Dr. Akhmad Sukardi, M.M

Akhmad sukardi

Dr. Akhmad Sukardi, M.M, lahir di sebuah pesisir di Sumenep 14 Juli 1958, masa kecil dan remajanya dibentuk oleh karakter budaya Madura yang tegas dan religius. Mengenyam pendidikan dasar-menengah di Sumenep dan Pamekasan.
Selepas itu, melanjutkan studi Sarjana dan meniti karier sebagai PNS di Pemerintah Propinsi Jawa Timur. Sejak awal karier pegawai dan studinya mendalami tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, dimulai dari Kepala Sub Bagian Pembinaan Anggaran Biro Keuangan Setda Jatim sampai menjadi Kepala Dinas Pendapatan Propinsi Jawa Timur.
Sebagai pejabat karier, ia masih termotivasi untuk memperdalam studi pada program Magister Manajemen Pascasarjana Universitas Airlangga, lulus tahun 1998- dan menyelesaikan Program Doktor llmu Administrasi Program Pascasarjana Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya tahun 2007.
Untuk mentransformasi keilmuan yang didapat dan mensharingkan kompetensinya dalam pengelolaan keuangan daerah, ia menjadi pengajar pada Badan Diklat Propinsi Jawa Timur dan beberapa perguruan tinggi di Surabaya.
Aktif sebagai narasumber dalam berbagai seminar dan workshop yang berkaitan dengan kompetensinya. Di samping kesibukannya yang cukup padat tersebut, ia juga membantu istri mengasuh dua orang anak di Surabaya.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Dr. Akhmad Sukardi, M.M: Participatory Governance, 2009, hlm. Sampul Belakang. 

To’-oto’

To’-oto’ Sebagai Tindakan Sosial-ekonomi, tujuan dilakukannya kegiatan arisan dalam strata sosial apapun di Indonesia ini memiliki dua tujuan mendasar, yakni mengakrabkan sesama anggotanya dan adanya motif ekonomi. Hanya saja motif mana dari kedua motif tersebut yang lebih dominan pada tiap-tiap kelompok arisan akan berbeda. Demikian pula dengan to’oto’ sebagai kelompok arisan orang Madura di Surabaya. Sesuai dengan keberadaan mereka sebaqai kaum pendatang dengan tingkat sosial-ekonomi yanq rata-rata termasuk golongan menengah ke bawah, motivasi didirikannya suatu kelompok to’-oto’ pasti pada mulanya didasari oleh unsur kekerabatan/kesukuan pada saat ini lebih didominasi motif-motif ekonomi.
Pada awal perkembangannya to’-oto’ (yang secara harafiah artinya: kacang, yakni makanan ringan yanq selalu disuguhkan setiap kali diadakan pertemuan kelompok orang-orang Madura) adalah perkumpulan kedaerahan orang-orang dari Sampang dan Banqkalan yang berada di perantauan yang bertujuan untuk menguatkan ikatan kekerabatan dan ikatan persaudaraan antar sesama daerah asal. Perkumpulan kedaerahan ini adalah fenomena yang umum didapati pada kaum perantauan dari dan di daerah manapun untuk saling bertukar pengalaman dan berbagai alasan primordial lainnya seperti untuk mempererat kekerabatan dan keakraban sesama perantau dari daerah asal yang sama. Demikianpun dengan to’-oto’ pada saat mulai berdirinya, seperti yanq dikemukakan oleh salah seorang informan (yang kebetulan adalah seoranq ketua kelompok to’- oto’) bahwa ketika pertama kali mendirikan to’-oto’ niatnya adalah mengumpulkan saudara dan sanak famili yang masih satu daerah yang tersebar di wi1ayah Surabaya agar ikatan kekerabatan mereka tidak hilang serta untuk membatasi budaya lain masuk.
Di dalam pertemuan-pertemuan tersebut selain dilakukannya saling tukar pikiran mengenai berbagai hal, saling berbagi perasaan sebagai sesama kaum pendatang di kota serta saling bersilaturahmi, kemudian muncul usulan dari yang hadir untuk saling membantu antar sesama yang hadir dalam masalah ekonomi. Usulan disetujui oleh yang hadir dalam pertemuan tersebut untuk selanjutnva dikoordinasikan oleh penyelenggara pertemuan. Semula sumbangan dari masing-masing yang hadir bersifat sukarela sesuai dengan kemampuan masing-masing untuk kemudian disimpan oleh koordinator perkumpulan atau orang yang ditunjuk sebagai pemegang uang untuk mencatatnya dalam sebuah buku untuk kemudian diberikan dan atau dipinjamkan kepada angaota kelompok yang paling membutuhkan. Sesudah berjalan cukup lama akhirnya muncul ide agar kegiatan saling membantu ini dilembagakan dalam suatu kegiatan semacam arisan; yakni dengan menentukan batas minimum uang yang disumbangkan sedangkan akumulasi uang sumbangan yang terkumpul diberikan kepada setiap anggota kelompok secara bergiliran berdasarkan prioritas kebutuhan, yakni apabila ada warga yang membutuhkan uang atau untuk kepentingan yang mendesak maka ia dapat giliran memperoleh uang terlebih dahulu.

Waktu pertemuannya pun kemudian disepakati secara periodik dalam jangka waktu tertentu. Demikianlah dari suatu kegiatan sosial yang bersifat informal kemudian berkembang sebagai kegiatan ‘formal’ dalam arti memiliki aturan-aturan tertentu yang disepakati bersama.Dalam perkembangan selanjutnya ketika manfaat ekonomis dari arisan to’-oto’ ini semakin dirasakan para anggota dan semakin populer di kalangan para pendatang, mulailah bermunculan kelompok-kelompok to’-oto’ baru yanq sengaja didirikan oleh orang-perorang maupun oleh kelompok kekerabatan tertentu. Dalam konteks ini sifat keangqotaannyapun mengalami perubahan, dari yang semula orang-orang yang masih sekerabat dekat atau sekelompok setane’an menjadi tidak dibatasi oleh hal-hal tersebut Masing-masing orang bisa menentukan sendiri ke kelompok mana ia akan bergabung. Pertimbangan-pertimbangan yang mempengaruhi kecenderungan seseorang, memasuki kelompok to’-oto’ tertentu biasanya adalah figur ketua kelompok to’-oto’ tersebut serta ‘kredibilitas’ kelancaran kelompok tersebut. Seorang informal mengatakan:
“… kalau mau ikut to’-oto’ lihat ketuanya dulu. Kalau ketuanya berwibawa, jujur dan bisa mengatur anggotanya maka to’-oto’nya akan maju. Kalau ketuanya sembarangan saja to’oto’nya cepat bubar…”.
Jadi dalam menentukan kelompok mana yang akan dimasuki seorang calon anggota diandaikan telah memiliki rasionalitas tertentu, baik oleh rasionalitas nilai maupun rasionalitas formal-instrumental.

