Dewi Perssik, Kabupaten Jember

dewipersikhkm28518 Desember 1985, Dewi Murya Agung lahir di Jember, Jawa Timur.  Selanjutnya masyarakat lebih mengenal dengan nama panggungnya Dewi Perssik yang disingkat DePe.  Putri dari pasangan H. M. Aidil (ayah) dan Hj. Sri Muna (ibu).

Masa sekolah DePe semuanya dijalaninya di kota kelahirannya Jember, dari mulai SD Negeri Jember sampai MAN Jember.

Nama Perssik sendiri diberikan oleh manajernya, Pak Yogi, agar kariernya bersinar seperti buah persik yang di Cina dianggap sebagai buah pembawa keberuntungan.

Sinetron yang pernah dibintangi Dewi antara lain Mimpi Manis dan Legenda eps. Nyi Ronggeng. Namun karier Dewi tak selalu mulus. Dewi yang terkenal dengan goyang gergajinya. beberapa detik.

26 Mei 2005, DePe menikah dengan Saipul Jamil, namun tidak  berusia lama pernikahannya retak.

Tahun 2006, DePe melejit setelah ia membintangi sinetron “Mimpi Manis”. Sinetron tersebut menggunakan original soundtrack yang dinyanyikan oleh Depe dengan judul yang sama.

Tahunb 2006 – 2007,  DePe membintangi Sinetron Mimpi Manis ()

14 Januari 2008, di Pengadilan Agama Jakarta Utara. Depe bercera dengan Saipul Jamil.

dewi1OKTahun 2008, DePe menjadi pemeran film layar lebar. “Tali Pocong Perawan” yang merupakan film layar lebar pertama yang diperankan oleh Depe. Disini akting Depe cukup bagus ketika memerankan tokoh Virnie, sehingga membuat Depe kian sering ditawari peran di film lainnya. “Tiren: Mati Kemaren”,  “Ku Tunggu Jandamu” dan “Setan Budeg” yang memaksa DePe beradu akting dengan mantan suaminya sendiri, Saiful Jamil. Pada film ini DePe  juga dianggap terlalu mengumbar aurat dan mengarah ke pornografi. Namun di tahun ini DePe juga memperoleh penghargaan Award Artis Tersilet 2008.

4 Juli 2008, Setelah itu, Depe menikah siri dengan aktor Aldi Taher pada.

Tahun 2008, sebagai tahun “pencekalan” untuk  DePe. Pertama yang mencekal penampilan Dewi adalah Pemerintah kota Tangerang, sebagai penegakkan Peraturan Daerah (Perda) No. 8 Tahun 2005 tentang pelarangan pelacuran di daerah itu.Selanjutnya Tangerang, Pemerintah kota Bandung, kota Depok, MUI Sumatera Selatan, Pemerintah Kabupaten Sukabumi,Pemerintah Kabupaten Probolinggo,dan Pemerintah kota Balikpapan.

Menpora Adhiyaksa Dault dan Menteri Pemberdayaan Perempuan, Meuthia Hatta. Menpora pun turun tngan, DePe diminta untuk introspeksi diri. Akhirnya Dewi mengaku bersalah dan khilaf, meski dirinya tetap tidak akan mengubah goyangan erotisnya.

Tahun 2009, DePe kemudian lebih dikenal oleh masyarakat melalui single “Mimpi Manis”, pada tahun ini juga membintangi “Paku Kuntilanak” dan Susuk Pocong . Serta membintangi sinetron “Laila”

Maret 2009. pernikahan DePe / Aldi diresmikan.

29 September 2009, Beberapa bulan setelah pernikahannya diresmikan, Aldi justru menggugat cerai DePe .

Tahun 2010, dalam film “Tiran: Mati Di Ranjang” mempertemukan Depe dengan Indra L. Bruggman. Tahun ini DePe juga beberapa kali membintangi film non-horor seperti “Lihat Boleh Pegang Jangan”

Tahun 2010,  DePe direkrut oleh Republik Cinta Manajemen (RCM) kepunyaan Ahmad Dhani. Kerjasama pertama Depe di RCM tampilnya Depe dengan membawakan lagu “Makhluk Tuhan yang Paling Seksi”. Penampilan Depe dianggap di luar dari kewajaran karena bergoyang di atas piano.

