Motif Batik Khas Madiun

Madiun memiliki motif yang melambangkan tentang Madiun, pada akhir tahun 1991, Madiun telah memiliki motif batik yang pertama yakni motif batik kenanga. Dalam perkembangannya motif batik kenanga mengalami kemunduran, untuk menarik antusias masyarakat khususnya Madiun, pemerintah Madiun melakukan pencarian motif dengan mengadakan lomba menggambar motif batik yang bertemakan tentang Madiun. Hasil yang diharapkan adalah dapat melestarikan batik juga dapat melestarikan pengetahuan tentang Madiun. Pengumuman penemuan motif baru batik khas Madiun yang diperoleh dari hasil lomba tersebut, oleh pemerintah diabadikan menjadi seragam kerja agar masyarakat luas umumnya dan masyarakat Madiun khusunya mengetahui dan ikut melestarikan motif batik khas Madiun.  Motif batik Madiun yang tergolong baru ini dikenalkan kepada masyarakat luas. Motif batik khas Madiun memiliki pengetahuan tentang Madiun yang perlu dilestarikan.

Sumber Ide Motif Batik Khas Madiun
Motif Batik Keris
Motif batik keris yang merupakan hasil perlombaan dengan tema Madiun ini, terinspirasi dari kebudayaan Madiun berupa pusaka keris warisan babad Madiun. Keris yang di Madiun mempunyai nama Keris Tundhung Madiun ini merupakan senjata dari pahlawan wanita Madiun bernama Raden Ayu Retno Dumilah. Berdasarkan ulasan di atas dapat disimpulkan bahwa sumber ide yang menjadi inspirasi motif batik keris adalah cerita sejarah, dalam hal ini cerita tentang babad Madiun.

Motif Batik Porang
Pada tahun 1991 berkembang motif batik kenanga, tidak ada pengaruh dari daerah lain karena kenanga diambil dari nama desa Kenongorejo dan Madiun memiliki banyak tumbuhan kenanga. Tahun 2009, motif batik Madiun mengalami perkembangan motif baru yang menjadi motif batik khas Madiun yakni motif batik porang dan serat sengon. Sumber ide berasal dari tumbuhan hasil kehutanan dan perkebunan yang menjadi produk unggulan Madiun dan diperdagangkan. Berkebun merupakan salah satu budaya Madiun, dari hasil berkebun didapatkan tumbuhan porang.

Kaitan Motif – Motif Batik Khas Madiun Dengan Kebudayaan Madiun 

Motif Batik Keris
Motif batik keris sebagai motif batik khas Madiun diperoleh dari hasil perlombaan yang diadakan pada tahun 2002.  Keris Tundhung Madiun yang menjadi motif batik adalah warisan budaya saat babad Madiun. Keris merupakan pusaka warisan kebudayaan Madiun yang merupakan senjata pahlawan wanita Madiun yaitu Raden Ayu retno Dumilah.

Motif Batik Porang
Motif batik pertama adalah motif batik kenanga yang lahir pada tanggal 7 Oktober 1991.Motif batik khas Madiun mengalami perkembangan, ditandai dengan munculnya motif batik porang, serat jati atau serat sengon tahun 2009. Porang, serat jati atau serat sengon merupakan tumbuhan hasil kehutanan dan perkebunan yang menjadi produk unggulan. Berkebun merupakan salah satu kebudayaan Madiun. Tumbuhan hasil berkebun inilah yang menjadi sumber inspirasi dalam pembuatan motif batik, karena .Madiun menjadi pengekspor porang ke Jepang. Apresiasi atas ekspor yang mencapai mancanegara, tumbuhan porang yang menjadi icon Madiun dituangkan menjadi motif batik.

Ciri – Ciri Motif Batik Khas Madiun Ditinjau Dari Ornamen Utama, Ornamen Pelengkap, Isen-Isen Dan Warna
Motif Batik Keris
Keris pada motif batik  khas madiun terinspirasi dari cerita sejarah berupa peninggalan atau warisan budaya Madiun berupa pusaka keris Tundhung Madiun. Keris pada motif digambarkan secara utuh, dan divariasikan dengan berbagai ragam hias. Keris pada seragam kerja pemerintah kota Madiun divariasikan dengan ragam hias non-geometris berupa selendang dan tombak, motif berupa bunga melati, ragam geometris berupa matahari. Keris pada kain batik  juga divariasikan dengan ragam hias non-geometris berupa selendang dan tombak, ragam geometris berupa matahari dan motif bunga. Ragam hias selendang menggambarkan keanggunan Retno Dumilah.

Seragam Kerja Pemerintah Kota Madiun

  • Ragam Hias Utama Ragam hias utama pada seragam kerja pemerintah kota Madiun adalah motif Keris Tundhung Madiun. Penggambaran keris ditampilkan secara utuh yang dihiasi dengan ornamen lidah api di sekelilingnya.
  • Ragam Hias Pelengkap Ragam hias pelengkap pada motif keris tundhung Madiun adalah ragam hias non-geometris berupa selendang dan tombak, motif berupa bunga melati, ragam geometris berupa matahari.
  • Ragam Hias Isen Ragam hias isen pada seragam pemerintah kota Madiun ini terdapat di seluruh ragam hias utama maupun ragam hias pelengkap. Ragam hias isen yang digunakan pada motif ini adalah cecek, cecek sawut, cecek sawut daun, dan sisik.
  • Warna Warna yang digunakan pada motif ini adalah warna biru muda sebagai dasar. Ragam hias utama menggunakan warna hitam dan pada ragam hias pelengkap menggunakan warna hitam dan putih yang dipadupadankan menjadi kesatuan sedangkan ragam hias isen menggunakan warna putih.

Motif Batik Porang
Motif Batik Porang Motif batik khas Madiun adalah motif batik porang, serat jati atau serat sengon, tumbuhan hasil berkebun inilah yang menjadi sumber inspirasi dalam pembuatan motif batik.Tumbuhan porang pada motif digambarkan secara utuh, dan divariasikan dengan berbagai ragam hias. Ragam hias khas yang dipadupadankan dengan motif batik porang adalah kenanga, karena bunga kenanga adalah motif batik pertama Madiun yang tercipta pada tahun 1991. Porang pada seragam kerja Dinas Kehutanan dan Perkebunan Madiun divariasikan dengan ragam hias tumbuhan, antara lain serat sengon atau jati dan kakao. Ragam hias tersebut juga merupakan hasil kehutanan dan perkebunan Madiun yang bernama KASEPO (Kakao, Sengon, dan Porang). Porang pada kain batik mempunyai variasi ragam hias tumbuhan yang bermacam- macam.

Seragam Kerja Dinas Kehutanan dan Perkebunan Madiun

  • Ragam hias utama pada seragam kerja Dinas Kehutanan dan Perkebunan Madiun adalah tumbuhan porang yang digambarkan secara utuh, lengkap dengan bunga dan buah porangnya.
  • Ragam Hias Pelengkap Ragam hias pelengkap pada seragam kerja Dinas Kehutanan dan Perkebunan Madiun adalah ragam hias tumbuhan. Ragam hias pelengkap memiliki 3 komponen, yaitu kakao, serat sengon dan bunga serta daun kenanga.
  • Ragam Hias Isen Ragam hias isen yang digunakan pada ragam hias utama adalah isen kontemporer dan ukel, sedangkan ragam hias isen yang mengelilingi ragam hias utama adalah cecek, kembang jeruk.
  • Warna hijau tua digunakan sebagai dasar batik seragam kerja. Ragam hias utama menggunakan warna hijau muda yang dipadupadankan dengan putih menjadi satu kesatuan dan bunganya bewarna hijau lumut. Ragam hias pelengkap, bunga kenanga berwarna putih dan daunnya bewarna hijau muda. Kakao memiliki warna hijau dan serat sengon digambarkan dengan warna putih. Ragam hias isen yang mengelilingi ragam hias utama maupun yang mengisi ragam hias utama menggunakan warna putih.

Motif Batik Khas Madiun  Sumber Ide Motif Batik Khas Madiun Motif

Batik Keris

Motif Batik Keris merupakan motif batik khas kota Madiun yang tercipta dari hasil perlombaan yang diadakan pada tahun 2002, pada masa jabatan Walikota Drs. H. Ahmad Ali  (1999 sampai 2004 ). Perlombaan ini diadakan untuk meningkatkan kreatifitas masyarakat dan sebagai upaya pelestarian  kebudayaan  Madiun. Motif batik khas Madiun tersusun dari motif yang bersumber ide cerita sejarah sesuai dengan kebudayaan Madiun tanpa ada pengaruh dari daerah lain. Cerita sejarah yang dimaksud adalah mengenai kebudayaan Madiun, tepatnya peninggalan atau warisan budaya Madiun berupa keris tundhung Madiun. Keris Tundhung Madiun adalah senjata pahlawan wanita Madiun yaitu Raden Ayu Retno Dumilah. Motif batik khasnya berupa motif non geometris. 

