Dahlan Iskan

Dahlan Iskan
Dahlan Iskan lahir di Magetan, 17 Agustus 1951. Pernah kuliah di IAIN Surabaya, Fak. Hukum Untag Samarinda. MengikutiO/r The Job Training Pers di LP3ES Jakarta/ Tempo (1974), Minaut In­donesia LPPM Jakarta (1980), dan Finom LPPM Jakarta (1984).
Pertama bekerja sebagai reporter Mingguan Mimbar Masyarakat (1974-1976), juga koresponden Tempo (1975- 1977), Kepala Biro Tempo Surabaya (1977-1982), Redaksi Pelaksana Harian Jawa Pos (1982-1984) dan Direktur/ Pimim- pin Redaksi/ Pimpinan Umum Harian Jawa Pos (1984-1995).
Saat ini juga menjadi direktur utamadi37anak perusahaan Jawa Pos. Yaitu Direktur Utama PT Jawa Nusa Wahana, Surabaya, PT Duta Manuntung, Balikpapan, PT Percetakan Manuntung, Balikpapan, PT Media Fajar Graf ika, Ujungpandang, PT Akcaya Pariwara, Pontianak, PT Riu Pos, Pekanbaru, PT Wenangcemerlang Press, Manado, dan Iain-Iain.
Anggota MPR (1988-1993) ini pernah menjabat Presiden Lions Club di Surabaya (1984) dan Wakil Ketua Persebaya (1988). Ketua PWI Cabang Jatim sejak 1989 sampai sekarang. Juga menjadi pengurus Kadin Jatim, pengurus DPD Golkar Jatim, Ketua Yayasan Mitra Surabaya dan Ketua Perbasi Jatim.
Menikah dengan Nafsih Sabri. Bersama keluarga tinggal di Rungkut Mejoyo Selatan IV/10 Surabaya, telepon 815487. Selaku Direktur PT Jawa Pos berkantor di Jl. Karah Agung, Surabaya, telepon 836969.
 
 
Koran Jawa Pos (JP), agaknya tak bisa dipisahkan dengan nama Dahlan Iskan. Harus diakui perannya begitu besar dalam membesarkan JP. Ketika ditunjuk se­bagai Redaksi Pelaksana JP tahun 1982, koran ini tirasnya masih kecil, hanya sekitar 6 ribuan.
“Saat itu JP masih belepotan. Yang pertama-tama saya garap adalah beritanya.
Cetak boleh jelek, pasar boleh lebih kecil, tapi berita harus menang. Itulah yang kami punyai waktu itu. Lama-lama orang tahu, bahwa berita JP lebih baik, hingga mereka mau berlangganan,” ungkapnya.
Kendati isi JP lebih baik, kenyataannya selama tiga bulan tirasnya tidak naik. Setelah ditelusuri, JP memang perlu diperkenalkan pada masyarakat. “Saat itu kami tidak tahu caranya. Setiap kami memperkenalkan JP, tak satu agen pun yang mau. Pengecer juga tak mau menerima, dianggap hanya akan memberat-berati saja,” paparnya.
Berangkat dari kenyataan seperti itu dan karena adanya keyakinan bahwa JP lebih baik, lalu dibentuk pengecer khusus yang digaji dan hanya boleh menjual JP. Peloper yang digaet tidak banyak, hanya 30 anak. Mereka diberi imbalan Rp. 300 tiap hari. Lama-lama, JP tambah laku. Gaji untuk pengecer kemudian diturunkan dan ditam- bah komisi. Lalu gaji dihapus dan tinggal komisi yang diberikan. Sekarang, pengecer harus membeli JP secara kontan.
Itu dari segi perkenalan. Dari segi dis- tribusi, karena waktu itu tak ada yang mau jadi agen, kemudian para istri karyawan digerakkan untuk menjadi agen dalam kota, termasuk istrinya. “Mereka terus kami beri motivasi, supaya perusahaan suaminya tidak mati dan tidak menganggur. Ternyata, mereka bisa. Istri saya pun sampai seka- rang masih menjadi agen. la tak mau ber- henti walau sudah saya suruh berhenti. Katanya eman-eman, karena dari hasil agen itu, ia mendapatkan Rp. 900 ribu per bulan,” jelasnya.
Menurutnya, tiras JP sekarang sudah cukup besar dan rasanya susah untuk di- tingkatkan lebih besar lagi. Perkembangan tiras JP tidak mungkin seperti dulu lagi, yaitu 400 hingga 1.000 %. “Saya menyadari hal itu. Harga koran naik terus, sehingga tidak semua masyarakat mampu membeli koran. Jumlah pembaca JawaTimurterbatas. Un­tuk menembus Jakarta dan sekitarnya tidak mungkin karena tidak ada transportasi yang kompetitif. Jelas, kami tidak bisa menyebar ke seluruh Indonesia,” jelasnya.
Sebab itu, JP lantas melakukan strategi lain. Kalau dulu JP dibaca kalangan menengah ke bawah, sekarang menengah ke atas. Sehingga perlu dikembangkan koran khusus untuk kelas bawah. Itulah sebabnya Jawa Pos “menugaskan” anaknya, Memo­randum, untuk memenuhi kebutuhan la- pisan itu.
Untuk menjadi koran nasional dalam arti yang betul, misalnya beredar di seluruh In­donesia, JP menghadapi kendala; karena belum adanya sistem cetak jarak jauh (SCJJ). “Meski begitu kami mau besar dan berkembang terus. Caranya, kami pilih me- ngembangkan koran-koran daerah. Menu- rut saya, SCJJ justru jangan diberlakukan sekarang. Bukan karena JP tidak berani, kami sudah punya peralatannya kok. Tapi harus diingat, masih banyak daerah yang belum punya harian. Padahal timpang ra­sanya jika sebuah ibukota propinsi tidak memiliki harian. Apakah tidak lebih baik jika dalam era sekarang ini digunakan untuk menerbitkan koran-koran di daerah itu •?” ungkapnya.
Sehubungan dengan hal itu, JP mengembangkan sayapnya ke daerah yang belum memiliki harian. “Jika ada yang ber anggapan bahwa saya kemaruk, ya saya tidak bisa membantah. Memang setahun rata-rata kami melahirkan tiga koran baru Dan selama ini kami telah berhasil menge- lola 26 media cetak. Yang jelas, kami selalu memilih daerah-daerah yang masih ko- song, sehingga investasinya tidak banyak, kira-kira Rp. 500 sampai Rp. 1.000 juta su­dah cukup”.
Ditambahkannya, orang-orang JP yang dikirim dan menjadi motor di daerah, tun- tutannya juga belum banyak. Ini karena di JP mereka belum lama dan mereka tahu bahwa dulu ‘iJP juga pernah menderita se- kali. “Pendeknya, kami ini belum terbiasa hidup enak,” ujarnya,
Meski sudah mengelola 26 media cetak, ia enggan kalau disebut ‘raja koran’. Ini karena statusnya bukan pemilik. Sahamnya di JP juga tidak besar, tergolong minoritas. Sehingga ia lebih banyak bersifat sebagai pengelola.
Ekspansi JP ke daerah, tentunya tidak langsung mendapatkan untung. Bahkan di- lihat dari untung-ruginya mengembangkan koran daerah, gila rasanya ini dilakukan. “Sayasulit menjawabnya. Kenyataannya JP memang belum memperoleh apa-apa da­lam arti finansial, justru keluar uang. Tapi kalau’ditanya untuk apa, saya tidak bisa menjawab dengan satu kalimat. Misalnya untuk mencari keuntunganya tidak,” jelas­nya.
Lalu ditambahkan, mungkin itu merupakan naluri seseorang yang ingin terus berkembang. Motifnya tidak jelas dan semuanya itu tidak aada niat dalam arti direncanakan. Keuntungan mungkin baru dapat dipetik pada masa mendatang. Di samping itu langkah ini juga merupakan wadah penembangan karir orang-orang di JP.
Dalam melakukan ekspansi, kaderisasi diperhatikan sungguh-sungguh. Memilih orang yang tepat untuk menangani koran daerah, merupakan senjata utama dan pamungkas, karena tidak mungkin setiap hari menanganinya. “Saya harus dapat memilih orang yang dapat dipercaya dan mampu mengembangkannya. Saya memilih mereyang benar-benar memiliki kemampuan manajerial. Pemilihan itu tentu tak hanya melalui dan mengandalkan kegiatan rutin selama di JP. Itu tentu tak cukup, karena JP belum lama berdiri.”
Mengapa JP tidak menjadi koran nasi­onal yang lebih hebat lagi, tapi justru mengelola koran daerah? Seperti yang sering ia katakan, saat ini era koran nasional sudah akan berakhir. “Mana sekarang ada koran nasional? Sudah nggak ada nggak lagi. Koran-koran yang terbit di Jakarta pun, yang dulu dikatakan koran nasional itu, se­karang berproses menjadi koran daerah, yaitu daerah Jakarta,” jelasnya.
Kecuali itu, sejak dulu memang ia tidak setuju terhadap konsep bahwa koran dae­rah hanya membuat berita daerah. Oleh karena itu, ketika ia membesarkan JP, ia mempunyai konsep tersendiri. Menurutnya, ko­ran daerah seharusnya’berita nasionalnya tak kalah dengan koran Jakarta, berita internasionalnya tidak kalah dengan koran Tok­yo dan berita daerahnya pun harus menang dengan koran daerah manapun. “Tiga doktrin itu yang penting dan harus dilakukan oleh setiap koran, termasuk yang tergabung dalam Jawa Pos Grup,” tegasnya. (AS-3)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa & Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 541-53 (CB-D13/1996-…)