Sebagai suatu bentuk Wolompok arisan, berbeda dengan arisan pada umumnva, to’-oto’ mempunyai ciri-ciri khas sebagai berikut.:
(1) Kalau pada umumnya arisan-arisan di pulau jawa lebih banyak dikerjakan oleh wanita yang memegang keuangan keluarga, namun pada kelompok to’oto’ beranggotakan para pria yang notabene adalah kepala keluarga.
(2) Kalau pada arisan umumnya diperlukan waktu hanya beberapa jam dari Jam pelaksanaannya, maka pada to’-oto’ dibutuhkan waktu hingga dua hari.
(3) Dalam hal hidangan makanan dan hiburan, biasanya pada arisan dihidangkan sewaiarnva, tetapi pada kegiatan to’-oto’ dihidangkan dalam berbagai macam makanan dan diundangnya grup-grup kesenian tertentu seperti sandur. Hal ini tergantung dari jenis to’-oto’ yang dilaksanakan. Dalam hal ini dibedakan ada 3 (tiga) jenis to’- oto’ yakni: to’-oto’ lit-dulit yang paling sederhana karena tanpa hiburan dan dengan hidangan yang secukupnya sehingaa membutuhkan biaya yang lebih sedikit. Selanjutnva to’-oto’ piringan yang menggunakan hiburan seperti tape recorder, orkes maupun karaoke dan dengan bermacam suguhan yang diletakkan di atas piring dengan demikian membutuhkan biaya yang relatif lebih banyak. Sedangkan biaya yang lebih banyak lagi akan dikeluarkan apabila jenis to’-oto’ yang diselenggarakan adalah to’-oto’ sandur karena mengundang grup kesenian khas Madura sandur (seni tayub atau tandhak yang khas Madura. Selain itu dalam to’-oto’ jenis ini juga menghidangkan makanan yang lebih beragam dan dengan prosesi kegiatan yanq lebih rumit dan formal yang ditandai dengan dikenakannya pakaian adat Madura oleh ketua, para pengurusnya dan pengurus kelompok lain yang diundang.
(4) Dalam arisan umumnya jumlah iuran anqqota sudah ditentukan nilai nominalnva dan dibayarkan secara rutin sebesar nilai nominal tersebut, sedangkan dalam to’-oto’ meskipun besarnya uang nominal iuran sudah ditentukan tetapi kenyataan yanq ada lebih mirip buwuhan, yakni seorang anggota memberikan uanq di atas nominal uanq vanq diberikan oleh penyolenggara to’-oto’ (tuan rumah) dibanding ketika yang bersangkutan datang ke rumahnya saat dirinya menjadi ‘tuan-rumah’ to’-oto’ pada peri ode yang telah lalu. Kelebihan uang dari jumlah simpanan pokok disebut tumpangan yang bisa dipahami sebagai semacam pinjaman lunak antar anggota yang wajib di kembalikan pada waktunya nanti.
(5) Anggota kelompok tertentu bisa berpartisipasi pada kegiatan to’-oto’ yanq diadakan anggota kelompok yang lain, atas selain ketua kelompok dimana ia tergabung secara resmi. Hal ini sering disebut dengan istilah tumpangan antar kelompok. Sehingga ketika ia sendiri menyelenggarakan to’-oto’, orang yang memperoleh tumpangan tadi pada saatnya nanti akan bertandang ke rumahnya untuk membalas tumpangannya tadi, sehingga dengan demikian ia berharap akan momperoleh ‘hasil’ yang lebih banyak lagi yang tidak semata-mata dari kelompoknya.

Besarnya uang yang diterima oleh seorang penvelenggara to’-oto’ berbeda-beda tergantung dari besarnya uang angsuran dan jumlah anggota kelompok serta sering-tidaknya ia mengikuti to’-oto’ kelompok lain. Besarnya iuran pada masing-masing kelompok berbeda berdasarkan kemampuan ekonomi rata-rata anggota kelompok tersebut yang sebelumnya disepakati bersama oleh ketua dan anggotanya. Dalam satu periode putaran (yakni sesuai dengan jumlah anggota) jumlah iuran tetap sedangkan besarnya tumpangan bebas dengan nilai minimal sebesar pokok angsuran. Dalam putaran periode berikutnya besarnya iuran pokok bisa ditingkatkan jumlahnya setelah melalui musyawarah anggota. Jumlah anggota kelompok juga bervariasi tergantung sudah lama atau belum kelompok tersebut berdiri serta sejauh mana kredibilitas ketua dan kelompok tersebut di kalangan orang-orang Madura di Surabaya. Jumlah anqgota masing-masing kelompok to’-oto’ berkisar antara 20 orang sampai 70 orang. Kelompok yanq anggotanya sedikit (kurang dari 20 orang) biasanva adalali kelompok yanq relatif belum lama berdirinva sedangkan kelompok yang beranggotakan lebih dari 50 anggota biasanya adalah kelompok yang sudah lama bertahan, beberapa di antaranya ada yang sudah berusia 30 tahun.

Semakin banyak jumlah anggota dalam suatu kelompok serta anggota kelompok lain yang ikut ‘nimbrung’ dalam kelompok tersebut semakin banyak jumlah uang yanq diperoleh anggota yang mengadakan atau mendapat giliran melaksanakan kegiatan to’-oto’. Berdasarkan informasi seorang pedagang mebel antik Madura diketahui bahwa besarnya perolehan uang bervariasi mulai dari yang jumlahnya hanya ratusan ribu rupiah sampai puluhan juta rupiah, informasi terakhir dari informan tersebut. disebutkan bahwa kerabatnya pernah memperoleh uang sekitar 60 juta rupiah dalam satu kali pelaksanaan to’-oto’. Uang yang diperoleh tersebut, setelah dikurangi biaya administrasi untuk sekretaris dan bendahara (ketua tidak menerima upah) serta untuk biaya operasional seperti menyewa kursi, sound sistem dan lainnya, akan digunakan untuk berbagai keperluan yang dianggap penting seperti menambah modal usaha dalam berdagang, membangun atau memperbaiki rumah serta berbagai keperluan lain yang dianggap mendesak. Dalam beberapa kasus (meskipun jarang) perolehan uang tersebut juga digunakan sebagai ongkos naik haji. Hal yang terakhir ini bisa dipahami sebab memang bagi orang-orang Madura naik haji adalah obsesi umum orang Madura. Bergelar haji berarti memiliki gengsi sosial yang tinggi, yang sekaligus mencerminkan keberhasilan seseorang secara ekonomi, mengingat untuk bisa naik haji dibutuhkan uang yang tidak sedikit.
Berdasarkan informasi dari para anggota dan pengurus to’-oto’, jumlah kelompok yang terdapat di Surabaya saat ini diperkirakan sekitar 77 kelompok to’-oto’ yang tersebar di berbagai wilayah, dengan konsentrasi terutama di wilayah Surabaya Utara yang merupakan kantong-kantong pemukiman kaum pendatang dari Madura. Meskipun demikian karena terdapat anggota kelompok-kelompok tersebut berdomisili serara tersebar di barbagai wilayah Surabaya, maka pelaksanaan kegiatan to’-oto’ juga tersebar di berbagai wilayah tersebut sesuai dengan alamat. anggota yang mendapat giliran.
Berdasarkan observasi diketahui bahwa pada saat ini kegiatan to’-oto’ ini sudah menyebar ke berbagai kota di Jawa Timur seperti Malang dan Madiun, juga didapati di Jogjakarta, di Jakarta bahkan di kota Banjarmasin atau kota-kota lain yang terdapat cukup banyak migran yang borasal dari Sampang dan Bangkalan. Bahkan di Sampang dan Bangkalan pun kegiatan to’-oto’ ini dicoba diintrodusir oleh sebagian warganya, tetapi berdasarkan kesaksian beberapa informan, kegiatan di tempat asal kaum migran ini justru tidak jalan atau tidak lancar sebagaimana halnya kegiatan to’oto’ di daerah rantau.

