MASJID AGUNG K.H ANAS MAHFUDZ LUMAJANG

masjid-agung-k-h-anas-mahfudz-lumajang

Masjid Agung kota Lumajang disebut pula Masjid agung K.H Anas Mahfudz, Terletak di pusat kota tepatnya sebelah barat alun – alun Lumajang.  Berawal dari tahun 1825 M. pasukan tentara diponegoro mendirikan sebuah langgar kecil di sebelah barat alun – alun kota Lumajang, Yakni, ketika pasukan itu berada di Lumajang.

Awal tahun 1968 masa kepemimpinan Bupati Subowo, masjid ini sempat dilebarkan ke utara dengan membongkar kantor NU dan Maarif, 1987 perluasan lahan menjadi 3 kali dari luas lahan semula. Pada tahun 1987 masa kepemimpinan Bupati karsid dilakukan pemugaran total, yang semula bangunan masjid, bergaya arsitektur jawa kuno atap joglo dirubah menjadi bangunan masjid modern beratapkan kubah setengah lingkaran. Masa pemerintahan H.Syamsi Ridwan (1988 – 1993) membangun menara tambahan pada sisi utara masjid. Pada masa pemerintahan Bupati Tamrin Hariadi (1993-1998) dilakukan peresmian nama Masjid Agung Lumajang yang pada masa sebelumnya dikenal sebagai Masjid Jami’. Setelah itu pada tahun 2002 – 2003 dilakukan renovasi besar- besaran oleh Bupati Fauzi. Renovasi dilakukan dengan perubahan tampilan depan masjid dan penambahan dua menara setinggi 30 meter di sebelah selatan masjid.

Juga terjadi perubahan nama dari Masjid Agung Lumajang menjadi Masjid Agung K.H. Anas  Mahfudz.  Penamaan masjid agung ini diambil dari nama ulama yang berpengaruh di Lumajang yaitu K.H Anas Mahfudz. Beliau merupakan perintis didirikannya masjid agung sekaligus perawat masjid setelah didirikannya masjid oleh Laskar Diponegoro. Penerus K.H Anas Mahfudz sampai saat ini masih menjadi pengurus ( takmir ) dari masjid ini.

Ketakmirannya masjid secara beruntun dimulai sejak Kiai Anas Machfudz sampai tahun 1980. Kemudian Kiai Maimun dan Kiai Said. Lalu diganti KH Sahlan sampai 1996. Dilanjutkan Kiai Eksan Anwar sampai 2007. Dan Kiai Amak Fadoli (mertuanya) sampai 2012. Baru kemudian, saat ini Abdul Kahfi menjadi ketua takmir masjid tersebut.

Gaya arsitektur masjid ini bercirikan khas timur tengah, menggunakan kubah lengkung panjang dan begitu pula bentuk kusennya. Kolom yang berderet panjang dengan model besar merupakan bekas renovasi kedua yang tidak di bongkar sehingga menjadikan ciri khas tersendiri dari bangunan masjid ini.

Pada kedua sisi masjid didirikan menara sebagai ikon masjid. Hal yang unik dari arsitektur masjid ini adalah kubah tumpuk yang disebabkan karena kubah lama tidak dibongkar pada saat renovasi kubah, langsung di tumpuk dengan kubah baru seperti yang di lihat saat ini.

Interior masjid ini memiliki sirkulasi yang cukup luas dengan pembagian saf wanita di sebelah kiri belakang dari bagian saf laki-laki. Pembagian tempat wudlu wanita berada di sebelah selatan dan laki-laki berada sebelah utara sehigga sirkulasi wanita dan laki-laki tidak berbenturan.

Pencahayaan di dalam masjid ini cukup baik dengan pencahayaan alami yang didapat dari kubah atas dan juga dari jendela lebar di sisi dinding selatan dan utara. Penghawaan sebenarnya sudah cukup baik meskipun tidak menggunakan penghawaan buatan ( AC ) hal ini dikarenakan terdapat ventilasi di sekeliling dinding masjid. Ventilasi ini berbentuk unik dengan pengulangan bentuk persegi yang cukup statis dan memberikan kesan simetris.

Area Lobby dan Area Tunggu  di desain dengan penggabungan dua unsur, antara budaya Islam dan Lumajang. Penggunaan bentuk ornamen islam pada dinding dipadukan dengan signage yang berasal dari transformasi motif batik Lumajang pada backdrop lobby memberi kesan unik.

Desain ruangan nampak dinamis dengan bentuk lengkung pada furnitur dan pertemuan antara dinding dan plafond memberikan kesan ruang yang tidak monoton. Tampilan warna hijau yang merupakan warna khas islam dipadukan dengan warna emas dan warna natural kayu.

Area Perpustakaan memberikan kebebasan ruang gerak bagi pengunjung. Pemisahan area baca dan area simpan buku agar konsentrasi pengunjung yang membaca tidak terganggu, juga disediakan area baca lesehan. Area internet corner berada di belakang meja lobby memberi kemudahan pengunjung untuk mengakses informasi. Tersedia pula katalog digital serta fasilitas foto copy dan print.

Pada area TPA didesain multifungsi, ruang dibagi empat (4) dengan pembatas ruangan berpartisi semi transparan. Ornamen islami hadir pada dinding, lantai menggunakan parket kayu sehingga mebawa kesan hangat, nyaman di pijak tidak licin, warna dominan putih dengan aksen hijau. sehingga pengguna ruangan memberi efek tenang dan nyaman.

—————————————————————————————-edit 134N70

sumber: Aplikasi Budaya Lumajang Pada Interior Masjid Agung K.H Anas Mahfudz: Citra Maya Rusafi; Jurusan Desain Produk Industri, FTSP ITS. Kampus ITS Sukolilo, Surabaya

MASJID BAITUR ROHMAN, (Masjid Munder) Kabupaten Lumajang

mesjid-baitur-rahman-aMasjid Baitur Rohman merupakan peninggalan bangunan bersejarah yang disakralkan. Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kabupaten Lumajang mengidentifikasi sebagai Bangunan Cagar Budaya. Keberadaan masjid ini di dusun Munder, desa Tukum kecamatan Tekung, dan berdiri tepat di pinggir perkampungan penduduk dan pada sisi lainnya merupakan areal persawahan. Jarak menuju ke masjid ini  dari Kota Lumajang 7 km, Akses jalan beraspal.

 Rujukan informasi tentang sejarah pendirian masjid ini sangat kuranga sekali, namun ada angka yang menunjuk 1919, angka tersebut tertera pada salah satu atap masjid, apakah angka ini merupakan tahun pembangunan masjid tersebut, hal tersebut masih merupakan tanda tanya.  Namun Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kabupaten Lumajang mendeskripsikan bahwa Masjid Baitur Rohman ini awalnya dibangun Tahun 1912.  Mesjid ini adalah mesjid yang pertama di bangun di Desa Tukum.