Bersih Desa, Kabupaten Magetan

Bersih Desa, Tak Sekedar Selamatan

RABU, medio November 2012, warga Dusun Waru Tunggal, Desa Tegalarum, Kec. Bendo, Kab. Magetan, menggelar hajatan “syukuran desa”.

Tradisi bersih desa (ada yang menyebut syukuran desa, sedekah bumi, selamatan desa) merupakan tradisi yang berlangsung di desa-desa di Jawa Timur, Jawa Tengah, DI Yogyakarta
maupun Jawa Barat. Tradisi itu biasanya digelar pada saat suroan atau tahun baru Saka. Namun juga tak jarang dige- lar setelah masa panen. Tak jarang Bersih Desa di beberapa desa, baik di Magetan, MadiunPonorogo, Ngawi maupun Pa citan digelar meriah dengan beberapa pertunjungan tradisional, sepertitayub, wayang kulit, reog pono- rogo, campur sari, ludruk, ketoprak, hingga orkes Melayu
atau Gambus dan karnaval pawai arak-arakan. Bahkan di beberapa desa yang memiliki
tempat wisata seringkah dilak sanakan besar-besaran dan meriah untuk menarik wisatawan. Lihat saja di desa-desa di sekitar Te­laga Sarangan, Kec. Plaosan, Magetan, tradisi bersih desa selalu dibarengkan dan berlangsung dalam beberapahari dalam bulan Jawa Ruwah, menjelang bulan Ramadhan. Dan puncak rangkai­an

Sejak siang hari beberapa warga berkumpul di pusat dusun menunggu atraksi reog ponorogo yang akan bekeliling dusun. Lalu sorenya, warga berkumpul di makam atau punden untuk menggelar selamatan, yang dipungkasi dengan pergelaran kesenian tayub.

Keunikan muncul saat warga berbondong-bondong ke makam dusun dan berkumpul di sebuah balai. Usai pembagian tumpeng selamatan kepada warga, maka seni tayub dimulai, yang diawali pengalungan sampur (selendang tari) kepada kepala desa. Lalu diikuti sekretaris desa dan kamituwo, dan kemudian warga yang ingin menari bersama dua pesinden.

“Tradisi selamatan desa atau bersih desa ini digelar tiap tahun, ini sebagai salah satu bentuk rasa syukur kepada Tuhan yang sudah memberikan kecukupan hasil panen dan ketenteraman di desa,”ujar Adi Sucipto, Kades Tegalarum.

Menurut Adi Sucipto, tradisi ini sudah mengalami pergeseran sesuai jamannya. Misalnya, dulu hampir semua warga berbondong-bondong ke punden, tapi sekarang sudah berkurang. Bila dulu digelar besar-besaran hingga semalaman, tapi sekarang cukup sederhana dan tidak sampai maghrib sudah selesai. “Semua tergantung kondisi di desa masing-masing. Karena kepercayaan masyarakat, maka tiap tahun pasti diadakan meskipun sekedar selamatan di balai desa atau balai dusun,”ujar mantan anggota pasukan perdamaian PBB di Kamboja ini.