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Drs. Edy Herry Pryhantor: Kegiatan To’-Oto’ Di Kalangan Etnik Madura Surabaya; Studi Tentang Mekanisme Survival Etnik Pendatang di Kota Berkebudayaan Majemuk, Surabaya: Lembaga Penelitian Universitas Airlangga. hlm. 17 – 25

Arak-arakan Kamantan Madura

Di dalam suatu tatanan upacara adat kamantan atau perkawinan/ pernikahan adat Madura terdapat dua macam arak- arakan. Pertama arak-arakan, sewaktu mengiring kemantan Laki-laki menuju ke tempat kemanten Wanita. Kedua arak-arakan saat kedua mempelai sudah dipertemukan.

Arak-arakan Pertama,

Arak – arakan dalam prosesi penghantar pengantin laki-laki menuju ke kediaman pengantin wanita. Masing-masing pelakunya membunyikan rebana. Bermacam-macam syair religius dan berbagai pantun dilagukan. Kerapkali Haddrah dilengkapi dengan sebuah instrumen jidor atau beduk. Apabila demikian, maka ansambel ini disebut Haddrah Jidor atau Haddrah Jidur. Akhir-akhir ini.

Pengantin laki-laki dengan seorang atau dua orang pengiringnya yang berpakaian dan berhias serupa dengannya berjalan atau menunggang kuda di belakang kelompok pemusik dan penari Gambu atau diapit oleh para penari Gambu tersebut. Kuda yang ditunggangi masing-masing dihias dan dituntun oleh seorang sais. Sebuah guling diletakkan di atas pangkuan. Jika para pengiringnya tidak berpakaian seperti mempelai pria, maka mereka hanya berjalan mengiringkannya saja.

Pengantin laki-laki dan pengiringnya memakai celana panji-panji, berkain rapek, setagen, ikat pinggang, kelatbahu, gelang, kalung kace, dan atribut penutup kepala yang terbuat dari rangkaian bunga melati, mawar, kantil, dan kenanga berwarna putih, merah, kuning, dan hijau. Untaian bunga kenanga dan daun pandan yang berwarna hijau menjuntai dari kedua telinga sampai dada.

Baik pengantin laki-laki maupun pengiringnya tidak mengenakan baju dan alas kaki. Pengantin laki-laki dan juga pengiringnya berbedak putih yang dipakai sangat tebal dan seluruh badan yang tidak tertutup pakaian berbalur bedak berwarna sangat kuning. Mereka berjalan kaki atau dapat juga masing-masing menunggang kuda berhias dan berpayung kebesaran.

Sebuah bangunan terbuat dari bambu beratap kain menyerupai tenda yang diusung oleh enam sampai delapan orang kadang-kadang dipakai untuk melengkapi atau menggantikan payung kebesaran. Beberapa orang sanak keluarga dan kerabat biasanya wanita beriring-iringan membawa bhan gibhan, yaitu sesuatu berupa barang atau makanan untuk disampaikan kepada pengantin wanita dan keluarganya.

Mereka berada di bagian akhir arak-arakan. Suara rebana yang ditabuh, syair-syair yang dilagukan, bersama dengan beduk yang bertalu-talu, dan sorak sorai menjadi tengara kedatangan rombongan pengantin laki-laki.

 

Arak-arakan Kedua

           Prosesi upacara mengarak kedua mempelai, pada prosesi ini pengantin wanita duduk bersila di dalam sebuah tandu berhias yang diusung oleh empat orang laki- laki. Pengantin laki-laki berjalan atau menunggang kuda di belakang tandu. Ia mengenakan pakaian kebesaran yang disebut pangantan leggha, yaitu berkain rape’, mengenakan penutup dada tanpa kebaya, kelatbahu, gelang, subang, kalung kace, kepala dipenuhi bunga-bunga seperti halnya pengantin laki-laki, wajah berbedak putih, serta berbalur bedak kuning di seluruh tubuhnya. Di depan tempat ia duduk diletakkan sebuah bantal.

Pengantin wanita biasanya ditemani oleh beberapa orang gadis kecil sebagai pengiringnya sepanjang arak-arakan. Para pengiring ini berdandan serupa dengan mempelai wanita. Kadang-kadang mereka juga tampak mengenakan pakaian sehari-hari saja. Mereka juga diusung oleh empat orang laki-laki di atas tandu berhias dan dalam prosesi berada di belakang mempelai wanita. Mereka dapat mempergunakan tandu yang berbeda-beda atau dapat pula berada dalam tandu yang sama dengan mempelai.

Pengantin wanita memakai gaun panjang berwarna putih dengan kerudung dan bunga- bunga imitasi di kepala. ( Kini di sebagaian wilayah dijumpai pasangan pengantin yang berpakaian model Barat atau sesuai dengan kreasi perias mereka).Tangannya juga memegang rangkaian bunga imitasi. Anting-antmg, kalung, cincin, bros, serta gelang gemerlapan merupakan aksesoris yang dipakai. Ia juga mengenakan sarung tangan berwarna putih dan kacamata hitam. Pengantin laki-laki mengenakan jubah panjang dan kerudung kepala, sarung tangan juga berwarna putih, serta memakai ikat pinggang. Kepalanya berhias mahkota bunga imitasi. Ia memegang sebilah keris dengan untaian bunga melati atau bunga imitasi dan juga mengenakan jam tangan, cincin, serta kacamata hitam. Sepasang pengantin ini masing-masing memakai kaos kaki berwarna putih dan alas kaki berupa sepatu atau sandal. Meskipun mereka memakai sandal, tetapi kaos kaki tetap dikenakan. Keduanya memakai corrective make-up.

Tata busana dan rias pengantin medern sudah banyak dipergunakan baik di kota-kota maupun di pedesaan, namun busana tradisional tetap dipergunakan berdampingan dengan tata busana dan rias modern. Keluarga yang cukup berada akan memilih kedua busana teresebut (tata busana dan rias modern dan Tradisional). Namun biasanya tata busana dan rias tradisional dikenakan pada saat prosesi berjalan sampai awal kedua mempelai disandingkan di pelaminan, selanjutnya  mereka berganti pakaian yang lain seperti yang telah direncanakan.

Dalam arak-arakan yang dilakukan, kedua mempelai berjalan kaki dengan diiringi seni pertunjukan semacam Haddrah yang dilengkapi dengan tambur dan simbal. Turut serta di dalam arak-arakan beberapa orang peraga yang mempergunakan topeng dan pakaian badut topeng dan pakaian menyerupai binatang-binatang tertentu, seperti beberapa ekor kuda, burung, kera, dan  singa. Semua yang memperagakannya laki-laki  dewasa.

Beberapa anak-anak dan remaja laki-laki kadang-kadang ikut pula di dalam prosesi ini atau mereka di tempatkan dipintu gerbang kediaman mempelai wanita menunggu  kedatangan rombongan yang mengadakan prosesi. Anak- anak dan remaja laki-laki ini mengelu-elukan kedatan mereka dengan melambai-lambaikan bendera-bendera kain bertangkai bambu yang dipegang oleh masing-masing  anak. Di setiap ujung atas bambu yang dipergunakan sebagai tangkai bendera diberi guntingan hiasan yang  terbuat dari warna-warni kertas. Selain bendera, mereka  juga membawa hiasan atau bunga-bunga imitasi.