Masjid ini konon didirikan dengan segala kekhusyukan dan kesucian,  dari para pendahulu-pendahulu baik kyai maupun santri Masjid ini, penggagas bangunan masjid adalah Kyai Usman,  beliau wafat pada tahun 1928.

mesjid-baitur-rahman-bSelanjutnya pada generasi ke-2, pada tahun 1930 mesjid ini di bangun oleh Kyai Syukhaimi lebih bagus dengan dinding tembok dari batu bata dan di tambah dengan 3 bangunan Pondok. Sehingga menjadi Mesjid Pondok Pesantren, dan Pondok Pesantren sendiri di beri nama dengan Pondok Pesantren Torekho Nakhsofandi. Di masa-masa itu merupakan masa kejayaan pondok pesantren Torekho Nakhsofandi, karena pondok pesantren yang dikelola oleh Kyai Syukhaimi tersebut mengasuh sekitar 650 santri, dan beliau wafat pada tahun 1957.

Kemudian selanjutnya pada generasi ke-3 Pondok Pesantren ini pengelolaan dilanjutkan oleh Kyai Ismail adalah beliau putra Kyai Syukhaimi, Namun beliau mengelola Pondok Pesantren hanya selama 6 bulan saja, di karenakan beliau sakit dan wafat.

Sepeninggalan beliau pondok pesantren ini tidak ada lagi yang mengelolanya, pondok pesantren ini sudah tidak ada lagi yang merawatnya. Pada tahun 1960, ada seorang tokoh ulama desa tukum yang bernama Kyai Ashari, beliau merasa sayang dengan keadaan sarana peribadatan yang terbengkelai tersebut, maka dirawat dan dikelolanya areal pondok tersebut, terutama mesjidnya yang merupakan sarana peribadatan warga sekitar.  Dulunya orang akrab dengan sebutan Masjid Munder, baru pada era 80-an, masjid tersebut diganti nama menjadi Masjid “Baiturrahman” (Muhammad Khoirul Anam).

Konon awal di bangunnya Masjid “Baiturrahman” pondasi bangunan hanya berupa umpak (batu yang terdapat pada tiap-tiap tiang), tiangnya materialnya adalah bongkotan  (bagian bawah bambu), dan beratapkan daun kelapa.   Di halaman mesjid sisi sebelah barat terdapat makam dari keluarga pendiri mesjid dari berbagai generasi. Masjid Baitur Rohman memiliki menara berbentuk mangkuk dan trisula, bangunan masjid ini  bergaya arsiktektur lama, tembok dan struktur bangunan Masjid masih sama dengan bentuk aslinya. Bangunan tak begitu luas. Nuansa warna putih, hijau, dan coklat kayu, kental dalam suasana penuh Islami, pada beranda masjid terdapa bedug dan kentongan bambu.

Pilar beton kokoh tak terlalu tinggi menyangga masjid ini, masuk ke masjid ini memang rasanya berbeda dengan masjid kebanyakan, bangunan masjid dengan postur bangunan tua ini dalam sangat unik, banyak frame-frame atau kerangka pintu dengan bentuk kubah sebanyak 31 buah di petak-petak ruangan inti masjid, didalam Masjid terdapat 7 ruangan, dan terdapat 9 jendela. Sedangkan material atap, jendela maupun pintu terbuat dari kayu jati.

——————————————————————————————-134N70nulisDW
Sumber:
DINAS KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA KABUPATEN LUMAJANG
pariwisata_lmj@yahoo.com; website: www.wisatalumajang.com

Tradisi Maulid Hijau dan Larung, Kabupaten Lumajang

Lumajang0001Tradisi Maulid Hijau dan Larung, selain menghijaukan hutan di sekitar lereng Gunung Lemongan, dalam acara yang digelar setiap tahun itu. Warga setempat juga berharap, agar sanak keluarganya yang merantau ke luar negeri dijauhkan dari balak dan diberi kesela­matan serta kesehatan.

Pagi itu, mendung yang terlihat memayung di Desa Tegalrandu, Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang, seakan mendukung sekerumunan lelaki desa memapah serta menarik seikat bambu keluar dari gerobak kayu.

Seorang lelaki lanjut usia juga tampak sibuk dengan beberapa helai daun kelapa. Wajahnya yang keriput tampak serius seiring dahinya berkenyit memasukan satu persatu daun kelapa itu ke dalam sela-sela jarinya.

Lelaki itu tengah membuat anyaman mirip gedhek. Anyaman itu sendiri akan digunakan sebagai dinding penutup sesaji. Seperti yang diucapkan Mantruki (80), selaku tetua Desa Tegalrandu kepada LIBERTY.

Lumajang0002Selain itu, sebagian warga desa ada yang menyiapkan bahan makanan untuk sesaji, tumpeng maupun rakit untuk melarung ke Ranu Klakah. Ternyata kesibukan warga Tegalrandu pada saat itu merupakan rangkaian dari tradisi Maulid Hijau yang meru­pakan singkatan dari kata Maulid Nabi dan Penghijauan yang selalu diadakan bersamaan atau setelah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

 

Larung sesaji

Kata Matruki, format kegiatan dalam tradisi itu adalah penggabungan antara kegiatan pelestarian lingkungan dan seni budaya yang sebenarnya selama ini telah ada dan eksis secara turun temurun di masyarakat Tegalrandu. “Seperti halnya penghi­jauan di sekitar Ranu Klakah, pagelaran kesenian tradisional, kompetisi perlombaan tradi­sional serta upacara selamatan desa,” katanya kepada LIBERTY.

Sebab, masih kata Matruki, kegiatan sela­matan adat Ranu Klakah ini merupakan kegiatan rutin tahunan yang sudah berlangsung secara turun temurun di desanya. Ke­giatan ini biasanya dilakukan dalam bentuk se­lamatan dan do’a bersama dengan para sesepuh desa sesuai den­gan tradisi agama Islam. Kemudian, dilanjutkan dengan melarungkan se­saji ke tengah Ranu Klakah.

Adapun sesaji yang dilarungkan di Ranu Klakah tersebut berbentuk boneka kecil yang terbuat dari tepung terigu. Kata Matruki, ketika disinggung mengenai bentuk boneta sebagai pelengkap larungan

Konon menurut ceritanya, dulu di dalam Ranu Klakah terdapat seekor ular besar piaraan Dewi Rengganis yang oleh masyarakat sekitar dinamai Ular Selanceng. “Ular ini berbahaya dan kerap mencelakai penduduk setempat,” kata Matruki.

lumajang 3Hingga suatu ketika datanglah Syeikh Maulana Ishak bersama teman karibnya Kyai Atmari dari Prajekan, untuk menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. “Dalam perjalanan terse­but, kedua ulama tersebut singgah di Ranu Klakah dan mengetahui perihal Ular Selanceng. Melihat berbahayanya ular tersebut, Syeikh Maulana Ishak mencoba menanam pohon bunga  Ashoka di pinggir Ranu Klakah dan memberi makan ular tersebut dengan kue yang terbuat dari tepung yang dibentuk menyerupai boneka.