Bersih desa dilangsungkan acara rit­ual adat larung sesaji Telaga Sarangan. Selain bersyukur kepada Tuhan, melalui acara adat ini kami juga ingin memohon agar Telaga Sarangan tetap lestari dan warganya hidup sejahtera,” ujar Sunarto, sesepuh desa di sekitar Telaga Sarangan.

Dalam ritual adat ini, Tumpeng Gono Bahu setinggi dua meter lebih, diarak dan dilarung ke dalam Telaga Sarangan. Tumpeng ini, merupakan simbol ucapan syukur warga Sarangan kepada Tuhan YME atas limpahan rahmat dan berkah selama satu tahun penuh.

Selain Tumeng Gono Bahu, masih terdapat lagi tumpeng ukuran besar yang berisi sayuran dan hasil bumi di sekitar Telaga Sarangan.

“Selain untuk melestarikan budaya, kegiatan ini juga untuk meningkatkan jum­lah kunjungan wisatawan ke Telaga Sa­rangan,” Kata Bupati Magetan, Soemantri, yang memimpin acara tersebut, (gas.bdh)

SUARA DESA, hlm. 34

Batik Pring Sedapur, Kabupaten Magetan

Batik Pring Sedapur Berjuang Tidak Luntur

Batik Pring Sedapur002SIAPA yang tak kenal Batik PringSedapur ? Ya, batik khas daerah Magetan itu berasal dari sebuah desa di lereng Gunung Lawu yang sarat dengan pohon bambu. Yakni, Dusun Papringan, Desa Sidomukti, Kecamatan Plaosan.

Pring dalam bahasa Jawa adalah bambu. Pring Sedapur berarti Serumpun pohon bambu. Kini para perajin tak hanya dari Dusun Papringan, tapi warga dusun lain di Desa Sidomukti. Bahkan ada juga di juga dari luar desa. “Dari papringan itulah nama Pring Sedapur itu terinspirasi.

Di dusun itulah banyak tumbuh pohon bambu yang sangat lebat, sehingga dinamakan Dusun Papringan, yang berarti di bawah pohon bambu,”ujar Soetikno, Kades Sidomukti.

Sejarah Batik Pring Sedapur dimulai dari masa awal perkembangan Islam. Setelah pecah perang, banyak prajurit Mataram lari ke daerah timur Gunung Lawu untuk mencari tempat yang aman, di antaranya di Desa Sidomukti dan sekitarnya. Di tempat itu mereka mengenalkan budaya batik kepada masyarakat sekitar Desa Sidomukti. “Awalnya para perajin mayoritas berasal Dusun Papringan. Mereka mendapatkan keahlian membatik dari nenek moyangnya,”ujar Tikno, panggilan akrabnya.

Di awal masa jabatannya sebagai kepala DesaSidomukti pada tahun 1998, Tikno bersama Arif, salah satu penghobi batik asal Ngawi, belajar bagaimana membuat batik dan mengembangkannya di Magetan. Dengan mengambil motif gambar bambu yang terdapat di Dukuh Papringan jadilah motif batik pring sedapur

Batik Pring Sedapur001Menurut Tikno, motif batik pring sedapur memiliki makna filosofi yang
sangat tinggi. Tanaman bambu biasa hidup bergerombol, membentuk satu kekuatan. Bambu jika bersatu akan menjadi sebuah kekuatan, jika diurai menjad sebuah tali yang sangat erat. Awal pengembangannya, Tikno menjalin kerjasama Kessos Kab. Magetan. Saat itu diadakan

pelatihan bagi warga Desa Sidomukti yang ingin belajar membatik. Selain itu, juga diberikan peralatan batik kepada warga yang sudah mengikuti pelatihan. Akhirnya saat ini hasil tersebut bisa dirasakan manfaatnya.

Bahkan batik Pring Sedapur dijadikan sebagai salah satu ikon Kabupaten Magetan. Belasan ribu pegawai negeri sipil di seluruh Magetan memakai seragam dengan corak Pring Sedapur setiap hari tertentu. Rata-rata dijual Rp 65 ribu hingga Rp300 ribu. Pemasaran masih untuk pasar lokal, namun ada juga dari Lamongan, Surabaya,
dan Yogyakarta.

“Dari kota-kota besar itulah batik Sidomukti pring sedapur diharapkan mulai mendunia,”kata Tikno. Namun Ketua Kelompok Perajin Batik Pring Sedapur, Mukti Rahayu, Umiyati mengungkapkan, masuknya batik Solo, Yogyakarta, dan Pekalongan di pasaran local membuat batik motif Pring Sedapur mulai kalah bersaing. Meski diakui sebagai batik khas Magetan, kata Umiyati, perhatian Pemkab Magetan sendiri masih kurang. Apalagi hingga kini batik Pring Sedapur belum memiliki hak paten.

Meski tanpa hak cipta dan hak paten, kelompok perajin batik ini tetap berkarya. Bahkan kini, mereka banyak memodifikasi motif batik Pring Sedapur dengan motif tren selera pasar. Motif cendrawasih dan bermacam jenis bunga digabungkan dengan motif serumpun atau seonggok bambu. Ya, motif batik pring sedapur tetap lentur dengan perubahan zaman agar tidak luntur warnanya. Berjuang agar tetap eksis. (m.khoiri)

Suaradesa, Edisi 08, Januari 2013, hlm.

Batik Papringan, Kabupaten Magetan

Magetan adalah salah satu kota di Jawa Timur yang terletak paling barat, dan merupakan perbatasan antara Jawa Timur dan Jawa Tengah. Di daerah ini terdapat pusat kerajinan yaitu pembuatan kain batik tulis. Batik tulis tersebut dinamakan batik papringan. Penamaan batik tersebut berdasarkan  tempat pembuatannya, yaitu di dusun Papringan, desa Sidomukti, kecamatan Plaosan, kabupaten Magetan. Motif batik papringan adalah khas yaitu pring sedapur ‘pohon bambu yang tumbuh mengelompok menjadi satu ikat.

Pembuatan batik papringan ini sudah ada sejak zaman nenek moyang, tetapi mereka hanya sebagai buruh membatik dan bahannya diambil dari pengusaha batik di Magetan. Setelah selesai dibatik, hasilnya disetorkan lagi ke Magetan. Pada waktu itu, pengusaha batik dari Magetan tidak ada penerusnya sehingga proses membatik tersebut macet.