Anak-anak dan remaja laki-laki ini kebanyakan adala sanak keluarga, kerabat, atau anak-anak tetangga sekkitar.  Mereka mengenakan pakaian berupa kemeja berlengan  panjang berwarna putih, celana panjang berwarna sama dengan kemejanya, dan memakai peci hitam. Selemb kain berwarna menyolok bersulam benang emas dipakai di leher masing-masing. Pakaian ini biasanya dipinjam dari pondok pesantren atau dari tempat-tempat yang menyewakan perlengkapan pengantin.

Arak-arakan; Seni Pertunjukan dalam Upacara Tradisional di Madura,Tarawang Pers, Yogyakarta, 2000. Hlm.47-59

 

Kamanten Madura, Tata Rias

Adat Madura dalam melaksanakan pernikahan juga di dudukkan di pelaminan. Tentu saja dalam masyarakat pedesaan misalnya tentu berbedadengan masyarakat kota bahkan juga dengan “masyarakat pinggiran Pada masa lain di pedesaan – pedesaan Madura merias mempelai putraputri mereka dengan tata rias yang warnanya sangat menyolok.

Pemilihan warna tidak terlepas dari yang menyolok itu seperti warna merah, biru bahkan bedaknyapun dicampnr dengan warna-warna kuning yang kemilau dan kedua mempelai memakai kacamata hitam. Pada dasarnya penganten Masyarakat Orang Madura di selnuruh Madura memiliki kesamaan .

Manten laki-laki ataupun perempuan memakai celana hitam lengkap dengan ornamen , bordil atau manik-manik. Bagi golongan bangsawan menggunakan blangkon , jas , dasi , kain panjang , hiasan bunga di kepala pola rumbai atau dikeluarkan dan berselop.

Saat mempelai disandingkan, di hadapannya di sajikan tandak dengan gending- gending kesukaan masyarakat sebab saat itu tamu-tamu yang diundang berdatangan. Biasanya para tamu tersebut menari dengan tandak dalam acara tayup. Setelah tengah malam tayub diakhiri tetapi tetabuhan terus menggema.

Bahkan saat itu sudab tiba waktunya pentas drama dimulai,biasanya lakon yang disajikan berjudul Lerap atau Pak Sakera, yaitu lakon-lakon yang penuh perkelahian. Saat permainan pentas berlangsung dan diiringi sorak-sorai penonton, kedua mempelai sudah berada di kamarnya .

Tata rias kemanten Madura di empat daerah kabupaten, masing-masing menurut kesukaan masyarakatnya. Seperti di daerah Sumenep pakaian “legha” yaitu pakaian jenis keluarga kraton , sangat disukai.

A.Sulaiman Sadik: Mengenal Selintas Tentang Budaya Madura (2005), hlm. 12 – 13

Prosesi Pra Perkawinan, Madura

Dalam mencarikan jodoh anak laki-lakinya biasanya melalui proses yang panjang sebelum anaknya tersebut ditunangkan. Jauh sebelumnya pihak orang tua anak laki-laki mencari informasi tentang kehidupan dara yang akan disunting termasuk kehidupan keluarganya .

Hal ini dikuatirkan jangan-jangan keluarga Si Dara memiliki kehidupan yang sangat tercela. Setelah diketahui bersih dari hal-hal yang tercela pihak laki-laki mengirim utusan ke rumah Si Dara untuk mempertanyakan apakah dara yang dimaksud sudah dipertunangkan atau belum. Proses ini dinamakan “nyalabar”.

Apabila ternyata Si Dara masih belum bertunangan maka proses selanjutnya utusan pibak laki-laki tersebut langsung menyatakan niatnya untuk menyunting Si Dara. Pihak Si Dara tidak memberi keputusan diterima atau tidak melainkan masih berjanji akan mengabarinya kemudian.

Hal ini karena masih mau berembuk dengan seluruh anggota keluarga. Nah pada masa itulah dari pihak Si Dara melakukan penelitian pula , apakah calon menantunya dan keluarganya itu orang baik atau mempunyai aib dalam kehidupannya. Apabila dalam penelitiannya ternyata pihak laki-laki adalah keluarga baik-baik maka kemudian keluarga Si Dara mengutus orang ke pihak laki-laki mengabarkan kalau pinangannya diterima.

Proses selanjutnya pihak laki-laki kembali mengirim utusan ke pihak Si Dara, untuk berterima kasih atas penerimaannya. Proses ini dinamakan nale’e paghar” (Bahasa Indonesia : mengikat pagar dengan tali)dan saat proses ini utusan juga menyampaikan pesan pihak laki-laki bahwa lamaran akan segera dilakukan. Penyampaian berita tentang lamaran ini dinamakan “mancet oca( Bahasa Indonesia : mengukuhkan perjanjian).

Tak lama setelah ” mancet oca’ ” tersebut dilanjutkan dengan proses melamar. Apabila saat untuk melamar tiba, pihak laki-laki segera memberi tahu seluruhfamilinya dan pada saat yang sudah ditentukan para famili pihak laki-laki berdatangan untuk ikut pergi melamar.

Masing-masing membawa kue dari berbagai jenis sebagai sumbangan sedangkan orang tua calon mempelai laki- laki banyak menyiapkan kue perawanyang dalam adat Madura dinamakan ” Jhajhan Praban “( Kue Perawan) dan seperangkat pakaian lengkap dengan ininyak wangi, saputangan, sandal, bedak dan lainnya sesuai dengan kebutuhan perempuan untuk berhias.Selain itu disiapkan pula sirih pinang dan sesisir pisang. Khusus jhajhan praban dibuat dari tepung gandum atau terigu, dengan ukuran besar kurang lebih bergaris tengah 40 CM. Karena itu kue perawan tersebut cuma sebuah dan “jhajhan prabantersebut dinamakan “dolban”.

 Sedangkan jenis pisang yang dibawa saat lamaran tersebut juga mengandung makna . Bila yang dibawa gheddhang susu (pisang susu) maka pertunangan tersebut akan dilakukan sebentar dan Si Dara akan segera dinikahi.Tetapi kalau pisang lain , artinya selain pisang susu maka hari pernikahan masih cukup panjang ,artinya tidak kesusu.

Proses selanjutnya penentuan hari pernikahan. Pihak laki-laki pada saat menyampaikan tanggal dan hari pernikahan mengutus orang lain dan utusan tersebut terdiri dari para sepuh serta membawa sekedar sumbangan biaya dari pihak laki-laki ke keluarga si dara. Sumbangan semacam itu dinamakan saserra’an ( penyerahan biaya ) Pada hari berlangsungnya akad nikah ,pihak Si Dara mengundang semua famili , teman dan tetangganya untuk meramaikannya.

Mempelai laki-laki diantar para sepuhnya dan seteiah akad nikah selesai manten laki-laki segera dibawa ke kamar manten perempuan untuk dipertemttkan. Ketika mereka bertemu Si Suami segera “ngosap bun-embunnanna se bine” ( mengusap ubun-ubun istrinya ) sambil mengucap : ” Ba’na tang bind, sengko’ lukena ba’na ” ( kamu istriku ,aku suamimu ) ,kemudian si suami menyerahkan mas kawin biasanya berupa seperangkat alat sholat ( sajadah dan mokenna ) .

