Museum Huruf (Font Museum): Jember Punya Destinasi Wisata Literasi dan Sejarah Baru

Penulis:  Prita Hw
-September 5, 2017

Museum Huruf lahir atas dasar persamaan mimpi, kegelisahan, keinginan, dan asa ingin memberikan setitik sumbangsih. Juga kebanggaan bagi tempat dimana kami lahir dan tumbuh. Kami sebagai pemuda Jember mencoba untuk memberikan ruang media dialektika bagi generasi penerus bangsa dalam bentuk museum… – Ade Sidiq Permana

Sepenggal pembuka yang terkesan heroik dan menyimpan semangat luar biasa itu bisa dibaca pada lembar undangan pembukaan (grand opening) Museum Huruf (Font Museum) yang terintegrasi dengan Perpustakaan yang dibuka untuk publik. Pembukaan itu diadakan tepat sehari sebelum malam takbir Idul Adha 1438 H bergema, yaitu pada Rabu, 30 Agustus 2017.

Museum Huruf dan perpustakaan ini sendiri berada tepat di kawasan Semanggi, Jl. Bengawan Solo 27 Jember. Tak hanya museum dan perpustakaan saja, di tempat ini juga terdapat cafe, studio tattoo, souvenir shop Buncis Room, juga homebase sebuah creative advertising bernama MIxmedia yang dimotori oleh Erik, yang juga si empunya tempat.

Lengkaplah sudah tempat ini menjadi ruang publik yang bisa dikunjungi kapan saja. Jika arek lokal ingin menikmati suasana yang nyaman senyaman di rumah sendiri dengan teras yang asri, tempat ini bisa menjadi pilihan.

Terlebih, Museum Huruf dan Perpustakaannya bisa jadi rujukan baru untuk tempat mengenal sejarah bermulanya aksara yang saat ini diakumulasi dan dimodifikasi sedemikian rupa hingga menjadi bahasa lisan dan bahasa tulis untuk pengentar percakapan kita sehari-hari. Meski ukurannya tidak bisa dikatakan besar, sebuah ruang display utama yang kira-kira berukuran 3 x 5 cm itu cukup padat memuat berbagai koleksi museum.

Berbagai koleksi Museum Huruf yang bisa dinikmati itu terdiri dari koleksi pra aksara, koleksi aksara tertua di Indonesia, koleksi aksara nusantara (Jawa, Bugis, dan lain-lain), koleksi braille, dan koleksi aksara dunia (Jepang, Korea, India, dan lain-lain).

Koleksi-koleksi yang sebagian besar dibuat sendiri serta mendapatkan donasi itu nantinya tidak akan stagnan loh arek lokal, tapi akan terus berkembang. Bahkan, publik juga bisa mendonasikan aksara yang dimilikinya dalam bentuk media cetak, atau yang lainnya.

“Museum ini telah resmi terdaftar di Asosiasi Museum Daerah Jawa Timur dan Direktori Museum Seluruh Indonesia. Kami juga sudah mengirimkan perwakilan untuk pertemuan nasional di Yogyakarta beberapa waktu lalu. Teman-teman relawan juga dilatih untuk memiliki kemampuan guiding dengan baik.”, begitu ungkap Ade Sidiq Permana, inisiator gagasan pendirian museum yang sekaligus bertindak sebagai Direktur Museum.

Ade meyakini bahwa hidupnya selalu bertalian dengan museum. Laki-laki yang sehari-harinya juga berjibaku dengan permuseuman di Probolinggo ini merasa belum memberikan sesuatu yang berarti untuk kota asalnya sendiri, Jember tercinta. Karena itu, ia berharap, ada museum dan perpustakaan ini menjadi ikon baru sekaligus semangat untuk melestarikan budaya literasi, khususnya aksara, serta membuka wawasan mengenai sejarah, dan perkembangan aksara dan budaya.

Niat tulusnya itu didukung penuh oleh Erik, sahabat sekaligus pemilik tempat yang merasa memiliki visi sama dengan Ade. Meski baginya bukan soal Jembernya yang utama, tapi soal memberikan suatu alternatif ruang publik yang bisa dimaksimalkan untuk kegiatan positif secara komunal.

Ke depan, Museum Huruf dan Perpustakaan ini akan diusahakan untuk dinaungi dalam suatu yayasan yang direncanakan bernama Institut Museum dan Cagar Budaya Nusantara yang sedang dirintis badan hukumnya. Maka dari itu, malam itu juga dibuka public fundraising bagi siapa saja yang ingin berpartisipasi. Juga akan dikembangkan museum shop yang juga akan menjadi sumber pemasukan lainnya.

Malam itu hadir pula perwakilan Bupati Hj. Faida (Kepala Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Jember), Ibu Desak (Kepala Museum dan Perpustakaan Tembakau Kabupaten Jember), juga  Bapak Haryanto (Direktur Kopi Kahyangan PDP Kabupaten Jember). Semua mengatakan rasa bangga dan kesiapannya untuk bersinergi bersama untuk mendukung keberadaan Museum Huruf dan Perpustakaan ini.

Pun dengan berbagai komunitas kreatif Jember yang juga menambah semarak malam pembukaan yang dilanjutkan dengan tur keliling museum dan dipandu relawan guide. Berbagai komunitas kreatif seperti Kampoeng Batja, Berbagi Happy, Blogger Jember Sueger, Youtuber Jember, Genbi, Komunitas Perupa Jember, Pena Hitam, dan sebagainya menyambut Museum Huruf dan Perpustakaan ini dengan semangat.

Buat arek lokal yang belum sempat berkunjung di malam pembukaan, tenang saja. Masih ada beberapa agenda menarik dalam waktu dekat yang bisa dipilih. Setelah sukses dengan workshopcetak saring dan sosialisasi program Museum Huruf dan Perpustakaan pada 2 September kemarin, pada 8 September pukul 19.00 juga akan ada launching koleksi aksara Sunda dan Seminar Sejarah Aksara Sunda. Dilanjutkan pada 9 Septembernya di waktu yang sama, akan diadakan apresiasi seni dan workshop penulisan aksara Sunda.