Motif Batik Porang
Motif Batik Porang merupakan motif batik khas kabupaten Madiun yang tercipta tahun 2009, pada masa jabatan Bupati H. Muhtarom S.Sos. (2008 sampai sekarang). Pencanangan ini adalah bentuk upaya  pemerintah untuk melestarikan kebudayaan Madiun. Sumber ide berasal dari hasil kehutanan dan perkebunan yang menjadi produk unggulan Madiun dan diperdagangkan dan diperoleh dari tumbuhan yang hidup dikawasan hutan dan kebun di wilayah Madiun Motif batik khas Madiun tersusun dari motif yang bersumber ide flora yang berkembang sesuai dengan kebudayaan Madiun tanpa ada pengaruh dari daerah lain. Tumbuhan hasil berkebun inilah yang menjadi sumber inspirasi dalam pembuatan motif batik, karena .Madiun menjadi pengekspor porang ke Jepang. Motif batik khasnya berupa motif non geometris, berupa ragam hias tumbuhan baik naturalis maupun stilasi. 

Kaitan Motif – Motif Batik Khas Madiun Dengan Kebudayaan Madiun 

Motif Batik Keris 
Keris Tundhung Madiun yang menjadi motif batik adalah pusaka warisan kebudayaan Madiun. Tahun 2002, pada masa jabatan Walikota Drs. H. Ahmad Ali  (1999 sampai 2004 ) Kota Madiun mengadakan perlombaan untuk menemukan motif batik khas Madiun untuk meningkatkan kreatifitas masyarakat dan sebagai upaya pelestarian  kebudayaan  Madiun.  Cerita sejarah yang menjadi sumber ide adalah keris Tundhung Madiun, sebuah pusaka warisan kebudayaan Madiun. Keris merupakan senjata pahlawan wanita Madiun yaitu Raden Ayu Retno Dumilah.

Motif Batik Porang
Kebudayaan Madiun salah satunya ialah berkebun, dari hasil berkebun. Motif batik khas Madiun yang pertama kali tercipta pada tahun 1991 dan diberi nama motif batik kenanga dan pada tahun 2009 berkembang motif batik porang dan serat sengon sebagai ikon perdagangan kabupaten Madiun Madiun menjadi pengekspor porang ke Jepang. Motif batik khas Madiun tersusun dari motif yang bersumber ide flora yang berkembang sesuai dengan kebudayaan Madiun tanpa ada pengaruh dari daerah lain. Karena porang, serat jati atau serat sengon diperoleh dari hasil hutan dan perkebunan di Madiun.

Ciri – Ciri Motif Batik Khas Madiun Ditinjau Dari Ornamen Utama, Ornamen Pelengkap, Isen-Isen Dan Warna Ragam hias yang digunakan pada batik khas Madiun yaitu :

Motif Batik Keris 

  • Ragam Hias Utama: Ragam hias yang digunakan sebagai ragam hias utama pada motif batik khas Madiun cerita sejarah. Ragam hias yang digunakan adalah pusaka warisan kebudayaan Madiun berupa keris yang bernama keris Tundhung Madiun. Berdasarkan pendapat Susanto (1980: 212) ragam hias utama umumnya ragam hias lebih besar daripada ragam hias pelengkap. Pada ragam hias motif batik keris hal tersebut tidak berlaku, karena pada kain batik keris I dan II ragam hias utama berupa keris lebih kecil daripada ragam hias pelengkap.
  • Ragam Hias Pelengkap: Ragam hias pelengkap batik Madiun menggunakan ragam non geometris. Motif berupa bunga melati yang menjadi simbol keanggunan bupati wanita Madiun, Raden Ayu Retno Dumilah. Sedangkan ragam hias non geometris berupa tombak dan selendang milik Raden Ayu retno Dumilah yang menjadi simbol keanggunan dan keberanian Madiun. Ragam hias pelengkap mengandung unsur kebudayaan, karena berkaitan erat dengan cerita sejarah.
  • Ragam Hias Isen: Motif batik khas Madiun menggunakan berbagai macam isen – isen, yaitu pada motif batik keris menggunakan sisik, cecek sawut, dan cecek sawut daun, isen kontemporer, cecek, dan truntum.
  • Warna Motif Batik Keris: Warna Motif Batik Keris Warna yang digunakan pada batik khas Madiun menggunakan zat warna sintetis atau kimia buatan yang bermacam– macam. Warna pada ragam hiasnya, tidak selalu sesuai dengan obyek sumber ide karena sesuai dengan selera pengrajin. Warna batik Madiun tidak ada yang di patenkan, terkadang warna yang diproduksi sesuai keinginan konsumen. Sehingga batik Madiun memiliki kecenderungan digolongkan sebagai batik pesisiran, karena warna yang sering digunakan sebagai latar batik Madiun berupa motif batik keris adalah biru. Warna biru melambangkan warna kota Madiun yang diapit oleh dua gunung, Wilis dan Lawu.

Motif Batik Porang

  • Ragam Hias Utama: Ragam hias yang digunakan sebagai ragam hias utama pada motif batik khas Madiun adalah ragam hias tumbuhan. Ragam hias yang digunakan adalah tumbuhan yang hidup di sekitar kota dan kabupaten Madiun yakni bunga kenanga, porang dan sengon. Tumbuhan yang digunakan sebagai ragam hias tersebut erat kaitannya dengan kebudayaan Madiun, yaitu berkebun.
  • Ragam Hias Pelengkap: Ragam hias pelengkap batik Madiun menggunakan ragam hias non geometris. Ragam hias tumbuhan diambil dari tumbuhan kebangaan Madiun, berupa bunga kenanga yang menjadi motif batik pertama Madiun Ragam hias pelengkap mengandung unsur kebudayaan.
  • Ragam Hias Isen: Motif batik khas Madiun menggunakan berbagai macam isen – isen, yaitu pada motif batik porang menggunakan, cecek sawut, cecek – cecek dan cecek sawut daun, isen kontemporer, cecek, ukel dan kembang jeruk.
  • Warna Motif Batik Porang: Warna yang digunakan pada batik khas Madiun menggunakan zat warna sintetis atau kimia buatan yang bermacam – macam. Warna pada ragam hiasnya, tidak selalu sesuai dengan sumber ide karena sesuai dengan selera pengrajin. Warna batik Madiun tidak ada yang di patenkan, terkadang warna yang diproduksi sesuai keinginan konsumen, karena itu batik Madiun lebih cenderung digolongkan menjadi batik pesisiran. Warna yang sering digunakan sebagai latar batik Madiun berupa motif batik porang adalah hijau. Warna hijau melambangkan kabupaten Madiun yang memiliki banyak kawasan hutan dan perkebunan sebagai icon perdagangan.

——————————————————————————————eJournal Vol. 02 No. 01 Th. 2013, Edisi Yudisium Periode Februari 2013, Hal 65-71
Motif Batik Khas Madiun./Himmatul Hanifa Mahasiswa,  Yuhri Inang Prihatina
Universitas Negeri Surabaya

Motif Batik Khas Madiun

Madiun memiliki motif yang melambangkan tentang Madiun, pada akhir tahun 1991, Madiun telah memiliki motif batik yang pertama yakni motif batik kenanga. Dalam perkembangannya motif batik kenanga mengalami kemunduran, untuk menarik antusias masyarakat khususnya Madiun, pemerintah Madiun melakukan pencarian motif dengan mengadakan lomba menggambar motif batik yang bertemakan tentang Madiun. Hasil yang diharapkan adalah dapat melestarikan batik juga dapat melestarikan pengetahuan tentang Madiun. Pengumuman penemuan motif baru batik khas Madiun yang diperoleh dari hasil lomba tersebut, oleh pemerintah diabadikan menjadi seragam kerja agar masyarakat luas umumnya dan masyarakat Madiun khusunya mengetahui dan ikut melestarikan motif batik khas Madiun.  Motif batik Madiun yang tergolong baru ini dikenalkan kepada masyarakat luas. Motif batik khas Madiun memiliki pengetahuan tentang Madiun yang perlu dilestarikan.

Sumber Ide Motif Batik Khas Madiun
Motif Batik Keris
Motif batik keris yang merupakan hasil perlombaan dengan tema Madiun ini, terinspirasi dari kebudayaan Madiun berupa pusaka keris warisan babad Madiun. Keris yang di Madiun mempunyai nama Keris Tundhung Madiun ini merupakan senjata dari pahlawan wanita Madiun bernama Raden Ayu Retno Dumilah. Berdasarkan ulasan di atas dapat disimpulkan bahwa sumber ide yang menjadi inspirasi motif batik keris adalah cerita sejarah, dalam hal ini cerita tentang babad Madiun.

Motif Batik Porang
Pada tahun 1991 berkembang motif batik kenanga, tidak ada pengaruh dari daerah lain karena kenanga diambil dari nama desa Kenongorejo dan Madiun memiliki banyak tumbuhan kenanga. Tahun 2009, motif batik Madiun mengalami perkembangan motif baru yang menjadi motif batik khas Madiun yakni motif batik porang dan serat sengon. Sumber ide berasal dari tumbuhan hasil kehutanan dan perkebunan yang menjadi produk unggulan Madiun dan diperdagangkan. Berkebun merupakan salah satu budaya Madiun, dari hasil berkebun didapatkan tumbuhan porang.

