Batik Malangan

Sejarah batik ini belum diketahui secara pasti. namun sebenarnya sejak masa Kerajaan Singosari maupun Kerajaan Kanjuruhan, dimasa tersebut daerah Malang telah memiliki ciri khas batik. Batik Malang lebih tepatnya diawali sejak sebelum tahun 1900-an, yang menjadi patokan adalah saat upacara tradisional abad XIX. Di pedalaman Malang para pria dan wanitanya menggunakan batik khas Malangan, Batik tersebut selalu mempunyai motif Sidomukti Malang dengan hiasan kotak putih di tengah yang biasa disebut Modhang Koro. Motif ini dipakai sebagai udheng (ikat kepala laki-laki) dan sewek (kain panjang perempuan) dalam acara resmi untuk semua lapisan masyarakat.

Batik Malang biasa disebut Batik Malangan, batik Malang memang belum seterkenal batik daerah lain yang ada di Jawa Timur, namun keindahaan Batik Malang tidak kalah dengan daerah lain, baik dari corak batiknya sendiri yang khas dan unik, atau dari pewarnaannya. Dimasa kerajaan-kerajaan batik Malang memiliki motif-motif antara lain, Sawat Kembang Pring (motif bambu Jawa sakbarong), Dele Kecer (Kedelai tercecer) warna hijau-merah, batik-malang-motif-teratai-singokembang teratai singo (bunga teratai singa), kembang kopi (biji kopi terbelah) berwarna hitam, kembang Juwet (bunga juwet) warna biru-hijau, kembang tanjung (bunga tanjung, bulat tengah pinggir bergerigi) warna kuning-sawo matang, kembang jeruk (bunga jeruk) warna coklat, kembang manggar (kuncup bunga kelapa) warna putih-kuning, kembang mayang (bunga kelapa mekar), warna merah-kuning dan kembang padma (bunga teratai).

Batik Malangan belum begitu familiar bagi masyarakat, untuk mempertahankan warisan budaya ini. Selain mempertahankan motif batik ciri khas Malangan warisan leluhur,  pemerintah Malang bersama organisasi-organisasi terkait lainnya mengupayakan penggalian motif baru batik Malangan. Penggalian motif batik untuk menjadi ciri khas Malangan tersebut bisa didapat dari candi-candi peninggalan Kerajaan Kanjuruhan dari abad ketujuh. Salah satu motif yang menjadi ciri khas Malangan tersebut adalah motif bunga teratai. Batik Malangan memiliki tiga ciri pokok dan menjadi bagian dari tiga komponen pokok batik,

  • pertama motif dasarannya berupa motif candi badut. Dimana candi Badut merupakan peninggalan kerajaan Kanjuruhan pada 760 M.
  • kedua motifisen-isen, motif ini terdiri dari gambar Tugu Malang sebagai motif utama yang disampingnya terdapat rambut singa berwarna putih yangmerupakan lambang kabupaten Malang.
  • ketiga adalah motif hias batik ini sendiri, Di bagian ini terdapat bagian boket(hiasan pinggiran kain batik) untuk tumpal (isen-isenpada pinggiran kain) yang berisi tiga buah sulur bunga teratai yang berpola seperti rantai.

mlg-001-eBatik malangan juga memiliki motif unik yang khas yaitu motif Malang Kucecwara, motif ini memiliki filosofi yang mendalam yaitu terdapat simbol gambar Tugu Malang, Mahkota, Rumbai Singa, Bunga Teratai, Arca, dan Sulur-sulur serta isen isen belah ketupat.

 

