Museum Huruf (Font Museum): Jember Punya Destinasi Wisata Literasi dan Sejarah Baru

Penulis:  Prita Hw
-September 5, 2017

Museum Huruf lahir atas dasar persamaan mimpi, kegelisahan, keinginan, dan asa ingin memberikan setitik sumbangsih. Juga kebanggaan bagi tempat dimana kami lahir dan tumbuh. Kami sebagai pemuda Jember mencoba untuk memberikan ruang media dialektika bagi generasi penerus bangsa dalam bentuk museum… – Ade Sidiq Permana

Sepenggal pembuka yang terkesan heroik dan menyimpan semangat luar biasa itu bisa dibaca pada lembar undangan pembukaan (grand opening) Museum Huruf (Font Museum) yang terintegrasi dengan Perpustakaan yang dibuka untuk publik. Pembukaan itu diadakan tepat sehari sebelum malam takbir Idul Adha 1438 H bergema, yaitu pada Rabu, 30 Agustus 2017.

Museum Huruf dan perpustakaan ini sendiri berada tepat di kawasan Semanggi, Jl. Bengawan Solo 27 Jember. Tak hanya museum dan perpustakaan saja, di tempat ini juga terdapat cafe, studio tattoo, souvenir shop Buncis Room, juga homebase sebuah creative advertising bernama MIxmedia yang dimotori oleh Erik, yang juga si empunya tempat.

Lengkaplah sudah tempat ini menjadi ruang publik yang bisa dikunjungi kapan saja. Jika arek lokal ingin menikmati suasana yang nyaman senyaman di rumah sendiri dengan teras yang asri, tempat ini bisa menjadi pilihan.

Terlebih, Museum Huruf dan Perpustakaannya bisa jadi rujukan baru untuk tempat mengenal sejarah bermulanya aksara yang saat ini diakumulasi dan dimodifikasi sedemikian rupa hingga menjadi bahasa lisan dan bahasa tulis untuk pengentar percakapan kita sehari-hari. Meski ukurannya tidak bisa dikatakan besar, sebuah ruang display utama yang kira-kira berukuran 3 x 5 cm itu cukup padat memuat berbagai koleksi museum.

Berbagai koleksi Museum Huruf yang bisa dinikmati itu terdiri dari koleksi pra aksara, koleksi aksara tertua di Indonesia, koleksi aksara nusantara (Jawa, Bugis, dan lain-lain), koleksi braille, dan koleksi aksara dunia (Jepang, Korea, India, dan lain-lain).

Koleksi-koleksi yang sebagian besar dibuat sendiri serta mendapatkan donasi itu nantinya tidak akan stagnan loh arek lokal, tapi akan terus berkembang. Bahkan, publik juga bisa mendonasikan aksara yang dimilikinya dalam bentuk media cetak, atau yang lainnya.

“Museum ini telah resmi terdaftar di Asosiasi Museum Daerah Jawa Timur dan Direktori Museum Seluruh Indonesia. Kami juga sudah mengirimkan perwakilan untuk pertemuan nasional di Yogyakarta beberapa waktu lalu. Teman-teman relawan juga dilatih untuk memiliki kemampuan guiding dengan baik.”, begitu ungkap Ade Sidiq Permana, inisiator gagasan pendirian museum yang sekaligus bertindak sebagai Direktur Museum.

Ade meyakini bahwa hidupnya selalu bertalian dengan museum. Laki-laki yang sehari-harinya juga berjibaku dengan permuseuman di Probolinggo ini merasa belum memberikan sesuatu yang berarti untuk kota asalnya sendiri, Jember tercinta. Karena itu, ia berharap, ada museum dan perpustakaan ini menjadi ikon baru sekaligus semangat untuk melestarikan budaya literasi, khususnya aksara, serta membuka wawasan mengenai sejarah, dan perkembangan aksara dan budaya.

Niat tulusnya itu didukung penuh oleh Erik, sahabat sekaligus pemilik tempat yang merasa memiliki visi sama dengan Ade. Meski baginya bukan soal Jembernya yang utama, tapi soal memberikan suatu alternatif ruang publik yang bisa dimaksimalkan untuk kegiatan positif secara komunal.

Ke depan, Museum Huruf dan Perpustakaan ini akan diusahakan untuk dinaungi dalam suatu yayasan yang direncanakan bernama Institut Museum dan Cagar Budaya Nusantara yang sedang dirintis badan hukumnya. Maka dari itu, malam itu juga dibuka public fundraising bagi siapa saja yang ingin berpartisipasi. Juga akan dikembangkan museum shop yang juga akan menjadi sumber pemasukan lainnya.

Malam itu hadir pula perwakilan Bupati Hj. Faida (Kepala Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Jember), Ibu Desak (Kepala Museum dan Perpustakaan Tembakau Kabupaten Jember), juga  Bapak Haryanto (Direktur Kopi Kahyangan PDP Kabupaten Jember). Semua mengatakan rasa bangga dan kesiapannya untuk bersinergi bersama untuk mendukung keberadaan Museum Huruf dan Perpustakaan ini.

Pun dengan berbagai komunitas kreatif Jember yang juga menambah semarak malam pembukaan yang dilanjutkan dengan tur keliling museum dan dipandu relawan guide. Berbagai komunitas kreatif seperti Kampoeng Batja, Berbagi Happy, Blogger Jember Sueger, Youtuber Jember, Genbi, Komunitas Perupa Jember, Pena Hitam, dan sebagainya menyambut Museum Huruf dan Perpustakaan ini dengan semangat.

Buat arek lokal yang belum sempat berkunjung di malam pembukaan, tenang saja. Masih ada beberapa agenda menarik dalam waktu dekat yang bisa dipilih. Setelah sukses dengan workshopcetak saring dan sosialisasi program Museum Huruf dan Perpustakaan pada 2 September kemarin, pada 8 September pukul 19.00 juga akan ada launching koleksi aksara Sunda dan Seminar Sejarah Aksara Sunda. Dilanjutkan pada 9 Septembernya di waktu yang sama, akan diadakan apresiasi seni dan workshop penulisan aksara Sunda.

Jangan sampai ketinggalan ya rek! Catat juga jam buka dan official account nya :
Jam buka museum : 09.00 – 15.00

Sumber: https://lokalkarya.com/museum-huruf-jember.html

Tradisi Nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru Kabupaten Trenggalek

dam-bagongTrenggalek merupakan kabupaten kecil, indah dan menarik. Banyak obyek yang bersifat khas daerah. Kabupaten yang kaya potensi wisata menarik yang dapat menjadi pilihan untuk dikunjungi, baik wisata alam maupun wisata budaya. Salah satu budaya yang terus dilestarikan oleh warga Trenggalek adalah Upacara Adat bersih Dam Bagong atau lebih dikenal dengan sebutan Tradisi Nyadran di Dam Bagong. Upacara adat merupakan salah satu bagian dari adat kebiasaan yang ada di masyarakat, yaitu bentuk pelaksanaan upacara adat yang di dalamnya terdapat nilai budaya yang tinggi dan banyak memberikan inspirasi bagi kekayaan budaya daerah yang dapat menambah keanekaragaman kebudayaan nasional. Upacara tersebut mengajarkan kepada manusia sebagai manusia berbudaya untuk ikut bertanggung jawab menjaga kelestarian alam seisinya, ikut meningkatkan harkat dan martabat manusia.

Nyadran merupakan tradisi dari daerah Trenggalek yang biasanya diperingati pada Jum’at Kliwon bulan Selo atau bulan jawa. Nyadran biasanya dilakukan di daerah Bagong yaitu tepatnya Dam Bagong dan dihadiri ribuan orang dari Trenggalek sendiri maupun dari luar Trenggalek. Dam Bagong adalah dam pembagi aliran sungai Bagong yang biasa digunakan untuk mengairi persawahan di Kota Trenggalek. Pertama kali Dam Bagong dibangun oleh Adipati Menak Sopal yang juga merupakan pendiri cikal bakal kota Trenggalek.

dam-bagongRitual upacara Nyadran diawali dengan tahlilan di samping makam Adipati Menak Sopal, dilanjutkan dengan ziarah makam yang diikuti oleh para pejabat daerah dan warga masyarakat. Sementara itu, di halaman sekitar komplek pemakaman disajikan hiburan tarian jaranan. Tarian kepahlawanan khas Trenggalek ini disajikan dengan penuh semangat, diiringi gamelan yang dinamis dan menghentak serta nyanyian dari pesinden yang jelita. Tarian ini sangat digemari karena identik dengan tarian magis yang bernuansa mistis. Tak jarang, para penari jaranan kesurupan saat menyajikan tarian ini.

Acara puncak yang paling ditunggu dalam ritual nyadran adalah pelemparan tumbal kepala kerbau atau larung. Dalam upacara Nyadran Dam Bagong ini dikorbankan seekor kerbau yang kemudian disembelih dan kepala, kulit beserta tulang-tulangnya dilempar ke sungai lalu diperebutkan oleh warga masyarakat sekitar. Tujuan ritual nyadran ini sebagai tolak balak, tidak hanya sebagai tolak balak upacara ini juga sebagai simbol agar kehidupan warga Trenggalek gemah ripah loh jinawi. Biasanya beberapa pemuda telah bersiap-siap di dalam sungai dengan bertelanjang dada untuk memperebutkan kepala kerbau yang dilarung. Sorak sorai kegirangan dan rona kegembiraan terpampang di wajah mereka dan wajah para penonton, kala kepala kerbau dan tulang-belulangnya berhasil diketemukan. Ada anggapan bahwa dengan mendapatkan kepala kerbau, mereka akan memperoleh berkah dalam hidupnya. Rangkaian upacara nyadran ditutup dengan pagelaran wayang kulit.

dam-bagong-300x200Dengan penyelenggaraan upacara yang serba lengkap menurut tradisi akan memberikan kemantapan batin kepada pelakunya dalam mengagungkan berkat, rahmat dan perlindunganNya. Hal ini diharapkan pula terjadi dengan dilaksanakannya upacara Tradi Nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru, Kecamatan Trenggalek, Kabupaten Trenggalek. Bagi masyarakat yang hidup dipedesaan, adat atau istiadat merupakan sesuatu yang melibatkan setiap orang di dalam setiap kegiatannya dan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga wajar apabila melahirkan kebersamaan dan pola tingkah laku dalam masyarakat yang bersangkutan. Adapun pelaksanaan tradisi upacara adat “Nyadran” ini oleh masyarakat Kelurahan Ngantru, sebagai ungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus sebagai upaya untuk mengenang jasa Adipati Menak Sopal yang telah berjuang untuk kepentingan dan kesejahteraan masyarakat Trenggalek yang mayoritas sebagai petani. Dalam upacara tradisi nyadran diperlukan kerjasama atau gotong-royong warga masyarakat sekitar Kelurahan Ngantru.

Gotong-royong adalah sekumpulan orang yang bekerja sukarela untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang mereka anggap merupakan kepentingan bersama dan kepentingan umum. Dalam pelaksanaan kegiatan upacara tradisi nyadran peran serta masyarakat sangatlah diperlukan demi kelancaran acara tersebut. Khususnya para petani di daerah tersebut yang mengairi sawahnya dari Dam Bagong. Mereka bergotong-royong dalam mempersiapkan perlengkapan apa saja yang dibutuhkan saat memperingati upacara tradisi nyadran. Dengan bergotong-royong ini pula masyarakat bisa lebih akrab antara masyarakat yang satu dengan yang lainnya sekaligus mempererat tali silaturahmi antar masyarakat. Oleh karena itu, peneliti mengangkat judul “Tradisi Nyadran Sebagai Wujud Pelestarian Nilai Gotong-royong Para Petani Di Dam Bagong Kelurahan Ngantru Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek”.

Latar Belakang Tradisi Nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru Kabupaten Trenggalek

Menurut R. Linton (dalam Elly, 2011:27-28), mengatakan bahwa Kebudayaan dapat dipandang sebagai konfigurasi tingkah laku yang dipelajari dan hasil tingkah laku yang dipelajari, dimana unsur pembentuknya didukung dan diteruskan oleh anggota masyarakat lainnya.

Peringatan tradisi nyadran di Dam Bagong tidak terlepaskan dari memperingati dan mengenang Adipati Menak Sopal. Adipati Menak Sopal adalah seorang ulama yang berdakwah menyiarkan Agama Islam di wilayah Trenggalek, mulai dari lereng Gunung Wilis sebelah selatan sampai pantai selatan Samudra Indonesia, mulai dari perbatasan Sawo Ponorogo sampai Ngrowo-Boyolangu. Sehingga secara kuntitas penduduk Trenggalek beragama Islam seluruhnya.

Adipati Menak Sopal juga sebagai pahlawan pertanian di Kabupaten Trenggalek. Karena beliau telah membangun Dam Bagong yang terletak di Kelurahan Ngantru. Dam Bagong ini sangat bermanfaat bagi para petani di Kabupaten Trenggalek dan Kabupaten Pogalan karena dengan adanya dam tersebut mereka dapat mengairi sawahnya. Sehingga sangat pantas apabila jasa Adipati Menak Sopal itu diperingati setiap tahunnya oleh segenap lapisan masyarakat mulai dari pejabat dan rakyatnya khususnya para petani di Kabupaten Trenggalek dan Kabupaten Pogalan.

Tradisi nyadran di Dam Bagong ini berawal dari kisah Adipati Menak Sopal yang berjuang membangun Dam Bagong di Kelurahan Ngantru. Sahibul Hikayat yang mengatakan bahwa ada seseorang yang berasal dari Mataram yang bertugas mengatur daerah di Timur Ponorogo yang sekarang disebut daerah Trenggalek atau biasa disingkat Ki Ageng Galek. Dahulu kala Ki Ageng Galek ditugasi untuk mengasuh seorang putri dari Majapahit yaitu Amisayu. Dinamakan Amisayu karena meskipun ayu atau cantik, sayangnya kaki putri tersebut berpenyakit dan berbau amis atau busuk.

Saat itu Ki Ageng Galek merasa bingung bagaimana cara mengobati kaki Putri Amisayu tersebut. Lalu Ki Ageng Galek menyuruh Dewi Amisayu untuk mandi di Sungai Bagongan yang terletak di Kelurahan Ngantru. Pada saat mandi di sungai tersebut tiba-tiba munculah Buaya Putih yang berubah wujud menjadi manusia yang sangat tampan yang bernama Menak Sraba. Kemudian Menak Sraba mengobati luka di kaki Dewi Amisayu dengan cara menjilati. Akhirnya penyakit di kaki Dewi Amisayu bisa sembuh dan Menak Sraba kemudian menikah dengan Dewi Amisayu.

Tidak lama setelah menikah Dewi Amisayu hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Menak Sopal sesuai dengan pesan Menak Sraba. Setelah Menak Sopal tumbuh dewasa kemudian dia bertanya kepada ibunya yaitu Dewi Amisayu siapa ayahnya yang sebenarnya. Dengan terpaksa Dewi Amisayu member tahu siapa ayahnya yang sebenarnya adalah buaya putih penjaga Kedung Bagongan. Ketika mengetahui siapa ayahnya Menak Sopal meminta izin kepada ibunya utuk menemui ayah kandungnya. Akhirnya Menak Sopal bertemu dengan ayah kandungnya yaitu Menak Sraba di Demak Bintara. Disana Menak Sopal diajari dan dididik mengenai ajaran Agama Islam.

Sepulang dari tempat ayahnya Menak Sopal berusaha untuk menyebarkan Agama Islam di Trenggalek. Karena pada saat itu mayoritas penduduk sebagai petani maka Menak Sopal berkeinginan membangun tanggul air atau dam yang bisa mengairi sawah mereka. Dalam pembangunan tanggul itu Menak Sopal dibantu warga masyarakat namun pembangunan tanggul itu selalu gagal. Lalu Menak Sopal meminta petunjuk kepada ayahnya bagaimana caranya agar tanggul air itu bisa berhasil dibangun. Menak Sraba (ayah Menak Sopal) memberikan petunjuk supaya ditumbali kepala Gajah Putih.

