Batik Tulis Citaka Dhomas, Kediri

logo-citaka-dhomas-newBatik dipercaya sudah ada semenjak zaman Majapahit, dan menjadi sangat populer akhir abad delapan belas atau awal abad sembilan belas. Semuanya bermula dari batik tulis. Batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I atau sekitar tahun 1920-an.

Kediri masuk dalam catatan sejarah batik. G.P. Rouffaer melaporkan bahwa pola gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri. Dia menyimpulkan bahwa pola seperti ini hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting, sehingga ia berpendapat bahwa canting ditemukan di Jawa pada masa sekitar itu.

Dalam literatur Eropa, teknik batik ini pertama kali diceritakan dalam buku History of Java (London, 1817) tulisan Sir Thomas Stamford Raffles. Ia pernah menjadi Gubernur Inggris di Jawa semasa Napoleon menduduki Belanda.

Pada 1873 seorang saudagar Belanda Van Rijekevorsel memberikan selembar batik yang diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdam dan pada awal abad ke-19 itulah batik mulai mencapai masa keemasannya. Sewaktu dipamerkan di Exposition Universelle di Paris pada tahun 1900, batik Indonesia memukau publik dan seniman.

 Adi Wahyono, S.Pd., pria yang lahir di desa Menang 25 Oktober 1975 ini adalah perintis Perusahaan Rumah Batik Citaka Dhomas  yang beralamatkan di  Jalan Joyoboyo 415 desa Menang RT 01/ RW 03, tak jauh dari petilasan Joyo Boyo, di Menang, Pagu, Kediri. Email : citakadhomas@gmail.com, HP : 085 258 271 028. Rumah Batik Citaka Dhomas memiliki tenaga kerja, cukup mahir, detail motif yang mereka kerjakan cukup rumit (ujarnya Adi). Meski baru lima tahun membatik, Adi Wahyono sudah punya nama di Kediri. Pagelaran duta wisata Raka-Raki Jawa Timur kerap menggunakan batiknya. Sudah banyak pelanggan dari dalam dan luar kota.

Bagi Adi Wahyono, membatik bukanlah sesuatu yang baru, karena pengetahuan tersebut sudah merupakan ketrampilan warisan secara turun menurun didapat dari neneknya adalah seorang pembatik. Semenjak kecil tangannya sudah terampil menggoreskan canting di atas selembar kain. Dan ketrampilan terseut bertambah terasa dan semakin nyata; dengan bekal pendidikan seni rupa yang didapatnya dari UNESA (Universitas Negeri Surabaya). Sebelumnya, Adi Wahyono bekerja sebagai desainer di sebuah perusahaan mebel, setelah sepuluh tahun bekerja; panggilan batin mendorongnya untuk melanjutkan tradisi membatik yang diwariskan turun-temurun dari nenek buyutnya; yang dikenal sebagai pembatik langganan kaum priyayi pada jaman dulu.

Corak Sejarah Batik Citaka Dhomas

Awalnya, Adi Wahyono dengan sarung batik pemberian sang nenek saat dia dikitan dulu. Walaupun sarung itu sudah rusak, sudah tinggal separuh. Namun masih tampak jelas motif batik pada sarung itu. Dia sangat suka dengan motifnya. Setelah dia pelajari lebih mendalam, barulah dia tahu kalau itu adalah motif adi luhung.

Dengan motif itulah dia mulai membuat batik. Kegemarannya menggali motif-motif  batik semakin memperkokoh namanya di antara para pembatik lokal di Jawa Timur. Pada tahun 2009, dia mendirikan Rumah Batik Tulis “Citaka Dhomas” dan mulai membatik secara profesional. Tak cukup puas dengan pengetahuan yang sebelumnya pernah dia miliki; Adi Wahyono juga memperdalam ilmu membatiknya pada seorang pembatik kenamaan dari di Bantul, Jogjakarta. Karena dedikasinya yang tinggi dalam membatik, namanya cukup dikenal di kalangan para pejabat lokal. Karya batiknya dihargai mahal karena memiliki nilai seni yang tinggi, dan dikerjakan dengan teknik membatik yang nyaris sempurna. Hal itu bisa kita lihat dari kualitas bahan, kerapian, detail dan keindahan warna. Batik Citaka Dhomas memiliki nilai lebih, motif – motif  batiknya tak lepas dari relief di  berbagai situs sejarah dan budaya di Kediri: Candi, patung, lingga yoni dan prasasti kuno.

Sebagai salah satu UKM (Usaha Kecil dan Menengah) yang ada di Kabupaten Kediri, Adi Wahyono dan Citaka Dhomasnya diberikan kesempatan untuk mengikuti even-even pameran, baik di tingkat lokal maupun nasional. Kesungguhannya menekuni seni kerajinan batik juga mendapatkan apresiasi dari masyarakat luas. Dalam sebuah ajang lomba desain batik tingkat Kabupaten Kediri tahun 2010; Adi Wahyono berhasil meraih juara 1 untuk kategori fauna, Juara 2 untuk kategori flora dan Juara 2 untuk kategori bebas.

Pembatik muda umumnya menyukai motif  kontemporer, namun pembatik satu ini sangat  berbeda,  Batik- batik garapannya tergolong khas dan klasik. Hal ini dibuktikan dengan beberapa motif yang dibuatnya sebagian besar ide pemikarannya berasal diilhami dari situs situs sejarah dan budaya. Baik relief dan ornamen di candi, patung, lingga yoni serta berbagai gambar yang tampak di situs budaya dan bersejarah yang ada di Kediri. Adi Wahyono yang menangani sendiri batik Citaka Dhomas ini. Laki-laki yang bermukim ini turun tangan sendiri menuangkan gambaran batik dalam pikirannya ke sehelai kain dengan mengangkat kearifan lokal.

Rumah Batik Citaka Dhomas telah memiliki 10 motif pakem yang khas dan klasik. Diantaranya:

  • Motif batik Loka Moksa mengambil gambar lingga yoni di situs budaya petilasan Prabu Sri Aji Joyoboyo. Batik berwarna dasar coklat, diambil dari warna alam.
  • Motif batik Tunjung Sewu yang inspirasi motifnya dari Candi Surowono. Di dinding candi, dia menemukan relief teratai miring.
  • Motif batik ‘Sawung Tunjung Tejamaya’ menunjukkan beberapa simbol; ayam bekisar sebagai ikon Jawa Timur, Astadala dan gambaran relief ‘Surya Majapahit’ di dinding candi Tegowangi.
  • Motif batik Candrakapala, simbol kerajaan Kediri yang diperoleh dari prasasti Tangkilan.

