Mbah Bonto

Jika Mbah Bonto Menjelma Macan Putih

Mbah Bonto.0003Mbah Bonto atau Kyai Bonto, hanyalah sebuah wayang kayu peninggalan Kerajaan Mataram. Tetapi, masyarakat amat mengkeramatkannya. Hanya karena sering berubah wujud sebagai siluman macan putih?

Dusun Pakel, Desa Kebonsari, Kecamatan Kademangan, masuk kawasan Blitar Selatan. Lazimnya daerah-daerah di Blitar Selatan, tingkat kesuburan tanahnya kurang bisa dihandalkan. Dulu, sebelum tersentuh proyek lahan kering dan konservasi tanah, daerah ini acap kali disebut kawasan kritis tandus.

Karena berada di wilayah selatan, masyarakat Kabupaten Blitar sering kali menyebut kawasan Blitar Selatan sebagai brang kidul. Mungkin, karena letaknya di ‘seberang selatan’ itu. Anehnya, meski tingkat kesuburan tanahnya kurang menjanjikan, toh mayoritas warga brang kidul ini hidup sebagai petani. Sebagian lainnya, yang bermukim di dekat-dekat pantai akan hidup sebagai nelayan.

Mbah Jarni (53) adalah warga Dusun Pakel, sudah 14 tahun menjadi juru kunci Mbah Bonto. Ada juga warga yang menyebutnya Kyai Bonto. Sebutan Mbah ataupun Kyai untuk wayang keramat yang diduga peninggalan Kerajaan Mataram itu, semata-mata merupakan refleksi rasa hormat warga terhadap wayang kayu itu sendiri.

Mbah Bonto.0001Dalam kesehari-hariannya, wayang tersebut berada di rumah Musiman, seo­rang kamituwo dongkol (mantan perangkat desa). Tersimpan dalam sebuah kotak kayu, berikut dua wayang kayu lainnya. Secara gaib, konon kedua wayang ini merupakan patih Mbah Bonto. Satu di antaranya, sepintas terlihat sebagai Pragata, salah satu tokoh pewayangan. Yang satunya laginya, seperti tokoh Buto. Sedang sosok Mbah Bonto sendiri mirip dengan tokoh Semar, salah seorang punakawan dalam dunia pewayangan.

MACAN PUTIH

Sosok Mbah Bonto suka-suka menjelma sebagai macan putih, beberapa kali penduduk melihatnya sendiri. “Macan jelmaan Mbah Bonto ukurannya besar sekali, tidak seperti umumnya macan-macan dalam dunia nyata,” menurut penduduk setempat, atas pengalamannya beberapa kali bertemu macan jel­maan Kyai Bonto. “Pertama kali melihat­nya, jantung saya seperti mau copot,” lanjutnya, mengenang pengalaman pertamanya bertemu dengan macan putih jel­maan Mbah Bonto.

Menurut Mbah Jarni, sebagai juru kunci Mbah Bonto, ia termasuk generasi ke 3. Dua generasi sebelumnya, adalah kakek dan ayahnya, masing-masing bernama Mbah Suro Kabi dan Mbah Lontarejo. “Menurut wasiat dari almarhum kakek saya, jatah keluarga kami menjadi juru kunci Mbah Bonto sampai generasi ke sembilan,” jelasnya.

Mbah jarni mengaku tidak tahu, bagaimana nantinya nasib Mbah Bonto setelah habis generasi ke sembilan. Baik kakek ataupun orangtuanya tak pernah memberitahukannya. Mbah Jarni pun kemudian mengira-ira, “Ya mungkin nanti akan ada wangsit, bagaimana nanti­nya Mbah Bonto,” ujarnya.

Ternyata, bukan penduduk saja yang sempat memergoki macan putih jelmaan Mbah Bonto. Mbah Jarni pun, per­nah mengalaminya. Bahkan, berulang kali. “Hampir setiap kali saya butuhkan, Mbah Bonto akan menemui saya dalam wujudnya se­bagai macan putih yang besar sekali,” ungkap Mbah Jarni serius.

Banyak orang datang dalam rangka sebuah upaya spiritual ke Mbah Bonto. Keinginan mereka pun bermacam- macam. Mbah Jarni lah yang mengkomunikasikan permohonan-permohonan para pengalab berkah itu kepada Mbah Bonto dengan satu ritual yang cukup sederhana. “Tetapi, penampakkan Mbah Bonto dalam jelmaannya sebagai macan putih, tak terkait dengan peristiwa tertentu,” tegas Mbah Jarni.

KYAI PRADA

Keberadaan Mbah Bonto di Blitar, ternyata masih ada kaitannya dengan gong pusaka Kyai Pradah di Kelurahan Kalipang, Kecamatan Sotojayan, Blitar Selatan. Kedua benda keramat tersebut, sama-sama berasal dari Kerajaan Matarapi di era abad 17-an. Ihwal keberadaannya di Kabupaten Blitar, terkait dengan satu peristiwa suksesi di kerajaan tersebut.

Disebut-sebut dalam legenda, Paku Buwono I adalah adik lain ibu dari Pangeran Prabu. Penobatan sang adik seba­gai raja, membuat hati Pangeran Prabu sangat kecewa. Kekecewaan tersebut diam-diam membangkitkan keinginannya untuk mengalang kekuatan dalam rangka kudeta. Tetapi sayang, sebelum keinginan tersebut terlaksana, raja mencium rencana busuk sang pangeran.

Karena dianggap membahayakan kedudukannya, maka Pangeran Prabu pun diusir dari kerajaan untuk menjalani hukuman pembuangan. Dengan kesatria, hukuman tersebut dijalaninya. Tetapi sebelum meninggalkan Mataram, terlebih dulu Pangeran Prabu pergi ke Glagah Wangi (Demak) untuk berguru ke Kyai Tunggul Manik. Atas kebaikan sang guru, Pangeran Prabu pun diberi piandal berupa gong pusaka dan wayang kayu.

Dalam pengembaraannya menjalani hukuman pembuangan, akhirnya Pangeran Prabu bersama isterinya dan abdi setianya sampailah di kawasan Blitar Selatan. Satu ketika, saat bertapa di Hutan Lodoyo yang masih lebat dan wingit, seorang abdi setianya yang bernama Ki Amat Tariman mencari-carinya den­gan memukul-mukul Gong Kyai Pradah. Di luar dugaan, sesaat setelah gong dipukul, munculnya berekor-ekor macan mengerubutinya. Sejak itu, Gong Kyai Pradah dipercaya banyak masyarakat bisa menjelma menjadi macan putih seperti halnya Mbah Bonto.

Seperti halnya Gong Kyai Pradah, pensucian Mbah Bonto dengan siraman air kembang setaman itupun atas wasiat Pangeran Prabu. Dalam wasiatnya yang berlaku secara turun menurun hingga sekarang, setiap tanggal 12 Maulud dan 1 Syawal hendak pusaka-pusaka itu dimandikan dengan siraman air kembang setaman. Sedang air bekas pensucian, harap dibagi-bagikan kepada siapa saja yang membutuhkannya. Pasalnya, air tersebut amat berkhasiat untuk kesembuhan suatu penyakit dan awet muda.

Kepercayaan masyarakat akan wasiat tersebut, hingga kini masih tetap terjaga. Buktinya, setiap kali dihelat upacara adat siraman Kyai Pradah di Kelurahan Kalipang dan siraman Mbah Bonto di Desa Kebonsari, antusiasme masyarakat yang ingin ngalab berkah tak pernah padam. ■ hir

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: LIBERTY, Edisi 2223, 11-20 Mei 2005, hlm. 50-51

Dari Pamekasan ke Besuki

Tahun 1743, terjadi peristiwa penting di Pamekasan, Madura. Saat itu terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh Kiai Lesap, putra selir dari Panembahan Tjakraningrat V. Pemberontakan itu bermotifkan tuntutan hak suksesi Kiai Lesap kepada pemerintahan Pangeran Tjakraningrat di Pamekasan. Pemberontakan itu menimbulkan peperangan yang dahsyat antara kedua belah pihak yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban. Perang itu bahkan melibatkan Bupati Pamekasan Tumenggung Adikoro IV. Tumenggung Adikoro IV adalah putra menantu Panembahan Tjakraningrat V. Ia ikut terlibat mempertahankan Kerajaan Pamekasan. Namun akhirnya Tumenggung Adikoro IV gugur di Desa Bulangan. Karena meninggal di desa itu maka ia mendapat sebutan Kiai Penembahan Bulangan.

Tahun 1750, pemberontakan itu dapat dipadamkan dengan tewasnya Kiai Lesap. Pemerintahan pun kemudian dapat dipulihkan. Selanjutnya diangkatlah putra Tumenggung Adikoro IV yang bernama Tumenggung Adipati Tjakraningrat. Namun kekuasaan pemerintah- annya tidak berlangsung lama, karena terjadi lagi perebutan ke­kuasaan. Selang beberapa waktu kemudian pemerintahan diserahkan kepada Tjakraningrat I, putra Adikoro III yang kemudian bergelar Tumenggung Sepuh. Saat itu pula diangkadah seorang patih ber- nama Raden Bilat yang sedang bermusuhan dengan keluarga Adikoro IV.

Untuk mencegah terjadinya percekcokan yang mendalam dan demi keselamatan cucu kesayangannya, Raden Bagus Assrah, Nyi Seda Bulangan kemudian mengasingkan cucunya ke wilayah Besuki, yaitu di sekitar Paiton, di Desa Binor. Pada waktu itu terjadilah gelombang eksodus besar-besaran dari pengikut Adikoro IV ke luar Pulau Madura. Selanjutnya Nyi Seda Bulangan tinggal menetap di Binor, dekat Paiton-Besuki. Orang-orang kemudian lebih mengenal Nyi Seda Bulangan sebagai Nyi Binor.

Pada sekitar masa itu pemerintahan di Besuki dipimpin oleh Bupati Tumenggungjoyolelono di Banger (Probolinggo). Maka sebagian wilayah Sentong (yaitu Besuki) dimasukkan ke dalam wilayah Probolinggo. Hal itu terjadi setelah Wirobroto berhasil mengajak rakyat di Tanjung, Pamekasan, untuk eksodus ke daerah Besuki.

Desa pertama yang telah dibabat dinamai Demung Maduran, sesuai dengan kondisinya yang banyak dihuni pendatang dari Madura. Lama kelamaan banyak pendatang yang mengikuti jejak Wirobroto untuk bercocok tanam. Motif utama kepindahan mereka adalah karena di Madura sedang terjadi paceklik akibat lama tidak turun hujan. Petani tidak bisa bercocok tanam. Peristiwa itu seiring dengan eksodusnya keluarga Adikoro IV pada tahun 1743 karena alasan politis. •

Karena jasanya itu maka Wirobroto oleh Tumenggung Joyo lelono diangkat menjadi Demang Besuki yang berkedudukan & Demung Maduran. Putra Wirobroto yang bernama Kasim sejak kecil sudah memiliki tanda-tanda bahwa kelak ia akan menjadi pemimpinyang arif dan bijaksana. Ia pun bisa memperlihakan tanda-tanda sebagai seorang anak yang cerdas lagi bijak. Kasim lama berguru kepada Tumenggung Joyolelono, bahkan kemudian diambil menantu.

Karena usia Wirobroto telah lanjut, jabatan Demang Besuki digantikan kepada Ki Bagus Kasim pada 1760. Kemudian karena budi pekertinya yang halus dan luhur, orang mengenal dia dengan sebutan Demang Alus. Setelah menjabat Patih, ia pun disebut Patih Alus.

Setelah Kiai Tumenggung Joyolelono dipecat, Kademangan Besuki didngkatkan statusnya menjadi Kabupaten Besuki. Maksud VOC meningkatkan status Besuki menjadi kabupaten adalah untuk menghidupkan dan meningkatkan fungsi pelabuhan Besuki yang dinilai sangat strategis untuk menguasai jalur lalu-lintas perdagangan di laut, di samping itu sebagai pintu masuk VOC ke daerah pe- dalaman sampai di Puger.

Keberadaan Nyi Binor dan cucunya Bagus Assrah akhirnya tercium juga oleh Kiai Patih Alus Besuki. Semula Nyi Binor sempat khawatdr mengenai cucunya itu, tapi ternyata tidak. Kiai Patih Alus yang dikenal sebagai seorang yang linuwih, bijaksana, dan ambek paramarta itu, begitu melihat raut muka Bagus Assrah mengatakan kepada Nyi Binor bahwa kelak anak itu akan menjadi orang besar yang ternama sehingga perlu diberi bekal ilmu pengetahuan yang akan dibutuhkan olehnya kelak.

Mendengar perkataan Kiai Patih Alus, legalah hati Nyi Binor. Akhirnya demi masa depan cucunya yang sangat dicintainya itu, Bagus Assrah diserahkan untuk mengabdi kepada Kyi Patuh Alus. Di sana Bagus Assrah diterima dengan baik dan diperlakukan sebagai keluarga Kiai Patih Alus sendiri.

Bagus Assrah langsung mendapat gemblengan dari Patih Alus dalam bermacam-macam ilmu pengetahuan dan agama, serta olah keterampilan. Kelak semua ilmu itu sangat bermanfaat bagi bekal hldup Bagus Assrah.

Sementara itu setelah Besuki dinaikkan statusnya menjadi kabupaten, maka VOC menggadaikannya kepada bangsa Cina untuk menutupi utang-utangnya. Maklumlah selama VOC berkuasa, korupsi merajalela dalam pemerintahannya.

VOC pun lantas menunjuk bupati pertamanya yaitu seorang keturunan Cina bernama Tjing Sin. Ia diangkat sebagai Bupati Ronggo di Besuki dengan gelar Ronggo Supranolo pada 1768. Untuk me- ngembangkan daerah Besuki, Bupati Ronggo Supranolo mengangkat putra menantunya bernama Ang Tjian Pik menjadi Kapten sehingga dikenal dengan nama Kapten Bwee.

Bupati Ronggo Supranolo adalah keturunan Cina yang beragama Islam, termasuk keluarga dinasti Kesepuhan (Surabaya) yang terkenal sebagai alim ulama yang disegani. Karisma itu dipergunakan oleh Bupati Ronggo Supranolo untuk menyebarkan agama Islam di Besuki, sebab di sana masih banyak penduduk yang kehidupannya masih bersifat animistis. Hal itu mengundang simpati masyarakat sehingga beliau dikenal dengan sebutan Kiai Ronggo Supranolo. Berkat kepemimpinan Kiai Ronggo Supranolo, Besuki berhasil menjadi kota pelabuhan yang cukup ramai sehingga Pelabuhan Panarukan menjadi sepi karena kalah saingan.

Tahun 1773, Kapten Bwee menggantikan mertuanya menjadi Bupati-Ronggo Besuki dengan gelar Kiai Ronggo Suprawito. Ke- dudukan itu tak lama dijabatnya karena ia wafat pada 1776. Sebagai penggantinya ditunjuk Babah Panjunan namun jabatan itu tak lama dipangkunya karena beliau dipromosikan menjabat Bupati-Tumenggung di Bangil. Sebagai penggantinya, VOC menunjuk saudara sepupunya yang bernama Babah Midun menjadi Bupati Besuki dengan gelar Kiai Suroadikusumo.

Untuk mendapatkan simpati masyarakat, Kiai Suroadikusumo mengangkat mantan Demang Besuki yaitu Kiai Demang Alus atau yang juga dikenal sebagai Demang Wirodipuro untuk menjadi Patih Besuki. Sejak saat itulah ia mendapat sebutan Patih Alus Besuki di masyarakat Besuki.

