginan memiliki usaha sendiri, pada tahun 1978 Tasripin mulai merintis usaha kerajinan sarung tenun. Tahun 1989 usaha kerajinan tersebut diberinama UD. Al-Arif, terletak di desa Wedani RT 03/ RW 01 Kecamatan Cerme Kabupaten Gresik.

 Proses Pembuatan Kerajinan Tenun Ikat di UD. Al-Arif 

Keseluruhan proses pembuatan sarung tenun di UD. Al-Arif menggunakan tenaga manusia, mulai dari proses penyiapan benang sampai proses penenunan sarung yang masih menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM).

  1. Al-Arif menerapkan teknik tenun ikat pakan untuk membuat sarung. Penerapan teknik ikat pakan terlihat pada proses penyiapan benang lungsi (boom) dan benang pakan (corak). Benang pakan diberi corak terlebih dahulu dengan membentuk motif tertentu kemudian diikat dengan tali rafia dan dicelup pewarna untuk memberi warna pada bagian yang tidak bermotif. Adapun benang lungsi (boom) langsung dicelup ke pewarna, tanpa dicorak terlebih dahulu. Benang pakan (corak) yang siap ditenun dililitkan dipalet kemudian diletakkan di dalam teropong, sedangkan benang lungsi (boom) berada pada boom.

 Motif dan Warna Sarung Tenun di UD. Al-Arif 

  1. Al-Arif memiliki 3 motif utama, 10 motif tambahan, dan 2 motif timbul. Tiga motif utama yaitu motif Gunungan, Kotak, dan Kembang Mustamin, sedangkan motif tambahan berupa Tumpal (kepala sarung), motif Pinggiran, motif Segitiga, motif Wajik, Kembang Mawar, Gunungan berukuran kecil, dan motif kembangan lainnya. Pada awal berdiri UD. Al-Arif hanya membuat sarung dengan warna hijau tua dan cokelat. Sarung dengan warna hijau tua adalah produk unggulan UD. Al-Arif karena tidak semua perajin bisa membuat sarung dengan warna tersebut. Seiring berkembangnya selera masyarakat maka UD. Al-Arif membuat sarung dengan beragam warna yaitu hijau muda, hijau pandan, orange, merah muda, kuning, dan ungu.

 Menyimak ulasan diatas diharapkan semua pihak bekerja sama dan saling membantu dalam hal apapun yaitu:

  1. a) Perajin, Meski hanya dengan tiga motif utama sebagai motif andalan, Tasripin selaku pemilik UD. Al-Arif perlu melakukan pendokumentasian produk sarung hasil produksi sejak awal hingga perkembangannya. Hal itu bertujuan untuk memudahkan jika ada pemesan atau pembeli yang ingin melihat atau memesan sarung yang dahulu pernah dibuat, serta untuk memudahkan pendataan.
  2. b) Pemerintah: Hendaknya selalu memberikan dukungan baik moral maupun material. Pembinaan dan kerjasama dalam hal pemasaran, pengembangan desain, dan lainlain, perlu terus diberikan agar usaha tenun bisa meningkat.
  3. c) Pendidikan: Hendaknya melakukan kegiatan pengabdian berupa pengembangan desain maupun pemasaran.

——————————————————————————————-
Dari:
Jurnal Pendidikan Seni Rupa,Volume 3 Nomor 2 Tahun 2015, 196-202
Fatmawati Trikusuma Wardhani, Fera Ratyaningrum, S.Pd., M.Pd.
Tinjauan Kerajinan Tenun Ikat Di Ud. Al-Arif Desa Wedani Gresik
Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya

Batik Ndulit Sisik Bandeng Khas Gresik.

motip-batik-ndulit-sisikGresik ternyata juga memiliki Ikon batik dengan motif lokal khas daerah yang dinamakan “Batik Ndulit Sisik Bandeng Khas Gresik”. namun batik khas Gresik ini belum belem banyak diketahui masyarakat seperti daerah perbatikan pesisiran yang lain di kabupaten/kota di Jawa Timur. Sesuai dengan wilayahnya Gresik keberadaannya di wilayah pesisir utara Jawa Timur, sehingga para perajin batik lokal di Gresik dalam membuat batik mengikuti gaya dan pakem khas pesisir utara Jawa Timur. Ikon batik Gresik dengan motif lokal khas daerah di Gresik sekarang ini banyak bermunculan. Salah satunya adalah batik ndulit sisik bandeng khas Gresik.

Batik ndulit sisik bandeng ini ternyata sudah lama berkiprah di Jawa Timur, diperkirakan sejak akhir tahun 2010,  Usaha kecil menengah (UKM) ini, dikelola oleh Ibu Siti Zainubah Budiarty yang oleh masyarakat setempat lebih dikenal dengan panggilan akrab Bu Arti. Beliau mendirikan tempat usaha pembatikannya di Jalan Magetan Kecamatan Kebomas, Kompleks Perumahan Gresik Kota Baru.

Tergerak untuk melestarikan, meneruskan dan menjaga kekayaan budaya yang penuh dengan nilai seni dan pesan luhur. Keyakinan akan membuat sebuah karya batik leluhur merupakan proses panjang sebuah perenungan, penghayatan, pengamatan, termasuk peleburan jiwa kepada Sang Pencipta.  Satu tradisi warisan Walisongo yang hingga kini masih dilestarikan. Yaitu tradisi menggelar “Pasar Bandeng”. Tradisi ini pertama kali diadakan oleh Kanjeng Sunan Giri, hingga kini, masyarakat Gresik masih melestarikan warisan Kanjeng Sunan Giri yaitu dengan menjual kue Pudak dan penyelenggaraan “Pasar Bandeng”.  “Pasar Bandeng” digelar pada dua malam terakhir sebelum takbiran. Dengan ringkas cerita budaya masyarakat Gresik, maka Bu Arti menuangkannya dalam batik dulit khas Gresik, motif “SISIK BANDENG”.

Aktivitas produksi batik ndulit sisik bandeng kelolaan Bu Arti ini selalu ramai dari pesanan, meningkatnya pesanan terhadap batik lokal seperti batik Gresik ini, disebabkan peminat batik mulai melirik motif khas budaya lokal. Sehingga batik dulit Sisik Bandeng yang merupakan ikon baru batik khas kota Gresik, makin bersinar di tengah gempuran produk-produk dari negara lain. Batik dengan motif mengangkat produk lokal seperti sisik ikan bandeng, justeru makin diminati, karena mempertahankan nuansa tradisional. Tanpa bahan baku kimia,  menggunakan bahan pewarna alami yang disapat dari bagian tanaman yang banyak tumbuh di lingkungan sekitar rumah.

Batik motip sisik bandeng yang kini menjadi salah satu ikon baru batik lokal khas Gresik, selain motipnya yang mengangkat ciri khas batik Gresik dan tetap mempertahankan nuansa tradisional, pewarnaan kain batik ini masih tetap mempertahankan pewarnaan alami tanpa menggunakan bahan kimia. Bahan pewarna alami tersebut didapat dari tumbuhan yang ada di wilayah Gresik seperti; daun jati, daun sirih, daun kenikir dan daun jambu. Dengan pewarnaan alami ini sehingga batik ndulit yang dihasilkan pun lebih natural dengan corak khas sisik bandeng. Terobosan ini, sengaja dilakukan agar kualitas produknya makin terjaga. Dengan bahan alamiah ini, produk batik buatanya, tidak menimbulkan alergi pada pemakai, dan nyaman dipakai oleh setiap orang.