Koleksi Batik Citaka Dhomas Warna Sentetis

batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-1

batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-2batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-3batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-4Dari beberapa karya batik muncul di pasaran, saat diamati nampak batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-5batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-6kemiripan dengan motif  batiknya. Tidak masalah jika ada batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-7yang meniru batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-8batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-9motifnya, sebab batik karya Adi Wahyono dengan Citaka Dhomasnya batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-10memiliki kekhasan tersendiri. Proses membatiknya batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-11batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-12batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-13batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-14cukup detail. Awalnya, Adi berdiskusi dengan pakar sejarah. Setelah itu, dia melakukan riset. Mulai melakukan pengamatan relief-relief secara langsung, memotret hingga mencari referensi sejarahnya. Kemudian, dia menggali dari sisi batiknya. “Kalau dibuat batik ‘kan nggak mungkin gambar aslinya, istilahnya ada penggayaan,” ungkap suami Hidayati Sofiah ini.

Namun, ada satu yang tak bisa lepas dari Adi. Dia tak pernah meninggalkan bunga teratai dalam setiap karyanya. Dia merasa sudah berada pada rel yang akan terus dijalaninya, mengangkat budaya dan sejarah lokal.

Koleksi Batik Citaka Dhomas Warna alam

 

 

 

batik_tulis_warna_alam1

batik_tulis_warna_alam4

batik_tulis_warna_alam5

batik_tulis_warna_alam6

batik_tulis_warna_alam10batik_tulis_warna_alam8

 

 

 

 

 

batik_tulis_warna_alam15

 

 

batik_tulis_warna_alam11

 

batik_tulis_warna_alam13

batik_tulis_warna_alam12

batik_tulis_warna_alam14

 

batik_tulis_warna_alam9

batik_tulis_warna_alam7

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

——————————————————————————————-Rumah Batik Tulis Citaka Dhomas
http://batikcitakadhomas.com

Batik Suminar, Kabupaten/Kota Kediri

batik-suminar-mangga-2Kediri memiliki nilai sejarah yang tinggi karena adanya kerajaan Kediri, Kediri juga memiliki potensi alam dan potensi wisata. Potensi alam berupa tanaman pertanian, tanaman perkebunan, perikanan, Potensi wisata seperti Goa Selomangkleng, pegunungan Wilis, aliran Sungai Brantas, Pemandian Kuwak dan Dermaga Brantas.

Berangkat dari keberagaman potensi yang ada di Kediri tersebut, pada tahun 1992 dra. Suminarwati Sundoro menggagas pembuatan batik khas Kediri. Batik khas Kediri ide Ibu Suminarwati memiliki motif yang menarik digali dari sisi sejarah Kediri, peninggalan arkeologis, serta perkembangan masyarakat. Maka lahirlah “Busana Kediren”, berupa Batik Bolleches dengan nama motif garuda mukha dan teratai mekar dengan warna utama ungu cerah kebiruan atau nila, kuning dan merah soga.

Gaya motif batik bolleches Kediri lebih banyak dipengaruhi oleh motif batik pantai utara. Motif – motifnya sama sekali tidak terikat oleh pakem, coraknya lebih bebas dan seringkali bermotifkan pola gambar natural dan tematis, sementara warnanya cenderung dekat dengan corak warna batik madura dengan warna-warna yang lebih berani dan eksotis.

Tehnik Pembuatan Batik Suminar  sama dengan tehnik pembuatan batik pada umumnya, meliputi:

  • Moordating; proses melepas lapisan lilin dari kain katun dengan cara direbus selama ± 5 menit.
  • Memola membuat Gambar Pola; proses membuat pola diatas kain katun atau prissima dengan cara ngeblat (meniru/menjiplak) pola motif yang sudah ada, menggunakan pensil 2B atau canting.
  • Nyanting ; proses mengolesi malam yang telah dipanaskan menggunakan canting, pada kain yang telah dipola.
  • Nyolet; proses pemberian warna batik secara sporadis atau setempat-setempat misalnya, motif daun diberi warna hijau, ranting atau pohon warna coklat, bunga atau buah warna terang.
  • Nemboi atau nutup adalah proses memberi warna pada coletan yang sudah kering lalu ditemboi atau ditutup malam dengan canting yang berfungsi sebagai pembuatan blok pada kain.
  • Nyelup: proses memberi warna dasar kain batik, dengan jalan mencelupkan kain pada pewarna biasanya warna gelap.
  • Nglorot/Ngelungsur; proses melepas lapisan malam dengan cara merebus kain batik selama ± 10 menit dengan diberi serbuk soda abu untuk mempercepat proses lepasnya malam.
  • Pembilasan dan Pengeringan; setelah proses ngelungsur atau ngelorot , dilakukan proses membilas dengan air lalu di angin-anginkan.

Perkembangan Batik Suminar cukup baik, terbukti dengan adanya motif batik yang berjumlah ± 115, yang dimulai pada tahun 2004. Motif- motif batik tersebut bertema flora fauna dan sosial budaya yang ada di Kabupaten Kediri, sekaligus  mengangkat potensi alam dan pariwisata baik kabupaten maupun kota Kediri.

Proses Pemasaran Batik Suminar dan pengenalan ke masyarakat luas diupayakan dengan cara mulut ke mulut, internet, brosur, media elektronik dan media cetak.  Galeri dan butik yang dibuat digunakan untuk memperkenalkan kepada masyarakat luas batik dan produk-produk yang dihasilkan oleh batik Suminar.   Upaya pemerintah sangatlah penting dalam memdukung perkembangan batik Suminar, hal ini terbukti dengan penyelenggaraan pelatihan dan pembinaan oleh DISKOPERINDAG kabupaten/kota.  Industri batik Suminar juga mengalami peningkatan, hal ini dibuktikan dengan adanya cabang cabang batik Suminar baik yang ada Kabupaten/kota di Jawa Timur, Bahkan membuka galeri-galeri Batik Suminar di Surabaya dan Jakarta bertujuan untuk memperkenalkan batik khas Kediri kepada masyarakat Indonesia.