A.Sulaiman Sadik: Mengenal Selintas Tentang Budaya Madura (2005), hlm. 11 – 12

 

Adat Perkawinan Madura

Sistem kekerabatan dalam masyarakat Orang Madura sudah tertata baik dan penggunaan istilah dalam keluarga misalnya sudah jelas , antara orangtua, anak serta lainnya yang menyangkut keturunan , seperti nenek, kakek ,paman, bibi , keponakan , ipar, dan lainnya.

Pemisahan tersebut sudah demikian jelasnya sebingga dalam perkawinan misalnya tidak terjadi hal-hal di luar budaya kemanusiaan . Dalam kaitan ini etnik Madura telah mengatur dan membudayakan beberapa hal yang sebenarnya juga dimiliki etnik-etnik lain yang sudah beradap. Dt antara aturan-aturan tersebut dapat klta lihat pada Adat Perkawinan.

Bagi etnik Madura perkawinan merupakan perbuatan yang dimulyakan . Bagi Orang Madura menikahkan anak perempuannya merupakan sesuatu yang memberi “gengsi. Menurut paham “Madura Lama“ makin cepat anak perempuannya menikah makin cepat pula gengsi itu diperolehnya.

Karena itu pada masa lalu banyak dari anak perempuan Madura yang dinikahkan di bawah umur. Tentu saja keadaan seperti itu sangat merepotkan Kantor Pencatat nikah sebab di situ ada aturan tertentu yang membolehkan seseorang melakukan pernikahan , sebut saja bahwa pernikahan bisa dilakukan dalam usia tertentu baik bagi Si Laki-laki maupun Si Perempuan, pasti sekali anak di bawah umur tidak diperkenankan menikah.

Hal ini sudab dipertegas dalam Undang-Undang Perkawinan kita bahwa usia boleb menikah bagi laki-laki paling sedikit berusia 20 tahun dan 16 tahun bagi Si Perempuan.  Perkawinan di Madura pada umumnya melalui proses pertunangan , namun dalam hal perkawinan ini ada hal yang sangat dihindari yaitu pernikahan yang dinamakan :

1.    Robbhu bhata ( Bbs Indonesia : batu bata roboh ) merupakan pernikahan dari dua orang laki-laki bersaudara menikahi dua perempuan yang bersaudara pula.

2.    Salep tarjha ( Bahasa Indonesia : saling menendang, menyilang ). Pernikahan “Salep tarjha ” ini merupakan pernikahan dari dua orang laki-laki dan perempuan bersaudara menikah dengan dua orang laki-laki juga bersaudara.

3.    Mapak Balli (bertemu wali ). Pernikahan ini dinamakan demikian karena ayah dari kedua mempelai bersaudara. ltulah tiga bentuk pernikahan yang sedapat mungkin dihindari oleh Orang Madura.

 

 

A.Sulaiman Sadik: Mengenal Selintas Tentang Budaya Madura (2005), hlm. 10 – 11

Said Kelana, Musikus

Tahun 1907, Said Kelanalahir di Madura, seorang tokoh panggung Indone­sia, setia dan taat pada agama (Islam) Pendidikan terakhirnya adalah HBS Ia bekerja sebagai seorang musikus, penyanyi bahkan terjun dalam dunia film nasional. Dalam film ia berperan sebagai pemain film, sutradara maupun manager/pimpinan perfilman.

Ayahnya berasal dari Madura sedang ibunya dari Italia. Jadi Said Kelana adalah putera Indonesia, berdarah campuran antara Indonesia dan Italia. Dia terkenal sebagai anak yang tampan, bertubuh kekar, wataknya keras, penuh disiplin.

Said Kelana senang bermain terompet. Setelah tamat HBS dia mulai bekerja selaku pemain musik, dan penyanyi terkenal. Kemudian dia terjun ke dunia film. Berkecimpung dalam dunia perfilman, mulai dari pemain film biasa sampai menjadi sutradara. Begitu luas pandangannya dalam bidang film sehingga ia punya kecakapan khusus dan pengalaman-pengalaman yang berharga Pada zamannya Said Kelana sangat terkenal bukan saja sebagai pemain panggung, tetapi juga sebagai pemusik, penyanyi dan sutradara film. Bisa dibayangkan siapa yang tidak mengenal Said Kelana pada tahun-tahun 1942 an sampai tahun-tahun 1950 an.

Selama perang Dunia ke II Said Kelana berkeliling Amerika Serikat, dengan pertunjukan sandiwaranya Waktu itu sandiwara Dardanella sangat terkenal sampai ke luar negeri Dengan berkecimpung dalam permainan sandiwara ini, dia jatuh cinta dan kemudian menikah dengan Dewi Mada, dari pernikahan ini mereka memperoleh seorang anak benama Wassy.Setelah berkeliling Amerika Serikat mereka kembali ke Indonesia. Pada saat Revolusi Kemerdekaan, dia dengan kawan-kawannya dimanfaatkan untuk menghibur tentara Indonesia di front terdepan.

Tahun 1948,  Said Kelana ditangkap Belanda di Cirebon. Pada saat itulah isterinya Dewi Mada meninggal, tak berapa lama mertuanya juga meninggal.Setelah isteri pertamanya meninggal, dia kawin lagi, bahkan sampai beberapa kali. Dari perkawinan-perkawinannya kemudian ia memperoleh lima orang anak. Walau pun kehidupan rumah tangganya kurang harmonis, Said Kelana sangat memperhatikan pendidikan ke enam anaknya khususnya dalam dunia seni baik itu sandiwara, musik, seni suara maupun film. Dia termasuk orang tua pertama yang mempromosikan dengan membentuk Band bocah “The Kids” yang lagu lagunya ia ciptakan sendiri.

Tahun 1960-an, dia termasuk orang yang hidupnya berkecukupan. Boleh dikatakan saat itu dia seorang yang kaya, memiliki banyak harta benda. Apa saja dia buat dengan kekayaan yang ada padanya itu. Begitu kayanya sampai pada waktu itu dia membuat 5 buah film sekaligus. Dia sendiri bertindak sebagai sutradara, juga selaku produser. Ternyata perencanaannya kurang matang, bercita-cita tinggi tetapi gagal. Uangnya kurang lebih Rp. 400 juta saat itu amblas, dan filmnya tidak ada yang jadi. Ia rugi besar tetapi dia tidak pernah kecewa sedikitpun. Kemauannya tetap keras dan betul-betul dia termasuk orang hebat. Walaupun usahanya gagal membuat film dan sangat rugi, tetapi dia tetap menggiring anak-anaknya itu untuk maju dan menekuni panggung. Akibatnya anak-anaknya itu memainkan musik lebih dari orang yang sudah dewasa, mereka sangat genit dan memiliki bakat dan kemampuan yang diturunkan ayah mereka. Selain dia sendiri mendidik anak-anaknya bermain musik maupun sandiwara, ia juga mendorong mereka untuk rajin-rajin bersekolah. Menurut dia, bermain musik harus terpelajar. Tanpa belajar yang sungguh di sekolah, bermain musik yang baik tidak bisa. Untuk memainkan suatu musik yang baik, orang harus belajar dengan sungguh-sungguh sehingga memiliki ilmu dan pengetahuan. Jika orang memiliki ilmu dan pengetahuan yang tinggi, maka permainan musik dapat dimainkan secara baik dan mempunyai nilai tambah. Said Kelana benar-benar menekan hal ini serta selalu mendorong anak-anaknya untuk bersekolah dengan sungguh-sungguh memang dia sendiri seorang tamatan HBS pada zaman Belanda, jadi tidak perlu diherankan kalau memang dia begitu memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Dia lebih menaruh perhatian pada bidang bahasa, antara lain bahasa Inggris, Cina, Perancis, Arab dan Belanda. Karena itu tak mengherankan bila semua putera- puteranya banyak menguasai bahasa asing di samping Bahasa Indone­sia. Seperti misalnya puterinya Lydia dalam usia 15 tahun sudah menguasai dan berbicara secara fasih Bahasa Inggris, Cina, Perancis dan sedikit bahasa Belanda.