Pada tahun 2002 pemerintah daerah Kabupaten Magetan melalui Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Deperindag) membentuk kelompok batik papringan. Deperindag mengadakan Pelatihan dan memberikan bantuan. Tahap pertama pelatihan diikuti oleh sepuluh orang anggota dengan
kegiatan khusus yaitu membatik. Kemudian, pada tahun 2003 pelatihan berkembang dengan menambah tenaga menjahit dan membuat desain, hingga sekarang beranggotakan 25 orang. Selain memberikan pelatihan, pemerintah daerah juga memberikan bantuan sebesar RplOO.000,00 per anggota. Pada zaman nenek moyang dulu mereka hanya buruh membatik saja, tetapi sekarang berkat pembinaan dari Deperindag kelompok tersebut mampu mengerjakan mulai dari bahan kain, proses membatik hingga pakaian jadi.

Pembuatan batik tulis papringan dikelola oleh warga Dusun Papringan sendiri dengan membuat suatu kelompok kerja. Kelompok tersebut dinamakan Kelompok Mukti Rahayu. Kelompok tersebut beranggotakan 25 orang, yang terdiri atas 22 orang perempuan dan 3 orang laki-laki.

Anggota perempuan mengerjakan tugas membatik, sedangkan untuk anggota laki-laki bertugas mengerjakan cap dan sablon, jam kerja para pembatik mulai pukul 08.00 sampai dengan 16.00. Waktu istritahat mulai pukul 12.00 sampai dengan pukul 13.30. Upah pembatik dihitung berdasarkan hasil membatik. Upah pembatik dihitung dariharga bahan, harga jual, dan keuntungan yang diperoleh.

Dari perhitungan tersebut, upah yang diperoleh kurang lebih pembuatan batik tulis papringan didatangkan dari Solo. Bahan yang dipakai ada dua macam yaitu kain sutra dan mori. Batik dari kain sutra harganya lebih mahal apabila dibandingkan dengan kain mori, karena tingkat pengerjaannya lebih sulit. Kelompok Mukti Rahayu selain menghasilkan batik tulis, juga mengerjakan batik cap atau batik sablon (printing). Batik tulis penjualannya lebih laku dibandingkan dengan batik cap atau batik sablon. Perbedaan batik tulis dan batik sablon terletak pada kualitas gambar bagian luar dan bagian dalam. Batik tulis memiliki gambar bagian luar dan dalam yang sama, sedangkan batik cap atau batik sablon memiliki gambar bagian luar dan dalam yang tidak sama (artinya gambar bagian luar lebih jelas, sedangkan bagian dalam agak kusam). Pemasaran batik papringan sementara ini belum meluas, masih berdasarkan pesanan. Penjualan di luar kota masih sampai Yogyakarta dan Lamongan.

Proses pembuatan batik papringan melalui enam tahap. Tahap pertama adalah pemotongan kain dan pembuatan pola. Ukuran standarnya adalah 2,25 meter sedangkan ukuran untuk orang yang gemuk adalah 2,5 meter. Kemudian dilanjutkan dengan tahap kedua, yakni membatik. Tahap ketiga adalah pewarnaan. Proses pewarnaan atau pencelupan dapat dilakukan sampai tiga kali. Hal ini bertujuan agar apabila hasilnya kurang bagus bisa diulangi lagi. Tahap keempat adalah penguncian, yang bertujuan agar warna kain tidak luntur. Penguncian berlangsung selama empat jam penguncian. Tahap kelima adalah pencucian. Tahap keenam atau terakhir adalah perebusan kain yang bertujuan untuk menghilangkan lilin yang menempel pada kain sehingga kain tidak kaku. Proses pembuatan batik Papringan ini dilakukan selama tiga hari.

Pesona Jawa Timur,Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Badan, Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, Sidoarjo, 2012, hlm. 59-61

Jenis Bentuk Instrumen Gamelan

Bila ditinjau dari segi bentuknya, pada dasarnya gamelan dapat dikelompokkan kedalam 2 golongan, yaitu : Gamelan Pencon dan Gamelan Ricikan atau Wilahan. Kendatipun keduanyadibuat dengan teknik tempa, tetapi karena bentuknya yang berbeda, maka proses pembuatannyapun sedikit berbeda. Sebelum melanjutkan tinjauan tentang proses pembuatan gamelan secara terperinci, Iciranya perlu pula terlebih dahulu mengenal nama-nama bagian dari gamelan baik gamelan Ricikan maupun gamelan Pencon. Hal ini sangat penting artinya karena proses pembuatan gamelan pada prinsipnya merupakan rangkaian pentahapan kerja yang tiap-tiap tahapan kerja bertujuan membentuk bagian-bagian dari gamelan tersebut. 

GAMELAN PENCON

GONG001Yang dimaksud dengan gamelan pencon adalah suatu jenis gamelan yang mempunyai bagian khusus yang disebut pencu, yaitu merupakan tempat pukulan pada saat gamelan tersebut dibunyikan. Jenis gamelan yang termasuk kelompok gamelan pencon, meliputi: Bonang, Kenong, Ketuk, Kempul dan Gong Besar. Jenis Bonang, Kenong maupun Ketuk, Kempul dan Gong Besar. Jenis Bonang, Kenong maupun Ketuk, bentuknya sama; perbedaanya terletak pada ukurannya. Ukuran Kenong jauh lebih besar bila dibandingkan dengan Bonang ataupun Ketuk. Bahan yang dipergunakan untuk membuat Kenong hampir sama dengan bahan yang dipergunakan untuk membuat kempul. Sedangkan Bonang dan Ketuk baik bahan bentuk maupun ukurannya tidak jauh berbeda. Kempul dan Gong mempunyai bentuk yang sama; perbedaannya terletak pada ukurannya , karena bahan yang dipergunakannyapun berbeda pula. Gong-Totogan termasuk gamelan yang memiliki ukuran paling besar. Untuk jenis kempul, ukurannya berbeda-beda; Kempul barang dan Kempul manis ukurannya sama, kempul enem sedikit lebih besar bila dibandingkan dengan kempul barang atau kempul manis. Sedangkan Kempul dhadha dan Kempul Suwukan besarnya hampir sama, sedikit lebih besar bila dibandingkan dengan jenis Kempul Enem.