Dan sejak saat itu, ular tersebut tidak pernah lagi mencelakai penduduk di sekitar Ranu Klakah,” terang Matruki. Tradisi inilah yang oleh masyarakat di Ranu Klakah terus dilestarikan dan masih dipercaya oleh masyarakat, jika ular tersebut kerap menampakan diri. Karena itulah dalam sajen yang dilarung ke ranu itu, selain berupa boneka yang menyerupai bayi (ditubuh boneka tersebut juga diolesi darah ayam), juga diisi oleh aneka makanan lain. Seperti tumpeng, bunga setaman, jajanan, telor, rokok kretek dan dua daun sirih yang dibentuk mengerucut. Semua ditaruh dalam rakit buatan berukuran 2×3 meter yang telah dihias dengan kertas samak dan aneka daun-daunan. Matruki juga menjelaskan, garis besar dari upacara itu untuk menolak bala akan terjadinya bencana. Sembari berbicara ringan menjelaskan rincian acara itu, seiring kaki kami melangkah lebih dalam masuk ke mulut desa, ibu- ibu serta remaja putri juga tidak kalah sibuknya dengan kaum pria.

Mereka tengah berbenah mengumpulkan ‘salaran atau jimpitan’ berupa beras, telor dan uang, yang secara sukarela dikumpulkan seluruh warga desa. Hasil ‘jimpitan’ itu sendiri nantinya digunakan untuk kegiatan upacara adat, baik untuk perlengkapan tarian ataupun untuk pembelian benih ikan yang akan dilepaskan di Ranu Klakah.

Menurut A’ak Abdulah Al Kudus (35), tckoh pemuda, selamatan desa yang diadakan kali ini jauh lebih meriah ketimbang tahun sebelumnya. Pria yang aktif di dunia buruh migran dan juga ketua Laskar Hijau ini menambahkan, selain meminta tolak bala kepada Tuhan agar dihindarkan dari tragedi balak, upacara itu juga disembahkan untuk meminta doa kesela- matan bagi para buruh migran yang tengah merantau di luar negeri. Sebab, di sekitar Ranu Klakah ini bermukim kurang lebih 4.564 jiwa atau 1.171 kepala keluarga yang sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian petani dan buruh migran.

Jadi tidak mengherankan jika sebagian masyarakat yang ikut dalam acara tersebut keluarga ataupun mantan buruh migran. Selain itu, jika upacara wajib itu luput diadakan, kekhawatiran akan dua peristiwa itu bakal terjadi. Jadi tidak mengherankan jika persiapan acara itu dilakukan penuh seksama serta ketelitian.

 

KESURUPAN

Sejurus kemudian, masih diselimuti cuaca mendung, sesajen yang sejak pagi tadi dibuat, nyatanya sore itu sudah dipikul empat pemuda den­gan mengenakan baju adat desa dan siap untuk diberi doa-doa oleh ulama setempat.

Langkah Matruki dan A’ak yang semenjak tadi menemani LIBERTY itu pun mulai menjauh dari jalan desa dan mendekati panggung sambil meli- hat sesajen yang sudah dipikul empat pemuda itu. Selanjutnya, sesajen yang sudah disusun sesuai urutan pengiring siap untuk dikirab keliling desa. “Urutan tersebut sesuai. Dari depan para pemuda yang memer- ankan teaterikal 1hancurnya alamku karena pembalakan liar’, dan dibelakangnya para gadis desa yang siap menarikan tarian Glipang dan yang terakhir adalah sesajen itu sendiri,” ucapnya Matruki.

Setelah doa dan dzikir dipanjatkan, tanpa dikomando, sebagian warga desa yang berkerumun disekitar sesajen langsung menjauh ketika tarian Glipang mulai ditarikan. Sebab ada keper- cayaan, jika tarian Glipang ini sudah ditarikan, maka para penari tersebut bakal kesurupan. Praktis warga enggan untuk mendekati mereka.

Kemudian, setelah tarian tersebut usai dilakukan, secara perlahan-lahan iring-iringan sesajen mulai dikirap ke­liling desa. Menariknya, sesosok pria tanpa baju dengan rambut panjang memegang toples berisi benih ikan, berjalan paling depan. Kata Matruki, sosok pria tersebut berfungsi sebagai pemangku spiritual kirab. Pemangku juga diwajibkan mengenakan jala ikan dengan cara dililitkan di tubuhnya yang fungsinya sebagai penyeimbangan larung sesaji. “Selain penyeimbang, agar pemangku kirab tersebut tidak kesurupan,” lanjut Matruki.

Kemudian, kurang lebih 500 meter berjalan, kirab itu pun akhirnya tiba di pintu masuk Ranu Klakah. Selanjut­nya, pemangku kirab berjalan perla­han-lahan menuruni anak tangga dan baru berhenti ketika sudah tiba di bibir ranu.

Lantas, benih ikan itupun dituangkan di atas ranu dengan disusul peletakan sesajen diatas rakit. Bersamaan dengan itu, entah faktor kebetulan atau tidak, hujan yang tadinya sempat turun tiba-tiba berhenti.

Kemudian, Matruki mengambil alih peletakan sesajen dengan menaiki rakit untuk dilabuhkan di tengah ranu. Sepeningal Matruki melabuhkan sesaji ke tengah ranu, tarian Glipang kembali ditarikan disekitar bibir ranu.

Benar dugaan, kurang dari 10 menit tarian itu dijalankan, dua dari penari tersebut kesurupan. Bahkan dua pemuda yang memerankan teaterikal kondisinya tak jauh beda dengan para penari. Dan aksi kesuru­pan itu baru berhenti ketika Matruki dan ulama setempat memberikan doa-doa kepada mereka.

Namun terlepas dari itu semua, warga berharap, hasil tangkapan ikan di sekitar ranu berlimpah dan para keluarganya yang merantau di luar negeri diberi kesehatan serta kesela- matan. « D2ng

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  LIBERTY,
1-10 Juni 2009

Kenalkan Koleksi Batik, Kabupaten Lumajang

Kenalkan Koleksi Batik, Pelajar Diharap Ikut Melestarikan

Lumajang, Jatimplus, Batik sudah menjadi ikon Indonesia dan diakui oleh UNESCO. Meski sudah populer di dalam negeri dan inter­nasional, tak menyurutkan upaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jatim untuk terus melestarikannya. Salah satu upayanya dengan menggelar pameran batik koleksi UPT Museum Negeri Mpu Tantular Jatim. Selain itu digelar kegiatan membatik massal oleh anak-anak sekolah.

Kegiatan membatik massal oleh anak-anak sekolah berlang­sung di Gedung Guru JI Veteran No 18 Lumajang. Kegiatan ini diha­diri oleh Bupati Lumajang Dr H Sjahrajad Masdar bersama Wakil­nya Drs H Asat M Ag serta Kepala Disbudpar Jatim yang diwakili oleh Kepala UPT Museum Negeri Mpu Tantular Jatim Drs Gunawan Ponco Putro serta jajaran Dinas Pendidi­kan Lumajang.

Kepala Disbudpar Jatim yang diwakili oleh Ka UPT Museum Mpu Tantular Drs Gunawan Ponco Pu­tro menjelaskan kegiatan memba­tik ini diikuti generasi penerus yang masih duduk di bangku SMA/ SM K/MA baik sekolah negeri mau­pun swasta Menurut Gunawan Ponco Putro, generasi sekarang ini baik pelajar maupun mahasiswa terkadang ma­sih enggan untuk mengenal lebih jauh soal batik.