11 November 2011, DePe / Aldi  secara resmi bercerai.

Tahun 2011,  DePe  membintangi “Arwah Kuntilanak Duyung”. Di tahun ini pula nama DePe kembali ramai disebut-sebut setelah pembuatan filmnya “Arwah Goyang Karawang” dengan Julia Perez mengundang kontroversi. Masalah intern yang terjadi saat pembuatan film tersebut merambah ke kehidupan nyata. Film lain yang dibintanginya ” Pacar Hantu Perawan “ dan “Arwah Goyang Jupe-Depe” selain itu juaga bermain di sinetron  “Saudara Oesman”

Tahun 2012, DePe  bermain di film Mr. Bean Kesurupan Depe

=S1Wh0T0=

Egrang, Kabupaten Jember

Egrang dan Perubahan Sosial

Egrang 0Egrang bisa memicu proses perubahan sosial. Dan itulah yang terjadi di Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember.Egrang adalah permainan anak tradisional, yakni semacam kaki panjang buatan dari bambu yang membuat para pemakainya lebih jangkung. Di perkotaan, permainan ini nyaris tak tampak. Namun di desa seperti Ledokombo, egrang adalah bagian dari tradisi dan kehidupan sosial. Saat Ledokombo diterpa banjir pada masa lalu, warga menggunakan egrang sebagai alat transportasi.

Dari permainan egrang, pasangan suami-istri Suporahardjo dan Ciciek Farha membentuk sebuah kelompok bermain dan belajar bernama Tanoker. Dalam bahasa Madura Pendalungan, tanoker berarti kepompong. Tanoker, kepompong, sebuah bagian dari transformasi kehidupan kupu-kupu. Halaman belakang rumahnya yang semula belukar dibersihkan dan dijadikan sebagai tempat bermain. Tak banyak yang peduli dengan ‘kepompong’ Ciciek ini, awalnya. Ada pula yang curiga, mengapa anak-anak hanya diajarkan bermain. Pada akhirnya, permainan anak-anak itu tak hanya egrang, tapi juga permainan tradisional lainnya.

Egrang 1Ciciek jalan terus, la meyakini, anak-anak akan membawa perubahan sosial dan mengubah stereotip masyarakat Madura. Hasilnya? “Waktu anak-anak bermain playstation berkurang banyak. Mereka malah senang bermain egrang, bakiak,” katanya.Permainan anak tradisional menjadi alternatif sehat. Dari permainan itu, anak-anak belajar untuk sportif, menaklukkan tantangan, tak curang, dan berbagi.”Jangan anggap enteng bermain. Permainan anak tradisional memiliki filosofi luar biasa, ramah lingkungan, dan mengajarkan team work,” kata Ciciek. (*)      

Suporaharjo dan Ciciek Farha

Tanoker muncul dari ide pasangan suami istri ini: Suporaharjo dan Ciciek Farha. Keduanya intelektual aktivis yang mau kembali ke daerah, menin- ggalkan pusat untuk membangun kehidupan sosial masyarakat yang lebih baik. Semuanya diawali dari egrang. Dan dari permainan yang tampak remeh itu, mereka membuat perubahan sosial di Kecamatan Ledokombo. Reporter De Kopler mewawancarai mereka untuk Majalah Halo Jember.

Egrang002Apa makna kehadiran Tanoker di Ledokombo? SR: Tanoker berharap bisa membangun di Ledokombo lingkungan yang ramah kepada anak. Di Ledokombo, orang tua bekerja seba­gai buruh tani, banyak yang bekerja sebagai buruh migran. Anak-anak kadang waktu kecil banyak bekerja. Tanoker mendorong ba­gaimana bersama-sama membangun ruang bermain bagi anak-anak.

Pelan-pelan kita arahkan pandangan:  bagaimana orang tua yang susah, tapi anak-anak harus bahagia. Kenapa menggunakan egrang sebagai sarana?

Egrang003CF: Kita adalah masyarakat multikultur yang merayakan keberagaman dengan segala keinda­hannya. Merakit mozaik-mozaikyang tak selalu sama. Kadang kita perlu energi. Egrang dalam konteksi multikultur, sengaja atau tidak, ternyata bukan hanya ada di Indonesia. Saya chatting den­gan kawan di Belanda, Jepang, Australia, ternyata di sana egrang ada. Ini berarati budaya interna- sional.Tidaktahu siapa yang mulai.