Menak Sopal mengikuti saran dari ayahnya lalu menyembelih Gajah Putih yang kepalanya dimasukkan ke dalam Sungai Bagongan dan dagingnya dibagikan kepada warga yang ikut bergotong-royong. Setelah diberi tumbal Gajah Putih akhirnya tanggul air bisa berhasil dibuat dan sekarang lebih dikenal dengan sebutan Dam Bagong. Dari hasil perjuangan Menak Sopal tersebut akhirnya sawah para petani bisa dialiri air dan hasil panen mereka meningkat. Sejak saat itu warga Trenggalek memeluk Agama Islam.

Dalam upacara tradisi nyadran terdapat unsur mistis dan unsur fungsional. Unsur mistis itu saat Dam Bagong meminta tumbal gajah putih agar pembuatan dam dapat terwujud dan dapat mengairi sawah para petani. Sedangkan unsur fungsional terlihat dari tujuan uapacara tradisi nyadran di Dam Bagong yaitu bersyukur kepada Allah SWT dan menghargai perjuangan Adipati Menak Sopal karena sudah membangun Dam Bagong yang mengairi sawah para petani sehinggan pendapatan petani semakin meningkat. Selain itu, agar terhindar dari berbagai macam bahaya atau bencana.

Dari uraian di atas peneliti berkesimpulan bahwa berkat perjuangan Menak Sopal tersebut maka setiap tahun sekali di bulan Selo selalu diperingati upacara tradisi nyadran di Dam Bagong sebagai rasa syukur warga Trenggalek. Namun dalam pelaksanaannya bukan gajah putih lagi yang dijadikan tumbal atau dilarung tetapi diganti dengan kerbau. Karena saat ini sudah tidak ada lagi gajah putih.

Bentuk Ritual Atau Tata Cara Tradisi Nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru Kabupaten Trenggalek

Walaupun namanya nyadran tetapi sasarannya jelas, bukan untuk makhluk halus tetapi untuk memperingati atas keberhasilan Adipati Menak Sopal membangun Dam Bagong untuk yang pertama kalinya. Pelaksanaan tradisi nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru itu dilaksanakan setiap tahun sekali. Biasanya tradisi nyadran itu dilaksanakan pada hari Jum’at Kliwon di bulan Selo. Tradisi ini merupakan warisan nenek moyang yang tetap diperingati sampai sekarang ini.

Berdasarkan hasil wawancara dalam peringatan upacara tradisi nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru masyarakat harus bergotong-royong dalam mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan saat pelaksanaan upacara tradisi nyadran tersebut. Karena dalam pelaksanaan upacara tradisi nyadran tersebut banyak sekali perlengkapan yang harus dipersiapkan. Misalnya saja, sebelum pelaksanaan upacara tersebut masyarakat bergotong-royong membersihkan tempat atau makam yang akan digunakan untuk memperingati nyadran di Dam Bagong serta membuat panggung dan mendirikan terop.

Masyarakatlah yang mempersiapkan perlengkapan yang akan dijadikan sebagai perlengkapan nyadran dan ruwatan saat pelaksanaan upacara nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru. Karena banyak sekali bahan atau perlengkapan yang digunakan untuk sesaji dan ruwatan tersebut. Semua perlengkapan yang diperlukan untuk sesaji dan ruwatan itu harus lengkap atau dalam bahasa Jawa “Pepak”.

Kegiatan yang dilakukan dalam pelaksanaan upacara tradisi nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru antara lain sebagai berikut:

  • Penyembelihan kerbau (berkorban) yang dilakukan di dekat Dam Bagong yang bertujuan agar tidak terjadi banjir bandang lagi.
  • Bersesaji yang biasanya dilakukan oleh dalang ketika ruwatan. Banyak sekali perlengkapan yang digunakan untuk membuat sesaji misalnya saja, kembang telon, mule metri dan lain-lain.
  • Berdoa bersama saat melakukan sekarang di makam Adipati Menak Sopal sebagai penghormatan dan menghargai jasa-jasanya.
  • Berprosesi terlihat saat bapak bupati dan masyarakat berjalan dari makam Adipati Menak Sopal menuju Dam Bagong yang akan melemparkan kepala, kaki, kulit serta tulang kerbau ke dalam Dam Bagong.
  • Makan bersama yang dilakukan oleh para undangan dan masyarakat setelah acara larung selesai. Mereka semua makan daging kerbau yang sudah dimasak.
  • Ruwatan Wayang Kulit semalam suntuk yang bertujuan untuk keselamatan masyarakat Kabupaten Trenggalek demi menghindari bahaya dan bencana yang tidak diinginkan serta agar Dam Bagong tetap bisa mengairi sawah- sawah penduduk sehingga tetap bermanfaat.

Wayangan merupakan suatu akulturasi budaya yang sejak zaman kewalian (abad 14 oleh para wali) dijadikan sebagai hiburan dan alat dakwah. Selain itu, juga mampu menyampaikan pesan etis yang bermanfaat berupa pendidikan moral, keutamaan hidup pribadi dan masyarakat.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam upacara nyadran sesuai dengan pendapat Depdikbud (1994:20), bahwa dalam suatu sistem upacara yang kompleks mengandung berbagai unsur yang terpenting antara lain sebagai berikut:

  • Sesaji

Pada banyak upacara bersaji, orang memberi makanan yang oleh manusia dianggap lezat, seolah-olah dewa-dewa atau roh itu mempunyai kegemaran yang sama dengan manusia.

  • Berdoa

Biasanya doa bersama diiringi dengan gerak dan sikap-sikap tubuh yang dasarnya merupakan gerak dan sikap menghormati dan merendahkan diri terhadap para leluhurnya, para dewa atau terhadap Tuhan. di dalam berdoa, arah muka atau kiblat merupakan suatu unsur yang amat penting dalam konsep religi. Dalam berdoa, ada pula suatu unsur yaitu kepercayaan bahwa kata-kata yang diucapkan itu mempunyai kekuatan gaib dan sering kali kata yang diucapkan itu dalam suatu bahasa yang tidak dipahami masyarakat, karena bahasa yang digunakan bahasa kuno. Tetapi justru itulah rupanya yang memberikan susunan gaib dan keramat kepada doa itu.

  • Makan bersama

Makan bersama juga merupakan suatu unsur perbuatan yang amat penting dalam upacara adat. dasar pemikiran di belakang perbuatan itu adalah untuk mencari hubungan dengan dewa-dewa, dengan cara mengundang dewa-dewa pada suatu pertemuan makan bersama. Perbuatan makan bersama terdapat dalam banyak upacara keagamaan di dunia, baik sebagai bagian dari upacara- upacara maupun sebagai upacara itu sendiri.

  • Berprosesi atau berpawai

Pada saat berprosesi sering dibawa benda-benda keramat seperti lambing, bendera, dengan maksud supaya kesaktian yang memancar dari benda-benda itu bisa memberi pengaruh pada keadaan sekitar tempat tinggal manusia dan terutama pada tempat-tempat yang dilalui prosesi atau pawai itu. Prosesi sering juga dimaksudkan untuk mengusir makhluk halus, hantu dan segala kekuatan yang menyebabkan penyakit serta bencana dari sekitar tempat tinggal manusia. Hal ini dilakukan tidak dengan benda sakti, tetapi dengan cara menakuti makhluk halus tadi dengan cara prosesi tersebut.

Ada beberapa niatan saat melakukan upacara tradisi nyadara misalnya sebagai berikut:

  1. Ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT. (Tasyakuran atau syukuran) atas keberhasilan pembangunan Dam Bagong yang sangat besar manfaatnya bagi penduduk atau rakyat Trenggalek baik yang lama oleh Adipati Menak Sopal dan penggantinya, walaupun yang baru dibangun oleh Pemerintahan Hindia Belanda secara permanen.
    1. Mengenang tokoh pelaku Adipati Menak Sopal, Ki Ageng Galek, Rara Amiswati, Ki Demang Surohandoko dan lain-lain, untuk didoa’kan semoga diterima amalnya dan diampuni dosa-dosanya.
    2. Semua lillahi ta’ala untuk Allah SWT, tidak untuk makhluk halus (jin, syaitan, dan sebagainya).

Upacara tradisi nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru, Kecamatan Trenggalek, Kabupaten Trenggalek mempunyai unsur-unsur upacara yang sama dengan upacara keagamaan pada umumnya.

Hakikat Gotong-royong Dalam Tradisi Nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru Kabupaten Trenggalek

Manusia tidak dapat memenuhi kebetuhan hidupnya sendiri tanpa bantuan orang lain. Oleh karena itu manusia disebut sebagai makhluk sosial, pelaksanaan upacara tradisi nyadran di Dam Bagong masyarakat Trenggalek Keluraham Ngantru khususnya para petani bergotong-royong agar pekerjaan yang dilakukan bisa cepet selesai. Sistem tolong menolong yang dalam bahasa Jawa biasanya disebut “Sambatan” (Sambat=Minta tolong), atau secara umum oleh orang Indonesia disebut gotong- royong. Dalam gotong-royong ini masyarakat tidak memikirkan kompensasi, dalam masyarakat jawa gotong-royong seperti ini tidak hanya terjadi di bidang pertanian saja, namun juga dalam kegiatan pembangunan rumah, upacara adat, dan upacara kematian.

Jiwa atau semangat gotong-royong itu dapat kita artikan sebagai perasaan rela terhadap sesama warga masyarakat. Dalam masyarakat seperti ini, kebutuhan umum akan dinilai lebih tinggi dari pada kebutuhan pribadi, sehingga bekerja bakti untuk umum dinilai sebagai suatu kegiatan yang terpuji dan mulia. Hal ini sama halnya dengan yang dilakukan oleh masyarakat Kelurahan Ngantru Kabupaten Trenggalek saat memperinganti upacara tradisi nyadran di Dam Bagong. Dalam bergotong-royong tidak terlihat pebedaan antara warga yang berkecukupan dengan warga yang kurang mampu.

Masyarakat sangat kompak pada saat menyiapkan kebutuhan dan perlengkapan yang digunakan saat peringatan upacara tradisi nyadran. Dengan bergotong-royong bisa meningkatkan rasa kebersamaan antar warga dan mempererat tali silaturahmi antar warga. Selain itu, bisa saling kenal antara warga yang satu dengan warga yang lain yang awalnya belum pernah kenal.

Persepsi Masyarakat Tentang Tradisi Nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru Kabupaten Trenggalek

Nama nyadran kini “Nyadran Dam Bagong ” diganti dengan “Peringatan Dam Bagong” dan disosialisasikan kepada masyarakat agar tidak salah persepsi. Mayoritas warga masyarakat menganggap nyadran ini sebagai rasa syukur kepada Allah SWT. Selain itu, juga sebagai rasa terima kasih kepada Adipati Menak Sopal karena telah membangun Dam Bagong, yang sangan bermanfaat bagi masyarakat. karena dengan adanya dam itu para petani di Kelurahan Trenggalek dan Kelurahan Pogalan dapat mengairi sawahnya.

Prospektif Mengenai Tradisi Nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru Bagi Masyarakat di Masa Depan

Prospektif masyarakat ke depan mengenai tradisi nyadran di Dam bagong Kelurahan Ngantru, tradisi ini akan tetap dijaga dan dilestarikan, konon ceritanya dulu tradisi nyandran ini pernah tidak diperingaati terus pada tanggal 21 April 2006 di Trenggalek terjadi banjir bandang. Terus pada saat itu ada salah satu warga yang bermimpi kalau tradisi nyadran tersebut tidak diperingati akan terjadi banjir bandang yang lebih besar dari itu. Setelah mengetahui itu semua lalu tradisi tersebut diperingati dengan menyembelih 4 (empat) kerbau karena sudah empat tahun tradisi tersebut tidak diperingati oleh masyarakat Kabupaten Trenggalek.

Berdasarkan prospektif masyarakat sampai kapanpun tradisi nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru akan tetap diperingati. Karena sudah menjadi kebudayaan dan icon pariwisata Kabupaten Trenggalek.

——————————————————————————————-Tahes Ike Nurjana, Suwarno Winarno, Yuniastuti. Tradisi Nyadran Sebagai Wujud Pelestarian Nilai Gotong-Royong Para Petani Di Dam Bagong Kelurahanngantru Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek. Universitas Negeri Malang

Sumber Gambar:  wisatatrenggalek.com/2016/09

Edit: 84N70

 

Sejarah Batik Jombang

Batik Jombang Baru Berkembang Pada Tahun 2000-An.

motif_batik_jmbg_1Tahun 1944, Sekolah Rakyat Perempuan pakaian sekolahnya masih memakai sarung dan kebaya batik (zaman penjajah Belanda). Pada masa itu di desa Candi Mulyo kota Jombang banyak ibu-ibu dan remaja yang mempunyai ketrampilan membatik. Batik yang dihasilkan pada masa itu diberi nama Batik Pacinan  bermotif kawung dengan warna merah bata dan hijau daun.  (Ibu Hajah Maniati, pemilik kedai batik “Sekar Jati Setar”) Namun pada masa penjajahan Jepang batik di Jombang menghilang, disebabkan oleh sulitnyanya mendapatkan bahan baku serta berkurangnya pengrajin batik.

motif_batik_jmbg_2Tahun 1993, Ibu Hj. Maniati bersama puterinya mempunyai pemikiran dan keinginan untuk membangkitkan dan melestarikan kembali tradisi membatik di kota Jombang (Surya, 2005). Untuk mewujudkan keinginan serta pemikiran tersebut Ibu Hj. Maniati bersilaturahmi ke kerabat yang lulus dari IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan atau maktab keguruan) bidang pengkhususan kraftangan. Ibu Hj. Maniati mengajukan permohonan izin ke Kepala Desa (Kepala Kampung) mengumpulkan ibu-ibu PKK (Pendidikan Kesejahteraan Keluarga) dan remaja guna membicarakan pelatihan (workshop) membatik, dan Kepala Desa menyambut baik atas gagasan. Maka Ibu Hj. Maniati, Ibu-ibu PKK dan para remaja mulai belajar membatik dengan jenis batik jumput (batik ikat) dan hasilnya tak sia-sia cukup memuaskan, sehingga semangat untuk membatik cukup tinggi.

motif_batik_jmbgTahun 2000 Ibu Hj. Maniati dipanggil oleh Dinas Perindustrian Kabupaten Jombang untuk membicarakan pelatihan/kursus/workshop, tepatnya tanggal  8-10 Februari 2000 Ibu Hj. Maniati beserta puterinya mengikuti kursus Batik Tulis Warna Alami di Surabaya yang dilaksanakan oleh Dinas Perindustrian Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur. Dari hasil kursus ini Ibu Hj. Maniati beserta puterinya dan ibu-ibu PKK semakin rajin membatik.

Tahun 2000 di bulan Desember Ibu Hj. Maniati meresmikan usaha batik dengan nama “SEKAR JATI STAR” di desa Jatipelem. Pada waktu yang sama Bapak Bupati (ketua daerah/DO) memutuskan untuk mengadakan kursus membatik di desa Jatipelem dengan peserta dari perwakilan wilayah kecamatan se-kabupaten Jombang.

Pada tanggal 16 Desember 2004, Ibu Hj. Maniati mendapat izin usaha tetap dari pemerintah dengan nama “BATIK TULIS SEKAR JATI STAR” dengan nomor SIUP: 00423/13-19/SIUP-K/IX/2004. Saat ini untuk memenuhi permintaan pasar, Ibu Hj. Maniati menjual batik dalam bentuk kemeja pria (baju lengan panjang untuk lelaki). Untuk kemeja batik berbahan standar dijual Rp. 150,000.00, sedangkan untuk bahan sutra Rp. 300,000.00 (Surya, 2005). Selain itu beliau juga melayani pesanan dan yang pesan boleh membawa contoh. Untuk melayani hal tersebut Ibu Hj. Maniati mempunyai 27 orang tenaga kerja.  Untuk mengembangkan batik Jombang, berbagai usaha dilakukan oleh Ibu Hj. Maniati. Mulai dari mendirikan kedai sampai ke koperasi.