Mereka hanya me­ngenal batik sekilas, tanpa tahu  ba­gaimana proses menghasilkan ba­tik yang penuh makna filosofi men­dalam itu. “Saya sangat mendukung kalau generasi penerus dikenalkan praktik membatik sejak dini. Kalau perlu di sekolah mereka diwajibkan untuk mengetahui cara membatik. Upaya ini dilakukan agar budaya membatik yang menjadi kekayaan dan wari­san bangsa bisa terus langgeng,” katanya. Yang harus dipahami batik bu­kan sekadar kain dengan keinda­ hannya. Tetapi batik Indonesia mempunya filosofi, bermakna dan mempunyai simbol yang berman­faat bagi masya rakat untuk menjadi pedoman kehidupan.

“Batik adalah seni yang indah, apalagi proses pembuatannya juga tidak mudah. Butuh kesabaran, ke­telitian, kreativitas dan hal-hal posi­tif lainnya sehingga harus lebih di­hargai. Dan bangsa Indonesialah yang harus  melestarikannya,” ka­tanya. Karena itu dalam kegiatan kali ini, anak-anak dibekali pengetahuan soal cara dan proses membatik. Mo­tif batik disiapkan panitia, tetapi mulai dari membatik, pencelupan hingga pemberian warna, anak- anak dibebaskan untuk berkreasi. “Harapan saya anak-anak itu bi­sa menularkan ilmu yang didapat­nya kali ini ke teman -temannya, kekeluarganya atau kesaudaranya yang lain. Dengan begitu rasa men­cintai dan menghargai budaya sen­diri akan terus tumbuh,” harapnya.

Untuk belajar membatik ini, kata Ponjo masing-masing sekolah me­ngirimkan wakilnya sebanyak 5 anak. Di samping itu mereka juga diberi door prize untuk hasil mem­batik terbaik. Ada sekitar 12 anak yang mendapatkan hadiah ini, dari sekitar 70 anak yang hadir. Batik Indonesia menapaki pang­gung global setelah UNESCO-orga- nisasi tertinggi dunia di bidang ke­budayaan di bawah naungan PBB- menobatkannya sebagai warisan budaya dunia pada 2 Oktober 2009. Pengakuan internasional terhadap batik Indonesia membuka potensi pengembangan ekonomi nasional berupa pemasaran batik di luar maupun dalam negeri.

Sajak saat itulah batik Indo­nesia mendunia. Sebut saja de­sainer asal Belgia, Dries Van Noten yang memunculkan koleksi batik motif parang pada koleksi musim semi/ panas 2010. Ia berhasil me­madukan batik Parang dengan item lain yang lebih modern. Batik Mega Mendung asal Ci­rebon pun dua kali diangkat oleh dua desainer yang berbeda. Pada 2009, desainer asal Australia, Nicole Miller, meluncurkan koleksi­nya yang kebanyakan berpotongan maxi dress. Selain Miller, desainer Julien Macdonald mengangkat batik Mega Mendung dalam koleksi mu­sim semi/panas 2012. Koleksinya sudah dipamerkan dalam gelaran Lon-don Fashion Week 2011 pada September 2011. Jika para desainer papan atas berlomba-lomba memakai batik sebagai koleksi mereka, selebritas papan atas pun tak lagi malu atau canggung mengenakan batik. Sebut saja aktris Rachel Bilson, Drew Barrymore, Lenka, Reese With-erspoon, Adele, hingga Jessi­ca Alba.(shb)

Jatim Plus, Edisi 317 Minggu II – IV Pebruari 2013

Sampyong, Kabupaten Lumajang

Kecamatan : Kunir, Jatigana, Rampalan, Yasawilangun. Kabupaten: Lumajang, eks-karesidenan Malang, Jawa Timur Jenis  Permainan dan Lokasinya.

SAMPYONG“Sampyong” adalah sejenis permainan rakyat yang sampai kini masih hidup didaerah Ujung Timur pulau Jawa, yang terkenal dengan sebutan daerah Mendhalungan, yakni daerah campuran Jawa-Madura. Tetapi nama “Sampyong” populer didaerah Lumajang selatan, terutama di daerah-daerah kecamatan Kunir, Jatigana, Ram Palan, dan Yasawilangun. Sesekali permainan tersebut juga disebut jung.

Didaerah Besuki yaitu Bandawasa dan sekitar, permainan ersebut memang lebih dikenal dengan nama “Ojung”, yang mengi- lgatkan kita pada “Ojung” yang terdapat di daerah Sumenep,Madura. Dipandang secara sepintas, antara “Sampyong” Lumajang lan “Ojung” Sumenep memang keduanya memperlihatkan gejala yang sama. Sama-sama ada kaitannya dengan upacara ritual neminta hujan waktu kemarau panjang.

Keduanyapun menampil­kan permainan yang bersifat adu keberanian dengan cara sebat-menyebat dengan menggunakan batang rotan, sebagai alat penyebatnya. Dan bukan mustahil pula, bahwa sejarah awal “Sampyong” adalah satu dengan sejarah “Ojung”, dan mungkin juga bermula di daratan pulau Madura, kemudian terbawa oleh migran Madura ke Jawa di Ujung Timur ini.

Tetapi hal demikian sudah jauh lewat di masa lampau beberapa generasi, entah berapa, empat, lima generasi barangkali, tidak diketahui dengan pasti. Sebab, menurut informan, “Sampyong” sudah ada sejak dulu jaman nenek moyang masyarakat Lumajang.

Namun satu hal sudah pasti, yaitu terdapatnya beberapa segi perbedaan yang menarik, yang membedakan corak dan karakter, se­hingga dirasa perlu dalam tulisan ini menempatkannya di bawah judul tersendiri, terpisah dari “Ojung” Sumenep, Madura. 

Waktu dan Peristiwa Permainan.

Permainan “Sampyong” dimainkan pada ujung akhir musim kemarau panjang, karena maksud permainan, adalah untuk meminta hujan. Dilakukan pada siang hari pada menjelang sholat lohor sampai asar. Sekitar saat-saat itu ialah mengingat akan waktunya masyarakat petani mengaso sehabis menggarap sawah. Memang yang mempunyai hajad “Sampyong” ialah masyarakat tani, yang kehidupan propesi- nya sangat erat hubungannya dengan masalah curah hujan.

Umumnya beberapa tokoh petani tua-tua bersama memusya­warahkan “ya tidak”-nya diadakan permainan “Sampyong”,^meng­ingat kemarau yang berkepanjangan. Jika kata “ya” putus, maka se­gera dihubungi pejabat setempat, yaitu Lurah Kepala Desa, yang ke­mudian meneruskan pada instansi eselon atasannya, Camat dan st

keamanannya. Dilibatkannya para pejabat setempat hanyalah untuk keamanan dan ketertiban, tidak ikut campur dalam penyelenggaraan “Sampyong” itu sendiri, yang sepenuhnya menjadi urusan dan tang­gung jawab masyarakat. Pejabat setempat biasanya mengijinkan se­panjang dipatuhi peraturan tata tertib dan keamanan.