BONANG001Perbedaan bentuk gamelan pencon disamping mempengaruhi banyaknya bahnan yang dipergunakan, juga berpengaruh terhadap jumlah tenaga kerja yang diperlukan dan lamanya waktu memprosesnya. Untuk jenis Bonang dan Ketuk, melibatkan tenaga pande sekitar 4 hingga 5 orang dan tenaga pengikir antara 2 hingga 3 orang. Untuk jenis Kenong dan Kempul, diperlukan tenaga pande antara 6 hingga 7 orang dan tenaga pengikir antara 2 hingga 3 orang. Sedangkan untuk jenis Gong-Totogan diperlukan tenaga pande antara 12 hingga 14 orang dan tenaga pengikir antara 3 hingga 4 orang. Waktu pengerjaannyapun berbeda pula. Untuk jenis Bonang atau Ketuk dalam satu hari dapat diproduksi sebanyak 2 hingga 3 buah. Untuk jenis Kenong ataupun Kempul dalam satu hari dapat dihasilkan 1 buah. Sedangkan untuk Gong-Totogan yang berukuran garis tengah sekitar 77 Cm dapat selesai dikerjakan dalam satu hari.

Tetapi yang berukuran garis tengah diatas 80 Cm, kadang-kadang harus dikerjakan hingga 2 hari. Hasil produksi gamelan jenis pencon yang dihasilkan oleh pande gamelan di daerah Kidal, sedikit berbeda dengan hasil produksi pande gamelan dari daerah Bekonang atau Jatiteken Kabupaten Sukoharjo. Gamelan pencon jenis Kenong atau Kempul yang diproduksi di Kidal pada umumnya tidak diberi tikel (cekungan kecil yang melingkari pencu gamelan). Sedangkan gamelan pencon hasil Produksi pande gamelan dari daerah Sukoharjo pada umunnya dilengkapi dengan tikel. Oleh karena itu banyak pande gamelan dari daerah Kidal tidak memiliki alat untuk membuat tikel yang biasa disebut Bubutan. Perbedaan lain terletak pada bentuk bahunya. Bentuk bahu gamelan yang dibuat di Kidal relatif lebih melengkung bila dibandingkan dengan bahu gamelan yang

GAMELAN RICIKAN ATAU WILAHAN 

gamelan001Jenis gamelan yang tergolong gamelan Ricikan adalah; Gender, Slentem, Demung, Saron,, dan Peking. Bentuk dasar dari gamelan Ricikan adalah empat persegi panjang. Dalam kenyataannya bentuk dasar tersebut dikembangkan bagian atasnya, sehingga dikenal bentuk ‘sigar penjalin’ dan bentuk ‘blimbingan’. Perkembangan bentuk tersebut sebenarnya tidak merubah warna suara yang dihasilkannya; semata-mata bertujuan untuk mempercantik bentuk. Bentuk sigar penjalin biasanya dipakai untuk Slentem, Demung, Saron dan Peking. Sedangkan untuk gender, pada umumnya memakai bentuk Blimbingan. 

Pemberian nama ‘sigar penjalin’ didasarkan pada keadaan bentuknya yang mirip dengan belahan rotan (sigar = belah atau pecah, dan penjalin = rotan). Nama ‘blimbingan’ didasarkan pula pada keadaan bentuknya, khususnya bentuk wilahan tersebut memiliki sudut-sudut yang mirip dengan buah blimbing. Ditinjau dari cara pengerjaannya, wilahan bentuk blimbingan lebih sukar mengerjakannya bila dibandingkan dengan wilahan bentuk sigar-penjalin.

Sebagaimana halnya gamelan jenis pencon, gamelan wilahanpun mempunyai bagian-bagian dengan nama-nama tertentu dan berlaku untuk wilahan bentuk sigar- penjalin maupun wilahan blimbingan. Mengenal nama bagian-bagian dari gamelan jenis wilahan/ricikan mempunyai arti yang penting untuk mengenal lebih dalam teknik pembuatan gamelan wilahan tersebut. Secara umum teknik pembuatan gamelan jenis wilahan relatif lebih muda pengerjaannya bila dibandingkan dengan teknik pembuatan gamelan pencon. Demikian pula kerawanan kerjanya. Hal ini disebabkan karena gamelan jenis wilahan relatif lebih tebal bila dibandingkan dengan gamelan jenis pencon. Oleh karena itu tenaga yang mengerjakannypun relatif lebih sedikit jumlahnya. Demikian pula waktu yang diperlukan untuk mengerjakannya

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Proses Pembuatan Gamelan: di Kidal desa Kauman, Kecamatan, Karangrejo, Kabupaten Magetan, Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Jawa Timur, Surabaya, 1995, hlm. 3843

Memalu

Memalu adalah salah satu proses Pembuatan Gamelan  di Kidal desa Kauman, Kecamatan, Karangrejo, Kabupaten Magetan, yang disebut memalu adalah pekerjaan menempa dengan sebuah alat yang disebut palu. Dalam suatu bengkel gamelan, tenaga yang bertugas memalu, jumlahnya tidak tetap. Hal ini tergantung dari jenis gamelan yang sedang dibuatnya.

Sementara pekerjaan berlangsung, jumlah tenaga yang bertugas memalu sekurang-kurangnya 2 orang dan sebanyak-banyaknya 4 orang. Untuk mengerjakan sebuah Gong Besar atau Gong Totogan diperlukan 4 orang pegegang palu. Bahkan seringkah dipersiapkan pula beberapa orang cadangan. Sedangkan untuk membuat jenisgamelan yang berukuran lebih kecil dari Gong -Totogan, sering dilakukan oleh 3 orang pemalu; misalnya pada saat membuat berbagai macam kempul dan kenong. Dan untuk membuat jenis bonang, bisa dilakukan oleh 2 orang pemalu.

Dalam suatu bengkel gamelan, tenaga yang bertugas melakukan pekerjaan memalu, mempunyai sebutan sesuai dengan posisi pada saat melakukan pekerjaan. Secara berurutan dapat disebut sebagai berikut: Palu -Ngarep, Palu – Tengah, Palu – Apit dan Palu – Tepong. Bila ditinjau dari kedudukan dalam arti tingkat kemampuan, dapat disebut dalam urutan sebagai berikut : Palu – Ngarep, Palu- Tepong, Palu – Tengah dan Palu – Apit.