Pada suatu ketika Bupad Ronggo-Besuki Kiai Suroadikusumo membutuhkan seorang calon pegawai atau kader yang kelak akan dididik menjadi ahli pemerintahan. Sudah barang tentu si calon hendaklah seorang yang cerdas, tampan, dan mampu menguasai berbagai masalah kenegaraan dan ilmu pengetahuan, serta hal-hal yang berkenaan dengan ilmu administrasi.

Kiai Patih Alus yang sangat mengetahui kualitas dan pribadi Bagus Assrah, lalu mengusulkannya sebagai calon. Ternyata Bagus Assrah diterima, selanjutnya ia menjadi pegawai di Kabupaten Besuki.

Karena Kiai Suroadikusumo dengan istrinya Nyi Rambitan tidak dikaruniai putra, maka Bagus Assrah diambil sebagai anak angkat- nya. Nyi Rambitan menerimanya dengan senang hati, lalu mendidik dan memperlakukannya sebagai anak sendiri. Kasih sayang Kiai Ronggo Besuki bersama istrinya kepada Bagus Assrah makin men- dalam.

Ada beberapa hal yang menjadikan kedua orang tua angkatnya itu semakin tertarik kepada Bagus Assrah. Selain karena baktinya secara tulus ikhlas kepada kedua orang tua, juga karena perangai dan sikap ramah yang membuat setiap orang simpatik kepadanya. Di samping itu Kiai Ronggo telah merasakan firasat yang menun- jukkan kebesaran pada anak itu yaitu berupa sinar cahaya gaib yang memancar dari tubuhnya di kala ia tidur pada malam hari.

Setelah Bagus Assrah lulus dalam mengikuti pelajaran ketata- negaraan, ia kemudian diberi tugas untuk menarik upeti (pajak) serta ikut menangani dan memecahkan berbagai persoalan umum dalam bidang pemerintahan. Semuanya dapat dia dikerjakan dengan baik. Dengan keberhasilannya itu maka Bagus Assrah diangkat menjadi Mantri Anom dengan nama Abiseka (gelar) Mas Astrotruno.

Karena dorongan yang kuat untuk memperoleh anak sendiri, maka atas pertimbangan keluarga (Nyi Rambitan) dan terutama Kiai Patih Alus, pada 1768 Kiai Ronggo Besuki Suroadikusumo melamar putri Panembahan Somala, Bupati Sumenep, untuk dijadikan istrinya.

Perkawinannya dengan putri Panembahan Somala bukan hanya bertujuan memperoleh keturunan, tetapi juga untuk menaikkan kewibawaan dalam pemerintahan, sesuai dengan petunjuk Ki Patih Penarukan Ki Surodiwiryo, karena istri keduanya itu masih cucu seorang alim ulama besar yang tersohor di Sumenep yaitu Bindara Sa’od, ayah Penambahan Somala. Selain itu ia juga masih keturunan Pangeran Katandur, seorang alim ulama besar pada waktu itu.

Ternyata dalam perkawinannya yang kedua ini pun Kiai Ronggo- adikusumo tidak mendapatkan keturunan sebagaimana yang di- idamkan selama ini. Oleh karena itu Nyi Suroadikusumo lalu me- ngambil anak angkat dari keponakannya sendiri yang bernama Raden Ario Bambang Sutikno. Kedua anak angkat Kiai Suroadikusumo tersebut kelak menjadi tokoh sejarah. Bagus Assrah menjadi tokoh sejarah Bondowoso dan Raden Ario Bambang Sutikno yang kemu­dian bergelar Kanjeng Pangeran Prawirodiningrat menjadi tokoh sejarah di Besuki-Panarukan.

Pada 1795 Patih Puger Raden Tumenggung Prawirodiningrat wafat. Kemudian VOC mengangkat Kiai Ronggo Suroadikusumo menjadi Bupati Tumenggung di Puger dengan gelar Kiai Suryo- adikusumo. Namun karena Kiai Patih Alus menolak untuk dipindah- kan ke Puger mengikuti Tumenggung, maka untuk sementara waktu pusat pemerintahannya berada di Besuki. Pada waktu itu Kiai Patih Alus sudah amat tua.

Pada 1801 Kiai Patih Alus wafat. Jenazahnya dikebumikan di Desa Demung Besuki (Kampung Arab) sehingga pusat pemerintahan Tumenggung Puger pun dipindahkan ke tempat yang semestinya yaitu di Puger. Pengangkatannya ke Puger memakai gelar Maulana Kiai Suroadiwikromo.

Menurut rumusan Tim Tujuh Pembuatan Sejarah Bondowoso yang naskahnya disusun pada 28 April 1976 No. HK. 031/474/ 1976, erat kaitannya dengan tahun Candrasengkala 1728 Komariyah Sura Dwi Wiku Grama  atau 1801 M. (Sura / 8 ; Dwi / 2; Wiku / 7; Grama / 1 = 1728 Hijriyah).

Tahun 1806, beliau dipindahkan lagi ke Besuki dengan jabatan Adipati. Sebagai penggantinya kemudian diangkatlah Babah Panderman, putra Tumenggung Leder, dengan gelar Kiai Tumenggung Suryoadiningrat. Pada 1813 Kiai Suroadiwikromo wafat dan dimakamkan di Bangil [::]

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Dr. H. Mashoed MSi. Sejarah dan Budaya Bondowoso. Surabaya, Papyrus, 2004. hlm. 55- 61

Airlangga, Memindahkan Keraton Wotan Mas ke Kahuripan

Airlangga Memindahkan Keraton Wotan Mas ke Kahuripan, demi tercapainya perimbangan wilayah pengaruh,

AIRLANGGA0001Seperti telah dibicarakan, letak keraton yang pertama yaitu di, kira-kira dekat Surabaya sekarang. Tetapi kemudian sejak tahun 1033 dipindahkan. Pemindahan tersebut sudah tentu mempunyai arti yang penting.

Hal itu disebabkan karena adanya suatu kepercayaan bahwa pasang surutnya suatu ke­rajaan tergantung pada keraton. Karena alasan itulah kiranya Air­langga memindahkan keratonnya dari Wotan Mas ke Kahuripan. Sedangkan pemindahan dilaksanakan setelah perjuangan mempersatukan kerajaan hampir selesai.

Dalam pada itu perhubungan antara dengan Sriwijaya telah pulih sama sekali. Kini kedua fihak masing-masing mempunyai kepentingan untuk saling menghormati.

Sriwijaya menginsafi benar-benar bahwa ia harus senantiasa siap siaga. Ia harus waspada terhadap kemungkinan adanya serangan dari sebelah barat. Karena itu baginya lebih utama, apabila diadakan hubungan persahabatan dengan kerajaan Jawa Timur. Dengan demikian ia akan menjadi lebih kuat bila ia harus menghadapi musuh dari negeri lain.

Di lain pihak. Airlangga pun berpendirian serupa. Bukankah ia berhajat hendak mempersatukan kerajaan yang telah terpecah-pecah.

Bila ia ingin mencapai hasil yang memuaskan, ia terlebih dahulu harus mengadakan perdamaian dengan Sriwijaya. Ia tidak mengharapkan akan terulangnya kembali peristiwa tahun 1017. Maka karena itu ajakan Sriwijaya untuk hidup berdampingan dalam suasana persau- daraan disambutnya dengan gembira. Bahkan suasana persahabatan yang terjalin sejak tahun 1020. diabadikan dengan pendirian sebuah bangunan suci. Bangunan suci ini didirikan di Truneng (dekat Mojokerto) atas perintah raja Airlangga yang diberi nama Sriwijayasrama.

Hal lainnya yang lebih memperkuat hubungan baik itu adalah perkawinan antara Airlangga dengan puteri raja Sriwijaya. Telah diketahui bahwa puteri tersebut bernama Sanggramawijaya yang mempunyai peranan penting dalam mendampingi pemerintahan Air­langga. Selain sebagai prameswari iapun menduduki jabatan penting dalam susunan kepegawaian kerajaan Jawa Timur. Karena kedudu- kan dalam jabatan itu, ia dikenal dengan nama Rakryan Mahamantri i Hino atau suatu jabatan yang tertinggi sesudah raja.

Munculnya Sanggramawijaya di tengah-tengah keluarga keraton Airlangga, memberi kesan betapa kekalnya hubungan persahabatan antara Airlangga dengan Sriwijaya.

Berkat kecerdikan Sanggramawijaya dalam membantu mengatur siasat peperangan, Airlangga berhasil mempersatukan kembali peme­rintahan dalam waktu singkat.

Dengan selesainya perjuangan Airlangga menaklukkan musuh- musuhnya, maka timbullah suatu perbandingan kekuatan di Indo­nesia. Baik Sriwijaya maupun Airlangga saling membatasi daerah pengaruhnya.

Sriwijaya membatasi kekuasaannya terutama pada daerah-daerah sekitar Selat Malaka, Sumatera dan Semenanjung. Mungkin termasuk pula daerah sebelah pantai barat Kalimantan dan beberapa kepulauan di sekitarnya.

Karena itu Sriwijaya tetap menempati kedudukan yang kuat dalam perdagangan Sebaliknya, Airlangga membatasi kekuasaannya terutama di Jawa, Bali dan bagian timur dari kepulauan Indonesia. Seperti kita keta- hui kepulauan Indonesia bagian timur menghasilkan rempah-rempah yang disukai luar negeri. Rempah-rempah ini diperdagangkan melalui pelabuhan-pelabuhan di Jawa Timur.

Sejak masa itu terjadilah suatu pembagian Indonesia atas dua buah pusat kekuasaan. Sebelah barat di bawah kekuasaan Sriwijaya sedangkan sebelah timur di bawah kekuasaan Airlangga.

Bagaimanapun juga perlu dicatat bahwa perjuangan Airlangga ini merupakan perintis menuju ke arah persatuan Indonesia. Terutama sesudah tahun 1035, ia memerintah dengan damai atas negara yang diciptakannya. Segala daya upaya untuk memberi isi kepada hasil perjuangannya patut dijadikan sebagai teladan bagi para penguasa sesudah masanya. Tentang adanya pembagian wilayah pengaruh antara Sriwijaya dengan Airlangga. 

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Drs. Kosih Sastradinata.  Airlangga Hidup Dan Perjuangannya, Penerbit Pt. Sanggabuwana Bandung, 1976, hlm

Sumur Lengsanga dan Sendang Brumbung, Kabupaten Lamongan

Sumur Lengsanga dan Sendang Brumbung

Tatkala Sunan Drajat dan R.Nur Rahmat selesai makan wilus, -Sunan Drajat memerintahkan agar lubang bekas umbi wilus tadi diberi tanda. R.Nur Rahmat segera melaksanakan perintah tersebut. Lubang-lubang yang berjumlah sembilan buah tersebut semuanya diberi tanda. Ternyata kemudian dari lubang-lubang tersebut keluar air. Di kemudian hari lubang- lubang tersebut oleh masyarakat setempat digali lebih besar dan lebih dalam lagi. Air sumur itu mencukupi untuk keperluan masyarakat sekitarnya. Sumur itu diberi nama sumur lengsanga yakni sumur berlubang sembilan.

Di sebelah selatan Desa Drajat lebih kurang 2 Km. terdapat perkam­pungan Tepanas, sekarang masuk wilayah Desa Kranji. Di kampung tersebut terdapat sebuah sendang alam berair hangat disebut sendang Brumbung. Mereka mandi cuci di situ, dan airnya juga dipakai untuk masak dan untuk minum. Pada suatu ketika airnya berubah rasa dan warna. Mereka tidak berani mendekati sendang tersebut. Sunan Drajat berkunjung ke kampung itu, untuk menolong mereka yang sakit. Mereka menderita karena tidak bisa makan, minum dan mandi akibat perubahan air tersebut. Menyaksikan penderitaan mereka seperti itu. Sunan Drajat merasa iba. Menurut tradisi setempat beliau menan-capkan tongkatnya ke tanah kapur di sebelah sendang. Dari lubang tongkat itu keluar air bersih dan tawar.

Sunan Drajat menganjurkan untuk menguras sendang tersebut, ,agar airnya kembali bersih dan jernih, tetapi sekalipun sudah berhari-hari orang sekampung dikerahkan untuk menguras sendang tersebut, airnya tetap tidak berkurang. Akhirnya Sunan Drajat menyerahkan dua buah bokor miliknya kepada tetua kampung untuk dipakai menguras sendang. Dalam waktu yang sangat singkat sendang tersebut habis airnya dan lumpurnya menjadi bersih-Setiap tahun sekali tepatnya pada bulan Sura atau Muharram, sendang tersebut dikuras. Uniknya alat untuk menguras selain timba, juga bokor yang dulu dipinjamkan Sunan Drajat. Apabila tidak dikuras dengan menggunakan bokor tersebut, selain lama, lumpur yang ada di dalamnya pindah ke sumur Gendingan yang menurut cerita di buat oleh Mbah Banjar. Sumur itu menjadi keruh tanpa sebab. Karena itu bokor milik Sunan Drajat tersebut sampai sekarang masih disimpan dengan baik oleh seseorang yang bertempat tinggal di Kampung Gendingan (sebelah selatan masjid Gendingan) Banjar Anyar dan dikeluarkan setahun sekali untuk dipinjamkan buat menguras sendang tersebut.

Legenda tersebut memberi petunjuk bahwa Sunan Drajat mempunyai kepedulian yang besar terhadap penderitaan orang lain sekalipun tidak seagama. Dua buah bokor ternyata dapat digunakan untuk menguras sendang, dan dapat digunakan untuk membersihkan air yang kotor dan beracun, bahkan lumpurnya juga bersih. Ini memberi petunjuk bahwa dua kalimah syahadat, iman dan Islam dapat membersihkan manusia dari kotoran perilaku yang jahat dan nista.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Sejarah Sunan Drajat Dalam Jaringan Masuknya Islam di Nusantara, BADAN PERPUSTAKAAN DAN ARSIP DAERAH HKABUPATEN LAMONGAN TAHUN 2012, hlm. 92-94

Riwayat Situs Tempat Keramat Gunung Kawi, Kabupaten Malang

Para peziarah yang berkunjung ke Gunung Kawi itu sudah barang tentu tidak dapat dilepaskan dengan sejarah orang yang dimakamkan di daerah atau di tempat itu. Namun demikian ke­nyataannya menunjukkan bahwa banyak peziarah yang datang ke daerah itu tidak mengenal siapalah sebenarnya yang dimakam­kan di lereng Gunung Kawi itu. Mereka pada umumnya hanya tahu bahwa yang dimakamkan itu adalah Mbah Djoego dan R.M. Imam Soedjono, tetapi siapa sebenarnya mereka itu banyak yang tidak mengetahui. Menurut sejarahnya, riwayat hidup Mbah Djoego yang nama aslinya adalah Kyai Zakaria II dapat ditelusuri ber­dasar surat keterangan yang dikeluarkan oleh pangageng Kantor Tepas Daerah dalem Kraton Yogyakarta Hadiningrat nomor 55/ TD/1964 yang ditanda tangani oleh Kanjeng Tumenggung Donoe- hadiningrat pada tanggal 23 Juni 1964.