Batik ini Dinamakan batik ndulit karena proses pewarnaannya dengan cara di dulit atau dioleskan dengan menggunakan kanvas dari batang rotan. Sementara inovasi penggunaan motif lokal sisik ikan bandeng diambil karena Gresik merupakan salah satu sentra penghasil ikan bandeng yang sudah cukup lama dikenal masyarakat pesisir utara Jawa Timur khususnya warga Surabaya dan sekitarnya. Batik dulit sisik bandeng yang merupakan salah satu produk batik unggulan, karya tangan terampilnya, yang kini mulai disuka warga. Sama dengan produk batik lainnya, pembuatan batik ndulit sisik bandeng ini pun diawali dengan pembuatan desain di atas kain putih dan dilanjutkan dengan proses canting.

  • Deasain, proses melukis dengan pensil pada lembaran kain putih polos, dengan cara menjiplak pola yang sudah ada
  • Nyanting, proses menorehkan malam atau lilin dengan menggunakan canting mengikuti pola batik/alur coretan pensil sisik bandeng yang terlukis di atas kain putih.
  • Ndulit, proses memberi warna motif desain dengan menggunakan kanvas dari rotan.
  • Nembok, proses menutup warna yang telah ditorehkan pada motif sisik bandeng, dengan menggunakan malam atau lilin.
  • Nglorot, proses menghilangkan malam dengan cara dicelupkan di dalam jambangan berisi air panas mendidih.
  • Selanjutnya proses pewarnaan total, selesai proses nglorot lalu kain dicuci bersih kemudian dicelup pada pewarna dan kemudian dikeringkan, dengan jalan hanya sekedar diangin-anginkan dihindarkan dari terpaan sinar matahari secara langsung, dengan maksud untuk menghindari warna tidak luntur dan tetap alami.

Batik ndulit sisik bandeng khas Gresik ini dijual dengan harga bervariasi tergantung kualitas kain. Batik ndulit sisik bandeng sudah mulai dipasarkan di beberapa kabupaten/kota di Jawa Timur bahkan tersebar di kotakota besar Pulau Jawa. Di tengah kesuksesan memperkenalkan produk batik lokal khas daerah Gresik ini, demi kelangsungan usahanya sebagai usaha kecil menengah (UKM) Bu Arty… berharap adanya dukungan berbagai segi dari pemerintah daerah setempat.

Kegiatan kami ini juga merupakan  kegiatan  informasi, webblog ini sudah terbaca 155 negara semoga terebantu!

Suber:

By Arty – Griya Batik Gresik

Masjid Jamik Sunan Giri

Masjid Jamik Sunan Giri ini berada di wilayah Gresik, 20 km dari kota Surabaya dan terletak di Kampung Sunan Giri, Kelurahan Sunan Giri, Kecamatan Kebomas, Kotamadia Gresik, Provinsi Jawa Timur. Masjid Jamik Sunan Giri berbatasan dengan pabrik PT Semen Gresik sebelah utara, sebelah selatan dengan jalan raya, sebelah timur dengan pemukiman penduduk, dan sebelah barat berbatasan, dengan pemakaman. Masjid berdampingan dengan kompleks makam Sunan Giri di Bukit Giri. Untuk mencapainya harus menaiki tangga sebanyak 105 buah.

Masjid Jamik Sunan Giri merupakan kompleks paling besar diantara masjid-masjid di Gresik. Luas lahan tanah 3.000 m2 dengan luas bangunan 1.750 m2. Kompleks ini terdapat dua buah pintu gerbang yang terbuat dari beton. Pintu gerbang tersebut mempunyai ukuran panjang 95 cm, lebar 1,5 m dan tinggi 3,5 m. Kompleks masjid terdiri atas ruang utama, serambi, dan bangunan lainnya.

Ruang utama
Ruang utama masjid dibentuk oleh empat buah dinding. Keempat buah dinding masjid tersebut terbuat dari tembok dan berdiri di atas pondasi setinggi 0,7 m. Tebal dinding 0,9 m, tinggi 6 m. Dinding utara dan selatan masing-masing tiga buah jendela. Pada dinding barat terdapat dua buah jendela. Pada ruang utama lama terdapat juga tiang-tiang yang berjumlah empat buah dengan empat persegi.

Pada setiap dinding terdapat pintu-pintu dengan susunan sebagai berikut: satu buah ditengah sebagai pintu masuk dengan tiang empat persegi. Pintu utama diapit oleh dua buah tiang kiri-kanan. Pada bagian atas dibuat berlapis-lapis sehingga menyerupai pelipit. Jendela pada ruangan berada pada dinding barat dan utara saja. Jumlahnya ada enam buah dan masing-masing berukuran 1 x 3 m. Sedangkan daun jendela berupa kayu berukir. Jendela dilengkapi pula dengan teralis besi berjumlah enam buah berwama kuning berhias bulatan.

Ruangan ini terdapat tiang sokoguru atau tiang utama dan tiang penopang lainnya. Jumlah tiang secara keseluruhan adalah 16 buah. Sembilan buah merupakan tiang utama sedangkan sisinya merupakan penopang. Tiang utama berbentuk bulat. Bagian tiang penopang maupun tiang utama dilapisi porselin berukuran tinggi 30 cm.

Mihrab
Seperti masjid tua lainnya, Masjid Agung Sunan Giri memiliki mihrab yang merupakan sebuah ruangan yang menonjol keluar disisi barat, berukuran 1,5 x 1,2 x 3,5 m. Berbentuk ruangan kecil yang terbuat dari beton dengan dua buah tiang persegi empat berwama coklat tua tanpa hiasan. Dinding belakang pengimanan terutama pada bagian atas terdapat kuncup teratai. Atapnya terbuat dari semen dan berbentuk limas melengkung. Pada sudut-sudutnya terdapat tonjolan seperti mahkota. Tonjolan ini melengkung ke arah ujungnya seperti tanduk kerbau.

Mimbar
Mimbar mempunyai ukuran 1,3 m x 80 cm x 3,5 m. Menuju ke atas mimbar dijumpai pipi tangga yang yang juga berhias empat persegi panjang. Tangga mimbar terbuat dari kayu dengan empat buah anak tangga. Pada mimbar atas terdapat tiang persegi empat yang menopang puncak mihrab. Pada tiang mimbar ini dilapisi emas.

Serambi dan teras
Serambi terletak di sisi utara dan selatan masjid yang menyatu bangunan ruang utama. Di dalam terdapat ruangan berukuran 25 x 7,5 x 6 m. Tangga menuju ruangan menempel pada dinding barat. Kalau ingin menuju ke serambi dan teras tersebut terlebih dahulu menaiki anak tangga sebanyaklimabuah.

Bangunan lain
-Tempat wudhu dan WC
Tempat untuk mengambil air wudhu berjumlah dua buah yang berada di sebelah sisi timur menyatu dengan masjid berukuran 10x 2 x 6 m dan di sebelah utara tempat untuk mengambil air wudhu terpisah dengan masjid berukuran 5 x 2 x 4 m. Kedua tempat yang terpisah tersebut dapat dibedakan antara tempat pria dan wanita dan juga terdapat WC umum yang berada di sebelah utara.