Tenaga pande gamelan yang bertugas memegang Palu- Ngarep, pada umumnya memiliki kepandaian setingkat dibawah panji. Dalam praktek sehari-hari, seringkali membantu pekerjaan Panji, misalnya “ngider” atau membantu membentuk gamelan pada saat pekerjaan hampir selesai. Tingkat dibawah Palu – Ngarep adalah Palu – Tepong. Kendatipun dalam praktek kerja Palu – Tepong berada pada posisi yang paling akhir, tetapi ditinjau dari segi tingkat kemampuannya, setingkat lebih tinggi bila dibandingkan dengan Palu – Tengah atau Palu – Apit.

Palu – Tengah merupakan palu penutup kegiatan menempa..Bila dibandingkan dengan Palu-Ngarep, Palu- Tengah dan Palu-Apit; cara memegang palu yang dilakukan oleh Palu-Tepong berbeda. Untuk Palu-Ngarep, Palu-Tengah dan Palu-Apit; cara memegang palu dilakukan dengan tangan kanan berada di depan atau berada di dekat mata palu, tangan kiri berada pada ujung tangkai palu. Sedangkan untuk Palu-Tepong, justru tangan kiri berada didekat mata palu dan tangan kanan berada pada ujung tangkai palu. Pekerjaan memalu dengan tangan kanan berada didepan disebut “nengen”. Dan bila tangan kiri yang berada didepan disebut “ngiwo”.

Peranan Palu-Ngarep dan Palu-Tepong cukup penting; hal ini terlihat jelas dalam praktek sehari-hari. Dilingkungan pande gamelan jumlah pemegang palu paling banyak 4 orang, dan paling sedikit 1 orang. Keempat palu baru dipergunakan untuk membuat gamelan yang berukuran besar, misalnya Gong Totogan, Kempul Suwukan dan Kempul Dhadha. Untuk jenis gamelan berupa Kempul lainnya dan Kenong, diperlukan tiga palu, yaitu Palu-Ngarep, Palu-Tengah dan Palu-Tepong. dan untuk membuat bonang biasanya diperlukan 2 palu, yaitu Palu Ngarep dan Palu- Tepong. Sedangkan untuk membuat jenis Wilahan, biasanya diperlukan 1 palu.

Kerja sama antara Panji dan pemegang palu dapat diamati dengan jelas pada saat kegiatan menempa sedang berlangsung. Bagian yang harus dipukul, diarahkan oleh Panji dengan jalan memutar-mutar bakal gamelan diatas landasan atau tandes. Gerakan memutar dilakukan setelah Palu-Tepong selesai memukul. Pukulan pertama dilakukan oleh Palu-Ngarep, dilanjutkan oleh Palu-Tengah, Palu-Apit dan ditutup oleh Palu-Tepong.

Pekerjaan semacam itu berulang-ulang dilakukan sampai keadaan lakar/bakal gamelan menunjukkan tanda-tanda tidak mungkin dipukul lagi. Berapa kali rangkaian pukulan tersebut dilakukan, untuk tiap tahap tidak selalu sama dan dalam hal ini Panji yang menentukan. Bila keadaan lakar menunjukkan tanda-tanda tidak memungkinkan untuk ditempa terus, maka Panji memberi aba-aba berhenti. Dalam hal ini pemegang palu harus taat menghentikan pekerjaannya.

Biladilanggar, resikonya cukup berat karena besar kemungkinan lakar gamelan itu pecah. Untuk men nulang pekerjaan menempa, lakar harusdibakarulang. Dan pada saat pembakaran sedang berlangsung, Panji melakukan pekerjaan memutar-mutar lakar atau membalik lakar tersebut agar pembakaran merata. Sementara itu pemegang palu Ngarep mempersiapkan palu yang akan dipergunakan dan pemegang palu lainnya mempersiapkan tandes, yaitu dibersihkan atau diberi tanah liat sebagai ganjal. Pekerjaan-pekerjaan tersebut dilakukan tanpa menunggu perintah, jadi berjalan secara otomatis.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Proses Pembuatan Gamelan: di Kidal desa Kauman, Kecamatan, Karangrejo, Kabupaten Magetan, Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Jawa Timur, Surabaya, 1995, hlm. 10-12

 

Manjeni

Sistem Kerja Dalam Bengkel Gamelan di Kidal desa Kauman, Kecamatan, Karangrejo, Kabupaten Magetan.

MANJENI 1Yang dimaksud manjeni adalah pekerjaan – pekerjaan di suatu pande gamelan, yang dilakukan oleh Panji.

Dalam hal ini panji merupakan pimpinan (mandor) dari kegiatan pekerjaan pande dalam suatu bengkel gamelan.

Dalam praktek sehari-hari pekerjaan panji sering kali ditangani oleh perkerja lain, tetapi tanggung jawab pekerjaan tidak dapat diwakilkan kepada orang lain.

Sebagai pimpinan teknis, seorang panji tidak duduk sambil memerintah semata-mata, namun  menangani pekerjaan yang biasa disebut “ngider” . Ngider adalah suatu pekerjaan  memutar-mutar lakar atau bakal gamelan yang sedang ditempa dan memegang palu bila pekerjaan telah sampai pada taraf membentuk sesuai dengan bentuk gamelan yang sedang dibuat.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Proses Pembuatan Gamelan: di Kidal desa Kauman, Kecamatan, Karangrejo, Kabupaten Magetan, Bagian Proyek Pembinaan PermuseumanJawa Timur, Surabaya, 1995, hlm. 10

Panji

Panji Bengkel Gamelan001Cara kerja serta istilah-istilah pekerjaan pada Bengkel gamelan di Kidal desa Kauman, Kecamatan, Karangrejo, Kabupaten Magetan pada dasarnya sama dengan bengkel pandai gamelan pada daerah lain. Namun punya ciri kahas tersendir dalam.

Panji adalah seseorang yang bertanggung jawab atas kegiatan teknis di bengkel gamelan. Seorang panji pada umumnya memiliki kemampuan setingkat lebih tinggi bila dibandingkan dengan pekerja-pekerja lainnya.

Bahkan beberapa bengkel gamelan dikelola langsung olah panji, adakalanya seorang panji juga sebagai pemilik bengkel.

Pada jaman dahulu seorang panji yang telah mencapai taraf kepandaian yang tinggi disebut Empu. Pada umumnya seorang Empu sudah tidak aktif atau langsung menangani pekerjaan dalam bengkel gamelan.