Pada awalnya motif  batik Jombang menggunakan motif alam sekitar, dengan motif bunga melati, tebu, cengkeh, pohon jati dan lain sebagainya. Setiap motif yang diciptakan biasanya diberi nama, seperti cindenenan, peksi/burung hudroso, peksi manya dan turonggo seto (kuda putih). Selanjutnya Ibu Hj. Maniati bersama Ibu Bupati kabupaten  Jombang (isteri Bupati/DO), bersepakat bahawa Motif Batik Tulis Khas Jombang diambil dari salah satu Relief Candi Arimbi yang terletak di desa Ngrimbi, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang. Candi Arimbi merupakan candi peninggalan kerajaan Majapahit.

Tahun 2005, Bupati Jombang mengharuskan  semua para pegawai di kabupaten Jombang untuk memakai baju batik motif khas Jombang. Dimana baju tersebut bermotif batik warna merah, motifnya lakar simetris dan ada cecekan. Cecek adalah kata Jawa yang bererti titik. Titik adalah bahagian terpenting dari batik. Kata batik sendiri berasal dari kata “tik” yang bererti “titik”.

Batik Jombang menggunakan motif dengan khas paten relief Candi Rimbi, model candi yang melambangkan pintu gerbang masuk Kerajaan Majapahit. Sedang motif yang dikembangkan berupa motif tawang dan kaning dengan warna dasar yang menekankan pada kehijauan dan kemerahan. Semua memiliki khas candi peninggalan Majapahit dan warnanya pun memakai dasar merah dan hijau yang merupakan warna khas Jombang, (Ibu Kusmiati Slamet).

Selain Ibu Hj. Maniati batik Jombang juga dikembangkan oleh Ibu Kusmiati Slamet. Dengan modal awal Rp 2 juta, tahun 2002 mulailah Ibu Kusmiati Slamet dari Desa Jatipelem, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang mengambil tenaga kerja dari para tetangganya sendiri (sekitar rumahnya) untuk membuat berbagai model dan motif batik dengan khas paten relief Candi Rimbi. Awalnya, prakarsa ini muncul atas dorongan tetangga yang ingin mencari kesibukan dengan belajar membuat batik dengan motif khas Kerajaan Majapahit. Alasannya, karena Jombang dulunya merupakan daerah pecahan Mojokerto, nenek moyangnya sama-sama berasal dari Majapahit.

Pekerjaan dilakukan dengan sistem borongan sesuai keperluan yang diinginkan. Jika pesanan ramai, dalam sehari bisa melibatkan 20 tenaga kerja dengan hasil batikan antara 35 sampai 40 lembar kain. Hari demi hari, pekerjaan membatik pun terus berkembang dan kian banyak pembeli dari daerah-daerah sekitar yang memakai produk Kusmiati. Lalu munculah inisiatif untuk memberi label/brand pada batiknya. Melalui kesepakatan dengan pihak keluarga, akhirnya batik Kusmiati diberi merk “LITABENA”. Litabena diambilkan dari sebahagian dari nama keempat anaknya yang sudah besar. Li dari nama Lilik, Ta dari nama Rita, Be dari nama Benny, dan Na dari nama Nanang. Ibu Kusmiati Slamet berharap dengan nama itu usaha batiknya dapat berkembang menjadi besar. Pada saat ini produk batik LITABENA telah beredar sampai ke Jakarta, Kalimantan, Palembang dan Lampung.

Untuk mengembangkan batik Jombang, Pemerintah Jombang mengadakan workshop batik di Jombang. Berkat bantuan dari pemerintah dan didorong dengan semangat besar, batik Ibu Kusmiati Slamet menjadi berkembang dan terkenal tidak hanya di kalangan pemerintahan namun telah berkembang ke luar negeri. Sekarang Ibu Kusmiati Slamet telah membuat batik pesanan dari Bank Jawa Timur, Dinas Sosial dan Dinas Perikanan berupa baju-baju pegawai. Di samping itu, setiap bulan mendapat pesanan 30 lembar sajadah ke negara Iraq dan mengirim bed cover ke Taiwan sebanyak 2,200 lembar setiap tiga bulan sekali. Kini produksinya mencapai 500-600 yard setiap bulan.

 MOTIF KHAS BATIK JOMBANG

Motif khas batik Jombang adalah tumpalan berbentuk segitiga yang sudah divariasi dan diberi nama BATIK JOMBANGAN. Batik Jombangan yang telah diproduksi sudah ada di Muzium Batik Pekalongan, Jawa Tengah.

PROSES BATIK

Proses batik Jombang secara umum masa dengan proses batik di daerah-daerah lain di Indonesia. Proses batik Jombang diantaranya adalah menggunakan teknik batik tulis  batik skrin/printing, dan batik ikat. Kain yang digunakan juga beragam, seperti kain katun, ATBM, sutra, primisima.

FUNGSI BATIK JOMBANG

Seperti guna kain batik pada umumnya, batik Jombang juga digunakan untuk pakaian harian, terutama untuk baju atau pakaian-pakaian rasmi. Kain batik di Jombang termasuk kain yang mempunyai nilai harga yang mahal, sehingga kain batik tidak digunakan sebagai pakaian untuk kerja kasar ataupun sebagai pakaian tidur. Secara khusus batik Jombang digunakan untuk uniform para pegawai di Jombang setiap hari Jumat ataupun Sabtu. Mulai 2006/2007 digunakan juga untuk para Pelajar Tingkatan1 dan Tingkatan 4, pada hari Rabu dan Kamis.

KEDAI BATIK

Salah satu contoh kedai batik di Jombang yang aktif memasarkan kain batik khas Jombang atau BATIK JOMBANGAN. Kedai batik SEKAR JATI STAR adalah milik Ibu Hj. Maniati di desa Jatipelem, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang.

——————————————————————————————-Karsam. Batik Tulis Jombangan, Jawa Timur

Tari Jaran Goyang, Kabupaten Banyuwangi

Sejarah Tari Jaran Goyan

jaran-goyang-1Tari Jaran Goyang adalah tari yang berasal dari Kabupaten Banyuwangi yang dalam bentuk penyajian serta iringannya memiliki ciri khas berbeda dengan tari yang berasal dari daerah lain. Tari Jaran Goyang diciptakan pada tahun 1966 yang diciptakan oleh group LKN Pandan, Genteng, Kabupaten Banyuwangi. Tahun 1969 tari jaran goyang di revitalisasi oleh bapak Sumitro Hadi seorang seniman Banyuwangi yang memiliki banyak karya tari hingga pada masa sekarang. (Bpk. Sumitro Hadi, 2 Maret 2016). Tari ini merupakan tari yang diciptakan dari sumber ilham tari Seblang dan Gandrung sehingga gerakan-gerakannya hampir sama dengan tari Seblang dan Gandrung. Jaran goyang terdiri dari kata jaran ‘kuda’, dan goyang ‘goyang, bergerak’. Dalam hubungan ini, apabila tiba-tiba terjadi seorang gadis menjadi tidak sadar karena “guna-guna”seorang jejaka dari jarak jauh, dikatakan bahwa gadis itu terkena jaran goyang.

Tari jaran goyang merupakan tari pergaulan pemuda pemudi yang menceritakan tentang cinta kasih pemuda pemudi. Namun di dalam kisah cinta tersebut terdapat rasa sakit hati seorang pemuda karena cintanya tidak di balas dengan baik, akibat ditolak cintanya maka sang pemuda sakit  hati sehingga muncul niat buruk sang pemuda untuk menggunakan aji jaran goyang. Aji jaran goyang adalah semacam pelet yang biasanya digunakan untuk menghipnotis seseorang agar tergila-gila. Akibat pellet yang telah mengenai sang pemudi maka posisi yang tergila-gila terbalik sang pemudi merayu-rayu menjadi tergila-gila kepada pemuda tersebut.  Akhirnya sang pemuda menerima cinta si gadis, dan mereka menjadi saling suka. Oleh karena itu tari ini merupakan tari berpasangan pemuda pemudi.

Tari ini berdurasi 7 menit, yang struktur penyajiannya dibagi menjadi, bagian awal muncul penari perempuan, bagian kedua muncul penari laki-laki dengan adegan sang pemuda menggoda si gadis tetapi sang gadis menolak, kemudian masuk adegan penggunaan aji  Jaran Goyang sebagai pelet untuk mendapatkan cinta sang gadis, setelah itu sang gadis tergila-gila bergantian mengejar sang pemuda yang terakhir akhirnya keduanya saling cinta dan selesai. Tari ini dalam musiknya terdapat lirik lirik lagu dengan menggunakan bahasa osing yang menjadi ciri khas tari Banyuwangi. Rias dan kostum dalam tari ini yaitu menggunakan rias cantik untuk penari putri dan untuk penari putra menggunakan rias putra alus.

Dalam riasnya tari ini tidak mengalami perkembangan dengan selalu menggunakan rias cantik, tetapi untuk kostum penari putri banyak mengalami perkembangan, pada tahun 1969 penari menggunakan kostum sederhana tetapi dalam perkembangan zaman dan selera masyarakat setiap penampilan dikreasikan dengan tetap berpedoman pada kostum awal terciptanya tari Jaran Goyang. Tari ini ditampilkan dalam acara hajatan seperti pernikahan, khitanan, dan kesenian janger, dalam kesenian janger tari ini tidak selalu ditampilkan tetapi biasanya ada sesuai dengan permintaan tuan rumah yang menyelenggarakan hajatan. Tempat pertunjukan Tari Jaran Goyang juga mengalami penyempurnaan yaitu sekarang sering ditampilkan dalam gedung pada saat penutupan acara acara resmi serta acara agung seperti penyambutan Bupati di Kabupaten Banyuwangi, di lapangan pada saat acara Hari Jadi Banyuwangi, serta di panggung tertutup.

Bentuk Penyajian Tari Jaran Goyang

Bentuk penyajian Tari Jaran Goyang menurut bapak Sumitro Hadi (wawancara 2 Maret 2016) sebagai sesepuh dan penari tari Jaran Goyang pada tahun 1966 serta pimpinan Sanggar Tari Jingga Putih di Desa Gladag Kabupaten Banyuwangi. Beliau menuturkan bahwa bentuk penyajian tari Jaran Goyang versi dulu memiliki durasi cukup panjang jika dibandingkan dengan tari lain di daerah Banyuwangi yaitu selama 12 menit sedangkan tari-tari lain khususnya di Kabupaten Banyuwangi yang biasanya hanya memiliki durasi yang tidak lebih dari 10 menit. Tari Jaran Goyang diciptakan pada tahun 1966 oleh group LKN Pandan. Tari Jaran Goyang pada versi dulu sangat sederhana, untuk gerak pada Tari Jaran Goyang mengambil gerak-gerak dalam tari yang sudah ada sebagai dasarnya yaitu dalam tari Gandrung, tetapi kemudian dikembangkan dan dikreasikan kembali.

Bentuk penyajian tari Jaran Goyang sangat sederhana, dengan gerakan yang diulang-ulang. Pada mulanya tari ini dibawakan oleh lebih dari satu pasang penari yang terdiri dari penari perempuan dan penari laki laki tetapi terdapat beberapa pasang penari dan tidak dibatasi jumlah maksimal penarinya. Bentuk penyajian pada masa dahulu yaitu pada saat satu pasang penari pertama muncul pada bagian awal, kemudian disusul pasangan-pasangan yang lain menari pada bagian akhir waktu gending ugo-ugo dimainkan, sehingga menjadikan durasinya lebih lama yaitu selama 12 menit jika dibandingkan dengan tari lain khususnya di Kabupaten Banyuwangi. Bentuk penyajian tari Jaran Goyang pada masa itu terdiri dari: gerak, desain lantai, musik iringan, tata rias, dan busana, dan tempat pertunjukan. Elemen-elemen pendukung tari Jaran Goyang pada masa dahulu tidak terlalu banyak dan terkesan sangat sederhana. Berikut ini adalah elemen-elemen pendukung pada tari Jaran Goyang antara lain :

  1. Gerak

Gerak tari Jaran Goyang didasarkan pada gerak ngrayung dan ngeber untuk penari perempuan yang dilakukan berulang-ulang. Geraknya masih bersifat sederhana. Untuk gerakan tangan dan kaki berubah-ubah tidak terpaku pada satu pola gerakan. Sedangkan untuk penari laki-laki didasarkan pada gerak bapang yang juga dilakukan berulang-ulang. Adapun gerak tangan dan kaki yang harus menyesuaikan dengan suasana dalam tiap adegan, karena dalam bentuk penyajian tarian ini tidak hanya mengandalkan gerakan penarinya saja melainkan sangat tergantung dengan ekspresi penari dalam membawakan cerita dalam tari ini, sehingga ada beberapa gerakan yang merupakan bagian dari akting penari perempuan maupun penari laki.

  1. Berikut adalah gerakan dasar tari Jaran Goyang untuk penari perempuan tahun 1969 Gerakan Sagah yaitu dilakukan dengan posisi badan mendhak kaki membentuk huruf T menyudut, arah badan kesamping kiri untuk sagah kiri dan jika sagah kanan arah badan kekanan. Gerakan ini menggambarkan perasaan sedih yang menangis karena sang pemuda menolak cintanya. Dengan kedua tangan njimpit sampur yang menutup separuh wajah, dan duduk bersimpuh.
  2. Gambar gerakan untuk penari laki-laki sebagai berikut: Gerakan yang dilakukan dengan tangan posisi bapang dan dan kaki tanjak kanan yaitu kaki kanan telapaknya menyudut lebih kedepan dari kaki kiri. Gerakan Langkah Telu yaitu langkah tiga-tiga dengan telapak kaki dipantulkan sambil diangkat.
  1. Iringan

Iringan atau musik dalam tari Jaran Goyang sangat sederhana. Selain itu iringan yang digunakan adalah musik eksternal yaitu music atau bunyi yang dihasilkan dari alat-alat musik pengiring seperti saron, kendang, triangle (kluncing), kenong, dan biola. Untuk alat musik yang digunakan menggunakan gamelan khas Banyuwangi dengan nada slendro. Durasi iringan tari Jaran Goyang pada masa dahulu lebih lama

selama 12 menit karena diulang-ulang (wawancara dengan Bapak Sumitro Hadi, 4 Maret 2016).

  1. Desain Lantai

(hasil wawancara dengan Ibu Sri Uniati, 14 Maret 2016). Beliau mengungkapkan untuk desain lantai tari Jaran Goyang pada masa dahulu tidak memiliki pola khusus., karena penari hanya menari di atas panggung yang membentuk garis sejajar dan diagonal. Tari Jaran Goyang ditarikan berpasangan dan jumlah pasangan penari tidak ditentukan sehingga tidak ada pola lantai yang baku dalam penyajiannya.

Gambar pola lantai di atas merupakan pola lantai baku dalam tari Jaran Goyang yang jika ditarikan oleh 3 pasang penari. Selanjutnya pola lantai dapat dikembangkan oleh penata tari sesuai dengan keinginan, kapasitas panggung, serta jumlah pasangan penarinya.