Selaku pemimpin Band The Kids sejak tahun 1980 dia merobah nama Band ini, diganti nama “The Big Kids”. Begitu tinggi kwalitas permainannya dan pengarahan pendidikan kepada anak-anaknya, maka akhirnya anak-anaknya juga mempunyai pendidikan yang berkwalitas dan mempunyai perawakan yang tampan seperti ayah mereka dan selalu menampilkan sikap, bakat mereka dalam film dan berbagai acara seperti nyanyi atau musik.Selama hidupnya, Said Kelana tinggal di Jalan Matraman Dalam No. 14 Jakarta Pusat.

Ensiklopedi Tokoh Budaya,  Departemen Pendidikan Dan KebudayaanDirektorat Jenderal Kebudayaan Direktoratsejarah Dan Nila1tradisional Proyekinventar1sasi Dan Dokumentasisejarah NasionalJakarta 1994, hlm. 233-235

Panembahan Ronggo Sukawati

Diceriterakanlah, bahwa Sukawati adalah raja Pamekasan yang menjalankan Pemerintahan penuh dengan kebijaksanaan. Selain dari pada itu, pribadinya memang memiliki sifat kesatria yang dapat dibanggakan, misalnya keberanian karena benar, kejujuran, keadilan dan kesopanan.

Selain dari itu ia tidak suka memperluas daerahnya dengan daerah kera­jaan lain, tctapi sebaliknya pula ia tidak sudi dicampuri oleh fihak lain didalam menjalankan pemerintahan. Pada suatu waktu, Sukawati baru saja dilantik sebagai raja Pamekasan, menggantikan ayahnya, datanglah seseorang yang mempersembahkan satu landian keris. Keesokan harinya, orang lain lagi datang mempersembahkan sebuah rangka keris dan terakhir, seorang tamu lainnya datang dengan membawakan isi keris. Sesudah itu Sukawati menyuruh seorang ahli keris untuk memasang mempersatukan perkakas perkakas keris yang ia terima dari orang- orang itu. Ternyata cocok, tidak usah dirobah lagi. la lalu memberi narna terhadap keris tersebut, ialah ,,Joko piturun”. Diceriterakan selanjutnja, bahwa pada suatu saat, orang  orang Bali datang menyerang daerah Sampang dan Sumenep.

Di Sumenep Pangeran Lor I meninggal dunia dalam pertempuran dan juga banyak pembesar – pembesar dari Sampang yang gugur. Setelah orang – orang Bali merasa izlah menang, mereka terus menyerang daerah Pamekasan. Pasukan dari Bali itu disambut sendiri oleh Sukawati dipebatasan kota Pamekasan ialah di Jungcangcang. Timbullah pertempuran yang hebat ditempat itu, tetapi tidak antara lama pasukan dari Bali hancur lebur, sehingga boleh dikatakan tidak seorangpun dari orang – orang bali yang dapat menyelamatkan diri. Dengan demikian, kedudukan Sukawati makin kuat dan namanya makin terkenal diseluruh Madura. Diceriterakan pula, bahwa dalam zaman kerajaan Sukawati pernah terjadi dua tahun lamanya daerah Pamekasan tidak ada hudjan turun. Rakyat sangat menderita, karena tidak dapat bercocok tanam dan tim­bullah penyakit busung lapar. Pada suatu malam Sukawati bermimpi, bah­wa tidak  jauh dari kota Pamekasan didaerah hutan dan rawa rawa bertempat tinggal seorang wali yang tidak mempunyai rumah, siang malam ia berselimutkan angin, beratapkan langit. Keesokan harinya Sukawati terus memerintahkan patihnya untuk mencari orang itu. Pepatih beserta beberapa Menteri terus berangkat mencari apa yang telah dipesan oleh rajanja. Ditempat rawa – rawa dan hutan, kelihatan banyak pohon yang telah tumbang. Siapakah kiranya yang menebang pohon itu?

Setelah dicari kian kemari, dijumpainya hanya seorang saja yang mene­bang pohon. Sewaktu ditanyakan, siapakah namanya, maka dijawab bah­wa ia bernama Kiyahi Agung Raba. Patih Pamekasan segera pulang dan menceriterakan segala sesuatunya kepada rajanja. Setelah Sukawati mendengar laporan tersebut, ia segera memerintahkan kepada Patih dan Menteri -Menterinja, supaya mereka menggerakkan tenaga rakyat untuk mendirikan rumah bagi wali tersebut (Kiyahi Agung Raba). Setelah rumah itu selesai dan ditempati oleh Kijahi Agung Raba, maka hujan segera turun dan orang – orang Pamekasan sangat bergembira dan berlomba-lomba berangkat untuk bercocok tanam.

Peristiwa lain semasa pemerintahan Ronggo Sukawati ialah pada suatu saat Panembahan Lemahduwur, Arosbaya datang ke Pamekasan bersama- sama dengan Menteri -menterinya untuk keperluan bersilaturrachmi. Sukawati menerima dengan cukup ramah tamah atas kunjungan Lemahduwur. Sete­lah beberapa lama berselang, Lemahduwur berkenan menangkap ikan dari rawa si Ko’ol dekat kota Pamekasan. Semua Menterinya dengan membuka pakaian luar disuruh melompat kedalam rawa untuk menangkap ikan. Su­kawati menyuruh Menteri-menterinya untuk membantu, dan Menteri dari Pameka­san itu tidak membuka pakaiannya sama sekali dan terjun kedalam air.