-Bangunan pendopo
Bangunan ini berada di timur masjid. Tempat tersebut merupakan tempat peristirahatan bagi para peziarah yang berukuran 10,5 x 10,5 x 5 m, mempunyai tiang penyangga sebanyak dua buah yang terbuat dari kayu. Pendopo tersebut berbentuk empat persegi panjang. Pendopo tersebut dihiasi oleh keramik berwama putih polos. Di samping kanan terdapat ruangan untuk menyimpan bedug.

-Makam
Di daerah Gresik juga masih terdapat suatu kompleks makam diantaranya yang terkenal ialah makam Sunan Giri. Makamnya terdapat dalam suatu cungkup yang diberi ukiran dengan warna cat-cat asli (sebagian cat baru). Bentuk kubur maupun nisan-nisannya juga masih menunjukkan corak seni pahat klasik. Kita ketahui bahwa makam terutama adalah makam Sunan Giri hanya berdasarkan tradisi. Meskipun, demikian segi ilmu purbakala bentuk nisan dan kubumya masih menunjukkan kekuasaan dari sekitar abad 16. Kecuali itu dimana terdapat masjid kuno yang telah mengalami perubahan-perubahan. Bentuk arsitektumya tetap menunjukkan corak asli. Pintu gerbang pintu gerbang yang dibuat dari batu bata menunjukkan bentuk candi-candi bentar seperti pernah didapatkan pada zaman Majapahit. Tempat ini terkenal terutama sejak Sunan Giri (kemudian Sunan Prapen), sebagai tempat pesatren yang pengaruhnya sampai ke Maluku. Di sebelah barat masjid terdapat makam Muhammad Ainul Yaqin, Raden Paku, Raden Samudra, dan Prabu Satmoko.

– Latar Sejarah
Masjid Jamik Sunan Giri dibangun pada hari Ahad, 14 Muharram 1277 H oleh H. Ya’kub, dan selesai pada hari Ahad Ramadhan 1277 H. Pendiri Masjid Giri ialah Kanjeng Sunan Giri pada tahun yang disebutkan dalam candrasengkala yang berbunyi Lawang Gapura Gunaning Ratu. Bangunan ini berdiri diatas sebuah bukit Kedaton Seda Sidomukti yaitu suatu tempat dimana Kanjeng Sunan Giri berdiam dan memimpin Pesantren. Baru pada tahun 1407 S (menurut Candrasengkala berberbunyi Pendito Nepi Akerti Ayu) secara resmi oleh beliau dijadikan masjid jamik.

Masjid Jamik Sunan Giri didirikan telah lima kali mengalami perombakan dan penambahan serta pengecetan ulang. Terakhir dipugar pada tahun 1950 M oleh Panitia Kesejateraan Makam dan Masjid Sunan Giri, pada tabun 1975 pemah dilakukan pengecetan dan perbaikan atap, tiang-tiang masjid Sunan Giri oleh  PT. Semen Gresik.

——————————————————————————————-Artikel di atas dinukil oleh Dian K dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Masjid Kuno Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1999, Hlm.181-183, Deposit : CB-D13/1999-339.

MASJID SUNAN GIRI

masjid-sunan-giriSunan Giri alias Raden Paku Muhammad Ainul Yaqin, beliau mendirikan Masjid di atas sebuah bukit yang bernama Kedaton Sidomukti. Kawasan tersebut merupakan komplek Pondok Pesantren Giri Kedaton yang dipimpinnya sekaligus tempat Sunan bermukim. Awalnya tempat ibadat ini sederhana relatif kecil berbentuk langgar atau surau. Baru pada tahun 1407 M setelah beliau diangkat seba­gai penasihat Raden Patah, sekaligus sebagai ketua dari para wali maka langgar itu kemudian dijadikan masjid Jamik. Meskipun bangunan ini ukurannya relatif kecil namun cukup indah dan artistik, pondasinya terbuat dari batu-batu berukir sampai sekarang tetap dalam keadaan utuh di atas bukit Kedaton.

Tahun 1544 M, Masjid Sunan Giri dipindahkan dari Giri Kedaton ke Bukit Giri tempat makam Sunan Giri sekarang oleh cucu Sunan Giri ketiga, Nyi Ageng Kabunan (seorang janda). Dibuktikan hiasan bertulis huruf Arab di atas pintu utama masjid yang artinya: Masjid ini dibangun oleh seorang janda (perempuan) cucu Sunan Giri ketiga pada tahun 684 H atau 1544 M. Sedangkan bangunan Masjid yang dikhususkan untuk kaum wanita (masjid wedok) didirikan pada tahun 1857 M (1277) dan konon juga bekas masjid dari Sunan Prapen cucunda Sunan Giri juga.

Tahun 1789 M diadakan perluasan oleh H. Ya’kub Rekso Astono. Ada pendapat bahwa ba­ngunan masjid besar yang terlihat saat ini justru hasil karya H. Ya’kub ini, sedang masjid wanita itulah masjid dari Giri Kedaton. Tahun 1950 M terjadi gempa bangunan masjid Sunan Giri mengalami kerusakan, sang juru kunci makam H. Zaenal Abidin bersama masyarakat Giri memperbaikinya dalam waktu tiga bulan masjid telah kembali menjadi baik. Tahun 1957 M, oleh Panitia Kesejahteraan Makam dan Masjid Su­nan Giri memperluasan halaman masjid dengan memindahkan pendopo masjid dari halaman muka kesebelah utara halaman. Ju­ga penggantian atap masjid dari atap sirap menjadi atap genteng serta memperluas bak tampung air hujan guna keperluan air bersih. Tahun 1979 memperluas tempat wudu, dan sebagainya. oleh Panitia Perluasan Masjid Jamik Sunan Giri,

Kompleks Masjid dan makam Sunan Giri berada pada bukit Giri di puncak bukit cadas, jalan masuk melewati bertangga-tangga. Kompleks makam berada di sebelah barat sedangkan kompleks masjid berada di sebelah timurnya. Tapatnya Masjid Sunan Giri terletak sebelah barat Pabrik Semen Gresik dan dekat dengan Pabrik Petrokimia Gresik.

Pintu Gerbang Masjid berupa gapura yang depan menyerupai Candi Bentar dan bagian belakangnya menyerupai Kori Agung atau Paduraksa dua jenis gapura yang seperti bangunan pura di Bali. Dari jalan masuk belok ke kiri (menuju arah barat), terdapat tangga pertama ke arah utara menuju kompleks makam. Di sini terdapat tiga halaman berteras mempunyai ketinggian yang berbeda. Gapura pertama berbentuk Candi Bentar, yang kedua juga bentuk Candi Bentar dengan dua patung ular naga kembar di kiri kanannya, dan gapura yang ketiga/teratas berupa Kori Agung/Paduraksa, baru sampai ke halaman makam.