SR: Sekarang masyarakat mulai senang. Sekolah bikin lomba egrang. Egrang bukan semata-mata pemainan, tapi ada unsur enter­tainment. Kalau hanya egrang bermain, anak- anak tidak greget. Kita coba agar bagaimana permainan ini jadi sebuah hal yang prestisius, sehingga anak-anak bangga bermain.

CF: Mimpi anak-anak bisa menggelar fes­tival internasional, karena di masing-masing negara egrang ada, tinggal membangun jaringan. Kebetulan di Komite Olahraga Na­sional Indonesia (KONI) ada cabang olahraga nonprestasi. Siapa tahu egrang bisa didorong berprestasi di tingkat nasional atau interna­sional. Bagaimana menjaga kelangsungan hidup egrang di Tanoker?

SR: Festival sudah jalan.Kita bikinkan race, lomba gerak jalan egrang, kita mulai dengan pawai. Kita libatkan kelompok-kelompok seni, seperti grup-grup musik patrol, can-macanan. Kami upayakan egrang dikelola se­bagai entertainment. Sebetulnya kami ingin bagaimana bisa masuk ke kurikulum sebagai ekstrakurikuler. Dari segi pengendalian diri juga lebih bagus buat anak-anak. Tanoker sih ingin membangun ruang bermain bagi anak- anak. (*)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: HALO JEMBER edisi 7 tahun 2011, hlm.
25

Anang Hermansyah, Kabupaten Jember

18 Maret 1969, lahir di Jember  Jawa Timur Anang Hermansyah, seorang penyanyi dan musisi berkebangsaan Indonesia, beragama Islam dan berdarah Madura, Sejak SMA di Jember, Jawa Timur, Anang telah tergabung dalam sebuah band. Namun dirinya baru serius bermusik saat kuliah di Universitas Islam Bandung dengan bergabung dalam sanggar milik Doel Sumbang. Anang bahkan sempat membuat rekaman bersama Doel Sumbang, meski tidak dipublikasikan.

Tahun 1989, Anang memutuskan untuk hijrah ke Jakarta dan berkenalan dengan Pay Siburian, gitaris BIP yang saat itu masih memperkuat Slank.

Tahun 1992, Anang melahirkan solo album ‘Biarkanlah’.

Tahun 1993 Melalui Pay, Anang pun masuk dalam lingkungan pergaulan Gang Potlot dan kemudian memperkuat grup Kidnap. Bersama Kidnap.Anang menelurkan album Katrina.

Anang menempuh  jalur solo Setelah lepas dari Kidnap, dan mengeluarkan album, antara lain Biarkanlah, Lepas, Melayang dan Tania. Bersama istrinya, Krisdayanti, Anang mengeluarkan album Cinta, Kasih, Buah Hati dan Makin Aku Cinta. Setelah ia bercerai dengan Krisdayanti, ia merilis albumnya Separuh Jiwaku Pergi.

Tahun 1994, keluar lagi solo album ‘Lepa’.

22 Agustus 1996, Anang menikah dengan Krisdayanti. Dari pernikahan tersebut mereka dikaruniai 2 orang anak.

Tahun 1996, Album solo  Melayang dan album duat  Cinta.

Tahun 1997, menyusul album duatnya ‘Kasih’.

Tahun 1998,  Sisulung Titania Aurelie Nurhermansyah lahir biasa dipanggil Aurel or Loli.

Tahun 1998,  album dua ‘Buah Hati ’.

Tahun 1999, solo album Tania.

Tahun 2000, adik  Aurel lahir diberi nama Azriel Akbar Hermansyah  biasa dipanggil Azriel or Jiel.

Tahun 2001, Solo album ‘ Jati Diri’ serta album duet  ‘ Makin Aku Cinta

Tahun 2002, mengeluarkan album duet  ‘Menuju Terang’.

Tahun 2003, Solo album Mata Cinta.

Tahun 2006, album duet ‘Sepuluh Tahun Pertama’.

Anang mengelola Studio Hijau studio rekaman miliknya,  juga sebagai pencipta lagu serta aranjer sekaligus produser untuk beberapa penyanyi, termasuk untuk sang istri, Krisdayanti, sambil  Anang juga sukses menggelar Konser 3 Diva, yang melibatkan mantan istrinya, Krisdayanti, serta Titi DJ dan Ruth Sahanaya.