Dalam surat itu, silsilah Kyai Zakaria II atau Mbah Djoego diterangkan sebagai berikut (RS. Soenyowodagdo, 1989 : 8). : Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Susuhunan Paku Buwana I (Pangeran Puger) memerintah kraton Mataram pada tahun 1705 sampai 1719 berputera Bandono Pangeran Haryo (BPH) Diponegoro. Pangeran ini mempunyai putera Kanjeng Kyai Zakaria I. Beliau adalah seorang ulama besar dilingkungan kraton Kartasura pada saat itu. Kemudian bangsawan ulama tenar ter­sebut berputera Raden Mas Soeryokoesoemo atau Raden Mas Soeryodiatmodjo. Nama terakhir ini semenjak masa mudanya sudah menunjukkan minat yang besar untuk mempelajari hal-hal di bidang keagamaan (Islam). Setelah dewasa, karena kemampu­annya yang mumpuni dan ketekunannya dalam mempelajari hal- hal keagamaan atas perkenan Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II, Raden Mas Soeryo Koesoemo mengubah namanya sesuai, “Pe- paring Dalem Asm o (pemberian nama oleh Susuhan), nunggak semi dengan ayahandanya, menjadi Kanjeng Kyai Zakaria II. Jadi, Raden Mas Soeryo Koesoemo atau Raden Mas Soeryodiatmodjo itulah Kanjeng Kyai Zakaria II.

Dalam kisah sejarah diceritakan bahwa dalam pengembaraan­nya ke daerah Jawa Timur Kyai Zakaria II berganti nama dengan nama rakyat biasa. Hal ini mungkin dimaksudkan (juga dikenal dalam kisah pewayangan apabila ada satria yang sedang mengem­bara biasanya juga berganti/mengganti namanya) agar identitas­nya sebagai bangsawan kraton yang sudah terkenal itu, tidak di­ketahui oleh orang lain terutama oleh penjajah Belanda. Nama yang beliau pergunakan dan sangat populer hingga sekarang adalah “Mbah Sadjoego atau singkatnya Mbah Djoego. RS. Soeryowidag- do, 1989 : 9). Mengenai kisah pengembaraannya menurut sebuah sumber (Suwachman, dkk : 1993 : 42) dan telah menjadi ceritera yang memasyarakat sebagai berikut :

“Kyai Zakaria II dari Yogyakarta terus ke Sleman, Nganjuk, Bojonegoro, dan terakhir Blitar. Sampai di sini ia terkejut. Ter­nyata tempatnya berdekatan dengan Kadipaten di bawah kekuasa­an Belanda. Kemudian ia minggir ke daerah Kesamben, sekitar 60 km dari kota Blitar. Kyai Zakaria II menetap di tepi sungai Brantas desa Sonan, Kecamatan Kesamben kabupaten Blitar. Di desa ini Kyai Zakaria II bertemu dengan Pak Tosiman. Ketika ditanya asal-usulnya, ia was-was jangan-jangan kehadirannya dike­tahui oleh Belanda. Maka ia menjawab secara diplomatis tanpa menyebut jati dirinya. “kulo niki sajugo ” (artinya saya sendirian). Menurut penangkapan Pak Tasiman yang salah pengertian dikira namanya “Pak Sayugo” yang kemudian dipanggilnya dengan pak Jogo. Akhirnya itu dibiarkan Kyai Zakaria II sehingga ia aman dari kejaran Belanda dan sejak itulah ia dikenal dengan nama Mbah Jugo.

Selanjutnya dikisahkan bahwa mbah Jugo makin lama makin terkenal, makin dihormati dan disegani oleh masyarakat karena kearifannya, kemampuannya di bidang ilmu agama, keampuhan ilmu yang dimilikinya dan juga pribadinya yang suka menolong sesama umat. Mengenai masalah ini ada suatu cerita yang menarik sebagai berikut : “Pada suatu ketika terjadi wabah penyakit hewan di desa Sonan pada tahun 1860. Masyarakat panik karena penguasa Belanda tidak mampu mengatasi. Akhirnya dengan keampuh­an ilmu mbah Jugo* wabah penyakit tersebut berhasil dising­kirkan dan masyarakat semakin hormat pada mbah Jugo. Namanya semakin kondang dan ia melayani berbagai konsul­tasi dari masyarakat. Dari soal jodoh, bertanaam, berternak, bahkan sampai soal dagang yang menguntungkan, semuanya dilayani dengan memuaskan”.

Sementara itu dalam kurun waktu selanjutnya pada tahun 1871 Raden Mas Iman Soedjono bersama-sama penduduk mem­buka hutan di daerah Gunung Kawi, Malang. Ia kemudian mem­buka padepokan di Wonosari. Pada tahun itu juga tepatnya 22 Ja­nuari 1871, Minggu Legi, malam Senin Pahing atau 1 Suro 1899 Mbah Jugo meninggal dunia di Kesamben Blitar. Sesuai wasiat­nya, jenazah Mbah Jugo dimakamkan di lereng Gunung Kawi Wonosari, yang waktu itu sudah menjadi sebuah perkampungan. Sepeninggal mbah Jugo, padepokannya di Kesamben dirawat oleh Ki Tasiman, Ki Dawud dan lain-lain. Barang-barang peninggalan Mbah Jugo yang masih dapat kita saksikan yaitu berupa rumah Padepokan berikut masjid dan halamannya, juga, pusaka berben- tuk tombak, topi, alat-alat pertanian dan tiga buah guci tempat air minum yang dilengkapi dengan filter dari batu. Guci itu dinamakan “janjam” (guci ini oleh Raden Mas Iman Soedjono di­boyong ke Gunung Kawi).

Mengenai silsilah Raden Mas Iman Soedjono tercatat dalam dokumen yakni dalam Surat Kekancingan (Surat Bukti Silsilah) dari Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat yang dimiliki oleh Raden Asni Nitirejo, cucu Raden Mas Iman Soedjono. Surat tersebut ter­tulis dalam huruf Jawa bernomor 4753, dikeluarkan tanggal 23 Juni 1964. Dalam surat tersebut diterangkan silsilah kelahiran Raden Mas Iman Soedjono sebagai berikut :

“Ngarso Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sul­tan Hamengku Buwono I, memerintah Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat sejak tahun 1755 – 1792. Pada waktu kecilnya ber­nama Bendara Raden Mas Soedjono. Dengan istrinya yang ber­nama Raden Ayu Doyo Amoro, berputera Bendara Pangeran Aryo Kanjeng Raden Ayu Tumenggung Notodipo (lihat buku silsilah Paguyuban Trah Balitaran, terbitan tahun 1933 dengan huruf Jawa).

Raden Mas Iman Soedjono kemudian menikah dengan salah se­orang anggota laskar “Langen Kusumo”, Perajurit wanita dari laskar Pangeran Diponegoro yang bernama Raden Ayu Saminah dan biasa dipanggil Nyi Djuwul. Pasangan ini kemudian dikaruniai seorang puteri yang cantik bernama Raden Ayu Demes. Setelah dewasa Raden Ayu Demes dikawinkan dengan pengikut terdekat dan terpercaya Raden Mas Iman Soedjono yang bernama Tarikun Karyoredjo, dari Tuban. Pernikahan ini menurunkan dua orang anak laki-laki yakni Raden Asin Nitiredjo dan raden Yahmin Wi- hardjo. Keduanya sejak tahun 1946 hingga sekarang menjadi juru kunci Pasarean Gunung Kawi. Akhirnya Raden Asin Nitiredjo menurunkan tiga orang anak yakni Raden Nganten Tarsini, Raden Soepodoyono dan Raden Soelardi Soeryowidagdo Sedang Raden Yahmin Wihardjo menurunkan seorang anak laki-laki bernama Raden Soepratikto (RS. Soeryowidagdo, 1989 : 9- 10).

Raden Mas Iman Soedjono meninggal dunia pada hari Selasa Wage malam Rabu Kliwon tanggal 12 Suro 1805 atau tanggal 8 Februari 1876. Jenazah Raden Mas Iman Soedjono dimakamkan dalam satu liang dengan Mbah Jugo. Hal ini dilakukan sesuai de­ngan wasiat mbah Jugo yang pernah menyatakan bahwa bilamana kelak keduanya telah wafat, meminta agar supaya dikuburkan- bersama dalam satu liang lahat. Mengapaa demikian? Hal ini rupanya mengandung maksud sebagai dua insan seperjuangan yang senasib sependeritaan, seazas dan satu tujuan dalam hidup, sehing­ga mereka selalu berkeinginan untuk tetap berdampingan sampai ke alam baqa. Di samping itu terdapat beberapa alasan yang men­dasar keinginan itu, ialah :

  1. Keduanya adalah sejawat seperjuangan mulai dari titik awal dalam suasana duka maupun suka, semasa bersama-sama ber­gabung dalam laskar Diponegoro.
  2. Mbah Jugo tidak beristri apalagi berputra.
  3. Raden Mas Iman Soedjono sudah dinyatakan sebagai putera kinasih serta penerus kedudukan Mbah Jugo (RS. Soeryowi­dagdo, 1989 : 17).

 

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: BUDAYA SPIRITUAL DALAM SITUS KERAMAT DI GUNUNG KAWI JAWA TIMUR : DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, DIREKTORAT JENDERAL KEBUDAYAAN, DIREKTORAT SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL, PROYEK PENGKAJIAN DAN PEMBINAAN NILAI-NILAI BUDAYA PUSAT, 1994/1995, hlm. 15 – 23

Sejarah Reyog Ponorogo

Reog Panaraga sebagai pertunjukan satire, olok-olok, atau sindiran, tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan sasaran yang dijadikan olok-olok tersebut. Sasaran itu bermacam-macam. Dapat menunjuk pada situasi masyarakat umum, atau tertentu, dalam kurun waktu tertentu pula, atau kepada seseorang tokoh terpandang, yang sedikit banyak mempunyai pengaruh terhadap kehidupan atau penghidupan orang banyak, biasanya seorang pejabat atau penguasa. Atau dapat pula merujuk kepada suatu keadaan politik. Menurut kamus Van Dale, satire berarti: “hekeldicht, hekelend geschrift; hekelende, bijtende uitdrukking; daad welke dient om ene andere (of een persoon) in een kwaad of bespottelijk daglicht te plaatsen,” yang artinya: “sastra atau’ tulisan” yang mengandung kebencian; ungkapan yang melontarkan rasa benci secara tajam; perbuatan (ulah) dengan maksud menempatkan sesuatu (atau seseorang dalam sorotan yang mengundang kebencian atau cemoohan.” Di sini terasa sekali tekanannya kepada “kebencian” ,sebagai motivasinya.

Tetapi suatu sifat yang khas dalam dunia kebujanggaan Jawa tempo dulu, yalah, bahwa satire-satire yang dllontarkan dalam berbagai ungkapan, (sastra, ulah, pertunjukan, dan lain-lain sebagilinya), betapa pun tajamnya, namun cenderung tidak inenaburklln rasa kebencian. Inilah yang membedakannya dengan satire-satire barat atau Indonesia modern. Ungkapan-ungkapan satire Jawa sudah dibesut sedemikian rupa, sehingga ketajaman olok-oloknya itu tidak lagi nampak , atau terasa, kalau tidak diterima dengan kearifan atau ketajaman tanggap rasa. Artinya, bagi yang tidak arif, satire demikian diterima apa adanya; sebagai lelucon, sebagai lawakan, membuat kita ketawa, membuat puas, habis. Biasanya, yang merasakan ketajaman olok-olok yang dilontarkan oleh satire-satire Jawa demikiap., yalah orang yang bersangkutan yang menjadi sasaran. Publik lain tidak merasakan olok-oloknya, atau tidak melihat adanya olok”olok yang ditujukan kepada sesuatu atau seseorang. Dengan demikian, maka sifat menghasut atau membangkitkan sentimen publik terhadap sasaran olok-olok, tidak ada sarna sekali. Di sini sifat rasa “ngeman” (sayang) lebih diutamakan.

Demikian pula Reog Panaraga sebagai pertunjukan satire Karena sublimnya penggarapan, tidak terasa betapa tajamnya sebenarnya olokolok yang ditujukan terhadap suatu keadaan. Untuk dapat menangkap apa yang tersirat dalam satire pertunjukan Reog Panaraga; kita perlu meninjau latar belakang sejarahnya. Jaman kapan terciptailya pertunjukan tersebut, siapa penciptanya, apa motivasinya, lalu · bagaimana perkembangan selanjutnya. Dari sumber tradisi seperti Babad Tanah Jawi dan Serat Kandha, raja-raja Demak menyatakan dirinya sebagai keturunan dari Prabu Brawijaya, raja Majapahit. Bahkan di Purwaka Caruban Nagari, disebutkan dengan jelas, bahwa Raden Patah adalah anak Prabu Brawijaya Kertabumi (Brawijaya V). Raja Kertabumi ini merebut kekuasaan Majaphit dad tangan Bra Pandhan Salas Dyah Suraprabawa (Briwijaya IV) yang masih kemenakannya, dengan jalan menyingkirkannya dari keratonnya di Tumapel pada tahun Syaka 1390 (= 1468 Masehi). Pada tahun Syaka 1400 (1278 M) kekuasaan atas tahta kerajaan Majaphit dapatdirebut kembali oleh anak Bra Pandhan Salas, yaitu Dyah Ranawijaya Girindrawardana (Brawijaya VI) dengan mengadakan penyerangan ke Majapahit. Dalam penyerangan Ranawijaya ini Bra Kertabumi gugur di kraton. Peristiwa gugurnya Bra Kertabumi di kraton Majapahit ini tersimpul dalam candra sangkala “sirna-ilang-kertaning-bumi” (= 1400 syaka, atau 1478 Masehi).

Panaklukan kerajaan Majapahit kemudian oleh Demak, dapat dianggap sebagai tindakan balasan . Adipati Unus (anak Raden Patah) terhadap Girindrawardana Dyah Ranawijaya, yang telah mengalahkan neneknya Bra Kertabumi. Demikianlah gambaran sejarah Majapahit Akhir, yang ditandai aengan persaingan dan pertikaian antar kerabat raja, sehingga kedudukan kerajaan yang pernah mencapai puncak jaman keemasannya, makinlama makin suram dan goyah. Antara klik yang satu dan klik yang lain saling berebutan Pengaruh. Ditambah dengan masuknya agama Islam yang sudah mulai banyak dipeluk oleh kalanga·n kraton sendiri, semakin menambah tajamnya pertentangan. Dalam masa pemerintal}.an Bra Kertabumi, yang dalam sastra babad lebih dikenal dengan sebutan Brawijaya yang terakhir, (yang sebenarnya bukan terakhir), salah seorang pembesar pembantunya, seorang cendekia berpangkat Bujangga Anom bernama Ki Ageng Ktut Surya Alam, telah menyingkir dari ibukota. Iamelihat keadaan negara sangat menguatirkan terancam’ keruntuhan. Raja. tidak lagi berwibawa. Surya Alam menganggap Raja terlalu banyak memberikan konsesi kepada permaisurinya yang beradal dari Cina dan beragama Islam itu. Surya Alam adalah penganjur agama Buda, karena itu ia tidak sependapat dengan kebijaksanaan baginda, yang banyak dipengaruhi oleh permaisurinya orang asing itu, baik kebangsaan maupun agamanya: Sering ia memperingatkan baginda, tetapi rupanya peringatan itu tidak termakan.