Jangan sampai ketinggalan ya rek! Catat juga jam buka dan official account nya :
Jam buka museum : 09.00 – 15.00

Sumber: https://lokalkarya.com/museum-huruf-jember.html

Batik Sumberpakem,Kabupaten Jember

Eksotika Batik Sumberpakem

Batik Sumber PakemDunia melalui UNESCO sudah mengakui batik Indonesia sebagai benda warisan ma- nusia. Pengakuan tersebut membuat bangga masyarakat In­donesia yang sudah turun-temurun membuat batik. Pengakuan itu juga diharapkan berdampak pada peningkatan kesejahteraan para perajin ba­tik. Salah satunya perajin di Desa Sum­berpakem Kecamatan Sumberjambe Kabupaten Jember. Mereka berusaha keras mempertahankan ciri khas agar selalu memiliki nilai ekonomis.

Mawardi, seorang perajin batik asal Desa Sumberpakem, selama beberapa tahun terakhir mencoba mempertahankan motif daun tembakau yang diyakini sebagai motif batik khas Jember. Sebab Jember merupakan salah satu kabupaten yang dikenal sebagai produsen tembakau, sehingga tidak heran para perajin batik di kabupaten ini berusaha mempertahankan motif tembakau se­bagai motif batik khas Jember. “Jadi selaras,” kata Mawardi yang sudah menyukai batik sejak kecil.

Sekilas, batik “Sumberjambe” terlihat hampir sama dengan batik di daerah lainnya yang kaya dengan motif dan penuh dengan sentuhan seni para pembatiknya. Dengan cekatan dan tangan terampilnya, Mawardi mencoba membuat berbagai motif batik sesuai dengan pesanan kon- sumen. Namun apa pun motif batik yang dibuatnya, dia tidak pernah lupa untuk memadukannya dengan motif daun termbakau.

Dia mengakui, masyarakat tidak banyak yang mengenal batik Jember karena batik Solo, batik Yogyakarta dan batik Madura lebih terkenal dibandingkan batik yang sederhana di kabupaten yang kecil di kawasan Besuki itu. “Beberapa daerah di Jatim ternyata kaya akan budaya batik yang menjadi khas di daerah setempat, termasuk Kabupaten Jember, ” kata pria yang memiliki dua anak yang sudah beranjak dewasa itu.

Sejak turun temurun, kata dia, motif daun tembakau dari ukuran kecil hing- ga ukuran besar selalu menjadi salah satu motif andalan bagi perajin batik di Kecamatan Sumberjambe tersebut. Harga batik Jember juga terjangkau, batik cap dengan bahan kain katun dijual senilai Rp65 ribu-Rp 80 ribu perpotong, batik tulis yang menggunakan bahan kain katun dijual dengan Rp85 ribu-Rpl50 ribu perpotong.

Untuk batik dari bahan kain sutera dijual dengan harga Rp300 ribu per­potong. Bila menggunakan batik cap harganya sekitar Rpl25 ribu per-potong. Harga ini lebih murah dibandingkan sejumlah harga kain batik di beberapa daerah lain.

Menurut dia, banyak warga Jember dan luar Jember yang memesan batik dengan motif daun tembakau karena sudah menjadi ciri khas Kabupaten Jember. Namun dia mengakui bila le­bih mengikuti selera pasar terkait de­ngan motif batik. “Namun kreasi motif baru itu selalu dipadukan dengan motif daun tembakau,” katanya.

Dia menjelaskan, sebagian besar warga Jember dan luar Jember memilih motif tembakau yang dikombinasikan dengan motif bunga, parang, dan tumbuhan yang dibuat semenarik mungkin, sehingga kombinasi coraknya serasi. Motif daun tem­bakau yang eksotik ini kemudian banyak ditiru para perajin batik dari daerah lain. “Ya tidak apa-apa, kami juga tetap dengan motif ini,” katanya.

Imbauan Presiden untuk menggunakan baju batik dalam acara resmi, kata dia, memiliki dampak luar biasa yang dirasakan para perajin batik di Jember, yakni meningkatnya jumlah pesanan kain batik sebagai seragam sejumlah instansi pemerintah dan perusahaan swasta.

“Para pembatik di sini sempat kewalahan dan harus kerja ekstra keras untuk menyelesaikan berbagai pesanan batik tulis dan batik cap,” tuturnya. Buruh pembatik di UD Bintang Timur, Sofia, mengaku gembira dengan banyaknya pesanan batik di Kecamatan Sumberjambe, sehingga para buruh pembatik juga mendapatkan upah yang lumayan banyak seiring dengan banyaknya jumlah pesanan. Sebagian besar perempuan di Desa Sumberpakem menjadi buruh pembatik di beberapa perajin batik di desa setempat untuk menambah penghasilan suami mereka yang sehari-hari menjadi buruh tani. Dengan keahlian itu mestinya desa ini tidak termasuk desa miskin.

“Tidak semua warga di sini bisa membatik, namun membatik adalah warisan secara turun temurun. Saya belajar membatik dari ibu saya dan akan saya teruskan kepada anak pe­rempuan saya,” katanya.

Belum dikenalnya batik Jember membuat sejumlah pihak khawatir akan perkembangan batik tulis de­ngan motif tembakau yang terkesan sederhana dan kurang diminati ini. Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jember Mirfano mengatakan, masyarakat luas belum mengenal batik khas Jember karena masih banyak warga Jember yang enggan menggunakan batik lokal buatan perajin batik Sumberpakem, se­hingga hal itu yang menjadikan promosi batik dengan motif tembakau kurang dikenal di tingkat lokal, daerah di Tanah Air, “Sebagai warga Jember Seharusnya bangga menggunakan baju batik lokal yang kualitasnya tidak kalah dengan batik di beberapa daerah” katanya.

SUARA DESA, Edisi 06, 15 Juli -15 Agustus 2012, hlm,18.

 

Drs. Suyadi, Pak Raden, Kabupaten Jember, Jawa Timur

Drs. Suyadi 128 November 1932, Drs. Suyadi lahir di Puger, Kabupaten Jember, Jawa Timur Indonesia. anak ketujuh dari sembilan bersaudara.

Tahun 1952-1960, Suyadi  menyelesaikan studi di Fakultas Seni Rupa di Institut Teknik Bandung (ITB)  Bandung.

Tahun 1961-1963, Suyadi meneruskan belajar animasi di Prancis. Sejak masih menjadi mahasiswa Suyadi sudah menghasil sejumlah karya berupa buku cerita anak bergambar dan film pendek animasi. Keistimewaan Suyadi tidak hanya membuat ilustrasi, tapi juga mempunyai kemampuan menulis ceritanya sendiri. Bahkan di usia senjanya kini, Suyadi tetap berkarya. “Tiap hari selalu orat-oret …” candanya suatu hari.