Tahun 2007, Anang menjadi salah satu juri untuk acara adu bakat menyanyi, yakni Indonesian Idol.

Agustus 2009, Anang &  Kris bercerai secara agama. Memang mulai dari awal pernikahan mereka sering kali dilanda gosip. Namun demikian bertahan  selama 13 tahun.

November 2009, selanjutnya bercerai secara resmi hukum.

Tahun 2009, menelurkan album duet Separuh Jiwaku Pergi dan  Dilanda Cinta.

Tahun 2010, Setelah ia bercerai dengan Krisdayanti, ia merilis albumnya Separuh Jiwaku Pergi. Ia juga berduet dengan Syahrini dalam lagu Jangan memilih aku Lagu ini berhasil mencetak sukses besar. kemudian ia juga menyanyikan lagu Cinta Terakhir dengan Syahrini dan  Tanpa Bintang.

Tahun 2011, Film Baik-Baik Sayang.

Tak hanya di dunia seni tarik suara, Anang juga melebarkan sayap di dunia seni peran dengan memproduseri film berjudul “Susahnya Jadi Perawan”. Film ini didukung oleh Restu Sinaga, Nova Eliza, Al Fathir Muchtar, Olga Syahputra, Tio Pakusadewo, Julia Perez dan Emmie Lemu.
Tahun 2011, menggandeng Ashanty sebagai rekan duetnya. mengeluarkan album yang bertajuk Jodohku dan melahirkan 2 hits Menentukan Hati dan Jodohku, Hubungan mereka berkembang lebih dari sekedar teman duet menjadi sepasang kekasih.

25 Pebruari 2012, Anang resmi melamar Ashanty.

12 Mei 2012, Akad nikah telah dilangsungkan.

Anang bersama sejumlah musisi beken, seperti Indra Lesmana, Abdi Negara, dan Triawan Munaf, bergabung untuk mendirikan portal musik. Portal tersebut diberi nama IM:port (Independent Music Portal). IM:port bertujuan memberi kesempatan kepada semua musisi, baru dan senior, untuk ‘menjual’ karya-karya mereka secara lebih mudah ketimbang melalui prosedur label yang dikatakannya sebagai ‘cukup ruwet‘.


http://id.wikipedia.org/wiki/Anang_Hermansyah

Egrang, Permaianan di Kabupaten Jember

Egrang dan Perubahan Sosial

Egrang bisa memicu proses perubahan sosial. Dan itulah yang terjadi di Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember. Egrang adalah permainan anak tradisional, yakni semacam kaki panjang buatan dari bambu yang membuat para pemakainya lebih jangkung. Di perkotaan, permainan ini nyaris tak tampak. Namun di desa seperti Ledokombo, egrang adalah bagian dari tradisi dan kehidupan sosial. Saat Ledokombo diterpa banjir pada masa lalu, warga menggunakan egrang sebagai alat transportasi.

Dari permainan egrang, pasangan suami-istri Suporahardjo dan Ciciek Farha membentuk sebuah kelompok bermain dan belajar bernama Tanoker. Dalam bahasa Madura Pendalungan, tanoker berarti kepompong. Tanoker, kepompong, sebuah bagian dari transformasi kehidupan kupu-kupu. Halaman belakang rumahnya yang semula belukar dibersihkan dan dijadikan sebagai tempat bermain. Tak banyak yang peduli dengan ‘kepompong’ Ciciek ini, awalnya. Ada pula yang curiga, mengapa anak-anak hanya diajarkan bermain. Pada akhirnya, permainan anak-anak itu tak hanya egrang, tapi juga permainan tradisional lainnya.