Kaitan Motif – Motif Batik Khas Madiun Dengan Kebudayaan Madiun 

Motif Batik Keris
Motif batik keris sebagai motif batik khas Madiun diperoleh dari hasil perlombaan yang diadakan pada tahun 2002.  Keris Tundhung Madiun yang menjadi motif batik adalah warisan budaya saat babad Madiun. Keris merupakan pusaka warisan kebudayaan Madiun yang merupakan senjata pahlawan wanita Madiun yaitu Raden Ayu retno Dumilah.

Motif Batik Porang
Motif batik pertama adalah motif batik kenanga yang lahir pada tanggal 7 Oktober 1991.Motif batik khas Madiun mengalami perkembangan, ditandai dengan munculnya motif batik porang, serat jati atau serat sengon tahun 2009. Porang, serat jati atau serat sengon merupakan tumbuhan hasil kehutanan dan perkebunan yang menjadi produk unggulan. Berkebun merupakan salah satu kebudayaan Madiun. Tumbuhan hasil berkebun inilah yang menjadi sumber inspirasi dalam pembuatan motif batik, karena .Madiun menjadi pengekspor porang ke Jepang. Apresiasi atas ekspor yang mencapai mancanegara, tumbuhan porang yang menjadi icon Madiun dituangkan menjadi motif batik.

Ciri – Ciri Motif Batik Khas Madiun Ditinjau Dari Ornamen Utama, Ornamen Pelengkap, Isen-Isen Dan Warna
Motif Batik Keris
Keris pada motif batik  khas madiun terinspirasi dari cerita sejarah berupa peninggalan atau warisan budaya Madiun berupa pusaka keris Tundhung Madiun. Keris pada motif digambarkan secara utuh, dan divariasikan dengan berbagai ragam hias. Keris pada seragam kerja pemerintah kota Madiun divariasikan dengan ragam hias non-geometris berupa selendang dan tombak, motif berupa bunga melati, ragam geometris berupa matahari. Keris pada kain batik  juga divariasikan dengan ragam hias non-geometris berupa selendang dan tombak, ragam geometris berupa matahari dan motif bunga. Ragam hias selendang menggambarkan keanggunan Retno Dumilah.

Seragam Kerja Pemerintah Kota Madiun

  • Ragam Hias Utama Ragam hias utama pada seragam kerja pemerintah kota Madiun adalah motif Keris Tundhung Madiun. Penggambaran keris ditampilkan secara utuh yang dihiasi dengan ornamen lidah api di sekelilingnya.
  • Ragam Hias Pelengkap Ragam hias pelengkap pada motif keris tundhung Madiun adalah ragam hias non-geometris berupa selendang dan tombak, motif berupa bunga melati, ragam geometris berupa matahari.
  • Ragam Hias Isen Ragam hias isen pada seragam pemerintah kota Madiun ini terdapat di seluruh ragam hias utama maupun ragam hias pelengkap. Ragam hias isen yang digunakan pada motif ini adalah cecek, cecek sawut, cecek sawut daun, dan sisik.
  • Warna Warna yang digunakan pada motif ini adalah warna biru muda sebagai dasar. Ragam hias utama menggunakan warna hitam dan pada ragam hias pelengkap menggunakan warna hitam dan putih yang dipadupadankan menjadi kesatuan sedangkan ragam hias isen menggunakan warna putih.

Motif Batik Porang
Motif Batik Porang Motif batik khas Madiun adalah motif batik porang, serat jati atau serat sengon, tumbuhan hasil berkebun inilah yang menjadi sumber inspirasi dalam pembuatan motif batik.Tumbuhan porang pada motif digambarkan secara utuh, dan divariasikan dengan berbagai ragam hias. Ragam hias khas yang dipadupadankan dengan motif batik porang adalah kenanga, karena bunga kenanga adalah motif batik pertama Madiun yang tercipta pada tahun 1991. Porang pada seragam kerja Dinas Kehutanan dan Perkebunan Madiun divariasikan dengan ragam hias tumbuhan, antara lain serat sengon atau jati dan kakao. Ragam hias tersebut juga merupakan hasil kehutanan dan perkebunan Madiun yang bernama KASEPO (Kakao, Sengon, dan Porang). Porang pada kain batik mempunyai variasi ragam hias tumbuhan yang bermacam- macam.

Seragam Kerja Dinas Kehutanan dan Perkebunan Madiun

  • Ragam hias utama pada seragam kerja Dinas Kehutanan dan Perkebunan Madiun adalah tumbuhan porang yang digambarkan secara utuh, lengkap dengan bunga dan buah porangnya.
  • Ragam Hias Pelengkap Ragam hias pelengkap pada seragam kerja Dinas Kehutanan dan Perkebunan Madiun adalah ragam hias tumbuhan. Ragam hias pelengkap memiliki 3 komponen, yaitu kakao, serat sengon dan bunga serta daun kenanga.
  • Ragam Hias Isen Ragam hias isen yang digunakan pada ragam hias utama adalah isen kontemporer dan ukel, sedangkan ragam hias isen yang mengelilingi ragam hias utama adalah cecek, kembang jeruk.
  • Warna hijau tua digunakan sebagai dasar batik seragam kerja. Ragam hias utama menggunakan warna hijau muda yang dipadupadankan dengan putih menjadi satu kesatuan dan bunganya bewarna hijau lumut. Ragam hias pelengkap, bunga kenanga berwarna putih dan daunnya bewarna hijau muda. Kakao memiliki warna hijau dan serat sengon digambarkan dengan warna putih. Ragam hias isen yang mengelilingi ragam hias utama maupun yang mengisi ragam hias utama menggunakan warna putih.

Motif Batik Khas Madiun  Sumber Ide Motif Batik Khas Madiun Motif

Batik Keris

Motif Batik Keris merupakan motif batik khas kota Madiun yang tercipta dari hasil perlombaan yang diadakan pada tahun 2002, pada masa jabatan Walikota Drs. H. Ahmad Ali  (1999 sampai 2004 ). Perlombaan ini diadakan untuk meningkatkan kreatifitas masyarakat dan sebagai upaya pelestarian  kebudayaan  Madiun. Motif batik khas Madiun tersusun dari motif yang bersumber ide cerita sejarah sesuai dengan kebudayaan Madiun tanpa ada pengaruh dari daerah lain. Cerita sejarah yang dimaksud adalah mengenai kebudayaan Madiun, tepatnya peninggalan atau warisan budaya Madiun berupa keris tundhung Madiun. Keris Tundhung Madiun adalah senjata pahlawan wanita Madiun yaitu Raden Ayu Retno Dumilah. Motif batik khasnya berupa motif non geometris. 

Motif Batik Porang
Motif Batik Porang merupakan motif batik khas kabupaten Madiun yang tercipta tahun 2009, pada masa jabatan Bupati H. Muhtarom S.Sos. (2008 sampai sekarang). Pencanangan ini adalah bentuk upaya  pemerintah untuk melestarikan kebudayaan Madiun. Sumber ide berasal dari hasil kehutanan dan perkebunan yang menjadi produk unggulan Madiun dan diperdagangkan dan diperoleh dari tumbuhan yang hidup dikawasan hutan dan kebun di wilayah Madiun Motif batik khas Madiun tersusun dari motif yang bersumber ide flora yang berkembang sesuai dengan kebudayaan Madiun tanpa ada pengaruh dari daerah lain. Tumbuhan hasil berkebun inilah yang menjadi sumber inspirasi dalam pembuatan motif batik, karena .Madiun menjadi pengekspor porang ke Jepang. Motif batik khasnya berupa motif non geometris, berupa ragam hias tumbuhan baik naturalis maupun stilasi. 

Kaitan Motif – Motif Batik Khas Madiun Dengan Kebudayaan Madiun 

Motif Batik Keris 
Keris Tundhung Madiun yang menjadi motif batik adalah pusaka warisan kebudayaan Madiun. Tahun 2002, pada masa jabatan Walikota Drs. H. Ahmad Ali  (1999 sampai 2004 ) Kota Madiun mengadakan perlombaan untuk menemukan motif batik khas Madiun untuk meningkatkan kreatifitas masyarakat dan sebagai upaya pelestarian  kebudayaan  Madiun.  Cerita sejarah yang menjadi sumber ide adalah keris Tundhung Madiun, sebuah pusaka warisan kebudayaan Madiun. Keris merupakan senjata pahlawan wanita Madiun yaitu Raden Ayu Retno Dumilah.