Tahun 1970-an, Drs Suyadi sangat kreatif puluhan buku cerita anak hasil karyanya beredar, hingga sekarang.

Tahun 1980 – 1991, terlibat langsung dalam serial Si Unyil. Dari tangannyalah karakter boneka yang konsep cerita yang ditulis Kurnain Suhardiman itu melegenda hingga saat ini. Pada masa jayanya, serial Si Unyil telah mencapai lebih dari 603 seri film boneka, dan menjadi teman pemirsanya di seluruh Nusantara di setiap Minggu pagi.

Drs. suyadi5 April 1981, Si Unyil ditayangkan di TVRI pertama kali. Tidak ada tokoh rekaan yang begitu dicintai dan hidup berpuluh tahun seperti Unyil. Selain menjadi art director, Suyadi menciptakan model bonekanya dan memasukan sejumlah karakter baru seperti Pak Raden, Pak Ogah, Bu Bariah dan lain sebagainya. Selain penulis cerita Kurnain Suhardiman, kehadiran Suyadi dalam serial Si Unyil sebagai pemberi “nyawa” sehingga Unyil dan kawan-kawannya masih hidup dan dicintai hingga saat ini.

14 Desember 1995, Drs Suyadi mengadakan perjanjian penyerahan hak cipta atas nama Suyadi dengan pihak PPFN. Di butir Pasal 7 surat perjanjian tertulis tersebut, seharusnya pihak PPFN mengembalikan hak cipta “Si Unyil” kepada Suyadi lima tahun kemudian. Namun, hal itu tidak dilakukan, karena PPFN menganggap bahwa perjanjian itu adalah bentuk penyerahan hak cipta secara tetap.

Tahun 2000-an, Kemudian, Unyil diformat ulang menyesuaikan  dengan zamannya, sehingga tetap dapat digemari anak-anak Indonesia. Hasil dari format ulang acara Si Unyil adalah Laptop Si Unyil. Ia juga dikenal sebagai Pak Raden dalam acara Unyil.

Tahun 2008,  Drs Suyadi masih menghasilkan buku anak berjudul Petruk Jadi Raja (Kelompok Pecinta Buku Anak, 2008).

28 November 2009, Drs Suyadi menjadi model klip sebuah group musik anak muda, Sembilan Band.

Selasa 03 Juli 2012, Drs Suyadi atau dikenal sebagai tokoh Pak Raden di serial “si unyil” telah dianugrahi penghargaan Ganesha Widya Jasa Utama karena telah menunjukkan jasa dan prestasi yang menonjol sebagai pelopor Bidang industry Kreatif Klaster Animasi dan Tokoh Animator di tingkat nasional, pada Pada peringatan 92 tahun Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia yang dilaksanakan pada di Aula Barat ITB. =S1Wh0T0=

Agutta, Kabupaten Jember

Lokasi

Desa Badean Kecamatan Kota Bandawasa Bandawasa, eks-karesidenan Besuki, Kabupaten Jawa Timur,

AGUTTADi sebelah kanan jalan propinsi dari Kota Bandawasa menuju kota Jember, bersebrangan dengan desa Dabasah, jadi masih berada di dalam kota Bandawasa, .terletak desa Badean itu. Di sebelah utara dibatasi desa Kota Kulon. Desa Poncogati membatasi desa itu sebelah barat. Dan di sebelah selatan adalah desa dan jalan Nangkaan. Walaupun desa itu terletak dalam kota, akan tetapi kota Bandawasa yang berada di punggung perbukitan dan agak sepi dari jalan-jalan ekono­mi, menyebabkan suasana kota tidaklah terlalu mempengaruhi kehi­dupan masyarakat yang mayoritas penduduk Madura itu. Dan per­mainan Agutta yang beralatkan sebuah penumbuk padi, masih amat sering dilakukan orang.

Suasana dan Peristiwa Permainan

AGUTTA002Lima orang wanita setengah baya, tetapi ada juga yang nampak jauh lebih tua mengelilingi sebuah ‘Ronjangan’, yaitu sebuah alat penumbuk padi terbuat dari batang kayu, yang telah dihilangkan ba­gian isinya secara memanjang, sehingga terjadi ceruk sepanjang ba­tangnya. Ada sebagian yang duduk berjongkok, ada sebagian yang berdiri. Wanita-wanita itu memegang batang kayu lagi yang ukuran­nya lebih kecil, sepanjang kira-kira sama tinggi dengan pemukulnya, atau lebih sedikit.

Dengan batang kayu yang disebut ‘Gentong’ itu mereka memukul- mukul ‘Ronjangan’. Ritmis sekali pukulan-pukulan itu sehingga su­asana terasa penuh kegembiraan. Ada dtia buah batu diletakkan di kanan kiri ronjangan. Ternyata batu-batu itu juga berfungsi sebagai alat permainan mereka. Dengan kadang-kadang seseorang memukul­kan ‘Gentongnya’ pada batu itu.

Maka terdengarlah bunyi lain yang menjadi bagian dari musik yang dimainkan. Orang pun menyanyikan lagu-lagu tradisional Madura seirama dengan ritme permainan itu. Kapan kita akan melihat permainan yang disebut Agutta itu. Kadang-kadang kita mendengarnya sepan­jang siang dan malam hari. Ini pertanda ada sebuah keluarga yang punya hajad, entah perkawinan, entah khitanan. Tetapi kalau dengan tiba-tiba di suatu senja atau menjelang malam, orang ramai memain­kannya, dan lagi bersautan antara satu tempat dengan tempat lain, maka tengoklah langit. Nanti akan ternyata bahwa seorang ‘raksasa’ sedang nikmat-nikmatnya menyantap bulan kita yang indah itu. Orang-orang desa perlu mengusir raksasa itu agar tak berbuat bagitu kejam terhadap dewi bulan, karena itu mereka ramai membunyikan pukulan-pukulan Ronjangan atau juga batang-batang kayu di peka­rangan rumah. 

Latar Belakang Sosial Budaya.

Menjelang suatu perhelatan, baik perkawinan ataupun khitan­an, maka beberapa hari sebelumnya yang empunya kerja perlu me­nyediakan beras sebanyak-banyaknya untuk jamuan makan para ta­munya nanti.

Dipanggilah beberapa orang tetangganya atau sanak saudaranya untuk dimintai bantuan menumbuk padi. Siang malam mereka bekerja itu, tetapi untuk tidak terlalu membosankan maka di antara kerja keras itu mereka beristirahat seperlunya dan mem­buat suatu hiburan ringan yang sangat sederhana.