Seorang Empu lebih banyak bertindak sebagai penasehat. Dengan demikian secara teknis panji yang bertanggung jawab selama pekerjaan berlangsung.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Proses Pembuatan Gamelan:
di Kidal desa Kauman, Kecamatan, Karangrejo, Kabupaten Magetan, Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman

Jawa Timur, Surabaya, 1995, hlm. 10

Megengan, Kabupaten Magetan, Bangkalan, Gresik, Tulungagung

Megengan Tradisi Perekat Silaturahmi, ragam tradisi megengan tumbuh semarak di masyarakat sebagai bentuk akulturasi Isla dan budaya lokal.

MEGENGANSalah satu pengaruh Islam di lingkungan masyarakat Islam Jawa adalah tradisi megeng-an. Megengan sering diartikan ritual mapag atau menjemput tanggal satu Bulan Ramadlan. Secara harfiyah megengan berasal dari kata “megeng” yang berarti menahan diri dari semua perbuatan yang mendatangkan dosa. Itu sebabnya, secara filosofis megengan bermakna sebagai media permohonan maaf atas segala dosa para leluhur, sekaligus sebagai momentum mengenang dan meng­hormati atas segala kebajikannya.

Dan yang lebih penting lagi, megengan merupak­an pernyataan sikap dengan diiringi keihlasan tinggi untuk mapag kedatangan Bulan Suci Ramadlan. Itu sebabnya, warga muslim selalu sibuk menyiapkan diri dengan melakukan berbagai ritual selama tujuh hari menjelang Puasa Ramadlan.

Tradisi megengan di setiap daerah banyak ragam­nya, tetapi membersihkan diri, membersihkan masjid, dan ziarah kubur adalah jamak dilakukan masyarakat. Doa dengan menggelar kenduri bersama di masjid juga mewarnai ritual megengan sebagai ungkapan rasa bersyukur atas kedatangan Ramadlan.

MEGENGAN 0Warga Desa Tamanarum, Kec. Parang, Magetan, setiap menyambut bulan suci selalu mengadakan ro’an atau kerja bakti membersihkan masjid kuno dan sarean(makam) pendiri masjid. Masjid kuno di Desa Tamanarum adalah peninggalan KH Imam Nawawi. Dilihat dari pahatan mustaka melati dan wuwungnya persis dengan makam KGRay Maduretno istri Adipati Maospati Rangga Prawirodirdjo III, yang berangka 1810. Ini bisa diartikan masjid di desa ini usianya sama dengan berdirinya Kabupaten Magetan.

“Seperti biasanya kita menyambut Bulan Suci Ro-madhan ini dengan membersihkan masjid, karena akan digunakan untuk sholat taraweh dan kegiatan selama romadhan. Lemari- lemari tempat penyim­panan kitab-kitab dan al-Qur’an kuno juga kita ber­sihkan, selesai masjid kita kerja bakti membersihkan makam,” jelas KH Hamid, Pengasuh masjid At Taqwa yang juga keturunan dari KH Imam nawawi ini.

Biasanya selesai membersihkan masjid dan makam, malam harin­ya dilaksanakan kirim doa kepada keluarga yang sudah meninggal, kemudian   dilanjutkan   dengan

selamatan “Ambengan”(membawa tumpengan atau makan satu ember penuh yang di penuhi berbagai jenis menu dan jajan) di bawa ke masjid, dan di makan bersama- sama di se­rambi masjid.

MEGENGAN001“Tradisi seperti ini adalah sim­bol kebersamaan yang tercipta sejak mbah kita dulu, tidak ada unsur apa-apa dalam pelaksanaannya, ya kar­ena tradisi saja, kami melakukannya sebatas ngeluri budaya, karena kalau tradisi seperti kerja bakti ini tidak sering kita adakan akhirnya akan ter­bangun sifat individualis seperti yang ada di kota- kota besar” kata Lanjar Karni, Kepala Desa Tamanarum.

Soal membersihkan makam, ma­syarakat Bangkalan lebih unik, sebab makam keluarga tidak hanya dibersi­hkan tetapi batu nisannya diperbaiki dan dicat dengan warna warni yang mencolok, seperti kuning, merah, hijau, biru dan lainnya. “Ka­lau rumah kita yang masih hidup dibersih­kan dan dipercantik, maka makam keluarga kita yang sudah wafat juga perlu dirawat kein­dahannya,” kata Mail warga Bangkalan.

Makam para wali juga menjadi jujugan masyarakat sesaat sebelum Bulan Puasa tiba. Makam Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Malik Ibrahim, Sunan Drajat dan Sunan

Bonang dan puluhan sunan lain­nya selalu ramai diziarahi. “Menjelang Ramadlan jumlah peziarah lebih ban­yak dari hari-hari biasa, “kata Hasyim pegawai Makam Sunan Drajat.

Megengan dalam makna lain ada­lah media perekat antar umat Islam. Tali persaudaraan terikat kuat kar­ena didasari hati, pikiran dan jiwa yang saling bersilaturrahmi. “Dengan megengan yang sangat sederhana mendatangkan hikmah yang besar,” ungkap Asrori Kepala Desa Tiudan Kecamatan Gondang .

Menurut Asrori yang juga sebagai Ketua AKD Kabupaten Tulungagung tradisi megengan di desanya setiap tahun ditandai dengan membuat jajanan seperti apem,pisang,bahkan tumpengan yaitu nasi kuning lengkap dengan lauk pauknya seperti ayam lodho,sambal goreng kentang,dan tempe,urap-urap,ke timun,kelapa goreng alias srondheng.

Dia menjelaskan makanan khas yang selalu mengisi acara megengan adalah pembagian kue apem dan pi­sang. Uniknya di daerah Tulungagung hanya dua jenis kue itu yang dibagikan antara tetangga.” Ini tentu mengandung makna atau filosofi tersendiri dibalik penggunaan kue apem dan pisang raja dalam acara megengan,” bebernya. Kue apem bila disatukan dengan pi­sang raja akan berbentuk payung. Pi­sang berfungsi sebagai penyanggah dan kue apem sebagai payungnya. “Payung itu sendiri melambangkan perlindungan dari segala rintangan dan halangan selama menja­lankan ibadah di Bulan Suci Ramadan,” jelasnya Ada juga yang bilang kalau kue apem ini be­rasal dari perkataan Arab “afwan” yang be­rarti “maaf. Meminta maaf dan memberi maaf sebelum Ramadlan tiba memang lebih baik di­banding setelah berpuasa sebulan penuh.