Motif Batik Porang
Kebudayaan Madiun salah satunya ialah berkebun, dari hasil berkebun. Motif batik khas Madiun yang pertama kali tercipta pada tahun 1991 dan diberi nama motif batik kenanga dan pada tahun 2009 berkembang motif batik porang dan serat sengon sebagai ikon perdagangan kabupaten Madiun Madiun menjadi pengekspor porang ke Jepang. Motif batik khas Madiun tersusun dari motif yang bersumber ide flora yang berkembang sesuai dengan kebudayaan Madiun tanpa ada pengaruh dari daerah lain. Karena porang, serat jati atau serat sengon diperoleh dari hasil hutan dan perkebunan di Madiun.

Ciri – Ciri Motif Batik Khas Madiun Ditinjau Dari Ornamen Utama, Ornamen Pelengkap, Isen-Isen Dan Warna Ragam hias yang digunakan pada batik khas Madiun yaitu :

Motif Batik Keris 

  • Ragam Hias Utama: Ragam hias yang digunakan sebagai ragam hias utama pada motif batik khas Madiun cerita sejarah. Ragam hias yang digunakan adalah pusaka warisan kebudayaan Madiun berupa keris yang bernama keris Tundhung Madiun. Berdasarkan pendapat Susanto (1980: 212) ragam hias utama umumnya ragam hias lebih besar daripada ragam hias pelengkap. Pada ragam hias motif batik keris hal tersebut tidak berlaku, karena pada kain batik keris I dan II ragam hias utama berupa keris lebih kecil daripada ragam hias pelengkap.
  • Ragam Hias Pelengkap: Ragam hias pelengkap batik Madiun menggunakan ragam non geometris. Motif berupa bunga melati yang menjadi simbol keanggunan bupati wanita Madiun, Raden Ayu Retno Dumilah. Sedangkan ragam hias non geometris berupa tombak dan selendang milik Raden Ayu retno Dumilah yang menjadi simbol keanggunan dan keberanian Madiun. Ragam hias pelengkap mengandung unsur kebudayaan, karena berkaitan erat dengan cerita sejarah.
  • Ragam Hias Isen: Motif batik khas Madiun menggunakan berbagai macam isen – isen, yaitu pada motif batik keris menggunakan sisik, cecek sawut, dan cecek sawut daun, isen kontemporer, cecek, dan truntum.
  • Warna Motif Batik Keris: Warna Motif Batik Keris Warna yang digunakan pada batik khas Madiun menggunakan zat warna sintetis atau kimia buatan yang bermacam– macam. Warna pada ragam hiasnya, tidak selalu sesuai dengan obyek sumber ide karena sesuai dengan selera pengrajin. Warna batik Madiun tidak ada yang di patenkan, terkadang warna yang diproduksi sesuai keinginan konsumen. Sehingga batik Madiun memiliki kecenderungan digolongkan sebagai batik pesisiran, karena warna yang sering digunakan sebagai latar batik Madiun berupa motif batik keris adalah biru. Warna biru melambangkan warna kota Madiun yang diapit oleh dua gunung, Wilis dan Lawu.

Motif Batik Porang

  • Ragam Hias Utama: Ragam hias yang digunakan sebagai ragam hias utama pada motif batik khas Madiun adalah ragam hias tumbuhan. Ragam hias yang digunakan adalah tumbuhan yang hidup di sekitar kota dan kabupaten Madiun yakni bunga kenanga, porang dan sengon. Tumbuhan yang digunakan sebagai ragam hias tersebut erat kaitannya dengan kebudayaan Madiun, yaitu berkebun.
  • Ragam Hias Pelengkap: Ragam hias pelengkap batik Madiun menggunakan ragam hias non geometris. Ragam hias tumbuhan diambil dari tumbuhan kebangaan Madiun, berupa bunga kenanga yang menjadi motif batik pertama Madiun Ragam hias pelengkap mengandung unsur kebudayaan.
  • Ragam Hias Isen: Motif batik khas Madiun menggunakan berbagai macam isen – isen, yaitu pada motif batik porang menggunakan, cecek sawut, cecek – cecek dan cecek sawut daun, isen kontemporer, cecek, ukel dan kembang jeruk.
  • Warna Motif Batik Porang: Warna yang digunakan pada batik khas Madiun menggunakan zat warna sintetis atau kimia buatan yang bermacam – macam. Warna pada ragam hiasnya, tidak selalu sesuai dengan sumber ide karena sesuai dengan selera pengrajin. Warna batik Madiun tidak ada yang di patenkan, terkadang warna yang diproduksi sesuai keinginan konsumen, karena itu batik Madiun lebih cenderung digolongkan menjadi batik pesisiran. Warna yang sering digunakan sebagai latar batik Madiun berupa motif batik porang adalah hijau. Warna hijau melambangkan kabupaten Madiun yang memiliki banyak kawasan hutan dan perkebunan sebagai icon perdagangan.

——————————————————————————————eJournal Vol. 02 No. 01 Th. 2013, Edisi Yudisium Periode Februari 2013, Hal 65-71
Motif Batik Khas Madiun./Himmatul Hanifa Mahasiswa,  Yuhri Inang Prihatina
Universitas Negeri Surabaya

Toeti Adhitama

Prahastoeti Adhitama, Lahir di  Madiun,Jawa Timur, 19 Februari 1935 beragama Islam

TUTI ADHITAMAPendidikan:
SD Cemara II, Solo (1947);
SMPI, Pekalongan (1951);
SMA Budi Utomo, Jakarta (1954);
Fakultas Sastra UIJakarta (B.A., 1951);
Universitas Virginia, AS (1962-1963);
Universitas George Washington, AS (M.A., 1914)

Karier:
Tahun (1963-1915) Toeti sebagai Penyiar radio Voice of America;
Tahun (1915-1916) sebagai Editor majalah Femina;
Penyiar TVRI (1916-sekarang);
Dosen tidak tetap Fakultas Sastra (1919—sekarang) dan
Dosen tidak tetap FISIP UI (1983—sekarang);
Wakil Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi majalah Eksekutif (1979-sekarang)
Kegiatan lain: Manajer PT InscoreAdcom (1911-1980);
Anggota Kelompok Ketja Menteri P&K(1980-1983);
Anggota Dewan Kurator LPPM (1984-sekarang)
Alamat Rumah: Jalan Cempaka Putih Tengah 21D/42, Jakarta Telp: 414142
AlamatKantor: Jalati Senopati 67 Jakarta Selatan Telp: 582357
 
Dalam suatu acara wisata keluarga di Mesir, 1975, Toeti dan kedua anaknya mengitari piramid sambil duduk di punggung unta. Balik ke tempat suaminya, menunggu bersama pemilik ketiga unta, segera terjadi perdebatan antara suami Toeti, wiraswastawan Wahyu Adhitama, dan pemilik unta, yangmenuntut sewa ekstra. “Sementara itu, kami bertiga terkatung-katung di punggung unta, tidak tahu cara turun dari punggung hewan jangkung itu,” tutur Toeti. Setelah tuntutan pemilik dituruti, dengan sedikit aba-aba, unta langsung menekuk kaki. Selamatlah Toeti dan kedua anaknya.

Sebagai ahli Komunikasi Antar-Pribadi, dan sejak 198 3 mengajarkan ilmu ini pada Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial, Universitas Indonesia, di samping memberikan kuliah Psikolinguistik di Jurusan Inggris Fakultas Sastra universitas yang sama, Toeti tenang menanggapi kejadian itu: “If was a friendly persuasion dari pemilik unta, agar suami saya membayar lebih banyak,” katanya. Dalam ilmu komunikasi, Toeti mendapat gelar Master dari Universitas George Washington, AS, 1974.
Ia sudah berpraktek di media massa sejak awal 1959, sebagai penerjemah dan penyiar Radio Australia di Melbourne. Terakhir — di samping memimpin majalah Eksekutif, Toeti masih aktif di TVRI. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa pernah memberinya penghargaan sebagai pembaca berita terbaik.
Setiap hari, Toeti memulai kesibukannya pada pukul 5 pagi. Potongan rambutnya tetap pendek, cara berpakaiannya pun selalu ringkas dan rapi. Sejak masih di SMA, penampilan Toeti sudah begitu. Ia menyukai warna putih, hitam, dan cokelat muda.
Ayahnya, Prayitno, adalah pensiunan ABRI. Toeti, anak sulung dengan empat adik, mengaku masa kecilnya tidak gemerlapan. Di zaman Revolusi Kemerdekaan, ayahnya turun ke medan. Ia dititipkan pada tantenya, dan harus berpisah dengan adik-adiknya, yangikut saudara-saudara lain.
Mereka berkumpul kembali setelah Toeti tamat SMP. Ia rajin bersenam, main boling, bridge, dan golf. Yang terakhir ini biasa dilakukannya di lapangan Rawamangun. “Seminggu, kalau lagi enak, saya bisa main golf sampai tiga kali,” katanya.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: majalah berita minggu Tempo: Apa & Siapa sejumlah orang Indonesia 1985-1986., Jakarta: Pustaka Grafitipers 1986. hlm. 108 

Sartono, Madiun

SARTONO29 Mei , Sartono lahir di Madiun, Jawa Timur, Indonesia.  Pemenang lomba cipta lagu hymne guru. Sartono tinggal rumah sederhana di Jalan Halmahera 98, Madiun.