Tahun 1992-2014 perkembangan Batik Suminar cukup baik dalam menonjolkan batik sebagai ikon daerah,  hal ini dibuktikan sejak motif pertama yang dibuat yaitu pada tahun 2003 hingga tahun 2014, tidak kurang dari 115 motif yang telah dihasilkan.  Motif-motif tersebut dibuat untuk Kabupaten Kediri maupun Kota Kediri serta pesanan khusus pakaian pegawai-pegawai maupun putri Indonesia.

Motif dan makna batik Suminar umumya berorientasi pada keadaan lingkungan sekitar di wilayah kabupaten/kota Kediri sehingga menghsilkan suatu batik yang disebut batik Bolleches dan mempunyai warna-warna yang terang dan tidak terikat oleh pakem-pakem batik,  meliputi:

  • Flora/tumbuhan; Daun Dewa, Daun Pisang, Brambang Sekoto, Anggrek, Mangga Podang, Pring Sedapur, Kembang Polkadot, Godong Gedang Ontong (daun dan bunga pisang) , Teratai Ukel, Bambu Mini, Blarak Tanggung (daun kelapa Sedang), Anggrek Kangkung, Ron Telo (daun ketela), Petetan Beras kutah, Sulur seledri, Sekar Kantil (bunga kantil), Kangkung Seiket, Bunga Rambat, Garuda Teratai, daun Mangkok, Garuda Muka Suruhan, Teratai Mekar, Anggrek Truntum, Blarak Sempal (daun kelapa patah), Blarak Sempal Mini (daun kelapa patah mini), Vilokers, Ron Mawar Renteng (daun mawar berderet), Mawar melati, Semanggi Sulur, Sekar jagad Sekar renteng, Bunga Matahari, Daun Liar, Suruhan Ceplok, Anggrek Patrun, Villodendron, Kopi, Ron Kates, Pertiwi, Semanggi, Bunga Simpur Melati, Boketan, Seruni, Ron Kembar (daun kembar), Gemani, Bunga Dahlia, Podang Gunung, Buah Naga, Rosella, Anggur,
  • Fauna/hewan; Ikan Koi, Kupu Tapak Dara, Ulat Bulu, Suro lan Boyo, Ikan Cupang
  • Seni budaya; Kuda Lumping, Garuda Muka Kalpataru, Bangbangan Kediren, Pelem Garuda, Parangkeris Kuda Lumping, Kuda Lumping Kembar,
  • Wisata; Selomangkleng, Fenomena Kelud Erupsi, Anak Kelud, Kemilau SLG (Kemilau Simpang Lima Gumul), Barong, Parangsih SLG (Parangsih SLG Simpang Lima Gumul)
  • Sosial: RS Baptis kediri, keperawatan Pelem Garuda, Batik PSSI, Garuda Muka Mukti, Garuda Muka Liris, Garuda Muka Gemani, Garuda Muka Teratai Mekar, Garuda Muka Brantas, Garuda Muka Brantas, Garuda Muka Geragih, Genta, Garuda Muka Parangkeris, Sulur Awan, Sawunggaling.

Peran  Pemerintah kabupaten/kota Kediri untuk menonjolkan batik Suminar sebagai ikon daerah sangat besar. Dibuktikan dengan; melatih dan membina para pembatik, mengikutkan batik Suminar keberbagai macam acara baik lokal maupun internasional, mewajibkan para pegawai pemerintah daerah (pegawai kantor dan guru) dan anak-anak sekolah memakai pakaian batik pada hari rabu, kamis dan jumat.

——————————————————————————————-AVATARA, e-Journal Pendidikan Sejarah ;  Volume 3, No. 3,  Oktober 2015
Novita Eka Ariana R , Yohanes Hanan Pamungkas
Perkembangan Motif Batik Suminar Sebagai Upaya Membangun Identitas Daerah Kediri Tahun 1992-2004
Jurusan Pendidikan Sejarah  Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Surabaya

Batik Suminar, Kabupaten/Kota Kediri

Kediri memiliki nilai sejarah yang tinggi karena adanya kerajaan Kediri, Kediri juga memiliki potensi alam dan potensi wisata. Potensi alam berupa tanaman pertanian, tanaman perkebunan, perikanan, Potensi wisata seperti Goa Selomangkleng, pegunungan Wilis, aliran Sungai Brantas, Pemandian Kuwak dan Dermaga Brantas.

Berangkat dari keberagaman potensi yang ada di Kediri tersebut, pada tahun 1992 dra. Suminarwati Sundoro menggagas pembuatan batik khas Kediri. Batik khas Kediri ide Ibu Suminarwati memiliki motif yang menarik digali dari sisi sejarah Kediri, peninggalan arkeologis, serta perkembangan masyarakat. Maka lahirlah “Busana Kediren”, berupa Batik Bolleches dengan nama motif garuda mukha dan teratai mekar dengan warna utama ungu cerah kebiruan atau nila, kuning dan merah soga.

Gaya motif batik bolleches Kediri lebih banyak dipengaruhi oleh motif batik pantai utara. Motif – motifnya sama sekali tidak terikat oleh pakem, coraknya lebih bebas dan seringkali bermotifkan pola gambar natural dan tematis, sementara warnanya cenderung dekat dengan corak warna batik madura dengan warna-warna yang lebih berani dan eksotis.

Tehnik Pembuatan Batik Suminar  sama dengan tehnik pembuatan batik pada umumnya, meliputi:

  • Moordating; proses melepas lapisan lilin dari kain katun dengan cara direbus selama ± 5 menit.
  • Memola membuat Gambar Pola; proses membuat pola diatas kain katun atau prissima dengan cara ngeblat (meniru/menjiplak) pola motif yang sudah ada, menggunakan pensil 2B atau canting.
  • Nyanting ; proses mengolesi malam yang telah dipanaskan menggunakan canting, pada kain yang telah dipola.
  • Nyolet; proses pemberian warna batik secara sporadis atau setempat-setempat misalnya, motif daun diberi warna hijau, ranting atau pohon warna coklat, bunga atau buah warna terang.
  • Nemboi atau nutup adalah proses memberi warna pada coletan yang sudah kering lalu ditemboi atau ditutup malam dengan canting yang berfungsi sebagai pembuatan blok pada kain.
  • Nyelup: proses memberi warna dasar kain batik, dengan jalan mencelupkan kain pada pewarna biasanya warna gelap.
  • Nglorot/Ngelungsur; proses melepas lapisan malam dengan cara merebus kain batik selama ± 10 menit dengan diberi serbuk soda abu untuk mempercepat proses lepasnya malam.
  • Pembilasan dan Pengeringan; setelah proses ngelungsur atau ngelorot , dilakukan proses membilas dengan air lalu di angin-anginkan.