Lokasi puncak ini dipilih amat sesuai, untuk menunjukkan kesucian (sakral) kompleks ini. Setelah melewati gapura Paduraksa kompleks masjid tadi maka sampailah di halaman dalam masjid Jamik ini. Di sebelah barat halaman ini terdapat bangunan masjid jamik dan masjid wanita, di se­belah utara terdapat pendopo sebagai ruang istirahat tamu. Di sebelah utara pendopo ini terdapat jurang yang cukup dalam sehingga kalau kita memandang ke utara akan terlihat sebagian daerah kota Gresik. Di sebelah timur halaman ini terdapat ruang kuliah, kantor dan ruang penjaga masjid, serta sebuah trap menurun ke arah pemukiman di sebelah timur (bawah) kompleks masjid ini. Dari kompleks ini lewat di sebelah selatan mas­jid wanita dapat dicapai kompleks makam yang letaknya lebih tinggi lagi.

masjid-sunan-giriKegiatan masjid di sini mirip sekali dengan kegiatan Masjid Sunan Ampel juga, yakni lebih terarah sebagai pusat peribadatan terutama yang bertalian dengan salat, amalan-amalan dalam rangka ziarah kubur, dan kegiatan dalam upaya mendekatkan diri dengan Tuhan yakni yang tergabung dalam Thoriqot Sathoriyah yang sudah ada sejak Sunan Giri dahulu. (Ibid., 124).

Bidang pendidikan formal berupa madrasah dan sebagainya belum terdapat di sini. Bahkan meskipun disediakan ruang kuliah tetapi prakteknya ruang ini justru dipakai sebagai Musholla wanita. Tidak diketahui apakah di Giri Kedaton saat ini juga masih terda­pat Pondok Pesantren warisan Sunan Giri itu, seper­ti Pesantren Kembangkuning sebagai warisan dari Sunan Ampel.

Sebagai masjid makam, artinya di sini masjid yang berada di wilayah makam seperti kompleks Sunan Ampel, maka masjid ini lebih cenderung digunakan oleh para orang tua yang datang berziarah, sedemikian sehingga kegiatan remaja masjid belum begitu tampak.

Bangunan utama masjid terdiri dari ruang liwan/ haram pria yang berbentuk empat segi panjang de­ngan atap tajug tumpang tiga dan beratapkan genteng. Di samping depannya terdapat bangunan serambi masjid berbentuk empat segi panjang beratap genteng dengan topengan dari batu bata dan pada bagian depan terdapat hiasan lengkung struktural. (Periksa gambar foto/perspektif). Di bagian samping selatan Haram Pria itu terda­pat liwan wanita yang berdenah bujur sangkar de­ngan bentuk atap tajug tumpang dua, mempunyai skala yang lebih kecil dari liwan pria tersebut. Di atas atap tajug teratas terdapat ‘mustoko’ yakni suatu bentuk menyerupai mahkota dalam pewayangan, dan biasanya dianggap benda yang keramat. Benda ini terbuat dari tembaga.

Bangunan lain di depan dan di samping halaman masjid mempunyai bentuk yang sederhana de­ngan atap Kampung atau Limasan. Menara tidak ada di kompleks ini, sedangkan pengeras suara luar terdapat di bawah atap tumpang yang teratas. Seperti diuraikan di atas bahwa gapuranya terdiri dari bentuk Candi Bentar dan Paduraksa dengan mereduksi ragam hias yang banyak sekali.

Hal yang amat menarik adalah sistem instalasi air bersihnya. Ternyata di kompleks yang sudah tua ini pun telah berlaku prinsip hemat energi. Karena lokasinya yang berada di puncak bukit, maka untuk mendapatkan air tanah jelas amat sulit. Hal itu diatasi dengan mernbuat bak tampung air hujan yang cukup banyak dan cukup besar kapasitasnya. Jadi de­ngan menampung air hujan dari atap, kemudian air ini ditampung dan diendapkan di bak tampung tadi, baru kemudian disalurkan ke tempat wudu dan keperluan yang lain. Agar tidak memerlukan pompa maka tempat – tempat wudu dipilih di daerah yang letaknya lebih rendah, seperti di bagian bawah (basement) ruang serambi, dan sebagainya. Dengan demikian kompleks ini jarang kekurangan air bersih.

Perlu ditambahkan bahwa cungkup makam Su­nan Giri yang berada di sebelah barat kompleks masjid ini berbentuk bangunan tajug tumpang tiga, tetapi di antara atap tumpang ini tidak terdapat jendela penerangan, jadi relatif bertemu/berhubungan. Jadi di sini masih dapat dilihat betapa eratnya Sunan Giri dan keturunannya ini begitu mendekati kesenian tradisional masyarakat Jawa yang teiah mewarisi kesenian Hindu Jawa, sehingga bangunan yang ada amat dekat dengan bentuk bangunan yang telah pernah ada di masyarakat Jawa.

Selain bangunan, maka sunan ini juga menciptakan gending Jawa: Asmorodhono dan Pucung, serta permainan anak: Jelungan, llir-ilir, Jamuran, Cublak-cublak suweng, dan lain-Iain. (Ibid, 132).

Dengan cara itu maka syiar Islam dari daerah Giri ini menyinari penjuru tanah air terutama Nusantara bagian Tengah dan Timur. Terdapat hal yang menarik apabila benar bahwa Masjid Wedok yang beratap tumpang dua ini berasal dari masjid Sunan Giri yang dipindahkan dari Giri Kedaton.

Jumlah tumpang yang dua ini sama seperti yang terdapat pada Masjid Sunan Ampel di Sura­baya. Kalau hal ini benar maka Wali Songo awal ternyata tidak membuat atap masjid amat mirip dengan atap Meru yang selalu tumpang ganjil itu. Mungkin baru setelah wali – wali berikutnya membangun masjid tumpang tiga.

Kompleks masjid ini meliputi ruang-ruang seba­gai berikut: (Periksa juga gambar denah):’

  • Serambi,
  • Haram Pria,
  • Haram Wanita,
  • Bak tampung air hujan dan tempat wudu,
  • Ruang Penjagaan/tunggu,
  • Kantor Takmir masjid,
  • Dapur,
  • Ruang kuliah/Musholla wanita,
  • Pendopo (ruang istirahat).

Penerangan ruang dalam memanfaatkan cahaya matahari. Semua dindingnya ter­dapat pembukaan berupa jendela. Sedangkan di antara atap tumpang ditempatkan jendela penerangan atas. Dengan demikian untuk bangunan yang cukup besar ini suasana penerangannya menjadi agak temaram sehingga menambah kekhidmatan ruang suci ini.

Penghawaan ruang dalam juga sama halnya, artinya memanfaatkan hembusan angin yang selalu bertiup semilir karena bangunan ini berada di puncak bukit. Dari segi akustik juga cukup baik karena cukup banyak pembukaan dinding sehingga terhin- dar dari suara gema.

Ruang peribadatan pada umumnya tingkat kebersihannya cukup memadai. Hanya pada bagian Pendopo dan ruang umum lain yang bersifat profan perlu peningkatan hygienenya, misalnya membuat lantai yang bersih mengkilat, membuat ruangan yang relatif terbuka sehingga mendorong pengun- jung untuk tidak berbuat sesukanya. Di samping itu tiap ruang perlu disediakan perabotan yang pantas, sesuai dengan fungsinya masing-masing, sehingga pengunjung tidak lagi menggelar kain atau tikar se­sukanya. Dengan demikian untuk mendorong ke arah hygiene yang baik maka perlu diberi sarana yang memadai yang mendorong agar pengunjung tidak berbuat sesuka hatinya sehingga mengganggu kebersihan, ketertiban dan pandangan umum.