Maka ia pun menarik diri, dan menyingkir ke daerah Wengker (daerah Panaraga sekarang), tinggal di desa Kutu. Di desa Kutu ini Ki Ageng Surya Alam mendirikan sebuah “paguron” (pergunlan), yang mengajarkan “ilmu kanuragan” (ilmu kekebalan, ilmu kesaktian), di.samping ilmu kebatinan dan keprajuritan (ilmu perang). Muridnya makin lama makin banyak, dan rata-rata masih muda-muda. Selama dalam pendidikan mereka dik-!nakan disiplin yang keras, dikumpulkan dalam sebuah pondhok paguron (asrama), dan harus mematuhi persyaratan yang berat. Salah satu persyaratan yang unik yalah pantangan berkumpul dengan perempuan. Mereka yang melanggar pantangan tersebut akan kehilangan kesaktiannya. Untuk menyalurkan nafsu berahinya, maka diadakanlah apa yang sekarang kita kenai sebagai “gemblak”. Yaitu anak laki-Iaki rupawan dan halus sikap pembawaannya, yang didandani seperti perempuan. Menggauli gemblak demikian tidak menjadi pantangan. Mereka yang sudah dinyatakan lulus dalam pendidikan , diberikan predikat “warok”. Dan warok-warok ini benar-benar kebal dan sakti.

Pantangan bergaul dengan perempuan tidak berlaku lagi bagi mereka, tetapi sifat dan sikap berani, jujur, dan rendah hati harus tetap dipegang teguh, tidak boleh dilepaskan selama hidup. Ini sudah menjadi semacam kode etik mereka. Lambat laun “perwarokan: ” dan ” pergemblakan” tersebut membudaya, dan akhirnya sudah demikian kuat berakar di masyarakat, sehingga sampai sekarang pun nama Panaraga tidak dapat dipisahkan dengan warok dan gemblaknya. Kembali kita kepada Ki Ageng Surya Alam . Setelah ia mendirikan paguron kanuragan di desa Kutu tersebut, namanya menjadi terkenal dengan panggilan Ki Ageng Kutu. Apa maksud. Ki Ageng Kutu mendirikall, tempat paguron semacam itu Kiranya mudah diterka, kalau kita hubungkan dengan sikapnya yang melawan kebijaksanaan rajanya, yaitu Bra Kertabumi. Memberontak, itulah kesimpulan yang gampang. Tetapi dalam cerita babad atau tutur belum pernah diungkapkan adanya niatan pemberontakan dad pihak Ki Ageng Kutu itu. Mungkin hanya usaha membuat suatu kubu pertahanan dengan para warok sebagai kekuatan tulang-punggung, kalau sewaktu-waktu ia mendapat serangan dari pihak raja.

Bagaimanapun juga, ia menyadari benar bahwa sikapnya selama ini cepat atau lambat akan dianggap sebagai pemberontakan terhadap kerajaan. Tetapi perjuangan Ki Ageng Kutu lebih diarahkan kepada perjuangan idiil, perjuangan cita-cita, yang bertentangan sifatnya dengan kebijaksanaan yang dianut oleh Prabu Kertabumi. Hal ini dapat kiranya dibuktikan dengan hal-hal yang dilakukan olehnya lebih ilanjut. Karena Ki Ageng Putu adalah seorang bujangga, jadi seorang seniman, maka dalam memperjuangkan “ideologinya”, ia menggunakan sarana keseniah. 1a mencipta sebuah karya seni yang kemudian dinamakan REOG. Reog asli yang diciptakannya itu hanya sederhana sekali, tidak menggunakan peraga lebih dari secukupnya saja, dengan tetabuhan yang minim juga. Dengan kesederhanaannya, dan peralatan yang minim itu, sangat memudahkan Ki Ageng Kutu untuk memperbanyaknya menjadi beberapa unit menurut keperluannya atu unit Reog hasil ciptaan Ki Ageng Kutu menurut aslinya, terdiri dari:

 

a. para pelakunya.

1. Singabarong dengan bulu meraknya;

2. Bujangganong atau Ganong;

3. dua Jathil, yaitu penari penunggang kuda kepang, laki-laki dengan dandanan perempuan.

 

b. tetabuhannya.

1. sebuah kendhang;

2. dua angkiung;

3 .sebuah kenong;

4. sebuah gong;

5. sebuah selompret.

 

c. pengiring, terdiri dari beberapa orang, yang tidak ditentukan jumIahnya. Tugasnya serabutan, membantu di mana diperlukan, dan terutama memeriahkan suasana dengan senggakan-senggakan dan sorak-sorainya yang riuh gemuruh.

 

Dengan penampilan kesenian Reog yang diciptanya itu, Ki Ageng Kutu ingin membuat “prasemon”, yaitu gambaran karikatural situasi negaraMajapahit pada waktu itu. Singabarong dimaksudkannya ‘ sebagai pengejawantahan ‘ raja Bra Kertabumi yang sedang berkuasa. Singabarong dalam kehidupan kawanan margasatwa diumpamakan sebagai raja. Tetapi Singabarong Reog ini menyunggi burung merak, yang melambangkan, bahwa permaisurinya, seorang puteri Cina, sedang menduduki kepala sang raja. Maksud kiasannya yalah, bahwa kewibawaan raja sudah dikalahkan oleh permaisurinya, sang puteri Cina yang cantik lagi congkak itu . Sebagaimana kita ketahui, burung merak adalah sejenis burung yang mempunyai bulu yang indah dan mewah, berwama hijau kemilauan. Dalam penampilannya tampak congkak dan angkuh.

Adapun Bujangganong atau Ganong adalah potret diri sang bujangga sendiri. Pangkat Bujangga Anom disandikan menjadi Bujangganong. Kecuali nama itu lucu kedengarannya, maksud sang bujangga Penampilan Bujangganong itusendiri sengaja dibuat lucu, baik dalam ulah ” tarian”nya, maupun ujudnya. Ujud ini digambarkan dalam bentuk topeng yang berwama merah (lambang keberanian), sepasang mata yang melotot (lambang “mampu melihat kenyataan”), hidung panjang, kumis panjang, dan rambut panjang (yang serba panjang ini melambangkan “mampu berpanjang nalar” ).  Ujud Bujangganong itu menakutkan, khususnya bagi anak-anak, tetapi pun membuat mereka ketawa senang, karena lucunya. Maksud pasemon ini yalah, bahwa sang bujangga bersungguh-sungguh, tidak main-main, yang dinyatakan dalam sikapnya yang terus-terang. Menentang kebijaksanaan raja, oleh sebab itu ditakuti oleh orang-orang yang bertingkah seperti kanak-kanak, yang dimaksudkan: para pejabat kerajaan Majapahit waktu itu, termasuk raja Kertabumi. Tetapi sebenarnya sang bujangga ingin berbuat senang bagi mereka, bahwa sang pujangga tidak perlu ditakuti, karena memang tidak ada maksud menakut-nakuti siapa pun.

Hanya yang berbuat tidak benar itulah yang merasa takut. Maka dalam gerak tariannya pun,  Bujangganong kadangkala mendekat berhadapan muka dengan Singabarong, maksudnya mengajak berdialog, tetapi kalau singabarong menjadi marah dan hendak menerkamnya, maka Bujangganong menghindar lari menjauh, kadang-kadang berada di belakang Singabarong, tetapi tidak meninggalkannya. Maksudnya: Sang Bujangga mendekati sang Prabu, berdialog, menasehati, memperingatkan, tetapi kalau sang Prabu menjadi marah, sang Bujangga mengundurkan diri, tetapi masih tut-wuri, tidak mau meninggalkan. Jadi tidak ada niatan untuk memberontak atau mengkhianati. Sepasang penari jathilan menggambarkan prajurit Majapahit, tetapi dengan dandanan seperti perempuan, solah tingkahnya pun kewanitawanitaan, artinya: prajurit Majapahit sudah kehilangan kejantanannya.

Namun yang demikian itu tidak menjadi perhatiannya. Disiplin prajuritnya sudah demikian merosotnya, sampai-sampai ibarat si prajurit sudah berani duduk di atas kepala sang raja.  Dalam tiap , pertunjukan Reog Panaraga pasti terdapat adegan penari Bunyi tabuhan yang riuh, dibarengi dengan sorak-sorai senggakan senggakan yang riuh pula, menggambarkan usaha sang Bujangga untuk menari perhatian rakyat agar mau menyaksikan tingkah laku raja. Senggakan-senggakan yang bernada olok-olok yang sering ditujukan kepada Singa barong .. mengandung maksud, bahwa rakyat memperolok-olok.

Demianlah Reog Panaraga benar-benar merupakan suatu pertunjukan yang sangat istimewa tidak sekadar main akrobat atau pun demonstrasi, kekuatan otot singo barongan megang peranan, yang pada jaman permulaannya kekuata otot ini dulu dibarengi dengan kekuatan dalam , kekuatan kanuragan, yang dilakukan oleh warok-warok. Juga bukan sekadar suatu show seperti sekarang yang siap dijual murah untuk konsumsi wisatawan , Satire yang terkandung di dalamnya tetap merupakan cermin peringatan sepanjang masa, juga bagi kita semua. Setiap saat peristiwa semacam gejala ketahan Majapahit tetap mengancam ketahanan nasional kita. Tentu saja si burung merak sudah berganti rupa, entah apa. Dengan demikian para pujangga muda kita harus tetap waspada untuk tidak perlu harus menjadi bujangganong. Para prajurit harus tetap jantan untuk tidak menjadi prajurit jathilan yang menari di atas kuda kepang. Itulah amanat hakiki sang Bujangga Ki Ageng Kutu yang disiratkannya melalui Reog Panaraga karya ciptaannya.

Dalam pada itu Prabu Brawijaya Kertabumi tidak tinggal diam. Ia mengutus salah seorang puteranya, Raden Kebokenanga alias Raden Katong, mengadakan penglacakan terhadap Ki Ageng Surya Alam , yang disinyalir konon berada di daerah Wengker. Raden Katong berangkat dengan lebih dulu singgah di Bintara, menghadap kakaknya, yaitu Adipati Bintara, Raden Patah. Raden Patah ini putera Prabu Brawijaya Kerta bumi lahir dari ibu seorang puteri Cina, permaisuri baginda. Setelah dewasa ia diangkat oleh baginda menjadi Adipati Bintara, dan di sinilah Raden Patah merintis pemekaran agama Islam bersama-sama para wali. Raden Patah pun merencanakan untuk mengIslamkan daerah Wengker, yang masyarakat penduduknya kebanyakan- masih memeluk agama Budha. Dari Sunan Kalijaga, seorang dari kesembilan wali, Raden Patah mendapat info asli, bahwa Ki Ageng Surya Alam, penganjur agama Budha yang berada di Wengker itu, merupakan kelilip yang membahayakan bagi kedudukan kadipaten Bintara dan agama Islam.

Maka kedatangan Raden Katon ibarat pucuk dicinta ulam tiba. Disarankannya kepada Raden Katong untuk memeluk agama Islam, dengan demikian rintisan peng Islaman daerah Wengker dapat dipercayakan kepadanya disamping tugasnya melcak Ki Ageng Surya Alam. Untuk memikat masyarakat penduduk derah Wengker yang masih percaya kepada Dewa-dewa, maka disarankan Dia agar Raden Katong menambahkan gelar Bathara di depan namanya. maka berangkatlah Bathara Katong ke Wengker, dengan didampingi oleh seorang ulama yang menjadi penasehatnya. Tidak perlu diceritakan, betapa Bathara Katong membuka hutan, mempersiapkan daerah pemukiman di kawasan Wengker, dan betapa pula ia berhasil memperoleh banyak pengikut diri sedikit ke sedikit, kini langsung dituturkan, bahwa ia akhirnya berhasil pula bertemu dengan teman lama yang dicarinya: Ki Ageng Surya Alam. Mereka lalu mengadakan pertemuan.

Akan tetapi dalam pertemuan itu mereka tidak mendapatkan persesuaian pendapat. Perang tidak dapat dihindarkan, karena masing-masing pihak mempertahankan prinsipnya sendiri.  Pada babakan-babakan pertama Bathara Katong menderi kekalahan. Ki Ageng Surya Alam adalah lawan yang tangguh. Tetap, Bathara Katong pun bukan orangnya yang mudah menyerah kalah. Ia mencari bantuan pada seorang bernama Ki Ageng Muslim, yang di desanya lebih dikenal dengan panggilan Ki Ageng Mirah. Tetapi Mirah ini sebenarnya bukan namanya sendiri, melainkan nama anak gadisnya. Nama aslinya Anggajaya, semula pengikut dan murid Ki Ageng Kutu juga. Jadi ia pun seorang warok yang sakti pula. Kemudian memisahkan diri, lalu masuk agama Islam. Sejak itu ia berganti nama Ki Ageng Muslim. Tetapi karena desa yang ia tempati adalah hasil cikal bakalnya sendiri yang Juga dinamakan desa Mirah, maka nama yang tetap populer baginya yalah Ki Ageng Mirah.

Bantuan Ki Ageng Mirah membuka lembaran baru bagi perjuangan Bathara Katong, karena pengaruh Ki Ageng amat besar dan banyak pula pengikutnya. Tetapi bagi Ki Ageng Kutu merupakan titik balik. Dalam menanggulangi serangan-serangan gadungan Bathara Katong – Ki Ageng Mirah ini, sering Ki Ageng Kutu tetpaksa berpindah-pindah tempat. Banyak anak buahnya yang gugur, dan akhirnya Ki Ageng Kutu sendiri pun harus mengakui keunggulan lawan. Ia tewas. Konon menurut kepercayaan orang, ia muksa bersama raganya.  Sepeninggal Ki Ageng Kutu, kesenian Reog yang sudah membudaya dan berurat-akar di masyarakat, diteruskan oleh Ki Ageng Mirah, tetapi segala unsur yang mengingatkan kepada kejayaan Ki Ageng Kutu dihapus.

Akar-akar atau naluri yang menebalkan kepercayaan tentang dunia perwarokan dihilangkan. Motivasi satirik penciptaan Reog Panaraga yang ditujukan untuk menjatuhkan nama Prabu Brawijaya Kertabumi dibuang dan diganti dengan latar belakang legendarik yang diambilkan dari cerita Panji. Tokoh-tokoh peran yang semula tidak ada, ditambahkan, seperti Kelana Sewandana, Sri Genthayu, Dewi Sanggalangit, dan seterusnya, ‘makin lama m,akin banyak menurut perkembangannya kemudian. Penggantian motivasi satirik dengan latar belakang legendarik tersebut tidak mengalami kesukaran, sebab lahiriah hampir tidak mengalami perubahan, kecuaIi menambah tokoh Sewandana dan lain-lain. Sebagaimana dipaparkan di muka, satire yang dituangkan dalam kesenian Reog sudah demikian sublimnya, sehingga tidak sembarang orang manyadari adanya olok-olok yang sengaja ditujukan kepada sesuatu atau seseorang. Bagi Ki Ageng Mirah sendiri, hal itu sudah barang tentu bukan rahasia lagi, karena ia memang bekas kepercayaan Ki Ageng Kutu.

Dengan timbulnya perpecahan dan permusuhan antara Ki Ageng Kutu dan Ki Ageng Mirah yang sama-sama waroknya dan berasal dari satu paguron yang sama, kemudian saling berpisah mengikuti alirannya masing-masing, Yang satu berkiblatkan kepada pandangan agama Budha yang dipertahankan, yang lain menganut ajaran agama Islam yang bersikeras hendak menghapus agama Budha, dapat kita bayangkan betapa dunia perwarokan yang semula utuh itu lantas mengalami perpecahan yang semakin lama semakih parah. Dengan dihilangkannya akar-akar atau naluri kepercayaan masyarakat terhadap dunia perwarokan oleh Ki Ageng Mirah dalam usahanya menghapus pengaruh Ki Ageng Kutu, maka paguron kanuragan sebagai pusat pengadaan kader-kader warok, dengan sendirinya dilarang. Tetapi dunia perwarokan yang sudah membudaya dan berakar di masyarakat tidak mudah dihilangkan begitu saja, terutama bagi mereka yang tetap setia menganut ajaran Ki Ageng Kutu.