Sartono, Putra sulung dari lima bersaudara, adiknya, Sartini, Sartinah, Sarwono dan Sarsanti,  sebenarnya dari keluarga cukup berada. Ayahnya R. Soepadi adalah Camat Lorog, Pacitan. Sehingga Sartono kecil bisa bersuka-suka bermain musik, Sartono belajar musik secara otodidak. Namun ketika ia berusia 7 tahun, Jepang menduduki Indonesia. Ayahnya pun tak lagi menjabat camat. Sartono, bersama empat tak bisa mengenyam pendidikan tinggi.

Sartono sempat bersekolah di SMA Negeri 3 Surabaya, waktu itu berada di Jl. Genteng kali 33 Surabaya.Namun tidak lanjut hanya kelas dua.

Sartono bekerja di Lokananta perusahaan rekaman dan produsen piringan hitam. “Saya Lupa tahun berapa itu, tapi saya hanya bekerja selama dua tahun saja,” kata Sartono, yang mengaku sudah susah mengingat tahun.

Sartono bergabung dengan grup musik keroncong milik TNI AU di Madiun. Ia bersama kelompok musik tentara itu pernah penghibur tentara di Irian selama tiga bulan.

Tahu 1971, Sartono menikah dengan Damiyati, BA, seorang guru PNS. Dari pernikahan mereka belum jua dikaruniai anak. Sehingga mereka mengasuh dua orang keponakan. Damiyati yang juga guru, juga seniman biasa manggung bersama Ketoprak Siswo Budoyo Tulungagung, di masa mudanya.

Tahun 1978, berbekal bakatnya di bidang musik serta sertifikat pengalaman kerja di Lokananta, perusahan pembuat piringan hitam di Solo, Jawa Tengah. Sartono yang beragama Islam mengajar musik di SMP Purna Karya Bhakti Madiun, yang belakangan lebih dikenal sebagai SMP Kristen Santo Bernadus sebagai guru honorer.

Tahun 1980, Sartono membaca koran, mengenai sayembara penciptaan lagu himne guru yang diselenggarakan Depdiknas. Hadiahnya besar untuk saat itu, Rp 750.000. Dan waktu yang tersisa dua pekan untuk merampungkan lagu.

075632_544622_Bok_Himne - CopySartono, meski tak bisa membaca not balok, ia memulai kerja keras mengarang lagu, mencermati betul setiap bait dan nada. Pada hari pertama Hari Raya Idul Fitri, Sartono tidak keluar rumah. Waktu dimanfaatkan untuk membuat lagu dan syair secara serius. Ia merasa begitu lancar membuat lagu dan menulis syairnya.

Sartono berkali- kali mengkajinya ulang, untuk mengetahui mana yang harus dibuang. Karena awalnya lirik yang ia ciptakan kepanjangan. padahal, durasi lagu tak lebih dari empat menit. “Hingga muncullah istilah “pahlawan tanpa tanda jasa. Guru itu pahlawan, namu selepas mereka berbakti tak satu pun ada tanda jasa menempel pada mereka, seperti yang ada pada polisi atau tentara. Sartono menjual jas untuk biaya pengiriman via pos. Sartono menang. “Hadiahnya berupa cek. Sesampainya di Madiun saya tukarkan dengan sepeda motor di salah satu dealer.

Tahun 2000, Sartono mendapat Piagam diberikan Menteri Pendidikan Nasional Yahya Muhaimin.

Tahun 2002,  Sartono sudah tidak mengajar lagi, Namun ia tak punya gaji pensiunan, karena statusnya bukan guru Pegawai Negeri Sipil (PNS), sampai akhir pengabdiannya

Tahun 2005, Sartono mendapat piagam dari Menteri Pendidikan Nasional Bambang Soedibyo, plus bantuan uang. sebesar enam ratus ribu rupiah. Di tahun yang sama juga mendapat piagam dari Gubernur Jawa Timur Imam Utomo, serta bantuan uang sebesar Rp 600.000, plus sebuah keyboard.

Tahun 2006 lalu, giliran Walikota Madiun yang dalam sepanjang sejarah baru kali ini memberikan perhatian kepadanya. “Pak Walikota menghadiahi saya sepeda motor Garuda,” kata Sartono seraya menunjuk sepeda motor pemberian Walikota Madiun.

Lagunya melambung, Sartono tidak. Sang pencipta tetap saja menggeluti dunia mengajar sebagai guru honorer hingga “pensiun.” Kalaulah ada penghargaan selain hadiah mencipta lagu, “cuma” beberapa lembar piagam ucapan terimakasih.

Sartono tetap bangga, meski minim perhatian, lagunya menjadi himne para guru. Pekerjaan yang dilakoninya selama 24 tahun. Pengabdian yang tak pendek bagi seorang pahlawan tanpa tanda jasa.

  • Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
  • Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
  • Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
  • Sbagai prasasti trimakasihku tuk pengabdianmu
  • Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
  • Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
  • Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa

“pahlawan tanpa tanda jasa” akhirnya menjadi ikon yang disematkan pada para guru. Siapa sangka “sang pahlawan” yang tanpa tanda jasa itu sejatinya si pencipta lagu tersebut……=S1Wh0T0=

Sumber: 

http://drjhn.blogspot.com/2012/12/biografi-pencipta-lagu_3953.html

Muso, Tokoh Pemberontakan Madiun

MusoSosok Muso identik dengan sosok pemberontak komunis yang anti pemerintah. Tokoh antagonis dalam sejarah percaturan Politik Indonesia ini memiliki latar belakang yang kurang begitu diketahui oleh masyarakat Indonesia. Masyarakat Tidak tau kapan dan di mana Muso dilahirkan.

Sosok Muso mulai Nampak saat ia berguru kepada Oemar Said Tjokroaminoto. Dunia politik dan gerakan Muso kenal dari Tjokroaminoto. Namun jalan yang ia pilih temyata berbeda dari Sang guru Tjokroaminoto. Muso begitu menaruh harapan besar terhadap perubahan melalui jalan revolusi.

Tahun 1920-an  Tokoh Komunis Indonesia ini (Muso), sangat aktif berhubungan dengan gerakan komunis dunia.

Tahun 1926, Ada yang menyebut Muso sebagai tokoh pemberontakan PKI terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda. Bahkan, setelah pemberontakan pada tahun 1926, ia melarikan diri ke luar negeri dan berkelana ke berbagai dunia-terutama negara-negara yang berkiblat Komunis yakni: Eropa Timur dan Uni Soviet.

Di masa-masa itulah, Muso mewakili PKI (Partai Komunis Indonesia) dalam jajaran forum intemasional, Berbagai pertemuan partai komunis dunia sempat dihadirinya bersama sahabatnya, Alimin.

Setelah proklamasi, Muso kembali ke Indonesia dan membangun kembali PKI dengan semangat dan militansi yang luar biasa. Dan sebagaimana kalangan pergerakan lainnya, ia juga sempat terlibat dalam perang mempertahankan kemerdekaan.

Mei 1948, Muso kembali dari Moskwa Uni Soviet, bersama Soeripno, Wakil Indonesia di Praha.

28 Juni 1948 Front Demokrasi Rakyat (FDR) yang dipimpin Amir Syariffudin bergabung dengan Partai Komunis Indonesia  (PKI) dipimpim Musho melakukan pemberontakan . Tujuan pemberontakan adalah peruntuhkan Negara RI dan menggantikannya dengan Negara Komunis.

11 Agustus, Muso tiba di Yogyakarta dan segera menempati kembali posisi di pimpinan Partai Komunis Indonesia. Banyak politisi sosialis dan komandan pasukan bergabung dengan Muso, antara lain Amir Sjarifuddin Harahap, Setyadjit Soegondo dan kelompok diskusi Patuk.

18 September 1948, Muso tokoh Partai Komunis Indonesia dengan didukung pula oleh Menteri Pertahanan saat itu, Amir Sjarifoeddin. Memproklamasikannya Negara Republik Soviet Indonesia di Kota Madiun oleh, seorang

September – Desember 1948, terjadi Peristiwa Madiun adalah sebuah konflik kekerasan yang terjadi di Jawa Timur pemberontak komunis PKI dan TNI. Di era Orde Lama peristiwa ini dinamakan Peristiwa Madiun, dan tidak pernah disebut sebagai pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI). Baru di era Orde Baru peristiwa ini mulai dinamakan Pemberontakan PKI Madiun.

10 September 1948, mobil Gubernur Jawa Timur, RM Ario Soerjo, dan mobil 2 perwira polisi dicegat massa pengikut PKI di Kedunggalar, Ngawi, Jawa Timur. Ke-3 orang tersebut dibunuh dan jenazah nya dibuang di dalam hutan. Demikian juga dr. Moewardi yang sering menentang aksi-aksi golongan kiri, diculik ketika sedang bertugas di rumah sakit Solo, dan kabar yang beredar ia pun juga dibunuh. Tuduhan langsung dilontarkan, bahwa pihak lainlah yang melakukannya. Di antara yang menjadi korban juga adalah Kol. Marhadi yang namanya sekarang diabadikan dengan Monumen yang berdiri di tengah alun-alun Kota Madiun dan nama jalan utama di Kota Madiun.