Ciciek jalan terus, la meyakini, anak-anak akan membawa perubahan sosial dan mengubah stereotip masyarakat Madura. Hasilnya? “Waktu anak-anak bermain playstation berkurang banyak. Mereka malah senang bermain egrang, bakiak,” katanya.Permainan anak tradisional menjadi alternatif sehat. Dari permainan itu, anak-anak belajar untuk sportif, menaklukkan tantangan, tak curang, dan berbagi.”Jangan anggap enteng bermain. Permainan anak tradisional memiliki filosofi luar biasa, ramah lingkungan, dan mengajarkan team work,” kata Ciciek. (*)       

Suporaharjo dan Ciciek Farha

Tanoker muncul dari ide pasangan suami istri ini: Suporaharjo dan Ciciek Farha. Keduanya intelektual aktivis yang mau kembali ke daerah, menin- ggalkan pusat untuk membangun kehidupan sosial masyarakat yang lebih baik. Semuanya diawali dari egrang. Dan dari permainan yang tampak remeh itu, mereka membuat perubahan sosial di Kecamatan Ledokombo. Reporter De Kopler mewawancarai mereka untuk Majalah Halo Jember.

Apa makna kehadiran Tanoker di Ledokombo? SR: Tanoker berharap bisa membangun di Ledokombo lingkungan yang ramah kepada anak. Di Ledokombo, orang tua bekerja seba­gai buruh tani, banyak yang bekerja sebagai buruh migran. Anak-anak kadang waktu kecil banyak bekerja. Tanoker mendorong ba­gaimana bersama-sama membangun ruang bermain bagi anak-anak.

Pelan-pelan kita arahkan pandangan:  bagaimana orang tua yang susah, tapi anak-anak harus bahagia. Kenapa menggunakan egrang sebagai sarana?

CF: Kita adalah masyarakat multikulturyang merayakan keberagaman dengan segala keinda­hannya. Merakit mozaik-mozaikyang tak selalu sama. Kadang kita perlu energi. Egrang dalam konteksi multikultur, sengaja atau tidak, ternyata bukan hanya ada di Indonesia. Saya chatting den­gan kawan di Belanda, Jepang, Australia, ternyata di sana egrang ada. Ini berarati budaya interna- sional.Tidaktahu siapa yang mulai.

SR: Sekarang masyarakat mulai senang. Sekolah bikin lomba egrang. Egrang bukan semata-mata pemainan, tapi ada unsur enter­tainment. Kalau hanya egrang bermain, anak- anak tidak greget. Kita coba agar bagaimana permainan ini jadi sebuah hal yang prestisius, sehingga anak-anak bangga bermain.

CF: Mimpi anak-anak bisa menggelar fes­tival internasional, karena di masing-masing negara egrang ada, tinggal membangun jaringan. Kebetulan di Komite Olahraga Na­sional Indonesia (KONI) ada cabang olahraga nonprestasi. Siapa tahu egrang bisa didorong berprestasi di tingkat nasional atau interna­sional. Bagaimana menjaga kelangsungan hidup egrang di Tanoker?

SR: Festival sudah jalan.Kita bikinkan race, lomba gerak jalan egrang, kita mulai dengan pawai. Kita libatkan kelompok-kelompok seni, seperti grup-grup musik patrol, can-macanan. Kami upayakan egrang dikelola se­bagai entertainment. Sebetulnya kami ingin bagaimana bisa masuk ke kurikulum sebagai ekstrakurikuler. Dari segi pengendalian diri juga lebih bagus buat anak-anak. Tanoker sih ingin membangun ruang bermain bagi anak- anak. (*)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: HALO JEMBER edisi 7 tahun 2011, hlm. 25

Berpetualang di Kapubaten Jember, Wisata Pilihan

Jember sebagai tempat berpetualang, sebutan ini Rasanya sangat meyakinkan sekali sekali. Sebab di Jember  terdapat  beberapa unsur alam yang sangat menunjang seperti : hutan, laut, gunung, perkebunan.

Bagi yang menyukai kegiatan alam bebas, Jember adalah tempat yang sangat pas. Berpacu dengan sepeda motor trail, kendaraan 4 WD, bersepeda santai, atau bahkan berjalan-jalan (hiking), menjadi pilihan yang bisa dilakukan di kota ini

Bupati Muhammad Zainal Abidin(MZA) Djalal menunjukkan bagaimana menikmati petualangan di Jember. Mengendarai sepeda motor trail, ia menjelajah sejumlah tempat, dan menerabas hutan maupun belukar. Beberapa kali terjatuh. Tapi bukankah itu kenikmatan berpetualang? Naturally Jember. It’s lovely destination. Feel the adventure, guys. (*)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:
HALO JEMBER edisi 7 tahun 2011

 

 

Sebuah Rumah untuk Kenong

Mari kita mulai tulisan ini dengan sebuah kutipan dari esai Goenawan Mohamad yang dipublikasikan 10 Agustus 1985.