Perkembangan Batik Suminar cukup baik, terbukti dengan adanya motif batik yang berjumlah ± 115, yang dimulai pada tahun 2004. Motif- motif batik tersebut bertema flora fauna dan sosial budaya yang ada di Kabupaten Kediri, sekaligus  mengangkat potensi alam dan pariwisata baik kabupaten maupun kota Kediri.

Proses Pemasaran Batik Suminar dan pengenalan ke masyarakat luas diupayakan dengan cara mulut ke mulut, internet, brosur, media elektronik dan media cetak.  Galeri dan butik yang dibuat digunakan untuk memperkenalkan kepada masyarakat luas batik dan produk-produk yang dihasilkan oleh batik Suminar.   Upaya pemerintah sangatlah penting dalam memdukung perkembangan batik Suminar, hal ini terbukti dengan penyelenggaraan pelatihan dan pembinaan oleh DISKOPERINDAG kabupaten/kota.  Industri batik Suminar juga mengalami peningkatan, hal ini dibuktikan dengan adanya cabang cabang batik Suminar baik yang ada Kabupaten/kota di Jawa Timur, Bahkan membuka galeri-galeri Batik Suminar di Surabaya dan Jakarta bertujuan untuk memperkenalkan batik khas Kediri kepada masyarakat Indonesia.

Tahun 1992-2014 perkembangan Batik Suminar cukup baik dalam menonjolkan batik sebagai ikon daerah,  hal ini dibuktikan sejak motif pertama yang dibuat yaitu pada tahun 2003 hingga tahun 2014, tidak kurang dari 115 motif yang telah dihasilkan.  Motif-motif tersebut dibuat untuk Kabupaten Kediri maupun Kota Kediri serta pesanan khusus pakaian pegawai-pegawai maupun putri Indonesia.

Motif dan makna batik Suminar umumya berorientasi pada keadaan lingkungan sekitar di wilayah kabupaten/kota Kediri sehingga menghsilkan suatu batik yang disebut batik Bolleches dan mempunyai warna-warna yang terang dan tidak terikat oleh pakem-pakem batik,  meliputi:

  • Flora/tumbuhan; Daun Dewa, Daun Pisang, Brambang Sekoto, Anggrek, Mangga Podang, Pring Sedapur, Kembang Polkadot, Godong Gedang Ontong (daun dan bunga pisang) , Teratai Ukel, Bambu Mini, Blarak Tanggung (daun kelapa Sedang), Anggrek Kangkung, Ron Telo (daun ketela), Petetan Beras kutah, Sulur seledri, Sekar Kantil (bunga kantil), Kangkung Seiket, Bunga Rambat, Garuda Teratai, daun Mangkok, Garuda Muka Suruhan, Teratai Mekar, Anggrek Truntum, Blarak Sempal (daun kelapa patah), Blarak Sempal Mini (daun kelapa patah mini), Vilokers, Ron Mawar Renteng (daun mawar berderet), Mawar melati, Semanggi Sulur, Sekar jagad Sekar renteng, Bunga Matahari, Daun Liar, Suruhan Ceplok, Anggrek Patrun, Villodendron, Kopi, Ron Kates, Pertiwi, Semanggi, Bunga Simpur Melati, Boketan, Seruni, Ron Kembar (daun kembar), Gemani, Bunga Dahlia, Podang Gunung, Buah Naga, Rosella, Anggur,
  • Fauna/hewan; Ikan Koi, Kupu Tapak Dara, Ulat Bulu, Suro lan Boyo, Ikan Cupang
  • Seni budaya; Kuda Lumping, Garuda Muka Kalpataru, Bangbangan Kediren, Pelem Garuda, Parangkeris Kuda Lumping, Kuda Lumping Kembar,
  • Wisata; Selomangkleng, Fenomena Kelud Erupsi, Anak Kelud, Kemilau SLG (Kemilau Simpang Lima Gumul), Barong, Parangsih SLG (Parangsih SLG Simpang Lima Gumul)
  • Sosial: RS Baptis kediri, keperawatan Pelem Garuda, Batik PSSI, Garuda Muka Mukti, Garuda Muka Liris, Garuda Muka Gemani, Garuda Muka Teratai Mekar, Garuda Muka Brantas, Garuda Muka Brantas, Garuda Muka Geragih, Genta, Garuda Muka Parangkeris, Sulur Awan, Sawunggaling.

Peran  Pemerintah kabupaten/kota Kediri untuk menonjolkan batik Suminar sebagai ikon daerah sangat besar. Dibuktikan dengan

  • melatih dan membina para pembatik,
  • mengikutkan batik Suminar keberbagai macam acara baik lokal maupun internasional,
  • mewajibkan para pegawai pemerintah daerah (pegawai kantor dan guru) dan anak-anak sekolah memakai pakaian batik pada hari rabu, kamis dan jumat.

——————————————————————————————-AVATARA, e-Journal Pendidikan Sejarah ;  Volume 3, No. 3,  Oktober 2015
Novita Eka Ariana R , Yohanes Hanan Pamungkas
Perkembangan Motif Batik Suminar Sebagai Upaya Membangun Identitas Daerah Kediri Tahun 1992-2004
Jurusan Pendidikan Sejarah  Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Surabaya

Batik Kediren

Kabupaten Kediri juga memiliki sentra batik berada wilayah Desa Sekoto Kecamatan Badas, Desa Besuk Kecamatan Gurah dan Desa Menang Kecamatan Pagu, Desa Semen Kecamatan Semen. Batik Kediri sebenarnya sudah mempunyai bentuk dan ciri khas tersendiri, namun batik tulis Kediri yang di kenal dengan sebutan “Batik Kediren” sampai saat ini tetap dikembangkan. Batik Kediren telah dirintis dan beredar di pasar perbatikan kurang lebih sekitar 30 tahun yang lalu.

Berkat kerjasama Pemerintah Kabupaten Kediri dengan para perajin batik, batik kediren bisa menampilkan identitasnya kembali, dan bisa memberikan manfaat pada semua pihak, khususnya dalam  pelestarian  sejarah,  budaya, maupun dalam usaha menciptakan lapangan kerja, sehingga kehadiran batik Kediren dalam kehidupan masyarakat menjadi penting, pada semua tatanan kehidupan masyarakat di Kediri.