Sistem sanitasi di sini cukup baik. Sistem instalasi air bersih alami yang hemat energi itu patut mendapat pujian, sedangkan rioieringnya juga cukup memadai dan tidak mengalami kesukaran karena lokasinya yang berada di puncak bukit ini maka pembuangan air kotor dapat disalurkan ke tempat yang rendah di sebelah Utara tapak.

Arah Kiblat di dalam masjid ini cukup jelas sebab arah shaf sesuai dengan arah melintangnya dinding masjid. Namun amat disayangkan antara liwan pria dan liwan wanita terpisah sama sekali dengan dinding yang masif. Dengan demikian maka jelas bahwa kaum wanita terpaksa membuat Imam tersendiri di dalam melakukan salat jamaah. Alternatif lain maka dinding pemisah tersebut transparan sehingga kaum wanita bisa memandang ke arah mihrab dan liwan pria. Di dalam ruang liwan, terutama pada liwan pria terdapat suasana yang agung dan tenang tertib. Skala vertikal dan horizon­tal yang cukup besar membuat suasana khidmat ka­rena ukuran menjadi relatif kecil terhadap ukuran ruang ini.

Ragam hias di ruang dalam ini cukup menonjol. Pintu masuk ruang haram pria misalnya, berbentuk mirip dengan Paduraksa dengan hiasan huruf Arab di sekeliling atas pintu. Tiang – tiang kayu yang cukup besar dan tinggi dihubungkan dengan balok sunduk antara satu dengan lainnya. Pada tiap pertemuan antara tiang dengan balok sunduk itu selalu diselesaikan dengan ragam hias yang cantik dengan gaya Mojopahit. Pengisi pembukaan jendela atas yang tidak digunakan untuk penerangan dan ventilasi dibuat hiasan dengan motif tulisan Arab.

Mihrab dan mimbar yang berbentuk lengkung dan di puncaknya masing-masing terdapat bentuk mahkota atau kuncup bunga. Sedangkan di dalam ruang mimbar dari kayu jati berukiran yang mirip bentuk singgasana. Ukirannya yang rumit, warna hijau keemasan dan bentuk yang anggun memberikan kenampakan yang mewah namun cukup sakral.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Dian K.: dari Perkembangan arsitektur Masjid di Jawa Timur; Ir. Zein M. Wiryoprawiro; Surabaya: Bina Ilmu,  1987; CB-D13/1986-6[1]
koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur

Lontong Rumo Gresik

Gresik memang asyik. Banyak wisata di sana, mulai wisata budaya, agama hingga kulinernya yang’aneh-aneh’. Tapi berbicara kuliner Gresik, orang pasti tertuju pada nasi krawu. Padahal nasi krawu merupakan buah karya perantauan dari tanah Madura. Justru yang khas Gresik adalah lontong rumo atau sega rumo, walau keberadaannya bisa dihitung dengan jari.

Lontong Rumo Gresik.docx0001SEGA rumo sesuai nama asal- nya merupakan makanan khas dari Desa Roomo atau Rumo. Sebuah desa di kawasan Ke- camatan Manyar, sekitar 5 km dari pusat kota Gresik ke arah Mariyar. Dulu desa tersebut banyaktambak bandeng dan tambakgaram, tapi sekarang Desa Rumo menjadi kawasan pabrik.

Konon, ada perempuan yang kesu- sahan memenuhi kebutuhan hidupnya. Lalu atas saran seorang sakti, dia disuruh berjualan. Dia mengambil bahan-bahan yang ada di dapurnya, lalu mengolah dan menjualnya dengan berkeliling kampung sambil berteriak, “Lontong RomoJ!” Sejak itulah makanan ini terkenal.

Lontong Rumo Gresik.docx0004“Makanan ini sudah tidak asing lagi di lidah saya, zaman masih kecil, ini merupak­an menu favorit untulcsarapan. Dulu selalu ada di pagi hari mulai pukul 05.30 sampai sekitar pukul 10.00. Harganya pun murah meriah, zaman tahun 1990-an, hanya Rp 250,- dan itu bikin kenyang/’ungkap lelaki paruh baya yang mengaku bernama Cumi.

Makanan sega rumo ini bisa dibilang mirip buburtapi bukan bubur, karena bisa disajikan dengan lontong atau nasi. Ben- tukfisik makanan ini berupa nasi/ lontong yang ditaruh di atas pincuk daun pisang, lalu di atasnya ditaruh sayur kucuk (sejenis kangkung yang tumbuh di sawah) dan disiram dengan bubur berwarna coklat kemerahan. Saat ini sangat sulit untuk me- nemukan sayur kucuk, sehingga banyak penjual lontong rumo menggantinya dengan daun sirigkong.

Lontong Rumo Gresik.docx0003Kekhasan makanan ini adalah bubur penyiram lontong/nasi. Bubur ini dibuat dari tepung beras, santan kelapa, tumbukan udang, cabai merah, bawang dan rempah-rempah lainnya. Warna merah bisa jadi karena daging udang dan cabai merah yang menjadi bumbu utama. Sebagai pelengkap di atasnya ditaburi kelapa sangrai dan keru- puk rambak yang sudah diremas.

Menemukan makanan ini gampang-gampang susah karena sistem penjualan- nya yang nomaden dan dijual hanya pada pagi dan sore hari. Kebanyakan penjual lontong rumo ini biasanya berkeliling ke kampung-kampung, dan sedikit sekali yang menetap di satu tempat. Ada juga yang menjajakannya di pinggir jalan, lesehan di selasar toko atau di ujung gang.

Lontong Rumo Gresik.docx0002Meskipun begitu, saat ini cukup sulit mencari sega rumo di tempat asalnya. Pasalnya, penjualnya pun kini bisa dihitung dengan jari.Tapi jangan khawatir, tak hanya di Desa Romo, sego rumo juga banyakdijajakan di belakang PasarGresik. Tepatnya di Desa Sukodono, Pasar Gresik Kota. Bagi anda yang kebetulan mampir ke Gresik, sego rumo bisa jadi salah satu alternatif menu yang patut dicoba. Selain harganya yang murah sekitar Rp 5.000 sampai Rp. 6.000 perpincuk-anda juga tidakakan menemukan menu semacam ini di tempat lain, kecuali Gresik. (ati)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: majalah PUSPA Edisi 35, Desember 2013, halaman42