Sebuah pameran mempertontonkan diri ke khalayak…Orang banyak, orang ramai itu, harus dibujuk, dicolek, diseru.’

Itulah makna sebuah pameran, mengingatkan banyak orang tentang sesuatu, yang bahkan tak kita sadari. Dengan kata lain, pameran adalah sebuah rumah bagi sesuatu yang bisa terlupakan atau tak diperhatikan.

Dan, di Jember, pameran ‘Benda Cagar Budaya Jember dan Koleksi Museum Mpu Tantular’, 22-24 Juli 2011, di Kantor Pemerintah Kabupaten, menemukan konteksnya yang tepat.

Koleksi benda-benda cagar budaya yang terdata di Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Jember mencapai 466 buah.

Sebagian disimpan di salah satu ruangan di kantor Dinas Pendidikan Jember. Sekitar 30 buah di antaranya dipamerkan Juli silam.

Belum ada survei memang soal ini. Namun di tengah ketidaktertarikan publik terh­adap sejarah, layaklah kita skeptis: akankah publik mengetahui apakah itu batu kenong, jika pameran tersebut tak digelar.

Kita layak ragu, bahwa publik akan tahu, batu kenong memiliki andil penting dalam menjejaki dalam sejarah kota ini, jika sep­erti kata Goenawan, tak dibujuk, dicolek, diseru, dengan sebuah tontonan.

Batu kenong merupakan salah satu jenis batu cagar budaya yang dipamerkan. Batu ini menjadi koleksi terbanyak yang dimiliki Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Kementerian Budaya dan Pariwisata di Jember. Ada 280 batu kenong yang berhasil diinventarisasi di Desa Kamal Kecamatan Arjasa. Batu kenong adalah batu persembahan untuk orang yang su­dah meninggal dan masuk dalam kategori batu prasejarah.

Sejak lama, sudah ada keinginan untuk memberikan rumah sesungguhnya bagi bebatuan dan benda bersejarah itu: muse­um. Ini sebuah rumah permanen, dan bu­kan hanya sekadar pameran. Kepala Kantor Pariwisata Arief Tjahjono membenarkan, jika Jember sudah layak memiliki museum. “Minimal galeri. Ini agar benda-benda ca­gar budaya ini bisa diakses sebagai bahan belajar bagi mahasiswa dan siswa, untuk lebih mengenal akar budayanya sendiri,” katanya.

Bupati Jember sejak tahun 2009 sudah meminta kepada Kantor Pariwisata untuk mencari lokasi museum. Namun, hingga saat ini pembangunan museum belum terealisasi.”Ini karena skala prioritas, masih banyak’yang belum ditangani. Kalau pri­oritas pembangunan lebih penting sudah tertangani, mudah-mudahan atensi Pak Bupati cukup besar Kami berharap semua pihak mendukung,” katanya. (*)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: HALO JEMBER edisi 7 tahun 2011, Purbakala 55

Menhir dan Batu Kenong di Kabupaten Jember

Batu kuno bersejarah seperti menhir dan batu kenong di Jember menjadi sasaran pencurian. Pasar gelapnya terpusat di Bali. Sejak tahun 1998, telah terjadi upaya pencurian hingga 10 kali terhadap batu-batu kuno bersejarah.

Pencurinya adalah masyarakat sekitar lokasi batu-batu itu. Motifnya karena kemiskinan. Di Jember, situs-situs kuno dan sebagian di antaranya purbakala terletak di tujuh kecamatan, yakni Tanggul, Gumukmas, Wuluhan, Sukowono, Arjasa, Jelbuk, dan Mayang. Sebagian situs sudah diselamatkan dan disimpan di kantor Dinas Pendidikan Jember. Namun masih banyak yang tersebar di sawah, lahan milik warga, dan bahkan halaman kantor desa.

“Kehilangan terbanyak terjadi di Desa Kamal Kecamatan Arjasa dan Panduman Kecamatan Jelbuk,”kata Didik. Tingkat kehilangan mencapai 50 persen. Ini jika didasarkan pada data tahun
1994 yang dicek lagi pada tahun 2006.