  1. TUGU MALANG simbol kota Malang merupakan prasasti berdirinya kota tersebut. Juga sebagai perlambang keperkasaan dan ketegaran. Diharapkan pemakainya menjadi orang yang kuat dan tegar dalam menjalani kehidupan.
  2. MAHKOTA simbolisisasi Mahkota Raja Gajayana yang pernah membawa Malang mencapai puncak kejayaannya. Diharapkan pemakainya bisa mencapai puncak kejayaan dalam hidupnya.
  3. RUMBAI SINGA:  melambangkan ikon kota malang yang berjuluk SINGO EDAN, yang melambangkan semangat  yang menyala-nyala dan pantang menyerah. Diharapkan pemakainya juga senantiasa memiliki sifat yang demikian.
  4. BUNGA TERATAI salah stu simbol kota malang, yang melambangkan keindahan juga kesuburan. Pada cerita kuno, bunga teratai merupakan bunga tempat Dewa Wishnu, dewa pemelihata alam, bertahta. Diharapkan pemakainya senantiasa subur makmur dan terpelihara jiwa dan raganya.
  5. ARCA perlambang kekayaan khasanah Kota Malang yakni candi Singosari yang pernah menghantarkan Malang menjadi salah satu kekuatan dunia di Nusantara pada masa silam.Diharapkan, pemakainya senantiasa berjaya.
  6. SULUR-SULUR: simbol bahwa kehidupan itu akan terus berlangsung, tumbuh dan berkembang. Ada sulur yang terhenti sebagai simbol bahwa kehidupan tidak kekal, namun, sebelum terhenti ada sambungan berikutnya. Yang menunjukkan bahwa manusia itu akan musnah, namun akan selalu berganti generasi yang baru Diharapkan pemakainya senantiasa bisa introspeksi diri bahwa manusia itu makhluk yang fana.
  7. ISEN-ISEN BELAH KETUPAT simbol dari relief candi Badut yang merupakan salah satu khasanah kekayaan budaya Kabupaten Malang. Belah ketupat memberi makna, pengakuan bahwa manusia tidaklah sempurna, sehingga sangat tidak pantas untuk menyombongkan diri. Diharapkan pemakainya bisa senantiasa introspeksi diri.

Batik malangan motif Malang Kucecwara ini telah ada hak patennya sehingga tidak bisa sembarangan diperbanyak.

Kini motif batik malangan sudah beragam, pengrajin Batik Malang pun sangat kreatif, Di samping motif batik Malangan yang tradisional, dikenal pula motif batik Malangan yang kontemporer atau baik-batik kreasi baru.batik-malang-motif-malang-tugu

Seperti motif batik Malangan Tugu,

 

batik-malang-motif-bunga-terataimotif batik Malangan teratai,

 

 

motif batik Malangan singa, dan motif batik Malangan ulat bulu,

 

motifnya ulat bulu berada di atas daun, dilengkapi telur ulat.

ulat-bulu

Kesemuanya adalah motif batik kreasi baru yang masih ada penciptanya dengan penggunaan Warna Batik Malang yang pada umumnya menggunakan coklat, hitam, merah, putih, kuning, hijau, dan biru. Selain itu juga ada satu gambar burung dan juga kupu-kupu.

Sentra kerajinan Batik Malang berada di Keluraha Samaan, Kecamatan Klojen Kota Malang, Jawa Timur.

Sumber:
Yenny Eta Widyanti 
Perlindungan Hukum Atas Motif Batik Malangan Sebagai Warisan Budaya Bangsa
Fak. Hukum Universitas Brawijaya

Masjid Jamik Kota Malang

Masjid Jamik Malang keberadaan Masjid ini tepat di pusat kota Malang tepatnya terletak di sebelah Barat Alun-alun kota Malang. Pembangunan masjid ini selama delapan tahun,  diawali tahun 1882 M dan selesai tahun 1890 M. Semula bangunan masjid berdenah bujur sangkar berstruktur baja dengan bentuk atap tajug tumpang dua,  sampai sekarang bangunan ini masih dapat dilihat dan merupakan bagian dari bangunan induk bagian Barat. Perkembangan selanjutnya penambahan bangunan baru di depan bangunan aslinya. Berbeda dengan bangunan aslinya, bangunan tambahan juga berdenah bujursangkar dan berstruktur kayu, namun memiliki bentuk atap tajug tumpang tiga. Sehingga bangunan yang baru inilah yang sekarang terlihat puncak atapnya dari Alun-alun. Tahun 1950 terjadi perluasan lagi yakni dengan dibangunnya tempat wudu yang representatif dan ruang pertemuan serta ruang administrasi masjid di lantai atasnya. Masjid jamik ini dikelola dan menjadi milik Yayasan Masjid Jamik Malang dengan pengawasan dari Pemerintah Kota Malang.  Terdapat dua jalan masuk untuk menuju ke masjid ini bisa dari depan dari arah Alun-alun dan bisa dari belakang dari jalan kampung di belakang. Areal kompleks ini sekarang telah demikian padat dengan bangunan sehingga halaman depan yang semula cukup luas kini menjadi relatif sempit, untung di depannya terdapat alun – alun. Di belakang bangunan induk terdapat halaman belakang yang tidak begitu luas untuk keperluan pelayanan dan ruang transisi ke Unit Radio Pemancar Amatir, Taman Kanak-kanak, Musholla wanita serta serambi Samping.