Ronjangan yang sudah kosohg mereka pukul-pukul dengan Gentong. Tidak asal sa­ja mereka pukul. Masing-masing saling menyesuaikan diri serta meresponse pukulan temannya.

Akhirnya terjadilah pola-pola permainan bunyi, yang menimbulkan kenikmatan untuk didengar dan dirasakan. Nyanyian pun diserta­kan di dalamnya, yaitu nyanyian tradisional masyarakat mereka Ke-isengan yang semula timbul sekedar main-main menyeruak ke­lelahan dan kebosanan kerja menumbuk padi, akhirnya berkembang menjadi suatu permainan yang kaya dengan berbagai bentuk perla- guan.

Malahan menjadi pengiring yang setia untuk lagu-lagu rakyat tradisional mereka. Peristiwa ini lama kelamaan menjadi tanda bagi orang lain, bahwa bila telah terdengar Agutta, permainan memukul Ronjangan, berarti seseorang atau sebuah keluarga sedang memper­siapkan sebuah perhelatan.

Para tetangga diharapkan siap untuk memberikan sekedar bantuan tenaga, fikiran dan sumbangan mate­rial serelanya, serta datang hadir pada hari pesta itu dilangsungkan nanti. Karena lama kelamaan permainan itu dirasakan nikmat seba­gai sebuah seni hiburan, maka sekalipun pekerjaan menumbuk pa­di itu sendiri telah usai namun orang menyuruh para penumbuk- penumbuk itu memainkan terus permainan Agutta ini disertai pe­nyajian lagu-lagu yang bersuasana gembira.

Dengan demikian para tetangga serta sanak saudara yang bekerja menyiapkan makanan ikut menikmati hiburan itu, sehingga kele­lahan di dapur pun dapat dilupakan. Permainan mereka baru akan dihentikan apabila tabuh atau musik gamelan telah tiba dan meng­gantikan kemeriahan perhelatan itu dengan gending-gending untuk diteruskan dengan seni pertunjukkan yang lain seperti Topeng Dhalang, Ludrug, Wayang Kulit dsb.

Mengenai hubungannya dengan kejadian gerhana bulan dapat­lah diterangkan sebagai berikut :

Terutama di dalam tradisi Jawa lama, terdapat suatu mithe tentang terjadinya gerhana bulan itu. Pada suatu ketika dewa-dewa meminum air amerta, yaitu air yang membuat para dewa tidak akan mati se­panjang jaman. Di luar pengetahuan dewa-dewa ternyata seorang raksasa Kala Rahu ikut menikmati air amerta itu. Dewa-dewa sangat marah.

Dewa matahari menghunus kerisnya dan memenggal kepala Kala Rahu. Walaupun kepala itu putus, akan te­tapi karena pada saat itu air amerta sudah sampai ditenggorokan, maka bagian kepala itu tak akan mati selama-lamanya.

Demikianlah bagian kepala sang Kala Rahu terus menerus melayang di angkasa. Sementara itu tubuh raksasa jatuh ke bumi dan berke­ping-keping menjadi alat penumbuk padi yaitu lesung menurut is­tilah Jawa dan Ronjangan menurut istilah Madura.

Kala Rahu sangat mendendam pada Sang Surya, dewa matahari. Ka­rena itu setiap saat dewa matahari kehilangan pengamatannya, Sang Kala menelan matahari sehingga terjadi gerhana matahari.

Demikian juga dengan kekasih sang Surya yakni dewi Bulan. Pada saat-saat tertentu raksasa itu menelan bulan. Tetapi manusia di bumi tidak rela dengan tingkah laku sang Kala Rahu ini.

Maka dipukul-pukul- nyalah tubuh sang Kala, yaitu lesung atau ronjangan itu sampai sang Kala merasa kesakitan dan segera melepaskan mangsanya itu.

Tentu saja karena gerhana matahari acapkali kurang mendapat perhatian orang karena agak sulit diamati bagi orang kebanyakan. Lagi pula pada saat kejadian pastilah orang sedang sibuk dengan pekeijaan sehari-hari di dalam mencari nafkah.

Sebaliknya gerha­na bulan sudah diketahui pengaruhnya, dan saat itu pastilah ba­nyak orang-orang yang tengah mengaso, berkumpul dengan ke­luarga dan tetangga di pekarangan rumah, dan bagi anak-anak me­rupakan kesempatan bermain bersama di halaman rumah.

Ketika bulan yaing diharapkan akan bersinar terang di sore hari itu ter­nyata lenyap cahayanya, maka tahulah orang bahwa Sang Kala te­lah datang lagi mengganggunya. Maka ditabuhlah lesung atau ron­jangan itu.

Demikianlah permainan Agutta dilakukan orang keti­ka terjadi gerhana bulan.

Para Pelaku Permainan dan Jalannya Permainan.

Seperti dikemukakan di atas, permainan Agutta ini bera­sal, dari kegiatan yang dilakukan oleh pekerja-pekerja penumbuk padi. Dan pekerja-pekerja itu adalah wanita, terutama ibu-ibu yang sudah separuh umur atau lebih, yaitu wanita-wanita yang masih kuat pisiknya. Demikianlah maka permainan Agutta itu sam­pai saat ini pun dilakukan wanita – wanita itu. Ada sekitar lima orang wanita dengan masing – masing mempunyai tugas tertentu dalam memainkan “Gentong”-nya pada ronjangan. Mereka juga me­nyanyi bersama atau kadangkala ada seorang yang khusus sebagai penyanyi tunggal, tetapi yang seorang ini pun kadang-kadang sambil memegang memainkan “gentong”-nya. Siapa yang harus memulai suatu permainan, tidaklah tetap, tergantung pada jenis perlaguan mana yang akan dibawakan.

Tetapi pada prinsip­nya terjadi demikian; seorang membuat suatu pola pukulan ter­tentu, ini menandai suatu jenis perlaguan, dan segera saja yang- lain-lain menanggapinya dengan pola irama tertentu pula yang secara kebiasaan telah mereka hafalkan dan mereka kuasai benar, merupakan suatu jenis perlaguan. Kemudian apabila ada nyanyi­an untuk pola atau jenis perlaguan tertentu maka merekapun mu­lai menyanyi entah bersama, bersautan, ataupun tunggal.