Pada 19 September 1948, Presiden Soekarno dalam pidato yang disiarkan melalui radio menyerukan kepada seluruh rakyat Indonesia, untuk memilih: Muso atau Soekarno-Hatta. Maka pecahlah konflik bersenjata, yang pada waktu itu disebut sebagai Madiun Affairs (Peristiwa Madiun), dan di zaman Orde Baru kemudian dinyatakan sebagai pemberontakan PKI.

15 September 1948, kekuatan pasukan pendukung Muso digempur dari dua arah: Dari barat oleh pasukan Divisi II di bawah pimpinan Kolonel Gatot Soebroto, yang diangkat menjadi Gubernur Militer Wilayah II (Semarang-Surakarta), serta pasukan dari Divisi Siliwangi,

19 September 1948, dari timur diserang oleh pasukan dari Divisi I, di bawah pimpinan Kolonel Soengkono, yang diangkat menjadi Gubernur Militer Jawa Timur, serta pasukan Mobile Brigade Besar (MBB) Jawa Timur, di bawah pimpinan M. Yasin.

30 September 1948, kota Madiun dapat dikuasai seluruhnya. Pasukan Republik yang datang dari arah timur dan pasukan yang datang dari arah barat, bertemu di hotel Merdeka di Madiun. Namun pimpinan kelompok kiri beserta beberapa pasukan pendukung mereka, lolos dan melarikan diri ke beberapa arah, sehingga tidak dapat segera ditangkap.

November 1948, seluruh pimpinan dan pasukan pendukung Muso tewas atau dapat ditangkap.

31 Oktober 1948 Musso tewas ditembak.

20 Desember 1948 Sebelas pimpinan kelompok kiri, termasuk Amir Syarifuddin Harahap, mantan Perdana Menteri RI, dieksekusi di makam Ngalihan, atas perintah Kol. Gatot Subroto.=S1Wh0T0=

Dr.H. Soekarwo, Gubernur Jawa Timur

16 Juni 1950, lahir di Madiun, Jawa Timur,

Tahun 1962, Pakde Karwo menamatkan pendidikannya di SR Negeri Palur Madiun SMP

Tahun 1965, Negeri 2 Ponorogo

Tahun 1969, SMAK Sosial Madiun

Tahun 1979, Gelar sarjana hukum diperolehnya dari Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya

Tahun 1996, gelar pascasarjana hukum di Universitas Surabaya

Tahun 2001, gelar doktornya di Universitas Diponegoro Semarang.

Suami dari Nina Kirana ini  lebih akrab disapa Pakde Karwo (Gubernur Jawa Timur) dikenal sebagai birokrat tulen. Pemikirannya jauh berada di “depan” zamannya. melangkah melebihi “langkah” zaman. saat menjabat menjadi Kepala Dinas Pendapatan Daerah (Dipenda) Jawa Timur, banyak memberikan gagasan yang dinilai aneh. Salah satunya proses pembayaran pajak kendaraan bermotor sebelumnya butuh waktu satu atau dua hari, dipangkas menjadi 5-10 menit. Kecerdasan Pakde Karwo yakin bahwa itu bisa dilakukan dengan memanfaatkan informasi teknologi (IT), yang akhirnya gagasan tersebut menjadi terlaksana.

Pakde Karwo melontarkan gagasan pelayanan publik. Pameo layanan birokrasi sebelumnya “Jika bisa diperlambat, mengapa harus dipercepat” diubah menjadi “Pelayanan Publik, Asal Mau Pasti Bisa”. Mengubah perspektif birokrat yang sebelumnya sebagai pemerintah, menjadi birokrat sebagai pelayan. Kunci layanan prima pada masyarakat adalah kepastian waktu. biaya dan persyaratan/prosedur. Bahkan proses pembayaran. harus dihindari orang ketemu orang. Sebaiknya pembayaran dilakukan melalui mekanisme mesin. seperti lewat perbankan. Anjungan Tunai Mandiri. atau melalui system online lainnya.

Dalam hati Pakde Karwo tersimpan kelembutan hati yang sangat dalam. Sikap mudah trenyuh inilah yang membuat Pakde Karwo terus berpikir agar birokrasi memberikan pelayanan terbaik pada masyarakat. Serta memberikan fasilitas sebaik-sebaiknya pada masyarakat kurang mampu. Jika pemerintah tidak bisa memberikan tambahan penghasilan sebaiknya membuat pengeluaran rakyat kecil berkurang.

Pakde Karwo berkomitmen mengentas kemiskinan melalui solusi fasilitasi dan kemudahan pada Usaha Mikro, Kecil. dan Menengah (UMKM), serta memberikan fasilitasi pada Koperasi.

Untuk menarik inverstor agar menanamkan modalnya di Jawa Timur, Pakde Karwo telah melakukan langkah progresif dengan mendirikan Pusat pelayanan Perijinan Terpadu (P2T), yang memotong jalur birokrasi yang membutuhkan waktu lama menjadi lebih cepat.

Disediakan tanah untuk investor, memberi kecukupan listrik, hingga menjadi konsep yang berkorelasi positif antara pengentasan kemiskinan dan memperluas lapangan kerja. Dengan demikian, Pakde Karwo tetap berpihak pada rakyat miskin namun tetap memberi kesempatan pengusaha untuk mengembangkan investasinya. “Growth With Equity”

23 Juli 2008, Pakde Karwo terpilih pada putaran pertama sebagai Gubernur Jawa Timur, dalam Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Provinsi Jawa Timur yang diselenggmakan pada dua putaran,

4 November 2008, putaran kedua.

21 Januari 2009, pemilihan ulang putaran kedua di Kabupaten Bangkalan dan Kabupaten Sampang.

12 Februari 2009, Pelantikan Pakde Karwo sebagai Gubernur dan Saifullah Yusuf sebagai Wakil Gubernur Jawa Timur dilaksanakan oleh Menteri Dalam Negeri Mardiyanto. Yang sebelumnya melalui beberapa tahapan

(Sh1W0 n  BanT0)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Sumber: dari berbagai koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur

Bupati Madiun Dari 1568 Sampai Dengan 1980

  1. PANGERAN TIMOER                                                                                      1568  s/d  1586
  2. RD AYU RETNO DJUMILAH                                                                          1586  s/d 1590
  3. RADEN MAS RANGSANG                                                                                1590  s/d 1591
  4. RADEN MAS SUMEKAR                                                                                  1591  s/d  1595
  5. RADEN MAS DJULIG PRINGGOLOYO                                                        1595  s/d 1601
  6. RADEN MAS BAGUS DJUMINA PETAK                                                      1601  s/d  1613
  7. RADEN MAS KENITREN MERTOLOYO                                                       1613  s/d 1645
  8. P. KYAI BALITAR INDOKROMO                                                                    1645  s/d 1677
  9. P. TUMENGGUNG BALITAR TUMAPEL                                                     1677  s/d  1703
  10. RADEN AYU PUGER                                                                                         1703  s/d 1704
  11. P. HARYO BALATER                                                                                         1704  s/d 1709
  12. TUMENGGUNG SUROWIDJOJO                                                                   1709  s/d 1725
  13. PANGERAN MANGKUDIPURO                                                       1725  s/d 12 – 2 – 1755
  14. RD PRAWIROSENTIKO menjadi RD RONGGO PRAWIRODIRDJO – I          13 – 2 – 1755  s/d 1784
  15. RD MANGUNDIRDJO menjadi RD RONGGO PRAWIRODIRDJO – II    1784  s/d 1797
  16. RD RONGGO PRAWIRODIRDJO – III                                             1797 s/d 17 – 2 – 1810
  17. PANGERAN DIPOKUSUMO                                                           18 – 12 – 1810 s/d 1820
  18. RD TUMENGGUNG TIRTOPROJO                                                                1820 s/d 1822
  19. RD RONGGO PRAWIRODININGRAT                                                            1822 s/d 1861
  20. RD TUMENGGUNG RONGGO HARYO NOTODININGRAT                      1861 s/d 1869
  21. RD MAS TUMENGGUNG ADIPATI SOSRODININGRAT                         1869 s/d 1879
  22. RD MAS TUMENGGUNG SOSRODINGRAT                                                1879 s/d 1885
  23. RD ADIPATI HARYO BROTODININGRAT                                                  1885 s/d 1900
  24. RD HARYO TUMENGGUNG KUSNODININGRAT                                     1900 s/d 1929
  25. RD TUMENGGUNG RONGGO KUSNEN                                                        1929 s/d 1937
  26. RD TUMENGGUNG RONGGO KUSNENDAR                                               1937 s/d 1954
  27. RD MAS HARSOYO BROTOOININGRAT                                                      1954 s/d 1956
  28. RD SAMPURNO                                                                                                   1956 s/d 1962
  29. RD KARDIONO BA                                                                                             1962  s/d 1965
  30. M. SUWANDI                                                                                                      1965  s/d 1967
  31. HAJI SALEH HASSAN                                                                                       1967  s/d 1973
  32. HAJI SLAMET DARDJOUTOMO                                                                   1973  s/d 1978
  33. HAJI DJAYADI                                                                                                   1978  s/d 1983
  34. DRS BAMBANG KOESBANDONO                                                                      1983–

Lampiran 1, Silsilah Keluarga Bupati Madiun
Lampiran 2, Denah Makam bupati Madiun

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Buku Kenang-kenangan Sekilas Madiun Pada Hari Jadi Ke-418. Madiun: Humas Pemerintah Kabupaten/Kodya Daerah Tingkat II Madiun, 1986, hlm. 133-134

Berdirinya Madiun

MENGAMATI perjalanan sejarah Madiun selama ini yang cu­kup punya liku, seperti likunya kali Madiun membelah kota dan daerah ini. Mengungkap Sejarah Madiun sama halnya mengungkap dari adanya Dongeng Rakyat. Dongeng Panji serta Dongeng Kelana Sewandhana. Pula tidak akan terlepas dari adanya Penemuan serta Penelitian Pra­sasti. Benda Kurto/Purbajala yang ditemukan di beberapa daerah dan wi­layah sekitar Madiun.