Selain untuk kegiatan peribadatan, di Masjid Jamik Malang terdapat juga kegiatan – kegiatan sosial yang meliputi:

  • pembagian zakat,
  • pembagian daging korban,
  • remaja masjid,
  • taman kanak-kanak,
  • radio amatir untuk penyiaran dakwah,
  • perpustakaan dan sebagainya.

Dengan demikian maka fungsi masjid ini sudah mulai berkembang tidak hanya sekedar sebagai pusat peribadatan semata akan tetapi juga sudah mengarah sebagai pusat kebudayaan Islam.

Bangunan induk merupakan dua bangunan,  bangunan be­lakang (bangunan lama) yang berdenah bujur sangkar beratap genteng dan berbentuk atap tajug tumpang dua, sedangkan yang depan tumpang tiga. Serambi depan bangunan be­lakang merupa­kan pertemuan tengah depan dan be­lakang berbentuk emperan, sedangkan serambi bagian depan yang menghadap ke halaman merupakan dinding berlisplank pada bagian bawahnya dibuat bentuk-bentuk lengkung yang disangga dengan tiang/kolom beton jaraknya sama.

Pada bangunan induk tidak terdapat menara te­tapi tetap mempertahankan bentuk atap tajug. Bila dilihat dari sistem strukturnya yang tak memiliki balok tumpang (susun) maka bangunan tajug ini mirip sekali dengan bentuk bangunan Wantilan suatu ba­ngunan pertemuan dan bangunan upacara persembahan (sakramen) pada agama Hindu di Bali. Sedangkan menaranya terdapat pada bangunan serambi depan yang jumlahnya ada dua buah dan pada bagian main entrancenya terdapat satu kubah yang terbesar sedangkan empat buah lainnya terda­pat di serambi itu dan satu kubah kecil terdapat lagi di bangunan kantor. Jadi pada kompleks ini meskipun terdapat perluasan namun ternyata keaslian dari bangunan lama masih tetap dipertahankan sedangkan bangunan tambahannya yang baru itu meskipun dengan ben­tuk relung dan kubah yang berasal dari negara-negara Islam Timur Tengah ternyata dapat dipadukan dengan amat manis.

Ragam hias yang dipakai tidak menyolok dan ti­dak menjadikan ruang yang perlu kekhusyukan ini menjadi ramai. Ragam hias yang utama terdapat pa­da ruang Mihrab dan Mimbar. Mihrabnya di bagian pelengkung atasnya terdapat ukiran kayu yang cu­kup halus dengan warna keemasan. Demikian pula mimbarnya yang menyerupai singgasana terbuat da­ri kayu jati penuh dengan ukiran yang keemasan. Sedangkan di atas pintu terdapat lubang ventilasi yang ditutup dengan teralis besi dengan ornamen dari besi cor yang cukup halus. Di samping itu penyelesaian dinding temboknya cukup teliti dan serasi baik dengan hiasan tonjolan tembok maupun yang berbentuk ornamen yang menempel pada tembok. Penyelesaian kolom-kolom pada serambi juga cukup halus dengan memakai pola kepala-badan-kaki.

Proporsi bangunan masjid ini cukup baik se­hingga bangunan ini memiliki tampang yang cantik dan antik. Skala keagungan di ruang luar dicerminkan dengan menjulangnya dua buah menara, kubah dan atap tajug. Pola bentuk yang dipakai juga cukup serasi yakni dengan menggunakan bentuk lengkung di bagian serambi dan segitiga di ruang liwan. De­ngan demikian maka pola ini mencerminkan keanggunan bangunan ini.

Bangunan – bangunan samping merupakan bangunan baru dengan konstruksi baru, Gedung pertemuan dan administrasi bangunan dua lantai dengan konstruksi beton bertulang dan beratap dasar, pada bagian bawahnya dimanfaatkan untuk tempat wudu pria.  Sedangkan bangunan untuk musholla wanita pada lantai bawahnya sebagai tempat wudu wanita juga berlantai dua berkonstruksi beton tetapi beratap limasan dari genteng. Gedung taman kanak-kanak yang juga untuk unit siaran radio pemancar merupa­kan bangunan satu lantai dengan atap berbentuk limasan. Penambahan – penambahan ba­ngunan samping berlantai dua itu selain sangat fungsional juga padat manfaat.