Mereka meneruskan paguron tersebut secara perorangan (privaat), dan tidak terang-terangan melainkan terselubung dalam ulah kegiatannya. Dalam hal ini ulah kesenian Reoglah satu-satunya peninggalan Ki Ageng Kutu yang mendapat legalisasi, meskipun dengan inotivasi lain. Tidak mengherankan, bahwa dalam waktu yang tidak lama munculnya kelompok-kelompok unit Reog seperti jamur di musim hujan layaknya. Rertahun-tahun kemudian, setelah masa pertentangan antara penganut aliran Ki Ageng Mirah dan Ki Ageng Kutu terlampaui, dan keadaan lambat laun mereda dan semakin stabil , maka kelompok-kelompok unit Reog yang sekian banyaknya tanpa koordinasi ilu cenderung berkembang sendiri-sendiri menurut iradatnya masing-masing, dan sayang tidak tanpa ekses. Egoisme manusia mengambil peranan menonjol justeru .dalam keadaan yang sudah aman dan damai, karena “semangat kesaktian dan perjuangan” yang tersimpan menumpuk dalam dada para warok itu memerlu kan penyaluran keluar dan mencari sasaran.

Sasaran itu ditemukan pada sesama warok ‘ melalui unit-unit Reog yang mereka wakili masing-masing, tidak jarang terjadi. Sangat boleh jadi pada awal mulanya sebagai semacam “pertunjukan pameran”, suatu “exibition show”, akan tetapi lambat laun terdapatlah ekses-ekses yang pada akhirnya membuat arena ‘ pertunjukan Reog sering berubah meiljadi kancah perkelahian masal; unit Reog yang satu melawan unit Reog yang lain, termasuk para penabuh dan pengiring kedua belah pihak. Dalam istilah mereka. perkelahian masal demikian dinamakan “tempuk”. Tentang “tempuk” ini dapat dituturkan sebagai berikut. Biasanya padii” bulan Besar banyak orang mempunyai hajat mengawinkan anaknya. Maka sering kali terjadi beberapa rombongan perarakan pengantin saling berpapasan dalam perjalanan pulang kembali dari kenaiban . atau waktu berangkatnya. Karena adanya persaingan satu sarna lain , warok yang satu ingin mengungguli wilTok’ yang lain. maka perkelahian tidak dapat dihindarkan. Masing-masing lalu mencari lawannya sejenis: Singabarong lawan Singabarbng, Bujangganong lawan Bujangganong, Jathilan lawan Jathilan , penabuh lawan penabuh. dan bahkan pun kuda tunggangan mempelai kedua belah . pihak dihasut untuk saling bertarung. Keruan saja terjadi kekalutan hebat, yang berakhir dengan rusaknya peralatan, pakaian, dan perhiasan. serta jatuhnya korban luka-luka.

Kalau pihak yang satu berhasil menyingkirkan piliak lawannya, maka dengan penuh rasa bangga pillak yang menang itu pun meneruskan perjalanan semlfari berjogedan dan bersorak-sorai. Kadang~kadangpun dengan membawa rampasan berupa barang.barang hiasan piliak yang dikalahkan. Biasanya saban unit reog memasang genta pada ujung kanan dan kiri kedhok dhadhakmeraknya, . yang pada tiap gerakan mengeluarkan bunyi. Kalau unit reog demikian sedang berpapasan dengan unit yang lain, ‘ dan keduanya membiarkan genta masing-masing berbunyi, maka itu berarti sarna-sarna berani, dan pasti bertarung. Tetapi kalau salah satu pihak, entah karena tidak berani, atau malas berkelahi, atau menjaga keselamatan, maka gentanya disumbat dengan secarik kain atau lainnya, sehingga tidak akan mengeluarkan bunyi.

Dengan demikian tidak akan terjadi perkelahian. Mereka akan berpapasan dengan ·aman. Namun demikian, sudah barang tentu pihak yang mengalah itu harus pandai-pandai menahan hati untuk tidak terbakar oleh sikap ‘ dan lagak rombongan reoglawannya yang memamerkan kebesaran dan . :esombongannya, yang, kalau ditanggapi, memang sangat menjengkelkan dan menyakitkan hatibenar. Sejak kapan tepatnya “tempuk” demikian mulai timbul, tidak diketahui dengan pasH. Tetapi pada permulaan abad ke-20, tepatnya pada tahun 1912, pernah terjadi pertarungan seru antara dua orang warok bernama Pardi dan Kardjan, berikut unit reognya masjng-masing, yang berakhir dengan bacokan hingga keduanya tewas. Sejak itu pemerintah kolonial Hindia Belanda meiarang adanya pertunjukan reog.  Tetapi Panaraga tanpa reog, agaknya merupakan keganjilan yang tak bertemu nalar. Hal ini dirasakan benar oleh seorang Wedana distrik Arjawinangun , dan melalui Bupati Panaraga Raden Tumenggung Syam, diusulkannya kepada pemerintah Hindia Beianda untuk menghapus larangan tersebut, dan mengijinkan kembali pertunjukan Reog Panaraga. Usul diterima dengan syarat tidak boleh mcmbuat keonllran, bersedia mematuhi segala ‘peraturan pemerintah , dan ikut menjaga ketcrtiban umum. Itu terjadi pada tahun 1936, berarti Reog Panaraga sempat tidur lelap selama 24 tahun. Namun ketinggalan 24 tahun terkejar juga akhirnya.

Pada jaman penjajahan Jepang tahun 1942 – 1945, Reog Panaraga mengalami pasang surutnya kembali. Reog sebagai kesenian rakyat tidak mendapatkan tempat dan peluang untuk berkembang secara wajar scperti yang sudah. Semua anggota unit-unit Reog tidak luput dari bermacammacam kewajiban yang digerakkan oleh pemerintah Balatentara Dai Nippon untuk membantu memenangkan Perang-Asia-Timur-Raya-nya (Perang Dunia lI). Mereka diikutkan dalam gerakan Seinenda (pemuda), Keibodan (pembantu keamanan desa), kinrohoosyi (gcrakan gugur gunung), Romusha (kuli paksa), Heiho (prajurit Dai Nippon) dan sebagainya. Waktu dan enerji mereka praktis tidak tersisa untuk mengurusi kesenian Reog.

Tetapi harapan cerah kembali ketika tahun 1945 tiba dengan jatuhnya Jepang. Bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya kepada dunia, tetapi segera terlibat dalarn kancah revolusifisik rnelawan BeIa:nda yang ingin menjajah kern bali. Reog yang rnulai dikenal kernbali rnernpunyai potensi .penggerak ,rnassa yang dinilai sangat efisien, rnendapat peluang · untuk ‘ bangkit dan . berkernbang lagi. Tetapi sayang untuk rnengalami rnalapetaka yang .lebih parah lagi, dengan dilibatkannya dalam satu gerakan petualangan politik rnelawan pernerintah sendiri pad a waktu itu, yang terkenal dengan Affair Madiun (1948). Akibatnyaparah sekali. Reog, yang sernula tersebar di tiap-tiap desa, setelah Affair Madiun, yang segera disusul dengan perang kernerdekaanII, hanyalah tinggal yang berada di ibukota-ibukota kecarnatan, yang langsung rnendapat pernbinaan dari pernerintah seternpat rnelalui KODIM (Kornando Distrik Militer). Luka .yang ditirnbulkan Affair Madiun rnulai terobati lagi. Sedikit demi sedikit nampak kesernbuhannya untuk kernudian pulih giat kernbali seperti sernula. Menyambut hari depan.

Tetapi rupanya hari depan itu tidak secerah diharapkan. Percobaan kedua datang rnenjelang dengan berdirinya sebuah organisasi yang dinamakan Barisan Reog Panaraga, atau disingkat BRP, di bawah panji-panji Partai Kornunis Indonesia (1955), sebagai alat untuk mengikat rnassa dalarn rangka rnemenangkan suara daliun pernilihan umurn. Agaknya orang-orang kornunis Indonesia tahu benar’ kernarnpuan Reog Panaraga sebagai penggerak rna.ssa. Tanpa ragu-ragu Reog ditungganginya lagi seperti di tahunl948. Hanya bedanya tahun 1948 secara illegal, sedang tahun 1955 secara legal , karena pada tahun 1955 itu hak hidup Partai Kornunis Indonesia diakui secara hukurn. Tetapi kekuatan politik di hiar .PKl cukup waspada. BRP ditandingi oleh Partai Nasional Indonesia (PNI) dengan BREN-nya (Barisan Reog Nasional) dan oleh Nahdiatul ‘Ulama (NU) dengan Reog Cakranya.

Dengan demikian kesenian Reog menjadi selubung pertarungan sengit antara partai-partai politik. Ada juga unit-unit Reog yang berada di luar itu sernua, tetapi jurnlahnya tidak seberapa. Dengan pecahnya pernberontakan G.30S PKI tahun 1965, maka Reog rnendapat pukulan berat lagi, terutama yang tergabung dalam BRP. Menurut catatan Kantor Seksi Kebudayaan Kabupaten Panalaga, yang sarnpai 1965 tercatat 385 unit Reog, gada tahun 1969 tinggal 90 unit.

Kini, tahun 1979, sepuluh tahun kemudian, belum diketahui berapa jumlahnya, tetapi jelas mengalami kebangkitannya kembali dengan lebih dewasa lagi, melalui penertiban integral dalam era pernbangunan budaya bangsa. Panaraga. memang tidak dapat dilepaskan dari Reognya. Reog Panaraga mengalami pasang naik dan . pasang surutnya sejalan dengan pasang naik dim pasang turunnya ·perjuangan bangsa Indonesia dalam mengisi kemerdekaannya. Demfkianlah gambaran sekilas latar belakang sejarah Reog Panaraga dan perkembangannya dari masa ke masa.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Reog di Jawa Timur. Jakarta:  Proyek Sasana Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978/1979. hlm. ………99

Madakaripura, Kabupaten Probolinggo

Misteri Madakaripura, Misteri Paguron Desa Negarejo

Embek, embek, embek…! Setiap hari Jum’at apalagi pada Sukra Manis begitu orang Jawa menyebut hari Jum’at Legi. Pasti terdengar suara kambing mengembik dari arah hutan kecil. Itulah yang berlangsung sejak dulu hingga kini di satu dukuh bernama Krajan di desa Negarareja, kecamatan Lumbang, Probolinggo. Darah mengucur selalu di sana, menetes ke tanah makam kuna di hutan itu. Daging kambing itu pun dibagi-bagikan ke setiap orang yang ikut hadir, ikut mengharap “berkah” dari “Mbah Sujud” yang dimakamkan. Kuburan tua inilah yang sejak lama disebut “Pegu ron”. Tempat berguru!

SIAPA yang disebut sebagai Embah atau Eyang Sujud, masyarakat setempat sendiri hanya mampu samar-samar menceritakan. Eyang Sujud itulah orangnya yang pertama membuka, babad alas mendirikan desa yang berpusat di dukuh Krajan ini. “Mulai kakek-nenek kami sudah disebut Mbah Sujud dan Lemah (tanah) Peguron,” begitu warga dukuh bersaksi. Yang jelas ternyata tidak hanya warga setempat sendiri yang pada hari Jum’at sengaja melak-sanakan upacara di tanah Peguron, tapi juga ada saja yang sengaja datang dari luar daerah Probolinggo. Khususnya mereka yang tergolong “pinter”, tergolong orang Jawa yang su­ka “ilmu”, tahu bahwa ada “yoni” di petilas­an Mbah Sujud.

Pokokipun tiyang pundi-pundi katah ingkang namu” (Pokoknya orang dari mana-mana ada saja yang ke sana), tutur bangga mbah Sahat, nenek tua yang tetap sehat wa­lau usia hampir 100 tahun dan masih meladeni siapa saja yang ingin dipijat. Cerita mbah Sa­hat, dulu terlalu sering orang datang “nyepi” ke Peguron untuk memperoleh kesaktian. Masih ingat si nenek ketika masa mudanya sering melihat langsung orang yang sedang mencoba kadigdayan, kesaktian mereka yang diperoleh dari Peguron. Bacok-membacok, tapi nyatanya tak ada luka sedikit pun di badan mereka. Yang hancur hanyalah pakai­an, baju dan sarung robek tak karuan. Dulu, beberapa pendekar ikut menjaganya. Supaya perampok, pencuri dan orang-orang jahat lainnya tidak ikut nyepi di kuburan Peguron. Ketika zaman revolusi itulah Peguron amat penuh dengan para pejuang kita yang nyepi cari kekebalan. Ternyata menurut cerita, me­reka jadi tak mempan peluru oleh tembakan para tentara Belanda. “Saya jadi awet sehat, tetap diberi umur panjang ini juga karena tak melupakan ke sana,” mengaku mbah Sahat.

Si Kuru lan Si Lemu
Ini kisah yang terjadi berabad-abad silam. Ada 2 lelaki bersaudara sedang bersaing mencari kesempurnaan hidup, untuk menda­patkan tempat tertinggi di sorga nanti. Yang sulung bernama Si Kuru sebab kurus-kering kurang makan, sedang adiknya Si Lemu yang berbadan gemuk. Si Kuru setiap harinya ber­puasa terus, kalau makan hanya dedaunan yang masuk ke perut. Itu pun dilakukan ha­nya demi kelangsungan hidupnya. Sedang Si Lemu memakan apa saja yang dapat dima­kan, asal tidak merugikan orang lain. Kedua­nya selama bertahun-tahun memang dikenal paling suka memberikan pertolongan apa saja terhadap masyarakat. Juga, selalu memba­ngun keperluan keagamaan.

Di usia menjelang kematiannya, Dewa da­tang mencoba. Seekor harimau putih disuruh mendatangi kedua bersaudara itu. “Saya la­par, sudah lama tidak mendapatkan daging segar,” ucap si harimau yang bertubuh besar, sambil mengaum menakutkan, nampak gigi dan taringnya. “Apa tidak salah memilih saya yang kering,” jawab Si Kuru gerqetar, keri­ngat dingin mengalir dari seluruh tubuhnya. “Tapi kalau Dewa memang menentukan saya yang jadi korban, saya pun menurut,” lanjutnya. Harimau itu mengaum, lantas mengangguk-angguk mengatakan bahwa Si Kuru merupakan salah satu contoh manusia yang mulia. Ketika harimau itu ganti berta­nya ke Si Lemu, langsung pula manggut- manggut memuji kemuliaan jiwanya. Sebab Si Lemu langsung bersedia menjadi korban.

Kedua bersaudara itu mendengar janji ba­kal masuk sorga. Tapi tetap penasaran belum mendapat kepastian siapa di antara keduanya yang lebih tinggi derajatnya di sorga, nanti. Si Kuru lantas menggugat Dewa, selekasnya di­beri jawaban. Begitulah, lalu ada petunjuk Lengkapnya  supaya keduanya bertapa, menyongsong kematian, mengakhiri kehidupan dengan sem­purna. Si Kuru memilih di puncak satu bukit. Si Lemu di dalam hutan. Sebab konsentrasi­nya maka keduanya tetap duduk bersila sela­ma berminggu-minggu, tanpa makan, mi­num dan tidur. Percuma saja berbagai binatang dan mahluk halus menggoda, memba­ngunkannya. Tiba-tiba saja puncak bukit jadi hangus, terbakar. Dari panas badan Si Kuru yang menuntut Dewa agar selekasnya roh di­rinya melayang menuju sorga. Memang dika­bulkan. Si Kuru terbang lebih dulu masuk ke Nirwana.