Apabila sebuah lagu sudah diulang-ulang dan dianggap sudah cukup di­nikmati, maka seseorang yang dianggap paling berpengaruh di an­tara mereka akan merubah pola pukulannya sedemikian hingga yang lain-lain merasakan bahwa tanda itu merupakan ajakan untuk menghentikan permainan atau merubahnya dengan jenis lagu yang lain.Beberapa lagu rakyat Madura merupakan lagu-lagu tradisi me­reka seperti Walangkekek, Orkesan, Fajjar Laggu, Lir Saalir, Man Jauma, Cung-cung Kuncung Konce dsb.

Tak ada ketentuan waktu kapan permainan itu harus dilakukan, sesuai dengan asal usulnya yaitu sekedar pelepas lelah diantara kerja keras menumbuk padi menyiapkan beras. Tetapi oleh karena kebiasaan itu telah menjadikan ciri atau pertanda adanya suatu perhelatan, maka lama kela­maan bahkan sengaja diselenggarakan tanpa rangkaian pokoknya lagi.  Jadi sekalipun orang tidak lagi menyiapkan beras dengan me­numbuk padi, namun orang menyuruh juga menabuh atau memain­kan Agutta ini dalam persiapan pesta perkawinan ataupun khitanan.

Sepanjang siang dan malam hari orang memainkannya, dengan waktu-waktu istirahat yang tidak terlalu panjang. Di sana sini menanda­kan bahwa mereka yang hendak membantu menyiapkan makan su­dah diharapkan datang di rumah perhelatan. Kemudian juga menan­dakan bahwa makan sudah siap untuk dimakan bersama. Atau juga menandai bahwa si empunya kerja telah siap menerima tamu-tamu hendak menyampaikan sumbangannya. Demikianlah permainan ini baru akan dihentikan kalau hiburan yang pokok untuk perhelatan itu telah siap dilakukan, misalnya tabuh, ludruk wayang topeng, wayang kulit dan sebagainya. 

Peralatan Permainan

Alat yang terpenting adalah Ronjangan atau sejenis dengan lesung di kalangan masyarakat Jawa. Terbuat dari batang kayu yang keras misalnya Nangka, batang kelapa yang tua,pohon asam.Te­tapi kebanyakan orang memilih kayu nangka. Panjangnya sekitar dua meter, dengan garis tengah sekitar tiga puluh sentimeter. Batang pohon itu dihilangkan kulitnya, kemudian dibuat ceruk memanjang dan cukup dalam. Di dalam ceruk itulah padi ditumbuk untuk dihilangkan kulitnya. Alat penumbuknya ialah kayu setinggi sekitar dua meter atau lebih sedikit dengan garis tengah tujuh sentimeter. Pada bagian yang harus dipegang di buat agak mengecil sehingga ja­ri-jari tangan cukup untuk melingkarinya. Bahan penumbuk inipun dari kayu sejenis.

Untuk permainan Agutta alat penumbuk itu yang disebut ‘Gentong’, disediakan lebih dari lima batang oleh karena adakala­nya untuk jenis-jenis perlaguan tertentu ada pemain yang sekali­gus memainkan dua gentong itu. Di sebelah kanan dan kiri ‘Ronja­ngan’ sejauh sekitar 50 cm diletakkan masing-masing sebungkah batu yang keras. Batu inipun dipukul-pukul dengan ujung lain dari gentong yang dipegang oleh pemain-pemainnya. Dengan demikian batu inipun menghasilkan suatu bunyi musikal tertentu dan ber­sama dengan pukulan-pukulan pada ronjangan akan menghasilkan suatu ensamble yang sedap.  

Tanggapan Masyarakat Kini.

Karena funsinya sebagai “intermesso” diantara kerja keras itu telah mencirii adanya suatu perhelatan, maka masyarakat masih sulit menghilangkan kebiasaan permainan itu dalam rangkaian perhelatannya. Hanya saja karena dengan adanya alat-alat penumbuk padi yang serba mesin, menyebabkan makin langkanya “Ronjangan” maka lama kelamaan dikhawatirkan juga bahwa permainan itu akan berangsur lenyap juga.

Apalagi bahwa dalam perhelatan orang telah menggunakan juga tanda-tanda lain yaitu tape recorder dengan pengeras suara menjulang tinggi di atas atap rumahnya, sehingga seluruh desa akan tahu di mana seseorang telah mempersiapkan pesta.

Alat teknologi yang terakhir ini jauh lebih praktis dan murah timbang mendatangkan lima wanita untuk disuruh seharian atau semalaman memainkan Agutta.

Dan sehubungan dengan gerhana bulanpun, permainan Agut­ta kini tidak lagi merupakan kegiatan yang menarik. Orang semakin tahu bahwa ilmu pengetahuan telah menjawab dengan tepat sebab- sebab gerhana bulan, dan bukan lagi seorang raksasa yang menelan Dewi Bulan. Mitos yang ada biarlah hidup sebagai dongeng kha­yal belaka dan menjadi perhatian para ahlinya sendiri.

Biarkanlah bulan memancarkan sinarnya atau tidak, toh se­karang anak-anak tidak tertarik untuk bermain di halaman lagi se­bab kesibukan belajar menyiapkan sekolah di pagi hari kini dirasa jauh lebih penting. Atau duduk bersama seluruh keluarga didepan pe­sawat televisi lebih asyik tinimbang mengobrol dengan tetangga di ha­laman rumah, memuji bulan dan memainkan Agutta.

PERMAINAN RAKYAT DAERAH JAWA-TIMUR; DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL PROYEK INVENTARISASI DAN DOKUMENTASI KEBUDAYAAN DAERAH 1983 – 1984, hlm.153-160

Buto-Butoan, Kabupaten Jem­ber

Buto-Butoandi Desa Jelbuk

Buto-butoan003Desa Jelbuk Kecamatan Jelbuk Kabupaten Jem­ber memiliki tradisi unik menyambut da­tangnya bulan suci Ramadhan. Warga desa setempat menggelar seni tradisi Buto-Butoan.

Kegiatan ini di luar kebiasaan seni tradisi masyarakat umum­nya. Warga setempat menama­kan tradisi tersebut dengan nama “Buto-butoan”.

Tradisi buto-butoan adalah kesenian khas Jember. Di tanah Jawa seni hasil kreasi rakyat ini sering digelar saat acara perkawinan maupun sunatan dan kegiatan lain. Namun paling meri­ah saat menyambut bulan puasa. Hal ini menunjuk­kan hubungan seni tradisi dengan nilai-nilai keislaman masyarakat santri. Dan bukti tak ada masalah antara agama dan budaya sebab seni-budaya sudah sejak zaman Walisongo menjadi media dak­wah agama Islam.