Dapat dikatakan bahwa pengembangan dan perluasan fisik masjid jamik ini cukup berhasil sebab keaslian bangunan semula tidak dirusak sedangkan bangunan tambahannya dapat menyesuaikan diri dengan yang lama tanpa mengurangi ciri-ciri kemajuannya.

Pembagian ruang pada kompleks Masjid Jamik Malang ini terbagai sesuai kebutuhan sebagai berikut:

  • Ruang penitipan,
  • Serambi,
  • Liwan,
  • Ruang Mihrab, mimbar dan ruang penyimpanan Kitab Suci Al-Quran,
  • Ruang Kantor Takmir Masjid,
  • Ruang Pertemuan,
  • Ruang Jaga,
  • Ruang Unit RADAM,
  • Ruang Taman Kanak-kanak,
  • Ruang wudu pria dan wudu wanita,

Penerangan siang hari di dalam bangunan in­duk menggunakan sinar Matahari melalui pembukaan dinding-dinding luar berupa pintu, jendela dan boventlicht serta penerangan atas melewati sela-sela atap tumpang yang ada. Dengan demikian maka suasana penerangan ini menjadi temaram sehingga suasana sebagai ruang suci yang memerlukan kekhusyukan sangat cocok. Penerangan di Serambi depan dan samping cu­kup optimal karena dinding luarnya transparan de­ngan bentuk relung dan tiang penyangganya. Namun penerangan di tempat wudu pria kurang karena jendela atas hanya dari satu sisi saja. Kantor dan ruang pertemuan mendapat penerangan yang cukup sesuai dengan fungsinya masing-masing. Pada bangunan induk dan Serambinya ventilasinya cukup baik sebab bisa terjadi ventilasi silang. Demikian pula pada ruang pertemu­an. Namun di dalam ruang wudu pria ventilasi ku­rang memadai karena tak dapat terjadi ventilasi si­lang sehingga terjadi kelembapan udara.

Akustik di ruang Liwan juga cukup baik karena hampir semua dinding banyak terdapat pembukaan. Sehingga pemasangan pengeras suara tidak mengalami gangguan yang berarti. Kebersihan bangunan-bangunan sakral dan pelengkapnya cukup memadai. Ruang Liwan dan Se­rambi cukup hygienis. Demikian pula tempat wudu cukup hygienis, baknya memakai kran yang cukup banyak jumlahnya dindingnya dilapisi porselin ukuran 11×11 cm2, sedangkan lantainya dari tegel wafel warna kuning, pembuangan air limbah tersalurkan dengan baik. Penghawaan tertolong oleh keluasan alun – alun, namun penerangannya kurang karena padatnya bangunan. Ketinggian lantai bangunan sakral yang kurang lebih 105 cm dari muka tanah sekitarnya itu ikut menunjang kesucian bangunan ini.

Arah kiblat bangunan masjid ini sudah mengarah ke Makkah. Dengan demikian maka arah saf salat juga menjadi tertib. Hanya suasana dan bentuk ruang Liwan yang terpaksa menjadi memanjang ke depan ini kurang begitu baik ditinjau dari tatakrama salat. Jumlah tiang di bangunan baru yang 20 biji itu cukup mengganggu sedangkan pada bangunan la­ma yang mempunyai luas yang sama justru ha­nya menggunakan empat tiang saja sehingga tidak mengganggu.

Suasana kekhusyukan cukup baik sebab ba­ngunan ini terpisahkan dari tetangga dengan tembok tinggi atau dengan batas bangunan lain. Sedangkan suasana ruang dalamnya di bawah atap tumpang terasa suasana agung karena langit-langitnya langsung menempel pada usuk, sehingga kesan ruang yang memusat dan mengarah ke atas ini cukup terasa.