PENGANTIN JADUR, KABUPATEN GRESIK

Desa Lumpur adalah salah satu desa yang terletak di daerah pesisir utara kota Gresik. Konon menurut cerita desa ini berasal dari tepian pantai yang berlumpur dan mengendap. Karena perubahan alam dan kebutuhan penduduk maka tepian pantai tersebut menjadi suatu pemukiman yang dinamakan Desa Lumpur.
Berdasarkan letaknya di tepi pantai maka mata pencaharian penduduknya mayoritas sebagai nelayan, walaupun ada sebagian kecil dari mereka berdagang. Agama yang dianutnya adalah Islam, namun demikian mereka tetap memegang teguh adat istiadat yang ada.
Ucapan para sesepuh selalu menjadi panutan dalam kehidupannya, sehingga timbul perasaan takut bila melanggar kebiasaan-kebiasaan yang berlaku atau kebiasaan-kebiasaan yang sudah ditentukan oleh sesepuhnya. Misalnya, bila seseorang hendak mempunyai hajat, baik pengantin maupun khitan, diwajibkan nyekar dan berziarah para sesepuhnya, di antaranya ke makam Mbah Abdullah Sindujoyo.
Beliau seorang ulama yang dulunya pernah tinggal di sekitar Lumpur dan Kroman. Dari segala ucapan dan perilakunya sudah menjadi panutan penduduk sekitarnya. Bila suatu saat mereka lupa atau melanggar kebiasaan-kebiasaan ini, akan teijadi suatu bencana atau gangguan bagi mereka yang melaksanakan hajat tersebut.
Salah satu adat yang ada di daerah Lumpur adalah pelaksanaan adat pengantin yang lebih dikenal dengan nama Penganten Jadur Gresik. Adat pengantin ini sudah ada sejak abad XIX, sedangkan istilahnya diambil dari alat bunyi kelompok pencak silat yang ikut mengiringi kirab pengantin. Adapun kelompok pencak silat tersebut, meliputi:
 penabuh jidor,
 penabuh gendang,
 pesilat dengan dandanan gondoruwo, macan dan kera.

Petugas pembawa jodhang berangkat menuju ke rumah orang tua mempelai wanita untuk memberitahu akan kehadiran calon mempelai pria. Petugas pembawa jodhang berkata, “Bu, ngaturaken salame saking keluarga kemanten jaler, mbenjing kemanten jaler ndugi mriki”.
Sebelum pengantin pria berangkat dari rumahnya, segala perlengkapan untuk acara kirab pengantin harus disiapkan sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing. Urut-urutan upacara adat pengantin ini diawali pengantin lelaki keluar dari rumahnya. Kemudian pengantin lelaki dikirab keliling kampung dan balai-balai (tempat peristirahatan para nelayan), iring – iringgan terdiri dari:
 pembawa obor (paling depan) sebagai penerang dan penunjuk jalan di waktu malam hari,
 kelompok pencak silat,
 pembawa lamaran,
 pembawa kembar mayang,
 pengantin lelaki didampingi kedua orang tuanya,
 pembawa paying,
 barisan yang terakhir adalah kelompok hadrah.
Setelah pengantin pria dirias, diantar ke orang tuanya untuk sungkem, memohon doa restu agar selamat dalam menempuh hidup berumah tangga. Pada saat pengantin pria sungkem kepada ibunya, ibunya berkata,
“Takdongakna nak, nyandhunga cepaka sak wakul, ojok repot-repot Lan ojok golek-golek duraka, demurusa sampek tuwa, sampeka nini-nini Ian kakek-kakek.”
Kemudian kedua orang tuanya mengantar pengantin pria ke depan rumah dan salah seorang sesepuh dari para pengiring mengucap,
“Kanca-kanca kemantene arepe berangkat, ayo,.. ayo,… surak,… surak,…!”
Dijawab serentak oleh para pengiring,
“Hooorrreee”
Dilanjutkan irama kelompok hadrah diawali,
“Allahummah Sholiala Muhammad!” (dari salah seorang pimpinan hadrah),
kemudian dijawab serentak oleh para pengiring:
“Allahumma Sholialaih…. “sampai lagu hadrah selesai.

Jalannya Kirab

Upacara Pengantin Jadur, dilaksanakan acara prosesi (kirab) calon pengantin pria menuju ke rumah calon mempelai wanita diiringi hadrah. Biasanya jika pengantin pria sampai di perempatan jalan lalu berhenti. Di sinilah kelompok pencak silat yang mengikuti acara kirab mengadakan demontrasi. Setelah sejenak mengadakan demontrasi, acara prosesi dilanjutkan hingga sampai di depan rumah calon pengantin wanita.
Pengiring berhenti sejenak kemudian serah terima kembar mayang dan seperangkat lamaran dan kedua orang tua calon pengantin saling bertemu dan berjabat tangan dengan maksud sebagai tanda penerimaan calon pengantin pria ke hadapan keluarga calon mempelai wanita. Kemudian orang tua calon pengantin pria menghantar calon pengantin pria ke hadapan orang tua calon pengantin wanita untuk sembah sungkem.
Dilanjutkan seorang perias mempertemukan kedua pengantin sambil berdoa, setelah itu keduanya menuju ke kamar (bilik) untuk menyerahkan mas kawin dari pengantin pria kepada pengantin wanita. Perias mengantar kedua mempelai ke hadapan orang tua pengantin pria, pengantin wanita sembah sungkem ke orang tua pengantin pria tersebut.
Dilanjutkan kedua pengantin diantar duduk ke pelaminan. Selanjutnya orang tua pengantin pria berpamitan ke orang tua pengantin wanita untuk kembali bersama pengiringnya. Seorang perias mengantar kedua pengantin dari pelaminan ke kamarnya disusul kedua orang tua dan kerabatnya.

Soetrisno R., Ensiklopedia Seni Budaya Jawa timur; Pendekatan Kajian Budaya,Surabaya Intelektual Club(SIC), Surabaya, 2008, hlm 245/368../533..

Makam Panjang di Leran Kabupaten Gersik

BERBURU KESAKTIAN Dl MAKAM PANJANG

Makam Panjang0002Desa Leran, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur . Di komplek makam Siti Fatimah binti Maimun juga terdapat beberapa makam lain. Menurut Hasyim, makam-makam itu adalah makam para pengikut Siti Fatimah. Selain itu ada pula makam para juru kunci perawat makam tersebut.

Namun dari sekian banyak makam yang ada, tepat di sisi kiri dan kanan atau mengapit jalan menuju bangunan cungkup makam Siti Fatimah, terdapat dua buah makam dengan ukuran yang tidak umum. Makam ini memiliki panjang hingga sekitar tujuh meter. Masyarakat menyebutnya dengan makam panjang, karena memang ukurannya yang sangat panjang. Makam siapakah itu?

Hasyim menjelaskan bahwa dua makam panjang itu adalah makam dari pengawal setia Siti Fatimah semasa hidupnya. Dan makam yang dibuat panjang karena konon waktu itu jasad kedua senopati kerajaan Kedah ini akan dicuri oleh musuh-musuhnya. Karena itu sebelum keduanya meninggal, mereka berpesan agar jasadnya dikubur di dalam liang dengan ukuran sangat panjang. Hal ini untuk mengelabui musuh-musuhnya.

Namun lepas dari cerita itu, Hasyim mengatakan bahwa makam yang panjang itu sebenarnya adalah symbol dari penantian panjang manusia di alam kubur. Karena itu, agar di dalam penantian yang panjang itu bisa hidup tenang, hendaknya manusia selalu membekali dirinya dengan berbagai amal. Sebab amal-amal itulah nantinya yang akan menolong mereka di hari kiamat.