  1. Tata Rias dan Busana

Tari Jaran Goyang pada masa dahulu rias yang digunakan sangat sederhana dan tidak terlalu mencolok. Mamakai rias, busana, serta perlengkapan yang seadanya. Rias yang digunakan adalah rias cantik untuk penari perempuan. Busana yang dipakai penari perempuan pada saat itu adalah kebaya model kutubaru, dengan bawahan menggunakan jarik dengan motif gajah oling atau kain polos, serta sampur. Untuk rias

kepala menggunakan sanggul bali. Sedangkan penari laki-laki rias yang digunakan adalah rias putra biasa dan tidak mencolok. Dalam tata rias di daerah Kabupaten Banyuwangi untuk setiap tarian tidak menggunakan rias karakter, tetapi menggunakan rias secara umum baik laki-laki maupun perempuan. Sedangkan busana untuk penari laki-laki adalah menggunakan udeng, baju lengan panjang, celana dengan

panjang selutut, sampur yang diselempangkan, serta jarik motif gajah oling.

  1. Tempat Pertunjukan

Tempat pertunjukan tari Jaran Goyang dahulunya di acara hajatan, dan acara tahunan yaitu dalam memperingati hari kemerdekaan RI di desa Gladag Kabupaten Banyuwangi. Tempat pertunjukannya tidak hanya dilakukan di dalam ruangan tertutup tetapi juga dilakukan di ruang terbuka seperti teras rumah, atau halaman rumah warga. Karena pada saat itu menyesuaikan dengan acara yang diselenggarakan dan dimana terlaksanannya sebuah acara tersebut.

Perkembangan Tari Jaran Goyang

Sebagai tari rakyat asli Kabupaten Banyuwangi, Tari Jaran Goyang hidup dan berkembang di Desa Gladag. Tari Jaran Goyang telah mengalami perkembangan dalam beberapa periode yaitu pada tahun 1969, tahun 1990, tahun 2010 sampai 2016. Tiga (3) periode tersebut telah mengalami perkembangan yang terjadi dalam berbagai aspek, mulai dari gerak, desain lantai, iringan, rias dan busana, dan tempat pertunjukan.

——————————————————————————————-Nungky Retno Palupi (Program Studi Pendidikan Seni Tari Fakultas Bahasa Dan Seni)Perkembangan Bentuk Penyajian Tari Jaran Goyang Di Desa Gladag Kabupaten Banyuwangi Dari Tahun 1969-2016. Universitas Negeri Yogyakarta 2016

Industri Kerajinan Batik Sayu Wiwit di Kelurahan Temenggungan

batik-sayu-wiwit-banyuwangi-41Sejarah pengembangan batik di Banyuwangi dimulai pada tahun 1980-an. Sentra batik pertama yang terdapat di Kabupaten Banyuwangi adalah terletak di daerah Temenggungan. Awalnya, pemerintah Kabupaten Banyuwangi mengirim beberapa orang dari kelurahan Temenggungan untuk belajar membatik. Sampai saat ini yang mampu bertahan hanya dua orang yaitu Soedjojo Dulhaji pendiri UD. Sayu Wiwit dan Ana Nemy pemilik UD. Sri Tanjung.

Berawal dari keadaan tersebut, pada tahun 1995 Soedjojo Dulhaji mencoba mengumpulkan para pengrajin batik dalam satu wadah dengan nama “Kelompok Kerja Pembatik”. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan potensi yang ada, baik dari segi pelestarian serta pengembangan batik Gajah Oling, serta untuk menghindari munculnya kejenuhan baik bagi para pengrajin itu sendiri maupun calon pembeli. Usaha tersebut semakin lama menunjukan kemajuan yang baik serta adanya respon dari masyarakat, maka pada tahun 1997 Bapak Soedjojo Dulhaji mendaftarkan usaha tersebut ke Departemen Perindustrian dan Perdagangan, dan setelah itu usaha tersebut mendapatkan nama PT. Sayu Wiwit dengan No. SIUP: 0100/ 13-6/ PK/ III/ 1997, dengan spesialisasi tiga jenis produk, yaitu: batik tulis, batik cap, dan batik printing. Sejak  Soedjojo Dulhaji meninggal dunia, sanggar batik dikelola oleh Fonny Meilyasari (anak Bapak Soedjojo). Hanya saja, Ibu Fonny tidak memiliki ketrampilan membatik sehingga mengikuti magang di pembatik di Solo selama 2 minggu. Tujuannya adalah ingin menambah pengetahuan tentang teknik membatik yang benar dari daerah lain.

batik-sritanjung-banyuwangiNama Sayu Wiwit merupakan nama pahlawan wanita Banyuwangi yang kemudian digunakan sebagai nama dari sanggar batik tersebut. Tujuan didirikannya sanggar batik Sayu Wiwit adalah untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat khususnya penduduk kelurahan Temenggungan, serta menciptakan lapangan kerja bagi ibu-ibu dan remaja putus sekolah khususnya bagi mereka yang pernah mengikuti latihan kursus ketrampilan membatik dengan memacu dan memberikan motivasi untuk berproduksi kemudian menampung produksinya dan mengupayakan pemasarannya (Purwoko, 2011:35). Usaha  yang dilakukan oleh pendiri sanggar batik mendapatkan tanggapan yang positif dari Pemerintah Daerah Tingkat II Banyuwangi, Departemen Perindustrian, Departemen Tenaga Kerja. Perkembangan perusahaan batik Sayu Wiwit dari tahun ke tahun mengalami peningkatan sehingga usahanya semakin maju.

 

Dinamika Industri Kerajinan Batik Sayu Wiwit di Kelurahan Temenggungan

  1. Proses Produksi dan Bahan Baku yang Digunakan

Proses produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit tidak jauh berbeda dengan proses produksi batik di tempat lain. Proses pembuatan batik tidak mengalami perubahan dari awal didirikan hingga sekarang ini. Proses pembuatan batik terdiri atas beberapa tahap, yaitu membatik, mewarna, menghilangkan malam, dan mencuci kain batik. Semua proses produksi batik masih bersifat tradisional karena semua masih dikerjakan dengan menggunakan tangan. Selain batik tulis yang digambar dengan menggunakan canting, Sanggar Batik Sayu Wiwit juga memproduksi batik cap, mengecap kain dilakukan dengan blok yang terbuat dari tembaga bertangkai pegangan dari kayu yang di sisi dalamnya berbentuk motif batik.

Sejak awal didirikannya industri batik Sayu Wiwit pada tahun 1995, produksi batik hanya berupa batik tulis. Namun untuk mengantisipasi minimnya jumlah pembatik dan mempercepat waktu produksi, pemilik Sanggar Batik Sayu Wiwit melakukan strategi dengan menambah alat batik cap agar hasil produksi batik dapat bertambah dalam waktu yang relatif singkat. Batik cap diproduksi Sanggar Batik Sayu Wiwit sejak tahun 2000.

  1. Variasi Motif

Sanggar Batik Sayu Wiwit pada awalnya hanya memproduksi motif batik Gajah Oling. Motif batik Gajah Oling merupakan perpaduan antara gambar atau ornamen kupu-kupu, batang, daun, dan bunga melati. Motif batik Gajah Oling merupakan batik yang mempunyai tingkat kesulitan yang paling tinggi dalam proses pembuatannya. Pada perkembangan selanjutnya, Sayu Wiwit menambah produksi motif batik tulis yaitu motif batik Kangkung Setingkes dan motif batik Paras Gempal. Konsumen juga dapat memesan kain batik dengan motif lain dengan langsung datang ke sanggar tempat pembuatan batik Sayu Wiwit dengan membawa desain batik yang diinginkan.

Beberapa hasil pengembangan motif Gajah Oling yang dilakukan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit antaralain :

1) motif Kembang Kates
2) motif Teratai
3) motif Zig-Zag
4) motif Gunung
5) Anas Garis
6) Gelombang Cinta
7) Kantil
8) Semanggi
9) Anggur
10) Ukiran

  1. Aktivitas Pemasaran

Pemasaran pada industri kerajinan batik Sayu Wiwit pada awalnya hanya dilakukan di rumah produksi. Para konsumen datang langsung ke tempat produksi untuk membeli batik dan dapat melihat secara langsung proses pembuatan batik. Selain itu biasanya ada pula yang dibawa oleh pedagang pengecer untuk dipasarkan kembali di luar daerah Banyuwangi. Seiring berkembangnya usaha kerajinan batik, pada awal tahun 2011 usaha kerajinan batik Sayu Wiwit membuka showroom yang diberi nama Umah Batik Sayu Wiwit. Sebelumnya para calon pembeli harus berjalan kaki terlebih dahulu ketika akan membeli batik, setelah didirikannya Umah Batik Sayu Wiwit akan memudahnya para pembeli untuk datang. Showroom juga digunakan sebagai sarana promosi agar para calon pembeli tertarik untuk datang ke tempat penjualan batik.

Pemasaran hasil produksi sanggar batik Sayu Wiwit tidak hanya disalurkan melalui showroom yang dimilikinya, namun untuk meningkatkan penjualan Sayu Wiwit melakukan strategi promosi yang lain. Saluran promosi yang digunakan Sanggar Batik Sayu Wiwit melalui media periklanan. Kegiatan periklanan yang dilakukan Sanggar Batik Sayu Wiwit melalui pemasangan iklan di surat kabar, spanduk, maupun penyiaran radio.

  1. Dampak Industri Batik Terhadap Tingkat Kesejahteraan Pengrajin Batik Sayu Wiwit di Kelurahan Temenggungan

Perkembangan industri batik di Kelurahan Temenggungan mempengaruhi dan merubah kondisi masyarakat sekitar, khususnya pada karyawan industri kerajinan batik. Melalui keberadaan industri batik di Kelurahan Temenggungan, timbul pergeseran lapangan kerja yang lama ke bidang usaha yang baru. Beralihnya profesi ke bidang industri membuat taraf kehidupan ekonomi masyarakat dalam segi pendapatan menjadi meningkat. Keadaan tersebut memacu masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, tidak hanya kebutuhan pokok sehari-hari melainkan juga kebutuhan lain yang bersifat sekunder. Kebutuhan sekunder yang dimaksud adalah barang-barang elektronik seperti televisi dan sarana transportasi seperti sepeda dan kendaraaan bermotor.

Dampak ekonomis dari pendirian industri kerajinan batik adalah adanya penghasilan tambahan bagi masyarakat yang terlibat dalam industri batik, dalam hal ini adalah pengusaha, pengrajin, dan pengecer. Beralihnya masyarakat yang bekerja di luar industri menjadi kerja industri disebabkan oleh faktor keadaan sosial ekonomi. Sementara biaya hidup semakin meningkat sedangkan mereka tidak dapat hanya mengandalkan gaji yang diperoleh dan yang bermata pencaharian sebagai tukang rumah atau buruh tani tidak memperoleh gaji secara tetap.

Secara sosial ada beberapa dampak yang dirasakan oleh para pengrajin, diantaranya adalah semakin erat hubungan antar tenaga kerja atau karyawan perusahaan. Keeratan hubungan antar tenaga kerja timbul karena kebiasaan para pengrajin melakukan pekerjaan bersamasama di sanggar karya milik perusahaan. Setiap kehidupan masyarakat selalu terjadi adanya interaksi sosial. Tanpa adanya interaksi sosial, maka tidak mungkin ada kehidupan bersama.

  1. Usaha Pelestarian Batik

Seiring dengan perkembangan zaman, hingga saat ini banyak tumbuh berkembang pengrajin batik menyebar hampir di seluruh wilayah Kecamatan maupun Kabupaten Banyuwangi, hal tersebut dikarenakan adanya dukungan positif dari semua pihak terhadap keberadaan batik Banyuwangi diantaranya Kebijakan Pemerintah Daerah dalam upaya pengembangan batik di Banyuwangi serta pemakaian batik khas daerah untuk seragam Dinas maupun Sekolah pada hari dan acara tertentu.

Kelestarian batik ikut terjaga ketika adanya peraturan yang dibuat pemerintah kabupaten Banyuwangi sejak 2009, yang mewajibkan semua pegawai pemerintah daerah dan pegawai negeri sipil di Banyuwangi untuk menggunakan seragam batik dengan motif Gajah Oling pada setiap hari Kamis, Jumat, dan Sabtu. Selain itu, juga untuk pemakaian busana khas Banyuwangi yaitu Jebeng dan Thulik (Duta Wisata dan Kebudayaan Banyuwangi) pada Thulik, batik motif Gajah Oling dipakai pada udeng tongkosan dan sembong sedang, sedangkan pada Jebeng batik Gajah Oling digunakan sebagai kain panjang.

Pemerintah sendiri memiliki beberapa program untuk kembali mengenalkan Batik Banyuwangi kepada masyarakat karena kekayaan budaya dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses pembangunan di Banyuwangi, dan batik menjadi salah satu produk kebudayaan yang termasuk dalam seni kerajinan rakyat.

——————————————————————————————-Rara Sonia Estiningtiyas, Sumardi. Bambang Soepeno. Dinamika Industri Kerajinan Batik Sayu Wiwit Di Kelurahan Temenggungan Kecamatan Kota Banyuwangi 1995─2014.
Universitas Jember (UNEJ)

Batik Gajah Oling, Kabupaten Banyuwangi

Batik Gajah Oling Produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit, Kabupaten Banyuwangi

batik-gajah-olingDalam penciptaan karya seni seorang perancang dapat mewujudkan pola rancangan melalui unsur-unsur visual sehingga pola yang dirancang bisa diamati atau dirasakan oleh orang lain. Unsur-unsur desain yang diterapkan pada desain batik Gajah Oling produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit berdasarkan kepekaan estetik perancang tanpa mengurangi nilai filosofi yang terkandung di dalamnya unsur-unsur desain yang ditemukan dalam desain batik Gajah Oling meliputi unsur titik, garis, dan bidang. Unsur titik digunakan sebagai pelengkap motif hias atau yang disebut isen-isen. Unsur garis digunakan sebagai komponen utama yang akan diwujudkan dalam pola motif batik, unsur garis bisa juga disandingkan dengan unsur titik hingga menjadi suatu pelengkap motif hias pada batik. Unsur bidang terlihat dalam berbagai bentuk motif batik, misalnya motif Gajah Oling, motif Daun Katu, motif Ular berkepala manusia, dan lain sebagainya. Unsur bidang dalam desain batik Gajah Oling ini ada yang berbentuk geometrik ada pula yang berbentuk non geometrik.

gajah-oling-batikkhas-banyuwangi4Dalam penciptaan suatu desain tidak hanya unsur-unsur desain saja yang diperlukan tetapi prinsip-prinsin desain juga perlu dipertimbangakan. Prinsipprinsip desain yang diterapkan oleh perancang batik dibuat berdasarkan hasil kepekaan estetik perancang dalam mengkomposisikan unsur dan prinsip sesuai dengan yang diharapkan. Prinsip-prinsip desain yang ada pada desain motif Batik Gajah Oling produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit antara lain adalah prinsip kesatuan, keseimbangan, dan irama. Prinsip kesatuan yang diterapkan pada desain batik Gajah Oling ini adalah penggunaan bentuk seragam dari motif Gajah Oling, motif Daun Katu, dan lain-lain dengan jarak motif yang berdekatan. Prinsip keseimbangan yang ada pada desain batik Gajah Oling adalah keseimbangan simetri karena susunan ruang sebelah kiri dan sebelah kanan dalam keadaan sama persis baik dari segi ukuran maupun penempatan komposisinya. Prinsip irama yang ada pada desain batik Gajah Oling dapat terlihat dari perulangan motif Gajah Oling dan motif Daun Katu.

Dalam proses pembuatan suatu karya, hal yang sangat dibutuhkan untuk menghasilkan suatu produk tersebut adalah media. Untuk pembuatan batik Gajah Oling media yang digunakan berupa alat dan bahan untuk membuat batik. Proses  Unsur garis pada salah satu desain Batik Gajah Oling Unsur bidang pada salah satu desain batik Gajah Oling Kesatuan pada salah satu desain Batik Gajah Oling terlihat dari penggunaan unsur titik, garis dan bidang terlihat utuh sebagai suatu kesatuan.