————————————————————————————–———————————-Dinukil oleh: Dian K. (Pustakawan); 
dari: Koleksi Lokal Konten Deposit  Badan Perpustakaan Dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur
Perkembangan arsitektur Masjid di Jawa Timur./Ir. Zein M. Wiryoprawiro/Surabaya: Bina Ilmu,  1986        CB-D13/1986-6[1]

PERAJIN ROTAN MALANG

IMAM BUDIONO, PERAJIN ROTAN MALANG
Mengikuti Selera Mode Pelanggan
Rotan0003PARA tukang tampak asyik bekerja. Jemari-jemari tangannya tampak begitu terampil dan cekatan merajut belahan rotan maupun yang berbentuk sintetis pada sebuah kerangka yang akan dibentuk kursi atau meja. Kegiatan rutin para tukang ini setiap hari selalu menghiasi rumah yang sekaligus dijadikan tempat pembuatan mebel rotan milik Imam Budiono di Jl. Pahlawan 249A, Balerejo, Blimbing, Malang. Selain untuk kegiatan pembuatan mebel, di ruang sebelah yang berlantai dua juga digunakan sebagai showroom hasil karyanya.
Selama ini rotan dikenal sebagai bahan baku industri mebel serta furniture seperti kursi, meja, dan beragam perangkat rumah tangga lainnya. Namun di tangan seorang Imam Budiono, 49 tahun, bahan baku rotan dan sintetisnya bisa ‘disulap’ menjadi beragam kreasi berkualitas ekspor. Tak hanya mebel dari bahan rotan, tapi juga asesoris lain juga dikerjakannya. Bermula dari usaha coba-coba di kota Probolinggo tahun 1986 akhirrnya membuahkan hasil sebagai pengusalia mebel rotan di Malang. Imam Budiono merintis usahanya di Probolinggo saat itu mengambil produk mebel milik orang lain lantas dijualnya. Cam ini diubahnya karena kurang menguntungkan, lantas dia membeli mebel sisa ekspor di pabrik mebel lalu dijual lagi dan laris manis. Di Probolinggo ia menyewa toko yang diberi nama Tiban Jaya dan dijadikan nama usahanya sampai sekarang. Nama Tiban Jaya diambil dari nama masjid yang berada di depan tokonya di Probolinggo saat itu. Orang-orang di sana menyebut masjid tiban, karena konon tempat ibadah itu tiba-tiba ada dan tak ada yang tahu siapa yang membangun.
Rotan0004Hijrah ke Malang, kini Imam Budiono bisa dibilang pengusaha mebel rotan sukses. Kesuksesannya diawali tahun 2007 ketika ia ingin mencoba membuat mebel rotan sendiri walau sebenarnya ia tidak pernah tahu bagaimana cara membuat mebel rotan. ‘Terus terang saya tidak punya keahlian membuat mebel rotan. Saya hanya bisa mendesain lantas para tukang saya yang mengerjakan. Untuk membuat sendiri saya tidak bisa, jadi saya hanya mengarahkan tukang saja,” ujar lulusan STM (sekarang SMK) jurusan mesin ini.
Walau Imam Budiono mengaku tidak bisa membuat sendiri mebel-mebel itu, tapi dia adalah pencetus ide atau pembuat desain. Kadang ide desain itu didapatnya dari browsing internet, dari tayangan televisi atau bahkan pemesan yang membawa desain sendiri, “Pokoknya prinsip saya mengikuti selera mode pelanggan. Desain itu tak melulu mebel tapi bisa juga asesoris seperti kursi besar untuk kolam renang pigora atau wadah buah dan lain-lain. Bahkan pintu dan jendela rumah saya beri anyaman rotan sintetis. Hasilnya luar biasa, punya nilai lebih dibanding hanya pintu polosan. Ini hasil kreasi lain, untuk memberi kesan beda saja,” tuturnya.
Rotan0001Sejak awal berdiri, Imam Budiono dibantu empat orang, dan sekarang berkembang menjadi 32 karyawan. Kini, pemasaran mebel rotan buatan Imam Budiono disamping sudah menjangkau seluruh Jawa Timur juga di luar Pulau Jawa, “Kebanyakan pelanggan yang beli pada kami dijual lagi, j bahkan mungkin ada juga yang diekspor. Alhamdulillah setiap hari kami produksi terns dan selalu habis karena pelanggan setiap tahun bertambah. Bahkan untuk memberi kepuasan bagi pelanggan yang membawa model sendiri kami pun siap membuatnya berdasar gambar dan ukurannya,” jelas ay all dua anak ini.
Sebagai pengusaha mebel rotan, Imam Budiono termasuk orang baik hati. Sebab, ia menerapkan marketing kepercayaan kepada semua pelanggan yang kulakan padanya, yaitu barang laku baru bayar. Artinya, para pelanggan yang membeli dan menjual kembali mebel dari Imam Budiono bisa
dibilang tidak mengeluarkan modal dan cara membayarnya pun suka-suka. “Kadang ada juga yang benar-benar tidak bisa membayar walau barang sudah laku. Jika dia memang tidak mampu membayar, saya akan ikhlas. Namun kalau ada unsur nakal dan tak mau bayar, seterusnya tidak boleh mengambil barang lagi,” kata dia.
Imam Budiono yakin dalam berbisnis prinsipnya bisa menyenangkan orang lain. Dengan prinsip ini maka rezeki akan terus mengalir. “Semua rezeki diatur oleh Allah SWT. Insya Allah dalam bekerja sebisa mungkin menyenangkan orang lain, sehingga hubungan kekeluargaan akan terjalin erat. Ikatan emosional ini sebetulnya mahal harganya, karena bisa menambah persaudaraan,” prinsip Imam Budiono.
Rotan0002Tentang rahasia keberhasilannya mengelola kerajinan rotan dan sintetis ini, Imam Budiono mengaku tak jauh dari prinsip disiplin kerja, jujur dan tepat janji. Soal janji Imam Budiono sangat hati-hati. Kalau tidak tepat waktu, dia berusaha telepon dan memberitahukannya tentang kesulitan yang dihadapi. Bila terjadi komunikasi timbal balik, praktis hubungan kerja lancar. Apalagi peluang mebel rotan yang digelutinya ke depan sangat menjanjikan. “Alhamdulillah hasil produksi saya sudah cukup dikenal di Malang. Sehingga mebel-mebel untuk keperluan hotel yang banyak bertebar di Malang ini juga banyak yang pesan ke saya pungkasnya.Byan