Setelah ijin diperoleh, beberapa tokoh masyarakat tani, teru­tama penggemar “Sampyong” segera berkumpul untuk menentukan hari pelaksanaan. Setelah mendapatkan kesepakatan akan waktunya undangan disebarkan kepada beberapa daerah tetangga. Biasanya berita itu secara mengagumkan cepat sekali meluas dari mulut ke mulut.

Kalau segala sesuatunya telah selesai dipersiapkan, maka permainan pun dimulai. Tetabuhan mulai diperdengarkan dengan bunyinya yang lantang sehingga terdengar sampai di kejauhan. Dari kejauhan pun berdatangan pula masyarakat ramai yang ingin menyaksikan permainan tersebut.

Permainan dipimpin oleh seorang wasit, dengan dibantu oleh dua orang pelandang (atau welandang), dan ketiganya sekaligus ber­tindak sebagai juri yang menilai dan menentukan siapa yang kalah dan siapa yang menang. Mereka rata-rata setengah umur, harus benar- benar mengetahui seluk beluk permainan “Sampyong”, sebab ada­kalanya suatu ketika pelandang itu pun mendapat tantangan berduel di atas panggung. Sudah barang tentu penantangnya itu bekas de­dengkot pula, bekas lawan dulunya.

Jadi permainan dilakukan di atas panggung. Dua orang jago saling beradu keberanian dengan menggunakan cambuk rotan sebagai senjata penyebat, yang oleh panitia sudah disiapkan sebelumnya. Jumlah pukulan atau sebatan sudah ditetapkan oleh juri lebih dulu, masing-masing secara bergantian : tiga, empat, sampai delapan kali menurut pertimbangan atas dasar kondisi umur, fisik, mental, ma­upun pengalaman bertanding.

Menang kalahnya ditentukan dengan hasil kena tidaknya sebatan yang dapat dilihat dari bekasnya. Siapa yang lebih banyak kena se- bat, dialah yang dinyatakan kalah. Dan pemenang pun mendapatkan hadiah kaos oblong (= baju kaos berlengan pendek Setelah partai pertama ( dua jago pertama ) menyelesaikan per­tandingannya, maka partai kedua tampil, menyusul kemudian par­tai ketiga, keempat, kelima dan seterusnya sampai seluruh peserta mendapatkan kesempatan bertanding.

Pelaku Peserta

Sebelum permainan dimulai, di luar panggung sudah siap’ja­go-jago yang akan bertanding. Bahkan ada pula yang berdatangan menyusul selama permainan tengah berlangsung. Mereka semua la­ki-laki, rata-rata usia antara 17 sampai 30 tahun, tetapi terdapat pula yang tua-tua, dedengkot generasi lama yang masih merasa mempu­nyai semangat untuk bertanding. Memang masalahnya di sini adalah kebanggaan, dan “Sampyong” adalah permainan kebanggaan mere­ka.

Umumnya yang terjadi di daerah Kunir dan sekitarnya, per­mainan “Sampyong” dipertandingkan menurut daerah asal masing- masing, jadi tidak perorangan. Daerah Kunir misalnya melawan da­erah Rampalan dan pimpinan kontingen masing-masing, biasanya yang menjadi pelandang, memilih siapa-siapa yang menjadi anggota anggota kontingennya yang tampil untuk melawan siapa-siapa da­ri kontingen lawan.

Dua orang jago yang saling berhadapan tidak boleh masih saudara atau sahabat karib, seyogyanya belum mengenal satu sama lain. Hal ini untuk menjaga agar permainan berlangsung mantap dan seru. Namun ini tidak berarti, bahwa pertandingan dilakukan atas dasar permusuhan. Rasa persaudaraan dan sportifitas tetap terjaga.

Anehnya dalam pertandingan permainan “sampyong” tidak pernah terdengar penetapan pemenang atas dasar kontingen daerah. Barangkali memang sudah sama – sama menyadari, bahwa “sam­pyong” bukan pertandingan dalam arti kata kompetisi yang lajim berlagu dalam dunia oleh raga. Arti “sampyong” sendiri memang tidak kita ketahui dengan tepat. Tetapi dalam kamus Purwadarminta, BAU SASTRA JAWA 1939, terdapat kata “sampyong”, yang berarti “dedreg, rane atau rame tumrap dolanan” (hebat, sengit untuk Per” mainan). Barangkali “sampyong” adalah kata dialek setempat yang).

maksudnya menunjuk kepada sebuah permainan yang hebat dan Sengit. Betapa pun sengitnya, permainan tetap permainan, yang secara murni tidak ada hubungannya dengan paksaan, kewajiban dan sebagainya. Adanya hanyalah kesenangan yang dapat dikembalikan kepada faktor asalnya : kebanggaan. Dan kebanggaan tidak akan terbeli oleh apa pun. Adanya jago yang menang akan mendapatkan hadiah baju kaos, yang nota bene harganya tidak seberapa, itu hanya sekedar hiburan, sebab ia yang bersakit-sakit “berjuang”. Daerah tidak mencelai hadiah atas jasa jagonya. Daerah rupanya cukup merasa bangga dengan prestasi jagonya.

Tempat, Peralatan dan Kelengkapan lain-lain.

Pada saatnya tiba, orang sibuk menyiapkan panggung. Khusus di daerah Kunir, tempat kami melakukan observasi, panggung itu, yang oleh penduduk setempat disebut “genjot”, selalu didirikan di desa Sumberbendho, mengambil tempat dekat sebuah pohon bendho tua dan besar, yang oleh masyarakat setempat dikeramatkan.

Genjot itu berukuran luas 4×5 meter persegi, dan tinggi kira- kira 1,25 meter. Tiap-tiap sisinya dihias dengan janur kuning (daun kelapa muda berwarna kuning). Hiasan ini sekaligus berfungsi sebagai pagar panggung, dengan dua pintu sebelah-menyebelah secara dia­gonal untuk keluar masuknya (turun naiknya) para jago. Pinggir kiri tiap pintu dipancangkan payung yang megar (=berkembang). Di bawahnya ditempatkan sebuah kursi, tempat duduk para jago yang akan bertanding.

Permukaan panggung terbuat dari anyaman bambu kasar dan tebal, ditebari dengan jerami merata seluas panggung, kemudian di atasnya dialasi sesek (kepang), yaitu anyaman bambu yang halus.

Peralatan pokok yang dipersiapkan ialah batang rotan sebesar ibu jari tangan, berukuran panjang 60 x 75 sentimeter. Rotan ini dicari di hutan setempat, jadi masih basah. Untuk meng­hindari segala kemungkinan negatif, batangan rotan ini disediakan oleh panitia. Pemain tidak diperkenankan menggunakan rotannya sendiri.