Sejarah Batik Kediren

Tidak diketahui dengan pasti kapan munculnya batik di daerah Kediri, namun yang pasti sampai saat ini perkembangannya bisa terlihat dan dirasakan. Konon awalnya keberadaan batik di wilayah Kediri ini disekitar pinggiran sungai Brantas, hal tersebut bisa dimaklumi sebab sungai brantas merupakan sungai terbesar di Jawa Timur yang sejak zaman kuno mempunyai arti penting sebagai jalur perdagangan antar daerah di Jawa Timur. Karena adanya sungai Brantas sebagai sarana transportasi, sehingga Kabupaten Kediri pernah menjadi pusat perdagangan sekaligus menjadi lokasi bisnis perniagaan, termasuk perdagangan batik. Sehingga masyarakat sekitar aliran sungai brantas inilah yang mula-mula terpengaruh budaya dari luar Kediri. Sungai Brantas melewati beberapa kabupaten/kota di Jawa Timur, diawali dari Desa Sumber Brantas kecamatan Bumiaji kota Batu, Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, Nganjuk, Jombang, Mojokerto, dan Surabaya-Sidoarjo.

Dengan meluasnya budaya gemar batik, sehingga batik kediren mengalami perubahan dan perkembangan, semula fungsi batik kediren semata-mata untuk kepentingan busana tradisi keraton saja, kemudian berkembang pada masyarakat biasa namun hanya digunakan saat melaksakan upacara adat,  kini batik sudah menjadi pakaian masyarakat umum. Perbedaan kondisi lingkungan dan letak geografis serta seni tradisi yang khas menimbulkan keragaman budaya, kondisi ini terlihat pada bentuk, bahan yang digunakan serta motif batik. Di zaman modern ini motif batik kediren berkembang dan banyak diciptakan motif-motif baru untuk mengantisipasi permintaan pasar.

 Motif Batik Kediren

Motif utama pada struktur pola batik Kediri merupakan gambaran keadaan geografis yang terdapat di wilayah Kediri dan sekitarnya, di antaranya:

  1. Motif flora/tumbuh-tumbuhan: bambu, sakura, pelem (mangga) podang, anggrek bulan, buah naga, bunga dahlia, seruni, rosella, ron kates (daun pepaya), brambang, daun mangkuk, daun pisang, daun ketela, bunga tunjung, daun sirih (suruh), anggur, bunga sepatu, pisang, mawar, melati, blarak (daun kelapa), kambil (kelapa), bunga matahari, markisa, teratai, jeruk, kantil, palem, kopi, nanas, dan lain-lain.
  2. Motif fauna/hewan: peksi/manuk (burung); (garuda, merak, gelatik, bangau), ayam, kupukupu, tupai, kijang, kera, ikan, dan lain-lain.
  3. Motif figuratif: manusia
  4. Motif geometris: garis, bidang,
  5. Motif pariwisata dan budaya: Gunung Kelud, Monumen SLG (Monumen Simpang Lima Gumul), Air Terjun Dolo, Pamuksan Sri Aji Jayabaya, relief Candi Tegowangi, relief Candi Surowono.

Sedangkan untuk motif isian, batik Kediri sebagian isiannya banyak menyerupai batik klasik, tetapi pada penerapannya serta istilah yang digunakan tidak semuanya sama, hal ini merupakan ide dan gagasan dari perajin batik.

batik-kediri-motif-kuda-kepang-11Berbagai bentuk dan gambaran yang mempengaruhi meliputi, kesejarahan, ragam seni dan budaya, kondisi wilayah, pariwisata dan produk unggulan Kabupaten Kediri menjadi sumber inspirasi, ide, dan gagasan bagi pengrajin batik kediren untuk menciptakan batik kediren yang berbeda dengan daerah pembatikan yang lainnya. Hal ini terlihat dari beberapa bentuk pola dan motif batik yang dibuat oleh masing–masing pengrajin batik kediren di wilayabatik-kediri-motif-kuda-kepangh Kediri diantaranya adalah:

  • motif batik sawung tunjung tejamaya dan motif batik padma loka moksa mendapat pengaruh dari aspek kesejarahan;
  • motif batik jaranan (kuda lumping) mengacu pada corak seni budaya daerah Kediri;
  • motif batik Gunung Kelud, Anak Gunung Kelud, Monumen SLG (Monumen Simpang Lima Gumul) dan pemandangan alam di wilayah Kediri menggambarkan tempat pariwisata di Kediri;
  • motif batik mangga podang dan nanas podang mengambil obyjek dari produk unggulan Kabupaten Kediri.

Sentra Batik Kediren

Sentra batik kedirbatik-kediri-motif-kuda-kepang-10en-pun kini juga sudah berkembang dan menyebar dibeberapa wilayah Kediri, pusat-pusat sentra batik tersebut meliputi, Desa Sekoto Kecamatan Badas, Besuk dan Dadapan Kecamatan Gurah, Menang Kecamatan Pagu, dan Mojo Kecamatan Mojo.

Pola Batik Kediren

Batik Kediren pola klasik masih diproduksi oleh perusahaan batik Citaka Dhomas meki hanya berdabatik-kediri-motif-kuda-kepang-11sarkan pesanan, dengan masih adanya konsumen yang tertarik terhadap pola batik kediren klasik ini, memicu perusahaan batik di Kediri menyediakan batik kediren pola klasik. Batik Kediren pola klasik biasanya dibuat dalam bentuk jarit (kain panjang), saat ini pola batik kediren klasik ini dipakai masyarakat pada acara-acara resmi, upacara adat, pernikahan, mitoni (masa hamibatik-kediri-motif-slg-1l usia tujuh bulan), dan upacara adat lainnya. Macam-macam batik kediren pola klasik kebanyakan pembuatannya ditentukan oleh pihak pemesan, beberapa pola tersebut di antaranya: pola wahyu tumurun, pola babon angrem, pola semen romo, pola sidoluhur, pola sidomukti, pola sidomulyo, dan lain-lain.

 

Batik Kediren pola kreasi merupakan inovasi baru hasil kreativitas batik-tulis-motif-slg-2individu pengrajin batik kediren, jadi sifatnya lebih pada karya pribadi, namun untuk menciptakan motif-motif batik kediren para pengrajin batik kediren masih mengacu pada bentuk kesejarahan, ragam seni budaya, kondisi wilayah, pariwisata dan produk unggulan Kabupaten Kediri.