“Ukuran ini sebenarnya hanya simbol sehingga bagi mereka yangtahu akan bisa mengambil hikmahnya,” terang Hasyim.Dan seperti halnya di makam Siti Fatimah, di makam panjang ini sering pula terlihat para peziarah yang berlama- lama berdoa. hanya saja berbeda dengan yang diyakini dari makam Siti Fatimah, makam panjang para pengawal Siti Fatimah ini diyakini ampuh untuk meningkatkan olah kanuragan seseorang. Karena itu kebanyakan mereka yang bermeditasi di tempat ini adalah mereka yang tengah memperdalam  ilmu atau bahkan golongan paranormal *KL@-6

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: LIBERTY, EDISI 2316, 11 – 20 September 2007, hlm. 7

Siti Fatimah binti Maimun

Jaminan Kesuksesan dari Makam Siti Fatimah binti Maimun

Siti Fatimah binti Maimun diduga sebdgai penyebar Islam pertama di tanah Jawa. Kini makamnya banyak didatangi Para peziarah yang meyakini, bahwa karomah dari sang,tokoh bisa membawa mereka meraih kesukseskan.

Makam Siti maimunSUARA ADZAN terdengar menggema dari sebuah langgar kecil di dekat gerbang makam Siti Fatiraah binti Maimun. Beberapa orang warga Desa Leran, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur pun tampak berjalan bergegas menujif- ke langgar tersebut, untuk menjalankan sholat Ashar. Ibadah memang menjadi hal yang paling utama dalam kehidupan masyarakat Gresik dan sekitarnya. Karenanya, suara adzan bagi para warga tersebut ibarat panggilan yang tak bisa ditawar. Sebab itu, meski sesibuk apapun, mereka akan berusaha meninggalkan kesibukan itu. Dan bergegas memenuhi ‘panggilan’ itu.

Pola hidup seperti mi bukanlah hal yang baru bagi mereka. Sebab secara umum tingkat spiritualitas masyarakat di wilayah pesisir utara Jawa Timur ini memang cukup tinggi. Sehingga tidak heran kalau di hamper setiap sudut kehidu- pan masyarakat ini, nuansa religius tampak begitu mewarnai. Mulai dari pakaian hingga pola perilakunya. Makanya sebutan kota santripun layak disandang kota ini. Sebutan ini tentu tidak terlalu berlebihan bila melihat kondisi yang terjadi di sana. Selain mayoritas penduduknya beragama Islam. Di kota ini pula dimakamkan para tokoh penyebar agama Islam yang dikenal dengan sebutan wali songo. Yang sangat berperan dalam membentuk perilaku masyarakat Gresik, hingga menjadi sangat religious.

Adalah Syeh Maulana Malik Ibrahim yang dikenal sebagai bapak para wali. Lalu Sunan Giri yang dikenal sebagai pemimpih di Kerajaan Giri Kedaton. Kemudian Sunan Prapen, dan masih banyak lagi. Keberadaan tokoh-tokoh inilah yang memiliki peran besar dalam perkembingan agama Islam di kota ini. Dan dari sekit.n banyak tokoh penyebar agama Islam yang pernah ada di kota Gresik, salah satunya adalah Siti Fatimah binti Maimun.

WALI PERTAMA

Sayangnya catatan sejarah mengenai tokoh yang satu ini terbilang sedikit. Se­hingga kiprahnya di masa lalu terutama dalam kaitannya dengan penyebaran aga­ma Islam belum banayk diketahui. Namun demikian, Siti Fatimah binti Maimun diyakini sebagai tokoh penyebar agama Islam per- tama yang datang ke tanah Jawa sebelum kehadiran para wali.

Dugaan ini didasarkan pada pahatan tulisan di batu nisan yang menunjukkan tarikh tahun 475 H atau sekitar tahun 1082 M. Hal ini menunjukkan bahwa Siti Fatimah telah datang saat di tanah Jawa masih berdiri kerajaan Kahuripan yang dipimpin Prabu Airlangga.

Dan bila benar demikian, berarti agama Islam telah lama masuk ke tanah Jawa. Hanya saja waktu itu belum terlalu menyebar seperti saat munculnya wali songo.

Agama Islam hanya ber­kembang di wilayah-wilayah pesisir yang me­mang sangat mungkin karena banyak disinggahi oleh para pedagang dari berbagai negeri, termasuk Arab dan Persia yang umumnya beragama Islam.

“Desa ini bernama Leran yang diambil dari kata lerenan atau tempat pemberhentian. Karena waktu itu setiap pedagang dari negeri lain banyak yang singgah di wilayah Gresik. Dan salah satunya adalah rombongan Siti Fatimah binti Maimun ang berasal dari Kedah Malaysia.

Rombongan ini kemudian singgah (leren) dan menginap di tempat ini. Sampai akhirnya berkembang menjadi desa,” ungkap Hasyim, juru kunci makam Siti Fatimah binti Maimun kepada LIBERTY.

Sebagai seorang muslim yang singgah di daerah yang belum Islam, naluri untuk mengajak orang lain memeluk Islam muncul dalam hatinya. Karena itu sedikit demi sedikit penduduk yang ada di sekitar tempat itu mulai mengenal dan memeluk agama Islam. Hanya saja impiannya untuk semakin mengembangkan agama tersebut kandas setelah wabah ganas menyerang wilayah tersebut hingga merenggut nyawanya beserta beberapa orang pengikutnya.

Wabah itu sendiri konon adalah kiriman dari Sultan Mahmud Syah Alam orang tuanya. Sebab menurut kabar yang beredar, Siti Fatimah hendak dinikahi raja di tanah Jawa (kemungkinan Prabu Airlangga). Dan orang tuanya tidak setuju. Alasannya, dia takut kalau Siti Fatimah nantinya akan berpindah keyakinan. Dan misinya untuk menyebarkan agama Islam gagal di tengah jalan.

Akhirnya demi untuk ‘menyelamatkan’ sang anak, Sultan Mahmud syah Alam ber- doa agardiberikan jalan keluar. Sebuah mu- sibah berupa pageblukpun datang menerpa rombongan Siti Fatimah. Banyak para pe­ngikutnya yang tiba-tiba sakit dan langsung meninggal. Tak terkecuali Siti Fatimah sendiri bersama para dayang setianya. Me- reka akhirnya juga tewas diserang wabah penyakit misterius itu.

Namun versi lain mengatakan bahwa Siti Fatimah atau yang dijuga dikenal dengan sebutan Putri Dewi Retno Swarsi sengaja dibunuh dengan cara disantet oleh seorang raja di Jawa yang hendak menikahinya. Hal ini karena Siti Fatimah menolak pinangan sang raja.

Siti Fatimah beserta para dayangnya Putri Kucing, Putri Seruni, Putri Kambuja, dan putri Keling, kemudian dimakamkan di Desa Leran. Dan demi untuk melindungi makam tersebut, beberapa pengikut Siti Fatimah yang masih hidup membuatkan bangunan cungkup dari batu kapur dengan dinding yang sangat tebal.

“Sebagian besar dari bangunan makam itu masih asli. Hanya beberapa buah batu sempat diganti karena dikhawatirkan runtuh dan membahayakan para peziarah. Jadi bisa dibayangkan bagaimana kuatnya bangunan itu,” terang Hasyim.

JAMINAN KESUKSESAN

Kini makam Siti Fatimah banyak dikunjungi para peziarah. Tak hanya datang dari wilayah Gresik saja. Banyak peziarah yang datang dari luar kota dan bahkan dari luar negeri terutama Malaysia. Hal ini tak lain karena Siti Fatimah berasal dari Malaysia.