BERDIRINYA Madiun juga tidak terlepas dari timbulnya Perang antara Mataram dengan Purabaya. Dan jatuhnya Purabaya yang lokasinya saat ini di sekitar Desa Kuncen, di kemudian nanti muncul apa yang disebut sebagai “MADIUN”. Ada beberapa masa dan periode dalam perjalanan Pemerintahan Ma­diun yakni sejak  masa Kasultanan Demak, Kasultanan Pajang, Kasultanan Mataram dan Masa Palihan Nagari, masa Perang Diponegoro dan sebagainya. Juga tidak akan terlepas dari masa Pemerintahan jajahan Belanda, Je­pang, masa Kemerdekaan termasuk didalamnya masa Orde Lama dan Orde Baru.

KETIKA Raden Mas Karebet atau yang kemudian dikenal sebagai Sultan Hadiwidjaja diangkat dan dinobatkan sebagai Sultan Pajang oleh Sunan Kudus atas nama Para Wali tersebut pula bahwa PENGERAN TIMOER diangkat sebagai BUPATI di PURABAYA. Pangeran Timoer adalah adik ipar Sultan Pajang yang juga anak bungsu Sultan Trenggana. Pengangkatan Pengeran Timoer sebagai Bupati Purabaya dilakukan pada 18 Juli 1568.

Sejak saat diangkatnya Pengeran Timoer menjadi Bupati, secara yuri­dis formal maupun secara de facto pada tahun 1568 lahirlah penguasa yang berpredikat Bupati yang memerintah Kabupaten Purabaya. Jauh sebelum itu, saat Kasultanan Demak tengah berkembang daerah Purabaya menjadi salah satu daerah pendukung Purabaya saat itu dikenal dan berada dibawah penguasa seorang yang dianggap genius yakni Pengeran Pati Unus yang dalam melaksanakan pe­merintahan menggunakan hukum-hukum baru bercorak Islam bersumber dari Al Quran dan Hadist disamping tetap mempertahankan nilai-nilai lama yang tidak bertentangan dengan Islam bahkan bersifat menunjang. Ketika Pati Unus menggantikan kedudukan Sultan Patah di Demak maka daerah Purabaya diserahkan kepada seorang Kyai bernama Reksa Gati. Ia dikirimkan dari Demak ke Purabaya sebagai Pengawas Pemerin­tahan Purabaya atas nama Demak. Disamping tugasnya yang lain pe­ngembangan agama Islam.

Saat terjadi dan pecah Perang Saudara antara sesama “Darah De­mak” ditahun 1546 dan berlangsung sampai sekitar tahun 1568 Kyai Reksa mengambil sikap untuk memihak salah satu kekuatan yang tengah mela­kukan Perang Saudara di Demak. Sikap tidak memihak salah satu kekuatan yang tengah bergolak inilah diambil Kyai Reksa Gati yang merupakan satu sikap yang paling baik me­nurut anggapannya Dan Purabaya saat itu seperti berdiri sendiri dan nampak seperti terlepas dari Kasultanan Demak.

Ketika pergolakan dan perang saudara antar darah Demak itu ber­akhir di tahun 1568 dan Mas Karebet berhasil menjadi Sultan Demak, ju­ga diangkatnya Pengeran Timoer sebagai Bupati di Purabaya, maka ber­akhirlah kepemimpinan Kyai Reksa Gati di kawasan Purabaya sebagai pimpinan Pemerintahan Pengawasan. Nama Kyai Reksa Gati hingga saat ini masih tetap tersimpan dan menjadi nama sebuah Desa yakni Desa Sogaten yang berarti tempat Reksa Gati Makam dari Kyai yang pernah meniadi pengawas pemerintahan atas nama Kasultanan Demak di Purabaya ini berada di makam umum Sidomulyo, Jiwan Kabupaten Madiun.

Sedang Raden Mas Karebet atau Sultan Hadiwidjaja setelah diangkat dan dikukuhkan menjadi Sultan berusaha untuk memindahkan Pusat Pe­merintahan tidak lagi di Demak tetapi dipilihnya daerah lain yakni daerah “Pajang”.

Alasan pemindahan tempat pusat pemerintahan itu karena Demak te­lah dirasa “tercemar darah perang saudara” dan pemindahan pusat pe- Purabaya pada tanggal 18 Juli 1568 dan mengakhiri pemerintahan Pe­ngawasan Kasultanan Demak di Purabaya di bawah Kyai Reksa Gati, kemudian membuka dan mewarnai Sejarah Awal Kabupaten Madiun, se­bagai Bupati yang Pertama (ke I) di Madiun dengan masa jabatan antara tahun 1568 sampai 1586.

Terkait:
Pengeran Timoer, Bupati Pertama Kabupaten Madiun
Raden Ayu Retno Djumilah, Bupati ke 2 Kabupaten Madiun
Bupati Kabupaten Madiun ke 3 sampai dengan ke 13
Raden Ronggo Prawirodirdjo I. – Ra­den Mangundirdjo, Bupati Madiun ke 14 – ke 15
Pangeran Raden Ronggo Prawirodirdjo III, Bupati Madiun ke 16
Bupati Madiun Ke 17 sampai dengan ke 21
Bupati Madiun ke 22 sampai dengan ke 24
Bupati Madiun ke 25 sampai denga ke 34
Berdirinya Madiun
Kotapraja Madiun, berdiri 1918

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Buku Kenang-kenangan Sekilas Madiun Pada Hari Jadi Ke-418. Madiun: Humas Pemerintah Kabupaten/Kodya Daerah Tingkat II Madiun, 1986, hlm. 49-51.

Bupati Madiun ke 25 sampai denga ke 34

Bupati ke 25
Setelah tahun 1929 Raden Mas Tumenggung Ronggo Kusnen diang­kat menjadi Bupati Madiun untuk menggantikan Bupati sebelumnya yakni Raden Harjo. Tumenggung Kusnodiningrat

Masa jabatan Maden Mas Tumenggung Ronggo Kusnen yang merupakan Bupati ke XXV ini berakhir pada tahun 1937.

Bupati ke 26
Pada tahun 1937 diangkat keturunan dari Raden Mas Tumenggung Ronggo Kusnen untuk menduduki jabatan Bupati Madiun yang ke XXVI yakni Raden Mas Tumenggung Ronggo Kusnandar.

Saat Bupati ini melaksanakan tugas jabatannya perobahan pemerin­tahan telah terjadi dengan masuknya Tentara/Balatentara Dai Nippon ke Indonesia.

Selama pendudukan Dai Nippon, segala sesuatunya diselesaikan dengan kehendak Dai Nippon baik dibidang adat kebiasaan, waktu, pendidikan serta sosial ekonomi rakyat selama itu.

Raden Mas Tumenggung Ronggo Kusnandar yang memulai jabatan­nya sejak tahun 1937 mengakhiri jabatan Bupati pada tahun 1954.

Bupati ke 27
Selama lebih kurang dua tahun sejak tahun 1954 sampai 1956 Raden Mas Tumenggung Brotodiningrat menjabat Bupati Madiun. Jabatannya sebagai Bupati merupakan urutan yang ke XXVII dan ketika baru melaksanakan tugasnya selama 2 tahun wafat pada 17 Desember 1956.

Bupati ke 28
Pada tahun 1956 diangkat jabatan yang bersifat “Pejabat” Bupati Ma­diun dan dipercayakan kepada Raden Sampurno untuk memegang jabatan sementara Bupati Madiun hingga tahun 1962.