Entah karena apa, Lemahduwur setelah melihat peristiwa itu tanpa minta diri, terus pulang dengan diikuti oleh Menteri -menterinja. Sukawati setelah meli­hat tamunya pulang tanpa pamit, terus mengejarnya. Sesampainya di Sam­pang ia menanyakan kepada saudaranya, ialah Adipati Sampang, kemanakah tamunya pergi. Ia mendapat jawaban bahwa tamunya terus menuju Blega dan ditepi jalan dikampung Larangan tamunya itu berhenti sebentar menyandar disebuah pohon. Sukawati menghunus keris Jokopiturun dan ditusukkan kepada pohon kaju itu, dan ia terus kembali ke Pameka­san. Selang beberapa hari lamanya, Sukawati menerima surat dari isterinya Lemahduwur Arosbaya, bahwa suaminya meninggal dunia karena “bisul besar dipinggangnya. Setelah membaca berita itu, Sukawati marah pada dirinya dan diambilnja keris Jokopiturun terus dilemparkan kerawa si Ko’ol. Setelah keris itu dibuang, kedengaran suara : „Seumpama keris Jokopi­turun tidak dibuang, Jawa dan Madura hanya selebar daun kelor”. Setelah Sukawati mendengar suara itu, ia merasa sangat menyesal dan memerintahkan Menteri -menterinja mencari kerisnya didalam rawa- rawa . Tetapi sayang, keris itu tidak dapat diketemukan kembali.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Drs. ABDURACHMAN: SEDJARAH MADURA SELAJANG PANDANG ; MELIPUTI KABUPATEN : SUMENEP, PAMEKASAN, SAMPANG, BANGKALAN, cet. II, aumatic the sun smp,Sumenep 1971, hlm. 44-46

Riwayat Jokotole

Lahirnya Jokotole.
Diceriterakannya didalam sejarah Madura bahwa cucu Pangeran Bukabu mempunjai anak bernama Dewi Saini alias Puteri Kuning (disebut Puteri Kuning, karena kulitnya yang sangat kuning) kesukaannya bertapa. Dengan perkawinan bathin dengan Adipoday (suka juga bertapa), putera kedua dari Panembahan Blingi bergelar Ario Pulangjiwo, lahirlah dua orang putera masing2 bernama Jokotole dan Jokowedi. Kedua putera tersebut ditinggalkan begitu saja dihutan. Putera yang pertama, Jokotole, diketemukan oleh seorang Pandai Besi bernama Empu Kelleng didesa Pakandangan, didalam keadaan disusui oleh seekor kerbau yang putih. Sedangkan putera yang kedua, Jokowedi, diketemukan di Pademawu, juga oleh seorang Empu.
Kesenangan Jokotole sejak kecilnya ialah membuat senjata- senjata, seperti keris, pisau dan perkakas pertanian. Bahannya cukup dari tanah liat, akan tetapi Jokotole dapat merobahnya menjadi besi, demikian menurut ceritera. Pada suatu waktu Jokotole, setelah mencapai usia 6 (enam) tahun, Bapak angkatnya, Empu Kelleng Pakandangan, mendapat panggilan dari raja Majapahit (Brawijaja VII), untuk dimintakan bantuannya dalam pembuatan pintu Gerbang.

Djokotole bertugas di Madjapahit.
Selama 3 tahun dari keberangkatannya ke Majapahit, Empu Kelleng Pakandangan belum juga ada kabarnya, sehingga menggelisahkan dan mengkhawatirkan Nyai Empu Kelleng Pakandangan. Karena itu Nyai Emu Kelleng Pakandangan lalu menyuruh anaknya, yaitu Jokotole, untuk menyusul dan membantu ayahnya. Dalam perjalanannya melewati pantai selatan Pulau Madura, ia berjumpa dengan seorang tua didesa Jumiyang (Pandemawu) yang berseri-seri roman mukanya. Siapakah gerangan orang tua tersebut? Orang tua tersebut adalah pamannya sendiri, saudara dari ayahnja, yaitu Pangeran Adirasa, yang sedang bertapa didaerah itu. Orang tua tersebut memanggil Jokotole untuk datang kepadanya. Ketika Jokotole mendatanginya, Adirasa menceriterakan dari permulaan sampai akhir hal-ikhwal hubungan kekeluargaannya dan Juga ia memperkenalkan adik Jokotole yang bernama Jokowedi. Selain dari itu
Jokotole menerima nasehat – nasehat dari Adirasa, dan ia diberinya bunga melati oleh pamannya itu. Bunga melati itu disuruhnya makan sampai habis, supaya ia nantinya dapat menolong Bapak angkatnya yang mendapat kesusahan di Majapahit dalam pembuatan pintu Gerbang. Untuk penyelesaian pembuatan pintu Gerbang itu harus dipergunakan suatu alat perekat, perekat mana nantinya akan dapat keluar dari pusar Jokotole, sewaktu ia dibakar hangus. Karena itu nantinya ia harus minta bantuan orang – orang lain untuk membakar; dirinya, dengan pengertian kalau Jokotole telah hangus terbakar menjadi arang, perekat yang keluar dari pusarnya supaya segera diambil dan jika sudah selesai supaya ia segera disiram dengan air untuk dapat hidup kembali seperti sediakala. Jokotole diberinya petunjuk bagaimana caranya memanggil pamannya (Adirasa) apabila ia mendapat kesukaran. Selain mendapat nasehat – nasehat, juga ia men¬dapat seekor kuda hitam, bersayap (si Mega) sehingga kuda tersebut da¬pat terbang seperti burung Garuda, dan sebuah Cemeti dari ayahnya sendiri, Adipoday. Setelah Jokotole bersaudara dapat perkenan dari pamannya untuk berangkat ke Majapahit, sesampainya mereka dipantai Gersik men¬dapat rintangan dari penjaga – penjaga pantai, karena memang mereka mendapat perintah dari Rajanya untuk mencegat dan membawa dua orang bersaudara itu keistana. Perintah Raja ini berdasarkan mimpinya untuk mengambil menantu yang termuda dari dua pemuda sesaudara itu. Setelah diadakan pembitjaraan kompromis antara pihak pepatih dongan kedua orang bersaudara itu, datanglah mereka keistana. Ketika kedua orang sesaudara tadi diterima oleh Raja, diadakan ramah-tamah dan diutarakan niatan Raja menurut mimpinya. Karena itu dengan ikhlas Jo¬kotole meninggalkan adiknya dan melanjutkan perjalanannya menuju Majapahit. Setelah ia mendapat perkenan dari ayah angkatnya menemui Raja Majapahit, ia lalu ditunjuk oleh Raja sebagai pembantu Empu-empu. Pada saat bekerja sama dengan Empu-empu, Jokotole minta kepada Empu-empu, supaya dirinya dibakar sampai menjadi arang. Bila telah terbakar supaya diambilnya apa yang keluar dari pusarnya, danitulah nantinya dapat dijadikan alat perekat. Apa yang diminta oleh Jo¬kotole dikerjakan oleh Empu-empu sehingga pintu gerbang jang tadinya belum .dapat dilekatkan, maka sesudah itu dapat dikerjakan sampai selesai. Setelah bahan pelekatnya di¬ambil dari pusar Jo¬kotole, ia lalu disiram dengan air sehingga dapat hidup kembali seperti biasa.
Selanjutnja jang mendjadi persoalan jalah pintu gerbang tadi tidak dapat didirikan oleh Empu-empu, karena beratnya. Dengan bantuan Jo¬kotole yang memperoleh kekuatan dari pamannja Adirasa yang tidak menampakkan diri, pintu gerbang yang besar itu dapat segera ditegakkan, sehingga perbuatan tersebut menakjubkan bagi Raja, Pepatih, Menteri – menteri dan Empu-empu lainnya. Bukan saja dibidang tehnik, Jo¬kotole memberikan jasa- jasanya yang besar, bahkan dibidang pertahanan Kerajaan Majapahit banyak pula bantuannya, misalnya dalam pengamanan dan penaklukan Blambangan. Atas jasa- jasanya yang besar itu Raja Majapahit berkenan menganugerahkan puteri Mahkota yang bernama Dewi Mas Kumambang. Tetapi karena hasutan Pepatihnya, maka keputusan untuk mengawinkan Jo¬kotole dengan Dewi Mas Kumambang ditarik kembali dan diganti dengan Dewi Ratnadi yang waktu itu buta karena menderita penyakit cacar. Sebagai seorang ksatria Jokotole menerima saja keputusan Rajanya.