Keseimbangan pada salah satu desain batik Gajah Oling ini adalah keseimbangan simetri dimana susunan ruang antara sebelah kiri dan kanan sama persis. Irama pada salah satu desain batik Gajah Oling ini dapat diamati dari gerak perulangan yang mengalir membentuk garis semu. Pembuatan batik tulis di Sanggar Batik Sayu Wiwit dapat diperoleh data sebagai berikut:

(1) Persiapan alat dan bahan; media yang digunakan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit dalam pembuatan batik Gajah Oling meliputi alat dan bahan. Alat yang digunakan dalam membuat batik adalah kompor batik, wajan, canting, gawangan, bak besar, kuas dan gelas plastik, sarung tangan, taplak. Sedangkan bahan yang digunakan adalah kain mori primissima, malam batik, pewarna batik yaitu naphtol dan remashol;

(2) Pengolahan Kain; pada Sanggar Batik Sayu Wiwit pengolahan kain dilakukan dengan cara merendam kain dengan larutan TRO semalaman kemudian mencuci kain mori dengan air bersih dengan menggunakan mesin pencuci kain. Proses pencucian ini dilakukan untuk menghilangkan kandungan kanji pada kain. Dengan menggunakan mesin pencuci ini kain yang dicuci bisa mencapai 275 m per satu kali cuci. Setelah kain dicuci bersih, kemudian kain dikeringkan;

(3) Memotong Kain; cara memotong kain dengan menggunakan gunting yang telah disiapkan. Mori yang telah diberi tanda dimana mori yang akan dipotong digunting sedikit kurang lebih 3 cm kemudian dirobek dengan tangan;

(4) Pemindahan Pola Batik pada Kain; pemindahan pola yang dilakukan oleh pengrajin batik Sayu Wiwit adalah memindahkan pola menggunakan meja pola;

(5) Proses Pencantingan; pada proses pembuatan batik  ini ada dua proses yang dilakukan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit yaitu proses pembuatan batik tulis dan batik cap. Berikut ini akan dijelaskan masing-masing proses pembuatan batik tulis dan batik cap;

a) Pencantingan Batik Tulis: proses pembatikan batik tulis dilakukan dengan tahapan pertama yaitu ngreng-reng. Pada tahap ini pengrajin membatik kontur-kontur menurut pola dasar yang telah dibuat. Tahap kedua adalah memberi isen-isen. Isen-isen adalah proses penambahan hiasan pada motif batik agar terlihat lebih semarak. Tahap ketiga adalah menembok. Menembok merupakan menutup bidang yang tidak dikehendaki terkena warna;

b) Pencantingan Batik Cap: proses pembatikan batik cap yang dilakukan pengrajin Sanggar Batik Sayu Wiwit adalah pertama malam batik yang akan digunakan dipanaskan terlebih dahulu, tahapan kedua adalah canting cap yang akan dipakai diletakkan di atas wajan besar yang telah berisi malam batik, tahapan ketiga adalah pengambilan malam batik menggunakan cap dan kemudian dicapkan pada kain yang telah diletakkan di atas bantalan meja cap, tahapan keempat adalah melakukan kegiatan meletakkan cap diatas kain secara berulangulang;

(6) Proses Pewarnaan; ada dua teknik yang digunakan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit dalam proses pewarnaan yaitu teknik celup dan teknik colet. Berikut akan dijelaskan tentang proses pewarnaan yang dilakukan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit;

a) Teknik Celup: proses pewarnaan teknik celup yang dilakukan oleh pengrajin di Sanggar Batik Sayu Wiwit menggunakan bahan pewarna naphtol. Jenis bahan pewarna ini banyak sekali digunakan didalam pembatikan. Cara pemakaiannya adalah hasil kombinasi antara dari campuran Naphtol dan Garam Diazo. Perbandingan bahan naphtol dengan garam diazo adalah 1:3, misalnya naphtol 3 gram maka garam diazo yang dipakai adalah 9 gram;

b) Teknik Colet: tahap-tahap pewarnaan yang dilakukan oleh pengrajin batik di Sanggar Batik Sayu Wiwit sama seperti yang dijelaskan oleh Sewan Susanto dalam buku Seni Kerajinan Batik Indonesia. Tahap-tahap teknik pencoletan menggunakan remazol, yaitu tahap pertama kain yang akan dicolet direntangkan dengan menggunakan gawangan, tahap kedua larutan remazol dikuaskan pada permukaan kain secara merata, tahap ketiga kain yang sudah dikuas larutan remazol dikeringkan selama 4 jam, tahap keempat setelah dikeringkan kain akan dikuas lagi dengan natrium-silikat dan dibiarkan semalaman, tahap kelima kain yang telah dibiarkan semalam dicuci untuk menghilangkan sisa cat yang melekat dan natrium-silikat yang melekat;

(7) Pelorodan Malam; proses nglorod kain batik dilakukan oleh para pengrajin dengan cara memasukkan kain batik ke dalam kuali besar yang berisi air mendidih yang telah dicampur dengan soda abu. Proses ngelorod biasa membutuhkan waktu tiga sampai empat jam, tergantung berapa banyaknya kain yang akan dilorod. Setelah proses nglorod selesai maka kain dicuci dengan air bersih pada sebuah kolam besar sampai malam batik  yang menempel pada kain benar-benar bersih kemudian kain dikeringkan. Dari proses inilah hasil pembatikan pada kain dapat dilihat.

Batik Gajah Oling Banyuwangi sama halnya dengan batik yang ada di daerah lain di Indonesia yang memiliki ciri khas daerah, baik dari segi motif maupun segi pewarnaannya. Pada motif batik Gajah Oling terdapat motif pokok yang terdiri dari motif Gajah Oling, motif daun dilem, bunga melati dan manggar. Motif batik Gajah Oling motif pokoknya berasal dari varian dasar huruf S yang merupakan motif tertua di Indonesia. Motif daun dilem berasal dari sejenis tanaman semak yang dapat tumbuh dimana saja dan mempunyai khasiat sebagai obat-obatan. Motif melati berasal dari bunga melati yang banyak tumbuh dan tersebar di beberapa daerah di Indonesia. Sedangkan motif manggar berasal dari manggar yaitu bunga kelapa yang mulai bermekaran.

Ditemukan delapan motif batik Gajah Oling Produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit Banyuwangi  Gajah Oling Tradisional  Motif  Pola Sentral Bentuk Motif Gajah Oling , Daun Katu, Kupukupu. Unsur-unsur Motif Cecek, Cecek sawut, Cecek sawut daun, Warna Putih dan Hitam.

Terkait dengan visualisasi motif batik Gajah Oling produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit, ditemukan motif geometris dan motif non geometris sebagai motif tambahan yang berada dalam satu kesatuan motif Gajah Oling. Motif geometris terdiri dari motif Ceplokan, motif Garis Miring, motif Anyam, motif Banji. Motif non geometris terdiri darimotif Binatang dan motif Tumbuhan.

——————————————————————————————-Mutiara Zehan. Studi Desain Dan Motif Hias Batik Gajah Oling Produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit Banyuwangi.
Universitas Negeri Malang Mei 2012

Batik Gajah Oling, Kabupaten Banyuwangi

Batik Gajah Oling Produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit, Kabupaten Banyuwangi

batik-gajah-olingDalam penciptaan karya seni seorang perancang dapat mewujudkan pola rancangan melalui unsur-unsur visual sehingga pola yang dirancang bisa diamati atau dirasakan oleh orang lain. Unsur-unsur desain yang diterapkan pada desain batik Gajah Oling produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit berdasarkan kepekaan estetik perancang tanpa mengurangi nilai filosofi yang terkandung di dalamnya unsur-unsur desain yang ditemukan dalam desain batik Gajah Oling meliputi unsur titik, garis, dan bidang. Unsur titik digunakan sebagai pelengkap motif hias atau yang disebut isen-isen. Unsur garis digunakan sebagai komponen utama yang akan diwujudkan dalam pola motif batik, unsur garis bisa juga disandingkan dengan unsur titik hingga menjadi suatu pelengkap motif hias pada batik. Unsur bidang terlihat dalam berbagai bentuk motif batik, misalnya motif Gajah Oling, motif Daun Katu, motif Ular berkepala manusia, dan lain sebagainya. Unsur bidang dalam desain batik Gajah Oling ini ada yang berbentuk geometrik ada pula yang berbentuk non geometrik.

gajah-oling-batikkhas-banyuwangi4Dalam penciptaan suatu desain tidak hanya unsur-unsur desain saja yang diperlukan tetapi prinsip-prinsin desain juga perlu dipertimbangakan. Prinsipprinsip desain yang diterapkan oleh perancang batik dibuat berdasarkan hasil kepekaan estetik perancang dalam mengkomposisikan unsur dan prinsip sesuai dengan yang diharapkan. Prinsip-prinsip desain yang ada pada desain motif Batik Gajah Oling produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit antara lain adalah prinsip kesatuan, keseimbangan, dan irama. Prinsip kesatuan yang diterapkan pada desain batik Gajah Oling ini adalah penggunaan bentuk seragam dari motif Gajah Oling, motif Daun Katu, dan lain-lain dengan jarak motif yang berdekatan. Prinsip keseimbangan yang ada pada desain batik Gajah Oling adalah keseimbangan simetri karena susunan ruang sebelah kiri dan sebelah kanan dalam keadaan sama persis baik dari segi ukuran maupun penempatan komposisinya. Prinsip irama yang ada pada desain batik Gajah Oling dapat terlihat dari perulangan motif Gajah Oling dan motif Daun Katu.

Dalam proses pembuatan suatu karya, hal yang sangat dibutuhkan untuk menghasilkan suatu produk tersebut adalah media. Untuk pembuatan batik Gajah Oling media yang digunakan berupa alat dan bahan untuk membuat batik. Proses  Unsur garis pada salah satu desain Batik Gajah Oling Unsur bidang pada salah satu desain batik Gajah Oling Kesatuan pada salah satu desain Batik Gajah Oling terlihat dari penggunaan unsur titik, garis dan bidang terlihat utuh sebagai suatu kesatuan.

Keseimbangan pada salah satu desain batik Gajah Oling ini adalah keseimbangan simetri dimana susunan ruang antara sebelah kiri dan kanan sama persis. Irama pada salah satu desain batik Gajah Oling ini dapat diamati dari gerak perulangan yang mengalir membentuk garis semu. Pembuatan batik tulis di Sanggar Batik Sayu Wiwit dapat diperoleh data sebagai berikut:

(1) Persiapan alat dan bahan; media yang digunakan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit dalam pembuatan batik Gajah Oling meliputi alat dan bahan. Alat yang digunakan dalam membuat batik adalah kompor batik, wajan, canting, gawangan, bak besar, kuas dan gelas plastik, sarung tangan, taplak. Sedangkan bahan yang digunakan adalah kain mori primissima, malam batik, pewarna batik yaitu naphtol dan remashol;

(2) Pengolahan Kain; pada Sanggar Batik Sayu Wiwit pengolahan kain dilakukan dengan cara merendam kain dengan larutan TRO semalaman kemudian mencuci kain mori dengan air bersih dengan menggunakan mesin pencuci kain. Proses pencucian ini dilakukan untuk menghilangkan kandungan kanji pada kain. Dengan menggunakan mesin pencuci ini kain yang dicuci bisa mencapai 275 m per satu kali cuci. Setelah kain dicuci bersih, kemudian kain dikeringkan;

(3) Memotong Kain; cara memotong kain dengan menggunakan gunting yang telah disiapkan. Mori yang telah diberi tanda dimana mori yang akan dipotong digunting sedikit kurang lebih 3 cm kemudian dirobek dengan tangan;

(4) Pemindahan Pola Batik pada Kain; pemindahan pola yang dilakukan oleh pengrajin batik Sayu Wiwit adalah memindahkan pola menggunakan meja pola;

(5) Proses Pencantingan; pada proses pembuatan batik  ini ada dua proses yang dilakukan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit yaitu proses pembuatan batik tulis dan batik cap. Berikut ini akan dijelaskan masing-masing proses pembuatan batik tulis dan batik cap;

a) Pencantingan Batik Tulis: proses pembatikan batik tulis dilakukan dengan tahapan pertama yaitu ngreng-reng. Pada tahap ini pengrajin membatik kontur-kontur menurut pola dasar yang telah dibuat. Tahap kedua adalah memberi isen-isen. Isen-isen adalah proses penambahan hiasan pada motif batik agar terlihat lebih semarak. Tahap ketiga adalah menembok. Menembok merupakan menutup bidang yang tidak dikehendaki terkena warna;

b) Pencantingan Batik Cap: proses pembatikan batik cap yang dilakukan pengrajin Sanggar Batik Sayu Wiwit adalah pertama malam batik yang akan digunakan dipanaskan terlebih dahulu, tahapan kedua adalah canting cap yang akan dipakai diletakkan di atas wajan besar yang telah berisi malam batik, tahapan ketiga adalah pengambilan malam batik menggunakan cap dan kemudian dicapkan pada kain yang telah diletakkan di atas bantalan meja cap, tahapan keempat adalah melakukan kegiatan meletakkan cap diatas kain secara berulangulang;

(6) Proses Pewarnaan; ada dua teknik yang digunakan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit dalam proses pewarnaan yaitu teknik celup dan teknik colet. Berikut akan dijelaskan tentang proses pewarnaan yang dilakukan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit;

a) Teknik Celup: proses pewarnaan teknik celup yang dilakukan oleh pengrajin di Sanggar Batik Sayu Wiwit menggunakan bahan pewarna naphtol. Jenis bahan pewarna ini banyak sekali digunakan didalam pembatikan. Cara pemakaiannya adalah hasil kombinasi antara dari campuran Naphtol dan Garam Diazo. Perbandingan bahan naphtol dengan garam diazo adalah 1:3, misalnya naphtol 3 gram maka garam diazo yang dipakai adalah 9 gram;

b) Teknik Colet: tahap-tahap pewarnaan yang dilakukan oleh pengrajin batik di Sanggar Batik Sayu Wiwit sama seperti yang dijelaskan oleh Sewan Susanto dalam buku Seni Kerajinan Batik Indonesia. Tahap-tahap teknik pencoletan menggunakan remazol, yaitu tahap pertama kain yang akan dicolet direntangkan dengan menggunakan gawangan, tahap kedua larutan remazol dikuaskan pada permukaan kain secara merata, tahap ketiga kain yang sudah dikuas larutan remazol dikeringkan selama 4 jam, tahap keempat setelah dikeringkan kain akan dikuas lagi dengan natrium-silikat dan dibiarkan semalaman, tahap kelima kain yang telah dibiarkan semalam dicuci untuk menghilangkan sisa cat yang melekat dan natrium-silikat yang melekat;

(7) Pelorodan Malam; proses nglorod kain batik dilakukan oleh para pengrajin dengan cara memasukkan kain batik ke dalam kuali besar yang berisi air mendidih yang telah dicampur dengan soda abu. Proses ngelorod biasa membutuhkan waktu tiga sampai empat jam, tergantung berapa banyaknya kain yang akan dilorod. Setelah proses nglorod selesai maka kain dicuci dengan air bersih pada sebuah kolam besar sampai malam batik  yang menempel pada kain benar-benar bersih kemudian kain dikeringkan. Dari proses inilah hasil pembatikan pada kain dapat dilihat.

Batik Gajah Oling Banyuwangi sama halnya dengan batik yang ada di daerah lain di Indonesia yang memiliki ciri khas daerah, baik dari segi motif maupun segi pewarnaannya. Pada motif batik Gajah Oling terdapat motif pokok yang terdiri dari motif Gajah Oling, motif daun dilem, bunga melati dan manggar. Motif batik Gajah Oling motif pokoknya berasal dari varian dasar huruf S yang merupakan motif tertua di Indonesia. Motif daun dilem berasal dari sejenis tanaman semak yang dapat tumbuh dimana saja dan mempunyai khasiat sebagai obat-obatan. Motif melati berasal dari bunga melati yang banyak tumbuh dan tersebar di beberapa daerah di Indonesia. Sedangkan motif manggar berasal dari manggar yaitu bunga kelapa yang mulai bermekaran.