Ada keyakinan dari masyarakat yang datang ke sana bahwa dengan berziarah dan berdoa di makam ini, maka segala keinginan pasti akan terkabul. Bahkan bagi beberapa kalangan, mereka meyakini bahwa karomah dari Siti Fatimah bisa meningkatkan der- ajat. Karena itu tak jarang yang dating ke sana adalah orangorang dari golongan pejabat. Selanjutnya bagi para pedagang, berdoa di makam ini konon adalah jaminan kesuksesan dalam usaha yang dijalankannya.

Para peziarah yang dating umumnya cukup hanya membawa sebungkus bunga setaman. Bunga itu selanjutnya diserahkan ke juru kunci untuk didoai sambil menyampaikan hajatnya. Kemudian dengan diantarkan sang juru kunci, para peziarah bisa melanjutkan untuk berdoa dan bermunajat di samping makam Siti Fatimah.

Hanya saja ruangan cungkup makam terbilang sempit. Karena itu biasanya jumlah peziarah yang masuk akan dibatasi. Apalagi saat malam Jumat. Peziarah yang dating jumlahnya sangat banyak. Hingga untuk bisa masuk ke dalam makam harus bergiliran. • KL@-6

 ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: LIBERTY, EDISI 2316, 11 – 20 September 2007, hlm. 6-9

Tradisi Nyusuk, Kabupaten Gresik

Tradisi Nyusuk GresikCUACA cerah kala Jumat (20/9/2013), ratusan warga desa Kedamean Gresik nyusuk di waduk desa setempat. Nyusuk adalah tradisi mencari ikan beramai-ramai di waduk atau tambak setelah ikan dipanen. Ini dilakukan karena paskapanen, biasanya debit air surut dan masih menyisakan ikan. Nah, kesempatan ini tak disia-siakan warga untuk berburu ikan.

Alat yang digunakan sangat sederhana. Namanya susuk, bentuknya menyerupai sangkar ayam dalam ukuran kecil. Cara menggunakanya pun juga tidak terlalu susah, cukup disusukan berulang-ulang ke tambak yang airnya nyemek- nyemek. Dan ikan akan terperangkap di dalamnya. “Tapi kalau tidak biasa, tidak paham dengan karakteristik gerakan ikan ya susah juga,” tukas Madenan.

Menurut Made, panggilan akrabnya, tradisi nyusuk itu ada yang gratis ada juga yang berbayar. Nyusuk gratis biasa­nya dilakukan di waduk milik desa. Karena, selain berfungsi sebagai pengairan waduk juga kerap ditanami ikan. Hasil panen ikan menjadi pendapatan asli desa, sementara masyarakat diberi kesempatan menikmatinya dengan nyusuk gratis. Pendapatannya tentu beda, sesuai dengan kepiawaiannya masing-masing. Bagi yang terampil tentu akan mendapat hasil yang lumayan.

Nyusuk berbayar biasanya dilakukan perorangan. Usai mbanjang (memanen ikan) bia­sanya petani tambak memanggil broker susuk. Kemudian broker melakukan survei ke lokasi. Tambak yang habis dipanen itu masih banyak ikannya atau tidak, broker sudah hafal, broker ini sudah memiliki komunitas. Jika sudah ada kesepakatan harga dengan pemilik tambak, broker menghubungi komunitas. “Tarifnya bervariasi. Biasanya setiap orang dikenakan Rp 50.000,” kisah Made.

Tradisi nyusuk ini kerap menyita perhatian warga. Mereka menjadikannya sebagai tontonan gratis. Betapa tidak, ratusan orang dengan membawa susuk tumplek blek bermandikan lumpur. Sebagian besar me­reka sekujur tubuhnya penuh lumpur demi mencari ikan.

 

Dibandingkan dengan hasilnya jelas jauh dari memadai. Tapi mereka semangat sekali. Bagi warga Gresik tradisi ini hal biasa. Tapi, bagi warga luar Gresik tentu menjadi pemandangan luar biasa. Ingin menyaksikannya, inilah saatnya!

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: PRIYANDONO: SURYA, SELASA-1 OKTOBER 2013, hlm. 13

 

 

Sejarah Pendidikan Dasar, di Jawa Timur

Sekolah pertama yang dibuka untuk anak- anak Belanda teriadi pada tanggal 24 Februari 181? di Batavia. Sekolah tersebut mencontoh sekolah dasar yang ada di Negeri Belanda, di lain tempat keturunan atau anak-anak Belanda juga ada, dan mereka juga memerlukan pendidikan. Maka jenis sekolah seperti yang terdapat di Batavia menarik perhatiannva.

Karena itu dari pada mengirimkan anak-anaknya ke Batavia memerlukan biaya yang cukup besar, maka perlu adanya sekolah di tempat-tempat yang ramai. Tempat itu menjadi semacam pemusatan bagi orang-orang Belanda, antara lain di kota-kota pelabuhan dan pusat-pusat perkebunan. Ternyata sekolah seperti di Batavia meluas ke daerah lain.

Di Jawa Timur misalnya, se­kolah semacam itu terdapat di kota Gresik dan Surabaya. Tetapi perluasan sekolah itu di Jawa Timur baru terjadi pada tahun 1820. Sekolah yang dibuka itu sebenarnya Sekolah Rendah Eropa atau lebih dikenal dengan Europeesche Lagere School (ELS).

Didirikannya sekolah tersebut dimaksudkan untuk menampung anak-anak Belanda yang tinggal di kota-kota Surabaya, Gresik dan daerah sekitamya. Sampai akhir tahun 1820 ternyata yang dapat menikmati pendidikan modern baru anak-anak bangsa Belanda, sedangkan bangsa Indonesia belum diperkenalkan. Di­dirikannya sekolah di Surabaya dan Gresik ternyata dapat memenuhi harapan orang-orang tua terutama bangsa Belanda. Namun demikian kehausan akan pendidikan melalui sekolah dirasakan masih sangat kurang.

Hal serupa dapat dilihat dari kelanjutan sekolah itu sendiri. Dan inilah yang nantinya mendorong Pemerin­tah Hindia Belanda untuk mengusahakan tempat-tempat pendidi­kan lagi. Keadaan semacam itu belum terhitung jumlah sekolah yang diselenggarakan oleh fihak swasta, terutama oleh agama Kristen Protestan dan Katholik. Kedua agama itu dalam aktifitasnya di Jawa Timur tidak mengesampingkan bidang pendidi­kan. Sejak pertengahan abad ke-19 kedua agama tersebut sudah aktif memperkenalkan pendidikan barat walaupun jumlah murid hanya sedikit. Jelas sekali sejak pertengahan abad ke-19 anak- anak bangsa Eropa telah dapat menikmati pendidikan. Secara kualitatif menurut ukuran orang Belanda, pendidikan yang ada pada waktu itu sangat menyedihkan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Pendidikan Tradisional Pengaruh Agama Islam dalam, Sejarah pendidikan Jawa timur, Departemen pendidikan dan kebudayaan,  direktorat sejarah dan nilai tradisional, proyek inventarisasi dan dokumentasi kebudayaan daerah 1985-1986, Surabaya, 1986.hlm. 94