Sebelum dipergunakan, bagian rotan kira-kira 10 sentimeter dari ujunf dipilin sedemikian rupa, sehingga bagian ini menjadi lemas, tetapi mempunyai kekuatan lenting kalau disehatkan. Tanpa kekuatan lenting ini sulit mengenai sasaran. Alat kelengkapan lainnya ialah dua macam instrumen tetabuh- an untuk mengiringi permainan “sampyong”. Sebuah kendhang, dan sebuah jedhor. Kendhangnya mempunyai bentuk yang khusus, pan­jang 50 sentimeter, dengan garis tengah masing-masing sisinya sekitar 35 sentimeter, jadi kedua sisi kendhang itu sama besarnya, Jedhor adalah sejenis bedhug, panjangnya +, 90 sentimeter, dan garis tengah kedua sisinya masing-masing 55 sentimeter.

Untuk menabuh kendhang dan jedhor cukup diserahkan ke­pada anak-anak, karena tidak memerlukan melodi, hanya pukulan ritmis dan jedhornya berfungsi sebagai pinalis. Khusus mengenai kendhang ini, cara menabuhnya unik sekali. Dua orang anak duduk di atasnya saling membelakangi, sehingga masing-masing mengha­dapi satu sisi kendhang itu.

Jalannya Permainan.

Kalau tiba saatnya permainan dimulai, kedua pelandang yang mewakili kedua belah pihak, tampil di atas genjot. Pihak yang satu mewakili daerah Kunir dan pihak lainnya mewakili daerah Rampalan, misalnya. Kalau yang bertanding berasal dari daerah lain, maka pe- landangnya pun harus ganti daerah tersebut. Hal itu sudah menjadi tradisi.

Pelandang segera memanggil nama jago masing-masing untuk naik ke genjot. Yang dipanggil tampil, seorang jago dari Kunir, seorang lagi dari Rampalan, masing-masing menempati kursi yang sudah tersedia. Wasit melakukan pengamatan dengan saksama, meni­lai seimbang tidaknya kedua lawan itu, umurnya, fisiknya, dan peng­alaman masing-masing dalam bertanding “sampyong”. Kepada kedua pelandang dimintakan pertimbangan, kalau dinyatakan tidak seim­bang, maka salah seorang harus diganti dengan yang seimbang atau kalau tidak ada penggantinya, keduanya harus mundur diganti de­ngan yang lain sama sekali. Sesudah itu kedua jago dipersilahkan maju ke tengah panggung, masing-masing diberi batang rotan sebuah. Sambil memilin-milin rotan masing-masing, mereka mendengarkan petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh wasit. Meskipun sudah di­

ketahui bersama aturan-aturan permainan, namun oleh wasit rupanya masih dianggap perlu sekali lagi dijelaskan persyaratan-persyaratan
atau larangan-larangan yang harus dipatuhi oleh kedua jago. Penjelasan-penjelasan itu diucapkan dengan keras, menggunakan mi-
kropon segala, agar penonton pun dapat mendengar pula.

Hal ini demi obyektifitas.

Peserta “sampyong” mengenakan celana panjang biasa atau yang komprang, terserah menurut selera masing-masing, berkopiah atau berikat-kepala itupun manasuka, tetapi badan bagian atas harus telanjang. Sebenarnya masih ada ketentuan lain, bahwa peserta harus mengenakan sabuk kulit selebar telempap, tetapi rupanya ini tidak dilaksanakan dengan konsekwen.

Jumlah sebatan pun ditentukan. Sasaran yang dituju ialah .punggung lawan. Sasaran ini ditetapkan dalam peraturan yang harus dipatuhi oleh setiap pemain “sampyong”. Pelanggaran terhadap peraturan tersebut dinyatakan kalah dan tidak boleh meneruskan pertandingan .

Tiga macam larangan dalam peraturan itu yang diperinci sebagai berikut :

  1. Menyebat bagian kepala, baik sengaja maupun tidak sengaja.
  2. Menyebat badan bagian depan (dada, perut), dan di bawah pusar.
  3. Pukulan “singkuran”, yakni pukulan yang dimulai gerakannya dari ketiak k\ri. (Bagi orang kidal, tentunya berlaku yang sebaliknya, tetapi hal ini tidak dinyatakan. Yang dimaksudkan tentunya sebatan atau pukulan “backhand”, kalau kita boleh meminjam istilah permainan tenis atau bulu tangkis. Jadi yang diperkenankan hanya pukulan “forehand”).

Selesai semua penjelasan, diadakan “suten” untuk menentukan siapa yang akan menyebat lebih dulu. Kedua lawan saling bersalaman, tetabuhan dibunyikan, maka mulailah permainan “sampyong” Kedua pemain memperlihatkan gaya masing-masing.
Seorang mempertahankan diri, siap mengelak atau menangkis dengan rotannya terhadap sebatan lawan, dan seorang lainnya berusaha mencari kelengahan lawan dan sasaran yang tepat. Penyehatan dilakukan :ara bergilir-ganti setelah tiap tiap pukulan, kena atau tidak kena. telah jumlah sebatan yang ditentukan telah selesai, berhentilah per- linan. Kedua pemain dipersilahkan membungkukkan badannya tuk memberi kesempatan kepada juri mengamati dan menghitung kas-bekas sebatan untuk menentukan pemenangnya. Pemenang mendapatkan hadiahnya, dan dengan ucapan terima kasih dari lak juri, kedua jago itu pun saling bersalaman lagi, lalu turun panggung. Kedua pelandang sementara itu memanggil jago-jago berikut- a dan demikianlah permainan diulangi seperti yang pertama.

Latar Belakang Sosial Budaya dan Sejarah Perkembangannya.

Di muka telah disinggung, bahwa daerah Jawa Ujung Timur Uah daerah Mendhalungan, daerah campuran Jawa — Madura. Na- m hasil campuran tersebut sejauh ini tidak mengalami asimilasi npurna. Demikianlah misalnya selain pihak yang satu masih tetap mbanggakan asal kemaduraannya, dan pihak lainnya asal keja- annya pun nyatanya masih digunakan dwi – bahasa ibu : bahasa dura dan bahasa Jawa. Pun dalam sikap jiwa dan karakter masing- sing masih menonjol kepribadian Madura di satu pihak, kepribadi- Jawa di pihak lain. Namun bagaimanapun juga, proses pengaruh- mpengaruhi dalam budaya dan kesenian tidak dapat dipungkiri, rna pengaruh itu pasti sedikit banyak melunturkan keasliannya, nun seberapa jauh sedikit banyaknya itu tergantung dari mayori- pihak yang mempengaruhi.

Demikianlah .misalnya daerah Situbanda, Bandawasa dan se- irnya, seni budayanya lebih berat diwarnai pengaruh kemadura- tya, karena mayoritas penduduknya Madura. Sebaliknya di Lu- jang, pengaruh Jawa terasa lebih dominan.