Ditemukan delapan motif batik Gajah Oling Produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit Banyuwangi  Gajah Oling Tradisional  Motif  Pola Sentral Bentuk Motif Gajah Oling , Daun Katu, Kupukupu. Unsur-unsur Motif Cecek, Cecek sawut, Cecek sawut daun, Warna Putih dan Hitam.

Terkait dengan visualisasi motif batik Gajah Oling produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit, ditemukan motif geometris dan motif non geometris sebagai motif tambahan yang berada dalam satu kesatuan motif Gajah Oling. Motif geometris terdiri dari motif Ceplokan, motif Garis Miring, motif Anyam, motif Banji. Motif non geometris terdiri darimotif Binatang dan motif Tumbuhan.

——————————————————————————————-Mutiara Zehan. Studi Desain Dan Motif Hias Batik Gajah Oling Produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit Banyuwangi.
Universitas Negeri Malang Mei 2012

Motif Batik Pada “Pusat Batik Majapahit Kabupaten Mojokerto  

batik-mojokerto-motif-matahari-merahMojokerto adalah kota yang pernah menjadi ibukota Majapahit, di kota ini banyak sekali peninggalan bersejarah. “Pusat Batik Majapahit” merupakan penerus kebudayaan tradisi masyarakat, di mana secara turun temurun membuat karya-karya berupa kain batik yang bisa dimanfaatkan tidak hanya untuk busana tetapi menjadi berbagai macam barang sesuai dengan keperluan pemakainya. Khususnya masyarakat Mojokerto dengan ciri khas batik daerahnya. “Pusat Batik Majapahit” perlu dikembangkan, pengembangan sangat diperlukan untuk  memperbaharui apa yang telah ada, dengan tujuan agar lebih bervariasi dan memberi gambaran yang  fresh sesuai dengan perkembangan zaman.

Sejarah perkembangan pembatikan di Mojokerto termasuk muda usianya. Batik Mojokerto merupakan sebuah budaya kerajinan batik yang sejarahnya berkembang dengan masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Keunikan batik Mojokerto adalah pada nama-nama coraknya yang sangat asing dan aneh ditelinga sebagian orang. Misalnya gedeg rubuh, matahari, mrico bolong, pring sedapur, grinsing, atau suryamajapait. Batik Mojokerto kini memiliki 6 motif yang telah dipatenkan, yakni pring sedapur, mrico bolong, sisik gringsing, koro renteng, rawan indek dan matahari. Penulisan ini memaparkan tentang motif batik di “Pusat Batik Majapahit” dan proses pengembangan motif batik dengan menggunakan sumber ide motif batik di ‘Pusat Batik Majapahit” Kabupaten Mojokerto.

Sejarah Perusahaan

“Pusat Batik Majapahit” merupakan perusahaan kerajinan batik yang berada di Jalan RA Basuni DusunDaleman Desa Japan Kecamatan Sooko KabupatenMojokerto. Merupakan salah satu tempat produksi danpenjual batik khas Mojokerto. Sebagian besar sumber idedalam penciptaan pembuatan motif berasal dariMajapahit seperti candi-candi dan tumbuhan, sebabMojokerto pernah menjadi pusat Ibukota Majapahit makapeninggalan-peninggalannya bisa dijadikan icon motif  “Pusat Batik Majapahit” yang bertujuan untuk mengingatkan bahwa di Kabupaten Mojokertomempunyai berbagai macam sejarah dan sekaligus saksisejarah yang masih ada dan tetap harus dilestarikan.

 Sumber Ide Dalam penciptaan Motif batik yang diterapkan pada kain di “Pusat Batik Majapahit”“Batik Paduraksa Bajangratu”

Ada berbagai macam jenis bangunan yang tak terhitung banyaknya, mempunyai macam perbedaan baik dari segi bentuk, manfaat serta latar belakang berdirinya bangunan yang dibuat oleh manusia. Dari berbagaimacam bangunan yang ada selain difungsikan sebagaitempat berlindung dapat pula dijadikan sumber inspirasi dalam penciptaan berbagai macam ragam  hias. “Pusat Batik Majapahit” memanfaatkan bangunan yang ada di Kabupaten Mojokerto salah satunya adalah gapura Paduraksa Bajangratu sebagai sumber ide dalam penciptaan motif. Banyak kriteria dan latar belakang yang dijadikan pertimbangan dalam pengambilan jenisbangunan yang dipakai yaitu mempunyai sejarah yangkuat, sehingga dalam pemilihan ragam hias atau motif bangunan mempunyai tujuan masing-masing. Motif  utama pada “Batik Paduraksa Bajangratu” adalah gapura Paduraksa Bajangratu, motif pengisi 2 bunga Cempaka, motif pengisi 2 Surya Majapahit dan motif pinggiran Stupika.

Batik Kupu -kupu

Batik Kupu-kupu merupakan salah satu batik yang dimiliki oleh “Pusat Batik Majapahit” dengan golongan motif geometris, motif utamanya yaitu hewanKupu-kupu, jenis hewan untuk dijadikan sumber idehanya yang dapat ditemui didaerah lingkungan sekitarkhususnya di Kabupaten Mojokerto. Salah satu motif kebanggaan “Pusat Batik Majapahit” selain candi- candi.

Pengembangan Motif Batik pada “Pusat Batik Majapahit”, yang merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit salah satunya adalah motif kupu-kupu dan bunga yang banyak diminati pelanggan, motif yang cenderung feminim banyak menarik minat dari kalangan wanita (Ibu Wiwin, Maret 2014). Sumber ide “Batik Kupu- kupu” dengan motif utama yaitu hewan Kupu-kupu, motif pengisi 2 Bunga Matahari, motif pengisi 3 Surya Majapahit dan motif pinggiran Bata Berelief.

Batik Daun Mrico Bolong

Batik Mrico Bolong merupakan salah satu batik yang dimiliki oleh “Pusat Batik Majapahit” dengan golongan motif non geometris, motif utamanya yaitu daun dari bunga matahari yang dipadukan dengan isen-isen Mrico Bolong. Mrico Bolong adalah salah satu motif khas Mojokerto yang sudah dipatenkan.Tujuan isen-isenuntuk memperindah pola secara keseluruhan, baik ornamen pokok maupun ornamen pengisi diberi isian atau hiasan. Mojokerto kini memiliki 6 motif yang telah dipatenkan, yakni Pring Sedapur, Mrico Bolong, Sisik Gringsing, Koro Renteng, Rawan Indek dan Matahari (bunga matahari). Sumber ide “Batik Daun Mrico Bolong” motif utama yaitu daun bunga Matahari, motif pengisi 1 hewan Kupu-kupu, motif pengisi 2 batik Parang, motif pengisi 3 Surya Majapahit dan motif isen-isen latar yaitu mrico bolong

Batik Bunga Matahari

Batik Bunga Matahari merupakan salah satu batik yang dimiliki “Pusat Batik Majapahit” dengan golongan motif geometris, batik ke 4 yang peneliti kembangakan desain motifnya. Disebut “Batik Bunga Matahari” karena sumber ide utamanya adalah bunga Matahari, bunga Matahari memang salah satu tumbuhan yang sangat indah tidak salah apabila “Pusat Batik Majapahit” sering menggunakan jenis tumbuhan inisebagai sumber idenya.

Motif utama “Batik Bunga Matahari” adalah bunga Matahari yang dipadukan dengan hewan Kupu-kupu sebagai motif pendukung, motif ini muncul sekitar 1 tahun lalu didesain oleh karyawan “Pusat Batik Majapahit”, yang menyukainya kebanyakan kaum Ibu-ibu, memang motif dengan pola tumbuh-tumbuhanbanyak mencerminkan kewanitaan, banyak yangmewakili kepada sifat – sifat yang feminim. Sumber ide  penciptaan “Batik Bunga Matahari” motif  utama yaitu bunga Matahari, motif pengisi 1 hewan Kupu-kupu, motif pengisi 2 awan dan motif pengisi 3 Surya Majapahit.

 Batik Ukel

Batik Ukel merupakan salah satu jenis batik yangdimiliki “Pusat Batik Majapahit” yang merupakan batik dengan golongan non geometris, “Batik Ukel” adalah  jenis  batik  ke 5  yang dikembangkan. Ukel biasa disebut juga dengan ulir, banyak sebutan yang diberikan pada bentuk – bentuk detail merupakan jenis ukiran di Jawa, maka dari itu disebut “Batik Ukel” sebab hampir semua motif ukel yang mendominasi. Sumber ide penciptaan yaitu motif utama ukelan atau sulur, motif pengisi 1 bunga Teratai dan motif pengisi 2 SuryaMajapahit.

 Proses Pengembagan Desain Motif Batik “Batik Paduraksa Bajangratu”

Pada pengembangan motif batik yang pertama yaitu “Batik Paduraksa Bajangratu” motif utama gapura Paduraksa Bajangratu mengalami sedikit perubahan desain namun masih jelas terlihat bahwa gapura Paduraksa Bajangratu yang indah. Motif hasil pengembangan digambarkan lebih menjulang tinggi sebab pada kenyataannya gapura Paduraksa Bajang ratu tingginya 16 meter.Pola dasar motif gapura Paduraksa Bajang ratu tersusun dari beberapa bentuk segitiga, persegi panjang, dan bentuk lainnya, dibawah desain gapura diberikan gambar rumput kiri dan kanan yang memberikan kesanbahwa gapura Paduraksa Bajangratu sangat menyatudengan alam tidak monoton hanya sekedar bangunan, diatas gapura Paduraksa Bajangratu ditambahkan Matahari dan Awan yang bertujuan untuk memperindahdan pelengkap gapura Paduraksa Bajangratu sehinggamembuat gapura Paduraksa Bajangratu nampak tidak simetris ketika dikombinasikan dengan alam yang berupa Awan dan Matahari.

Bunga Cempaka merupakan motif pengisi 1, padahasil pengembangan motif bunga Cempaka mengalami stilasi meskipun subjek berasal dari alam tetapi tidak seluruhnya dituangkan dalam bentuk serupa hanya mengambil intinya saja sehingga memberikan beberapa segi  yang  menguntungkan. Surya Majapahit merupakan motif pengisi 2 yaitu sebagai simbol “Pusat Batik Majapahit” hasil dalam pengembangan motif Surya Majapahit tidak banyak mengalami perubahan bentuk,hanya saja bagian luar kontur Surya Majapahit tidak diberikan garis-garis lurus hal ini bertujuan agar lebih simpel tanpa menghilangkan ciri khas Surya Majapahit, komposisi peletakan motif pengisi 2 ini diletakkanditengah motif pengisi 1 yaitu bunga Cempaka.Isen- isen pada “Batik Paduraksa Bajangratu” sebelumnya tidak menggunakan isen-isen, pada hasil  pengembangan  motif  “Batik Paduraksa Bajangratu” ditambahan isen-isen yaitu berupa cecek atau titik yang dipadukan dengan garis lengkung atau rambutan rawan (seperti rambut) sehingga “Batik Paduraksa Bajangratu” lengkap dengan isen-isen.

Motif pinggiran “Batik Paduraksa Bajangratu” adalah Stupika, dalam hasil pengembangan motif pinggiran stupika masih jelasterlihat tidak mengalami banyak perubahan bentuk darimotif sebelumnya, garis-garis lurus yang menghubungan Stupika dikembangkan menjadi garis-garis lengkung yang diisi dengan garis-garis lurus, posisi Stupika membentuk pola segitiga dilanjutkan Stupika yang saling berhadapan yang pada bagian atas diberikan symbol “Pusat Batik Majapahit” yaitu Surya Majapahit hal ini bertujuan untuk menyatukan antara Stupika dan Surya Majapahit yang keduanya merupakan peninggalan kerajaan Majapahit yang masih ada sampai sekarang.

Warna dalam “Batik Paduraksa Bajangratu” sebelum dikembangkan yaitu warna hijau muda yang dirasa kurang menarik minat remaja kemudian dikembangkan menjadi warna ungu yang dipadukan dengan warnalainnya sehingga menimbulkan kesan yang cerah.Dari hasil penilaian Validator terhadap pengembangan “Batik Paduraksa Bajangratu” komposisi yang baik keseimbangan antara motif utama dan motif lainnya, begitu juga dengan center of interest, ukuran dan kemudahan mengenali masing-masing motif sehingga pengembangan ini layak untuk digunakan.

“Batik Kupu – kupu” Pada pengembangan motif batik yang kedua “Batik Kupu- kupu” motif utama pada batik ini adalah Kupu-kupu yakni hewan mempunyai sayap yang indah,sebelum dikembangkan Kupu-kupu digambarkan secara jelas dengan bentuk Kupu-kupu yang saling berhadapan dengan sedikit mengalami stilasi atau perubahan bentuk, kemudian motif Kupu-kupu dikembangkan menjadi hewan Kupu-kupu yang utuh tidak hanya saling berhadapan yang terlihat dari samping saja sehingga terkesan lebih indah dengan kedua sayapnya. Ada 5 jenisstilasi Kupu-kupu yang digambarkan, di posisi tengah digambarkan Kupu-kupu ukuran besar dengan arah tegak,di kelilingi 4 Kupu-kupu yang berukuran kecil denganarah miring yang memberikan maksud bahwa apapun ukuran Kupu-kupu tetap seimbang sehingga tidak akan berpengaruh pada segi keindahan. Bunga Matahari merupakan motif pengisi 1, pada “Batik Kupu – kupu” hasil pengembangan motif Bunga Matahari mengalamistilasi atau perubahan bentuk yang begitu signifikan darimotif sebelumnya namun masih terlihat jelas bentuk dari bunga Matahari sesungguhnya meskipun subjek berasaldari alam tetapi tidak seluruhnya dituangkan dalam bentuk serupa hanya diambil intinya saja. Bunga Matahari digambarkan mulai dari kuncup sampai bunga yang sudah bermekaran dipadukan dengan daun dariberbagai arah.

Dari hasil penilaian Validator terhadap  pengembangan “Batik Kupu – kupu” komposisi antara motif utama dan motif lainnya sangat baik sehingga bisa sangat mudah mengenali antara masing-masing motif, sehingga pengembangan “Batik Kupu – kupu” layak digunakan adalah daun dari bunga matahari dari desain motif sebelumnya motif utama hanya sedikit mengalami stilasinamun masih jelas terlihat bentuk dari sumber idenya,setelah dikembangkan motif utama daun bunga matahari juga masih nampak bentuk aslinya namun di berikan sentuhan ragam hias sehingga membuat daun bunga matahari lebih cantik dengan paduan bunga matahariyang bermekaran sehingga tidak monoton hanya daunsaja. Di tengah – tengah motif utama diberikan tambahan motif Surya Majapahit yang memisahkan kedua desainmotif utama yang di mirror agar memdapatkan iramayang harmonis.Komposisi peletakan motif utamadiletakkan pada bagian bawah dan atas yang bersebelahan dengan motif pinggiran karena motif utama tidak hanya diletakkan ditengah saja sebab motif pengisi1 dan 2 merupakan motif pendukung yang tujuan untuk memperindah pola keseluruhan jadi dimanapun letak motif utama dimaksdunya agar saling memperindah satusama lain antar motif. Warna sangat penting dalam hasil semua karya seni, termasuk batik karena warna dapat mempengaruhi secara psikologis bagi  seseorang. Warna “Batik Batik Daun Mrico Bolong” sebelum dikembangkan terdiri dari berbagai unsur warna setelah dikembangkan “Batik  Batik Daun Mrico Bolong” diberikan baground hijau yang dipadukan dengan warna merah untuk motif pengisi akan memberikan kesan penuh kepercayaan dan keberanian.Dari penilaian Validator komposisi, center of interest, peletekan bidang gambar, ukuran dan kemudahan mengenali masing-masing motif cukup baik sehinggamotif yang dikembangkan layak digunakan.