Beberapa lama kemudian barulah Si Lemu menyusul, memang tiba waktu sebenarnya meninggal dunia sebab usia, sebab raga tak loiasa lagi bertahan. Di Nirwana, Si Kuru ma­sih belum puas. Tetap bertanya ke Dew ; siapa sebenarnya yang lebih tinggi derajat di dalam kehidupan sorganya. Dewa pun lalu menyuruh menyaksikan sendiri pada tempat bekas yang mereka gunakan bertapa. Siapa lebih tinggi derajat, maka bekas tempat ber­tapa, petilasannya didatangi peziarah. Sebab

ketika hidupnya Si Kuru lebih sering memin­ta pada Dewa dibanding Si Lemu. Maka se­bagai gantinya peziarah yang datang memin­ta di petilasan Si Lemu oleh Dewa dikabul­kan. Nah, sejak itulah makam alias petilasan Si Lemu didatangi orang. Sedang petilasan Si Kuru semakin jarang didatangi, akhirnya di­lupakan, dan dimana bekasnya, orang zaman kini tidak bisa lagi menunjukkan. Petilasan Si Lemu sebaliknya semaian dikenal sebagai makam Mbah Sujud alias Mbah Ujud. Sebab disitulah orang berziarah bersujud, lantas permintaannya berwujud, terlaksana.

Gending Punggung Gunung
Ketika kedua bersaudara itu “muksa” me­nuju Nirwana, konon, dari kerajaan para De­wa terdengar alunan gending-gending de­ngan tetabuhan gamelan Lokananta. Cerita­nya, seperangkat gamelan maupun sejumlah wayang kulit kadang menampakkan diri di punggung gunung kecil yang berada di atas pedukuhan Krajan. Untuk melihatnya di zaman kini memang terbilang langka, sebab haruslah orang yang mencapai “ilmu” tinggi.

Namun bagi masyarakat awam, sejumlah wayang kulit itu bisa dilihat sewaktu-waktu di sana. Sebagai sejumlah batu biasa, tapi kalau dibayang-bayangkan, kok, menyerupai wayang. Makanya disebut Watu Wayang.

Watu Wayang sepertinya sengaja berha­dapan dengan puncak Bukit Pesantren yang berada di wilayah kabupaten Pasuruan. Ya, dari kedua puncak itu bila maifmelihat ke ba­wah yang terletak di antara keduanya, se­buah sungai penuh batu mengalir ke arah uta­ra. Itulah Kali Laweyan yang mengalir menu­ju Laut Jawa sepanjang perbatasan kabupa­ten Probolinggo dan Pasuruan. Melewati Pamotan, Klampok, Tongas lalu bermuara di Tambakrejo. Bening pada musim kemarau, berwarna coklat dan gemuruh di musim huj­an seperti saat ini. Kalau ada warga desa memberikan “sesaji” di tepi sungai, pada po­hon-pohon besar, pada batu yang punya “yoni”. Maka ayam-ayam dari seberang sana pun tergiur pada ceceran nasi. Terbang, me­lompat dari batu ke batu, lalu ikut member­sihkan sisa “selamatan”. Gabruk, gabruk, ga- bruk…! Antar jago yang belum saling kenal beradu jago. Kukuruyuk…! Yang menang, memang jagonya jago, sombong, menenga­dahkan kepala ke langit.

Gajahmada?
Menyusur sungai kecil Laweyan ke arah hulu, menentang arus sejauh lebih sejam me­langkahkan kaki, ternyata sampailah kita ke obyek wisata yang kini mulai didatangi turis asing. “Madakaripura”, itulah air terjun yang legendaris. Konon, di situlah dulu mahapatih Gajahmada tapa kungkum, bertapa dengan berendam air untuk memperoleh kesaktian. Beberapa warga desa setempat mempercayai bahwa tokoh yang dikatakan sebagai Mbah Ujud, Mbah Sujud atau Si Lemu inilah pula yang pernah menjadi patih terkenal Majapa­hit yaitu Gajahmada. Lho…V. “Duka ‘nggih, menawi lare sekolah mboten percados” (En­tah ya, bila anak sekolah tidak mempercayainya), ungkap beberapa petani yang sedang si­buk menggaru sawan di lereng bukit ke Li­berty. Katanya pula, dulu hanya masyarakat setempat yang mengenal nama Madakaripu­ra. Tapi kemudian semua pun mulai datang dari jauh, mengunjungi. Mada adalah singkatan dari Gajahmada. Kari, akhir, maksudnya Gajahmada di usia tua. Pura, tempat bersemedi. Ya, dikisahkan akhirnya Sidang Sapta Prabu yang dulu sung­kan dan takut pada Gajahmada, berani ter­ang-terangan menyalahkan Gajahmada yang menimbulkan perang Bubat itu. Sidang Sapta Prabu merupakan penasehat prabu Hayamwuruk yang terdiri dari 7 orang raja-ratu mu­lai dari orangtua Hayamwuruk, mertua, suami adiknya dan seterusnya. Semuanya merupakan raja-ratu yang masih berkaitan darah dengan Hayamwuruk sendiri. Namun selama bertahun-tahun kalah wibawa dengan Gajahmada. Dalam Perang Bubat itu Dyah Pitaloka putri Sunda yang amat cantik dan di­cintai Hayamwuruk terpaksa melakukan bu­nuh diri demi membela ayahnya yang tersing­gung merasa dihina Gajahmada.

Gajahmada tersinggung hatinya mengha­dapi Sapta Prabu dalam sidang yang menya­lahkan kebijaksanaannya hingga terjadi Per­ang Bubat. Saat itu sang mehapatih memang telah mulai berusia lanjut. Lantas sering minta cuti untuk pulang ke tempat asalnya di Pro­bolinggo, alasannya sakit-sakitan. Di tempat kelahirannya ia memang melakukan tapa kungkum. Dalam Kidung Sundayana diceri­takan Sapta Prabu memerintahkan prajurit- prajurit Majapahit pergi ke Madakaripura untuk menangkap tokoh yang pernah meng­ukir zaman keemasan Majapahit itu. Rumah Gajahmada dikepung. Ketika mereka masuk ke dalam, ternyata Gajahmada “muksa”. Le­nyap, pergi ke sorga. Itulah salah satu versi akhir hayat sang mahapatih. “Dadosipun, ni- ki kenging percados kenging mboten, swargi sinuwun Gajahmada tapanipun inggih ‘teng Madakaripura, inggih ‘teng Peguron” (Jadi, boleh percaya boleh pula tidak, mendiang Gajahmada itu bertapa di Madakaripura maupun di Peguron), tutur petani tua itu, ya­kin.

Pilihlah Air Panguripan !
Memasuki celah bukit mendekat Madaka­ripura kalau tak mau berbasah kuyup, bisa menyewa payung dan membeli tas kresek un­tuk menyimpan bawaan pengunjung yang tak ingin ikut basah. Ya, walau tak ikut man­di di air Madakaripura, sebab air terjun itu di­percaya punya khasiat, siapa pun yang masuk ke ce lah menuju lokasi Madakaripura pasti­lah berbasah kuyup bila tanpa payung. Ya, di celah itulah berlangsung hujan abadi. Tetap hujan walau musim kemarau, apalagi di mu­sim hujan seperti sekarang. Hujan ini meru­pakan cipratan-cipratan air dari atas, dari se­kian asal Madakaripura sebagai air terjun. Ya, kalau mau tahu ternyata terdapat 7 air terjun. Mana paling “ampuh”, paling punya “daya” yang menyembuhkan berbagai pe­nyakit. membuat awet muda, lekas dapat jo­doh, keinginan terkabul dst. Dari yang terbesar itulah jadi nama Lawey­an. sungai berbatu yang “misterius” pula di desa Negarareja khususnya dukuh Krajan. Mengapa masyarakat Kraja punya “pun­den” . punya beberapa batu dan pohon yang “diuri-uri”. Banyak kisahnya. Di antaranya, pohon Kepuh besar itu memang bukan sem­barang pohon yang tumbuh di tepi Kali La­weyan. Dulu sebelum tumbuh besar yaitu pa­da tempat tumbuhnya telah ada Kepuh be­sar. Suatu ketika angin meniup begitu ken­cang. Roboh, menimpa puluhan bocah kecil yang tengah mandi, bermain. Tetapi, aneh­nya tak seorang bocah pun cedera. Anehnya kepala-kepala para bocah muncul di antara dahan dan rantingnya. Mereka semuanya ja­di bisu untuk sekian hari. Bisa buka mulut, bi­cara, setelah beberapa “orangtua” melaksanakan “selamatan”. Ternyata begitu alasan “orangtua”, pohon roboh ke sungai merupa­kan peringatan dari sang danyang. Mengapa memberi “sesaji” dilupakan.

Hingga kini yang tak dilupakan oleh setiap “KK” Krajan yang terdiri dari 118 KK. tutur carik Roya’i, maka di setiap hari Jum’at di se­tiap rumah membuat “krupuk” dari ubi. Mengasyikkan untuk disuguhkan tamu. Kru­puk itu digoreng, tak kenyang-kenyang juga walau semeja dihadapi oleh 4 orang. Kriyak- kriyuk, mengawani kopi panas dan kepulan rokok. Embek, embek, embek…. Pasti ada kambing dijadikan “korban” di tengah hutan dukuh Krajan. Dan, ruang-ruang tamu ru­mah warga dukuh itu punya hiasan dinding khas: kambing, ukiran dari kayu. (Ayiek Narifuddin)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: LIBERTY, 1720,16-28 FEBRUAR11990 TH. XXXVII, hlm. 26 sambung 94

Pemberontakan Patih Nambi, Sejarah Kabupaten lumajang

Lumajang Tempo Dulu

(EPISODE PEMBERONTAKAN PATIH NAMBI) IBU KOTA MAJAPAHIT BAGIAN TIMUR

Pada masa berdirinya Kerajaan Majapahit dengan rajanya Nararyya Sanggramawijaya yang mengam­bil nama abhiseka Kertarajasa Jayawardana atau yang lebih dikenal dengan nama Raden Wijaya, Lumajang merupakan ibu kota Majapahit bagian timur dengan penguasanya bernama Arya Wiraraja.

wilayah barat dan timur dip­icu oleh kekecewaan Arya Wiraraja atas kematian Ranggalawe, anak Arya Wiraraja, yang memberontak terhadap raja. Lagi pula pembagian wilayah tersebut sesuai dengan janji Raden Wijaya ketika Raden Wijaya mengung­si ke Sumenep. Pembagian wilayah Majapahit, menjadi Sejarah berdirinya Kerajaan Majapahit memang tidak bisa dipisah­kan dengan peranan Arya Wiraraja. Arya Wirarajalah yang secara tidak langsung membidani lahirnya Kerajaan Majapahit. Arya Wiraraja, disebut pula

Banyak Wide, adalah Adipati Sumenep,’ Madura. Semula ia termasuk rakyanri pakiran-pakiran makabehan (golongan pejabat tinggi yang berfungsi sebagai Badan Pelaksana Pemerintahan yang terdiri dari patih, demung, kanuruhan, tumenggung, dan rangga). Tugas po­koknya adalah mengatur rumah tangga kerajaan (kerajaan Singosari dengan ra­janya Sri Kertanegara).

Sebagai demung yang cakap, Arya Wiraraja sangat dekat dengan Sri Kertanegara. Kedekatan hubungannya dengan Raja Singosari Sri Kertanegara membuatnya dijuluki babatanganira, yang berarti kekuatan pokok pemerin­tahan. Namun, karena pertentangannya dengan Sri Kertanegara, seputar pengir­iman prajurit Singosari untuk menun­dukkan Swarnabumi (Sumatera dalam Ekspedisi Pamalayu), Arya Wiraraja diturunkan jabatannya menjadi Adipati Tumenggung dan ditempatkan di Sumenep, Madura Timur. Ditunjuk sebagai penggantinya adalah Mapanji Wipaksa (Piagam Penampihan).

Ketika Sanggramawijaya men­gungsi ke Sumenep guna menghindari kejaran pasukan pemberontak, yaitu prajurit-prajurit Jayakatwang yang me­nyerang Singosari. Sanggramawijaya disarankan untuk berpura-pura tunduk dan menyerah kepada Jayakatwang. Diperlukan sikap pura-pura untuk kembali merebut tahta, demikian sia­sat Arya Wiraraja. Sanggramawijaya menyetujuinya dan dalam kesempatan itu ia berjanji akan menyerahkan sep­aro wilayah kerajaannya kepada Arya Wiraraja apabila ia berhasil menjadi raja. Arya Wiraraja menanggapi janji itu hanya dengan tersenyum.

Apabila Arya Wiraraja berusaha sekuat tenaga mengembalikan tahta Singosari kepada Sanggramawijaya, hal itu ia lakukan semata-mata karena kecintaannya yang mendalam kepada Singosari. Arya Wiraraja tidak ber­ambisi meraih kekuasaan. Andaikata janji untuk menyerahkan separo wilayah kerajaan itu diingkari sekali­pun, Arya Wiraraja akan tinggal diam.

Akan tetapi, lain lagi ceritanya setelah Ranggalawe tewas. Ranggalawe adalah anak laki-laki Arya Wiraraja. Ia seorang pribadi yang jujur, tegas, setia, pemberani, dan nada suaranya keras menghentak. Nama Ranggalawe merupakan pemberian Sanggramawijaya. Lawe atau wenang artinya benang pengikat atau peng­hubung karena ia adalah pengikut kuat antara Sanggramawijaya dengan Arya Wiraraja.

Akan tetapi hubungan Arya Wiraraja dengan Sanggramawijaya menjadi kendor setelah tewasnya Ranggalawe karena Ranggalawe di­anggap memberontak terhadap raja.

Timbulnya pemberontakan Ranggalawe akibat pengangkatan Empu Nambi sebagai patih mangkubu- mi. Ranggalawe merasa iri terhadap Nambi. Ia mengharapkan pengang­katannya sebagai Patih Mangkubumi karena ia banyak berjasa dalam pem­bukaan hutan Tarik dan pengusiran tentara tar-tar. Lagipula ia putera Arya Wiraraja, tokoh yang berdiri di be­lakang layar dalam pendirian Kerajaan Majapahit. Ia sangat kecewa dengan pengangkatannya sebagai adipati man­canegara di Dataran (Tuban).

Pemberontakan berhasil dipadam­kan dan Ranggalawe mati terbunuh secara kejam oleh Mahisa Anabrang. Ketika Lembu Sora mengetahui bah­wa Ranggalawe dianiaya oleh Mahisa Anabrang di tepi Sungai Tambakberas, Lembu Sora dengan serta merta menusuk Mahisa Anabrang dari be­lakang sehingga Kebo Anabrang tewas.

Setelah peristiwa itu Arya Wiraraja menetap di Lumajang. Bersama Pranaraja Empu Sina (ayahanda Patih Nambi), kedua pembesar Majapahit itu menjalankan roda pemerintahan di Lumajang dengan amanah. Keduanya menjalankan konsep mukti dalam pemerintahannya. Mukti yaitu kesedi­aan atasan untuk mengulurkan kasih­nya kepada yang lebih bawah. Sebagai imbangan mukti adalah bakti, yaitu berbakti kepada atasan karena hasrat untuk meluhurkan pemimpinnya. Hal ini terbukti dengan bagaimana rakyat Lumajang yang tanpa dikomando, bergerak mengangkat senjata untuk membela pemimpinnya yang dituduh memberontak kepada raja dalam peris­tiwa Pemberontakan Patih Nambi.