Begitulah kiranya “sampyong”, yang di Bandawasa dan Situ- ida disebut “Ojung” karena lebih banyak cenderung ke Madura, di najang pengaruh Jawa-nya lebih besar. Sesuai dengan pembawaan iperamen kedua suku bangsa tersebut, Madura yang keras dan igasan,Jawa yang halus lembut, maka permainan jenis “Ojung’

nenep yang “kejam” dan “ganas” itu, di Lumajang karena dominasi kejawaannya, dihalus-lembutkan menjadi “sampyong” yang (barangkali) berasal dari kata Jawa “sampyong”, yang artinya : hebat dan sengit, namun masih dalam batas-batas permainan. Tidak ber- sungguh-sungguh, Penampilannya pun lalu tidak seganas dan sekejam “Ojung” di Sumenep. Maka jelaslah, bahwa “sampyong” berbeda corak dan karakter daripada “Ojung”.

Kalau permainan “ojung” yang semula dibawa oleh para mi­gran Madura ke Jawa, lantas di daerah Lumajang selatan dapat ludup dalam bentuk “sampyong”, kiranya bukan suatu hal yang menghe­rankan. Sebab pola permainan sebat menyebat dengan memperguna­kan alat cambuk, di Jawa tidak asing, yaitu permainan “tiban” di daerah Trenggalek, Tulungagung, Kediri, dan Blitar, yang kebetulan daerah-daerah tersebut relatif tidak begitu jauh dari Lumajang selatan

Bahwa “sampyong” dilakukan oleh masyarakat tani dalani rangka upacara ritual minta hujan, hal itu memang dihubungkan dengan sumber naluri tradisional aslinya pada “ojung” di Madura, dan “tiban” di Jawa. Namun yang jelas, sifat “upacara” yang sung­guh-sungguh penuh kekhusyukan dan kehidmatan, pada “sampyong ” sudah kabur sama sekali, justru karena namanya itu.

PERMAINAN RAKYAT DAERAH JAWA-TIMUR; DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL PROYEK INVENTARISASI DAN DOKUMENTASI KEBUDAYAAN DAERAH 1983 – 1984, hlm. 161-169

Ranu Lumajang

Fatamorgana Biru di Ranu Lumajang

Alam yang masih memberi nuansa keindahan tak terkira. Namun, keindahan itu kadang tak tertangkap, sehingga tiap obyeknya jadi merana. Nuansa serupa tengah dialami kawasan segitiga ranu, obyek wisata alam di Lumajang. Keindahan alam yang terhampar di Ranu Klakah, satu dari segitiga ranu (telaga, danau), yang terletak di desa Tegalrandu, Kecamatan Ranu Klakah Kabupaten Lumajang. Begitu indah bersama dengan mulai tersembur nya sinar mentari pagi. Ranu yang luasnya 22 hektar ini, terletak di sebelah utara kota Lumajang, dengan jarak tempuh 18 kilometer dari kota, atau hanya 2 kilometer ke arah timur Kecamatan Klakah.

Obyek ini berada pada ketinggian sekitar 900 meter dan permukaan laut (dpi) dan kedalaman 28 meter, dilatarbelakangi oleh Gunung Lamongan dengan ketinggian 1.668 meter dpi, didukung oleh udara yang sejuk dan segar. Panorama yang khas berupa fatamorgana kebiruan air obyek wisata ini merupakan alternatif tujuan wisata di Jawa Timur, bila mengunjungi Bali melewati Kabupaten Jember. Disamping menikmati panoramanya, aktivitas yang dapat dilakukan sendiri ataupun bersama keluarga antara lain, joging di sepanjang tepi danau dengan fasilitas jalan beraspal, berperahu, menikmati sarana permainan anak, berolahraga tennis dan memancing. Fasilitas lainnya, terdapat hotel dengan 6 kamar, aula pertemuan, gardu pandang, dermaga dan perahu motor, dan lapangan tenis. Kadang, beraneka ragam buah- buahan nangka khas Klakah yang dijual sepanjang jalan raya menjadi daya tarik lain bagi ohyek wisata ini.

Danau ini merupakan salah satu ohyek wisata dari Kawasan Wisata Setiga Ranu. Dua ranu lainnya adalah Ranu Pakis dan Ranu Bedali, yang satu sama lain terhuhung oleb jalan yang dapat dilalui kendaraan. Ranu Klakah dan Ranu Pakis berada di Kecamatan Klakah, sedangkan Ranu Bedali terletak di Kecamatan Ranuyoso. Transportasinya mudah dicapai dengan kendaraan pribadi atau angkutan umum, baik roda dua maupun roda empat, disamping ada dokar sebagai sarana angkutan tradisional masyarakat setempat. Ranu Pakis, juga merupakan wisata air yang sangat luas dengan dukungan pemandangan luas kota Lumajang, berlatar belakang Gunung Lamongan. Kita dapat melakukan kegiatan memancing dan berperahu rakit untuk refresing, atau juga berkemah untuk akrah dengan alam. Jaraknya lehih kurang 20 kilometer dari kota Lumajang atau 2 kilometer dari Ranu Klakah.

Bila kunjungan diawali dari Ranu Klakah, sekitar 10 menit dengan herkendaraan roda dua ataupun roda empat akan sampai ke Ranu Pakis. Ohyek wisata yang terletak di Desa Ranu Pakis ini mempunyai ketinggian 600 meter.  Segitiga ranu berada di kilometer 18 arah utara kota Lumajang. Menuju segitiga ranu ini tergolong sangat mudah, karena bisa dicapai dengankendaraan roda empat atau dua. Bila berangkat dari kota Lumajang, Bisa melewati jalan Raya Ranu Klakah. Setelah melewati pasar di tepi jalan raya, bisa mengikuti belokan jalan pertigaan ke kanan. Setelah belokan itu, tinggal mengikuti jalan desa yang cukup asri. Di kiri-kanan jalan akan menyaksikan desa-desa dengan kehidupannya yang khas. Di samping juga lebatnya pepohonan yang memayungi sepanjang jalan. Setelah itu akan langsung menemukan Taman Wisata Ranu Klakah. dinamakan Ranu Klakah itu.

Setelah puas menikmati pemandangan di Ranu Klakah, anda bisa melanjutkan perjalanan ke Ranu Pakis, dengan mengikuti jalan lurus ke arah kanan, kira-kira 2 kilometer. Ada banyak bagian yang bisa dinikmati keindahannya di ranu ini. Namun, kurang lengkap rasanya kalau tidak menyaksikan juga Ranu Bedali. Untuk mencapainya dari Ranu Pakis, anda harus putar balik ke arah Ranu Klakah, dan langsung menyusuri jalanan desa sekitar 7 kilometer. Tapi jangan sampai kebablasan, ketika ada gardu loket masuk, di sebelah kanan, anda harus turun untuk kemudian menikmati panorama indah di Ranu Bedali. Untuk mencapai tepi ranu dengan menuruni jalan berbatu yang curam dan panjang. Kalau dari arah Surabaya, maka bisa masuk melalui jalan pertigaan di Raya Ranuyoso ke kiri. Melalui jalur ini akan menemui Ranu Bedali untuk pertama kalinya. Baru bisa meneruskan perjalanan ke Ranu Klakah, kemudian ke Ranu Pakis.