Pola batik kreasi yang ada di Kediri menurut pembagian pola dibagi dalam tiga kelompok antara lain:

  • Batik pola sugesti alam, penggambaran wujud alam sekitar adalah bentuk sugesti/pengaruh dari lingkungan dan kehidupan sehari-hari di sekitar sehingga batik kreasi kediren mempunyai ciri khas dan keunikan tersendiri yang berbeda dengan daerah lain. Pola atau motif batik sugesti alam yang dibuat oleh pengrajin dan pengusaha batik Kediri, antara lain: motif batik bunga sakura, rosella, bunga sepatu, rumpun bambu, sawung tunjung, angsa, lung merak, mawar seronce, mangga podang, semongko sesigar, dhong suruh, teratai, dan lain-lain.
  • Motif batik kediren pola abstrak mengetengahkan beberapa elemen unsur-unsur seni, diwujudkan dalam motif batik (motif bebas/kontemporer).
  • Pola batik kediren bermotif pariwisata dan budaya mengetengahkan berbagai pariwisata dan budaya yang ada di wilayah Kabupaten Kediri, di antaranya: Gunung Kelud yang berada di Kecamatan Ngancar, Air Terjun Dolo yang berada di wilayah Kecamatan Besuki, Gereja Puh Sarang yang berada di Kecamatan Semen, Monumen Simpang Lima Gumul yang berada di Kecamatan Ngasem, Pamuksan Si Aji Joyoboyo dan Sendang Tirta Kamandanu di Desa Menang Kecamatan Pagu.

Teknik produksi Batik Kediren
Batik tulis ;
Batik semi tulis;
Batik cap;
Batik printing.

Pewarnaan Batik Kediren

  • Warna alam: menggunakan bahan-bahan yang di dapat dari alam, zat warna alam di ambil dari kulit kayu mahoni, kulit pohon mangga, daun mangga, daun jambu biji, kulit buah jolawe, dan lain-lain.
  • Warna sintetis Produksi batik Kediri pada umumnya menggunakan warna sintetis, seperti, Garam napthol, Indighosol, Campuran napthol dan indighosol – Remasol

————————————————————————————-134N70nulisDW; GELAR Jurnal Seni Budaya Volume 13 Nomor 1, Juli 2015

Mujiono
KEBERADAAN BATIK KEDIRI JAWA TIMUR
UPTD SMP Negeri 3 Wates Jl. Kediri No. 449, Wonorejo, Kediri, Jawa Timur

LEPET JAGUNG, Kabupaten Kediri

lepet-jagungJajanan tradisional kini penikmatnya kesulitan mencari tempat penjualnya, Padahal banyak juga jajanan tradisional memiliki rasa yang nikmat tak terlupakan seperti lepet jagung. Hal ini bisa disebabkan kerumitan pembuatannya, bisa juga bahan dasarnya.

Lepet jagung merupkn jajanan tradisional yang bahan dasar adalah jagung dan kelapa parut saja, dan memiliki cita rasa yang khas lidah masyarakat Jawa Timur. Rasa manis dan gurih bercampur menjadi satu, saat disajikan selagi hangat pada pagi hari didampingi secangkir teh hangat atau kopi, Lepet Jagung ini begitu nikmat.

Lepet Jagung dibungkus kulit buah jagung, sehingga membuat bentuk, warna dan aroma menjadikan makanan yang khas.  Untuk mengingatkan lidah akan kelezatan jajanan tradisional Jawa Timur ini. Bisa kita coba dengan resep di bawah ini. Untuk yang masih sangat asing akan makanan ini jangan kawatir masalah rasa. Jajanan ini spesialnya lebih pedat, tahan lama dan tak mudah basi. Untuk itu jika anda ingin bisa merasakan akan lepet jagung manis ini bisa membuatnya sendiri dan berikut resep dan langkahnya dengan baik seperti.

Resep Lepet Jagung

Bahan:

  • 6 buah jagung muda, sisihkan kulitnya untuk pembungkus
  • 1/3 butir (+/- 150 gr) kelapa agak muda kupas, parut
  • 100 gr gula pasir
  • 1/4 sdt vanili bubuk
  • 1/2 sdt garam

Cara Membuat:

  1. Parut jagung hingga habis dari bonggolnya. Campur dengan kelapa, gula, garam, dan vanili, aduk rata
  2. Ambil selembar kulit jagung, isi dengan 1 – 2 sdm adonan, gulung menyerupai jagung kecil sampai adonan habis semua.
  3. Kukus sampai matang selama +/- 30 menit. Angkat dan dinginkan.

 Setelah dikukus matang, kulit jagung pembungkus akan menjadi berwarna kuning dan berkeriput. Supaya lepet jagungnya tetap tampil indah dan menawan, kulit jagung pembungkus bisa diganti dengan kulit jagung bagian dalam yang dicelupkan sebentar ke dalam air mendidih.

———————————————————————————–
134N70 nulis DW
Nara sumber: Mak Katipah (Brenggolo, Plosoklaten,Kediri)

Gethuk Gedang, Kediri

Kediri merupakan salah satu nama daerah yang terletak di Jawa Timur, kota kediri memang sudah sangat terkenal dengan berbagai macam jenis masakan khasnya. Salah satu masakan khas dari kota Kediri adalah Gethuk Gedang (gethuk pisang). Gethuk gedang memang berasal dari kota Kediri, namun makanan yang satu ini sudah tersebar luas dimana – mana hampir diseluruh wilayah di pulau jawa.

Olahan pisang dibungkus dengan daun pisang mirip lontong ini adalah salah satu aset kuliner Kediri yang sudah ada dari dahulu kala, meskipun belum diketahui mengenai asal-usul si manis dari Kediri ini, namun tradisi pembuatan dan pengolahan gethuk gedang diyakini sudah berlangsung secara turun-temurun dan diwariskan lintas generasi.

Gethuk gedang berasa manis legit dan sedikit asam, rasa ini semua merupakan rasa alami khas buah pisang, tanpa tambahan zat apapun termasuk gula dan bahan pengawet. Sehingga gethuk pisang hanya bisa bertahan selama dua hari pada suhu kamar atau sekitar empat sampai lima hari jika disimpan di dalam lemari pendingin.  Sedikit mengingatkan bagi yang ingin membeli getuk pisang dan rumah anda terlalu jauh, pertimbangkan masa bertahannya gethuk gedang yang hanya dua hari.