Buto-butoan002“Kita bangga memiliki tradisi dan budaya sendiri, karena itu bu­daya buto-butoan akan terus kita lestarikan,” ujar Jaswadi salah satu warga Desa Jelbuk.

Seni buto-butoan sendiri merupa­kan modifikasi antara seni jaranan dan kesenian ondel-ondel. Itu pun hanya ada di Jember utara yang mayoritas masyarakatnya buruh perkebunan dan beretnis Madura migran. Secara kultural masyarakat Jember utara merupakan pendu­kung utama tatanan masyarakat santri. Terlepas dari bagaimana    terjadi­nya   kreasi   tradisi buto-butoan itu dulu, sampai sekarang ke-senian   ini   masih berkembang subur, walau kesenian itu sendiri hampir tak pernah disapa oleh para elite di Kabu­paten Jember.

Buto-butoanPergelaran buto-butoan ini merupakan tradisi tahunan yang tetap eksis sampai sekarang. Warga tak peduli, apakah pemen­tasan itu mendapat apresiasi dari Pemkab atau tidak, mereka cuek saja. Mereka terus menari, sambil berdendang dan menabuh tetabuan dengan riang menyambut suka cita datangnya bulan suci Ramadhan. ” Ya ini tradisi kami. Tradisi yang menggambarkan suka cita warga,” ujarnya.

warga berharap Pemkab Jember peduli pada nasib kesenian ini. “Pemkab harus memberdayakan potensi seni tradisi sebagai media perekat rakyat menghadapi ke­pongahan arus besar modernisasi.(ali)

SUARA DESA, Edisi 05, 15 Juni-15 Juli 2012, hlm. 18

Opick, Kabupaten Jember

OPICK16 Maret 1974, Aunur Rofiq Lil Firdaus lahir di Jember, Jawa Timur, Indonesia. lebih dikenal dengan nama Opick.

Tahun 1999, Opick merilis Album Pasar Malam Di Kepalamu.

Tahun 2003, Opick merilis Album Tak Ada Habisnya.

Tahun 2005, Opick merilis Album religi pertamanya ialah Istighfar. album ini mampu mencetak dobel platinum dengan penjualan lebih dari 300 ribu kopi. Dalam album tersebut, Opick memasukkan lagunya yang berjudul “Tombo Ati” ke dalam album solonya. Sebelumnya, Opick memasukkan lagu itu ke dalam album kompilasi “Tausiyah Dzikir dan Nasyid”. Album “Istighfar” sukses di pasaran, hingga menembus lebih dari 800 ribu kopi dan mendapat penghargaan lima platinum sekaligus. Karena aktivitasnya dalam lagu Islami, Opick dinobatkan sebagai duta grup musik Islami Nasyid oleh lembaga ANN (lembaga nasyid nusantara). Di tahun inhi pula Opick membintangi iklan Hemaviton serta Indomie (2005-2008).

Tahun 2006,  Opick merilis album keduanya berjudul “Semesta Bertasbih”. Dalam album tersebut terdapat sepuluh lagu, diantaranya Taqwa, Irhamna, akdir, Teranglah Hati, 25 Nabi, Semesta Bertasbih, Bismillah, Satu Rindu, Buka Mata Buka Hati dan Ya Rasul. Sebagai lagu hit dalam album tersebut adalah Takdir yang dinyanyikannya bersama Melly Goeslaw. Selain dengan Melly, Opick juga berduet dengan Wafiq Azizah, remaja yang berprestasi sebagai qoriah cilik internasional terbaik dalam lagu “Yaa Rasul”.

Agustus  2006, kolaborasi Opick dengan grup nasyid Pandawa Lima di lagu “Teranglah Hati”. tak lama setelah meluncurkan album kedua, Opick mengeluarkan buku berjudul “, OpickOase Spiritual Dalam Senandung”.

Tahun 2007, Opick merilis album Ya Rahman.

Tahun 2008, Opick berperan di film Kun Fayakuun; merilis album Cahaya Hati.serta membintangi iklan Segar Dingin (2008-2010).

Tahun 2009, Opick merilis album Di Bawah Langit Mu.

Tahun 2010, Opick berperan di film Di Bawah Langit; merilis album Shollu Ala Muhammadserta  membintangi iklan Bank BII Syariah.

Tahun 2011, Opick merilis album The Best of Opick serta membintangi iklan KFC.

Tahun 2012, Opick merilis album Salam Ya Rosulullah.

Aunur Rofiq Lil Firdaus (Opick) berIstrikan Dian Rusita Ningrum dan dikaruniai anak  Ghania De Salma Firdaus, Ania Rahmadan Firdaus, Fatimah Azka El Firdaus, Latifah Maryam El Firdaus=S1Wh0T0=

George Rudy, Kabupaten Jember

george rudy a30 Oktober 1954, Tjwan Hien lahir di Jember, Jawa Timur, Indonesia. Sebagai pemeran  lebih dikenal dengan George Rudy.

Tahun 1972, George Rudy lulus SMAK Santo Paulus Jember.

Ia berstatus sebagai pembina di kyokushinkai karate, dengan tingkatan DAN III. Rudy sering tampil dalam film laga dan banyak dari film yang dibintangi disutradarai oleh Fritz G. Schadt.

Tahun 1976, berperan pada film Pembalasan Naga Sakti.

Tahun 1977, berperan pada film Balada Dua Jagoan sebagai peran utama; film Bandit-Bandit Internasional dibintangi oleh Debby Cynthia Dewi; Bang Kojak dibintangi oleh Kang Ibing; film Juara Karate dibintangi oleh Yayuk Suseno serta film Pukulan Bangau Putih sebagai peran utama.

Tahun 1978, berperan pada film Sirkuit Cinta dibintangi oleh Yati Octavia.

Tahun 1979, berperan pada film Bulan Madu.

Tahun 1980, berperan pada film Gadis Penakluk; film Kembang Padang Kelabu serta film Roman Picisan (1980) dibintangi oleh Rano Karno dan Lydia Kandou.

Tahun 1981, berperan pada film berperan pada film Cewek Jagoan Beraksi Kembali ; film Dendam Manusia Harimau (1981) dibintangi oleh Dana Christina; film Gondoruwo dibintangi oleh Ratno Timoer dan Farida Pasha serta film Membakar Matahari.