 Batik Bunga Matahari

Batik Bunga Matahari merupakan jenis batik yang keempat yang dikembangkan peneliti, motif utama pada “Batik Bunga Matahari” adalah bunga matahari yangmerupakan tumbuhan yang sering dijumpai dimana saja,pada motif batik sebelumnya motif utama bunga matahari digambarkan dengan bentuk motif stilasi yang hanya sedikit mengalami perubahan bentuk sepertimenghilangkan tumpuk bunga matahari. Namun motif batik sebelumnya kurang begitu menampilkan ragamhiasnya setelah dikembangkan peneliti motif utama diletakkan pada bagian atas dan bawah berdekatandengan motif pinggiran, motif bunga mataharidigambarkan dari kuncup sampai bunga yang bermekaran dengan bentuk stilasi yang menarik sehingga terkesanlebih cantik.

Motif pengisi 1 pada “Batik Bunga Matahari” adalah Kupu-kupu Tanaecia Trigerta diletakkan padaposisi tengah dengan arah tegak dan miring yang terdiridari 3 Kupu-kupu dalam satu kelompok satu Kupu-kupuyang terlihat kedua sayapnya dan dua Kupu-kupu terlihat dari samping atau hanya terlihat satu sayap saja. Motif pengisi 2 dengan sumber ide awan tidak dimunculkandalam pengembangan yang dilakukan penulis sebabmotif pengisi 2 hanya motif tambahan saja sehingga tidak akan berpengaruh. Motif pengisi 3 Surya Majapahit sebagai simbol “Pusat Batik Majapahit” posisi peletakan motif pengisi 3 diletakkan di tengah antara motif utama,dan di atas motif utama.Warna sangat penting dalam hasil semua karya seni, setelah dikembangkan “Batik Bunga Matahari” menggunakan warna merah yang memberikan artikekuatan dan paling menarik perhatian, warna merah diasosiasikan darah dan berani yang merupakan warna  primer maka dari itu “Batik Bunga Matahari” akan memberikan kesan kekuatan dengan perpaduan bunga Matahari yang indah berwarna  pink atau merah muda dan Kupu-kupu berwarna kuning karena merah dan kuning mempunyai makna yang ceria. Dari hasil penilaian Validator ahli Komposisi pengembangan “Batik Bunga Mata hari” sangat baik, center of interest, peletakanbidang, ukuran dalam penyusunan dan kemudahan mengenali masing-masing motif baik sehingga motif   pegembangan “Batik Bunga Matahari” layak digunakan.

 Batik Ukel

Batik Ukel merupakan jenis batik yang terakhir yang dikembangkan peneliti, motif utama pada “Batik Ukel” adalah motif ukel yang didapatkan dari ukiran kayu pada masyarakat Jawa yang indah yang sebenarnyaberasal dari tumbuhan yang mengalami stilasi perubahanbentuk, pada motif sebelumnya motif utama ukelanhanya sedikit mengalami stilasi dari sumber ide motif ukel sebelumnya sehingga belum begitu menampilanragam hiasnya. Setelah dikembangkan peneliti motif utama diletakkan pada posisi tengah berbentuk elips, Surya Majapahit diletakkan pada posisidi tengah lengkungan elips dipadukan bunga Teratai serta daunnya yang sudah distilasi terkesan lebih harmonis dan cantik, setelah dikembangkan “Batik Ukel” diberikan baground warna hitam yang dipadukan dengan warna orange untuk motif pinggiran dan motif pengisi 3 yaitu Surya Majapahit akan memberikan kesan misterius yang cocok digunakan dari usia anak-anak, remaja sampai orangdewasa. Dari hasil penilaian Validator ahli Komposisidan center of interest   pengembangan “Batik Bunga Matahari” sangat baik, pellet akan bidang, ukuran dalam penyusunan dan kemudahan mengenali masing – masing motif baik sehingga motif pegembangan “Batik Bunga Matahari” layak digunakan.

——————————————————————————————-Lutfiana Cahyani, Dra. Indah Chrysanti A, M.Sn (Universitas Negeri Surabaya). Pengembangan Motif Batik Pada “Pusat Batik Majapahit” Di Kabupaten Mojokerto.  Jurnal Pendidikan Seni Rupa, Volume 2 Nomor2Tahun 2014,116-122

Motif Batik Pada “Pusat Batik Majapahit Kabupaten Mojokerto  

batik-mojokerto-motif-matahari-merahMojokerto adalah kota yang pernah menjadi ibukota Majapahit, di kota ini banyak sekali peninggalan bersejarah. “Pusat Batik Majapahit” merupakan penerus kebudayaan tradisi masyarakat, di mana secara turun temurun membuat karya-karya berupa kain batik yang bisa dimanfaatkan tidak hanya untuk busana tetapi menjadi berbagai macam barang sesuai dengan keperluan pemakainya. Khususnya masyarakat Mojokerto dengan ciri khas batik daerahnya. “Pusat Batik Majapahit” perlu dikembangkan, pengembangan sangat diperlukan untuk  memperbaharui apa yang telah ada, dengan tujuan agar lebih bervariasi dan memberi gambaran yang  fresh sesuai dengan perkembangan zaman.

Sejarah perkembangan pembatikan di Mojokerto termasuk muda usianya. Batik Mojokerto merupakan sebuah budaya kerajinan batik yang sejarahnya berkembang dengan masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Keunikan batik Mojokerto adalah pada nama-nama coraknya yang sangat asing dan aneh ditelinga sebagian orang. Misalnya gedeg rubuh, matahari, mrico bolong, pring sedapur, grinsing, atau suryamajapait. Batik Mojokerto kini memiliki 6 motif yang telah dipatenkan, yakni pring sedapur, mrico bolong, sisik gringsing, koro renteng, rawan indek dan matahari. Penulisan ini memaparkan tentang motif batik di “Pusat Batik Majapahit” dan proses pengembangan motif batik dengan menggunakan sumber ide motif batik di ‘Pusat Batik Majapahit” Kabupaten Mojokerto.

Sejarah Perusahaan

“Pusat Batik Majapahit” merupakan perusahaan kerajinan batik yang berada di Jalan RA Basuni DusunDaleman Desa Japan Kecamatan Sooko KabupatenMojokerto. Merupakan salah satu tempat produksi danpenjual batik khas Mojokerto. Sebagian besar sumber idedalam penciptaan pembuatan motif berasal dariMajapahit seperti candi-candi dan tumbuhan, sebabMojokerto pernah menjadi pusat Ibukota Majapahit makapeninggalan-peninggalannya bisa dijadikan icon motif  “Pusat Batik Majapahit” yang bertujuan untuk mengingatkan bahwa di Kabupaten Mojokertomempunyai berbagai macam sejarah dan sekaligus saksisejarah yang masih ada dan tetap harus dilestarikan.

 Sumber Ide Dalam penciptaan Motif batik yang diterapkan pada kain di “Pusat Batik Majapahit”“Batik Paduraksa Bajangratu”

Ada berbagai macam jenis bangunan yang tak terhitung banyaknya, mempunyai macam perbedaan baik dari segi bentuk, manfaat serta latar belakang berdirinya bangunan yang dibuat oleh manusia. Dari berbagaimacam bangunan yang ada selain difungsikan sebagaitempat berlindung dapat pula dijadikan sumber inspirasi dalam penciptaan berbagai macam ragam  hias. “Pusat Batik Majapahit” memanfaatkan bangunan yang ada di Kabupaten Mojokerto salah satunya adalah gapura Paduraksa Bajangratu sebagai sumber ide dalam penciptaan motif. Banyak kriteria dan latar belakang yang dijadikan pertimbangan dalam pengambilan jenisbangunan yang dipakai yaitu mempunyai sejarah yangkuat, sehingga dalam pemilihan ragam hias atau motif bangunan mempunyai tujuan masing-masing. Motif  utama pada “Batik Paduraksa Bajangratu” adalah gapura Paduraksa Bajangratu, motif pengisi 2 bunga Cempaka, motif pengisi 2 Surya Majapahit dan motif pinggiran Stupika.

Batik Kupu -kupu

Batik Kupu-kupu merupakan salah satu batik yang dimiliki oleh “Pusat Batik Majapahit” dengan golongan motif geometris, motif utamanya yaitu hewanKupu-kupu, jenis hewan untuk dijadikan sumber idehanya yang dapat ditemui didaerah lingkungan sekitarkhususnya di Kabupaten Mojokerto. Salah satu motif kebanggaan “Pusat Batik Majapahit” selain candi- candi.

Pengembangan Motif Batik pada “Pusat Batik Majapahit”, yang merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit salah satunya adalah motif kupu-kupu dan bunga yang banyak diminati pelanggan, motif yang cenderung feminim banyak menarik minat dari kalangan wanita (Ibu Wiwin, Maret 2014). Sumber ide “Batik Kupu- kupu” dengan motif utama yaitu hewan Kupu-kupu, motif pengisi 2 Bunga Matahari, motif pengisi 3 Surya Majapahit dan motif pinggiran Bata Berelief.

Batik Daun Mrico Bolong

Batik Mrico Bolong merupakan salah satu batik yang dimiliki oleh “Pusat Batik Majapahit” dengan golongan motif non geometris, motif utamanya yaitu daun dari bunga matahari yang dipadukan dengan isen-isen Mrico Bolong. Mrico Bolong adalah salah satu motif khas Mojokerto yang sudah dipatenkan.Tujuan isen-isenuntuk memperindah pola secara keseluruhan, baik ornamen pokok maupun ornamen pengisi diberi isian atau hiasan. Mojokerto kini memiliki 6 motif yang telah dipatenkan, yakni Pring Sedapur, Mrico Bolong, Sisik Gringsing, Koro Renteng, Rawan Indek dan Matahari (bunga matahari). Sumber ide “Batik Daun Mrico Bolong” motif utama yaitu daun bunga Matahari, motif pengisi 1 hewan Kupu-kupu, motif pengisi 2 batik Parang, motif pengisi 3 Surya Majapahit dan motif isen-isen latar yaitu mrico bolong

Batik Bunga Matahari

Batik Bunga Matahari merupakan salah satu batik yang dimiliki “Pusat Batik Majapahit” dengan golongan motif geometris, batik ke 4 yang peneliti kembangakan desain motifnya. Disebut “Batik Bunga Matahari” karena sumber ide utamanya adalah bunga Matahari, bunga Matahari memang salah satu tumbuhan yang sangat indah tidak salah apabila “Pusat Batik Majapahit” sering menggunakan jenis tumbuhan inisebagai sumber idenya.

Motif utama “Batik Bunga Matahari” adalah bunga Matahari yang dipadukan dengan hewan Kupu-kupu sebagai motif pendukung, motif ini muncul sekitar 1 tahun lalu didesain oleh karyawan “Pusat Batik Majapahit”, yang menyukainya kebanyakan kaum Ibu-ibu, memang motif dengan pola tumbuh-tumbuhanbanyak mencerminkan kewanitaan, banyak yangmewakili kepada sifat – sifat yang feminim. Sumber ide  penciptaan “Batik Bunga Matahari” motif  utama yaitu bunga Matahari, motif pengisi 1 hewan Kupu-kupu, motif pengisi 2 awan dan motif pengisi 3 Surya Majapahit.

 Batik Ukel

Batik Ukel merupakan salah satu jenis batik yangdimiliki “Pusat Batik Majapahit” yang merupakan batik dengan golongan non geometris, “Batik Ukel” adalah  jenis  batik  ke 5  yang dikembangkan. Ukel biasa disebut juga dengan ulir, banyak sebutan yang diberikan pada bentuk – bentuk detail merupakan jenis ukiran di Jawa, maka dari itu disebut “Batik Ukel” sebab hampir semua motif ukel yang mendominasi. Sumber ide penciptaan yaitu motif utama ukelan atau sulur, motif pengisi 1 bunga Teratai dan motif pengisi 2 SuryaMajapahit.

 Proses Pengembagan Desain Motif Batik “Batik Paduraksa Bajangratu”

Pada pengembangan motif batik yang pertama yaitu “Batik Paduraksa Bajangratu” motif utama gapura Paduraksa Bajangratu mengalami sedikit perubahan desain namun masih jelas terlihat bahwa gapura Paduraksa Bajangratu yang indah. Motif hasil pengembangan digambarkan lebih menjulang tinggi sebab pada kenyataannya gapura Paduraksa Bajang ratu tingginya 16 meter.Pola dasar motif gapura Paduraksa Bajang ratu tersusun dari beberapa bentuk segitiga, persegi panjang, dan bentuk lainnya, dibawah desain gapura diberikan gambar rumput kiri dan kanan yang memberikan kesanbahwa gapura Paduraksa Bajangratu sangat menyatudengan alam tidak monoton hanya sekedar bangunan, diatas gapura Paduraksa Bajangratu ditambahkan Matahari dan Awan yang bertujuan untuk memperindahdan pelengkap gapura Paduraksa Bajangratu sehinggamembuat gapura Paduraksa Bajangratu nampak tidak simetris ketika dikombinasikan dengan alam yang berupa Awan dan Matahari.

Bunga Cempaka merupakan motif pengisi 1, padahasil pengembangan motif bunga Cempaka mengalami stilasi meskipun subjek berasal dari alam tetapi tidak seluruhnya dituangkan dalam bentuk serupa hanya mengambil intinya saja sehingga memberikan beberapa segi  yang  menguntungkan. Surya Majapahit merupakan motif pengisi 2 yaitu sebagai simbol “Pusat Batik Majapahit” hasil dalam pengembangan motif Surya Majapahit tidak banyak mengalami perubahan bentuk,hanya saja bagian luar kontur Surya Majapahit tidak diberikan garis-garis lurus hal ini bertujuan agar lebih simpel tanpa menghilangkan ciri khas Surya Majapahit, komposisi peletakan motif pengisi 2 ini diletakkanditengah motif pengisi 1 yaitu bunga Cempaka.Isen- isen pada “Batik Paduraksa Bajangratu” sebelumnya tidak menggunakan isen-isen, pada hasil  pengembangan  motif  “Batik Paduraksa Bajangratu” ditambahan isen-isen yaitu berupa cecek atau titik yang dipadukan dengan garis lengkung atau rambutan rawan (seperti rambut) sehingga “Batik Paduraksa Bajangratu” lengkap dengan isen-isen.

Motif pinggiran “Batik Paduraksa Bajangratu” adalah Stupika, dalam hasil pengembangan motif pinggiran stupika masih jelasterlihat tidak mengalami banyak perubahan bentuk darimotif sebelumnya, garis-garis lurus yang menghubungan Stupika dikembangkan menjadi garis-garis lengkung yang diisi dengan garis-garis lurus, posisi Stupika membentuk pola segitiga dilanjutkan Stupika yang saling berhadapan yang pada bagian atas diberikan symbol “Pusat Batik Majapahit” yaitu Surya Majapahit hal ini bertujuan untuk menyatukan antara Stupika dan Surya Majapahit yang keduanya merupakan peninggalan kerajaan Majapahit yang masih ada sampai sekarang.

Warna dalam “Batik Paduraksa Bajangratu” sebelum dikembangkan yaitu warna hijau muda yang dirasa kurang menarik minat remaja kemudian dikembangkan menjadi warna ungu yang dipadukan dengan warnalainnya sehingga menimbulkan kesan yang cerah.Dari hasil penilaian Validator terhadap pengembangan “Batik Paduraksa Bajangratu” komposisi yang baik keseimbangan antara motif utama dan motif lainnya, begitu juga dengan center of interest, ukuran dan kemudahan mengenali masing-masing motif sehingga pengembangan ini layak untuk digunakan.