Makanan ringan yang satu ini selain memiliki rasa alami dari buah pisang yang merupakan bahan dasarnya, karena tanpa tambahan zat apapun, sehingga kandungan gizinyapun sesuai dengan kandungan pisang merupakan jenis bahan makanan rendah kolesterol, juga kaya akan kandungan sarat,  karbohidrat dan protein nabati.

Meskipun gethuk gedang ini sudah terkenal, namun masih banyak yang belum mengetahui proses dan cara pembuatannya. Berikut penjelasan tentang resep getuk pisang khas Kediri sederhana spesial asli enak. Membuat Getuk gedang yang merupakan makanan tradisional khas dan asli dari Kediri ini,  tidak sulit namun dalam memilih bahan harus tepat. Gehtuk gedang merupakan cemilan yang paling mudah dibuat, olahan ini dibuat dari bahan dasar pisang kepok yang manis dan kenyal. Gedang/Pisang yang dipilih adalah jenis pisang kepok yang berkualitas sangat baik dan juga masih segar. Mungkin berikut ini salah satu proses untuk membuat getuk pisang yang sangat enak.

Bahan :

  • buah pisang kepok segar dan matang yang berkualitas baik 2 kg,
  • garam dapur yang halus dan beryodium sebanyak 1 sendok teh,
  • vanili bubuk 1 sendok the,
  • 1 kg gula pasir .

Untuk pembungkus:

  • daun pisang secukupnya,
  • lidi  secukupnya ( dipotong lancip )

Cara membuat :

  1. Kukus pisang kepok sampai benar-benar matang dan empuk
  2. Kupas kulit pisang lalu dahaluskan
  3. Campurkan pisang yang sudah dihaluskan dengan gula pasir dan garam
  4. Tumbuk halus lagi hingga semua bahan tercampur rata
  5. Padatkan adonan selagi masih panas dan diamkan hingga menjadi dingin
  6. Ambil tiap satu lembar daun pisang lalu masukkan adonan getuk pisang secukupnya
  7. Gulung memanjang seperti lontong sambil dipadatkan kembali
  8. Semat dengan sapu lidi pada kedua ujungnya
  9. Kukus dalam kukusan panas selama 25-30 menit atau sampai matang dan kenyal
  10. Buka daun pisang yang membungkusnya lalu dipotong dan sajikan.

Kini Getuk pisang telah siap untuk disajikan,  akan kelihatan lebih menarik jika dihidanngkan dipiring pada waktu sore maupun pagi hari sambil ditemani teh dan kopi hangat, nikmati gedang ini selagi hangat, namun juga sedap saat disantap ketika sudah dingin.

 ——————————————————————————————-134N70 nulis DW
Nara sumber: Mak Katipah, Brenggolo, Plosoklaten, Kediri

SOTO BOK IJO – LEGENDA KULINER KEDIRI

soto-bok-ijoSoto Bok Ijo buat warga Kediri dan sekitarnya pasti mengenalnya, karena memang makanan yang satu ini sudah sangat terkenal sebagai salah satu pilihan kuliner di Kediri. Kuliner ini juga sudah melegenda, konon soto bok ijo ini sudah ada sejak tahun 1969, soto bok ijo atau juga sering disebut Soto Ayam Tamanan. Dikenal dengan sebutan Soto Bok Ijo karena lokasi berjualannya di sekitar Bok Ijo (Jembatan Hijau). Kini lokasinya sudah berubah menjadi pertigaan di samping Terminal Tamanan Kediri. Dan para penjual soto di Bok Ijo dipindahkan di samping terminal, hingga saat ini bisa ditemui berjejer warung-warung soto di samping terminal.
Soto Bok Ijo sendiri sebenarnya merupakan soto ayam biasa, atau bisa disebut soto Kediri. Karena soto ini memakai kuah yang bersantan, soto ini rasanya memang enak, namun porsinya sedikit sih, satu mangkok pasti kurang, cara penyajiannya memakai mangkok standart, tapi porsinya sedikit, irisan ayamnya juga gak banyak. Dalam penyajiaannya pelengkap soto antara lain adalah kol, kecambah, cabe rawit, jeruk nipis dan tentunya kecap disajikan secara terpisah. Jadi pembeli meracik soto sendiri sesuai selera.
Yang istimewa dan menjadi favorit adalah ayam bakar bumbu kecapnya, pembeli bisa memilih ayam bagian mana yang diinginkan, dan dibakar saat itu juga, jadi pembeli bisa menyantapnya panas-panas. Bumbu kecapnya benar-benar meresap, karena ayam yang dibakar memang telah dipotong-potong terlebih dahulu dan disusun pada tusuk besi, baru kemudian dibakar dan disajikan di dalam mangkok. Harganya bervariasi tergantung bagian mana yang kita pilih, ayam bakar ini dinikmati dengan soto, terasa sangat cocok sekali, dinikmati langsung tanpa sotopun juga enak.

———————————————————————————————134N70 nulis DW

 

Soto Branggahan

Soto Branggahan0001Kabupaten Kediri dikenal dengan Gudangnya kuliner, salah satunya Soto Branggahan begitulah banyak orang menyebuf namanya . Apabila bepergian ke Tulung Agung dari Kediri atau yang dari Tulung Agung akan ke Surabaya atau ke Kediri dan melewati Ngadiluwih pasti akan dijumpai banyak sekali deretan lapak- lapak kaki lima yang berjualan soto khas dari Kediri.

Soto Branggahan0002Masyarakat menyebutnya dengan Soto Branggahan, karena nama daerah tempat mereka berjualan adalah Desa Branggahan, Kec. Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, ± 8 km arah selatan dari Alun-alun Kediri menuju Tulung Agung. Dari cerita yang selama ini beredar, “Sentra Soto” tersebut sudah ada sejak tahun 1950. Dan para pedagang itu umumnya adalah warga sekitar dan telah berjualan soto secara turun-temurun.

Soto Branggahan0003Yang menjadi ciri khas dari Soto Branggahan adalah sotonya ayam kampung dengan kuahnya dari rempah-rempah yang bercampur dengan santan sehingga rasanya menjadi gurih. Hal ini juga yang membedakan dengan soto-soto pada lainnya yang cenderung berkuah bening.

Hal unik lainnya dalam penyajian Soto Branggahan adalah bila pedagang soto pada umumnya meletakkan sambal pada tempat yang terpisah dan sambalnya sudah dihaluskan, namun Soto Branggahan ini meletakkan sambalnya dibawah nasi, jadi ketika menyantap soto ini harus diaduk- aduk agar pedasnya merata.