Jokotole dengan istrinya pulang ke Sumenep.
Setelah beberapa lama tinggal di Majapahit, Jokotole minta diri untuk pulang ke Madura dan membawa isterinya yang buta itu. Dalam perjalanan kembali ke Sumenep, sesampainya dipantai Madura, isterinya minta idzin untuk buang air. Karena di tempat tersebut tidak terdapat air, maka tongkat isterinya diambil oleh Jokotole dan ditancapkan ditanah, sehingga keluarlah air yang kebetulan mengenai mata yang buta itu, maka tiba- tiba Dewi Ratnadi dapat membuka matanya, sehingga dapat melihat kembali. Karena itu tempat tersebut diberi nama „Socah”, jang artinja mata. Didalam perjalanannya ke Sumenep banyaklah kedua suami isteri itu menjumpai hal- hal yang menarik dan memberi kesan yang baik. Misalnya sesam¬painya mereka di Sampang, Dewi Ratnadi ingin mencuci kainnya yang kotor karena ia sedang menstruasi (haid). Kain jang dicucinya itu dihanyutkan oleh air sehingga tidak dapat diketemukan lagi. Kain dalam ter¬sebut oleh orang Madura disebut „amben”. Setelah isterinya itu kehilangan amben, maka berkatalah Jokotole, mudah- mudahan sumber ini tidak keluar dari desa ini untuk selama-lamanja. Sejak itulah desa tersebut disebut orang desa Omben. Sewaktu Jokotole menemui ayahnja ditempat pertapaan digunung Geger, diberitahunja bahwa ia nantinja akan berperang dengan seorang perajurit yang ulung bernama Dempo Abang (Sampo Tua Lang), seorang Panglima perang dari Negeri Cina jang menunjukkan kekuatanya kepada semua Raja –raja ditanah Jawa, Madura dan sekitarnya. Pada suatu ketika (demikian menurut ceritera), waktu Jokotole bergelar Pangeran Secoadiningrat III memegang pemerintahan di Sumenep ( ± tahun 1415), datanglah musuh dari negeri Cina jang dipimpin oleh Sampo Tua Lang dengan berkendaraan Kapal Layar yang dapat berlayar dilaut, diatas gunung diantara bumi dan langit.
Didalam peperangan itu, Pangeran Secoadiningrat III mengendarai Kuda Terbang, sesuai dengan petujuk dari pamannya (Adirasa). Pada suatu saat setelah ia mendengar suara dari pamannya, yang berkata : „ Pukul maka Jokotole menahan kekang kudanya dengan keras sehingga kepala dari kuda itu menoleh kebelakang dan ia sendiri menoleh sambil memukulkan cemetinya (cambuknya) yang mengenai kendaraan musuhnya sehingga hancur luluh jatuh ditanah. Dari kejadian-kejadian inilah, maka kuda terbang yang menoleh kebelakang dijadikan Lambang bagi daerah Sumenep. Sebenarnya sejak Jokotole bertugas di Maja¬pahit sudah memperkenalkan lambang kuda terbang. Di pintu gerbang dimana Jokotole ikut membuatnya terdapat gambar seekor kuda memakai sayap, dua kaki belakang ada ditanah, sedang dua kaki muka diangkat kebelakang. Demikian pula di Asta Tinggi Sumenep di salah satu congkop (koepel) terdapat gambar kuda terbang yang dipahat diatas manner. Juga dipintu gerbang rumah Kabupaten (duhulu Keraton) Sumenep ada lambang kuda terbang. Di museum Sumenep juga terdapat lambang kerajaan yang ada kuda terbangnya. Karena itu sudah sewajarnyalah kalau sampai sekarang Pemerintah Daerah Kabupaten Sumenep mempergunakan lambang kuda terbang.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Drs. ABDURACHMAN: SEJARAH MADURA SELAYANG PANDANG ; MELIPUTI KABUPATEN : SUMENEP, PAMEKASAN, SAMPANG, BANGKALAN, cet. II, aumatic the sun smp, Sumenep 1971, hlm. 8-11

Berakhirnya Pemerintahan Jokotole (tahun 1460).

Berakhirnya Pemerintahan Jokotole (tahun 1460).

Pada akhirnya diceriterakan bahwa Jokotole (Secoadiningrat III) memegang pimpinan pemerintahan di Sumenep sampai berumur lanjut dengan sangat memuaskan bagi semua lapisan masyarakat. Pada suatu waktu datanglah utusan dari Bali dengan menaiki sebuah kapal dan membawa surat, bahwa putera mahkota Bali akan datang berkunjung ke Sumenep, kedatangan mereka disambut dengan baik oleh raja Sumenep. Tetapi sesampainya diistana, entah sebab apa, mereka tiba – tiba mengamuk sehingga banyak orang – orang yang mati terbunuh atau luka – luka. Juga Jokotole mendapat luka – luka. Ia lalu dibawa lari dengan dipikul memakai tandu menuju kekeraton lama di Banasareh. Diperjalanan Jo­kotole meninggal dunia. Ditempat, dimana ia meninggal dunia, sukar sekali dicari air untuk memandikan jenazah. Karena itu Raden Ario Begonondo (putera Djokotole) menancapkan tongkat ibunya yang dipakai di Socah, dan keluarlah air dari tanah.

Tempat itu lalu disebut desa Sa-asa, jang artinja tempat untuk mencuci.

Jokotole lalu dikuburkan didesa Landjuk berbatasan dengan Sa-asa, sekarang termasuk kecamatan Manding. Adik dari Jokotole, Jokowedi mendengar adanja pertempuran dengan orang – orang  Bali di Sumenep. Ia segera datang untuk membantunya. Setelah orang – orang Bali melihat Jokowedi, dikiranya Jokotole dapat hidup kembali, karena wajah Jokowedi mirip sekali dengan wajah kakaknya. Dengan demikian orang – orang Bali ketakutan dan lari tunggang langgang kekapalnja. Ceritera kehidupan dan perjuangan Jokotole banyak mengandung legenda.

Sampai dimanakah batas – batas kebenarannya, jika ditinjau dari segi sejarah, kami tidak berani menentukan, karena persoalan ini masih raemerlukan penyelidikan yang lebih mendalam. Kami telah mengadakan peninjauan ke „ kuburan nyamplong “, dimana Adipoday dimakamkan, demikian pula kekuburan Jokotole, tetapi kedua tempat yang dianggap keramat oleh rakyat itu, tidak menunjukkan bentuk kuburan zaman Jokotole. Kemungkinan besar bentuk kuburan yang lama telah diganti sama sekali dengan bentuk kuburan zaman sekarang.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Drs. ABDURACHMAN: SEDJARAH MADURA SELAJANG PANDANG ; MELIPUTI KABUPATEN : SUMENEP, PAMEKASAN, SAMPANG, BANGKALAN, cet. II, aumatic the sun smp,Sumenep 1971, hlm. 31-33