Megengan berarti juga acara saling mem­beri ransum ( nasi beserta sayur ayam ) kepada para sanak saudara dan orang tua. Dalam hal ini megengan bukan sekedar ung­kapan syukur dan gembira atas da­tangnya bulan Ramadhan, namun sekaligus sebagai ajang mempere­rat silaurrahmi dan persaudaraan. Ada sebuah pepatah jawa yang men­gatakan ” pager mangkok luwih kuat tinimbang pager tembok ” yang artin­ya saling memberi hadiah makanan ( arti dari mangkok) adalah lebih kuat menjaga tali persaudaraan. Islam di Jawa tumbuh subur berkat akulturasi dengan tradisi yang berkembang di Jawa, sehingga khazanah keislaman berupa tradisi megengan ini tetap hidup dan menghidupi pembentukan masyarakat yang saling menghargai dan mencintai sesama.(Sum, Sak)

SUARA DESA,  Edisi 05, 15 Juni -15 Juli 2012, hlm. 59

Pr. Dr. Samaun Samadikun, Kbupaten Magetan

Samaun Samadikun15 April 1931,  Pr. Dr. Samaun Samadikun lahir di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Indonesia.

Tahun 1950, Samaun Samadikun menempuh pendidikan di ITB dengan mengambil Jurusan Teknik Elektro dan lulus sebagai insinyur.

Tahun 1957, Beliau memulai karirnya sebagai dosen di jurusan teknik elektro, Institut Teknologi Bandung (ITB).

Tahun 1957 Prof Samaun merupakan lulusan Universitas Standford dengan memperoleh gelar M.Sc dan Ph.D.

Tahun 1960, Ia juga memperoleh Postgraduate Diploma bidang Nuclear Engineering dari Queen Mary, Universitas London.

Tahun 1964-1967, menjabat sebagai ketua Jurusan Teknik Elektro ITB.

Tahun 1971, memperoleh Ph.D. di bidang teknik elektro dari Universitas Stanford, Amerika Serikat.

Tahun 1973-1978, Prof. Samaun Samadikun mengambil sabbatical leave (“cuti dari mengajar”) dari ITB untuk menerima jabatan pada pemerintah pusat sebagai Direktur Binsarak DIKTI

Tahun 1974, dianugerahi Professor (Guru Besar) bidang elektronika ITB.

10 Juni 1975, Prof Samaun bersama K.D Wise menciptakan paten,Us Patent No 3.888.708 dengan tajuk “Method for forming regions of predetermined in silicon”. Tahun 1978, Pemerintah Indonesia juga memberikannya penghargaan medali Pengabdi Ilmiah Nasional.

Tahun 1978 – 1983, pemerintah mempercayainya menjabat Direktur Pembinaan Sarana Akademik, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Dirjen Energi, Departemen Pertambangan dan Energi.

Tahun 1979, Penghargaan tinggi lainnya yang diterimanya adalah Satya Lencana Karya Satya Kelas I, Hadiah Ilmu Pengetahuan.

Tahun 1983, Satya Lencana Dwidyasistha  dari Menhankam/Pangab.

Tahun 1984, Persatuan Insinyur Indonesia (PII), memberikannya penghargaan Adhikara Rekayasa.

Tahun 1984-1989, dan mendirikan sekaligus menjabat sebagai direktur pertama dari Pusat Antar Universitas (PAU) Mikroelektronika ITB, yang sekarang dikenal sebagai Pusat Mikroelektronika ITB.

Tahun 1986, Prof. Samaun Samadikun adalah salah satu pendiri dari Akademi Ilmu Pengetahuan Islam  dan salah satu pendiri Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Tahun 1987-1992 beliau menjadi Anggota MPR RI sebagai Utusan Golongan.

Tahun 1989-1995, ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Tahun 1993-1999, Komisaris Utama PT Lembaga Elektronika Nasional (LEN).

Tahun 1993-1996, periode ini beliau tetap aktif sebagai Wakil Ketua Dewan Riset Nasional.

Tahun 1994, Medali Mahaputra Utama dari pemerintah Indonesia.

Tahun 1998, Samaun Samadikun juga memperoleh “The 1998 Award of the Association of South Eastern Asian Nations (ASEAN)” untuk menghargai dedikasinya pada dunia ilmu pengetahuan.

Tahun 1999, “Meritorious Service Award”, ASEAN COST.

Tahun 2001, Prof Samaun Samadikun mengajar di ITB bagian Departemen Teknik Elektroserta di PAU Mikroelektronika dan menjadi peneliti senior PPAU Mikroelektronika ITB ,  hingga setelah meninggalnya (2006).

Tahun 2004, Prof. Samaun Samadikun mulai menderita sakit namun berhasil menjalani operasi di Perth Australia Oktober 2004. Sekembalinya dari Perth, ia kembali aktif seperti sediakala.

September 2006, penyakit yang sama kembali menyerang beliau.

15 November 2006 pukul 9.51, Setelah dirawat beberapa lama, beliau wafat di Rumah Sakit MMC Kuningan Jakarta dan dimakamkan sehari berikutnya di Taman Makam Pahlawan Kalibata setelah disemayamkan pagi harinya di LIPI Jakarta.

Selasa, 11 Desember 2008, LIPI mengadakan acara peluncuran buku sebagai salah satu usaha untuk mengenang Samaun Samadikun. Buku setebal 253 halaman ini diterbitkan oleh LIPI Press. Berisi kumpulan tulisan-tulisan dari orang-orang yang pernah dekat dengan Samaun Samadikun semasa hidupnya.

Prof. Samaun Samadikun adalah suami dari Roesdiningsih dan ayah dari M. Samawi dan Wisnu RP.

Puisi Petani Silikon

Prof Samaun Samadikun mendapat kredit sebagai salah satu pencipta puisi Petani Silikon.

Petani Silikon

Kami adalah petani silikon. Lahan kami adalah silikon. Garapan kami adalah silikon. Hasil kami adalah silikon.

Kami pupuk silikon dengan boron. Kami pupuk silikon dengan fosfor. Kami cangkul silikon dengan plasma. Kami siram silikon dengan metal.

Berjuta transistor tumbuh dengan subur. Beribu gerbang terkait dan terukur. Sinyal diubah menjadi informasi. Informasi dituai untuk sarapan rohani.

Dan semua usaha untuk kemakmuran bangsa. Dan semua kelelahan untuk keagungan manusia.