PEMICU PEMBERONTAKAN

Empu Nambi atau lebih populer disebut Patih Nambi adalah putera dari Empu Sina. Adalah Empu Sina, oleh karena jasa-jasanya yang be­sar dalam pendirian Majapahit, Sri Kertarajasa mengangkat Empu Sina selaku Pasangguhan. Jabatan ini dapat disamakan dengan Panglima Besar Angkatan Perang. Ada empat jabatan Pasangguhan dalam zaman awal Majapahit, yakni, Mapasangguhan Sang Pranaraja, dipercayakan kepada Empu Sina, Mapasangguhan Sang Nayapati, dipercayakan kepada Empu Lunggah, Rakyan Mantri Dwipantara, dipercayakan kepada Sang Adikara dan Pasangguhan Sang Arya Wiraraja.

Setelah peristiwa pemberontakan Ranggalawe, wilayah Majapahit dibagi dua bagian, yaitu wilayah Majapahit bagian barat dan wilayah Majapahit bagian timur dengan Lumajang sebagai ibu kotanya. Pranaraja Empu Sina pun tinggal di Paj arakan (sekarang termasuk wilayah Kabupaten Probolinggo), men­emani Arya Wiraraja yang berkedudu­kan di Lumajang.

Sebagaimana yang telah dising­gung di bagian depan, terjadinya pem­berontakan Ranggalawe dipicu oleh pengangkatan Nambi sebagai Patih Mangkubumi. Dalam hirearki pemer­intahan Majapahit, jabatan yang diberi­kan kepada Nambi adalah kedudukan yang sangat tinggi. Ranggalawe men­ganggap bahwa Sri Kertarajasa telah mencederai keadilan, dan karenanya Ranggalawe memilih untuk beroposisi.

Sesungguhnya Ranggalawe bu­kanlah pribadi yang gila hormat dan jabatan. Ia bukan pula seorang penjilat, juga bukan sosok yang harus bersiasat untuk menyingkirkan pesaingnya demi mendapatkan jabatan. Sebaliknya ia sosok yang jujur, suka berterus terang, dan berani menggebrak tanpa ragu ter­hadap hal yang dianggap mencederai keadilan. Ia kukuh memegang janji, dan janji yang diterimanya dianggap sama dengan janji yang diucapkan. Dan, ia telah dijanjikan untuk men­duduki jabatan Patih Mangkubumi, langsung oleh Sanggramawiya, se­belum Sanggramawiya bertahta.Tak hanya sekali janji itu dilontarkan ke­padanya, dan bukan ia sendiri yang mendengarnya,melainkan banyak orang. Namun, penguasa Majapahit itu mengingkari janjinya, menjilat lu­dah sendiri.Ternyata jabatan yang dijanjikan justeru diberikan kepada orang lain, sedang ia diberi kedudu­kan sebagai Adipati Mancanegara di Dataran(Tuban).

Maka Ranggalawe pun melakukan protes. Akan tetapi protes Ranggalawe oleh orang-orang yang mempunyai kepentingan dimanfaatkan untuk ke­pentingan pribadi dan golongan. Protes Ranggalawe lalu dipolitisir sedemikian rupa sehingga muncul opini publik yang menyatakan bahwa Ranggalawe melakukan makar. Hingga abad-abad selanjutnya, sejarah memberikan catatan buruk atas diri Ranggalawe. Cap Ranggalawe sebagai pemberon­tak seakan tidak dapat dipisahkan dari pribadi Si Wenang, yaitu benang pengikat kuat antara Sanggramawijaya dengan Arya Wiraraja.

Seperti halnya Ranggalawe, Nambi pun bukan pribadi yang gila hormat dan jabatan. Bahkan ia dikenal sebagai pribadi yang polos, jujur, seder­hana dan rendah hati. Sesungguhnya ia menyadari bahwa kedudukan Patih Mangkubumi tidak layak diterimanya. Akan lebih tepat diberikan kepada Ranggalawe mengingat akan jasa-jasa putera Arya Wiraraja itu dalam pem­bukaan hutan Tarik dan pengusiran tentara Ku Bhilai Khan. Alasan itu juga sudah disampaikan kepada Sang Prabu menjelang upacara serah terima jabatan. Akan tetapi Sang Kertarajasa bersikukuh mempercayakan jabatan itu kepada Nambi. Tentunya hal itu sudah melalui berbagai pertimbangan yang hanya Kertarajasa sendiri yang men­getahui. Mau tidak mau, Nambi ha­rus menjalankan titah raja. Bukankah titah seorang raja itu bersifat mutlak, sabda pandhita ratu tan kena wola- wali,artinya titah seorang raja itu han­ya sekali.

Namun demikian, Nambi selalu diliputi perasaan was-was. Firasatnya mengatakan bahwa keputusan itu akan menimbulkan perasaan tidak puas di kalangan para pembantu Kertarajasa yang lain, dan kondisi itu kemudian dimanfaatkan oleh orang-orang yang memiliki “kepentingan”. Ternyata kekhawatiran Nambi terbukti. Pada awal pemerintahan Sri Kertarajasa, Kerajaan Majapahit diguncang oleh kekisruhan politik yang ditandai den­gan timbulnya pemberontakan-pembe­rontakan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Suara PGRI edisi 29, April 2012, Lumajang, PGRI Kab. Lumajang, Th. 2010 45-46

Makam Mbah Sunan Kuning, Tulungagung

Ritual Pesugihan di Makam Mbah Sunan Kuning Tulungagung, Jatim Kabulkan Permintaan Orang yang Kecingkrangan

Keberadaan sejarah makam tidak diketahui, namun masyarakat mempercayai yang sumare di dalam pusara itu adalah tokoh sakti yang sanggup mengabulkan  semua permintaan. Karena itulah banyak pelaku ngalap berkah hingga pemburu pesugihan melakukan ritualdi pusara ini.

DALAM penelusuran tempat- tempat mistik di kawasan Tulungagung, posmo mendapati sebuah makam misterius yang dijadikan sarana ngalap berkah para peziarah termasuk orang-orang yang gandrung memburu pesugihan gaib. Konon, setiap hari Kamis malam mereka menggelar atur sesaji dan ubarampe di pelata ran makam dengan sejuta hara-pan muncul agar setelah hajatan apa yang menjadi kehendak hati bisa terkabul. Itu adalah gambaran sekilas yang tampak di Makam Mbah  Sunan Kuning yang berada di Dusun Gajah, Desa Macanbang,    Kec. Ngondang, Tulungagung, Masyarakat setempat tidak begitu paham sejak kapan makam itu ada di desanya. Menurut penduduk setempat makam itu dulunya ada juru kuncinya, namanya Mbah Kandar. Setelah beliau  meninggal diganti oleh Mbah Mohammad Syaidin. Ketika beliau meninggal yang menjadi juru kunci sudah tidak ada lagi.

Setiap orang yang datang ke makam mempunyai maksud dan tujuan bermacam-macam. Bisa jadi, mereka ingin menjadi kaya atau agar masalah yang se­dang dihadapi selekasnya men­emukan jalan keluarnya. “Ban­yak tujuan orang yang datang ke makam. Biasanya mereka langsung nyekar lalu berdoa di makam,” jelasnya. Bahkan tak jarang peziarah menggelar selamatan di pela­taran makam. Dipercaya mer­eka yang datang dan menggelar selamatan merupakan orang-orang yang telah terkabul permohonannya, termasuk nazar dimu­rahkan rezekinya yang banyak diartikan sebagai ritual pesugi­han. Peziarah setelah melaku­kan ritual nyekar acap kali kem­bali datang untuk selanjutnya menggelar selamatan.

Tokoh Mataram
Siapa sejatinya Mbah Sunan Kuning? Sejarah tutur setempat menyebut, beliau hidup sekitar tahun 1500-an. Asalnya diya­kini dari tlatah Mataram. Aji ke­saktian yang dimiliki membuat beliau dikenal sebagai sosok yang pemurah. Suka membantu antarsesama sekaligus berjiwa dermawan.

Selanjutnya tak ada data resmi, apa sebab beliau sampai keplayu (melarikan diri) ke Tulungagung. Tetapi penduduk setempat meyakini, beliaulah yang mbabat alas ka­wasan Desa Lemahbang hingga pada akhirnya makamnya dite­mukan di desa tersebut.

Hajatan untuk mengenang jasa-jasa almarhum dilak­sanakan warga setiap malam Kamis, dengan mengambil tem­pat di pelataran makam. Cukup banyak yang datang. Saat bersa­maan, lazim terjadi masyarakat bertafakur di makam, memohon kemurahannya terkait dengan masalah yang dihadapi. Terma­suk meminta kelancaran rezeki bahkan ada yang menyebut ber­buru pesugihan.

Namun, menurut warga, semua itu berpulang pada hati masing-masing yang datang un­tuk berziarah. “Ya, kita sama-sama tidak mengerti, apa yang diminta oleh mereka,” menurut beberapa warga. Sebab, makam Mbah Kuning memang tidak ada juru kuncinya. Jadi setiap orang bebas datang kapan pun, demikian juga dengan per­mintaan yang disampaikan.■EDY WIENARTO

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Posmo, edisi 606,  29 Desember 2010

Reog Panaraga: Versi Jathasura – Kilisuci – Bujanggalelana dan Kelana – Candrakirana

Buta Locaya, seorang bujangga sakti, pencikal-bakal Daha dan se­kitarnya, mempunyai dua orang anak laki-laki, yang sulung bernama Jakalodra, adiknya Singalodra. Pada suatu hari sang bujangga memanggil kedua anaknya menghadap. Jakalodra mengenakan ikat kepala yang bukan mestinya. Sebagai seorang satria seharusnya mengenakan ikat kepala jilidan menurut adat setempat, tetapi waktu itu Jakalodra menggunakan ikat kepala yang bagian sisi kanan dan kirinya mencuat keluar seperti tanduk kerbau layaknya. Melihat hal demikian sang ayah menjadi gusar, katanya:

“Ikat kepala macam apa yang kaukenakan itu? Lihat tampangmu, tak ubahnya seperti kepala kerbau saja!”

Mendengar ujar ayahnya demikian, Singalodra, si bungsu, ketawa terbahak-bahak.

“Kau pun demikian juga!” tegur sang bujangga, “Seperti tak tahu adat. Cekakakan seperti mulut macan layaknya!”

Mungkin karena kesaktian sang bujangga, mungkin pula karena kehendak Dewata, sekonyong-konyong kedua kakak-beradik itu seperti kena kutuk dan menjadi salah ujud. Jakalodra menjadi seorang manusia berkepala kerbau, sedang adiknya, Singalodra, berkepala macan (hari­mau). Keduanya menangis menyesal dan minta ampun agar dikembalikan kepada ujudnya yang semula.

“Aduh, ayah, hamba akan menjadi apa, dengan ujud hamba yang begini? Hamba seorang satria, mestikah hamba menanggung malu dengan muka dan kepala binatang begini? Bagaimana mungkin hamba menjadi satria, kalau hamba tak berani lagi muncul di depan umum? Hamba mohon ampun, ayah.”

“Anakku, Jakalodra dan Singalodra. Ayah pun menyesal karena ke­buru hati mengeluarkan kata-kata yang sebenarnya tak patut kuucapkan. Tetapi apa hendak dikata. Nasi telah menjadi bubur, suratan takdir tidak dapat diubah. Ini sudah kehendak Dewata. Ayah hanya dapat berdoa, agar kalian, apa pun ujudmu, tetap menjadi satria dan yang sakti pula. Ini, terimalah, anak-anakku, pusaka ayah berupa “aji-aji pamungkas”, jadikan perisai keselamatanmu bersama. Hendaknya kalian rukun selalu. Tetaplah bersatu dalam menghadapi segala keadaan apa pun, itulah ke­kuatan “aji-aji” ini, yang akan menjadikan kalian satria yang sakti.”

“Aduh, ayah, karena ujud hamba yang sudah begini, tidak ada lagi keinginan hamba kecuali kesaktian. Berikan “aji-aji pamungkas” itu, ayah, hamba akan mematuhi segala petunjuk dan nasehat ayah.”

“Sukurlah, anakku. Nah, sebelah barat ini terdapat daerah hutan belantara yang luas. Carilah tempat yang terdapat “sarang angin”-nya, bukalah hutan di sekitar itu dan dirikan perkampungan sebagai tempat tinggal kalian. Namakan perkampungan baru itu Bandarangin.”

Kedua kakak-beradik itu pun bersembah dan menerima “aji-aji pamungkas,” setelah itu bermohon diri untuk membuka hutan yang ditunjukkan oleh ayahnya itu.

Syahdan, Jakalodra dan Singalodra telah berhasil membuka hutan di sebelah barat Daha, sebagaimana ditunjukkan oleh ayah mereka sang bujangga Buta Locaya. Perkampungan telah berdiri, mula-mula kecil, lambat laun menjadi besar, karena makin banyaknya pendatang yang ikut tinggal dan membangun perkampungan tersebut. Bahkan akhirnya kedua saudara itu pun berhasil mendirikan istana bagi dirinya masing-masing. Jakalodra kemudian mengangkat dirinya sebagai raja penguasa daerah itu dengan gelar Prabu Anom Lembusura (atau Maesasura?), sedang adiknya dijadikan patihnya, bernama Jathasura. Adapun kerajaan mereka dina­makan Bandarangin, karena merupakan sebuah kota yang banyak berangin. Letak Bandarangin itu di desa Bandaran di Kedhiri sekarang, berada di seberang Brantas sebelah barat. Tetapi pada waktu itu sungai Brantas belum ada.

Berbatasan dengan Bandarangin adalah kerajaan besar Kedhirilaya, yang dirajai oleh seorang puteri cantik bernama Ratu Kilisuci. Prabu Anom Lembusura ingin mempersunting Ratu Kilisuci. Maka dipanggilnya Patih Jathasura, adiknya, dan disampaikan niatnya itu.

“Kalau aku berhasil memperisteri Ratu Kilisuci, maka aku akan menjadi raja Kedhirilaya. Dan kau akan kujadikan Raja Muda di Banda­rangin ini. Sekarang berangkatlah kau ke Kedhirilaya, menyampaikan pinanganku kepada Ratu Kilisuci.”

“Baiklah, kakang Prabu, tetapi kalau lamaran itu ditolak, bagai­mana? Betapapun juga, kita harus menyadari, bahwa ujud kita ini tidak sempurna lagi. Apakah kira-kira mau Ratu Kilisuci menerima kakang Prabu menjadi suaminya?”

“Kuberi kau purba wasesa untuk memutuskan segala sesuatunya. Andaikata Kilisuci minta tebusan, apa pun tebusan itu, turutilah barang kehendaknya. Tetapi kalau ia menolak, jadikanlah kerajaan Kedhirilaya karang-abang. Gunakanlah “aji-aji pamungkas” warisan ayahanda.”

Patih Jathasura berangkat ke Kedhirilaya dengan membawa bebe­rapa satuan pasukan bersenjata lengkap, dengan Kelana Sewandana sebagai panglima.

Sesampainya di ibukota kerajaan Kedirilaya, Patih Jathasura meng­hadap Ratu Kilisuci, diantar oleh Patih Kedhirilaya Sang Bujanggaleng. Syahdan, ketika Patih Jathasura untuk pertama kali melihat kecantikan Ratu Kilisuci, timbul niatnya yang tidak baik. Ia merasa sayang kalau wanita secantik itu harus diserahkan kepada kakaknya. Ia ingin memperisterinya sendiri. Dan dinyatakannya isi hatinya itu terus terang kepada baginda Ratu, yang mendengarnya dengan sabar dan penuh perhatian. Setelah Jathasura habis bicara, maka bersabdalah Ratu Kilisuci:

“Sudahkah kaupikirkan masak-masak keinginanmu itu, Jathasura? Kau adalah utusan kakakmu, yang juga menjadi rajamu, yang segala titahnya sepatutnya kau junjung tinggi. Kalau kau sendiri sekarang mengi­nginkan aku, ini berarti, bahwa kau akan mengkhianati rajamu. Apakah kau bertanggung jawab, kalau timbul murka rajamu?”