Tahun 1982, berperan pada film berperan pada film Buaya Putih dibintangi oleh Yati Octavia; film Lebak Membara dibintangi oleh Minati Atmanegara; film Nyi Blorong dibintangi oleh Suzanna; film Perhitungan Terakhir serta film Si Jagur dibintangi oleh Enny Beatrice.

Tahun 1983, Damarwulan-Minakjinggo dibintangi oleh Chintami Atmanegara; film Fire Of Vengeance dibintangi oleh Tuty Wasiat dan Barry Prima; film Jaka Geledek sebagai peran utama, dibintangi oleh Siska Widowati; film Ken Arok – Ken Dedes dibintangi oleh Eva Arnaz serta film Midah Perawan Buronan dibintangi oleh Eva Arnaz.

georgeTahun 1984, berperan pada film Kupu-Kupu Beracun; film Jejak Pengantin; film Telaga Angker dibintangi oleh Suzanna; film Mawar Berbisa; film Montir-Montir Cantik serta film Usia Dalam Gejolak.

Tahun 1985, berperan pada film Bangunnya Nyi Loro Kidul dibintangi oleh Suzanna; film Bukit Berdarah dibintangi oleh Enny Beatrice serta Sembilan Wali .

Tahun 1985, berperan pada film Langganan ; film Petualangan Cinta Nyi Blorong dibintangi oleh Suzanna serta film Terjebaknya Penari Eroti. 

Tahun 1987, berperan pada film Cewek-Cewek sebagai peran utama, dan film Perempuan Malam dibintangi oleh Siska Widowati .

Tahun 1988, berperan pada film Cewek-Cewek Pelaut sebagai peran utama.

Tahun 1989, berperan pada film Badai Jalanan; film Laura Si Tarzan serta film Titisan Si Pitung dibintangi oleh W.D Mochtar .

Tahun 1990, berperan pada film Diskotik D.J.; film Si Gondrong Lawan Bek Mardjuk dibintangi oleh Hesty Syani dan Rina Hassim serta film Srigala Jalanan (1990).

Tahun 1991, berperan pada film Mistri Ronggeng sebagai peran utama; Hartu Karun sebagai peran utama dibintangi oleh Baby Zelvia serta Daerah Jagoan sebagai peran utama.

Tahun1992,  berperan pada film Bidadari Berambut Emas dibintangi oleh Frans Tumbuan

Tahun 1993, berperan pada film Lady Dragon 2.

Tahun 2012, berperan pada film Potong Bebek Angsa.

Tahun 2002-2004, Rudy tampil sebagai pembawa acara olahraga bela diri mix dalam TPI Fighting Championship.=S1Wh0t0=

Sudjiwo Tedjo, Kabupaten Jember

sujiwo-tejo 131 Agustus 1962, Agus Hadi Sudjiwo lahir di Jember, Jawa Timur, lebih dikenal dengan nama Sujiwo Tejo

Tahun 1978, Juara II dalam Festival Lagu Rakyat se-Karesidenan Besuki di Jember

Tahun 1979, Juara I dalam Festival Lagu Rakyat se Karesidenan Besuki di Bondowoso.

1980    Menulis puisi dan cerita pendek untuk berbagai majalah hiburan, seperti Gadis and Anita.

Tahun 1980-1985, Sudjiwo sebagai Mahasiswa Institut Teknologi Bandung  (ITB ) Jurusan Matematika .

Tahun 1981-1988, Sudjiwo sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB ) Jurusan Teknik Sipil.

Tahun 1981-1983,  menjabat Kepala Bidang Pedalangan pada Persatuan Seni Tari dan Karawitan Jawa di Institut Teknologi Bandung (ITB)

Tahun 1983, Tinjuan kebudayaan di Iran sambil muter film Kafir; -Menata musik untuk berbagai pementasan teater di Bandung, seperti Studi Teater Mahasiswa ITB dan Gelanggang Seni Sastra Teater dan Film Universitas Padjadjaran, dekade 80-an; -membuat hymne jurusan Teknik Sipil ITB pada Orientasi Studi.

Tahun 1985 – sekarang, menulis laporan-laporan pertunjukan musik, teater, tari dan pameran seni rupa, artikel-artikel  di koran

Tahun 1986 – 1991, Mengisi acara Sastra Humor di Radio Sponsor of the literature of humor in Continental FM Radio, Radio Estrelita Radio and Radio Ardan Radio di Bandung.

sujiwo tejo 2Tahun 1989, “Belok Kiri Jalan Terus”, Gedung Kesenian Rumentang Siang Bandung dan untuk mas kawin pernikahannya

Tahun 1994, Sujiwo Tejo yang mendalang wayang kulit sejak anak-anak, mulai mencipta sendiri lakon-lakon wayang kulit sebagai awal profesinya di dunia wayang dengan judul Semar Mesem.

Tahun 1996, Ia menyelesaikan 13 episode wayang kulit Ramayana di Televisi Pendidikan Indonesia, disusul wayang acappella berjudul Shinta Obong dan lakon Bisma Gugur.

Tahun 1997, Pergumulannya dengan komunitas Eksotika Karmawibhangga Indonesia (EKI), memberinya peluang untuk mengembangkan dirinya secara total di bidang kesenian. Selain mengajar teater di EKI,

Tahun 1998, Sujiwo memberikan workshop teater di berbagai daerah di Indonesia.

Tahun 1998, Sujiwo Tejo mulai dikenal masyarakat sebagai penyanyi (selain sebagai dalang) berkat lagu-lagunya dalam album Pada Suatu Ketika.

Taun 1999, Menggelar wayang acapella dengan lakon “Pembakaran Shinta” di Pekan Budaya VIII Universitas Parahyangan Bandung dan Pusat Kebudayaan Perancis Jakarta; -Selain ndalang, Sujiwo Tejo juga aktif dalam menggelar atau turut serta dalam pertunjukan teater. Antara lain, membuat pertunjukan Laki-laki kolaborasi dengan koreografer Rusdy Rukmarata di Gedung Kesenian Jakarta dan Teater Utan Kayu; -Kemudian diikuti album berikutnya yaitu Pada Sebuah Ranjang; –   Video klip “Pada Suatu Ketika” meraih penghargaan video klip terbaik pada Grand Final Video Musik Indonesia. Ditahun ini Sujiwo memprakarsai berdirinya Jaringan dalang, bersama para dalang alternatif. Berlanjut Tujuannya adalah untuk memberi napas baru bagi tumbuhnya nilai-nilai wayang dalam kehidupan masyarakat masa kini; -Menjadi nominator Most Wanted Male yang digelar MTV Asia.