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:majalah SAREKDA Jawa Timuran/edisi; 020/2014/halaman 34-35

Kentrung Kampung Cempluk

Kentrung Cempluk .MALAM yang manis. Begitulah yang terasa saat jalan-jalan bersama UKM Blero Univer­sitas Negeri Malang (UM) di Kampung Cempluk Festival. Tujuannya, nguri-nguri budaya dan berusaha menjadi wadah nilai-nilai tradisonal. Entah itu dari segi kesenian pertunjukan tradisional, peralatan, makanan, atau lainnya.

Kampung Cempluk Festival ini dilaksanakan satu tahun sekali di Dusun Sumberjo, Dau, Kabupaten Malang. Gelaran. Kampung Cempluk kali ini masuk tahun keempat. Berbagai kesenian pertunjukan dan makanan tradisional disuguhkan, tersebar di beberapa stan dan panggung. Pengunjung yang hadir bervariasi, tua, muda, dan anak-anak membaur begitu antusias mengunjungi kampung Cempluk. Banyak di antara mereka yang mengabadikan momen di Kampung Cempluk dengan jepretan-jepretan kamera yang mereka bawa.

Tidak ingin ketinggalan, kawan-kawan UKM Blero mengatasnamakan Komunitas Kluntrang-kluntrung, penggiat kesenian kentrung kreasi menampilkan pertunjukan di sana sehingga suasana semakin tradisional dengan tampilan kesenian kentrung. Malama itu kentrung seakan hidup kembali dari tidur panjangnya dengan ikut meramaikan kampung Cempluk. Penonton pun menikmati apa yang disajikan komunitas Kluntrang-kluntrung malam itu.

“Terima kasih kampung Cempluk,” tutur Mas Yayak, penanggungjawab Komu­nitas Kluntrang-Kluntrung. Makna yang dimaksud terima kasih adalah sebuah ungkapan kebahagian karena kampung Cempluk telah berhasil menjadi wadah menyalurkan kreasi para penggiat seni.

Lebih khususnya kampung Cempluk telah menjadi juru selamat kesenian tradisional kentrung yang aus termakan zaman. Sungguh jalan-jalan yang menyenangkan, semoga kehadiran dan konsistensi kampung Cempluk Festival sedapat mungkin terus menjaga keberagaman seni-seni tradisional. Semoga.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  SAHRUL ROMADHON: SURYA, Senin-7 Oktober 2013 , hlm 13