Penadah membeli batu-batu kuno ini dari warga yang mencurinya dengan harga hanya ratusan ribu  per batu. Lalu pengepul ini memasarkannya di toko-toko seni (art shop) di Bali dan Jogjakarta. Tapi kebanyakan dijual di Bali. Di art shop Bali, harga batu kenong bisa dihargai sampai puluhan bahkan ratusan juta per buah.(.*)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Hallo Jember, Th. 2011

Jejak Kota di Bebatuan di Kabupaten Jember

Ada jejak-jejak usia kota Jember di bebatuan. Pemerintah Kabupaten menetapkan usia kota ini berdasarkan staatsblad nomor 322 tentang Bestuurshervorming, Decen-tralisastie, Regentschappen Oost Java, milik pemerintah kolonial Belanda. Pengesahnya adalah Gubernur Jenderal De Graeff. Di situ disebutkan, status Jember ditingkatkan dari afdeeling menjadi regentschap, per 1 Januari 1929. Regentschap setara dengan kabupaten. Inilah yang kemudian dijadikan acuan tanggal lahir Jember.

Namun dari bebatuan tua, kita tahu Jember berusia lebih tua daripada usia yang ditetapkan Belanda. Di Jember, situs-situs kuno dan sebagian di antaranya purbakala terletak di tujuh kecamatan, yakni Tanggul, Gumukmas, Wuluhan, Sukowono, Arjasa, Jelbuk, dan Mayang. Sebagian situs sudah diselamatkan dan disimpan di kantor Dinas Pendidikan Jember. Namun masih banyak yang tersebar di sawah, lahan milik warga, dan bahkan halaman kantor desa.

Di Kecamatan Arjasa. Sedikitnya, ada 15 buah batu kenong yang ditanam dalam tanah. Batu kenong ini adalah peninggalan sejarah dari zaman batu akhir, yang ditandai batu-batu besar. Batu ini berfungsi sebagai persembahan terhadap arwah leluhur.Dari situs prasasti Congapan yang berada di Desa Karangbayat, Kecamatan Sumberbaru, kita tahu kata:’tlah sanak pangilanku’yang artinya tahun 1088. Di Kitab Negara Kertagama, Jember adalah perlintasan turne (perjalanan) Hayam Wuruk ke daerah selatan. Kelurahan Mangli dulu juga kerajaan kecil dibawah Blambangan. Perang Sadeng yang termasyhur itu juga diperkirakan terjadi di daerah yang saat ini menjadi wilayah Kecamatan Balung. Di Balung hingga Kecamatan Semboro, ada temuan benteng tua. Jika ini menjadi acuan, maka usia Jember saat ini menca pai 923 tahun. Bandingkan dengan Surabaya yang berusia sekitar tujuh abad. Namun, tidak seperti Surabaya yang dipastikan tanggal berdirinya pada 31 Mei, masih sulit mengidentifikasi tanggal pasti lahirnya Jember. (*)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Purbakala 52

Larung Sesaji Papuma, Tradisi Masyarakat Jember

Ini acara ritual tahunan. Namanya larung sesaji, dan Minggu siang itu (12/12/2011) digelar di Pantai Pasir Putih Malikan (Papuma). Ada keriuhan, ditingkahi wangi asap dupa, kemenyan. Sepotong kepala kambing dil- etakkan di atas miniatur kapal dan diarak bersama-sama menuju samudera. Para pengaraknya memakai pakaian adat Jawa, dengan iringan reog Singo Budoyo. Mereka memasuki pekarangan vihara, dan berhenti di salah satu ceruk tempat sesaji.

Ini Vihara Dewi Sri Wulan. Warnya didominasi merah, dengan menara bundar berkisi-kisi emas menjulang tinggi. Dalam ceruk, seekor singa dan bangau berdiri. Vihara ini konon dulu hanya sebuah gubuk kecil. Seorang dermawan yang tak  ingin dikenal membantu mempermegah vihara itu.

Lebih dari 30 orang bekerjasa- ma membangun vihara tersebut selama setahun. Vihara itu disebut-sebut sebagai Vihara Dewi Kwan Im terbesar dan satu- satunya yang menghadap laut selatan. Tak ada vihara lain yang memiliki keuni­kan ini. Satu-satunya di Asia Tenggara. Banyak orang yang datang dan beribadah di sini dan memberikan pemasukan yang besar. Bahkan ada pula turis manca neg­ara seperti Jerman, Iran, Israel dan Cina yang datang ke sini.