Tahun 2000, dan video klip lainnya merupakan nominator video klip terbaik untuk Grand Final Video Musik Indonesia.

Tahun 2001, Selain teater, Sujiwo Tejo bermain sebagai actor film. Debut filmnya adalah Telegram arahan Slamet Rahardjo dengan lawan main Ayu Azhari. Film ini bahkan meraih Best Actress untuk Ayu Azhari dalam Asia-Pacific Film Festival; -menerbitka buku Kelakar Madura buat Gus Dur (Yogyakarta, Lotus, 2001)

Tahun 2002, Kemudian dilanjutkan sebagai actor pada film Kafir,  menerbitka buku Dalang Edan (Aksara Karunia, 2002), Jakasampurna, Bekasi, Indonesia, ISBN 9799649641

Tahun 2003,    menerbitka buku The Sax, Penerbit Eksotika Karmawibhangga Indonesia, Jakarta ISBN 9799714826; -dan sebagai actor di film “Kanibal – Sumanto

Tahun 2004, Sujiwo Tejo mendalang keliling Yunani.

Sabtu dan Minggu 27-28 Februari 2004, Sujiwo Tejo mendalang dalam pementasan EKI Dancer Company yang bertajuk Lovers and Liars di Balai Sarbini.

sujiwo tejo 3Tahun 2004, Sujiwo Tejo membintangi Gala Misteri SCTV yang berjudul Kafir-Tidak Diterima di Bumi (2004).

Tahun 2005, sebagai actor pada film  menjadi Dukun Kuntetdilaga, Janji Joni, Detik Terakhir serta 100 Persen Sari; sebagai sutradara pada film Dokumenter Kisah dari Mangarai  sedangkan album berikutnya yaitu Syair Dunia Maya.

31 Mei sampai 2 Juni 2005, Sujiwo Tejo juga menggarap musik untuk pertunjukan musikal berjudul Battle of Love-when love turns sour, yang digelar di Gedung Kesenian Jakarta.  Hasil pertunjukan karya bersama Rusdy Rukmarata (sutradara & koreografer) dan Sujiwo Tejo (komposer musik) akan digunakan untuk membiayai program pendidikan dan pelatihan bagi anak-anak putus sekolah yang dikelola oleh Yayasan Titian Penerus Bangsa.

Tahun 2006, Pentas Kolosal Pangeran Pollux  (Sutradara), JHCC serta Freaking Crazy You (sebagai sutradara) Gedung Kesenian Jakarta; sebagai actor pada film Malam Jumat Kliwon; – sebagai sutradara pada film Dokumenter Apank Sering Lupa

1 dan 2 Juli 2006, Sujiwo Tejo juga menyutradarai drama musikal yang berjudul ‘Pangeran Katak dan Puteri Impian’ yang digelar di Jakarta Convention Center.

Tahun 2007,     Pameran lukisan Tunggal bulanan di Viky Sianipar Music Center, Jakarta.

1 November 2007, Pameran lukisan Tunggal ’Hitam Putih Semar Mesem’, Balai Kartini, Jakarta.

Tahun 2007, Pentas Semar Mesem, Gedung Kesenian Jakarta; album berikutnya yaitu Yaiyo;  sebagai actor pada film Kala. Bersama Meriam Bellina; sebagai sutradara pada film Dokumenter Empu Keris di Jalan Padang

Tahun 2008, sebagai actor pada film Hantu Aborsi dan  Barbi3

10–16 Mei 2008, Pameran Tunggal ’Semar Nggambar Semar’, Jogja Gallery, Yogyakarta. 11 Maret 2008, Pameran lukisan Tunggal ’Super Semar Mesem’, Galeri Surabaya.

Juni    2008, Pameran lukisan Bersama di Galeri Rumah Jawa, Jakarta.

Juli     2008, Pameran lukisan Bersama di Café De La Rose, Jakarta.  

30 November 2008    Pementasan ludruk dengan lakon “Déjà vu De Java” di Auditorium Sasana Budaya Ganesa.

6 Desember 2008, Pementasan Pengakuan Rahwana (Sutradara, aktor, dalang), Gedung Kesenian Jakarta.

28–29 Mei 2009, Dongeng Cinta Kontemporer I – Sujiwo Tejo “Sastrajendra Hayuningrat Panguwating Diyu” (Sutradara, aktor, dalang), Gedung Kesenian Jakarta.

28 Juni 2009, Pagelaran Loedroek tamatan ITB ”MARCAPRES” (Sutradara dan Pemain), Gedung Kesenian Jakarta.

Tahun 2009 – sekarang, kontributor tetap Kolom Mingguan, Wayang Durangpo, Jawa Pos.

Tahun 2009, sebagai actor pada film Kawin Laris dan  Capres (Calo Presiden).

13-14 November 2009, Sujiwo Tejo kembali akan menggelar Dongeng Cinta Kontemporer II bertajuk “Kasmaran Tak Bertanda” dipentaskan, di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Dalam pementasan yang berdurasi selama 90 menit,  Didukung oleh 40 pemain dan paduan suara dari Universitas Parahyangan, sekaligus dibalut dalam olahan warna musik indie jazz, “campur sari”, jazz, blues, progresif, pop, rock, serta ditambah dengan elemen-elemen musik etnik hasil aransemen dari pemusik Satria Krisna dan Marusya Nainggolan.

Tahun 2010, sebagai actor pada Salah satu film cukup populer yang dibintanginya adalah film garapan Hanung Bramantyo yang berjudul SANG PENCERAH, serta  menyutradari pada film Bahwa Cinta Itu Ada” .

Tahun 2011, sebagai actor pada film Tendangan dari Langit dia berakting bersama Irfan Bachdim dan Kim dan Semesta Mendukung. Serta bermain di sinetron “Dari Sujud Kesujud”.

Tahun 2012, menyusul Album kompilasi “2012 “; sebagai actor pada film Sampai Ujung Dunia. menerbitka buku Ngawur Karena Benar (Penerbit Imania, Februari 2012); menerbitka buku Jiwo Jancuk (GagasMedia, 2012) , Lupa Endonesa (Bentang, September 2012) dan Republik Jancukers (Kompas, Desember 2012)=S1Wh0T0=

Sumber :

http://dalang666.blogspot.com/2011/09/ki-sujiwo-tejo.html

http://9reenfro9.blogspot.com/2011/05/sujiwo-tejo-akan-pentaskan-dongeng.html

http://sujiwotejo.com/index.php?option=com_content&task=view&id=5&Itemid=38