Bupati ke 29
Berdasarkan peraturan Pemilihan Bupati Kepala Daerah dalam sidang DPRD Kabupaten Madiun tahun 1962 seorang calon dari PKI/Partai Ko­munis Indonesia mendapat suara terbanyak dari calon-calon lainnya. Oleh karenanya calon PKI – Raden Kardiono BA dikukuhkan secara sah menjadi Bupati Madiun yang ke XXIX.
Jabatannya dipangku sejak tahun 1962 sampai tahun 1965, setelah meletusnya peristiwa G 30 S/PKI.

Setelah terjadinya peristiwa berdarah G30S/PKI tanggal 30 September 1965 menjelang 1 Oktober 1965 tetapi mengalami “kegagalan” kemudian timbullah satu babakan baru dari Pemerintahan Indonesia yang berawal dari: 11 Maret 1966.
Kepemimpinan Negara dari Presiden RI yang pertama dilimpahkan kepada Letnan Jendral TNI Soeharto. Dan …………………….  babakan yang dimulai 11 Maret 1966 inilah merupakan satu babakan dari apa yang disebut sebagai ORDE BARU. Orde Baru adalah satu tatanan Pemerintah baru ialah Pemerintah Indone­sia yang dikembalikan kepada proporsinya yang sebenar-benarnya berlan­daskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Indonesia tahun 1945 dan dilaksanakan secara murni dan konsekwen.

Bupati ke 30
Bupati Kardiono BA yang mengakhiri jabatannya setelah terjadi peristi­wa G30S/PKI tahun 1965, digantikan oleh Mas Soewandi. Jabatan ini dipangku hanya sekitar 2 tahun saja dan merupakan jabatan Bupati yang tidak definitip atau hanya sebagai Pejabat Bupati dan me­nyerahkan jabatannya pada penggantinya di tahun 1967.

Bupati ka 32
Siamet Hardjoutomo pada tahun 1973 kemudian diangkat untuk ja­batan Bupati Kepala Daerah Tk. II Madiun dan jabatannya berakhir pada tahun 1978.
Bupati Slamet Hardjoutomo dalam urutan jabatan Bupati di Madiun meru­pakan Bupati yang ke XXXII.

Bupati ka 31
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri, terhitung mulai tahun 1967 diangkat untuk menduduki jabatan Bupati Kepala Daerah Ma­diun Haji Hassan Saleh
Jabatan Bupati Madiun yang dilaksanakan oleh Haji Hassan Saleh dan merupakan urutan Bupati Madiun ke XXXI dan Bupati ke dua setelah Re­publik Indonesia tercinta ini memasuki Babakan ORDE BARU. Akhir masa jabatannya padu tahun 1973.

Bupati ka 33
Dengan dilandasi SK Menteri Dalam Neaen selanjutnya mengangkat dan menetapkan Haji Djajadi untuk menduduki jabatan Bupati Kepala Daerah Tk. II Madiun terhitung sejak Th 1978 dan mengakhir jabatannya pada tahun 1983

Bupati ke 34
Sebagaimana SK Menteri Dalam Negeri menetapkan dan mengangkat Drs. Bambang Koesbandono dalam jabatannya sebagai Bupa­ti Kepala Daerah Tk. II Madiun terhitung sejak th 1983. Bupati Madiun Drs. Bambang Koesbandono yang sebelumnya pernah menjabat Bupati Kepala Daerah Tk. II Magetan setelah menjabat Bupati Kepala Daerah Tk. II Madiun merupakan Bupati yang dalam urutannya yang ke XXXIV dan Bupati yang ke empat dalam urutan setelah adanya perubahan tata pe­merintahan dari Orde Lama ke Orde Baru.

Selama masa ini tugas Bupati Kepala Daerah ialah memimpin penye­lenggaraan serta bertanggung jawab penuh terhadap jalannya roda Pe­merintahan Daerah. Menurut Undang-Undang tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah. Kepala Daerah adalah sebagai Organ Daerah bersama Dewan Perwakilan Rakyat/DPRD dan bersama DPRD membuat Peraturan Daerah, membuat dan menetapkan APBD serta mempertanggung jawabkan pelaksanaan Pe­merintahan kepada DPRD

Terkait:
Pengeran Timoer, Bupati Pertama Kabupaten Madiun
Raden Ayu Retno Djumilah, Bupati ke 2 Kabupaten Madiun
Bupati Kabupaten Madiun ke 3 sampai dengan ke 13
Raden Ronggo Prawirodirdjo I. – Ra­den Mangundirdjo, Bupati Madiun ke 14 – ke 15
Pangeran Raden Ronggo Prawirodirdjo III, Bupati Madiun ke 16
Bupati Madiun Ke 17 sampai dengan ke 21
Bupati Madiun ke 22 sampai dengan ke 24
Bupati Madiun ke 25 sampai denga ke 34
Berdirinya Madiun
Kotapraja Madiun, berdiri 1918

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Buku Kenang-kenangan Sekilas Madiun Pada Hari Jadi Ke-418. Madiun: Humas Pemerintah Kabupaten/Kodya Daerah Tingkat II Madiun, 1986, hlm. 73-77

Pangeran Raden Ronggo Prawirodirdjo III, Bupati Madiun ke 16

Menggantikan kedudukan Bupati Madiun diangkat putra almarhum yakni Pangeran Raden Ronggo Prawirodirdjo III dan memangku jabatan Bupati Madiun ke XVI dari tahun 1797 sampai 1810. Bupati Mancanegara Timur dengan sejumlah 14 Bupati di bawah pengawasannya. Selama memerintah dan menjabat Bupati mempunyai tempat kedudu­kan di beberapa tempat tiga tempat masing-masing Yogyakarta, Wonosari dan Maospati. Sejak masa mudanya ia tinggal di Yogyakarta untuk mendapat didikan kerajaan. Ia juga sebagai menantu dari Sultan Hamengku Buwono II yakni Kanjeng Gusti Ratu Maduretno.

Bupati Pangeran Raden Ronggo Prawirodirdjo III ini selain mengepalai 14 Bupati dan disegani bukan saja para Bupati itu, tetapi juga oleh Pe­merintah Belanda di Indonesia pada waktu itu. Sebab ia berwatak keras, pemberani serta besar pengaruhnya terhadap pusat kerajaan. la juga telah diangkat dan memangku jabatan sebagai “Dewan Penasehat Kerajaan” yang beranggotakan 3 orang masing-masing:

1)  Raden Adipati Danuredjo II, Patih Kerajaan dan menantu Sultan.
2)  Raden Tumenggung Sumodiningrat, Wedono Lebet Kerajaan dan me­nantu Sultan.
3)  Raden Ronggo Prawirodirdjo III, Bupati Wedono Mancanegara Timur juga menantu Sultan.

Karena kedudukannya sebagai anggota Dewan Penasehat Kerajaan, ba­nyak waktu untuk tinggal di Yogyakarta. Tanggal 17 Desember 1810 Bupati Madiun ke XVI yang juga dalam kedudukannya Bupati Wedono Mancanegara Timur gugur melawan pasu­kan Belanda didaerah Kerosono.

Jenasahnya kemudian diangkut ke Yogyakarta dan pemakamannya dilaku­kan dengan upacara kebesaran kerajaan dan atas perintah Sultan jena­sahnya dimakamkan di pemakaman Banyu Sumurup komplek Imogiri.

Sedang isterinya Gusti Kanjeng Ratu Maduretno yang juga Putri Sul­tan Hamengku Buwono II setelah watat dimakamkan di Giripurno di Istana Wonogiri. Gorang Gareng Magetan.

Dalam satu pertimbangan keluarga dan setelah mengalami proses yang cukup panjang di sekitar bulan Februari 1950 “kerangka” jenasah Raden Ronggo Prawirodirdjo III dipindahkan dari pemakaman Banyu Su­murup Imogiri ke makam Giripurno dan didekatkan pada makam istrinya yang tak lain Gusti Kanjeng Ratu Maduretno.

Sebelum kerangka jenasah itu dimakamkan kembali di makan Giripurno Gorang Gareng, untuk semalam disemayamkan lebih dahulu di masjid Besar Desa Taman yang sudah ditetapkan sebagai Desa Perdikan dan tempat Makam Keluarga Bupati Madiun.

Terkait:
Pengeran Timoer, Bupati Pertama Kabupaten Madiun
Raden Ayu Retno Djumilah, Bupati ke 2 Kabupaten Madiun
Bupati Kabupaten Madiun ke 3 sampai dengan ke 13
Raden Ronggo Prawirodirdjo I. – Ra­den Mangundirdjo, Bupati Madiun ke 14 – ke 15
Pangeran Raden Ronggo Prawirodirdjo III, Bupati Madiun ke 16
Bupati Madiun Ke 17 sampai dengan ke 21
Bupati Madiun ke 22 sampai dengan ke 24
Bupati Madiun ke 25 sampai denga ke 34
Berdirinya Madiun
Kotapraja Madiun, berdiri 1918

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Buku Kenang-kenangan Sekilas Madiun Pada Hari Jadi Ke-418. Madiun: Humas Pemerintah Kabupaten/Kodya Daerah Tingkat II Madiun, 1986, hlm. 64-65.