Dari pojok jalan, sudah terlihat danau yang dpi, dengan luas danau 50 hektar dan kedalaman 26 meter. Masih dilatar belakangi Gunung Lamongan dan nampak lehih dekat, serta kondisi alam yang masih perawan akan menjadi daya tarik bagi pecinta lingkungan atau wisatawan yang membutuhkan udara segar. Selain rekreasi, pengunjung dapat pula menikmati ikan segar yang dijual di warung-warung sederhana di pinggir-pinggir jalan dan dapat pula dibawa untuk oleh- oleh. Ikan ini hasil budi daya masyarakat setempat pada perairan Ranu Pakis dengan sistem keramba jaring apung. Jenis ikannya mujair, nila, kakap dan tombro. Suasana alam serupa, luga bisa dinikmati di Ranu Bedali, Namun, wisata air ini kondisinya sama sekali berbeda dengan dua ranu lainnya. Lokasinya menjorok ke bawah sehingga membentuk seperti mangkok.** (smb: mosaik)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:

Ki Terik 2, Kabupaten Lamongan

Ki Terik 2

Latar belakang , Latar belakang , Upacara Tradisional Mendhak/ Nyanggring di Desa Tlemang, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan , Propinsi Jawa Timur,  Versi yang kedua.

Menurut sebagian warga masyarakat Desa Tlemang yang lain, mengatakan bahwa Ki Terik itu pada ma­sa mudanya bernama Raden Panji Putro. Beliau ini masih termasuk salah satu diantara putra saudara muda raja Mataram.

Mengenai bagaimana Raden Panji Putro itu dapat sampai di Desa Tlemang, ceriteranya sebagai berikut. Dahulu, raja Mataram mempunyai seorang putri yang sakit buduk (kusta). Karena raja merasa malu, putri ini dibuang ke te­ngah laut dengan sebuah perahu. Namun karena nasib baik, ia di­tolong oleh seorang pedagang Belanda dan dipelihara sampai sem- buh. Bahkan setelah sembuh, putri tersebut diambil menjadi istri-
nya.

Dari hubungan perkawinan antara pedagang Belanda dengan putri raja Mataram yang dibuang itu lahirlah seorang anak yang bernama New Steber. Setelah besar dan atas petunjuk ibunya, New Steber meminta warisan sebagian tanah kepada raja Mataram. Karena dapat membuktikan bahwa ia masih cucunya sendiri, maka permintaan New Steber dikabulkan oleh raja Mataram.

Keputusan raja ini ternyata ditentang oleh saudaranya (adik-nya), sehingga terjadilah pertengkaran dan bahkan konflik fisik antara kelompok New Steber (Belanda) dengan keluarga paman- nya. Dalam konflik fisik ini New Steber yang dibantu oleh pa-
sukan Kompeni Belanda berhasil membunuh pamannya.

Namun tiga orang anaknya berhasil lari menyelamatkan diri. Ketiga orang bersaudara ini lari ke timur dan mengembara hingga sampai ke daerah wilayah Lamongan. Salah satu dari ketiga orang bersaudara itu bernama Raden Panji Putro. Dalam pengembaraannya itu Raden Panji Putro ber-hasil membuka hutan di witeyah Desa Tlemang sekarang. Bahkan kemudian oleh masyarakat Desa Tlemang Beliau diangkat menjadi pimpinannya.

Raden Panji Putro memang terkenal sebagai sakti dan dikagu-mi oleh warga masyarakat Desa Tlemang. Beliau dapat menum-buhkan daun muda pada setiap tongkat atau kayu yang sudah ke-ring, apabila tongkat atau kayu itu ditancangkan ke dalam tanah.Karena kemampuannya itulah kemudian sampai sekarang Raden Panji Putro dikenal dengan sebutan atau nama Ki Terik. (Terik artinya thukul atau tumbuh).

Seperti halnya Raden Panji Putro kedua saudaranya juga me- miliki kesaktian. Yang seorang dapat menumbuhkan sumber air, sehingga kemudian ia dikenal sebutan Ki Ngembes atau Ki Bromo-gedali. Sedangkan yang seorang lagi dapat menciptakan api, sehing-ga kemudian ia lebih dikenal dengan sebutan Ki Bromogeni. Se-lanjutnya Ki Bromogeni berkedudukan di Nyungyang dan Ki Bro-mogedali berkedudukan di Ngembes.

Setelah tiga orang bersaudara itu berhasil menyelamatkan diri dan membuka hutan untuk daerah pemukiman baru, maka mereka mengadakan upacara selamatan. Upacara  Selamatan ini dimaksud kan sebagai sarana mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melindungi dari bencana, dan selain itu juga se­bagai cara wisuda bagi kepemimpinan Ki Terik di wilayah Desa Tlemang.

Perlu dijelaskan di sini, bahwa mengingat daerah baru yang dibuka ini belum banyak menghasilkan, maka upacara selamatan wisuda diadakan secara sederhana atau seadanya saja. Bahkan yang memasakpun hanya terdiri dari kaum laki-laki saja. Namun demi­kian, upacara selamatan ini dapat dilaksanakan dengan hikmat dan mendapat dukungan dari semua warga masyarakat. Kegiatan upacara selamatan inilah oleh masyarakat setempat diberi nama selamatan Nyanggring dan dileluri sampai sekarang.

Terlepas dari kebenaran dua versi ceritera tersebut di atas, ternyata sampai sekarang, meskipun Ki Terik telah tiada, Beliau masih tetap dihormati oleh warga masyarakat Desa Tlemang. Ki Terik selain dianggap memiliki kesaktian yang istimewa, Beliau juga dianggap sebagai cikal bakal Desa Tlemang. Oleh sebab itulah setiap tahun sekali yaitu pada tanggal 27 Jumadilawal masyarakat Desa Tlemang menyelenggarakan Upacara tradisional Mendhak atau Nyanggring.

Adapun maksud dan tujuan diselenggarakan Upacara Tradisio­nal Mendhak/Nyanggring ialah untuk menyatakan rasa syukur ke pada Tuhan Yang Maha Esa atas keselamatan dan rejeki yang telah diterima oleh warga masyarakat Desa Tlemang. Selain itu, upacara ini juga untuk memperingati hari wisuda Ki Terik sewaktu Beliau diangkat menjadi pimpinan masyarakat Desa Tlemang.

Bagi warga masyarakat Desa Tlemang, hari wisudanya Ki Terik menjadi pimpinan ini memang sangat penting arti nya, ka­rena peristiwa itu merupakan awal adanya tatanan baru yang sa­ngat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat. Setelah Ki Te­rik resmi menjadi pimpinan, kehidupan dalam masyarakat menjadi tentram penuh kesejahteraan lahir dan batin.

Semua brandal yang selama ini menjadi perusuh menjadi takut dan kembali ke jalan yang benar. Mereka bersama-sama dengan warga yang lain ikut membangun desa dalam berbagai aspek kehidupan. Oleh ka­rena itu, sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada Ki Terik dan untuk menghormat arwah Beliau, maka diselenggarakanlah Upaca­ra Mendhak/Nyanggring

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Upacara Tradisional Mendhak/ Nyanggring di Desa Tlemang, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan , Propinsi Jawa Timur. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Th. 1991, hlm 35-37