Soto Branggahan0004Selain itu tempat penyajiannya pun tak kalah menarik, yakni disajikan pada mangkuk yang ukurannya tidak sebesar wadah penyajian soto pada umumnya, tetapi menggunakan mangkuk kecil yang menyerupai mangkuk china atau cawan. Jadi bagi yang terbiasa makan besar pasti tidak akan cukup jika cuma makan satu mangkuk saja, sehingga setidaknya butuh dua mangkuk untuk membuat kenyang.

 

 

Soto Branggahan0005

 

 

Ida Kristianingrum ( 29 tahun ) Ibu 2 orang anak sebagai pemilik warung soto khas kediri yang terletak di desa Branggahan Kecamatan Ngadiluwih. Buka setiap hari mulai pukul 8.30 WIB – 23.00 WIB. Setiap hari bisa menghabiskan beras 4 – 6 Kg dan menghabiskan ayam 4-6 ekor. (Prastyanto B – Kominfo)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:Majalah GEMA KELUD, Edisi 3 / Juli-september 2013 halaman 36-37

Kue Pia Kering, Kediri

Kue Pia Kering Desa Tawang Kec. Wates

Kue yang satu ini anda pasti sudah kenal, karena rasa yang renyah, gurih dan manis dengan aroma rasa yang sangat nikmat sekali, apalagi kalau dinikmati dengan keluarga atau dengan teman serta handai tolan bersama-sama dan ditemani dengan minuman teh, sirup, soft drink atau kopi pada waktu pagi, siang atau sore hari.

 

Pia Wates.docx0001Kue Pia Kering ” MATAHARI ” Produksi Pak I^B Didik Desa Tawang Kecamatan Wates Kabupaten Kediri ini merupakan Industri Rumah Tangga (UKM) dibuat dari bahan Tepung Terigu, Minyak, Kacang Hijau, Gula dan Garam sedangkan bahan-bahan tersebut dibeli dari Toko di Kota Kediri. Pak Didik (45 tahun) memproduksi Kue Pia Kering ini dirumah dibantu oleh Istri, Anak dan tenaga kerja dari tetangga sekitarnya sejumlah 6 orang dengan gaji/upah borongan, Usaha ini dirintis sejak tahun 2005, usaha ini mewarisi dan melanjutkan usaha orang tua.

Pia Wates.docx0005Proses pembuatan kue Pia Kering ini memang agak rumit dan memerlukan keahlian serta ketelatenan. Pertama-tama membuat adonan ditangani oieh Pak Didik sendiri sedangkan untuk yang lainnya ditangani oleh Pekerja seperti Pembuatan Kacang Hijau sebagai isi kue Pia Kering, Pengopenan dan Pengemasan , sedangkan untuk pemasaran menuju ke tempat penjualan baik di Pasar, Toko, Warung dan Depot serta mengantar pesanan oleh tenaga kurir “Saya kalau ditanya berapa jumlah produksi setiap bulannya, bahan yang diperlukan apa lagi pendapatan atau laba dari produksi kue Pia Kering ini, rasanya sulit untuk menjelaskan bahkan tidak bisa memerincinya karena itu semua tergantung pesanan yang diterima “ujarnya.

Pia Wates.docx0002Pemasaran kue Pia Kering buatan Pak Didik pemasarannya ke Toko dan Pasar Lokal di Kabupaten Kediri dan Kota-Kota Sekitarnya, Kalimantan dan bahkan Singapura, karena kue Pia Kering ini tahan sampai dengan 30 hari walaupun tanpa menggunakan bahan pengawet, kue ini juga sudah mempunyai PIRT:215350601394. Sedangkan pengemasan untuk penjualan dengan cara kiloan atau kemasan mica isi 34 biji yang Pia Wates.docx0003ukuran kecil dijual dengan harga Rp. 6.000,- Tunggu apa lagi ? segera buktikan rasa dari Pia Kering Matahari produksi Bapak Didik dari Desa Tawang Kecamatan Wates Kabupaten Kediri. (wk-kominfo)

Pia Wates.docx0004

 

 

 

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: majalah GEMA KELUD, Edisi 2 / April-Juni 2013 halaman 36

Kerupuk Nadya Kaya Rasa, Kediri

Krupuk kediri.docxTidak bisa dipungkiri bahwa sebagian masyarakat Indonesia menyukai makanan berupa kerupuk, disamping rasanya renyah dan enak, harganya juga murah serta terjangkau, untuk itu jangan anggap enteng profesi perajin kerupuk. Kisah sukses Bapak TARYONO dari Desa Banjarejo Kecamatan Ngadiluwih Kabupaten Kediri ini membuktikan bahwa keuntungan dari bisnis kerupuk tak seenteng produk kerupuk. Berkat usahanya yang tak kenal lelah, pengusaha kerupuk ini mampu meraih omzet yang sangat besar setiiap bulan.

Pria yang satu ini punya keyakinann bahwa dengan usaha yang disokong doa, niscaya usaha apa pun akan menuai hasil memuaskan. Keyakinan ini mengantarkan TARYONO menjadi seorang perajin kerupuk cukup terkenal.

Memakai merek produksi ” Nadya Kaya Rasa” Taryono membuat aneka rasa kerupuk, seperti rasa udang, hasil produksi krupuk mentah ini diambil oleh pengusaha dari Kediri, Gurah, Pare, Tulungagung, Malang, Pasuruan, Brebes dan Jakarta.

Saat ini, Taryono mempekerjakan sekitar 50 karyawan, dengan sistim penggajian mingguan, ia mampu memproduksi hingga 7 sampai dengan 8 kwintal per hari. Layaknya pepatah padi yang semakin tua dan berisi justru semakin menunduk, begitu pula karakter Taryono. Meski sudah sukses, ia enggan disebut pengusaha sukses. “Saya belum layak disebut pengusaha sukses/’ ungkapnya merendah.

Komposisi kerupuk dibuat dari Tepung Tapioka, Garam, Bawang Putih, Udang, Bumbu Penyedap Rasa. Krupuk Nadya Kaya Rasa ini sudah mempunyai P-IRT Nomor 206350601643. Dengan harga jual Per-Kg Rp. 8.700,- minimum pembeli harus membeli 25 Kg. **

Contact Person: Bapak Taryono Desa Banjarejo Kecamatan Ngadiluwih Kabupaten Kediri Nomor Telephone 0354-478772. HP 0816518202

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:Majalah GEMA KELUD, Edisi 2 / April-Juni 2013 halaman 37