“Hamba bertanggung jawab. Hamba akan menghadapinya, kalau ia akan menuntut dan memerangi Kedhirilaya. Hamba cukup kuat mengha­dapinya, karena hamba mempunyai “aji-aji pamungkas,” yang akan me­ngalahkan dia.”

“Baiklah, tetapi tak urung rakyatku jua yang akan menderita, kalau rajamu Prabu Lembusura datang menyerang kemari. Ini tidak adil, sebab dalam perkara ini aku dan lebih-lebih rakyatku tidak mempunyai kepentingan apa-apa. Perkara ini semata-mata urusanmu dan urusan raja­mu.”

“Tetapi kalau lamaran ini ditolak, dia pasti akan memerangi Kedhi­rilaya juga. Itu sudah pasti. Dan kalau lamarannya tuanku terima dan ber­hasil ia memperisteri tuanku, hamba pasti tidak rela.”

“Sebaliknya pun demikian juga. Andaikata kuturuti kehendakmu, dia pun tidak akan rela. Karena itu begini sajalah. Aku bersedia menjadi isterimu, kalau kau berhasil membunuh rajamu lebih dulu. Kalau dia sudah mati, maka perkawinan kita tidak lagi akan terganggu. Tetapi kalau kau gagal, jangan harapkan aku. Nasibmu sudah pasti, kau akan mati oleh rajamu sendiri, dan aku menjadi isterinya. Dengan demikian rakyatku akan terhindar dari malapetaka peperangan. Ini sudah adil. Bagaimana, Jathasura, sanggupkah kau memenuhi permintaanku?”

“Permintaan tuanku puteri akan hamba penuhi. Sekarang hamba minta diri.”

Syahdan, pertarungan sengit yang timbul antara kedua kakak-beradik, setelah Jathasura kembali di Bandarangin, akhirnya berakhir dengan kematian Prabu Lembusura. Tetapi belum lagi Jathasura menikmati ke­menangannya, tiba-tiba muncul di hadapannya bujangga Buta Locaya.

“Heh, Jathasura, tak kusangka setega itu kau mengkhianati saudara tua, yang rajamu pula, hanya karena nafsu memperebutkan perempuan, yang bukan hakmu pula, karena kau hanyalah sebagai utusan. Tetapi hendaknya kau ingat, Jathasura, bahwa tiap perbuatan manusia itu tidak akan luput dari pembalasan yang disuratkan oleh karmamu sendiri. Kau tak menyadari, bahwa permintaan Ratu Kilisuci sebenarnya hanyalah tipu muslihat belaka. Oleh tipu muslihat itu kau telah menjadi alat penyebab kematian saudaramu. Maka kematianmu kelak pun akan disebabkan oleh tipu muslihat.” Setelah bersabda demikian, maka gaiblah Sang Bujangga Buta Locaya.

Tertegun Jathasura sesaat, seakan-akan menyesal ia atas tindakan­nya telah membunuh saudaranya sendiri. Tetapi kemudian datang bersembah panglima Kelana Sewandana.

“Gusti, tibalah saatnya kini tuanku menagih janji Prabu Puteri Ki­lisuci. Hamba menanti titah tuanku, apa yang harus hamba lakukan.”

Mendengar nama Kilisuci, tiba-tiba semangat Jathasura timbul kembali. Sabda Sang Buta Locaya seakan-akan telah hapus begitu saja oleh kenyataan, bahwa kini ia telah menjadi penguasa tunggal di kerajaan Bandarangin, dengan harapan akan mempersunting Puteri Kilisuci, pengua­sa kerajaan besar Kedhirilaya.

“Sewandana”, demikian katanya, “perintahkan membuat pancaka untuk membakar layon kakang Prabu Lembusura. Adakan upacara besar-besaran untuk mengantar sukma Baginda ke nirwana. Nyatakan hari-hari berkabung selama sepekan bagi seluruh kawula kerajaan Bandarangin. Setelah itu persiapkan angkatan perang yang akan mengantar perjalanan­ku ke Kedhiralaya untuk menagih janji Kilisuci.”

Peristiwa kematian Prabu Lembusura sudah terdengar beritanya sampai di istana Kedhirilaya. Itulah sebabnya Kedhirilaya diam-diam mem­persiapkan angkatan perangnya menghadapi Jathasura, sebab, bagaimana pun juga, Dewi Kilisuci bertekad untuk tidak mau menyerah kepada ke­inginan Jathasura.

Tiba saatnya menagih janji, Jathasura, yang kini sudah menjadi raja Bandarangin menggantikan kedudukan kakaknya, datang dengan mem­bawa pasukannya di ibukota Kedhirilaya.

“Prabu Jathasura”, sabda Ratu Kilisuci ketika menerima kedatangan Jathasura di stinggil. “Jangan kau kecewa, kalau kunyatakan kepadamu, bahwa sebenarnya sejak semula aku tidak ingin menjadi isteri siapa pun. Juga isterimu tidak. Lebih-lebih kau karena ujudmu itu, manusia berkepala macan. Itu adalah suatu pertanda, bahwa kau adalah penjelmaan binatang. Ini dapat dibuktikan pula dengan ulahmu yang mudah tega membunuh saudara sendiri karena dorongan nafsumu. Nafsu kebinatangan yang mengijinkan perbuatan jahat guna memenuhi keinginan angkaramu. Demi ke­hormatan negaraku, kawulaku, dan diriku sendiri, lamaranmu kutolak.”

Bagaikan disebit telinga Jathasura mendengar hinaan Kilisuci yang ditujukan kepada dirinya. Matanya berapi-api, dagunya gemetar, tangan­nya mengepal karena menahan marah.

“Heh, perempuan jahanam, tidak pantas rupanya kau disebut ratu, karena kau mengingkari janji-janjimu sendiri. Tidak akan tenteram hatiku sebelum aku berhasil membuat kau tunduk kepada kemauanku. Bersiap-siaplah kau untuk menerima upah kesombonganmu!”. Dan dengan an­caman demikian, Jathasura meninggalkan sitinggil.

Peperangan tidak dapat dihindarkan. Tetapi segalanya sudah diper­siapkan dan diperhitungkan. Namun demikian terdesak juga pasukan Kedhirilaya menghadapi amukan Jathasura yang dibantu dengan serangan-serangan gencar oleh pasukan istimewanya. Jathasura memang sakti. Segala macam senjata tidak mempan terhadapnya. Banyak sudah prajurit Kedhirilaya yang gugur atau tertawan. Mereka yang tertawan dijadikan sandera, dikumpulkan di dua tempat yang terpisah. Para perwira dan pejabat-pejabat tinggi ditawan dalam sebuah gedung besar berpagarkan tembok. (Tempat ini sampai sekarang terkenal dengan sebutan Setana Gedhong). Sedang prajurit bawahan dikumpulkan dalam sebuah per­kampungan yang dipagari bambu, (yang kini menjadi kampung Setana Bethek. Bethek = bambu).

Patih Bujanggaleng seorang cendekia, bijaksana, arif, penuh akal dan muslihat. Ia melihat Jathasura sebagai orang sakti, tetapi yang hanya mengandalkan kekuasaan dan kekuatan jasmani, mudah dipengaruhi oleh perasaannya yang terburu nafsu, mengabaikan kecerdasan akal dan budi yang baik. Kesaktiannya untuk memburu keangkaraannya, dan kesaktian demikian tidak akan dapat menyelamatkannya. Tetapi melawan Jathasura dengan kekuatan perang, pasti akan membawa korban besar kepada pra­jurit Kedhirilaya. Maka disarankannya Ratu Kilisuci untuk berpura-pura menyerah damai dan bersedia kawin dengan Jathasura, namun dengan persyaratan:

satu: agar dibuatkan sebuah sumur ban dung di puncak gunung Kelut, lengkap dengan sebuah tamansari dan pesanggrahannya, yang kelak akan menjadi tempat pengantin dipertemukan.

dua: tebusan pengantin perempuan berupa sasrahan ayam tukung sebesar gubug penceng (= gayor gong), kepalanya sebesar buah jambe (= tabuh gong), dan matanya sebesar terbang sesisi (= gong).

tiga: gulungan dedak jagung (= iker-iker, pinggiran topi), dibungkus daun asam (= sinom, yang juga nama tembang), sedang bitingnya alu beng­kong (= kepala orang yang dijobloskan dalam lingkaran iker-iker; beng­kong = dengan maksud terselubung). Pengarak pengantin terdiri atas pra­jurit yang menari-nari sambil menabuh sendiri, sedang niyaganya dewa berwatak sembilan. (Dewa = penguasa, pejabat pemerintah; berwatak sembilan = sembilan jenis kelompok). Pelaksanaan perarakan pengantin kelak akan diatur oleh Patih Bujanggaleng.

Karena mabuk kemenangan, maka tanpa pikir panjang, Jathasura menerima usul perdamaian dan persyaratan yang diminta oleh Ratu Kilisuci. Segera diperintahkannya mempersiapkan segala peralatan penga­rak pengantin. Para tawanan dipekerjakan di sebuah perkampungan yang disebut Setana Pandhe, karena di situ didirikan beberapa besalen untuk pembuatan gong, kenong, dan juga peralatan gamelan lainnya.

Jathasura sendiri memimpin pasukannya mempersiapkan pem­buatan sumur bandung dengan pesanggrahan dan tamansarinya di puncak gunung Kelut. Karena kesaktiannya, semua ini pun berhasil disiapkan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Maka disampaikannya berita ke Kedhirilaya, bahwa segala persiapan untuk menerima mempelai puteri di gunung Kelut sudah selesai.

Pada suatu hari berangkatlah perarakan pengantin yang amat panjang dan megah dari ibukota menuju ke selatan, sepanjang jalan disambut gemuruh oleh rakyat Kedhirilaya. Sang Puteri ditempatkan dalam sebuah jempana berhiaskan lambang kerajaan dan ragam hiasan lain bertatahkan ratna mutu manikam. Paling depan pasukan pembawa panji-panji dan umbul-umbul tanda kebesaran kerajaan, diapit oleh pasukan perintis yang bersenjatakan tombak dan keris. Kemudian barisan penari dan penabuhnya, lalu beberapa jempana yang membawa Sang Puteri dan para inang pengasuh. Di belakanganya menyusul barisan penari dan pena­buh lagi, kemudian ditutup oleh barisan prajurit bersenjata.

Semakin jauh perjalanan semakin sukar, apalagi jalannya menanjak dan rumpil. Sebentar-sebentar beristirahat sambil makan atau minum. Tetapi semangatnya tetap tinggi. Akhirnya sampai juga perjalanan mereka ke tempat tujuan, yaitu puncak gunung Kelut. Jathasura datang menyam­but perarakan itu dengan wajah gembira dan bangga. Utusan Ratu Kilisuci menyampaikan berita kepada Jathasura, bahwa Sang Puteri akan mela­kukan pemeriksaan setempat untuk meyakinkan diri, apakah semua sudah memenuhi persyaratannya. Kemudian barisan memberikan jalan kepada usungan jempana yang ditumpangi Sang Puteri dan para inang.Usungan mendekati tepi sumur yang bentuknya seperti kawah, terjal dan dalam, diiring oleh para pembesar kerajaan dan prajurit yang bertugas menjaga keselamatan Sang Puteri.

Syahdan, ketika usungan berada di tempat tepi sumur yang dalam itu, entah apa sebabnya, tiba-tiba jempana menjadi oleng, dan sebelum orang-orang menyadari apa yang terjadi, jerit dan pekik para inang dan prajurit lainnya melengking memenuhi udara: “Sang Puteri, jatuh ke su­mur! Tolong! sang Puteri! Tolong!” Sekilas tampak Ratu Kilisuci cepat terluncur ke bawah.

Jathasura sangat terkejut dan segera bertindak. Ia meloncat melun­cur ke dalam sumur dengan maksud menolong Sang Puteri calon per­maisurinya, diikuti oleh pandangan penuh arti orang-orang yang berada di sekitar sumur. Dalam pada itu di belakang terjadi kekalutan. Pasukan Jathasura yang lengah tak tahu datangnya bahaya, tiba-tiba diserang oleh pasukan prajurit Kedhirilaya. Banyak yang mati, tak terhitung jumlahnya, dan ada pula yang lari tunggang lenggang dihujani berpuluh-puluh tombak. Pada saat itu pula para prajurit pengiring Ratu Kilisuci beramai-ramai melemparkan batu besar-besar ke dalam sumur.

Tersebutlah yang berada di dalam sumur, Jathasura tidak dapat berbuat apa-apa. Ia menyadari kutukan ayahnya berlaku atas dirinya, sebagai pembalasan atas kematian kakaknya. Namun demikian masih sem­pat juga ia melontarkan sumpahnya:

“Heh, orang-orang Kedhirilaya, janganlah kalian girang-girang ketawa, tunggulah pembalasanku. Akan kuletuskan gunung Kelut ini, dan kubanjiri wilayah Kedhirilaya dengan laharnya yang panas yang meng­hanguskan segala!”

Para prajurit Kedhirilaya tidak berhenti bekerja, sebelum sumur bandhung tersebut penuh ditimbuni batu dan tanah, sehingga seluruhnya terurug sama sekali. Kemudian kembalilah mereka membawa kemenangan.

Tiba kembali di ibukota, Patih Bujanggaleng segera menghadap Baginda Ratu Kilisuci, melaporkan hasil gemilang tipu muslihatnya. Jatha­sura telah mati terkubur di kawah gunung Kelut.

“Terima kasih, Pamanda Patih”, sabda Ratu Kilisuci dengan lembut, “akal pikiran Pamanda untuk mencipta boneka gambarku, ternyata telah menolong kehormatan pribadiku dan kehormatan kerajaan Kedhirilaya.”

“Tetapi sayang, boneka itu bagus benar,” sembah Sang Patih. “Hidup seperti kembaran Tuanku Puteri.”

“Aku rela dan iklas melepaskan dia berkubur bersama Jathasura dalam kawah gunung Kelut itu.”

Oleh Patih Bujanggaleng dilaporkan pula tentang sumpah Jathasura, yang akan meletuskan gunung Kelut dan membanjiri daerah Kedhirilaya dengan laharnya. Ratu Kilisuci lalu melepaskan selendangnya, dan ber­sabda:

“Baiklah kubuatkan jalan untuk mengalirkan banjir lahar itu,” dan dengan selendangnya itu diciptakannya sebuah sungai besar yang menga­lir lewat Kedhirilaya, yang kini terkenal dengan Kali Brantas. Dan ketika pada suatu hari betul-betul gunung Kelut meletus dan meluapkan lahar panas yang melanda daerah sekitar, maka Dewi Kilisuci pun mencegahnya jangan sampai masuk kota Kedhirilaya. Baginda meletakkan kain panjang di atas tanah di luar kota, maka terbendunglah lumpur panas itu. Lumpur­nya mengendap, airnya menguap, dan lambat laun membukit, akhirnya menjadi gunung Pegat yang sekarang ini (daerah Srengat, Blitar)…

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Reog di Jawa Timur. Jakarta: Proyek Sasana Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978/1979. hlm. 62-69.