Di ceruk vihara itu, doa dilantunkan untuk sesaji, sebelum dibawa ke pantai. Di tengah pantai Papuma, sejumlah sesepuh dan pemimpin vihara men­dorong ‘kapal’ sesaji itu ke tengah laut. Sesaji itu adalah perwujudan rasa syukur masyarakat nelayan di selatan Jember, atas melimpahnya panen ikan tahun ini. Mereka berharap, panen ikan terjadi sepanjang tahun. Selamanya.

Larung sesaji juga lukisan harmoni masyarakat Jember selatan. Seniman, jag- awana, polisi, tokoh adat, tokoh agama, dan penjaga vihara, tumplek blek. Tahun lalu, barongsai menjadi seni tradisi yang dimainkan. Tahun ini, reog menjadi pi­lihan. Malam sebelumnya, wayang kulit sudah digelar, mendahului acara larung di siang itu.

Bagi sebagian kalangan, larung sesaji adalah perpaduan atau sinkretisme se­jumlah elemen agama: Islam, kejawen, Konghucu. Acara ini sudah lima kali digelar selama lima tahun terakhir.

Da­lam perkembangannya semakin banyak masyarakat dan wisatawan yang tertarik pada upacara ini. Tentu saja, ini aset wisata budaya yang unik dan menarik. Tak hanya mempromosikan keindahan, tapi juga makna kedamaian sebuah perbedaan dalam masyarakat yang be­ragam. (*)

Balapan Sapi di Kabupaten Jember

Sapi dan Bocah-Bocah Pembrani,

D i tengah deru debu, di sebuah lapangan di Desa Jatiroto Kecamatan Sumber baru, Kabupaten Jember. bocah-bocah itu berpacu menempuh jarak seratus meter. Kecepatannya bisa mencapai 60 kilometer per jam. Sama dengan kecepatan rata-rata sepeda motor di jalanan kota Mereka tidak menderu di atas kendaraan bermotor, melainkan mengendalikan sapi yang berlari kencang.

Inilah tradisi karapan sapi, selama ini orang lebih banyak mengenalnya sebagai tradisi di Pulau Madura. Karapan sapi atau adu balap sapi lebih dikenal sebagai bagian dari tradisi di Pulau Madura.

Namun, Bulan Berkunjung Jem ber menghadirkan tradisi itu di Jember. Karapan sapi boleh diartikan pacuan sapi, dan menjadi kebiasaan turun-menurun. Jember dikenal sebagai daerah Pendalungan, yang merupakan pertemuan dua etnis besar di Jawa Timur: Jawa dan Madura.

Dalam hal ini, karapan sapi menjadi relevan untuk dihadirkan. Warga Madura di Jember sudah terbiasa dengan karapan sapi. Menurut EF Joachim, peneliti Belanda, karapan sapi sudah menjadi permainan tradisional yang populer di Madura sejak sejak 1893.

Namun, saat itu sang juara adalah joki yang mampu menguasia pasangan sapinya. Sementara saat ini adalah adu lomba cepat menuju garis finish Yang menarik perhatian, tentu saja, adalah para joki anak-anak yang berusia 12-15 tahun. Tak ada yang menyangka mereka bisa ngebut, mengendalikan sapi, tanpa pengaman apapun. Tanpa helm.

Tanpa sepatu. Sebuah tantangan penuh risiko. Tantangan penuh nyali. Sebeluai berlaga, mereka bermain-main layaknya anak-anak pada Mereka meriung di tenda yang didirikan keluarga mereka di lokasi lapangan.

Ada yang makan dengan lahap di tengah terik mentari umumnya. Tidak ada persiapan khusus menjelang pertandingan. Tak ada yang tahu bagaimana keberanian itu bisa tumbuh. Orangtua mereka sebenarnya punya kecemasan.

Namun ini sebuah tradisi yang membuat mereka surut berpantang dan membiarkan anak- anak mereka memacu kecepatan di tengah sebuah lapangan, tanpa pengaman secuilpun. (*)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Majalah  Pariwisata Jember, hlm.36