“Batik Kupu – kupu” Pada pengembangan motif batik yang kedua “Batik Kupu- kupu” motif utama pada batik ini adalah Kupu-kupu yakni hewan mempunyai sayap yang indah,sebelum dikembangkan Kupu-kupu digambarkan secara jelas dengan bentuk Kupu-kupu yang saling berhadapan dengan sedikit mengalami stilasi atau perubahan bentuk, kemudian motif Kupu-kupu dikembangkan menjadi hewan Kupu-kupu yang utuh tidak hanya saling berhadapan yang terlihat dari samping saja sehingga terkesan lebih indah dengan kedua sayapnya. Ada 5 jenisstilasi Kupu-kupu yang digambarkan, di posisi tengah digambarkan Kupu-kupu ukuran besar dengan arah tegak,di kelilingi 4 Kupu-kupu yang berukuran kecil denganarah miring yang memberikan maksud bahwa apapun ukuran Kupu-kupu tetap seimbang sehingga tidak akan berpengaruh pada segi keindahan. Bunga Matahari merupakan motif pengisi 1, pada “Batik Kupu – kupu” hasil pengembangan motif Bunga Matahari mengalamistilasi atau perubahan bentuk yang begitu signifikan darimotif sebelumnya namun masih terlihat jelas bentuk dari bunga Matahari sesungguhnya meskipun subjek berasaldari alam tetapi tidak seluruhnya dituangkan dalam bentuk serupa hanya diambil intinya saja. Bunga Matahari digambarkan mulai dari kuncup sampai bunga yang sudah bermekaran dipadukan dengan daun dariberbagai arah.

Dari hasil penilaian Validator terhadap  pengembangan “Batik Kupu – kupu” komposisi antara motif utama dan motif lainnya sangat baik sehingga bisa sangat mudah mengenali antara masing-masing motif, sehingga pengembangan “Batik Kupu – kupu” layak digunakan adalah daun dari bunga matahari dari desain motif sebelumnya motif utama hanya sedikit mengalami stilasinamun masih jelas terlihat bentuk dari sumber idenya,setelah dikembangkan motif utama daun bunga matahari juga masih nampak bentuk aslinya namun di berikan sentuhan ragam hias sehingga membuat daun bunga matahari lebih cantik dengan paduan bunga matahariyang bermekaran sehingga tidak monoton hanya daunsaja. Di tengah – tengah motif utama diberikan tambahan motif Surya Majapahit yang memisahkan kedua desainmotif utama yang di mirror agar memdapatkan iramayang harmonis.Komposisi peletakan motif utamadiletakkan pada bagian bawah dan atas yang bersebelahan dengan motif pinggiran karena motif utama tidak hanya diletakkan ditengah saja sebab motif pengisi1 dan 2 merupakan motif pendukung yang tujuan untuk memperindah pola keseluruhan jadi dimanapun letak motif utama dimaksdunya agar saling memperindah satusama lain antar motif. Warna sangat penting dalam hasil semua karya seni, termasuk batik karena warna dapat mempengaruhi secara psikologis bagi  seseorang. Warna “Batik Batik Daun Mrico Bolong” sebelum dikembangkan terdiri dari berbagai unsur warna setelah dikembangkan “Batik  Batik Daun Mrico Bolong” diberikan baground hijau yang dipadukan dengan warna merah untuk motif pengisi akan memberikan kesan penuh kepercayaan dan keberanian.Dari penilaian Validator komposisi, center of interest, peletekan bidang gambar, ukuran dan kemudahan mengenali masing-masing motif cukup baik sehinggamotif yang dikembangkan layak digunakan.

 Batik Bunga Matahari

Batik Bunga Matahari merupakan jenis batik yang keempat yang dikembangkan peneliti, motif utama pada “Batik Bunga Matahari” adalah bunga matahari yangmerupakan tumbuhan yang sering dijumpai dimana saja,pada motif batik sebelumnya motif utama bunga matahari digambarkan dengan bentuk motif stilasi yang hanya sedikit mengalami perubahan bentuk sepertimenghilangkan tumpuk bunga matahari. Namun motif batik sebelumnya kurang begitu menampilkan ragamhiasnya setelah dikembangkan peneliti motif utama diletakkan pada bagian atas dan bawah berdekatandengan motif pinggiran, motif bunga mataharidigambarkan dari kuncup sampai bunga yang bermekaran dengan bentuk stilasi yang menarik sehingga terkesanlebih cantik.

Motif pengisi 1 pada “Batik Bunga Matahari” adalah Kupu-kupu Tanaecia Trigerta diletakkan padaposisi tengah dengan arah tegak dan miring yang terdiridari 3 Kupu-kupu dalam satu kelompok satu Kupu-kupuyang terlihat kedua sayapnya dan dua Kupu-kupu terlihat dari samping atau hanya terlihat satu sayap saja. Motif pengisi 2 dengan sumber ide awan tidak dimunculkandalam pengembangan yang dilakukan penulis sebabmotif pengisi 2 hanya motif tambahan saja sehingga tidak akan berpengaruh. Motif pengisi 3 Surya Majapahit sebagai simbol “Pusat Batik Majapahit” posisi peletakan motif pengisi 3 diletakkan di tengah antara motif utama,dan di atas motif utama.Warna sangat penting dalam hasil semua karya seni, setelah dikembangkan “Batik Bunga Matahari” menggunakan warna merah yang memberikan artikekuatan dan paling menarik perhatian, warna merah diasosiasikan darah dan berani yang merupakan warna  primer maka dari itu “Batik Bunga Matahari” akan memberikan kesan kekuatan dengan perpaduan bunga Matahari yang indah berwarna  pink atau merah muda dan Kupu-kupu berwarna kuning karena merah dan kuning mempunyai makna yang ceria. Dari hasil penilaian Validator ahli Komposisi pengembangan “Batik Bunga Mata hari” sangat baik, center of interest, peletakanbidang, ukuran dalam penyusunan dan kemudahan mengenali masing-masing motif baik sehingga motif   pegembangan “Batik Bunga Matahari” layak digunakan.

 Batik Ukel

Batik Ukel merupakan jenis batik yang terakhir yang dikembangkan peneliti, motif utama pada “Batik Ukel” adalah motif ukel yang didapatkan dari ukiran kayu pada masyarakat Jawa yang indah yang sebenarnyaberasal dari tumbuhan yang mengalami stilasi perubahanbentuk, pada motif sebelumnya motif utama ukelanhanya sedikit mengalami stilasi dari sumber ide motif ukel sebelumnya sehingga belum begitu menampilanragam hiasnya. Setelah dikembangkan peneliti motif utama diletakkan pada posisi tengah berbentuk elips, Surya Majapahit diletakkan pada posisidi tengah lengkungan elips dipadukan bunga Teratai serta daunnya yang sudah distilasi terkesan lebih harmonis dan cantik, setelah dikembangkan “Batik Ukel” diberikan baground warna hitam yang dipadukan dengan warna orange untuk motif pinggiran dan motif pengisi 3 yaitu Surya Majapahit akan memberikan kesan misterius yang cocok digunakan dari usia anak-anak, remaja sampai orangdewasa. Dari hasil penilaian Validator ahli Komposisidan center of interest   pengembangan “Batik Bunga Matahari” sangat baik, pellet akan bidang, ukuran dalam penyusunan dan kemudahan mengenali masing – masing motif baik sehingga motif pegembangan “Batik Bunga Matahari” layak digunakan.

——————————————————————————————-Lutfiana Cahyani, Dra. Indah Chrysanti A, M.Sn (Universitas Negeri Surabaya). Pengembangan Motif Batik Pada “Pusat Batik Majapahit” Di Kabupaten Mojokerto.  Jurnal Pendidikan Seni Rupa, Volume 2 Nomor2Tahun 2014,116-122

Batik Tulis Citaka Dhomas, Kediri

logo-citaka-dhomas-newBatik dipercaya sudah ada semenjak zaman Majapahit, dan menjadi sangat populer akhir abad delapan belas atau awal abad sembilan belas. Semuanya bermula dari batik tulis. Batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I atau sekitar tahun 1920-an.

Kediri masuk dalam catatan sejarah batik. G.P. Rouffaer melaporkan bahwa pola gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri. Dia menyimpulkan bahwa pola seperti ini hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting, sehingga ia berpendapat bahwa canting ditemukan di Jawa pada masa sekitar itu.

Dalam literatur Eropa, teknik batik ini pertama kali diceritakan dalam buku History of Java (London, 1817) tulisan Sir Thomas Stamford Raffles. Ia pernah menjadi Gubernur Inggris di Jawa semasa Napoleon menduduki Belanda.

Pada 1873 seorang saudagar Belanda Van Rijekevorsel memberikan selembar batik yang diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdam dan pada awal abad ke-19 itulah batik mulai mencapai masa keemasannya. Sewaktu dipamerkan di Exposition Universelle di Paris pada tahun 1900, batik Indonesia memukau publik dan seniman.

 Adi Wahyono, S.Pd., pria yang lahir di desa Menang 25 Oktober 1975 ini adalah perintis Perusahaan Rumah Batik Citaka Dhomas  yang beralamatkan di  Jalan Joyoboyo 415 desa Menang RT 01/ RW 03, tak jauh dari petilasan Joyo Boyo, di Menang, Pagu, Kediri. Email : citakadhomas@gmail.com, HP : 085 258 271 028. Rumah Batik Citaka Dhomas memiliki tenaga kerja, cukup mahir, detail motif yang mereka kerjakan cukup rumit (ujarnya Adi). Meski baru lima tahun membatik, Adi Wahyono sudah punya nama di Kediri. Pagelaran duta wisata Raka-Raki Jawa Timur kerap menggunakan batiknya. Sudah banyak pelanggan dari dalam dan luar kota.

Bagi Adi Wahyono, membatik bukanlah sesuatu yang baru, karena pengetahuan tersebut sudah merupakan ketrampilan warisan secara turun menurun didapat dari neneknya adalah seorang pembatik. Semenjak kecil tangannya sudah terampil menggoreskan canting di atas selembar kain. Dan ketrampilan terseut bertambah terasa dan semakin nyata; dengan bekal pendidikan seni rupa yang didapatnya dari UNESA (Universitas Negeri Surabaya). Sebelumnya, Adi Wahyono bekerja sebagai desainer di sebuah perusahaan mebel, setelah sepuluh tahun bekerja; panggilan batin mendorongnya untuk melanjutkan tradisi membatik yang diwariskan turun-temurun dari nenek buyutnya; yang dikenal sebagai pembatik langganan kaum priyayi pada jaman dulu.

Corak Sejarah Batik Citaka Dhomas

Awalnya, Adi Wahyono dengan sarung batik pemberian sang nenek saat dia dikitan dulu. Walaupun sarung itu sudah rusak, sudah tinggal separuh. Namun masih tampak jelas motif batik pada sarung itu. Dia sangat suka dengan motifnya. Setelah dia pelajari lebih mendalam, barulah dia tahu kalau itu adalah motif adi luhung.

Dengan motif itulah dia mulai membuat batik. Kegemarannya menggali motif-motif  batik semakin memperkokoh namanya di antara para pembatik lokal di Jawa Timur. Pada tahun 2009, dia mendirikan Rumah Batik Tulis “Citaka Dhomas” dan mulai membatik secara profesional. Tak cukup puas dengan pengetahuan yang sebelumnya pernah dia miliki; Adi Wahyono juga memperdalam ilmu membatiknya pada seorang pembatik kenamaan dari di Bantul, Jogjakarta. Karena dedikasinya yang tinggi dalam membatik, namanya cukup dikenal di kalangan para pejabat lokal. Karya batiknya dihargai mahal karena memiliki nilai seni yang tinggi, dan dikerjakan dengan teknik membatik yang nyaris sempurna. Hal itu bisa kita lihat dari kualitas bahan, kerapian, detail dan keindahan warna. Batik Citaka Dhomas memiliki nilai lebih, motif – motif  batiknya tak lepas dari relief di  berbagai situs sejarah dan budaya di Kediri: Candi, patung, lingga yoni dan prasasti kuno.

Sebagai salah satu UKM (Usaha Kecil dan Menengah) yang ada di Kabupaten Kediri, Adi Wahyono dan Citaka Dhomasnya diberikan kesempatan untuk mengikuti even-even pameran, baik di tingkat lokal maupun nasional. Kesungguhannya menekuni seni kerajinan batik juga mendapatkan apresiasi dari masyarakat luas. Dalam sebuah ajang lomba desain batik tingkat Kabupaten Kediri tahun 2010; Adi Wahyono berhasil meraih juara 1 untuk kategori fauna, Juara 2 untuk kategori flora dan Juara 2 untuk kategori bebas.

Pembatik muda umumnya menyukai motif  kontemporer, namun pembatik satu ini sangat  berbeda,  Batik- batik garapannya tergolong khas dan klasik. Hal ini dibuktikan dengan beberapa motif yang dibuatnya sebagian besar ide pemikarannya berasal diilhami dari situs situs sejarah dan budaya. Baik relief dan ornamen di candi, patung, lingga yoni serta berbagai gambar yang tampak di situs budaya dan bersejarah yang ada di Kediri. Adi Wahyono yang menangani sendiri batik Citaka Dhomas ini. Laki-laki yang bermukim ini turun tangan sendiri menuangkan gambaran batik dalam pikirannya ke sehelai kain dengan mengangkat kearifan lokal.

Rumah Batik Citaka Dhomas telah memiliki 10 motif pakem yang khas dan klasik. Diantaranya:

  • Motif batik Loka Moksa mengambil gambar lingga yoni di situs budaya petilasan Prabu Sri Aji Joyoboyo. Batik berwarna dasar coklat, diambil dari warna alam.
  • Motif batik Tunjung Sewu yang inspirasi motifnya dari Candi Surowono. Di dinding candi, dia menemukan relief teratai miring.
  • Motif batik ‘Sawung Tunjung Tejamaya’ menunjukkan beberapa simbol; ayam bekisar sebagai ikon Jawa Timur, Astadala dan gambaran relief ‘Surya Majapahit’ di dinding candi Tegowangi.
  • Motif batik Candrakapala, simbol kerajaan Kediri yang diperoleh dari prasasti Tangkilan.

Koleksi Batik Citaka Dhomas Warna Sentetis

batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-1

batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-2batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-3batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-4Dari beberapa karya batik muncul di pasaran, saat diamati nampak batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-5batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-6kemiripan dengan motif  batiknya. Tidak masalah jika ada batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-7yang meniru batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-8batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-9motifnya, sebab batik karya Adi Wahyono dengan Citaka Dhomasnya batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-10memiliki kekhasan tersendiri. Proses membatiknya batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-11batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-12batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-13batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-14cukup detail. Awalnya, Adi berdiskusi dengan pakar sejarah. Setelah itu, dia melakukan riset. Mulai melakukan pengamatan relief-relief secara langsung, memotret hingga mencari referensi sejarahnya. Kemudian, dia menggali dari sisi batiknya. “Kalau dibuat batik ‘kan nggak mungkin gambar aslinya, istilahnya ada penggayaan,” ungkap suami Hidayati Sofiah ini.

Namun, ada satu yang tak bisa lepas dari Adi. Dia tak pernah meninggalkan bunga teratai dalam setiap karyanya. Dia merasa sudah berada pada rel yang akan terus dijalaninya, mengangkat budaya dan sejarah lokal.

Koleksi Batik Citaka Dhomas Warna alam

 

 

 

batik_tulis_warna_alam1

batik_tulis_warna_alam4

batik_tulis_warna_alam5

batik_tulis_warna_alam6

batik_tulis_warna_alam10batik_tulis_warna_alam8

 

 

 

 

 

batik_tulis_warna_alam15

 

 

batik_tulis_warna_alam11

 

batik_tulis_warna_alam13

batik_tulis_warna_alam12

batik_tulis_warna_alam14

 

batik_tulis_warna_alam9

batik_tulis_warna_alam7

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

——————————————————————————————-Rumah Batik Tulis Citaka Dhomas
http://batikcitakadhomas.com